Anda di halaman 1dari 17

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN TEORI ALFRED ADLER

Disusun Oleh : Kartika Dela Rosa Intan Triajeng Oktavia Arifathia Khairunnisa Aqil Zaenulmillah Emiliyanto Ivan Z. Rizka Desmasanti Irsalina Febri Melita Gusti V. Firmansyah G. P 125120300111063 125120300111059 125120300111061 125120300111064 125120300111052 125120300111046 12512030 12512030 12512030

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Teori-teori psikoanalitik merupakan teori kepribadian yang dilandaskan atas dasar biologis manusia. Selain atas dasar biologis, teori kepribadian juga dilandaskan oleh pengaruh sosial. Menurut ilmu-ilmu sosial, individu merupakan produk dari masyarakat dimana ia hidup. Kepribadian orang lebih dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya (Hall & Lindzey 1993:238). Salah satu tokoh yang memandang kepribadian merupakan bentukan sosial adalah Alfred Adler, sehingga Alfred Adler dianggap sebagai bapak psikologi sosial baru (Hall & Lindzey 1993:238). Boeree (2005:147) menuliskan sejarah singkatnya, bahwa Alfred Adler lahir di Wina pada tanggal tujuh Februari, tahun 1870 sebagai anak ketiga dari seorang pengusaha Yahudi. Alfred menerima ijazah dokter dari Universitas of Vienna pada tahun 1895. Selama kuliah, dia sering bergabung dengan mahasiswa sosialis. Memulai karir sebagai seorang opthamologis, tapi kemudian beralih praktik umum dan membuka praktik di daerah kelas bawah di Wina dekat Prader, sebah tempat percampuran antara taman bermain dan sirkus. Saat berpraktek dokter umum, klien-kliennya termasuk anggota kelompok sirkus. Kekuatan dan kelemahan para pemain sirkus inilah salah satu yang membuatnya mencetus konsep kepribadian inferoritas dan kompensasi, dan kemudian menjadikannya seorang psikiater. Adler sendiri merupakan salah satu tokoh psikoanalisis, yang mengembangkan metodenya sendiri. Ketika Freud mengemukakan manusia sebagai seorang individu, atau Jung kemudian menambahkan bahwa manusia merupakan makhluk bertuhan, Adler melengkapi pembahasan manusia sebagai makhluk sosial. Dengan penjelasan itu maka pada makalah ini akan dibahas konsep kepribadian menurut Alfred Adler.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah biografi singkat Alfred Adler? 2. Bagaimana definisi kepribadian dan struktur kepribadian menurut Adler? 3. Bagaimana prinsip teori Adler? 4. Bagaimana perkembangan kepribadian menurut Adler?

5. Apa saja penelitian yang terdapat di teori Adler? 6. Apa isu penting dalam kepribadian menurut Adler?

1.3 Tujuan 1. Menjelaskan biografi singkat Alfred Adler. 2. Mengetahui defini kepribadian dan struktur kepribadian menurut Adler. 3. Mengetahui prinsip teori Adler. 4. Mengetahui perkembangan kepribadian menurut Adler. 5. Mengetahui penelitian yang terdapat di teori Adler. 6. Mengetahui isu penting dalam kepribadian menurut Adler.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Biografi Singkat Alfred Adler Alfred Adler dilahirkan pada 7 Februari 1870 di pinggiran kota Wina dan wafat pada 28 Mei 1937 di Skotlandia. Adler tumbuh dan berkembang dalam keadaan menderita rakhitis dan pneumonia. Penyakit tersebut membuatnya lemah, tidak bisa berjalan bahkan hampir meninggal. Keadaan inilah yang menjadi motivasi utama Adler untuk menjadi seorang dokter. Pada tahun 1895, Adler menerima gelar dokter dari Universitas Wina dan beberapa tahun kemudian beralih ke dunia psikiatri. Adler adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ia tumbuh di lingkungan yang memiliki latar belakang kehidupan yang berdeda-beda. Adler menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan teman-temannya yang termasuk anak-anak Yahudi dan non-Yahudi dari kelas menengah dan bawah. Pengalaman inilah yang mungkin mempengaruhi kepeduliannya terhadap aspek sosial dari kepribadian. Pada tahun 1902 Adler bertemu dengan Freud dan menjadi anggota dari Wina Psychoanalytic Society selama sembilan tahun ke depannya lalu menjabat sebagai Presiden pada tahun 1910. Adler menulis tentang Organ Inferiority, karangan yang menyebabkan putus hubungannya dengan Freud, teori tentang adanya inferiority karena sifat manusia yang ingin mengatasi kekurangan fisiknya, bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki kelemahan organis dan inferioritas hadir dalam diri setiap manusia. Dengan kelemahan inilah manusia melakukan kompensasi yaitu menutupi kelemahannya. Teori Adler semakin hari semakin berbeda dengan Freud dan anggota lainnya. Menurut Freud, segalanya yang terjadi di masa lalu mempengaruhi siapa manusia itu sekarang. Sebaliknya, Adler berpendapat bahwa dorongan seseorang untuk mencapai kesempurnaan (striving for perfection) yang menentukan siapa manusia itu sekarang, dan masa lalu tidak sepenuhnya menciptakan style of life. Akhirnya pada tahun 1911 ia meninggalkan Wina Psychoanalytic Society. Adler kemudian membentuk kelompok yang bernama The Society for Individual Psychology dan segera menarik perhatian seluruh dunia. Saat ini kelompok Adlerian sudah terdapat di banyak negara, di Amerika Serikat dan Perhimpunan Amerika Utara.

Pada tahun 1935, setelah mengunjungi banyak negara, Adler menetap di New York City, di mana ia menjadi Profesor Psikologi Medis yang sekarang dikenal dengan Medical Downstate Center, Universitas Negeri dari New York.

2.2 Definisi Kepribadian dan Struktur Kepribadian Menurut Adler 2.2.1 Definisi Kepribadian Menurut Adler Alfred Adler menggambarkan manusia bukan sebagai korban dari insting dan konflik yang dikontrol oleh sifat-sifat biologis dan pengalaman masa kecil. Teori ini Ia sebut sebagai psikologi individual (Individual Psychology) karena ia memfokuskan pada keunikan dari setiap orang dan menyangkal motif-motif biologis dan tujuan yang universal seperti yang dikatakan Sigmund Freud. Menurut Adler, manusia adalah makhluk sosial. Kepribadian kita terbentuk dari lingkungan sosial dan interaksi yang unik, bukan oleh usaha-usaha mencapai kepuasan biologis. Karena itu Adler meminimalisir peran seks dalam teorinya. Bagi Adler, yang menjadi inti dari kepribadian adalah alam sadar kita dan manusia memiliki kebebasan untuk mengatur diri dan mengarahkan diri pada tujuan kita,bukan diatur oleh faktor-faktor dari luar yang tidak dapat kita kontrol. 2.2.2 Struktur Kepribadian Menurut Adler Manusia dimotivasi oleh adanya dorongan utama, yaitu mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Inferioritas berarti merasa lemah dan tidak memiliki keterampilan untuk menghadapi tugas atau keadaan yang harus diselesaikan. Hal itu tidak berarti rendah diri terhadap orang lain dalam pengertian yang umum, meskipun ada unsur membandingkan kemampuan diri dengan kemampuan orang lain yang lebih matang dan berpengalaman. Misalnya manusia yang lebih lemah akan berjuang untuk menjadi lebih kuat. Sedangkan superioritas bukan berarti lebih baik dibandingkan dengan orang lain, melainkan mencoba untuk menjadi lebih baik, semakin dekat dengan tujuan ideal seseorang. Adler meyakini bahwa motif utama setiap orang adalah untuk menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif.

2.3 Prinsip Teori Adler Berikut ini adalah adaptasi dari daftar yang menggambarkan pernyataan akhir dari psikologi individual (Adler, 1964) 1. Kekuataan dinamis di balik perilaku manusia adalah berjuang untuk meraih keberhasilan atau superioritas (striving for success or superiority) 2. Persepsi subjektif (subjective perception) manusia membentuk perilaku dan

kepribadiannya. 3. Kepribadian itu menyatu (unified) dan konsistensi diri. 4. Nilai dari semua aktivitas manusia harus dilihat dari sudut pandang minat sosial (social interest) 5. Struktur kepribadian yang self consistent berkembang menjadi gaya hidup (style of life) seseorang. 6. Gaya hidup dibentuk oleh daya kreatif manusia.

Striving for Success or Superiority Striving for success or superiority adalah suatu usaha terus menerus untuk menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih dekat dengan tujuan yang ingin dia capai. Adler menggambarkan striving for success or superiority sebagai dasar fundamental dari kehidupan dan bukan usaha untuk menjadi lebih baik dari orang lain, atau untuk menguasai. Adler mengatakan bahwa kita berjuang menjadi superior sebagai usaha melengkapi diri kita atau membuat kita merasa utuh. Menurut Freud, perilaku manusia ditentukan berdasarkan masa lalunya (seperti insting dan pengalaman masa kanak-kanak), sementara Adler melihat bahwa motivasi manusia adalah suatu hal yang menentukan masa depannya. Dia mengatakan bahwa hanya perjuangan menjadi superior yang dapat menjelaskan kepribadian dan tingkah laku seseorang. Ada 2 poin tambahan tentang striving for success or superiority ini. Pertama, hal ini lebih banyak meningkatkan daripada menurunkan tegangan. striving for success or superiority memerlukan energi dan usaha besar, maka Adler mengatakan manusia berusaha melawan stabilitas dan keadaan tenang. Kedua, bahwa striving for success or superiority itu dimiliki oleh individu dan masyarakat. Kita melakukan striving for success or superiority tidak hanya sebagai individu namun juga

sebagai anggota kelompok. Menurut Adler, individu dan masyarakat saling berhubungan dan bergantung satu sama lain.

Fictional Final Goals Salah satu teori yang dikemukakan Adler dalam membentuk perilaku kita adalah fictional final goals (finalisme fiktif). Hal ini dikatakan fiksi karna tidak mungkin dapat dilakukan di dunia nyata. Kita hidup dalam dunia dimana ada anggapan bahwa semua orang itu sama, atau pada dasarnya semua orang itu baik. Kepercayaan ini mempengaruhi cara kita bertingkah laku kepada orang lain. Misalnya, jika kita percaya bawa dengan melakukan hal-hal baik akan membawa kita ke surga maka kita akan melakukannya. Banyak hal-hal fiksi yang terjadi dalam kehidupan kita, menurut Adler, suatu formulasi besar yang diciptakan manusia adalah konsep tentang Tuhan. Contohnya, seorang mahasiswa yang akan masuk perguruan tinggi bukanlah didukung oleh prestasinya ketika di Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah, melainkan tujuannya mencapai gelar tersebut. Usaha mengikuti setiap tingkat pendidikan adalah bentuk tujuan semunya, sebab kedua hal tidak menunjukkan sesuatu yang nyata, melainkan hanya perangkat semu yang menyajikan tujuan yang lebih besar dari tujuan-tujuan yang lebih jauh pada masa datang. Dengan kata lain, tujuan yang dirumuskan individu adalah semua karena dibuat amat ideal untuk diperjuangkan sehingga mungkin saja tidak dapat direalisasikan. Tujuan fiksional atau semu ini tak dapat dipisahkan dari gaya hidup dan diri kreatif. Manusia bergerak ke arah superioritas melalui gaya hidup dan diri kreatifnya yang berawal dari perasaan rendah diri dan selalu ditarik oleh tujuan semu tadi. Tujuan semu yang dimaksud oleh Adler ialah pelaksanaan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia. Melalui diri keratifnya manusia dapat membuat tujuan semu dari kemampuan yang nyata ada dan pengalaman pribadinya. Kepribadian manusia sepenuhnya sadar akan tujuan semu dan selanjutnya menafsirkan apa yang terjadi sehari-hari dalam hidupnya dalam kaitannya dengan tujuan semu tersebut.

Inferioritas dan kompensasi Adler meyakini bahwa manusia dilahirkan disertai dengan perasaan rendah diri. Seketika individu menyadari eksistensinya, ia merasa rendah diri akan perannya dalam lingkungan. Individu melihat bahwa banyak mahluk lain yang memiliki kemampuan meraih sesuatu yang

tidak dapat dilakukannya. Perasaan rendah diri ini mencul ketika individu ingin menyaingi kekuatan dan kemampuan orang lain. Misalnya, anak merasa diri kurang jika dibandingkan dengan orang dewasa. Karena itu ia terdorong untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi. Jika telah mencapai taraf perkembangan tertentu, maka timbul lagi rasa kurang untuk mencapai taraf berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga individu dengan rasa rendah dirinya ini tampak dinamis mencapai kesempurnaan dirinya. Teori Adler mengenai perasaan rendah diri ini berawal dari pengamatannya atas penderitaan pasien-pasiennya yang seringkali mengeluh sakit pada daerah tertentu pada tubuhnya, mengenai psikosomatis, Adler mengatakan bahwa rasa sakit yang diderita individu sebenarnya adalah usaha untuk memecahkan masalah-masalah nonfisik. Keadaan tersebut, menurut Adler disebabkan adanya kekurang sempurnaan pada daerahdaerah tubuh tersebut, yang dikatakannya sebagai organ penyebab rendah diri (organ inferiority). Jadi manusia lahir memang tidak sempurna, atau secara potensial memiliki kelemahan dalam organ tubuhnya. Adanya stress menyebabkan organ lemah ini terganggu. Karenanya, setiap orang selalu berusaha mengkompensasikan kelemahannya dengan segala daya. Dalam hal ini usaha kompensasi ini ditentukan oleh gaya hidup dan usaha mencapai kesempurnaan (superior). Berkenaan dengan perasaan rendah diri dalam kondisi organik, Adler menciptakan istilah masculine protest, yakni istilah yang dimaksud untuk menerangkan perasaan rendah diri atau inferior ini dihubungkan dengan kelemahan (weakness) dan kewanita-wanitaan (femininity). Istilah ini merupakan suatu dinamika kepribadian manusia yang utama, karena hal ini merupakan usaha individu dalam mencapai kondisi yang kuat dalam mengkompensasikan perasaan rendah dirinya

The Style of Life Tujuan utama kita adalah superiority atau perfection (kesempurnaan), tapi cara kita untuk menuju hal tersebut berbeda-beda. Kita mengembangkan sebuah pola unik dari karakter, tingkah laku, kebiasaan, yang mana disebut Adler sebagai style of life atau gaya hidup. Bayi memiliki inferiority feelings yang memotivasi mereka untuk mengkompensasi rasa putus asa dan kebergantungan. Dalam upaya untuk melakukan kompensasi, anak-anak memperoleh berbagai macam tingkah laku. Tingkah laku ini menjadi bagian dari gaya hidup (the style of life).

Semua yang kita lakukan terbentuk dengan keunikan gaya hidup kita. Hal ini menentukan aspek kehidupan mana yang cenderung kita sukai atau tidak sukai, dan sikap mana yang kita pegang. Gaya hidup dipelajari dari interaksi sosial yang terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan. Adler mengatakan bahwa gaya hidup terbentuk sejak umur 4 atau 5 tahun, dan setelah itu sangat sulit untuk dirubah. Gaya hidup menjadi salah satu penentu dari sikap-sikap kita ke depannya. Contohnya, anak yang diabaikan merasa tidak mampu mengatasi tuntutan hidup, karena itu dia tumbuh dengan rasa ketidakpercayaan dan sering berseteru. Hasilnya, gaya hidupnya sering melibatkan rasa dendam, membenci kesuksesan orang lain, dan mengambil apapun yang dia rasa adalah haknya. Adler menggambarkan beberapa masalah yang umum dan membaginya dalam 3 kelompok: 1. 2. 3. Masalah yang melibatkan perilaku kita terhadap orang lain Masalah dalam pekerjaan Masalah tentang percintaan

Kemudian, Ia mengemukakan 4 gaya hidup yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah itu: 1. 2. 3. 4. Dominant type Getting type Avoiding type Socially useful type Tipe pertama adalah sikap memerintah dengan kesadaran sosial yang rendah. Orang seperti ini berperilaku tanpa memikirkan orang lain. Orang yang paling ekstrim dari jenis ini akan menyerang orang lain secara langsung dan menjadi sadis dan ganas. Sementara orang yang tidak terlalu ekstrim akan menjadi alkoholik, kecanduan obat, dan bunuh diri. Getting type (tipe paling umum menurut Adler) adalah yang mana manusia mengharapkan apa saja dari orang lain dan sangat bergantung dengan mereka. Avoiding type membuat tidak ada upaya dalam menghadapi masalah kehidupan. Dengan menghindari semua kesulitan, menghindari setiap kemungkinan terjadinya kegagalan. Social useful type dimana kita berdampingan dengan orang lain dan berperilaku sesuai dengan kebutuhan mereka. Orang-orang tersebut mengatasi permasalahan hidup dengan mengembangkan kerangka sosial dengan baik.

Social Interest Adler percaya bahwa bergaul dengan orang lain merupakan tugas pertama kita dalam menghadapi hidup. Adler mengkonsepkan minat sosial (social interest) sebagai potensial individu yang dibawa sejak lahir untuk bekerja sama dengan orang lain mencapai tujuan pribadi maupun sosial. Menurut Adler, meskipun kita lebih kuat dipengaruhi oleh sosial daripada biologis, potensi dari minat sosial ini merupakan pembawaan dari lahir. Namun, tingkat untuk potensi minat sosial bergantung pada awal pengalaman sosial kita. Adler menyatakan bahwa peran ibu sangat penting sebagai orang pertama dalam berhubungan dengan bayi. Melalui perilaku ibu kepada si anak, ibu dapat membantu perkembangan minat sosial anak. Individu diarahkan untuk memelihara dan memperkuat perasaan minat sosialnya ini dan meningkatkan kepedulian pada orang lain. Melalui empati, individu dapat belajar apa yang dirasakan orang lain sebagai kelemahannya dan mencoba memberi bantuan kepadanya. Individu juga belajar untuk melatih munculnya perasaan superior sehingga jika saatnya tiba, ia dapat mengendalikannya. Proses-proses ini akan dapat memperkaya perasaan superior dan memperkuat minat sosial yang mulai dikembangkannya. Dikarenakan manusia tidak sepenuhnya dapat mencapai superioritas, individu tetap memiliki perasaan ketidakmampuan. Namun individupun yakin bahwa masyarakat yang kuat dan sempurna akan dapat membantunya mencapai pemenuhan perasaan superior. Gaya hidup dan diri kreatif melebur dalam prinsip minat sosial yang pada akhirnya terwujud tingkah laku yang ditampilkan secara keseluruhan

Creative Self Adler berpendapat bahwa setiap orang memiliki kontrol terhadap hidupnya sendiri dan bahwa mereka menciptakan style of life mereka sendiri. Kekuatan kreativitas itulah yang membuat setiap individu menciptakan diri, karakter, serta kepribadian mereka. Diri yang kreatif adalah faktor yang sangat penting dalam kepribadian individu, Sebab hal ini dipandang sebagai penggerak utama, sebab pertama bagi semua tingkah laku. Dengan prinsip

ini Adler ingin menjelaskan bahwa manusia adalah seniman bagi dirinya. Ia lebih dari sekedar produk lingkungan atau mahluk yang memiliki pembawaan khusus. Ia adalah yang menafsirkan kehidupannya. Individu menciptakan struktur pembawaan, menafsirkan kesan yang diterima dari lingkungan kehidupannya, mencari pengalaman yang baru untuk memenuhi keinginan untuk superior, dan meramu semua itu sehingga tercipta diri yang berbeda dari orang lain, yang mempunyai gaya hidup sendiri. namun diri kreatif ini adalah tahapan di luar gaya hidup. Gaya hidup adalah bersifat mekanis dan kreatif, sedangkan diri kreatif lebih dari itu. Ia asli, membuat sesuatu yang baru yang berbeda dari sebelumnya, yakni kepribadian yang baru. Individu mencipta dirinya.

2.4 Perkembangan Kepribadian Menurut Adler Inferiority Feelings Adler percaya bahwa inferiority feelings selalu ada dalam diri manusia sebagai motivasi. Karena kondisi ini umum adanya pada diri kita, bukan sebagai suatu kelemahan atau tidak normal. Ia mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai kelemahan organis. Menurut Adler, kelemahan inilah yang mendorong manusia untuk mengadakan kompensasi, yaitu suatu usaha manusia untuk menutupi kelemahannya. Mekanisme kompensasi inilah yang mendasari tingkah laku manusia. Prosesnya bermulai sejak masa bayi. Bayi sangat kecil dan sangat bergantung dengan orang dewasa disekitarnya. Mereka menyadari akan kekuatan dari orang tua mereka sehingga mereka mengembangkan inferiority feelings mereka kepada orang-orang dewasa disekitarnya. Inferiority feelings ini mutlak adanya dan diperlukan karena ini menuntut bayi bertahan hidup dan bertumbuh.

Birth Order Adler menyatakan bahwa urutan kelahiran adalah pengaruh sosial yang utama ketika masa kanak-kanak. Meskipun memiliki hubungan saudara, berasal dari orang tua yang sama dan tinggal di rumah yang sama, mereka tidak memiliki lingkungan sosial yang sama. Adler menuliskan empat situasi yaitu anak pertama (the first-born child), anak kedua (the second-born child), anak paling muda (the youngest child) dan anak tunggal (the only child).

Anak Pertama (The First-Born Child) Anak pertama biasanya mendapat perhatian yang penuh dari orang tua mereka. Hasilnya, anak pertama memiliki kebahagiaan, dan hidup yang tentram- hingga anak kedua lahir. Adler yakin bahwa semua anak pertama merasa terkejut akan pergeseran status mereka dalam keluarga, tetapi bagi mereka yang manja berlebihan akan merasakan kehilangan yang lebih besar. Karena telah terbiasa memiliki kekuasaan, anak pertama cenderung membawa sifat itu sepanjang hidupnya. Ada keuntungan-keuntungan menjadi anak pertama. Pada usia muda, anak pertama sering diharapkan oleh orang tua untuk membantu menjaga saudara kandungnya lebih muda. Pengalaman ini sering membuat anak pertama lebih dewasa secara intelektual dibandingkan saudara lainnya. Adler yakin bahwa anak pertama memiliki ketertarikan pada pemeliharaan urutan dan kekuasaan. Adler menemukan bahwa mereka menjadi organisator yang sangat bagus, teliti dan cermat terhadap detail dan penguasa serta bersikap konservatif. Anak pertama dapat tumbuh dengan perasaan tidak aman dan bermusuhan terhadap yang lain. Adler menemukan bahwa penjahat, kriminal dan neurotik lebih sering adalah anak pertama.

Anak Kedua (The Second-Born Child) Anak kedua, yang membuat pergolakan pada hidup anak pertama, tidak pernah memiliki pengalaman posisi kekuasaan yang dialami oleh anak pertama sehingga mereka tidak mengalami shock yang berat seperti anak pertama bila ada bayi lainnya. Bayi kedua tidak membawa sesuatu yang baru seperti anak pertama dan orang tua mungkin lebih rileks dalam menghadapi anak kedua. Pada awalnya, anak kedua yang menentukan model pada saudara kandung yang lebih tua. Anak kedua selalu mencontoh perilaku dari anak yang lebih tua sebagai model. Persaingan dengan anak pertama dapat memotivasi anak kedua, yang berusaha untuk mengejar dan mengungguli saudara kandungnya yang lebih tua. Mereka optimis tentang masa depan dan suka untuk bersaing dan ambisius, seperti Adler. Namun, keterampilan yang baik dari anak pertama dapat menenggelamkan sifat kompetitif anak kedua sebab ia merasa tidak akan pernah bisa menang dari saudaranya yang lebih tua.

Anak Paling Muda (The Youngest Child) Anak paling muda atau anak terakhir tidak pernah mengalami shock dethronement dari anak lain dan sering dijadikan kesayangan di dalam keluarga, terutama jika hubungan dengan saudara kandung yang lainnya lebih tua dari beberapa tahun. Didorong melalui kebutuhan yang melebihi dari saudara kandung yang lebih tua, anak terakhir sering berkembang sungguh cepat. Anak terakhir sering berprestasi tinggi di dalam pekerjaan apapun yang mereka kerjakan seperti orang dewasa. Bagaimanapun anak yang paling muda biasanya manja dan mereka tidak membutuhkan pembelajaran untuk melakukan apapun sendiri. Tidak biasa dengan kondisi untuk berusaha dan berjuang, mereka akan sulit untuk menyelesaikan masalah pada masa dewasa.

Anak Tunggal (The Only Child) Anak tunggal tidak pernah kehilangan posisi keunggulan dan kekuatan yang mereka dapatkan di dalam keluarga, mereka tetap menjadi fokus dan pusat perhatian. Anak tunggal sering tumbuh dewasa dengan cepat dan meraih kedewasaan perilaku sebab mereka lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan orang dewasa daripada saudara kandung mereka. Anak tunggal akan merasa kesulitan ketika mereka tidak menjadi pusat perhatian. Anak tunggal telah belajar, untuk selalu menjadi yang pertama. Jika kemampuan anak tidak membawa cukup pengakuan dan perhatian, dia mungkin merasa sangat kecewa. Dengan gagasan tentang urutan kelahiran, Adler tidak menaruh aturan tetap untuk perkembangan pada masa kanak-kanak. Anak tidak akan secara otomatis memperoleh karakter semata-mata didasarkan pada posisinya di dalam keluarga. Adler memberi kemungkinan dari perkembangan gaya hidup tertentu yang pasti akan berkembang karena fungsi dari urutan kelahiran yang digabungkan dengan interaksi sosial seseorang pada awal hidupnya.

2.5 Penelitian Yang Terdapat di Teori Adler Assessment and Research in Adlers Theory Adler mengobservasi kepribadian pasiennya baik cara mereka berjalan, duduk, bersalaman, bahkan pemilihan kursi untuk diduduki. Tidak seperti Freud, Adler tidak memperlakukan pasiennya dengan formal dan sesi terapi Adler lebih seperti percakapan antar teman. Metode utama Adler dalam assessment yaitu urutan kelahiran,ingatan awal dan analisis mimpi.

Adler melakukan beberapa penelitian terkait mimpi (dreams), ingatan awal(early recollections), minat bersosialisasi (social interest), urutan kelahiran (birth order) dan diabaikan pada masa kanak-kanak (neglect in childhood). 1. Mimpi Adler menginterpretasikannya mimpi secara berbeda dari Freud. Freud berpendapat bahwa mimpi mengindikasikan konflik terselubung di masa lalu, sedangkan Adler percaya bahwa mimpi berorientasi pada masalah yang sedang dihadapi dan ingin diselesaikan seseorang. Pada penelitiannya, Adler menemukan bahwa orang yang dibangunkan saat tahap tidur REM memimpikan hal yang paling mengkhawatirkan mereka saat itu. 2. Ingatan Awal Merupakan teknik pengkajian kepribadian dimana ingatan awal,baik yang nyata atau fantasi, menyatakan keinginan utama dalam hidup. Menurut Adler, kepribadian seseorang terbentuk pada usia 4 sampai 5 tahun pertama dan ingatan awal pada masa itu mengindikasikan gaya hidup serta membentuk karakter seseorang sampai dewasa. 3. Pengukuran Minat Bersosialisasi Adler tidak setuju menggunakan alat test untuk mengukur kepribadian seseorang. Menurut Adler, alat test hanya akan merekayasa kepribadian sesungguhnya serta membingungkan dan bahwa para terapis seharusnya meningkatkan intuisi mereka. Namun, hasil test SIS (Social Interest Scale) menunjukkan bahwa orang-orang dengan minat sosial tinggi mengalami lebih sedikit stress, depresi, kecemasan dan kekerasan dibandingkan dengan yang rendah minat sosialnya. 4. Urutan Kelahiran Menurut Adler, urutan kelahiran menentukan kepribadian seseorang. Anak pertama bersifat penguasa yang mana dicapai melalui prestasi kerja mereka. Anak kedua/tengah, menurut Adler,lebih kompetitif dan ambisius tetapi sebuah riset membuktikan bahwa anak kedua memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah (Kidwell,1982). Anak terakhir diprediksi sebagai anak yang manja dan berpeluang bermasalah dalam menempatkan diri sebagai orang dewasa. Sedangkan anak tunggal dikatakan paling ingin menjadi pusat perhatian serta lebih egois dibandingkan anak-anak yang memiliki saudara. 5. Diabaikan pada Masa Kanak-kanak

Adler menyatakan bahwa anak-anak yang diabaikan atau ditolak oleh orang tuanya cenderung merasa dirinya tidak berharga sehingga mempengaruhi kepribadian mereka. Suatu penelitian dengan 714 orang dewasa yang depresi mengemukakan bahwa mereka merasa orang tua mereka pernah melakukan kekerasan dan memberi penolakan terhadap mereka.

2.6 Isu Penting Dalam Kepribadian Menurut Adler a. Free Will or Determinism Setiap orang mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan kata lain kita yang mengatur dan mengubah hidup kita sendiri. Sehingga, free will lebih berperan sebab menurut Adler , manusia tidak didominasi oleh faktor-faktor yang tidak dapat dikontrol mereka. b. Nature or Nurture Adler berpendapat bahwa kepribadian seseorang saling mempengaruhi baik nature maupun nurture,dimana kepribadian seseorang itu dapat dibentuk baik dari genetik maupun dari lingkungan sekitarnya. c. Past or Present Keduanya saling mempengaruhi pembentukan kepribadian baik past maupun present, dimana kepribadian dibentuk melalui pengalaman masa kanak- kanak sampai dewasa. d. Uniqueness or Universality Tidak seperti Freud yang melihat manusia sebagai makhluk yang sama, Adler berpandangan bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk membentuk gaya-gaya sosial yang mempengaruhi kita dan mengkonstruksi gaya hidup yang unik. e. Equilibrium or Growth Menurut Adler,manusia harus strive for perfection,sebab ia meyakini bahwa manusia harus termotivasi agar tumbuh dan berkembang. f. Optimism or Pessimism Adler berpandangan optimis akan adanya progress sosial serta melihat sisi positif dari manusia.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Alfred Adler merupakan seorang yang dibesarkan pada kota yang sama, situasi dan kondisi yang sama, dan lapangan kerja yang sama dengan Sigmund Freud, bahkan ia awalnya merupakan pengikut setia aliran Freud. Akan tetapi berkat belajar dari pengalamannya dalam menangani pasien, menjadikan ia seorang yang sama terkenalnya dengan gurunya Freud. Walaupun dari substansi teorinya memiliki kontradiksi yang cukup tajam, bahkan perbedaan ini memisahkan hubungan keduannya. Berefleksi dari pengalaman menangani dan mengamati perilaku pasiennya, ia dengan sistematis dan berangsur-angsur mematahkan pendapat Freud tentang perilaku manusia. Berbeda dengan Freud, Adler mempunyai nilai lebih dalam teorinya, yang kami kira mampu menarik banyak simpati kalangan praktisi psikologi waktu itu. Dimana ia menilai manusia sebagai mahluk yang memiliki power untuk dapat hidup, walaupun hal itu digambarkan sebagai suatu kompensasi dalam menyembunyikan dan menghilangkan segala kekurangan dalam dirinya. Pendapat ini sepertinya memberikan pencerahan baru bagi dunia psikologi yang pada saat itu terdominasi dengan naluri sexual-nya Freud. Teori psikologi individual Adler ini, memang lebih banyak berupaya menyadarkan manusia, bahwa ia merupakan mahluk yang berdaya dan memiliki rasa sosial yang dalam, sehingga itu pulalah ia dapat survive dalam menjalani hidup. Teori ini pula, memiliki kekuatan dalam hal memprediksi perilaku manusia melalui tujuan semu atau akhir dari perilaku yang diperbuatnya, sebagai tujuan akhir yang merupakan gambaran dari diri manusia tersebut. hal ini sangat menarik karena merupakan pandangan yang dianggap sangat positif dan futureristik, dan hal ini tentunya dapat membangkitkan semangat dan gaya hidup manusia dalam melakukan aktivitas.

DAFTAR PUSTAKA
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196010151987101ZULKIFLI_SIDIQ/PSIKOLOGI_INDIVIDUAL_ALFRED_ADLER.pdf , diakses pada 13 November 2013 http://12070rzg.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false.html , diakses pada 13 November 2013

Anda mungkin juga menyukai