Anda di halaman 1dari 120
PENGARUH KONSEP DIRI DAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI SEMESTER GANJIL KELAS

PENGARUH KONSEP DIRI DAN MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI SEMESTER GANJIL KELAS VIII PADA SMPN KECAMATAN MAKASAR JAKARTA TIMUR

TESIS

Diajukan Untuk Melengkapi

Persyaratan Mencapai

Gelar Magister

Nama

: Indah Noor Saktiningsih

NPM

: 2010727111

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI

2012

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN TESIS

NAMA NPM Program Pascasarjana Program Studi Judul Tesis

: Indah Noor Saktiningsih

: 2010727111 : Universitas Indraprasta PGRI : Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam : Pengaruh Konsep Diri Dan Minat Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Semester

Makasar

Ganjil

Jakarta Timur

Kelas

Viii

Pada

Smpn

Kecamatan

Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan Pada tanggal

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Suparman Ibrahim Abdullah, M.Sc

Dr. Sartini, MM

i

LEMBAR PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis ini adalah karya saya sendiri. Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian isi tesis ini bukan hasil karya saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 bab IV Pasal 25 tentang System Pendidikan Nasional.

Jakarta,

Desember 2012

Indah Noor Saktiningsih

iii

ABSTRAK

A.

Indah Noor Saktiningsih. NPM: 2010727111

B.

Pengaruh Konsep Diri Dan Minat Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Semester Ganjil Kelas Viii Pada Smpn Kecamatan Makasar Jakarta Timur

C.

XVII + 5 Bab + 106 Halaman

D.

Kata Kunci : Konsep Diri, Minat Belajar, Hasil Belajar Matematika

E.

Penelitian bertujuan untuk menganalisis dan menguji kebenaran hipotesis mengenai pengaruh konsep diri dan minat belajar terhadap prestasi belajar matematika.

F.

Hipotesis penelitian yang diuji meliputi: Terdapat pengaruh konsep diri dan minat belajar secara bersama sama terhadap hasil belajar matematika . Terdapat pengaruh konsep diri terhadap hasil belajar matematika . Terdapat pengaruh minat belajar terhadap hasil belajar matematika .

G.

Penelitian dilakukan dengan metode survei. Dianalisis dengan menggunakan analisis regresi ganda.

H.

Hasil pengujian hipotesis diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Terdapat pengaruh yang signifikan konsep diri dan minat belajar secara bersama sama terhadap hasil belajar matematika . Hal ini dapat dibuktikan

 

dengan nilai F o =455,08 dan Sig.=0,000 < 0,05

 

2. Terdapat pengaruh yang signifikan konsep diri terhadap hasil belajar matematika . Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai to=2,770 dan Sig.=0,010 < 0,05

3. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap hasil belajar matematika . Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai t o =3,171 dan Sig.=0,004 < 0,05

I.

Daftar Pustaka

1.

Buku 15 Buah

2.

3 Internet

J.

Pembimbing :

1. Dr. Suparman Abdullah, M.Sc

2. Dr. Sartini, MM

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah swt yang telah memberi

penulis kekuatan dan kesempatan dalam menyelesaikan tesis ini sebagai salah satu

persyaratan

untuk

menyelesaikan

study

pada

Program

Magister

Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuaan Alam, UNINDRA PGRI Jakarta.

Berkat bantuan dan dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak, penulis

dapat menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis

mengucapkan rasa terirna kasih dan penghargaan kepada :

1. Dr.

Suparman

Ibrahim

Abdullah,

M.Sc.,

pembimbing

I

dan

sekaligus

Direktur

Program

Pascasarjana

UNINDRA

PGRI

Jakarta

yang

telah

meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh

ketekunan dan kesabaran di tengah-tengah kesibukan tugas yang ada.

2. Dr. Sartini, MM. , pembimbing II yang telah meluangkan waktu dengan penuh

kesabaran dan ketekunan memberikan arahan dan bimbingan di sela-sela

kesibukan tugas yang ada.

3. Prof. Dr. Sumaryoto, SE, MM.,

Rektor Universitas Indraprasta PGRI Jakarta.

4. Drs.

Dudung

Alahudin,

Ketua

Program

Studi

Magister

Pendidikan

Matematika dan Ilmu Pengetahuaan Alam, UNINDRA PGRI Jakarta.

5. Seluruh

dosen

pada

Program

Pascasarjana

UNINDRA

PGRI

Jakarta,

khususnya dosen pada Program Studi Magister Pendidikan Matematika dan

Ilmu Pengetahuaan Alam yang telah membina dan membantu penulis selama

kuliah.

viii

6.

Teman-teman pada Program Studi Magister Pendidikan Matematika dan Ilmu

Pengetahuaan Alam, UNINDRA PGRI Jakarta. khususnya angkatan I Reguler

atas segala partisipasi, kebersamaan, kekompakan dan dorongannya.

7. Ibunda, Suami tercinta, serta anak-anak yang telah membantu baik secara

moril maupun materil dalam penulisan tesisi ini.

Untuk semua ini, penulis tidak bisa memberikan apa-apa kecuali ucapan

terima kasih yang sangat mendalam dan semoga budi baik yang telah diberikan

dicatat sebagai amal ibadah yang diridoi Allah SWT. Akhirnya penulis berharap,

mudah-mudahan karya sederhana ini dapat bermanfaat dan sebagai sumbang

pikiran

yang

dapat

penulis

berikan

pembelajaran matematika. Amin.

ix

dalam

upaya

peningkatan

Jakarta,

Desember 2012

Penulis

Indah Noor Saktianingsih

kualitas

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN

i

LEMBAR PERNYATAAN

ii

ABSTRAK

iii

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR ISI

x

DAFTAR TABEL

xiv

DAFTAR GAMBAR

xv

DAFTAR LAMPIRAN

xvi

BAB

I

PENDAHULUAN

1

 

A. Latar Belakang Masalah

1

B. Identifikasi Masalah

10

C. Pembatasan Masalah

11

D. Perumusan Masalah

11

E. Tujuan Penelitian

12

F. Kegunaan Penelitian

12

G. Sistematika Penulisan

13

BAB

II

KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

15

 

A. Landasan Teori

15

1. Hasil Belajar Matematika

15

2. Konsep Diri

23

3. Minat Belajar Siswa

28

B. Kerangka Berpikir

68

1.

Pengaruh Konsep diri dan Minat Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika Semester Ganjil Pada Siswa

 

Kelas VIII

68

x

 

2. Pengaruh Konsep Diri terhadap Hasil Belajar Matematika Semester Ganjil Pada Siswa Kelas VIII

73

3. Pengaruh Minat Belajar Matematika Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Semester Ganjil Pada Siswa Kelas VIII

39

 

C.

Pengajuan Hipotesis

40

BAB

III METODOLOGI PENELITIAN

42

 

A. Tempat dan Waktu Penelitian

42

B. Metode Penelitian

42

C. Populasi dan Sampel

44

D. Teknik Pengumpulan Data

48

E. Instrumen Penelitian

49

F. Teknik Analisis Data

70

BAB

IV HASIL ANALISIS

77

 

A. Deskripsi Data

77

B. Uji Persyaratan Analisis Regresi

80

C. Pengujian Hipotesis

85

D. Diskusi Hasil

87

BAB

V

SIMPULAN dan SARAN

95

 

A. Simpulan

95

 

B. Saran

95

DAFTAR PUSTAKA

96

LAMPIRAN

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Pelaksanaan Penelitian

42

Tabel 3.2. Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar Matematika

52

Tabel 3.3. Validitas Butir Hasil Belajar Matematika Fisika

55

Tabel 3.4 Reliabiliy Instrumen Hasil Belajar Matematika

56

Tabel 3.5. Kisi-kisi Instrumen Konsep Diri

59

Tabel 3.6. Validitas Konsep Diri

61

Tabel 3.7 Reliabiliy Konsep Diri

63

Tabel 3.8. Kisi-kisi Instrumen Minat Belajar i

66

Tabel 3.9. Validitas Minat Belajar

68

Tabel 3.10

Reliabiliy Minat Belajar

70

Tabel 4.1. Deskripsi Statstk Variabel Konsep Diri, Minat Belajar, dan Hasil Belajar

77

Tabel 4.2. Uji Multikoliniaritas TOL dan VIF

81

Tabel 4.3 Uji Normalitas Galat

83

Tabel 4.4. Rata rata dan Standar Deviasi Galat

84

Tabel 4.5. Model Summary d

85

Tabel 4.6. Analysis of Variance Signifikansi, Pengaruh Variabel Independen secara bersama sama terhadap Variabel Y

85

Tabel 4.7. Koefisien Regresi dan Uji Signifikansi secara Parsial

85

Tabel 4.8. Korelasi Zero Order dan Parsial

92

Tabel 4.9. Koefisien Penentu dan Total

93

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Konstelasi Pengaruh antara Variabel Bebas X1, X2 dan Variabel Terikat Y

44

Gambar 4.1 Diagram Pencar Z-Resid (Y) dan Z-Pred (X )

82

Gambar 4.2 Histogram dan Kurva Normal Galat

83

Gambar 4.3 P-P Plot Kumulatif

84

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Instrumen Minat Belajar

96

Lampiran 2.

Instrumen Konsep Diri

xxx

Lampiran 3.

Instrumen tes Hasil Belajar Matematika

xxx

Lampiran 4.

Data Variabel Penelitian

xxx

Lampiran 5.

Hasil SPSS

xxx

Lampiran 5.

Daftar Riwayat Hidup

xxx

xvi

A. Latar Belakang

Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

pada

hakikatnya

adalah

usaha

membudayakan

manusia atau memberdayakan manusia agar terbentuk budi pekerti yang

mulia berakhlaqul karimah, pendidikan merupakan suatu sarana yang

sangat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan

guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Pendidikan adalah

usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, perilaku yang baik, serta keterampilan yang

diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem

pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional

berfungsi

mengembangkan

kemampuan

dan

membentuk

watak

serta

peradaban

bangsa

yang

bermartabat

dalam

rangka

mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik

agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, memiliki

konsep diri, minat yang besar dan menjadi warga negara yang demokratis

serta bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003).

Fungsi pendidikan harus betul-betul diperhatikan dalam rangka

mencapai

tujuan

pendidikan

nasional

sebab tujuan

berfungsi sebagai

pemberi arah yang jelas terhadap kegiatan penyelenggaraan pendidikan

sehingga penyelenggaraan

pendidikan

harus

diarahkan

kepada

(1)

pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak

diskriminatif

dengan

menjunjung

tinggi

hak

asasi

manusia,

nilai

keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan

diselenggarakan

sebagai

satu

kesatuan

yang

bangsa, (2) pendidikan

sistemik

dengan

sistem

terbuka dan multimakna, (3) pendidikan diselenggarakan sebagai suatu

proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung

sepanjang

hayat,

(4)

pendidikan

diselenggarakan

dengan

memberi

keteladanan,

membangun

kemauan,

dan

mengembangkan

kreativitas

peserta didik dalam proses pembelajaran, (5) pendidikan diselenggarakan

dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi

segenap

warga

masyarakat,

(6)

pendidikan

diselenggarakan

dengan

memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam

penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh kesiapan sumber

daya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Siswa merupakan

salah satu faktor penentu akan keberhasilan dalam suatu pendidikan

karena tinggi rendahnya nilai hasil pendidikan mempunyai pengaruh yang

strategis sebagai usaha guru untuk meningkatan kualitas peserta didiknya,

sehingga

keberhasilan

siswa

dalam

memahami

pelajaran

matematika

tersebut

berpengaruh

terhadap

keberhasilan

sekolah

tersebut

dalam

mengemas suatu proses pembelajaran. Mutu proses pendidikan sangat

diperlukan

sebab

hal

tersebut

berkorelasi

positif

dengan

upaya

memberikan suatu perhatian yang besar kepada peningkatan pemahaman

siswa tersebut untuk memahami materi yang sedang dan akan dipelajari,

begitu juga demikian dengan guru diarahkan untuk dapat memahami dan

mengasai materi-materi pelajaran tersebut sehingga kualitas pembelajaran

meningkat begitu pula mutunya pun meningkat sehingga akan tercapainya

keberhasilan belajar .

Siswa

adalah

salah

satu

komponen

penting

dalam

proses

pembelajaran yang perlu akan ilmu pengetahuan, arahan, pemahaman dan

latihan-latihan dari para guru, karena guru merupakan sebagai manusia

yang mentrasfer ilmu tersebut kepada siswanya dan sebagai sumber yang

menempati posisi dan memegang peran penting dalam membentuk konsep

diri siwa sesrta budi pekertinya dalam pendidikan. Ketika semua orang

mempersoalkan masalah dunia pendidikan keberadaan siswa mesti terlibat

dalam

agenda

pembicaraan

terutama

yang

menyangkut

persoalan

pendidikan formal di sekolah. Peserta didik atau siswa merupakan aset

bangsa yang memiliki tugas menerima pelajaran, mematuhi tata tertib

sekolah

dan

pembelajaran,

mengaplikasikan

bakat

serta

minatnya

mendapat

nilai

hasil

pembelajaran,

didalam

proses

mendapatkan

pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan percobaan penelitian dan

pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi para peserta didik pada

program

eksakta. Hal

tersebut

tidak

dapat

disangkal

kerana lembaga

pendidikan formal sangat berkaitan erat dengan keberadaan peserta didik.

Pesera didik yang berkualitas dan memiliki konsep diri yang baik sebagai

besar waktunya mereka habiskan di sekolah, sisanya ada di rumah dan di

lingkungan (Djamarah, 2000).

Siswa merupakan suatu komponen dalam dunia pendidikan yang

sangat harus diperhatikan dan arahan sebab keberadaan siswa tersebut

merupakan

salah

satu

faktor

dominan

dan

paling

penting

dalam

pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan

tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Siswa merupakan

sebuah

unsur terkecil yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan

pendidikan selain unsur guru dan sarana prasarana dalam pendidikan

lainnya.

Keberhasilan

penyelenggaraan

pendidikan

sangat

ditentukan

kesiapan guru dan siswa dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui

kegiatan belajar mengajar. Namun demikian posisi strategis siswa tersebut

untuk

meningkatkan

mutu

hasil

pendidikan

sangat

dipengaruhi

oleh

kemampuan profesional guru dan mutu kinerjanya.

Siswa merupakan salah satu komponen dalam pendidikan dan

penerus

bangsa

ini

karena

secara

tidak

langsung

siswa

tersebut

mempengaruhi mutu lulusan, meningkatkan minat peserta didik yang lain

dan

mensinergiskan

tujuan

lembaga

pendidikan

tersebut,

sebagai

komponen

dalam

proses

pendidikan,

sisws

dituntut

untuk

memiliki

kemampuan dasar yang berupa membaca, menulis dan berhitung yang

diperlukan sebagai peserta didik pendidik, memiliki konsep diri dan minat

belajar yang tinggi serta kemampuan lainnya tersebut tercermin pada hasil

belajar

peserta

didik

tersebut.

Berkualitas

tidaknya

suatu

lembaga

pendidikan sangat tergantung pada konsep diri yang dimiliki siswa dan

minat belajarnya serta kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh para

pendidik. Gunawan (1996) mengemukakan bahwa siswa merupakan salah

satu

subjek

dari

suatu

perencanaan

pendidikan,

pelaksana

sekaligus

sebagai parameter evaluator pembelajaran di kelas, karena peserta didik

merupakan subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai

tujuan pendidikan.

Kehadiran siswa dalam proses pembelajaran di sekolah masih tetap

memegang peranan yang penting karena dengan kehadiran siswa tersebut

di kelas dan memiliki jiwa disiplin akan mudah guru tersebut mentransfer

ilmu-ilmu Matematika tersebut dengan mudah. Peran tersebut belum dapat

diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal ini disebabkan karena masih

banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak dapat diganti oleh unsur lain.

Siswa merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam

pendidikan formal pada umumnya setelah guru karena bagi siswa guru

sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri.

(Wijaya dan Rusyan, 1994).

Siswa dituntut memiliki kemauan dan minat belajar tinggi yang

mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua

pihak terutama kedua orang tuanya dan masyarakat umumnya yang telah

banyak mengeluarkan biaya besar untuk putra puterinya serta yang sudah

mempercayai sekolah dan guru dalam untuk membina putera puterinya.

Meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kemauan

belajar siswa yang tinggi dengan arahan bapak dan ibu guru di sekolah,

oleh karena itu lembanga pendidikan di harapkan memiliki kinerja para

pendidiknya yaitu guru yang berkualitas dan menguasai berbagai materi

pelajaran

yang

akan

di

berikan

oleh

siswa

tersebut

dengan

cara

melaksanakan tugasnya sehingga kualitas proses pembelajaran yang di

berikan oleh

guru kepada peserta didik menjadi tuntutan penting untuk

mencapai keberhasilan pendidikan. Pada umum mutu pendidikan yang

baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan siswa dalam memahami dan

menerapkan

ilmu

yang

di

dapatnya

dalam

proses

pembelajaran

disekolah.

Siswa sebagai penuntut ilmu harus memiliki kemampuan yang

meliputi giat mempelajari materi pelajaran, menyelesaikan tugas dengan

cara-cara yang jujur serta profesional, menjawab soal dengan cara-cara

menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya,

disamping itu siswa harus memiliki pribadi yang berkembang dan bersifat

dinamis,

dengan

hal-hal

tersebut

maka

sebagai

seorang

guru

sudah

seharusnya dapat memupuk dan menanamkan sisfat tersebut. Hal ini

sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003

tentang

Sistem

Pendidikan

Nasional

bahwa

pendidik

dan

tenaga

kependidikan berkewajiban (1) menciptakan suasana pendidikan yang

bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) mempunyai

komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan

(3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan

kedudukan

sesuai

dengan

kepercayaan

yang

diberikan

kepadanya. Harapan dalam Undang-Undang tersebut menunjukkan adanya

perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai

sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam

kelas

berubah

menuju

paradigma

yang

memposisikan

guru

sebagai

fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara

guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan

ini

mengharuskan

guru

untuk

selalu

meningkatkan

kemampuannya

terutama

memberikan

keteladanan,

membangun

kemauan,

dan

mengembangkan konsep diri

peserta didik dalam proses pembelajaran

serta meningkatkan minat belajar siswa.

Dalam kegiatan proses penbelajaran dibatasi beberapa hal antara

lain kurangnya kosep diri dan minat belajar yang dimiliki oleh siswa

sehingga

hasil

belajar

siswa

tersebut

belum

memenuhi

harapan.

Kurangnya konsep diri dan minat belajar tersebut maka siswa kurang

dapat menguasai materi matematika yang diberrikan oleh guru.

Walau

secara

umum

siswa

kurang

memiliki

minat

terhadap

pelajaran matematika, namun masih ada siswa yang sangat antusias

mengikuti dan menekuni Matematika, alasannya apabila nanti melanjutkan

ke sekolah yang lebih

tinggi yaitu SMU ( Sekolah Menengah Umum)

jurusan Matematika dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi teknik

Matematika yang sangat berhubungan dengan ilmu Matematika pada

sekolah SD, SMP, dan SMU. Adanya dorongan oleh minat inilah sehingga

siswa memliki keinginan untuk dapat memahami dan menguasai semua

materi pelajaran Matematika.

Kosep diri dan minat belajar biasanya berasal dari diri siswa itu

sendiri dengan belajar di rumah atau les privat dan belajar di sekolah yang

di pandu

oleh

guru.

Siswa

tersebut

di

beri

arahan,

semangat,

dan

menanamkan rasa kepercayaan dirinya agar mereka berprestasi sehingga

hasil belajar Matematikanya meningkat.

Konsesp diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan,

pandangan dan penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan

memiliki konsep diri negatif

jika ia menyakini dan memandang bahwa

dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten,

gagal, malang, tidak menarik, tidak di sukai dan kehilangan daya tarik

terhadap

hidup.

Seseorang

yang

memiliki

konsep

diri

negatif

akan

cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang

dihadapinya. Orang tersebut tidak melihat tantangan sebagai kesempatan,

namun lebih sebagai halngan. Seseorang dengan konsep diri negatif, akan

mudah menyerah sebelum melaksakannya, sehingga jika gagal akan ada

dua pihak yang disalahkan, baik menyalahkan dirinya sendiri bahkan

menyalahkan orang lain.

Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat

lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap

segala

sesuatu,

demikian

juga

Kegagalan

bukan

dipandang

terhadap

sebagai

kegagalan

yang

dialaminya.

kematian,

namun

lebih

menjadikannya sebagai penemuan dan pelajarn berharga untuk melangkah

ke

depan.

Seseorang

dengan

konsep

diri

yang

positif

akan

mampu

menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif untuk dilakukannya

demi keberhasilan dimasa yang akan datang.

Sementara minat sering diartikan suatu dorongan yang timbul dari

dalam diri seseorang. Dorongan itu memaksa seseorang untuk bergerak

atau bertindak. Sedangkan minat belajar ialah suatu keinginan

yang

menyebabkan

seseorang

menghasilkan

sesuatu

yang

lebih

baik

dari

sebelumnya.

Rasa malas juga bisa dihilangkan dengan mulai bergerak. Bergerak

disini artinya adalah memulai berbuat dengan berusaha.Sering kali kita

merasa

malas

sebelum

melakukan

dan

mencobanya.

Cobalah

abailkananggapan tersebut dengan mulailah bekerja. Karena bisa jadi

setelah kita lakukan dan mencobanya dapat menemukan ritme minat yang

asyik dalam kegiatan tersebut. Apabila sudah mendapati dan menyadari

potensi-potensi yang kita miliki maka keadaan tersebut akan berubah

menjadi

suatu

yang

menyenangkan

dan

mengasyikan,

sehingga

kita

terlarut dalam aktivitas (http : // patriot proklamasi. blogspot. com/

2006/03/ minat berkeinginan.html).

Dengan

demikian

konsep

diri

dan

minat

belajar

siswa

akan

berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika materi semester ganjil

kelas VIII. Dengan demikian konsep diri dan minat belajar Matematika

diharapkan dapat merangsang kemampuan berpikir siswa secara aktif dan

kreatif

karena

dapat

meningkatkan

minat

belajar

siswa

sehingga

menghasilkan proses pembelajaran yang efektif, gembira dan berbobot

serta dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa.

B. Identifikasi Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini bersifat asosiatif yaitu

suatu perumusan masalah yang bersifat menanyakan hubungan antara dua

variabel atau lebih (Sugiono: 2007), dengan bentuk hubungan kausal atau

sebab-akibat. Terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel independent

(bebas)

yang

mempengaruhi

dan

variabel

dependen

(terikat)

dipengaruhi. Berdasarkan latar belakang

yang

penelitian diatas dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :

1. Adakah pengaruh konsep diri terhadap minat belajar siswa?

2. Seberapa besar pengaruh konsep diri terhadap minat belajar siswa?

3. Adakah

pengaruh

Matematika?

konsep

diri

terhadap

prestasi

belajar

4. Seberapa besar pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar?

5. Adakah pengaruh minat belajar siswa terhadap prestasi belajar

Matematika?

6. Seberapa besar pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar

Matematika?

7. Adakah

pengaruh

Matematika?

konsep

diri

terhadap

prestasi

belajar

8. Seberapa besar pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar

Matematika?

9. Adakah pengaruh konsep diri terhadap minat belajar siswa?

10. Seberapa besar konsep diri terhadap minat belajar?

11. Adakah pengaruh konsep diri dan minat belajar siswa terhadap

prestasi belajar Matematika?

12. Seberapa besar pengaruh konsep diri dan minat belajar siswa

terhadap prestasi belajar Matematika?

13. Adakah pengaruh minat belajar siswa terhadap konsep diri belajar

Matematika?

14. Seberapa besar pengaruh minat belajar siswa terhadap konsep diri

belajar Matematika?

C. Pembatasan Masalah

Sehubungan dengan adanya berbagai keterbatasan yang ada pada

penulis, seperti keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga, maka tidak semua

variabel yang disebutkan pada identifikasi masalah akan diteliti. Agar

penelitian ini lebih fokus dan hasilnya nyata, maka penelitian ini dibatasi

kepada masalah konsep diri siswa di sekolah, minat belajar siswa dan hasil

belajar Matematika materi semester ganjil kelas VIII. Konsep diri sebagai

variabel bebas satu

( X 1 ), Minat belajar siswa sebagai variabel bebas

dua( X 2 ) dan prestasi belajar Matematika materi semester ganjil kelas

VIII sebagai variabel terikat ( Y ) yang semuanya itu diteliti pada Sekolah

Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Makasar Jakarta Timur.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas dan agar penelitian ini

lebih fokus, maka penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1.

Apakah

ada

pengaruh

konsep

diri

dan

minat

belajar

siswa

secara

bersama-sama terhadap

prestasi belajar matematika materi semester

ganjil pada siswa SMP N kelas VIII?

 

2.

Apakah ada pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar matematika

materi semester ganjil pada siswa SMP N kelas VIII?

 

3.

Apakah

ada

pengruh

minat

belajar

siswa

terhadap

prestasi

belajar

matematika materi semester ganjil pada siswa SMP N kelas VIII?

E.

Tujuan Penelitian

 

konsep

Tujuan

umum

dari

penelitian

ini

diri

dan

minat

belajar

terhadap

adalahmengetahui

pengaruh

prestasi

belajar

matematika,

melalui data empiris di laoangan. Pengumpulkan data mengenai konsep

diri, minat belajar siswa, dan prestasi belajar matematika materi semester

ganjil pada siswa SMPN kelas VIII dilakukan guna mengkaji dalam

penelitian

Secara operasional tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Mengetahui pengaruh konsep diri dan minat belajar siswa secara

bersama sama terhadap prestasi belajar matematika materi semester

ganjil pada siswa SMP N kelas VIII.

2. Mengetahui pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar matematika

materi semester ganjil pada siswa SMP N kelas VIII.

3. Mengetahui

pengaruh

minat

belajar

terhadap

prestasi

belajar

Matematika materi semester ganjil pada siswa SMP N kelas VIII.

F. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian baik secara teoritis maupun praktis yang bisa

didapatkan dari penelitian ini adalah :

1. Secara teoritis :

a. Dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan yang berkaitan

dengan konsep diri, minat belajar siswa, dan prestasi belajar

Matematika.

b. Dapat dijadikan acuan, wawasan dan tolok ukur untuk melakukan

penelitian lain yang terkait dengan judul atau topik penelitian ini.

2. Secara praktis :

a.

Dapat

dijadikan

sebagai

dasar

pengambilan

kebijakan

yang

berkaitan dengan judul atau topik penelitian.

b. Dapat memberikan kontribusi atau pemikiran dan masukan kepada

pihak sekolah agar lebih memperhatikan peserta didik dengan

memberikan pendidikan yang optimal kepada peserta didiknya

agar

menjadi

manusia

yang

kaya

akan

IPTEK

dan

IMTAQ

sebagai penerus bangsa yang berkualitas dan berakhlak mulia (

Insan kamil ).

c. Dapat membangun persepsi dan kesadaran semua pihak bahwa

konsep diri dan minat belajar siswa dapat meningkatkan prestasi

belajar Matematika.

G. Sistematika Penulisan Tesis

Tesis ini ditulis dalam 5 bab dengan rincian sebagai berikut :

Bab I

Pendahuluan,

bab

ini

berisi

latar

belakang,

identifikasi

masalah,

pembatasan

masalah,

perumusan

masalah,

tujuan

penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II

Landasan Teori, kerangka berpikir dan hipotesis, bab ini berisi

landasan

teori,

konsep

diri,

minat

belajar

siswa,

prestasi

belajar, karakteristik Matematika, kerangka berpikir, dan hasil

penelitian yang relevan.

 

Bab III

Metodologi Penelitian, bab ini memuat tempat dan waktu

penelitian, metode penelitian, populasi dan sampel, teknik

pengumpulan data, variabel penelitian, instrumen penelitian,

dan teknik analisa data.

 

Bab IV

Hasil penelitian dan pembahasan, bab ini berisi deskripsi data,

pengujian

persyaratan

analisis,

pengujian

hipotesis

dan

pembahasan.

 

Bab V

Kesimpulan dan saran, bab ini terdiri atas kesimpulan

 

dan saran.

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Hasil Belajar Matematika Semester Ganjil Kelas Pada Siswa Kelas

VIII

a. Belajar

Belajar

merupakan

komponen

ilmu

pendidikan

yang

berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi baik yang bersifat

ekslisit maupun implicit. Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri dari

kegiatan psikhis dan fisis yang saling bekerja sama secara terpadu dan

komprehensif integral. Dalam iplementasinya belajar adalah kegiatan

individu memperoleh pengetahuan,prilaku dan ketrampilan dengan

cara mengolah bahan belajar.Belajar suatu proses yang kompleks,

Sejalan dengan itu menurut Robert M. Gagne ( 1970 : 17 ) belajar

merupakan

kegiatan

yang

kompleks,

dan

hasil

belajar

berupa

kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan : (1). Stimulasi yang

berasal dari lingkungan, dan (2). Proses kognitif yang dilakukan oleh

pelajar.

Sadiman

(1996:20) mengemukakan

bahwa belajar adalah

suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan

berlangsung

seumur

hidup.

Hal

senada

juga

dikemukakan

oleh

soejanto (1981:23 ) bahwa belajar adalah suatu proses yang berlansung

secara

terus

mengalami

menerus,

artinya

sepanjang

hayatnya

manusia

akan

proses

belajar,

sedangkan

salah

satu

definisi

modern

tentang tentang belajar menyatakan bahwa belajar adalah “Pengalaman

terencana yang membawa perubahan tingkah laku “

Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan

itu atau sekurang-kurangnya merasakan adanya suatu perubahan

dalam dirinya

Dengan memperhatikan beberapa pengertian diatas tentang

belajar maka hakikat belajar apabila diintepretasikan mengandung

pengertian bahwa setelah belajar siswa yang pada mulanya tidak

mengerti menjadi mengerti. Siswa yang pada mulanya tidak memiliki

kemampuan

untuk

melakukan

sesuatu

menjadi

mampu

melakukannya, siswa yang semula belum terampil menjadi terampil

dan siswa yang tidak memiliki sikap menjadi bersikap. Dengan

demikian maka pada diri siswa akan terjadi perubahan-perubahan

yang sifatnya relatif permanen.

Berdasarkan pembahasan beberapa teori tersebut, maka yang

dimaksud

dengan

belajar

adalah

suatu

kegiatan

individu

yang

berproses

secara

terencana,

terus

menerus

atau

kontinu

atau

berkesinambungan untuk memperoleh kemampuan tertentu sehingga

mengalami perubahan sikap dan tingkah laku yang positip dan lebih

baik dari sebelumnya, dengan demikian makin banyak usaha belajar

makin

banyak

pula

mengalami

peningkatan

pemahaman

pengetahuan dan ketrampilan pada diri peserta didik.

b. Hasil Belajar.

Sudjana, N (1990:24) yang dimaksud dengan hasil belajar

adalah

kemampuan-kemampuan

yang

telah

dimiliki

oleh

siswa

setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Selanjutnya adapun

hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh berdasarkan proses

belajar.

Ada

berdasarkan

5

katagori

tentang

kemampuan

yang

dihasilkan

proses

belajar,

yaitu;

(1)

Kecakapan

untuk

mengkomunikasikan pengetahuan secara verbal, yang dikatagorikan

sebagai informasi verbal, (2) Kecakapan dalam bertindak melalui

penilaian terhadap suatu stimulus dikatagorikan sebagai sikap, (3)

Kecakapan membedakan, memahami konsep maupun aturan serta

dapat

memecahkan

masalah,

dikatakan

sebagai

keterampilan

intelektual, (4) Kecakapan mengelola dan mengembangkan proses

berpikir melalui pemahaman, analisis dan sintesis, dikatagorikan

sebagai

keterampilan

strategi

kognitif,

(5)

Kecakapan

yang

diperlihatkan secara tepat, tepat dan lancar melalui gerakan anggota

tubuh, ini dikatagorikan sebagai keterampilan motorik.

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, maka perilaku yang

diharapkan harus dituliskan pada tujuan pembelajaran sebagai hasil

belajar yang diharapkan. Untuk mengetahui hasil belajar siswa,

apakah seorang siswa hasil belajarnya baik atau tidak, maka perlu

dilakukan suatu penilaian atau pengukuran terhadap kegiatan proses

belajar tersebut, hasil dari penilaian inilah yang akan disebut sebagai

hasil belajar. Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar maka dapat

diukur atau dinilai dengan ujian tertulis maupun dengan ujian lisan,

ataupun gabungan antara tertulis dan lisan atau disebut tes dan non

tes. Tes dan non tes adalah suatu alat ukur yang dapat dipergunakan

oleh guru dalam melakukan pengukuran.

Pengukuran diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu

atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh siswa, hal, atau

objek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Lebih lanjut

dikatakan

bahwa

guru

dapat

mengukur

penguasaan

peserta

pendidikan dalam suatu mata pelajaran atau kemampuan dalam

melakukan suatu keterampilan tertentu yang telah dilatih, tetapi

tidaklah mengukur peserta didik itu sendiri. Pengukuran pendidikan

salah satu pekerjaan profesional guru, instruktur atau dosen.

Dari

berbagai

teori

yang

diuraikan

tersebu,

maka

yang

dimaksud

hasil

belajar

adalah

hasil

dari

suatu

penilaian

atau

pengukuran

terhadap

peserta

didik

dengan

menggunakan

alat

penilaian setelah dilakukan proses pembelajaran secara terencana

baik materi maupun waktunya serta hasil belajar yang diinginkan

disesuaikan

dengan

jenis

dan

fungsinya

dalam

penilaian

atau

pengukuran, misalnya penilaian ulangan harian, ulangan blok, mid

test, ujian sekolah dan ujian nasional.

c.

Matematika.

Mata pelajaran matematika sebagaimana mata pelajaran lain

merupakan bidang ilmu yang mempelajari banyak hal yang berkaitan

dengan

kehidupan

manusia

sehari-hari,

misalnya

dalam

mata

pelajaran hampir selalu disebut

istilah-istilah lebih kecil, lebih

besar, atau sama dengan.

Luas bangunan rumah Pak Setyo lebih

besar dibanding dengan luas bangunan rumah Pak Latief atau jumlah

air didalam gelas merah sama dengan jumlah air di dalam gelas

berwarna biru atau juga bentuk lingkaran A sama dengan bentuk

lingkaran B, banyak air dalam bentuk lingkaran A dan B merupakan

perwujudan alamiah yang dapat diukur atau diraba secara nyata

ataupun dapat dilihat dengan mata serta dapat diwujudkan dengan

simbol-simbol.

Banyak rumusan tentang matematika yang telah dikemukan

oleh para ahli, Hudojo,H (1998;36) mengemukan bahwa matematika

adalah berkenaan dengan

ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang

tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif. Lebih lanjut

Hudojo, H (1998 : 32) mengemukakan bahwa matematika adalah

sebagai abstraksi yang merupakan proses untuk menyimpulkan hal-

hal yang sama dari sejumlah objek atau situasi yang berbeda. Apabila

abstraksi tersebut dituliskan, maka dapat terwujud suatu yang disebut

pola. Hudojo juga menyebutkan bahwa pola adalah suatu sistem

mengenai

hubungan-hubungan

diantara

perwujudan

alamiah.

Perwujudan

alamiah

tampak

rumit,

seringkali

dengan

abstraksi

didalam pikiran, biasanya dapat diketemukan pola. Dengan demikian

menjadi

tugas

matematikalah

untuk

mmenemukan

hubungan-

hubungan di alam ini dan menganalisis pola-polanya sehingga pola-

pola itu dapat dikenal bila muncul, sedangkan Rusfendi (1991 : 54),

mengemukan

bahwa

matematika

merupakan

suatu

ilmu

yang

berhubungan dengan penelahaan bentuk-bentuk atau struktur-struktur

abstrak yang berhubungan diantara hal itu. Untuk dapat memahami

struktur - struktur serta hubungan - hubungannya yang diperlukan

pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat dalam matematika

itu. Ini mengisyaratkan bahwa belajar matematika adalah belajar

tentang konsep-konsep dan struktur-struktur serta mencari hubungan

antara konsep-konsep dan struktrur-struktur tersebut. Lebih lanjut

Rusfendi menyebutkan bahwa belajar matematika adalah belajar

tentang konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam

bahasan yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara

konsep-konsep

dan

struktur-struktur

tersebut,

disebutkan

pula,

matematika mengelompokkan perwujudan alamiah menjadi pola-

pola atau bentuk-bentuk tertentu. Selain menghubungkan matematika

melakukan penelaahan pola atau bentuk didalam matematika berarti

mewujudkan struktur-struktur. Adapun hubungan-hubungan pola di

dalam

matematika

matematika.

dapat

membentuk

rumus,

teorema

atau

dalil

Pada bagian lain Rusfendi mengemukanan bahwa matematika

adalah ilmu pengetahuan yang termasuk kedalam atau mungkin yang

paling padat dan tidak mendua arti. Lebih lanjut disebutkan bahwa

tujuan pengajaran matematika (modern) adalah untuk meluruskan

dan

mempermudah

siswa

belajar

berhitung

lainnya, bukan untuk mempersulit.

dan

cabang–cabang

Setelah menelaah berbagai pendapat tersebut di atas, maka

matematika adalah mata pelajaran yang memuat ide – ide, konsep –

konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan terpola menjadi

rumus, teorema atau dalil yang dapat dipergunakan secara patent

untuk pemecahan masalah dalam mata pelajaran matematika itu

sendiri

maupun

teknologi.

untuk

aplikasi

d. Hasil belajar matematika

dalam

ilmu

pengetahuan

dan

Sementara itu Atkitson, R.C (1999 : 67) mengemukakan

bahwa ada 4 cara yang strategis untuk meningkatkan hasil yang

maksimal di dalam belajar matematika, yaitu; (1) memaksimalkan

hasil

rata-rata yang ada di dalam kelas, (2) perkecil perbedaan-

perbedaan hasil yang diperoleh oleh siswa dalam satu kelas, (3)

maksimalkan hasil yang diperoleh siswa pada level-level tertentu,

dan (4) maksimalkan kemampuan rata-rata pada setiap individu atau

siswa. Selain itu Atkitson juga menunjukkan bahwa ada 2 alternatif

di

dalam

belajar

strategi

pelajaran

matematika,

yaitu;

(1)

untuk

mengembangkan

yang

optimal

pada

individu-individu

tertentu

dimungkinkan jika ada model proses pembelajaran secara terperinci,

dan (2) untuk meningkatkan pembelajaran yang optimal pada setiap

individu dapat memberikan waktu belajar yang cukup.

Schoenfeld

pengetahuan

atau

(2000

:

27)

mengemukakan

bahwa

keterampilan

yang

dibutuhkan

ada

4

dalam

meningkatkan belajar agar berhasil, yaitu; (1) Sumberdaya–dalil dan

prosedur pengetahuan matematika, (2) Heuristik strategi dan teknik

untuk memecahkan masalah-masalah, seperti mengulang pelajaran,

(3) Pengawasan–pengambilan keputusan tentang apa dan sumberdaya

apa, dan strategi apa yang akan dipergunakan, (4) Kepercayaan–

pandangan

seseorang

tentang

matematika

untuk

melakukan

pendekatan di dalam memecahkan masalah.

Hudoyo (1988 : 44) pada bagian menjelaskan bahwa apabila

matematika

dipandang

sebagai

suatu

struktur

dari

hubungan–

hubungan, maka simbol–simbol formal diperlukan untuk menyertai

himpunan benda–benda atau hal–hal.

Simbul–simbul ini sangat

penting didalam membantu manipulasi aturan–aturan yang beroperasi

didalam struktur. Pemahaman terhadap struktur–struktur dan proses

simbolisasi masing masing merupakan stimulus yang satu terhadap

yang lain. Simbolisasi memberikan fasilitas komunikasi, yang dari

komunikasi ini kita mendapatkan sejumlah besar informasi. Simbul

merupakan lambang yg memiliki arti dan bersifat pasti atau tetap.

Berdasarkan teori dan pendapat dari para ahli dapat dikatakan

bahwa pada hakikatnya mempelajari matematika adalah mempelajari

ide-ide

abstrak

yang

diberi

simbul-simbul

yang

perlu

diketahui

tentang

pemahaman

konsep-konsep.

Hubungan-hubungannya

sebagian

besar

berkenaan

dengan

perhitungan.

Jadi

dapat

pula

dikatakan bahwa matematika adalah ilmu aksiometris, perjanjian,

dalil-dalil, perhitungan dan lain-lain sesuai dengan bentuk yang

menjadi sasaran atau objek pembahasan.

Setelah menelaah uraian dari berbagai teori di atas, maka

hasil belajar matematika adalah hasil penilaian yang dilakukan secara

terencana dengan terlebih dahulu melakukan upaya maksimal dalam

proses pembelajaran, kemudian untuk meningkatkan hasil belajar

matematika adalah dengan memaksimalkan strategi, menggunakan

stimulus untuk mempermudah pemahaman konsep – konsep dan

memperhatikan tingkat kemampuan baik secara individu, kelompok

atau klasikal

2.

Konsep diri

a. Konsep

Konsep diri merupakan hal ayang sering serta dianggap besar

pengaruhnya terhadap tingkah laku seseorang. Konsep diri adalah

persepsi atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Penilaian tersebut

merupakan

keyakinan

seseorang

mengenai

dirinya

yang

meliputi

gambaran mengenai fisiknya, psikis, dan minatnya. Gambaran ini

terbentuk berdasarkan persepsi orang lain terhadap dirinya atau dapat

juga berdasarkan internalisasi, pandangan dan penerimaan orang lain

terhadap dirinya. (Gunarsih, 2003) selain itu konsep diri juga terbentuk

berdasarkan pemikiran, perasaan dan pengalaman emosisonal, individu

mengenai dirinya sendiri. Menurut cagawas seperti yang dikutip oleh

Pudjijongyanti (1991), konsep mencakup seluruh pandangan individu

akan

dimensi

fisiknya,

karakteristik

kepribadiannya,

motivasi,

kelemahannya,

kepandaiannya,

kegagalannya

dan

sebagainya.

Menerut Shavelson dan Bolus seperti yang dikutip Marsh dan Holmes

(1990),

konsep

diri

pada

seseoranmg

individu

didasarkan

atas

pengalaman dan interaksi dengan orang-orang yan berpengaruh dalam

hidupnya seperti orang tua, teman-teman dan guru.

Shavelson membagi struktur konsep diri secara hirarkhi atas

empat peringkat. Peringkat pertama terletak konsep diri umum yaitu

cara

individu

memahami

dan

menilai

dirinya

sendiri

secara

keseluruhan. Peringkat kedua yaitu konsep diri akademis dan konsep

diri non akademis. Peringkat ketiga merupakan sub area konsep diri

akademis dan sub area konsep diri non akademis. Peringkat keempat

merupakan penilaian tingkah laku dalam situasi yang lebih spesifik

pada masing-masing sub area dari konsep diri. Menurut Leonetti

(2002), membagi konsep diri dalam dua bagian yaitu percaya diri (self

confidence)

dan

harga

diri

(self

esteem).

Percaya

diri

adalah

kepercayaan seseorang dalam kesanggupannya untuk melaksanakan

tugas atau pekerjaan. Harga diri adalah bagaimana baiknya seseorang

menginginkan

dirinya.

Konsep

diri

menentukan tingkah laku seseorang.

mempunyai

peranan

dalam

Konsep

diri

yang

dimiliki

seseorang

akan

turut

menentukan

bagaimana ia menerima, merasakan dan merespon lingkungannya. Jika

seseorang berfikir dirinya kurang baik maka ia akan menganggap

remeh dirinya dan selalu membayangkan kegagalan di setiap usaha

yang dilakukannya, sehingga ia enggan untuk mencoba mengatasi

kesulitan-kesulitan yang ia hadapi. Keyakinan tersebut mencerminkan

sikap dan pandangan negatif pada dirinya sendiri. Sebaliknya bila

seorang tersebut

memiliki

pola pikir

yang positif maka ia akan

melakukannya

dengan

sungguh-sungguh

yaitu

dengan

mengatasi

kesulitan yang dihadapi untuk mencapai kesuksesan.

Menurut

Brooks and Emmerst dalam ( Jalaluddin, 2005) ada

lima tanda orang yang memiliki konsep diri tinggi yaitu: (a) ia yakin

akan kemampuannya mengatasi masalah, (b) ia merasa setara dengan

orang lain, (c) ia menerima pujian tanpa rasa malu, (d) ia menyadari,

bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan

perilaku yang tidak selurunya disetujui masyarakat, (e) ia mampu

memperbaiki dirinya dan sanggup menggungkapkan pribadi

yang

tidak disenanginy adan berusaha mengubahnya. Sedangkan orang yang

memiliki konsep diri rendah diantaranya : (a) ia peka pada keritik dan

cenderung tidak mampu menerima kritikan dan mudah marah, (b)

cenderung menghidari dialog terbuka dan bersikeras mempertahankan

pendapatnya,

(c)

bersikap

hiperkritis

terhadap

orang

lain

sering

mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapa pun, (d)

cenderung

merasa

tidak

disenangi

orang

lain

dan

merasa

tidak

diperhatikan, (e) selalu bersikap pesimis terhadap kompetisi untuk

bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi.

b. Proses Pembentukan Konsep Diri

Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa

pertumbuhan

seorang

manusia

dari

kecil

hingga

dewasa.

Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan

pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk.

Sikap atau respon orangtua dan lingkungannya akan menjadi bahan

informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya.

Oleh sebab itu, serngkali anak-anak yang tumbuh dan

dibesarkan

dalam

pola

asuh

yang keliru

dan

negatif.

Hal

ini

disebabkan

sikap

orang

tua

misalnya

:

suka

memukul,

mengabaikan,

kurang

memperhatikan,

melecehkan,

menghina,

bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dan

sebagainya. Hal-hal tersebut dianggap sebagai hukuman akibat

kekurangan,

kesalahan

ataupun

kebodohan

dirinya.

Dengan

demikian anak menilai dirinya berdasarkan apa yang beliau alami

dan dapatkan dari lingkungannya. Bila lingkungan memberikan

sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup

berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.

Konsep

diri

ini

mempunyai

sifat

yang

dinamis,

artinya tidak luput dari perubahan. Aspek-aspek yang bisa bertahan

dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali

berubah sesuai dengan situasi sesaat, contohnya, seorang merasa

dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun

suatu ketika ia mendapat angka merah, bisa saja saat itu ia merasa

“bodoh”,

namun

karena

memperbaiki nilai.

keyakinan

yang

positif

ia

berusaha

c. Faktor yang mempengaruhi konsep diri

Berbagai faktor yang mempengaruhi proses pembentukan

konsep diri seseorang, seperti :

1.

Pola Asuh Orang Tua

 

Pola

asuh

orang

tua

dapat

mempengaruhi

konsep

diri

yang

terbentuk , sikap positif orang tua akan menumbuhkan konsep dan

pemikiran

yang

positif

serta

sikap

menghargai

diri

sendiri,

sedangkan sikap positif orang tua akan mengundang pertanyaan

pada anak dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup

berharga untuk dikasihi dan disayangi.

 

2.

Kegagalan

 

Kegagalan yang terus menerus seringkali menimbulkan pertanyaan

pada diri sendiri yang berakhir dengan kesimpulan bahwa semua

penyebabnya terletak pada kelemahan diri.

 

3.

Depresi

 

Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran

yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala

sesuatunya.

Orang yang depresi sulit melihat dirinya mampu

menjalani kehidupan selanjutnya dan cenderung mudah tersenyum.

4.

Kritik internal

Kritik terhadap diri sendiri sering berfungsi menjadi regulator atau

rambu-rambu dalam bertindak dan berprilaku agar keberadaan kita

diterima oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.

3. Minat Belajar

a. Pengertian Minat

Definisi minat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

adalah perhatian, kesukaan, kecenderungan hati. Muhibbin Syah

(2008:136) mengatakan bahwa, ”secara sederhana, minat (interest)

berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan

yang besar terhadap sesuatu”. Sementara itu, Slameto (2003:180)

mengatakan:

”Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat”.

Slameto (2003:180) menambahkan, minat terhadap sesuatu

dipelajari

dan

mempengaruhi

belajar

selanjutnya

serta

mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi minat terhadap

sesuatu

merupakan

hasil

belajar

dan

menyokong

belajar

selanjutnya. Walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan

hal yang hakiki untuk dapat mempelajari hal tersebut, asumsi umum

menyatakan

bahwa

mempelajarinya.

minat

akan

membantu

Menurut The Liang Gie (2000:57):

seseorang

“Suatu pelajaran dapat dipelajari dengan baik apabila si pelajar dapat memusatkan seluruh perhatian dan konsentrasinya terhadap pelajaran itu dan minat merupakan salah satu faktor yang memungkinkan konsentrasi tersebut”.

Minat juga merupakan suatu pemusatan perhatian yang tidak

disengaja

yang

tergantung dari

terlahir

dengan

penuh

kemauannya

dan

yang

bakat dan lingkungan. Dalam belajar diperlukan

suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami,

sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak

dapat dilakukan. Terjadilah

suatu

kelakuan

ini

meliputi

seluruh

perubahan kelakuan. Perubahan

pribadi

siswa;

baik

kognitif,

psikomotor

maupun

afektif.

Untuk

meningkatkan

minat,

maka

proses pembelajaran dapat dilakukan dalam

bentuk kegiatan siswa

dan mengalami apa yang ada di lingkungan secara berkelompok.

Minat

merupakan

salah

satu

faktor

penentu

dalam

keberhasilan pendidikan. Dampak dari adanya minat belajar dapat

menumbuhkan metode baru dalam belajar siswa. Belajar dikatakan

berhasil jika dapat menumbuhkan sikap, tingkah laku dan cara

berfikir

dalam

memecahkan

permasalahan-permasalahan

yang

dihadapi. Seorang siswa akan berhasil dalam pelajarannya apabila

dalam diri siswa itu ada keinginan untuk belajar. Minat akan

terbentuk jika ada usaha dari dalam dirinya dan juga ada dorongan

dari luar baik dari guru, keluarga maupun lingkungnnya untuk

menyukai

dan

memperhatikan

pelajaran

fisika

dan

terminat

mengerjakan soal-soal yang diberikan guru.

Sedangkan

menurut

Wayan

Nurkancana(1983:224)

menyatakan bahwa, ”Minat adalah gejala psikis yang berkaitan

dengan objek atau aktivitas yang stimulir, perasaan senang pada

individu”. Dan definisi minat menurut Kurt Singer (1991:78) adalah

”suatu landasan yang paling meyakinkan demi keberhasilan suatu

proses”. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

minat adalah merupakan suatu sikap batin dalam diri seseorang

yang berkaitan dengan perhatian, kesukaan dan perasaan senang

terhadap sesuatu.

Kecenderungan dari manusia ialah ia akan optimal dalam

melakukan pebelajaraanya ketika ia memang menyukai pebelajaran

yang digelutinya. Dengan kata lain dorongan akan pengerjaan dan

hasil yang lebih baik akan lebih terlihat jika ia memang benar

melakukan pebelajaran yang ia minati dibandingkan dengan yang

tidak diminatinya. Demikian pula dalam hal belajar. Siswa akan

terpacu minatnya untuk giat belajar ketika ia measa nyaman dan

mempunyai minat yang tiggi terhadap satu mata pelajaran. Dari sini

akan timbul satu dorongan yang menyebabkan ia akan lebih giat

belajar guna mendapakan hasl belajar yang baik terhadap mata

pelajaran tersebut.

Minat ini biasanya dipengaruhi dorongan dari dalam diri

siswa berupa kesadaran bahwa dia akan lebih menikmati atau lebih

bisa dengan salah satu pelajaran. Kecenderugannya, faktor dari

dalam ini berupa kemampuan atau lebih kepada bakat yang ia bawa

sejak lahir. Jika bakat tersebut sudah terlihat, maka dengan polesan

pendidikan

yang

baik

maka

akan

menghasilkan

unggul,

profesional.

Sedangkan

dari

faktor

luar

seorang

yang

dapat

berupa

lecutan minat dan lingkungan yang menyebabkan dirinya juga

merasa nyaman terhadap satu pelajaran. Lecutan minat tersebut

dapat berupa guru yang mengajar menarik perhatiannya, misalnya

mengajarnya enak dan cepat ditangkap oleh siswa tersebut sehingga

tumbuh minatnya untuk lebih giat belajar dalam pelajaran tersebut.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, minat adalah suatu

sikap batin dalam diri seseorang yang berkaitan dengan perhatian,

kesukaan dan perasaan senang terhadap sesuatu. Minat didasarkan

atas kesukaan individu atas apa yang diinginkannya. Minat berasal

dari dalam diri siswa dan akan sangat berpengaruh terhadap apa

yang akan dilakukan seseorang.

b. Minat Belajar Matematika

Minat belajar adalah perasaan senang, suka dan perhatian

terhadap usaha untuk mendapat ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan

belajar, siswa di sekolah mempalajari berbagai ilmu pengetahuan

dan diusahakan agar semua siswa mendapatkan nilai yang bagus

yang tentunya dapat dicapai dengan memiliki minat belajar yang

tinggi.

Slameto (2003:180) menegaskan bahwa:

”Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting, dan bila siswa melihat bahwa hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar ia akan berminat (dan bermotivasi) untuk mempelajarinya”.

Jelas kiranya bahwa minat merupakan tenaga penggerak

yang dipercaya ampuh dalam proses belajar. Oleh sebab itu, sudah

semestinya pengajaran memberi peluang yang lebih besar bagi

perkembangan minat seorang siswa. Minat erat sekali hubunganya

dengan perasaan suka dan tidak suka, tertarik atau tidak tertarik.

Setelah

mulai

belajar,

hendaknya

setiap

siswa

menaruh

minat belajar yang besar terhadap pelajaran yang diikuti. Suatu mata

pelajaran dapat dipelajari dengan baik bila siswa dapat memusatkan

perhatian terhadap mata pelajaran tersebut. Dan minat merupakan

salah satu faktor yang memungkinkan konsentrasi itu. Dengan minat

belajar yang tinggi siswa, maka hasil akhir dari proses belajar

mengajar tentunya akan menjadi baik.

Dalam kaitannya dengan minat belajar Matematika, mata

pelajaran Matematika tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan.

Apalagi kurangnya pendidik yang menerapkan konsep Matematika.

Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran Matematika serta

kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak

sekolah dan peserta didik.

Minat belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Totok

Santoso (1998:11) mengemukakan faktor-faktor minat belajar siswa

antara lain:

1)

Minat dan cita-cita

Cita-cita merupakan satu titik tujuan yang hendak dicapai

oleh seseorang. Agar cita-cita dapat tercapa maka perlu adanya

usaha dan

dorongan

dari dalam diri seseorang tersebut

yang

kemudian

dinamakan

minat

untuk

konsisten

dalam

usahanya

tersebut. Minat sama halnya dengan minat merupakan dorongan

dari dalam diri untuk berbuat secara maksimal guna mencapai satu

tujuan yang dikehendaki. Minat yang tinggi dari seseorang akan

membangkitkan semangat dan gairah dalam melakukan belajar dan

usaha. Demikian pula dengan belajar, seseorang yang bercita-cita

telah

terminat

belajarnya

untuk

mencapai

satu

tujuan

belajar

berupa nilai yang bagus, sikap yang bagus dan berketerampilan.

2) Sikap terhadap guru atau pelajaran

Sikap positif dan perasaan senang terhadap guru atau pelajaran

tertentu akan membangkitkan dan mengembangkan minat siswa.

Sebaliknya jika membenci guru dan memandang mata pelajaran

terlalu

sukar

akan

memperlemah

minat

belajar

siswa.

Ini

merupakan tugas seorang guru untuk memberikan kenyamanan

siswanya

dalam

belajar.

Siswa

biasanya

ingin

diperhatikan,

diberikan kasih sayang, dan belajar dengan santai tanpa dibebani

berbagai macam tugas yang memusingkan. Untuk itu sikap guru di

dalam

maupun

di

luar

kelas

hendaknya

memberi

kenyaman

siswanya dalam berinteraksi dan menjalin komunikasi, sehingga

persoalan-persoalan yang ada dalam diri siswa terkait dengan

proses belajarnya dapat teridentifikasi untuk nantinya terpecahkan

satu

solusi

jika

belajarnya.

3) Keluarga

siswa

tersebut

mengalami

penurunan

dalam

Dengan adanya perhatian, dukungan dan bimbingan dari orang

tua akan mendorong siswa untuk lebih bersemangat dan menyukai

belajar. Keluarga merupakan tempat dimana pendidikan pertama

diperoleh oleh seorang anak. Keluarga yang baik akan selalu

mendukung anak-anaknya dalam memeperoleh pendidikan yang

optimal. Fungsi keluarga bukan hanya sebagai tempat berlindung

dan

memeberikan

fasi-litas

berupa

materiil

saja,

akan

tetapi

dukungan moril akan lebih efektif dan efisien demi tercapainya

cita-cita

dan

hasil

yang

baik

dalam

belajar.

Per-hatian

dan

bimbingan orangtua mutlak diperlukan dalam pendidikan anak.

4) Guru dan fasilitas sekolah

Cara guru menyajikan materi pelajaran di kelas, penugasan

yang tidak baik membuat minat belajar siswa rendah. Untuk itu,

guru

dalam

mengajar tidak

hanya menggunakan

satu

metode

belajar saja.

Metode mengajar akan mempengaruhi minat siswa

dalam belajarnya. Guru yang monoton biasanya akan menjemukan

siswa. Misalnya dengan ceramah terus-menerus sehingga siswa

kecenderungannya

mengalami

kebosanan

dan

pada

akhirnya

melakukan hal-hal negatif. Demikian juga sarana dan fasilitas

sekolah yang kurang memadai dapat memperlemah minat belajar.

Fasilitas yang ada di sekolah akan memancing siswa betah berada

di sekolah. Tentunya, ketika itu terjadi dapat terlihat aktivitasnya

dan

jika

ia

berminat

terhadap

salah

satu

pelajaran

atau

pun

kegiatan yang ada akan mengasah kemampuannya.

5) Teman pergaulan

Sesuai

dengan

masa

perkembangan

siswa,

apabila

teman

belajar mempunyai minat yang besar dalam belajar, maka timbul

dalam kelompok pergaulan itu kecenderungan untuk mengikuti

dan

memiliki

minat

belajar.

Dan

sebaliknya

apabila

teman

pergaulan tidak memiliki minat untuk belajar maka siswa akan

malas atau minat belajar berkurang.

6) Media massa

Dengan adanya media masa dapat mempengaruhi minat belajar

siswa. Jika berminat untuk menggunakan media tersebut untuk

membantu, maka minat belajar siswa berkembang. (Totok Santoso,

1998: 11)

Dalam rangka meningkatkan minat belajar siswa cara yang

paling efektif adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang

telah ada. Di samping memanfaatkan minat, Tanner&Tanner yang

dikutip Slameto (2003:181) menyarankan:

”Pengaajar hendaknya juga berusaha untuk membentuk minat-minat baru pada diri siswa. Ini dapat dilakukan dengan jalan memberikan informasi pada siswa mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa di masa yang akan datang”.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan minat belajar

adalah perasaan senang, suka dan perhatian terhadap usaha untuk

mendapat ilmu pengetahuan. Dalam kaitannya dengan minat belajar

Matematika maka dapat disimpulkan minat belajar Matematika

siswa adalah perasaan senang, suka dan perhatian terhadap usaha

untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dalam hal ini adalah

Matematika.

B. Kerangka Berpikir

Keramgka berpikir dalam penelitian ini adalah :

1. Pengaruh Konsep diri dan Minat Belajar Siswa Terhadap

Hasil Belajar Matematika Semester Ganjil Pada Siswa Kelas

VIII

Belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Untuk dapat

belajar dengan baik harus mengetahui lebih dahulu metode, teknik,

kemahiran atau cara-cara belajar yang efesien dan dipraktekkan

sehari-hari oleh siswa sampai menjadi suatu kebiasaan.

Matematika merupakan suatu pelajaran yang tidak dapat

dipelajari secara langsung dari lingkungan hidup sehari-hari, tetapi

dapat

secara

tidak

langsung

dari

ahli

matematika.

Salah

satu

kekhususan matematika yang juga merupakan kekuatan metematika

adalah sifat abstraknya. Oleh sebab itu ada berbagai aktivitas yang

dibutuhkan dalam mempelajari matematika, seperti mengabstraksi

dan

mengklasifikasi.

Untuk

belajar

matematika

diperlukan

kemampuan mengklasifikasi struktur-struktur dan mengidentifikasi

hubungan-hubungan.

Materi yang dipelajari secara sistematik akan lebih baik

dan tahan lama pada materi yang dipelajari secara hafalan. Agar

konsep matematika dapat terbentuk dengan lebih baik dalam diri

siswa,

maka

siswa

perlu

belajar

sistematik

dan

meninggalkan

belajar hafalan. Oleh karena itu perlu adanya kebiasaan belajar guna

menekankan pada konsep matematika.

Bila

kebiasaan–kebiasaan

belajar

yang

baik

selalu

dilakukan oleh semua siswa, maka tidak tertutup kemungkinan

semua

siswa

dapat

memperoleh

nilai

yang

tinggi

pada

hasil

belajarnya. Kebiasaan belajar dapat direncanakan membuat jadwal

belajar.

Kebiasaan

belajar

tersebut

dapat

dilaksanakan

dengan

menggunakan

cara–cara

yang

efektif,

misalnya

dengan

membiasakan diri untuk mengulang pelajaran dan membuat catatan,

membiasakan

diri

mengerjakan

soal–soal

latihan

maupun

pekerjaan

rumah,

dengan

demikian

mereka

akan

terbiasa

menghadapai dan mengerjakan soal–soal yang diberikan padanya

pada saat belajar di sekolah. Siswa yang terbiasa membuat jadwal

belajar

dan

selalu

melaksanakan

dengan

baik,

maka

dengan

sendirinya dia akan tahu apa, bagaimana dan untuk apa materi

pelajaran dipelajari. Hal ini secara tidak langsung akan tercipta

disiplin pada diri siswa dan siswa akan berusaha untuk memahami

2.

materi pelajaran yang dipelajarinya

.

Pengaruh Konsep Diri terhadap Hasil Belajar Matematika Semester Ganjil Pada Siswa Kelas VIII

Berhasil

atau

tidaknya

seseorang

siswa

dalam

suatu

pelajaran dapat dilihat dari hasil belajarnya. Hasil belajar tersebut

ditentukan oleh beberapa faktor, baik dalam dirinya maupun dari

luar dirinya. Salah satu faktor dari dalam diri adalah Konsep diri.

Konsep diri berlaku untuk semua kegiatan dan semua bidang.

Konsep diri secara naluri terkandung pada setiap orang walaupun

dengan derajat yang berbeda–beda. Tinggi rendahnya konsep diri

berbeda

beda

untuk

setiap

orang

dan

setiap

bidang

yang

dihadapinya dan dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan

iyang dimiliki.

Adapun ciri kreativitas antara lain; mempunyai inisiatif,

percaya

pada

diri

sendiri,

keinginan

untuk

mendapatkan

pengalaman baru dan berani menanggung risiko. Inisiatif dapat

menyebabkan siswa mampu untuk mencipakan hal–hal yang bar

yang merupakan hasil dari pikiran, baik berupa ide, gagasan

maupun diwujudkan dalam benda konkret. Keberhasilan dalam

menciptakan hal–hal baru tersebut tidak terlepas dari sifat manusia

yang ingin mengaktualisasi dirinya, sehingga akan menimbulkan

kepuasan dan kepercayaan pada diri sendiri.

Matematika sebagai salah satu pelajaran di sekolah juga

melibatkan konsep diri siswa dalam proses pembelajarannya, baik

berupa teoritik maupun dalam obyek yang nyata. Adanya konsep

diri dalam mempelajari metematika akan menimbulkan inisiatif

dan pengalaman baru yang tidak akan terlupakan dalam suatu

konsep

matematika

sehingga

akan

menghasilkan

hasil

belajar

matematika yang tinggi. Berdasarkan uraian di muka maka diduga

terdapat pengaruh positif antara kreativitas dengan hasil belajar

matematika.

3. Pengaruh Minat Belajar Matematika Terhadap Hasil Belajar Matematika Materi Semester Ganjil Pada Siswa Kelas VIII

Belajar

terjadi

dalam

interaksi

dengan

lingkungan,

dalam bergaul dengan orang lain, dan dalam memegang benda.

Namun tidak berarti berada ditengah lingkungan menkreativitas

yang menjamin adanya proses belajar. Oleh karena itu orang

tersebut

harus

aktif

sendiri,

melibatkan

diri

dengan

segala

pemikiran, kemauan dengan perasaannya, atau lebih jauh lagi

dalam belajar diperlukan adanya kreativitas.

Dengan adanya

kreativitas maka terjadi interaksi aktif dengan lingkungan yang

dalam hal ini ditekankan pada lingkungan sekolah yang dikaitkan

dengan proses belajar.

Selain kreativitas yang dimiliki oleh siswa, maka siswa

dalam

berinteraksi

dengan

lingkungan

diperlukan

adanya

kebiasaan belajar. Tanpa adanya kebiasaan belajar maka proses

belajar yang terdapat pada diri siswa tidak akan menjadi kontinu,

sehingga interaksi dengan lingkungan dalam proses belajar tidak

berjalan dengan baik. Dengan demikian kreativitas dan kebiasaan

belajar

merupakan

hal-hal

yang

tercapainya prose belajar.

saling

mendukung

guna

Hasil dari proses belajar adalah hasil belajar. Oleh karena

itu apabila dalam proses belajar terjadi suatu kebiasaan belajar

yang baik dan adanya kreativitas yang baik, maka dengan sendiri

akan mempengaruhi terhadap peningkatan hasil belajar.

Berdasarkan kepada uraian di atas, diperkirakan hasil

belajar siswa dapat ditentukan oleh kebiasaan belajar yang baik

dan teratur yang akan dapat mengembangkan daya kreativitas

siswa dalam mendukung proses belajarnya. Dengan demikian

diduga

terdapat pengaruh yang positif antara kebiasaan belajar

dan kreativitas siswa secara bersama-sama dengan hasil belajar

matematika.

C. Pengajuan Hipotesis

Berdasarkan

kajian

teori

dan

kerangka

berfikir

serta

dengan mempertimbangkan konsep-konsep pokok penelitian yang

lain, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

1. Terdapat

pengaruh

konsep

diri

dan

minat

belajar

secara

bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika

2. Terdapat

pengaruh

matematika

3. Terdapat pengaruh

matematika

konsep

diri

terhadap