Anda di halaman 1dari 4

Transformator Hubungan Lilitan Primer dan Sekunder Arah Jam

Arighi Denny Saputra

Djodi Antono
arighidennys@gmail.com

Jurusan Teknik Elektro Polines Jln. Prof. Sudarto Tembalang Semarang INDONESIA
Intisari Makalah ini merupakan bahasan mengenai hubungan lilitan primer dan sekunder arah jam pada transformator 3 fasa. Makalah ini dapat menjadi referensi bagi para pembaca untuk dikembangkan isinya. Keywords Transformator, Vector Group

magnet dan elektromagnetik

berdasarkan

prinsip

induksi

B. Prinsip Kerja Transformator Menurut Referensi[2] transformator ini didasarkan pada dua prinsip: pertama, bahwa arus listrik dapat menghasilkan medan magnet kedua, bahwa medan magnet yang berubah dalam kumparan kawat menginduksi tegangan pada ujungujung kumparan (induksi elektromagnetik). Mengubah arus dalam kumparan primer perubahan fluks magnetik yang dikembangkan. Perubahan fluks magnet menginduksi tegangan pada kumparan sekunder. Kumparan primer dan sekunder yang dibungkus di sekitar inti yang sangat tinggi permeabilitas magnetiknya sehingga sebagian besar fluks magnet melewati baik kumparan primer dan sekunder. Jika beban terhubung ke gulungan sekunder, arus beban dan tegangan akan berada di arah yang ditunjukkan, mengingat arus primer dan tegangan dalam arah yang ditunjukkan (masing-masing akan AC dalam praktek). C. Konstruksi Transformator Transformator menurut referensi [1] terdiri atas 2 tipe konstruksi, yaitu: Tipe Core Form Pada tipe ini kumparan yang mengelilingi inti logam, seperti pada gambar 2.1 Tipe Shell Form Pada tipe ini inti logam yang mengelilingi kumparan, seperti pada gambar 2.1

I. PENDAHULUAN Transformator merupakan salah satu alat listrik yang banyak digunakan oleh masyarakat. Bahkan transmisi dan pendistribusian tenaga litrik dari pusat tenaga listrik ke konsumen juga menggunakan perangkat transformator. Seceara umum transformator adalah suatu perangkat kelistrikan yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan pada suatu rangkaian listrik. Transformator terbuat dari sebuah inti besi berlapis yang dililit oleh 2 buah kumparan, yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder. Rasio tegangan tergantung dari rasio jumlah lilitan pada kedua kumparan tersebut. II. ISI A. Pengertian Transformator Berikut beberapa pengertian danri Transformator menurut beberapa sumber: Wikipedia, Transformator atau transformer atau trafo adalah komponen elektromagnet yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain[6]. Referensi[3], Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain, melalui suatu gandengan magnet berdasarkan prinsip induksi-elektromagnet. Referensi[1],Transformator merupakan suatu alat listrik statis yang dapat memindahkan dan mengubah tegangan arus bolak-balik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain dengan nilai yang sama maupun berbeda besarnya pada frekuensi yang sama, melalui suatu gandengan

dt

= selang waktu (sekon)

E. Sambungan Transformator 3 Fasa Terdapat bermacam-macam kombinasi sambungan di dalam transformator 3 fasa. Kombinasi sambungan transformator tersebut dapat digunakan untuk memindahkan daya dari daya 3 fasa ke daya 3 fasa, dari tiga fasa ke enam fasa, dan sebagainya. Terdapat kombinasi sambungan transformator 3 fasa yaitu seperti tabel berikut: Gambar 2.1, Tipe konstruksi transformator D. Hukum-Hukum Dasar Transformator 1) Hukum Maxwell Persamaan Maxwell apabila disederhanakan akan menjadi: Tabel 1 Kombinasi Sambungan Transformator 3 fasa Primer Sekunder Penulisan Bintang Bintang Yy Bintang Segitiga Yd Bintang Zig-zag Yz Segitiga Bintang Dy Segitiga Segitiga Dd Segitiga Zig-zag Dz Bentuk nyata dari transformator tiga fasa dapat dilihat pada gambar berikut:

Dimana: H = Kuat Medan Magnet l = Panjang Jalur I = Arus Listrik N = Jumlah Lilitan Hl = IN adalah Gaya Gerak Magnet (GGM) yang merupakan penghasil flux 2) Hukum induksi Faraday Hukum induksi Faraday menyatakan bahwa tegangan gerak elektrik imbas di dalam sebuah rangkaian adalah sama (kecuali tanda negatifnya) dengan kecepatan perubahan fluks yang melalui rangkaian tersebut. Jika kecepatan perubahan fluks dinyatakan di dalam weber/sekon, maka tegangan gerak elektrik akan dinyatakan di dalam volt. Rumus Hukum Faraday adalah sebagai berikut:

d B dt
= tegangan gerak elektrik (volt) = perubahan fluks magnetik (weber/) = selang waktu (sekon)

Gambar 2.2, Transformator 3 fasa Dari bermacam-macam variasi kombinasi sambungan seperti tersebut diatas, yang lazim digunakan sesuai dengan normalisasi pabrik (VDE 0532) adalah: : sambungan bintang (Y) dan segitiga () : sambungan bintang (Y) dan segitiga () dan zigzag (Z) Tinjauan masing-masing sambungan baik pada sisi primer maupun sisi sekunder menurut referensi[5] adalah sebagai berikut: 1) Sambungan Bintang (Y) Pada sambungan ini diperoleh persamaan: Primer Sekunder Vfasa(Vf)=Vline / Ifasa (If)= I line (IL) Daya=VL x IL x cos

Dimana:

d B dt

Jika terdapat N lilitan maka persamaannya menjadi:

N
Dimana:

d B dt
= tegangan gerak elektrik (volt) = jumlah lilitan = perubahan fluks magnetik(m)

d B

2)

Daya=3 x Vf x If x cos Sambungan Segitiga () Pada sambungan ini diperoleh persamaan: Vfasa(Vf)= Vline(VL) Arus fasa (If)= I line(IL)*

1.

Gambar vektor A,B,C (arus pada belitan primer) dalam lingkaran jam. dalam lingkaran jam

Daya=VL x IL x *cos Daya=3 x Vf x If x cos 3) Sambungan Zig-zag(Z) Sebuah transformator 3 fasa dapat disambung likuliku (zig-zag) jika pada lilitan sekunder tiap fasa minimal mempunyai 2 buah kumparan. Pada sambungan ini diperoleh persamaan: Vfasa(Z)=0,866 V fasa (Y) Arus fasa (If)= I line (IL) Daya= VL x IL x x cos

2.

Gambar vektor bantu yang menunjuk jam 1

F. Konfigurasi Hubungan Transformator Arah Jam (Vektor grup) Hubungan transformator 3 fasa dibagi lagi sesuai dengan besarnya pergeseran phasa, yang dikenal sebagai vektor. Vektor grup trafo dinyatakan dalam bilangan jam yang searah dengan arah jarum jam (clock wise). Beda sudut tiap satu bilangan jam adalah 30o. Vektor grup menentukan pergeseran sudut arus pada lilitan primer dan sekunder. Trafo 3 fasa 2 lilitan memliki beberapa macam konfigurasi hubugan lilitan. Berdasarkan pergeseran sudut fasa antara arus pada kumparan primer dan kumparan sekunder maka ada beberapa macam tiap jenis belitan, contoh pengelompokannya dapat dilihat pada gambar berikut :

3.

Gambar vektor a (arus pada belitan sekunder a) searah dengan vektor A dengan kepala vektor menuju arah jam 1 (perhatikan gambar 2)

4. Gambar 2.3, Vektor grup Yd1 (30o) Trafo dengan vektor grup Yd1 berarti belitan primer terangkai Star (Y) sedangkan belitan sekunder terangkai Delta (), angka 1 menunjukkan bahwa arus pada kumparan primer dan kumparan sekunder berbeda 30 derajat (1 x 30 derajat). Ketentuan-ketentuan dalam penetuan angka jam vektor menurut referensi [1] grup transformator antara lain: 1) Ketiga phasa tegangan dianggap berselisih 120 o. 2) Setiap belitan pada kaki transformator yang sama dianggap mempunyai arah belitan yang sama 3) Tegangan belitan tegangan tinggi vektornya dianggap merupakan jarum panjang dan tegangan rendah merupakan jarum pendek dari sebuah jam. 4) Pembacaan angka jam harus dari penamaan serupa. Cara menggambar vektor grup Yd1 menurut referensi [2] adalah sebagai berikut :

Gambar vektor b (arus pada belitan sekunder b) searah dengan vektor B dengan pangkal vektor berada pada vektor a.

5.

Gambar vektor c (arus pada belitan sekunder c) searah dengan vektor C dengan pangkal vektor berada pada vektor b dan kepala vektor berada pada pangkal vektor a.

belitan a dan belitan c (perhatikan arah vektor yang ditunjukkan dengan tanda panah). Pada titik disekitar a1 berlaku hukum kirchoff : arus keluar (meninggalkan a1) = arus masuk (menuju a1) Ir + Ic = Ia

6. Beri notasi tambahan 1 pada tiap kepala vektor a,b,


dan c serta notasi 2 pada pangkal vektornya.

Dengan Ir : arus pada fasa r Ia : arus pada belitan a Ic : arus pada belitan c , sehingga diperoleh Ir + 867 < 120 = 867 < 0 Ir = 867 < 0 867 <120 Ir = 1501.688 < 30 Terbukti bahwa ketika arus R mempunyai sudut 0 derjat maka arus r mempunyai sudut 30 derajat. Beda sudut sebesar 30 derajat ini hanya berlakau ketika arus pada fasa R, S dan T mempunyai besar yang sama serta memliki beda sudut 120 derajat (dalam kondisi yang seimbang). Apabila arus pada fasa R, S , T tidak berada dalam kondisi seimbang maka pergeserean sudut pada sisi primer dan sekunder akan bervariasi tergantung besar arus yang mengalir pada tiap fasa[2]. III. PENUTUP Demikian pembahasan makalah ini tentang hubungan lilitan primer sekunder arah jam pada transformator 3 fasa. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan referensi untuk karya ilmiah yang lain. REFERENSI
[1] BAB II TRANSFORMATOR.pdf, (Online), (http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd =2&cad=rja&ved=0CDYQFjAB&url=http%3A%2F%2Frepository.us u.ac.id%2Fbitstream%2F123456789%2F19821%2F3%2FChapter%25 20II.pdf&ei=hXRFUtvTDMP-rAeUwoGoCQ&usg=AFQjCNHfyS 8SNWOJg-neeYlDEu4hrR84-w&sig2=ZOPckQQMYnZRK98yIUt U7Q&bvm=bv.53217764,d.bmk, diakses 25 Oktober 2013) Budi Santoso. 2 Februari 2010. Vektor jam:Vektor Grup Trafo 3 Fasa 2 Belitan, (Online), (http://budi54n.wordpress.com/2010/02/02/vektorjam-vektor-grup-trafo-3-fasa-2-belitan, diakses 25 Oktober 2013) Zulhal, Prof, Dr,. 2004. Prinsip Dasar Elektroteknik. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. M. Arfan Pratama. 29 April 2013. Prinsip-Prinsip Dasar Transformator, (Online), (http://blogs.itb.ac.id/el2244k0112211033 muhammadarfanpratama, diakses 26 Oktober 2013). Ricke Dwana. 30 April 2013. Transformator (TRAFO) 3 Fasa, (Online), (http://rice-ceria.blogspot.com/2013/04/transformator-trafo3-fasa.html, diakses 27 Oktober 2013). Transformator. Wikipedia, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/ Transformator, diakses 5 November 2013).

Pembuktian pergeseran sudut ini dapat dijelaskan pada gambar 2.4 sebagai berikut ini

[2]

[3]

Gambar 2.4. Arus pada belitan primer dan sekunder trafo dengan belitan Yd1 Arus fasa R yang mengalir pada belitan A adalah 115.6 A dengan sudut 0 derajat dengan arah dari A1 menuju A2, sedangkan arus pada belitan sekunder a adalah 867 A dengan sudut 0 derajat, sedangkan arus pada belitan yang lain adalah sebagai tampak pada gambar. arus yang mengalir pada fasa r merupakan penngurangan vektor arus yang mengalir pada

[4]

[5]

[6]