Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. Hak asasi manusia bidang kesehatan diatur dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28H ayat (1) dan Pasal 34 ayat (3). Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 berbunyi: setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan yang sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Pasal 34 ayat (3) berbunyi: negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Dalam rangka melindungi hak rakyat dalam bidang kesehatan, pemerintah menetapkan dasar hukum sebagai bentuk usaha memajukan kesejahteraan rakyat dalam bidang kesehatan. Perlindungan tersebut berbentuk suatu peraturan perundangundangan yaitu Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Pasal 4 Undang-Undang No. 36 tahun 2009 menyebutkansetiap orang berhak atas kesehatan, karenanya pemberian berbagai upaya kesehatan kepada seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat perlu diwujudkan. Penyelenggaraan upaya pembangunan kesehatan yang berkualitas bertitik tolak pada penyelenggaraan praktik kedokteran yang sangat terkait dengan masalah pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Agar tercipta hubungan hukum yang didasarkan kerjasama yang baik, kejujuran, serta sikap saling percaya dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, maka diperlukan adanya persetujuan dari individu yang ditolong. Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat (1) berbunyi setiap tindakan kedokteran dan atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Persetujuan tindakan kedokteran dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang persetujuan tindakan kedokteran

diistilahkan sebagai Informed Consent, yang terdapat pada Bab I Pasal 1. Informed consent berisikan dua hak pasien yang essensiil dalam relasinya dengan dokter. Hak tersebut adalah hak atas informasi dan hak atas persetujuan atau consent. Penjelasan informasi mengenai tindakan yang akan dilakukan pada pasien harus diberikan secara jelas dan diberikan langsung pada pasien, seperti yang terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 290/MENKES/PER/III/2008 Pasal 7 ayat (1) penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien dan/atau keluarga terdekat pasien, baik diminta maupun tidak diminta. Mengenai hak atas persetujuan terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 290/MENKES/PER/III/2008 Pasal 2, Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Pelaksanaan informed consent di berbagai rumah sakit di Indonesia mulai diperhatikan, hak-hak pasien sebagai health receiver berkembang pesat, mereka kini telah menuntut pelaksanaan hak-hak yang mereka miliki, mereka mulai berani menilai dan mengkritik mutu layanan kesehatan yang diterima. Maka dari itu penulis akan membahas tentang informed consent ditinjau dari aspek medis maupun yuridis didalam makalah yang berjudul informed consent dan pemenuhan hak pasien. B. Permasalahan Terlaksananya informed consent dengan baik dapat menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat terhadap dokter serta pelayan medis di Rumah Sakit, namun bagaimana informed consent jika dilihat dari aspek medis dan yuridis terhadap pemenuhan hak pasien?.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Menurut Jacobalis (2005) Informed terkait dengan informasi atau penjelasan, consent artinya persetujuan, atau lebih tajam lagi, izin. Jadi informed consent adalah persetujuan atau izin oleh pasien atau keluarga yang berhak kepada dokter untuk melakukan tindakan medis pada pasien, seperti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lain-lain untuk menegakkan diagnosis, memberi obat, melakukan suntikan, menolong bersalin, melakukan pembiusan, melakukan pembedahan, melakukan tindak-lanjut jika terjadi kesulitan. Menurut Komalawati dalam Irwandy (2007) informed consent dirumuskan sebagai suatu kesepakatan atau persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya setelah memperoleh informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi. Informed Consent adalah izin tertulis yang dibuat secara sadar dan sukarela dari pasien diperlukan sebelum suatu pembedahan dilakukan. Izin tertulis seperti itu melindungi pasien terhadap pembedahan yang lalai dan melindungi ahli bedah terhadap tuntutan dari suatu lembaga hukum. Sebelum pasien menandatangani formulir consent, ahli bedah harus memberikan penjelasan yang jelas dan sederhana tentang apa yang akan diperlukan dalam pembedahan. Ahli bedah juga harus menginformasikan pasien tentang alternatif-alternatif yang ada, kemungkinan risiko, komplikasi, perubahan bentuk tubuh, menimbulkan kecacatan, ketidakmampuan, dan

pengangkatan bagian tubuh, juga tentang apa yang diperkirakan terjadi pada periode pasca operatif awal dan lanjut ( Brunner & Suddarth, 1996 ). B. Aspek Yuridis Istilah informed consent dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/Menkes/Per/III/2008 diterjemahkan menjadi Persetujuan Tindakan Kedokteran, yang terdapat pada Bab I Pasal 1, yaitu persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara

lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. Ketentuan Perundangan yang menjadi dasar Informed Consent adalah :
1. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

nomor

290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran, yaitu : a. Pasal 2 ayat (1) Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. b. Pasal 2 ayat (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. c. Pasal 2 ayat (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan. d. Pasal 3 ayat (1) Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. e. Pasal 3 ayat (2) Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan. f. Pasal 3 ayat (3) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu. g. Pasal 3 ayat (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju. h. Pasal 3 ayat (5) Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap meragukan, maka dapat dimintakan persetujuan tertulis. i. Pasal 4 ayat (1) Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.

j. Pasal 5 ayat (1) Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan sebelum dimulainya tindakan. k. Pasal 5 ayat (2) Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan. l. Pasal 5 ayat (3) Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) menjadi tanggung jawab yang membatalkan persetujuan. m. Pasal 6 Pemberian persetujuan tindakan kedokteran tidak

menghapuskan tanggung gugatan hukum dalam hal terbukti adanya kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang mengakibatkan kerugian pada pasien. 2. Undang-Undang nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, yaitu : a. Pasal 45 ayat (1) : Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi yang akan dilakukan oleh pasien harus mendapatkan persetujuan. b. Pasal 45 ayat (2) : Persetujuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap. c. Pasal 45 ayat (3) : Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup : 1) diagnosis dan tatacara tindakan medis; 2) tujuan tindakan medis yang dilakukan; 3) alternatif tindakan lain dan risikonya; 4) risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan 5) prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. 3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1419/Menkes/Per/X/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran :

a. Pasal 13 ayat (1) yang berbunyi dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran didasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. b. Pasal 17 ayat (1) : Dokter atau dokter gigi dalam memberikan pelayanan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi terlebih dahulu harus memberikan penjelasan kepada pasien tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan. c. Ayat (2) : Tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud ayat (1) harus mendapat persetujuan pasien. d. Ayat (3) : Pemberian penjelasan dan persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan. 4. Peraturan Pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Bab V tentang Standar Profesi dan Perlindungan Hukum Pasal 22 ayat (1) huruf c yang berbunyi : Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam menjalankan tugas profesinya berkewajiban : a. Memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan. b. Meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan. 5. Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI) pada Bab III tentang Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Pasien Pasal 11 yang berbunyi : Rumah Sakit harus meminta persetujuan pasien (Informed Consent) sebelum melakukan tindakan medik. 6. KUHPerdata Pasal 1321 bahwa Tiada sepakat yang sah apabila kesepakatan itu diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.

Di Indonesia terdapat ketentuan informed consent yang diatur dalam : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Penjelasannya. 3. Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI). 4. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 585/Men.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. 5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor

290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. 6. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1419/Men.Kes/Per/X/2005 tentang Penyelanggaraan Praktik Kedokteran. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. 8. Surat Keputusan PB IDI No 319/PB/A4/88. C. Aspek Medis Informasi merupakan dasar dilakukan tindakan yang memerlukan informed consent, kecuali pada kondisi tertentu yang memungkinkan untuk tidak melakukan persetujuan pada pasien. Oleh karena pentingnya informasi tersebut, setiap rumah sakit harus memperhatikan ketentuan pelaksanaan informed consent tersebut. Setiap rumah sakit harus memperhatikan ketentuan: 1. Pengaturan persetujuan tindakan medis harus dalam bentuk kebijakan dan prosedur (Standard Operating Procedure/SOP) 2. Memperoleh informasi dan penjelasan merupakan hak pasien dan sebaliknya memberikan informasi dan penjelasan merupakan kewajiban dokter. 3. Informed consent diberikan untuk tindakan medis yang secara spesifik. 4. Informed consent diberikan tanpa paksaan. 5. Informed consent diberikan oleh seseorang kepada pasien yang sehat mental dan yang memang berhak memberikannya dari segi hukum. 6. Informed consent diberikan setelah cukup (adekuat) informasi dan penjelasan yang diperlukan.

Cara pasien menyatakan persetujuan dapat secara tertulis maupun lisan. Persetujuan secara tertulis mutlak diperlukan bagi tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi, sedangkan persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan kedokteran yang tidak mengandung resiko tinggi. Umumnya disebutkan bahwa contoh tindakan yang berisiko tinggi adalah tindakan invasif (tertentu) atau tindakan bedah yang secara langsung mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh. Persetujuan tertulis dibutuhkan pada keadaan sebagai berikut: 1. Bila tindakan terapeutik bersifat kompleks atau menyangkut resiko atau efek samping yang bermakna. 2. Bila tindakan kedokteran tersebut bukan dalam rangka terapi. 3. Bila tindakan kedokteran tersebut memiliki dampak yang bermakna bagi kedudukan kepegawaian atau kehidupan pribadi dan sosial pasien. 4. Bila tindakan yang dilakukan adalah bagian dari suatu penelitian Pernyataan IDI tentang informed consent adalah: 1. Manusia dewasa sehat jasmani dan rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan pasien, walaupun untuk kepentingan pasien sendiri. 2. Semua tindakan medis (diagnotik, terapeutik maupun paliatif) memerlukan informed consent secara lisan maupun tertulis. 3. Setiap tindakan medis yang mempunyai risiko cukup besar, mengharuskan adanya persetujuan tertulis yang ditandatangani pasien, setelah sebelumnya pasien memperoleh informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medis yang bersangkutan serta risikonya. 4. Untuk tindakan yang tidak termasuk dalam butir 3, hanya dibutuhkan persetujuan lisan atau sikap diam. 5. Informasi tentang tindakan medis harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak diminta oleh pasien. Menahan informasi tidak boleh, kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan

kesehatan pasien. Dalam hal ini dokter dapat memberikan informasi kepada keluarga terdekat pasien. Dalam memberi informasi kepada keluarga terdekat dengan pasien, kehadiran seorang perawat / paramedik lain sebagai saksi adalah penting. 6. Isi informasi mencakup keuntungan dan kerugian tindakan medis yang direncanakan, baik diagnostik, terapeutik maupun paliatif. Informasi biasanya diberikan secara lisan, tetapi dapat pula secara tertulis. Hakikat Informed consent mengandung 2 (dua) unsur esensial yaitu : 1. Informasi yang diberikan oleh dokter; 2. Persetujuan yang diberikan oleh pasien. Sehingga persetujuan yang diberikan oleh pasien memerlukan beberapa masukan sebagai berikut : 1. Penjelasan lengkap mengenai prosedur yang akan digunakan dalam tindakan medis tertentu (masih berupa upaya percobaan). 2. Deskripsi tentang efek-efek sampingan serta akibat-akibat yang tidak diinginkan yang mungkin timbul. 3. Deskripsi tentang keuntungan-keuntungan yang dapat diantisipasi untuk pasien. 4. Penjelasan tentang perkiraan lamanya prosedur / terapi / tindakan berlangsung. 5. Deskripsi tentang hak pasien untuk menarik kembali consent tanpa adanya prasangka mengenai hubungannya dengan dokter dan lembaganya. 6. Prognosis tentang kondisi medis pasien bila ia menolak tindakan medis tersebut. Informasi yang harus diberikan oleh dokter dengan lengkap kepada pasien sekurang-kurangnya mencakup: a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis; b. Tujuan tindakan medis yang dilakukan; c. Alternatif tindakan lain dan risikonya; d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan

10

e. Prognosis ( kemungkinan hasil perawatan) terhadap tindakan yang dilakukan. Dalam keadaan gawat darurat Informed consent tetap merupakan hal yang paling penting walaupun prioritasnya diakui paling bawah. Prioritas yang paling utama adalah tindakan menyelamatkan nyawa. Walaupun tetap penting, namun Informed consent tidak boleh menjadi penghalang atau penghambat bagi pelaksanaan emergency care sebab dalam keadaan kritis dimana dokter berpacu dengan maut, ia tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan sampai pasien benar-benar menyadari kondisi dan kebutuhannya serta memberikan keputusannya. Dokter juga tidak mempunyai banyak waktu untuk menunggu kedatangan keluarga pasien. Kalaupun keluarga pasien telah hadir dan kemudian tidak menyetujui tindakan dokter, maka berdasarkan doctrine of necessity, dokter tetap harus melakukan tindakan medik. Hal ini dijabarkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran , bahwa dalam keadaan emergency tidak diperlukan Informed consent. Ketiadaan informed consent dapat menyebabkan tindakan malpraktek dokter, khususnya bila terjadi kerugian atau intervensi terhadap tubuh pasiennya. Hukum yang umum diberbagai Negara menyatakan bahwa akibat dari ketiadaan informed consent setara dengan kelalaian atau keteledoran. Akan tetapi, dalam beberapa hal, ketiadaan informed consent tersebut setara dengan perbuatan kesengajaan, sehingga derajat kesalahan dokter pelaku tindakan tersebut lebih tinggi. Tindakan malpraktek dokter yang dianggap setara dengan kesengajaan adalah sebagai berikut : 1. Pasien sebelumnya menyatakan tidak setuju terhadap tindakan dokter, tetapi dokter tetap melakukan tindakan tersebut. 2. Jika dokter dengan sengaja melakukan tindakan misleading tentang risiko dan akibat dari tindakan medis yang diambilnya. 3. Jika dokter dengan sengaja menyembunyikan risiko dan akibat dari tindakan medis yang diambilnya. 4. Informed consent diberikan terhadap prosedur medis yang berbeda secara substansial dengan yang dilakukan oleh dokter.

11

Menurut FKUI (2007) Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent) dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: a. Implied Consent, yaitu persetujuan yang dianggap telah diberikan walaupun tanpa pernyataan resmi, yaitu pada keadaan biasa dan pada keadaan darurat atau emergency. Pada keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa pasien, tindakan menyelamatkan kehidupan (life saving) tidak memerlukan Informed Consent. b. Expresed Consent, yaitu persetujuan tindakan medis yang diberikan secara eksplisit, baik secara lisan (oral) maupun tertulis (written). Menurut Sanjoyo (2007) pasien memiliki hak untuk memperoleh atau menolak pengobatan dan terdapat beberapa jenis persetujuan antara lain : a) Ijin langsung (express consent): pasien atau wali segera menyetujui usulan pengobatan yang ditawarkan dokter atau pihak RS (bisa lisan atau tertulis) b) Ijin secara tidak langsung (implied consent): tindakan pengobatan dilakukan dalam keadaan darurat yang dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien c) Persetujuan khusus : pasien wajib mencantumkan pernyataan bahwa kepadanya telah diberikan penjelasan suatu informasi terhadap apa yang akan dilakukan oleh tim medis terhadap pasien. Pada informed consent, pasien sendiri yang harus menandatangani persetujuan kecuali pasien tersebut tidak mampu atau mempengaruhi fungsi seksual atau reproduksi (suami/istri).

12

BAB III PEMBAHASAN

A. Aspek Medis Sebelum dokter melakukan tindakan medik, dokter berkewajiban untuk memberikan informasi tentang jenis penyakit yang diderita pasien dan tindakan medik yang akan dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien serta risiko yang mungkin timbul dari tindakan medik tersebut kepada pasien dan keluarganya. Prosedur tetap dalam pengambilan tindakan medis yang bersifat tetap dan mengikat adalah adanya persetujuan pasien untuk pengambilan tindakan medis. Penerimaan dari pasien tersebut dituangkan dalam bentuk persetujuan pengambilan tindakan medis (informed consent). Karena informed consent merupakan perjanjian untuk melakukan tindakan medik, maka keberadaan informed consent sangat penting bagi para pihak yang melakukan perjanjian pelayanan kesehatan, sehingga dapat diketahui bahwa keberadaan informed consent sangat penting dan diperlukan di Rumah Sakit. Yang menjadi permasalahan adalah apakah isi dari formulir informed consent itu sudah memenuhi syarat sahnya perjanjian. Setiap akan dilakukan tindakan medik, pasien/keluarga yang berhak memberikan persetujuan selalu dilakukan Informed Consent. Pihak Rumah Sakit dan tenaga medis yang akan melakukan tindakan medis akan menghormati setiap keputusan dari pihak pasien atau keluarga untuk menentukan apakah setuju atau menolak untuk dilakukan tindakan medis. Setelah dilakukan kesepakatan, pasien/keluarga akan disodorkan formulir sesuai kesepakatan yaitu formulir penolakan atau formulir persetujuan tindakan medis. Identitas pihak pasien yang menandatangani persetujuan tindakan medis yang terdiri dari nama, umur/jenis kelamin, alamat serta bukti diri ( KTP/SIM). Identitas pihak yang melakukan penandatanganan persetujuan tindakan medis harus lengkap, mengingat apabila terjadi sengketa dibelakang hari maka jelas siapa yang bertanggungjawab terhadap persetujuan atau penolakan tindakan medis tersebut.

13

1. Tujuan Penjelasan Dalam Informed Consent Tujuan penjelasan yang lengkap adalah agar pasien menentukan sendiri keputusannya sesuai dengan pilihan dia sendiri (informed decision). Karena itu, pasien juga berhak untuk menolak tindakan medis yang dianjurkan. Pasien juga berhak untuk meminta pendapat dokter lain (second opinion), dan dokter yang merawatnya berbeda dengan di masa lalu tidak boleh merasa tersinggung, apalagi langsung mengatakan, silakan saudara mau ke dokter mana pun, tapi saya tidak bertanggung jawab lagi. Dari uraian diatas maka tujuan memberikan penjelasan dalam informed consent adalah agar pasien dapat mengerti dan memahami tentang kondisinya sebelum mengambil suatu keputusan bagi dirinya. Hal tersebut juga memberikan kesempatan pada pasien untuk mempertimbangkan tentang keputusan yang akan diambil. Pasien juga dapat mempertimbangkan tentang alternatif lain dan bahkan melakukan second opinimum. Sungguhpun demikian seorang dokter dituntut tetap memberikan penjelasan secara etis dengan cara komunikasi yang sebaik-baiknya sehingga pasien dan keluarganya tidak tersinggung. 2. Kewenangan dan Cara Memberikan Informed Consent Pada dasarnya informed consent boleh diberikan oleh pasien sendiri jika ia dewasa dan sadar sepenuhnya. Menurut penjelasan Pasal 45 UU No. 29/ 2004 tersebut di atas, apabila pasien sendiri berada di bawah pengampuan, persetujuan atau penolakan tindakan medis dapat diberikan oleh keluarga terdekat, antara lain suami/isteri, ayah/ibu kandung, anak-anak kandung atau saudara-saudara kandung. Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien tidak diperlukan persetujuan. Namun, setelah pasien sadar atau dalam kondisi yang sudah memungkinkan, segera diberikan penjelasan dan dibuat persetujuan. Cara memberikan informed consent dapat diberikan secara tertulis, secara lisan, atau secara isyarat. Dalam bahasa aslinya, yang terakhir ini dinamakan implied consent. Misalnya, jika pasien mengangguk atau langsung membuka baju jika dokter mengatakan, Boleh saya memeriksa saudara?. Untuk tindakan medis dengan risiko

14

tinggi (misalnya pembedahan atau tindakan invasif lainnya), persetujuan harus secara tertulis, ditandatangani oleh pasien sendiri atau orang lain yang berhak dan sebaiknya juga saksi dari pihak keluarga. 3. Masa Berlaku Informed Consent Menurut Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) (2006) tidak ada satu ketentuan pun yang mengatur tentang lama keberlakukan suatu persetujuan tindakan kedokteran. Teori menyatakan bahwa suatu persetujuan akan tetap sah sampai dicabut kembali oleh pemberi persetujuan atau pasien. Namun demikian, bila muncul informasi baru , misalnya tentang adanya efek samping atau alternatif tindakan yang baru, maka pasien harus diberitahu dan persetujuannya dikonfirmasikan lagi. Apabila terdapat jeda waktu antara saat pemberian persetujuan hingga dilakukannya tindakan, maka alangkah lebih baik apabila ditanyakan kembali apakah persetujuan tersebut masih berlaku. Hal-hal tersebut pasti juga akan membantu pasien terutama bagi mereka yang sejak awal memang masih ragu-ragu atau masih memiliki pertanyaan. B. Aspek Yuridis Dalam hubungan hukum, pelaksana dan pengguna jasa tindakan medis (dokter, dan pasien) bertindak sebagai subyek hukum yakni orang yang mempunyai hak dan kewajiban, sedangkan jasa tindakan medis sebagai obyek hukum yakni sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sebagai subyek hukum, dan akan terjadi perbuatan hukum yaitu perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum, baik yang dilakukan satu pihak saja maupun oleh dua pihak. Dalam masalah informed consent dokter sebagai pelaksana jasa tindakan medis, disamping terikat oleh KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) bagi dokter, juga tetap tidak dapat melepaskan diri dari ketentuan-ketentuan hukum perdata, hukum pidana maupun hukum administrasi, sepanjang hal itu dapat diterapkan. Pada pelaksanaan tindakan medis, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil (culpa levis), sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara

15

umum berlaku adagium barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah kesalahan berat (culpa lata). Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana. 1. Aspek Hukum Perdata Informed Consent Informed Consent merupakan alat bukti yang penting dalam hukum perdata, karena informed consent merupakan bukti tulisan tentang suatu peristiwa dalam hal ini informed yang dilakukan oleh dokter kepada pasiennya dan ditandatangani oleh pasien atau yang berhak. Hal tersebut sesuai dengan apa yang disebut akta (akta dibawah tangan), bahwa akte adalah suatu tulisan yang sengaja dibuat untuk dijadikan bukti tentang suatu peristiwa dan ditandatangani. Suatu tindakan medis yang dilakukan oleh pelaksana jasa tindakan medis (dokter) tanpa adanya persetujuan dari pihak pengguna jasa tindakan medis (pasien), sedangkan pasien dalam keadaan sadar penuh dan mampu memberikan persetujuan, maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis dapat dipersalahkan dan digugat telah melakukan suatu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata, yaitu Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Pelanggaran hukum yang terkait dengan informed Consent dalam tindakan medis berdasarkan UUPK No. 29 tahun 2004 Pasal 45 (5) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung resiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Hal ini karena pasien mempunyai hak atas tubuhnya, sehingga dokter harus menghormatinya. Oleh karena itu tidak memberikan informed Consent pada suatu tindakan medis yang beresiko tinggi adalah suatu perbuatan melawan hukum. Hal tersebut sesuai dengan bunyi KUHPerdata Pasal 1233 yaitu Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena Undangundang,

16

dan Pasal 1234 yang berbunyi Tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu. Uraian diatas menunjukan bahwa seorang dokter berkewajiban memberikan informed consent karena terikat oleh Undang-undang, sehingga apabila tidak memberikan informed consent maka seorang dokter telah melakukan perbuatan melanggar hukum. 2. Aspek Hukum Pidana Informed Consent Aspek Hukum Pidana informed consent mutlak harus dipenuhi dengan adanya pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan antara lain berbunyi (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat, yang bersalah diancam paling lama penjara selama lima tahun (3) Jika mengakibatkan mati, diancam penjara paling lama tujuh tahun. Suatu tindakan invasive (misalnya pembedahan, tindakan radiology invasive) yang dilakukan pelaksana jasa tindakan medis tanpa adanya izin dari pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.

17

BAB IV PENUTUP

A. SIMPULAN 1. Informed Consent adalah persetujuan, izin atau kesepakatan tindakan medis oleh pasien atau keluarga yang berhak kepada dokter setelah memperoleh informasi dan penjelasan mengenai upaya medis yang akan dilakukan untuk menolong dirinya serta mendapat penjelasan mengenai risiko yang mungkin terjadi padanya. 2. Informed Consent dapat diberikan secara tertulis maupun lisan, persetujuan secara tertulis mutlak diperlukan bagi tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi, sedangkan persetujuan secara lisan diperlukan pada tindakan kedokteran yang tidak mengandung resiko tinggi. 3. Dalam keadaan gawat darurat, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran , bahwa dalam keadaan emergency tidak diperlukan Informed consent. Akan tetapi, dalam beberapa hal, ketiadaan informed consent tersebut setara dengan perbuatan kesengajaan, sehingga derajat kesalahan dokter pelaku tindakan tersebut lebih tinggi. 4. Dalam hubungan hukum, masalah etik dan hukum perdata, tolok ukur yang digunakan adalah kesalahan kecil sehingga jika terjadi kesalahan kecil dalam tindakan medis yang merugikan pasien, maka sudah dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum. Hal ini disebabkan pada hukum perdata secara umum berlaku adagium barang siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi. Sedangkan pada masalah hukum pidana, tolok ukur yang dipergunakan adalah kesalahan berat. Oleh karena itu adanya kesalahan kecil (ringan) pada pelaksanaan tindakan medis belum dapat dipakai sebagai tolok ukur untuk menjatuhkan sanksi pidana.

18

B. SARAN 1. Dalam keadaan gawat darurat Informed consent tetap merupakan hal yang paling penting walaupun prioritasnya diakui paling bawah, maka dari itu meski dalam keadaan daarurat sekalipun hendaknya setiap tindakan kedokteran harus mendapat persetujuan dari pasien atau keluarga pasien. 2. Persetujuan secara tertulis mutlak diperlukan bagi tindakan kedokteran yang mengandung resiko tinggi. Walaupun demikian, hendaknya tindakan kedokteran yang tidak berisiko tinggi pun harus mendapat persetujuan secara tertulis karena hal tersebut akan menjadi bukti yang kuat secara hukum. 3. Penjelasan atau informasi yang lengkap sangat diperlukan oleh pasien agar pasien menentukan sendiri keputusannya sesuai dengan pilihan dia sendiri (informed decision). Karena itu, pasien juga berhak untuk menolak tindakan medis yang dianjurkan. Pasien juga berhak untuk meminta pendapat dokter lain (second opinion), dan dokter yang merawatnya di masa lalu tidak boleh merasa tersinggung.

19

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medical Bedah. EGC : Jakarta. FKUI. 2007. Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent). Retrieved September 28, 2013. from http://fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment.php. Guwandi. 2003. Dokter, Pasien, dan Hukum. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Irwandy, 2007. MengenalInformed Consent. retrieved September, 29, 2013. From http://irwandykapalawi.wordpress.com. Jacobalis S. 2005. Informed Consent Persetujuan Tindakan Medis. Retrieved September 29, 2013. http://www.sinarharapan.co.id.
Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI)

Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Manual Persetujuan Tindakan Medis. Edisi I. Jakarta : Konsil kedokteran Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 290/Menkes/Per/III/2008. nomor 1419/Menkes/Per/X/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran. nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan Bab V tentang Standar Profesi dan Perlindungan Hukum. Subekti. 1993. Hukum Pembuktian. PT. Pradnya Paramita : Jakarta. Surat Keputusan PB IDI No 319/PB/A4/88. Undang-undang No. 29 tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran.