Anda di halaman 1dari 116

SPS

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., MT.

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN


Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., MT. 2012, Penerbit Surya Perdana Semesta (SPS) Semarang Hak Cipta dilindungi undang-undang

ISBN 978-602-98015-2-1

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR
Pembangunan berkelanjutan bertujuan mencapai dunia berkelanjutan bagi generasi masa kini dan masa datang. Upaya melaksanakan pembangunan berkelanjutan harus didukung oleh keberadaan infrastruktur yang berkelanjutan. Inovasi teknologi Beton Bajik merupakan upaya signifikan dan terobosan untuk mencapai infrastruktur berkelanjutan tersebut, yang mendorong ketercapaian dunia berkelanjutan yang didukung Pertumbuhan Hijau. Beton Bajik menjadi suatu terobosan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi yang menuju tercapainya dunia berkelanjutan. Buku ini meyajikan wawasan, kajian, dan berbagai buah pemikiran tentang kemajuan teknologi beton, beton bajik, pembangunan berkelanjutan, infrastruktur berkelanjutan, keberlanjutan lingkungan, dan dunia berkelanjutan. Semoga buku ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang teknologi beton masa kini dan masa datang, khususnya Beton Bajik.

Penulis, Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., MT.

iii

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Glosarium iii iv v

BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Pembangunan Berkelanjutan dan infrastruktur berkelanjutan 1.2. Keberlanjutan Lingkungan 1.3. Eko-Teknik Sipil dan Keberlanjutan 1.4. Pustaka PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON 2.1. Sejarah Perkembangan Teknologi Beton Masa Lalu 2.2. Implementasi Teknologi Beton pada Bangunan dan Infrastruktur Masa Kini 2.3. Pustaka BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN 3.1. Beton Bajik 3.2. Beton Bajik vs Kegagalan Struktur 3.3. Masa Depan Beton Bajik 3.5. Pustaka CATATAN AKHIR

1 1 5 7 10 12 12 42 72 74 74 86 95 100 102 104

BAB II

BAB III

BAB IV Index

iv

GLOSARIUM

GLOSARIUM
Beton Bajik : Beton yang memiliki semua kebaikan beton, dengan 3 karakteristik utama, yaitu awet, berkelanjutan, dan pintar Dunia berkelanjutan : Dunia yang sejahtera dan berkesinambungan hingga masa mendatang Pembangunan berkelanjutan : Pembangunan yang memperkaya kualitas hidup yang memperbolehkan manusia hidup dalam lingkungan hidup yang sehat, serta meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan, bagi generasi masa kini dan masa datang, menjadi pusat perhatian bangsabangsa untuk mencapai dunia berkelanjutan Infrastruktur berkelanjutan : infrastruktur yang harmonis dengan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan secara terus menerus Pertumbuhan Hijau : Suatu pendekatan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang bertujuan memperkaya kualitas hidup dengan secara simultan meminimumkan tekanan pada kapasitas lingkungan yang terbatas, dengan jalan meningkatkan eko-efisiensi dari masyarakat secara keseluruhan Keberlanjutan Lingkungan : Kondisi lingkungan yang berkesinambungan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan Eko-Teknik Sipil : Siklus keberlanjutan di bidang Teknik Sipil untuk mendukung pembangunan berkelanjutan

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Teknik Sipil : Seni mengendalikan sumber daya alam maupun buatan, yang dikelola sedemikian rupa dalam bentuk infrastruktur, untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia, tanpa melupakan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan Hammurabi Code of Laws (1780 SM): Suatu aturan tentang keselamatan konstruksi, pelaku konstruksi, dan pengguna konstruksi Timeline sejarah perkembangan teknologi beton : Riwayat teknologi beton berarti mengkaji tahapan-tahapan yang dilalui bidang ini dari masa awal hingga kemajuan terkini Beton purba : Reaksi antara batu kapur dengan serpihan batuan yang mengandung minyak selama terjadinya pembakaran spontan, yang kemudian membentuk bahan galian yang merupakan bahan penyusun semen di kemudian hari Ziggurat : Bangunan masif berbentuk menara berundak Rose-Red City : Kota Kuno Petra yang merupakan pemukiman kaum Nabataea yang sangat maju dan secara genius mampu melengkapi infrastruktur kota untuk kepentingan pertanian, rekayasa hidraulis, dan arsitektur Beton Romawi : Pecahan-pecahan material (bebatuan) yang direkatkan dengan mortar kemudian dijepit di sebelah dalam dan luar dengan bata yang sekaligus berfungsi sebagai cetakan beton Admixture : bahan tambah Semen Parker (Semen Romawi /Roman Cement) : Semen hidraulis alam yang mengandung lempung

vi

GLOSARIUM

Semen Portland : Semen modern yang diproduksi dengan cara pembakaran batu kapur pecah dengan lempung dan meleburnya hingga memperoleh bubuk semen Durabilitas (keawetan) beton : Kemampuan untuk bertahan dari cuaca, abrasi, atau semua proses lain yang menurunkan kualitas beton Keberlanjutan, (versi The World Commission on Environment and Development - The Brundlant Report, 2007) : Memenuhi kebutuhan masa kini tanpa berkompromi dengan kemampuan generasi di masa datang untuk memenuhi kebutuhannya Beton pintar : Beton dengan dengan tambahan bahan penyusun berupa konduktor atau semikonduktor seperti serat karbon, karbon hitam, serpih baja, atau material nano, dan memiliki kemampuan diri untuk mendeteksi tegangan dan regangan lebih baik daripada beton konvensional Keruntuhan progesif (dari suatu struktur) : Suatu kejadian yang ditandai dengan perbedaan yang tidak proporsional antara pemicu kegagalan spasial yang terbatas dengan akibat keruntuhan yang tersebar Tripple Bottom Line : Penyeimbangan 3 faktor, yaitu faktor ekonomi, lingkungan, dan sosial

vii

BAB 1 - PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DAN INFRASTRUKTUR BERKELANJUTAN


Dunia berkelanjutan (sustainable world) adalah dunia yang dicita-citakan oleh umat manusia, yaitu dunia yang sejahtera dan berkesinambungan hingga masa mendatang. Sayang, harapan akan dunia berkelanjutan sering dihambat masalah ketidakseimbangan lingkungan. Ketidakseimbangan lingkungan menjadi pemicu

perubahan iklim yang berdampak serius bagi dunia berkelanjutan. Tercapainya pembangunan dunia berkelanjutan tidak lepas dari

berkelanjutan

(sustainable

development).

Pembangunan berkelanjutan diartikan sebagai memperkaya kualitas hidup yang memperbolehkan manusia hidup dalam lingkungan hidup yang sehat, serta meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan, bagi generasi masa kini dan masa datang, menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa untuk mencapai dunia berkelanjutan [1]. Tantangan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan antara lain adalah perubahan iklim. Berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh perubahan iklim membawa perubahan lingkungan global dengan

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

berbagai konsekuensi bagi kebijakan sosio-ekonomi negara-negara di dunia [2]. Kebijakan sosio-ekonomi akan sangat mempengaruhi jalannya pembangunan berkelanjutan secara secara khusus. umum dan

pembangunan infrastruktur

infrastruktur akan sangat

Pembangunan dan

menentukan

keberhasilan

keberlanjutan pembangunan, sehingga tata kelola yang baik dalam pembangunan infrastruktur menjadi suatu keharusan. Perttumbuhan ekonomi dunia memaksa negara-negara di dunia untuk berpacu dan berkompetisi untuk memenuhi

kebutuhannya. Asia, sebagai wilayah yang memiliki penduduk sebesar 71% dari seluruh populasi dunia, menghadapi tantangan berat dari laju pembangunan berkelanjutan dari aspek institusi, teknologi, dan finansial [3]. Mengingat besarnya implikasi infrastruktur terhadap keberlanjutan, keseimbangan lingkungan dan efisiensi sumber daya, maka infrastruktur sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai asetaset fisik saja melainkan juga aset-aset non fisik seperti manajemen dan tata-kelola (governance). Infrastruktur yang memiliki peran penting dan strategis dalam pembangunan berkelanjutan dapat disebut dengan infrastruktur berkelanjutan (sustainable

infrastructure). Dengan demikian, infrastruktur berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai infrastruktur yang harmonis dengan

keberlanjutan ekonomi dan lingkungan secara terus menerus [3]. Infrastruktur berkelanjutan membutuhkan dukungan berbagai bidang, salah satunya bidang Teknik Sipil. Untuk mewujudkan infrastruktur berkelanjutan, bidang Teknik Sipil memperkuat

BAB 1 - PENDAHULUAN

perannya dalam industri konstruksi. Industri konstruksi, khususnya konstruksi beton, tetap menjadi primadona kebutuhan negara-negara di dunia akan infrastruktur yang efisien dan ekonomis. Satu hal menjadi catatan dalam perkembangan industri konstruksi beton, khususnya manufaktur semen, dalam infrastruktur berkelanjutan, yaitu sumbangan negatifnya sebagai pemasok emisi gas CO2 dan gasgas rumah kaca yang cukup signifikan. Industri semen menyumbang keberadaan 3% emisi gas-gas rumah kaca dan 5% emisi gas CO2 dunia [4]. Dalam hal pemakaian energi, produksi semen menggunakan 90% energi keseluruhan yang digunakan dalam pembuatan beton (40005200 MJ per m3) yang berasal dari bahan bakar fosil [5]. Kenyataan tersebut sungguh relevan dengan adanya paradigma baru dalam infrastruktur berkelanjutan, yaitu Pertumbuhan Hijau (Green Growth) yang didukung oleh eko-efisiensi dalam pembangunan infrastruktur [2]. Paradigma Pertumbuhan Hijau menekankan pada menciptakan nilai lebih dengan menggunakan sumber daya yang lebih kecil dengan akibat yang lebih sedikit (doing more with less). Pembangunan infrastruktur mengingatkan para pemangku kepentingan akan dunia berkelanjutan bagi generasi masa kini dan masa datang. Industri konstruksi, khususnya industri konstruksi beton, harus menahan diri agar tidak terjerumus pada perilaku eksploitasi sumber daya secara serampangan, namun

mengedepankan Pertumbuhan Hijau dengan eko-efisiensi demi terjaminnya pembangunan infrastruktur wilayah berkelanjutan. perkotaan Dalam konteks

(urban

development),

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Pertumbuhan Hijau pasti akan kait-mengait dengan keberlanjutan infrastruktur dan keberlanjutan lingkungan. Sebagai suatu deskripsi, tata-kota Paris di negara Perancis (Gambar 1) dapat menjadi rolemodel (atau justru bahan diskusi) mengenai ketercapaian

infrastruktur berkelanjutan yang didukung oleh Pertumbuhan Hijau. Pada subbab-subbab berikut, mata rantai berikutnya akan lebih

diperjelas dengan diskusi-diskusi yang dinamis.

Gambar 1.1. Tata-kota Paris, Oktober 2011 (Foto oleh Susilorini, 2011)

BAB 1 - PENDAHULUAN

1.2. KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN

Dunia berkelanjutan dengan paradigma Pertumbuhan Hijau semestinya didukung oleh lingkungan yang berkelanjutan. Beberapa pemikiran mengenai rekayasa lingkungan, pelestarian lingkungan, dan keberlanjutan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan yang bertujuan mewujudkan dunia berkelanjutan disampaikan sebagai berikut. Salah satu pendapat klasik tentang rekayasa lingkungan dikemukakan Odum pada tahun 1963 [6] yang menyatakan rekayasa lingkungan sebagai manipulasi lingkungan oleh manusia dengan menggunakan sedikit energi tambahan untuk mengontrol sistem yang penggerak energi utamanya berasal dari sumber daya alam. Definisi ini disempurnakan pada tahun 1983, juga oleh Odum, dengan menegaskan bahwa rekayasa dari desain ekosistem baru adalah suatu bidang yang menggunakan sistem yang mengutamakan

pengorganisasian diri. Peranan upaya pengelolaan lingkungan dan relasi antara manusia dan mahluk hidup lain juga menjadi pemikiran yang oleh Todd pada tahun 1993 dikatakan bahwa relasi tersebut sangat didukung oleh peran manusia dalam kehidupan (membangun sistem kehidupan terintegrasi, memproduksi pangan, mengolah limbah, mengintegrasikan bangunan dengan alam). Peran-peran tersebut oleh Todd [6] disebut (living machines). sebagai mesin-mesin kehidupan

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Peran manusia dalam kehidupan dimanifestasikan dengan membangun peradaban. Dengan dasar inilah bidang Teknik Sipil lahir, tumbuh, dan berkembang, dengan merekayasa bangunan-bangunan dan infrastruktur pendukung kehidupan. Bidang Teknik Sipil yang melahirkan infrastruktur harus dapat berkompromi dengan

keberlanjutan kehidupan manusia sehingga tidak dapat mengelak dari keterkaitannya dengan rekayasa lingkungan. Rekayasa lngkungan memerlukan teknologi tingkat tinggi untuk dapat menjamin keberlanjutan operasi sistem [7], dan di sini bidang Teknik Sipil mengambil peran strategis. Mitsch dan Jorgensen [7] menegaskan bahwa aspek teknis dan desain dalam bidang Teknik Sipil akan menjadi bagian penting dalam relasi rekayasa lingkungan dan bidang Teknik Sipil. Bahkan, Kode Etik para insinyur Teknik Sipil di Amerika (American Society of Civil Engineers, ASCE) juga mencantumkan prinsip-prinsip kepedulian terhadap lingkungan. Dalam kode etik tersebut para insinyur Teknik Sipil di Amerika wajib menerapkan pengetahuan dan keahlian sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia serta mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat [7]. Kerusakan lingkungan memang telah terjadi dan makin memprihatinkan, namun para pelaku pembangunan berkelanjutan memiliki kewajiban dan tanggungjawab untuk mencegah hancurnya kehidupan manusia yang berharga itu. Secara khusus, bidang Teknik Sipil harus menerapkan paradigma Pertumbuhan Hijau yang didukung eko-efisiensi untuk mewujudkan dunia berkelanjutan.

BAB 1 - PENDAHULUAN

1.3. EKO-TEKNIK SIPIL DAN KEBERLANJUTAN

Dalam diskusi terdahulu, bidang Teknik Sipil memegang peranan penting menerapkan paradigma Pertumbuhan Hijau yang didukung eko-efisiensi untuk mewujudkan dunia berkelanjutan. Keberlanjutan dari berbagai aspek pendukung sangat menentukan ketercapaian dunia berkelanjutan. Sebagai salah satu pilar utama pendukung dunia berkelanjutan, Eko-Teknik Sipil [8-10] menjadi satu pemikiran strategis untuk mengimplementasikan keberlanjutan bidang Teknik Sipil yang berwawasan lingkungan dalam upaya mencapai kesejahteraan umat manusia dalam dunia berkelanjutan. Eko-Teknik Sipil dan keberlanjutan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Definisi keberlanjutan dalam bidang Teknik Sipil diartikan sebagai jaminan bahwa struktur akan tetap berkinerja dengan sangat memuaskan sesuai fungsi desainnya selama masa layannya [8-13]. Susilorini menjelaskan keberlanjutan dalam industri konstruksi sebagai keberlanjutan dalam hal desain dan kinerja struktur, serta siklus-hidup (life-cycle) bangunan [8-13]. Suatu struktur bangunan disebut sebagai berkelanjutan jika

dikonstruksikan sedemikian sehingga akibat-akibat sosial yang ditimbulkan selama siklus-hidupnya dan sepanjang penggunaannya adalah minimum. Tolok ukur keberlanjutan struktur adalah aspek keamanan. Dengan demikian struktur berkelanjutan harus didesain secara aman. Desain struktur yang aman mempertimbangkan

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

pemilihan bahan bangunan, rekayasa struktur serta analisa kegagalan struktur, dan keberlanjutan lingkungan, serta eko-efisiensi.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

PELESTARIAN LINGKUNGAN

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

TEKNIK SIPIL BERKELANJUTAN

KONSTRUKSI BERKELANJUTAN

BETON BERKELANJUTAN TEKNOLOGI BAHAN BERKELANJUTAN

TEKNOLOGI NANO

EKOTEKNIK SIPIL

Gambar 1.2. Siklus Eko-Teknik Sipil [8-11]

BAB 1 - PENDAHULUAN

Eko-Teknik Sipil merupakan suatu siklus keberlanjutan di bidang Teknik Sipil untuk mendukung pembangunan berkelanjutan [8-11]. Konsep ini diawali dari pelestarian lingkungan yang menjadi dasar bagi pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan didukung oleh keberlanjutan infrastruktur yang melibatkan peran bidang Teknik Sipil sebagai salah satu pelaku utama. Teknik Sipil yang berkelanjutan selalu didukung oleh upaya-upaya pelestarian

lingkungan. Peran Teknik Sipil berkelanjutan menuju pada konstruksi berkelanjutan. Konstruksi berkelanjutan akan didukung oleh beton berkelanjutan. Untuk dapat mencapai beton berkelanjutan,

implementasi teknologi bahan berkelanjutan dan teknologi nano merupakan langkah-langkah yang harus diterapkan. Beton

berkelanjutan akan menjamin keberlanjutan Eko-Teknik Sipil yang akan bermuara pada pelestarian lingkungan. Beton bajik, virtuous concrete, merupakan implementasi dari teknologi bahan berkelanjutan di bidang teknologi beton. Untuk mewujudkan beton bajik yang berdayaguna sebagai sarana mencapai dunia berkelanjutan, upaya memperkenalkan, mengenmbangkan, dan memelihara keberlanjutan beton bajik menjadi suatu keharusan. Buku ini akan mengupas berbagai hal mengenai beton bajik serta diskusidiskusi menarik mengenai dunia berkelanjutan.

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

1.4. PUSTAKA
[1] Ortiz, Oscar., Castells, Francesc., dan Sonneman, Guido. (2009). Sustainability in the construction industry: A review of recent developments based on LCA, Construction and Building Materials, Vol. 23, pp. 2839. [2] IPIECA. (2003). Energy, Development and Climate Change: Considerations in Asia and Latin America, Journal UNEP Industry and Environment, April-September, pp. 95-98. [3] United Nations, ESCAP. (2007). Sustainable Infrastructure in Asia Overview and Proceedings, United Nation Publications. [4] John, VM. 2003. On the Sustainability of the Concrete, Journal UNEP Industry and Environment, April-September, pp. 62-63. [5] Supartono, FX. (2007). Usaha Menuju Konstruksi Beton Berkelanjutan, Prosiding Seminar Nasional Sustainability dalam Bidang Material, Rekayasa dan Konstruksi Beton, KK Rekayasa Struktur FTSL ITB, Bandung, pp.52-63. [6] Bohemen, HD van. (2004). Ecological Engineering and Civil Engineering Works A Practical Set of Ecological Engineering Principles for Road Infrastucture and Coastal Management, PhD Thesis, Delft University of Technology. [7] Sobolev, K., dan Naik, TR. (2005). Sustainability of Concrete and Cement Industries, CBU-2004-15;REP-562, January, Center for By-Products Utilizatons, Department of Civil Engineering and Mechanics, College of Engineering and Applied Science, The University of Wisconsin, Milwaukee, USA. [8] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2011). Beton Bajik - Meningkatkan Daya Saing Bangsa Di Bidang Teknologi Beton Sebagai Wujud Kasih Akan Tanah Air in Bunga Rampai Kasih Akan Tanah Air: Upaya untuk Terus Menjadi, pp. 133-155. [9] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2007). Eko-Teknik Sipil, Sebuah Refleksi bagi Dunia Pendidikan Rekayasa untuk Terwujudnya Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Unika Soegijapranata, Vol. IV, No. 1, Januari, pp. 30-38. [10] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). Eco-Civil Engineering for Sustainable Civil Engineering Development, Prosiding Seminar

10

BAB 1 - PENDAHULUAN

Nasional Teknik Sipil V, Teknologi Ramah Lingkungan dalam Bidang Teknik Sipil, Surabaya, 11 Februari, Program Studi Pasca Sarjana & Jurusan Teknik Sipil, ITS, pp. B.89-95. [11] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). Ex Corde Ecclesiae, The Heart of Unika Soegijapranatas Engineering Lifelong Learning, Prosiding International Conference on Continuing Engineering and Technical Education,Universitas Diponegoro, pp. 1-11. [12] Gerwick, Jr., BC. (1994). The Economic Aspects of Durability How Much Added Expense Can Be Justified?, Proceeding of Symposium on Durability of Concrete, Eds. Khayat, KH., and Aitcin, PC., CANMET/ACI, France, pp. 1-19. [13] Susilorini, Retno, Rr. M.I. (2007). Fractured Based Approach for Structural Element Design Safe Building, Safe City, Proceeding Third International Conference on Economic and Urban Management City Marketing, Heritage, and Identity), PMLP Unika Soegijapranata, Semarang, pp.451-465.

11

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

BAB 2 PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

2.1. SEJARAH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON MASA LALU

Bidang Teknik Sipil berperan penting dalam membidani lahirnya teknologi beton. Sejarah perkembangan teknologi beton tentu saja tidak lepas dari sejarah bidang Teknik Sipil. Sebuah definisi tentang Teknik sipil yang dikutip dari Piagam asli yang berasal dari Institusi Para Insinyur Sipil di Amerika tahun 1828

(http://live.asce.org/hh/index.mxml? versionChecked=true) disajikan sebagai berikut. "...the art of directing the great sources of power in nature for the use and convenience of man, as the means of production and of traffic in states, both for external and internal trade, as applied in the construction of roads, bridges, aqueducts, canals, river navigation and docks for internal intercourse and exchange, and in the construction of ports, harbours, moles, breakwaters and lighthouses, and in the art of navigation by artificial power for the purposes of commerce, and in the construction and application of machinery, and in the drainage of cities and towns." Institution of Civil Engineers' original charter, 1828.

12

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Definisi

tentang

Teknik pada

Sipil tahun

tersebut 1961

di

atas

kemudian

disempurnakan

(http://live.asce.org

/hh/index.mxml? versionChecked=true) sebagai berikut.

"Civil engineering is the profession in which a knowledge of the mathematical and physical sciences gained by study, experience, and practice is applied with judgment to develop ways to utilize, economically, the materials and forces of nature for the progressive well-being of humanity in creating, improving, and protecting the environment, in providing facilities for community living, industry and transportation, and in providing structures for the use of humanity." American Society of Civil Engineers, 1961. Intisari dari prinsip-prinsip yang dituangkan tahun 1828 maupun tahun 1961 tersebut adalah bahwa Teknik Sipil adalah seni mengendalikan sumber daya alam maupun buatan, yang dikelola sedemikian rupa dalam bentuk infrastruktur, untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia, tanpa melupakan perlindungan terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan. Mengkaji definisi-definisi tersebut, jelas ditegaskan bahwa faktor keberlanjutan sudah menjadi pertimbangan utama dalam keberadaan bidang Teknik Sipil. Keberlanjutan dalam bidang Teknik Sipil juga mensyaratkan tanggungjawab penuh atas langkah-langkah dan kegiatan-kegiatan para pelakunya.

13

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.1. Prasasti Hammurabi Code (Museum Louvre, Perancis) (http://www.constructionconnection.com/blog/features/construction-lawthe-history-is-ancient/)

Suatu refleksi, tanggungjawab atas keberlanjutan hasil rekayasa insinyur (dalam hal ini bangunan), dapat dikaji dari diskusi berikut. Suatu aturan tentang keselamatan konstruksi, pelaku konstruksi, dan pengguna konstruksi, Hammurabi Code of Laws (1780 SM), pada masanya telah dijadikan harga mati [1].

Hammurabi adalah Raja Babilonia yang memerintah 1795-1750 SM. Hammurabi Code of Laws (Gambar 2.1.) mengatur berbagai resiko yang tidak dapat diterima dalam kerusakan atau kegagalan bangunan serta mengatur kelayakan pembuatan kapal. Dalam hal keselamatan bangunan, beberapa bagian penting dari Hammurabi Code untuk menegakkan peraturan bagi para pembangun dapat disajikan sebagai berikut: 14

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.2. Prasasti Hammurabi saat menerima lencana dari Shamash, Sang Dewa Keadilan di Babilonia (Museum Louvre, Perancis) (http://nelmitravel.files.wordpress.com/2010/12/thecodeofhammurabiup perpartofstatue.jpg)

If a building falss down causing the death of the owner or his son, whichever may be the case, the builder or his son will be put to death. If the slave of the home owner dies, he shall be given a slave of the same value. If other possessions are destroyed, these shall be restored, and the damaged parts of the home shall be reconstructed Hammurabi Code of Laws ([2], pp.178)

15

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Hammurabi dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan keselamatan aturan dan undang-undangnya. jika Dalam aturan

bangunan

tersebut,

kegagalan

bangunan

menyebabkan kematian bagi pemilik atau anak pemilik, maka nyawa pembangun atau anak pembangun menjadi taruhannya. Jika pemilik bangunan mengalami kehilangan budak akibat kegagalan bangunan, maka pembangun wajib memberi ganti budak dengan nilai yang sama. Jika terdapat bagian bangunan yang hancur, maka harus dibangun kembali, dan jika ada bagian yang rusak, harus diperbaiki. Meskipun peraturan-peraturan yang ditegakkan Hammurabi terkesan kejam (terminologi yang terkenal untuk ketegasan Hammurabi adalah eye for an eye atau mata diganti mata), namun efek jera yang ditimbulkan sangat efektif. Harus diakui, bahwa upaya Hammurabi mengedepankan durabilitas bangunan serta keberlanjutan bangunan menjadi inspirasi berbagai penegakan hukum untuk masalah hak pengguna atau konsumen dalam kasus-kasus hukum. Code yang dikeluarkan Hammurabi (yang dipercaya

mendapat lencana dari Dewa Keadilan, Shamash, Gambar 2.2.), demikian terkenal hingga saat ini menjadi acuan penegakan aturan dan perundangan di berbagai negara di dunia yang menjamin hak-hak rakyat sipil dalam konteks kesejahteraan dan keselamatan.

16

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.3. Strawberry Mansion Bridge, melintasi Schuylkill River di Fairmount Park, Philadelphia, Pennsylvania, USA. Dibangun pada tahun 18961897 oleh Phoenix Bridge Company, Phoenixville, Pennsylvania. (http://www.flickr.com/photos/trek22/6518418355/, foto Copyright by Tarson L, 2011)

Dua kasus hukum klasik terkenal di USA [1], yaitu kasus USA melawan Dotterwich1 (1943) dan kasus USA melawan Park2 (1975)

Dotterweich adalah Presiden dari Buffallo Parmacal Company, Inc. Perusahaan ini membeli obat-obatan dari pemasok dan mengapalkannya setelah mengepak ulang dan memberikan label baru. Tindakan ini dinilai melanggar Peraturan FDAC yaitu pemalsuan (aldurated dan misbranded) dari produk obat-obatan dalam perdagangan antar negara bagian. Dotterweich dinilai bertanggungjawab atas kemungkinan buruk yang bisa ditimbulkan dari praktek pengepakan dan labelisasi ulang yang tidak menjamin kualitas produk obat-obatan tersebut (http://supreme.justia.com/cases/federal/us/320/277/case.html). 2 Kasus ini adalah sengketa pajak yang bermula dari masalah hibah Strawberry Mansion Bridge. Philadelphia Park Amusement Co. (PPAC) memiliki franchise mengelola jalan kereta api menuju ke taman hiburan. Setelah beberapa waktu mereka membangun jembatan Strawberry. Ketika masa pemakaian franchise hampir habis, menghibahkan jembatan tersebut ke pemerintah kota karena menginginkan perpanjangan waktu franchise selama 10 tahun namun juga karena tidak ingin melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk jembatan

17

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

yang meminta pertanggungjawaban kedua tergugat tersebut karena melakukan pelanggaran terhadap FDAC (Federal Food, Drugs, and Cosmetics Act) dan adanya sengketa pajak yang menyangkut kepentingan umum. Kedua kasus di Mahkamah Agung (Supreme Court) tersebut merupakan penegakan UU Kesejahteraan Umum (Public Welfare Statutes) dan Doktrin Tanggungjawab Pegawai Perusahaan (Responsible Corporate Officer) [1]. Keberlanjutan bangunan dan infrastruktur, khususnya bidang teknologi beton, menuntut tanggungjawab besar. Dalam perjalanan (State of the Art) dari inovasi dan perkembangan teknologi beton dari masa awal hingga terkini membuktikan bahwa keberlanjutan teknologi beton sangat berperan untuk mencapai dunia

berkelanjutan. Riwayat teknologi beton akan didiskusikan dalam paragraf-paragraf berikut. Teknologi beton berkembang sepanjang sejarah peradaban manusia. Sejak era beton bertulang dimulai pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 struktur beton bertulang mulai banyak diaplikasikan sebagai bangunan, jembatan, dan berbagai bangunan beton lain, menggantikan struktur bata dan kayu [1]. Beton, sebagai bahan bangunan, banyak digunakan di berbagai belahan bumi karena beton merupakan material yang kedap air, mudah dibentuk, serta relatif murah dan mudah disediakan. [2, 3]. Bangsa Romawi dikenal sebagai pengembang teknologi beton yang menjadi cikal bakal
tersebut. Pada saat pembayaran pajak harus dilakukan terjadi sengketa antara pihak PPAC dan IRS (Internal Revenue Service) soal besarnya pajak yang harus dibayarkan (http://www.invispress.com/law/tax/philadelphia.html)

18

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

teknologi beton modern. Beberapa artefak struktur beton peninggalan Romawi masih berdiri kokoh hingga saat ini, antara lain Pantheon di Roma (Gambar 2.4.).

Gambar 2.4. Pantheon di Roma (http://www.romanconcrete.com/albums/pantheon_2003_11/ tn/124.JPG.html)

Mendiskusikan riwayat teknologi beton berarti mengkaji tahapan-tahapan yang dilalui bidang ini dari masa awal hingga kemajuan terkini, meski dalam lingkup yang masih dibatasi oleh ketersediaan informasi dan dokumentasi. Timeline sejarah

perkembangan teknologi beton masa lalu sangat menarik untuk dikaji, seperti disajikan Gambar 2.5. dan 2.6. [4].

19

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.5. Diagram sejarah beton (http://static.concretenetwork.com/photogallery/images/709x184Exact/site_26/ timeline-of-concrete- timeline-ofconcrete-history_1803.jpg; [3])

Terminologi beton pada masa purba lebih merujuk pada apa yang disebut dengan mortar yang tersusun atas campuran batuan, semen yang terbuat dari batu kapur yang dipecah, pasir, dan air [4]. Beton purba juga telah ditemukan sejak 12 juta tahun sebelum Masehi di Israel, yaitu dengan reaksi antara batu kapur dengan serpihan batuan yang mengandung minyak selama terjadinya pembakaran spontan, yang kemudian membentuk bahan galian yang merupakan bahan penyusun semen di kemudian hari [5].

20

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BET BETON

Gambar 2.6. Sejarah h perkemb perkembangan teknologi beton (http://matse1.matse.illinois.e se.illinois.edu/concrete/3.gif; [3])

21

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Kebanyakan orang hanya mengetahui era kejayaan struktur beton pada masa Mesir Kuno atau Romawi, dan mapan pada saat Joseph Asdin mendaftarkan patentnya untuk Semen Portland pada tahun 1824. Namun sesungguhnya pada tahun 25 SM sebuah karya dari seorang insinyur (yang juga adalah arsitek) yang hidup di jaman emas Julius Caesar, Marcus Vitruvius Pollionis, yang berjudul De Architectura libri decem (Ten books on Architecture) telah menjadi tonggak baru aplikasi beton dan perilaku material pada konstruksi bangunan [6]. Buku Ten books on Architecture tersebut telah membawa pengaruh besar bagi para seniman arsitek, insinyur, dan pemikir di masa renaissance, antara lain Leonardo Da Vinci dan Michael Angelo. Dalam bukunya, Vitruvius memberikan beberapa rekomendasi pemakaian pozzolana untuk pembuatan elemen struktur. Bahkan rekomendasi Vitruvius tentang perbandingan 1 bagian kapur untuk 3 bagian pozzolana juga menjadi dasar dari perencanaan campuran beton (mix-design) masa kini. Karya Vitruvius yang lain, The Origin of All Things, menetapkan kategori untuk jenis-jenis agregat yang dipergunakan sebagai bahan penyusun mortar karpur. Dalam bukunya, dikotomi antara teori dan praktek (yang sampai saat ini masih menjadi diskusi menarik di kalangan para insinyur, praktisi konstruksi, dan akademisi) juga dikaji secara mendalam. Ia menyarankan agar para insinyur perancang lebih banyak memperoleh pengalaman praktis [6], demikian pula sebaliknya (para praktisi juga lebih banyak mempelajari teori). Masalah-masalah di lapangan yang dihadapi

22

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

berkaitan dengan teori versus praktek itulah yang membuat Vitruvius menyampaikan keluhan dalam bukunya sebagai berikut. The WORKMEN are in a HURRY, the UNEDUCATED rather than the educated are in HIGHER FAVOR and ARCHITECTURE and ENGINEERING are professed by men, who have no knowledge even of carpenter s trade. (Engineers Outlook, 2011, pp. 1 [6]). Desain arsitektur dari Vitruvius memang spektakuler dan menjadi bahan diskusi yang tiada habisnya, antara lain Basilika di Colonia Iulia Fanestri, Fano [7], yang disajikan pada Gambar 2.7. dan 2.8.

23

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.7. Desain Basilika di Colonia Iulia Fanestri, Fano (7) (http://www.vitruvius.be/boek5h1.htm)

24

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.8. Desain Basilika di Colonia Iulia Fanestri, Fano (7) (http://www.vitruvius.be/boek5h1.htm)

25

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Struktur bangunan mirip beton (concrete-like) seperti yang disajikan Gambar 2.9. telah dibangun oleh para pedagang Nabataea (atau sering disebut dengan kaum Bedouin) di Syria selatan dan Jordan utara pada tahun 6500 SM [4]. Selanjutnya mereka menemukan semen hidraulis (semen yang mengeras di dalam air), dan pada tahun 700 SM mereka membangun penggilingan kapur sebagai suplai bahan mortar yang digunakan untuk rumah dengan dinding batuan pecah (rubble-wall house), lantai beton, dan bak tandon bawah tanah. Material pasir silika yang ada di daerah Syria merupakan bahan utama penyusun mortar masa itu.

Gambar 2.9. Bangunan purba Nabataea di Syria (http://www.nachi.org/images10-2/syrian-concrete-structure.jpg, [5])

26

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Seiring perkembangan jaman, pada tahun 5600 SM, rumahrumah beton mulai dibangun di sepanjang bantaran Sungai Danube, Yugoslavia [4, 5] seperti disajikan Gambar 2.10.

Gambar 2.10. Bekas reruntuhan pemukiman di bagian timur di bantaran Sungai Danube, Yugoslavia, tampak bekas-bekas fondasi rumah beton dari masa lalu (Foto diambil dari"Lepenski Vir" oleh Dragoslav Srejovi 1972) (http://donsmaps.com/images7/lepenskihouse45dig.jpg)

Dalam perkembangannya, mortar juga digunakan oleh bangsa Mesir kuno pada tahun 3000 SM, dengan mencampur lumpur dan jerami serta gypsum dan kapur untuk membuat bata dan membangun piramida [4]. Piramida yang sangat terkenal, Great Pyramid di Giza

27

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

(Gambar 2.11.), memerlukan 500.000 ton mortar yang digunakan sebagai pelapis batu-batu kotak sehingga dapat dipahat.

Gambar 2.11. Great Pyramid di Giza (http://www.culturefocus.com/egypt/pictures/pyramids-22small.jpg)

Pada kurun waktu yang bersamaan, bangsa Cina mulai mengaplikasikan semen untuk membuat kapal dan membangun Tembok Besar, The Great Wall (Gambar 2.12.). Mereka menggunakan bahan perekat yang sangat efektif, semacam beras ketan (sticky rice) [4]. Beton mulai digunakan di Provinsi Gansu sebelah barat daya Cina [5]. Tidak seperti beton masa kini, beton di Cina masa itu berwarna hijau kehitaman, terbuat dari campuran semen, air, pecahan tanah liat, dan tulang. Mereka mengaplikasikan beton ini pada struktur lantai bangunan.

28

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.12. Tembok Besar China (http://www.thesurfbum.com/wp-content/uploads/2009/05/ great_wall_1.jpg)

Pada

tahun

800

SM,

bangsa

Assiria

dan

Babilonia

menggunakan bitumen (Gambar 2.13.) untuk merekatkan batuan besar dan kecil [4]. Selain itu, mereka juga menggunakan bitumen untuk merekatkan bata yang dibakar untuk membangun ziggurat (Gambar 2.13.), yaitu bangunan masif berbentuk menara berundak.

29

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.13. Bitumen pada bangunan ziggurat di Ur, wilayah Mesopotamia (http://www.biblearchaeology.org/post/2009/09/21/cultural-change-andthe-confusion-of-language-in-ancient-sumer.aspx)

Gambar 2.14. Bangunan ziggurat di Ur, (http://www.mesopotamia.co.uk/ziggurats/home_set.html)

30

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Sejarah perkembangan teknologi beton selanjutnya memasuki masa ditemukannya material pozzolan alam dari pulau Santoini oleh bangsa Yunani pada tahun 600 BC [4, 5]. Pozzolan alam tersebut bersifat hidraulis bila dicampur dengan kapur. Dengan semen yang bersifat hidraulis ini, material beton yang dibangun dapat mengeras di dalam air maupun di udara terbuka. Salah satu bangunan yang beton terkenal dari masa tersebut adalah Kuil Neptunus di Paestum (Gambar 2.15.) yang menjadi cagar budaya sampai saat ini.

Gambar 2.15. Kuil Neptunus di Paestum, salah satu kuil Yunani terbesar (http://www.travel-tidbits.com/tidbits/images/italy/ I_Paestum_Temple_of_Neptune.jpg)

31

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Perkembangan teknologi beton selanjutnya adalah berdirinya Kota Kuno Petra, Petra Ancient City (400 SM 200 M), yang terletak di sebelah barat daya Yordania dan kurang lebih 95 mil di sebelah tenggara Yerusalem [4, 8]. Kota Kuno Petra (Gambar 2.16.) merupakan pemukiman kaum Nabataea yang sangat maju dan secara genius mampu melengkapi infrastruktur kota untuk kepentingan pertanian, rekayasa hidraulis, dan arsitektur [8]. Mereka menerapkan sistem konsevasi air dan membangun dam-dam untuk mencegah banjir. Kuil-kuil dan rumah mereka bangun di tebing padas berwarna merah (sehingga sering juga disebut dengan rose-red city).

Gambar 2.16. Kota Kuno Petra (http://www.workersforjesus.com/petra.htm [8])

32

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Bangsa Romawi adalah pelaku riwayat perkembangan teknologi beton selanjutnya, yang dimulai tahun 300 SM dengan mengaplikasikan bangunan-bangunan beton yang fenomenal.

Bangunan beton Romawi tidak seperti beton masa kini yang berupa campuran material yang bersifat plastis dan dicetak, melainkan berupa pecahan-pecahan material (bebatuan) yang direkatkan dengan mortar [5]. Bebatuan yang direkatkan itu dijepit di sebelah dalam dan luar dengan bata yang sekaligus berfungsi sebagai cetakan beton. Untuk bangunan yang artistik dan bernilai, bangsa Romawi menggunakan semen dengan pasir vulkanis jenis harena fossicia. Untuk bangunan-bangunan yang terekspos langsung dengan air (misal jembatan, dermaga, saluran drainase, saluran air, dll) mereka menggunakan pasir vulkanis jenis pozzoulana yang berasal dari Pozzouli, di dekat Teluk Naples [4]. Kedua jenis pasir vulkanis tersebut akan bereaksi secara kimiawi bila tercampur dengan kapur dan air dan mengalami hidrasi sehingga menjadi massa padat yang keras dan kuat seperti cadas.

33

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.17. Pemandian Romawi (Roman Baths) (http://www.bluffton.edu/~sullivanm/bathbaths/greatbath.jpg)

Material beton Romawi berkinerja sangat baik dan digunakan untuk membangun bangunan-bangunan besar seperti Pantheon pada tahun 128 M (Gambar 2.4. dan 2.19.), Pemandian Romawi, Roman Baths, pada tahun 75 SM (Gambar 2.17), Colloseum pada tahun 82 M (Gambar 2.18.). Pemakaian bahan tambah (admixture) sudah digunakan saat itu dengan metode-metode yang sangat mendasar, antara lain lemak binatang, susu, dan darah [4]. Pada masa kejayaan Romawi ini telah mulai diproduksi pozzolan buatan dari tanah lempung kaolin yang terkalsinasi dan batuan vulkanis terkalsinasi. Selain kinerja material penyusun beton, ternyata terdapat hal menarik yang mendukung keberlanjutan bangunan-bangunan beton Romawi, yaitu peranan Serikat Pekerja dan Legiun Romawi. Saat itu setiap perusahaan diwajibkan memiliki Serikat Pekerja yang berkewajiban 34

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

mentransfer pengetahuan tentang material, teknik, dan peralatan kepada para pegawai magang dan anggota Legiun Romawi. Selain kewajiban ketentaraan mereka dalam konteks bela negara, para Legiuner ini mendapatkan pengetahuan dan dilatih metode

konstruksi dan rekayasa, sehingga memiliki kemampuan dan keahlian di bidang konstruksi.

Gambar 2.18. Colloseum di Roma, malam hari (http://www.hotelyorkcinisello.com/wp-content/uploads/2012/07/RomeHow-Much-Youll-Pay-to-Visit-the-Coliseum.jpg)

Kajian kemajuan teknologi beton pada jaman Romawi memang menarik untuk disimak, khususnya bangunan berkubah raksasa yang disebut Pantheon (Gambar 2.4. dan 2.19.). Pantheon merupakan bangunan kubah dari beton tak bertulang terbesar yang pernah dibangun, diselesaikan pada masa kekuasaan Kaisar Hadrian [4]. Bangunan ini memiliki kubah berdiameter 142 ft (Gambar 2.17.) 35

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

dengan lubang oculus berdiameter 27 ft yang berada di ketinggian 142 ft juga. Bangunan raksasa yang dibangun in situ ini ditengarai dibangun mulai dari bagian terluar menuju bagian dalam.

Gambar 2.19. Bangunan Pantheon tampak atas, kubah terlihat jelas [4]

Sungguh merupakan keajaiban bahwa Pantheon yang merupakan struktur beton tanpa tulangan mampu tetap kokoh berdiri selama lebih dari 2000 tahun (termasuk bertahan terhadap gempa yang beberapa kali terjadi selama masa-layannya). Dinding luar penyangga kubah dengan 8 buah ceruk dengan 7 ruangan yang

36

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

sebetulnya ditujukan untuk mengurangi massa bangunan [4, 9]. Ceruk-ceruk dan ruangan-ruangan tersebut (Gambar 2.20. dan 2.21.) berfungsi sebagai titik kontrol yang memantau terjadinya retaDalam hal ini, ceruk-ceruk tersebut juga difungsikan seperti tiang-tiang beton berongga (hollow column) raksasa yang menyangga kubah. Struktur yang sangat berat ini berdiri di atas tanah rawa yang tak stabil [9], sehingga dibuat fondasi melingkar (ring foundation) sebanyak 2 buah, fondasi melingkar pertama mendukung fondasi melingkar kedua, sehingga struktur menjadi lebih stabil.

Gambar 2.20. Potongan penampang bangunan dari Pantheon [4]

Kubah Pantheon sangat menarik untuk dikaji. Bagian luar kubah Pantheon merupakan satu seri struktur cincin bertingkat sebanyak 7 buah dan berlanjut dengan struktur garis melingkar sampai ke puncak kubah [9]. Bagian dalam kubah berupa potongan cembung berbentuk persegi yang dipress, yang disebut coffer, 37

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

tersusun atas satu seri yang terdiri atas 5 jalur (Gambar 2.21.). Pada puncak kubah terdapat bukaan besar yang disebut oculus (Gambar 2.20. dan 2.21.).

Gambar 2.21. Potongan penampang dinding dalam dari Pantheon [9]

Tiada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Meskipun bangunan Pantheon telah mampu bertahan lebih dari 2000 tahun, namun bangunan raksasa ini tetap mengalami retak secara struktur. Beberapa pendapat berbeda dikemukakan para peneliti untuk

38

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

masalah retak pada Pantheon. Terenzio menjumpai adanya retak saat inspeksinya pada tahun 1930 [9], dari dasar fondasi hingga ke puncak kubah. Retak telah terjadi pada dinding dan kubah Pantheon yang disebabkan oleh tegangan tarik yang berlebihan (excessive tensile stress). Namun Terenzio berpendapat bahwa retak terjadi segera setelah konstruksi Pantheon terjadi (Gambar 2.22.).

Gambar 2.22. Potongan penampang dinding Pantheon yang mengalami retak, hasil inspeksi Terenzio [9]

39

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Beberapa peneliti (Mark dan Hutchinson, 1986, [9]) telah melakukan analisa dengan model elemen hingga 3 dimensi untuk mengkaji retak pada Pantheon. Hasil analisa menunjukkan bahwa bangsa Romawi sangat berhati-hati dan memiliki ilmu yang menjadikan desain bangunan berkubah raksasa itu masih berada di wilayah batas desain yang aman. Meskipun demikian, suatu tindakan preventif perlu dilakukan untuk menjamin keamanan dan

keberlanjutan Pantheon di masa datang seperti misalnya memasang ring baja di luar ring yang ada pada saat ini [9].

Gambar 2.23. Pont du Gard Aqueduct , termasuk dalam World Heritage List (http://blog.pv-holidays.com/wp-content/uploads/2010/05/Pont-du-GardRoman-Aqueduct.jpg)

40

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Salah satu bangunan beton masa Romawi yang lain dan patut menjadi catatan adalah Pont du Gard Aqueduct (saluran air) yang dibangun sekitar tahun 40-60 M (Gambar 2.23.). Saluran air dari beton ini melintasi Sungai Gardon dekat Nimes di sebelah selatan Perancis (http://www.worldheritagesite.org/sites/pontdugard.html),

terbentang dari sumber air di Fontaine d'Eure dekat Ucetia (Uzs) sampai ke tempat tujuan distribusi air di Nemausus (Nmes). Termasuk dalam Daftar Kekayaan Dunia, The World Heritage List (UNESCO, http://whc.unesco.org/en/list/344). Perkembangan teknologi beton selanjutnya akan didiskusikan dalam sub bab berikut pada buku ini.

41

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

2.2. IMPLEMENTASI TEKNOLOGI BETON PADA BANGUNAN DAN INFRASTRUKTUR MASA KINI

Gambar 2.24. Eddystone Lighthouse di Cornwall, Inggris [6]

Sepanjang Abad Pertengahan, perkembangan teknologi beton tenggelam seiring jatuhnya Kekaisaran Romawi pada tahun 476 M. Era kebangkitan teknologi beton diawali penemuan John Smeaton (1756) yang menyempurnakan semen hidraulis Romawi. John

42

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Smeaton mencampurkan Aberthaw biru (batu kapur dari Wales selatan) yang dibakar dengan pozzolan Itali dari Vicitavecchia [5]. Ia menyadari bahwa kalsinasi antara batu kapur yang mengandung lempung akan menyebabkan kapur mengeras di dalam air, sehingga dipakainya kapur hidraulis untuk memperbaiki bangunan mercusuar Eddystone Lighthouse (Gambar 2.24.) di Cornwall, Inggris pada tahun 1756-1759 [4, 6]. Salah satu tonggak sejarah terpenting dalam perkembangan teknologi beton adalah ditemukannya Semen Portland oleh Joseph Aspdin pada tahun 1824 [6]. Namun, sebelum penemuan Semen Portland, beberapa patent untuk semen telah didaftarkan oleh para penemunya [5]. Bry Higgins telah mempatentkan semen hidraulis stucco (1779-1780) untuk keperluan plaster eksterior. Pada tahun 1796, James Parker dari Inggris mempatentkan semen hidraulis alam yang mengandung lempung dengan nama Semen Parker atau juga disebut dengan Semen Romawi (Roman Cement). Louis Vicat, pada tahun 1812-1813 telah mempatentkan kapur hidraulis buatan dengan mengkalsinasi campuran sintetis antara batu kapur dan lempung. Patent semen hidraulis juga telah diperoleh Maurice St. Leger pada tahun 1818. Pada tahun yang sama, Canvass White, seorang insinyur Amerika, menemukan bahan galian cadas di Madison County, New York, sehingga dapat memproduksi semen hidraulis dengan cara yang lebih sederhana. Nama Portland pada Semen Portland yang ditemukan oleh Joseph Aspdin (1824) merujuk pada suatu bangunan batu berkualitas

43

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

prima yang dijumpai di Portland, Inggris [6]. Joseph Aspdin memperkenalkan metode pabrikasi semen Portland dengan cara [4, 6] pembakaran batu kapur pecah dengan lempung dan meleburnya hingga memperoleh bubuk semen. Kemajuan teknologi beton berikutnya ditandai dengan perolehan patent oleh Joseph-Louis Lambot (1855) untuk kapal kecil yang terbuat dari beton bertulang [4] seiring dengan dibangunnya rumah beton oleh Francois Coignet (1853) seperti tersaji pada Gambar 2. 25.

Gambar 2.25. Rumah Beton pertama oleh Francois Coignet, 1853 [6]

44

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Perkembangan teknologi beton selanjutnya membawa Joseph Monier, seorang tukang kebun dari Perancis, mempatentkan bak air dari beton bertulang untuk kebun pada tahun 1867 [6]. Patent tersebut diikuti oleh patent-patent berikutnya yaitu pipa dan tangki (1868), plat datar (1869), jembatan (1873, disajikan Gambar 2.26.), dan tangga (1875).

Gambar 2.26. Jembatan Chazelet oleh Joseph Monier, 1873 [6]

Pionir perkembangan teknologi beton di Amerika Serikat adalah Thaddeus Hyatt yang mengadakan eksperimen balok beton bertulang pada tahun 1850an [6]. Penemuan ini tidak dipublikasikan sampai 1877. Ernest L. Ransome mempergunakan penemuan Hyatt untuk pertama kalinya dan selanjutnya mempatentkan baja berulir

45

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

pada tahun 1884. Pada tahun 1875, William Ward membangun rumah beton bertulang (Gambar 2.27.) untuk pertama kalinya (dan masih berdiri) di Port Chester, New York [4].

Gambar 2.27. Ward Castle, rumah yang didirikan William Wards di Amerika Serikat, 1875 [6]

Kontribusi

penting

bagi

bidang

teknologi

beton

juga

disumbangkan oleh Henri Le Chatelier (1887) yang merumuskan perbandingan oksida-oksida penyusun kapur untuk bahan pembuat semen. Bahan-bahan penyusun tersebut dinamakan Alite (trikalsium silikat), Belite (dikalsium silikat), dan Celite (tetrakalsium alumina ferit). Le Chatelier berpendapat bahwa pengerasan beton disebabkan oleh pembentukan kristal-kristal yang disebabkan reaksi antara semen dan air [5]. 46

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BET BETON

Berbagai teori dan hasil asil peneli penelitian telah dipublikasi di Eropa selama tahun 1884-1894 terkait rkait den dengan kemajuan teknologi beton masa itu [6]. Beberapa penemuan nemuan a antara lain sistem Moller oleh Robert Wunsch (Jerman, 1884), 884), sist sistem Melan atau lebih dikenal dengan Jembatan Naga oleh Josef Me Melan (Austria, 1892). Hal yang perlu dicatat adalah bahwa Francoi Francois Hennebique mempatentkan sistem struktur beton bertulang ulang unt untuk rumah tinggal pada tahun 1892 dan menjadi rujukan sistem str struktur beton bertulang hingga saat ini (Gambar 2.28.) [4, 6].

Gambar 2.28. Sistem struktur beton ber bertulang oleh Francois Hennebique (http://classconnection.s3.amazonaws.co zonaws.com/718/flashcards/844718/png/u ntitled131908190 319081908577.png)

47

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Perkembangan teknologi beton di Amerika Serikat masa tahun 1890an juga sangat signifikan. Pada tahun 1891, George

Bartholomew, membuat jalan beton pertama di Bellefontaine, Ohio, Amerika Serikat. Jalan beton tersebut masih ada dan masih dipergunakan (Gambar 2.29. dan 2.30.).

Gambar 2.29. Jalan beton tertua di Bellefontaine, Ohio, USA, lengkap dengan monumen peringatan (http://farm4.staticflickr.com/3056/2718814407_7998ff4c63_m.jpg)

Gambar 2.30. Prasasti pada monumen peringatan jalan beton tertua di Bellefontaine, Ohio, USA (http://photos.uptake-inc.com/photo/24/48/41/tn-Photo75635.jpg)

48

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Pada awal abad ke-20, perkembangan dan kemajuan teknologi beton sangat pesat. Pada tahun 1902, August Perret membangun apartemen (Gambar 2.31.) dari struktur beton bertulang di Paris,yang diterapkan pada kolom, balok, dan lantai [4]. Desain eksterior yang berupa faade menjadikan bangunan dari beton bertulang makin diterima dan diminati masyarakat.

Gambar 2.31. Apartemen karya August Perret di 25 Rue Frank lin, Paris, Perancis (http://2.bp.blogspot.com/-iwvE18H450A/TnjqJjL1_hI/AAAAAAAADB8/ PUqEZwlqS7U/s1600/perret2.jpg)

49

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Pada tahun 1904, bangunan bertingkat tinggi dari struktur beton bertulang pertama dibangun di Cincinnati, Ohio, USA (Gambar 2.32.). Bangunan karya E.L. Ransome ini (dinamakan Ingalls Building) terdiri dari 16 lantai dengan ketinggian 210 ft [4- 6].

Gambar 2.32.Ingalls Building, 1904 (http://farm4.staticflickr.com/3007/2784456227_f8398688c5.jpg)

50

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Saat yang bersamaan, tahun 1904, beton pra-cetak (precast concrete) mulai diaplikasikan di proyek Pelabuhan Sidney, yaitu mercusuar dan dermaga, Bradley's Head Lighthouse (Gambar 2.33.) and Millers Point Wharves [5].

Gambar 2.33. Bradley's Head Lighthouse (http://www.waterway.com.au/images/news/WW110509154613.jpg)

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi beton, kejadian gempa demikian, bencana besar ini justru makin mendorong para insinyur dan ahli untuk makin mengembangkan teknologi beton dan struktur. Pengajaran, riset, dan pengembangan teknologi semen dan beton makin dipertajam dan digalakkan oleh badan yang terbentuk di Indianapolis setahun sebelum terjadinya gempa, yaitu pada tahun 1905, The National Association of Cement (yang kemudian menjadi

51

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

The American Concrete Institute). Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1916 didirikan Portland Cement Association (PCA) [5].

Gambar 2.34. Bencana gempa yang meluluhlantakkan bangunan dan kota San Fransisko pada tahun 1906 (http://news.bbc.co.uk/nol/shared/spl/hi/pop_ups/06/sci_nat_ san_francisco_earthquake___1906/img/1.jpg)

Pasca gempa San Fransisco 1906, beberapa kemajuan penting dalam teknologi beton perlu dicatat. Jembatan Risorgimento (Gambar 2.35.) dari beton bertulang dengan bentang sepanjang 328 ft telah dibangun di Roma pada tahun 1911 [6]. Seiring dengan

perkembangan industri konstruksi, perusahaan beton siap-pakai (ready-mix) di Baltimore, Maryland, USA, mulai berproduksi pada tahun 1913. 52

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.35. Jembatan Risorgimento di Roma [6]

Terobosan penting dilakukan oleh Matte Trucco dengan membangun pabrik mobil Fiat-Lingotti Autoworks di Turin dengan struktur beton bertulang 5 lantai pada tahun 1915 (Gambar 2.36.). Pabrik mobil ini memiliki fasilitas track atau arena untuk pengujian automobil di atas atap [6].

Gambar 2.36. pabrik mobil Fiat-Lingotti Autoworks di Turin, 1915 [6]

53

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Dalam hal standarisasi dan peraturan terkait material beton di USA, pada tahun 1917, National Bureau of Standards (sekarang the National Bureau of Standards and Technology) dan the American Society for Testing and Materials (sekarang ASTM International) telah menetapkan standar formula untuk Semen Portland [6]. Dalam kurun waktu tahun 1900-1920, terdapat 2 hal penemuan yang menarik terkait inovasi di bidang teknologi beton. Pada tahun 1908, Thomas Alva Edison mempatentkan sistem cetakan besi untuk rumah beton monolit (Gambar 2.37.) yang mencetak sekaligus dinding, lantai, tangga, atap, bak mandi dan bak cuci, serta saluran untuk listrik dan air [5].

Gambar 2.37. Sistem cetakan besi untuk rumah beton monolit dari Thomas Alva Edison,1908 (http://www.new-territories.com/ZOO/wpcontent/uploads/2011/06/i_thomas-edison.jpg)

54

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Penemuan beberapa metode konstruksi juga tejadi dalam kurun waktu tersebut di atas. Pada tahun 1911 ditemukanshotcrete yang mempermudah pengecoran vertikal dan horisontal tanpa cetakan (form work), serta pada tahun 1913 telah dipatentkan pompa beton yang mempermudah proses pengecoran [5]. Infrastuktur yang dibuat dari struktur beton penting telah diresmikan tahun 1914, yaitu Terusan Panama (Gambar 2.38) setelah beberapa puluh tahun digarap konstruksinya.

Gambar 2.38. Terusan Panama masa kini (http://www.panamascanal.com/files/2010/03/Building-the-NewPanama-Canal.jpg)

55

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Eugne Freyssinet, penemu patent untuk beton prategang (prestressed concrete) membangun 2 buah hanggar raksasa berbentuk parabola (Gambar 2.39. dan 2.40.) di Bandara Orly, Perancis pada tahun 1921 [6].

Gambar 2.39. Pekerjaan hanggar raksasa parabolik di Bandara Orly, Perancis [6]

56

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.40. Hanggar raksasa parabolik di Bandara Orly, Perancis [6]

Perkembangan inovasi teknologi beton yang penting untuk dicatat pada kurun waktu berikutnya adalah ditemukannya air entraining agent pada tahun 1930 untuk meningkatkan ketahanan beton terhadap pembekuan (freezing) ataupun pencairan (thawing). Inovasi ini disusul oleh penemuan struktur pelat-cangkang (thin shell) seperti yang digunakan Pier Luigi Nervi untuk hanggar Angkatan Udara Itali (Gambar 2.41.) pada tahun 1935 [5, 6]. Struktur beton bertulang pelat-cangkang biasanya digunakan pada atap dan kubah. Elemen ini meniadakan penyangga, sehingga memberikan interior yang luas, dan konsekuensinya, kinerja elemen didasarkan sepenuhnya pada elemen pelat-cangkang itu sendiri [10].

57

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.41. Hanggar pelat-cangkang Pier Luigi Nervi untuk Angkatan Udara Itali (http://warandgame.files.wordpress.com/2007/10/orvieto1.jpg)

Gambar 2.42. kantilever beratap pelat-cangkang pada Madrid Hippodrome (http://shadesofgreendesign.com.au/wp-content/uploads/2011/10/10.torroja-hippodromo.jpg)

58

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.43. Pekerjaan konstruksi atap hiperbolik-parabolik The Cosmic Ray Laboratory (http://gregcookland.com/journal/uploaded_images/picCandelaCosmicRay sLab-745737.jpeg)

Gambar 2.44. The Cosmic Ray Laboratory dengan atap hiperbolik-parabolik (http://classconnection.s3.amazonaws.com/593/flashcards/406593/jpg/2 50px-~11305181635698.jpg)

59

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.45. Pekerjaan konstruksi gedung Sidney Opera House, Australia (http://www.andreas-praefcke.de/carthalia/world/images/ aus_sydney_opera_9.jpg)

Gambar 2.46. Gedung Sydney Opera House, Australia masa kini (http://sohweb.cdnl.sydneyoperahouse.com/uploadedImages/About_Us/Ph oto_Gallery/The_Building/Sydney-Opera-House-and-the-.jpg)

60

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Pada tahun yang sama, 1935, Eduardo Torroja, seorang insinyur Spanyol membangun kantilever beratap pelat-cangkang pada Madrid Hippodrome (Gambar 2.42.). Trend atap dengan pelatcangkang pada waktu itu juga menghasilkan bangunan spektakuler lainnya, yaitu desain dari Felix Candela (1951) untuk atap hiperbolikparabolik (Gambar 2.43. dan 2.44.) pada The Cosmic Ray Laboratory at the University of Mexico City [6]. Bentuk atap jenis pelat-cangkang juga dijumpai pada Sydney Opera House [10] yang fenomenal, dikerjakan pada tahun 1959-1973, didesain oleh Jrn Utzon (http://www.andreas-praefcke.de/carthalia/world/aus_sydney_opera.htm), dapat dilihat pada Gambar 2.45. dan 2.46. Selain bangunan-bangunan tersebut, terdapat Lotus Temple (Gambar 2.47.) di New Delhi, India, yang mengaplikasikan atap pelat-cangkang yang membentuk bunga lotus (teratai) [10].

Gambar 2.47. Lotus Temple di New Delhi dengan konstruksi atap pelatcangkang yang disusun berlapis (http://www.bahaipr.org/photos/lotus_full04.jpg)

61

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Perkembangan teknologi beton, khususnya beton massa, mencatat peristiwa penting tahun 1935, dengan selesainya proyek Hoover Dam (Gambar 2.48. dan 2.49.) yang diawali 1931. Hoover Dam adalah waduk raksasa yang terletak di perbatasan Nevada bagian selatan dan Arizona, disebut juga dengan Boulder Dam. Waduk raksasa ini membentang di sepanjang Sungai Colorado di Black Canyon. Tujuan dibangunnya Hoover Dam adalah untuk mencukupi kebutuhan irigasi, listrik dari sumber daya air, dan mencegah banjir, terutama di Negara bagian California dan Arizona

(http://www.history.com/topics/hoover-dam). Struktur Hoover Dam terdiri atas blok-blok yang berfungsi sebagai kolom sehingga mempercepat proses pengecoran dan pengerasan. Waduk raksasa Hoover Dam telah menghabiskan 3.250.000 yard beton serta tambahan 1.110.000 yard untuk pembangkit listrik dan bangunan penunjang lainnya [6].

Gambar 2.48. Pekerjaan konstruksi waduk raksasa Hoover Dam (https://djc.com/stories/images/20050922/HooverDamConstruction.jpg)

62

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.49. Hoover Dam di tahun 2011 (http://en.wikipedia.org/wiki/Hoover_Dam)

Beberapa perkembangan teknologi beton yang patut disimak di tahun 1940an adalah disempurnakannya beton air-entrained oleh Portland Cement Laboratories. Di samping itu, sejalan dengan berakhirnya Perang Dunia ke-2, muncul wacana tentang beton daurulang (recycled concrete) yang ditujukan untuk membersihkan sisasisa peperangan, namun juga untuk membuat bangunan-bangunan baru [5]. Era selanjutnya dalam perkembangan teknologi beton adalah era pencakar langit (skyscrapers) yang dimulai tahun 1960an [5, 6]. Pada tahun 1962, berdiri pencakar langit Bertrand Goldberg's Twin Towers (Gambar 2.50.) setinggi 588 ft di Marina City, Chicago [11] yang menandai era aplikasi beton bertulang untuk bangunan bertingkat tinggi (tall building). Pada masa itu, tepatnya tahun 1964, beton dengan kekuatan 6000 psi mulai digunakan, yaitu pada pada kolom terbawah Plaza yang terletak di Lake Shore Drive di Marina 63

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

City, Chicago (Gambar 2.51.). Selain itu, pada tahun yang sama, 1964, Place Victoria (Gambar 2.52.) di Montreal Canada setinggi 624 ft berdiri dengan mengaplikasikan beton berkekuatan 6000 psi untuk kolomnya. Pada tahun 1970, One Shell Plaza (Gambar 2.53.) di Houston, Texas, setinggi 714 ft didirikan juga dengan

mengaplikasikan beton berkekuatan 6000 psi. Mutu beton yang lebih tinggi, 7500 psi, juga telah diaplikasi gedung Lake Point Tower

setinggi 645 ft dengan 70 lantai di Illinois, Chicago pada tahun 1968 [5].

Gambar 2.50. Bertrand Goldberg's Twin Towers di Marina City, Chicago (http://www.thecityreview.com/chicag14.jpg)

64

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.51. Plaza Lake Shore Drive di Marina City, Chicago [6]

Gambar 2.52. Place Victoria di Montreal, Canada (http://www.arch.mcgill.ca/prof/sijpkes/abc-structures2005/concrete/timeline-2009-version_files/Bourse-de-montreal.jpg)

65

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 2.53. One Shell Plaza, Houston, Texas [5]

Inovasi beton yang turut menentukan perkembangan teknoogi beton adalah ditemukannya beton serat (Gambar 2.54.) pada tahun 1970 [5]. Beberapa alasan penambahan serat ke dalam beton dikemukakan oleh Newmann dan Choo [12] sebagai berikut: a. Meningkatkan rheology atau karakter retak plastis dari material saat kondisi masih segar hingga 6 jam kemudian b. Meningkatkan kekuatan tarik atau lentur c. Meningkatkan kekuatan impak dan keliatan d. Mengontrol retak dan ragam kegagalan serta meningkatkan daktilitas saat pasca retak e. Meningkatkan durabilitas

66

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.54. Beton serat setelah terbelah (http://www.civilengineeringgroup.com/wpcontent/uploads/2011/02/Steel-Fiber-Concrete.jpg)

Perkembangan teknologi beton dalam hal bangunan-bangunan pencakar langit sangat menarik untuk dicermati. Berbagai bangunan pencakar langit (Gambar 2.56.) mulai dibangun (sejak tahun 1930an hingga sekarang), berlomba-lomba mencapai ketinggian maksimum. Diawali dengan pembangunan Empire State Building, New York, berdiri pada tahun 1931 dan diikuti World Trade Center (WTC) yang berdiri pada tahun 1972-1973 namun hancur karena serangan teroris pada tahun 2001. Pada tahun 1974, berdiri Sears Tower di Chicago dan disusul Petronas Tower pada tahun 1998 di Kuala Lumpur Malaysia. Tahun 1999, berdiri Jin Mao Tower di Sanghai, dan tahun 2003 berdiri Two International Finance Center. Menara Taipei 101 berdiri tahun 2004, diikuti Shanghai World Finance Center pada tahun 2007. Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, selesai dibangun 67

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

pada tahun 2009 dan pada tahun tersebut mulai dibangun Freedom Tower atau One World Trade Center yang diharapkan selesai pada tahun 2013. Infrastruktur jembatan juga mengalami kemajuan pesat dalam konteks perkembangan teknologi beton, khususnya jembatan bentang panjang. Sunniberg Bridge (Gambar 2.55.) dengan bentang 526 m merupakan landmark dari Landquart River Valley dekat Klosters di Swiss, dibangun tahun 1998 dan diresmikan tahun 2005

(http://www.worldtravelattractions.com/sunniberg-bridgeoutstanding-structure-award-2001/).

Gambar 2.55. Sunniberg Bridge di Landquart River Valley, Swiss (http://www.worldtravelattractions.com/wpcontent/uploads/2010/10/Christian-Menn-Sunniberg-Bridge3.jpg)

68

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Gambar 2.56. Bangunan-bangunan tertinggi di dunia (http://deskarati.com/wp-content/uploads/2011/09/tallest-buildings-in-the-world.jpg)

69

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Jembatan bentang panjang lainnya yang dibangun setelah itu adalah 17th Street Bridge di San Fransisko pada tahun 2003. Sebelumnya, pada tahun 2000, dibangun lintasan kereta api dan terowongan Oresund Fixed Link yang menghubungkan Denmark dengan Swedia [5]. Pada tahun 2005, berdiri jembatan Millau Viaduct (Gambar 2.57.) dengan bentang 2.5 km yang menghubungkan Paris dan Montpellier, dengan kolom jembatan tertinggi di dunia setinggi 200 m [5].

Gambar 2.57. Jembatan Millau Viaduct di Perancis (http://amazingstuff.co.uk/wp-content/uploads/2011/01/Millau.jpg)

70

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

Infrastruktur beton penting lainnya yang dibangun setelah tahun 2000 adalah waduk Three Gorges Dam (Gambar 2.58.) di China [5], yang berlokasi di Yiling District, Yichang, Provinsi Hubei. Waduk raksasa ini dibangun pada tahun 2009 dan direncanakan selesai konstruksinya pada tahun 2012. Three Gorges Dam didesain untuk mencukupi kebutuhan 13 kota dan 2 juta manusia knightpolasek.blogspot.com/2010_04_01_archive.html). Perkembangan teknologi beton masih terus akan ditumbuhkan dari waktu ke waktu untuk mencapai dunia berkelanjutan. (http://

Gambar 2.58. Three Gorges Dam di China (http://4.bp.blogspot.com/_GXkhHJQXd5E/S88x8JKi7PI/AAAAAAAAABs/os IoSVBehtU/s1600/threegorgesdam.jpg)

71

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

2.3. PUSTAKA
[1] White, Peter C. (2005). Environmental Justice Since Hammurabi: From Assigning Risk "Eye for an Eye" to Modern-Day Application of the Responsible Corporate Offcer Doctrine, 29 Wm. & Mary Envtl. L. & Pol'y Rev. 633 (http://scholarship.law.wm.edu/ wmelpr/vol29/ iss3/30). [2] Mehta, P Kumar, dan Monteiro, PJM. (1993). Concrete Structure, Properties, and Materials. Prentice-Hall, New Jersey. [3] Susilorini, Retno, M.I. Rr., dan Sambowo, Kusno, Adi. (2011). Teknologi Beton Lanjutan Durabilitas Beton, Edisi ke-2, Penerbit SPS, Semarang. [4] Gromicko, Nick, dan Shepard, Kenton. History of Concrete, http://www.nachi.org/ history-of-concrete.htm, diunduh pada tanggal 4 Maret 2012. [5] Historical Timeline of Concrete, http://www.auburn.edu/ academic/ architecture/ bsc/ classes/ bsc314/ timeline/ timeline.htm, diunduh pada tanggal 10 Maret 2012. [6] Engineer's Outlook. (2011). History of Reinforced Concrete and Structural Design, http://engineersoutlook.wordpress.com/ 2011/ 10/ 11/ structural-concrete-design/, diunduh pada tanggal 5 April 2012. [7] VITRUVIUS - De architectura Libri X, http://www.vitruvius.be/ boek5h1.htm, diunduh pada tanggal 5 April 2012. [8] Griffin, Stan. City of Stone in a City of Concrete http://www.workersforjesus.com/petra.htm, diunduh pada tanggal 5 April 2012. [9] Moore, David. PE. (1995). The Panth/on, http://www.romanconcrete.com/docs/chapt01/chapt01.htm. [10] Gebregziabhier, Tekeste Teshome. 2008. Durability problems of 20th reinforced concrete heritage century structures and their restorations, Paper, Erasmus Mundus Programme, Advanced Masters in Structural Analysis of Monuments and Historical Constructions (SAHC), Barcelona. [11] Harris, Neil. (2004). Chicago Apartments A Century of Lakefront Luxury, Acanthus Press, USA.

72

BAB 2 - PERKEMBANGAN TEKNOLOGI BETON

[12] Newmann, John., dan Choo, Ban Seng. (200). Advanced Concrete Technology Processes, Elsevier, Ltd., Burlington MA, UK.

73

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

BAB 3 BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

3.1. BETON BAJIK

Istilah beton bajik memang belum lazim, namun bukan berarti asing. Beton bajik diadopsi dari terminologi the virtues of concrete [1, 2], yang mendeskripsikan semua kebaikan beton yang diperlukan untuk memperoleh kinerjanya yang terbaik. Teknologi beton termaju dan terkini memungkinkan tercapainya kinerja prima dari material konstruksi yang banyak dipakai di penjuru dunia ini. Kemajuan teknologi beton akan mendukung pembangunan infrastruktur, yang menjadi salah satu pilar pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan menuntut peran dari setiap bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Dalam berbagi peran dan kepentingan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, globalisasi berperan. Globalisasi teknologi selalu menuntut kemandirian suatu bangsa untuk tetap hadir (exist) dan mendapat pengakuan (recognition). Kemandirian bangsa berarti mengharuskan daya saing bangsa yang tinggi, agar tetap hadir untuk diakui [1].

74

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Kompetisi di bidang teknologi beton memang ketat. Beton menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur dunia. Dalam hal substansi yang paling banyak dimanfaatkan manusia, beton menempati urutan kedua setelah air [3]. Di Amerika, keseluruhan jejaring industri beton melibatkan lebih dari 2 juta pekerjaan, dengan nilai produksi beton dan pengapalan semen lebih dari USD 42 milyar per tahun dan dengan nilai beton lebih dari USD 100 milyar per tahun. Di Jerman, sejak tahun 2005, dana sebesar USD 250 milyar diinvestasikan di sektor konstruksi [4]. Di Asia, produksi beton juga menempati urutan teratas dalam industi konstruksi. Produksi beton siap pakai (ready-mix concrete) di Thailand mencapai 22.5 juta ton pada tahun 2007, sedangkan produksi semen mencapai hampir 40 juta ton [5]. Di Indonesia, perkembangan dan pembangunan sektor infrastruktur yang didukung penuh oleh industri beton sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 [1, 6], strategi utama yang diimplentasikan dalam inisiatif strategik dilakukan dalam bentuk pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi (di dalam Koridor Ekonomi) yang dimotori oleh dunia usaha dan difasilitasi oleh Pemerintah; fasilitasi pembangunan aktivitas ekonomi dengan fokus pada peningkatan daya saing dan

debottlenecking; serta affirmative actions untuk pembangunan ekonomi di luar pusat-pusat pertumbuhan (Koridor Ekonomi). Untuk itu ditetapkan 8 program utama (industri, pertanian, pertambangan,

75

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

energi, kelautan, pariwisata, telematika, dan pengembangan kawasan strategis) yang meliputi 18 aktivitas ekonomi yang dikembangkan secara terintegrasi di 6 koridor ekonomi. Pada tahap I (2011-2014), kebutuhan infrastruktur adalah senilai USD 76 milyar, antara lain meliputi pembangunan infrastruktur rel batubara Puruk Cahu Bangkuang dan Tanjung Isuy, ekspansi pelabuhan Dumai, serta PLTU Jawa Tengah. Dengan kebutuhan infrastruktur yang begitu besar, peranan industri beton menjadi sangat penting. Dalam MP3EI ditegaskan juga perlunya peningkatan daya saing, dalam hal ini, peningkatan daya saing dalam industri beton dalam negeri merupakan suatu keharusan. Beton bajik mengandung semua kebaikan dari beton [1]. Istilah ini dipilih karena belum ada kata lain dalam bahasa Indonesia, yang menyamai makna kata bajik tersebut. Beton bajik (virtuous concrete) memiliki 3 karakteristik utama (Gambar 3.1.), yaitu awet (durable), berkelanjutan (sustainable), dan pintar (smart). Kemajuan teknologi beton terkini mampu mencapai kemajuan atas ketiga karakteristik tersebut, namun sangat penting untuk menjadikan ketiganya menjadi satu kesatuan utuh untuk mencapai kebajikan beton.

76

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKEL RKELANJUTAN

BETO ETON BAJIK (VIRTUOUS OUS CONCRETE)

Awet (Durable Du ) Berke Berkelanjutan (Sust Sustainable) P Pintar (Smart)


arakteristik beton bajik [1] Gambar 3.1. Karakte Beton biasa (atau dipahami sebagai beton konvensional), belum pasti dapat dikategorikan rikan seb sebagai beton bajik jika belum mendatangkan kebaikan (keselamat keselamatan, keberuntungan, dsb) [1]. Beton bajik harus memiliki tiga ka karakteristik beton bajik, yaitu keawetan, keberlanjutan, dan an kepint kepintaran, yang akan didiskusikan dalam paragraf-paragraf berikut. Durability of hydraulic-cemen ement concrete is determined by its ability to resist weathering g acti action, chemical attack, abrasion, or any other process of deteriorat rioration. Durable concrete will retain its original form, quality, and s serviceability when exposed to its environment (ACI 201.2R-08 Chapter 1) [7] Durabilitas (keawetan) beton diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan dari cuaca,, abrasi, atau semua proses lain yang menurunkan kualitas beton (ACI 20 201.2R-08 Chapter 1) [7]. ACI 201.2R-08 juga menegaskan bahwa b beton yang durable, awet, akan

77

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

mempertahankan bentuk aslinya, kualitasnya, dan kemampuan pelayanannya, saat terekspos dengan lingkungan. Penurunan kualitas struktur beton, seperti pada Gambar 3.2. mengakibatkan beton tidak dapat memberikan kemampuan pelayanan (serviceability) selama masa-layannya (service-life), sehingga beton tidak berkelanjutan.

Gambar 3.2. Elemen struktur beton pada sebuah dermaga mengalami korosi yang cukup parah http://robertdmoser.files.wordpress.com/2011/12/corrosion_0004.jpg

Beton yang tidak memiliki kecukupan durabilitas akan mengalami keterbatasan dalam hal kemampuan pelayanan, seperti berkurangnya keamanan, kekuatan, daktilitas, stabilitas dan integritas [8]. Ketidakawetan juga beton berimplikasi dan serius dalam Mirza hal [9]

keberlanjutan,

keamanan

keselamatan.

menegaskan bahwa durabilitas infrastruktur jembatan beton menjadi masalah serius, bahkan negara-negara di dunia harus menyokong jutaan dolar anggarannya untuk menangani masalah ini, di samping

78

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

itu. Di samping itu, perlu dicatat bahwa masalah durabilitas struktur jembatan beton juga mampu mempengaruhi produktivitas, daya saing internasional, bahkan kualitas hidup di negara-negara tersebut. Durabilitas beton bukanlah sifat langsung (intrinsic property) dari material, melainkan kinerja beton saat berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi dengan lingkungan dapat menyebabkan beton menderita MRD (Material-Related Distress) atau tekanan terkait sifat dan kinerja material [10]. Kerusakan-kerusakan dapat timbul dan menggerogori hingga mengancam kemampuan pelayanan beton, seperti pembekuan dan pencairan akibat salju (freezing and thawing), serangan kristalisasi garam, serta serangan kimia zat-zat agresif. Upaya mengatasi penurunan kualitas beton yang disebabkan oleh kurang tahannya beton terhadap ekspose lingkungan merupakan tantangan, dan beton bajik menjawab tantangan tersebut. Beton Bajik mendatangkan kebajikan dengan menampilkan karakter awet (durable) dengan tetap mempertahankan kekuatan (strength) dan daktilitasnya (ductility). Pemilihan material dan bahan tambah serta desain dan konstruksi sangat mempengaruhi keawetan beton. Sebagai contoh, aplikasi bahan tambah berbasis gula oleh Susilorini, et. al [1113] terbukti mampu meningkatkan kinerja beton yang terekspos di lingkungan agresif, khususnya lingkungan air laut. Beton bajik tidak cukup hanya memiliki karakter keawetan, namun juga keberlanjutan dan kepintaran. Ketiga aspek tersebut juga memiliki keterkaitan satu sama lain karena aspek keberlanjutan beton tidak terlepas dari keawetannya. Beton memang istimewa

79

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

karena multi-fungsi (versatile), namun beton tetap harus bajik (virtuous). Keberlanjutan beton adalah suatu keharusan karena memberikan manfaat ekonomi, thermal mass, durabilitas, ketahanan terhadap api, kinerja akustik, adaptif, dan dapat didaur-ulang [14]. Terminologi keberlanjutan beton dapat didiskusikan sebagai berikut. Sustainability means meeting the needs of the present without compromising the ability of the future generations to meet their own needs. Sustainability is an idea for concern for the well being of our planet with continued growth and human development. (The World Commission on Environment and Development The Brundlant Report) [15]. Keberlanjutan, menurut The World Commission on

Environment and Development - The Brundlant Report [15], adalah memenuhi kebutuhan masa kini tanpa berkompromi dengan kemampuan generasi di masa datang untuk memenuhi kebutuhannya. Keberlanjutan juga merupakan pemikiran untuk peduli terhadap seluruh isi planet dan pertumbuhannya serta terhadap perkembangan manusia. Suatu terminologi yang mengusik hati nurani dan menuntut konsekuensi terminologi berkelanjutan dalam inilah implementasinya. yang disebut Keberlanjutan dunia. dalam Dunia dan

keberlanjutan

menuntut

berkelanjutan

pembangunan

infrastruktur (kaji ulang sub bab 1.1.). Infrastruktur berkelanjutan menuntut kinerja beton yang berkelanjutan pula. Dalam konteks durabilitas, dapat dikatakan bahwa beton berkelanjutan adalah beton yang memiliki durabilitas (tinggi) di sepanjang masa-layannya.

80

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Belajar mengupayakan keberlanjutan beton, pengalaman berharga diperoleh dari China sebagai lesson-learnt [16]. China menyadari posisinya sebagai salah satu negara berkembang dengan populasi raksasa pula. Pada tahun 2002, Cina telah memproduksi dan mengkonsumsi lebih dari 700 juta ton semen. Dapat dimengerti, bahwa konsumsi semen di China yang begitu besar disebabkan oleh kebutuhan beton untuk semua infrastruktur di China (kaji ulang sub bab 2.2., Three Gorges Dam di China sedang dalam proses penyelesaian konstruksi saat ini). Menyadari bahwa keberlanjutan beton menjadi suatu syarat tercapainya pembangunan berkelanjutan, China melakukan 3 langkah utama [16] sebagai berikut: a. Melakukan konservasi bahan-bahan penyusun beton b. Memperkaya durabilitas struktur beton c. Melakukan pendekatan holistic dalam bidang teknologi beton melalui riset dan pendidikan Contoh hasil riset beton berkelanjutan dan berdurabilitas tinggi, yang mampu bertahan di sepanjang masa-layannya, adalah balok beton pra-cetak berpengekang jala nylon dengan bahan tambah berbasis gula yang dikerjakan oleh Susilorini, et. al. [11-13].Elemen struktur beton ini berdaktilitas tinggi (memiliki kinerja tahan gempa) dan memiliki ketahanan terhadap lingkungan agresif (karena mengandung bahan tambah berbasis gula). Keberlanjutan beton yang didukung durabilitas beton masih membutuhkan kepintaran beton untuk menyempurnakan semua

81

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

kebaikan beton bajik. Karakter ketiga dari beton bajik akan didiskusikan dalam paragraph-paragraf berikut. Beton pintar didefinisikan sebagai beton dengan dengan tambahan bahan penyusun berupa konduktor atau semikonduktor seperti serat karbon, karbon hitam, serpih baja, atau material nano, dan memiliki kemampuan diri untuk mendeteksi tegangan dan regangan lebih baik daripada beton konvensional [17]. Beton pintar adalah material maju. Dalam konteks beton bajik, beton pintar harus mampu mengatasi permasalahan yang merusak durabilitas dan keberlanjutan struktur beton [1]. Berbagai inovasi beton pintar telah mendukung aspek-aspek kehidupan manusia, namun inovasi tersebut masih harus terus tumbuh dan berkembang untuk makin menyempurnakan diri sebagai salah satu karakter pendukung beton bajik. Salah satu kemajuan penting dari beton pintar adalah aplikasi serat SMA (shape memory alloys) pada beton pintar. Terdapat 2 keutamaan sifat dari serat SMA [18]. Pertama, serat SMA akan berubah bentuk sesuai suhu lingkungan, di mana serat SMA mengalami pra-regangan selama masa perawatan dan awalnya dicegah untuk bertransformasi menjadi austenite. Saat suhu meningkat, serat SMA bertransormasi menjadi austenite dan cenderung berkontraksi, saat itu terjadi tegangan tarik yang bersifat memperbaiki selama terhalang oleh matriks. Kedua, serat SMA tertanam di dalam matriks, sehingga perubahan suhu akan membawa perubahan modulus elastisitas atau sifat-sifat damping sehingga akan mengubah sifat komposit secara keseluruhan.

82

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 3.3. Perletakan tulangan dan alat-lat sensor serta serat SMA pada rangkaian tulangan balok beton pintar [18]

Gambar 3.4. Pengaturan pengujian balok beton pintar [18]

83

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 3.5. Diagram konsep Jembatan Pintar pada jalan bebas hambatan [18]

84

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Penelitian Li, et. al. [18] mengaplikasikan serat SMA sebagai aktuator yang ditanam pada balok beton pintar (Gambar 3.3. dan 3.4.) di samping sensor suhu, pengukur regangan tulangan, dan sensor perpindahan. Kedua balok beton pintar dalam penelitian diintegrasikan dengan sistem Jembatan pintar (Gambar 3.5.). Aktuator serat SMA berfungsi menerima gaya pemulihan,

dihubungkan dengan kabel pra-tegang namun terpisah dari matriks beton sehingga suhu antara serat SMA dan matriks beton dapat direduksi serendah mungkin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat SMA dapat mendeteksi kelebihan beban yang diterima balok beton pintar. Beberapa inovasi beton pintar lain adalah beton pintar transparan [19-20], beton pintar dengan serat optik [21], beton pintar dengan kemampuan perbaikan-diri (self-healing) [22], beton pintar dengan SCM (Suplementary Cementing Material) [23], dan beton pintar tahan gempa dengan agregat daur ulang [24]. Pada masa kini juga tengah dikembangkan beton pintar yang tahan terhadap ledakan dan bom [25], juga berbagai struktur bangunan dan elemen beton pintar yang tahan gempa [26]. Dari diskusi di atas, 3 karakteristik beton bajik, yaitu awet, berlanjut, dan pintar, harus membawa kebajikan dan keutamaan bagi dunia berkelanjutan. Dengan beton bajik, diharapkan tercapai citacita seluruh umat manusia, yaitu keberlanjutan dunia dengan segenap isinya.

85

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

3.2. BETON BAJIK vs KEGAGALAN STRUKTUR

Beton bajik yang mengandung segala kebaikan beton tentunya mengedapankan keselamatan dan keamanan para

penggunanya. Ketiga karakteristik beton bajik harus diupayakan menuju beton unggul yang aman, sehingga kegagalan struktur harus dihindari. Karakter-karakter awet, berkelanjutan, dan pintar, dari beton bajik harus mampu mengedepankan desain yang dapat mengatasi sedapat mungkin kegagalan struktur, bahkan menafikan keruntuhan struktur yang progresif (progressive collapse) Beton bajikvs kegagalan struktur, berarti beton bajik (semestinya) tidak boleh mengalami kegagalan struktur. Dua pengalaman pahit kegagalan struktur (kasus rubuhnya Sampoong Department Store di Korea pada tahun 1995 dan kasus ambruknya Jembatan Mississipi di Amerika Serikat pada tahun 2007) yang terkenal di dunia akan menjadi diskusi yang tak kalah menarik dalam buku ini, terkait keinginan untuk menjadikan beton bajik sebagai sarana untuk mencapai dunia berkelanjutan. Progressive collapse is characterized by a distinct disproportion between the triggering spatially-limited failure and the resulting widespread collapse. (Uwe Starossek, 2006)[27] Starossek [27] mendefinisikan keruntuhan progesif (dari suatu struktur) dengan suatu kejadian yang ditandai dengan perbedaan yang tidak proporsional antara pemicu kegagalan spasial yang

86

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

terbatas dengan akibat keruntuhan yang tersebar. Keruntuhan progresif ini dialami tahun 1995 oleh Sampoong Department Store, Seoul, di Korea Selatan yang memakan korban hampir 498 orang [28] (Gambar 3.6. dan 3.7.). Sampoong Department Store adalah bangunan berlantai 5 ditambah basement dengan 4 lantai. Investigasi forensik melaporkan bahwa terjadi tekanan pada hubungan pelat lantai-kolom pada lantai 5 setelah terjadi perubahan struktur bangunan dari rumah makan menjadi kolam renang [29, 30]. Ditemukan juga bahwa masalah ketidakseimbangan momen pada hubungan pelat lantai-kolom diabaikan dalam desain. Ketidakseimbangan tersebut diakibatkan pemindahan letak mesin-mesin pendingin [30]. "In June 1995 the store passed a regular safety inspection. But within days there were signs something was seriously wrong: cracks spidering up the walls in the restaurant area; water pouring through crevices in the ceiling. On June 29 structural engineers were called in to examine the building. They declared it unsafe. Company executives who met that afternoon decided otherwise. They ordered the cracks on the fifth floor to be filled and instructed employees to move merchandise to the basement storage area ". (Wearne, 2000, p. 100) [28].

Wearne [28] menemukan fakta bahwa pada bulan Juni 1995, Sampoong Department Store telah lolos dari inspeksi keselamatan rutin. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena dalam waktu beberapa hari terdapat retak dan rembesan air di langit-langit. Pada tanggal 29 Juni 1995, para insinyur struktur dipanggil untuk 87

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

memeriksa keadaan tersebut dan keadaan bangunan dinyatakan tidak aman. Namun hasil rapat para pimpinan perusahaan pada siang harinya menyatakan sebaliknya. Mereka memerintahkan agar retakretak di langit-langit lantai 5 ditambal dan barang-barang

dipindahkan ke basement.

Gambar 3.6. Keruntuhan progresif yang dialami Sampoong Department Store, Seoul, Korea Selatan, 1995 (http://911research.wtc7.net/wtc/analysis/compare/docs/ sampoong_002.jpg)

88

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Gambar 3.7. Puing-puing dan debu yang ditinggalkan reruntuhan Sampoong Department Store (http://cfs4.tistory.com/image/16/tistory/2008/04/28/12/29/ 4815449210794)

Secara ringkas, yang terjadi pada hubungan pelat lantai-kolom pada lantai 5 dijelaskan oleh Gambar 3.8. [30]. Keruntuhan progresif yang disebabkan oleh retak geser dan lentur yang terjadi pada bagian pelat dekat kolom. Ketidak seimbangan momen menjadi penyebab terjadinya retak yang diikuti keruntuhan yang tiba-tiba. Keruntuhan progresif yang dialami oleh Sampoong

Department Store mencerminkan bahwa struktur beton tidak mampu memenuhi kemampuan pelayanannya karena kesalahan desain, kesalahan pelaksanaan desain, lemahnya pengawasan dan

pemeliharaan bangunan, serta ketidakcermatan dalam memelihara

89

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

keberlanjutan bangunan karena kepentingan perusahaan. Kriteria beton bajik sama sekali tidak dikedapankan oleh kondisi tersebut. Struktur beton Sampoong Department Store tidak bisa memberikan kinerja keawetan, tidak berkelanjutan, dan tidak pintar untuk mengatasi permasalahan sehingga terjadi keruntuhan progresif. Hal ini sesungguhnya dapat dicegah bila sejak awal desain, pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan pengawasan pemeliharaan, benar-benar dilakukan dengan baik dan akurat.

Gambar 3.8. Retak geser dan lentur yang terjadi pada bagian pelat dekat kolom [30]

Kasus berikut yang akan didiskusikan adalah runtuhnya jembatan I-35W yang merupakan jembatan jalan raya antar negara bagian, melintasi sungai Mississipi, Minneapolis, Minesota (Gambar 3.9.). Jembatan I-35W yang memiliki 8 jalur tersebut runtuh tiba-tiba pada tanggal 1 Agustus

90

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

2007 waktu setempat. Hampir 60% bagian jembatan ambruk ke dalam sungai, menewaskan 13 jiwa, mencederai 145 orang, dan mengakibatkan kerusakan 145 kendaraan [31].

Gambar 3.9. Runtuhnya jembatan I-35W, Mississipi, Minneapolis, Minesota, 1 Agustus 2007 (http://disastersurvivaltools.com/wpcontent/uploads/2012/08/bridge_collapse.jpg)

Jembatan I-35W Missisippi memiliki bentang sepanjang 579 m terbagi atas 14 bagian, dengan perincian 5 bagian di sebelah selatan, 3 bagian utama, dan 6 bagian di sebelah utara [32]. Komponen jembatan terdiri atas 3 kelompok yang dapat dijelaskan sebagai berikut [31].

91

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

a. Kelompok elemen struktur panjang, yang terdiri atas elemen batang truss dan balok girder b. Kelompok komponen pengaku, yang terdiri atas pelat sambung, pengaku, dan strut c. Kelompok pelat beton

Gambar 3.10. Struktur jembatan I-35W Missisippi saat runtuh dan beban hidup yang melalui (data dari NSTB) [31]

Saat terjadinya tragedi, beban hidup lalu-lintas kendaraan dijelaskan oleh Gambar 3. 10. yang datanya diperoleh dari NTSB (National Transportation Safety Board) [31]. Beberapa hal patut

92

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

dicatat dan diduga melatarbelakangi runtuhnya Jembatan I-35W Missisippi. Pada tahun 1990, runtuhnya Jembatan I-35W Missisippi mendapatkan penilaian structurally deficient oleh Pemerintah Federal oleh karena adanya korosi pada bantalan jembatan. Penilaian structurally deficient berulang pada tahun 2005. Pada tahun 1999-2000 telah diadakan studi yang dilaporkan pada tahun 2001 dari Departemen Teknik Sipil, Universitas Minnesota [32] dengan rekomendasi bahwa meskipun tidak terjadi retak fatik (fatique cracking) pada deck truss, tetapi terdapat retak fatik yang detil pada truss utama dan lantai truss. Dengan rekomendasi tersbut, penggantian atau rehabilitasi jembatan dipandang tidak urgen. Pada tahun 2006, dilaporkan bahwa terdapat 5 elemen truss utama yang rawan terhadap fraktur dan harus diganti dengan baja mutu tinggi dengan baut mutu tinggi pula. Dilaporkan pula saat itu bahwa jembatan memiliki beberapa masalah terkait fatik terutama distorsi bidang datar pada balok girder yang tak terduga. Di samping itu, di sepanjang bentang juga dijumpai banyak retak fatik. Beberapa minggu telah diadakan perbaikan, namun dicatat bahwa perbaikan tersebut hanya kosmetik belaka karena tidak menyentuh pada akar masalah. Pada saat terjadinya bencana keruntuhan jembatan, 4 jalur ditutup untuk pelapisan ulang. Pasca keruntuhan, NSTB menyimpulkan bahwa ketebalan pelat sambung yang ada kurang 50% daripada yang seharusnya [32]. Pada analisis yang lain [31], sebagian pelat sambung telah mencapai batas leleh saat menanggung beban rencana. Dengan

93

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

demikian jembatan harus menanggung kelebihan angka keamanan (safety margin) akibat kekuatan ultimit pelat sambung. Diskusi tentang runtuhnya jembatan I-35W Missisippi

menyadarkan kita bahwa beton bajik merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai keberlanjutan infrastruktur. Korosi yang dialami elemen struktur jembatan berakibat pada ketidakawetan jembatan. Keberlanjutan tidak terjamin karena desain dan pelaksanaan konstruksi serta pengawasan yang lemah. Struktur jembatan belum menerapkan inovasi kepintaran yang mampu mendeteksi kegagalan struktur secara dini. Untuk itu, pada bangunan pengganti jembatan I35W Missisippi, diaplikasikan sensor yang dapat memonitor kondisi jembatan [31].

94

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

3.3. MASA DEPAN BETON BAJIK

Beton bajik untuk dunia berkelanjutan adalah sebuah masa depan yang harus digapai guna kesejahteraan hidup manusia. Dunia berkelanjutan yang hanya bisa dicapai melalui pembangunanan berkelanjutan dan keberlanjutan infrastruktur yang menyertakan Pertumbuhan Hijau [33]. Green Growth is an approach to pursuing the economic growth necessary for enhancing quality of life, while simultaneously minimizing the pressure on the environments limited carrying capacity, by improving the eco-efficiency of our society as a whole. (United Nation, ESCAP, 2007) [33] United Nation, ESCAP, merumuskan Pertumbuhan Hijau sebagai suatu pendekatan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang bertujuan memperkaya kualitas hidup dengan secara simultan meminimumkan tekanan pada kapasitas lingkungan yang terbatas, dengan jalan meningkatkan eko-efisiensi dari masyarakat secara keseluruhan [33]. Pendekatan ini sangat relevan dengan prinsip EkoTeknik Sipil [34-37], yaitu siklus keberlanjutan di bidang Teknik Sipil untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Kedua hal tersebut, Pertumbuhan Hijau dan Eko-Teknik Sipil, diperlukan untuk menjamin masa depan beton bajik. Masa depan beton dalam konteks keberlanjutan pembangunan dan dunia sendiri telah banyak dikaji serta didiskusikan. Meskipun beton dinilai sebagai material yang mengandung energi yang rendah

95

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

serta beberapa karakteristik signifikan yang disumbangkan untuk struktur beton berkelanjutan, namun masih ada beberapa pertanyaan yang mengganjal. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagaimana mememnuhi kebutuhan akan infrastruktur yang memenuhi standar kehidupan, serta bagaimana memenuhi kebutuhan akan infrastruktur tersebut sambil mengurangi dampak lingkungan akibat kegiatan industri beton [38]. Jawaban atas pembangunan berkelanjutan antara lain disampaikan melalui Tripple Bottom Line [39]. Keberlanjutan yang oleh Tripple Bottom Line dideskripsikan dengan

penyeimbangan 3 faktor, yaitu faktor ekonomi, lingkungan, dan sosial (Gambar 3.11.). Penekanan hanya pada salah satu faktor dalam konsep Tripple Bottom Line akan membawa ketidakseimbangan sistem.

Gambar 3.11. Konsep Tripple Bottom Line [38]

96

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Berbagai riset telah menawarkan inovasi dan solusi mencapai dunia berkelanjutan dengan mengedepankan teknologi beton berkelanjutan yang mengikuti konsep Tripple Bottom Line dan mengimplementasikan Pertumbuhan Hijau. Industri beton

mengkonsumsi air, mengeksploitasi penambangan (batu), dan mencemari udara dengan emisi karbon serta gas rumah kaca (akibat aktivitas industri semen) [40], sehingga tindakan serta solusi yang tepat menjadi suatu keniscayaan, yang dapat disarikan sebagai berikut [38-40]: a. Mengkonservasi bahan-bahan utama penyusun beton, yaitu agregat, air, semen b. Meningkatkan durabilitas beton c. Inovasi beton dengan kandungan fly ash tinggi d. Inovasi beton daur-ulang Teknologi beton berkelanjutan akan membawa beton bajik menjadi salah satu pemain utama dalam pembangunan berkelanjutan yang memiliki tanggungjawab mencapai dunia berkelanjutan yang sejahtera. Dengan karaketeristik awet, berkelanjutan, dan pintar, maka beton bajik tidak ragu memainkan peran dan menjalankan tugasnya agar Tripple Bottom Line senantiasa seimbang dengan didukung oleh Pertumbuhan Hijau. Masa depan yang cerah menanti kontribusi beton bajik dalam mencapai dunia berkelanjutan.

97

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

3.4. PUSTAKA
[1] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2011). Beton Bajik - Meningkatkan Daya Saing Bangsa Di Bidang Teknologi Beton Sebagai Wujud Kasih Akan Tanah Air in Bunga Rampai Kasih Akan Tanah Air: Upaya untuk Terus Menjadi, pp. 133-155. [2] Sika. (2009). The Virtues of Concrete, Ambition, Customer Magazine, Issue no. 1, April 22, pp. 8-12, http://www.sika.com. [3] Concrete Research and Education Foundation, 2002, Roadmap 2030: Concrete Industry Technology Roadmap, Strategic Development Council, USA. [4] Holschemacher, K. (2007). Germany Concrete Construction Industry Cement Based Material and Civil Infrastructure (CBMCI), Proc. CBM-CI International Workshop, Karachi, Pakistan, pp. 143-153. [5] Limsuwan, Ekasit. (2007). Thailand Concrete Construction Industry Cement Based Material and Civil Infrastructure (CBMCI), Proc. CBM-CI International Workshop, Karachi, Pakistan. [6] Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, 2011, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 20112025, Presentasi, 11 Februari, Istana Bogor. [7] ACI 201.2R-08. (2008). Guide to Durable Concrete, Report, ACI Committee 201, American Concrete Institute, Farmington Hills, MI, USA. [8] Swamy, R.N. (2008). Sustainable Concrete for the 21st Century Concept of Strength through Durability, Japan Society of Civil Engineers, Concrete Committee Newsletter, Volume 13. [9] Mirza, Saeed. (2007). Design of Durable and Sustainable Concrete Bridge, CBM-CI International Workshop, Karachi, Pakistan, pp. 333-344. [10] Van Damme, Thomas, dan Peshkin, David. (2009). Concrete Agreggate Durability Study, Final Report 575, ADOT, USA. [11] Susilorini, Rr. M.I. Retno. (2009). Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi Beton Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Tahun Pertama, DP2M, Ditjen Dikti. [12] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Sambowo, Kusno Adi. (2010). Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi Beton Ramah

98

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Tahun Kedua, DP2M, Ditjen Dikti. [13] Susilorini, Rr. M.I. Retno, Sambowo, Kusno Adi, dan Santosa, Budi. (2011). Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi Beton Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Tahun Ketiga, DP2M, Ditjen Dikti. [14] Cement, Concrete, & Aggregates Australia. (2010). Sustainable Concrete Building, Briefing, April 13, pp. 1-8. [15] McDonough, W. et al. (1992). The Hannover principles: Design for sustainability, EXPO 2000, The worlds fair, Hannover, Germany. [16] Weisu, Qin. (2004). What role can concrete technology play for sustainability in China?, International Workshop on Sustainable Development and Concrete Technology, pp. 35-43. [17] Li, Hui, dan Ou, Jinping. (2009). Smart concrete, sensors, and self-sensing concrete structures, Key Engineering Materials, Vol. 400-402, pp. 69-80. [18] Li, Lei., Li, Qingbin., dan Zhang, Fan. (2007). Behaviour of Smart Concrete Beams with Embedded Shape Alloy Bundles, Journal of Intelligent Materials and Structures, Vol. 18, pp. 1003-1013 [19] Zhou, Zhi., Han, Ying., Chen, Genda., dan Ou, Jinping. (2009). Research and Development of Plastic Optical Fiber Based Smart Transparent Concrete, Smart Sensor Phenomena, Technology, Networks, and Systems 2009, edited by Norbert G. Meyendorf, Kara J. Peters, Wolfgang Ecke, Proc. of SPIE Vol. 7293, pp. 72930F1-6. [20] He, Jianping., Zhou, Zhi., dan Ou, Jinping. (2011). Study on Smart Transparent Concrete Product and Its Performance, The 6th International Workshop on Advanced Smart Materials and Smart Structures Technology ANCRiSST2011. [21] Lau, KT. (2003). Fibre-optic sensors and smart composites for concrete applications, Magazine of Concrete Research, Vol. 55, No. 1, February, pp. 1934. [22] Dr. Fixit Institute of Structural Protection & Rehabilitation. (2010). Healing and Self-Healing Concrete and Stone, Rebuild Magazine, Vol. 4, No. 4, pp. 3-19.

99

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

[23] CCABR-China Academy of Building Research. (2011). High Volume Supplementary Cementing MaterialSmart Technology and Its Application in China, Preliminary Study Report. [24] Qiao, Phizong. (2010). Seismic Performance and Smart Health Mornitoring Part I: Smart Helath Monitoring on Concrete with Recycled Aggregates, Final Report, Transportation Northwest (TransNow), U.S. Department of Transportation Federal Highway Administration [25] McCann, Dennis, M., dan Smith, Steven, J. (2007). Blast Resistant Design of Reinforced Concrete Structure, Structure Magazine, April, pp. 22-26. [26] Moehlo, Jack P., Ghodsi, Toni., Hooper, John D., Fields, David C., dan Gedhada, Rajnikanth. (2012). Seismic Design of Cast-in-Place Concrete Special Structural Walls and Coupling Beams - A Guide for Practicing Engineers, NEHRP Seismic Design Technical Brief No. 6., National Institute of Standard and Technology, US Dept of Commerce, USA. [27] Starossek, Uwe. (2006).Progressive Collapse of Structure, Invited Lecture, The 2006 Annual Conference of the Structural Engineering Committee of the Korean Society of Civil Engineers, Seoul, Korea,pp. 1-7. [28] Wearne, P. (2000). Collapse: When Buildings Fall Down, TV Books, L.L.C. (http://www.tvbooks.com), New York. [29] Biccini, Baris. (2003). Punching Shear Strengthening of Reinforced Concrete Slabs Using Fiber Reinforced Polymer, Disertasi, Univeristy of Texas, Austin, USA. [30] Gardner N.J., Huh J., Chung L. (2002). Lessons from Sampoong Department Store Collapse. Cement and Concrete Composites, Vol. 24, No. 2, pp. 523-529. [31] Hao, S. (2010). I-35W Bridge Collapse, Journal of Bridge Engineering ASCE, September-Oktober, Vol. 15, No. 5, pp. 608-614. [32] Subramanian, N. (2008). I-35W Missisippi river bridge failure is it a wake up call?, Point of View, The Indian Concrete Journal, February, pp. 29-38. [33] United Nations, ESCAP. (2007). Sustainable Infrastructure in Asia Overview and Proceedings, United Nation Publications. [34] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2011). Beton Bajik - Meningkatkan Daya Saing Bangsa Di Bidang Teknologi Beton Sebagai Wujud

100

BAB 3 - BETON BAJIK DAN DUNIA BERKELANJUTAN

Kasih Akan Tanah Air in Bunga Rampai Kasih Akan Tanah Air: Upaya untuk Terus Menjadi, pp. 133-155. [35] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2007). Eko-Teknik Sipil, Sebuah Refleksi bagi Dunia Pendidikan Rekayasa untuk Terwujudnya Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Unika Soegijapranata, Vol. IV, No. 1, Januari, pp. 30-38. [36] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). Eco-Civil Engineering for Sustainable Civil Engineering Development, Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil V, Teknologi Ramah Lingkungan dalam Bidang Teknik Sipil, Surabaya, 11 Februari, Program Studi Pasca Sarjana & Jurusan Teknik Sipil, ITS, pp. B.89-95. [37] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). Ex Corde Ecclesiae, The Heart of Unika Soegijapranatas Engineering Lifelong Learning, Prosiding International Conference on Continuing Engineering and Technical Education,Universitas Diponegoro, pp. 1-11. [38] Henry, Michael, dan Kato, Yoshitaka. (2009). Review of Sustainable Practices and Approaches in the Concrete Industry, Seisan-Kenkyu, Vol 61, No. 1, pp. 67-70. [39] Cement & Concrete Institute. (2011). Sustainable Concrete, Cement & Concrete Institute, Midrand, South Africa. [40] Mehta, Kumar P. (2001). Reducing the Environmental Impact of Concrete, Point of View, Concrete International, pp. 61-66.

101

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

BAB 4 CATATAN AKHIR

Masa Kini

Beton Bajik dengan berbagai Perkembangan Kemajuan dan Inovasi

Beton Romawi Beton Konvensional

Beton Berdurabilitas Tinggi dan Berdampak Kecil terhadap Lingkungan Beton inovatif Beton Bajik

Masa Datang

Masa Lalu

DUNIA BERKELANJUTAN
Gambar 4.1. Beton Bajik dalam Dunia Berkelanjutan ( Susilorini, 2012)

102

BAB 4 - CATATAN AKHIR

Gambar 4.1. mendeskripsikan perkembangan teknologi beton seiring dengan peradaban manusia, sejak masa purba, masa lalu, era modern terkini, hingga masa depan, beton dan beton bajik senantiasa menjadi salah satu pelaku utama pembangunan

berkelanjutan yang berkewajiban memelihara keberlanjutan bumi dan seluruh isinya. Dari seluruh diskusi pada buku ini, Catatan Akhir dari penulis menegaskan bahwa: Beton bajik akan terus berjuang demi tercapainya dunia berkelanjutan yang dicita-citakan oleh umat manusia hingga masa mendatang.

VIVA Beton Bajik !

103

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

INDEX
A adaptif, 81 admixture. See bahan tambah agregat, 87, 102 akustik, 81 angka keamanan (safety margin), 98 atap, 59, 60, 64, 66, 67, 70, 71 awet. keawetan, See keawetan B bahan tambah berbasis gula, 80, 83 bahan tambah, 37, 80, 83 baja mutu tinggi, 97 balok girder, 95, 97 balok, 49, 53 bangunan, 14, 17, 20, 24, 31, 32, 33, 35, 36, 38, 39, 40, 41, 43, 44, 46, 47, 53, 55, 58, 70, 72, 73, 77, 80 banjir, 34, 71 basilika, 25, 26, 27 bata, 20, 30, 31, 35 batas leleh, 97 batu kapur, 22, 46, 47 batu, 22, 30, 46, 47 baut mutu tinggi, 97 beban, 87, 96, 98 berpengekang jala nylon, 83 beton, 12, 20, 22, 24, 28, 29, 30, 33, 35, 36, 38, 39, 44, 45, 47, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 55, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 64, 71, 73, 74, 75, 76, 77, 79, 80, 82, 83, 88, 99, 102, 103, 105beton bajik, 77, 80, 83, 84, 88, 93, 98, 100, 102, 103 beton daur-ulang', 73, 102 beton bertulang, 20, 47, 48, 49, 51, 53, 55, 58, 59, 64, 73 Beton pintar, 83 beton pra-cetak, 83 beton serat, 76 beton siap-pakai, 59 beton unggul, 88 bitumen, 31 C Cina, 30 Cosmic Ray Laboratory, 66, 67, 70 D daktilitas, 79 damping, 84 daur ulang, 87 daya saing, 75, 76, 79 dermaga, 36, 57 dunia berkelanjutan, 81, 88, 89, 99, 101, 102103 durabilitas, 17, 76, 78, 79, 81, 82, 83, 84, 102

104

INDEX

E eko-efisiensi, 99 Eko-Teknik Sipil, 99, 105 elemen, 87, 95, 97, 98 ESCAP, 99, 105 eye for an eye, 17 F fatik (fatique), 97 fraktur, 97 freezing, 64 freezing, 80 G gaya, 87 gempa, 39, 57, 58 Globalisasi, 74 gypsum, 30 H hadir, 75 Hammurabi Code of Laws, 14, 16 hanggar, 62, 63, 64 hidraulis, 28, 33, 34, 46 hiperbolik-parabolik, 66, 67, 70 Hoover Dam, 71, 72 hubungan pelat lantai-kolom, 89, 92 I industri beton, 101 industri konstruksi, 75 industri semen, 101 infrastruktur, 13, 20, 34, 74,

75, 79, 82, 98, 99, 100 Ingalls Building, 55 inovasi, 20, 60, 64, 84, 87, 98, 101 insinyur, 14, 24, 25, 47, 57, 70 inspeksi, 90 J jalan beton, 52 jembatan, 19, 20, 36, 48, 78, 79, 81, 94, 95, 96, 97, 98 jembatan I-35W, 94, 95, 96 jembatan Mississipi, 88 jembatan pintar, 87 John Smeaton, 45 Joseph Asdin, 24 Joseph Aspdin, 46, 47 K kantilever, 66, 70 karakteristik, 76, 77, 88, 100, 102 keawetan, 77, 78, 80, 93 keberlanjutan, 13, 14, 17, 20, 37, 43, 77, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 88, 93, 98, 99, 100 keberlanjutan beton, 80, 82 kegagalan bangunan, 14, 17 kegagalan struktur, 88, 98 kekuatan, 79, 80, 98 kekuatan ultimit, 98 kelayakan, 14 kemampuan pelayanan, 78, 79, 80 kemandirian, 74 kematian, 17 kepintaran, 77, 80, 83, 98 105

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

keruntuhan, 88, 89, 92, 93, 97 keruntuhan progresif, 89, 91, 92 kerusakan, 14 kesalahan, 93 keselamatan, 77, 79, 88, 90 keselamatan bangunan, 15, 17 keselamatan konstruksi, 14 ketahanan, 81, 83 ketidakseimbangan sistem, 100 kinerja, 74, 79, 80, 81, 82, 83, 93 kolom, 53, 71, 73, 81, 89, 92, 94 kompetisi, 75 komposit, 84 konservasi, 82 konstruksi, 14, 24, 25, 37, 42, 59, 61, 66, 68, 71, 72, 74, 75, 80, 82, 93, 98 konvensional, 77, 83 korban, 89 kualitas, 78, 79, 80, 99 kualitas beton, 78, 80 kubah, 38, 39, 40, 42, 64 L lantai, 28, 31, 53, 55, 59, 60, 74 ledakan, 87 lingkungan agresif, 80, 83 lingkungan hidup, 13

M manusia, 13, 20, 74, 75, 81, 82, 84, 88, 99, 103 masa depan, 100, 102 Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, 75, 103 material, 21, 24, 33, 35, 37, 60, 74, 76, 79, 80, 83, 100 Material-Related Distress, 79 matriks, 84, 87 mercusuar, 46, 57 Mesir, 24, 29 modulus elastisitas, 84 momen, 89, 92 mortar, 22, 25, 28, 29, 35 O oculus, 38, 41 P Pantheon, 21, 37, 38, 39, 40, 41, 43 pasir, 22, 28, 36 patent, 46, 48 pelat, 89, 92, 94, 95, 97 pelat sambung, 98 pelat-cangkang, 64, 65, 66, 70, 71 pembangunan berkelanjutan, 74, 82, 99, 100, 102, 103 pembangunan ekonomi, 76 pemukiman, 29, 34 pencakar langit, 73, 77 penegakan hukum, 17 pengaku, 95

106

INDEX

pengakuan, 75 pengecoran, 61, 71 pengerasan, 50, 72 peraturan, 15, 17, 60 perencanaan campuran, 24 perkembangan, 103 Pertumbuhan Hijau, 99, 101, 102 Petra, 34, 35 pintar. See kepintaran Piramida, 30 Pont du Gard Aqueduct, 44 Pozzolan, 33 pozzolana, 24 precast concrete. See beton pra-cetak R ready-mix. See beton siappakai recycled concrete. See beton daur-ulang rekayasa, 14, 34, 37 retak, 41, 43, 76 retak, 90, 92, 97 riset, 82, 83, 101 Roma, 21, 38, 59 Roman Cement. See Semen Romawi Romawi, 21, 24, 35, 36, 38, 43, 44, 45, 46 rose-red city, 34 rumah, 28, 29, 34, 47, 49, 50, 51, 60, 61

S Sampoong Department Store, 88, 89, 90, 91, 92, 105 SCM (Suplementary Cementing Material), 87 sejarah, 12, 20, 22, 46 self-healing, 87 semen, 22, 28, 30, 33, 36, 46, 47, 50, 57, 75, 82, 102 Semen Portland, 24, 46, 47, 60 sensor, 85, 87, 98 serviceability. See kemampuan pelayanan shotcrete, 61 skyscrapers. See pencakar langit SMA (shape memory alloys), 84 solusi, 101 structurally deficient, 96 struktur, 78, 79, 82, 83, 84, 87, 88, 89, 90, 93, 95, 98, 100 sumber daya alam, 13 Susilorini, 80, 83, 102, 103, 105, 106 Sydney Opera House, 68, 70 T tahan gempa, 83, 87 Teknik Sipil, 12, 13 teknologi beton, 12, 20, 21, 22, 24, 33, 34, 35, 38, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 52, 53, 57, 58, 60, 64, 71, 73, 74, 77, 78, 82, 102, 103

107

BETON BAJIK UNTUK DUNIA BERKELANJUTAN

teknologi beton berkelanjutan, 101 terekspos, 78, 80 Terusan Panama, 61, 62 thawing, 64 thawing, 80 thin shell. See pelat-cangkang Timeline, 22, 84 Tripple Bottom Line, 100, 101, 102 U United Nation, 99, 105

V virtues of concrete, 74 Vitruvius, 24, 25 W waduk, 71, 72, 82 Y Yunani, 33 Z ziggurat, 31, 32

108