Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

Tanaman tomat adalah salah satu komoditas sayuran yang sangat potensial untuk dikembangkan. Tanaman ini dapat ditanam secara luas di dataran rendah sampai dataran tinggi pada lahan bekas sawah dan lahan kering. Menurut laporan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura (1999), luas panen tomat di Indonesia dalam tahun 1998 adalah 45.129 hektar dan total produksi 581. 707 ton dengan rata-rata hasil panen sekitar 12,89 ton. Nilai ini masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata produktivitas tomat di negara maju seperti Amerika Serikat yang dapat mencapai 39 t/ha (Villareal, 1979 dalam Duriat, 1997). Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dapat menggagalkan panen tomat. OPT penting pada tanaman tomat antara lain adalah ulat buah tomat (Helicoverpa armigera Hubn.), penyakit busuk daun atau buah (Phytophthora infestans), penyakit layu fusarium (Fusarium sp), penyakit layu bakteri (Pseudomonas atau Ralstonia solanacearum) dan Meloidogyne spp. Menurut laporan Setiawati (1991), kehilangan hasil panen tomat karena serangan hama H. armigera dapat mencapai 52%. Dalam upaya untuk memperkecil kerugian ekonomi usahatani tomat karena serangan OPT penting tersebut, pada umumnya para petani tomat menggunakan pestisida secara intensif. Menurut laporan Woodford et al (1981), biaya penggunaan pestisida pada tanaman tomat yang dilakukan oleh petani di Jawa Barat adalah sebesar 50% dari total biaya produksi variabel. Pada umumnya pestisida digunakan secara tunggal maupun campuran dari beberapa jenis pestisida, dengan konsentrasi penyemprotan yang melebihi rekomendasi dan interval penyemprotan yang pendek, 1-2 kali/minggu. Selain tidak efisien, cara ini juga dapat menimbulkan dampak negatif yang merugikan. Beberapa hasil penelitian dampak negatif penggunaan pestisida pada tanaman tomat, antara lain hasil pemantauan residu pestisida di DT II Kabupaten Bandung dan Garut, menunjukkan bahwa penggunaan insektisida Deltametrin dan Permetrin pada tanaman tomat ternyata meninggalkan residu yang dapat membahayakan konsumen (Soeriaatmadja dan Sastrosiswojo, 1988). Uhan dkk. (1996) melaporkan, bahwa 65% buah tomat dari pasar swalayan, pasar induk dan pengecer dan 41% dari kebun petani tomat di Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta ternyata mengandung residu pestisida yang melebihi ambang batas toleransi yang

ditetapkan. Untuk mengatasi masalah tersebut, penerapan teknologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan alternatif yang tepat. PHT merupakan konsepsi pengendalian hama yang akrab lingkungan yang berusaha lebih mendorong penggunaan musuh alami hama. Penerapan PHT sayuran pada tingkat petani di Indonesia dilakukan dan disebarluaskan melalui melalui kegiatan yang dikenal dengan nama Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) Sayuran. PHT merupakan pendekatan perlindungan tanaman yang lebih komprehensif dan terpadu serta berdasarkan pertimbangan ekologi dan ekonomi. Konsepsi PHT tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga berorientasi pada pelestarian lingkungan dan keamanan terhadap kesehatan masyarakat, terutama petani produsen. Selain itu dalam penerapan PHT, pestisida hanya digunakan kalau memang benar-benar diperlukan dan penggunaannyapun dilakukan secara selektif. Oleh karena itu mutu produk sayuran, khususnya tomat, dapat meningkat karena bebas dari residu pestisida.

II.

OPT PENTING PADA TANAMAN TOMAT

Hama hama Penting Tanaman Tomat

1.

Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Klasifikasi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera : Noctuidae : Agrotis : Agrotis ipsilon

Morfologi/Bioekologi Ngengat berwarna coklat tua dengan beberapa titik putih bergaris-garis, kecuali bagian depannya berwarna abu-abu atau pucat. Ngengat aktif pada malam hari untuk berkopulasi, makan dan bertelur. Lama hidup ngengat A. ipsilon 7-14 hari. Telur diletakkan berkelompok atau tunggal pada daun muda. Telur berbentuk bulat kecil bergaris tengah 0.5 mm dan berwarna kuning muda. Telur menetas setelah 3-5 hari.

Gambar 1. Ulat tanah ( A. ipsilon) Larva berwarna coklat tua sampai coklat kehitam-hitaman panjangnya sekitar 30-35 mm. Larva aktif pada senja atau malam hari. Pada siang hari, larva bersembunyi di permukaan

tanah di sekitar batang tanaman muda, pada celah-celah atau bongkahan tanah kering. Pada saat istirahat, posisi tubuh larva sering melingkar. Fase perkembangan larva sekitar 18 hari. Pupa berwarna coklat terang berkilauan atau coklat gelap. Pupa dibentuk di dalam tanah. Fase pupa adalah 5-6 hari. Tanaman inangnya adalah sayuran muda seperti kentang, kubis, tomat, cabai, jagung dan lain-lain.

Gejala Gejala serangan ditandai dengan terpotongnya tanaman pada pangkal batang. Akibatnya, tanaman menjadi roboh. Kerusakan semacam ini dapat mengakibatkan kerugian yang berarti, yaitu matinya tanaman muda sebesar 75-90% dari seluruh bibit yang ditanam (Sastrodihardjo, 1982).

Pengendalian a) Kultur teknis Pengolahan tanah yang baik untuk membunuh pupa yang ada di dalam tanah. Sanitasi dengan membersihkan lahan dari gulma yang juga merupakan tempat ngengat A. ipsilon meletakkan telurnya. b) Pengendalian fisik / mekanis Pengendalian secara fisik dengan mengumpulkan larva dan selanjutnya dimusnahkan. Sebaiknya dilakukan pada senja malam hari, dan larva biasanya dijumpai di permukaan tanah sekitar tanaman yang terserang. c) Pengendalian hayati Pemanfaatan musuh alami : parasitoid larva A. ipsilon yaitu Goniophana heterocera, Apanteles (= Cotesia) ruficrus, Cuphocera varia dan Tritaxys braueri. Predator penting adalah Carabidae. Patogen penyakit yang sering menyerang A. ipsilon adalah jamur Metharrizium spp. dan Botrytis sp. serta nematoda Steinernema sp.

d) Pengendalian kimiawi Apabila serangan ulat tanah tinggi, dapat dilakukan penyemprotan dengan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian, antara lain aplikasikan Sipermetrin pada tanah di sekeliling tanaman tomat.

2.

Ulat Buah Tomat (Helicoverpa armigera Hubn.)

Klasifikasi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insecta : Lepidoptera : Noctuide : Helicoverpa : Helicoverpa armigera\

Morfologi/Bioekologi Ngengat berwarna coklat kekuning-kuningan dengan bintik-bintik dan garis yang berwarna hitam. Ngengat jantan mudah dibedakan dari ngengat betina karena ngengat betina mempunyai bercak-bercak berwarna pirang muda. Telur berbentuk bulat dan berwarna putih agak kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi kuning tua dan akhirnya ketika mendekati saat menetas berbintik hitam. Fase telur berkisar antara 10 - 18 hari (Setiawati, 1990). Larva muda berwarna kuning muda, kemudian berubah warna dan terdapat variasi warna dan pola corak antara sesama larva. Fase larva sekitar 12-25 hari. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian berubah kehijauan dan akhirnya berwarna kuning kecokelatan. Fase pupa adalah 15-21 hari.

Gambat 2. Ulat buah tomat (H. armigera) Tanaman inangnya adalah tomat, tembakau, jagung dan kapas.

Gejala Gejala serangannya berupa buah-buah tomat yang berlubang-lubang. Buah tomat yang terserang menjadi busuk dan jatuh ke tanah. Kadang-kadang larva juga menyerang pucuk tanaman dan melubangi cabang-cabang tanaman.

Pengendalian a) Kultur teknis


Pengaturan waktu tanam. Tomat yang ditanam pada bulan September terserang ringan oleh larva H. armigera. Penanaman varietas toleran, seperti LV 2100 dan LV 2099. Penanaman tanaman perangkap tagetes (Tagetes erecta) di sekeliling tanaman tomat. Sistem tumpangsari tomat dengan jagung dapat mengurangi serangan H. armigera.

b) Pengendalian fisik / mekanis Mengumpulkan dan memusnahkan buah tomat yang terserang H. armigera. Pemasangan perangkap feromonoid seks untuk ngengat H. armigera sebanyak 40 buah / ha. c) Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami seperti : parasitoid telur H. armigera yaitu Trichogramma sp., parasitoid larva yaitu Eriborus argenteopilosus, dan virus HaNPV sebagai patogen penyakit larva H. armigera.

d) Pengendalian kimiawi

Bila ditemukan ulat buah 1 larva / 10 tanaman contoh, dapat diaplikasikan insektisida yang efektif dan diizinkan, antara lain piretroid sintetik (sipermetrin, deltametrin), IGR (klorfuazuron), insektisida mikroba (spinosad), dan patogen penyakit serangga H. armigera HaNPV 25 LE.

3. Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.)

Klasifikasi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Anthropoda : Insecta : Homoptera : Aleyrodidae : Bemisia : Bemisia tabaci

Morfologi/Bioekologi Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena pada bagian permukaan bawah daun ditutup lapisan lilin yang bertepung. Ukuran tubuhnya berkisar antara 1 - 1,5 mm. Siklus hidupnya berkisar antara 7 - 21 hari. Serangga dewasa biasanya berkelompok dalam jumlah yang banyak. Bila tanaman tersentuh, serangga tersebut akan beterbangan seperti kabut atau kebul putih. Telur berbentuk lonjong, agak lengkung seperti pisang, panjangnya kira-kira antara 0,20,3 mm dan diletakkan di permukaan bawah daun. Fase telur adalah 7 hari. Nimfa terdiri atas tiga instar. Instar ke-1 berbentuk bulat telur dan pipih, bertungkai yang berfungsi untuk merangkak, sedangan instar ke-2 dan instar ke-3 tidak bertungkai. Pupa berbentuk oval, agak pipih, berwarna hijau ke putih-putihan sampai kekuningkuningan. Pupa terdapat pada permukaan bawah daun.

Tanaman inangnya adalah tomat, cabai, mentimun, kubis, semangka, kapas dan bunga sepatu.

Gambat 3. Kutu Kebul (B. tabaci )

Gejala Gejala serangannya berupa bercak nekrotik pada daun, yang disebabkan oleh rusaknya sel-sel dan jaringan daun akibat serangan nimfa dan serangga dewasa. Dalam keadaan populasi tinggi, serangan kutu kebul dapat menghambat pertumbuhan tanaman tomat. Embun madu yang dikeluarkan dapat menimbulkan serangan jamur jelaga yang berwarna hitam. Kutu kebul merupakan vektor penting virus gemini yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 20 100%.

Pengendalian a) Kultur teknis

Menanam pinggiran lahan dengan tanaman jagung atau bunga matahari sebagai barier dan memperbanyak populasi agens hayati;

Pergiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman bukan inang (terutama bukan famili Solanaceae seperti tomat, cabai, kentang dan Cucurbitaceae seperti mentimun). Pergiliran tanaman harus satu hamparan, tidak perorangan, serentak dan seluas mungkin;

Sanitasi lingkungan, terutama untuk mengendalikan gulma daun lebar babadotan dan ciplukan yang dapat menjadi tanaman inang virus;

Tumpang sari antara tanaman sayuran, cabai atau tomat dengan tagetes untuk mengurangi risiko serangan;

b) Pengendalian fisik / mekanis


Pemasangan perangkap likat berwarna kuning (40 buah per ha); Pemasangan kelambu di pembibitan sampai di pertanaman, terutama saat populasi tinggi/musim kemarau dan di daerah serangan virus;

Sisa tanaman terserang dikumpulkan dan dibakar.

c)

Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami antara lain : Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae), mampu memangsa 200 - 400 ekor nimfa kutu kebul. Siklus hidup predator 18 - 24 hari, dan satu ekor betina mampu menghasilkan telur 3000 butir;

Tabuhan

parasitoid

nimfa Encarcia

formosa serangga

betinanya

mampu

menghasilkan telur sebanyak 100 - 200 butir;

Cara pelepasan E. formosa untuk tanaman tomat : 1 ekor E. formosa setiap 4 tanaman/minggu, dilakukan selama 8 - 10 minggu;

Untuk meningkatkan musuh alami di lapangan diperlukan pelepasan parasitoid dan predator secara berkala;

d) Pengendalian kimiawi

Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian, antara lain Applaud 10 WP (buprofesin 10%), Confidor 5 WP (imidakloprid 5%), Mitac 200 EC (amitraz 200 g/l), dan Orthene 75 SP (asefat 75%);

Penyemprotan diusahakan mengenai daun bagian bawah. Perlu dihindari penggunaan pestisida secara berlebihan, karena dapat mendorong meningkatnya populasi kutu kebul;

Penggunaan pestisida nabati seperti : nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut untuk mengendalikan kutu kebul (cara pembuatan dan penggunaan nimba lihat pada

4. Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Subfamili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insekta : Lepidoptera : Noctuidae : Amphipyrinae : Spodoptera : Spodoptera litura F

Morfologi/Bioekologi Ngengat berwarna agak gelap dengan garis putih pada sayap depannya. Telurnya berwarna putih dan diletakkan secara berkelompok berbulu halus seperti diselimuti kain laken. Dalam satu kelompok telur terdapat sekitar 350 butir. Larva mempunyai warna yang bervariasi, tetapi selalu mempunyai kalung hitam pada segmen abdomen yang keempat dan kesepuluh. Pada sisi lateral dan dorsal terdapat garis kuning. Pupa berwarna coklat gelap dan terbentuk di permukaan tanah.

Gambar 4. Ulat grayak (S. litura) Tanaman inangnya adalah tembakau, cabai, bawang merah, terung, kentang, kacangkacangan, dan lain-lain (Brown & Dewhursr, 1975).

Gejala Gejala serangan pada daun yang terserang oleh larva yang masih kecil terdapat sisa-sisa epidermis bagian atas dan tulang-tulang daun saja. Larva yang sudah besar merusak tulang daun. Gejala serangan pada buah ditandai dengan timbulnya lubang tidak beraturan pada buah tomat.

Pengendalian a) Kultur teknis


Sanitasi lahan dari gulma, Pengolahan tanah yang intensif.

b) Pengendalian fisik / mekanis

Pembutitan, mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya,

Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.

c) Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen Sl-NPV (Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus), cendawan Cordisep, nematoda Steinernema sp., predator Sycanus sp., Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.

d) Pengendalian kimiawi

Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian apabila berdasarkan hasil pengamatan tanaman contoh, intensitas serangan mencapai lebih atau sama dengan 12,5 % per tanaman contoh.

5.

Lalat Pengorok Daun (Liriomyza huidobrensis Blanchard)

Klasifikasi Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Anthropoda : Insecta : Diptera : Trypetidae : Liriomyza : Liriomyza huidobrensis

Morfologi/Bioekologi Serangga dewasa berupa lalat kecil berukuran sekitar 2 mm. Fase imago betina rata-rata 10 hari dan jantan 6 hari (Supartha, 1998). Siklus hidupnya sekitar 28 hari. Telur berukuran 0,1-0,2 mm berbentuk ginjal diletakkan pada jaringan epidermis. Fase telur sekitar 2 - 4 hari. Larva berbentuk silinder, berukuran 2,5 mm, tidak mempunyai kepala atau kaki, berwarna putih bening dan terdiri atas tiga instar. Fase larva sekitar 6-12 hari. Pupa berwarna kuning kecoklatan dan terbentuk di dalam tanah. Fase pupa sekitar 9 - 12 hari. Tanaman inangnya adalah kentang, tomat, seledri, wortel, terung, mentimun, cabai, semangka dan kacang-kacangan.

Gambar 5. Lalat Pengorok Daun (L. huidobrensis)

Gejala Gejala serangan : Larva merusak tanaman dengan cara mengorok daun, sedangkan serangga dewasa merusak tanaman dengan cara tusukan ovipositor pada saat oviposisi dan dengan menusuk dan menghisap cairan tanaman. Hal tersebut menganggu proses fotosintesis tanaman dan dapat menimbulkan kematian atau gugur daun sebelum waktunya (Chandler et al., 1985). Pengendalian a) Kultur teknis

Budidaya tanaman sehat, upayakan pengairan yang cukup, pemupukan berimbang, pembumbunan dan penyiangan gulma. Tanaman yang tumbuh subur lebih toleran terhadap serangan hama. Pertumbuhan jaringan daun yang cepat dapat menyebabkan telur L. huidobrensis terdorong keluar sehingga tidak berhasil menetas.

b) Pengendalian fisik / mekanis

Pengambilan daun yang menunjukkan gejala korokan dengan dipotong, dikumpulkan lalu ditimbun / dimusnahkan.

Penggunaan mulsa plastik warna perak, Pemasangan perangkap kartu warna kuning, 80 100 buah / ha yang disebar merata di pertanaman.

c) Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami seperti : parasitoid Asecodes sp., Chrysocharis sp., Closterocerus sp., Cirrospilua ambigus, Neochrysocharis formosa, Phigalia sp., Quadrastichus sp., Zagrammosoma sp., Hemiptarsenus varicornis Girault., Gronotoma sp., Opius sp. Predator penting adalah Coenosia humilis. (lihat

Lampiran 2.). H. varicornis merupakan musuh alami yang paling potensial untuk mengendalikan L. huidobrensis dengan tingkat parasitasi sekitar 0,51 92,31 % (Setiawati, dkk., 2000a). d) Pengendalian kimiawi

Dalam hal cara lain tidak dapat menekan populasi hama, digunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian

DAFTAR PUSTAKA

Brown, E.S. and C.F. Dewhurst. 1975. The genus Spodoptera (Lepidoptera : Noctuidae) in Africa and Near East. Bulletin of Entomological Research 65 (2) : 221 - 262. Chandler, L.D. 1985. Flight activity of Liriomyza trifolii (Diptera : Agromyzidae) in relationship to placement of yellow traps in bell pepper. J. Econ. Entomol. 78: 825 : 828. Ditlin.2013. OPT Sayuran. http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=28 5&Itemid=71. Diakses pada tanggal 11 Desember 2013. Duriat, A.S. 1997. Tomat : Komoditas andalan yang prospektif. h. 1 8. Dalam : Duriat, A.S. dkk., (eds.). Teknologi Produksi Tomat. Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang. Sastrodihardjo, S. 1982. Bionomi Serangga Hama Sayuran. Symposium Entomologi, 25 27 Agustus 1982. Sastrosiswojo , S. dan W. Setiawati. 1999. Penggunaan Tanaman Perangkap (Tagetes erecta) untuk Pengendalian Hama Helicoverpa armigera pada Tanaman Tomat. Setiawati, W. 1990. Daur hidup ulat buah tomat Heliothis armigera (Lepidoptera : Noctuidae). Bul. Penel. Hort. 20 (4) : 15 18. Setiawati, W. 1991. Kehilangan hasil buah tomat akibat serangan Heliothis armigera Hubn. Bul. Penel. Hort. 19 (4): 14 - 17. Setiawati, W. R.E. Soeriaatmadja dan B.K. Udiarto. 2000 . Potensi musuh alami Liriomyza huidobrensis Blanchard pada tanaman kentang dan tanaman inang penting lainnya. Lap. APBN. . Uhan, T.S., E. Suryaningsih dan I. Sulastrini 1996. Residu pestisida pada tanaman tomat dan kacang panjang di beberapa kebun petani dan pasar di Propinsi Jawa Barat dan D.K.I.Jakarta. J. Hort. (in press).21 hal. Woodford, J.A.T., A.L.H. Dibiyantoro., R.E. Soeriaatmadja., A.H. Sutisna, H.A.J. Moll., K. Palalo and L. Suparta. 1981. The use of agrochemicals on potato, tomato and cabbage in West Java. BPTP Lembang QTA 28 Project. 37 hal. (Mimeograf).
a