Anda di halaman 1dari 24

STATUS KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT THT-KL

RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN UDARA


DR. ESNAWAN ANTARIKSA

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny. T

Usia

: 63 tahun

Jenis kelamin

: perempuan

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: menikah

Pekerjaan

:-

Alamat

: Jl. Norsomo no.570 dirgantara 3

Pendidikan

II.

:-

ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan di poliklinik THT RSPAU secara Allo dan Autoanamnesis pada
tanggal 23 Maret 2011 pukul 11.45 WIB

1. Keluhan Utama
Keluar cairan dari telinga kanan sejak 1 minggu yang lalu
2. Keluhan Tambahan
1

Sakit telinga kanan


Penurunan pendengaran telinga kanan
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik THT RSPAU dengan keluhan keluar cairan
dari telinga kanan sejak 1 minggu yang lalu. Cairan sedikit, keluar terus menerus,
berwarna putih kekuningan, berbau amis dan tidak gatal. Pasien juga
mengeluhkan sakit pada telinga kanannya yang semakin hari semakin nyeri
sehingga mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Sejak 2 minggu yang lalu pasien mengalami batuk berdahak, dahak dapat
dikeluarkan tidak terlalu banyak dan berwarna putih bening. Pasien juga
mengalami pilek,dengan ingus berwarna putih bening. Batuk dan pilek pasien
alami selama 2 minggu dan sudah mulai membaik. Pasien mengaku telinga
kanannya tidak pernah kemasukan air karena selalu ditutup saat mandi.
Pasien mengatakan sejak telinga keluar cairan dan nyeri bagian belakang
telinga terasa nyeri dan kemerahan, semakin nyeri apabila ditekan, tetapi sudah
mereda sehari yang lalu. Pasien juga merasa fungsi pendengaran pada telinga
kanan semakin menurun.
Selama 1 minggu ini pasien belum memberi pengobatan pada telingnya,
pasien hanya membersihkan sendiri menggunakan cottonbuds. Untuk nyerinya
pasien meminum panadol. Sedangkan untuk batuk dan pileknya pasien hanya
meminum obat warung.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
3 tahun yang lalu pasien pernah mengalami gejala yang sama, keluar
cairan dari telinga kanan. Selama 1 bulan pasien batuk pilek dan hidung mampet
yang tidak sembuh. 3 minggu kemudian pasien merasakan sakit pada telinga
kanannya dan demam cukup tinggi. Pasien juga sering mengorek-ngorek
telinganya menggunakan cottonbuds. 1 minggu kemudian keluar cairan dari
2

telinga kanan, cairan sedikit, berwarna kekuningan dan berbau. Pasien


memeriksakan telinganya ke poli tht dan diberikan obat tetes telinga dan obat
minum (pasien tidak tau jenis obatnya dan lupa berapa macam). Selama 3 tahun
ini pasien mengatakan sudah beberapa kali mengalami hal yang sama (keluar
cairan dari telinga) terutama saat pasien pilek, tetapi pasien tidak pernah
memeriksakan kedokter, hanya membersihkan sendiri menggunakan cottonbuds.
Riwayat alergi, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, paru dan ginjal disangkal
pasien.

III.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 24 Maret 2011 pukul 12.00 di poliklinik
THT RSPAU
A. Keadaan Umum
Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 120/85 mm Hg

Nadi

: 92x/menit, regular, isi cukup, equal

Pernafasan

: 20x/menit

Berat Badan

: 63 kg

B. Status THT
Pemeriksaan telinga

Kanan

Kiri
3

Bentuk daun telinga


Kelainan kongenital
Tumor
Nyeri tekan tragus
Penarikan daun telinga
Valsava test
Toyinbee test
Regio mastoid

Normotia
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak nyeri
Tidak nyeri
Negatif
Negatif
Tanda radang (-)

Normotia
Tidak ditemukan
Tidak ditemukan
Tidak nyeri
Tidak nyeri
Positif
Positif
Tanda radang (-)

Liang telinga

Nyeri tekan (-)


CAE lapang

Nyeri tekan (-)


CAE lapang

Serumen(++)

Seumen (+) minimal

Secret (+)

Secret (-)

Membran timpani

kental kekuningan
Perforasi sentral,

refleks Intak, reflek cahaya (+)

cahaya (-)

Tes penala
Penala yang dipakai

512 Hz

512 Hz

Rinne

Negatif

Positif

Weber

Lateralisasi ke telinga kanan Lateralisasi

Swabach

ke

telinga

(sisi sakit)

kanan (sisi sakit)

Memanjang

Sama dengan pemeriksa

Kesan :
-

Perforasi sentral membran timpani kanan

Tuli konduktif telinga kanan

Pemeriksaaan Hidung dan sinus paranasal

Bentuk

: Normoseptia

Tanda perdangan

: tidak terlihat

Vestibulum

: hiperemis (-) sekret (-) benjolan (-)

Cavum nasi

: lapang. Sekret (-) hiperemis (-)

Konka inferior kanan/kiri

: oedem (-/-) hiperemis (-/-) hipertrofi (-/-)

Konka medius kanan/kiri

: oedem (-/-) hiperemis (-/-) hipertrofi (-/-)

Meatus nasi medius kanan/kiri

: tidak nampak

Septum nasi

: tidak nampak deviasi septum

Pasase udara

: baik kanan-kiri

Daerah sinus frontalis dan maksilaris : nyeri tekan (-/-)


Nasofaring (Rhinoskopi Posterior)
Tidak dilakukan
Koana

Septum nasi posterior

Muara tuba eustachius

Torus tubarius

Konka inferior dan media

Dindng posterior

Pemeriksaan transiluminasi tidak dilakukan


Kanan

Kiri

Sinus frontalis, grade :

Sinus maksilaris, grade :

Tenggorok
Faring
Arkus Faring

: simetris kiri dan kanan, tidak hiperemis

Mukosa Faring

: tenang

Dinding faring

: tidak hiperemis, permukaan rata

Uvula

: simetris di tengah, tidak hiperemis

Tonsil palatine
Besar

: T1-T1

Warna

: tidak hiperemis

Kripta

: tidak melebar

Detritus

: tidak ada

Perlekatan

: tidak ada

Gigi geligi

: oral hygiene kurang baik, radang gusi (-)

Laring (laringoskopi indirek) tidak dilakukan


Epiglotis

Plika Aryepiglotis

:
6

Arytenoid

Plika ventrikularis

Pita Suara Asli

Rima Glotis

Cincin trakea

Sinus piriformis

Leher
Kelenjar limfe submandibula : tidak teraba membesar
Kelenjar limfe servikal

: tidak teraba membesar

Maksilo Fasial
a. Deformitas

: tidak ditemukan

b. Parese saraf orak : tidak ditemukan

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

V.

RESUME
Pasien Ny.T perempuan 63th datang ke poliklinik THT RSPAU dengan keluhan
keluar cairan dari telinga kanannya sejak 1 minggu yang lalu. Cairan sedikit, keluar terus
menerus berwarna putih kekuningan berbau amis dan tidak gatal. Pasien juga
7

mengeluhkan sakit pada telinganya sejak telinga keluar cairan. Sejak 2 minggu yang lalu
pasien mengalami batuk pilek terus menerus dan sudah membaik. Sejak telinga keluar
cairan pasien juga mengeluhkan sakit pada daerah belakang telinga, lebih nyeri saat
ditekan dan berwarna kemerahan, yang sudah membaik sehari yang lalu. Pasien belum
memeriksakan telinganya sebelumnya, hanya membersihkan sendiri menggunakan
cottonbuds dan meminum panadol untuk mengurangi nyerinya. Sedangkan untuk batuk
dan pileknya pasien hanya mengkonsumsi obat warung..
3 tahun yang lalu pasien pernah mengalami hal yang sama, yaitu keluar cairan
dari telinga kanan. 1 bulan sebelumnya pasien batuk-pilek yang tidak juga mereda, lalu
pasien merasakan nyeri pada telingannya dan demam. Pasien juga sering mengorekngorek telinga menggunakan cottonbuds dan kemudian keluar cairan dari telingannya,
sedikit berwarna kekuningan dan berbau. Selam 3 tahun keluar cairan dari telinga sering
dialami pasien, terutama saat pasien pilek, tetapi pasien tidak pernah memeriksakan
kedokter, hanya membersihkan sendiri menggunakan cottonbuds.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan CAE lapang dengan serumen berlebih dan
terdapat sekret kental kekuningan serta perforasi sentral pada membran timpani telinga
kanan dengan reflek cahaya negatif. Valsava test dan toyinbee test negatif pada telinga
kanan. Didapatkan pula tuli konduktif pada telinga kanan. Regio mastoid tidak ada tanda
radang dan nyeri tekan.Pemeriksaan hidung tidak didapatkan kelainan, konka media dan
inferior tidak terlihat oedem, tidak hiperemis dan tidak hipertrofi kanan/kiri. Pada
pemeriksaan faring didapatkan faring tidak hiperemis. Pemeriksaan penunjang belum
dilakukan pada pasien ini.

VI.

DIAGNOSIS BANDING
Otitis Media Supuratif Kronis Benigna tipe aktif Aurikula Dextra
Otitis Media Supuratif Kronis Maligna Aurikula Dextra

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Otitis Media Supuratif Kronis Benigna tipe aktif Aurikula Dextra

VIII.

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Foto schuller untuk melihat luas kerusakan akibat infeksi
Tes pendengaran : Audiometri

IX.

PENANGAANAN
-

ekstraksi serumen

bersihkan telinga menggunakan H2O2 3%

Medikamentosa :
Obat tetes H2O2 3% selama 3-5 hari
Dilanjutkan dengan Antibiotik tetes
Amoxicillin 3x500mg/hari
Dexametason 3x0,5mg/hari

Non Medikamentosa :
Menjaga kebersihan telinga
Tidak boleh mengorek-ngorek telinga
Telinga harus tetap kering

Segera berobat apabila batuk-pilek

X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungsionam

: ad malam

10

PEMBAHASAN KASUS
I.

PENDAHULUAN
OMSK adalah stadium dari penyakit telinga tengah dimana terjadi peradangan kronis

dari telinga tengah dan mastoid dan membran timpani tidak intak (perforasi) dan ditemukan
sekret (otorea), purulen yang hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau
berupa nanah dan berlangsung lebih dari 2 bulan. Perforasi sentral adalah pada pars tensa dan
sekitar dari sisa membran timpani atau sekurang-kurangnya pada annulus. Defek dapat
ditemukan seperti pada anterior, posterior, inferior atau subtotal. Menurut Ramalingam bahwa
OMSK adalah peradangan kronis lapisan mukoperiosteum dari middle ear cleft sehingga
menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan patologis yang ireversibel.1,2,3
II.

KLASIFIKASI OMSK

OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu : 2,4


1. Tipe tubotimpani / Benigna
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan
gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
1.1. Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan
infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang dimana kuman masuk
melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen.1,2
1.2. Penyakit tidak aktif
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga
tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai
seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga.1,3
11

2. Tipe atikoantral / Maligna


Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit atikoantral lebih
sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan terbentuknya kantong retraksi yang mana
bertumpuknya keratin sampai menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe
yaitu :1,5
a. Kongenital
b. Didapat.
Pada umumnya kolesteatom terdapat pada otitis media kronik dengan perforasi marginal. teori
itu adalah : 2,6
Epitel dari liang telinga masuk melalui perforasi kedalam kavum timpani dan disini ia
membentuk kolesteatom (migration teori menurut Hartmann); epitel yang masuk menjadi
nekrotis, terangkat keatas.
Embrional sudah ada pulau-pulau kecil dan ini yang akan menjadi kolesteatom.
Mukosa dari kavum timpani mengadakan metaplasia oleh karena infeksi (metaplasia teori
menurut Wendt).
Ada pula kolesteatom yang letaknya pada pars plasida (attic retraction cholesteatom).
Jenis jenis perforasi pada OMSK:
Perforasi sentral
Lokasi pada pars tensa, bisa antero-inferior, postero-inferior dan postero-superior, kadang
dapat sub-total. 1,2,3
Perforasi marginal
Terdapat pada pinggir membran timpani dengan adanya erosi dari anulus fibrosus.
Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Perforasi pada
pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.1,2,3
12

Perforasi atik
Terjadi pada pars flasida, berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.1,2,3
III.

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain dipengaruhi, kondisi sosial,

ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygiene dan nutrisi yang jelek. Kebanyakan
melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak yang mempunyai kolesteatom, tetapi
tidak mempunyai data yang tepat, apalagi insiden OMSK saja, tidak ada data yang tersedia.7,8
IV.

ETIOLOGI
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang

dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis,
rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang
abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan
Downs syndrom. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan
faktor insiden OMSK yang tinggi di Amerika Serikat. Kelainan humoral (seperti
hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit)
dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis. 1,2
Penyebab OMSK antara lain:1,2,6
1. Lingkungan
2. Genetik
3. Otitis media sebelumnya
4. Infeksi
5. Infeksi saluran nafas atas
6. Autoimun
7. Alergi

13

8. Gangguan fungsi tuba eustachius.


Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK:1,2
-

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret
telinga purulen berlanjut

Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada


perforasi

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi
epitel

Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat
diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan
dari perforasi.

Faktor-faktor yang menyebabkan penyakit infeksi telinga tengah supuratif menjadi kronis
majemuk, antara lain :9

gangguan fungsi tuba eustachius yang kronis atau berulang


o infeksi hidung dan tenggorok yang kronis atau berulang
o obstruksi anatomik tuba eustachius parsial atau total

perforasimembran timpani yang menetap

terjadinya metaplasia skuamosa atau perubahan patologik menetap lainnya pada telinga
tengah

obstruksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid

terdapat daerah-daerah dengan skuester atau osteomielitis persisten di mastoid

faktor-faktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau perubahan mekanisme
pertahanan tubuh.

14

V.

PATOGENESIS
Patogensis OMSK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan

stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti
dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Perforasi sekunder pada OMA dapat terjadi kronis
tanpa kejadian infeksi pada telinga tengah misal perforasi kering. Beberapa penulis menyatakan
keadaan ini sebagai keadaan inaktif dari otitis media kronis.1

VI. PATOLOGI
OMSK lebih sering merupakan penyakit kambuhan daripada menetap. Keadaan kronis ini lebih
berdasarkan keseragaman waktu dan stadium dari pada keseragaman gambaran patologi. Secara
umum gambaran yang ditemukan adalah :7
1. terdapat perforasi membran timpani dibagian sentral
2. mukosa bervariasi sesuai stadium penyakit
3. tulang-tulang pendengaran dapat rusak atau tidak, tergantung pada beratnya infeksi
sebelumnya
4. pneumatisasi mastoid
OMSK paling sering pada masa anak-anak. Pneumatisasi mastoid paling akhir terjadi antara 5-10
tahun. Prosen pneumatisasi ini sering terhenti atau mundur oleh otitis media yang terjadi pada usia
tersebut atau lebih muda. Bila infeksi kronik terus berlanjut, mastoid mengalami proses sklerotik,
sehingga ukuran prosesus mastoid berkurang.1
VII. GEJALA KLINIS
1. Telinga Berair (Otorrhoe)
Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe
jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi
mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya
15

hilang timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Pada OMSK
tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan
mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan
granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu
sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. 1
2. Gangguan Pendengaran
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian
tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem
pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif
berat.11
3. Otalgia (Nyeri Telinga)
Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti
adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau
dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda
berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus
lateralis. 1,2
4. Vertigo
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi
dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara
yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena
perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh
perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo.
Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.3
VIII. TANDA KLINIS
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :5

16

1. adanya abses atau fistel retroaurikular


2. jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani
3. pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)
4. foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom
IX. PEMERIKSAAN KLINIK
Untuk melengkapi pemeriksaan, daat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai berikut :1,5
Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tapi
dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian tergantung besar dan letak
perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas..5
Untuk melakukan evaluasi ni, observasi berikut bisa membantu :
1. perforasi biasa umunya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20dB
2. kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50dB
apabila disertai perforasi
3. diskontinuitas rangkaina tilang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh
menyebabkan tuli konduktif 55-66dB
4. kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapum keadaan hantaran
tulang, menunjukkan kerusakan koklea parah.
Pemeriksaan Radiologi.
1. Proyeksi Schuller
Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna
untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan segmen.5
2.Proyeksi Mayer atau Owen
17

Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang- tulang
pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai strukturstruktur. 5
3. Proyeksi Stenver
Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas
memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini
menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya
pembesaran akibat.2,5
4. Proyeksi Chause III
Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan
dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang
oleh karena kolesteatom.5
Bakteriologi
Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, stafilokokus
aureus dan proteus. Bakteri lain yang dijumpai pada OMSK E.Coli, Difteroid, Klebsiella dan
bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp.1,2
X. PENATALAKSANAAN
Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, dimana pengobatan dapat
dibagi atas :2,5
1. Konservatif
2. Operasi
OMSK BENIGNA TENANG
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek
telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila
18

menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi
rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan
pendengaran.
OMSK BENIGNA AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK adalah :5
1.Membersihkan liang telinga dan kavum timpani.
2.Pemberian antibiotika :
a. Pemberian antibiotik secara topikal
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa
dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat
tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Mengingat pemberian obat topikal
dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik
misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling
baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi.5
Bubuk telinga yang digunakan seperti :5
a. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine
b. Terramycin.
c. Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg
Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi
dengan pembersihan telinga.
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah :5
1. Polimiksin B atau polimiksin E , obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif,
Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten terhadap gram positif, Proteus, B.
fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf.
19

2. Neomisin, obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus aureus,
Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga.
3. Kloramfenikol , obat ini bersifat bakterisid
b. Pemberian antibiotik sistemik
Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret
profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang
ada pada penderita tersebut. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama
daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman terbunuh,
misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba yang
pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya
bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam. 1
Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam
nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Tetapi tidak
dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Golongan sefalosforin generasi III
( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas, tetapi harus
diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum
pasti cukup, meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk
kuman anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa
antibiotik (sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400mg per 8 jam selama 2
minggu atau 200mg per 8 jam selama 2-4 minggu.1,2,10
OMSK MALIGNA
Pengobatan untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan konservatif dengan
medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila
terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian
dilakukan mastoidektomi. 5
Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan
mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain : 5
20

1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)


2. Mastoidektomi radikal
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
4. Miringoplasti
5. Timpanoplasti
6. Pendekatan ganda timpanoplasti (Combined approach tympanoplasty)
Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran
timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih
berat, serta memperbaiki pendengaran. 2
XI. KOMPLIKASI
Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang
menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya
pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien
OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang
virulen pada OMSK tipe benignapun dapat enyebabkan komplikasi. Komplikasi intra kranial
yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan
kolesteatom.1,2
A. Komplikasi ditelinga tengah :
1. Perforasi persisten membrane timpani
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasial
B. Komplikasi telinga dalam

21

1. Fistel labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf ( sensorineural)
C. Komplikasi ekstradural
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hindrosefalus otitis
Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan :1,2
-

Dari telinga tengah ke selaput otak

Menembus selaput otak

Masuk jaringan otak

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Djaafar, Zainul A. Kelainan Telinga Tengah. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke-5. Editor: Efiaty AS, Iskandar N. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. 49-62.
2. Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi
ke-5. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006. 63-73.
3. Berman S. Otitis media indeveloping countries. Pediatrics. July 2006. Available from

URL: http://www.pediatrics.org
4. Vesterager V. Fortnightly review: tinnitus-investigation and management. BMJ. 1997.
Available from URL: http//www.www.bmj.org

23

5. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam:
Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997:
88-118.
6. Thapa N, Shirastav RP. Intracranial complication of chronic supuratif otitis media,

atticoantral type: experience at TUTH. J Neuroscience. 2004; 1 :36-39 Available from


URL: http://www.jneuro.org
7. Loy AHC, Tan AL, Lu PKS. Microbiology of chronis suppurative otitis media ini
Singapore. Singapore Med J. 2002; 43: 296-9
8. Dugdale AE. Management of chronic suppurative otitis media. Medical Journal of
Australia. 2004. Available from URL: http://www.mja.com.au
9. Miura MS, Krumennauer RC, Neto JFL. Intacranial complication of chronic suppuratif

otitis media in children. Brazillian Journal of Otorhinolaringology. 2005. Available from


URL: http://www.rborl.org.br
10. Yeds PD, Flood LM, Banerjee A, Cliford K. CT-scanning of middle ear cholesteatome:
what does surgeon want to know? The Britis Journal of Radiology. 2002; 75 : 847-852.
11. Couzos S, Lea T, Mueller R, Murray R, Culbong M. Effectiveness of ototopical
antibiotics for chronic suppurative otitis media in aboriginal children: a communitybased, multicentre, double-blind randomised controlled trial. Medical Journal of
Australia. 2003. Available from URL: http://www.mja.com.au

24

Anda mungkin juga menyukai