Anda di halaman 1dari 12

Unggul Handal Terdepan

Media Informasi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H Izin terbit : SK Dekan No 28 Tahun 2011 www.fsh-uinjkt.net

INTEGRASI KEILMUAN

MODEL BARU

catatan redaksi

City Upon The Hill

Kaitan Halal Bi Halal dengan Ibadah Haji


Manakala diantara kamu sekalian ada yang hendak bepergian (jauh dan

April 1630 adalah hari bersejarah bagi Bangsa Amerika saat John Winthrop mendarat untuk pertama kalinya di teluk Massachuset, setelah mengarungi samudra atlantik untuk bermigrasi ke land of opportunity, di detik-detik itu, John Winthrop, seorang puritan yang meninggalkan tanah kelahirannya di Inggris, mencetuskan sebuah kalimat yang sangat menginspirasi hingga saat ini, we must consider that we shall be as a city upon a hill. The eyes of all people are upon us Artinya kurang lebih, kita harus mempertimbangkan bahwa kita akan menjadi sebuah kota di atas bukit, yang mana semua mata akan tertuju pada kita. Well, sebuah kalimat yang mungkin terdengar ambisius bagi sebuah komunitas yang baru pada tahun itu, tapi justru keyakinan itulah yang mendorong para imigran ini, menciptakan bangsa baru, Amerika Serikat yang hingga kini menjadi kiblat percontohan dunia. So what connects the dot, azam FSH untuk menjadi kiblat bagi fakultas-fakultas syariah dan hukum di Indonesia, Asia Tenggara dan Dunia, pada saat ini bisa jadi sebuah mimpi di siang bolong, tapi tunggu satu dua abad lagi, azam ini bisa jadi sebuah kenyataan. Tak terkecuali bagi UIN yang juga tengah mencanangkan menjadi kiblat kajian keislaman keindonesiaan, dengan usaha bersama dan keyakinan yang kuat dari masing-masing sivitasnya, insyaallah, satu abad dari sekarang, UIN akan menjadi kiblat kajian keislaman dunia. As a note, ada teori challenge and response, semakin besar tantangan jikalau dibarengi penerimaan yang baik, akan menciptakan kebudayaan yang maju, tapi jikalau challenge-nya besar tapi response-nya buruk, akan membawa kebudayaan itu jatuh ke jurang kegagalan. Now back to our response, apakah kita hanya diam atau bangkit mewujudkan mimpi-mimpi besar para pendahulu kita.

lama) maka hendaklah memberi tahu tetangga (kanan dan kiri) (AlHadis)

Saumi Rizqiyanto
Managing Editor Warta Syariah
SK Dekan No 28 Tahun 2011 Terbit sejak April 2009 Diterbitkan Oleh Pusat Data dan Informasi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

da tradisi masyarakat Indonesia yang selama ini selalu dilakukan saat ramadhan berakhir, atau lebih tepatnya pada bulan syawal. Berbagai institusi baik formal maupun non formal selalu melakukan kegiatan ini dan bahkan sudah menjadi bagian integral dari perayaan idul fitri itu sendiri. Tradisi yang kemudian dikenal dengan nama halal bi halal ini sepertinya sudah mengakar, masyarakat menggelar hajatan, makan siang atau makan malam lalu diikuti dengan acara salam-salaman, halal-halalan. Tapi siapa yang menyangka bahwa tradisi halal bi halal ini ternyata dulunya ditujukan untuk orang yang ingin berhaji. Dalam sebuah acara halal bi halal yang digelar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada kamis, 15 Agustus lalu. Ada sebuah cerita unik terlontar dari Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Prof. Dr. H Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM. Bahwa pada asal muasalnya tradisi halal bi halal dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang akan melaksanakan ibadah haji. Mereka mengundang tetangga dan sanak saudara yang jauh untuk merayakan dan menyampaikan kabar bahagia bahwa keluarganya akan melakukan ibadah haji. Hanya saja perayaan halal bi halal ini tidak dilakukan mendadak pada saat keberangkatan haji. Konon perayaan ini dilakukan dua bulan sebelum keberangkatan. Pasalnya pada zaman dahulu, sebelum pesawat ditemukan, masyarakat hindia belanda menggunakan kapal laut untuk bisa mencapai tanah suci dan itu akan memakan waktu setidaknya satu hingga dua bulan. Oleh karenanya penyelenggaraan halal bi halal dilakukan tepat dua bulan menjelang keberangkatan yang kebetulan jatuh pada bulan syawal. Lalu lambat laun entah mengapa tradisi yang tadinya hanya akan dilakukan bagi orang-orang yang akan berhaji mendadak menjadi sebuah tradisi bulan syawal yang dilakukan oleh banyak orang. Pada penjelasan yang sama, Dekan FSH ini menegaskan sejatinya tradisi mengundang orang yang akan melakukan haji ini selaras dan sejalan dengan hadis nabi yang mengatakan apabila kamu hendak bepergian jauh falyulin yang kurang lebih bermakna bahwa jika kita ingin melakukan perjalanan jauh semisal haji maka undang-undanglah tetangga, untuk bermaaf-maafan, hal ini dimaksudkan agar ketika dalam perjalanan jauh terjadi sebuah kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan maka, dosa dan kesalahannya dengan manusia lain sudah dimaafkan.[]

Pengarah Prof. Dr. HM Amin Suma, MA, MM Dewan Redaksi Dr. Ahmad Mukri Adji, MA, Dr. Phil JM Muslimin MA, Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, MH, Pemimpin Redaksi Nurrochim, LLM Redaktur Pelaksana Savmi Rizqiyanto, Redaktur Mara Sutan Rambe SHI, Indra Rahmatullah SHI, Ahmad Mashudi, SKom Desain dan Tata Letak Tim Kreatif Warta Syariah Alamat Redaksi Ruang Pusdatin Lt 5 FSH UIN Jakarta Jln. Ir. H. Juanda No 95 Ciputat Jakarta Selatan 15412 Telp/Fax. 021-74711537/7491821 Email wartasyariah_fshuinjkt@yahoo.com follow warta syariah on twitter @wartasyariah.

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Alexander, SSos, Dr. Syahrul Adam, JM Muslimin, MA, Ph.D dan para warga dalam acara Penyuluhan Desa Binaan Pondok Cabe Ilir. Selain Penyuluhan, Tim Panitia FSH juga membagikan sedekah kepada para warga.

PEKAN ILMIAH DAN AMALIAH RAMADHAN

Sepekan Berbagi Ilmu dan Mengabdi


menjabarkan beberapa desa binaan yang sebelumnya pernah diasuh oleh fakultas yaitu diantaranya Kelurahan Cisauk, Kelurahan Pondok Ranji, dan Kedaung. Kali ini giliran kelurahan pondok cabe yang menjadi desa binaan. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai pemilihan desan binaan di pondok cabe, beliau mengatakan sebenarnya semua bisa, hanya pondok cabe dipilih karena kemudahan akses komunikasi yang mudah didapat. Berdasarkan pantauan editor, masyarakat cukup antusias pada penyelenggaraan PIAR (Pekan Ilmiah dan Amaliah Ramadhan) terbukti dengan banyaknya ibu-ibu, - terhitung lebih dari 202 peserta dan para remaja yang mengikuti penyuluhan. Fakultas, dalam hal ini diwakili oleh Syahrul Adam, berharap bahwa pelaksanaan PIAR di tahun mendatang semakin baik dan semakif massif, demikian juga dengan kegiatan pengabdian pada masyarakat, karena menurut beliau, pengabdian pada masyarakat ini merupakan dharma perguruan tinggi yang harus dilaksanakan. Demikian pungkas Syahrul Adam. [] 3

KEGIATAN rutin hendaknya diselenggarakan dengan model dan pendekatan yang berbeda sehingga masyarakat luas yang cenderung cepat bosan, kembali antusias karena ada formula baru yang ditawarkan. Demikian apa yang tersirat dari keinginan jajaran pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum dalam rangka ikut menyemarakkan datangnya bulan suci ramadhan pada bulan juli yang lalu. Kegiatan yang biasanya diisi dengan ceramah, shalat berjamaah dan buka puasa bersama, disulap menjadi kegiatan bernama Pekan Ilmiah dan Amaliah Ramadhan.

alu formula baru apakah yang ditawarkan pada rangkaian kegiatan ini. Menurut penuturan Dr. Syahrul Adam, MA selaku ketua panitia Pekan Ilmiah dan Amaliah Ramadhan menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini berbeda karena kegiatannya memadukan unsur ilmiah dan amaliyah secara bersama-sama. Dari segi ilmiah, Fakultas Syariah dan Hukum menggelar serial seminar guru besar dan doktor disertai dengan seminar IAEI komisariat UIN. Sedangkan dari segi amaliah, FSH melakukan pengabdian masyarakat dengan melakukan penyuluhan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah di desa binaan Pondok Cabe dan Pemberian santunan bagi 200 mustahik bagi Masyarakat. Khusus untuk kegiatan amaliah, Dr.

Syahrul Adam yang juga menjabat sebagai ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat menuturkan Fakultas bekerja sama dengan YBM BRI, Masjid AlIkhlas JDC dan Bank Permata Syariah turut membantu masyarakat di desa binaan dalam bentuk hibah alquran kepada masyarakat dan pemberian santunan kepada anak yatim piatu. Tujuannya tidak lain adalah berbagi kegembiraan dengan mereka yang kurang beruntung. kalau yang dulu di desa binaan lain, kita biasanya melakukan pemberian hewan qurban, pemberian keranda jenazah dsb, nah karena pengabdian ini bertepatan dengan bulan ramadhan, maka bentuknya ya pengajian, pemberian alquran dan santunan kepada anak yatim piatu tutur dosen fakultas syariah tersebut. Lebih jauh bapak dua anak ini

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Gaya Baru Integrasi Keilmuan


CITA UIN sebagai institusi pendidikan yang memadukan ilmu agama dengan ilmu umum terkadang menjadi buah bibir, karena memiliki landasan niat mulia berbekal amanat agama, namun tak ayal niatan itu juga dicemooh lantaran belum ada role model pengembangan integrasi keilmuan yang terjadi di institusi pendidikan dunia manapun. Rumpun keilmuan maupun tradisi ilmiah yang selama ini berkelindan di banyak tempat, tetap sama, ilmu sains, ilmu social, ilmu teknik, humaniora dan agama tetap berjalan sendiri-sendiri.

ransformasi IAIN ke UIN yang diharapkan bisa membuat laju integrasi keilmuan semakin terpola dengan baik nyatanya pernah disangsikan oleh Prof. Dr. Nurcholish Madjid yang komentarnya kala itu sempat membuat hati miris. Bahwa perubahan IAIN ke UIN bakalan membuat ilmu agama, yang ditentukan oleh banyaknya permintaan pasar, pada akhirnya tersingkir pada kompetisi peminatan. Lalu adakah model integrasi keilmuan baru yang diterapkan oleh UIN. Baru-baru ini, Fakultas Syariah dan Hukum sebagai bagian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merintis sebuah pattern baru integrasi keilmuan yang diharapkan mampu menjadi model baru paduan ilmiah di lingkungan Universitas Islam Negeri Jakarta itu sendiri. Berbentuk sebuah serial seminar dengan mengundang berbagai pakar di bidangnya, terjadilah debat akademis, berbagi ilmu pengetahuan dari beragam sudut pandang, yang akhir dari pada kegiatan ini adalah menghasilkan karya ilmiah integratif. Menurut Dekan Fakultas Syariah 4

dan Hukum Prof. Dr. HM Amin Suma, SH, MA, MM, kegiatan serial seminar ini setidaknya dilandasi oleh beberapa hal, yang pertama serial seminar ini diinspirasi oleh kegiatan konsorsium keilmuan yang dulu pernah diselenggarakan pada saat Prof. Dr. Harun Nasution menjabat Rektor IAIN. Kala itu, IAIN selain memiliki fakultas juga memiliki konsorsium, misalnya konsorsium ilmu fiqih, yang anggotanya tidak hanya dosen-dosen dari fakultas syariah, tapi juga dosen-dosen dari fakultas tarbiyah, fakultas adab, fakultas ushuluddin dan fakultas dakwah yang memiliki kompetensi ilmu fiqih juga turut bergabung. Bahkan lebih jauh, Prof. Amin Suma, menjelaskan jikalau dulu konsorsium ini tidak hanya mengikutsertakan dosendosen IAIN, bahkan sempat melibatkan dosen-dosen dari tiga universitas negeri milik pemerintah, yakni IKIP Jakarta dan Universitas Indonesia. Keikutsertaan tiga universitas ini biasanya melibatkan LIPI karena mengikuti standar keilmuan yang diterapkan LIPI pada waktu itu, tutur pakar tafsir ahkam ini. Bentuk daripada serial seminar ini

sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep konsorsium itu tadi, sejauh pengamatan editor, fakultas syariah memfasilitasi para pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk kemudian bertukar pikiran dan berdiskusi. Sampai sejauh ini sudah tiga kali serial seminar ini diselenggarakan, yang pertama selain tuan rumah, Prof. Dr. Amin Suma, seminar yang pertama kali diselenggarakan dan diresmikan pada saat ulang tahun ke 46 FSH itu mengundang juga Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo. Pada seminar selanjutnya beruturut-turut mengundang Prof. Dr. Atho Mudzhar (Pakar Hukum Islam) Prof. Dr. HM Ridwan Lubis (Pakar Pemikiran Islam), Prof. Dr. MK Tajuddin (Pakar Kedokteran) dan Prof. Dr. Mirzan Thabrani Razak (Pakar Fisika). Harapan dari diselenggarakannya serial seminar ini menurut panitia penyelenggara adalah ingin agar cita-cita UIN untuk melangsungkan integrasi keilmuan bisa tercapai, minimal dalam spektrum yang lebih kecil. Tujuannya tentu agar mampu menginspirasi ke khalayak yang lebih luas yakni seluruh civitas akademik UIN. []

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Mengenai belum ada model ideal, berarti selama ini integrasi keilmuan di UIN itu belum Ideal? Rata-rata pakar berpendapat seperti itu, baru disandingkan bidang-bidang ilmu ini, belum benar-benar di integrasikan kayak apa, jadi ibarat kue, adonan atau bahan bakunya kita sudah ada, tinggal bagaimana membumbuinya seperti apa, ini yang kita katakan belum punya model, karena selain jarang apalagi diangkat secara serius, juga masalahnya masih terpencar-pencar pendapat individu-individu yang muncul. Belum ada pendapat kolektif yang dimunculkan, nah FSH ini ingin mencoba minimal untuk fakultas ini sendiri yang syukur-syukur akan memberikan sumbangsih untuk universitas. Pembaca ingin tahu mengenai modal UIN ini apa selain mempunyai Fakultas dan Guru besar yang banyak, adakah modal yang lain? Kita mempunyai modal yang luar bi-

perserta hadir sekitar diatas duapuluhan itu artinya merupakan cikal bakal yang memberikan spirit tersendiri bagi kegiatan-kegiatan berikutnya. Karena sejak seminar digelar sebulan sekali, alhamdulilah rutin peserta hadir dan alhamdulilah di luar dugaan antusiasme peserta yang ditandai dengan nyaris selama tiga kali di gelar tidak ada yang berhentinya dari yang di jadwalkan dari jam 15.30 sampai 17.00 cukup satu setengah jam,tapi praktis sampai maghrib. Padahal saya kira dua setengah jam waktu yang sangat panjang tapi semangatnya sangat luar biasa hal ini menggembirakan kita, terlepas dari kekurangan dan keterbatan yang ada yang pasti secara umum, merasakan nikmatnya bermudzakarah sehingga ungkapan hayatul ilmu bilmudzakarah ilmu itu akan hidup dan berkembang lewat mudzakarah itu dirasakan oleh peserta dengan gonta ganti pemakalahnya Dari beragam makalah yang disajikan oleh para pembicara, itu nantinya akan di jadikan apa? Rencananya akan dibukukan insyaalloh, mudah-mudahan tema-tema ini akan relatif menarik dikemas sedemikian rupa lalu menghasilkan karya nyata supaya dapat dinikmati oleh dosen dan mahasiswa dalam hal ini civitas akademika. Apa tujuan yang ingin di capai dari serial seminar ini? Tentu saja dalam kerangka saling memberi dan menerima ilmu pengetahuan karena yakin tidak ada satu ilmuan pun yang mampu menguasai semua bidang ilmu. Dari sini ada saling take and give terutama antara para ahli-ahli agama dengan para ahli sains dan tekhnologi, serta ilmu budaya yang lainnya. Ingin juga nantinya memetakan dengan jelas ontologi keilmuan, estimologi dan sekaligus aksiologisnya jadi antara ontologi, estimologi dan aksiolognya ini menjadi duduk secara konkret dan kemudian terus terang dikehendaki ada semacam kesenyawaan dalam mengembangkan visi misi keilmuan di UIN ini. Terutama dalam konteks keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan serta keduniaan. Jadi memiliki tanggung jawab bersama bahwa ilmu-ilmu keislaman itu bukan menjadi tangung jawab orang-orang atau fakultas-fakultas tertentu tetapi semuanya bertanggung jawab dalam mengembangkan visi misi UIN umumnya dan fakultas pada khususnya. [] 5

Merindukan Wujud Integrasi Ilmu Yang Ideal


Terinspirasi oleh CITA UIN untuk mampu memadukan ilmu umum dan ilmu agama, Fakultas Syariah dan Hukum menggelar rangkaian serial seminar untuk menggalakkan kembali diskusi ilmiah yang dulu pernah sempat bergulir di era Prof. Dr. Harun Nasution. Warta Syariah mengulas lebih dalam melalui perbincangan eksklusif dengan Dekan FSH, Prof. Dr. HM Amin Suma, SH, MA, MM, berikut petikannya: Apa yang mendasari fakultas menggelar serial seminar ini ? Terus terang saya dan kawan kawan merindukan geliat kegiatan ilmiah. Pada saat UIN masih IAIN itu memiliki kegiatan ilmiah akademik yang tertib dan teratur, dan juga melibatkan pakar-pakar atau ilmuan dari berbagai bidang, yang tergabung dalam konsorsium. Kebetulan saya dulu pernah menempati jabatan sekretaris konsorsium bidang ilmu-ilmu syariah. Konsorsium itu dasarnya bukan fakultas, tapi bidang ilmu. Sehingga ilmu-ilmu syariah fikih itu tidak hanya dosen syariah, tapi juga dari tarbiyah, usuludin, adab, dsb. Disisi lain kita merasa cita UIN untuk mengintegrasikan Ilmu, sebagaimana diamanatkan di masa-masa awal itu dirasa belum terlaksanakan seperti yang diharapkan. Karena itu kita di FSH ini sangat merindukan wujud integrasi ilmu yang ideal seperti apa. asa di UIN ini, ada fakultas agama, dan ada fakultas umum, ada prodi agama dan ada prodi umum itu modal dasar. Memiliki sekian banyak guru besar sekian banyak Doktor itu modal, Tentu ada modal yang lain, saya kira bahan bahan yang dibutuhkan sebenarnya sudah memadai, perpustakaan kita lumayanlah, kemudian komunikasi dengan pihak dalam maupun luar juga sudah luar biasa karena kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya karena itu modalnya. Kemudian kita memiliki spiritualitas sendiri, karena Universitas ini kan sejatinya harus menjadi imam bagi universitas-universitas lain. Sejauh ini bagaimana respon dari para peserta seminar dan para pengamat? Sejauh yang kita saksikan dan kita rasakan alhamdulilah sejak pertama kali di gelar pada tanggal 15 April 2013 sampai pertemuan ketiga 10 Juli yang lalu jumlah

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Membangun Kesepahaman Syariah Dengan Afghanistan


ADA tamu istimewa pada liburan semester lalu di Fakultas Syariah dan Hukum. Pihak Rektorat dalam hal ini diwakili oleh Dr. Jamhari membawa rombongan para dekan fakultas syariah yang ada di Afghanistan dan perwakilan dari American University of Afghanistan ke Fakultas yang menjadi jantungnya UIN ini. Kunjungan para dekan syariah di negeri yang penuh peperangan ini membawa misi ingin mengetahui sejauh mana Fakultas Syariah dan Hukum yang ada di UIN bisa berkembang pesat, mampu mengembangkan dan memadukan variable ilmu hukum dan ilmu syariah sehingga bisa compatible antara satu dan lainnya.

aksud tersebut terungkap melalui perbincangan yang hangat antara para tamu dengan pimpinan teras Fakultas Syariah dan Hukum pada Kamis, 18 July 2013 di ruang sidang fakultas syariah dan hukum. Rombongan yang terdiri dari tujuh dekan fakultas syariah di Afghanistan ini sebagaimana yang dituturkan oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Prof. Dr. HM Amin Suma, SH, MA, MM ingin bertukar fikiran dan mencari masukan tentang proses pembelajaran dan penerapan proses syariah islam di Indonesia. Oleh karenanya selain ke UIN Syarif Hidayatullah, rombongan ini juga dijadwalkan akan bertemu dengan para pimpinan organisasi keagamaan yang ada di Indonesia. Para rombongan memaparkan tentang bagaimana kurikulum yang ada di 6

universitas di Kabul, lalu sistem perkuliahan, kemudian bagaimana pengelolaan kampus disana. Ditengah-tengah perbincangan yang menarik, salah seorang dosen Fakultas Syariah dan Hukum, Dr. Euis Amalia, mempertanyakan kenapa terjadi pemisahan antara kelas laki-laki dan perempuan. Pertanyaan ini dijawab bahwa mereka memang terbiasa dengan pemisahan laki-laki dan perempuan dalam kelas yang berbeda. Latar belakang mengapa tamu Afghanistan ini memilih untuk studi banding ke UIN utamanya ke Fakultas Syariah dan Hukum, sebagaimana yang terungkap, adalah karena selain nama besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memang sudah mereka kenal sebelumnya juga karena sama-sama memiliki background Fakultas Syariah. Karena kesamaan inilah para dekan dari beber-

apa universitas di Afghanistan ini ingin mengetahui pembelajaran dan implementasi ilmu syariah yang ada di Indonesia ini. Sebagai contoh mereka terkesan dengan cara-cara khas yang dimiliki Indonesia seperti ketenangan, kesantunan dan keterbukaan dalam pembelajaran ilmu syariah di Indonesia, utamanya di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Karena seperti yang dipaparkan, dengan kondisi social yang ada di Afghanistan yang penuh dengan konflik, perkembangan ilmu syariah Indonesia yang padu tanpa menimbulkan konflik telah menarik perhatian mereka. saya kira disini tersirat ada pengakuan dari mereka bahwa Indonesia itu jauh lebih damai, jauh lebih santun, jauh lebih terbuka dan itu yang kita tangkap dari pesan-pesan mereka ketika berdialog dan di sisi lain mereka ingin bersumbangsih agar eksistensinya diakui dan bekerja sama termasuk dengan UIN jakarta ini demikian menurut Dekan Fakultas Syariah dan Hukum. Berawal dari ketertarikan inilah, mereka terkesan ingin melakukan ker-

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

DAFTAR PEJABAT STRUKTURAL FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UINSYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Dekan Pudek Bid. Akademik Pudek Bid. Administrasi Umum Pudek Bid. Kemahasiswaan dan Alumni Kabag Tata Usaha Kasubag Akademik Kasubag Umum Kasubag Keuangan dan Kepegawaian Ketua Prodi SAS Sekretaris Ketua Prodi SJS Sekretaris Ketua Prodi PMH Sekretaris Ketua Prodi MU Sekretaris Ketua Prodi Ilmu Hukum Sekretaris Ketua Program Double Degree Sekretaris Ketua Program Magister Sekretaris LEMBAGA-LEMBAGA Prof. Dr. H.M. Amin Suma, SH, MA, MM Dr. H. Mukri Aji, MA Prof. Dr. Yunasril Ali, MA Dr. H. Phil. J.M Muslimin, MA Drs. H. Sadeli Dra. Madinatul Musyarafah Alexander, SSos Dhian Sukmaningsih, SH Drs. H. Basik Djalil, SH, MA Hj. Rosdiana MA Dr. Asmawi, M.Ag Afwan Faizin, MA Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag M. Fahmi Ahmadi, MSi Dr. Euis Amalia, M.Ag Mumin Rouf, MA Dr. Djawahir Hejazziey, SH, MA Abu Thamrin, SH, MHum Dr. H. Ahmad Tholabie Kharlie, MAg Ismail Hasani, SH, MH Dr. H. Hasanuddin, MA M. Nur Rianto Al Arif, SE, MSi

ada pengakuan dari mereka bahwa pengembangan Ilmu Syariah di Indonesia itu jauh lebih damai, jauh lebih santun, jauh lebih terbuka
jasama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam dialog terungkap selain para rombongan sudah melakukan banyak MOU dengan beberapa Universitas termasuk dengan UIN, mereka ingin memperdalam kerjasama terutama dalam hal pendidikan dan pengajaran. Lebih spesifik, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum menjelaskan bahwa mereka mempersilakan mahasiswa-mahasiswa FSH UIN untuk melakukan studi di Kabul, sebaliknya juga mereka ingin mengirimkan mahasiswa-mahasiswa mereka diterima melakukan studi disini. kalau dalam kerjasama ya hampir relatif sama dengan beberapa perguruan tinggi yang lain, mereka selain ingin melakukan pertukaran mahasiswa, mereka juga ingin mengirimkan dosen-dosen mereka untuk mengajar disini, dan juga mempersilakan dosen-dosen kita untuk mengajar disana papar Prof. Amin Suma. []

NO 1

LEMBAGA DAN JABATAN P3M (Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dan Kerja Sama) Ketua P3M Sekretaris Laboratorium Ketua Lab. Sekretaris

PERSONALIA

Dr. Syahrul Adam, M.Ag. Maman Rahman Hakim, SEI, MM Dr. H. Mujar Ibnu Syarif, MA H. Abdurrauf, LC, MA Nachrowi, SH, MA Yuke Rahmawati, MA Aini Masruroh, MA

PPJM (Pusat Peningkatan Jaminan dan Mutu) Ketua PPJM Sekretaris PUSDATIN (Pusat Data dan Informasi) Kepala PUSDATIN Sekretaris

Dr. H. Supriyadi Ahmad, M.Ag Arip Purqon, MA Ah. Azharuddin Lathif, M.Ag, M H Nurrohim, Lc, LLM Savmi Rizqiyanto, SEI

PPMA (Pusat Pembinaan Mahasiswa dan Alumni) Ketua PPMA Dr. Ali Wafa, MA Sekretaris Fitria, SH, LLM PSSH (Pusat Studi Syariah dan Hukum) Ketua PSSH Sekretaris Dr. Hj. Mesraini, MAg Nur Habibie, SHI, MH

Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Ketua Kamarudiana, MA Sekretaris Irfan Khairul Umam, LLM

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Hukum Perlindungan Anak

KPAI : Perlu ada Mata Kuliah Hukum Perlindungan Anak


DI tengah maraknya human traficking dan korban kekerasan yang menimpa anak-anak, KPAI menekankan pentingnya perguruan tinggi, dalam hal ini FSH UIN Jakarta untuk bisa berperan aktif dalam mendiseminasikan perlindungan hukum kepada anak-anak. Salah satu caranya adalah dengan membuka mata kuliah hukum perlindungan anak.

emikian dikatakan oleh Dra. Badriyah Fayumi, Lc, MA ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada Seminar Nasional bertajuk Eksistensi KPAI dalam Pemberian Bantuan Hukum Kepada Anak Indonesia yang Berkeadilan, Selasa, 11 Juni 2013 di Ruang Meeting Room, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta. Dijelaskan oleh Badriyah, bahwa diseminasi ini menjadi penting tatkala kasus-kasus kekerasan terhadap anak semakin meningkat. Badriyah yang merupakan alumni Fakultas Ushuludin dan FIlsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini memaparkan bahwa 30% dari total populasi Indonesia adalah anak-anak. Sekitar 87.5 % anakanak mengalami kekerasan di sekolah, dan 76.5 % menjadi pelaku kekerasan karena pengaruh lingkungan termasuk televisi. ini adalah hasil penelitian yang memprihatinkan, belum lagi baru-baru ini muncul berita anak SLTP menjadi mucikari bagi teman-temannya, ada pula anak madrasah yang menjadi traficker di sekolahnya, ini sudah sangat diluar batas demikian tandas Badriyah. 8

Angka-angka dan kondisi yang memprihatinkan semacam ini bukan berarti KPAI dan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diam dan tidak berbuat apa-apa. Kementerian PP dan PA telah meratifikasi sejumlah perjanjian internasional dalam bentuk UU untuk menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan perlindungan anak terhadap berbagai tindak kekerasan. pemerintah telah meratifikasi Konvensi Anti Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dengan UU No 7 Tahun 1984, kita juga telah meratifikasi Konvensi Hak Anak di Geneva dengan keputusan presiden no 36 tahun 1990 ujar Menteri PP dan PA yang sedianya akan dihadiri oleh Linda Gumelar namun diwakili oleh Staf Ahli, Mudjiati, SH. Namun masalahnya adalah, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak masih mendapat dukungan dari nilai/ budaya patriarkhi dalam masyarakat tutur Mudjiati, lebih lanjut Staf Ahli Kemen PP dan PA menjelaskan pemerintah tengah memfasilitasi perencanaan dan

penganggaran yang responsif serta membangun sinergi dengan berbagai pihak terkait seperti KPAI dan perguruan tinggi. Di kesempatan yang sama, Dr. Asrorun Niam Sholeh, MA, yang merupakan komisioner KPAI turut memberikan materi terutama mengenai peran KPAI dan PTAI dalam perlindungan anak. Niam menjelaskan posisi PTAI sebagai masyarakat akademis, sekaligus juga instansi negara memiliki peranan dalam mendorong kebijakan yang menjamin pemenuhan hak agama anak. Karena menurutnya, berdasarkan data per agustus 2011. Data pengaduan anak mengenai keluarga, terutama perebutan hak asuh anak, merupakan yang tertinggi kedua setelah kekerasan anak. Perebutan Hak Asuh Anak bisa berujung pada broken home yang turut memicu tingginya kekerasan terhadap anak. Oleh karenanya, senada dengan Badriyah Fayumi, Niam Sholeh yang juga dosen di FSH mengemukakan pentingnya penguatan mata kuliah hukum keluarga islam dan hukum perlindungan anak di lingkungan PTAI agar nantinya, akan banyak sosialisasi dan penelitian yang dilakukan sarjana-sarjana PTAI khususnya FSH UIN yang secara tidak langsung turut mengurangi tindak kekerasan terhadap anak.[]

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Dr. Alimin Mesra, Dr. Ahmad Tholabie Kharlie, Ahmad Mashudi, SKom, dan Dr. Syahrul Adham (Tim Redaksi Jurnal Ahkam) Tampak Sedang Melakukan Penyortiran dan Penyuntingan Naskah.

Menggiatkan Tradisi Riset Melalui Jurnal Terakreditasi


BISA dibilang, Fakultas Syariah dan Hukum menjadi salah satu fakultas yang kini terobsesi menelurkan banyak karya ilmiah bagi para dosen. Salah satu upayanya adalah dengan memfasilitasi para dosen melalui penyediaan berkala ilmiah/jurnal terakreditasi dari Dikti Kemendikbud. Selain Jurnal AHKAMyang telah terakreditasi sejak 2011, kini Fakultas Syariah dan Hukum sedang menimbang dan mengupayakan dua jurnal lainnya: ADALAH dan AL-IQTISHAD, untuk juga memperoleh predikat akreditasi dari Dikti-Kemendikbud. Berikut ini bicang-bincang Saumi Rizqiyanto dengan Ahmad Tholabi Kharlie, salah seorang pengelola berkala ilmiah di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta. Apa sih manfaat dari terakreditasinya jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh sebuah perguruan tinggi, baik bagi institusi maupun bagi para dosen/sivitas akademika? Begini ya, proses akreditasi berkala ilmiah, yang selama ini dilakukan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, sejatinya dimaksudkan untuk memberikan standar mutu bagi suatu terbitan berkala ilmiah. Nah, dalam konteks ini dirumuskan sejumlah indikator yang menjadi tolok ukur penilaian apakah suatu terbitan ilmiah layak diberi status akreditasi atau tidak. Indikator penilaian ini tidak hanya mencakup aspek administrasi atau manajemen pengelolaan saja, tapi justru aspek substansi, mutu artikel, dan dampak penyuntingan mendapat poin tertinggi dan sangat menentukan. Jadi, keberadaan jurnal terakreditasi akan menjamin suatu publikasi karya ilmiah. Rumusnya, semakin kredibel suatu berkala ilmiah maka semakin kredibel pula hasil riset yang dimuat di dalamnya. Ini karena terkait dengan sistem dan mekanisme yang menggambarkan suatu proses yang kredibel bagi terpublikasinya suatu artikel ilmiah di sebuah berkala ilmiah. Sama dengan prodi, kalau prodinya terakreditasi, maka lulusannya pun dinilai kredibel. Ini tidak lain karena manajemen prodi yang terakreditasi baik, akan menjamin lulusan yang juga kualified. Tentu saja, keberadaan jurnal terakreditasi di suatu institusi akan berdampak positif, baik langsung atau tidak langsung, terhadap presisi institusi tersebut. Faktanya, tidak mudah mendapatkan prediket akreditasi berkala limiah, meski standar B sekalipun. Trend yang terjadi saat ini menunjukkan, pasca diberlakukannya Peraturan Dikti 2011, 9

AHKAM Jurnal Ilmu Syariah (ISSN:014124734) adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI). AHKAM Jurnal Ilmu Syariah telah TERAKREDITASI berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 81/Dikti/Kep./2011

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

ADALAH (Jurnal Ilmu Hukum) adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Asosiasi Advokat Syariah Indonesia (APSI)

AL-IQTISHAD (Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah) adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI)

berkala ilmiah terakreditasi banyak yang berguguran. Banyak institusi pendidikan ingin memiliki jurnal terakreditasi, padahal dari sisi kemampuan, seperti produktivitas menulis para dosen, sumber daya pengelola, dan insentif, boleh dibilang sangat kecil, apakah hal ini berlaku untuk fakultas Syariah dan Hukum yang ingin memiliki tiga jurnal terakreditasi? Saya kira semua institusi mampu membuat berkala ilmiahnya menjadi terakreditasi, asalkan ada komitmen, keinginan kuat, dan sungguh-sungguh mewujudkannya. Kuncinya, political will pimpinan untuk mem-backup semua kebutuhan baik materil maupun spirit bagi para pengelolanya. Saya kira, dari sisi finansial, Fakultas Syariah dan Hukum sama saja dengan fakultas atau lembaga yang lain. Hanya saja, dari sisi manajemen dan komitmen pimpinan, Fakultas Syariah dan Hukum tak perlu diragukan. Dekan dan unsur pimpinan tampaknya sangat terobsesi untuk meningkatkan status berkala ilmiah di Fakults Syariah dan Hukum. Apa yang membuat Fakultas Syariah dan Hukum yakin bahwa bisa mengakreditasi tiga jurnal? Tidak berlebihan jika kita merasa optimis. Kita punya tradisi akademik yang cukup baik, dukungan pimpinan yang sangat kuat, semangat pengelola, dan yang tak kalah pentingnya, kita sudah cukup punya pengalaman mengurus dan mengelola jurnal berstandar akreditasi. 10

Apakah tidak keteteran dalam hal administratif dan sebagainya, mengingat ketersediaan sumber daya manusia? Ya, ini bagian dari risiko pengelola. Paling tidak tidak berlebihan kalau ada orang yang bilang, hanya orang gila yang mau mengurus berkala ilmiah sesuai stadar. Bagaimana tidak, dengan insfrastruktur sangat terbatas, waktu yang terbatas, dana terbatas, reward yang terbatas, dan lain-lain, tapi harus menanggung beban profesional yang sedemikian berat dan njelimet. Sejauh ini kita selalu berprinsip bekerja untuk melahirkan kemanfaatan. Tidak ada tuntutan reward atau sejenisnya. Bagaimana dengan prosesnya itu sendiri? Suatu berkala ilmiah bisa diajukan untuk akreditasi ketika sudah menerbitkan sekurang-kurangnya enam nomor atau edisi. Jadi sekurang-kurangnya tiga tahun, kalau terbit dua kali per tahun. Dari sisi umur, Jurnal al-Iqtishad FSH telah berjalan empat tahun, jadi sudah bisa diajukan ke Dikti. Dalam pengelolaannya, kita juga melibatkan ahli dalam bidang ekonomi Syariah, tidak hanya dari kalangan internal Fakultas, tapi juga dari luar, seperti dari Universitas Indonesia, IPB, Bank Indonesia, Universiti Malaya Malaysia, Australia, dan sebagainya. Secara teknis, kita melibatkan tenagatenaga dosen muda FSH yang produktif dan lincah. Hingga saat ini, sudah seberapa jauh prosesnya? Saat ini dokumen borang akreditasi

sudah kita kirim ke Dikti. Selanjutnya Dikti akan mengundang pengelola dalam sebuah lokakarya selama tiga hari. Forum ini akan menentukan kelaikan atau kepantasan suatu berkala ilmiah untuk dinilai oleh akreditor berkala limiah. Jika dinyatakan tidak laik, biasanya akan direkomendasikan untuk ditarik kembali dan kembali diajukan tahun berikutnya. Apa harapan dari badan pengelola jurnal FSH ke depan setelah nantinya ketiga jurnal itu diakreditasi oleh DIKTI, mengingat kata pepatah membuat lebih mudah dibanding memelihara? Saya setuju. Pengalaman menunjukkan, pengelola sering antiklimaks. Sangat serius ketika menyiapkan akreditasi, tapi kendor ketika menjaga status akreditasi. Ini yang menyebabkan fenomena rontoknya jurnal-jurnal yang sebelumnya berkelas, tapi harus turun kelas gara-gara pengelolanya lengah dan cenderung menurunkan mutu kerjanya. Saya kira, ke depan Fakultas Syariah dan Hukum perlu berpikir sungguh-sungguh untuk menyiapkan tim pengelola yang profesional dan dukungan finansial yang lebih mempuni. Di sinilah pentingnya regenerasi atau kaderisiasi. Sekali saja putus generasi, jangan berharap akreditasi berkala limiah dapat dipertahankan. []

Apa kesamaan
antara Barack Obama, Lady Gaga, Justin Bieber, Sri Mulyani, Budiono, Gedung Putih, Wall Street Journal, New York Times dan Warta Syariah

We Tweet On Twitter
ikuti perbincangan dan berita terkini Fakultas Syariah dan Hukum di akun twitter @wartasyariah visit us on www.fsh-uinjkt.net facebook.com/syariahdanhukum

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Kontributor : Eko Siswandanu

Center for Islamic Economics Studies

MENGGALAKKAN KOMPETENSI LEADER, ENTREPRENUER DAN ACADEMICIAN DALAM SATU PAYUNG


C.O.I.N.S adalah sebuah lembaga kajian, penelitian, dan pelatihan dalam rangka pengembangan ekonomi Islam yang progresif, inklusif dan konstruktif dalam berbagai wacana teori serta praktik secara kontekstual serta pengembangan sumber daya Insani yang mempunyai kualitas dan keahlian yang mumpuni baik dalam bidang Leadership, Entrepreneurship, Academic, maupun Professional (LEAP). COINS mencoba melakukan berbagai pendekatan dalam memecahkan berbagai problema yang dihadapi ekonomi bangsa serta memberikan kontribusi dalam membumikan ekonomi Islam dengan berpikir dan bertindak secara logis, etis, dan estetis. Sebagai mahasiswa yang sadar akan hak dan kewajibannya serta peran dan tanggung jawab kepada Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, serta alam, COINS bertekad memberikan sebuah dharma bhakti untuk mewujudkan nilainilai keIslaman demi terwujudnya tujuan mulia yang berdampak positif bagi sesama. Hal ini sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi yaitu; pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Maka melalui wadah C.O.I.N.S Organisasi ini beraktualisasi dalam rangka menciptakan sumber daya insani yang memiliki komitmen untuk menegakkan kebenaran, mempunyai kecerdasan secara intelektual, emosional, dan spiritual, dapat dipercaya karena kejujuran, kecerdasan, dan integritas terhadap kebenaran, yang bersungguh-sungguh mewujudkan mimpi dan ikhlas mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk kepentingan umat dan bangsa. Fitrah kehidupan manusia adalah yang seimbang dan terpadu antara akal dan kalbu, iman, ilmu, dan amal dalam mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Atas keyakinan ini, maka C.O.I.N.S menjadikan Islam secara substansial dan kontekstual selain sebagai motivasi dasar kelahiran juga sebagai sumber nilai, filosofi, dan inspirasi dalam menetapkan tujuan dari usaha organisasi keilmuan C.O.I.N.S. Meskipun secara kelembagaan C.O.I.N.S baru berdiri 29 April 2012, namun kajiannya telah dimulai sejak tahun 2010. Kegiatan C.O.I.N.S kini tidak terbatas pada kegiatan kajian, seminar, dan riset (Academic), namun juga berb-

agai pelatihan softskill maupun hardskill dalam bidang leadership, entrepreneurship dan profesional, selain itu C.O.I.N.S juga turut serta mensosialisasikan penerapan ekonomi Islam kepada masyarakat. Anggota C.O.I.N.S saat ini mencapai lebih dari 50 orang, dan tidak hanya terbatas pada Fakultas Syariah dan Hukum, namun juga fakultas lain, bahkan mulai merambah universitas lain, misalnya Universitas Pamulang. Mengingat Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin maka C.O.I.N.S berusaha sebisa mungkin bersifat inklusif, jadi siapa saja dapat bergabung. Hal ini telah diterapkan dalam Kajian Rutin C.O.I.N.S setiap minggunya yaitu siapa saja boleh ikut, baik itu anggota maupun non-anggota. Namun, mengingat bahwa organisasi yang baik memiliki sistem kaderisasi yang baik pula, maka C.O.I.N.S tetap aktif melakukan perekrutan anggota melalui kegiatan CENTRAL (C.O.I.N.S Education, Training, and Legacy) yang biasanya diadakan tiap semester genap. CENTRAL adalah suatu proses pembinaan yang dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan sesuai dengan manajemen, pola dan alur kaderisasi C.O.I.N.S yang terstruktur untuk menghasilkan anggota yang berkualitas, membanggakan dan dapat dipertanggungjawabkan serta mempunyai kepedulian untuk mewujudkan perekonomian yang adil, stabil dan sejahtera berlandaskan ekonomi Islam yang inklusif dan substantif.[] 11

Edisi 12/Oktober 2013/Dzulhijjah 1434 H

Foto By Yudhi Teks By Savmi