Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DALAM MENILAI KINERJA KEUANGAN PADA PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S DI BALIKPAPAN (STUDI KASUS

PADA PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S DI BALIKPAPAN) Classyane (classyane@yahoo.com)


Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman

Jamaluddin MD.
Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman

Dwi Risma Deviyanti


Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan PT Mulia Serba Auto 3S Yamaha ditinjau dari likuiditas, solvabilitas rasio aktivitas, dan profitabilitas pada tahun 2010 dan 2011. Penelitian ini menggunakan data yang dikumpulkan pada 2010-2011 untuk data keuangan perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, di mana penulis menggunakan data yang diperoleh dalam bentuk laporan keuangan langsung dari PT Serba Mulia Auto 3S Yamaha di Balikpapan. Data yang diperoleh dalam makalah ini diperoleh melalui penelitian lapangan dan studi kepustakaan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan ditinjau dari rasio likuiditas meningkat dari 2010 hingga 2011. Ditinjau dari rasio solvabilitas, kinerja keuangan perusahaan juga meningkat dari 2010 hingga 2011. Pada rasio aktivitas, kinerja keuangan perusahaan tahun 2010 menjadi 2011 meningkat. Dan dalam rasio profitabilitas, kinerja perusahaan menurun dari 2010 hingga 2011. Peningkatan total kewajiban perusahaan pada tahun 2011 sangat mempengaruhi rasio likuiditas dan solvabilitas. Dari hasil analisis ini maka disarankan agar pihak manajemen PT Serba Mulia Auto 3S Yamaha harus mulai melakukan analisis laporan keuangan setiap periode.

Kata kunci: Laporan Keuangan, Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Aktivitas, Rasio Profitabilitas

ABSTRACT
This Research aim to analyze the financial performance of PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S evaluated from liquidity ratio, solvability, activity and profitability in 2010 and 2011. This research uses pooled data in 2010-2011 for company's finance data. The data used in this research is primary data, where the authors used data obtained in the form of direct financial statements of PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S di Balikpapan. The data acquired in this paper obtained through field research and library research. Based on research results, it can be concluded that the financial performance of companies evaluated from liquidity ratio has increased from 2010 to 2011. Evaluated from solvency ratio, the company's financial performance also increased from 2010 to 2011. In activity ratio, the company's financial performance in 2010 to 2011 increased. And in profitability ratio, the company's performance decreased from 2010 to 2011. Increase in total liabilities of the company in 2011 greatly affect the liquidity and solvency ratios. From result analyse this is hence suggested that the side of management PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S must start to performs a financial statement analysis every period.

Key words: Financial Statements, Liquidity Ratio, Solvability Ratio, Activity Ratio, Profitability Ratio

I. A.

Pendahuluan Latar Belakang Laporan keuangan perusahaan merupakan hasil dari suatu proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk komunikasi dengan pengguna laporan keuangan dan juga digunakan sebagai alat pengukur kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan. Pengukuran kinerja keuangan berdasarkan laporan keuangan banyak dilakukan dengan menggunakan alat ukur kinerja yang kadang berbeda. Untuk menilai berapa jauh efektivitas operasi perusahaan dalam mencapai tujuannya diperlukan metode pengukuran tertentu. Salah satu cara untuk mengetahui kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilakukan dengan melakukan analisis terhadap laporan keuangannya. Analisis laporan keuangan suatu perusahaan sangatlah diperlukan, dikarenakan laporan keuangan diharapkan dapat memberikan informasi tentang arus masuk maupun arus keluar keuangan perusahaan. Analisa terhadap laporan keuangan ini merupakan perangkat khusus yang digunakan dalam mengevaluasi kinerja perusahaan, kinerja aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan. Dengan menggunakan analisis laporan keuangan maka perusahaan dapat merencanakan dan mengatur segala kebutuhan perusahaan untuk mengukur kekuatan dan kelemahan dalam mencapai dan meningkatkan apa yang di cita-citakan perusahaan. Seperti diketahui bahwa laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memberikan ikhtisar mengenai keadaan keuangan dan perkembangan finansial perusahaan. Untuk itu, laporan keuangan perlu dianalisis untuk dapat memberikan informasi yang lebih rinci mengenai kinerja keuangan yang dicapai oleh PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S yang akhirnya dipakai sebagai evaluasi terhadap efektivitas kegiatan perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva yang ada untuk melihat kemampuan perusahaan memperoleh laba.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang, maka dapat dirumuskan masalahnya adalah Apakah kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S tahun 2011 lebih baik dibanding tahun 2010 ditinjau dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas? C. Tujuan Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S pada tahun 2010 dan 2011 ditinjau dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas.

II. Tinjauan Teoritis A. Dasar Teoritis 1. Pengertian Laporan Keuangan Menurut Sutrisno (2008: 9), Laporan Keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni (1) Neraca dan (2) Laporan Laba-Rugi. Setiap perusahaan mempunyai laporan keuangan yang bertujuan menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan secara ekonomi. Menurut Weygandt, et al. (2008: 58), FASB menyimpulkan bahwa tujuan-tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang: 1. Berguna bagi mereka yang membuat keputusan investasi dan kredit. 2. Membantu dalam memperkirakan arus kas di masa depan. 3. Mengidentifikasi sumber daya ekonomis (aset), klaim atas sumber daya tersebut (kewajiban) serta perubahan pada sumber daya dan klaim tersebut. 2. Komponen Laporan Keuangan Tanjung (2007: 149) mengemukakan pengertian neraca yang dikutipnya dari Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan 01 Paragraf 38, menjelaskan bahwa neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. Weygandt, et al. (2007: 29) mengemukakan bahwa laporan laba rugi menyajikan pendapatan dan beban serta laba atau rugi bersih yang dihasilkan selama suatu periode waktu tertentu Darsono, et al. (2005: 24) mengungkapkan bahwa laporan perubahan modal menggambarkan saldo dan perubahan hak si pemilik yang melekat pada perusahaan. Menurut Djarwanto (2004: 54) laporan perubahan modal disusun untuk perusahaan yang berbentuk perseorangan dengan cara memperhitungkan pendapatan bersih yang diterima atau kerugian bersih yang diderita, pemakaian prive dan penambahan modal oleh pemilik. 3. Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan adalah segala sesuatu yang menyangkut penggunaan informasi akuntansi untuk membuat keputusan bisnis dan investasi (Astuti, 2004: 29) Sedangkan pengertian analisis laporan keuangan menurut Harahap (2006: 190) adalah sebagai berikut: Analisis laporan keuangan yaitu menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang sangat tepat. Menganalisis laporan keuangan berarti mengevaluasi tiga karakteristik dari perusahaan, yaitu likuiditas, profitabilitas dan solvabilitas, yang menjadi faktor penting yang harus diperhatikan oleh penganalisa. 1) Likuiditas menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban pada saat ditagih.

2) 3)

Profitabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Solvabilitas menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

Menurut Weygandt, et al. (2008: 389), ada 3 cara yang umum digunakan untuk mengevaluasi pentingnya data laporan keuangan, antara lain: 1) Analisis horizontal, adalah sebuah teknik untuk mengevaluasi serangkaian data laporan keuangan selama periode waktu tertentu. 2) Analisis vertikal, adalah sebuah teknik untuk mengevaluasi data laporan keuangan yang menyatakan setiap pos dalam sebuah laporan keuangan sebagai persentase dari jumlah dasar. 3) Analisis rasio, menyatakan hubungan diantara pos-pos tertentu dari data laporan keuangan. Secara umum, rasio keuangan dibagi menjadi 4 jenis, antara lain: rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. a. Rasio Likuiditas Pengertian rasio likuiditas menurut Darsono, et al. (2004: 51) adalah rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek. Menurut Astuti (2004: 31), posisi likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Likuiditas berhubungan dengan masalah kepercayaan kreditor jangka pendek kepada perusahaan yang ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar. Rasio likuiditas dibagi menjadi dua macam, antara lain sebagai berikut: 1) Rasio Lancar / Current Ratio Rasio lancar adalah pengukuran yang digunakan secara luas untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan dan kemampuan membayar utang jangka pendek menurut Weygandt, et al. (2008: 396). Sedangkan Astuti (2004: 31) mengemukakan bahwa rasio lancar ini memberikan indikator terbaik atas besarnya klaim kreditor jangka pendek yang dapat ditutup oleh aktiva yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas dalam jangka pendek. 2) Rasio Cepat / Quick Ratio Harahap (2006: 302) mengatakan bahwa rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi utang lancar. Menurut Darsono, et al. (2004: 74), rasio cepat mengukur kemampuan aktiva lancar minus persediaan untuk membayar kewajiban lancar. Rasio Solvabilitas Menurut Raharjaputra (2009: 200), rasio solvabilitas mengukur sejauh mana perusahaan mendanai usahanya dengan membandingkan antara dana sendiri yang telah disetorkan dengan jumlah pinjaman dari para kreditur. Menurut Weygandt, et al. (2008: 406), rasio solvabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk bertahan selama periode waktu yang panjang. Sutrisno (2008: 3) membagi rasio solvabilitas menjadi lima macam, yaitu:
4

b.

1)

2) 3) 4)

Total Debt to total Asset Ratio. Rasio total hutang dengan total aktiva yang biasa disebut rasio hutang, mengukur prosentase besarnya dana yang berasal dari hutang. Debt to Equity Ratio. Rasio hutang dengan modal sendiri merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Time Interest Earned Ratio Interest Coverage. Rasio ini menunjukkan kemampuan laba dalam menutup biaya bunga. Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan bahwa laba yang tersedia untuk membayar biaya bunga semakin besar.

c.

Rasio Profitabilitas Astuti (2004: 36) mengemukakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba dan satu-satunya ukuran profitabilitas yang paling penting adalah laba bersih. Menurut Harahap (2006: 304) rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Sutrisno (2008: 3) membagi rasio profitabilitas menjadi lima macam, yaitu: 1) Profit Margin. Rasio ini merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang dicapai. 2) Return on Asset. Rasio ini menggambarkan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. 3) Return on Equity. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki. 4) Return on Investment. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutupi investasi yang digunakan. 5) Earning Per Share. Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik. d. Rasio Aktivitas Rasio Aktivitas menurut Raharjaputra (2009: 199) yaitu rasio yang mengukur seberapa efektif (hasil guna) perusahaan menggunakan sumber dayanya. Menurut Harahap (2006: 308) rasio ini menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya, baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya. Sutrisno (2008: 219) membagi rasio aktivitas ini menjadi empat macam, antara lain: 1) Inventory Turnover. Rasio ini menunjukkan berapa cepat perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Semakin tinggi rasio ini, semakin efektif perusahaan dalam memngelola persediaan. 2) Receivable Turnover. Rasio ini menujukkan berapa cepat penagihan piutang. Semakin cepat perputaran piutang, semakin efektif perusahaan dalam mengelola piutangnya. 3) Fixed Aset Turnover. Rasio ini menunjukkan berapa kali nilai aktiva berputar bila diukur dari volume penjualan. 4) Total Aset Turnover. Rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva diukur dari volume penjualan, dengan kata lain seberapa jauh kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Semakin besar perputaran aktiva, semakin efektif perusahaan mengelola aktivanya.
5

B. Kerangka Konsep
Analisis Laporan Keuangan dalam Menilai Kinerja Keuangan pada PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S di Balikpapan

Alat Analisis: Rasio Likuiditas Rasio Solvabilitas Rasio Aktivitas Rasio Profitabilitas

Rumusan Masalah: Apakah kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S tahun 2011 lebih baik dibanding tahun 2010 ditinjau dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas?

Hasil Analisis

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

III. Metode Penelitian


A. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, dimana data yang digunakan penulis dalam bentuk laporan keuangan diperoleh langsung dari PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S di Balikpapan. Sebagai bahan analisa dalam penelitian ini, maka data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain: 1. Gambaran umum PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 2. Struktur Organisasi PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 3. Neraca perusahaan per 31 Desember 2009, 2010 dan 2011 4. Laporan Laba Rugi Perusahaan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2010 dan 2011 5. Laporan Perubahan Modal untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2010 dan 2011 B. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah:
6

1.

2.

Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan datang langsung ke objek penelitian (Pegadaian Syariah cabang Gunung Sari Balikpapan) tersebut sebagai bahan penulisan skripsi ini yang ditempuh dengan cara : a) Observasi yaitu mengamati secara langsung kegiatan perusahaan dan menampung berbagai informasi yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini. b) Interview yaitu mencari data dengan secara langsung melakukan tanya jawab pada pimpinan untuk memperoleh bahan masukan sehingga dapat digunakan untuk menunjang penganalisaan selanjutnya. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dilakukan dengan cara mengumpulkan data perpustakaan dengan cara membaca dan menggunakan literatur-literatur yang berhubungan dengan pembahasan yang diangkat dalam penulisan laporan ini. Alat Analisis

C.

Dalam melakukan penelitian analisis terhadap laporan keuangan perusahaan, penulis menggunakan alat analisis yang dikutip dari Sutrisno (2008:215), antara lain sebagai berikut: 1. Rasio Likuiditas a. Current Ratio Current Ratio b. Quick Ratio Quick Ratio 2. =
Aset Lancar Persediaan Hutang Lancar

Aset Lancar Hutang Lancar

x 100%

x 100%

Rasio Solvabilitas a. Total Debt to Total Asset Ratio Total Hutang Debt Ratio = x 100% Total Aktiva b. Debt to Equity Ratio Debt to Equity Ratio =
Total Hutang Modal

x 100%

3.

Rasio Aktivitas a. Inventory Turnover Inventory Turnover b. Fixed Assets Turnover Fixed Assets Turnover c. Asset Turnover Asset Turnover =

7

x 1 kali

x 1 kali

x 1 kali

4.

Rasio Profitabilitas a. Gross Profit Margin Gross Profit Margin b. Profit Margin Profit Margin c. Return on Equity Return on Equity =

x 100%

x 100%

x 100%

IV. Analisis dan Pembahasan A. Analisis


PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S NERACA PER 31 DESEMBER 2009
Catatan AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Piutang Usaha Pembayaran Dibayar di Muka Piutang Lain-Lain Persediaan Total Aktiva Lancar AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva Tetap Berwujud Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Total Aktiva Tidak Lancar TOTAL AKTIVA

1b,2 1c,3 1d,4 1c,5 1e,6

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

299.159.500,97 1.378.781.820,90 1.092.317,40 20.328.300,00 987.321.765,54 2.686.683.704,81

1f,7 1f,7

Rp Rp Rp Rp

201.606.000,00 (92.706.201,16) 108.899.798,84 2.795.583.503,65

KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Uang Muka Biaya yang Masih Harus Dibayar Hutang Pajak Hutang Rekening antar Kantor Hutang Lain-Lain Total Kewajiban Lancar KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang Bank Hutang Obligasi EKUITAS Modal Total Ekuitas TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS

8 9 1g,10 1g,11 1g,12

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

6.391.550,00 47.500.000,00 297.445.631,16 547.137.742,35 235.767.500,00 1.134.242.423,51

13

Rp Rp Rp

1.661.341.080,14 1.661.341.080,14 2.795.583.503,65

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Sumber: Laporan Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 209

Tabel 4.1

Neraca per 31 Desember 2009

PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S NERACA PER 31 DESEMBER 2010


Catatan AKTIVA

AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Piutang Usaha Pembayaran Dibayar di Muka Persediaan Total Aktiva Lancar 1b,2 1c,3 1d,4 1e,5 Rp Rp Rp Rp Rp 243.078.830,40 2.859.225.601,00 1.101.001,00 2.753.575.154,72 5.856.980.587,12

AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva Tetap Berwujud Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Total Aktiva Tidak Lancar TOTAL AKTIVA 1f,6 1f,6 Rp Rp Rp Rp 207.594.000,00 (85.774.501,17) 121.819.498,83 5.978.800.085,95

KEWAJIBAN DAN EKUITAS

KEWAJIBAN LANCAR Uang Muka Biaya yang Masih Harus Dibayar Hutang Pajak Hutang Rekening Antar Kantor Hutang Lain-Lain Total Kewajiban Lancar 7 8 1g,9 1g,10 1g,11 Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5.165.000,00 30.000.000,00 316.749.740,47 2.904.369.511,86 119.950.000,00 3.376.234.252,33

KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang Bank Hutang Obligasi EKUITAS Modal Total Ekuitas 12 Rp Rp 2.602.565.833,62 2.602.565.833,62 -

TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS

Rp

5.978.800.085,95

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Sumber: Laporan Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 2010

Tabel 4.2

Neraca per 31 Desember 2010 9

PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S LAPORAN LABA RUGI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2010

PENJUALAN BERSIH HARGA POKOK PENJUALAN LABA KOTOR BEBAN USAHA: Beban Penjualan Beban Umum dan Administrasi LABA USAHA PENGHASILAN / (BEBAN) LAINLAIN LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PAJAK LABA (RUGI) SETELAH PAJAK

Catatan 13 14

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

13.910.220.770,38 13.274.853.035,88 635.367.734,50 89.208.171,00 511.991.836,02 601.200.007,02 34.167.727,48 907.057.026,00 941.224.753,48 941.224.753,48

15 16

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Sumber: Laporan Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 2010

Tabel 4.3

Laporan Laba Rugi Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2010

PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S LAPORAN PERUBAHAN MODAL UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2010
Modal, 1 Januari 2009 Laba (Rugi) Tahun Berjalan Modal, 31 Desember 2010 Rp Rp Rp 1.661.341.080,14 941.224.753,48 2.602.565.833,62

Tabel 4.4

Laporan Perubahan Modal Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2010

10

PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S NERACA PER 31 DESEMBER 2011


Catatan AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Piutang Usaha Pembayaran Dibayar di Muka Pajak Dibayar di Muka Piutang Pihak yang Mempunyai Hub. Istimewa Piutang Lain-Lain Persediaan Total Aktiva Lancar AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva Tetap Berwujud Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap Aktiva Lain-Lain Total Aktiva Tidak Lancar TOTAL AKTIVA

1b,2 1c,3 1d,4 1e,5 1c,6 1c,7 1f,8

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

300.847.535,00 204.734.001,00 1.326.371,00 932.870.835,93 4.803.395.096,37 45.174.050,00 675.686.002,29 6.964.033.891,59

1g,9 1g,9

Rp Rp Rp Rp Rp

216.354.000,00 (158.238.629,85) 79.779.289,70 137.894.659,85 7.101.928.551,44

KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN LANCAR Uang Muka Biaya yang Masih Harus Dibayar Hutang Pajak Hutang Rekening Antar Kantor Hutang Lain-Lain Total Kewajiban Lancar KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Hutang Bank Hutang Obligasi EKUITAS Modal Total Ekuitas

10 11 12 13 1h,14

Rp Rp Rp Rp Rp Rp

6.456.000,00 327.553.140,00 2.219.278.259,21 309.303.642,00 526.729.759,33 3.389.320.800,54

15

Rp Rp

3.712.607.750,90 3.712.607.750,90

TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS Rp 7.101.928.551,44 Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Sumber: Laporan Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 2011

Tabel 4.5

Neraca per 31 Desember 2011

11

PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S LAPORAN LABA RUGI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011
Catatan 16 17

PENJUALAN BERSIH HARGA POKOK PENJUALAN LABA KOTOR BEBAN USAHA: Beban Penjualan Beban Umum dan Administrasi LABA USAHA PENGHASILAN / (BEBAN) LAINLAIN LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PAJAK LABA (RUGI) SETELAH PAJAK

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

17.452.885.319,23 16.662.472.944,31 790.412.374,92 118.753.997,20 728.088.077,04 846.842.074,24 (56.429.699,32) 1.166.471.616,40 1.110.041.917,08 1.110.041.917,08

18 19

Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. Sumber: Laporan Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S 2011

Tabel 4.6

Laporan Laba Rugi Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2011

PT SERBA MULIA AUTO YAMAHA 3S LAPORAN PERUBAHAN MODAL UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011
Modal, 1 Januari 2010 Laba (Rugi) Tahun Berjalan Modal, 31 Desember 2011 Rp Rp Rp 2.602.565.833,62 1.110.041.917,28 3.712.607.750,90

Tabel 4.7

Laporan Perubahan Modal Untuk Tahun yang Berakhir 31Desember 2011

a.

Analisis Rasio Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S tahun 2010: 1) Rasio Likuiditas: Aktiva Lancar a. Current Ratio = x 100% Kewajiban Lancar Rp 5.856.980.587,12 = x 100% Rp 3.376.234.252,33 = 173,48%

12

b.

Quick Ratio

= =

Aktiva Lancar Persediaan Kewajiban Lancar


Rp3.376.234.252,33

x 100%

Rp5.856.980.587,12 Rp2.753.575.154,72

= 91,92% 2) Rasio Solvabilitas a. Total Debt to Total Asset Ratio = =

Total Kewajiban Total Aktiva

x 100% x 100%

Rp3.376.234252,33 Rp5.978.800.085,85

= 56,47% b. Debt to Equity Ratio = =

Total Kewajiban
Rp3.376.234252,33 Rp2.602.565.833,62

Modal

x 100% x 100%

= 129,73% 3) Rasio Aktivitas a. Inventory Turnover Persediaan = = =


Harga Pokok Penjualan Rata-Rata Persediaan Persediaan 2010 +Persediaan 2011 2

x 1 kali Rata-rata

Rp 987.321.765,54 + Rp 2.753.575.154,72 2

=
Inventory Turnover = = b. Fixed Assets Turnover

Rp 1.870.448.460,13
Rp13.274.853.035,88 Rp1.870.448.460,13

x 1 kali

7,10 kali = =
Penjualan

Aktiva Tetap Rp13.910.220.770,38 Rp121.819.498,83

x 1 kali x 1 kali

= 114,19 kali

c.

Asset Turnover

= =

Penjualan

Total Aktiva Rp13.910.220.770,38 Rp5.978.800.085,95

x 1 kali x 1 kali

= 2,33 kali 4) Rasio Profitabilitas a. Gross Profit Margin = =


Laba Kotor Penjualan Rp 635.367.734,50

x 100% x 100%

Rp 13.910.220.770,38

= 4,57% 13

b.

Profit Margin

= =

EAT

Penjualan Rp941.224.753,48

x 100% x 100%

Rp13.910.220.770,38

= 6,77%

c.

Return on Equity

= =

EAT

Modal Sendiri Rp941.224.753,48

x 100% x 100%

Rp2.602.565.833,62

= 36,17% b.

Analisis Rasio Keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S tahun 2011:


1) Rasio Likuiditas: a. Current Ratio = = x 100% Hutang Lancar Rp 6.964.033.891,59

Aset Lancar

Rp 3.389.320.800,54 = 205,47%
b. Quick Ratio = =

Aset Lancar Persediaan

x 100% Hutang Lancar Rp 6.964.033.891,59 Rp675.686.002,29

Rp 3.389.320.800,54

= 185,53% 2) Rasio Solvabilitas a. Total Debt to Total Asset Ratio =

Total Hutang

x 100% Total Aktiva Rp 3.389.320.800,54 = x 100%


Rp7.101.928.551,44

= 47,72% b. Debt to Equity Ratio = = x 100% Modal Rp 3.389.320.800,54

Total Hutang

Rp3.712.607.750,90 = 91,29%
3) Rasio Aktivitas a. Inventory Turnover =
Harga Pokok Penjualan Rata-Rata Persediaan

x 100%

x 1 kali

Rata-rata Persediaan =

Persediaan 2010 +Persediaan 2011

Rp 2.753.575.154,72+Rp 675.686.002,29 2

= Rp 1.714.630.578,51
14

Inventory Turnover

Rp16.662.472.944,31 Rp1.714.630.578,51

x 1 kali

= 9,72 kali b. Fixed Assets Turnover = =


Penjualan

Aktiva Tetap Rp17.452.885.319,23 Rp137.894659,85

x 1 kali x 1 kali

= 126,57 kali c. Asset Turnover = =


Penjualan

Total Aktiva Rp17.452.885.319,23 Rp7.101.928.551,44

x 1 kali x 1 kali

= 2,46 kali 4) Rasio Profitabilitas a. Gross Profit Margin = =


Laba Kotor Penjualan Rp 790.412.374,92

x 100% x 100%

Rp17.452.885.319,23

= 4,53% b. Profit Margin = =


EAT

Penjualan Rp1.110.041.917,08

x 100% x 100%

Rp17.452.885.319,23

= 6,36% c. Return on Equity = =


EAT

Modal Sendiri Rp1.110.041.917,08 Rp3.712.607.750,90

x 100% x 100%

= 29,90%

B.

a.

Pembahasan Pembahasan dari hasil perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas dan profitabilitas PT serba Mulia Auto Yamaha 3S pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebagai berikut: Rasio Likuiditas 1) Current Ratio Current Ratio perusahaan pada tahun 2010 adalah sebesar 173,48% yang merupakan hasil dari perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar untuk memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan. Nilai ini bisa diinterpetasikan bahwa setiap Rp100,00 kewajiban lancar dijamin dengan Rp173,48 aktiva lancar. Sedangkan pada tahun 2011 Current Ratio perusahaan adalah sebesar 205,47%. Nilai ini bisa diinterpetasikan bahwa setiap Rp100,00 kewajiban lancar dijamin dengan Rp 205,47aktiva lancar. Pada tahun 2011 Current Ratio mengalami kenaikan sebesar 31,99% dibanding 2010. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan jumlah aktiva
15

lancar sebesar 15,90%. Sedangkan kewajiban lancar tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan, dimana kewajiban lancar pada tahun 2011 meningkat sebesar 0,39%. Hal ini menyebabkan kemampuan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancarnya mengalami peningkatan pada tahun 2011 dibanding dengan tahun 2010. Sehingga Current Ratio pada tahun 2011 lebih baik dibanding tahun 2010. 2) .Quick Ratio Untuk mendapat kepastian yang lebih besar untuk mengukur tingkat likuiditas perusahaan, maka selain melakukan perhitungan Current Ratio, diperlukan juga perhitungan Quick Ratio. Quick Ratio mengukur kemampuan aktiva lancar minus persediaan untuk membayar aktiva lancar. Persediaan dipandang sebagai unsur aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya rendah dan paling sering mengalami fluktuasi harga, maka persediaan tidak diperhitungkan dalam mengukur Quick Ratio perusahaan. Pada tahun 2010 Quick Ratio PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 91,92% yang dapat diartikan bahwa setiap Rp100,00 kewajiban dijamin dengan Rp91,92 aktiva lancar yang cepat diuangkan. Pada tahun 2010 menunjukkan bahwa aktiva lancar kurang memadai untuk membayar kewajiban jangka pendek. Hal ini dikarenakan jumlah persediaan yang diinvestasikan dalam aktiva lancar sebesar 52,99%. Hal ini menyebabkan aktiva lancar tidak mampu menjamin kewajiban lancar yang jumlahnya lebih besar. Pada tahun 2011 Quick Ratio perusahaan adalah sebesar 185,53% yang berarti setiap Rp100,00 kewajiban dijamin dengan Rp185,53 aktiva lancar yang cepat diuangkan. Quick Ratio pada tahun 2011 mengalami peningkatan yang sangat signifikan dimana Quick Ratio meningkat sebesar 93,61% dibandingkan dengan Quick Ratio tahun 2010. Hal ini disebabkan karena aktiva lancar pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 15,90% dibanding tahun 2010. Jumlah aktiva lancar yang diinvestasikan pada persediaan pada tahun 2011 menurun 75,46% dan kewajiban lancar pada tahun 2011 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2010. Sehingga dapat dikatakan bahwa Quick Ratio PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S pada tahun 2011 lebih baik dibanding tahun 2010.

b.

Rasio Solvabilitas 1) Total Debt to Total Asset Ratio Pada tahun 2010 Total Debt to Total Asset Ratio PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 56,47%. Ini berarti 56,47% total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dibelanjai dengan hutang. Pada tahun 2011 Debt to Total Asset Ratio perusahaan adalah sebesar 47,72%. Ini berarti bahwa 47,72% aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Debt to Total Asset Ratio pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 8,75%. Hal ini disebabkan karena aktiva dari tahun 2010 ke 2011 mengalami peningkatan sebesar 15,81%, sedangkan kewajiban dari tahun 2010 ke tahun 2011 tidak mengalami perubahan yang signifikan, dimana kewajiban pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 0,38%. Pada tahun 2011 penurunan Debt to Total Asset Ratio menunjukkan bahwa perusahaan mengurangi aktiva lancar yang dibiayai dengan hutang, karena semakin rendah rasio ini, maka resiko perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya semakin kecil.
16

Sehingga Debt to Total Asset Ratio pada tahun 2011 lebih baik apabila dibandingkan dengan tahun 2010. 2) Debt to Equity Ratio Pada tahun 2010 Debt to Equity Ratio PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 129,73%, yang berarti 129,73% modal perusahaan dibiayai dengan hutang. Pada tahun 2011 Debt to Equity Ratio PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 91,29%, yang berarti 91,29% modal perusahaan dibiayai dengan hutang. Debt to Equity Ratio perusahaan pada tahun 2011 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 38,44% dari tahun 2010. Hal ini dikarenakan total hutang lebih besar dibanding dengan modal yang dimiliki oleh perusahaan pada tahun 2010, dimana seharusnya besarnya hutang tidak boleh melebihi total modal sendiri agar beban perusahaan tidak terlalu tinggi, karena semakin tinggi rasio ini maka semakin besar resiko kebangkrutan yang ditanggung perusahaan. Sedangkan pada tahun 2011, modal yang dimiliki oleh perusahaan lebih tinggi dibanding dengan total kewajiban yang harus ditanggung oleh perusahaan. Sehingga Debt to Equity Ratio pada tahun 2011 lebih baik dibandingkan dengan tahun 2010.

c.

Rasio Aktivitas 1) Inventory Turnover Pada tahun 2010 Inventory Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 7,10 kali. Angka ini menunjukkan bahwa persediaan barang berputar sebanyak 7,10 kali dalam setahun. Pada tahun 2011 Inventory Turnover perusahaan adalah sebesar 9,72 kali. Angka ini menunjukkan bahwa persediaan barang berputar sebanyak 9,72 kali dalam setahun. Pada tahun 2011 Inventory Turnover mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 2,62 kali. Hal ini disebabkan karena persediaan perusahaan pada tahun 2011 menurun sebesar 75,46% yaitu dari Rp 2.753.575.154,72 pada tahun 2010 menjadi Rp 675.686.022,29. Ini menunjukkan bahwa pada tahun 2011 tidak banyak persediaan yang menganggur dibanding dengan tahun 2010. Oleh karena itu semakin tinggi persediaan berputar maka semakin efektif perusahaan dalam mengelola persediaannya. Sehingga Inventory Turnover pada tahun 2011 lebih baik dibanding dengan tahun 2010. 2) Fixed Assets Turnover Pada tahun 2010 Fixed Assets Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 114,19 kali. Hal ini menunjukkan bahwa perputaran aktiva tetap perusahaan dalam sebanyak 114,19 kali dalam setahun. Pada tahun 2011 Fixed Assets Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 126,57 kali. Hal ini menunjukkan bahwa perputaran aktiva tetap perusahaan dalam sebanyak 126,57 kali dalam setahun. Pada tahun 2011 Fixed Assets Turnover mengalami peningkatan dari tahun 2010, yaitu sebesar 12,38 kali. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2011 penjualan meningkat sebesar 20,30% dari tahun 2010, yaitu dari Rp 13.910.220.770,38 menjadi Rp 17.452.885.319,23. Sehingga pada tahun 2011
17

perusahaan lebih efektif dalam menggunakan aktiva tetap untuk menghasilkan laba dibanding dengan tahun 2010. Karena semakin besar perputaran aktiva, maka semakin efektif perusahaan mengelola aktivanya. Sehingga Fixed Assets Turnover pada tahun 2011 lebih baik apabila dibandingkan dengan tahun 2010. 3) Asset Turnover Pada tahun 2010 Asset Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 2,33 kali. Ini menunjukkan bahwa perputaran aktiva tetap perusahaan dalam menghasilkan laba adalah sebanyak 2,33 kali dalam setahun. Pada tahun 2011 Asset Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 2,46 kali. Ini menunjukkan bahwa perputaran aktiva tetap perusahaan dalam menghasilkan laba adalah sebanyak 2,46 kali dalam setahun. Pada tahun 2011 Asset Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S mengalami peningkatan sebesar 0,13 kali. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2011 penjualan meningkat sebesar 20,30% dari tahun 2010, yaitu dari Rp13.910.220.770,38 menjadi Rp17.452.885.319,23. Dan juga aktiva perusahaan pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 15,81% dari tahun 2010, sehingga dengan aktiva tersebut perusahaan mampu untuk menghasilkan laba secara optimal melalui penjualan. Dengan meningkatnya penjualan dan aktiva di tahun 2011, maka pada tahun 2011 perusahaan lebih efektif dalam menggunakan aktiva untuk menghasilkan laba dibanding dengan tahun 2010. Karena semakin besar perputaran aktiva, maka semakin efektif perusahaan mengelola aktiva. Sehingga, pada tahun 2011 Asset Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S lebih baik dibanding dengan tahun 2010.

d.

Rasio Profitabilitas 1) Gross Profit Margin Gross Profit Margin PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S pada tahun 2010 adalah sebesar 4,57%, yang berarti setiap Rp100,00 penjualan dapat menghasilkan laba kotor sebesar Rp4,57 Pada tahun 2010 Gross Profit Margin perusahaan adalah sebesar 4,53%, yang berarti setiap Rp100,00 penjualan dapat menghasilkan laba kotor sebesar Rp4,53 Pada tahun 2011 Gross Profit Margin perusahaan mengalami penurunan sebesar 0,04%. Hal ini dikarenakan kenaikan laba kotor pada tahun 2011 tidak lebih besar dari kenaikan penjualan pada tahun 2011. Pada tahun 2011, penjualan mengalami kenaikan sebesar 20,30% dari tahun 2010 dan laba kotor mengalami kenaikan sebesar 19,62%. Sehingga dapat disimpulkan pada tahun 2011 kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor yang berasal dari penjualan mengalami penurunan. 2) Profit Margin Profit Margin PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S pada tahun 2010 adalah sebesar 6,77%, yang berarti setiap Rp100,00 penjualan dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp6,77. Pada tahun 2010 Profit Margin perusahaan adalah sebesar 6,36%, yang berarti setiap Rp100,00 penjualan dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp6,36
18

Pada tahun 2011 Profit Margin perusahaan mengalami penurunan sebesar 0,41%. Hal ini dikarenakan kenaikan laba bersih pada tahun 2011 tidak lebih besar dari kenaikan penjualan pada tahun 2011. Pada tahun 2011, penjualan mengalami kenaikan sebesar 20,30% dari tahun 2010 dan laba bersih mengalami kenaikan sebesar 15,21%. Sehingga dapat disimpulkan pada tahun 2011 kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih yang berasal dari penjualan mengalami penurunan. 3) Return on Equity Pada tahun 2010 Return on Equity PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 36,17%. Nilai ini bisa diinterpretasikan bahwa setiap Rp100,00 modal sendiri dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp36,17 Pada tahun 2011 Return on Equity PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S adalah sebesar 29,90%. Ini berarti bahwa bahwa setiap Rp100,00 modal sendiri dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp29,90 Pada tahun 2011 Return on Equity PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S mengalami penurunan sebesar 6,27%. Hal ini dikarenakan kenaikan laba bersih pada tahun 2011 tidak lebih besar dari kenaikan modal pada tahun 2011. Pada tahun 2011, modal mengalami kenaikan sebesar 29,90% dari tahun 2010 dan pada tahun 2011 laba bersih mengalami kenaikan sebesar 15,21% dari tahun 2010. Sehingga dapat disimpulkan pada tahun 2011 kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih yang berasal dari modal mengalami penurunan.

V. Penutup A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian analisis laporan keuangan PT Serba Mulia Auto yang ditinjau dari rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas dan profitabilitas pada tahun 2010 dan 2011, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S berdasarkan rasio likuiditas apabila dilihat dari Current Ratio dari tahun 2010 ke tahun 2011, kemampuan PT serba Mulia Auto Yamaha 3S dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancarnya mengalami peningkatan. Sedangkan Quick Ratio pada tahun 2011 juga mengalami peningkatan yang sangat drastis yaitu sebesar 93,61% dibandingkan dengan Quick Ratio tahun 2010. Kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S berdasarkan rasio solvabilitas apabila dilihat dari Total Debt to Total Asset Ratio mengalami kenaikan sebesar 8,75%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah kewajiban yang harus dibayar oleh perusahaan dengan menggunakan aktiva perusahaan. Debt to Equity Ratio perusahaan pada tahun 2011 juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 38,44% dari tahun 2010. Hal ini dikarenakan peningkatan modal yang terjadi memadai untuk menjamin kewajiban perusahaan, karena jumlah hutang perusahaan lebih kecil dibandingkan dengan jumlah modal perusahaan. Kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S apabila ditinjau rasio aktivitas dari tahun 2010 ke tahun 2011 mengalami peningkatan. Dilihat dari Inventory Turnover perusahaan pada tahun 2011 meningkat sebesar 2,62 kali dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan tidak banyak persediaan yang menganggur, sehingga perusahaan dapat mengelola persediaannya dengan baik. Pada tahun 2011 Fixed Assets Turnover mengalami peningkatan sebesar 12,38 kali dibanding dengan tahun 2010. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan penjualan yang berasal dari penggunaan aktiva tetap
19

perusahaan. Pada tahun 2011 Asset Turnover PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S juga mengalami peningkatan sebesar 0,13 kali. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan penjualan yang berasal dari penggunaan total aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba yang optimal. Kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S apabila ditinjau rasio profitabilitas dari tahun 2010 ke tahun 2011 mengalami penurunan. Dilihat dari Gross Profit Margin perusahaan pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 0,04% dari tahun 2010. Hal ini dikarenakan kenaikan laba kotor pada tahun 2011 tidak lebih besar dari kenaikan penjualan pada tahun 2011. Pada tahun 2011 Profit Margin perusahaan mengalami penurunan sebesar 0,41% dari tahun 2010. Hal ini dikarenakan kenaikan laba bersih pada tahun 2011 tidak lebih besar dari kenaikan penjualan pada tahun 2011. Pada tahun 2011 Return on Equity PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S mengalami penurunan sebesar 6,27%. Hal ini dikarenakan kenaikan laba bersih pada tahun 2011 tidak lebih besar dari kenaikan modal pada tahun 2011. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S pada tahun 2011 lebih baik dibanding dengan tahun 2010 secara keseluruhan. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian terhadap kinerja keuangan PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S, maka dapat dikemukakan beberapa saran yang mungkin berguna bagi PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S dalam mengembangkan usahanya di masa mendatang, antara lain sebagai berikut: 1. PT Serba Mulia Auto Yamaha 3S sebaiknya melakukan analisis laporan keuangan secara keseluruhan dan rutin. Tujuannya agar perusahaan dapat mengetahui perkembangan kinerja perusahaan dan juga sebagai pedoman dalam menentukan kebijaksanaan perusahaan dalam menghasilkan laba. 2. Perusahaan sebaiknya mengurangi pinjaman dana dari pihak lain, karena semakin tinggi hutang perusahaan, maka resiko kebangkrutan perusahaan juga semakin tinggi. 3. Perusahaan sebaiknya mengurangi investasi dalam persediaan agar tidak banyak persediaan yang menganggur. Sehingga apabila kewajiban perusaan ditagih, tersedia aktiva lancar yang paling likuid untuk membayar kewajiban tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Astuti, Dewi. 2004. Manajemen Keuangan Perusahaan. Cetakan Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta. Darsono dan Ashari. 2005. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan, Andi, Yogyakarta. Harahap, Sofyan Syafri. 2006. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. Kieso, Weygandt dan Warfield. 2002. Intermediate Accounting, Edisi Kesepuluh, Jilid I, Penerbit Erlangga, Jakarta. Raharjaputra, Hendra S. 2009. Buku Panduan Praktis Manajemen Keuangan dan Akuntansi untuk Eksekutif Perusahaan, Salemba Empat, Jakarta. Sutrisno. 2008. Manajemen Keuangan: Teori, Konsep dan Aplikasi, Edisi Pertama, Cetakan Keenam, Ekonisia, Yogyakarta.

20

Tanjung, Abdul Hafiz. 2007. Akuntansi Pemerintahan Daerah: Konsep dan Aplikasi, Cetakan Kesatu, Alfabeta, Bandung. Weygandt, Jerry J, Donald E. Kieso dan Paul D. Kimmel. 2007. Accounting Principles, Edisi Ketujuh, Buku 1, Salemba Empat, Jakarta. 2008. Accounting Principles, Edisi Ketujuh, Buku 2, Salemba Empat, Jakarta.

21