Anda di halaman 1dari 6

Apa Itu Endoskopi Hidung?

Endoskopi hidung adalah instrumen seperti tabung khusus, dilengkapi dengan lampu kecil dan kamera yang digunakan untuk memeriksa bagian dalam hidung dan daerah drainase sinus. Endoskopi hidung memungkinkan dokter untuk melihat tempat yang dapat diakses jalur drainase sinus. Rongga hidung Anda mungkin pertama kali dibuat mati rasa dengan menggunakan anestesi lokal (beberapa kasus tidak memerlukan anestesi). Kemudian endoskopi yang kaku atau fleksibel ditempatkan dalam posisi untuk melihat struktur tulang tengah rongga hidung. Prosedur ini digunakan untuk mengamati tanda-tanda obstruksi serta mendeteksi polip hidung yang tersembunyi dari pemeriksaan hidung rutin. Selama tes endoskopi, dokter juga mencari adanya kelainan struktural yang mungkin menyebabkan Anda menderita sinusitis berulang.

Lendir dibuat oleh tubuh untuk membasahi dinding sinus. Di dinding sinus, lendir tersebut akan dipindahkan di seluruh lapisan jaringan menuju setiap pembukaan sinus oleh jutaan silia (seperti perpanjangan ekstensi rambut dari sel). Iritasi dan pembengkakan akibat alergi dapat mempersempit pembukaan sinus dan menghalangi gerakan lendir. Jika antibiotik dan obat lain tidak efektif dalam membuka sinus, maka operasi mungkin diperlukan. Dan juga, jika ada kelainan struktural dari sinus seperti polip hidung yang dapat menghambat drainase sinus, maka operasi mungkin diperlukan. Operasi dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau umum menggunakan endoskop. Kebanyakan orang dapat kembali melakukan aktivitas normal dalam waktu lima sampai tujuh hari setelah operasi. Pemulihan total biasanya memakan waktu sekitar empat sampai enam minggu. Sebuah prosedur yang disebut turbinectomy juga dapat dilakukan untuk mengecilkan jaringan yang membengkak dari hidung. Prosedur ini dapat dilakukan di klinik dokter Anda dan hanya membutuhkan waktu sebentar. Anestesi yang digunakan mirip dengan yang digunakan dalam prosedur dokter gigi. Apa yang Terjadi Jika Sinusitis Tidak Diobati?

Menunda pengobatan untuk sinusitis dapat menyebabkan penderita menderita sakit yang tidak perlu dan ketidaknyamanan. Dalam kasus yang sangat jarang, sinusitis yang tidak diobati dapat menyebabkan abses otak atau meningitis dan infeksi tulang. ADAKAH HUBUNGAN ANTARA SINUSITIS DAN SAKIT GIGI?

Peradangan di sinus dan sakit gigi seringkali terjadi bersamaan. Tekanan sinus, terutama di sinus maksilaris, bisa menyebabkan rasa sakit yang menyebar ke rahang dan gigi, dan bisa dikira sebagai sakit gigi. Pasien yang mengidap infeksi sinus bisa saja mengalami sakit gigi dan berasumsi bahwa penyebab rasa sakit itu terletak di mulut dan akibatnya salah mengira penyebab yang sebenarnya. Sinus maksilaris adalah rongga-rongga di tulang tengkorak yang letaknya tepat di atas (atau disebut maksilaris) gigi. Rongga-rongga sinus letaknya sangat dekat dengan gigi atas dan hanya terpisahkan oleh jaringan tulang yang tipis dengan akar gigi. Jaringan saraf yang melewati akar-akar gigi ini menjalar melalui garis rongga sinus. Iritasi sinus menyebabkan membran pada sinus memproduksi cairan dalam rongga sinus. Ketika jaringan lunak dari rongga sinus lain atau saluran nasal mengalami iritasi, cairan ini akan mengalir sebagai post-nasal drip. Meskipun demikian, saluran dalam sinus maksilaris tidak terletak di dasar rongga, artinya cairan tersebut akan terkumpul di dasar sinus. Cairan tersebut tidak hanya menciptakan tekanan di dalam sinus namun juga menyebabkan iritasi pada jaringan lunak di sekelilingnya. Jaringan yang teriritasi itu akan membengkak dan semakin meningkatkan tekanan pada sinus. Tekanan itu bisa menyebabkan rasa sakit pada sinus secara langsung dan juga mempengaruhi gigi. Saraf pada gigi akan tertekan oleh tekanan dari dalam sinus dan akibatnya terjadilah sakit gigi. Otak hanya mencatat bahwa saraf di gigilah yang sakit dan tidak bisa mendeteksi bahwa sumber rasa sakit itu sebenarnya berada pada saraf di atas gigi. Ketika pasien melaporkan sinus yang mampet dan sakit gigi, maka infeksi sinuslah yang kemungkinan besar terjadi. Sakit gigi akibat infeksi sinus akan berupa rasa sakit yang berkepanjangan di bagian gigi atas dan juga rahang. Radang sinus dan gejala-gejala sinusitis lainnya seringkali, tapi tidak selalu, menyertai sakit gigi seperti ini. Pasien-pasien yang mengalami pembengkakan atau infeksi sinus dan sakit gigi biasanya perlu memeriksakan diri ke dokter. Antibiotik umumnya diperlukan untuk melawan infeksi. Obat antialergi, dekongestan, dan irigasi

nasal bisa juga direkomendasikan, tergantung penyebab pembengkakannya. Infeksi di gigi maksilaris juga bisa menyebabkan iritasi pada sinus maksilaris. Gigi yang terinfeksi cenderung diakibatkan oleh kesehatan mulut yang buruk dan pengabaian perawatan gigi. Ketika infeksi mencapai akar gigi, maka infeksi itu akan menyebar ke jaringan-jaringan di sekelilingnya, termasuk membran sinus. Jika terus dibiarkan, pasien akan terus menerus mengalami infeksi sinus dan sakit gigi. Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru- paru beserta pembungkusnya ( pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalamrongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut oleh diafragma. 2.2.1 Hidung = Naso = Nasal Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang( cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi). Didalam terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang hidung. 1. Bagian luar dinding terdiri dari kulit 2. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan. 3. Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang berjumlah 3 buah: a) konka nasalis inferior ( karang hidup bagian bawah) b) konka nasalis media(karang hidung bagian tengah) c) konka nasalis superior(karang hidung bagian atas). Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis(lekukan bagian tengah dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak, lubang ini disebut koana. Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada rongga tulang tapis. Pada sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut terutama terdapat di bagianb atas. Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf penciuman disebut nervus olfaktorius. Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langitlangit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva

eustaki, yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakminaris. Fungsi hidung, terdiri dari 1. bekerja sebagai saluran udara pernafasan 2. sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung 3. dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa 4. membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau hidung. 2.2.2 Tekak=Faring Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan organ-organ lain keatas berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang lubang esofagus. Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid. Disebelahnya terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang terdapat epiglotis( empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan. Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian: 1. bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring. 2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut orofaring 3. Bagian bawah sekali dinamakan laringgofaring. 2.2.3 Pangkal Tenggorokan(Laring) Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring. Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain: 1. Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat jelas terlihat pada pria. 2. Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker 3. Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin 4. Kartilago epiglotis (1 buah). Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epiteliumnberlapis. Proses pembentukan suara

merupakan hasil kerjasama antara rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah dan bibir. Perbedaan suara seseorang tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria jauh lebih tebal daripada pita suara wanita. 2.2.4 Batang Tenggorokan ( Trakea) Merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut sel bersilia,hanya bergerak kearah luar. Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina. 2.2.5 Cabang Tenggorokan ( Bronkus) Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan ( 3 lobus) dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus).bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus segmentalisini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki: arteri, limfatik dan saraf. Bronkiolus Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas. Bronkiolus terminalis Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis( yang mempunyai kelenjar lendir dan silia) Bronkiolus respiratori Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori. Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas. Duktus alveolar dan sakus alveolar Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar. Dan kemudian menjadi alvioli.

2.2.6 Alveoli Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2. Terdiri atas 3 tipe: Sel-sel alveolar tipe I : sel epitel yang membentuk dinding alveoli

Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif secara metabolik dan nensekresikan surfaktan ( suatu fosfolifid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)ahanan Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan. 2.2.7 Paru paru

Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga dada atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh dareah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis, paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus dan fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus. Lobus-lobus tersebut terbagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya. 2.2.8 pleura Merupakan lapisan tipisyang mengandung kolagen dan jaringan elastis. Terbagi menjadi 2: Pleura perietalis yaitu yang melapisi rongga dada Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru. Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernafsan. Juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru. Sinusitis kronis biasanya didiagnosis berdasarkan riwayat medis dan pemeriksaan lengkap. Tes alergi dapat dilakukan untuk mengidentifikasi sensitivitas alergen tertentu. Endoskopi atau CT scan mungkin diperintahkan untuk mendeteksi mukosa menebal, bukaan sinus diblokir dan penghalang yang mengganggu drainase. Nasal endoskopi dilakukan dengan menggunakan endoskop ramping, tabung fleksibel dengan cahaya serat optik di akhir. Hidung dan sinus yang pertama kali diobati dengan obat bius ( obat mati rasa ) dan dekongestan untuk memudahkan penyisipan endoskopi. Bila perlu, contoh atau biopsi diambil melalui endoskopi untuk pemeriksaan laboratorium. CT scan akan memberikan tampilan rinci hidung dan sinus dari sudut yang berbeda untuk menemukan lokasi yang tepat dari penyumbatan.