Anda di halaman 1dari 7

HADIS TEMATIS

ATTAS’IR; INTERVENSI HARGA


Oleh Saomi Rizqiyanto

Disusun guna memenuhi tugas ujian tengah semester


Pada perkuliahan Hadist Ekonomi Dengan Dosen Pembimbing Ibu Izzatul Mardiyah MAg
Pada Program Studi Muamalah Perbankan Syariah

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2008
PENDAHULUAN
Sebelum krisis finansial global, perdebatan fundamentalisme pasar tidaklah sesemarak sekarang ini.
Dunia mafhum dan bahkan acapkali membenarkan bahwa pasar adalah segalanya, ini tentu tidak
terlepas dari praktik-praktik orang yang bermain didalamnya. Adagium leissez faire, biarkan pasar yang
mengatur segalanya, yang berujung pada pengebirian peran pemerintah menjadi kata bertuah namun
“tuah” itu yang membuat kapitalisme pasar sesungguhnya menjadi semakin volatile.
Nah, Krisis finansial yang melanda dunia saat ini kembali menyemarakkan debat pro-pasar versus
antipasar . Posisi pro-pasar melihat diri sebagai pembawa gagasan ekonomi yang adil dengan melihat
posisi antipasar sebagai pembawa ketidakadilan ekonomi. Sebaliknya, posisi antipasar melihat diri
sebagai pembawa gagasan ekonomi yang adil dengan menganggap posisi pro-pasar sebagai pembawa
ketidakadilan ekonomi.
Sebagai contoh naiknya harga minyak di NYMEX [New York Mercantile Exchange] membuat harga
minyak dunia terkerek hingga level USD 145 per barreli, kenaikan ini berimbas pada naiknya haga
minyak di Indonesia. Anggaran Belanja Negera untuk membeli minyak dengan asumsi harga USD 60 per
barrel, terpaksa terkoreksi dengan dampak naiknya harga BBM. Kaum pro pasar melihat harga yang
ditetapkan pemerintah adalah harga yang adil baik bagi si pembeli maupun penjual, dalam hal ini
produsen. Tetapi bagi kaum antipasar, melihat harga ini terlalu kejam buat pembeli, harga itu tidak adil,
hanya menguntungkan produsen tanpa melihat daya beli masyarakat. Pemerintah perlu mematok
harga, itu yang disuarakan golongan antipasar.
Ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi alternative memiliki pandangan berbeda dengan dua
pandangan ekstrem di atas. Bagaimanapun membiarkan pasar bebas tanpa adanya regulasi ibarat
membiarkan taman yang indah menjadi hutan rimba, tetapi mematok harga juga bukan solusi terbaik
karena hanya alam [Allah] yang berhak mematok harga. Melihat peliknya masalah tersebut, akhirnya
marilah kita simak makalah berikut ini.

Saumi Rizqiyanto
Jakarta 20 Desember 2008

Page 2 of 7
PEMBAHASAN

Sesungguhnya Allahlah Zat Yang menetapkan harga, Yang menahan, Yang mengulurkan,
dan yang Maha Pemberi rezeki. Sungguh, aku berharap dapat menjumpai Allah tanpda ada
seorang pun yang menuntutku atas kezaliman yang aku lakukan dalam masalah darah dan
tidak juga dalam masalah harta (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

ASBABUL WURUD/SEBAB MUSABAB TURUNNYA HADIS


Anas bin Malik menuturkan bahwa pada masa Rasulullah saw. pernah terjadi harga-harga membubung
tinggi. Para Sahabat lalu berkata kepada Rasul, Ya Rasulullah saw. tetapkan harga demi kami. Rasulullah
saw. menjawab:

Sesungguhnya Allahlah Zat Yang menetapkan harga, Yang menahan, Yang mengulurkan, dan yang
Maha Pemberi rezeki. Sungguh, aku berharap dapat menjumpai Allah tanpa ada seorang pun yang
menuntutku atas kezaliman yang aku lakukan dalam masalah darah dan tidak juga dalam masalah
harta (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

Abu Hurairah juga menuturkan, pernah ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw. Ia lalu berkata,
Ya Rasulullah, tetapkanlah harga. Rasulullah saw. menjawab, Akan tetapi, aku hanya akan berdoa
kepada Allah. Lalu datang orang lain dan berkata, Ya Rasulullah, tetapkanlah harga. Beliau menjawab:

Akan tetapi, Allahlah Yang menurunkan dan menaikkan harga. (HR Ahmad dan ad-Darimi).

Page 3 of 7
DEFINISI
Kata tasîr berasal dari kata sa’ara, yas’aru, sa’ran, yang artinya menyalakan. Lalu dibentuk menjadi kata
as-si’ru dan jamaknya as’âr yang artinya harga (sesuatu). Kata as-si’ru ini digunakan di pasar untuk
menyebut harga (di pasar) sebagai penyerupaan terhadap aktivitas penyalaan api, seakan menyalakan
nilai (harga) bagi sesuatu.
Dikatakan, Sa’arat asy-syay’a tas’îran, artinya menetapkan harga sesuatu yang merupakan titik
berhenti tawar-menawar. 1 Jika dikatakan, As’arû wa sa’arû, artinya mereka telah bersepakat atas
suatu harga tertentu. 2 Oleh karena itu, tas’îr secara bahasa berarti taqdîr as-si’ri (penetapan
/penentuan harga).
Dari sini para ulama merumuskan definisi tas’îr secara syar’i, yaitu: seorang imam (pemerintah),
wakilnya atau setiap orang yang mengurusi urusan kaum Muslim memerintahkan kepada para pelaku
pasar agar tidak menjual komoditas kecuali dengan harga tertentu; mereka dilarang untuk menambah
harganya hingga harga tidak membubung atau mengurangi harganya hingga tidak memukul selain
mereka. Jadi, mereka dilarang untuk menambah atau mengurangi dari harga yang dipatok demi
kemaslahatan masyarakat. 4 Artinya, negara melakukan intervensi atas harga dengan menetapkan harga
tertentu atas suatu komoditas dan setiap orang dilarang untuk menjual lebih atau kurang dari harga
yang ditetapkan itu demi mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat.
Fakta pematokan harga ini dapat kita saksikan dalam sistem ekonomi pada saat ini. Pematokan harga
itu dilakukan negara dengan alasan untuk melindungi kepentingan masyarakat atau kelompok
masyarakat tertentu, misalnya kelompok produsen atau kelompok konsumen.
Pematokan harga terjadi dalam tiga bentukii: Pertama, pematokan harga secara fix. Kedua,
pematokan harga tertinggi, yakni dengan menetapkan harga jual tertinggi. Contohnya adalah penetapan
harga eceran tertinggi pupuk. Penjual dilarang menjual lebih dari harga tertinggi yang dipatok itu.
Sebaliknya, mereka boleh menjual dengan harga yang lebih rendah. Ini ditetapkan demi melindungi
konsumen. Ketiga, pematokan harga terendah seperti pematokan harga terendah gabah, dsb. Dalam hal
ini pembeli dilarang membeli lebih rendah dari harga terendah itu. Sebaliknya, mereka boleh membeli
dengan harga lebih tinggi dari harga itu. Ini dilakukan untuk melindungi produsen. Contohnya adalah
penetapan harga terendah gabah untuk melindungi petani. Meski demikian, dalam praktiknya kebijakan
ini terlihat tidak efektif. Pada saat panen raya, harga gabah tetap saja anjlok. Begitu juga harga pupuk;
sering lebih tinggi daripada harga eceran tertinggi yang ditetapkan Pemerintah.

Page 4 of 7
HUKUM TAS’ÎR
Allah telah menetapkan seseorang untuk menjual komoditasnya dengan harga yang ia ridhai. Allah Swt.
berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kalian. (QS
an-Nisâ [4]: 29).

Rasulullah saw. juga pernah bersabda:

Sesungguhnya jual-beli itu harus dengan saling ridha (antara penjual dan pembeli). (HR Ibn Majah).

Tas’îr bertentangan dengan nash-nash tersebut. Sebab, tas’îr bermakna pemaksaan atas penjual dan
atau pembeli untuk berjual-beli dengan harga tertentu. Ini melanggar kepemilikan seseorang karena
kepemilikan itu bermakna seseorang memiliki kekuasaan atas harta miliknya. Karena itu, ia berhak
menjual dengan harga yang ia sukai. Pematokan harga tentu akan menghalangi atau merampas
sebagian kekuasaan seseorang atas hartanya. Sesuai keterangan nas syariah di atas, hal itu tidak boleh
terjadi.
Dalam riwayat Abu Hurairah di atas, Rasulullah saw. pernah diminta untuk mematok harga, padahal
harga sedang membubung tinggi. Seandainya tas’îr boleh, pastilah Rasulullah saw. memenuhi
permintaan tersebut. Namun, Beliau ternyata tidak memenuhinya. Dalam riwayat Anas di atas, Beliau
menjelaskan alasan mengapa Beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan bahwa tas’îr merupakan
kezaliman, sedangkan segala bentuk kezaliman adalah haram. Atas dasar itu, tas’îr hukumnya haram.
Ini adalah pendapat jumhur ulama.
Keharaman tas’îr ini berlaku secara umum untuk semua komoditi. Hal itu sesuai keumuman larangan
tas’îr di atas. Rasulullah saw. menyatakan tas’îr sebagai kezaliman tanpa menyebutkan komoditinya. Ini
artinya keharaman itu berlaku untuk semua jenis komoditi. Keharaman tas’îr juga berlaku dalam semua
kondisi baik kondisi damai atau perang; baik harga anjlok, normal atau sedang membubung tinggi. Hal
itu sesuai dengan kemutlakan nasnya.
Pada faktanya, pematokan harga merupakan dharar bagi umat. Pematokan harga itu akan
mendorong terbentuknya pasar gelap yang jauh dari monitoring negara. Dengan begitu suplay barang

Page 5 of 7
ke pasar akan berkurang karena diperdagangkan di pasar gelap. Lalu harga di pasar normal akan
mengalami kenaikan tanpa bisa dicegah oleh negara. Selain mendorong terbentuknya pasar gelap,
pematokan harga juga bisa mempengaruhi tingkat produksi atau konsumsi. Pada tingkat tertentu
mungkin bisa menyebabkan krisis ekonomi.

PERAN NEGARA DALAM MEMONITOR HARGA


Pemerintah diperintahkan untuk memelihara kemaslahatan kaum Muslim (masyarakat) secara
keseluruhan. Pemerintah tidak boleh mengutamakan kemaslahatan pembeli dan mengesampingkan
kemaslahatan penjual dengan mematok harga tertinggi. Pemerintah juga tidak boleh mengutamakan
kemaslahatan penjual dan mengabaikan kemaslahatan pembeli dengan menetapkan harga terendah. Ia
juga tidak boleh melanggar kemaslahatan penjual dan pembeli dengan mamaksa mereka untuk berjual
beli dengan satu harga yang ia tetapkan. Untuk mengontrol harga, pemerintah harus menjaga stabilitas
keseimbangan penawaran dan permintaan.
Dalam kondisi harga terpuruk, keterpurukan harga itu bisa disebabkan oleh kelebihan penawaran
karena over produksi atau panen raya. Karena itu, negara harus memiliki strate-gi integral pengaturan
produksi, semisal mendorong petani menanam komoditi sesuai dengan keunggulan daerahnya, atau
membim-bing mereka mengatur pola produksi (tanam). Hal itu didukung dengan pemberian informasi
pasar, cuaca dan informasi yang dibutuhkan petani secara berkesinambungan. Negara melalui badan
seperti Bulog juga bisa menyerap kelebihan penawaran dengan membelinya dari produsen (petani)
dengan harga yang layak. Lalu komoditi itu disimpan untuk dan bisa dikeluarkan pada saat over demand
untuk menjaga keseimbangan supply dan demand.
Dalam kondisi harga melonjak, lonjakan harga itu terjadi bisa karena barang tidak tersedia di pasar
akibat aksi penimbunan. Dalam hal ini syariah mengharamkan penimbunan. Karena itu, yang harus
dilakukan adalah penegakan hukum dengan menindak pelaku penimbunan dan memaksanya agar
menggelontorkan barang ke pasar; Bisa juga tingginya harga disebabkan kurangnya penawaran. Karena
itu, negara harus berupaya menaikkan penawaran. Hal itu bisa dilakukan dengan mengeluarkan barang
yang ada di gudang negara ke pasar; bisa juga dengan mendatangkan komoditi dari daerah yang
produksinya berlimpah. Hal itu seperti yang dilakukan Umar bin al-Khathab saat harga bahan makanan
melonjak di Hijaz karena paceklik. Lalu ia mendatangkan bahan makanan dari Mesir dan Syiria yang
produksinya berlimpah ke Hijaz sehingga harga kembali normal tanpa perlu mematok harga. Upaya itu
bisa dilakukan negara dengan membeli dari daerah yang berlimpah dan dibawa ke daerah yang
kekurangan; bisa juga dengan mendorong para pedagang untuk mendatangkannya ke daerah yang

Page 6 of 7
kekurangan dengan memberikan insentif tertentu. Jika harus mendatangkannya dari luar negeri, negara
bisa menurunkan cukai atau bahkan menghapusnya untuk mendorong pedagang asing memasukkan
barang itu ke dalam negeri. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

PENUTUP
Pada akhirnya, sistem ekonomi alternative, memberikan penerangan yang sangat mendalam, bahwa
bagaimanapun, fundamentalisme pasar, yang memegang harga merupakan segalanya. Pemerintah
hanya tinggal memangkas ranting-ranting merusak yang mendistorsi pasar, seperti penimbunan,
spekulasi dsb. Kekuatan penawaran dan permintaan adalah mutlak dan menjadi pertanda sabda nabi,
bahwa hanya Allah-lah yang berhak menentukan harga.

Hadist Tematis
TAS’IR; INTERVENSI HARGA
Copyright © 2008 by Saumi Rizqiyanto
All Right Reserved. Text, figures, and all related character are modified by Saumi Rizqiyanto. Some of them are registered! No part of this
publication may be reproduced by hiring, copying, or in any forms! Without any permission from Saumi Rizqiyanto, saumilab.inc the
ultimate standard reference.

PESAN LINGKUNGAN! Selamatkan pohon-pohon kita dari industri kertas dengan menggunakan kertas kosong di belakang
makalah ini untuk membuat catatan! INGAT setiap satu lembar kertas yang kita gunakan berimbas dengan ditebangnya satu
pohon di Kalimantan! Save our trees! Don’t waste your paper!

REFERENSI
This Paper is compiled and taken from the internet, the original reference as follows;
Al-Minawi, At-Ta’ârif, I/405, Dar al-Fikr al-Mu’ashirah-Dar al-Fikr, Beirut-Damaskus, cet. I. 14140 H.
Ibn Manzhur, Lisân al-’Arab, IV/365, Dar Shadir, Beirut, cet. I. tt
Ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, I/126, Maktabah Lubnan Nasyirun, Beirut, cet. Baru. 1995 M-1415 H.
Asy-Syaukani, Nayl al-Awthar, V/334-335, dar al-Jil, Beirut. 1973; Qadhi an-Nabhan, Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm, hlm. 199,
Dar al-Ummah li ath-Thaba’ah wa an-Nasyr wa at-Tawzi’, Beirut, cet. Mu’tamadah. 2004 M-1424 H.

CATATAN AKHIR
i
Data Bloomberg medio Juli 2009. Dapat diakses di www.bloomberg.com
ii
Dalam ilmu ekonomi modern terdapat dua bentuk penetapan harga floor price yakni harga tertinggi yang ditetapkan
pemeritah untuk melindungi penjual dan ceiling price yakni harga terendah untuk melindungi pembeli. Lihat Adiwarman Karim,
Ekonomi Mikro Islami.

Page 7 of 7