Anda di halaman 1dari 174

BAB I ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN TRACTUS RESPIRATORY

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 1

A. GAMBAR ANATOMI TRACTUS RESPIRATORIUS

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 2

B. PERAWATAN PASIEN BRONKITIS

1. Definisi Bronkitis adalah suatu penyakit/peradangan yang terdapat pada daerah bronkus yang

disebabkan oleh bakteri/kuman, dll. 2. Etiologi Jenis bakteri (kokus) Virus Merupakan kelanjutan dari penyakit : - Influenza - Morbili - Pnemoni (aspirasi) 3. Insiden bisa terjadi secara : - Akut

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 3

- Sub akut - Kronis 4. Simtomatologi/Tanda dan Gejala Toksemia - Malaise - Pusing dan Lemah - Anoreksia (Nafsu makan menurun) - Febris (Suhu tubuh meningkat) Iritasi - Batuk-batuk - Keluar lender - Homoptesis (perdarahan) - Sering berkeringat Obstruksi - Dispnea(sesak nafas) - jalan pernafasan terasa tak enak - Wezing(pernafasan berbunyi) - Nusea (mual) - vomitus (muntah)

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 4

5. Laboraturium Hematologi - Leukosit Meningkat (N. 6000 9000) - Eritrosit Menurun (N. 3,5 5 juta) - Hemoglobin Menurun (N. 12gr% - 16gr%) - BBS meningkat (N. 10mm 20mm) 6. Radiologi Photo toraks, ada gambaran peradangan pada bronkus 7. Pemeriksaan Lain Bronkoskopi (melihat langsung daerah bronkus)

8. Komplikasi Empisema dan Pleuritis

9. Terapi Antibiotika - Penisilin - Streptomisin - Ampisilin - Tetrasiklin, dll Antitusif Ekspektoran

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 5

Antipiretika Koagulasi Analgetik Ruboransia

10. Penatalaksanaan Istirahat Perawatan sesak nafas Pengeluaran mucus/lender Menghentikan batuk Menghentikan perdarahan Menghilangkan/mengurangi rasa sakit/pusing Memberikan penyuluhan tentang perawatan dan pencegahan apabila penyakit kambuh 11. Diagnose yang mungkin muncul pola nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkontriksi,mucus Bersihan jalan nafas tidak efektif produksi

berhubungan secret.

dengan

peningkatan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 6

Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme broncus.

12. Intervensi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan bronkontriksi,mucus Intervensi: memantau kecepatan,irama dan kedalaman dan usaha pernafasan. memantau bunyi pernafasan. memantau pola pernafasan. pola pernafasan regular. Mengauskultasi bunyi pernafasan.

memposisikan klien sesuai posisi nyaman klien. dan menganjurkan posisi semi fowler.

mengajarkan klien tekhnik pernafasan dalam mengadakan kolaborasi dengan dokter terkait pemberian bronkodilator.

memberikan nebulizer sesuai indikasi.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 7

C. PERAWATAN PASIEN ASMA BRONKHIAL

1. Definisi Asma bronchial adalah adanya gangguan pada selaput bronkus yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pernafasan Asma adalah penyakit yang menyerang

cabang-cabang halus bronkus yang sudah tidak memiliki kerangka cincin-cincin tulang

rawan.Sehingga terjadi penyempitan mendadak.( Kus Irianto.2004.215) 2. Tipe asma Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 8

Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik

terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi

saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 9

Beberapa gabungan.

pasien

akan

mengalami

asma

Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

3. Etiologi Ekstrinsik : Faktor alergian - inhalan : hirupan dari bahan-bahan Debu, bullu hewan, tumbuh-tumbuhan, dll. - ingestan : lewat makanan/obat-obatan Ikan laut/ikan tawar Telur dan obat-obatan - kontaktan : bersinggungan Dengan orang Dengan perhiasan Intrinsic : Faktor non Alergian - biasanya tidak jelas factor allerginya - biasanya ada peradangan Psikologis : kejiwaan Genetic : factor keturunan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 10

4. Simtomatologi Dipsnea Wheezing Batuk-batuk Keluar mucus/lender Banyak keluar keringat Malaise Nusea dan anoreksia Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu : 1) Tingkat I : a) Secara klinis normal tanpa kelainan

pemeriksaan fisik dan fungsi paru. b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test

provokasi bronkial di laboratorium. 2) Tingkat II : a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas. b) Banyak dijumpai pada klien setelah

sembuh serangan.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 11

3) Tingkat III : a) Tanpa keluhan. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru

menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali. 4) Tingkat IV : a) Klien mengeluh batuk, sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas. 5) Tingkat V : a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 12

Kontraksi otot-otot pernafasan, sianosis, gangguan kesadaran, penderita tampak letih, takikardi. 5. Laboraturium Hematologi - Leukosit normal meningkat apabila terjadi peradangan - hemoglobin normal, menurun bila anoreksia - BBS normal, naik bila peradangan 6. Radiologi Photo toraks - adanya pembengkakan - adanya penyempitan bronkus - adanya hipersekresi lender/sumbatan 7. Terapi Pemberian Bronkodilator Antihistamin = mengembangan pembuluh darah bronkus Antitusif Ekspektoran = pengencer lender Kortikosteroid = penghilang bengkak

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 13

Antibiotika Oksigen bila perlu

8. Penatalaksanaan Istirahat dan menjaga ketenangan Perawatan sesak nafas - bersih dari debu - mengatur posisi tidur - memberikan bimbingan bernafas dengan baik Mengeluarkan lender Mengurangi batuk Mencegah terjadi dehidrasi Bimbingan mental sebagai motivator

memberikan penyuluhan 9. Diagnosa yang mungkin muncul Tak efektif bersihan jalan nafas b/d

bronkospasme Malnutrisi b/d anoreksia Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (spasme bronkus) Risiko tinggi terhadap infeksi b/d tidak

adekuat imunitas

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 14

Kurang pengetahuan b/d kurang informasi, salah mengerti

10. Intervensi keperawatan Tak efektif bersihan jalan nafas b/d bronkospasme. Tujuan : Hasil yang diharapkan: mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi bersih dan jelas.

Intervensi dan Rasional Mandiri 1. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, ex: mengi 2. Kaji/pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi / ekspirasi. 3. Catat adanya derajat dispnea, ansietas, distress pernafasan, penggunaan obat bantu. 4. Tempatkan posisi yang nyaman pada pasien, contoh :meninggikan kepala tempat tidur, duduk pada sandara tempat tidur 5. Pertahankan polusi lingkungan minimum, contoh: debu, asap dll

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 15

6. Tingkatkan Masukan cairan sampai dengan 3000 ml/ hari sesuai toleransi jantung memberikan air hangat. Kolaborasi 1. Berikan obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. 2. Beberapa derajat Spasme bronkus Terjadi dengan obstruksi jalan nafas dan dapat/tidak

dimanifestasikan adanya nafas advertisius. 3. Tachipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/ adanya proses infeksi akut. 4. Disfungsi tergantung pernafasan pada adalah variable akut yang yang

tahap

proses

menimbulkan perawatan di rumah sakit. 5. Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. 6. Pencetus Tipe alergi pernafasan dapat mentriger episode akut. 7. Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret, penggunaan cairan hangat dapat menurunkan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 16

kekentalan

sekret,

penggunaan

cairan

hangat

dapat menurunkan spasme bronkus. 8. Merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas, mengi, dan produksi mukosa.

D. PERAWATAN PASIEN PNEUMONIA 1. Definisi Pneumonia adalah keadaan akut pada paru yang disebabkan oleh karena infeksi atau iritasi dari bahan kimia sehingga alveoli terisi dengan eksudat peradangan. 2. Etiologi Jenis Bakteri (Kokus) Jenis Virus Jenis Jamur Bahan fisik/kimia Merupakan kelanjutan dari penyakit influenza dan morbili Pendukung aspirasi lain : malnutrisi, salesma, dan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 17

3. Simtomatologi malaise dan malaigi di dahului dengan peradangan saluran

pernafasan atas suhu badan meningkat kadang kadang disertai menggigil batuk batuk dengan keluarnya mucus/lendir kadang-kadang terjadi sesak nafas ada whezing mendengkur bila ada nyeri pleurik. Kadang-kadang terjadi sianosis sering berkeringat

4. Laboraturium hematologi - leukosit naik - eritrosit menurun Sputum/Lendir - kultur kuman penyebab positif 5. Radiologi Shadow / ada perselubungan Konsulidasi segmen/lobaris

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 18

6. Terapi Pemberian Bronkodilator Antihistamin = mengembangan pembuluh darah bronkus Antitusif Ekspektoran = pengencer lender Kortikosteroid = penghilang bengkak Antibiotika Oksigen bila perlu

7. Penatalaksanaan Istirahat dan menjaga ketenangan Perawatan sesak nafas - bersih dari debu - mengatur posisi tidur - memberikan bimbingan bernafas dengan baik Mengeluarkan lender Mengurangi batuk Mencegah terjadi dehidrasi Bimbingan mental sebagai motivator

memberikan penyuluhan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 19

8. Diagnosa yang mungkin muncul Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan Gangguan pengiriman oksigen Resiko Tinggi Terhadap (penyebaran) infeksi berhungan dengan Ketidakadekuatan

pertahanan utama. Ketidakefektifan bersihan jalan napas

berhubungan dengan pembentukan edema

9. Intervensi keperawatan Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan Gangguan pengiriman oksigen. KH: Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan. Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi. Intervensi: 1) Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 20

Rasional : Manifestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum. 2) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk efektif.

Rasional : Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi. 3) Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas senggang.

Rasional : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan infeksi. 4) Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi banyaknya jumlah sputum merah muda/berdarah, pucat, dispnea sianosis, perubahan berat, tingkat kesadaran, gelisah.

Rasional : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia dan membutuhkan intervensi medik segera.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 21

E. PERAWATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU

1. Definisi Tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi menular, menyerang pada paru, disebabkan oleh basil microbacterium tuberkulose Tuberkulosis (TBC/TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan kebagian tubuh lainnya, termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. (BRUNNER C. SANON).

2. Etiologi Basil icrobacterium tuberkulose - Basil Tahan Asam (BTA) - Bentuk Batang

3. Macam-macamnya Menurut sifatnya - TBC Terbuka : Pemeriksaan BTA (+) ,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 22

kemungkinan penularan tinggi - TBC Tertutup : pemeriksaan BTA (-), kemungkinan penularan rendah, menurut tempatnya(paru,pada usus,kulit,tulang,mata,ginjal,jantung,dll) 4. Cara Penularan Cara penularan yaitu lewat jalur pernafasan Secara langsung - berbicara berhadapan, percikan air ludah, berciuman, udara bebas dalam satu kamar Secara tak langsung - melalui alat alat yang tercemar basil 5. Simtomatologi Batuk-batuk kurang lebih 2 minggu Keluar mucus/dahak kurang lebih 3 minggu Anoreksia,badan lemah, letih dan cepat lelah Dada terasa sakit Sering terjadi febris, tempratur naik 38-390c Bila berat dapat terjadi batuk berdarah Kadang kala terjadi dispnea sampai sianosis perifer

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 23

6. Laboraturium Hematologi - terjadi leukositosis - Hb menurun - BBS/LED meningkat - Eritrosit menurun bila kronis Sputum BTA (+) Feses / urine basil (+)

7. Radiologi Poto Thoraks : Koh pulmonal aktif, adanya jaringan parut/fibrosis, gambaran keruh 8. Terapi Tuberkulostatika / antibiotika Sistomatika

9. Penatalaksanaan isolasi dan pengelompokan pasien sejenis istirahat dan jaga ketenangan kurangi batuk mengeluarkan sputum merawat panas badan yang tinggi merawat sesak nafas

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 24

memberikan makanan TKTP dan banyak minum melaksanakan bimbingan mental Penyuluhan kesehatan

10. Diagnosa yang mungkin muncul Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret darah, Kelemahan, upaya batuk buruk. Edema

trakeal/faringeal. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya atelektasis, keefektifan Kerusakan permukaan membran paru,

alveolar

kapiler, Sekret yang kental, Edema bronchial. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan tubuh

menurun, fungsi silia menurun, sekret yang inenetap, Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar, Malnutrisi, Terkontaminasi oleh lingkungan, Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 25

Perubahan kebutuhan

kebutuhan

nutrisi,

kurang

dari

berhubungan

dengan:

Kelelahan,

Batuk yang sering, adanya produksi sputum, Dispnea, financial Kurang pengetahuan tentang kondisi, Anoreksia, Penurunan kemampuan

pengobatan, pencegahan berhubungan dengan: Tidak ada yang menerangkan, Interpretasi yang salah, Informasi yang akurat, didapat tidak

lengkap/tidak

Terbatasnya

pengetahuan/kognitif.

11. Intervensi keperawatan Diagnosa I Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret buruk. darah, Edema

Kelemahan,

upaya

batuk

trakeal/faringeal.

Tujuan:
Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Menunjukkan prilaku untuk

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 26

memperbaiki bersihan jalan napas. Berpartisipasi dalam program pengobatan potensial sesuai komplikasi kondisi. dan

Mengidentifikasi

melakukan tindakan tepat. Intervensi: a. Kaji fungsi pernapasan: bunyi napas, kecepatan, imma, kedalaman dan penggunaan otot aksesori.

Rasional:

Penurunan ronki

bunyi

napas

indikasi akumulasi jalan

atelektasis,

indikasi

secret/ketidakmampuan

membersihkan

napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. b. Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.

Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret tebal,


sputum berdarah akibat kerusakan paru atau luka bronchial yang memerlukan

evaluasi/intervensi lanjut.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 27

c.

Berikan

pasien

posisi

semi

atau

Fowler,

Bantu/ajarkan batuk efektif dan latihan napas dalam.

Rasional: Meningkatkan ekspansi paru, ventilasi


maksimal membuka gerakan area atelektasis agar dan

peningkatan dikeluarkan.

sekret

mudah

d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, suction bila perlu.

Rasional: Mencegah obstruksi/aspirasi. Suction


dilakukan bila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.

Diagnosa II Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi

berhubungan dengan: Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, jaringan Malnutrisi, sekret akibat yang inenetap, yang oleh

Kerusakan menyebar,

infeksi

Terkontaminasi

lingkungan, Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 28

Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk

mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup

untuk meningkatkan lingkungan yang. aman. Intervensi: a. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, penyebaran infeksi melalui bronkus pada

jaringan sekitarnya atau aliran darah atau sistem limfe dan resiko infeksi melalui batuk, bersin, menyanyi. meludah, tertawa., ciuman atau

Rasional: Membantu pasien agar mau mengerti


dan menerima terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi. b. Identifikasi orang-orang yang beresiko terkena infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.

Rasional: Orang-orang yang beresiko perlu


program terapi obat untuk mencegah

penyebaran infeksi.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 29

c.

Anjurkan pasien menutup mulut dan membuang dahak di tempat penampungan yang tertutup jika batuk.

Rasional:

Kebiasaan

ini

untuk

mencegah

terjadinya penularan infeksi. d. Monitor temperatur.

Rasional: Febris merupakan indikasi terjadinya


infeksi. e. Pemberian terapi INH, etambutol, Rifampisin.

Rasional: INH adalah obat pilihan bagi penyakit


Tuberkulosis primer dikombinasikan dengan

obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan

Etambutol untuk 2 bulan pertama. f. Pemberian terapi Pyrazinamid

(PZA)/Aldinamide, para-amino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin.

Rasional: Obat-obat sekunder diberikan jika


obat-obat primer sudah resisten. g. Monitor sputum BTA

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 30

Rasional: Untuk mengawasi keefektifan obat


dan efeknya serta respon pasien terhadap terapi.

F. PERAWATAN PASIEN PLEURITIS

1. Definisi Pleuritis adalah terjadinya suatu peradangan pada selaput dada/paru yang disebabkan oleh kuman. 2. Etiologi Jenis kokus Lain-lain : luka tembus, patah tulang dll yg terkena infeksi Merupakan kelanjutan penyakit : tuberculosis, bronchitis, pneumonia, dll. 3. Simtomatologi Adanya pembengkakan / peradangan Dada terasa sakit yaitu pada waktu

batuk,bersin,trauma,dll Rasa sakit pada daerah bahu, perut, hati

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 31

Senang tidur pada bagian yang sehat Dipsnea dan febris Batuk-batuk dan keluar lendir

4. Laboraturium Hematologi - Leukosit kemungkinan meningkat - Hb menurun - BBS/LDH kemungkinan naik 5. Radiologi Terlihat adanya peradangan Terapi dan perawatan sama pada klien dengan emphysema

G. PERAWATAN PASIEN EFUSI PLEURA

1. Definisi adalah adanya cairan dalam rongga pleura yang disebabkan oleh beberapa macam penyakit. Efusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura (Price & Wilson 2005). Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 32

dan jaringan elastis yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis). Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama pernafasan.

2. Etiologi Peradangan - pembentukan cairan yang berlebihan karena radang pada : pleuritis, pneumoni, TBC,

bronkiektasi, tumor, trauma,dll. Hambatan reabsorbsi dan bendungan

- adanya hambatan reabsorbsi cairan dari rongga pleura karena adanya bendungan dari penyakit / kelainan pada decompensasi cordis, penyakit ginjal, tumor dan vascular. Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik. Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary dan perikarditis.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 33

Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses dan sindrom Meigs.

Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan parasit.

Trauma Penyebab lain seperti lupus eritematosus

sistemik, rematoid arthritis, sindroms nefrotik dan uremia. Imunologik, meliputi efusi rheumatoid, sarkoidosis, efusi granulomatosis efusi

wegener,

sindrom sjogren, emboli paru, dan paru uremik.

3. Simtomatologi Timbulnya cairan dimulai dengan adanya rasa sakit karena gesekan antar pleura Kemudian rasa sakit berkurang bila cairan bertambah banyak Dipsnea bila cairan bertambah banyak Batuk-batuk dan keluar mucus Keluar keringat berlebihan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 34

Krepitasi pada rongga dada/terdengar cairan pada rongga dada.

Kadang-kadang diiringi naiknya tempratur

4. Radiologi Poto thorak menunjukan kesan adanya cairan

5. Pemeriksaan lain fungsi pleura dilakukan pada iga ke-8 untuk pemeriksaan hasil cairan yang ada di pleura :

- cairan transudat (hasil dari pembendungan) - cairan eksudat (hasil dari peradangan) TRANSUDAT 1. cairan lebih jernih perbedaan transudat dan eksudat EKSUDAT Cairan lebih keruh Mengandung protein lebih dari 3gr% BJ lebih dari 1,016 sel-sel Mengandung sel radang

2. mengandung protein kurang dari 3gr% (Rivalta +) 3. BJ kurang dari 1,016 4. Mengandung mestoloid (plasma)

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 35

6. Diagnosa yang mungkin muncul Pola napas tidak efektif, yang berhubungan dengan Penurunan ekspansi paru ( akumulasi dari udara/cairan), Proses radang Risiko tinggi terhadap dengan trauma, yang alat

berhubungan

Ketergantungan

eksternal , Proses penyakit saat ini Nyeri Akut, yang saraf berhubungan intratotak dengan sekunder

Terangsangnya

terhadap iritasi pleura, Inflamasi parenkim paru. Kerusakan pertukaran gas, yang berhubungan dengan Penurunan kemampuan recoil paru,

gangguan transportasi oksigen.

7. Intervensi keperawatan Diagnosa I Ketidak efektifan pembersihan jalan nafas

berhubungan dengan kelemahan dan upaya batuk buruk.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 36

NOC : Menunjukkan pembersihan jalan nafas yang

efektif dan dibuktikan dengan status pernafasan, pertukaran gas dan ventilasi yang tidak berbahaya : - Mempunyai jalan nafas yang paten - Mengeluarkan sekresi secara efektif. - Mempunyai irama dan frekuansi pernafasan dalam rentang yang normal. - Mempunyai fungsi paru dalam batas normal. Menunjukkan pertukaran gas yang

adekuatditandai dengan : - Mudah bernafas - Tidak ada kegelisahan, sianosis dan dispnea. - Saturasi O2 dalam batas normal - Rontgen toraks dalam rentang yang diharapkan. NIC : Kaji dan dokumentasikan - Keefektifan pemberian oksigen dan perawatan yang lain. - Keefektifan pengobatan. - Kecenderungan pada gas darah arteri.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 37

Auskultasi

dada

anterior

dan

posterior

untukmengetahui

adanya

penurunan atau tidak

adanya ventilasi dan adanya bunyi hambatan. Penghisapan jalan nafas - Tentukan kebutuhan penghisapan oral/trakeal. - Pantau status oksigen dan status hemodinamik serta irama jantung sebelum, selama penghisapan. Pertahankan keadekuatan hidrasi untuk dan setelah

menurunan viskositas sekresi. Jelaskan denganbenar, lender. Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa merokok merupakan kegiatan yang dilarang di dalam ruang perawatan. Instruksikan kepada pasien tentang batuk dan teknik nafas dalam untuk memudahkan keluarnya sekresi. Rundingkan dengan ahliterapi oernafasan sesuai dengan kebutuhan. penggunaan misalnya peralatan oksigen, alat pendukung penghisap

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 38

Berikan oksigen yang telah dihumidifikasi. Beritahu dokter tentang hasil analisa gas darah yang abnormal. Bantu dalam pemberian aerosol. Nebulizer dan perawatan paru lain sesuai dengan kebijakan dan protocol institusi. Anjurkan aktivitas fisik pergerakan sekresi. Jika pasien tidak mampu untuk melakukan untuk meningkatkan

ambulasi, letak posisi tidur pasien diubah tiap 2 jam. Informasikan kepada pasien sebelum memulai prosedur untuk menurunkan kecemasan dan

peningkatan kontrol diri.

H. PERAWATAN PASIEN ASFIKSIA 1. Definisi Asfiksia adalah kumpulan dari pelbagai keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal.Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 39

saluran pernafasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Gangguan ini akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah berkurang yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida. Keadaan ini jika terus

dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya kematian.

2. Etiologi Biasanya terjadi pada bayi yang dilahirkan dari ibu dengan komplikasi, misalnya DM,

eritroblastosis fetalis, kelahiran kurang bulan. Terjadi apabila saat lahir bayi mengalamigangguan pertukaran kekurangan gas dan transport O2 O2 dan sehingga kesulitan

persediaan

pengeluaran CO2. Asfiksia berat dengan henti jantung yaitu keadaan : 1. Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap. 2. Bunyi jantung bayi menghilang (post partum).

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 40

Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari : a. Faktor Ibu Hipoksia ibu : terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgenika /anestesia dalam gangguan aliran darah uterus ditemukan pada keadaan gangguan kontraksi, misalnya hepertoni, hipotani atau tetani, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi pada penyakit eklamsia. b. Faktor Plasenta Pertukaran gas antara ibu dan janin

dipengaruhi olah luas dan kondisi plasenta asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan

mendadak pada plasenta misalnya pada solusia plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain. c. Faktor Fetus Kompresi umbilicus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ditemukan pada keadaan talipusat menumbung, tali pusat

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 41

melilit leher,kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir. d. Faktor Neonatus Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir terjadi karena beberapa hal : 1. Pemakaian obat anestesia / yang berlebihan. 2. Trauma pada persalinan misalnya pendarahan intrakronial 3. Kelainan kogenital pada bayi. Misalnya : - Hernia diaframa - Atresia/stenosis saluran pernafasan - Hipoplasia paru e. Perubahan Homeostatis Asfesia bayi biasanya disertai : 1. Asidosis respiratorik 2. Asiadosis metabolik 3. Gangguan kardiovaskuler anelgenetika

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 42

4. Klasifikasi Asfiksia neonatonum adalah suatu keaadan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. (Hutchison, 1967). Asfiksia neonatus adalah suatu keadaan dimana saat bayi mengalami gangguan pertukaran gas dari transprit oksigen dan kesulitan

nmengeluarkan co2 (A.H. Markum, 2002) Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaP2 didalam daerah rendah (hipoksia), hiperkarbia (PaP2 meningkat),

asidosis. (Carpenito, Lynda Jall, 2000).

5. Manifestasi klinis Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda: 1. Denyut jantung lebih dari 100x/menit/kuraang dariu 100x/mnt tidak teratur

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 43

2. Mekonium dalam air ketuban pada janin terletak dikepala 3. Apnea 4. Pucat 5. Sianosis 6. Penurunan terhadap stimulus 7. Serangan jantung 8. Nilai APGAR kurang dari 6

6. Komplikasi Meliputi berbagai organ, yaitu : 1. Otak : hipoksik iskemik ensefalopati, edema serbri, palsi serebralis 2. Jantung dan paru-paru : hipertensi pulmonal persistensi pada neunatus, pendarahan parum, edema paru 3. Ginjal : tubulan nekrosis akut 4. Hematologic : dich 5. Gangguan pertukaran gas 6. Penurunan kardik out put 7. Intoleransi aktfitas

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 44

8. Gangguan perfusi jaringan (renal) 9. Resiko tinggi terjadi infeksi

7. Rencana asuhan keperawatan

a. Anamnesis
1. Identitas Nama ibu Alamat Umur

2. Riwayat kehamilan ibu Apakah pernah menderita kel. Kehamilan Aklamsia, hipotensia

3. Riwayat persalinan ibu Apakah persalinan normal SC Forcep dll

b.

Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum bayi Bayi kelihatan lemah, merintih, reflek gerak lambat. 2. Sistem kardiovaskuler

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 45

Nafas sesak Frekwensi lebih dari 60x/menit Pernafasan cuping hidung Pernafasan dada dan perut

3. Sisrtem pencernaan Mulut Perut : reflek menghisap lemak : tidak kembung, tymponi pada

auskultasi Anus : normal

4. Intergumen Lemak subcutan sedikit Extremitas / akrat dingin Bayi tampak pucat Rambut lanugo ada

5. Muskuluskeletal Tonus otot axt flexi Reflek gerakan sedikit

9. Diagnosa yang mungkin muncul Pola nafas tidak efektif b/d imatur sistem pernafasan.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 46

Hipotermi b/d imatur sistem termoregulasi. Gangguan pemeriksaan kebutuhan nutrisi b/d intake yang kurang.

Defisit

volume

cairan

b/d

pengeluaran

yang

berlebihan akibat dari peningkatan pola nafas. Resiko tinggi gangguan integritas kulit b/d

imobilitas. Perubahan proses keluarga b/d situasi krisis bayi yang sakit.

I. PERAWATAN PASIEN EMFISEMA 1. Definisi Emfisema paru paru merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru paru yang ditandai dengan pembesaran alveolus dan duktus alveolaris, serta destruksi dinding alveolar.

(Sylvia.2000.689) 2. Klasifikasi Terdapat 2 (dua) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru, yaitu :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 47

a.

Panlobular (panacinar), yaitu terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan.

b. Sentrilobular patologi

(sentroacinar), terjadi

yaitu pada

perubahan pusat lobus

terutama

sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia

(peningkatan CO2 dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.

3. Etiologi Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 48

1.

Rokok

Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalan nafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi dan

hiperplasia kelenjar mukus bromkus. 2. Polusi Polutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angka kematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padat industrialisasi, polusi udara seperti halnya asap

tembakau, dapat menyebabkan gangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar. 3. Infeksi Infeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakit infeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale, dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya emfisema. 4. Genetik Genetik terhadap emfisema yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitripsin

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 49

alfa-1, yang merupakan suatu enzim inhibitor. Secara genetik sensitif terhadap faktor lingkungan (merokok, polusi udara, agen-agen infeksius, alergen). 5. Faktor Sosial Ekonomi Emfisema lebih banyak terdapat pada golongan sosoial ekonomi rendah, mungkin karena perbedaan pola merokok selain itu juga di sebabkan factor lingkungn dan ekonomi yang lebih jelek.

4. Manifestasi klinis a. Penampilan Umum Kurus, warna kulit pucat, flattened

hemidiaphragma, tidak ada tanda CHF (congestive heart failure) kanan dengan edema dependen pada stadium akhir. b. Usia 1. Usia 15-25 tahun, mulai timbul perubahan pada saluran nafas kecil dan funngsi paru 2. Usia 35-45 tahun, timbul batuk yang produktif 3. Usia 45-55 tahun, terjadi sesak nafas dan Hipeksemia dan perubahan spirometri

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 50

4. Usia 55-60 tahun, sudah ada or-pulmonal yanng dapat menyebebkan kegagalan nafas dan meninggal dunia. c. Pemeriksaan Fisik 1. Dispnea

2. Pada inspeksi: bentuk dada burrel chest 3. Pernapasan efektif, dada, pernapasan abnormal tidak

dan

penggunaan

otot-otot

aksesori

pernapasan (sternokleidomastoid) 4. Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru. 5. ada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi 6. Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum 7. Distensi vena leher selama ekspirasi

d. Pemeriksaan Jantung Tidak terjadi pembesaran jantung. Cor pulmonal timbul pada stadium akhir. Hematokrit < 60%.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 51

e. Riwayat merokok Biasanya ada riwayat merokok, namun tidak selalu ada

5. Komplikasi Sering mengalami infeksi pada saluran

pernafasan Daya tahan tubuh kurang sempurna Tingkat kerusakan paru semakin parah Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas Pneumonia Atelaktasis Pneumothoraks Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien

6. Pemeriksaan diagnostik Sinar x dada : dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda

vaskularisasi/bula

(emfisema);

peningkatan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 52

tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma). Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis.,

bronkodilator. TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan emfisema Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema Volume residu: meningkat pada emfisema,

bronkitis kronis, dan asma FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi

silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 53

pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronchitis JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil (asma) Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer Sputum: kultur untuk menentukan adanya

infeksi, mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau

gangguan alergi EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, (emfisema) EKG latihan, tes stres: membantu dalam emfisema); aksis vertikal QRS

mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator,

perencanaan/evaluasi program latihan.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 54

7. Diagnosa yang mungkin muncul Pola nafas tidak efektif b.d. Penurunan oksigen dalam udara inspirasi Kerusakan pertukaran gas b.d Penurunan

oksigen dalam udara inspirasi

8. Intervensi keperawatan Pola nafas tidak efektif b.d. Penurunan oksigen dalam udara inspirasi

1.

Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, catat pengguna-an otot aksesorius, napas bibir,

ketidak mampuan bicara/berbincang. 2. Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna

membrane mukosa. 3. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. 4. Dorong mengeluarkan sputum, pengisapan bila diindikasikan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 55

5. Auskultasi bunyi napas, catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan 6. Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 56

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM CARDIOVASKULER

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 57

A. GAMBAR ANATOMI SISTEM KARDIOVASKULER

System peredaran darah tubuh manusia terdiri atas : Peredaran darah Kecil Melalui : Ventrikel kanan pulmonalis Arteri pulmonalis Paru - paru Vena

Atrium kiri.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 58

Atau : Jantung Paru-paru Jantung Peredaran darah Besar Melalui : Ventrikel kiri Vena kanan. Atau : Jantung Seluruh tubuh Jantung B. Perawatan pasien dengan Bacterial Endocarditis 1. Definisi Radang pada katub jantung dan endokardium yang disebabkan oleh kuman dan jamur. Aorta Arteri Arteriola Kapiler Venula

Vena cava superior dan vena cava inferior Atrium

2. Etiologi Streptococcus faecalis, mikro, viridens, streptococcus aureus dan

staphylococcus

stephalbus, kuman dan jamur (yang terdapat pada

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 59

orofaring, nasofaring saliva, karies gigi, tractis degestivus)

3. Patofisiologi Pada ginjal akan timbul albuminuria,

hematuria sampai terjadi uremi, bisa timbul infrak ginjal, limpa membesar. Pada otak terjadi emboli, meningitis, pada mata bisa buta dan emboli arteria koronaria sampai timbul mati mendadak, pada jantung timbul bising sampai timbul bacterial endocarditis.

4. Simtomatologi febris remitten atau intermittens anemia antralgia dan mialgia splenomegali dan infrak limpa jari tabu kelainan ginjal berupa nefrosis emboli local, septic, infrak renal.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 60

5. Pathogenesis Pertama-tama hanya demam, keringat

banyak, menggigil dan anemia, lesu, anoreksia, setelah itu manifestasi emboli vaskuler dan

mengenai semua organ tubuh, ginjal akan terjadi infark, limpa juga pada otak terjadi emboli dan menyebabkan mati mendadak sampai tejadi

kerusakan pada jantung kemudian timbul bacterial endocarditis. Bila penyakit berbulan-bulan sering timbul sering timbul decompensasi cordis.

6. Komplikasi Kegagalan faal ginjal Mata buta Meningitis Mati mendadak

C. Perawatan pasien dengan Myocarditis 1. Definisi proses disebabkan parasit.


Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 61

peradangan bakteri,

pada virus,

jantung riketsia,

yang dan

oleh

Reaksi jantung terhadap proses infeksi adalah dengan dilatasi dan kegagalan jantung congestive

2. Etiologi Proses infeksi Therapy media Racun-racun kimiawi Alat-alat fisik/obat-obat

3. Simtomatologi Febris Puls rendah dan tensi cepat Perasaan nyeri daerah jantung/rasa tertekan Palpitasi Kadang timbul shock Adanya gangguan irama atau gangguan

penghantaran 4. Pemeriksaan USG ECG Laboraturium darah,volume urine, dll.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 62

5. Komplikasi Emboli Sepsis Endocarditis Pericarditis Payah jantung

6. Diagnosa yang mungkin muncul Nyeri berhubungan dengan inflamasi

miokardium, efek-efek sistemik dari infeksi, iskemia jaringan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan

inflamasi dan degenerasi sel-sel otot miokard, penurunan curah jantung. Risiko tinggi terhadap penurunan curah

jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar)

mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan/daya

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 63

ingat, mis- intepretasi informasi, keterbatasan kognitif, menyangkal diagnosa.

D. Perawatan pasien dengan Pericarditis 1. Definisi Radang yang terjadi pada selaput tipis yang melekat pada otot jantung/paling luar (terjadi sebagai proses pertama, akan tetap biasanya merupakan proses akibat penyakit lain)

2. Etiologi Karena beberapa penyakit infeksi, misalnya: tuberculosis (Pericarditis Exudativa), pericarditis exudativa yaitu : radang pada pericardium yang disertai adanya exudat/nanah dalam cavum pericardium exudans. exudat ini bisa banyak bisa sedikit. - radang bakterior - Rheuma -Thrauma - Uraemia

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 64

Radiasi atau penyinaran Neophlasma Hiperseneitivitas

3. Factor penunjang Factor ketahanan tubuh yang rendah sehingga mudah terjadi infeksi Adanya penyakit lain misalnya ginjal sehingga kadar ureum melebihi dari normal sehingga menyebabkan uremia Factor makanan yang mempengaruhi selaput jantung misalnya alcohol

4. Patofisiologi Selaput tipis jantung yang yang melekat celah pada otot cavum

terdapat

atau

pericardium mengalami peradangan sehingga diikuti adanya exudat/nanah yang banyaknya 100cc sampai 1 liter lebih. Dalam keadaan normal pericardium melekat pada otot jantung sehingga antara pericard dengan otot

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 65

jantung terdapat cavum pericard yang terdapat cairan pericard. - karena adanya infrak transmural dapat membuat kasar lapisan epicardium yang langsung berkontrak dengan lapisan pericardium. Sehingga merangsang lapisan

pericardium dan menimbulkan peradangan. -kadang-kadang terjadi penimbunan cairan pada cavum tersebut. Penimbunan itu antara 100cc sampai 1 liter lebih cairan pericardial. Cairan ini didapatkan dari

bakteri pyogenik yang menyebabkan pembentukan nanah dan peradangan.

5. Simtomatologi Dipsnea Suhu tinggi karena adanya peradangan Pulse lambat dan tidak teratur Pada pemeriksaan USG bentuk jantung Nampak bulat karena penimbunan cairan Hypotensi atau tensi rendah Nyeri pada daerah dada/angina pectoris Keadaan umum lemah

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 66

6. Pemeriksaan penunjang ECG (electrocardiography terdapat peninggian ST segmen sampai beberapa hari, gelombang T terbalik) USG (ultrasonographi) bentuk jsntung tampak membulat

7. Komplikasi Myocarditis Endocarditis Sepsis

E. Perawatan Pasien Stenosis Aorta

1. Definisi Stenosis aorta adalah adanya kelainan pada katub jantung bagian aorta serta mengalami kekakuan sehingga tidak dapat menutup dengan baik (bocor)

2. Etiologi

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 67

Congenital - aorta unikuspidalis menyebabkan obstruksi berat pada saat bayi dan merupakan penyebab fatal aorta pada umur dapat 1 tahun.

hikuspidalis

menyebabkan

stenosis pada saat lahir, tapi kadang-kadang juga struktur abnormal ini akan menyebabkan turbulensi sehingga katub akhirnya menjadi kaku,fibrosis dan kalsifikasi pada umur dewasa. - aorta trikuspidalis dapat juga mengalami abnormalitas dalam bentuk maupun besarnya, sehingga menimbulkan turbulensi,fibrosis dan kalsifikasi. Penyakit jantung reumatik

kelainan akibat jantung reumatik pada katub aorta jarang muncul tersendiri, tetapi selalu disertai kelainan katub lain Stenosis aorta kalsifikasi senelis

kelainan ini akibat arteriosklerosis, dimana terjadi sklerosis dan kalsifikasi katub pada usia lanjut dan jarang menyebabkan stenosis berat

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 68

Stenosis

aorta

pada

arthritis

rheumatoid

terjadinya pelebaran noduler dan katub pada proksimal terjadi aorta,tetapi kelainan ini jarang

3. Patofisiologi Stenosis biasanya terjadi secara bertahap dalam waktu yang lama, sehingga sempat

terjadinya hipertrophi ventrikel kiri dengan menimbulkan peninggian tekanan

intraventrikuler dalam mempertahankan curah jantung yang normal Grabian katub aorta (perbedaan tekanan

sistolik ventrikel kiri dengan tekanan sistolik aorta) 50mmHg, dan diameter katub aorta diameter katub aorta normal, merupakan

stenosis yang kritis dimana terjadi kekakuan otot ventrikel pada saat diastolic, peningkatan tekanan arteri pulmonalis, peninggian tekanan ventrikel kanan dan atrium kanan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 69

Oksigenasi miokard menjadi tidak adekuat akibat hipertropi otot, perpanjangan masa

injeksi dan tingginya tekanan intraventrikuler, walaupun struktur anatonik arteri koroner masih normal

4. Simtomatologi Dipsnea (adanya sianosis aorta). Sinkope(pingsan) Pulsus parvus(nadi kecil) disebabkan desakan systole lemah dan desakan diastole lebih tinggi dari normal. Bising sistolik kuat

5. Pemeriksaan lain EKG - menunjukan hipertropi ventrikel kiri dengan perubahan segmen - perubahan septum interventrikuler - klasifikasi dan penebalan katub aorta

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 70

6. Diagnose yang mungkin muncul Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan perembesan cairan, kongesti paru sekunder, perubahan membrane kapiler alveoli, dan

retensi cairan interstitial. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan

dengan sekresi mucus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk burujk, dan edema trakeal/faringeal. Gangguan aktivitas sehari-hari yang

berhubungan dengan penurunan curah jantung ke jaringan.

F. Perawatan pasien dengan regurgitasi aorta 1. Definisi Regurgitasi aorta adalah aliran darah yang membalik, dari aorta ke ventrikel kiri 2. Etiologi Regurgitasi dari aorta ke ventrikel kiri dapat terjadi dalam dua macam kelainan anatomik, yaitu :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 71

Dilatasi pangkal aorta yang ditemukan pada : - penyakit kalogen - aortitis sifilitika - disseksi aorta

Penyakit katub organic - penyakit jantung reumatik - endocarditis bacterial - aorta bikuspidalis congenital - ventrikel septal defect (VSD) - rupture traumatic

3. Simtomatologi Ada dua macam gambaran klinik regurgitasi yang berbeda, yaitu: Regurgitasi aorta kronik - adanya kegagalan ventrikel timbul dipsnea, karena aktivitas - proximal nocturnal dyspnea - angina pectoris pada tahap terakhir penyakit - Hipertropi ventrikel kiri - Irama gallop

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 72

- Murmur diastole - Trill systolic Regurgitasi aorta akut - dipsnea berat akibat tekanan vena pulmonal meningkat - peninggian tekanan diastolic ventrikel kiri dengan strain - murmur diastolic melemah

G. Perawatan pasien dengan Decompensasi Cordis 1. Definisi Keadaan gangguan fungsi abnormal jantung dimana yang terdapat

mengakibatkan

ketidak mampuan jantung dalam memompa darah keluar untuk memenuhi kebutuhan metabolic tubuh waktu istirahat maupun istirahat normal.

2. Etiologi Penyebab jantung kiri dibedakan menjadi 2 : Kelainan kardial : - hipertensi arteri karena jantung kiri harus

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 73

memompa lebih kuat - arteria sclerose dari arteri coronaria sehingga otot jantung kurang O2 - kelainan katub aorta (aorta insufisiensi tidak menutup dengan baik) - kelainan katub dari mitral stenosis(terjadi bendungan pada serambi kiri, akibatnya darah kembali lagi ke paru-paru) Kelainan yang extra kardial : - penyakit beri-beri - basedow - anemia yang berat - penyakit pericarditis/radang jantung seluruhnya disebabkan rematik Sebab lemah jantung kanan. Kelanjutan decompensasi cordis kiri Akibat dari penyakit paru-paru kronis antara lain TBC paru, asthma bronchiale, emphysema, kista paru.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 74

Pericarditis konstriktifa sebagai akibat dari pericardium sehingga jantung tidak dapat berkembang

Penyakit jantung bawaan ASD (atrium septum defect) VSD(ventrikel septum defect)

Penyebab lemah jantung kanan-kiri : Sebagai kelanjutan dari kedua decompensasi tersebut.

3. Factor penunjang Preload (volume akhir diastolic ventrikel) Kontraktifitas otot jantung Afterload (tekanan sistolik dalam ventrikel selama pengeluaran darah) Frekuensi denyut jantung Keserasian

4. Simtomatologi Decompensasi kordis kanan - dispnea sewaktu melakukan aktivitas

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 75

- mengeluh cepat lelah - perasaan berat pada kaki - perasaan kembung pada bagian atas - odema pada ekstremitas bawah - hepatomegali - ascites Decompensasi kordis kiri - batuk-batuk - dyspnea deffort, orthopnoe, chyene stokes - suara serak - sianosis Decompensasi cordis kiri-kanan - kardiomegali - prognosa lebih buruk

5. Komplikasi Acites Hepatomegali Oedema paru Hydro thorax

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 76

H. Perawatan pasien dengan Angina Pectoris 1. Definisi Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti.

2. Etiologi Ateriosklerosis Spasme arteri koroner Anemia berat Artritis Aorta Insufisiensi

3. Faktor-faktor Resiko Dapat Diubah (dimodifikasi) -Diet (hiperlipidemia) - Rokok - Hipertensi - Stress

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 77

- Obesitas -Kurang aktifitas -Diabetes Mellitus Tidak dapat diubah - Usia - Jenis Kelamin - Ras - Herediter

4. Factor pencetus serangan Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain : Emosi Stress Kerja fisik terlalu berat Hawa terlalu panas dan lembab Terlalu kenyang Banyak merokok

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 78

5. simtomatologi Nyeri dada substernal ataru retrosternal

menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula atau lengan kiri. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya perasaan tidak enak di dada (chest discomfort). Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin. Gejala penyerta : sesak nafas, perasaan lelah, kadang dizzines. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan. muncul keringat dingin, palpitasi,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 79

6. Diagnosa dan intervensi yang mungkin muncul Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan

berkurangnya curah jantung. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba. Kurang mengenai pengetahuan kodisi, (kebutuhan kebutuhan belajar) pengobatan

berhubungan dengan kurangnya informasi. FOKUS INTERVENSI Nyeri akut berhubungan dengan iskemik

miokard. Intervensi :

Kaji

gambaran

dan

faktor-faktor

yang

memperburuk nyeri.

Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.

Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 80

Ciptakanlingkunan

yang

tenang,

batasi

pengunjung bila perlu.

Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.

Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri

atau tampak cemas.


Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi. Kolaborasi pengobatan. aktifitas berhubungan dengan

Intoleransi

kurangnya curah jantung. Intervensi :

Pertahankan tirah baring pada posisi yang

nyaman.

Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai indikasi.

Catat warna kulit dan kualittas nadi. Tingkatkan katifitas klien secara teratur. Pantau EKG dengan sering

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 81

I. Perawatan pasien dengan hipertensi

1. Definisi Hipertensi darah sistolik adalah lebih peningkatan dari 140 tekanan mmHG

dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG

2. Etiologi beberapa factor yang mempengaruhi

terjadinya hipertensi: Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat. Stress Lingkungan Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta pelabaran pembuluh darah.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 82

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu: Hipertensi Esensial (Primer) Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress Hipertensi Sekunder Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal. Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

3. Manifestasi klinis meningkatkan tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala, epistaksis, pusing/migrain, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang kunang, lemah dan lelah, muka pucat suhu tubuh rendah.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 83

4. Komplikasi Organ organ tubuh sering terserang akibat

hipertensi anatara lain mata berupa perdarahan retina bahkan gangguan penglihatan sampai

kebutaan, gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh darah otak

5. Diagnose dan intervensi Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. Intervensi 1. Observasi tekanan darah (perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan / bidang masalah vaskuler). 2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer (Denyutan karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati / palpasi. Dunyut pada tungkai mungkin menurun,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 84

mencerminkan efek dari vasokontriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena). 3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas. (S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels, mengi dapat mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik). 4. Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler. (adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi / penurunan curah jantung). 5. Catat adanya demam umum / tertentu. (dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler). 6. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 85

kurangi aktivitas / keributan ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. (membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis, meningkatkan relaksasi). 7. Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi. (dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah). 8. Kolaborasi dengan dokter dlam pembrian therafi anti hipertensi,deuritik. (menurunkan tekanan darah). J. Perawatan congenital 1. Definisi Yang dimaksud dengan kelainan jantung kongenital adalah kelainan structural dan atau pembuluh darah besar intrathorakal yang dapat menimbulkan gangguan fungsi kardiovaskuler. pasien dengan kelainan jantung

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 86

2. Etiologi Penyebab terjadinya KJK belum dapat

diketahui secara pasti tetapi beberapa factor diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian KJK. Faktor tersebut adalah : Faktor Prenatal : Penyakit Rubella Alkoholisme Umur ibu > 40 tahun Ibu menderita penyakit DM yang memerlukan insulin Ibu merokok Ibu menderita infeksi Faktor Genetik Kelainan sebelumnya. Ayah dan Ibu menderita penyakit jantung bawaan. Kelainan kromosom seperti sindrom Down. jantung pada anak yang lahir

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 87

Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.

KJK pada umumnya dapat menyebabkan hal-hal sebagai berikut : Peningkatan kerja jantung dengan gejala : Kadiomegali Hipertropi Techicardi Curah jantung rendah dengan gejala :

Gangguan Intoleransi Hipertensi Dengan gejala Dispneu dan

pertumbuhan aktivitas Pulmonal Tachipneu arteeri

Penurunan

saturasi

oksigen

Dengan gejala Polisitemia, asidosis dan sianosis

3. Jenis-jenis Kelainan Jantung Bawaan KJK Asianotik, seperti : - Duktus Arteriosus Paten (PDA) Yaitu duktus arteriosus tidak menutup setelah lahir

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 88

- Defek Septum Ventrikel (VSD) Yaitu hubungan antara ventrikel kanan dan kiri ukurannya bervariasi dapat disertai kelainan yang lain. - Defek Septum Atrium (ASD) Adanya hubungan antara atrium kanan dan kiri - Stenosis Pulmonal (SP) Adanya penyempitan muara arteri pulmonal. - Stenosis Aorta (SA) Adanya penyempitan aorta. KJK Sianotik , penyebab : - Peredaran darah janin - Aliran darah pulmonal berkurang yaitu pada Tetralogi of Fallot (TF) & TA. - Aliran darah pulmonal meningkat yaitu pada TGA & TAPVD 4. Diagnose yang mungkin muncul Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan

cardiac output Inefektif pola nafas b.d akumulasi secret

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 89

Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake yang tidak adekuat

Kecemasan ortu b.d kurangnya pengetahuan tentang kondisi bayinya

Resiko infeksi tali pusat b.d infasi kuman pathogen

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 90

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN TRACTUS DIGESTIVUS (PENCERNAAN)

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 91

A. Anatomi Sistem Pencernaan

Fungsi utama system ini adalah untuk menyediakan makanan, air, dan elektrolit bagi tubuh dari nutrient yang dicerna sehingga siap diabsorpsi. Pencernaan berlangsung secara mekanik dan kimia, dan meliputi proses proses berikut :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 92

Ingesti adalah masuknya makanan ke dalam mulut.

Pemotongan dan penggilingan makanan dilakukan secara mekanik oleh gigi.

Peristaltik

adalah gelombang kontraksi otot

polos involunter yang menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan. Digesti adalah hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi molekul kecil sehingga absorpsi dapat berlangsung. Absorpsi adalah pergerakan produk akhir

pencernaan dari lumen saluran pencernaan ke dalam sirkulasi darah dan limfatik. Egesti (defekasi) adalah proses eliminasi zat zat sisa yang tidak tercerna.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 93

B. Perawatan Pasien Apendic

1. Definisi Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur.

2. Klasifikasi Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis

akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 94

akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis

kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.

3. Etiologi Hiperplasia dari folikel limfoid. Adanya fekalit dalam lumen appendiks. Tumor appendiks. Adanya benda asing seperti cacing askariasis. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Histilitica.

4. Simtomatologi Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 95

titik Mc. Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai.

5. Komplikasi Perforasi dengan pembentukan abses Peritonitis generalisata. Pieloflebitis dan abses hati, tapi jarang.

6. Penatalaksanaan Tindakan pre operatif, meliputi penderita di rawat, diberikan antibiotik dan kompres untuk menurunkan suhu penderita, pasien diminta untuk tirabaring dan dipuasakan. Tindakan operatif ; appendiktomi. Tindakan post operatif, satu hari pasca bedah klien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2 x 30 menit, hari berikutnya makanan lunak dan berdiri tegak di luar kamar, hari ketujuh luka jahitan diangkat, klien pulang.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 96

7. Diagnosa yang mungkin muncul Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi appenditomi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan

pembatasan gerak skunder terhadap nyeri. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan

prosedur invasive appendiktomi. Resiko kekurangan volume cairan sehubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral.

8. Intervensi Keperawatan Diagnosa Keperawatan 1. : Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi

Tujuan Nyeri berkurang / hilang dengan Kriteria Hasil :

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 97

Tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat. Intervensi Kaji skala nyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat. Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler. Dorong ambulasi dini. Berikan aktivitas hiburan. Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika.

Rasional 1. Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat, kemajuan penyembuhan,perubahan dan

karakteristik nyeri. 2. Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang. 3. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ. 4. meningkatkan relaksasi. 5. Menghilangkan nyeri.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 98

C. Perawatan Pasien Demam Thypoid

1. Definisi Demam tipoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan

ulserasi Nodus peyer di distal ileum. 2. Etiologi Salmonella typhi yang menyebabkan infeksi invasif yang ditandai oleh demam, toksemia, nyeri perut, konstipasi/diare. Komplikasi yang dapat
Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 99

terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia dan kematian. 3. Simtomatologi Keluhan: Nyeri kepala (frontal) 100% Kurang enak di perut 50% Nyeri tulang, persendian, dan otot 50% Berak-berak 50% Muntah 50% Gejala: Demam 100% Nyeri tekan perut 75% Bronkitis 75% Toksik 60% Letargik 60% Lidah tifus (kotor) 40%

4. Pemeriksaan Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap Pemeriksaan SGOT dan SGPT Pemeriksaan Uji Widal - Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 100

berasal dari flagela bakteri - Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter. - Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri

5. Komplikasi Perdarahan usus, peritonitis, meningitis,kolesistitis, ensefalopati, bronkopneumonia, hepatitis.

6. Diagnose yang mungkin muncul Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak ada nafsu makan, mual, dan kembung Risiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan, dan

peningkatan suhu tubuh

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 101

7. Intervensi 1. Mempertahankan suhu dalam batas normal Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang

hipertermia Observasi suhu, nadi, tekanan darah,

pernafasan Berri minum yang cukup Berikan kompres air biasa Lakukan tepid sponge (seka) Pakaian (baju) yang tipis dan menyerap

keringat Pemberian obat antipireksia Pemberian cairan parenteral (IV) yang

adekuat 2. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan Menilai status nutrisi anak

Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 102

Berikan suplemen

makanan nutrisi

yang

disertai

dengan

untuk

meningkatkan

kualitas intake nutrisi Menganjurkan kepada orang tua untuk

memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama Mempertahankan kebersihan mulut anak

Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak memenuhi kebutuhan gizi anak 3. Mencegah kurangnya volume cairan Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu

tubuh) paling sedikit setiap 4 jam Monitor tanda-tanda meningkatnya

kekurangan cairan: turgor tidak elastis,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 103

ubun-ubun cekung, produksi urin menurun, memberan mukosa kering, bibir pecah-pecah Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama Memonitor pemberian cairan melalui

intravena setiap jam Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible Water Loss/IWL)

dengan memberikan kompres dingin atau dengan tepid sponge Memberikan antibiotik sesuai program

D. Perawatan Pasien Marasmus

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 104

1. Definisi Marasmus adalah bentuk malnutrisi kalori

protein yang terutama akibat kekurangan kalori yang berat dan kronis terutama terjadi selama tahun pertama kehidupan dan mengurusnya lemak bawah kulit dan otot.

2. Etiologi Penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti yang hubungan dengan orangtua-anak atau

terganggu,karena

kelainan

metabolik,

malformasi kongenital. 3. Simtomatologi Badan kurus kering tampak seperti orangtua Lethargi Irritable Kulit keriput (turgor kulit jelek) Ubun-ubun cekung pada bayi Jaingan subkutan hilang

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 105

Malaise Kelaparan Apatis

4. Penatalaksanaan Keadaan ini memerlukan diet yang berisi jumlah cukup protein yang kualitas biologiknya baik. Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin. Pemberian terapi cairan dan elektrolit. Penatalaksanaan segera setiap masalah akut seperti masalah diare berat. Pengkajian riwayat status sosial ekonomi, kaji riwayat pola makan, pengkajian antropometri, kaji manifestasi klinis, monitor hasil

laboratorium, timbang berat badan, kaji tandatanda vital.

5. Diagnosa yang mungkin muncul . Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang).

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 106

Defisit volume cairan berhubungan dengan diare yang berlebihan

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan nutrisi/status metabolik.

Resiko

tinggi

infeksi

berhubungan

dengan

kerusakan pertahanan tubuh Kurang pengetahuan berhubungan dengan

kurang nya informasi Perubahan pertumbuhan dengan dan perkembangan

berhubungan fisik dan

melemahnyakemampuan sekunder akibat

ketergantungan

masukan kalori atau nutrisi yang tidak adekuat. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan

gangguan sistem transport oksigen sekunder akibat malnutrisi Kelebihan volume cairan berhubungan dengan rendahnya masukan protein (malnutrisi).

6. intervensi Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 107

(nafsu makan berkurang). (Wong, 2004) Tujuan : Pasien mendapat nutrisi yang adekuat Kriteria hasil : meningkatkan masukan oral. Intervensi : a. Dapatkan riwayat diet b. Dorong orangtua atau anggota keluarga lain untuk menyuapi anak atau ada disaat makan c. Minta anak makan dimeja dalam kelompok dan buat waktu makan menjadi menyenangkan d. Gunakan alat makan yang dikenalnya e. Perawat harus ada saat makan untuk memberikan bantuan, mencegah gangguan dan memuji anak untuk makan mereka f. Sajikan makansedikit tapi sering g. Sajikan porsi kecil makanan dan berikan setiap porsi secara terpisah

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 108

E. Perawatan Pasien Diare

1.Definisi Diare adalah kehilangan cairan dan

elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair.

2. Etiologi Faktor Infeksi : Bakteri; enteropathogenic escherichia coli,

salmonella, shigella, yersinia enterocolitica

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 109

Virus; enterovirus echoviruses, adenovirus, human retrovirua seperti agent, rotavirus.

Jamur; candida enteritis Parasit; giardia Clambia, crytosporidium Protozoa

Bukan Fakror Infeksi : Alergi makanan; susu, protein Gangguan metabolik atau malabsorbsi; penyakit celiac, cystic fibrosis pada pankreas Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan Obat-obatan; antibiotik, Penyakit usus; colitis ulcerative, crohn disease, enterocolitis Emosional atau stress Obstruksi usus Penyakit infeksi; otitis media, infeksi saluran nafas atas, infeksi saluran kemih 4. Simtomatologi Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 110

Terdapat tanda dan gejala dehidrasi; turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering

Keram abdominal Demam Mual dan muntah Anorexia Le mah Pucat Perubahan tanda-tanda vital; nadi dan pernafasan cepat

Menurun atau tidak ada pengeluaran urine

6. Komplikasi Dehidrasi Hipokalemi Hipokalsemi Cardiac dysrhythmias akibat hipokalemi dan

hipokalsemi Hiponatremi Syok hipovolemik Asidosis

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 111

7. Pemeriksaan Diagnostik Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan Kultur tinja Pemeriksaan glukosa Pemeriksaan tinja; pH, lekosit, glukosa, dan adanya darah elektrolit; BUN, creatinine, dan

8. Diagnosa yang mungkin muncul Kurangnya volume cairan berhubungan dengan

seringnya buang air besar dan cencer Risiko gangguan integritas kulit berhubungan

dengan seringnya buang air besar Risiko infeksi pada orang berhubungan dengan terinfeksi kuman diare atau kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penyebaran penyakit Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan menurunnya intake

(pemasukan) dan menurunnya absorbsi makanan dan cairan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 112

Kurangnya

pengetahuan

berhubungan

dengan

perawatan anak Cemas dan takut pada anak/orang tua berhubungan dengan hospitalisasi dan kondisi sakit

9. Intervensi 1. Meningkatkan hidrasi dan keseimbangan elektrolit Kaji status hidrasi,; ubun-ubun, mata, turgor kulit dan membran mukosa Kaji pengeluaran urine; gravitasi urine atau berat jenis urine (1.005-1.020) atau sesuai dengan usia pengeluaran urine 1-2 ml/kg per jam Kaji pemasukan dan pengeluaran cairan Monitor tanda-tanda vital Pemeriksaan laboratorium sesuai program;

elektrolit, Ht, pH, dan serum albumin Pemberian cairan dan elektrolit sesuai protokol (dengan oralit, dan cairan parenteral bila indikasi) Pemberian obat anti diare dan antibiotik sesuai program Anak diistirahatkan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 113

2.

Mempertahankan keutuhan kulit Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap buang air besar Gunakan kapas lembab dan sabun bayi (atau pH normal) untuk membersihkan anus setiap baung air besar Hindari dari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab Ganti popok / kain apabila lembab atau basah Gunakan obat cream bila perlu untuk perawatan perineal

3.

Mengurangi dan mencegah penyebaran infeksi Ajarkan cara mencuci tangan yang benar pada orang tua dan pengunjung Segera bersihkan dan angkat bekas baung air besar dan tempatkan pada tempat yang khusus Gunakan standar pencegahan universal (seperi; gunakan sarung tangan dan lain-lain) Tempatkan pada ruangan yang khusus

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 114

F. Perawatan Pasien Ileus Obstruksi

1. Definisi Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai

gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik, partial kolon atau total. Obstruksi akibat usus biasanya ma dan

mengenai

sebagai

karsino

perkembangannya lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus.Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Ada dua tipe obstruksi yaitu : Mekanis (Ileus Obstruktif)

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 115

Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses.

Neurogenik/fungsional (Ileus Paralitik) Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit Parkinson 2. Manifestasi Klinis Nyeri tekan pada abdomen. Muntah. Konstipasi (sulit BAB). Distensi abdomen. BAB darah dan lendir tapi tidak ada feces dan flatus

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 116

3. Pemeriksaan Diagnostik Adapun pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan antara lain: Pemeriksaan sinar x: Untuk menunjukan

kuantitas abnormal dari gas atau cairan dalam usus. Pemeriksaan pemeriksaan laboratorium elektrolit dan (misalnya jumlah darah

lengkap) akan menunjukan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan infeksi. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat penting untuk menegakkan diagnosa obstruksi usus. Obstruksi mekanis usus halus ditandai oleh udara dalam usus halus, tetapi tidak ada gas dalam usus. Bila foto fokus tidak memberi kesimpulan, dilakukan radiogram barium untuk mengetahui tempat obstruksi

4. Komplikasi

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 117

Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi

peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi abdomen. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma. selalu lama pada organ intra

5. Diagnosa yang mungkin muncul Nyeri b/d distensi abdomen dan adanya selang Nasogastrik tube/ usus. Kekurangan volume cairan b/d output berlebihan, mual dan muntah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi,

prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 118

pemanjanan/mengingat, informasi, tidak

kesalahan sumber

interpretasi informasi,

mengenal

keterbatasan kognitif. 6. Intervensi Nyeri b/d distensi abdomen dan adanya selang Nasogastrik tube/ usus. Tujuan: Nyeri hilang/terkontrol, menunjukkan rileks. Kriteria hasil : a. b. c. d. Nyeri berkurang sampai hilang. Ekspresi wajah rileks. TTV dalam batas normal. Skala nyeri 3-0.

Intervensi: a. Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas

(skala 0-10) dan faktor pemberat/penghilang.

Rasional: Nyeri distensi abdomen, dan mual. Membiarkan


pasien rentang ketidaknyamanannya sendiri membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi keefektifan analgesia. b. Pantau tanda-tanda vital.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 119

Rasional: Respon autonomik meliputi perubahan pada TD,


nadi dan pernafasan, yang berhubungan dengan

keluhan/penghilangan energi. Abnormalitas tanda vitalterus menerus memerlukan evaluasi lanjut. c. Memberikan tindakan kenyamanan. Mis: gosokan

punggung, pembebatan insisi selama perubahan posisi dan latihan batuk/bernafas; lingkungan tenang. Anjurkan

penggunaan bimbingan imajinasi, tehnik relaksasi. Berikan aktivitas hiburan.

Rasional:
menurunkan

Memberikan tegangan

dukungan otot,

(fisik,

emosional), relaksasi,

meningkatkan

mengfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping. d. Palpasi kandung kemih terhadap distensi bila

berkemih ditunda. Tingkatkan privasi dan gunakan tindakan keperawatan untuk meningkatkan relaksasi bila bila pasien berupaya untuk berkemih. Tempatkan pada posisi semifowler atau berdiri sesuai kebutuhan.

Rasional: Faktor psikologis dan nyeri dapat meningkatkan


tegangan otot. Posisi tegak meningkatkan tekanan intraabdomen, yang dapat membantu dalam berkemih.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 120

Kolaborasi e. Berikan analgesik, narkotik, sesuai indikasi.

Rasional: Mengontrol/mengurangi nyeri untuk meningkatkan


istirahat dan meningkatkan kerjasama dengan aturan terapeutik. f. Kateterisasi sesuai kebutuhan.

Rasional: Kateterisasi tunggal/multifel dapat digunakan


untuk mengosongkan kandung kemih sampai fungsinya kembali.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 121

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN TRACTUS URINARIUS

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 122

A. Gambar Anatomi Tractus Urinarius

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 123

B. Perawatan Pasien Neprolithiasis/Batu Ginjal

1. Definisi Batu ginjal adalah adanya batu di ginjal atau saluran perkemihan Kalkulus Umum pada kolik dan pelvis Kecil besar

2. Etiologi Infeksi traktus urinarius Statis urine Immobilitas lama Dehidrasi Hiperparatiroidisme Gout Inflamasi usus Obat (antasid, laksatif, aspirin) Intake kalsium dan vitamin D berlebihan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 124

3. Manifestasi klinis Obstruksi Iritasi batu infeksi Nyeri hebat a. Batu pada pelvis renalis i. Nyeri yang dalam, terus menerus pada

area CVA ii. Pada wanita ke arah kandung kemih, pada laki-laki kearah testis iii. Hematuria, piuria iv. Kolik renal : nyeri tekan seluruh CVA, mual dan muntah b. Batu yang terjebak pada ureter i. Gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik menyebar ke paha dan genetalia ii. Merasa ingin berkemih keluar sedikit dan darah kolik ureteral c. Batu yang terjebak pada kandung kemih i. Gejala iritasi ii. Infeksi traktus urinarius iii. Hematuria

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 125

iv. Obstruksi retensi urine

4. Pemeriksaan Diagnostik IVP, USG, CT Darah kimia Urinalisis

5. Penatalaksanaan Extracorporeal ESWL) Nefrostomi perkutan Ureteroskopi Disolusi batu Pengangkatan bedah : Nefrolitotomi Nefrektomi Pielolitotomi Ureterolitotomi Sistostomi Shock Wave Lytotripsy (

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 126

6. Pengkajian Nyeri dan ketidaknyamanan Gejala yang berhubungan Observasi urine Observasi tanda-tanda infeksi Riwayat keluarga Faktor predisposisi Pengetahuan pasien

7. Diagnosa Nyeri b.d iritasi dari pergerakan batu - Morfin / meferidin - Air panas / hangat area panggul Cemas b.d kurang pengetahuan mengenai prosedur pembedahan - Kaji penyebab dan tingkat cemas - Ekspres feeling - Jelaskan prosedur Resiko cidera b.d komplikasi post operasi - Rawat luka dan balutan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 127

- Pastikan aliran urine tidak kena luka - Tehnik steril Kurang pengetahuan b.d kurang informasi mengenai kebutuhan cairan, pembatasan diet dan obat-obatan - Cairan 2500 3000 ml / 3000 4000 ml - Kontrol intake kalsium - Menghindari makanan tinggi oksalat (teh, kopi, cola, bir, asparagus, buncis, kol, bayam, anggur, vitamin C dosis tinggi) - Diet rendah purin (keju, anggur, jerohan) - jeli aluminium hidroksida (b.kalsium) natrium selulose fosfat (b.allopurinil)

C. Perawatan Pasien dengan Gagal Ginjal Akut

1. Definisi a. Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sampah metabolik tubuh atau ginjal gagal melakukan fungsi regulernya

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 128

b. Suatu bahan yang biasanya dieliminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh akibat gangguan eksresi renal dan menyebabkan gangguan fungsi endokrine, metabolik, cairan, elektrolit dan asam basa.

2. Etiologi Tiga kategori utama kondisi penyebab gagal ginjal akut adalah : Kondisi Pre Renal (hipoperfusi ginjal) Kondisi pra renal adalah masalah aliran darah akibat hipoperfusi ginjal dan turunnya laju filtrasi glumerulus. Kondisi klinis yang umum yang menyebabkan terjadinya hipoperfusi renal adalah : Penipisan volume Hemoragi Kehilangan cairan melalui ginjal (diuretik, osmotik) Kehilangan cairan melalui saluran GI

(muntah, diare, selang nasogastrik)

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 129

Gangguan efisiensi jantung Infark miokard Gagal jantung kongestif Disritmia Syok kardiogenik Vasodilatasi Sepsis Anafilaksis Medikasi antihipertensif atau medikasi lain yang menyebabkan vasodilatasi

Kondisi

Intra

Renal

(kerusakan

aktual

jaringan ginjal) Penyebab intra renal gagal ginjal akut adalah kerusakan glumerulus atau tubulus ginjal yang dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini : Cedera akibat terbakar dan benturan Reaksi transfusi yang parah Agen nefrotoksik Antibiotik aminoglikosida Agen kontras radiopaque Logam berat (timah, merkuri)

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 130

Obat NSAID Bahan kimia dan pelarut (arsenik, etilen glikol, karbon tetraklorida)

Pielonefritis akut glumerulonefritis

Kondisi Post Renal (obstruksi aliran urin) Kondisi pasca renal yang menyebabkan gagal ginjal akut biasanya akibat dari obstruksi di bagian distal ginjal. Obstruksi ini dapat

disebabkan oleh kondisi-kondisi sebagai berikut : Batu traktus urinarius Tumor BPH Striktur Bekuan darah

3. Patofisiologi Terdapat empat tahapan klinik dari gagal ginjal akut sebagai berikut : Periode Awal

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 131

Merupakan awal kejadian penyakit dan diakhiri dengan terjadinya oliguria. Periode Oliguri Pada periode ini volume urin kurang dari 400 ml/24 jam, disertai dengan peningkatan

konsentrasi serum dari substansi yang biasanya diekskresikan oleh ginjal (urea, kreatinin, asam urat, kalium dan magnesium). Pada tahap ini untuk pertama kalinya gejala uremik muncul, dan kondisi yang mengancam jiwa seperti hiperkalemia terjadi. Periode Diuresis Pasien menunjukkan peningkatan jumlah urin secara bertahap, disertai tanda perbaikan glumerulus. Nilai laboratorium berhenti

meningkat dan akhirnya menurun. Tanda uremik mungkin masih ada, sehingga penatalaksanaan medis dan keperawatan masih diperlukan. Pasien harus dipantau ketat akan adanya dehidrasi selama tahap ini. Jika terjadi dehidrasi, tanda uremik biasanya meningkat.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 132

Periode Penyembuhan Merupakan tanda perbaikan fungsi ginjal dan berlangsung selama 3 - 12 bulan Nilai laboratorium akan kembali normal Namun terjadi penurunan GFR permanen 1% - 3%

4. Manifestasi klinis Perubahan haluaran urine (haluaran urin sedikit, mengandung darah dan gravitasinya rendah (1,010) sedangkan nilai normalnya adalah 1,015-1,025) Peningkatan BUN, creatinin Kelebihan volume cairan Hiperkalemia Serum calsium menurun, phospat meningkat Asidosis metabolik Anemia Letargi Mual persisten, muntah dan diare Nafas berbau urin

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 133

Manifestasi sistem syaraf pusat mencakup rasa lemah, sakit kepala, kedutan otot dan kejang

5. Pemeriksaan diagnostic Urinalisis Kimia darah IVP, USG, CT

6. Diagnosa yang mungkin muncul Deficit volume cairan b.d. fase dieresis dari gagal ginjal akut Actual/resiko tinggi pola nafas tidak efektif b.d. penurunan pH pada cairan selebrospinal ,perembesan cairan, kongesi paru, retensi cairan interstisial dari edema paru dan respon asidosis metabolic Actual/resiko tinggi penurunan curah jantung b.d perubahan kontraktilitas ventrikel

kiri,perubahan

frekuensi,irama,konduksi

elektrikal ,hiperkalemi dan uremia.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 134

Actual/resiko tinggi aritmia b.d. gangguan konduksi elektrikal

Actual/resiko tinggi kejang b.d. kerusakan hantaran saraf sekunder

Ketidak

seimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan tubuh b.d. intake nutrisi yang tidak adekuat dari anoreksia,mual,muntah Gangguan ADL b.d edema

ekstremitas,kelemahan fisik secara umum. Kecemasan b.d prognosis

penyakit,ancaman,kondisi sakit dan perubahan kesehatan.

7. Intervensi keperawatan Diagnosa : devisit volume cairan b.d diuresi dari gagal ginjal akut. Tujuan : dalam waktu 1x24 jam deficit volume cairan dapat teratasi kriteria hasil :

- klien tidak mengeluh pusing,membrane mukosa lembab,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 135

turgor kulit normal, TTV dalam batas normal, CRT <3 detik, urine >600 ml/hari -Laboraturium : nilai hematokrit dan protein serum

meningkat, BUN/kreatinin menurun Intervensi: Monitoring status cairan mukosa,urine output) Auskultasi TD dan timbang berat badan Programkan untuk dialysis Kaji warna kulit,suhu,sianosis,nadi perifer dan (turgor kulit,membrane

diaphoresis secara teratur Kolaborasi : pertahankan pemberian cairan serta intravena

D. PERAWATAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS 1. Definisi Merupakan penyakit ginjal tahap akhir Progresif dan irreversible dimana kemapuan tubuh untuk mempertahankan metabolisme dan

gagal

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 136

keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia

2. Etiologi Diabetus mellitus Glumerulonefritis kronis Pielonefritis Hipertensi tak terkontrol Obstruksi saluran kemih Penyakit ginjal polikistik Gangguan vaskuler Lesi herediter Agen toksik (timah, kadmium, dan merkuri)

3. Patofisiologi Penurunan GFR Penurunan GFR dapat dideteksi dengan

mendapatkan urin 24 jam untuk pemeriksaan klirens kreatinin. Akibt dari penurunan GFR, maka klirens kretinin akan menurun, kreatinin

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 137

akn meningkat, dan nitrogen urea darh (BUN) juga akan meningkat. Gangguan klirens renal Banyak maslah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah glumeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens (substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal) Retensi cairan dan natrium Ginjal kehilangan kemampuan untuk

mengkonsentrasikan atau mengencerkan urin secara normal. Terjadi penahanan cairan dan natrium; meningkatkan resiko terjadinya

edema, gagal jantung kongestif dan hipertensi. Anemia Anemia terjadi sebagai akibat dari produksi eritropoetin yang tidak adequate, memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi, dan kecenderungan untuk terjadi perdarahan akibat status uremik pasien, terutama dari saluran GI. Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 138

Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan yang saling timbal balik, jika salah satunya meningkat, yang lain akan turun. Dengan menurunnya GFR, maka terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan sebaliknya penurunan kadar kalsium. Penurunan kadar kalsium ini akan memicu sekresi paratormon, namun dalam

kondisi gagal ginjal, tubuh tidak berespon terhadap akibatnya peningkatan kalsium sekresi di parathormon, menurun dan

tulang pada

menyebabkab penyakit tulang.

perubahan

tulang

Penyakit tulang uremik(osteodistrofi) Terjadi dari perubahan kompleks kalsium,

fosfat, dan keseimbangan parathormon.

4. Manifestasi klinis

Kardiovaskuler
a. Hipertensi

b. Pitting edema c. Edema periorbital

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 139

d. Pembesaran vena leher e. Friction rub perikardial

Pulmoner
a. Krekel b. Nafas dangkal c. Kusmaul d. Sputum kental dan liat

Gastrointestinal
a. Anoreksia, mual dan muntah

b. Perdarahan saluran GI c. Ulserasi dan perdarahan pada mulut

d. Konstipasi / diare e. Nafas berbau amonia

Muskuloskeletal
a. Kram otot

b. Kehilangan kekuatan otot c. Fraktur tulang

d. Foot drop

Integumen
a. Warna kulit abu-abu mengkilat

b. Kulit kering, bersisik

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 140

c.

Pruritus

d. Ekimosis e. f. Kuku tipis dan rapuh Rambut tipis dan kasar

Reproduksi
a. Amenore

b. Atrofi testis

5. pengkalian Riwayat keluarga Penyakit yang dialami Obat-obatan nefrotoksis Kebiasaan diet Penambahan BB atau kehilangan BB Manifestasi klinik yang muncul pada sisitem organ 6. diagnosa yang mungkin muncul Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, retensi cairan dan natrium Perubahan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 141

Intoleransi aktifitas b.d anemia, keletihan dan retansi produk sampah

Gangguan harga diri b.d ketergantungan, perubahan peran, citra tubuh dan fungsi sex

Gangguan integritas kulit b.d penurunan minyak dan aktivitas kelenjar keringat, kelebihan cairan

Konstipasi b.d penurunan mobilitas, intake antasid, pembatasan cairan

Resiko cidera b.d perubahan absorbsi kalsium dan ekskresi fosfat, perubahan metabolisme vitamin D

8. Intervensi keperawatan 1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, retensi cairan dan natrium Kaji status cairan a. timbang BB harian

b. keseimabngan masukan dan haluaran c. turgor kulit dan adanya edema

d. distensi vena leher e. tekanan darah, denyaut dan irama nadi

Batasi masukan cairan Identifikasi sumber potensial cairan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 142

Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional dari pembatasan

Bantu

pasien

dalam

menghadapi

ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan Tingkatkan dan dorong higiene oral dengan sering

E. PERAWATAN PASIEN INKONTINENSIA URINE 1. Definisi Inkontinensia urine adalah pelepasan urine secara tidak terkontrol dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga dapat dianggap merupakan masalah bagi seseorang. 2. Klasifikasi Inkontinensia urine di klasifikasikan menjadi 3 ( Charlene J.Reeves at all ) Inkontinensia

Urgensi

Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol sebentar setelah ada peringatan ingin

melakukan urinasi. Disebabkan oleh aktivitas

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 143

otot destrusor yang berlebihan atau kontraksi kandung kemih yang tidak terkontrol. Inkontinensia

Tekanan

Adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol selama aktivitas yang meningkatkan tekanan dalam lubang intra abdominal. Batuk, bersin, tertawa dan mengangkat beban berat adalah aktivitas yang dapat menyebabkan inkontinensia urine. Inkontinensia Aliran Yang Berlebihan ( Over

Flow Inkontinensia )
Terjadi jika retensi menyebabkan kandung kemih terlalu penuh dan sebagian terlepas secara tidak terkontrol, hal ini pada umumnya disebabkan oleh neurogenik bladder atau obstruksi bagian luar kandung kemih.

3. Etiologi Inkontinensia urine pada umumnya disebabkan oleh komplikasi dari penyakit seperti infeksi saluran

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 144

kemih, kehilangan kontrol spinkter dan perubahan tekanan yang tiba-tiba pada abdominal.

4. Patofisiologi Inkontinensia urine bisa disebabkan oleh karena komplikasi dari penyakit infeksi saluran kemih,

kehilangan kontrol spinkter atau terjadinya perubahan tekanan abdomen secara tiba-tiba. Inkontinensia bisa bersifat permanen misalnya pada spinal cord trauma atau bersifat temporer pada wanita hamil dengan struktur dasar panggul yang lemah dapat berakibat terjadinya inkontinensia urine. Meskipun inkontinensia urine dapat terjadi pada pasien dari berbagai usia, kehilangan kontrol urinari merupakan masalah bagi lanjut usia.

5. Manifestasi Klinis Retensi Kebocoran urine Frekuensi

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 145

6. Pemeriksaan Diagnostik Pengkajian fungsi otot destrusor Radiologi dan pemeriksaan fisik ( mengetahui tingkat keparahan / kelainan dasar panggul ) Cystometrogram dan elektromyogram

7. Penatalaksanaan Urgensi Cream estrogen vaginal, anticolenergik, imipramine (tofranile) Diberikan pada malam hari. Klien dianjurkan untuk sering buang air kecil Over flow inkontinensia Farmakologis prazocine (miniprise) dan cloridabetanecol (urecholine). Diberikan untuk menurunkan resistensi bagian luar dan meningkatkan kontraksi kandung kemih.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 146

8. Pengkajian Pengkajian Dalam pengkajian ditanyakan kapan

inkontinensia urine mulai muncul dan hal-hal yang berhubungan dengan gejala inkontinensia : Berapa kali inkontinensia terjadi ? Apakah ada kemerahan, lecet, bengkak pada daerah perineal ? Apakah klien mengalami obesitas ? Apakah urine menetes diantara waktu BAK, jika ada berapa banyak ? Apakah inkontinensia terjadi pada saat-saat yang bisa diperkirakan seperti pada saat batuk, bersin tertawa dan mengangkat benda-benda berat ? Apakah keinginan terjadi ? Berapa lama klien mempunyai kesulitan dalam BAK / inkontinensia urine ? klien akan menyadari BAK atau merasakan inkontinensia

sebelum

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 147

Apakah klien merasakan kandung kemih terasa penuh ?

Apakah

klien

mengalami

nyeri

saat

berkemih ? Apakah masalah ini bertambah parah ? Bagaimana inkontinensia ? Pemerikasaan fisik Inspeksi - Adanya kemerahan, iritasi / lecet dan bengkak pada daerah perineal. cara klien mengatasi

- Adanya benjolan atau tumor spinal cord - Adanya obesitas atau kurang gerak Palpasi - Adanya distensi kandung kemih atau nyeri tekan

- Teraba benjolan tumor daerah spinal cord Perkusi - Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 148

9. Diagnosa yang mungkin muncul Kecemasan Gangguan bodi image Defisit pengetahuan Kelemahan ( kurang aktivitas ) Gangguan Harga Diri Gangguan Integritas Kulit

10. Rencana tindakan Menjaga kebersihan kulit, kulit tetap dalam

keadaan kering, ganti sprei atau pakaian bila basah. Anjurkan klien untuk latihan bladder training Anjurkan pemasukkan cairan 2-2,5 liter / hari jika tidak ada kontra indikasi. Anjurkan klien untuk latihan perineal atau kegels exercise untuk membantu menguatkan kontrol

muskuler ( jika di indikasikan ) o Latihan ini dapat dengan berbaring, duduk atau berdiri o Kontraksikan otot perineal untuk

menghentikan pengeluaran urine

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 149

Kontraksi dipertahankan selama 5-10 detik dan kemudian mengendorkan atau lepaskan

Ualngi sampai 10 kali, 3-4 x / hari

Cek obat-obat yang diminum ( narkotik, sedative, diuretik, antihistamin dan anti hipertensi ), mungkin berkaitan dengan inkontinensia.

Cek psikologis klien.

F. PERAWATAN PASIEN UROLITHIASIS 1. definisi Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus dalam

mikroskopik

sampai

beberapa

centimeter

diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 150

nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah.

2. Faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan batu Faktor Endogen Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria. Faktor Eksogen Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum. Faktor lain Infeksi Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat

menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan Batu Saluran

Kencing (BSK) Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali. Stasis Adanya dan obstruksi Obstruksi dan stasis urine Urine akan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 151

mempermudah Infeksi Saluran Kencing. Jenis Kelamin

Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3 : 1 Ras Batu Saluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia. Keturunan

Anggota keluarga Batu Saluran Kencing lebih banyak mempunyai kesempatan Air Minum Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat. Pekerjaan Pekerja keras yang banyak bergerak

mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk. Suhu

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 152

Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringan. Makanan Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas Batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering

menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra).

2. Patofisiologi Sebagian besar Batu Saluran Kencing adalah

idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik. Teori Terbentuknya Batu a. Teori Intimatriks Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan

adanya substansi organik Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu. b. Teori Supersaturasi

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 153

Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu. c. Teori Presipitasi-Kristalisasi Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat. d. Teori Berkurangnya Faktor Penghambat Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid

fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

3. Pengkajian 1. Riwayat atau adanya faktor resiko a. b. c. d. Perubahan metabolik atau diet Imobilitas lama Masukan cairan tak adekuat Riwayat batu atau Infeksi Saluran Kencing

sebelumnya

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 154

e.

Riwayat keluarga dengan pembentukan batu

2.

Pemeriksaan fisik berdasarka pada survei umum dapat menunjukkan : a. Nyeri. Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu lewat. b. c. Mual dan muntah serta kemungkinan diare Perubahan warna urine atau pola berkemih,

Sebagai contoh, urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi, dorongan berkemih dengan nyeri dan penurunan haluaran urine bila masukan cairan tak adekuat atau bila terdapat obstruksi saluran perkemihan dan hematuri bila terdapat kerusakan jaringan ginjal

3.

Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisa : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri

(kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis,

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 155

tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 20 mg/dl tujuan ginjal untuk untuk BUN

memperlihatkan mengekskresi

kemampuan sisa yang

bemitrogen.

menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin

serum hasil normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 156

b.

Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia.

c.

Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.

d.

Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan

sepanjang uriter. e. IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur

anatomik (distensi ureter). f. Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu atau efek

ebstruksi. g. USG Ginjal : untuk menentukan perubahan

obstruksi dan lokasi batu.

4.

Penatalaksanaan Menghilangkan Obstruksi

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 157

Mengobati Infeksi Menghilangkan rasa nyeri Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi.

5.

Komplikasi Obstruksi Ginjal Perdarahan Infeksi Hidronefrosis

6.

Diagnosa yang mungkin muncul a. Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah

pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal b. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra. c. Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 158

d.

Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan berhubungan dan

pemeriksaan

diagnostik

dengan

kurangnya informasi.

G. PERAWATAN PASIEN SINDROM NEFROTIK 1. Definisi Sindrom nefrotik adalah kumpulan gejala yang terdiri dari : Proteinuria massif, yaitu proteinuria lebih atau sama dengan 5gr sehari. Hipoalbuminemia Oedem Hipokolesterolemia

2. Klasifikasi Sindroma nefrotik primer / idiopatik atau pure nefrotik sindroma dengan microskop electron ternyata sebabnya ialah glumerulonefritis Sindroma nefrotik sekunder/sintomatik. Berasal dari glorulonefritis dan bukan glomerulonefritis.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 159

3. Manifestasi Klinis

Edema, sembab pada kelopak mata Rentan terhadap infeksi sekunder Hematuria, azotemeia, hipertensi ringan Kadang-kadang sesak karena ascites Produksi urine berkurang

4. Komplikasi Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah akibat hipoalbuminemia. Shock : terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml) yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock. Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem koagulasi sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma. Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 160

BAB V PENGETAHUAN UMUM KEPERAWATAN

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 161

A. Tanda tanda Vital Suhu Tubuh Suhu tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas dan hilangnya panas dari tubuh ke lingkungan.

Tabel 1. Pengukuran Suhu tubuh berdasarkan umur (Anam 2009) UMUR Bayi Baru Lahir 3 Bulan 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 5 Tahun 7 Tahun 9 Tahun 12 Tahun 13 Tahun Dewasa SUHU CELCIUS 36,1 37,7 37,5 37,7 37,2 37,2 37,0 36,8 36,7 37 36,6 36 SUHU CELCIUS 97 100 99,5 99,86 98,9 98,96 98,6 98,24 98,06 98,6 97,88 96,8

Sedangkan menurut Anas 2007 suhu tubuh dibagi menjadi : Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 360c

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 162

Normal, bila suhu tubuh sekitar antara 36 37,5

Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40

Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40

Pernafasan Merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menilai proses pengambilan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida. Berikut macam-macam pernafasan pada manusia : Eupneu : irama dan kecepatan pernafasan normal Hiperepneu : pernafasan cepat dan dalam Takeapneu : peningkatan kecepatan pernafasan Bradipneu : pernafasan lambat Apneu : tidak terdapatnya pernafasan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 163

Tabel 2. Rentan pernafasan berdasarkan umur (materi pelatihan BCLS, PERSI DIY , 2005) UMUR Bayi Baru Lahir Anak-anak Dewasa FREKUENSI (x/menit) 30 50 15 30 12 - 20

Tekanan Darah Tekanan darah adalah kekuatan yang mendorong terhadap dinding arteri, tekanan ditentukan oleh kekuatan dan jumlah darah yang dipompa, dan ukuran serta fleksibilitas dari arteri, di ukur dengan alat pengukur tekanan darah dan stetoskop.

Tabel 3. Tekanan Darah Pada Bayi Bayi dan Anak-anak Umur BBL 1-6 bulan 6 11 bulan 1 2 tahun 3 6 tahun 7 11 tahun 12 15 tahun Systole 64 78 95 110 95 110 95 110 101 115 104 124 112 - 138 Diastole 41 52 58 71 58 71 58 71 57 68 55 82 62 83

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 164

Tabel 4. Tekanan darah pada dewasa kategori Normal Perbatasan Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 Hipertensi derajat 3 sistole < 130 130 139 140 159 160 179 180 Diastole < 85 85 89 90 99 100 109 110

Nadi Denyut nadi adalah jumlah denyut jantung, atau berapa kali jantung berdetak per menit.

Table 5. Rentan pengukuran denyut nadi berdasarkan umur UMUR < 1 bulan < 1 tahun 2 tahun 6 tahun 10 tahun 14 tahun 14 tahun FREKUENSI (x/menit) 90 170 80 160 80 120 75 115 70 110 65 100 60 - 100

Takikardia : denyut jantung dengan cepat pada orang dewasa yang melebihi 100x/menit yang disebabkan oleh kenaikan suhu tubuh, rangsangan

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 165

jantung oleh syaraf simpatis, keadaan toksid jantung Bradikardia : frekuensi denyut jantung yang lambat kurang dari 60x/menit pada sindrom karotis.

B. Auskultasi Bunyi Paru dan Jantung

Suara Paru Normal Tracheal : adalah suara yang dihasilkan saat udara melewati glottis, lokasi diatas trachea, inspirasi = ekspirasi. Bronchial adalah suara yang melewati bronkus yang lokasi diatas manubrium, inspirasi > ekspirasi Bronkio-vaskuler : adalah suara yang dihasilkan oleh udara saat melewati bronchial kecil dan melewati bronkeoli, suara lebih rendah daripada suara bronchial dan lebis kasar daripada vesikuler

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 166

Vesikuler : adalah udara saat melewati ductus alveolar dan alveoli, suara terdengar diseluruh lapang paru, suaranya halus rendah, inspirasi lebih panjang dari ekspirasi 3 : 1

Suara Paru Abnormal Rales (crackles) : terdengar saat inspirasi tidak hilang saat dibatukkan. Ronchi : terdengar saat inspirasi maupun ekspirasi dan akan hilang jika dibatukkan. Wheezing : terdengar seperti bunyi ngiik pada saat inspirasi maupun ekspirasi akibat adanya eksudat yang lengket. Pleura friction : suara kering yang terdengar seperti gosokan amplas pada kayu saat inspirasi dan ekspirasi pada peradangan pleura.

Bunyi Jantug Normal Bunyi jantung normal biasanya diilustrasikan dengan lub,dub,lub,dub

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 167

C. Pemeriksaan Laboraturium Darah

Pemeriksaan Darah Lengkap Leukosit : 3500-10000 /l

Hemoglobin : 11.0-16.5 gr/dl Hematokrit : 35.0-50.0 % Trombosit : : 150000-390000 /l

Pemeriksaan Kimia Darah Gula darah puasa 2 jam PP Sesaat Ureum Kreatinin LDH CPK CKMB SGOT SGPT Albumin Bilirubin total Direk : 60-110 mg/dl : <130 mg/dl : <200 mg/dl : 10-50 mg/dl : 0.7-1.5 mg/dl : 210-425 /L : 30-190 /L : <25 /L : 11-41 /L : 10-41 /L : 3.5-5.5 g/dl : <1.10 mg/dl

: <0.25 mg/dl

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 168

Indirek : <0.75 mg/dl B.J Plasma Troponin I CRP Kuantitatif Analisa Elektrolit Natrium Kalium Klorida Calcium Phosphor : 136-145 mmol/l : 3.5-5.0 mmol/l : 98-106 mmol/l : 7.6-11.0 mg/dl : 2.5-7.0 mg/dl : 1.025-1.029 W/V : negatif : <0.3 mg/dl

Pemeriksaan Gas Darah PCO2 PO2 HCO3 O2 Saturasi Arterial : 35-45 mmHg : 80-100 mmHg : 21-28 mmol/l : >95 %

D. Penghitungan Praktis Ket : Factor tetes Makro : 1 cc = 20 tetes/menit Factor tetes Micro : 1 cc = 60 tetes/menit

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 169

Rumus Tetesan Infus Permenit

Rumus Lama Infus

Pembuatan Campuran Obat Skin Test perbandingan obat dengan pengencernya yaitu 1 : 9

Menghitung Dosis Insulin

Penghitungan Test Rumpel Leede

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 170

Perhitungan BB Ideal dan IMT BB Ideal = (TB 100 ) 10% TB IMT = BB (KG)/ TB2(M)

E. Penilaian (SCORING) Penghitungan Glasgow Coma Scale (GCS) Mata 4 : membuka mata tanpa stimulasi dalam kondisi terjaga penuh 3 : bisa membuka mata jika distimulasi ditepuk tepuk badannya 2 : bisa membuka mata hanya jika disakiti 1 : tidak bisa membuka mata no respon Verbal 5 : bisa menjawab sesuai dengan yang ditanyakan 4 : bisa menjawab dengan kalimat, tapi tidak jelas 3 : bisa menjawab dengan kata, tapi tidak jelas 2 : hanya bisa menjawab dengan erangan 1 : no respon

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 171

Motorik 6 : bisa bergerak sesuai dengan yang diperintahkan 5 : bisa bergerak ketika di stimulasi melokalisir menepis stimulasi yang menyakiti 4 : bisa bergerak ketika distimulasi sakit, tapi bersifat withdrawal menghindari sumber sakit 3 : bisa bergerak ketika disakiti, tapi tidak mampu menghindar, Cuma menekuk sendi 2 : bisa bergerak ketika disakiti, tapi Cuma reflek gerak sederhana meluruskan sendi 1 : no respon

Skor GCS dapat diklasifikasikan dari total jumlah : Skor 14 15 Skor 12 13 Skor 11 12 Skor 8 10 Skor < 5 : Compos Mentis : Apatis : Somnolent : stupor : koma

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 172

Berdasarkan skor GCS nya kita dapat mengklasifikasikan drajat kesadaran pasien secara kualitatifnya yaitu : Compos Mentis : dapat berorentasi dan berkomunikasi Apatis : keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. Sommnolen : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara motorik / verbal kemudian terlelap lagi. Gelisah atau tenang. Stupor : gerakan spontan, menjawab secara reflex terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat verbalisasi mungkin tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal dengan menggunakan kepala Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus.

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 173

klinis

Penilaian Afgar Score 0 Biru pucat 1 Badan merah Ekstremitas biru 2 Seluruh badan merah

Warna Kulit (A)

Pulse (P) Refleks (R) Tonus (A) Nafas (R)

Tidak ada Tidak ada Lunglai Tidak ada Keterangan

< 100x/menit Menyeringai Fleksi Tidak teratur

> 100x/menit Menangis kuat Aktif Teratur Kuat

0 3 = Asfiksia Berat 4 7 = Asfiksia Sedang 7 10 = Normal

Perawatan pasien penyakit dalam Cella Windri A. W. | 174