Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekitar tahun 1985, telah muncul pula gagasan pembangunan pariwisata Aceh.

Hal ini sungguh sangat masuk akal karena bumi Serambi Mekkah ini memiliki potensi yang sangat besar untuk pembangunan sektor pariwisata. Untuk tujuan tersebut, paling tidak ada 3 (tiga) hal yang menjadi potensi besar yang selama ini tersembunyi, yaitu: Pertama, Sumber Daya Alam, yang terdiri dari panorama yang indah, pantai-pantai berpasir putih, taman laut yang penuh terumbu karang dan ikan hias, dll. Kesemuanya menawarkan keindahan alami (natural beauty), keaslian (original), kelangkaan (scarcity), dan keutuhan (whole-someness). Yang merupakan prasyarat pembangunan pariwisata. Kedua, penduduk Aceh yang berjumlah lebih kurang 4 juta jiwa, terdiri dari eneka ragam etnik yang merupakan pewaris budaya yang beragam. Potensi sumber daya budaya tersebut dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata. Betapa tidak, aneka ragam tarian tradisional, makanan khas, minuman khas, kerajinan tangan, dsb. Termasuk dalam jajaran barang-barang yang dicari dan ingin dilihat oleh wisatawan baik wisatawan nusantara, maupun mancanegara. Ketiga, letak geografis Provinsi Aceh di ujung paling Barat Pulau Sumatera, tepatnya di mulut Selat Malaka dan berhadapan pula dengan Lautan Hindia yang merupakan jalur wisata laut paling sibuk di dunia saat ini, baik bagi pengguna kapal pesiar (cruises) maupun kapal layar (yachts). Pembangunan kepariwisataan di Aceh sangat diperlukan kearifan. Hal ini karena

sebagian masyarakat Aceh masih merasa keberatan terhadap pembangunan pariwisata di daerahnya. Hal ini wajar, mengingat masyarakat Aceh sebagai muslim yang taat dalam menjalankan syariat Islam, selalu menjaga dan memelihara keutuhan syariat Islam sebagai agamanya, karena dalam pandangan kelompok orang tersebut kegiatan pariwisata kebanyakan yang bertentangan dengan syariat Islam karena sebagian dari aktivitas pariwisata jika tidak diawasi dengan baik dan benar akan mengikis nilai-nilai agama dan budaya lokal yang ada.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini,yaitu 1. Jelaskan pengertian pariwisata ? 2. Bagaimana perkembangan pariwisata setelah syariat islam ? 3. Faktor apa mempengaruhi objek pariwisata aceh ?

1.3 Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui objek-objek pariwisata di aceh setelah diterapakan syariat islam dan bagaimana system pengeloalaan pariwisata yang diimpletasikan dalam syariat islam.

BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1 Pengertian Pariwisata Menurut A.J. Burkart dan S. Medik (1987) Pariwisata adalah perpindahan orang untuk sementara dan dalam jangka waktu pendek ke tujuan- tujuan diluar tempat dimana mereka biasanya hlidup dan bekerja dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat-tempat tujuan itu. Menurut Hunziger dan krapf dari swiss dalam Grundriss Der Allgemeinen Femderverkehrslehre, menyatakan pariwisata adalah keserluruhan jaringan dan gejalagejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang asing disuatu tempat dengan syarat orang tersebut tidak melakukan suatu pekerjaan yang penting (Major Activity) yang memberi keuntungan yang bersifat permanent maupun sementara. Menurut Prof. Salah Wahab dalam Oka A Yoeti (1994, 116.). Pariwisata dalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan secara bergantian diantara orang-orang dalam suatu Negara itu sendiri/ diluar negeri, meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain untuk sementara waktu mencari kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya, dimana ia memperoleh pekerjaan tetap.

2.2 Jenis- jenis Pariwisata 2.2.1 Heritage Tourism Menurut Rusli Cahyadi (2009:2),Pariwisata Pusaka atau heritage tourism biasanya disebut juga dengan pariwisata pusaka budaya (cultural and heritage tourism atau cultural heritage tourism) atau lebih spesifik disebut dengan

pariwisata pusaka budaya dan alam. Pusaka adalah segala sesuatu (baik yang bersifat materi maupun non materi) yang diwariskan dari satu generasi ke generasi. Beberapa lembaga telah mendefinisikan heritage Tourism dengan titik berat yang berbeda-beda :

Organisasi Wisata Dunia (World Tourism Organization) mendefinisikan pariwisata pusaka sebagai kegiatan untuk menikmati sejarah, alam, peninggalan budaya manusia, kesenian, filosofi dan pranata dari wilayah lain.

Badan Preservasi Sejarah Nasional Amerika (The National Trust for Historic Preservation) mengartikannya sebagai perjalanan untuk menikmati tempat-

tempat, artefak-artefak dan aktifitas-aktifitas yang secara otentik mewakili cerita/sejarah orang-orang terdahulu maupun saat ini.Pada pasal 1 UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya mendefinisikan Benda Cagar Budaya sebagai berikut: 1.Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. 2.Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pusaka bisa berupa hasil kebudayaan manusia maupun alam beserta isinya. Pariwisata pusaka adalah sebuah kegiatan wisata untuk menikmati berbagai adat istiadat lokal, benda-benda cagar budaya, dan alam beserta isinya di tempat asalnya yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman akan keanekaragaman budaya dan alam bagi pengunjungnya.

a.Wisata Ziarah (Religi) Istilah Religi secara harah berarti kepercayaan akan adanya kekuatan akodrati di atas manusia (Gayatri, 1994). Banyak orang menyamakan religi sebagai agama, pendapat tersebut tidak dapat disalahkan walaupun pada dasarnya pembicaraan tentang religi jauh lebih luas jangkauannya dalam lingkup agama, karena religi sendiri pada dasarnya merupakan suatu fenomena pada segala aspek yang ada di luar kekuatan manusia berupa kepercayaan akan kehidupan lain dan mahluk-mahluk gaib (Gayatri, 1994).
4

Kepercayaan dikatogorikan sebagai berikut : Perjalanan ziarah penganut agama Islam untuk melakukan perjalanan kunjungan umroh dan haji ke kota Mekah dan Madinah. Perjalanan ziarah penganut agama Katolik dari Perancis berkunjung ke Vatican di Roma untuk mengikuti kebaktian perayaan Natal. Perjalanan ziarah penganut agama Hindu di Bali berkunjung ke Pure Besakih untuk mengadakan upacara keagamaan. Perjalanan ziarah penganut agama Budha ke Candi Mendut dan Pawon mengikuti acara Waisak. b. Pariwisata Berkelanjutan National Geograpic Online dalam The Global Development Research Center (2002) mendifinisikan pariwisata berkelanjutan sebagai berikut: 1) Pariwisata yang memberikan penerangan. Wisatawan tidak hanya belajar tentang kunjungan (negara/ daerah yang dikunjungi) tetapi juga belajar bagaimana menyokong kelangsungan karakter (negara/ daerah yang dikunjungi) selama dalam perjalanan mereka. Sehingga masyarakat yang

dikunjungi dapat belajar (mengetahui) bahwa kebiasaan dan sesuatu yang sudah biasa dapat menarik dan dihargai oleh wisatawan. 2) Pariwisata yang mendukung keutuhan (integritas) dari tempat tujuan. Pengunjung memahami dan mencari usaha yang dapat menegaskan karakter tempat tujuan wisata mengenai hal arsitektur, masakan, warisan, estetika dan ekologinya; 3) Pariwisata yang menguntungkan masyarakat setempat. Pengusaha pariwisata melakukan kegiatan yang terbaik untuk mempekerjakan dan melatih masyarakat lokal, membeli persediaan-persediaan lokal, dan menggunakan jasa-jasa yang dihasilkan dari masyarakat lokal. 4) Pariwisata yang melindungi sumber daya alam. Dalam pariwisata ini wisatawan menyadari dan berusaha untuk meminimalisasi polusi, konsumsi energi, penggunaan air, bahan kimia dan penerangan di malam hari. 5) Pariwisata yang menghormati budaya dan tradisi. Wisatawan belajar dan melihat tata cara lokal termasuk menggunakan sedikit kata- kata sopan dari
5

bahasa

lokal.

Masyarakat

local

belajar

bagaimana

memperlakukan

menghadapi harapan wisatawan yang mungkin berbeda dari harapan yang mereka punya. 6) Pariwisata ini tidak menyalahgunakan produk. Stakeholder mengantisipasi tekanan pembangunan (pariwisata) dan mengaplikasikan batas-batas dan teknik-teknik manajemen untuk mencegah sindrom kehancuran (loved to death) dari lokasi wisata. Stakeholder bekerjasama untuk menjaga habitat alami dari tempat tempat warisan budaya, pemandangan yang menarik dan budaya lokal. 7) Pariwisata ini menekankan pada kualitas, bukan kuantitas (jumlah).Masyaraka menilai kesuksesan sektor pariwisata ini tidak dari jumlah kunjungan belaka tetapi dari lama tinggal, jumlah uang yang dibelanjakan, dan kualitas pengalaman yang diperoleh wisatawan. 8) Pariwisata ini merupakan perjalanan yang mengesankan. Kepuasan, kegembiraan pengunjung dibawa pulang (ke daerahnya) untuk kemudian disampaikan kepada teman-teman dan kerabatnya, sehingga mereka tertarik untuk memperoleh hal yang sama- hal ini secara terus menerus akan menyediakan kegiatan di lokasi tujuan wisata. 2.2.2 Jenis-jenis pariwisata menurut James J. Spillane menurut James J. Spillane (1987:29-31) berdasarkan motif tujuan perjalanan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis pariwisata khusus, yaitu : 1. Pariwisata untuk menikmati perjalanan (Pleasure Tourism) Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, mencari udara segar, memenuhi kehendak ingintahunya, mengendorkan ketegangan syaraf, melihat sesuatu yang baru, menikmati keindahan alam, mengetahui hikayat rakyat setempat, mendapatkan ketenangan. 2. Pariwisata untuk rekreasi (Recreation Tourism) Pariwisata ini dilakukan untuk pemanfaatan hari-hari libur untuk beristirahat, memulihkan kembali kesegaran jasmani dan
6

rohaninya, dan menyegarkan diri dari keletihan dan kelelahannya. Dapat dilakukan pada tempat yang menjamin tujuan-tujuan rekreasi yang menawarkan kenikmatan yang diperlukan seperti tepi pantai, pegunungan, pusat-pusat peristirahatan dan pusat-pusat kesehatan. 3. Pariwisata untuk kebudayaan (Cultural Tourism) Jenis ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi, seperti keinginan untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, mempelajari masyarakat adat-istiadat, yang kelembagaan, dan cara hidup

berbeda-beda,

mengunjungi

monumen

bersejarah, peninggalan masa lalu, pusat-pusat kesenian dan keagamaan, festival seni musik, teater, tarian rakyat dan lain-lain. 4. Pariwisata untuk olahraga (Sports Tourism) Pariwisata ini dapat dibagi lagi menjadi dua kategori: a. Big sports events, yaitu peristiwa-peristiwa olahraga besar seperti Olympiade Games, kejuaraan ski dunia, kejuaraan tinju dunia, dan lainlain yang menarik perhatian bagi penonton atau penggemarnya. b. Sporting tourism of the Practitioners, yaitu pariwisata olahraga bagi mereka yang ingin berlatih dan mempraktekkan sendiri seperti pendakian gunung, olahraga naik kuda, berburu, memancing dan lain-lain. 5. Pariwisata untuk urusan usaha dagang (Business Tourism) Menurut para ahli teori, perjalanan pariwisata ini adalah bentuk profesional travel atau perjalanan karena ada kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan yang tidak memberikan kepada seseorang untuk memilih tujuan maupun waktu perjalanan. 6. Pariwisata untuk berkonvensi (Convention Tourism) Pariwisata ini banyak diminati oleh negara-negara karena ketika diadakan suatu konvensi atau pertemuan maka akan banyak peserta yang hadir untuk tinggal dalam jangka waktu tertentu dinegara
7

yang mengadakan konvensi. Negara yang sering mengadakan konvensi akan mendirikan bangunanbangunan yang menunjang diadakannya pariwisata konvensi. 2.2.3. Jenis Parriwisata menurut Gamal Suwantoro Ada berbagai macam bentuk perjalanan wisata menurut Gamal Suwantoro (2004:14-17) bila ditinjau dari berbagai macam segi, yaitu: 1. Segi jumlahnya wisata dibedakan atas: a. Individual tour (wisatawan perseorangan) yaitu suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh satu orang atau pasangan suami istri. b. Family group tour (wisata keluarga) yaitu suatu perjalanan wisata yang dilakukan oleh serombongan keluarga yang masih mempunyai hubungan kekerabatan. c. Group tour (wisata rombongan) yaitu perjalanan wisata yang dilakukan bersama-sama dan dipimpin oleh seseorang. . 2. Segi kepengaturannya wisata dibedakan atas: a. Pre-arranged tour (wisata berencana) yaitu suatu perjalanan wisata yang telah diatur pada jauh hari sebelumnya. b. Package tour (wisata paket atau paket wisata) yaitu suatu produk perjalanan wisata yang dijual oleh suatu perusahaan biro perjalanan. c. Coach tour (wisata terpimpin) yaitu paket perjalanan ekskursi yang dijual oleh biro perjalanan dengan dipimpin oleh seorang pemandu wisata. d. Special arranged tour (wisata khusus) yaitu suatu perjalanan wisata yang disusun secara khusus guna memenuhi permintaan wisatawan atau lebih sesuai dengan kepentingan wisatawan. e. Optional tour (wisata tambahan) yaitu suatu perjalanan wisata tambahan diluar pengaturan yang telah disusun atas permintaan pelanggan. 3. Dari segi maksud dan tujuannya wisata dibedakan atas: a. Holiday tour (wisata liburan) yaitu suatu perjalanan wisata yang diselenggarakan dan diikuti oleh anggotanya guna berlibur, bersenang senang dan menghibur diri.

b. Familiarization tour (wisata pengenalan) yaitu suatu perjalanan yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang mempunyai kaitan dengan pekerjaan. c. Educational tour (wisata pendidikan) yaitu suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran, studi perbandingan ataupun pengetahuan mengenai bidang kerja yang dikunjungi. d. Scientific tour (wisata pengetahuan) yaitu perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah untuk memperoleh pengetahuan atau penyelidikan terhadap suatu bidang ilmu pengetahuan. e. Pileimage tour (wisata keagamaan) yaitu perjalanan wisata yang dimaksudkan guna melakukan ibadah keagamaan. f. Special mission tour (wisata program khusus) yaitu suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan untuk mengisi kekosongan khusus. g. Hunting tour (wisata perburuan) yaitu kunjungan wisata untuk menyelenggarakan perburuan binatang yang diijinkan sebagai hiburan. 4. Dan segi penyelenggaraannya wisata dibedakan atas: a. Excursion (ekskursi) yaitu suatu perjalanan wisata jarak pendek yang ditempuh kurang dari 24 jam guna mengunjungi satu atau lebih objek. b. Safari tour yaitu perjalanan wisata yang diselenggarakan secara khusus dengan perlengkapan khusus yang tujuan maupun objeknya bukan merupakan objek kunjungan wisata pada umumnya. c. Cruize tour yaitu perjalanan wisata dengan menggunakan kapal pesia mengunjungii objek wisata bahari dan objek wisata di darat tetapi menggunakan kapal pesiar. d. Youth tour (wisata remaja) yaitu kunjungan wisata yang khusus diperuntukkan bagi para remaja menurut umur yang ditetapkan. e. Marine tour (wisata bahari) yaitu suatu kunjungan ke objek wisata khususnya untuk menyaksikan keindahan lautan, wreck-diving (menyelam) dengan perlengkapan selam lengkap.

2.3 Unsur-Unsur Pariwisata Menurut James J. Spillane (1987) terdapat lima unsur industri pariwisata yang sangat penting, yaitu : 1. Attractions (daya tarik) Attractions dapat digolongkan menjadi dua yaitu site attractions dan event attractions. Site attractions merupakan daya tarik fisik yang permanen dengan lokasi yang tetap seperti kebun binatang, keraton dan museum. Sedangkan event attractions adalah atraksi yang berlangsung sementara dan lokasinya dapat dipindah dengan mudah seperti festival, pameran atau pertunjukan kesenian daerah. 2. Facilities (fasilitas-fasilitas yang diperlukan). Fasilitas cenderung berorientasi pada daya tarik disuatu lokasi karena fasilitas hares terletak dengan pasarnya. Selama tinggal ditempat tujuan wisata wisatawan memerlukan tidur, makan dan minum oleh karena itu sangat dibutuhkan fasilitas penginapan. Selain itu ada kebutuhan akan support industries seperti toko souvenir, cuci pakaian, pemandu, dan fasilitas rekreasi. 3. Infrastucture (infrastruktur).Daya tarik dan fasilitas tidak dapat dicapai dengan mudah kalau belum ada infrastruktur dasar. Perkembangan infrastruktur perlu untuk mendorong perkembangan pariwisata. Infrastruktur dan suatu daerah sebenarnya dinikmati baik oleh wisatwan maupun masyarakat yang juga tinggal di daerah wisata, maka penduduk akan mendapatkan keuntungan. Pemenuhan atau penciptaan infrastruktur adalah suatu cara untuk menciptakan suasana yang cocok bagi perkembangan pariwisata. 4. Transportations (transportasi ) Dalam pariwisata kemajuan dunia transportasi atau, pengangkutan sangat dibutuhkan karean sangat menentukan jarak dan waktu dalam suatu perjalanan wisata. Transportasi baik darat, udara maupun laut merupakan suatu unsur utama langsung yang merupakan tahap dinamis gejalagejala pariwisata. 5. Hospitality (keramahtamahan) Wisatawan yang berada dalam lingkungan yang tidak mereka kenal memerlukan kepastian jaminan keamanan khususnya untuk wisatawan asing yang memerlukan gambaran tentang tempat tujuan wisata yang akan didatangi. Maka kebutuhan dasar akan keamanan dan perlindungan harus
10

disediakan dan juga keuletan serta kerarnahtamahan tenaga kerja wisata perlu dipertimbangkan supaya wisatawan merasa aman dan nyaman selama perjalanan wisata. 2.4 Pengembangan Pariwisata Pengembangan adalah kegiatan untuk memajukan suatu tempat atau daerah yang

dianggap perlu ditata sedemikian rupa baik dengan cara memelihara yang sudah berkembang atau menciptakan yang baru. Menurut Hadinoto (1996), ada beberapa hal yang menentukan dalam pengembangan suatu obyek wisata, diantaranya adalah: Atraksi Wisata Atraksi merupakan daya tarik wisatawan untuk berlibur. Atraksi yang diidentifikasikan (sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya, dan sebagainya) perlu dikembangkan untuk menjadi atraksi wisata. Tanpa atraksi wisata, tidak ada peristiwa, bagian utama lain tidak akan diperlukan. Promosi dan Pemasaran Promosi merupakan suatu rancangan untuk memperkenalkan atraksi wisata yang ditawarkan dan cara bagaimana atraksi dapat dikunjungi. Untuk perencanaan, promosi merupakan bagian penting. Pasar Wisata (Masyarakat pengirim wisata) Pasar wisata merupakan bagian yang penting. Walaupun untuk perencanaan belum/ tidak diperlukan suatu riset lengkap dan mendalam, namun informasi mengenai trend perilaku, keinginan, kebutuhan, asal, motivasi, dan sebagainya dari wisatawan perlu dikumpulkan dari mereka yang berlibur. Transportasi Pendapat dan keinginan wisatawan adalah berbeda dengan pendapat penyuplai transportasi. Transportasi mempunyai dampak besar terhadap pengembangan pariwisata. volume dan lokasi

11

Masyarakat Penerima Wisatawan yang Menyediakan Akomodasi dan Pelayanan Jasa Pendukung Wisata (fasilitas dan pelayanan).Menurut Suwantoro (1997), unsur pokok yang harus mendapat perhatian guna menunjang pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata meliputi : a) Obyek dan Daya Tarik Wisata Daya tarik wisata yang juga disebut obyek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Pada umumnya daya tarik suatu obyek wisata berdasar pada : 1. Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman dan bersih. 2. Adanya aksesibilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya. 3. Adanya spesifikasi/ ciri khusus yang bersifat langka. 4. Adanya sarana dan prasarana penunjang untuk melayani wisatawan; 5. Obyek wisata alam memiliki daya tarik tinggi (pegunungan, sungai, pantai, hutan dan lain- lain). 6. Obyek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai luhur yang

terkandung dalam suatu obyek buah karya manusia pada masa lampau. b) Prasarana wisata Prasarana wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan dan lain sebagainya. c) Sarana wisata Sarana wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan wisatanya. Berbagai sarana wisata yang harus disediakan di daerah tujuan wisata ialah hotel, biro perjalanan, alat transportasi, restoran dan rumah makan serta sarana pendukung lainnya. 2.5 Dampak dari Pariwisata Dampak merupakan perubahan yang terjadi di dalam suatu lingkup lingkungan akibat adanya perbuatan manusia. Untuk dapat menilai terjadinya dampak, perlu adanya
12

suatu acuan yaitu kondisi lingkungan sebelum adanya aktivitas (Soemarwoto 1988). Oleh karena itu dampak lingkungan adalah selisih antara keadaan lingkungan tanpa proyek dengan keadaan lingkungan dengan proyek. Dampak dari suatu kegiatan pembangunan berpengaruh terhadap aspekaspek sosial, ekonomi dan budaya. 2.5.1 Dampak Pariwisata Menurut Faizun (2009), dampak pariwisata adalah perubahan-perubahan yang terjadi terhadap masyarakat sebagai komponen dalam lingkungan hidup sebelum ada kegiatan pariwisata dan setelah ada kegiatan pariwisata. Identifikasi Dampak diartikan sebagai suatu proses penetapan mengenai pengaruh dari terhadap masyarakat sebelum ada

perubahan sosial ekonomi yang terjadi

pengembangan pembangunan dan setelah adanya pengembangan pembangunan. Menurut Robert Cristie Mill (1990), Secara ringkas kegiatan pariwisata dapat memberikan dampak positif atau negatif di bidang ekonomi: Dampak positif : 1) Terbuka lapangan pekerjaan baru 2) Meningkatkan taraf hidup dan pendapatan masyarakat 3) Meningkatkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing 4) Membantu menanggung beban pembangunan sarana dan prasarana setempat 5) Meningkatkan kemampuan manajerial dan keterampilan masyarakat yang memacu kegiatan ekonomi lainnya. Dampak negatif : 1) Meningkatkan biaya pembangunan sarana dan prasarana 2) Meningkatkan harga barang-barang lokal dan bahan-bahan pokok 3) Peningkatan yang sangat tinggi tetapi hanya musiman, sehingga pendapatan masyarakat naik dan turun 4) Mengalirnya uang keluar negeri karena konsumen menuntut barang-barang impor untuk bahan konsumsi tertentu. 5) Baik secara langsung atau tidak, kegiatan pariwisata yang terjadi di suatu daerah atau wilayah akan memberikan dampak terhadap masyarakat yang tinggal 6) di daerah atau wilayah tersebut. Dampak yang ditimbulkan meliputi dampak fisik, ekonomi, dan sosial.
13

Menurut Triwahyudi (2002), terdapat beberapa manfaat utama pariwisata yaitu: 1. Pariwisata dapat menciptakan diversifikasi produk, menjadikan ekonomi lokal tidak hanya tergantung pada sektor utama. 2. Sektor pariwisata adalah sektor yang padat karya, sehingga dapat menciptakan kesempatan kerja yang besar bagi generasi muda. 3. Pertumbuhan sektor pariwisata menghasilkan penambahan dan perbaikan fasilitas yang tidak hanya digunakan oleh wisatawan, tetapi juga oleh penduduk. 4. Pariwisata menciptakan kesempatan bagi munculnya produk-produk baru, fasilitas pelayanan dan pengembangan bisnis yang sudah ada. 5. Pariwisata dapat mempercepat permukiman pengembangan permukiman. 6. Pariwisata dapat meningkatkan pelayanan transportasi di suatu wilayah. 7. Pariwisata dapat meningkatkan kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi bagi masyarakat. 8. Pariwisata menggaris bawahi kebutuhan pengaturan yang tepat melalui kebijakan dan rencana yang efektif, untuk menjamin kelestarian agar tetap terjaga. 9. Pariwisata dapat meningkatkan interaksi sosial antara masyarakat dengan wisatawan domestik maupun internasional yang akan memperluas wawasan masyarakat setempat. 10. Pariwisata dapat meningkatkan infrastruktur.

14

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pelaksanaan Syariat Islam dalam Pariwisata di Aceh pelaksanaan syariat Islam di Aceh bukan merupakan penghalang pembangunan pariwisata dan menjadi penghambat dalam menarik arus kunjungan wisatawan manca-negara; tetapi justru sebaliknya dengan pelaksanaan syariat Islam, Aceh dapat menunjukkan kepada dunia bahwa norma-norma nilai agama Islam yang benar adalah yang menjadi rahmatan lil alamiin artinya yang menghormati dan menghargai orang/bangsa lain termasuk yang bukan beragama Islam. Berkaitan dengan pembangunan kepariwisataan di Aceh, para pengusaha pariwisata Aceh seharusnya memkiliki titik pandang bahwa penerapan syariat Islam di Aceh akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kepariwisataan Aceh, bukan sebaliknya yaitu menjadi penghambat pariwisata. Hal ini karena dengan adanya nilai-nilai Islami wisatawan akan merasa aman, tenang, damai, selamat ramah tamah dan kemulyaan hidup bersama orangorang Islam yang menjalankan norma-norma keislaman yang benar dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad S.A.W. Hanya saja yang diperlukan adalah suatu Kepastian Hukum terhadap yang benar dan tidak benar, bukan pemberlakuan peraturan dan ketentuan hukum yang tertulis yang mengatur peraturan, ketentuan/hukum yang berlaku tersebut. kemanapun pergi pasti akan mentaati aturan hukum, ketentuan agama dan norma-norma budaya dan adat istiadat yang berlaku di tempat yang dikunjunginya. Jika mereka datang berkunjung ke Aceh dan menerima perlakuan yang baik, bersahabat, serta melihat kerukunan hidup, sopan santun dan tata cara hidup masyarakat Aceh yang Islami sehingga mereka akan tertarik untuk mempraktekkan pola hidup seperti itu dalam hidupnya. Menurut perspektif pengusaha pariwisata, sikap dan pola pikir sebagian masyarakat Aceh yang menganggap pembangunan pariwisata bertentangan dengan syariat Islam perlu dikaji kembali. Hal ini karena tidak dijumpai satu potong dalilpun yang mengharamkan pembangunan pariwisata di muka bumi. Sementara yang dilarang dan haram hukumnya adalah menghadirkan maksiat.

15

3.2 Objek-Objek Pariwisata di Aceh a. Objek-Objek Pariwisata di Aceh barat Objek Wisata Genang-Gedong Salah satu tempat wisata yang berada di Gampong Putim Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat. Bentuk dari GenangGedong ini adalah danau yang dikelilingi oleh pepohonan. Jarak tempuh ke lokasi Genang-Gedong ini 20 Km dari arah kota Meulaboh menuju Banda Aceh Via Geumpang. Luas genangan air ini meliputi 3 desa atau 7ha. Rimbunnya pepohonan akan membuat siapa saja yang datang merasa segar santai dengan tiupan lembut angin Genang-Gedong. Bila anda ingin santai di tempat yang asri, datanglah ke Genang-Gedong, atau bila anda hobi mancing, Genang-Gedong adalah tempat mancing sambil santai bersama keluarga tersayang dengan menikmati soft drink dan lantunan musik Jazz or R&B. Kelayakan di wisata genang-gendong : Layak sebagai tempat pariwisata karena kenyaman dan fasilitas yang diberikan. Pengelolaan syariat islam di wisata genang-gendong : telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam. Objek-objek wisata lainnya di Aceh Barat terdapat lampiran

16

b. Objek Pariwisata di Aceh Barat Daya Taman Nasional Gunung Leuser Aceh

Pada tahun 1934, berdasarkan ZB No. 317/35 tanggal 3 Juli 1934 dibentuk Suaka Alam Gunung Leuser (Wildreservaat Goenoeng Leoser) dengan luas 142.800 ha. Selanjutnya berturut-turut pada tahun 1936, berdasarkan ZB No. 122/AGR, tanggal 26 Oktober 1936 dibentuk Suaka margasatwa Kluet seluas 20.000 ha yang merupakan penghubung Suaka Alam Gunung Leuser dengan Pantai Barat. Pada tahun 1938 dibentuk Suaka Alam Langkat Barat, Suaka Alam Langkat Selatan dan Suaka Alam Sekundur..Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 46/Kpts/VI-Sek/84 tentang Penunjukan Wilayah Kerja Taman Nasional, tanggal 11 Desember 1984, disebutkan bahwa Wilayah Kerja TNGL adalah: Suaka Margasatwa Gunung Leuser Suaka Margasatwa langkat Barat Suaka Margasatwa Langkat Selatan Suaka Margasatwa Sekundur Suaka Margasatwa Kappi Suaka Margasatwa Kluet Taman Wisata Lawe Gurah Taman Wisata Sekundur Hutan Lindung Serbolangit Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas Sembabala

Kelayakan di Taman Nasional Gunung Leuser Aceh: layak Pengelolaan syariat islam Kelayakan di Taman Nasional Gunung Leuser Aceh: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam. Objek-objek wisata lainnya di Aceh Barat daya terdapat lampiran

17

c. Objek Pariwisata di Aceh Besar Makam Laksamana Malahayati Aceh Besar Makam Laksamana Malahayati berada pada bagian puncak bukit kecil. Sekeliling areal makam adalah perladangan penduduk. Pencapaian ke kompleks makam tersebut ditempuh dengan cara menaiki susunan anak tangga semen mulai dari bawah bukit. Areal makam dibatasi pagar tembok dengan pintu masuk berada di timur. Ada tiga makam yang berada dalam satu jirat dan dinaungi oleh satu cungkup. Jirat berbentuk persegipanjang dari semen yang dilapisi keramik putih. Ukuran tinggi jirat dari permukaan tanah sekitarnya adalah 30 cm. Kelayakan di Makam Laksamana Malahayati Aceh Besar : layak Pengelolaan syariat islam di Makam Laksamana Malahayati Aceh Besar : telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Aceh Besar terdapat lampiran

18

d. Objek Pariwisata di Aceh Jaya Danau Laut Nie Pineung Suasa Danau Laut Nie Pineung Suasa adalah sebuah danau di perbukitan Desa Pasi Timon Kecamatan Teunom memiliki keindahan pemandangan alam yang masih natural. Di sekitar danau dikelilingi oleh pohon pinang merah dan aneka macam bunga-bunga yang langka, juga banyak ikan air tawar yang bisa dipancing oleh wisatawan yang berkunjung. Kelayakan di Danau Laut Nie Pineung Suasa: layak Pengelolaan syariat islam di Danau Laut Nie Pineung Suasa: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Aceh Jaya terdapat lampiran

19

e. Objek Pariwisata di Aceh Selatan Air Terjun Air Dingin Air Terjun Air Dingin, begitulah sebutan kawasan wisata yang terletak di desa Lhok Pawoh, Kecataman Sawang, Kabupaten Aceh Selatan. Objek wisata yang tiap harinya ramai dikunjungi masyarakat setempat maupun pendatang ini memili ki area pemandian yang luas, air yang dingin serta panorama alam pegunungan yang indah dan memberi kesegaran. Objek wisata yang berlokasi sekitar 30 kilometer dari Kota Tapak Tuan ini merupakan salah satu tujuan wisata utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain mudah dijangkau karena bertempat di pingiran jalan raya Balang Pidie- Tapak Tuan, di kawasan ini juga terdapat sejumlah rumah makan dan cafe yang menyediakan berbagai ragam makanan dan minuman serta mushalla yang bersih dan terata rapi.Air terjun yang indah, bebataun yang besar dan tinggi seakan telah menjadi ciri khas objek wisata ini. Kawasan pemandian air dingin juga hanya berjarak 100 meter dari pesisir laut yang berpasir putih. Sehingga bagi pengunjung yang ingin mandi dan menikamati panorama laut akan dengan mudah menjangkaunya. Kelayakan Air Terjun Air Dingin: layak Pengelolaan syariat islam di Air Terjun Air Dingin: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Aceh Selatan terdapat lampiran


20

f. Objek Pariwisata di Aceh Singkil Pulau Bengkaru Pulau Bengkaru adalah pulau yang berada di wilayah aceh singkil, berlokasi di kepulauan bangkaru kecamatan pulau banyak. Jarak dengan ibukota kabupaten 48 mil laut dan kecamatan 24 mil laut. Prasarana perhubungan cukup baik, untuk menuju kesana para wisatawan cukup dengan menggunakan jasa penyebrangan kapal feri atau speed boat.diantara Daya tarik di pulau bengkaru adalah penangkaran penyu hijau. Aktivitas lain yang bisa dilakukan disana oleh para wisatawan adalah bermain selancar, berenang dan snorkeling Kelayakan Pulau Bengkaru: layak Pengelolaan Pulau Bengkaru: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Aceh Singkil terdapat lampiran

21

g. Objek Pariwisata di Aceh Tamiang Bukit Karang Bukit Kerang merupakan obyek wisata yang unik dari Kabupaten Aceh Tamiang, dimana Bukit Kerang ini adalah kumpulan dari kerang-kerang yang sangat banyak sehingga menyerupai bukit. Bukit Kerang ini juga terdapat di desa lainnya di Kabupaten ini yaitu di Desa Pangkalan, Kec.Kejuruan Muda, yang merupakan salah satu situs purbakala, dimana telah ditemukan fosil-fosil manusia purba yang telah hidup ribuan tahun yang lampau. Kelayakan Bukit Karang: layak Pengelolaan Bukit Karang: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Aceh Tamiang terdapat lampiran

22

i.Objek Pariwisata di Aceh Tenggara Ketambe berada Kira-kira 20 Km sebelah barat Kutacane. Tempat ini merupakan cagar alam hayati yang dikelilingi oleh tumbuh-tumbuhan besar yang didalam terdapat hewan-hewan tropis yang sebagian merupakan hewan yang dilindungi di dunia. Dipinggirnya mengalir sebuah induk sungai yang diberi nama Sungai Alas yang di ambil dari nama suku yang mendiami daerah tersebut. Pemandangan alam yang masih alami dan belum tersentuh oleh tangan manusia dapat dijumpai di tampat ini. Tempat ini juga banyak dijadikan sebagai bahan penelitian khususnya di bidang flora dan fauna oleh beberapa lembaga penelitian nasional maupun internasional. Suasana Ketambe yang masih asri dan nyaman, membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh turis lokal dan mancanegara. Ditambah lagi dengan suasana hutan yang lebat dan suara-suara hewan yang hidup di hutan ini menambah keinginan dari turis-turis mancanegara untuk mengunjunginya. Suasana pegunungan yang curam di sekitar Ketambe juga membuat ketertarikan tersendiri bagi mereka yang hobi mendaki gunung, ditambah dengan keunikan dan sumber daya alam nabati yang melimpah dan belum terjamah oleh tangan manusia yang cocok dijadikan sebagai bahan penelitian. Kelayakan Katambe: layak Pengelolaan Katambe: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Aceh Tenggara terdapat lampiran

23

J. Objek Wisata di Sabang Tugu Nol Kilometer di Aceh, Sabang. Tempat ini berada di Sabang dan Anda akan mendapatkan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Melangkahkan kaki sampai titik nol

negara Indonesia. Tidak perlu mencari tersebut, bingung di mana untuk titik disini

karena

terdapat sebuah tugu yang menandakannya. Namanya Tugu Nol Kilometer.

Disini Anda tidak hanya dapat berfoto saja, ketika Ada telah sampai di sana, Anda pun juga bisa mendapatkan sertifikat. Merupakan sebuah tanda bahwa Anda sudah pernah menjejakkan kaki di titik nol negara Indonesia. Di depan tugu, Anda dapat menyaksikan pemandangan dari Selat Malaka serta tebing di pinggiran Pulau Weh yang begitu memesona.

Kelayakan Tugu Nol Kilometer : layak Pengelolaan Tugu Nol Kilometer: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di Sabang terdapat lampiran

24

K. Objek Wisata di Bireun Wisata Krueng Shimpo Bireuen

Lokasi parkir lumayan padat meskipun waktu baru menunjukkan pukul 10.00 tak hanya kendaraan pribadi roda dua dan empat, puluhan angkutan umum tampak bersandar rapi di barisan parkir yang berada kurang dari seratus meter dengan aliran sungai. Tak kalah menariknya, keramaian pedagang menjajakan aneka makanan maupun minuman tertentu, telah memadati pinggiran bantaran Krueng Shimpo. Dilengkapi kursi dan meja untuk melayani pembeli, tampilan warna-warna mencolok kian menambah aksen tersendiri yang menimbulkan rasa nyaman bagi wisatawan berkunjung.

Kelayakan Krueng Shimpo: layak Pengelolaan Krueng Shimpo: telah diterapkan syariat islam karena tidak tersedia fasilitas yang melanggar syariat islam.

Objek-objek wisata lainnya di bireun terdapat lampiran

25

BAB IV PENUTUP Kepariwisataan tidak pernah mengizinkan adanya praktek-praktek yang bertujuaN merusak aqidah dan pendangkalan syariat dimanapun. upaya-upaya segelintir orang, termasuk orang lokal sendiri yang menjadi pendukung terjadinya. praktek-praktek yang dilarang . Didalam menjalankan kegiatan pariwisata, masyarakat tidak hanya melayani keinginan wisatawan sebagaimana didengungkan oleh slogan Sapta Pesona, masyarakat hendaknya bertindak lebih dari itu, yaitu harus menjadi tuan rumah yang baik. Tuan Rumah yang baik adalah yang mampu memberikan contoh teladan yang benar dan sesuai dengan aturan agama dan nilai-nilai syariat yang berlaku. Berikan masukan tentang anjuran dan larangan yang sesuai dengan syariat kepada wisatawan jika yang dilakukan itu salah. Jangan pernah segan memberikan peringatan kepada wisatawan yang kedapatan berpakaian minim, makan sambil jalan, misalnya, jika hal itu melanggar aturan agama. Lakukanlah dengan sopan dan lemah lembut serta kita sebagai orang Aceh harulah memberikan contoh yang benar terlebih dulu.

26

DAFTAR PUSTAKA

Schmell, G.A. (1987), Tourism Promotion, London: Tourism Press. ------------ Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh http://anakrantauacehselatan.blogspot.com/ http://tempatwisataaceh.blogspot.com/

27