Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENANGGULANGAN BENCANA TSUNAMI ACEH

Dibuat sebagai Syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Lingkungan Pemukiman dan Industri

Disusun Oleh: Dian Kurniasari Awanda Shafa Zulinar Firdaus Mellytia Ayu K Laksmi Prihastiwi Sudiyanti Esti Supriatin 25010111130111 25010111130112 25010111130113 25010111130114 25010111130115 25010111130117 25010111130118

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat penyertaan dan bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sebagai tugas pada mata kuliah Kesehatan Lingkungan Pemukiman dan Industri dengan judul makalah Makalah Penanggulangan Bencana Tsunami Aceh Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Kesehatan Lingkungan Pemukiman dan Industri.Penulis

mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan makalah ini.

Semarang,13 Mei 2013

PENULIS

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................... i Kata Pengantar .............................................................................. ii Daftar isi ........................................................................................ iii BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang ...................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................ 2 BAB II Pembahasan A. Pengertian Bencana .............................................................. 3 B. Mitigasi Bencana .................................................................. 4 C. Koordinasi dan Manajemen Bencana .................................................... 6
D. Tombolo ................................................................................................ 10 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................................... 11 B. Saran ..................................................................................................... 11

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berbagai bencana yang telah terjadi di Indonesia memberikan banyak pembelajaran bagi masyarakat Indonesia dan dunia bahwa banyaknya korban jiwa dan harta benda dalam musibah tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan dan ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. Disamping itu, kejadiankejadian bencana tersebut pun semakin menyadarkan banyak pihak tentang pentingnya perencanaan dan pengaturan dalam penanggulangan bencana. Pengalaman terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias (Sumatera Utara) tahun 2004 telah membuka wawasan pengetahuan di Indonesia dan bahkan di dunia. Kejadian tersebut mengubah paradigma manajemen penanggulangan bencana dari yang bersifat tanggap darurat menjadi paradigma pencegahan dan pengurangan risiko bencana (PRB). Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia dilakukan pada berbagai tahapan kegiatan dan intervensi, yang berpedoman pada kebijakan pemerintah yaitu Undang-Undang No.24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah terkait lainnya. Pentingnya pemahaman mengenai manajemen bencana akan menjadi landasan atau dasar dalam mengembangkan intervensi pengurangan risiko bencana dalam penanggulangan bencana. Pengalaman terjadinya bencana di berbagai daerah, baik bencana alam dan non alam membuktikan bahwa wilayah Indonesia sangat berpotensi tinggi terhadap bencana. Kejadian bencana tsunami di Aceh, Nias, Pangandaran, dan gempa bumi di Yogyakarta, Padang dan Mentawai, serta banjir bandang di Wasior, Irian Jaya merupakan beberapa bencana yang pernah terjadi di Indonesia. Hal ini menunjukkan faktor-faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya bencana selain kondisi alam adalah kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap bencana.

Indonesia terletak pada tiga lempeng bumi ( Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik) sehingga dari posisi geografis ini memberikan dampak keuntungan dengan berlimpahnya sumberdaya alam seperti minyak bumi, batu bara, lautan dan hutan yang luas, namun sebaliknya juga bahaya bagi makhluk hidup yang tinggal di atasnya. Berbagai macam bahaya yang berpotensi menimbulkan bencana memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga penanganan terhadap setiap bencana pun berbeda. Untuk itu, identifikasi karakteristik dan potensi bencana baik yang ada di Indonesia maupun lingkungan sekitar sangat diperlukan sebagai pengetahuan terhadap pengurangan risiko bencana.

B. Rumusan Masalah 1. Apa yang disebut bencana ? 2. Apa upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan jumlah korban bencana ? 3. Apa yang diperlukan dalam koordinasi dan manajemen penanganan bencana? 4. Apa yang dimaksud tombolo?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Bencana Bencana adalah peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang

mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar. (Depkes RI). Bencana adalah setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. (WHO) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. (UU Nomor 24 Tahun 2007). Bencana dibagi 3: 1. Bencana alam, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempabumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor 2. Bencana non-alam, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. 3. Bencana sosial, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Tsunami Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti "pelabuhan", dan nami berarti "gelombang", sehingga tsunami dapat diartikan sebagai "gelombang

pelabuhan". Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang dibangkitkan oleh macam-macam gangguan di dasar samudra. Gangguan ini dapat berupa gempa bumi, pergeseran lempeng, atau gunung meletus. Tsunami tidak kelihatan saat masih berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal, gelombangnya yang bergerak cepat ini akan semakin membesar. Tsunami juga sering disangka sebagai gelombang air pasang. Ini karena saat mencapai daratan, gelombang ini memang lebih menyerupai air pasang yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai secara alami oleh tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama sekali tidak berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut. Karena itu untuk menghindari pemahaman yang salah, para ahli oseanografi sering menggunakan istilah gelombang laut seismik (seismic sea wave) untuk menyebut tsunami, yang secara ilmiah lebih akurat. B. Mitigasi Bencana Mitigasi yaitu usaha untuk mengurangi dan / atau meniadakan korban dan kerugian yang mungkin timbul, maka titik berat perlu diberikan pada tahap sebelum terjadinya bencana, yaitu terutama kegiatan penjinakan / peredaman atau dikenal dengan istilah mitigasi. Mitigasi pada prinsipnya harus dilakukan untuk segala jenis bencana, baik yang termasuk ke dalam bencana alam (natural disaster) maupun bencana sebagai akibat dari perbuatan manusia (man-made disaster). Tujuan utama mitigasi ini adalah sebagai berikut : 1. Mengurasi resiko berkurangnya korban jiwa 2. Sebagai landasan untuk perencaan pembangunan. 3. Memberitahukan masyarakat dampak dan usaha untuk mengurangi dampak bencana alam.

Mitigasi Tsunami Tsunami tidak mungkin dicegah, tetapi mungkin dikurangi resikonya. Tindakan untuk mengurangi resiko bencana tsunami dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok, yaitu : 1. Sistem peringatan dini, meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan deteksi dini penyebab tsunami, kemungkinan timbulnya tsunami, prediksi penyebaran tsunami, penyampaian informasi secara tepat dan akurat. Dengan sistem peringatan dini yang mapan, proses evakuasi dapat dilakukan sedini mungkin sebelum gelombang tsunami mencapai wilayah-wilayah yang bersangkutan. 2. Prosedur evakuasi, meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan penduduk ke wilayah yang aman sebelum gelombang tsunami mencapai area yang bersangkutan. Termasuk dalam hal ini adalah pendidikan kepada masyarakat mengenai tanda-tanda datangnya gelombang tsunami, latihan evakuasi secara regular untuk melatih reflek masyarakat melakukan penyelamatan diri, simulasi dan perencanaan jalur-jalur evakuasi yang paling efisien, serta pembuatan bangunan khusus untuk penyelamatan diri. Dengan prosedur evakuasi diminimalkan. 3. Perlindungan pantai, meliputi segala kegiatan yang berkaitan dengan upaya mengurangi atau meredam energi gelombang tsunami di wilayah pantai sehingga limpasan energi gelombang tsunami ke arah daratan dapat diminimalkan. Termasuk dalam hal ini adalah perencanaan, perancangan, atau rekayasa bangunan peredam gelombang dari batu, beton, atau peredam alami dari tanaman pantai. Apabila rancangan komposisinya tepat, maka struktur peredam gelombang tersebut dapat mengurangi tinggi limpasan gelombang semaksimal mungkin. 4. Perencanaan tata ruang pantai, meliputi kegiatan penetapan wilayah pemukiman dan industri yang aman dari serangan gelombang tsunami, serta pembuatan model tata ruang kampung pantai yang memudahkan evakuasi yang efektif dan efisien, jumlah korban dapat

apabila terjadi serangan gelombang tsunami, namun tetap mendukung aktifitas masyarakat secara umum. Dengan demikian, maka kerugian yang mungkin timbul akibat limpasan gelombang Tsunami telah dapat

diminimalkan sejak awal. C. Koordinasi dan Manajemen Bencana Manajemen bencana pada dasarnya berupaya untuk menghindarkan masyarakat dari bencana baik dengan mengurangi kemungkinan munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan. Manajemen bencana sebagai sebuah kepentingan publik yang bertujuan untuk mengurangi korban nyawa dan kerugian harta benda. Substansi dari manajemen bencana ini adalah adanya suatu langkah konkrit dalam mengendalikan bencana sehingga korban yang tidak diharapan dapat terselamatkan, dan upaya untuk pemulihan pasca bencana dapat dilakukan dengan cepat dan efektif. Manajemen bencana yang didefinisikan sebagai aplikasi ilmu pengetahuan yang secara sistematik mengamati dan menganalisis bencana yang meliputi tahapan : pencegahan, mitigasi, perencanaan sistematis terhadap keadaan darurat, tanggap darurat, dan recovery (rekonstruksi) sebagai siklus. Pada kasus tsunami, beberapa bidang khusus pengelolaan yang perlu diperhatikan meliputi : 1. Kerusakan yang berat dan berkala besarmenyebabkan pula perlunya segera dilakukannya pencarian dan penyelamatan, serta bantuan obat-obatan dan penampungan sementara dalam skala yang besar pula. 2. Masalah politis agar dapat dipinggirkan sementara agar dapat memudahkan akses dan pergerakan bantuan kemanusiaan. 3. Kerusakan infrastruktur dan gangguan fasilitas pelayanan umum menjadi prioritas untuk segera dipulihkan agar dampak sosial tidak membesar. 4. Recovery mencakup perbaikan dan pembangunan kembali memerlukan energi dan biaya yang tinggi, serta waktu yang lama 5. Kejadian yang jarang menyebabkan kesulitan dalam meningkatkan kepedulian masyarakat dan usaha mitigasi pada saat kondisi normal

Dalam upaya menerapkan manajemen penanggulangan bencana, dilaksanakan melalui 3 tahapan sebagai berikut: 1. Tahap pra-bencana yang dilaksanakan ketika sedang tidak terjadi bencana dan ketika sedang dalam ancaman potensi bencana 2. Tahap tanggap darurat yang dirancang dan dilaksanakan pada saat sedang terjadibencana. 3. Tahap pasca bencana yang dalam saat setelah terjadi bencana. Dalam keseluruhan tahapan penanggulangan bencana tersebut, ada 3 manajemen yang dipakai yaitu : 1. Manajemen Risiko Bencana Adalah pengaturan upaya penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang mengurangi risiko secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh pada saat sebelum terjadinya bencana dengan fase-fase antara lain : a) Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. b) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. c) Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Dalam fase ini juga terdapat peringatan dini yaitu serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepadamasyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang 2. Manajemen Kedaruratan Manajemen kedaruratan adalah pengaturan upaya penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor pengurangan jumlah kerugian dan korban serta

penanganan pengungsi secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh pada saat terjadinya bencana dengan fase nya yaitu : a) Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. 3. Manajemen pemulihan Manajemen pemulihan adalah pengaturan upaya penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana secara terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh setelah terjadinya bencana dengan fase-fasenya nya yaitu : a) Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. b) Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana

dansarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkatpemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh danberkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hokum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segalaaspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah

pascabencana. Untuk menangani masalah bencana dikenal dengan penanggulangan bencana yaitu siklus kegiatan yang saling berkaitan mulai dari pencegahan, kegiatan mitigasi, kegiatan kesiapsiagaan, kegiatan tanggap darurat, kegiatan pemulihan serta kegiatan

pembangunan. Semua kegiatan dari tanggap darurat , pengumpulan data dan informasi serta pembangunan merupakan kegiatan dalam menghadapi kemungkinan bencana.Tahap ini saling berkaitan dan merupakan lingkaran atau siklus dalam manajemen bencana. Secara periodik, Indonesia membangun sistem nasional penanggulangan bencana. Sistem nasional ini mencakup beberapa aspek antara lain : 1. Legislasi Dari sisi legislasi, Pemerintah Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Produk hukum di bawahnya antara lain Peraturan Pemerintah , Peraturan Presiden, Peraturan Kepala Kepala Badan, serta peraturan daerah. 2. Kelembagaan Kelembagaan dapat ditinjau dari sisi formal dan non formal. Secara formal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merupakan focal point lembaga pemerintah di tingkat pusat. Sementara itu, focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi dan kabupaten/kota adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Dari sisi non formal, forum-forum baik di tingkat nasional dan lokal dibentuk untuk memperkuat penyelenggaran penanggulangan bencana di Indonesia. Di tingkat nasional, terbentuk Platform Nasional (Planas) yang terdiri unsur masyarakat sipil, dunia usaha, perguruan tinggi, media dan lembaga internasional. Pada tingkat lokal, kita mengenal Forum PRB Yogyakarta dan Forum PRB Nusa Tenggara Timur. 3. Pendanaan Saat ini kebencanaan bukan hanya isu lokal atau nasional, tetapi melibatkan internasional. Komunitas internasional mendukung Pemerintah Indonesia dalam membangun manajemen penanggulangan bencana menjadi lebih baik. Di sisi lain, kepedulian dan keseriusan Pemerintah Indonesia terhadap masalah bencana sangat tinggi dengan dibuktikan dengan penganggaran yang signifikan khususnya untuk pengarusutamaan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan.

Berikut beberapa pendanaan yang terkait dengan penanggulangan bencana di Indonesia: a) Dana DIPA (APBN/APBD) b) Dana Kontijensi c) Dana On-call d) Dana Bantual Sosial Berpola Hibah e) Dana yang bersumber dari masyarakat f) Dana dukungan komunitas internasional

D. Tombolo Tombolo adalah tanggul pasir alami yang menghubungkan daratan dengan pulau yang berada dekat pantai. Tombolo dapat terbentuk pada laut dangkal yang tidak terganggu oleh arus laut. Tombolo adalah gundukan pasir yang muncul bisa secara alami dan buatan karena pengaruh gelombang yang mengalami difraksi, biasanya terjadi pada pesisir pantai. (bagus,2012).

Gb. Tombolo Pembuatan off shore breakwater sangatlah berperan penting dalam menjaga kesetabilan pantai, fungsi utama dari pembuatan breakwater lepas pantai pada umumnya sebagai penahan dari kekuatan gelombang yang besar yang bisa berdampak pada erosi dan abrasi pesisir pantai, bahkan dewasa kini pemanfaatan off shore breakwater sudah dialih fungsikan sebagai penangkap sedimen tersuspensi agar menjaga kesetabilan pantai dan sebagai pembuat daerah baru yang bisa digunakan dengan baik, karena off shore breakwater ini bisa menciptakan daerah baru yang sering disebut tombolo dari hasil penjebakan pada sedimen tarsuspensi sehingga akan terlihat adanya perubahan garis pantai yang drastis.
10

Mekanis terbentuknya tombolo pada suatu daerah pesisir adalah gelombang yang besar akan menjalar dari perairan dalam ke perairan dangkal, karena efek sholing maka gelombang akan mengalami refraksi gelombang, karena adanya bangunan pantai yaitu off shore breakwater maka gelombang yang menjalar tersebut akan membentur dinding penghalang adapun efek yang terjadi adalah difraksi dan refraksi, gelombang yang mengalami difraksi adalah gelombang yang membentur di ujung off shore breakwater dan akan mengalami pembelokan gelombang dan arus kebelakang breakwater tersebut, kareana gelombang membawa partikel sedimen maka suspensi tersebut akan terperangkap pada bagian belakang off shore breakwater tersebut dan terbentuklah tombolo yang bisa dikatakan mempengaruhi perubahan garis pantai, yaitu menambah atau majunya jarak garis pantai. Dalam pembentukan tombolo aliran sedimen sepanjang pantai baik dari daratan utama maupun dari lepas pantai mempunyai peranan yang penting. Arah aliran sedimen dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain arah arus laut , kedalaman laut, morfologi pantai dan perairan, serta bentuk dan kedudukan pulau terhadap garis pantai daratan utama. Pembentukan tombolo ada di Dubai Jumeirah Beach, Dubai, di daerah marine parade road victoria jr college, Singapura. Di Indonesia kenampakan tombolo dan tanjung dapat dijumpai di Pulau Bali dengan pulau kecil di bagian selatan dan Selat Muria dengan Kendeng Utara. Dahulu kala, Pulau Muria dan Pulau Lasem

merupakan suatu pulau yang terpisah dari daratan Pulau Jawa. Laut yang memisahkan adalah Selat Muria, akibat proses pengangkatan dan sedimentasi laut (Tombolo), akhirnya tersambung menjadi bagian dari Pulau Jawa. Wilayah sempit Jimbaran merupakan tombolo yang menghubungkan Pulau Bali dengan pulau kecil di bagian selatan. Dataran tombolo/selat muria berpotensi terhadap bencana banjir. Hal ini disebabkan oleh : 1. Merupakan suatu hamparan dataran yang cukup luas, 2. Kemiringan muka tanah sangat kecil, aliran air sungai tidak dapat mencapai laut dengan cepat,

11

3. Jaringan sungai pematus (drainage channel) relatif sedikit, 4. Kemampuan pemeliharaan fungsi sungai terbatas (termasuk perawatan tanggul-tanggul, pintu pengatur, dll), 5. Kesadaran masyarakat dalam memelihara fungsi sungai perlu ditingkatkan, khususnya yang tinggal di sekitar sungai-sungai. Salah satu penyebab utama wilayah tombolo sering mengalami banjir adalah adanya penyempitan sungai contohnya di daerah Pegunungan Muria dan Kendeng Utara. Dalam peta Jawa Dwipa yang menggambarkan Jawa pada zaman purba (Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung, 1930), Jawa Tengah bagian timur terbagi menjadi kawasan Pegunungan Muria dan Nusa Kendeng. Kedua pegunungan itu dipisahkan Selat Muria, yang endapan dan rawa-rawanya kini menjadi Kudus dan Pati. Proses pengendapan terjadi mulai abad XVI. Kawasan-kawasan itu dialiri sejumlah sungai besar, seperti Sungai Juwana di Pati serta Sungai Wulan, Babalan, Logung, Jeratun, Piji, Gelis, Praholo, dan Ngembal di Kudus. Dari semua sungai itu yang merupakan sungai purba adalah Sungai Juwana, Babalan, dan Jeratun (keduanya disebut Bengawan Juana), dan Sungai Wulan (Kali Tanggulangin). Sekarang ini, kondisi sungai-sungai utama tersebut sangat memprihatinkan karena semakin menyempit dan mendangkal. Sehingga ketika intensitas air hujan yang turun berlebihan, sungai-sungai tersebut tidak bisa menampung air dan meluap. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi keadaan ini adalah dengan normalisasi Sungai Juwana yang dilakukan sejak tahun 2009, namun hingga sekarang pun belum mampu mengatasi banjir sehingga perlu penanganan dari hulu hingga hilir. Selain itu penghijauan di daerah pegunungan Muria juga mulai di tegakkan. Mereka menerapkan pertanian berbasis agro forestry atau tumpangsari wanatani dan diversifikasi usaha pertanian. Untuk tanaman tegakan, mereka menanam jati, sengon, dan mahoni di hutan rakyat, lahan pertanian terbuka, bantaran sungai, daerah sekitar sumber mata air, dan lahan gundul. Adapun untuk tanaman penunjang ekonomi, mereka membudidayakan kopi, kakao, kepulaga, bambu, dan jeruk pamelo.

12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan, yaitu : 1. Bencana adalah sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan 2. Tindakan untuk mengurangi resiko bencana tsunami, yaitu : sistem peringatan dini, prosedur evakuasi, perlindungan pantai dan perencanaan tata ruang pantai 3. Manajemen bencana meliputi tahapan : pencegahan, mitigasi,

perencanaan sistematis terhadap keadaan darurat, tanggap darurat, dan recovery (rekonstruksi) sebagai siklus. 4. Tombolo adalah tanggul pasir alami yang menghubungkan daratan dengan pulau yang berada dekat pantai. Contoh: daerah Selat Muria dengan Kendeng Utara. Daerah ini rawan terjadi banjir. Upaya yang telah dilakukan adalah penghijauan dan dengan normalisasi sungai.

B. Saran Posisi Indonesia yang terletak pada tiga lempeng bumi ( Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik) mengakibatkan Indonesia rawan terjadi bencana. Oleh sebab itu pengetahuan menegenai manajemen bencana diperlukan untuk mengurangi resiko bencana.

13