Anda di halaman 1dari 53

2.2.

Sumber Energi Terbaharukan

Gambar 2.1. Sumber-sumber energi


terbaharui

Sumber energi terbaharukan dapat diperbaharui/digantikan dalam priode waktu


yang tidak lama. Lima sumber energi terbaharukan yang banyak digunakan meliputi:
1. Energi panas bumi (geotermal).
2. Matahari.
3. Biomassa.
4. Hydropower (air),
a. Air kandungan mekanis
i. Energi air terjung
ii. Energi pasang surut, dan
iii. Energi ombat/gelombang dan arus laut
b. Air kandungan termis
i. Energi panas laut
5. Angin.

2.2.1. Energi panas bumi (geotermal).

Umum

Menurut salah satu teori, pada prinsipnya bumi merupakan pecahan yang
terlempar dari matahari. Karenanya, bumi hingga kini masih mempunyai suatu inti

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 4


panas sekali yang meleleh. Kegiatan gunung-gunung berapi di banyak tempat di
permukaan bumi dipandang sebagai bukti dari teori ini. Magma, yang menyebabkan
letusan-letusan vulkanik juga menghasilkan sumber-sumben uap dan air panas pada
permukaan bumi.
Pada asasnya bumi terdiri atas tiga bagian sebagaimana terlihat pada Gambar
4.7. Bagian paling luar adalah lapisan kulit. Tebalnya adalah rata-rata 30 sampai 40 km
atau lebih di daratan, dan di laut antara 7 dan 10 km. Bagian berikutnya dinamakan
mantel, yang terdiri atas batu yang dalamnya mencapai kira-kira 3000 km, dan yang
berbatasan dengan inti bumi yang panas sekali. Inti ini terdiri atas inti cair, atau inti
meleleh, yang mencapai 2000 km lagi kemudian paling tengah berupa inti keras yang
mempunyai garis tengah sekitar 2600 km. Panas inti mencapai 50000C lebih.
Diperkirakan ada dua sebab mengapa inti bumi itu berada dalam keadaan panas.

Gambar 4.7. Isi Bumi Terdiri Atas, Inti, Mantel dan Lapisan Kulit.

Pertama diperkirakan disebabkan tekanan yang luar biasa besarnya karena


gravitasi bumi mencoba mengkompres atau menekan bertriliun ton materi, sehingga
bagian yang tengah menjadi paling terdesak. Hal ini juga menyebabkan, bahwa
kepadatan bumi menjadi lebih besar di sebelah dalam.
Sebab kedua adalah bahwa bumi mengandung banyak bahan radioaktif seperti
uranium-238, uranium-235, dan thorium 232. Sebagai halnya dalam inti bahan bakar
sebuah reaktor atom, kegiatan bahan-baban radioaktif ini membangkitkan jumlah panas

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 5


yang tinggi. Panas ini dengan sendirinya berusaha untuk mengalir ke luar, akan tetapi
ditahan oleh mantel yang mengelilinginya. Walaupun demikian, panas yang mencapai
permukaan bumi menurut perkiraan rata-rata berjumlah 400 kCal/m2 setahun. Karena
luas permukaan bumi berjumlah 5,1 x 1014 m2, maka jumlah panas itu adalah kira-kira 2
x l017 kCal, atau kira-kira 2,3 x 1014 kWh, setahun.
Menurut perkiraan, terbanyak arus energi terdapat di bawah lautan. Bilamana
dimisalkan, bahwa 1% jumlah energi itu dapat dimanfaatkan dengan efisiensi 25% dan
faktor kapasitas kira-kira 50% maka hal ini adalah sama dengan daya terpasang pusat-
pusat listrik sebesar 200 GW, atau 200.000 MW! Kiranya suatu potensi yang cukup
mengagumkan.
Di permukaan bumi sering terdapat sumber-sumber air panas, bahkan sumber
uap panas. Panas itu datangnya dari batu~batu yang meleleh, atau magma, yang
menerima panas dari inti bumi. Gambar 4.8 memperlihatkan secara skematis terjadinya
sumber uap, yang biasanya disebut fumarol dan geiser, serta sumber air panas.
Magma, yang terletak dalam lapisan mantel, memanasi suatu lapisan batu padat.
Di atas batu padat terletak suatu lapisan batu berpori, yaitu batu yang meinpunyai
banyak lubang kecil. Bila lapisan batu berpon ini berisi air, yang berasal dan air tanah,
atau resapan air hujan, atau resapan air danau misalnya, maka air itu turut dipanaskan
oleh lapisan batu padat yang panas itu. Bila panasnya besar, maka terbentuk air panas,
bahkan dapat terbentuk juga uap dalam lapisan batu berpori. Bilamana di atas lapisan
batu berpori terdapat lagi Sam lapisan. batu padat, maka lapisan batu berpori berfungsi
sebagai semacam boiler. Uap dan juga air panas, bertekanan, dan akan berusaha keluar,
dalam hal ini ke atas, yaitu ke arah permukaan bumi. Hal ini akan terjadi bila terdapat
celah-celah atau pecahan-pecahan batu padat. Demikianlah terjadinya sumber air panas
dan sumber uap.
Energi panas bumi sudah lama digunakan manusia. Orang-orang Romawi
menggunakan sumber air panas bumi untuk mengisi kolam pemandian panas bagi
kesehatan lebih dari 2000 tabun yang lalu. Dan dalam zaman modem ini banyak
Kurhaus yang tersohor di Jerman pada prinsipnya mempergunakan sumber daya panas
bumi.
Gejala tenaga panas bumi pada umumnya tampak di permukaan bumi berupa
mata air panas, fumarol (uap panas) geiser (semburan air panas), dan sulfatora (sumber
belerang). Dengan jalan pengeboran, uap alam yang bersuhu dan tekanan tinggi dapat

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 6


diambil dari dalam bumi dan dialirkan ke generator turbo yang selanjutnya
menghasilkan tenaga listrik.

Gambar 4.8. Skema Terjadinya Sumber Air Panas dan Sumber Uap.

Perkiraan atau penilaian potensi panas bumi pada prinsipnya mempergunakan


data-data geologi, geofisika dan geokimia. Analisis-analisis kimia memberikan
parameter-paremeter yang dapat digunakan untuk perkiraan potensi panas bumi suatu
daerah. Rumus-rumus yang ada, adalah sangat kasar, dan merupakan perkiraan-
perkinaan gariis besar. Di antara rumus atau metode, yang sering dipakai, dapat disebut
Metode Perry dan Metode Bandwell, yang pada umumnya memupakan minus empinis.
Rumus-mumus tersebut disainpaikan di bawah mi.

Metode Perry mempergunakan prinsip energi dan panas yang hilang.


Rumus E = D x Dt x P kCal per detik
dengan E = energi;
D = debit (L/dtk);
Dt = perbedaan suhu permukaan air panas dan
air dingin;
P = panas jenis (kCallkg), diambil berat jenis
air = 1; (1 kCaL/dtk = 4,186 kW).

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 7


Untuk perhitungan-perhitungan ini, data-data suhu dinyatakan dalam derajat
Celcius (0C), debit air panas dalam satuan liter per detik, sedangkan isi klorida dalam
lamutan air panas dinyatakan dalam miligram per liter.
Metode Bandwell E = (panas) M (h1 — H) kWh
dengan . M = massa dan waduk uap panas bunu
yang terdiri atas cairan dan uap (kg);
= enthalphy uap pada t1 (BTU/lb);.
= enthalphy uap pada t2 (BTU/lb);
= suhu waduk uap panas bumi mula-
mula (0F);
= suhu waduk uap panas bumi mula-
mula (0F);
M tergantung daripada:
a. Volume waduk uap panas bumi (kin3);
b. % uap yang terkandung dalam waduk.

Perkembangan Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi

Percobaan pertama untuk membangkitkan tenaga listrik dengan energi panas


bumi dimulai di Lardarello, Itali, tahun 1904. PLTP (Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi)
pertama dengan daya terpasang 250 kW mulai beroperasi di tempat itu dalam tahun
1913. Kemudian Jepang menyusul dengan mengadakan pengeboran dalam tahun 1919,
dan memasang sebuah PLTP kecil sebesar 1 kW dalain tahun 1924. Di Amerika Serikat
pemboran dimulai di tahun 1920-an di Geysers dan Niland, California. Dalam tahun
1928 diadakan pemboran di Kamojang, dekat kota Garnt, Jawa Barat, Indonesia. Juga
dalam tahun 1928 dilakukan pemboran di Reykjavih, Islandia, yang
mempergunakannya untuk pemanasan. Menjelang tahun 1940 diselenggarakan
pemboran di Rotoma dan Danau Tuopo, Selandia Baru, untuk keperluan pemanasan.
Setelah Perang Dunia II perhatian yang besar kembali ditumpuhkan kepada
energi panas bumi, terutama di negan-negara yang tidak mempunyai sumberdaya
minyak, seperti Itali, Jepang dan Selandia Baru.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 8


Poto atas: Geothermal
Geysers California
USA. Poto bawah:
Geothermal Power
USA

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 9


Setelah terjadinya embargo minyak dalam tahun 1973, disusul dengan apa yang
dinamakan kemelut energi, perhatian itn menjadi lebih besar lagi. Dalam tahnn 1976
daya terpasang dunia PLTP mencapai hampir 1.400 MW, tahun 1980 lebih dan 2.500
MW, dan tahnn 1985 sebesar hampir 15.000 MW.
Menurut perkiraan, dalam tahun 2000 daya terpasang PLTP seluruh dnnia akan
berjumlah antara 80.000 dan 118.000 MW.
Tabel 2.17 memperlihatkan daya terpasang tersebut untuk 23 negara dalam
tahun 1976, 1980 dan 1985 serta perkiraan untuk tahun 2000. Dari tabel itu dapat dilihat
bahwa dalam tahun 1976 “tiga besar” adalah Amerika Serikat, Itali dan Selandia Baru.
Komposisi ini berubah menjadi Amerika Serikat, Itali dan Filipina dalam tahu 1980.
Dalam tahun 1985 urutan ini menjadi Amerika Serikat, Filipina dan Itali.

Tabel 2.17. Daya Terpasang Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi 1976—1985 dan
Perkiraan Tahun 2000
Negara 1976 (MW)) 1980 (MW 1985 (MW) 2000 (MW)
Amerika Serikat 522 908 3.000 20.000—40.000
Itali 421 455 800 —
Filipina — 443 1.726 4.000
Jepang 68 218 100 48.000
Selandia Barn 192 203 282 352
Meksiko 78,5 218 400 1.500-20.000
Eslandia 2,5 64 150 500
El Savador 60 60 180 180
Urn Soviet 3 5,7 5,7 5,7
Indonesia — 2,3 142,5 600
RRC 1 3 50 200
Turki 0,5 0,5 400 1.000
Nikaragua - - 150 300-400
Kosta Rika - - 100 100
Guatemala — — 100 100
Honduras — — 100 100
Panama — — 60 60
Taiwan - - 50 200
Portugal — — 30 200
Kenya — — 30 60—90
Spanyol — — 25 200
Argentina — — 20 20
Kanada — — 10 10
Jumlah 1.348,5 2.580,5 7911,2 80.000—100.000
Bahan dari berbagai sumber.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 10


Sejarah panas bumi di Indonesia sudah dimulai pada awal Abad ke-20. Pemboran
percobaan di Kawah Kamojang (Jawa Barat) dan Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah)
dalam tahun 1928 membuktikan bahwa terdapat uap panas bumi. Tampaknya terdapat
suatu jalur api (fire-belt) yang mulai dan Aceh di ujung Barat Laut Sumatera berjalan
melalui Jawa, Bali dan Sulawesi hingga Halmahera di bagian Timur Nusantara. Jalur
itu, yang mempunyai lebar anatana 50-200 km sepanjang 7.000-7.500 km menjadi
tempat kedudukan gunung-gunung berapi yang aktif sejak beberapa juta tahun yang
lalu. Pada waktu ini, sebagian yang cukup besar gunung-gunung api itu masih berada
dalam keadaan aktif. Peta potensi panas bumi Indonesia dapat dilihat pada gambar
?????
Untuk mengembangkan potensi tenaga panas bumi, khususnya untuk
pembangkitan tenaga listrik, mulai tahun 1980 telah diundang ealon-ealon investor luar
negeni untuk mengadakan perundingan bagi penanaman modal. Diperkirakan bahwa
pada akhir Abad ke-20, kira-kira sebanyak 600 MW tenaga panas bumi dapat
dikembangkan untuk pembangkitan tenaga listnik.

2.2.2. Energi Surya Langsung

Umum

Sebagaimana telah dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya, pada asasnya dan


datam arti yang luas, energi yang berasal dan sang surya bukan saja terdiri atas
penyinaran langsung oleh pancaran matahari ke bumi, akan tetapi sebenarnya termasuk
seluruh efek tidak langsung, seperti tenaga angin, tenaga air dan energi dan taut. Bahkan
juga termasuk segala macam bentuk energi yang berasal dan biomassa. Dalam bab ini
akan dibatasi dengan uraian mengenai pemanfaatan energi yang berasal dan pancaran
sinarsinar matahani secara langsung.
Dalam pelaksanaan pemanfaatannya, dapat dibedakan tiga cara. Cara pertama
adalah prinsip pemanasan langsung. Dalam hal ini sinar-sinar matahani memanasi
Langsung benda yang akan dipanaskan, atau memanasi secara langsung medium,
misalnya air, yang akan dipanaskan. Air panas itu, nanti akan dipakai misalnya untuk
mandi. Cara kedua adalah, bahwa yang dipanaskan adalah juga air, akan tetapi panas
yang terkandung dalam air itu, akan dikonversikan menjadi energi listrik, misalnya.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 11


Sedangkan cara ketiga adalah cara fotovoltaik. Dengan cara ini maka energi sinar ma-
tahari langsung dikonversikan menjadi energi listrik.

Pemanasan Langsung

Pemanfaatan energi surya oleh manusia secara tangsung dalam bentuk


pemanasan, telah lama dikenat. Menjemur pakaian adalah contoh yang terlihat sehari-
hari di rumah-rumah tangga biasa. Pembuatan ikan kering dan membuat garam dari tau
merupakan contoh-contoh lain dalam bidang perindustrian. Dengan cara pemanasan
langsung ini suhu yang akan diperoleh tidak akan melampaui 100oC.
Efektivitas pemanfaatan energi surya dengan cara pemanfaatan langsung dapat
ditingkatkan bila mempergunakan pengumpul-pengumpul panas, yang biasa disebut
kolektor. Sinar-sinar matahari dikonsentrasikan dengan kolektor ini pada satu tempat,
sehingga diperoleh suatu suhu yang lebih tinggi. Dalam Gambar 4.9 terlihat beberapa
kolektor dan berbagai bentuk.
Gambar 4.9(a) merupakan kolektor pipih, atau kotektor datar, Gambar 4.9(b) adalah
kolektor parabolik silindris sedangkan Gainbar 4.9(c) merupakan kolektor parabolik
bulat. Bentuk kotektor parabolik bulat melandaskan prinsip kompor surya, sebagaimana
terlihat pada Gambar 4.9(d).
Kompor surya menumt Gambar 4.9(d) tampaknya cukup menanik, akan tetapi
persoalannya adalah bahwa sang Thu Rumahtangga harus memasak di panas terik
matahani.
Sistem-sistem peinanasan secara langsung ini mempunyat efisiensi dan sekitar 30—
40% dan harga (1980) seputar US$ 100 per in2, belum terpasang. Pada saat ini
penggunaannya adalah terbanyak untuk pemanasan air kolam dan air untuk mandi.

Konversi Surya Tennis Elektnis


Suatu teknotogi yang tampaknya cukup mempunyai potensi adalah apa yang
disebut Konversi Surya Termis Elektris (KSTE), atau yang dalam bahasa asing disebut
Solar Thermal Electric Conversion (STEC). Pada prinsipnya KSTE memerlukan sebuah
konsentrator optik untuk pemanfaatan radiasi surya, sebuah alat untuk menyerap energi
yang dikumpulkan, suatu sistem pengangkut panas, dan sebuah mesin yang agak
konvensional untuk pembangkitan tenaga listnik.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 12


.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 13


Foto One-axis tracking parabolic trough systems.
Part of a 354MW solar electric plant in California's Mojave Desert, USA

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 14


Sistem KSTE besar yang pertama dibuat adalah dalam tahun 1920, dengan
kapasitas 45 kW, di Meadi, Mesir. Tungku surya yang dibangun di Odeillo, Perancis,
mempunyai sebuah instalasi 1000 kW, termal. Di Amerika Serikat sedang
dikembangkan suatu program KSTE untuk membuat sebuah unit 5 MW-termal di New
Meksiko, sebuah unit 10 MW Listnik di Barstow, California, bahkan diharapkan dalam
pertengahan tahun 1992-an dapat dibuat sebuah unit 100 MW listnik.
Dua buah perusahaan swasta, yaitu Ansaldo di Italia dan MBB di Republik
Federal Jerman bekerja sama untuk membuat instalasi KSTE berlandaskan desain dan
Profesor Francia, dengan unit-unit hingga 1 MW listrik, untuk dijual secara komersial.
Diperkirakan, bahwa sebuah unit KSTE 100 MW listrik akan mempunyai 12.500 buah
heliostat, dengan permukaan refleksi masing-masing seluas 40 m2, sebuah menara
penerima setinggi 250 m, yang memikul sebuah penyerap untuk membuat uap bagi
sebuah turbin selama enam hingga delapan jam sehari. Desain-desain PLTS (Pusat
Listrik Tenaga Surya) ini dilengkapi dengan sebuah boiler biasa agar sentral listrik
bekerja siang dan malam. Harganya diperkirakan antara US$ 2000,- hingga US$ 5000,-
per kW listrik.

Gambar 4.10. Pembangkitan Tenaga Listrik dengan Mempergunakan Menara


dan Deretan Heliostat.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 15


Foto : A solar thermal central receiver system in California, USA.
The system is capable of generating 10 MW of electric power.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 16


Konversi Energi Fotovoltaik
Energi radiasi surya dapat diubah inenjadi arus listrik searah dengan
mempergunakan lapisan-lapisan tipis dan silikon (Si) murni atau bahan semikonduktor
lainnya. Pada saat ini silikon mert4akan bahan yang terbanyak dipakai. Silikon
mempakan pula suatu unsur yang banyak terdapat di alam. Untuk keperluan pemakaian
Sebagai semikonduktor, silikon harus dimurnikañ hingga suatu tingkat pemurnian yang
tinggi sekali: kurang dan sarn atom pengotoran per 1010 atom silikon. Gambar 4.11(a)
memperlihatkan pengaturan atom dalam kristal silikon. Bentuk kristalisasi demikian
akan terjadi bilamana silikon cair terjadi padat, hal mana disebabkan karena tiap atom
silikon mempunyai elektron valensi. Dengan demikian terjadi suatu bentuk kristal di
mana tiap atom silikon mempunyai sejumlah 4 tetangga terdekat. Tiap dua atom silikon
yang bertetangga saling memiliki salah satu elektron valensinya. Bentuk kisi kristal
menurut Gambar 4.11(a) sering juga dinamakan kisi intan.
Struktur tiga dimensi menurutt Gambar 4.11(a) diperlihatkan dalam Gambar
4.11(b) secara skematis dengan bentuk dua dimensi. Dalam gambar ini terlihat pula
bahwa tiap atom mempunyai empat tetangga terdekat. Kedua garis antara tiap atom
merupakan dua elektron valensi, satu buah dari masing-masing atom. Tiap pasangan
elektron valensi adalah suatu ikatan kovalensi, yang pada asasnya merupakan hubungan
yang mengikat atom-atom kristal.
Pada suhu nol absolut (00 K) semua ikatan kovalensi berada dalam keadaan utuh
dan lengkap. Bilamana suhu naik, atom-atom akan mengalami keadaan getaran termal.
Getaran-getaran ini yang meningkat dengan suhu, pada suatu saat dapat nengganggu
beberapa ikatan kovalensi.
Terganggunya ikatan valensi dalam kristal semikonduktor pada suhu lingkungan
biasa mempunyai beberapa akibat besar terhadap sifat-sifat listrik kristal itu dan penting
dalam penjelasan efek fotovoltaik.
Dan Gambar 4.11(b) terlihat bahwa terputusnya ikatan valensi melepaskan
sebuah elektron, yang dapat bergerak bebas dalam kristal dan dapat berperan serta
dalam proses hantaran. Cara bantaran listrik dapat terjadi bila sebuah “lubang” yang
terjadi karena pelepasan elektron, diisi oleh elektron lain dan tetangganya, dan
setemsnya.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 17


Gambar 4.11. Kisi Intan Kristal Silikon.

Jika kristal itu diletakkan dalam suatu medan listrik, maka elektron-elektron
bebas itu condong mengalir ke arab melawan medan sedangkan “lubang-lubang” yang
terjadi akan memiliki arab yang berlawanan. Lubang-lubang itu berperan sebagai
partikel dengan muatan positif. Dengan demikian seolah-olah dalam sebuah
semikonduktor terjadi dua anus dengan arab saling berlawanan:
suatu arus elektron dan suatu arus lubang.
Jumlah elektron yang mengalir dalam semikonduktor jauh lebib kecil daripada
yang merupakan konduktor. Sebagai perbandingan, dalam bahan silikon murni, pada
suhu ruangan biasa, terdapat kirakira satu pasangan elektron dan lubang per 1010 atom.
Untuk kebanyakan kristal logam angka itu adalah satu per satu.
Dapat juga terjadi bahwa ikatan valensi terganggu disebabkan pengaruh radiasi
elektromagnetik yang datang dan luar. Jika foton dan radiasi yang masuk itu memiliki
banyak energi, maka di tempat resapan akan dapat terjelma suatu pasangan
elektron dan lubang. Jumlah energi yang diperlukan untuk terjadinya hal itu adalah
1,1 eV bagi siikon pada suhu ruangan biasa. Dengan demikian maka setiap foton yang
memiliki jumlah energi yang lebih besar dan 1,1 eV, atau panjang gelombang kurang
dan 1.100 nm, yang tenletak di wilayah inframerah spektmm, dapat mengakibatkan
terjadinya pasangan elektron dan lubang di silikon. Khususnya be,sar dan spektrum
radiasi surya mempunyai kemampuan tersebut bila diresap siikon. Dengan demikian
maka akan terdapat suatu muatan listnik yang melampaui keseimbangan hal mana dapat
mengakibatkan terjadinya suatu gaya gerak listrik.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 18


Gambar 4.12 memperlihatkan sebuab knistal silikon yang dimasukkan satu atom
arsenikum (As), yang diperoleh misalnya dari suatu peleburan yang diberi sedikit
arsenikum sebagai “pengotoran”. Atom arsenikum memiliki lima elektron valensi.
Bilaimana sebuah atom arsenikum menempati suatu posisi “struktural” dalam kristal
silikon, ia mempunyai kelebihan satu buah elektron. Pada suhu lingkungan biasa daya
ikat elektron kelima terhadap induk atom arsenikum adalah relatif kecil. Dengan
demikian terjadi suatu sirnasi di mana terdapat sebuah elektron bebas dalam knistal
silikon. Atom arsenikum yang terikat dalam kristal mendapat muatan positif sedangkan
elektron bebas itu dapat bergerak dalam seluruh kristal dan mengikuti proses
konduksi bila terdapat suatu niedan listrik. Arsenikum dengan semikian merupakan
suatu pengotoran yang merupakan pemberi, atau donor elektron. Hal demikian juga
akan terjadi dengan atom-atom lain yang mempunyai ikatan valensi lima. Dan
penambahan suatu kristal dengan pengotoran donor, akan mengubah sifat-sifat listrik
bahan tersebut dengan dua cara. Pertama, jika pengotoran donor itu diperbesar
melampaui 1 bagian per 1012, yang dianggap suatu taraf pengotoran yang rendah. maka
daya hantar akan meningkat.

Gambar 4.12. Kristal Silikon Dimasukkan Satu Atom Arsenikum (As) dan KeIebiban
Satu Elcktron.
Kedua, bila baik elektron maupun lubang akan memiliki peran serta kurang lebih
sama dalam sifat daya hantan materi silikon, hantarannya akan praktis seluruhnya
dilakukan oleh gerakan dan elektron dalam kristal yang mengandung donor. Muatan
yang p0-sitif terikat tempat dalam stmktur kristal. Karena elektron memiliki muatan
negatif, knistal demikian dinamakan tipe-N, yaitu n dan negatif.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 19


Dengan sendirinya akan terjadi suatu efek serupa bila pengotorah dilakukan dengan
bahan yang memiliki valensi tiga seperti boron dan galium. Dalam keadaan demikian
tiap pengotoran “menerima” satu elektron dan ikatan valensi yang mengakibatkan
terdapatnya satu lubang yang berperan serta dalam proses konduksi, -dan satu ion
pengotoran dengan muatan negatif yang tidak bergerak. Kanena lubang inempunyai
muatan positif knistal yang mempunyai akseptor dinamakan tipe-P, yaitu p dan positif.
Karena pengotoran relatif menyangkut jumlali-jumlah yang kecil sekali, adalah
mungkin untuk sebuah knistal tunggal silikon merupakan tipe-P pada satu ujung dan
tipe-N pada ujung yang lain. Knistal demikian dinamakan sambungan P-N dan terlihat
pada Gambar 4.13(a).
Misalkan sambungan P-N itu terkena radiasi matahani. Telah diketahui bahwa
tiap foton radiasi yang memiliki energi yang melebihi 1,1 eV dapat menghasilkan satu
pasangan elektron-lubang dalam hablur silikon. Dalam situasi menurut Gambar 4.13(a)
akan jelas babwa pasangan-pasangan elektron-lubang agak terpisah-pisah letaknya,
sedemikian hingga daerah P akan memiliki muatan positif terhadap daerah N, dan
terdapat suatu perbedaan potensial antara kedua apitan. Jika antara kedua apitan
dipasang sebuah beban, sebagaimana terlihat pada Gambar 4.13(b), akan mengalir arus
I. Dengan demikian terdapat secara langsung suatu konversi elektronika antara radiasi
surya yang masuk dan energi listrik yang dihasilkan antara kedua apitan A dan B.

Gambar 4.13. Skema Sambungan P-N.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 20


Foto: A single axis solar photovoltaic plant

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 21


Foto: A solar PV system providing power for a medical clinic in Zambia.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 22


2.2.3. Biomassa

Umum

Biomassa adalah material organik


yang mempunyai simpanan energi dari
matahari dalam bentuk energi kimia.
Melalui proses photosintesis tumbuh-
tumbuhan menkonversi energi dari matahari
menjadi energi kimia dalam bentuk glucose
(gula).
Bahan bakar biomassa ini meliputi
kayu, sampah kayu, jerami, pupuk, ampas
tebu, dan banyak lagi yang dihasilkan dari
bermacam-macam hasil pertanian.
Proses Fotosintesis
Biomassa merupakan produk fotosintesis, yakni butir-butir hijau daun yang
bekerja sebagai sel-sel surya, menyerap energi matahari dan mengkonversi dioksida
karbon dengan air menjadi suatu senyawa karbon, hidrogen dan oksigen. Senyawa ini
dapat dipandang sebagai suatu penyerapan energi yang dapat dikonversi menjadi suatu
produk lain. Hasil konversi dan senyawa itu dapat berbentuk arang atau karbon, alkohol
kayu, ter dan lain sebagainya. Energi yang disimpan itu dapat pula dimanfaatkan
dengan lang-sung membakar kayu itu; panas yang dihasilkan digunakan untuk memasak
atau untuk keperluan lain.
Proses fotosintesis dapat dirumuskan dengan reaksi kimia berikut:
CO2 +H20+E Cx (H20)x +02
Klorofil

di mana E = energi cahaya;


CO2 = gas dioksida karbon;
HO = air;
CX(H20)x = hidrokarbon yang terjadi; dan
02 = gas oksigen
Klorofil adalah bahan yang membuat hijau daun. Hidrat karbon yang terjadi
dapat berbentuk gula tebu atau gula bit yang mempunyai rumus C12H22011, ataupun

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 23


misalnya berbentuk selulosa yang mempunyai rumus yang lebih kompleks berupa
(C6H10O5)x.
Ada baiknya untuk mencoba mengetahui potensi bahan organik sebagai bahan
bakar dengan menilai isi energinya.
Energi total suatu molekul dianggap sama dengan jumlah energi dan masing-
masing ikatan atom ke atom. Dengan demikian energi yang terdapat pada dioksida
karbon CO2 (sebesar 1600 kJ/ mole) dapat dianggap kurang-lebih sama dengan empat
ikatan C-0, karena setiap atom oksigen diikat oleh karbon dengan ikatan ganda (CO2
dapat digambarkan 0 = C = 0). Energi interaksi antara kedua atom oksigen diabaikan
dan setiap ikatan C—O dianggap sebesar 400 kJ/mole. Energi ikatan gas oksigen 02
adalab 48 kJ/mole, atau 24 kJ/mole untuk tiap ikatan 0—0, oleh karena 02 mempunyai
dua ikatan (0=0). Ikatan 0—H mempunyai energi sebanyak 460 kJ/mole.
Bila oksigen diserap dalam proses oksidasi atau respirasi, maka energi
dibebaskan karena terdapatnya stabilitas yang meningkat pada ikatan 0—H atau ikatan
C—O.
Dapat dikemukakan, bahwa terdapat suatu hubungan antara jumlah molekul
oksigen yang diserap pada proses pembakaran atau respirasi suatu molekul organik dan
jumlah energi pembakaran molekul itu. Rumus Rabinowitch merupakan suatu definisi
dan tingkat reduksi rata-rata R dad karbon dalam suatu molekul dengan komposisi
CpHqOr sebagai berikut:

Pada asasnya R merupakan jumlah molekul oksigen yang diperlukan untuk


membakar suatu material organik menjadi CO2 dan H2O, dibagi jumlah atom karbon
dalam molekul.
Tiap atom karbon memerlukan satu molekul oksigen untuk dikonversikan
menjadi CO2. tiap atom hidrogen memerlukan seperempat molekul oksigen untuk
dikonversikan menjadi 2O~ dan setiap atom oksigen yang sudah terdapat dalam
molckul organik itu mengurangi dengan seperdua molekul, jumlah molekul 02 yang
terdapat di luar dan diperlukan untuk pembakaran. Sebagai pendekatan dapat
dikemukakan, bahwa jumlab energi yang dibebaskan pada pembakaran satu molekul
dengan komposisi CpHqOr adalah sekitar 460 kJ/mole per atom karbon per satuan R1
yang sering dinamakan pembakaran panas.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 24


Jika rumus di atas dipakai untuk hidrat karbon CH2O maka karena p = 1; q = 2
dan r = 1, diperoleh nilai R = 1. Untuk gas metan CH4 di mana p = 1; q=4; dan r=O
diperoleh R= 2. Gas dioksida karbon CO2 denganp=1;q=O dan r=2 mempunyai nilai R
= 0.
Proses fotosintesis yang mengubah gas dioksida karbon menjadi hidrat karbon
“mengangkat” tingkat reduksi CO2 (R = 0) ke tingkat reduksi CH2O yang lebih tinggi (R
= 1), seperdua dari tingkat maksimum R = 2 bagi metan CH4. Dengan demikian proses
fotosintesis itu menyimpan atau menyisihkan seperdua energi pembakaran yang secara
maksimum mungkin per atom karbon.
Tumbuh-tumbuhan dan bahan organik lainnya dapat diubah menjadi bahan
bakar cain maupun gas dengan bantuan beberapa proses biologi dan proses kimia.
Proses mana yang cocok untuk konversi ini tergantung dad sifat bahan organik yang
banyak mengandung air. Proses-proses kimia sepenti pirolisa atau reduksi katalitis lebih
cocok untuk bahan yang kening dan tahan terhadap biodegradasi.

Proses Fermentasi untuk Membuat Etanol

Fermentasi alkoholik merupakan suatu proses yang lama dikenal dan banyak
dipakai. Etil alkohol atau etanol muda dibuat dan berbagai hasil pertanian yang
mengandung gula. Ragi mengubah gula-gula heksose menjadi etanol dan dioksida
karbon sesuai rumus di bawah mi:

Jenis-jenis gula yang difermentasikan dapat berupa glukosa, fruktosa, sukrosa,


maltosa, rafinosa dan manosa.
Gula tetes, suatu hasil tambahan dari produksi gula tebu mengandung 55% gula-
gula dan dapat secara mudah dan murah difermentasikan menjadi etanol. Dalam proses
demikian gula tetes diencerkan dengan air hingga mencapai kekentalan gula sebanyak
20%, kemudian dicampur dengan biakan ragi sebanyak 5% volume. Campuran ini
difermentasikan selama 2—3 hari hingga mencapai nilai alkohol setinggi 9—10%.
Alkohol in i kemudian diambil dengan proses destilasi. Satu liter alkobol dengan
kemurnian 95% dapat diperoleh dad 2,5 liter gula tetes dengan biaya yang rendah.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 25


Proses Fermentasi Anaerobik untuk Membuat Metan

Gambar 6.1 mencoba mempenlihatkan skema sebuah instalasi gas biomassa. Di


tempat A bahan orgarnk yang dipotong kecil-kecil dicampur dengan air dan dipompa ke
tempat tangki pencernaan B. Di tangki ini terjadi proses pencernaan. Tingkat kecepatan
pencennaan akan tergantung dad suhu dan suhu sekitar 35’C tampaknya membenikan
basil optimal bagi produksi gas. Gas yang dihasilkan itu dikeluarkan dad keran C.
Endapan yang terjadi dalam tangki pencernaan yang mempunyai bentuk yang sangat
padat dikeluarkan melalui keran D untuk dikeluarkan dan dapat dimanfaatkan untuk
keperluan-kepenluan lain seperti pengurugan tanah. Cairan selebihnya dialirkan ke
kolam oksidasi E. Dad kolam ini cairan kental dialirkan kembali ke tangki pencemaan
sedangkan cairan yang encer dimañfaatkan kembali untuk dicampur dengan masukan
bahan organik barn. Cara umpan-balik ini mengunangi kepenluan menambah
komponen-komponen campuran yang diperlukan sehingga meningkatkan efisiensi kerja
instalasi.

Gambar 6.1. Skema Proses Fermentasi Anaerobik untuk Membuat Metan.

Proses Pirolisa

Gambar 6.2 memperlihatkan suatu skema dan proses pirolisa yang mempergunakan
limbah kota sebagai bahan baku. Limbah kota dimasukkan di tempat A dan dipotong
hingga mencapai ukuran keeil. Kemudian bahan baku dibawa ke tempat B untuk
Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 26
dikeningkan. Di tempat C dilakukan pernisahan: semua bahan organik sepenti
potongan-potongan logam dan gelas disisihkan sedangkan matenal lainnya yang
menupakan bahan organik dibawa ke tempat D untuk digiling halus. Bejana E
merupakan reaktor pirolisa. Di tempat F basil-basil pirolisa berupa gas, minyak dan
arang dipisahkan. Jika suhu dalam reaktor dinaikkan komponen gas akan menjadi lebih
besar.

Gambar 6.2. Skema Proses Pirolisa.

Penggasan dengan Pembakaran Parsial

Penggasan merupakan suatu proses di mana dengan bantuan bahang (heat) bahan
bakar padat diuraikan untuk menghasilkan suatu bahan bakar gas. Di antara bahan bakar
padat yang dapat digaskan dapat berupa kayu, arang kayu, batu bana dan berbagai jenis
bahan organik kening. Pembuatan biogas benbeda kanena mempengunakan bahan baku
onganik “basah” serta memanfaatkan proses biologis. Prinsip penggasan adalah cukup
sederhana. Sebuah alat penggas terdiri atas suatu wadah yang diisi dengan bahan bakar
dari sisi atas sebagaimana tenlihat pada Gamban 6.3. Bahan baku akan terletak di atas
kisi.
Udara dalam jumlah tertentu dimasukkan dan sisi bawah. Udana akan naik ke atas
melalui kisi dan bahan baku. Pengendalian udara dilakukan sedemikian rupa sehingga
pembakaran terbatas pada bagian bawah saja. yaitu pada zona A. Pembakaran ini

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 27


mengakibatkan terjadinya sejumlah bahang yang menyebabkan bahan baku selebihnya
mengunai secara kimiawi dan terjadinya penggasan.
Oleh karena itu proses ini sening juga dinamakan penggasan dengan pembakaran
parsial.

Gambar 6.3. Pembuatan Gas dengan Proses Pirolisa.

Foto: An experimental bagasse gasifier, Hawaii, USA

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 28


Gas yang terjadi akan naik dan dikeluarkan dari sebelah samping atas. Pada saat
meninggalkan reaktor gas memiliki suhu antara 100 dan 2000C.
Alat penggas jenis ini sangat sederhana. Kekurangannya adalah bahwa gas yang
dihasilkannya sangat kotor kecuali jika dipakai bahan baku yang bebas ten. Ten dan
hasil-hasil pirolisa lainnya tidak diuraikan dalam wilayah pembakaran, melainkan
dibawa ke atas dan barn akan mengendap bila suhu gas menurun. Hal ini tidak akan
tenjadi bilamana arang kayu dipakai sebagai bahan baku. Untuk meningkatkan mutu
termal dad gas yang dihasilkan reaktor didinginkan dengan air pada wilayah
pembakaran A.
Adalah penting bahwa kisi yang memikul wilayah pembakaran A memiliki bentuk
yang tepat Kisi ini hams memungkinkan abu jamb ke bawali tanpa kehilangan bahan
baku. Selanjutnya dapat disebut bahwa di atas wilayah pembakaran A terdapat zona re-
duksi B, zona pirolisa C dan zona pengeningan D.
Gas yang dihasilkan alat penggas sedng disebut gas produser (producer gas).
Komponen-komponen tenpenting adalah: hidrogen (H2) dan monoksida kanbon (CO)
yang bersama-sama merupakan 30—35% volume gas keseluruhan. Gas selebihnya
tendid terutama atas nitrogen (N2). Nilai panas gas produser adalah agak rendah, yaitu
sekitar 10-15% dad nilai kalodfik gas alam.
Selain koton karena mengandung ten dan jelaga, gas produser juga beracun karena
unsur monoksida karbon yang tinggi.
Walaupun gas produsen memiliki nilai panas yang rendah, ia dapat dipakai untuk
berbagai tujuan pemanfaatan yaitu:
a. Pembakaran langsung, untuk menghasilkan panas misalnya untuk boiler atau
tungku;
b. Penggunaan daya poros untuk menjalankan mesin.

2.4. Potensial Air


Energi Air Kandungan Mekanis
Energi Air Terjun
Umum
Potensi tenaga air dan pemanfaatannya pada umumnya berlainan, bila
dibandingkan dengan penggunaan tenaga berasal dari misalnya bahan bakar fosil.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 29


Pertama, sumbër tenaga air secara teratur dibangkitkan kern-bali karena
peman.asan lautan oleh penyinaran matahani, sehingga merupakan suatu sumber yang
secara siklis diperbarui. Gambar 3.1 memperlihatkan siklus hidrologik danipada air.
Oleh karena itu tenaga air disebut sebagai suatu sumberdaya energi terbarukan.
Kedua, potensi secara keseluruhan danipada tenaga air relatif kecil bila
dibandingkan dengan jumlah sumber bahan bakar fosil, sekalipun misalnya seluruh
potensi tenaga air liii dapat dikembangkan sepenuhnya.
Ketiga, penggunaan tenaga air pada umuninya merupakan pemanfaatan
multiguna, karena biasanya dikaitkan dengan irigasi, pengendalian banjir, perikanan,
rekreasi dan navigasi. Babkan sering teijadi bahwa pembangkitan tenaga listrik hanya
merupakan manfaat sampingan, dengan misalnya irigasi, atau pengendalian banjir,
sebagai penggunaan utama.
Keempat, pembangkitan listrik dan tenaga air dilakukan tanpa ada perubahan
suhu. Tidak ada peningkatan suhu karena misalnya adanya suatu proses pembakaran
bahan bakar. Karenanya, mesihmesin hidro rnempunyai masa rnanfaat yang biasanya
lebih lama danipada mesin-mesin termis.

Gambar 3.1. Siklus Hidrologik.

Pada asasnya dapat dikemukakan adanya tiga faktor utama dalarn penentuan
pemanfaatan suatu potensi sumber tenaga air bagi pembangkitan tenaga listnik.
a. Jurnlah air yang tersedia, yang merupakan fungsi dani jatuh hujan dan atau salju.
b. Tinggi terjun yang dapat dirnanfaatkan, hal mana tergantung dan topografi daerah
tersebut; dan

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 30


c. Jarak lokasi yang dapat dimanfaatkan terhadap adanya pusatpusat beban atau
jaringan transmisi.
Gambar 3.2 rnemperlihatkan lengkung tinggi sebuah sungai, sebagai fungsi
daripada jarak terhadap sumber atau awal sungai itu. Pada awal sungai, di jarak nol,
tinggi sungai adalah H. Lengkung (a) mempenlihatkan fungsi tersebut dan sebuah
sungai yang “ideal,” yang menuruni lereng sebuah gunung rnenurun secara teratur.
Dalam kenyataannya tidaklah dernikian adanya. Biasanya lebih rnendekati bentuk
menurut lengkung (b), yaitu bentuk sebuah sungai “biasa,” yang pada titik C
mempunyai sebuah air terjun, dan pada titik D sebuah danau. Sungai akhirnya bermuara
di laut.
Sebagairnana diketahui dari ilrnu fisika, setiap benda, yang berada di atas
perrnukaan bumi, mernpunyai energi potensial, yang berbentuk rurnus benikut:
E = m.g.H
dengan E = energi potensial;
m = rnassa;
g= percepatan gravitasi;
h= tinggi relatif terhadap permukaan burnt
Dan rumus di atas dapat ditulis:
dE = dm.g.h
bilamana dE merupakan energi yang dibangkitkan oleh elemen massa drn yang melalui
jarak h.
Bilarnana didefinisikan Q sebagai debit air rnenurut rumus benikut:

Dengan Q = debit air;


dm = elemen massa air;
dt = elemen waktu;
maka dapat ditulis:

atau

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 31


Dengan mempenlihatkan efisiensi sistem dapat ditulis:
P = η. g.Q.h
di mana P = daya;
η = efisiensi sistem; g = gravitasi;
h = tinggi terjun.
Untuk keperluan estimasi pertama secara kasar, dipergunakan rumus sederhana berikut:
P = f.Q.h.
dengan P = daya dalam kW;
Q = debit air dalaxn m3 per detik;
H = tinggi terjun dalarn m;
f = suatu faktor efisiensi antara 0,7 dan 0,8.

Di antara data primer yang diperlukan untuk suatu survei dapat disebut:
— Jumlah energi yang secara teoretis dapat diperoleh setahun dalam kondisi-kondisi
tertentu di musim hujan dan musim kering;
— Jumlah daya pusat listnik yang akan dipasang, dengan rnemperhatikan apakah pusat
listrik itu akan dipakai untuk beban dasar atau beban puncak.
Gambar 3.3 memperlihatkan secara skematis tepi sebuah danau dengan sebuah
bendungan besar A. Dan bendungan ini melalui suatu saluran terbuka dan bendungan
arnbil air B, air dimasukkan ke dalam pipa tekan, yang mernbawa air ke turbin air
melalui sebuah katup..

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 32


Gambar 3.3. Skema Danau, Bendungan dan Pipa Pesat.

The top storage dam of the Dinorwig pumped storage plant in Wales, UK, the largest pump
storage scheme in Europe (rated at 6 x 330 MW). The plant is located in the Snowdonia
National park, and to reduce its environmental impact, the turbines, race and control room of the
power plant are located underground in the mountain beneath the dam

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 33


A large hydro power plant in Venezuela

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 34


Construction of the Three Gorges Dam, China. When complete in 2009, the 2,300-meter-long,
180-m-high dam will be the the world's largest hydroelectric and river navigation complex,
capable of generating 26,700 MW electricity. (Andy Ryan, Engineering News Record)

Untuk menghindani, bahwa pada perubahan-perubahan beban yang


mendadak, terutama bilamana beban seeara tiba-tiba jatuh, dapat terjadi kerusakan padá
pipa tekan, dibuat sebuah tangki pendatar pada pipa tekan tersebut, sebagaimana
tenlihat pada Ganibar 3.4. Di sebelah atas, pipa tekan itu ialah terbuka, sedangkan tepi
atasnya terletak lebih tinggi danipada permukaan air yang tertinggi. Dengan demikian,
bilamana terjadi bahwa beban jatuh secara mendadak, energi kinetis danipada air yang
mengalir itu dapat ditampung atau dinetralisasi oleh tangki pendatar

Gambar 3.4. Skema Danau, Tangki Pendatar dan Pipa Pesat.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 35


Di antara jenis-jenis bendungan dapat disebut: bendungan busur, bendungan
gravitasi, bendungan urugan, bendungan kerangka baja, dan bendungan kayu.
Sedangkan dan jenis bendungan urugan dikenal bendungan urugan batu dan bendungan
urugan tanah. Bendungan gravitasi pada asasnya rnenahan kekuatan-kekuatan luar,
seperti tekanan air dan lain sebagainya, dengan beratnya, dan beban rnatinya.
Kebanyakan bendungan di Indonesia bendungan jenis irn.
Dilihat dan segi dinamikanya, bendungan busur menahan kekuatan-kekuatan luar
terutama dengan aksi kekuatan busur. Dilihat dan struktur dan bentuknya, bendungan
busur dapat dibagi dalam jenis jan konstan, jenis sudut konstan dan jenis kubah.
Bendungan rongga memiliki struktur yang dapat menahan gaya luar, pada bidang atau
busur berganda, dan menyalurkan gaya ini ke pondasi melalui sangganya. Bendungan
ini umumnya dibuat dan beton bertulang.
Di antara jenis-jenis turbin air dapat disebut turbin impuls dan turbin reaksi.
Garnbar 3.5 memperlihatkan suatu turbin impuls. Turbin ini juga disebut Roda Pelton,
dan pada asasnya tendiri atas sebuah roda dengan mangkok-mangkok yang dipasang di
pinggir roda. Roda ini berputar karena rnendapat tekanan dari semprotan air.
Di antara turbin reaksi dapat disebut turbin Francis dan turbin Kaplan. Turbin
jenis ini dibuat sedemikian rupa sehingga rotor bekerja karena tekanan aliran air dengan
tinggi terjun. Turbin baling-baling juga termasuk jenis ini. Turbin reaksi yang dapat
dipakai sebagai pompa dengan membalik arah putaran rotor dinamakan turbin pompa
balik. Hal ini pérlu untuk PLTA Pompa.

Gambar 3.5. Skema Roda Pelton.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 36


Microhydropower in Alaska, USA

Sumberdaya Hidro di Indonesia

Indonesia termasuk negana yang. memiliki surnberdaya tenaga air yang cukup> Peta
potensi air indonesia dapat dilahat pada gambar ????

Energi Pasang Surut

Banyak gaya dan kekuatan yang mernpengaruhi lautan di permukaan bumi.


Salah satu kekuatan, yang bekerja terhadap air bumi adalah pengaruh massa bulan yang
mengakibatkan adanya gaya tarik, sehingga menjelma suatu gejala yang dikenal sebagai
pasang dan surut laut yang terjadi secara teratur, sekalipun bulan terletak lebih dan
400.000 kilometer dari bumi. Bilamana bulan mengelilingi bumi, air laut secara harfiah
“ditarik” ke atas karena gaya tarik gravitasi bulan.
Dalam Gambar 3.7 (a) permukaan laut tercantum sebagai ganis terputus-putus:
permukaan laut di titik A ditanik ke anah bulan sehingga mencapai titik A. Dalam
situasi demikian, laut pada titik A berada dalam keadaan pasang. Pada saat bersamaan,
laut pada titik B di bumi mengalarni keadaan sunut.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 37


Gambar 3.7. Terjadinya Pasang & Surut Air Laut Karena Gaya tarik Gravitasi.

Kira-kira enam jam kemudian, tenjadi situasi yang sebaliknya, sebagaimana tampak
pada Gambar 3.7 (b). Dalam keadaan mi, di mana bulan tela~h mengelilingi seperempat
bumi,. situasi pada titik A mengalami sunut, sedangkan laut pada titik B mengalami ke-
adaan pasang. Beda tinggi antana permukaan laut pasang dan surut dapat mencapai 5
sampai 6 meter atau Iebih, bahkan ada tempattempat yang melampaui 10 meter.
Keadaan sebagaimana digambarkan di atas hanya memperhitungkan pengaruh benda
langit bulan. Benda langit lain, yaitu matahani, juga mempunyai pengaruh yang besar.
Sekalipun terletak lebih jauh, yaitu 150 juta kilometer dari bumi, ukurannya yang besar
sekali (garis tengali 1,5 juta kilometer) menyebabkan bahwa pengaruh matahari
terhadap gejala pasang surut lautan di bumi adalah sebesar pengaruh bulan.

Dengan demikian, maka gaya tarik gravitasi akan terbesar, bilamana baik
matahani maupun bulan ada pada sisi yang sama terhadap bumi. Di lain pihak, bilamana
bulan dan matahari berada pada sisi yang berlainan, pengaruh gaya tarik gravitasi
kurang lebih akan saling menghapuskan.
Pemanfaatan energi potensial yang terkandung dalam perbedaan pasang dan
surut lautan antara lain dapat dilakukan demikian; misalkan suatu teluk yang agak
cekung dan dalam. Teluk ini “ditutup” dengan sebuah bendungan sehingga terbentuk
suatu waduk. Pada waktu laut pasang, maka permukaan air laut tinggi, mendekati ujung
atas bendungan, sebagaimana terlihat pada Gambar 3.8 (a). Waduk “diisi” dengan air
dari laut, dengan mengalirkannya melalui sebuah turbin air. Dengan sendirinya turbin

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 38


ini digabung dengan sebuah generator, sehingga pada proses “pengisian” waduk dari
laut, generator turbin yang berputar itu akan menghasilkan energi laut. Hal ini dapat
dilakukan hingga tinggi permukaan air dalam waduk akan sama tingginya dengan tinggi
permukaan laut. Pada situasi Laut surut, sebagaimana terlihat pada Gambar 3.8 (b)
terjadi hal sebaliknya. Waduk dilcosongkan. Dengan sendininya air mengalir lagi
melalui generator turbin, yang kini juga akan menghasilkan energi listnik.
Ada kekhususan, bahwa turbin harus dapat berputar dua arah. Dan hal ini akan
dilakukan berganti-ganti. Sering juga waduk ini dibentuk di muara sungai, untuk
sekaligus dapat memanfaatkan air sungai dalam membangkitkan tenaga listrik. Dengan
demikian jelas kiranya, bahwa pembangkitan tenaga Tistrik dengan pasang surut ini
tidak berjalan kontinu, melainkan tenputus-putus secara teratur, dengan suatu siklus
yang panjangnya 1k 12,5 jam.
Dalam Gambar 3.9 terlukis garis tinggi permukaan air Laut, berupa suatu
sinusoida, yang titik terendahnya adalah situasi surut, dan titik tertinggi berupa situasi
pasang. Dengan garis-garis terputus dilukis tinggi permukaan air waduk. Bilamana
diawali pada titik 1, maka laut mulai menjadi pasang, dan tinggi permukaan air iaut
perlahan-lahan menaik. Bilamana tinggi permukaan air laut berada cukup banyak di atas
permukaan air waduk, sehingga tinggi air jatuh sudah mencukupi, hal mana dicapai
pada titik 2, maka mesin dipasang, turbin berputar dan generator menghasilkan tenaga
listnik. Dalam peniode membangkit in waduk diisi air dari laut, sehingga tinggi
permukaan air waduk mulai naik. Bilamana permukaan air laut telah melampaui titik
tertinggi, sehingga selisih antara tinggi air laut dan tinggi air waduk menjadi tenlampau
kecil untuk dapat memutar turbin, yaitu bilamana titik 3 tercapai, mesin dihentikan.
Generator akan membangkit lagi bilamana tercapai titik 5, pada saat tinggi perinukaan
air waduk cukup banyak berada di atas tinggi permukaan air laut. Pada saat titik 6
tercapai, kembali mesin dihentikan dan pada titik 7 siklus baru akan dimulai.
Pada asasnya, antara tenaga pasang surut dan tenaga air konvensional terdapat
persamaan, yattu kedua-duanya adalah tenaga air, yang memanfaatkan gravitasi tinggi
jatuh air untuk pembangkitan tenaga listnik. Perbedaan-perbedaan utama secara garis
besar adalah:
a. Pasang surut menyangkut arus air peniodik dwi-arah dengan dua kali pasang dan
dua kali surut tiap had;

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 39


b. Operasi di lingkungan air laut memerlukan bahan-bahan konstruksi yang lebih
tahan korosi danpada dimiliki material untuk air tawar;
c. Tinggi jatuh relatif sangat kecil (maksimal 11 meter) bila dibanding dengan
terbanyak instalasi-instalasi hidro lainnya.

La Rance tidal barrage in Brittany,


France. This 240MW plant has
already been operating almost 25
years and is now being retrofitted
for 2 way operation

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 40


Gambar 3.8. Skema Bendungan dan Waduk Pasang Surut.

Gambar 3.9. Siklus Kerja Pusat Listnik Tenaga Air Pasang Surut.

Berdasarkan berbagai studi dan pengalaman, energi yang dapat dimanfaatkan


adalah sekitar 8 sainpai 25% dari seluruh energi teoretis yang ada. Proyek Pusat Listrik
Tenaga Pasang Surut La Rance di Prancis, yang mempakan sentral pertama yang besar,
mempunyai efisiensi sebesar 18%, yang akan meningkat menjadi 24% bila proyek itu
telah dikembangkan sepenuhnya.
Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 41
Untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi, sebuah instalasi pasang surut harus
memasang kapasitas pembangkitan listrik yang relatif lebih besar, dibanding dengan
Pusat Listrik Tenaga Air biasa. Di lain pihak Pusat Listrik Tenaga Pasang Surut tidak
tergantung pada perubahan-perubahan musim sebagaimana halnya dengan sungai-
sungai biasa.
Daya terpasang instalasi pasang surut La Rance adalah 240 MW dan terdiri atas 24
mesin masing-masing berdaya 10 MW dan menurut keterangan, akan ditingkatkan
menjadi 350 MW. Juga direncanakan sebuah Pusat Listrik Tenaga Pasang Surut sebesar
2176 MW di Bay of Fundy, Kanada, antara tahun 1980 dan 1990. Sebuah studi
Argentina mempelajari kemungkinan pembangunan sebuah instalasi pasang surut
dengan daya terpasang 600 MW di Golfo San Matias, dan Golfo Neuvo dekat
Semenanjung Valdes di pantai Atlantik.
Pasang surut di pantai Barat Laut Australia mencapai tinggi 11 meter, dan menurut
keterangan, mempunyai potensi teoretis sebesar 300.000 MW.
India mempertimbangkan pembangunan sebuah instalasi pasang surut di Ranu,
Kutsch. Amerika Serikat mempelajari pemanfaatan tenaga pasang surut setinggi 5,5
meter di Bay of Fundy, Maine Timur, yang mempunyai potensi sebesar 1800 MW,
naniun dianggap tidak begitu ekonomis.
USSR mempunyai sebuah proyek percobaan di Kaslaya yang mulai beroperasi
tahun 1988. Sedangkan Inggris mempelajari kemungkinannya di Solway Firth, di Teluk
Severn.
Bilamana tinggi jatuh air, yaitu selisih antara tinggi air laut dan tinggi air waduk
pasang surut adalah H, dan debit air Q, maka besar daya yang akan dihasikan adalah Q
kali H, atau QH. Bilamana selanjutnya luas waduk pada ketinggian h adalah S(h), yaitu
S sebagai fungsi h, maka jumlah energi yang dibangkitkan dengan mengosongkan
sebagian dh dan ketinggian h adalah berbanding lurus dengan isi S(h).h.dh.
Dengan demikian maka energi yang dihasilkan per sildus berbanding lurus dengan:

Waktu mengosongkan waduk:

Waktu mengisi waduk:


0

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 42


Dalani hal liii diasumsikan bahwa pengisian atau pengosongan waduk dilakukan pada
pergantian pasang dan sumt, untuk mendapatkan penyederbanaan minus.
Dengan deniikian maka energi yang dibangkitkan per sildus berjumlah:

di mana E = Energi yang dibangkitkan per sildus;


H = Selisih tinggi permukaan air laut antara pasang surut;
V = Volume waduk pasang surut.
Dengan memperhatikan bahwa untuk mendapatkan besaran energi, pada minus
di atas besaran V masih penlu diganti dengan bcsaran massa air laut, sehingga dapat
ditulis:
Emaks = b.g.H2.S
dan P = f.Q.H
di mana: Emaks = jumlah energi yang maksimal dapat diperoleh per sildus;
b = berat jenis air laut;
g = gravitasi;
H = tinggi pasang sumut terbesar;
S = luas waduk rata-rata antara pasang dan surut;
Q = debit air;
f = faktor efisiensi;
P = daya.
Oleh karena besaran H terdapat dalam pangkat dua, maka tinggi pasang surut ini
sangat penting. Pada umumnya H yang kurang dan dua meter tidak diperhatikan karena
dianggap tidak cukup memenuhi syarat.
Perkiraan mengenai potensi teoretis daya pasang sumut seluruh dunia agak
berbeda-beda. Pekeris dan Accad’ memperkirakan potensi teoretis ini sebesar 6,3.106
MW, sedangkan Hendemshott memberikan angka 2,7.106 MW. Suatu ikhtisar yang
dimumuskan oleh Jeffreys3 menganggap potensi teoretis daya pasang surut sebesar
3.106 MW sebagai yang lebih tepat.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 43


Energi Ombak dan Arus

Banyak pemilciran yang dicumahkan untuk mempelajari kemungkinan-


kemungkinan pemanfaatan energi yang tersimpan dalam ombak laut. Sebagai suatu
negara yang sejak berabad-abad mengarungi dan menguasai lautan-lautan dunia, juga
dalam bidang penelitian energi%tnbak laut, Inggris termasuk yang rnaju sekali.
Menurut Hulls4, daya yang terkandung dalam ombak mempunyai bentuk:
P = b.g.T.(H2/64).π
di mana: P = daya;
b = berat jenis air laut;
g = gravitasi;
T = periode;
H = tinggi ombak rata-rata.

Menurut pengamatan Hulls, deretan ombak yang terdapat di sekitar pantai Selandia
Baru, yang mempunyai tinggi rata-rata 1 meter (H), dan periode 9 detik (T, jarak waktu
antara dua ombak), mempunyai daya sebesar 4,3 kW per meter panjang ombak.
Sedangkan deretan ombak serupa dengan tinggi 2 meter mempunyai daya 17 kW per
meter dan yang dengan tinggi 3 meter daya sebesar 39 kW per meter panjang ombak.
Sedangkan ombak dengan ketinggian 10 meter dan periode 12 detik mempunyai daya
600 kW per meter.
Sir Christopher Cockerell5 mendisain sebuah rakit, yang terdiri atas tiga ponton.
Gambar 3.10 memperlihatkan gagasan ini secara skematis. Ponton-ponton A, B dan C
sating bersambung melalui suatu engsel. Bilamana rakit ini diletakkan di atas air, maka
disebabkan ombak air, ketiga ponton itu akan bergerak seputar suinbu engsel.
Melalui suatu sistem transmisi, secara hidrolik atau melalui roda-roda gigi,
gerakan-gerakan seputar engsel itu dapat menjalankan suatu generator yang
membangkitkan tenaga listrik. Menurut perhitungan yang dibuat para ahli, suatu deretan
rakit Sepanjang 1.000 kin, akan dapat membangkitkan tenaga listrik yang setaraf
dengan 25.000 MW. Atau rata-rata 25 MW per km rakit.Dengan sendirinya juga
tergantung daripada laut yang dipilih, karena laut ada yang lebih tenang, ada yang lebib
bergelora.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 44


Gambar 3.10. Skema Rakit Ombak Laut.

Suatu disain lain, buah pikiran dua orang Amerika, berlandaskan pengalaman
para pelaut, bahwa bila ada sebuah pulau kecil di tengah laut, maka merupakan
kenyataan, bahwa ombak-ombak itu, bila mendekati pulau tersebut, akan memutar
mengeliingi pulau itu. Dalam disain itu Wirt dan Morrow membuat suatu atol
bendungan (dam-atol) berupa sebuah bangunan bawah air berbentuk kubah, bergaris
tengah lebili kurang 80 meter, yang dapat dimanfaatkan efek sebuah atol.
Gelombang laut akan memecah di atas kubah itu, membentuk spiral alamiah,
dan mendorong serta menggerakkan suatu deretan daun sudu baling-baling di tengah
bangunan itu, yang pada gilirannya menjalankan sebuah generator. Menurut
perhitungan, sebuah atol bendungan demikian akan dapat menghasilkan antara satu dan
dua MW listrik
Dalam lautan terdapat pula arus-arus yang kuat, dengan air laut yang berpindah
sampai sejauh sam atau dua ribu kilometer, dengan kecepatan dan pada ketinggian yang
berbeda-bèda. Dapat terjadi bahwa pada permukaan laut, air mengalir dengan
kecepatan1-2 km sejam, sedangkan seratus meter di bawahnya air mengalir dengan
kecepatan 3-4 km dengan arah yang berlainan. Gaya-gaya ini dapat dimanfaatkan untuk
membangkitkan tenaga listrik dengan mempergunakan roda-roda air yang besar, baik
pada permukaan laut, maupun di bawahnya.
Gagasan ini secara kecil-kecilan dilaksanakan oleh dua pemuda Indonesia, yang
membuat sebuah roda air yang terapung pada dua buah ponton. Ponton itu diapungkan
di tengah sungai dan diikat dengan seutas tali. Percobaan yang dilakukan di Bengawan
Solo itu menghasilkan 400 watt tenaga listrik.
BPPT merencanakan untuk membuat PLTO (Pusat Listnik Tenaga Ombak)
pertama di Indonesia, dengan daya terpasang 5 MW, di pantai Gunung Kidul,
Yogyakarta.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 45


Energi ombak laut dapat pula dimanfaatkan dengan prinsip Piezoelectric Polymer,
sejenis plastik yang menghasilkan listrik bila direntangkan, yang dikembangkan di
Amerika Serikat oleh Ocean Power Technologies.

ENERGI AIR KANDUNGAN TERMIS

Energi Panas Laut

Lautan, yang meliputi dua per tiga luas permukaan bumi, menerima panas yang
berasal dari penyinaran matahari. Selain daripada itu, air lautan juga menerima panas
yang berasal dan panas bumi yaitu magma, yang tertetak di bawah dasar laut. Energi
termal ini dapat dimanfaatkan dengan mengkonversinya menjadi energi listrik dengan
suatu teknologi yang disebut Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), atau
Konversi Energi Panas Laut (KEPL) bila dipakai istilah Indonesia.
Suatu jumlah energi yang besar yang diserap oleh lautan dalam bentuk panas yang
berasal dari penyinaran matahani dan yang berasal dari magma yang tertetak di bawah
dasar laut. Suhu permukaan air laut di sekitar ganis khatulistiwa berkisar antara 25
sanipai 30’C. Di bawah permukaan air, suhu ini menurun dan mencapai 5 sampai 7’C
sepanjang tahun pada kedataman tebih kurang 500 meter.
Selisih suhu ini dapat dimanfaatkan untuk menjalankan mesin penggerak berdasar
prinsip termodinarnilca, dan dengan mempergunakan suatu zat kerja yang mempunyai
titik mendidih yang rendah; pada dasarnya mesin penggerak ini dapat digunakan untuk
pembangkitan listrik. Gas Fron R-22 (CHCLF2), Amonia (NH3) dan gas Propan (C3H6)
mempunyai titik mendidih yang sangat rendah, yaitu antara -30 sampai -500C pada
tekanan atmosferik, dan +300C pada tekanan antara 10 dan 12,5 kg/cm2. Gas-gas inilah
yang prospektif untuk digunakan zat kerja pada konversi panas laut.
Dalam Gambar 3.11 terlihat skema prinnsip konversi energi panas laut menjadi
energi listrik. Air hangat, dengan suhu antara 25 dan 300C dibawa ke evaporator. Bahan
zat kerja, misalnya Fron R-22, yang berada dalam bentuk cain, dipanaskan oteh air
hangat ini, mendidih, dan kemudian menguap menjadi gas dengan tekanan sekitar 12
kg/cm2. Gas dengan tekanan ini dibawa ke turbin, yang menggerakkan sebuah
generator. Gas yang tetah dipakai, setetah meninggatkan turbin, didinginkan datam
kondensor oleh air laut dingin, yang mempunyai suhu sekitar 5-7’C, sehingga Fron R-

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 46


22 kembali menjadi cair. Siklus berulang setelah Fron R-22 yang cair ini dipompa
kembali ke dalam evaporator.

Gambar 3.11. Skema Prinsip Konversi Energi Panas Laut (KEPL).

Dengan dernikian terdapat suatu siklus dan medium, dalam hal ini Fron R-22, dari
keadaan cair menjadi gas, kembali menjadi cair, dan seterusnya.
Gambar 3.12(a) mempertihatkan skema suatu pusat listnik KEPL yang terletak di
danat, yaitu di tepi pantai. Tampak menonjot pipa pengambil air dingin, yang
merupakan komponen yang penting. Dari Gambar tersebut juga dapat disimpulkan,
bahwa gradien turun pantai harus curam. Bila tidak, maka pipa menjadi terlampau
panjang, untuk dapat mencapai kedalaman 600 meter. dalam hal demikian, maka
kemungkinan lain, adalah pusat tistnik KEPL terapung, sebagaimana tenlukis pada
Gambar 3.12(b), yang akan memertukan kabel laut untuk penyaluran energi tistnik.
Gagasan untuk memanfaatkan panas lautan bukan suatu ide baru. Menurut titeratur,
Georges Claude, seorang Prancis merupakan orang yang pertama kali mengadakan
penetitian datam bidang in’.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 47


Gambar 3.12. Pusat Listrik Konversi Energi Panas Laut (a) di Pantai, (b) di Laut.

Percobaan pertama dilakukan secara kecil-kecilan di Teluk Matanza, Kuba,


dalam tahun 1929. Proyek itu telah hancur dilanda angin topan, sehingga pipa besi
menjadi rusak. Sebuah percobaan yang lebih besar dilakukan dalam tahun 1934 di
Brasil. Di Amerika Serikat, sejak tahun 1964 perhatian terhadap panas lautan meningkat
dengan berbagai penelitian di Teluk Meksiko dan di Kepulauan Hawai. Diperkirakan
sebuah pusat listrik KEPL sebesar 2 x 100 MW akan dibangun di Hawai.
Salah sam perusahaan Jepang yang mengadakan penelitian dalam bidang
konversi energi panas laut adalah TEPSCO (Tokyo Electric Power Services Company).
Perusahaan ini merencanakan akan membuat suatu pusat listrik percobaan sebesar 100
kW di pantai Pulau Nauru, sebuah pulau di Lautan Pasifik. Zat kerja yang dipakai
adalah Fron R-22. Menurut perkiraan Tepsco, besaran unit yang secara komersial balk
adalah suatu pusat listrik dari 10.000 kW, terdiri atas empat unit dari 2.500 kW. Harga
satuan untuk ukuran demikian diperkirakan 1k 0,5 juta Yen/kW, atau lebih-kurang US$
2.000 per kW, nilai tahun 1980. Di Indonesia (BPPT) terdapat pula pemikiran untuk
membuat suatu proyek KEPL, yaitu di Bali.

2.2.5. Energi Angin

Umum
Energi angin telah lama dikenal dan dimanfaatkan manusia. Perahu-perahu layar
menggunakan energi ini untuk melewati perairan sudah lama sekali. Pasukan-pasukan
Viking yang sangat ditakuti sekian ratus tahun yang lalu mempergunakan kapal-kapal
layar kecil untuk menelusuri pantai-pantai Eropa dan Skandinavia. Christopher

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 48


Columbus masih memakai kapal layar besar di Abad ke-15 untuk menemukan Benua
America.
.

A modern horizontal axis wind turbine, A vertical axis wind turbine


Denmark

Ditemukan kincir angin telah digunakan untuk menggiling tepung di Persia pada
Abad ke-7. Sungguhpun bentuk kincir-kincir angin ini berlainan dengan kincir-kincir
angin Eropa, kincir-kincir angin Persia itu merupakan asal-muasal kipas angin Eropa.
Kincir angin di Negeri Belanda yang dipakai untuk menggerakkan pompa irigasi dan
untuk menggiling tepung hingga kini masih tersohor, walaupun pada saat ini hanya
berfungsi sebagai objek paniwisata. Akan tetapi, dalam rangka mencari bentuk-bentuk
sumber energi yang bersih dan terbarukan kembali energi angin mendapat perhatian
yang besar
Sebagaimana diketahui, pada asasnya angin terjadi karena ada perbedaan suhu
antara udara panas dan udara dingin. Di daerah khatulistiwa yang panas, udaranya
menjadi panas, mengembang dan menjadi ringan, naik ke atas dan bergerak ke daerah
yang lebih dingin niisalnya daerah kutub. Sebaliknya di daerah kutub yang dingin,

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 49


udaranya menjadi dingin dan turun ke bawah. Dengan demilcian terjadi suatu
perputaran udara, berupa perpindahan udara dan Kutub Utara ke Ganis Khatulistiwa
menyusuri permukaan bumi, dan sebaliknya, suatu perpindahan udara dan Ganis Kha-
tulistiwa kembali ke Kutub Utara, melalui lapisan udara yang lebih tinggi. Perpindahan
udara seperti ini dilcenal sebagai angin pasat.
Gambar 5.1 mencoba melukiskan terjadinya angin pasat ini secara skematilc.
Dengan sendirinya hal yang serupa terjadi pula antara wilayah Khatulistiwa dan Kutub
Selatan. Selain angin pasat terdapat pula angin-angin lain, misalnya angin musim (angin
mousson), angin pantai dan angin lokal lainnya. Prinsipnya adalah bahwa angin terjadi
karena adanya perbedaan suhu udara di beberapa tempat di muka bumi.

Gambar 5.1. Skema Terjadinya Angin.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 50


The Altamont Pass, California wind farm in the USA

Wind turbines, India

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 51


An offshore wind farm in Denmark

RUMUS

Sebagaimana diketahui menurut fisika klasik energi kinetik dan sebuah benda
dengan massa m dan kecepatan v adalah E = 0,5 mv2, dengan ketentuan, kecepatan v
tidak mendekati kecepatan cahaya. Rumus itu berlaku juga untuk angin, yang
merupakan udara yang bergerak.
Sehingga E = 0,5 m.v2
dengan E = Energi (joule);
m = massa udara (kg);
v = kecepatan angin (mldetik).
Bilamana suatu “blok” udara, yang mempunyai penampang A m2, dan bergerak dengan
kecepatan v m/detik, maka jumlah massa, yang melewati sesuatu tempat adalah:
m = A.v.q (kg/det)
dengan A = penampang (m2)
v = kecepatan (m/det);
q = kepadatan udara (kg/rn3);
Dengan demikian maka energi yang dapat dihasilkan per satuan waktu adalah:
P = E per satuan waktu
= 0,5 q.A.V3 per satuan waktu
dengan P = daya (W);
F = energi (J);
q = kepadatan udara (kg/rn3);
Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 52
A = penampang (in2);
v = kecepatan (mldet).
Untuk keperluan praktis sering dipakai rumus pendekatan berikut:
P = k.A.v3
dengan P = daya (kW);
k = suatu konstanta (l,37.10~);
A = luas sudu kipas (in2);
v = kecepatan angin (km/jam).
Walaupun dalam ruinus di atas besaran-besaran k dan A digambarkan sebagai
konstanta-konstanta, pada asasnya dalam besaran k tercermin pula faktor-faktor seperti
geseran dan efisiensi sistem, yang mungkin juga tergantung dan kecepatan angin v.
Sedangkan luas A tergantung pula misalnya dan bentuk sudu, yang juga dapat berubali
dengan besaran v. Oleh karena itu untuk suatu kipas angin tertentu, besaran-besaran k
dan A dapat dianggap konstan hanya dalam suatu janak capai angin terbatas.
Untuk keperluan-keperluan estimasi sementara yang sangat kasar, sering dipakai
rumus sederhana berikut:
p = 0,1.v3
dengan p = daya per satuan luas, Win2
v kecepatan angin, m/detik.
t
Rumus yang dikembangkan oleh Golding berbentuk:
P = k.F.A.E.v3
dengan P = daya (kW);
k = suatu konstanta = 1,37.10-5
F = suatu faktor = 0,5926; yang merupakan bagian dari angin, yang dapat
secara maksimal dimanfaatkan dengan sebuah kipas dari tenaga angin.
A = penampang anus angin, (in2);
E = efisiensi rotor dan peralatan lainnya;
v = kecepatan angin, (km/jam).
Gaya-gaya angin yang berkerja pada sudu-sudu kincir pada asasnya terdiri atas tiga
komponen yaitu:
• Gaya aksial a, yang mempunya arah sania dengan angm. Gaya ini hams ditampung
oleh poros dan bantalan.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 53


• Gaya sentrifugal s, yang memnggalkan titik tengah. BiIa kipas bentuknya simetrik,
semua gaya sentrifugal S akan saling n~niadakan atau resultantenya sania dengan
nol.
• Gaya tangensial t, yang menghasilkan momen, bekeija tegak luins pada radius dan
yang mempakan gaya produktif.
Gambar 5.2 memperlihatkan sebuah kincir yang mempunyai tiga sudu dengan gaya-
gaya a, t dan s yang bekerja pada daundaun sudu itu.

Gambar 5.2. Gaya-gaya yang Beketja Atas Sudu-Sudu Kincir Angin.

Untuk bentuk kincir menurut Gambar 5.2, besar gaya-gaya itu dapat
dihitung dengan rumus-rumus empiris sebagai berikut:
a = 0,00142 v 2 R 2 dalam kg
RP
s = 367 dalam kg, dan
v1v

W v2v2
t = 0.00219 dalam kg m
R1

dengan P = daya kW;


R = radius daun motor, m
R1 = radius hingga titik berat daun; m
v = kecepatan angin, km/jam
W = berat daun, kg;
Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 54
v1= kecepatan relatif ujung sudu terhadap v;
v2= kecepatan relatif titik berat sudu terhadap v;
a = gaya aksial, kg;
s = gaya sentrifugal, kg;
t = nonen tangensial, kgin.

BEBERAPA DATA
Tabel kecepatan angin di beberapa kota di Indonesia (km/jam)

Tabel 5.2. Kecepatan Angin di Jakarta 1965—1970

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 55


Rata-rata Maksimum
Bulan
Arah (km/jam) (km/jam) Tahun
Januari BL 5,8 47 1965
Februari BL 6,1 43 1966
Maret BL 5,4 36 1970
April T 5,4 41 1965
Mei T 5,8 41 1965
Jum T 5,8 41 1965
lull T 6,5 36 1966
Agustus T 6,1 36 1966
September U 6,5 43 1967
Oktober U 6,5 50 1969
November U 5,4 49 1967
Desember BL 5,4 50 1970
Rata-rata tahunan T 5,8 50 1970
Swnber: Pusat Meteorologi dan Geofisika, Jakarta
Catatan: Bl = Barat Laut, T = Timur, U = Utara.

Diktat E&DKEE - Andi Pawawoi, MT Halaman 56