Anda di halaman 1dari 35

PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 12 TAHUN 2003 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN

JALAN, KERETA API, SUNGAI DAN DANAU SERTA PENYEBERANGAN DI PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang : a. bahwa dengan perkembangan kegiatan lalu lintas dan angkutan yang semakin meningkat, dan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya dibidang lalu lintas dan angkutan sejalan dengan pelaksanaan otonomi Daerah, perlu mengatur ketentuan mengenai lalu lintas dan angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau serta penyeberangan di Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huru! a, perlu menetapkan pengaturan lalu lintas dan angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau serta penyeberangan dengan Peraturan Daerah. #ndang$undang %omor "& 'ahun "()* tentang Jalan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "()* %omor )&, 'ambahan ,embaran %egara 'ahun "()* %omor &")./ #ndang$undang %omor "& 'ahun "((0 tentang Perkeretaapian +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((0 %omor 12, 'ambahan ,embaran %egara %omor &12(/ #ndang$undang %omor "1 'ahun "((0 tentang ,alu ,intas dan Angkutan Jalan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((0 %omor 1(, 'ambahan ,embaran %egara %omor &1)*/ #ndang$undang %omor 0" 'ahun "((0 'entang Pelayaran +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((0 %omor (), 'ambahan ,embaran %omor &1(&/ #ndang$undang %omor . 'ahun "((. tentang Perairan Indonesia +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((. %omor 2&, 'ambahan ,embaran %egara %omor &.12/ #ndang$undang %omor 0& 'ahun "((2 tentang Pengelolaan ,ingkungan 4idup +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((2 %omor .), 'ambahan ,embaran %egara %omor &.(( / #ndang$undang %omor 00 'ahun "((( tentang Pemerintahan Daerah +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((( %omor .*, 'ambahan ,embaran %egara %omor &)&(/ #ndang$undang %omor &1 'ahun "((( tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota %egara -epublik Indonesia Jakarta +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((( %omor "1. 'ambahan ,embaran %egara %omor &)2)/

b.

Mengingat :

". 0. &. 1. 3. ..

2. ).

(. "*.

"".

"0.

"&.

"1.

"3.

"..

"2. "). "(.

0*.

0".

Peraturan Pemerintah %omor 1" 'ahun "((& tentang Angkutan Jalan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((& %omor 3(, 'ambahan ,embaran %egara %omor &302/ Peraturan Pemerintah %omor 10 'ahun "((& tentang Pemeriksaan Kendaraan 5ermotor di Jalan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((& %omor .*, 'ambahan ,embaran %egara %omor &30)/ Peraturan Pemerintah %omor 1& 'ahun "((& tentang Prasarana dan ,alu ,intas +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((& %omor .&, 'ambahan ,embaran %egara -epublik Indonesia %omor &30)/ Peraturan Pemerintah %omor 11 'ahun "((& tentang Kendaraan dan Pengemudi +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((& %omor .1, 'ambahan ,embaran %egara -epublik Indonesia %omor &3&*/ Peraturan Pemerintah %omor .( 'ahun "(() tentang Prasarana dan 6arana Kereta Api +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "(() %omor "&&, 'ambahan ,embaran %egara -epublik Indonesia %omor &222/ Peraturan Pemerintah %omor )" 'ahun "(() tentang ,alu ,intas dan Angkutan Kereta Api +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "(() %omor ")(, 'ambahan ,embaran %egara %omor &2(3/ Peraturan Pemerintah %omor )0 'ahun "((( tentang Angkutan di Perairan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun "((( %omor ")2, 'ambahan ,embaran %egara -epublik Indonesia %omor &(*2/ Peraturan Pemerintah %omor 03 'ahun 0*** tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah 7tonom +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun 0*** %omor 31, 'ambahan ,embaran %egara -epublik Indonesia %omor &(30/ Peraturan Pemerintah %omor )" 'ahun 0*** tentang Kena8igasian +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun 0*** %omor ".*, 'ambahan ,embaran %egara %omor 1**"/ Peraturan Pemerintah %omor .( 'ahun 0**" tentang Kepelabuhanan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun 0**" %omor "02, 'ambahan ,embaran %egara %omor 0"13/ Peraturan Pemerintah %o. 3" 'ahun 0**0 tentang Perkapalan +,embaran %egara -epublik Indonesia 'ahun 0**0 %omor (3, 'ambahan ,embaran %egara -epublik Indonesia %omor 1002/ Peraturan Daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta %omor . 'ahun "((( tentang -en9ana 'ata -uang :ilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta +,embaran Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta 'ahun "((( %omor 0&/ Peraturan Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta %omor & 'ahun 0**" tentang 5entuk 6usunan 7rganisasi dan 'ata Kerja Perangkat Daerah dan 6ekretariat Dewan Perwakilan -akyat Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota

00.

Jakarta +,embaran Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta 'ahun 0**" %omor ../ Peraturan Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta %omor ) 'ahun 0**" tentang Pokok$Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah +,embaran Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta 'ahun 0**" %omor .2/.

Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN, KERETA API, SUNGAI DAN DANAU SERTA PENYEBERANGAN DI PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : ". Daerah adalah Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 0. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. &. ;ubernur adalah ;ubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 1. Dewan Perwakilan -akyat Daerah yang selanjutnya disingkat DP-D adalah Dewan Perwakilan -akyat Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 3. Dinas Perhubungan adalah Dinas Perhubungan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.'rotoar adalah bagian dari jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. .. Jaringan 'ransportasi Kota adalah serangkaian simpul dan<atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan transportasi kota untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan. 2. 'erminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan<atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. ). 'empat Pemberhentian +4alte/ adalah tempat pemberhentian kendaraan umum untuk menurunkan dan<atau menaikkan penumpang. (. Kendaraan adalah suatu alat yang dapat bergerak di jalan, terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. "*. Kendaraan 5ermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. "". Kendaraan #mum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. "0. 6epeda Motor adalah kendaraan bermotor beroda dua atau tiga tanpa rumah$ rumah baik dengan atau tanpa kereta samping.

"&. "1. "3. ".. "2.

"). "(. 0*.

0". 00. 0&. 01.

03. 0.. 02. 0). 0(.

Mobil penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak$banyaknya ) +delapan/ tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. Mobil 5us adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari ) +delapan/ tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. Mobil 5arang adalah setiap kendaraan bermotor selain dari yang termasuk dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus. 'aksi adalah kendaraan umum dengan jenis mobil penumpang yang diberi tanda khusus dan dilengkapi dengan argometer Kendaraan Khusus adalah kendaraan bermotor selain daripada kendaraan bermotor untuk penumpang dan kendaraan bermotor untuk barang, yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang$barang khusus Kereta ;andengan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan diran9ang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor. Kereta 'empelan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengangkut barang yang diran9ang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu oleh kendaraan bermotor penariknya. Pengujian berkala kendaraan bermotor yang selanjutnya disebut uji berkala adalah pengujian kendaraan bermotor yang dilakukan se9ara berkala terhadap setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus. 'rayek adalah lintasan kendaraan umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus, yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. Jaringan 'rayek adalah kumpulan dari trayek$trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan angkutan orang. 'rayek 'etap dan 'eratur adalah pelayanan angkutan yang dilakukan dalam jaringan trayek se9ara tetap dan teratur, dengan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. Angkutan Kota adalah angkutan dari satu tempat ke tempat lain dalam satu daerah Kota atau wilayah ibukota Kabupaten atau dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempergunakan mobil bus umum dan<atau mobil penumpang umum yang terikat dalam trayek. Angkutan Perbatasan adalah angkutan kota dan<atau angkutan perdesaan yang memasuki wilayah ke9amatan yang berbatasan langsung pada Kabupaten atau Kota lainnya baik yang melalui satu propinsi maupun lebih dari satu propinsi. Angkutan ,ingkungan adalah angkutan dengan menggunakan mobil penumpang umum yang dioperasikan dalam wilayah operasi terbatas pada kawasan tertentu. Jalan -el adalah satu kesatuan konstruksi yang terbuat dari baja, beton atau konstruksi lain yang terletak di permukaan, di bawah dan di atas tanah atau bergantung beserta perangkatnya yang mengarahkan jalannya kereta api. Kereta Api adalah kendaraan dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya yang akan atau sedang bergerak di jalan rel. Angkutan kereta api kota yang selanjutnya disebut angkutan kereta api adalah pemindahan orang dan<atau barang dari suatu tempat ketempat lain dengan

&*. &". &0. &&.

&1. &3. &.. &2. &).

&(.

1*. 1". 1&.

11.

13.

1..

menggunakan kereta api yang seluruh jaringannya terletak dalam satu wilayah kota dan<atau lebih wilayah kota dan kabupaten yang berdekatan dan merupakan satu kesatuan ekonomi dan sosial. Prasarana Kereta Api adalah jalur dan stasiun kereta api, termasuk !asilitas yang diperlukan agar sarana kereta api dapat dioperasikan. 6arana Kereta Api adalah segala sesuatu yang dapat bergerak di atas jalan rel. ,alu lintas kereta api adalah gerak sarana kereta api di jalan rel. Jalur kereta api adalah daerah yang meliputi daerah man!aat jalan kereta api, daerah milik jalan kereta api dan daerah pengawasan jalan kereta api termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya, yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api. Jaringan Jalur kereta api adalah seluruh jalur kereta api yang terkait satu sama lain yang menghubungkan berbagai tempat sehingga merupakan satu sistem. Pelayanan angkutan kereta api adalah pelayanan jasa angkutan kereta api alam jaringan jalur kereta api. Jaringan pelayanan angkutan kereta api adalah jaringan jalur kereta api yang dilayani angkutan kereta api. Pelayaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan di perairan, pelabuhan, serta keamanan dan keselamatannya. Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun, yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah$pindah. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas$batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan<atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan !asilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Pelabuhan #mum adalah pelabuhan yang diselenggarakan untuk kepentingan pelayanan masyarakat umum. Pelabuhan Penyeberangan adalah pelabuhan umum untuk angkutan penyeberangan. Jaringan 'ransportasi 6ungai dan Danau adalah serangkaian simpul dan<atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas yang berwujud alur sungai dan danau sehingga membentuk suatu jaringan untuk keperluan penyelenggaaraan lalu lintas dan angkutan sungai dan danau. Jaringan 'ransportasi Penyeberangan adalah serangkain simpul dan<atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas yang berwujud alur penyeberangan sehingga membentuk suatu jaringan untuk keperluan penyelenggaaraan lalu lintas dan angkutan penyeberangan. 6arana 5antu %a8igasi Pelayaran adalah sarana yang dibangun atau terbentuk se9ara alami yang berada di luar kapal yang ber!ungsi membantu na8igator dalam menentukan posisi dan<atau haluan kapal serta memberitahukan bahaya dan<atau rintangan pelayaran untuk kepentingan keselamatan berlayar. Kelaiklautan kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pen9egahan pen9emaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar diperairan tertentu.

12.

Dewan 'ransportasi Kota adalah suatu organisasi yang menampung aspirasi masyarakat dan memberikan bahan pertimbangan terhadap penyusunan kebijakan Pemerintah Daerah dalam bidang transportasi. BAB II KETERPADUAN ANTAR MODA TRANSPORTASI

+"/ +0/ +&/

Pasal 2 -en9ana #mum Jaringan 'ransportasi Kota ditetapkan berdasarkan kebutuhan transportasi menga9u kepada -en9ana 'ata -uang :ilayah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. -en9ana #mum Jaringan 'ransportasi Kota diwujudkan dalam Pola 'ransportasi Makro. Pola 'ransportasi Makro ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. BAB III PRASARANA Bag a! P"#$a%a A!g&'$a! Jala! Pa#ag#a( 1 K"las Jala!

+"/ +0/ +&/

Pasal 3 #ntuk keperluan pengaturan penggunaan dan pemenuhan kebutuhan angkutan jalan dibagi dalam beberapa kelas. Kelas jalan pada ruas jalan ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Kelas jalan sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, wajib dibukukan pada buku jalan. Pa#ag#a( 2 T"#% !al

+"/ +0/

Pasal ) 'erminal Angkutan Jalan terdiri dari: a. 'erminal penumpang b. 'erminal barang. ,okasi terminal penumpang dan terminal barang sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ huru! a dan b, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal * 6etiap kendaraan umum dalam trayek wajib memasuki terminal sebagaimana yang ter9antum dalam kartu pengawasannya. 6etiap mobil barang umum wajib bongkar muat barang di terminal barang atau di tempat$tempat yang telah ditentukan Pembangunan, pengelolaan, pemeliharaan, pengawasan dan penertiban terminal penumpang dan barang dilakukan oleh Dinas Perhubungan. #ntuk pelaksanaan pembangunan, pengelolaan dan pemeliharaan terminal sebagaimana dimaksud pada ayat +&/, Dinas Perhubungan dapat bekerjasama dengan Pihak Ketiga.

+"/ +0/ +&/ +1/

+"/ +0/

Pasal + 6etiap orang atau badan usaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam terminal penumpang dan<atau terminal barang wajib mendapat i=in tertulis dari Kepala Dinas Perhubungan. 6etiap orang dilarang : a. menjajakan barang dagangan dengan 9ara mengasong atau melakukan usaha tertentu selain sebagaimana dimaksud dalam ayat +"/, dengan mengharapkan imbalan di dalam terminal penumpang dan terminal barang. b. melakukan pekerjaan atau bertindak sebagai perantara kar9is kendaraan umum. Pa#ag#a( 3 ,as l $as P"%-"#."!$ a!

+"/ +0/ +&/ +1/ +3/

Pasal / Di tempat$tempat tertentu pada jalur angkutan penumpang umum dalam trayek, dilengkapi dengan !asilitas pemberhentian berupa bangunan halte dan<atau rambu yang menyatakan tempat pemberhentian kendaraan umum. Penempatan !asilitas pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berada di sebelah kiri jalan ke9uali ditentukan lain oleh ;ubernur. 6etiap kendaraan umum dalam trayek wajib menaikkan dan atau menurunkan penumpang di tempat pemberhentian berupa bangunan halte atau tempat pemberhentian kendaraan umum yang dinyatakan dengan rambu. #ntuk kendaraan umum tidak dalam trayek dapat menaikkan dan atau menurunkan penumpang ditempat sebagaimana dimaksud pada ayat +&/. Dilarang meman!aatkan atau menggunakan tempat pemberhentian berupa bangunan halte untuk kegiatan selain kegiatan menaikkan dan menurunkan penumpang tanpa i=in ;ubernur. Pa#ag#a( ) ,as l $as Pa#& #

+"/ +0/

+&/ +1/ +3/

Pasal 0 >asilitas parkir dapat diselenggarakan pada badan jalan dan di luar badan jalan. Penggunaan badan jalan untuk !asilitas parkir hanya dapat dilakukan pada jalan kolektor dan<atau lokal dengan memperhatikan kondisi jalan dan lingkungannya, kondisi lalu lintas dan aspek keselamatan, ketertiban dan kelan9aran lalu lintas. Penyelenggaraan !asilitas parkir pada badan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, hanya dapat diselenggarakan pada tempat$tempat yang ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Penyelenggaraan !asilitas parkir umum di luar badan jalan dapat diselenggarakan oleh 5adan #saha atau perorangan. Pengaturan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan perparkiran ditetapkan dengan Peraturan Daerah tersendiri. Bag a! K"1'a A!g&'$a! K"#"$a A2

Pa#ag#a( 1 L !g&'2 P#asa#a!a Pasal 3 Prasarana kereta api meliputi : a. Jalur kereta api b. 6tasiun kereta api 9. >asilitas operasional sarana kereta api. Pa#ag#a( 2 Jal'# K"#"$a A2 +"/ Pasal 10 Peren9anaan dan pembangunan jaringan jalur kereta api ditetapkan dengan keputusan ;ubernur dengan mempertimbangkan aspek$aspek sebagai berikut: a. kebutuhan transportasi kota b. ren9ana tata ruang wilayah 9. keterpaduan dengan jaringan jalur kereta api nasional d. keterpaduan intra dan antar moda transportasi e. keterpaduan dengan sektor pembangunan lainnya !. keselamatan dan kelan9aran operasi kereta api g. pertumbuhan ekonomi h. kelestarian lingkungan i. keamanan. Penyusunan, pengembangan, peninjauan dan<atau penyempurnaan terhadap ren9ana umum jaringan jalur kereta api nasional di Daerah harus mendapat rekomendasi dari ;ubernur. Pasal 11 Pembangunan jalan, jalur kereta api khusus, terusan, saluran air dan atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan, pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api, dilakukan setelah mendapat i=in dari ;ubernur atau pejabat yang ditunjuk. Pemberian i=in sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilaksanakan dengan memperhatikan : a. ren9ana umum jaringan jalur kereta api b. keamanan konstruksi jalan rel 9. keselamatan dan kelan9aran operasi kereta api d. persyaratan teknis bangunan dan keselamatan serta keamanan di perlintasan. Pasal 12 #ntuk kelan9aran dan keselamatan pengoperasian kereta api, Pemerintah Daerah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah man!aat jalan kereta api, daerah milik jalan kereta api dan daerah pengawasan jalan kereta api termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas diatasnya. Jalan rel dapat berada di : a. permukaan tanah b. bawah permukaan tanah dan

+0/

+"/

+0/

+"/

+0/

+&/

9. atas permukaan tanah. Konstruksi jalan rel sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, dapat berupa rel tunggal maupun rel ganda. Pa#ag#a( 3 S$as '! K"#"$a A2

+"/

+0/

+&/

Pasal 13 6tasiun kereta api sebagaimana dimaksud dalam Pasal ( huru! b, ber!ungsi untuk : a. keperluan naik turun penumpang dan<atau bongkar muat barang b. keperluan operasi kereta api 9. keperluan pergantian antar moda. 6tasiun kereta api wajib dilengkapi dengan !asilitas untuk : a. naik turun penumpang b. bongkar muat barang 9. operasi kereta api d. !asilitas umum lainnya. >asilitas sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, harus memenuhi persyaratan : a. keselamatan, kenyamanan dan kemudahan untuk penumpang b. keselamatan dan kemudahan untuk bongkar muat barang 9. keselamatan dan keamanan operasi kereta api.

Pasal 1) Penetapan lokasi dan pembangunan stasiun kereta api harus memperhatikan : a. ren9ana tata ruang wilayah b. ren9ana umum jaringan jalur kereta api nasional dan propinsi 9. kepentingan operasi kereta api. d. memperhatikan keterpaduan antar dan inter moda transportasi. +"/ +0/ Pasal 1* Pada setiap stasiun kereta api ditetapkan daerah lingkungan kerja dengan batas$batas tertentu yang jelas. 5atas$batas daerah lingkungan kerja stasiun kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan Keputusan ;ubernur setelah mendapat pertimbangan dari pejabat yang berwenang di bidang pertanahan.

Pasal 1+ Di stasiun kereta api dapat diselenggarakan kegiatan usaha penunjang, sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. Pa#ag#a( ) ,as l $as O2"#as 4!al Pasal 1/ >asilitas operasional kereta api terdiri dari a. peralatan persinyalan b. instalasi listrik 9. peralatan telekomunikasi.

+"/

+0/

+&/

Pasal 10 Peralatan persinyalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal "2 huru! a ber!ungsi sebagai : a. petunjuk b. pengontrol. Peralatan persinyalan yang ber!ungsi sebagai petunjuk terdiri dari: a. sinyal, yang ber!ungsi untuk menunjukkan kondisi operasi kereta api b. tanda, yang ber!ungsi untuk menunjukkan isyarat yang akan dilaksanakan oleh petugas yang mengendalikan pergerakan sarana kereta api 9. marka, yang ber!ungsi untuk menunjukkan kondisi tertentu suatu tempat. Peralatan persinyalan sebagai pengontrol ber!ungsi untuk mengontrol persinyalan. Pasal 13 Instalasi listrik dipergunakan untuk menggerakkan kereta api bertenaga listrik, ber!ungsinya persinyalan listrik dan peralatan telekomunikasi. Instalasi listrik sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari : a. pen9atu daya listrik b. peralatan transmisi. Pasal 20 Peralatan telekomunikasi ber!ungsi untuk menunjang kegiatan penyampaian in!ormasi dan<atau komunikasi bagi kepentingan operasi kereta api. In!ormasi dan<atau kegiatan komunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, harus direkam pada alat perekam. Bag a! K"$ ga A!g&'$a! S'!ga , Da!a' 1a! P"!5"-"#a!ga! Pa#ag#a( 1 P"la-'.a!

+"/ +0/

+"/ +0/

+"/ +0/ +&/ +1/

+3/

Pasal 21 ,okasi pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan ditetapkan dengan keputusan ;ubernur dengan memperhatikan kebutuhan transportasi yang ada. Pelabuhan yang digunakan untuk angkutan sungai, danau dan penyeberangan harus memenuhi persyaratan teknis operasional sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. Penyelenggaraan pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan dilakukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. Penyelenggaraan pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat +&/, meliputi kegiatan : a. pengadaan b. pengoperasian 9. pemeliharaan d. pengendalian. Pengadaan, pengoperasian dan pemeliharaan pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan dapat dilakukan oleh pihak ketiga atas persetujuan ;ubernur.

Pa#ag#a( 2 Sa#a!a Ba!$' Na6 gas P"la5a#a! +"/ +0/ Pasal 22 6arana bantu na8igasi pelayaran terdiri dari peta pelayaran, lampu suar, rambu$rambu dan tanda$tanda lain baik yang dibangun maupun terbentuk se9ara alami. Penyediaan, pengoperasian dan pemeliharaan sarana bantu na8igasi pelayaran dilakukan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan peraturan perundang$ undangan yang berlaku BAB I7 SARANA Bag a! P"#$a%a A!g&'$a! Jala! Pa#ag#a( 1 K"!1a#aa! +"/ +0/ Pasal 23 6etiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukkannya, memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. 6etiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan dirakit di dalam negeri atau diimpor, harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Pa#ag#a( 2 P"!g'8 a! +"/ +0/ +&/ Pasal 2) 6etiap kendaraan bermotor jenis mobil bus, mobil barang, kendaraan khusus, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan umum yang dioperasikan di jalan wajib dilakukan uji berkala. Pelaksanaan uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilakukan oleh Dinas Perhubungan. #ji berkala kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilakukan atas permohonan yang bersangkutan dengan menunjukkan surat$ surat sebagai keterangan kelengkapan kendaraan bermotor yang akan di uji sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. 'erhadap kendaraan bermotor yang telah dinyatakan lulus uji berkala, diberikan tanda bukti lulus uji berupa buku uji, tanda uji berkala dan tanda samping. Masa berlaku uji berkala sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, selama . +enam / bulan. 6e9ara periodik, dilakukan kalibrasi peralatan uji kendaraan bermotor. Persyaratan dan tata 9ara permohonan uji berkala ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal 2*

+1/ +3/ +./ +2/

'anda bukti lulus uji kendaraan bermotor merupakan salah satu syarat untuk permohonan perpanjangan, perubahan maupun penggantian surat tanda nomor kendaraan bemotor dan tanda bukti penda!taran kendaraan bermotor. +"/ +0/ +&/ +1/ Pasal 2+ ,okasi pengujian kendaraan bermotor ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pengadaan lahan, pembangunan dan perawatan tempat pengujian kendaraan bermotor dilakukan oleh Dinas Perhubungan. Pengadaan dan perawatan Alat #ji Kendaraan 5ermotor dilakukan oleh Dinas Perhubungan. Dalam pelaksanaan pengadaan, pembangunan dan perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat +0/ dan +&/, Dinas Perhubungan dapat bekerjasama dengan pihak ketiga dengan persetujuan ;ubernur. Pasal 2/ Kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan<atau dirakit dan<atau diimpor dan<atau dimodi!ikasi dalam jumlah tidak melebihi sepuluh unit untuk masing$masing tipe kendaraan wajib memiliki pengesahan ran9ang bangun dan rekayasa dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat. 6etiap kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ke9uali mobil penumpang bukan umum dan sepeda motor wajib memperoleh surat keterangan hasil pemeriksaan mutu yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan. 6urat keterangan hasil pemeriksaan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, berlaku sebagai serti!ikat registrasi uji tipe. Pasal 20 Permohonan uji berkala untuk yang pertama kali diajukan se9ara tertulis dan memenuhi persyaratan berdasarkan peraturan yang berlaku. Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, diajukan kepada pelaksana pengujian di wilayah pengujian yang bersangkutan Pasal 23 6etiap orang dilarang melakukan pekerjaan atau bertindak sebagai perantara pengujian kendaraan bermotor ke9uali dengan kuasa yang bersangkutan. 6etiap badan usaha dilarang melakukan pekerjaan atau bertindak sebagai perantara pengujian kendaraan bermotor tanpa i=in ;ubernur. 'ata 9ara dan persyaratan untuk mendapatkan i=in sebagaimana dimaksud dalam ayat +"/ dan +0/, akan diatur lebih lanjut dengan keputusan ;ubernur. Pasal 30 Dalam rangka menjamin keselamatan, kenyamanan dan kelestarian lingkungan hidup ditetapkan batas umur kendaraan angkutan umum. 5atas umur kendaraan angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal 31

+"/

+0/

+&/

+"/ +0/

+"/ +0/ +&/

+"/ +0/

+"/ +0/

Dalam rangka menjamin keselamatan dan keamanan bagi pengguna kendaraan bermotor baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum ditetapkan prosentase penembusan 9ahaya pada ka9a$ka9a kendaraan bermotor. Penetapan dan penerapan prosentasi penembusan 9ahaya pada ka9a$ka9a kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur Pasal 32 6etiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pa#ag#a( 3 B"!g&"l U%'% 1a! Ka#4s"# K"!1a#aa!

+"/ +0/

+"/ +0/

Pasal 33 6etiap pengusahaan bengkel umum untuk pengujian berkala dan<atau karoseri kendaraan bermotor wajib mendapat i=in pengusahaan dari ;ubernur. #ntuk mendapatkan i=in pengusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, wajib mendapat rekomendasi teknis dari Dinas Perhubungan. Pa#ag#a( ) P"!1"#"&a! 4l". P"%"# !$a. Da"#a.

+"/

+0/

+&/ +1/

+3/ +./ +2/

Pasal 3) Kendaraan bermotor yang mengalami kerusakan teknis dan berhenti dan<atau parkir pada tempat yang dilarang untuk berhenti dan<atau parkir dilakukan pemindahan kendaraan dengan 9ara menderek kendaraan ke tempat penyimpanan kendaraan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah Kendaraan bermotor yang berhenti atau parkir pada tempat yang dilarang dilakukan pengun9ian ban kendaraan dan setelah jangka waktu lima belas menit dilakukan pemindahan kendaraan ke tempat penyimpanan kendaraan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. Dalam melakukan pemindahan kendaraan sebagaimana dimaksud ayat +"/, petugas berwenang harus bertanggung jawab atas kelengkapan dan keutuhan kendaraan beserta muatannya. Kepada pengemudi<pemilik<penanggung jawab kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dikenakan retribusi a. menarik<menderek kendaraan bermotor b. penggunaan tempat penyimpanan kendaraan bermotor. 5esarnya retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat +1/ huru! a dan b, ditetapkan dalam Peraturan Daerah tersendiri. 6etelah dilakukan penderekan segera dilakukan pemberitahuan kepada pemilik kendaraan oleh Dinas Perhubungan dalam waktu " ? 01 jam. 6etelah disampaikan pemberitahuan se9ara tertulis kepada pemilik kendaraan dan kendaraan yang bersangkutan tidak diambil dalam jangka waktu & + tiga / bulan, maka terhadap kendaraan tersebut akan diselesaikan menurut prosedur sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku.

Pa#ag#a( * P"!1"#"&a! 4l". Ba1a! H'&'% I!14!"s a +"/ +0/ +&/ Pasal 3* 6etiap pengusahaan mobil derek wajib memiliki i=in usaha dari ;ubernur. I=in sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berlaku untuk jangka waktu 3 + lima tahun dan dapat diperpanjang. Penderekan kendaraan bermotor dilakukan atas prakarsa pengemudi<pemilik<penanggung jawab kendaraan itu sendiri dengan atau tanpa bantuan Petugas yang berwenang dan dikenakan biaya menarik<menderek. 5esarnya biaya menarik<menderek kendaraan bermotor ditetapkan dengan Keputusan ;ubernur. 6etiap pemegang i=in usaha sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, wajib memenuhi ketentuan peri=inan. I=in usaha sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dapat di9abut apabila pemegang i=in tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat +3/. 'ata 9ara persyaratan untuk mendapatkan i=in dan prosedur pen9abutan i=in usaha ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Bag a! K"1'a A!g&'$a! K"#"$a A2 Pa#ag#a( 1 J"! s Sa#a!a +"/ Pasal 3+ 6arana kereta api berdasarkan !ungsinya terdiri dari : a. sarana penggerak b. sarana pengangkut penumpang atau barang 9. sarana untuk keperluan khusus. 6arana kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, harus sesuai dengan spesi!ikasi prasarana kereta api yang berlaku. Pa#ag#a( 2 Sa#a!a P"!gg"#a& Pasal 3/ 6arana penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal &. ayat +"/ huru! a, harus memenuhi persyaratan teknis sesuai ketentuan yang berlaku meliputi: a. rangka dasar dan badan b. perangkat penggerak 9. peralatan keselamatan d. alat perangkai e. peralatan pengendali. Pa#ag#a( 3 Sa#a!a P"!ga!g&'$ P"!'%2a!g a$a' Ba#a!g Pasal 30

+1/ +3/ +./ +2/

+0/

+"/

+0/

+&/

6arana pengangkut penumpang atau barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal &. ayat +"/ huru! b, harus memenuhi persyaratan teknis, meliputi: a. rangka dasar dan badan www.,egalitas. b. perangkat penggerak 9. peralatan keselamatan d. alat perangkai e. peralatan pengendali. 6elain persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, sarana pengangkut penumpang atau barang harus juga memenuhi : a. sarana pengangkut penumpang harus pula dilengkapi dengan pintu, jendela dan !asilitas pelayanan penumpang. b. sarana pengangkut barang harus pula dilengkapi dengan !asilitas untuk memudahkan bongkar muat. Dalam hal sarana pengangkut penumpang memiliki alat penggerak sendiri selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ dan ayat +0/ huru! a, harus pula memenuhi persyaratan teknis sarana penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal &2.

Pasal 33 ;ubernur dalam hal ini Dinas Perhubungan mengembangkan ran9ang bangun dan rekayasa sarana dan prasarana kereta api. Pa#ag#a( ) P"#a9a$a!, P"%"# &saa! 1a! P"!g'8 a! +"/ +0/ Pasal )0 Perawatan sarana dan prasarana kereta api dilakukan oleh Dinas Perhubungan dan dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga dengan persetujuan ;ubernur. Ketentuan lebih lanjut mengenai perawatan sarana dan prasarana kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal )1 Pemeriksaan dan pengujian sarana dan prasarana kereta api diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan. Pemeriksaan dan pengujian sarana dan prasarana kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilaksanakan dengan memperhatikan persyaratan teknis. Pasal )2 Pemeriksaan dan pengujian sarana kereta api dilaksanakan untuk pertama kali sebelum dioperasikan dan selanjutnya se9ara berkala sekurang$kurangnya sekali dalam " + satu / tahun. 6arana kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, yang telah lulus pemeriksaan dan pengujian diberikan tanda lulus. www.,egalitas. Pemeriksaan dan pengujian prasarana kereta api, khususnya untuk jalan rel termasuk jembatan dan terowongan, peralatan persinyalan, instalasi listrik dan peralatan telekomunikasi, dilakukan sekurang$kurangnya sekali dalam " +satu/ tahun. Bag a! K"$ ga

+"/ +0/

+"/ +0/ +&/

A!g&'$a! S'!ga , Da!a' 1a! P"!5"-"#a!ga! Pa#ag#a( 1 J"! s Sa#a!a +"/ +0/ +&/ Pasal )3 Angkutan 6ungai, Danau dan Penyeberangan dilakukan dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan kelaikan dan diperuntukkan bagi angkutan sungai, danau dan penyeberangan. Penempatan dan pengoperasian kapal pada setiap lintas penyeberangan harus sesuai dengan spesi!ikasi teknis lintas dan !asilitas pelabuhan penyeberangan yang akan dilayani. Kapal yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ dan ayat +0/, tidak boleh beroperasi.

Pasal )) Ketentuan tentang ke9epatan maksimum kapal ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pa#ag#a( 2 P"%"# &saa! Ka2al +"/ +0/ Pasal )* #ntuk mememenuhi persyaratan teknis kelaiklautan kapal dan jaminan keselamatan pelayaran wajib dilakukan pemeriksaan kapal pada setiap pemberangkatan kapal. Pemeriksaan kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilakukan oleh petugas yang berwenang. BAB 7 PENGEMUDI ANGKUTAN JALAN +"/ +0/ Pasal )+ #ntuk mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib memiliki 6urat I=in Mengemudi sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. 6etiap pengemudi kendaraan bermotor wajib membawa 6urat I=in Mengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, selama mengemudikan kendaraan. Pasal )/ 6etiap pengemudi kendaraan pribadi dalam mengemudikan kendaraan wajib : a. mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. b. tidak minum minuman yang mengandung alkohol, obat bius, narkotika maupun obat terlarang lainnya. 9. mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya d. menunjukkan surat tanda bukti penda!taran kendaraan bermotor, surat tanda 9oba kendaraan bermotor dan surat i=in mengemudi, e. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan, rambu$rambu dan marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, gerakan lalu lintas, berhenti dan parkir, peringatan dengan bunyi dan sinar, ke9epatan maksimum dan<atau minimum.

+"/

!.

+0/

memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih, dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda 0 atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengakapi dengan rumah$rumah. 6etiap pengemudi kendaraan umum yang bertugas dalam pengoperasian kendaraan untuk pelayanan angkutan umum wajib : a. mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. b. mematuhi ketentuan di bidang pelayanan dan keselamatan angkutan. 9. memakai pakaian seragam perusahaan yang dilengkapi dengan indentitas perusahaan, yang harus dipakai pada waktu bertugas. d. memakai kartu pegenal pegawai yang dikeluarkan oleh perusahaan. e. bertingkah laku sopan, ramah dan tidak merokok selama dalam kendaraan. !. tidak minum minuman yang mengandung alkohol, obat bius, narkotika maupun obat terlarang lainnya. g. mematuhi waktu kerja, waktu istirahat dan penggantian pengemudi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. h. mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya i. menunjukkan surat tanda bukti penda!taran kendaraan bermotor, surat tanda 9oba kendaraan bermotor, surat i=in mengemudi, dan tanda bukti lulus uji, atau tanda bukti lain yang sah, kartu i=in usaha, kartu pengawasan i=in trayek, kartu pengawasan i=in operasi dalam hal dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor. j. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan, rambu$rambu dan marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, gerakan lalu lintas, berhenti dan parkir, persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor, peringatan dengan bunyi dan sinar, ke9epatan maksimum dan<atau minimum, tata 9ara mengangkut orang dan barang, tata 9ara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain k. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi. www.,egalitas. Pasal )0 6etiap penyelenggaraan sekolah mengemudi kendaraan bermotor wajib mendapat i=in usaha dari ;ubernur. #ntuk mendapatkan i=in usaha sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, harus terlebih dahulu mendapat rekomendasi teknis dari Dinas Perhubungan. Persyaratan dan tata 9ara memperoleh i=in usaha dan rekomendasi teknis sebagaimana dimaksud ayat +"/ dan +0/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. BAB 7I LALU LINTAS Bag a! P"#$a%a Jala! Pa#ag#a( 1 Ma!a8"%"! Lal' L !$as

+"/ +0/ +&/

+"/.

Pasal )3 Manajemen lalu lintas meliputi kegiatan peren9anaan, pengawasan dan pengendalian lalu lintas dan angkutan jalan.

pengaturan,

+0/

+&/ +1/

+3/

Kegiatan peren9anaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi: a. in8entarisasi dan e8aluasi tingkat pelayanan b. penetapan tingkat pelayanan yang diinginkan 9. penetapan peme9ahan permasalahan lalu lintas d. penyusunan ren9ana dan program pelaksanaan perwujudannya. Kegiatan pengaturan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi kegiatan penetapan kebijakan lalu lintas pada jaringan atau ruas$ruas jalan tertentu. Kegiatan pengawasan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi: a. pemantauan dan penilaian terhadap pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +&/ b. tindakan korekti! terhadap pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +&/. Kegiatan pengendalian lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi: a. pemberian arahan dan petunjuk dalam pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +&/ b. pemberian bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak dan kewajiban masyarakat dalam pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +&/. www.,egalitas. Pasal *0 Penerapan kebijaksanaan manajemen lalu lintas terdiri dari : a. Manajemen Kapasitas meliputi: ". perbaikan geometrik simpang 0. penataan parkir di tepi jalan &. penetapan A'@6 +Area 'ra!!i9 @ontrol 6ystem/ 1. pelebaran jalan 3. jalan bawah tanah +underway/ .. simpang tidak sebidang +!ly o8er atau under pass/. b. Manajemen Prioritas meliputi : ". jalur bus khusus +bus way/ 0. lajur khusus bus &. jalur<lajur khusus sepeda motor 1. jalur<lajur khusus sepeda 3. prioritas di persimpangan .. prioritas di persimpangan untuk angkutan umum 2. prioritas bagi kendaraan umum penumpang dan barang. 9. Manajemen Permintaan meliputi: ". penataan trayek 0. penataan lintas angkutan barang dan pembatasan lokasi bongkar muat barang &. lajur pasang surut +9ontra !low/ 1. sistem satu arah 3. pembatasan lalu lintas : & in ", sistem stiker, sistem ganjil genap, area li9en9ing system, road pri9ing, penerapan tari! parkir yang tinggi pada daerah pusat$pusat kegiatan +@5D/

+"/

+0/

penerapan pajak progresi! terhadap kepemilikan kendaraan lebih dari satu 2. pembatasan perjalanan kendaraan pribadi dalam tiap tahunnya dengan penggunaan lisensing sistem untuk tiap kendaraan ). kontrol terhadap penggunaan tata guna lahan. (. Kawasan 'ertib ,alu ,intas +K',/ Penerapan kebijaksanaan manajemen lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal *1 Pengaturan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1( ayat +&/, yang bersi!at perintah dan<atau larangan ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Perintah dan<atau larangan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, harus dinyatakan dengan rambu$rambu lalu lintas, marka jalan, dan<atau alat pemberi isyarat lalu lintas. 6etiap pemakai jalan wajib mematuhi perintah atau larangan sebagaimana dimaksud pada ayat +0/. www.,egalitas. Pa#ag#a( 2 R"&a5asa Lal' L !$as

..

+"/ +0/ +&/

+"/ +0/

+&/ +1/

Pasal *2 Dalam rangka pelaksanaan manajemen lalu lintas di jalan, dilakukan rekayasa lalu lintas. -ekayasa lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi: a. peren9anaan, pembangunan dan pemeliharaan jalan b. peren9anaan, pengadaan, pemasangan, dan pemeliharaan rambu$ rambu, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, alat pengendali dan pengaman pemakai jalan serta !asilitas pendukung. Pemasangan dan penghapusan rambu$rambu, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, alat pengendali dan pengaman pemakai jalan serta !asilitas pendukung harus didukung dengan sistem in!ormasi. Pelaksanaan rekayasa lalu lintas ditetapkan dengan keputusan ;ubernur.

Pasal *3 6etiap orang tanpa i=in dari Kepala Dinas Perhubungan, dilarang : a. Membuat, memasang, memindahkan rambu$rambu, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas b. Membuat atau memasang tanggul pengaman jalan dan pita penggaduh +speed trap/ 9. Membuat atau memasang pintu penutup jalan dan portal d. Menutup terobosan atau putaran jalan e. Membongkar jalur pemisah jalan, pulau$pulau lalu lintas dan sejenisnya !. Membongkar, memotong, merusak<membuat tidak ber!ungsinya pagar pengaman jalan g. Menggunakan bahu jalan dan trotoar yang tidak sesuai dengan !ungsinya h. Mengubah !ungsi jalan i. Membuat dan<atau memasang yang menyerupai rambu$rambu, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, alat pengendali dan pengaman pemakai jalan serta !asilitas pendukung

j.

Membuat dan<atau memasang bangunan reklame yang dapat mengganggu kelan9aran lalu lintas dan pandangan pengemudi. Pa#ag#a( 3 Ta$a :a#a B"#lal' L !$as

+"/

+0/

Pasal *) 6etiap pejalan kaki yang akan menyeberang di jalan wajib menyeberang pada sarana penyeberangan apabila jalan tersebut telah dilengkapi dengan sarana penyeberangan, dan apabila jalan tersebut tidak dilengkapi dengan sarana penyeberangan, pejalan kaki wajib menyeberang pada bagian jalan yang memperhatikan keselamatan dan kelan9aran lalu lintas. www.,egalitas. 6etiap pejalan kaki yang berjalan di jalan wajib berjalan di atas trotoar apabila jalan tersebut telah dilengkapi dengan trotoar, dan apabila jalan tersebut tidak dilengkapi dengan trotoar, pejalan kaki wajib menggunakan bagian jalan yang paling kiri. Pasal ** Pada lajur yang diperuntukkan khusus untuk kendaraan umum tertentu, dilarang digunakan kendaraan jenis lain ke9uali ditentukan lain oleh rambu$ rambu dan<atau marka jalan. 6etiap kendaraan dilarang berhenti atau parkir di badan jalan apabila pada tempat tersebut dilarang untuk berhenti dan<atau parkir yang dinyatakan dengan rambu$rambu dan<atau marka jalan Pa#ag#a( ) P"!gg'!aa! Jala!

+"/ +0/

+"/

+0/

Pasal *+ Penggunaan jalan untuk keperluan tertentu di luar !ungsi sebagai jalan dan<atau penyelenggaraan kegiatan dengan menggunakan jalan yang patut diduga dapat menggangu keselamatan, keamanan dan kelan9aran lalu lintas hanya dapat dilakukan setelah memperoleh i=in dari Kepala Dinas Perhubungan. Persyaratan dan tata 9ara memperoleh i=in sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal */ Pada setiap jalan ditetapkan ke9epatan minimum dan<atau maksimum kendaraan bermotor sesuai dengan kelas jalan yang dinyatakan dengan rambu$ rambu. Ketentuan mengenai ke9epatan minimum dan<atau maksimum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksudkan dalam ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Bag a! K"1'a K"#"$a A2 Pa#ag#a( 1 Ja# !ga! P"la5a!a!

+"/ +0/

+"/ +0/ +&/ +1/

Pasal *0 Jaringan pelayanan angkutan kereta api ber!ungsi sebagai salah satu pelayanan sistem angkutan kota. www.,egalitas. Jaringan pelayanan kereta api diselenggarakan se9ara terpadu dalam satu kesatuan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem transportasi se9ara keseluruhan. Jaringan pelayanan angkutan kereta api ditetapkan dengan keputusan ;ubernur Penetapan jaringan pelayanan angkutan kereta api dengan kota lain di luar Daerah, dilakukan berdasarkan perjanjian kerjasama antar Daerah. BAB 7II ANGKUTAN Bag a! P"#$a%a A!g&'$a! Jala! Pa#ag#a( 1 J"! s A!g&'$a! Jala! Pasal *3

Jenis angkutan jalan terdiri dari : a. angkutan orang b. angkutan barang. +"/ +0/ Pasal +0 Angkutan orang dengan kendaraan umum dilayani dengan : a. trayek tetap dan teratur b. tidak dalam trayek. Angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ huru! a, terdiri dari: a. angkutan antar kota antar propinsi b. angkutan kota 9. angkutan perbatasan d. angkutan khusus Angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ huru! a, menggunakan mobil bus besar, mobil bus sedang dan mobil bus ke9il. Angkutan orang dengan kendaraan umum dalam trayek tetap dan teratur berupa pelayanan angkutan kota diselenggarakan dengan 9iri$9iri sebagai berikut : a. 'rayek #tama : ". dilayani oleh bus besar 0. melalui jalan arteri &. berhenti pada tempat$tempat yang telah ditetapkan www.,egalitas. b. 'rayek @abang : ". dilayani oleh bus besar dan bus sedang 0. melalui jalan kolektor &. berhenti pada tempat$tempat yang telah ditetapkan 1. sebagai trayek penunjang<pengumpan terhadap trayek utama 9. 'rayek -anting :

+&/ +1/

+3/

+./ +2/

dilayani oleh bus ke9il melalui jalan lokal melayani kawasan pemukiman sebagai trayek penunjang<pengumpan terhadap trayek 9abang dan trayek utama d. 'rayek ,angsung : ". dilayani oleh bus besar dan bus sedang 0. melayani penumpang dari daerah pemukiman ke daerah pusat kegiatan Angkutan orang dengan kendaraan umum tidak dalam trayek sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ huru! b, terdiri dari: a. angkutan taksi b. angkutan sewa 9. angkutan pariwisata d. angkutan lingkungan. Angkutan orang dengan kendaraan umum tidak dalam trayek sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ huru! b, menggunakan mobil bus besar, mobil bus sedang, mobil bus ke9il dan mobil penumpang. Ketentuan mengenai pelayanan sebagaimana yang dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal +1 Pengangkutan barang dapat dilakukan dengan menggunakan sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus dengan ketentuan jumlah barang yang diangkut tidak melebihi daya angkut tipe kendaraannya Pengangkutan barang dengan menggunakan sepeda motor sebagaimana dimaksud dalam ayat +"/, harus memenuhi persyaratan : a. mempunyai ruang muatan barang dengan lebar tidak melebihi stang pengemudi. b. 'inggi ruang muatan tidak melebihi (** milimeter dari atas tempat duduk pengemudi. #ntuk keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelan9aran lalu lintas dan angkutan jalan ditetapkan jaringan lintas angkutan barang dengan keputusan ;ubernur. Pasal +2 6etiap pengangkutan barang khusus seperti bahan berbahaya, bera9un, barang 9urah, barang 9air, bahan yang mudah terbakar, bahan peledak, barang yang memerlukan !asilitas pendingin dan pengangkutan tumbuh$tumbuhan dan hewan hidup wajib menggunakan kendaraan khusus yang memenuhi persyaratan peruntukan sesuai jenis barang khusus yang diangkut dengan melalui rute yang ditetapkan. -ute kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pengangkutan barang sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, wajib memenuhi persyaratan muatan dan pembongkaran untuk menjamin keselamatan barang yang diangkut dan pemakai jalan lain serta menggunakan kendaraan yang memenuhi persyaratan peruntukan sesuai jenis barang yang diangkut. 'ata @ara pemuatan dan pembongkaran barang khusus ditetapkan dengan keputusan ;ubernur

". 0. 1. 3.

+"/ +0/

+&/

+"/

+0/ +&/

+1/

Pa#ag#a( 2 P"# ; !a! 1a! R"&4%"!1as +"/ Pasal +3 Kegiatan usaha angkutan orang dan atau angkutan barang dengan kendaraan umum dapat dilakukan oleh : a. 5adan #saha Milik %egara +5#M%/ atau 5adan #saha Milik Daerah +5#MD/ b. 5adan usaha milik swasta nasional 9. Koperasi d. Perorangan :arga %egara Indonesia. #saha angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari : a. usaha angkutan orang dalam trayek tetap dan teratur b. usaha angkutan orang tidak dalam trayek 9. usaha angkutan barang. Pasal +) #ntuk dapat melakukan kegiatan usaha angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal .& ayat +0/, wajib mendapat i=in usaha angkutan dari Kepala Dinas Perhubungan. I=in usaha angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berlaku selama perusahaan yang bersangkutan masih menjalankan usahanya. Pengusaha angkutan umum yang telah memperoleh i=in trayek diwajibkan untuk mempekerjakan pengemudi yang memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku dan merupakan pengemudi perusahaan bersangkutan. 'ata 9ara dan persyaratan untuk mendapatkan i=in usaha angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal +* Kepada pemilik i=in usaha diberikan Kartu I=in #saha untuk setiap kendaraan yang diusahakan. Kartu I=in #saha sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan. Dalam rangka pengawasan dan pengendalian operasi kendaraan, dilakukan perpanjangan Kartu I=in #saha setiap tahun. 'ata 9ara dan persyaratan perpanjangan Kartu I=in #saha sebagaimana dimaksud pada ayat +&/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal ++ I=in usaha angkutan di9abut apabila : a. Perusahaan angkutan melanggar ketentuan b. Perusahaan angkutan tidak melakukan kegiatan usaha angkutan. Prosedur pen9abutan i=in sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal +/ 6etiap kendaraan umum wajib diremajakan apabila kendaraan tersebut tidak laik jalan dan<atau telah melebihi umur kendaraan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dengan keputusan ;ubernur.

+0/

+"/ +0/ +&/

+1/

+"/ +0/ +&/ +1/

+"/ +0/ +"/

+0/

6etiap peremajaan kendaraan umum wajib memenuhi tata 9ara dan persyaratan yang ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal +0 #ntuk melakukan kegiatan angkutan kota dalam trayek, angkutan perbatasan dan angkutan khusus wajib memiliki i=in trayek yang diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan I=in trayek sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berlaku untuk jangka waktu +lima/ tahun dan dapat diperpanjang #ntuk memperoleh i=in trayek pemohon wajib menandatangani 6urat Pernyataan Kesanggupan untuk memenuhi seluruh kewajiban sebagai pemegang i=in trayek Permohonan i=in trayek dapat berupa : a. I=in bagi permohonan baru b. Pembaharuan masa berlaku i=in www.,egalitas. 9. Perubahan i=in, terdiri dari : "/ Penambahan trayek atau penambahan kendaraan 0/ Perubahan trayek +dalam hal terjadi perubahan rute, perpanjangan dan perpendekan rute/ &/ Penggantian dokumen peri=inan yang hilang atau rusak 1/ Pengalihan kepemilikan pengusahaan 3/ Penggantian kendaraan meliputi, peremajaan kendaraan, perubahan indentitas kendaraan dan tukar lokasi operasi kendaraan Pemberian i=in trayek didasarkan pada kebutuhan dan kualitas pelayanan Persyaratan dan tata 9ara mendapatkan i=in trayek ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal +3 #ntuk mendapat i=in trayek antar kota antar propinsi yang berasal dari dan bertujuan atau melintas wilayah propinsi wajib mendapat rekomendasi dari Kepala Dinas Perhubungan. Persyaratan dan tata 9ara untuk mendapatkan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dengan keputusan Kepala Dinas Perhubungan. Pasal /0 6etiap pemilik i=in trayek, diberikan Kartu Pengawasan Kendaraan untuk setiap kendaraan yang dioperasikan. 6etiap pemilik i=in trayek yang melakukan perubahan i=in trayek, wajib melakukan perubahan terhadap Kartu Pengawasan Kendaraan untuk setiap kendaraan yang dioperasikan. Kartu Pengawasan Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ dan +0/, diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan ke9uali Kartu Pengawasan Kendaraan Antar Kota Antar Propinsi. Pemberian Kartu Pengawasan Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilakukan se9ara bersamaan dengan pemberian i=in trayek yang bersangkutan. Kartu Pengawasan Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang.

+"/ +0/ +&/ +1/

+3/ +./

+"/ +0/

+"/ +0/ +&/ +1/ +3/

+./ +2/

Perpanjangan Kartu Pengawasan Kendaraan Antar Kota Antar Propinsi wajib mendapat rekomendasi dari Kepala Dinas Perhubungan 'ata 9ara dan persyaratan untuk mendapatkan perpanjangan Kartu Pengawasan Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +3/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur

Pasal /1 I=in trayek di9abut apabila pemegang i=in trayek tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan yang berlaku. +"/ +0/ +&/ +1/ Pasal /2 I=in insidentil merupakan i=in yang dapat diberikan kepada perusahaan angkutan yang telah memiliki i=in trayek untuk menggunakan kendaraan bermotor 9adangannya menyimpang keluar dari i=in trayek yang dimiliki. I=in insidentil diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan. I=in insidentil hanya diberikan untuk satu kali perjalanan pergi pulang dan berlaku paling lama "1 + empat belas / hari serta tidak dapat diperpanjang. Persyaratan dan tata 9ara permohonan i=in insidentil ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal /3 #ntuk melakukan kegiatan angkutan orang dengan kendaraan bermotor tidak dalam trayek ke9uali angkutan parawisata, wajib memiliki i=in operasi angkutan dari Kepala Dinas Perhubungan. #ntuk melakukan kegiatan angkutan orang dengan kendaraan bermotor tidak dalam trayek dengan jenis angkutan parawisata, wajib mendapat rekomendasi dari Kepala Dinas Perhubungan. I=in operasi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berlaku untuk jangka waktu 3 + lima / tahun dan dapat diperpanjang didasarkan pada kualitas pelayanan. #ntuk memperoleh i=in operasi pemohon wajib menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk memenuhi seluruh kewajiban sebagai pemegang i=in operasi. Persyaratan dan tata 9ara untuk mendapatkan i=in operasi dan rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, +0/ dan +&/ ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Penentuan kebutuhan jumlah kendaraan dilaksanakan berdasarkan hasil sur8ey lapangan, dengan pertimbangan : a. Jumlah penduduk b. Potensi permintaan penumpang 9. Potensi ekonomi wilayah d. -en9ana tata ruang wilayah dan potensi kawasan e. Keterpaduan intra dan antar moda. www.,egalitas. #ntuk taksi yang melayani wilayah operasi lebih satu propinsi ke9uali angkutan taksi yang melayani khusus untuk pelayanan ke dan dari 5andara di luar Propinsi DKI Jakarta, i=in operasi angkutan taksi diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan. Pasal /)

+"/ +0/ +&/ +1/ +3/ +./

+2/

+"/ +0/ +&/ +1/ +3/

Perusahaan angkutan taksi, angkutan sewa dan angkutan lingkungan yang telah mendapatkan i=in operasi diberikan Kartu Pengawasan I=in 7perasi Kendaraan untuk setiap kendaraan yang dioperasikan. Kartu Pengawasan I=in 7perasi Kendaraan sebagaimana yang dimaksud pada ayat +"/, diberikan oleh Kepala Dinas Perhubungan. Pemberian Kartu Pengawasan I=in 7perasi Kendaraan sebagaimana yang dimaksud pada ayat +"/, dilakukan se9ara bersamaan dengan pemberian i=in operasi yang bersangkutan. Kartu Pengawasan I=in 7perasi Kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, berlaku selama satu tahun dan dapat diperpanjang. 'ata 9ara dan persyaratan perpanjangan Kartu Pengawasan I=in 7perasi Kendaraan ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal /* I=in operasi di9abut apabila pemegang i=in tidak memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan dalam peri=inan dan<atau tidak memperpanjang Kartu Pengawasan Kendaraan. Prosedur dan tata 9ara pen9abutan i=in operasi berdasarkan keputusan ;ubernur. Pa#ag#a( 3 Ta# (

+"/ +0/

Pasal /+ 'ari! angkutan terdiri dari : a. tari! angkutan penumpang terdiri dari tari! dalam trayek tetap dan teratur dan tari!! tidak dalam trayek b. tari! angkutan barang. +"/ +0/ Pasal // 'ari! angkutan penumpang tidak dalam trayek berupa taksi ditetapkan oleh penyedia jasa angkutan setelah mendapat persetujuan ;ubernur. 'ari! taksi terdiri dari tari! awal, tari! dasar, tari! waktu dan tari! jarak yang ditunjukkan dalam argometer. Pasal /0 ;ubernur menetapkan besarnya tari! angkutan kota dan perbatasan kelas ekonomi berdasarkan usul Dewan 'ransportasi Kota dengan persetujuan DP-D. #ntuk tari! angkutan non ekonomi ditetapkan oleh penyedia jasa setelah mendapat persetujuan ;ubernur. 'ari! angkutan barang, angkutan sewa, angkutan pariwisata dan angkutan lingkungan ditentukan berdasarkan atas kesepakatan antara pengguna jasa dan penyedia jasa.

+"/ +0/ +&/

Pasal /3 6etiap angkutan penumpang umum yang telah ditetapkan tari!nya wajib mematuhi tari! sesuai dengan yang telah ditetapkan. Bag a! K"1'a

A!g&'$a! K"#"$a A2 Pa#ag#a( 1 J"! s A!g&'$a! +"/ +0/ +&/ Pasal 00 Angkutan orang dengan kereta api hanya dapat dilakukan dengan kereta penumpang. Dalam kondisi tertentu, badan usaha penyelenggara kereta api dapat melakukan pengangkutan orang sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dengan sarana kereta api lainnya. Pelayanan angkutan orang dengan kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari pelayanan ekonomi dan non ekonomi. Pasal 01 Angkutan barang dengan kereta api dilakukan dengan menggunakan gerbong dan atau kereta bagasi. Angkutan barang sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari : a. barang umum b. barang khusus 9. barang berbahaya. Pa#ag#a( 2 P"!5"1 aa! 1a! P"!g'sa.aa! +"/ +0/ +&/ Pasal 02 Penyediaan prasarana dan sarana kereta api termasuk pembangunan dan pengoperasian dilaksanakan oleh Kepala Dinas Perhubungan. Penyediaan prasarana dan sarana kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dapat dilaksanakan oleh pihak ketiga. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal 03 Pengusahaan prasarana dan sarana kereta api dapat dilakukan oleh : ". 5adan #saha Milik %egara +5#M%/ atau 5adan #saha Milik Daerah +5#MD/ 0. 5adan usaha milik swasta &. Koperasi. Pengusahaan prasarana dan sarana kereta api wajib mendapat i=in dari Kepala Dinas Perhubungan. Pengusahaan prasarana dan sarana kereta api sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilaksanakan dengan memperhatikan : a. kepentingan pelayanan umum b. keselamatan operasi kereta api 9. keamanan dan ketertiban dalam pelayanan jasa d. kelangsungan pelayanan e. kenyamanan penumpang. Pa#ag#a( 3 P"!5"l"!gga#aa!

+"/ +0/

+"/

+0/ +&/

+"/ +0/

Pasal 0) Penyelenggaraan angkutan penumpang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat$syarat umum angkutan kereta api yang ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Kar9is penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. Pa#ag#a( ) P"!g"l4laa! K"#"$a A2 K.'s's

+"/ +0/ +&/ +1/ +3/

Pasal 0* #ntuk menunjang kegiatan pokok badan usaha di bidang tertentu, dapat digunakan kereta api khusus. Pengelolaan kereta api khusus, dilakukan setelah mendapat i=in dari ;ubernur. Pemegang i=in kereta api khusus wajib melaporkan kegiatan operasional se9ara berkala setiap enam bulan sekali kepada Kepala Dinas Perhubungan. #ntuk kelan9aran dan keselamatan operasional kereta api khusus, wajib dilakukan, pemeriksaaan dan pengujian sarana dan prasarana sekurang$ kurangnya sekali dalam satu tahun. Perawatan, pemeriksaan dan pengujian sarana dan prasarana kereta api khusus sebagaimana dimaksud pada ayat +1/ ditetapkan dengan Keputusan ;ubernur. Pa#ag#a( * Ta# (

Pasal 0+ ;ubernur menetapkan struktur dan golongan tari! angkutan kereta api berdasarkan usulan Dewan 'ransportasi Kota dengan persetujuan DP-D. Bag a! K"$ ga A!g&'$a! S'!ga , Da!a' 1a! P"!5"-"#a!ga! Pa#ag#a( 1 J"! s A!g&'$a! +"/ +0/ +&/ Pasal 0/ Angkutan sungai, danau dan penyeberangan terdiri dari : a. angkutan penumpang b. angkutan barang. Angkutan penumpang dilayani dengan kapal motor. Angkutan barang dilayani dengan : a. kapal layar b. kapal layar motor 9. kapal motor. Pa#ag#a( 2 P"!g'sa.aa! Pasal 00 Pengusahaan prasarana dan sarana angkutan sungai, danau dan penyeberangan dapat dilakukan oleh : a. 5adan #saha Milik %egara +5#M%/ atau 5adan #saha Milik Daerah +5#MD/

+"/

+0/ +&/ +1/

+3/ +./

b. 5adan usaha milik swasta 9. Koperasi d. Perorangan :arga %egara Indonesia. Pengusahaan prasarana dan sarana angkutan sungai, danau dan penyeberangan wajib mendapat i=in dari Kepala Dinas Perhubungan. I=in sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, terdiri dari: a. I=in #saha b. I=in 7perasi. I=in usaha sebagaimana dimaksud pada ayat +&/ huru! a, diberikan untuk jangka waktu selama perusahaan yang bersangkutan masih menjalankan usahanya dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam i=in yang bersangkutan. I=in operasi sebagaimana dimaksud pada ayat +&/ huru! b, diberikan untuk jangka waktu selama 3 + lima /tahun dan dapat diperpanjang. 'ata 9ara dan persyaratan permohonan i=in usaha dan i=in operasi angkutan sungai, danau dan penyeberangan ditetapkan dengan keputusan ;ubernur.

Pasal 03 Perusahaan angkutan sungai, danau dan penyeberangan dapat memindahkan atau mengganti kapalnya sepanjang memenuhi persyaratan keselamatan dan spesi!ikasi teknis lintas dan pelabuhan sungai, danau dan penyeberangan yang bersangkutan dengan i=in Kepala Dinas Perhubungan. Pasal 30 Penambahan atau penempatan kapal angkutan penyeberangan, dilakukan berdasarkan hasil e8aluasi yangdilaksanakan Dinas Perhubungan Pasal 31 Dalam hal kurangnya jumlah dan kapasitas ruang kapal angkutan penyeberangan berbendera nasional, dalam jangka waktu tertentu dapat digunakan kapal berbendera asing yang ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal 32 ;ubernur menetapkan kapal yang beroperasi pada suatu lintas penyeberangan berdasarkan pertimbangan kondisi teknis dari lintas, pelabuhan dan kapal penyeberangan yang bersangkutan. Pasal 33 I=in usaha angkutan sungai, danau dan penyeberangan dapat di9abut tanpa melalui proses peringatan dan pembekuan i=in, dalam hal perusahaan yang bersangkutan : a. melakukan kegiatan yang membahayakan keamanan %egara b. melakukan kegiatan yang membahayakan jiwa manusia dan lingkungan hidup 9. memperoleh i=in usaha dengan 9ara tidak sah d. atas permintaan sendiri. BAB 7III ,ASILITAS UNTUK PENYANDANG :A:AT DAN ATAU ORANG SAKIT Pasal 3)

+"/ +0/ +&/ +1/

Penderita 9a9at, manula dan<atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang lalu lintas dan angkutan jalan, angkutan kereta api, angkutan sungai dan danau serta penyeberangan Pemerintah Daerah dan 5adan #saha Pengelola wajib menyediakan !asilitas untuk penyandang 9a9at, manula dan<atau orang sakit pada prasarana dan sarana. Penggunaan !asilitas pada prasarana dan sarana sebagaimana dimaksud pada ayat +0/ tidak dipungut tambahan biaya. Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi pelaksanaan ketentuan mengenai penyediaan !asilitas untuk penyandang 9a9at, manula dan<atau orang sakit sebagaimana dimaksud pada ayat +&/, diatur dengan keputusan ;ubernur sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. BAB I< ANALISIS DAMPAK LALU LINTAS

+"/ +0/ +&/

Pasal 3* 6etiap pembangunan dan peningkatan kegiatan yang menimbulkan bangkitan dan tarikan lalu lintas serta yang dapat mempengaruhi kelan9aran lalu lintas, wajib dilakukan analisis dampak lalu lintas. Analisis dampak lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dilakukan oleh konsultan transportasi yang berkompeten di bidangnya dan akan die8aluasi oleh tim yang dibentuk dengan keputusan ;ubernur. 4asil penilaian analisis dampak lalu lintas sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, berbentuk rekomendasi diberikan kepada ;ubernur melalui Kepala Dinas Perhubungan. BAB < RETRIBUSI

+"/ +0/

Pasal 3+ 'erhadap pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau serta penyeberangan dikenakan pungutan retribusi. Pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari: a. i=in usaha angkutan jalan b. i=in trayek angkutan jalan 9. i=in operasi angkutan jalan d. pengujian kendaraan bermotor e. pemeriksaan kelaiklautan kapal !. pemakaian terminal penumpang mobil bus g. pemakaian terminal mobil barang h. pemakaian !asilitas lainnya di terminal penumpang mobil bus i. pemakaian !asilitas terminal mobil barang j. pemakaian pangkalan taksi k. pemakaian !asilitas tempat untuk kendaraan antar jemput dalam areal terminal l. pemakaian pangkalan mobil barang m. pemakaian mobil derek n. pemakaian pool kendaraan o. pemakaian tempat pen9u9ian kendaraan bermotor

+&/

p. i=in usaha prasarana dan sarana kereta api A. pemakaian !asilitas peron stasiun kereta api r. pemakaian !asilitas peron angkutan barang di stasiun kereta api s. i=in pengoperasian prasarana dan sarana kereta api t. pemakaian !asilitas prasarana kereta api u. i=in usaha angkutan sungai dan danau 8. i=in operasi angkutan sungai dan danau w. jasa sandar di dermaga sungai dan danau ?. jasa masuk pelabuhan sungai dan danau y. jasa penumpukan barang<hewan di pelabuhan sungai dan danau =. sewa tanah dan ruangan di pelabuhan sungai dan danau aa. i=in usaha angkutan penyeberangan bb. i=in operasi angkutan penyeberangan 99. jasa sandar di dermaga penyeberangan dd. jasa masuk pelabuhan penyeberangan ee. jasa penumpukan barang<hewan di pelabuhan penyeberangan !!. sewa tanah dan ruangan di pelabuhan penyeberangan. Pengaturan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, ditetapkan dalam Peraturan Daerah tersendiri tentang -etribusi. BAB <I SISTEM IN,ORMASI DAN STATISTIK

+"/ +0/

Pasal 3/ #ntuk memudahkan penyampaian in!ormasi kepada masyarakat dibuat suatu 6istem In!ormasi Pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau serta penyeberangan. Data yang berasal dari sistem in!ormasi sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, dibuat statistik oleh Dinas Perhubungan se9ara berkala. BAB <II DEWAN TRANSPORTASI KOTA

+"/

+0/ +&/ +1/

Pasal 30 #ntuk menampung aspirasi masyarakat dan memberikan bahan pertimbangan terhadap penyusunan kebijakan Pemerintah Daerah dalam bidang transportasi dibentuk Dewan 'ransportasi Kota yang unsur anggotanya terdiri dari Perguruan 'inggi, Pakar 'ransportasi, Dinas Perhubungan, Kepolisian, Pengusaha Angkutan, ,embaga 6wadaya Masyarakat yang bergerak dibidang transportasi, awak angkutan dan masyarakat pengguna jasa transportasi. Dewan 'ransportasi Kota merupakan lembaga yang berkedudukan di tingkat Propinsi. 7rganisasi, 'ata Kerja dan Keanggotaan Dewan 'ransportasi Kota ditetapkan dengan Keputusan ;ubernur selambat$lambatnya . +enam/ bulan sejak diberlakukan Peraturan Daerah ini. Masa bakti keanggotaan Dewan 'ransportasi Kota selama 0 +dua/ tahun. BAB <III PEMBINAAN

+"/ +0/

+&/

Pasal 33 Pembinaan lalu lintas dan angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau serta penyeberangan dilakukan oleh ;ubernur. Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari : a. 5imbingan dan penyuluhan kepada masyarakat, pengemudi angkutan dan<atau pengusaha angkutan b. 5imbingan peren9anaan teknis 9. Pemberdayaan masyarakat di bidang lalu lintas dan angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau serta penyeberangan. 5imbingan dan penyuluhan kepada masyarakat atau pengemudi angkutan dan<atau pengusaha angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat +0/ huru! a, dapat dilakukan se9ara langsung maupun tidak langsung. Pasal 100 #ntuk menjaga kualitas pelayanan angkutan dilakukan penilaian kinerja se9ara berkala setiap " +satu/ tahun oleh Dinas Perhubungan. Penilaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi: a. pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor b. jumlah ke9elakaan yang terjadi 9. pemenuhan pelayanan angkutan sesuai dengan i=in operasi yang telah diberikan d. ketaatan terhadap peraturan tata 9ara berlalu lintas e. pemenuhan ketentuan hubungan kerja antara pengemudi dengan perusahaan.

+"/ +0/

Pasal 101 Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal (( dilakukan berdasarkan program kegiatan jangka panjang, menengah dan tahunan yang disusun oleh Dinas Perhubungan berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya dan ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. BAB <I7 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 102 +"/ #ntuk mengetahui perkembangan pelayanan angkutan orang di jalan se9ara periodik, dilakukan pemantauan dan pengawasan angkutan serta penda!taran ulang angkutan. +0/ Aspek$aspek yang dipertimbangkan dalam pemantauan dan pengawasan angkutan orang sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, meliputi : a. perkembangan sosial dan ekonomi b. hasil pengamatan dan peninjauan lapangan oleh aparat 9. laporan dan masukan pengguna jasa d. laporan dan masukan pengusaha angkutan e. saran dan pendapat dari Dewan 'ransportasi Kota. +"/ Pasal 103 4asil pemantauan dan pengawasan angkutan orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal "*0, digunakan sebagai bahan e8aluasi trayek.

+0/ +&/ +1/

B8aluasi trayek dilakukan dalam rangka pengembangan atau perluasan trayek, penghapusan trayek, penggabungan trayek, peralihan trayek dan pemilihan moda angkutan. B8aluasi trayek angkutan orang dilakukan se9ara berkala oleh Dinas Perhubungan. 4asil e8aluasi sebagaimana dimaksud pada ayat +0/, diumumkan se9ara luas agar dapat diketahui oleh masyarakat. Pasal 10) Pengawasan dan pengendalian terhadap lalu lintas dan angkutan dilakukan oleh Kepala Dinas Perhubungan. Kegiatan pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, terdiri dari : a. melakukan monitoring dan e8aluasi terhadap kegiatan penyelenggaraan penanggulangan lalu lintas angkutan b. menata tempat$tempat yang telah ditetapkan sebagai sarana<tempat lalu lintas dan angkutan 9. melakukan pengendalian atau penertiban terhadap kepatuhan masyarakat dalam melaksanakan ketentuan dalam Peraturan Daerah ini. Dalam melakukan penertiban sebagaimana dimaksud pada ayat +0/ huru! 9, Dinas Perhubungan berkoordinasi dengan instansi berwenang lainnya. BAB <7 KETENTUAN PIDANA

+"/ +0/

+&/

+"/

+0/ +&/ +1/

Pasal 10* Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat +"/ dan ayat +0/ Pasal . ayat +"/ dan ayat +0/ Pasal 2 ayat +&/ dan ayat +3/ Pasal "1 Pasal 0& ayat +"/ dan ayat +0/ Pasal 01 ayat +"/ Pasal 02 ayat +0/ Pasal 0( ayat +"/ dan ayat +0/ Pasal &* Pasal &" Pasal && ayat +"/ Pasal &3 ayat +"/ Pasal &. ayat +0/ Pasal &2 Pasal &) , Pasal 13 ayat +"/ Pasal 1) ayat +"/ Pasal 3& Pasal 33 ayat +0/ Pasal 3. ayat +"/ Pasal .0 ayat +"/ Pasal .1 ayat +"/ dan ayat +&/ Pasal .3 ayat +&/ Pasal .2 ayat +"/ Pasal .) ayat +"/ Pasal .( Ayat +"/ Pasal 2* ayat +0/ dan ayat +3/ Pasal 2& ayat +"/, ayat +0/ dan ayat +&/ Pasal 21 ayat +1/ Pasal 2( Pasal )& ayat +0/ Pasal )1 ayat +"/ Pasal )3 ayat +0/ dan ayat +&/ Pasal )) ayat +0/, ayat +1/ dan ayat +3/ dikenakan pidana kurungan paling lama & bulan atau denda sebanyak$banyaknya -p 3.***.***,** +lima juta rupiah/. 'erhadap pelanggaran sebagaimana pada ayat +"/, dapat dibebankan biaya pelaksanaan penegakan hukum. ;ubernur menetapkan pelaksanaan dan besarnya biaya sebagaimana dimaksud pada ayat +0/. 6elain dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat +0/ pelanggaran terhadap Ketentuan pada Pasal 0& ayat +"/ dan ayat +0/, Pasal 01 ayat +"/, Pasal 33 ayat +0/, Pasal .1 ayat +"/, Pasal .) ayat +"/ ,Pasal 2& ayat +"/ dapat dikenakan penundaan pengoperasian kendaraan . Pasal 10+

'erhadap perbuatan yang dapat diklasi!ikasikan sebagai tindak pidana yang diatur dalam suatu ketentuan peraturan perundang$undangan, dian9am pidana sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang$undangan yang berlaku. BAB <7I PENYIDIKAN +"/ Pasal 10/ 6elain pejabat penyidik umum yang bertugas menyidik tindak pidana, penyidikan atas tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini dilakukan juga oleh Penyidik Pegawai %egeri 6ipil di lingkungan Pemerintah Daerah yang pengangkatannya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugasnya, para pejabat penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat +"/ berwenang : a. menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana b. melakukan tindakan pertama pada saat itu di tempat kejadian dan melakukan pemeriksaan 9. menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka d. melakukan penyitaan benda dan atau surat e. mengambil sidik jari dan memotret seseorang !. memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara h. meminta keterangan kepada saksi$saksi dan mengumpulkan barang bukti dari orang dan<atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana i. membuat dan menandatangani berita a9ara pemeriksaan j. menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk bahwa tidak terdapat 9ukup bukti atau peristiwa bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya memberitahukan hal tersebut kepada Penuntut #mum, tersangka atau keluarganya k. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. BAB <7II KETENTUAN PERALIHAN +"/ +0/ Pasal 100 I=in #saha, I=in Pengusahaan dan I=in 7perasi lainnya yang diberikan berdasarkan ketentuan yang lama masih tetap berlaku sampai jangka waktu i=in berakhir. I=in #saha, I=in 'rayek dan I=in 7perasi lainnya yang diberikan berdasarkan ketentuan yang lama masih tetap berlaku sampai jangka waktu i=in berakhir. BAB <7III KETENTUAN LAIN LAIN

+0/

+"/ +0/

Pasal 103 ,embaga pengelolaan angkutan umum akan ditetapkan dengan Peraturan Daerah tersendiri. 6ambil menunggu Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat +"/, pelaksanaan pengelolaan angkutan umum ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. BAB <I< KETENTUAN PENUTUP

Pasal 110 4al$hal yang merupakan pelaksanaan Peraturan Daerah ini ditetapkan dengan keputusan ;ubernur. Pasal 111 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini maka Peraturan Daerah Daerah Khusus Ibukota Jakarta %omor ( 'ahun "((0 tentang ,alu ,intas dan Angkutan Jalan di :ilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 112 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam ,embaran Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal & %o8ember 0**& ;#5B-%#- P-7PI%6I DAB-A4 K4#6#6 I5#K7'A JAKA-'A, 6#'IC767 Diundangkan di Jakarta pada tanggal 6BK-B'A-I6 DAB-A4 P-7PI%6I DAB-A4 K4#6#6 I5#K7'A JAKA-'A, 4. -I'7,A 'A6MACA %IP "1**(".32 ,BM5A-A% DAB-A4 P-7PI%6I DAB-A4 K4#6#6 I5#K7'A JAKA-'A 'A4#%DDD.. %7M7-DDD