Anda di halaman 1dari 89

108

BAB V PERENCANAAN

BAB V

PERENCANAAN KONSTRUKSI
5.1. Tinjauan Umum
Perencanaan irigasi tambak didasarkan atas kelayakan teknis di lokasi
perencanaan. Selanjutnya perencanaan diarahkan pada efisiensi dan kemudahan
operasional tambak sehingga dapat memberikan tingkat keuntungan yang
maksimal. Selain itu hal-hal teknis yang menyangkut tentang aliran air yang
masuk dan keluar tambak harus diperhatikan agar sirkulasi air bisa berjalan
dengan baik dan kualitas air dalam tambak bisa terjaga.

5.2. Lay Out Jaringan Saluran


Sebelum dilakukan perhitungan secara detail, terlebih dahulu dibuat lay-out
jaringan salurannya. Pembuatan lay-out jaringan saluran ini harus disesuaikan
dengan kondisi topografi, tata guna lahan, kondisi bangunan existing, kondisi
tanah dan lain-lain. Pertimbangan teknis yang harus diperhitungkan dalam lay-out
saluran pada tata saluran untuk irigasi tambak adalah bahwa volume air yang
masuk ke dalam saluran sekunder harus dapat mengairi/memenuhi kebutuhan air
dalam tambak selama masa pasang air laut.
Saluran air pada tambak yang lazim di Indonesia dan yang sudah lama
dibangun mempunyai fungsi ganda yaitu untuk mengisi air pada waktu air laut
pasang dan membuang air pada waktu surut. Dengan makin majunya teknologi
budidaya, saluran pemasukan dan pengeluaran kemudian dibuat terpisah untuk
menghindari pencampuran air buangan (air yang sudah busuk) dengan air segar ke
dalam tambak.
Pembuatan saluran pemasukan dan pengeluaran yang dibuat terpisah
menjadi penting karena tambak yang dilakukan secara intensif maupun semi
intensif biasanya padat penebaran benihnya tinggi dan diikuti dengan pemberian
pakan tambahan untuk menunjang pertumbuhan ikan atau udang yang dipelihara.
Konsekuensi dari padat penebaran benih yang tinggi dan pemakaian pakan
tambahan adalah air tambak cepat menjadi kotor karena sisa pakan dan kotoran
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

109

ikan dan udang yang dipelihara. Oleh karena itu, tambak yang diusahakan secara
intensif harus sering diganti airnya.
Pada perencanaan irigasi tambak di Sungai Tenggang ini, direncanakan
menggunakan saluran pasok dan saluran pematusan terpisah. Tambak yang akan
direncanakan ini terletak di Kelurahan Terboyo Kulon dan Terboyo Wetan dan
teletak berdekatan dengan Sungai Tenggang dan Sungai Sringin sehingga
memungkinkan untuk dibuat saluran pasok dan pematusan yang terpisah.
Dengan menggunakan pertimbangan bahwa muara sungai yang mempunyai
kualitas air yang lebih baik digunakan sebagai saluran utama bagi saluran pasok
dan muara sungai yang mempunyai kualitas air yang kurang baik digunakan
sebagai saluran utama bagi saluran pematusan. Karena keterbatasan data kualitas
air yang ada, maka diasumsikan bahwa di muara Sungai Tenggang, kualitas
airnya lebih baik daripada muara Sungai Sringin. Untuk itu, saluran utama saluran
pasok adalah Sungai Tenggang dan saluran utama saluran pematusan adalah
Sungai Sringin.
Untuk batasan tambak yang akan direncanakan adalah kelompok tambak
yang ada di kanan dan kiri Sungai Tenggang dengan batas-batas sbb :
Utara : Pantai/pesisir Laut Jawa
Timur : Sungai Sringin
Selatan : Jalan Arteri Utara
Barat : Sungai Banjir Kanal Barat
Untuk lay-out jaringan irigasi tambak dan skema jaringan irigasi
ditampilkan dalam Lampiran.

5.3. Rencana Tambak


5.3.1. Petak Tambak
Dalam perencanaan tata letak unit tambak, beberapa hal pokok yang menjadi
perhitungan adalah jaminan irigasi, kemudahan operasional dan optimalisasi
pemanfaatan lahan. Untuk menghemat jumlah saluran tersier yang ada, maka
dilakukan pengelompokan-pengelompokan tambak sehingga nantinya tiap-tiap
kelompok tambak menggunakan satu saluran tersier. Luasan tambak setelah

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

110

BAB V PERENCANAAN

dikelompokkan berkisar antara 2 17 ha. Pengelompokan tambak yang dipasok


oleh masing-masing saluran sekunder dapat dilihat pada Tabel 5.1
Tabel 5.1. Pengelompokan Tambak pada masing-masing saluran
NAMA
SALURAN
RK I

RK II

RK III
RK IV

NAMA

LUAS AREAL

TAMBAK

(HA)

K.I.1.Ki
K.I.1.Ka

2.5
4.6

K.I.2.Ki

9.3

K.I.2.Ka

4.7

K.I.3.Ka

9.6

K.II.1.Ki

5.4

K.II.1.Ka

2.0

K.II.2.Ki

2.2

K.II.3.Ka

10.5

K.III.1.Ka

5.0

K.III.2.Ki

6.1

K.IV.1.Ki
K.IV.1.Ka

10.0
9.7

K.IV.2.Ka

5.7

K.IV.3.Ki

12.9

K.IV.3.Ka

17.1

K.IV.4.Ki

7.3

K.IV.4.Ka

6.6

K.V.1.Ki

10.1

K.V.1.Ka

7.5

K.V.2.Ki

2.4

K.VI.1.Ki
K.VI.1.Ka

5.4
9.5

K.VI.2.Ka

7.8

K.VI.3.Ka

7.4

K.VI.4.Ki

7.9

K.VI.5.Ka

7.9

K.VI.6.Ka

17.8

K.VI.7.Ki

6.7

K.VII.1.Ki

7.9

K.VII.2.Ka

4.6

K.VII.3.Ka

6.8

K.VII.4.Ka

6.8

K.VII.5.Ki

2.8

RUAS
1
2

2
3

RK V

RK VI

RK VII

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

111

5.3.2. Saluran Pasok dan Saluran Buang


Untuk menghubungkan antara tambak dan sumber air baik dari laut maupun
sungai diperlukan saluran-saluran yang menuju tambak maupun keluar tambak.
Saluran yang digunakan terdiri dari saluran primer, saluran sekunder dan saluran
tersier. Untuk tugas akhir ini, perencanaan hanya sebatas pada saluran primer dan
sekunder saja.
Sebagai saluran primer sebagai sumber utama saluran pasok irigasi tambak,
digunakan aliran Sungai Tenggang dan sebagai saluran pembuangan air drainase
dari petak tambak digunakan Sungai Sringin. Air dari saluran primer dialirkan ke
saluran-saluran sekunder meggunakan pengaruh pasang air laut melalui bangunan
inlet sedangkan buangan air (pergantian air ) dari petak tambak dialirkan secara
gravitasi masuk ke saluran pematusan melalui bangunan outlet dan akhirnya
masuk ke Sungai Sringin.
5.3.2.1 Saluran Pasok
Saluran pasok berfungsi untuk memberikan air pasok ke tambak. Saluran
pasok yang direncanakan hanya pada saluran sekunder saja karena saluran pasok
primer yang digunakan adalah saluran Sungai Tenggang sesuai dimensi yang ada.
Dasar saluran pasok sekunder dibuat dengan kemiringan 0,0002 miring kearah
hilir saluran..
Dari perhitungan data pasang surut di Bab IV, telah diketahui bahwa elevasi
dasar saluran terletak yaitu ketinggian +0 cm pada hulu saluran yaitu Sungai
Tenggang dan elevasi pelataran tambak yaitu +60 cm. Kemiringan tanggul adalah
1:1 dan elevasi puncak tanggul di saluran pasok sekunder +3,00 m.
Lebar dasar saluran sekunder untuk saluran pasok menggunakan ketentuan
dari Balai Sumber Daya Air Payau Jepara tahun 1984. Tabel hubungan antara
lebar saluran utama, perbedaan pasang surut dan luas areal pertambakan diberikan
pada Tabel 5.2

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

112

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.2. Hubungan Antara Lebar Saluran Utama, Perbedaan Pasang


Surut dan luas Areal Pertambakan
Perbedaan Pasang Surut

Luas Areal

Lebar Saluran Utama

(m)

(Ha)

(m)

Kurang dari 1,5

20 atau kurang

Kurang dari 1,5

Lebih dari 20

Lebih dari 1,5

20 atau kurang

Lebih dari 1,5

Lebih dari 20

(sumber : Balai Budi Daya Air Payau, Jepara, 1984)

Dari ketentuan tersebut diatas, dengan perbedaaan pasang surut di lokasi


study adalah kurang dari 1,5 m, maka lebar dasar saluran sekunder / saluran pasok
dapat ditentukan sbb:
Tabel 5.3. Lebar Saluran Masing-Masing Saluran Sekunder
2

Saluran

Luas Areal Total ( m )

Lebar Saluran (m)

RK I

30.7

RK II

20.1

RK III

11.1

RK IV

69.3

RK V

20.0

RK VI

70.4

RK VII

28.9

5.3.2.2 Saluran Buang


Saluran buang adalah saluran yang berfungsi untuk melewatkan air buangan
dari tambak yang berasal dari pergantian air harian maupun akibat luapan air
hujan. Dalam analisis perhitungan drainase pada areal pertambakan digunakan
sistem gravitasi. Hal tersebut dapat dilakukan mengingat elevasi tambak cukup
tinggi dibandingkan elevasi dasar saluran drainase. Dasar saluran buang dibuat
dengan kemiringan 0,0002 miring kearah hilir saluran..
Untuk dimensi, elevasi dasar saluran, kemiringan tebing dan lebar saluran
pada saluran drainase, dibuat sama dengan saluran pasok dengan pertimbangan
kemudahan pelaksanaan di lapangan.

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

113

5.3.3. Pematang
Pematang adalah bagian konstruksi dari tambak yang fungsi utamanya
adalah menahan air. Pematang tambak harus mampu menahan tekanan air dari
dalam maupun luar petakan tambak. Untuk menghindari banjir yang disebabkan
oleh meluapnya air dari saluran, pematang harus dibuat lebih tinggi dari
permukaan air pasang tertinggi. Secara garis besar, pematang dapat dibagi
menjadi 2 jenis yaitu pematang utama dan pematang antara.
5.3.3.1 Pematang Utama
Pematang utama adalah pematang yang memisahkan antara tambak dengan
saluran utama atau memisahkan antara tambak dengan laut lepas. Karena
merupakan garis pertahanan terdepan, maka konstruksinya harus benar-benar kuat
agar dapat berfungsi sebagai benteng yang sanggup menahan badai pasang yang
mungkin terjadi. Fungsi lainnya adalah sebagai batas kepemilikan lahan atau hak
guna usaha suatu unit pertambakan. Untuk pematang dengan tanah yang cukup
kuat dibuat dengan lebar 2,0 m 2,5 m. Adapaun perbandingan tinggi dan lebar
talud sisi luar adalah 1 : 1,5 dan sisi dalam 1 : 1.
5.3.3.2 Pematang Antara
Pematang antara adalah pematang yang memisahkan antara tambak satu
dengan yang lainnya dan fungsi utamanya adalah menjaga agar air yang mengalir
melalui saluran utama terutama saat pasang tertinggi tidak limpas ke pematang
atau masuk ke dalam petakan tambak. . Karena fungsinya hanya sebagai pembagi
tambak diantara pematang utama, maka ketinggiannya berada di bawah pematang
utama dan ukurannya lebih kecil dari pematang utama. Untuk pematang antara
dengan kondisi tanah cukup keras, dibuat dengan lebar 0,5 m 1,5 m dengan
perbandingan lebar dan tinggi talud adalah 1 : 1.
Dari perhitungan data pasang surut di Bab IV telah diketahui bahwa
ketinggian tanggul utama adalah 300 cm = 3,0 m dan ketinggian tanggul antara
adalah 270 cm = 2,70 m.
Potongan melintang dari gambar saluran sekunder dan petak tambak
ditampilkan pada gambar 5.1

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

114

Gambar 5.1. Potongan Melintang dan Petakan Tambak


5.3.4. Bangunan Pemasok dan Pembuang
Bangunan pemasok merupakan pintu pemasukan air dari saluran pasok ke
kolam tambak. Sedangkan bangunan pembuang merupakan pintu pengeluaran air
dari kolam tambak ke saluran buang. Dimensi dari bangunan pemasok dan
pembuang berbeda-beda, tergantung dari luas dari masing-masing tambak.
Direncanakan, kedalaman air minimum dalam tambak adalah 25 cm. Jadi
elevasi dasar pintu saluran pemasok dan pembuang adalah :
= elevasi dasar tambak + kedalaman air
= 60 + 25 = +85 cm
Pada bangunan pemasok tambak, terdapat satu jenis pintu yaitu pintu air
sekunder (tokoan) yang berfungsi mengalirkan air ke dalam unit tambak.
Sedangkan pada bangunan pembuang terdiri dari 2 jenis pintu yaitu pintu Skot
Balok dan pintu air sekunder (tokoan). Pintu skot balok pada bangunan pembuang
berfungsi bila tambak akan dikeringkan / dikuras. Dengan adanya pintu sekunder
dan pintu skot balok, diharapkan pengaturan air yang masuk ke dalam tambak
akan lebih mudah.
Elevasi dasar pintu dan saluran pembuang adalah sama dengan bangunan
inlet yaitu + 85 cm. Sedangkan elevasi dasar pintu skot balok adalah sama dengan
elevasi dasar tambak yaitu +60 cm.
5.3.5. Perencanaan Pintu Air
Untuk menunjang fungsi saluran yang optimal, maka diperlukan bangunan
pengendali air berupa pintu-pintu air. Pintu-pintu air dibangun di ujung-ujung
saluran sekunder. Pintu air tersebut berupa pintu klep. Prinsip kerjanya adalah bila
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

115

BAB V PERENCANAAN

ketinggian air di hulu pintu lebih tinggi dari ketinggian air di hilir pintu maka
pintu akan membuka, sedangkan pintu akan membuka pada kondisi sebaliknya.
Pintu air tersebut berfungsi antara lain untuk :

Menahan air di dalam unit untuk menjamin elevasi muka air di saluran pada
ketinggian tertentu

Memasukkan air pada saat pasang untuk keperluan irigasi tambak

Membantu proses sirkulasi air di saluran

menahan air pasang tinggi pada saat sungai banjir, sehingga lahan petani
terlindungi dari banjir.
Untuk perhitungan detail pintu dan pengoperasian pintu klep, akan dibahas

pada BAB selanjutnya.

5.4. Perencanaan jaringan irigasi


Untuk merencanakan jaringan irigasi tambak, maka beberapa hal pokok
yang

perlu

dipertimbangkan.

Hal-hal

yang

perlu

diperhatikan

dan

dipertimbangkan berguna agar suatu jaringan irigasi mampu berfungsi baik dan
berdaya guna secara efisien. Beberapa hal itu antara lain sbb :

Pengelolaan air tambak serta pengeringan tambak pada saat persiapan


dapat dilakukan dengan mudah melalui perencanaan jaringan irigasi yang
baik. Selain itu juga memperhitungkan posisi dasar tambak terhadap
keadaan pasang surut.

Pemanfaatan potensi pasang seefektif mungkin untuk menghemat biaya


pemakaian bahan bakar pompa.

Penerapan tingkat teknologi budidaya disesuaikan dengan daya dukung


lahan dan tingkat ketrampilan petani.

Sedapat mungkin memanfaatkan sungai-sungai dan saluran yang ada.

Jalan produksi memanfaatkan tanggul saluran primer yang berada di kanan


dan kiri sepanjang saluran primer.
Perancangan sistem tata saluran umumnya didasarkan pada prinsip bahwa

sarana jaringan tata saluran yang direncanakan harus dapat melayani kebutuhan
pemberian air dan pembuangan air yang berlebih. Untuk keperluan analisis debit
rancangan pada sistem tata saluran pasok irigasi tambak diperlukan hasil
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

116

perhitungan debit andalan sebagai beban air akibat pengaruh hujan, debit sungai
dan data pasang surut dari muara saluran primer untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap debit yang akan masuk ke dalam saluran sekunder. Sedangkan untuk
keperluan analisis debit pada saluran pembuang, diperlukan data volume air
dalam tambak yang harus didrain dan data pasang surut pada muara saluran
pembuang.
Untuk perencanaan aliran air untuk mengetahui besarnya volume air yang
akan masuk ke dalam tambak, kecepatan aliran dalam saluran dan ketinggian air
di dalam saluran maka digunakan program HEC-RAS (Hidrologic Engineering
CenterRiver Analysis System). Hitungan dimaksudkan untuk mendapatkan
parameter hidraulik desain saluran sehingga bisa melakukan pemodelan sebagai
upaya penanganan masalah yang terjadi. Analisa hidrolika yang digunakan ini
menggunakan perhitungan profil muka air unsteady.
Simulasi aliran unsteady dalam perhitungan HEC-RAS mampu menghitung
aliran tak tetap 1D melalui suatu jaringan saluran terbuka.. Aliran unsteady
dikembangkan terutama untuk perhitungan keadaan aliran sub-kritis. Dengan
HEC-RAS versi 3.1.1, model tersebut dapat menampilkan bermacam-macam
hitungan dari berbagai keadaan aliran (sub-kritis, super-kritis, serta loncatan
hidrolis) pada perhitungan aliran tak tetap.

5.4.1. Perencanaan Jaringan Saluran Sekunder / Saluran Pasok


Untuk merencanakan jaringan irigasi di saluran , maka terlebih dahulu harus
diperkirakan luas daerah layanan yang harus dipenuhi oleh saluran primer,
sekunder maupun tersier. Yang dimaksud daerah layanan adalah luas lahan yang
harus dilayani oleh masing-masing saluran baik saluran tersier, sekunder maupun
primer.
Dilihat dari jaringan yang direncanakan, luas daerah layanan saluran primer
merupakan kumulatif dari luas daerah layanan saluran sekunder dan luas daerah
layanan saluran sekunder merupakan kumulatif dari luas daerah layanan saluran
tersier pada ruas tersebut. Sesuai dengan gambar lay-out pada, maka daerah
layanan untuk masing-masing saluran sekunder dapat dilihat pada Tabel 5.4. dan
daerah layanan untuk saluran primer dapat dilihat pada Tabel 5.5

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

117

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.4. Luas daerah layanan untuk ruas saluran pada saluran Sekunder
NAMA
SALURAN
RK I

RK.II

RK III
RK IV

RUAS

RK VII

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

KUMULATIF
(HA)

2.5

2.5

4.6

7.1

9.3

16.4

4.7

21.1

9.6

30.7

5.4

5.4

2.0

7.4

2.2

9.6

10.5

20.1

5.0

5.0

6.1

11.1

10.0

10.0

9.7

19.7

5.7

25.4

12.9

38.3

17.1

55.4

7.3

62.7

6.6

69.3

10.1

10.1

7.5

17.6

2.4

20

5.4

5.4

9.5

14.9

7.8

22.7

7.4

30.1

7.9

38

7.9

45.9

17.8

63.7

6.7

70.4

7.9

7.9

4.6

12.5

6.8

19.3

6.8

26.1

2.8

28.9

RK VI

(HA)

LUAS AREAL

RK V

LUAS AREAL

L2A001076
L2A001084

118

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.5. Luas daerah layanan untuk ruas saluran pada saluran Primer
NAMA
SALURAN
RT

RUAS

LUAS AREAL
(HA)

LUAS AREAL
KUMULATIF
(HA)

30.7

30.7

20.1

50.8

11.1

61.9

69.3

131.2

20

151.2

70.4

221.6

28.9

250.5

Untuk memperkirakan besarnya debit dan volume air yang akan masuk ke
dalam tambak, harus ditentukan terlebih dahulu berapa persen pergantian air yang
diperlukan per hari untuk seluruh tambak pada waktu air pasang. Untuk tambak
yang sudah berisi air atau yang perlu ganti air sebagian, maka harus menunggu
beberapa saat sampai air dalam saluran lebih tinggi dari air tambak. Untuk
perencanaan waktu pasang guna pergantian air, direncanakan menggunakan data
air pasang terendah (APR) seperti perhitungan pada BAB IV.
Dalam perkiraan, debit air masuk yang digunakan untuk menentukan
kapasitas saluran tidak didasarkan pada volume air tambak seluruhnya melainkan
pada volume air yang harus diganti per hari untuk seluruh tambak. Tidak seluruh
tambak harus diganti airnya tiap hari, tergantung dari metode budidayanya. Untuk
itu, perlu diperkirakan berapa persen dari seluruh tambak yang harus diganti
airnya tiap hari dan berapa persen air yang harus diganti per tambak pada tiap
pergantian air.
Dari perhitungan kebutuhan air tambak, telah direncanakan air yang akan
diganti sebesar 10 % dari volume keseluruhan tambak.

Volume air yang

dibutuhkan oleh tambak sebesar 10 % dari volume tambak adalah 1800 m3 /ha.
Kebutuhan air ini harus dipenuhi lewat saluran sekunder per hari saat pasang
datang. Untuk menghitung kebutuhan air yang harus dilewatkan ke dalam saluran
sekunder dihitung dengan mengalikan antara kebutuhan air per Ha dengan luas
daerah layanan. Untuk perhitungan kebutuhan air tambak yang dilewatkan dalam
saluran sekunder ditampilkan pada Tabel 5.6
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

119

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.6. Kebutuhan Air Tambak Di Saluran
LUAS AREAL

KEBUTUHAN AIR

(HA)

(M )

RK I

30.7

55260

RK II

20.1

36180

RK III

11.1

19980

RK IV

69.3

124740

RK V

20

36000

RK VI

70.4

126720

RK VII

28.9

52020

NAMA SALURAN

5.4.2. Perencanaan Jaringan Saluran Drainase / Saluran Buang


Selanjutnya, untuk keperluan drainase, maka diperhitungkan besarnya air
yang harus didrain selama pasang paling tinggi. Pasang paling tinggi terjadi pada
tanggal 29 November 2002 yaitu pada ketinggian 240 cm.
Karena direncanakan pergantian air dalam tambak adalah 10 % dari volume
keseluruhan tambak, maka rencana air yang akan keluar dari tambak dapat
dihitung dengan rumusan sbb:
10 % * (240 60)*luas tambak = 18 cm * luas tambak
Dimana :
240 cm = ketinggian air maksimum dalam tambak rencana
60

cm = elevasi dasar tambak

18

cm = tinggi air yang diganti

Kedalaman air yang harus dilewatkan adalah 18 cm = 180 mm. Karena


digunakan sebagai saluran buang maka data yang dipakai adalah data air surut.
Lamanya surut yang terjadi pada tanggal 29 November 2002 adalah 16 jam. Air
yang dikeluarkan per detik per luasan tambak dapat dihitung dengan rumusan sbb:
180mm
mm
= 270
= 31, 25 l / det / ha
16 jam
hari
Dari besarnya kebutuhan air diatas, dikalikan dengan luasan dari masingmasing tambak dapat diketahui besarnya debit rencana yang lewat dalam saluran
outlet. Besarnya debit yang keluar dari dalam tambak pada masing-masing

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

120

BAB V PERENCANAAN

tambak dapat dilihat pada Tabel 5.7 dan debit yang masuk ke dalam saluran
drainase per saluran ditampilkan pada Tabel 5.8

Tabel 5.7. Debit yang keluar dari masing-masing tambak


NAMA TAMBAK

LUAS AREAL
(HA)

DEBIT
(m

/ det )

K.I.1.Ki
K.I.1.Ka

2.5
4.6

0.0781
0.1438

K.I.2.Ki

9.3

0.2906

K.I.2.Ka

4.7

0.1468

K.I.3.Ka

9.6

0.3000

K.II.1.Ki
K.II.1.Ka

5.4
2.0

0.1688
0.0625

K.II.2.Ki

2.2

0.0687

K.II.2.Ka

10.5

0.3281

K.III.1.Ka

5.0

0.1563

K.III.2.Ki

6.1

0.1906

K.IV.1.Ki

10.0

0.3125

K.IV.1.Ka

9.7

0.3031

K.IV.2.Ka

5.7

0.1781

K.IV.3.Ki

12.9

0.4031

K.IV.3.Ka

17.1

0.5343

K.IV.4.Ki

7.3

0.2281

K.IV.4.Ka

6.6

0.2063

K.V.1.Ki

10.1

0.3156

K.V.1.Ka

7.5

0.2343

K.V.2.Ki

2.4

0.0750

K.VI.1.Ki
K.VI.1.Ka

5.4
9.5

0.1687
0.2968

K.VI.2.Ka

7.8

0.2438

K.VI.3.Ka

7.4

0.2312

K.VI.4.Ki

7.9

0.2468

K.VI.5.Ka

7.9

0.2468

K.VI.6.Ka

17.8

0.5563

K.VI.7.Ki

6.7

0.2094

K.VII.1.Ki
K.VII.2.Ka

7.9
4.6

0.2468
0.1438

K.VII.3.Ka

6.8

0.2125

K.VII.4.Ka

6.8

0.2125

K.VII.5.Ki

2.8

0.0875

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

121

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.8. Debit total yang masuk ke dalam saluran drainase


NAMA SALURAN
Drainase 1 Tenggang
Drainase 2 Tenggang
Drainase 3 Tenggang

Drainase 4 Tenggang
Drainase 5 Tenggang
Drainase 1 Sringin

Drainase 2 Sringin

Drainase 3 Sringin
Drainase 4 Sringin

Drainase 5 Sringin

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

DEBIT

DEBIT KUM

NAMA TAMBAK

(m3 / det)

(m3 / det)

K.I.1.Ki

0.0781

0.0781

K.I.2.Ki

0.2906

0.3687

K.II.1.Ka

0.0625

0.0625

K.II.2.Ka

0.3281

0.3906

K.II.1.Ki

0.1688

0.1688

K.II.2.Ki

0.0687

0.2375

K.III.1.Ka

0.1563

0.3938

K.III.2.Ki

0.1906

0.1906

K.V.2.Ki

0.0750

0.2656

0.3156

0.3156

K.I.1.Ka

0.1438

0.1438

K.I.2.Ka

0.1468

0.2906

K.I.3.Ka

0.3000

0.5906

K.IV.1.Ki

0.1687

0.7593

K.IV.3.Ki

0.4031

1.1624

K.IV.4.Ki

0.2281

1.3905

K.IV.1.Ka

0.3031

0.3031

K.IV.2.Ka

0.1781

0.4812

K.IV.3.Ka

0.5343

1.0155

K.IV.4.Ka

0.2063

1.2218

K.VI.1.Ki

0.1687

1.3905

K.VI.4.Ki

0.2468

1.6373

K.VI.7.Ki

0.2094

1.8467

K.VI.5.Ka

0.2468

0.2468

K.VI.6.Ka

0.5563

0.8031

K.VI.1.Ka

0.2968

0.2968

K.VI.2.Ka

0.2438

0.5406

K.VI.3.Ka

0.2312

0.7718

K.VII.1.Ki

0.2468

1.0186

K.VII.5.Ki

0.0875

1.1061

K.VII.2.Ka

0.1438

0.1438

K.VII.3.Ka

0.2125

0.3563

K.VII.4.Ka

0.2125

0.5688

K.V.1.Ki

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

122

5.5. Perencanaan Saluran menggunakan Program HEC-RAS


Untuk merencanakan suatu saluran dengan menggunakan program HECRAS, diperlukan suatu tahapan-tahapan yang harus dilalui dari awal sampai akhir.
Agar hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan dan dapat dipertanggung
jawabkan, maka perencanaan sebisa mungkin harus sesuai dengan data yang ada
dan yang telah ada di lapangan. Data tersebut kemudian akan diproses oleh
program HEC-RAS dan hasilnya dapat digunakan untuk perencanaan selanjutnya.
Perencanaan saluran menggunakan program HEC-RAS melalui tahap-tahap sbb :

5.5.1. Persiapan Analisis


Pada saat persiapan simulasi, dilakukan pengumpulan data yang akan
digunakan pada proses simulasi, baik berupa data pasang surut di muara sungai
maupun data debit aliran yang melewati sungai. Saluran yang ada terdiri dari 2
macam yaitu saluran pasok dan saluran drainase.
Pada perencanaan jaringan saluran pasok, terdapat 1 saluran Primer, 7
Saluran Sekunder dan 34 saluran tersier. Sedangkan untuk saluran drainase, terdiri
dari 2 saluran primer, 8 saluran sekunder dan 34 saluran tersier. Untuk
perencanaan nantinya, saluran yang direncanakan sebatas hanya pada saluran
primer dan saluran sekunder saja.
Sumber data yang akan digunakan adalah :
1. Data geometri saluran

Data geometri yang digunakan adalah penampang melintang tiap stasiun,


jarak antar stasiun, elevasi saluran, serta angka kekasaran Manning pada masingmasing stasiun.
Data geometri penampang melintang tiap stasiun, jarak antar stasiun pada
saluran primer ini didapatkan dari Proyek Normalisasi Sungai Tenggang tahun
2006. Data geometri yang diperoleh dari Proyek Normalisasi Sungai Tenggang
tahun 2006 dihitung/direncanakan berdasarkan ketinggian muka air laut rata-rata
(Mean Sea Level / MSL).
Untuk perhitungan berikutnya, data geometri saluran disesuaikan dengan
Mean Sea Level / MSL yang telah dihitung pada BAB IV. Data geometri
penampang melintang tiap stasiun, jarak antar stasiun, elevasi dasar saluran pada

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

123

BAB V PERENCANAAN

saluran sekunder telah diperhitungkan pada BAB sebelumnya dan disesuaikan


dengan kondisi daerah perencanaan.
2. Data debit andalan

Data debit andalan yang digunakan adalah dengan menggunakan


perhitungan debit andalan menggunakan metode FJ Mock. Data debit andalan ini
dihitung berdasarkan curah hujan di lokasi studi dan data klimatologi selama 5
tahun dari tahun 2001 - 2005. Data curah hujan dan data klimatologi didapatkan
dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG Semarang). Data debit andalan yang
digunakan telah diperhitungkan pada BAB IV.
3. Data pasang surut air laut

Pasang surut menyebabkan perubahan elevasi muka air laut sebagai fungsi
waktu. Data pasang surut ini digunakan sebagai stage untuk kondisi hilir/muara
sungai dalam program HEC-RAS. Data pasang surut yang digunakan sebagai data
stage adalah data Air Pasang Tertinggi (APR) min.
Untuk perhitungan HEC-RAS nantinya, digunakan data pasang surut pada
tanggal 18 Agustus 2003. Keseluruhan data pasang surut yang digunakan dari
tahun 2001 sampai 2005 diperoleh dari

PT (PERSERO) PELABUHAN

INDONESIA III TANJUNG MAS Semarang. Data pasang surut dari tahun 2001
sampai tahun 2005 bisa dilihat pada Lampiran.
4. Data debit pergantian Air

Data debit pergantian air adalah data debit yang keluar dari tambak dan
besarnya 10 % dari volume keseluruhan tambak. Data debit pergantian air telah
dihitung pada BAB 5.4.2 diatas. Data debit pergantian air digunakan sebagai data
input pada hulu dari masing-masing saluran drainase. Data ini digunakan apabila
di muara saluran drainase tidak menggunakan pintu klep.

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

124

5.5.2. Proses Skematisasi Jaringan


Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul, maka proses selanjutnya
adalah skematisasi jaringan. Pada saat memasukkan data yang digunakan dalam
proses simulasi, perlu adanya ketelitian dan seleksi terhadap data sekunder agar
hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan.
5.5.2.1 Pemodelan

Pada proses ini dilakukan pemodelan geometri skema jaringan sistem sungai
yang akan dianalisis sesuai dengan keadaan di lapangan. Setelah ditentukan layout jaringan pada BAB 5.2, selanjutnya dilakukan skematisasi dengan
menggambarkan skema jaringan dengan tiga saluran primer dan tujuh saluran
sekunder dan delapan saluran drainase. Skematisasi dilakukan terpisah antara
saluran sekunder dan saluran drainase. Skematisasi jaringan Irigasi pasang surut
di Sungai Tenggang ditunjukkan pada Gambar 5.2. dan Gambar 5.3

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

125

BAB V PERENCANAAN

1891
1751

23

0 38

20
106

340.5

117
1285
209622.5
293.5
1203

356

661

1048

54.3
137

2
1080
767
468.5
1198
650.5
588.5
532.5
479
502

0 58 153.5

2
0 32

553.8
672.5

919.8

502
1254.2
1014
54.7
155.5

97

323.3

754.7
685.7

400
518.7

2
Data Masukan :
1. Input data pasang surut
2. Input data debit 0 m3 / det
3. Input data debit andalan

Gambar 5.2. Skematisasi Jaringan Irigasi Tambak Saluran Sekunder di Sungai Tenggang

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

126

BAB V PERENCANAAN
1766

536

431

1461
1346.5
302

325.5

278
200.5
200.5
100.5

1000.5

132
738.5
0
546.5
671.5
602.5

50.5
0

0 60.5

2
300.5 0
226.5

600.5
488.5

971
1183.5

316.5
184.5

1000.5

703
780.5

2
0

580
500.5

60.5

52
324.5
1176.5
0

472
319

200 300.5

250.5

1115
245

50.5
0
744.5
357
514

215
1297
132
1234

1000.5

361470

100.5

350

2
Data Masukan :
1. Input data pasang surut
2. Input data debit pergantian air
3. Input data debit 0 m3 / det

1143
0
669.5
1041.5
969.5

500.5

60.5

593
691754

686.5
590.5
472.5
339.5

2
025

102

200.5

Gambar 5.3. Skematisasi Jaringan Irigasi Tambak Saluran Drainase di Sungai Sringin

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

127

Setelah proses skematisasi jaringan selesai, maka langkah selanjutnya adalah


dengan melakukan interpretasi data penampang melintang sungai untuk tiap-tiap
stasiun. Dari hasil interpretasi penampang sungai akan didapatkan :

Koordinat-koordinat tiap stasiun (baik sumbu x maupun sumbu y)

Jarak antar stasiun

Hasil interpretasi penampang melintang sungai dimasukkan sebagai data


masukan untuk Geometric Data pada program HEC-RAS.
5.5.2.2 Data Aliran Unsteady

Data aliran unsteady dibutuhkan untuk melakukan analisis aliran unsteady.


Data aliran unsteady yang digunakan adalah flow hidrograf di hulu Sungai
Tenggang dan Stage Hidrograf di hilir Sungai Tenggang dan Sungai Sringin.
a. Data Aliran unsteady pada Saluran Sekunder

Flow Hidrograf
Data masukan flow hidrograf diambil dari analisis debit andalan pada BAB
IV. Debit andalan adalah debit minimum dari sungai untuk keperluan irigasi.
Besarnya debit andalan berbeda tiap bulannya sesuai dengan besarnya curah
hujan tiap bulan pada daerah tersebut. Karena untuk data masukan pada
program HEC-RAS ini berdasarkan data APT minimum yaitu pada tanggal 18
Agustus 2003, maka debit andalan yang digunakan adalah debit pada bulan
Agustus sebesar 0,082 m/det.

Stage Hidrograf
Data stage hidrograf diambil dari grafik pasang surut APR (Air Pasang
Terendah) minimum. Data pasang surut sebagai data masukan yaitu data pada
tanggal 18 Agustus 2003. Data Stage hidrograf dapat dilihat pada Tabel 5.9.

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

128

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.9. Data Stage Hidrograf
18 Agustus 2003
Jam
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00

Tinggi Air
32
35
39
44
52
60
70
76
76
74
75
76
77
76
75
74
72
68
62
56
50
45

b. Data Aliran unsteady pada Saluran Drainase

Flow Hidrograf
Data masukan flow hidrograf pada Saluran Drainase adalah data debit
pergantian air dari masing-masing tambak yang masuk ke dalam saluran
drainase. Data debit pergantian air telah dihitung pada BAB 5.4.2 diatas. Data

Flow hidrograf dapat dilihat pada Tabel 5.10.

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

129

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.10. Data Flow hidrograf pada Saluran Drainase
No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Saluran

Drainase 1 Tenggang
Drainase 2 Tenggang
Drainase 3 Tenggang
Drainase 4 Tenggang
Drainase 5Tenggang
Drainase 1 Sringin
Drainase 2 Sringin
Drainase 3 Sringin
Drainase 4 Sringin
Drainase 5 Sringin

Debit (m3/det)

0.3687
0.3906
0.3938
0.2656
0.3156
1.3905
1.8467
0.8031
1.1061
0.5688

Stage Hidrograf
Data stage hidrograf diambil dari grafik pasang surut APR (Air Pasang
Terendah) minimum. Data pasang surut sebagai data masukan yaitu data pada
tanggal 18 Agustus 2003. Data Stage hidrograf dapat dilihat pada Tabel 5.11.

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

130

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.11. Data Stage Hidrograf
18 Agustus 2003
Jam
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
21.00
22.00

Tinggi Air
32
35
39
44
52
60
70
76
76
74
75
76
77
76
75
74
72
68
62
56
50
45

5.5.3. Proses Eksekusi / Running


Setelah pemodelan dianggap sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
dilapangan/sesuai dengan perencanaan awal. Maka langkah selanjutnya adalah
dengan melakukan eksekusi / running terhadap data masukan. Saat proses

running, perlu diperhatikan interval data dan waktu mulai serta berhentinya
pembacaan data yang akan digunakan dalam perhitungan. Dalam kasus ini,
interval yang digunakan adalah 15 menit serta data mulai perhitungan adalah pada
tanggal 18 Agustus 2003 pukul 01.00 sampai pukul 22.00.

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

131

BAB V PERENCANAAN

5.5.4. Hasil Perhitungan


Setelah program dieksekusi, hasil yang diperoleh dapat berupa ketinggian
air pada tiap-tiap saluran, besarnya debit yang masuk ke saluran, percepatan aliran
dan lain-lain. Untuk perencanaan jaringan irigasi tambak di Sungai Tenggang ini,
data keluaran yang digunakan adalah data debit dan ketinggian air di dalam
saluran
5.5.4.1 Hasil Perhitungan pada Saluran Sekunder

Hasil perhitungan pada saluran sekunder dengan menggunakan program


HEC-RAS mendapatkan output berupa ketinggian air dan debit pada masingmasing saluran. Untuk perhitungan selanjutnya, yang digunakan adalah data
ketinggian air pada muara tiap-tiap saluran sekunder sebagai data ketinggian air
pada hulu pintu klep. Hasil perhitungan menggunakan program HEC-RAS dari
muara tiap-tiap saluran sekunder ditampilkan pada Gambar 5.4 Gambar 5.10
dan Tabel 5.12

Plan: PLAN River: SEKUNDER 1 Reach: TENGGANG RS: 622.5

0.8

0.15

Legend

0.10

0.6

0.05

0.5

0.00

0.4

-0.05

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.10
2000

Gambar 5.4. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK I

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

132

BAB V PERENCANAAN
Plan: PLAN River: SEKUNDER 2 Reach: TENGGANG RS: 293.5

0.8

0.20

Legend

0.15

0.6

0.10

0.5

0.05

0.4

0.00

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.05
2000

Gambar 5.5. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK II


Plan: PLAN River: SEKUNDER 3 Reach: TENGGANG RS: 468.5

0.8

Legend

0.7

0.12

Stage

0.10

Flow

0.08
0.06

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.6

0.04
0.5

0.02
0.00

0.4

-0.02
-0.04

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.06
2000

Gambar 5.6. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK III


Plan: PLAN River: SEKUNDER 4 Reach: TENGGANG RS: 1198

0.8

0.3

Legend

0.2

0.6

0.1

0.5

0.0

0.4

-0.1

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.2
2000

Gambar 5.7. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK IV

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

133

BAB V PERENCANAAN
Plan: PLAN River: SEKUNDER 5 Reach: TENGGANG RS: 479

0.8

Legend
Stage

0.08

Flow

0.7

0.04

0.6

0.02
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.06

0.00
-0.02

0.4
-0.04
0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.06
2000

Gambar 5.8. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK V


Plan: PLAN River: SEKUNDER 6 Reach: TENGGANG RS: 1254.2

0.8

0.3

Legend

0.2

0.6

0.1

0.5

0.0

0.4

-0.1

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.2
2000

Gambar 5.9. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK VI

Plan: PLAN River: SEKUNDER 7 Reach: TENGGANG RS: 1014

0.8

0.25

Legend

0.20

Stage
Flow

0.7

0.10

0.6

0.05
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.15

0.00
-0.05

0.4
-0.10
0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.15
2000

Gambar 5.10. Hasil Perhitungan di Muara Saluran RK VII

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

134

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.12. Hasil Perhitungan Ketinggian Air di Saluran Sekunder

Date

No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

17Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

2400
0100
0200
0300
0400
0500
0600
0700
0800
0900
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
1800
1900
2000

L2A001076
L2A001084

Sekunder 1
Stage
METERS

Sekunder 2
Stage
METERS

Sekunder 3
Stage
METERS

0.3218
0.3495
0.3893
0.4397
0.5179
0.5986
0.6982
0.7595
0.7602
0.7401
0.7596
0.7704
0.7603
0.7505
0.7404
0.7200
0.6803
0.6207
0.5606
0.5007
0.4510

0.3357
0.3495
0.3892
0.4396
0.5176
0.5984
0.6980
0.7595
0.7602
0.7402
0.7596
0.7705
0.7604
0.7505
0.7405
0.7200
0.6804
0.6208
0.5607
0.5008
0.4512

0.3342
0.3492
0.3886
0.4393
0.5164
0.5976
0.6969
0.7594
0.7604
0.7402
0.7594
0.7708
0.7606
0.7507
0.7407
0.7200
0.6806
0.6213
0.5612
0.5014
0.4519

NAMA SALURAN
Sekunder 4
Sekunder 5
Stage
Stage
METERS
METERS
0.3279
0.3492
0.3886
0.4393
0.5163
0.5975
0.6969
0.7594
0.7604
0.7402
0.7594
0.7708
0.7607
0.7507
0.7407
0.7200
0.6806
0.6213
0.5612
0.5014
0.4519

0.3301
0.3491
0.3884
0.4392
0.5159
0.5973
0.6966
0.7594
0.7605
0.7402
0.7594
0.7709
0.7607
0.7508
0.7408
0.7200
0.6807
0.6214
0.5613
0.5015
0.4521

Sekunder 6
Stage
METERS

Sekunder 7
Stage
METERS

0.3112
0.3491
0.3883
0.4392
0.5157
0.5972
0.6965
0.7594
0.7606
0.7403
0.7593
0.7710
0.7608
0.7508
0.7408
0.7200
0.6807
0.6215
0.5614
0.5016
0.4522

0.3112
0.3491
0.3883
0.4392
0.5157
0.5972
0.6965
0.7594
0.7606
0.7403
0.7593
0.7710
0.7608
0.7508
0.7408
0.7200
0.6807
0.6215
0.5614
0.5016
0.4522

135

BAB V PERENCANAAN
a. Perhitungan Volume dan Debit yang melewati pintu Klep

Setelah diketahui ketinggian air di masing-masing muara saluran sekunder


yang digunakan sebagai data ketinggian air di hulu pintu klep kemudian dapat
dihitung besarnya debit dan volume air yang masuk ke dalam saluran melewati
pintu klep.

Perhitungan akan menggunakan pendekatan pintu sorong dengan

keadaan sebagai berikut :

Gambar 5.11. Sketsa Pintu Sorong

Rumus debit yang dipakai untuk pintu adalah

Q = K . .a.b. 2.g.h1
Perhitungan Pintu Klep di Saluran Sekunder 1

Pada Jam 24.00

1. h1 = tinggi air di hulu pintu

= 0,3218 m

2. h2 = tinggi air di hilir pintu

= 0 m (asumsi awal)

3. y = bukaan pintu arah tegak lurus pintu


=

air .h1
(buku mekanika fluida; pintu dari baja)
baja
( air = 1000 kg/ cm3 , baja = 7850 kg/ cm3 )

1000.(0,3218 - 0)
= 0,0401 m
7850

4. a = bukaan pintu vertikal

= y. Sin(180 - (90 63,43))


= 0,0401 . Sin 26,57 = 0,0183 m
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

136

BAB V PERENCANAAN
5. b = lebar pintu = 3 buah pintu dgn lebar masing-masing 2 m
=6m
6.

h1 / a

= 17,58

B = 0,64 (Koefisien debit; Gambar 2.34)

7.

h2 / a

=0

B K = 0,40 (Koefisien aliran tenggelam; Gambar 2.33)

8. Q = K ..a.b. 2.g .h1

= 0,40. 0,64. 0,0183. 6.

2.9,8.0,3218

= 0,0706 m3 / det
9. V = Q . waktu
= 0,0706. 3600
= 254,135 m3
10. h = V / A
= 0,136 m
11. h2 baru = h2 + h
= 0 + 0,136
= 0,136 m
Untuk perhitungan selengkapnya pada perhitungan pintu klep di masing-masing
muara saluran Sekunder, dapat dilihat pada Tabel 5.13 Tabel 5.19

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

137

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.13. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK I
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3218
0.3494
0.3893
0.4397
0.5179
0.5986
0.6982
0.7560
0.7587
0.7413
0.7581
0.7702
0.7607
0.7508
0.7403
0.7199
0.6802
0.6204
0.5603
0.5003
0.4506

h1
(m)
0.3218
0.3494
0.3893
0.4397
0.5179
0.5986
0.6982
0.7560
0.7587
0.7413
0.7581
0.7702
0.7607
0.7508
0.7403
0.7199
0.6802
0.6204
0.5603
0.5003
0.4506

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0409
0.0271
0.0210
0.0186
0.0205
0.0214
0.0239
0.0194
0.0101
0.0030
0.0037
0.0035
0.0006
-0.0009
-0.0023
-0.0049
-0.0099
-0.0175
-0.0251
-0.0328
-0.0391

a
(m)
0.0183
0.0121
0.0094
0.0083
0.0092
0.0096
0.0107
0.0087
0.0045
0.0013
0.0017
0.0016
0.0003
0
0
0
0
0
0
0
0

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

h2/a

6.00
17.59
0
6.00
28.81
11.21
6.00
41.44
23.84
6.00
52.77
35.18
6.00
56.38
38.78
6.00
62.40
44.81
6.00
65.24
47.65
6.00
87.12
69.52
6.00 168.13 150.53
6.00 554.18 536.59
6.00 456.40 438.81
6.00 494.02 476.43
6.00 2758.59 2740.99
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
1
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.1360
0.2240
0.2931
0.3563
0.4298
0.5099
0.6033
0.6793
0.7178
0.7289
0.7428
0.7558
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581

h2
(m)
0
0.1360
0.2240
0.2931
0.3563
0.4298
0.5099
0.6033
0.6793
0.7178
0.7289
0.7428
0.7558
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581

Q
(m3/det)
0.0706
0.0488
0.0399
0.0376
0.0450
0.0505
0.0608
0.0513
0.0267
0.0078
0.0098
0.0093
0.0016
0
0
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
253.9949
175.5034
143.5015
135.2530
161.8407
181.6816
218.9136
184.7167
96.2248
28.1942
35.4050
33.4949
5.8878
0
0
0
0
0
0
0
0
1654.6119

A
(m2)
1868
1994
2077
2141
2200
2269
2344
2431
2502
2538
2548
2561
2573
2575
2575
2575
2575
2575
2575
2575
2575

h
(m)
0.1360
0.0880
0.0691
0.0632
0.0736
0.0801
0.0934
0.0760
0.0385
0.0111
0.0139
0.0131
0.0023
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.1360
0.2240
0.2931
0.3563
0.4298
0.5099
0.6033
0.6793
0.7178
0.7289
0.7428
0.7558
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581
0.7581

138

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.14. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK II
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3359
0.3494
0.3892
0.4396
0.5176
0.5984
0.6980
0.7555
0.7585
0.7414
0.7579
0.7702
0.7608
0.7509
0.7404
0.7199
0.6802
0.6205
0.5603
0.5004
0.4507

h1
(m)
0.3359
0.3494
0.3892
0.4396
0.5176
0.5984
0.6980
0.7555
0.7585
0.7414
0.7579
0.7702
0.7608
0.7509
0.7404
0.7199
0.6802
0.6205
0.5603
0.5004
0.4507

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0428
0.0052
0.0061
0.0074
0.0108
0.0110
0.0130
0.0071
0.0002
-0.0022
-0.0001
0.0015
-0.0012
-0.0025
-0.0038
-0.0064
-0.0115
-0.0191
-0.0268
-0.0344
-0.0407

a
(m)
0.0191
0.0023
0.0027
0.0033
0.0048
0.0049
0.0058
0.0032
0.0001
0.0000
0.0000
0.0007
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

h2/a

6.00
17.55
0
6.00 149.62 132.07
6.00 143.70 126.15
6.00 133.46 115.91
6.00 107.09
89.54
6.00 121.91 104.36
6.00 120.45 102.90
6.00 238.86 221.31
6.00 7046.73 7029.18
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00 1155.48 1137.93
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0.64
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0.40
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.3084
0.3417
0.3818
0.4328
0.5123
0.5963
0.7000
0.7566
0.7585
0.7585
0.7585
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703

h2
(m)
0
0.3084
0.3417
0.3818
0.4328
0.5123
0.5963
0.7000
0.7566
0.7585
0.7585
0.7585
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703

Q
(m3/det)
0.0754
0.0094
0.0115
0.0149
0.0236
0.0258
0.0329
0.0187
0.0006
0
0
0.0040
0
0
0
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
271.5601
33.7932
41.3644
53.4653
85.1234
92.9532
118.5218
67.3013
2.2949
0
0
14.3207
0
0
0
0
0
0
0
0
0
780.6983

A
(m2)
881
1016
1031
1049
1071
1106
1143
1189
1214
1214
1214
1214
1220
1220
1220
1220
1220
1220
1220
1220
1220

h
(m)
0.3084
0.0333
0.0401
0.0510
0.0795
0.0840
0.1037
0.0566
0.0019
0
0
0.0118
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.3084
0.3417
0.3818
0.4328
0.5123
0.5963
0.7000
0.7566
0.7585
0.7585
0.7585
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703
0.7703

139

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.15. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK III
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3277
0.3490
0.3885
0.4393
0.5163
0.5976
0.6969
0.7531
0.7578
0.7423
0.7567
0.7703
0.7613
0.7513
0.7405
0.7199
0.6803
0.6208
0.5606
0.5007
0.4512

h1
(m)
0.3277
0.3490
0.3885
0.4393
0.5163
0.5976
0.6969
0.7531
0.7578
0.7423
0.7567
0.7703
0.7613
0.7513
0.7405
0.7199
0.6803
0.6208
0.5606
0.5007
0.4512

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0417
0.0207
0.0148
0.0134
0.0159
0.0171
0.0195
0.0145
0.0061
0.0004
0.0020
0.0025
-0.0001
-0.0014
-0.0028
-0.0054
-0.0105
-0.0180
-0.0257
-0.0333
-0.0396

a
(m)
0.0187
0.0093
0.0066
0.0060
0.0071
0.0076
0.0087
0.0065
0.0027
0.0002
0.0009
0.0011
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000
0.0000

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

h2/a

5.00
17.55
0
5.00
37.62
20.07
5.00
58.55
41.00
5.00
73.20
55.65
5.00
72.72
55.17
5.00
78.29
60.74
5.00
80.02
62.47
5.00 116.37
98.82
5.00 279.51 261.96
5.00 4001.11 3983.56
5.00 844.40 826.85
5.00 678.37 660.82
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.1862
0.2721
0.3340
0.3917
0.4636
0.5441
0.6395
0.7102
0.7390
0.7410
0.7504
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623

h2
(m)
0
0.1862
0.2721
0.3340
0.3917
0.4636
0.5441
0.6395
0.7102
0.7390
0.7410
0.7504
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623

Q
(m3/det)
0.0606
0.0311
0.0234
0.0225
0.0289
0.0334
0.0412
0.0318
0.0134
0.0009
0.0044
0.0056
0
0
0
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
218.0642
111.8119
84.3718
81.1455
104.0775
120.3740
148.3257
114.5723
48.1483
3.2608
15.9030
20.3312
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1070.3863

A
(m2)
1171
1302
1362
1406
1447
1497
1554
1621
1670
1691
1692
1699
1707
1707
1707
1707
1707
1707
1707
1707
1707

h
(m)
0.1862
0.0859
0.0619
0.0577
0.0720
0.0804
0.0955
0.0707
0.0288
0.0019
0.0094
0.0120
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.1862
0.2721
0.3340
0.3917
0.4636
0.5441
0.6395
0.7102
0.7390
0.7410
0.7504
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623
0.7623

140

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.16. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK IV
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3291
0.3489
0.3884
0.4391
0.5160
0.5974
0.6968
0.7527
0.7575
0.7425
0.7565
0.7702
0.7614
0.7514
0.7405
0.7199
0.6804
0.6208
0.5607
0.5008
0.4514

h1
(m)
0.3291
0.3489
0.3884
0.4391
0.5160
0.5974
0.6968
0.7527
0.7575
0.7425
0.7565
0.7702
0.7614
0.7514
0.7405
0.7199
0.6804
0.6208
0.5607
0.5008
0.4514

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0419
0.0351
0.0323
0.0314
0.0337
0.0356
0.0389
0.0352
0.0260
0.0170
0.0143
0.0122
0.0079
0.0046
0.0020
-0.0011
-0.0062
-0.0138
-0.0214
-0.0291
-0.0353

a
(m)
0.0188
0.0157
0.0145
0.0140
0.0151
0.0159
0.0174
0.0157
0.0116
0.0076
0.0064
0.0055
0.0035
0.0020
0.0009
0
0
0
0
0
0

L2A001076
L2A001084

b
(m)
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00
7.00

h1/a

h2/a

17.55
22.22
26.85
31.26
34.19
37.50
40.07
47.79
65.20
97.80
118.64
140.80
216.11
369.16
831.75
0
0
0
0
0
0

0
4.67
9.30
13.71
16.64
19.95
22.52
30.24
47.65
80.25
101.09
123.25
198.56
351.61
814.20
0
0
0
0
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.0733
0.1345
0.1926
0.2512
0.3178
0.3916
0.4763
0.5536
0.6093
0.6446
0.6742
0.6996
0.7157
0.7249
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289

h2
(m)
0
0.0733
0.1345
0.1926
0.2512
0.3178
0.3916
0.4763
0.5536
0.6093
0.6446
0.6742
0.6996
0.7157
0.7249
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289

Q
(m3/det)
0.0853
0.0736
0.0715
0.0738
0.0860
0.0977
0.1152
0.1084
0.0802
0.0519
0.0440
0.0381
0.0244
0.0140
0.0061
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
307.2484
264.9504
257.4717
265.8267
309.6008
351.6653
414.5528
390.2563
288.8157
186.8373
158.3937
137.1142
87.8052
50.3924
21.8809
0
0
0
0
0
0
3492.8118

A
(m2)
4193
4325
4435
4539
4644
4764
4897
5049
5188
5288
5351
5405
5450
5479
5496
5503
5503
5503
5503
5503
5503

h
(m)
0.0733
0.0613
0.0581
0.0586
0.0667
0.0738
0.0847
0.0773
0.0557
0.0353
0.0296
0.0254
0.0161
0.0092
0.0040
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.0733
0.1345
0.1926
0.2512
0.3178
0.3916
0.4763
0.5536
0.6093
0.6446
0.6742
0.6996
0.7157
0.7249
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289
0.7289

141

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.17. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK V
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3314
0.3489
0.3883
0.4392
0.5158
0.5973
0.6966
0.7523
0.7575
0.7426
0.7563
0.7702
0.7615
0.7516
0.7405
0.7199
0.6804
0.6208
0.5606
0.5007
0.4513

h1
(m)
0.3314
0.3489
0.3883
0.4392
0.5158
0.5973
0.6966
0.7523
0.7575
0.7426
0.7563
0.7702
0.7615
0.7516
0.7405
0.7199
0.6804
0.6208
0.5606
0.5007
0.4513

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0422
0.0209
0.0151
0.0137
0.0161
0.0174
0.0198
0.0148
0.0064
0.0007
0.0020
0.0026
0.0000
-0.0013
-0.0027
-0.0053
-0.0104
-0.0180
-0.0256
-0.0333
-0.0395

a
(m)
0.0189
0.0093
0.0068
0.0061
0.0072
0.0078
0.0089
0.0066
0.0029
0.0003
0.0009
0.0012
0
0
0
0
0
0
0
0
0

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

h2/a

5.00
17.55
0
5.00
37.40
19.85
5.00
57.45
39.90
5.00
71.53
53.98
5.00
71.54
53.99
5.00
76.78
59.23
5.00
78.58
61.03
5.00 113.70
96.15
5.00 262.92 245.37
5.00 2299.76 2282.21
5.00 825.43 807.88
5.00 656.79 639.24
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0
5.00
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.1852
0.2697
0.3314
0.3893
0.4608
0.5410
0.6362
0.7069
0.7369
0.7402
0.7496
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617

h2
(m)
0
0.1852
0.2697
0.3314
0.3893
0.4608
0.5410
0.6362
0.7069
0.7369
0.7402
0.7496
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617

Q
(m3/det)
0.0616
0.0312
0.0239
0.0231
0.0293
0.0341
0.0419
0.0325
0.0142
0.0016
0.0045
0.0058
0
0
0
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
221.7678
112.4059
85.9288
83.0186
105.6400
122.6510
150.9473
117.0792
51.1546
5.6766
16.2555
20.9952
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1093.5206

A
(m2)
1198
1331
1391
1436
1477
1529
1586
1655
1705
1727
1729
1736
1745
1745
1745
1745
1745
1745
1745
1745
1745

h
(m)
0.1852
0.0845
0.0618
0.0578
0.0715
0.0802
0.0952
0.0708
0.0300
0.0033
0.0094
0.0121
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.1852
0.2697
0.3314
0.3893
0.4608
0.5410
0.6362
0.7069
0.7369
0.7402
0.7496
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617
0.7617

142

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.18. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK VI
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3317
0.3487
0.3880
0.4389
0.5153
0.5970
0.6963
0.7515
0.7570
0.7431
0.7559
0.7701
0.7618
0.7516
0.7406
0.7199
0.6804
0.6210
0.5609
0.5011
0.4517

h1
(m)
0.3317
0.3487
0.3880
0.4389
0.5153
0.5970
0.6963
0.7515
0.7570
0.7431
0.7559
0.7701
0.7618
0.7516
0.7406
0.7199
0.6804
0.6210
0.5609
0.5011
0.4517

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0423
0.0354
0.0329
0.0323
0.0347
0.0369
0.0404
0.0369
0.0280
0.0191
0.0160
0.0139
0.0094
0.0059
0.0031
-0.0003
-0.0053
-0.0129
-0.0205
-0.0282
-0.0344

a
(m)
0.0189
0.0158
0.0147
0.0144
0.0155
0.0165
0.0181
0.0165
0.0125
0.0085
0.0072
0.0062
0.0042
0.0026
0.0014
0
0
0
0
0
0

L2A001076
L2A001084

b
(m)
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00

h1/a

h2/a

17.55
22.02
26.35
30.41
33.16
36.16
38.54
45.51
60.48
87.00
105.49
123.84
180.31
286.17
538.39
0
0
0
0
0
0

0
4.47
8.80
12.86
15.61
18.61
20.99
27.96
42.93
69.45
87.94
106.29
162.76
268.62
520.84
0
0
0
0
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.0708
0.1296
0.1856
0.2425
0.3073
0.3792
0.4617
0.5374
0.5932
0.6301
0.6610
0.6877
0.7055
0.7165
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221

h2
(m)
0
0.0708
0.1296
0.1856
0.2425
0.3073
0.3792
0.4617
0.5374
0.5932
0.6301
0.6610
0.6877
0.7055
0.7165
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221

Q
(m3/det)
0.0740
0.0636
0.0624
0.0650
0.0759
0.0867
0.1025
0.0974
0.0740
0.0501
0.0424
0.0371
0.0251
0.0155
0.0080
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
266.4828
228.8905
224.5425
234.0613
273.1181
312.2561
369.0770
350.4678
266.5776
180.2524
152.5123
133.5903
90.2732
55.7407
28.9799
0
0
0
0
0
0
3166.8227

A
(m2)
3763
3896
4006
4112
4219
4341
4476
4631
4774
4879
4948
5006
5056
5090
5110
5121
5121
5121
5121
5121
5121

h
(m)
0.0708
0.0588
0.0560
0.0569
0.0647
0.0719
0.0825
0.0757
0.0558
0.0369
0.0308
0.0267
0.0179
0.0110
0.0057
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.0708
0.1296
0.1856
0.2425
0.3073
0.3792
0.4617
0.5374
0.5932
0.6301
0.6610
0.6877
0.7055
0.7165
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221
0.7221

143

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.19. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK VII
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3292
0.3488
0.3883
0.4392
0.5157
0.5972
0.6965
0.7520
0.7575
0.7430
0.7560
0.7703
0.7617
0.7516
0.7406
0.7199
0.6804
0.6209
0.5607
0.5007
0.4513

h1
(m)
0.3292
0.3488
0.3883
0.4392
0.5157
0.5972
0.6965
0.7520
0.7575
0.7430
0.7560
0.7703
0.7617
0.7516
0.7406
0.7199
0.6804
0.6209
0.5607
0.5007
0.4513

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0419
0.0334
0.0298
0.0284
0.0303
0.0319
0.0349
0.0310
0.0219
0.0200
0.0155
0.0127
0.0078
0.0042
0.0015
-0.0015
-0.0066
-0.0141
-0.0218
-0.0295
-0.0358

a
(m)
0.0188
0.0149
0.0133
0.0127
0.0136
0.0143
0.0156
0.0139
0
0.0089
0.0070
0.0057
0.0035
0.0019
0.0007
0
0
0
0
0
0

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

h2/a

6.00
17.55
0
6.00
23.35
5.80
6.00
29.17
11.62
6.00
34.63
17.08
6.00
38.02
20.47
6.00
41.80
24.25
6.00
44.56
27.01
6.00
54.28
36.74
6.00
0
0
6.00
83.03
65.48
6.00 108.72
91.17
6.00 136.01 118.46
6.00 219.72 202.17
6.00 403.26 385.71
6.00 1070.27 1052.72
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0
6.00
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.0866
0.1547
0.2166
0.2777
0.3465
0.4222
0.5089
0.5860
0.5860
0.6340
0.6709
0.7009
0.7189
0.7285
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320

h2
(m)
0
0.0866
0.1547
0.2166
0.2777
0.3465
0.4222
0.5089
0.5860
0.5860
0.6340
0.6709
0.7009
0.7189
0.7285
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320

Q
(m3/det)
0.0732
0.0600
0.0564
0.0572
0.0662
0.0751
0.0887
0.0817
0
0.0525
0.0411
0.0338
0.0206
0.0110
0.0040
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
263.4758
215.9986
203.0775
205.7482
238.4490
270.2583
319.3102
294.0830
0
188.8337
148.0164
121.6843
74.0671
39.5561
14.5782
0
0
0
0
0
0
2597.1363

A
(m2)
3042
3174
3277
3372
3464
3569
3684
3816
3933
3933
4006
4062
4108
4135
4150
4155
4155
4155
4155
4155
4155

h
(m)
0.0866
0.0681
0.0620
0.0610
0.0688
0.0757
0.0867
0.0771
0
0.0480
0.0369
0.0300
0.0180
0.0096
0.0035
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.0866
0.1547
0.2166
0.2777
0.3465
0.4222
0.5089
0.5860
0.5860
0.6340
0.6709
0.7009
0.7189
0.7285
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320
0.7320

BAB V PERENCANAAN

144

Dari hasil perhitungan diatas didapatkan hasil berupa ketinggian air dalam
saluran sekunder yang digunakan untuk mengairi tambak Ketinggian yang akan
digunakan untuk mengairi tambak adalah ketinggian air yang berada di atas
elevasi dasar pintu tambak. Elevasi dasar pintu tambak telah diperhitungkan pada
BAB 5.3.4. dan didapatkan elevasi dasar pintu tambak adalah +85 cm.

Dari hasil perhitungan yang telah didapatkan pada Tabel 5.13 Tabel 5.19,
dari semua saluran sekunder yang ada dengan perhitungan menggunakan data Air
Pasang Paling Rendah (APR min), didapatkan bahwa ketinggian air di dalam
saluran tidak melampaui elevasi dasar pintu tambak. Ini berarti bahwa tambak
tidak dapat terairi dari saluran dan rencana pergantian air tidak dapat terpenuhi.
Untuk itu, harus ada perubahan yang dilakukan agar air dapat mengairi tambak
dan besarnya volume air yang masuk ke dalam tambak dapat sesuai dengan yang
diinginkan.
Ada dua macam alternatif perubahan yang dapat dilakukan agar tambak
dapat terairi yaitu :

Memperlebar saluran pada pintu pemasukan di muara saluran

Menurunkan elevasi dasar pintu tambak

1. Alternatif 1 : Memperlebar saluran pada pintu pemasukan

Alternatif 1 dengan memperlebar saluran pemasukan dapat dilakukan


apabila lebar ke samping dari bangunan inlet tersedia. Untuk menaikkan muka air
agar dapat melampaui elevasi dasar pintu tambak, diperlukan lebar pemasukan
yang sangat besar. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang matang terhadap
pemilihan alternatif ini.
2. Alternatif 2 : Menurunkan elevasi dasar pintu tambak

Alternatif 2 dengan menurunkan elevasi dasar pintu tambak dapat dilakukan


apabila tambak masih memungkinkan untuk diperdalam dan tidak berpengaruh
terhadap sistem pembuangan / drainase dari tambak tersebut.
Dari dua alternatif tersebut, maka dipilih alternatif kedua yaitu menurunkan
elevasi dasar pintu tambak. Konsekuensinya adalah tambak harus diperdalam dan
laju air pada saluran pembuangan akan berkurang.
Dari perhitungan elevasi dasar pintu tambak pada BAB 5.3.4, didapatkan
elevasi dasar pintu tambak adalah +85 cm. Untuk itu, perlu direncanakan ulang
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

145

BAB V PERENCANAAN

elevasi dasar tambak dan elevasi dasar pelataran tambak. Untuk perkiraan awal,
direncanakan elevasi dasar pintu tambak adalah +50 cm. Jadi elevasi dasar
pelataran tambak adalah +50 cm 25 cm = +25 cm. Jadi, ketinggian air yang
dapat masuk ke dalam tambak adalah ketinggian air yang berada di atas elevasi
+50 cm.
b.

Perhitungan Volume Air yang akan masuk Tambak

Untuk tambak yang dipasok dari saluran sekunder 1, air akan mulai masuk
ke dalam tambak mulai pukul 05.00 yaitu pada saat ketinggian air di saluran
adalah pada ketinggian +0,5113 m. Untuk menentukan besarnya volume air yang
dapt dipasok, dihitung dengan urutan sbb :
1. Tinggi air yang masuk ke dalam tambak
= 0,5113 m 0,50 m
= 0,0113 m / 10 menit ( 10 menit = perkiraan naiknya air dari 0,50 m sampai
0,5113 m) = 0,0226 m /jam
2. Konversi ke L / det / ha ( * 2777,78 )
= 0,0226 * 2777,78

= 62,78 L / det / ha

3. Konversi ke m3 / det/ ha ( : 1000 )


= 62,78 / 1000

= 0,0627 m3 / det/ ha

4. Dihitung debit = m3 / det/ ha * luas areal


= 0,0627 * 30,7

= 1,927 m3 / det

5. Dihitung volume air = Debit * waktu


= 1,927 * 600

= 1156.2 m3

Untuk perhitungan selengkapnya pada seluruh saluran sekunder yang ada


dapat dilihat pada perhitungan Tabel 5.20 sampai Tabel 5.26

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

146

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.20. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK I
h
(m)
0.1372
0.0882
0.0691
0.0631
0.0736
0.0801
0.0935
0.0759
0.0381
0.0107
0.0137
0.0130
0.0021
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.1372
0
0.2255
0
0.2945
0
0.3576
0
0.4312
0
0.5113
0.0113
0.6048
0.0935
0.6807
0.0759
0.7188
0.0381
0.7295
0.0107
0.7432
0.0137
0.7562
0.0130
0.7583
0.0021
0.7583
0
0.7583
0
0.7583
0
0.7583
0
0.7583
0
0.7583
0
0.7583
0
0.7583
0

Konversi

Konversi

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0
0.0313
0.2597
0.2108
0.1059
0.0298
0.0381
0.0360
0.0060
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
31.3255
259.7470
210.8014
105.8814
29.7682
38.0898
36.0465
5.9503
0
0
0
0
0
0
0
0

Luas Areal
(ha)
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7
30.7

Volume
(m3)
0
0
0
0
0
488.41
28707.24
23297.77
11702.02
3289.98
4209.69
3983.86
657.63
0
0
0
0
0
0
0
0
76336.58

Tabel 5.21. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK II
h
(m)
0.3084
0.0333
0.0401
0.0510
0.0795
0.0840
0.1037
0.0566
0.0019
0
0
0.0118
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.3084
0
0.3417
0
0.3818
0
0.4328
0
0.5123
0.0123
0.5963
0.0840
0.7000
0.1037
0.7566
0.0566
0.7585
0.0019
0.7585
0
0.7585
0
0.7703
0.0118
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0
0.7703
0

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

Konversi

Konversi

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0.0340
0.2335
0.2880
0.1573
0.0053
0
0
0.0328
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
34.0486
233.4524
288.0324
157.2749
5.2528
0
0
32.7559
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Luas Areal
(ha)
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1
20.1

Volume
(m3)
0
0
0
0
381.18
16892.61
20842.03
11380.41
380.09
0
0
2370.22
0
0
0
0
0
0
0
0
0
52246.55

147

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.22. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK III
h
(m)
0.1862
0.0859
0.0619
0.0577
0.0720
0.0804
0.0955
0.0707
0.0288
0.0019
0.0094
0.0120
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.1862
0
0.2721
0
0.3340
0
0.3917
0
0.4636
0
0.5441
0.0441
0.6395
0.0955
0.7102
0.0707
0.7390
0.0288
0.7410
0.0019
0.7504
0.0094
0.7623
0.0120
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0
0.7623
0

Konversi

Konversi

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0
0.1224
0.2652
0.1964
0.0801
0.0054
0.0261
0.0332
0
0
0
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
122.3651
265.2037
196.3726
80.0700
5.3577
26.1087
33.2488
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Luas Areal
(ha)
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1
11.1

Volume
(m3)
0
0
0
0
0
2678.58
10597.54
7847.05
3199.60
214.10
1043.30
1328.62
0
0
0
0
0
0
0
0
0
26908.79

Tabel 5.23. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK IV
h
(m)
0.0785
0.0643
0.0600
0.0599
0.0680
0.0751
0.0861
0.0777
0.0547
0.0334
0.0279
0.0239
0.0145
0.0076
0.0025
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.0785
0
0.1428
0
0.2028
0
0.2627
0
0.3307
0
0.4058
0
0.4918
0
0.5696
0.0696
0.6242
0.0547
0.6577
0.0334
0.6856
0.0279
0.7094
0.0239
0.7239
0.0145
0.7315
0.0076
0.7339
0.0025
0.7339
0
0.7339
0
0.7339
0
0.7339
0
0.7339
0
0.7339
0

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

Konversi

Konversi

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0
0
0
0.1932
0.1519
0.0929
0.0775
0.0663
0.0402
0.0210
0.0068
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
193.2340
151.8726
92.8682
77.4609
66.3218
40.1678
21.0213
6.8407
0
0
0
0
0
0

Luas Areal
(ha)
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3
69.3

Volume
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
43126.90
37889.18
23168.77
19324.94
16545.97
10021.07
5244.39
1706.62
0
0
0
0
0
0
157027.84

148

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.24. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK V
h
(m)
0.1852
0.0845
0.0618
0.0578
0.0715
0.0802
0.0952
0.0708
0.0300
0.0033
0.0094
0.0121
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.1852
0
0.2697
0
0.3314
0
0.3893
0
0.4608
0
0.5410
0.0410
0.6362
0.0952
0.7069
0.0708
0.7369
0.0300
0.7402
0.0033
0.7496
0.0094
0.7617
0.0121
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0
0.7617
0

Konversi

Konversi

Luas Areal

Volume

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0
0.1139
0.2643
0.1966
0.0833
0.0091
0.0261
0.0336
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(ha)

(m3)

0
0
0
0
0
113.9343
264.3379
196.5558
83.3195
9.1306
26.1104
33.5924
0
0
0
0
0
0
0
0
0

20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20

0
0
0
0
0
4193.51
19032.33
14152.02
5999.01
657.40
1879.95
2418.65
0
0
0
0
0
0
0
0
0
48332.87

Tabel 5.25. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK VI
h
(m)
0.0708
0.0588
0.0560
0.0569
0.0647
0.0719
0.0825
0.0757
0.0558
0.0369
0.0308
0.0267
0.0179
0.0110
0.0057
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.0708
0
0.1296
0
0.1856
0
0.2425
0
0.3073
0
0.3792
0
0.4617
0
0.5374
0.0374
0.5932
0.0558
0.6301
0.0369
0.6610
0.0308
0.6877
0.0267
0.7055
0.0179
0.7165
0.0110
0.7221
0.0057
0.7221
0
0.7221
0
0.7221
0
0.7221
0
0.7221
0
0.7221
0

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

Konversi

Konversi

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0
0
0
0.1038
0.1551
0.1026
0.0856
0.0741
0.0496
0.0304
0.0158
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
103.7591
155.1251
102.6325
85.6179
74.1267
49.5935
30.4203
15.7519
0
0
0
0
0
0

Luas Areal
(ha)
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4

Volume
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
12990.57
39314.92
26011.18
21699.00
18786.67
12568.98
7709.72
3992.17
0
0
0
0
0
0
143073.19

149

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.26. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK VII
h
(m)
0.0866
0.0681
0.0620
0.0610
0.0688
0.0757
0.0867
0.0771
0
0.0480
0.0369
0.0300
0.0180
0.0096
0.0035
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
Tinggi Air yang
di hilir pintu baru masuk ke tambak
(m)
(m/jam)
0.0866
0
0.1547
0
0.2166
0
0.2777
0
0.3465
0
0.4222
0
0.5089
0.0089
0.5860
0.0771
0.5860
0
0.6340
0.0480
0.6709
0.0369
0.7009
0.0300
0.7189
0.0180
0.7285
0.0096
0.7320
0.0035
0.7320
0
0.7320
0
0.7320
0
0.7320
0
0.7320
0
0.7320
0

Konversi

Konversi

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)


0
0
0
0
0
0
0.0247
0.2141
0
0.1334
0.1026
0.0832
0.0501
0.0266
0.0098
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
24.6832
214.0708
0
133.3605
102.6287
83.2039
50.0831
26.5699
9.7579
0
0
0
0
0
0

Luas Areal

Volume

(ha)
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9
28.9

(m3)
0
0
0
0
0
0
263.48
22271.92
0
13874.83
10677.49
8656.54
5210.65
2764.33
1015.21
0
0
0
0
0
0
64734.45

Setelah diperoleh besarnya volume air yang diperlukan untuk mengairi


tambak, maka dapat dibandingkan volume air yang tersedia apakah dapat
memenuhi kebutuhan air yang diperlukan untuk pergantian air dalam tambak.
Besarnya volume air yang dibutuhkan per saluran sekunder telah
diperhitungkan pada Tabel 5.6 perbandingan volume kebutuhan air dan volume
ketersediaan air ditampilkan pada Tabel 5.27
Tabel 5.27. Perbandingan volume kebutuhan dan ketersediaan air
Kebutuhan
No.

Nama Saluran

1.

Ketersediaan
Air (m )

Air (m )

Air (m )

RK I

66005

76336,58

10331,58

2.

RK II

43215

52246,55

9031,55

3.

RK III

23865

26908,79

3043,79

4.

RK IV

148995

157027,84

8032,84

5.

RK V

43000

48332,87

5332,87

6.

RK VI

151360

143073,19

8286,81

7.

RK VII

62135

64734,45

2599,45

L2A001076
L2A001084

Kekurangan

Air ( m )

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

Kelebihan

BAB V PERENCANAAN

150

Dari tabel hasil perhitungan diatas, hanya saluran RK VI saja yang tidak
terpenuhi dalam pergantian air sebesar 10 % dari volume keseluruhan tambak.
Untuk itu perlu direncanakan ulang hanya pada saluran RK VI saja.
Untuk saluran RK VI, direncanakan untuk memperlebar pada pintu
pemasukan. Direncanakan lebar pintu pemasukan akan ditambah 1 m. Jadi lebar
pemasukan pada muara saluran RK VI menjadi = 6,0 m + 1,0 m = 7,0 m. Untuk
perhitungan pintu klep pada muara saluran RK VI baru, perhitungan ketinggian
air di saluran RK VI baru dan perhitungan volume ketersediaan air yang baru
ditampilkan pada Tabel 5.28 dan Tabel 5.29

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

151

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.28. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran RK VI baru
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3317
0.3487
0.3880
0.4389
0.5153
0.5970
0.6963
0.7515
0.7570
0.7431
0.7559
0.7701
0.7618
0.7516
0.7406
0.7199
0.6804
0.6210
0.5609
0.5011
0.4517

h1
(m)
0.3317
0.3487
0.3880
0.4389
0.5153
0.5970
0.6963
0.7515
0.7570
0.7431
0.7559
0.7701
0.7618
0.7516
0.7406
0.7199
0.6804
0.6210
0.5609
0.5011
0.4517

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
0.0423
0.0339
0.0306
0.0294
0.0315
0.0333
0.0364
0.0325
0.0235
0.0148
0.0122
0.0106
0.0065
0.0034
0.0011
-0.0019
-0.0069
-0.0145
-0.0221
-0.0297
-0.0360

a
(m)
0.0189
0.0152
0.0137
0.0131
0.0141
0.0149
0.0163
0.0146
0.0105
0.0066
0.0055
0.0047
0.0029
0.0015
0.0005
0
0
0
0
0
0

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

h2/a

7.00
17.55
0
7.00
23.00
5.45
7.00
28.36
10.81
7.00
33.38
15.83
7.00
36.57
19.02
7.00
40.10
22.55
7.00
42.76
25.21
7.00
51.63
34.08
7.00
72.13
54.58
7.00 112.03
94.48
7.00 137.96 120.41
7.00 162.50 144.95
7.00 260.25 242.70
7.00 491.06 473.51
7.00 1534.93 1517.38
7.00
0
0
7.00
0
0
7.00
0
0
7.00
0
0
7.00
0
0
7.00
0
0

0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0
0
0
0
0
0

0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0
0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344

h2
(m)
0
0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344

Q
(m3/det)
0.0864
0.0710
0.0676
0.0691
0.0802
0.0913
0.1078
0.1001
0.0724
0.0454
0.0378
0.0330
0.0203
0.0105
0.0033
0
0
0
0
0
0

V
(m3)
310.8966
255.6953
243.4029
248.8109
288.8801
328.5380
388.1270
360.3478
260.7963
163.3022
136.0557
118.7752
72.9683
37.8975
11.8592
0
0
0
0
0
0
3226.3529

A
(m2)
3763
3918
4041
4154
4267
4394
4535
4696
4840
4942
5004
5055
5099
5126
5140
5144
5144
5144
5144
5144
5144

h
(m)
0.0826
0.0653
0.0602
0.0599
0.0677
0.0748
0.0856
0.0767
0.0539
0.0330
0.0272
0.0235
0.0143
0.0074
0.0023
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)
0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344

152

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.29. Volume air yang masuk ke dalam tambak dari saluran RK VI
Baru
h
(m)

Tinggi Air
di hilir pintu baru
(m)

0.0826
0.0653
0.0602
0.0599
0.0677
0.0748
0.0856
0.0767
0.0539
0.0330
0.0272
0.0235
0.0143
0.0074
0.0023
0
0
0
0
0
0

Tinggi Air yang


masuk ke tambak
(m/jam)

0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344
0.7344

0
0
0
0
0
0
0
0.0728
0.0539
0.0330
0.0272
0.0235
0.0143
0.0074
0.0023
0
0
0
0
0
0

Konversi

Konversi

Luas Areal

Volume

(L / det / ha)

(m3 / det / ha)

(ha)

(m3)

0
0
0
0
0
0
0
202.2622
193.3127
91.7956
75.5295
65.2692
39.7498
20.5364
6.4090
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0.2023
0.1933
0.0918
0.0755
0.0653
0.0397
0.0205
0.0064
0
0
0
0
0
0

70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4
70.4

0
0
0
0
0
0
0
48647.01
48993.18
23264.67
19142.20
16541.84
10074.20
5204.75
1624.30
0
0
0
0
0
0
173492.14

Dari hasil tersebut, maka perbandingan volume ketersediaan air dan


kebutuhan air menjadi seperti pada Tabel 5.30 berikut :
Tabel 5.30. Perbandingan volume kebutuhan dan ketersediaan air
Kebutuhan
No.

Nama Saluran

1.

Ketersediaan

Air (m )

Air (m )

Air (m )

(%)

RK I

66005

76336,58

10331,58

11,56

2.

RK II

43215

52246,55

9031,55

12,09

3.

RK III

23865

26908,79

3043,79

11,27

4.

RK IV

148995

157027,84

8032,84

10,54

5.

RK V

43000

48332,87

5332,87

11,24

6.

RK VI

151360

173492,14

22132,14

11,46

7.

RK VII

62135

64734,45

2599,45

10,42

L2A001076
L2A001084

Pergantian Air

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

Kelebihan

153

BAB V PERENCANAAN
Tabel 5.31. Data Teknis Perencanaan Baru

Keterangan

Data Teknis (m)

Titik Bebas Banjir / Tanggul Utama

3,00 m

0m

Tinggi Pematang Antara

2,70 m

- 0,30 m

Dasar Saluran Sekunder

0,00 m

- 3,00 m

Dasar Pelataran

0,25 m

- 2,75 m

Dasar Saluran Drainase

0,00 m

- 3,00 m

Gambar 5.12. Potongan Melintang Saluran dan Tambak

5.5.4.2 Hasil Perhitungan pada Saluran Drainase

Hasil perhitungan pada saluran Drainase dengan pintu klep di tiap ujung
saluran dengan menggunakan program HEC-RAS mendapatkan out-put berupa
ketinggian air dan debit pada masing-masing saluran. Hasil perhitungan
menggunakan program HEC-RAS dari muara saluran di tiap-tiap saluran Drainase
ditampilkan pada Tabel 5.32 - Tabel 5.41 dan Gambar 5.13 Gambar 5.22

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

154

BAB V PERENCANAAN
River: DRAINASE 1 Reach: TENGGA NG RS: 0

0.8

Legend

0.7

0.06

Stage

0.04

Flow

0.6

0.00
-0.02

0.5

-0.04

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.02

-0.06
0.4

-0.08
-0.10

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.12
2000

Gambar 5.13. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 1 Tenggang

River: DRAINASE 2 Reach: TENGGA NG RS: 0

0.8

Legend
Stage

0.04

Flow

0.7

0.00

0.6

-0.02
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.02

-0.04
-0.06

0.4
-0.08
0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.10
2000

Gambar 5.14. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 2 Tenggang

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

155

BAB V PERENCANAAN
River: DRAINASE 3 Reach: TENGGA NG RS: 0

0.8

0.10

Legend

0.05

0.6

0.00

0.5

-0.05

0.4

-0.10

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.15
2000

Gambar 5.15. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 3 Tenggang

River: DRAINASE 4 Reach: TENGGA NG RS: 0

0.8

Legend
Stage
0.02

0.7

Flow

-0.02
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.00
0.6

-0.04
0.4

0.3
2400

-0.06

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.08
2000

Gambar 5.16. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 4 Tenggang

River: DRAINASE 5 Reach: TENGGA NG RS: 0

0.8

0.2

Legend

0.1

0.6

0.0

0.5

-0.1

0.4

-0.2

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.3
2000

Gambar 5.17. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 5 Tenggang


Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

156

BAB V PERENCANAAN
River: DRAINASE 1 Reach: SRINGIN RS: 0

0.8

0.2

Legend

0.1

0.6

0.0

0.5

-0.1

0.4

-0.2

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.3
2000

Gambar 5.18. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 1 Sringin

River: DRAINASE 2 Reach: SRINGIN RS: 0

0.8

0.2

Legend

0.1

0.6

0.0

0.5

-0.1

0.4

-0.2

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.3
2000

Gambar 5.19. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 2 Sringin

River: DRAINASE 3 Reach: SRINGIN RS: 0

0.8

0.4

Legend
Stage

0.2

0.7

Flow

-0.2
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.0
0.6

-0.4
0.4

0.3
2400

-0.6

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.8
2000

Gambar 5.20. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 3 Sringin


Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

157

BAB V PERENCANAAN
River: DRAINASE 4 Reach: SRINGIN RS: 0

0.8

0.10

Legend

0.05

0.6

0.00

0.5

-0.05

0.4

-0.10

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

Stage
0.7

-0.15
2000

Gambar 5.21. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 4 Sringin

River: DRAINASE 5 Reach: SRINGIN RS: 0

0.8

0.15

Legend

0.10

Stage
Flow

0.7

0.00

0.6

-0.05
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.05

-0.10
-0.15

0.4
-0.20
0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.25
2000

Gambar 5.22. Hasil Perhitungan di muara Saluran Drainase 5 Sringin

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

158

BAB V PERENCANAAN

Hasil perhitungan ketinggian air tersebut, digunakan sebagai data ketinggian


air di hilir pintu klep. Sedangkan di hulu pintu klep, digunakan data ketinggian air
dalam tambak. Perhitungan akan menggunakan pendekatan pintu sorong dengan
keadaan seperti Gambar dibawah.

Rumus debit yang dipakai untuk pintu adalah

Q = K . .a.b. 2.g .h1


Perhitungan volume dan debit air yang keluar dari pintu klep menuju Saluran
drainase utama yaitu Sungai Sringin dihitung dengan urutan sebagai berikut :
Perhitungan Pintu Klep di Saluran Drainase 1 Tenggang

Pada Jam 13.00 (Saat Air Laut Mulai Surut)

1. h1 = tinggi air di hulu pintu

= 0,7583 m

2. h2 = tinggi air di hilir pintu

= 0,7501 m

3. y = bukaan pintu arah tegak lurus pintu


=

air .h1
(buku mekanika fluida; pintu dari baja)
baja
( air = 1000 kg/ cm3 , baja = 7850 kg/ cm3 )

1000.(0,7583 - 0,7501)
= 0,00104 m
7850

4. a = bukaan pintu vertikal


= y. Sin(180 - (90 63,43))
= 0,00104 . Sin 26,57 = 0,000465 m
5. b = lebar pintu = 3 buah pintu dgn lebar masing-masing 2 m
=6m

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

159

BAB V PERENCANAAN
6.

h1 / a = 1630,75

B = 0,64 (Koefisien debit; Tabel 2.15)

7.

h2 / a = 1613,12

B K = 0,40 (Koefisien aliran tenggelam; Tabel 2.16)

8. Q = K ..a.b. 2.g .h1


= 0,40. 0,64. 0,000465. 6.

2.9,8.0, 7583

= 0,00275 m3 / det
9. V = Q . waktu
= 0,00275. 3600
= 9,912 m3
10. h = V / A
= 0,0039 m
11. h saluran = h1 h
= 0,7583 - 0,0039
= 0,7544 m
Untuk perhitungan selengkapnya pada perhitungan pintu klep di masing-masing
muara saluran drainase, dapat dilihat pada Tabel 5.32 Tabel 5.41

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

160

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.32. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 1
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.1372
0.2255
0.2945
0.3576
0.4312
0.5113
0.6048
0.6807
0.7188
0.7295
0.7432
0.7562
0.7583
0.7583
0.7544
0.7544
0.7381
0.7107
0.6683
0.6184
0.5649

h1
(m)
0.1372
0.2255
0.2945
0.3576
0.4312
0.5113
0.6048
0.6807
0.7188
0.7295
0.7432
0.7562
0.7583
0.7583
0.7544
0.7544
0.7381
0.7107
0.6683
0.6184
0.5649

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0234
-0.0160
-0.0123
-0.0106
-0.0114
-0.0114
-0.0122
-0.0102
-0.0053
-0.0014
-0.0021
-0.0018
-0.0002
0.0011
0.0000
0.0044
0.0074
0.0116
0.0139
0.0152
0.0147

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0005
0.0000
0.0020
0.0033
0.0052
0.0062
0.0068
0.0066

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 1604.91
6.00
0.00
6.00 381.01
6.00 221.68
6.00 136.68
6.00 107.53
6.00
91.03
6.00
85.68

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1587
0
364
204
119
90
74
68

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.00
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.00
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3499
0.3901
0.4401
0.5200
0.6002
0.7001
0.7599
0.7599
0.7401
0.7599
0.7699
0.7599
0.7501
0.7544
0.7199
0.6800
0.6200
0.5599
0.4999
0.4499

h2
(m)
0.3200
0.3499
0.3901
0.4401
0.5200
0.6002
0.7001
0.7599
0.7599
0.7401
0.7599
0.7699
0.7599
0.7501
0.7544
0.7199
0.6800
0.6200
0.5599
0.4999
0.4499

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0028
0.0000
0.0117
0.0195
0.0298
0.0345
0.0363
0.0337

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10.0732
0.0000
42.1032
70.0224
107.3063
124.3749
130.7675
121.3059
605.9533

A
(m2)
1996
2078
2143
2201
2270
2345
2432
2503
2539
2549
2561
2574
2576
2576
2572
2572
2557
2531
2492
2445
2395

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0039
0.0000
0.0164
0.0274
0.0424
0.0499
0.0535
0.0507

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.1372
0.2255
0.2945
0.3576
0.4312
0.5113
0.6048
0.6807
0.7188
0.7295
0.7432
0.7562
0.7583
0.7544
0.7544
0.7381
0.7107
0.6683
0.6184
0.5649
0.5142

161

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.33. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 2
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.3084
0.3417
0.3818
0.4328
0.5123
0.5963
0.7000
0.7566
0.7585
0.7585
0.7498
0.7498
0.7498
0.7498
0.7498
0.7452
0.7333
0.7084
0.6673
0.6182
0.5651

h1
(m)
0.3084
0.3417
0.3818
0.4328
0.5123
0.5963
0.7000
0.7566
0.7585
0.7585
0.7498
0.7498
0.7498
0.7498
0.7498
0.7452
0.7333
0.7084
0.6673
0.6182
0.5651

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0015
-0.0010
-0.0011
-0.0009
-0.0010
-0.0005
0.0000
-0.0004
-0.0002
0.0023
-0.0013
-0.0026
-0.0013
0.0000
0.0012
0.0032
0.0068
0.0113
0.0137
0.0151
0.0147

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0010
0
0
0
0
0.0006
0.0014
0.0030
0.0050
0.0061
0.0067
0.0066

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 723.37
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 1353.47
6.00 515.96
6.00 241.28
6.00 140.67
6.00 109.00
6.00 91.72
6.00 86.08

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
706
0
0
0
0
1336
498
224
123
91
74
69

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3499
0.3901
0.4401
0.5200
0.6002
0.7001
0.7599
0.7599
0.7401
0.7599
0.7699
0.7599
0.7501
0.7401
0.7199
0.6800
0.6200
0.5599
0.4999
0.4499

h2
(m)
0.3200
0.3499
0.3901
0.4401
0.5200
0.6002
0.7001
0.7599
0.7599
0.7401
0.7599
0.7699
0.7599
0.7501
0.7401
0.7199
0.6800
0.6200
0.5599
0.4999
0.4499

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0062
0
0
0
0
0
0.0085
0.0177
0.0288
0.0340
0.0360
0.0336

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
22.3560
0
0
0
0
12
30.5252
63.7179
103.7560
122.4404
129.7329
120.8243
605.0967

A
(m2)
2155
2187
2224
2272
2346
2424
2521
2574
2576
2576
2568
2568
2568
2568
2568
2563
2552
2529
2491
2445
2395

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0087
0
0
0
0
0
0.0119
0.0250
0.0410
0.0492
0.0531
0.0504

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.3084
0.3417
0.3818
0.4328
0.5123
0.5963
0.7000
0.7566
0.7585
0.7498
0.7498
0.7498
0.7498
0.7498
0.7452
0.7333
0.7084
0.6673
0.6182
0.5651
0.5147

162

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.34. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 3
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.2473
0.3069
0.3579
0.4122
0.4880
0.5702
0.6698
0.7334
0.7488
0.7497
0.7544
0.7663
0.7663
0.7634
0.7573
0.7493
0.7356
0.7098
0.6688
0.6198
0.5671

h1
(m)
0.2473
0.3069
0.3579
0.4122
0.4880
0.5702
0.6698
0.7334
0.7488
0.7497
0.7544
0.7663
0.7663
0.7634
0.7573
0.7493
0.7356
0.7098
0.6688
0.6198
0.5671

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0093
-0.0054
-0.0039
-0.0034
-0.0036
-0.0035
-0.0035
-0.0033
-0.0014
0.0012
-0.0007
-0.0005
0.0008
0.0017
0.0021
0.0037
0.0070
0.0112
0.0136
0.0150
0.0146

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0003
0.0007
0.0010
0.0017
0.0031
0.0050
0.0061
0.0067
0.0065

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 2198.27
6.00 1028.58
6.00 787.64
6.00 450.08
6.00 234.82
6.00 141.20
6.00 109.65
6.00
92.55
6.00
86.94

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2181
1011
770
433
217
124
92
75
69

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3493
0.3883
0.4386
0.5161
0.5974
0.6972
0.7593
0.7601
0.7402
0.7597
0.7703
0.7602
0.7504
0.7404
0.7201
0.6806
0.6216
0.5618
0.5023
0.4526

h2
(m)
0.3200
0.3493
0.3883
0.4386
0.5161
0.5974
0.6972
0.7593
0.7601
0.7402
0.7597
0.7703
0.7602
0.7504
0.7404
0.7201
0.6806
0.6216
0.5618
0.5023
0.4526

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0021
0.0044
0.0057
0.0098
0.0183
0.0288
0.0339
0.0359
0.0334

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
7.4706
15.8758
20.4820
35.2801
65.7702
103.6875
122.1221
129.0892
120.2476
620.0251

A
(m2)
2098
2154
2202
2252
2323
2400
2493
2552
2567
2568
2572
2583
2583
2580
2575
2567
2554
2530
2492
2446
2397

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0029
0.0062
0.0080
0.0137
0.0257
0.0410
0.0490
0.0528
0.0502

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.2473
0.3493
0.3883
0.4386
0.5161
0.5974
0.6972
0.7593
0.7601
0.7402
0.7597
0.7703
0.7634
0.7573
0.7493
0.7356
0.7098
0.6688
0.6198
0.5671
0.5169

163

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.35. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 4
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.1857
0.2709
0.3327
0.3905
0.4622
0.5425
0.6379
0.7086
0.7380
0.7406
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7310
0.7077
0.6683
0.6203
0.5682

h1
(m)
0.1857
0.2709
0.3327
0.3905
0.4622
0.5425
0.6379
0.7086
0.7380
0.7406
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7310
0.7077
0.6683
0.6203
0.5682

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0171
-0.0099
-0.0068
-0.0059
-0.0064
-0.0067
-0.0073
-0.0064
-0.0028
0.0000
-0.0024
-0.0039
-0.0026
-0.0013
0.0000
0.0026
0.0063
0.0108
0.0134
0.0148
0.0144

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0000
0
0
0
0
0
0.0012
0.0028
0.0048
0.0060
0.0066
0.0065

L2A001076
L2A001084

b
(m)
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00

h1/a

h2/a

0
0
0
0
0
0
0
0
0
66137
0
0
0
0
0
640.04
257.70
146.46
111.77
93.84
88.00

0
0
0
0
0
0
0
0
0
66119
0
0
0
0
0
622
240
129
94
76
70

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3486
0.3864
0.4369
0.5126
0.5950
0.6948
0.7589
0.7603
0.7404
0.7595
0.7708
0.7606
0.7507
0.7407
0.7202
0.6812
0.6229
0.5634
0.5043
0.4549

h2
(m)
0.3200
0.3486
0.3864
0.4369
0.5126
0.5950
0.6948
0.7589
0.7603
0.7404
0.7595
0.7708
0.7606
0.7507
0.7407
0.7202
0.6812
0.6229
0.5634
0.5043
0.4549

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0001
0
0
0
0
0
0.0068
0.0165
0.0276
0.0332
0.0354
0.0331

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.2359
0
0
0
0
0
24.3727
59.3686
99.5092
119.6722
127.4527
119.1539
549.7652

A
(m2)
2041
2120
2178
2232
2299
2374
2463
2529
2557
2559
2559
2559
2559
2559
2559
2559
2550
2528
2492
2447
2398

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0001
0
0
0
0
0
0.0095
0.0233
0.0394
0.0480
0.0521
0.0497

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.1857
0.2709
0.3327
0.3905
0.4622
0.5425
0.6379
0.7086
0.7380
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7405
0.7310
0.7077
0.6683
0.6203
0.5682
0.5185

164

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.36. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Tenggang 5
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.1852
0.2697
0.3314
0.3893
0.4608
0.5410
0.6362
0.7069
0.7369
0.7402
0.7496
0.7617
0.7617
0.7612
0.7562
0.7489
0.7354
0.7100
0.6696
0.6209
0.5686

h1
(m)
0.1852
0.2697
0.3314
0.3893
0.4608
0.5410
0.6362
0.7069
0.7369
0.7402
0.7496
0.7617
0.7617
0.7612
0.7562
0.7489
0.7354
0.7100
0.6696
0.6209
0.5686

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0172
-0.0101
-0.0070
-0.0061
-0.0066
-0.0069
-0.0075
-0.0066
-0.0030
0.0000
-0.0013
-0.0012
0.0001
0.0013
0.0020
0.0037
0.0069
0.0111
0.0135
0.0149
0.0145

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0001
0.0006
0.0009
0.0016
0.0031
0.0050
0.0060
0.0066
0.0065

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 12009
6.00 1273.75
6.00 854.20
6.00 457.73
6.00 238.08
6.00 143.03
6.00 110.69
6.00
93.42
6.00
87.79

h2/a

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
11991
1256
837
440
221
125
93
76
70

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3486
0.3864
0.4369
0.5126
0.5950
0.6948
0.7589
0.7603
0.7404
0.7595
0.7708
0.7606
0.7507
0.7407
0.7202
0.6812
0.6229
0.5634
0.5043
0.4549

h2
(m)
0.3200
0.3486
0.3864
0.4369
0.5126
0.5950
0.6948
0.7589
0.7603
0.7404
0.7595
0.7708
0.7606
0.7507
0.7407
0.7202
0.6812
0.6229
0.5634
0.5043
0.4549

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0004
0.0035
0.0052
0.0096
0.0180
0.0284
0.0337
0.0356
0.0332

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1.3552
12.7636
18.8474
34.6624
64.8475
102.4023
121.1653
128.2169
119.5428
603.8035

A
(m2)
2040
2119
2177
2231
2298
2373
2462
2528
2556
2559
2567
2579
2579
2578
2574
2567
2554
2530
2493
2447
2398

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0005
0.0050
0.0073
0.0135
0.0254
0.0405
0.0486
0.0524
0.0498

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.1852
0.2697
0.3314
0.3893
0.4608
0.5410
0.6362
0.7069
0.7369
0.7402
0.7496
0.7617
0.7612
0.7562
0.7489
0.7354
0.7100
0.6696
0.6209
0.5686
0.5187

165

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.37. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 1
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.1079
0.1841
0.2486
0.3101
0.3809
0.4585
0.5483
0.6251
0.6715
0.6936
0.7144
0.7328
0.7411
0.7449
0.7461
0.7434
0.7323
0.7078
0.6670
0.6180
0.5649

h1
(m)
0.1079
0.1841
0.2486
0.3101
0.3809
0.4585
0.5483
0.6251
0.6715
0.6936
0.7144
0.7328
0.7411
0.7449
0.7461
0.7434
0.7323
0.7078
0.6670
0.6180
0.5649

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0272
-0.0213
-0.0181
-0.0166
-0.0177
-0.0180
-0.0193
-0.0173
-0.0113
-0.0060
-0.0058
-0.0048
-0.0024
-0.0007
0.0007
0.0030
0.0067
0.0112
0.0137
0.0151
0.0146

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0003
0.0013
0.0030
0.0050
0.0061
0.0067
0.0066

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 2231.14
6.00 554.59
6.00 245.44
6.00 141.34
6.00 109.18
6.00
91.73
6.00
86.23

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
2214
537
228
124
92
74
69

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3499
0.3897
0.4399
0.5189
0.5993
0.6991
0.7597
0.7600
0.7401
0.7597
0.7702
0.7601
0.7503
0.7403
0.7200
0.6803
0.6205
0.5605
0.5005
0.4507

h2
(m)
0.3200
0.3499
0.3897
0.4399
0.5189
0.5993
0.6991
0.7597
0.7600
0.7401
0.7597
0.7702
0.7601
0.7503
0.7403
0.7200
0.6803
0.6205
0.5605
0.5005
0.4507

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0020
0.0079
0.0174
0.0287
0.0339
0.0360
0.0335

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
7.0716
28.2916
62.5068
103.1457
122.1500
129.6583
120.5508
573.3749

A
(m2)
1968
2039
2100
2157
2223
2296
2379
2451
2495
2515
2535
2552
2560
2563
2564
2562
2551
2528
2490
2445
2395

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0028
0.0110
0.0245
0.0408
0.0490
0.0530
0.0503

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.1079
0.1841
0.2486
0.3101
0.3809
0.4585
0.5483
0.6251
0.6715
0.6936
0.7144
0.7328
0.7411
0.7449
0.7434
0.7323
0.7078
0.6670
0.6180
0.5649
0.5146

166

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.38. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 2
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.0806
0.1453
0.2054
0.2653
0.3332
0.4081
0.4940
0.5712
0.6255
0.6587
0.6862
0.7099
0.7243
0.7318
0.7342
0.7342
0.7275
0.7056
0.6664
0.6182
0.5658

h1
(m)
0.0806
0.1453
0.2054
0.2653
0.3332
0.4081
0.4940
0.5712
0.6255
0.6587
0.6862
0.7099
0.7243
0.7318
0.7342
0.7342
0.7275
0.7056
0.6664
0.6182
0.5658

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0305
-0.0261
-0.0234
-0.0222
-0.0235
-0.0242
-0.0260
-0.0240
-0.0172
-0.0104
-0.0093
-0.0077
-0.0046
-0.0024
-0.0008
0.0018
0.0060
0.0108
0.0134
0.0149
0.0145

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.00
0.00
0.00
0.01
0.01
0.01

L2A001076
L2A001084

b
(m)
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00

h1/a

h2/a

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
908.56
271.42
146.60
111.07
92.79
87.04

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
891.01
253.87
129.05
93.52
75.24
69.49

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3499
0.3892
0.4396
0.5176
0.5983
0.6979
0.7596
0.7603
0.7402
0.7596
0.7705
0.7604
0.7505
0.7405
0.7200
0.6805
0.6211
0.5611
0.5013
0.4517

h2
(m)
0.3200
0.3499
0.3892
0.4396
0.5176
0.5983
0.6979
0.7596
0.7603
0.7402
0.7596
0.7705
0.7604
0.7505
0.7405
0.7200
0.6805
0.6211
0.5611
0.5013
0.4517

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0047
0.0155
0.0275
0.0333
0.0356
0.0332

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
16.9502
55.9717
98.9688
119.8957
128.2537
119.6905
539.7307

A
(m2)
1943
2003
2059
2115
2179
2249
2329
2401
2452
2483
2508
2530
2544
2551
2553
2553
2547
2526
2490
2445
2396

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0066
0.0220
0.0392
0.0482
0.0525
0.0500

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.0806
0.1453
0.2054
0.2653
0.3332
0.4081
0.4940
0.5712
0.6255
0.6587
0.6862
0.7099
0.7243
0.7318
0.7342
0.7275
0.7056
0.6664
0.6182
0.5658
0.5158

167

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.39. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 3
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7344
0.7277
0.7058
0.6667
0.6186
0.5663

h1
(m)
0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7344
0.7277
0.7058
0.6667
0.6186
0.5663

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0302
-0.0257
-0.0230
-0.0218
-0.0230
-0.0238
-0.0256
-0.0238
-0.0171
-0.0103
-0.0092
-0.0077
-0.0046
-0.0024
-0.0008
0.0018
0.0060
0.0107
0.0134
0.0149
0.0145

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0008
0.0027
0.0048
0.0060
0.0067
0.0065

L2A001076
L2A001084

b
(m)
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00
6.00

h1/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
898.86
272.16
147.11
111.29
93.00
87.28

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
881
255
130
94
75
70

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3499
0.3888
0.4394
0.5166
0.5976
0.6971
0.7596
0.7606
0.7403
0.7594
0.7708
0.7607
0.7507
0.7407
0.7201
0.6808
0.6216
0.5616
0.5019
0.4524

h2
(m)
0.3200
0.3499
0.3888
0.4394
0.5166
0.5976
0.6971
0.7596
0.7606
0.7403
0.7594
0.7708
0.7607
0.7507
0.7407
0.7201
0.6808
0.6216
0.5616
0.5019
0.4524

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0048
0.0155
0.0274
0.0333
0.0356
0.0332

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
17.1421
55.8401
98.6768
119.7633
128.0941
119.5206
539.0370

A
(m2)
1945
2006
2062
2118
2181
2251
2331
2402
2453
2484
2509
2531
2544
2551
2553
2553
2547
2527
2490
2445
2396

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0067
0.0219
0.0391
0.0481
0.0524
0.0499

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.0826
0.1479
0.2081
0.2680
0.3357
0.4105
0.4961
0.5728
0.6267
0.6597
0.6869
0.7104
0.7247
0.7321
0.7344
0.7277
0.7058
0.6667
0.6186
0.5663
0.5164

168

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.40. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 4
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.0846
0.1513
0.2124
0.2728
0.3411
0.4164
0.5025
0.5794
0.6063
0.6469
0.6789
0.7056
0.7218
0.7303
0.7332
0.7332
0.7274
0.7073
0.6718
0.6269
0.5781

h1
(m)
0.0846
0.1513
0.2124
0.2728
0.3411
0.4164
0.5025
0.5794
0.6063
0.6469
0.6789
0.7056
0.7218
0.7303
0.7332
0.7332
0.7274
0.7073
0.6718
0.6269
0.5781

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0300
-0.0242
-0.0204
-0.0185
-0.0184
-0.0200
-0.0223
-0.0225
-0.0200
-0.0120
-0.0100
-0.0085
-0.0051
-0.0027
-0.0011
0.0016
0.0055
0.0098
0.0125
0.0138
0.0137

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0007
0.0025
0.0044
0.0056
0.0062
0.0061

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 1045.78
6.00 296.58
6.00 161.98
6.00 120.34
6.00 101.51
6.00
94.39

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1028
279
144
103
84
77

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3413
0.3722
0.4177
0.4859
0.5736
0.6774
0.7557
0.7632
0.7412
0.7577
0.7724
0.7621
0.7514
0.7417
0.7209
0.6844
0.6307
0.5738
0.5185
0.4706

h2
(m)
0.3200
0.3413
0.3722
0.4177
0.4859
0.5736
0.6774
0.7557
0.7632
0.7412
0.7577
0.7724
0.7621
0.7514
0.7417
0.7209
0.6844
0.6307
0.5738
0.5185
0.4706

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0041
0.0142
0.0250
0.0311
0.0332
0.0317

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
14.6966
51.2130
89.9083
112.0108
119.6909
113.9869
501.5066

A
(m2)
1947
2009
2066
2122
2186
2256
2337
2408
2434
2471
2501
2526
2541
2549
2552
2552
2547
2528
2495
2453
2407

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0058
0.0201
0.0356
0.0449
0.0488
0.0474

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.0846
0.1513
0.2124
0.2728
0.3411
0.4164
0.5025
0.5794
0.6063
0.6469
0.6789
0.7056
0.7218
0.7303
0.7332
0.7274
0.7073
0.6718
0.6269
0.5781
0.5307

169

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.41. Perhitungan Volume, debit dan ketinggian air di saluran Drainase Sringin 5
Tinggi Air
di hulu pintu
(m)
0.0866
0.1547
0.2166
0.2777
0.3465
0.4222
0.5089
0.5860
0.5860
0.6340
0.6709
0.7009
0.7189
0.7285
0.7320
0.7320
0.7268
0.7070
0.6716
0.6268
0.5780

h1
(m)
0.0866
0.1547
0.2166
0.2777
0.3465
0.4222
0.5089
0.5860
0.5860
0.6340
0.6709
0.7009
0.7189
0.7285
0.7320
0.7320
0.7268
0.7070
0.6716
0.6268
0.5780

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

y
(m)
-0.0297
-0.0238
-0.0198
-0.0178
-0.0178
-0.0193
-0.0215
-0.0216
-0.0226
-0.0137
-0.0111
-0.0091
-0.0055
-0.0029
-0.0012
0.0014
0.0054
0.0097
0.0125
0.0138
0.0137

a
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0006
0.0024
0.0043
0.0056
0.0062
0.0061

L2A001076
L2A001084

b
(m)

h1/a

6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00
0
6.00 1160.54
6.00 300.89
6.00 162.63
6.00 120.53
6.00 101.59
6.00
94.43

h2/a
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1143
283
145
103
84
77

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40

Tinggi Air
di hilir pintu
(m)
0.3200
0.3413
0.3722
0.4177
0.4859
0.5736
0.6774
0.7557
0.7632
0.7412
0.7577
0.7724
0.7621
0.7514
0.7417
0.7209
0.6844
0.6307
0.5738
0.5185
0.4706

h2
(m)
0.3200
0.3413
0.3722
0.4177
0.4859
0.5736
0.6774
0.7557
0.7632
0.7412
0.7577
0.7724
0.7621
0.7514
0.7417
0.7209
0.6844
0.6307
0.5738
0.5185
0.4706

Q
(m3/det)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0037
0.0140
0.0249
0.0311
0.0332
0.0316

V
(m3)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
13.2099
50.4108
89.4818
111.7891
119.5770
113.9287
498.3974

A
(m2)
1948
2012
2070
2127
2191
2262
2343
2415
2415
2459
2494
2522
2539
2548
2551
2551
2546
2528
2495
2453
2407

h
(m)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0052
0.0198
0.0354
0.0448
0.0488
0.0473

Tinggi Air
di dalam saluran
(m)
0.0866
0.1547
0.2166
0.2777
0.3465
0.4222
0.5089
0.5860
0.5860
0.6340
0.6709
0.7009
0.7189
0.7285
0.7320
0.7268
0.7070
0.6716
0.6268
0.5780
0.5307

BAB V PERENCANAAN

170

Selanjutnya, setelah diketahui debit yang keluar dari pintu klep di masingmasing muara saluran drainase, debit-debit tersebut dijadikan data input dari
saluran drainase untuk mengetahui kondisi yang terjadi pada saluran drainase
utama yaitu Sungai Sringin dan Sungai Tenggang. Debit dari masing-masing
saluran drainase yang akan dijadikan input pada HEC-RAS saluran drainase
primer dapat dilihat pada Tabel 5.42 berikut :

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

171

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.42. Data debit pada masing-masing muara saluran drainase


No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Date
17Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003
18Aug2003

2400
0100
0200
0300
0400
0500
0600
0700
0800
0900
1000
1100
1200
1300
1400
1500
1600
1700
1800
1900
2000

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

NAMA SALURAN
D. Tenggang 1 D. Tenggang 2 D. Tenggang 3 D. Tenggang 4 D. Tenggang 5 D. Sringin 1
Flow
Flow
Flow
Flow
Flow
Flow
m3/det
m3/det
m3/det
m3/det
m3/det
m3/det
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0028
0.0000
0.0117
0.0194
0.0296
0.0339
0.0353
0.0324

L2A001076
L2A001084

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0067
0.0131
0.0191
0.0184
0.0179
0.0146

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0017
0.0035
0.0042
0.0073
0.0138
0.0213
0.0237
0.0240
0.0212

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0001
0
0
0
0
0
0.0056
0.0130
0.0208
0.0235
0.0238
0.0210

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0003
0.0029
0.0040
0.0074
0.0138
0.0213
0.0240
0.0243
0.0215

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0020
0.0079
0.0173
0.0285
0.0334
0.0351
0.0322

D. Sringin 2
Flow
m3/det

D. Sringin 3
Flow
m3/det

D. Sringin 4
Flow
m3/det

D. Sringin 5
Flow
m3/det

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0059
0.0206
0.0392
0.0519
0.0599
0.0607

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0056
0.0192
0.0364
0.0483
0.0557
0.0563

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0048
0.0176
0.0332
0.0449
0.0519
0.0533

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0.0037
0.0147
0.0279
0.0377
0.0432
0.0441

172

BAB V PERENCANAAN

Hasil yang didapat dari perhitungan dengan menggunakan program HECRAS pada saluran drainase dengan input data debit pada hulu dan hilir saluran
drainase utama dapat dilihat pada Gambar 5.23 5.26

Plan: PLAN 2 Riv er: DRAINA SE 7 Reach: TENGGA NG RS: 0

0.8

Legend
Stage
0.04

0.7

Flow

0.00
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.02
0.6

-0.02

0.4

0.3
2400

-0.04

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.06
2000

Gambar 5.23. Hasil perhitungan pada hulu saluran drainase utama


Tenggang

Plan: PLAN 2 Riv er: DRAINA SE 6 Reach: TENGGA NG RS: 325.5

0.8

0.15

Legend
Stage

0.10

Flow

0.7

0.6

0.00

-0.05

0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.05

-0.10
0.4
-0.15

0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.20
2000

Gambar 5.24. Hasil perhitungan pada hilir saluran drainase utama


Tenggang

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

173

BAB V PERENCANAAN

Plan: PLAN 2 Riv er: SRINGIN Reach: SRINGIN 4 RS: 0

0.8

0.00000020

Legend
Stage

0.00000015

0.7

Flow

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.00000010
0.6

0.00000005
0.5

0.00000000

0.4

0.3
2400

-0.00000005

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.00000010
2000

Gambar 5.25. Hasil perhitungan pada hulu saluran drainase utama Sringin

Plan: PLAN 2 Riv er: SRINGIN Reach: SRINGIN 1 RS: 1766

0.8

0.8

Legend

0.6

Stage
Flow

0.7

0.2

0.6

0.0
0.5

Flow (m3/s)

Stage (m)

0.4

-0.2
-0.4

0.4
-0.6
0.3
2400

0200

0400

0600

0800

1000
18Aug2003
Time

1200

1400

1600

1800

-0.8
2000

Gambar 5.26. Hasil perhitungan pada hilir saluran drainase utama Sringin

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

174

BAB V PERENCANAAN

5.6. Pintu Klep


Perencanaan pintu menggunakan konstruksi pintu Klep diupayakan sesuai
dengan kriteria yang diinginkan, baik dari segi konstruksi, kualitas, fungsi,
manfaat, maupun pembiayaan sehingga harus direncanakan dengan baik dan
benar. Perencanaan ini didasarkan pada pertimbangan teknis dengan tidak
mengabaikan pertimbangan non teknis.
Konstruksi pintu klep dimaksudkan untuk membatasi air yang akan masuk
maupun keluar dari masing-masing tambak. Pada masing-masing tambak
terdapat minimal 2 buah pintu klep yang mempunyai fungsi yang berbeda. Pintu
klep pada saluran sekunder / saluran pasok berfungsi mengalirkan air segar dari
saluran primer. Sedangkan pintu klep pada saluran drainase / saluran buang
berfungsi mengalirkan air kotor / buangan dari tambak menuju saluran drainase
primer. Perencanaan pintu klep direncanakan berdasarkan tekanan air tertinggi
yaitu pada saat terjadi pasang tertinggi paling tinggi.

5.6.1. Perencanaan Pintu Klep


5.6.1.1 Kondisi Perencanaan
1. Kondisi air dalam saluran di posisi max = 2,40 m dengan kondisi pintu
tertutup
2. Data penampang sungai pada rencana lokasi pintu klep adalah :

Lebar saluran terbesar : 7,00 meter

Elevasi dasar saluran

Elevasi air dalam saluran sekunder / drainase tertinggi : +2,40 meter

: 0,00 meter

(pada saat pasang tertinggi paling tinggi)

Elevasi air dalam saluran primer saat surut : +1,42 meter


(pada saat pasang tertinggi paling tinggi)

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

175

BAB V PERENCANAAN
+2,40 m

2,40 m

+1,42 m
63,43

+0,00 m

Gambar 5.27. Penampang Pintu Klep

5.6.1.2 Dimensi Pintu Klep


1. Direncanakan lebar pintu klep 2 m
Jumlah pintu klep diambil 3 buah
Jumlah pilar

= 3-1

Maka tebal pilar = ( 7 ( 2.3 )) : 2


2. Hlubang

= 2 buah
= 0,50 m

= (+2,40) - (+0,00) = 2,40 m

3. Kemiringan pintu 2 : 1; = arc tan (2/1) = 63,430


4. H pintu

= H lubang / sin = 2,40 / sin 63,430 = 2,68 m 2,70 m

5. H pintu efektif = H pintu + panjang pegangan + panjang jagaan


= 2,70 + (0,5 / sin ) + (0,5 / sin )
= 3,81 m 4,0 m
6. B efektif

=2m

Hpintu efefektif = 4,0 m

Beffektif

= 2,0 m

5.6.1.3 Perhitungan Pintu Klep


Pintu klep ini direncanakan terbuat dari profil baja yang digunakan sebagai
kerangka vertikal atau horisontal sebagai penguat terhadap lembaran plat baja.
Perhitungan pintu klep ini meliputi :

Dimensi balok vertikal dan balok horisontal

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

176

BAB V PERENCANAAN

Perhitungan tebal plat

Operasi pintu klep

Dinding penahan tanah

5.6.1.4 Perhitungan Balok Vertikal


Balok vertikal sebagai kerangka pintu klep ini terdiri dari dua balok yang
ditempatkan pada sisi-sisi pintu klep.

1. Gaya-gaya yang bekerja


a. Distribusi tekanan air dalam tambak pada balok vertikal
d1

+2,40 m

x1

Pv1
h1

Ph1

y1

a
+0,00 m

air

= 1 t / m3

= 63,430

Sin

= 2/ 5

Cos

= 1/ 5

Tan

=2

B (lebar pintu ) = 2 m

Gambar 5.28. Distribusi Tekanan Air dalam Tambak pada Balok Vertikal
d1 = h1 / tan = 2,40 / 2 = 1,20 m
x1 = (1/3) d1 = 1/3.1,20 = 0,40 m

y1 = (1/3) h1 = 1/3. 2,40 = 0,80 m

b. Distribusi tekanan air surut pada balok vertikal


d1

Pv2
+1,42 m
x2

h2
Ph2
y2

a
+0,00 m

Gambar 5.29. Distribusi Tekanan Air Surut pada Balok Vertikal


Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

177

d2 = h2 / tan = 1,42 / 2 = 0,71 m


x2 = (1/3) d2 = 1/3.0,71 = 0,24 m

y2 = (1/3) h2 = 1/3. 1,42 = 0,47 m


Gaya-gaya yang bekerja dipikul oleh 2 balok vertikal di sisi kanan dan kiri,
untuk itu gaya-gaya yang bekerja dibagi menjadi dua :
Pv1 = .d1.(1/ 2).h1.( B / 2)
= 1.1,20.1/2.2,40.(2/2)
= 1,44 ton
Pv2 = .d 2 .(1/ 2).h2 .( B / 2)
= 1.0,71.1/2.1,42.(2/2)
= 0,5041 ton

Ph1 = .h1.(1/ 2).h1.( B / 2)


= 1.2,40.1/2.2,40.( 2/2 )
= 2,88 ton

Ph2 = .h2 .(1/ 2).h2 .( B / 2)


= 1.1,42.1/2.1,42.( 2/2 )
= 1,0082 ton

2. Dimensi Balok Vertikal


Momen maksimum = | M maks |
| M maks |

= ( pv1.x1 ) ( ph1. y1 ) ( pv2 .x2 ) + ( ph2 . y2 )


= -(1,44.0,40) (2,88.0,80) (0,5041.0,24) + (1,0082.0,47)
= -2,527 tm

Momen maksimum = -2,527 tm = 2,527.10 5 kg.cm

ijin = 1600 kg / cm 2
W =M/
= 2,527.10 5 /1600
= 157,93 cm 3
Dicoba baja DIN 15 , Wx = 253 cm3, Ix = 1900 cm4

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

178

BAB V PERENCANAAN

3. Kontrol Tegangan

=M/W
= 2,527.105 / 253
= 998,814 kg / cm2 ijin = 1600 kg / cm2 (AMAN)

5.6.1.5 Perhitungan Balok Horizontal


Perhitungan balok horizontal direncanakan terhadap balok yang menerima
tegangan maksimum tergantung pada kedalaman penempatan balok tersebut.

1. Penempatan Balok Horisontal


1,20

+2,40 m

x
2,40 m

II

2,40 - y

a
+0,00 m

Atotal

= . 1,20 . 2,40 = 1,44 m2

AI = AII = Atotal / 2 = 1,44 / 2 = 0,72 m2


AII

= x. (2,40 y) / 2

0,72

= x. (2,40 y) / 2

= 1,44 / ( 2,40 y)

AI

= ((x + 1,20) / 2) . y

1,44

= (((1,44 / (2,40 y)) + 1,20) . y))

(1,44 1,20y) (2,40 y) = 1,44 y


1,20 y2 5,76 y + 3,456 = 0
y = 0,70 m
x = 1,44 / (2,40 y)
= 1,44 / (2,40 0,70)
= 0,847 m ~ 0,85 m

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

179

BAB V PERENCANAAN

1,20 m

x'1
x'2

0,70 m

x1

= (1/3) . 0,70 = 0,233 m

x2

= (1/2) . 0,70 = 0,35 m

x1

= {(x2 x1)} / 2 + x1
= {(0,35 0,233)} / 2 + 0,233 = 0,2915 m

x2

= (1/3) . 0,70
= 0,566 m

Sehingga penempatan balok horizontal pada pintu klep adalah sbb:

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

180

BAB V PERENCANAAN
+2,40 m
1,134 m

q2
0,976 m

q1

0,29 m

+0,00 m

Gambar 5.30. Penempatan Balok Horisontal

2. Dimensi Balok Horisontal

Diperkirakan balok horizontal yang menerima tegangan maksimum adalah


balok yang menerima tegangan q1, jadi yang diperiksa adalah balok tersebut.
q = (0,85 + 1,20) / 2
= 1,025 t/m

q1 = 1,025 t/m = 10,25 kg/cm

200 cm

Mmaksimum = (1/8). q. l2
= (1/8) . 10,25 . 2002
= 51250 kgm
ijin

= 1600 kg / cm2

= M / ijin
= 51250 / 1600
= 32,031 cm3

Dicoba dengan baja [ 12 , Wx = 60,7 cm3


Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

181

BAB V PERENCANAAN
Ix = 364 cm4
3. Kontrol Tegangan

=M/W
= 51250 / 60,7
= 844,316 kg / cm3 < 1600 kg / cm3 (AMAN)

5.6.1.6 PerhitunganTebal Pelat

Perhitungan untuk tebal plat dipakai rumus Back Formula


2

1 a2 b
p

2 a 2 + b 2 t

= k

Dimana : = tegangan yang diijinkan (1600 kg/cm2)


k

= koefisien, diambil k = 0,8

= lebar plat yang ditinjau (m)

= panjang plat yang ditinjau (m)

= tebal plat yang dicari (m)

= beban terpusat masing-masing bentang (kg)

1. Gaya-gaya yang bekerja pada pelat

Distribusi tekanan air dalam saluran sekunder maksimum pada pelat

PA

0,567 m

1,622 m
2,255 m

PB

2,40 m

PC

Gambar 5.31. Distribusi Tekanan Air dalam Saluran Sekunder Maksimum


pada Pelat Pintu
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

182

BAB V PERENCANAAN

Distribusi tekanan air saluran sungai maksimum pada pelat

0,078 m
0,643 m

1,42 m

PD

1,275 m

PE
PF

Gambar 5.32. Distribusi Tekanan Air Saluran Sungai Maksimum pada


Pelat

PA

= . 0,567
= 0,567 t/m2

PB

= . 1,622

= 1,622 t/m2
PC

= 0,0078 kg/cm2

= . 0,643

= 0,643 t/m2
PF

= 0,2255 kg/cm2

= . 0,078
= 0,078 t/m2

PE

= 0,1622 kg/cm2

= . 2,255
= 2,255 t/m2

PD

= 0,0567 kg/cm2

= 0,0643 kg/cm2

= . 1,275
= 1,275 t/m2

= 0,1275 kg/cm2

Pada Bentang I

P = PA - PD = 0,0567 0,0078 = 0,0489 kg/cm2

Pada Bentang II

P = PB - PE

Pada Bentang III

= 0,1622 0,0643 = 0,0979 kg/cm2

P = PC - PF = 0,2255 0,1275 = 0,0980 kg/cm2

2. Tebal Plat

Luasan I 1600 = (1/2).0,8.(2002 / (2002 + 113,42)).(113,4 / t)2.0,0489


t = 0,345 cm
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

183

BAB V PERENCANAAN
Luasan II 1600 = (1/2).0,8.(2002 / (2002 + 97,42)).(97,4 / t)2.0,0979
t = 0,433 cm
Luasan III 1600 = (1/2).0,8.(2002 / (2002 + 292)).(29 / t)2.0,0980
t = 0,142 cm
Tebal pelat terbesar = 0,433 cm
Alokasi korosi

= 0,2 cm

Tebal pelat baja yang digunakan = 0,433 + 0,2 = 0,633 0,65 cm

5.6.1.7 Perhitungan Berat Pintu

Berat jenis baja ( baja) = 7,85 t/m3

= 7850 kg / m3

Berat baja DIN 15

= 37,2 kg/m untuk balok vertikal

Berat baja [ 12

= 13,4 kg/m untuk balok horisontal

Pelat baja

= 2,0. 2,40.0,0065.7850 = 244,92 kg

Balok vertikal

= 2 . 4,0. 37,2 = 297,6 kg

Balok horizontal

= 5 . 2,0 . 13,4 = 134 kg

Berat pintu

= berat (pelat baja + balok vertikal + balok horisontal)


= 244,92 + 297,6 + 134
= 676,52 kg

5.6.2. Operasi Pintu


5.6.2.1 Pintu klep pada saluran sekunder

Pintu klep pada saluran sekunder berfungsi untuk menahan air dari dalam
saluran saat air mulai surut. Pintu ini direncanakan dalam keadaan tertutup akibat
tekanan air dari dalam saluran sekunder dan tekanan air dalam saluran primer
saat mulai surut.
Pintu klep ini akan beroperasi membuka dan menutup apabila momen yang
ditimbulkan oleh tekanan air dalam saluran pada hilir pintu (momen tahan) sama
dengan besar momen yang diakibatkan oleh tekanan air dari saluran primer pada
hulu pintu klep (momen buka).
Direncanakan pintu klep dalam kondisi akan tertutup pada elevasi muka air
di saluran + 0 m pada hilir pintu klep dan + 0,32 m di hulu pintu klep dan akan
mulai membuka bila elevasi di hulu pintu klep berada diatas elevasi +0,32 m dan

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

184

BAB V PERENCANAAN

akan menutup kembali bila elevasi di hilir pintu klep lebih tinggi daripada di hulu
pintu klep.
X4

Gc
X3

h3

X2
h2

Gp
P2

+0,00 m

Gambar 5.33. Pintu Klep pada Saluran Sekunder

H eff pintu = 4,0 m

= arc tan 2/1 = 63,430

h1

=0m

h2

= 0,33 m

h3

= 2,40 + (0,56 sin )


= 2,40 + (0,56. 2 / 5)
= 2,90 m

x1

= [(2/3) . (h1 / sin )] + 0,56


= [(2/3) . (0 / (2 / 5))] + 0,56
= 0,56 m

x2

= [(h3 / sin ) (1/3) . (h2 / sin ]


= [(2,90 /( 2 / 5)) (1/3) . (0,33/ (2 / 5)]
= 3,12 m

x3

= 0,56 . cos = 0,25 m

x4

= ((1/2). Hpintu 1) . (1/ 5)


= ((1/2) . 4,0) 1) . (1/5)
= 0,271 m

GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton


MT = momen tahan = P1 . x1 + GP . x4
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

185

BAB V PERENCANAAN

) )(

2
MT = (1/ 2 ) . . ( h1 / sin ) .B . ( ( 2 / 3) .) ( h1 / ( sin ) ) + ( H eff pintu ( h1 / sin ) )

+ ( GP.x4 )
= [((1/2)..((h12/(4/5))).2,0).(((2/3).(h1/(2/5))+(4,0 - (h1/(2/5))))]

+(0,677.0,271)
= 5h12 -0,466 h13 + 0,1835
Direncanakan H = 0, m atau pada elevasi muka air +0,00 m
MT = -0,466 h12 + 5 h13 + 0,1835
MT = -0,466 (0,00)2 + 5 (0,00)3 + 0,1835
MT = 0,1835 tm
MB = momen buka = P2 . x2
= 0,128.3,144
= 0,4024 tm
MT < MB pintu dalam keadaan terbuka
Untuk itu diperlukan counterweight agar pintu dapat menutup (MB=MT). Berat
counterweight yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

MB = MT => merupakan kondisi pintu agar tertutup


MT = MB
0,1835 + Ge. x3

= P2 . x2

0,1835 + Ge. 0,25 = 0,4024


Ge

= 0,88 t 880 kg

Jadi berat counterweight yang dibutuhkan adalah 0,88 ton atau 880 kg
Kontrol keadaan pintu klep apakah akan membuka atau menutup pada
kondisi-kondisi dibawah ini
1. Pada kondisi di hulu pintu klep +0,3487 m dan muka air dalam saluran =
+0,0826 m

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

186

BAB V PERENCANAAN

X4

X1

Gc
X3

h3

X2
h2

Gp
P2

P1

+0,00 m
h1

Gambar 5.34. Kontrol Keadaan Pintu Klep pada Kondisi di Hulu Pintu
Klep +0,3487 m dan Muka Air dalam Saluran = +0,0826 m

H eff pintu = 4,0 m

= arc tan 2/1 = 63,430

h1

= 0,0826 m

h2

= 0,3487 m

h3

= 2,40 + (0,56 sin )


= 2,40 + (0,56. 2 / 5)
= 2,90 m

x1

= [(2/3) . (h1 / sin )] + 0,56


= [(2/3) . (0,0826 / (2 / 5))] + 0,56
= 0,62 m

x2

= [(h3 / sin ) (1/3) . (h2 / sin ]


= [(2,90 / (2 / 5) (1/3) . (0,3487 / (2 / 5)]
= 3,112 m

x3

= 0,56 . cos = 0,25 m

x4

= ((1/2). Hpintu 1) . (1/ 5)


= ((1/2) . 4,0) 1) . (1/5)
= 0,271 m

GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton


MT = momen tahan = P1 . x1 + GP . x4
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

187

BAB V PERENCANAAN

) )(

2
MT = (1/ 2 ) . . ( h1 / sin ) .B . ( ( 2 / 3) .) ( h1 / ( sin ) ) + ( H eff pintu ( h1 / sin ) )

+ ( GP.x4 )
= [((1/2)..((h12/(4/5))).2,0).(((2/3).(h1/(2/5))+(4,0 - (h1/(2/5))))]

+(0,677.0,271)
= 5h12 -0,466 h13 + 0,1835
Direncanakan H = 0,0826 m atau pada elevasi muka air +0,0826 m
MT = -0,466 h12 + 5 h13 + 0,1835 + Ge. x3
MT = -0,466 (0,0826)2 + 5 (0,0826)3 + 0,1835 + 0,88. 0,25
MT = 0,4031 tm
MB = momen buka = P2 . x2
= 0,152.3,112
= 0,4730 tm
MT < MB pintu dalam keadaan terbuka
2. Pada kondisi di hulu pintu klep +0,7199 m dan muka air tambak +0,7344 m
X4
X1

Gc
X3

h3

X2
h2

Gp

h1

P1
P2

+0,00 m

Gambar 5.35. Kontrol Keadaan Pintu Klep pada Kondisi di Hulu Pintu
Klep +0,7199 m dan Muka Air Tambak = +0,7344 m

H eff pintu = 4,0 m

= arc tan 2/1 = 63,430

h1

= 0,7344 m

h2

= 0,7199 m

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

188

BAB V PERENCANAAN
h3

= 2,40 + (0,56 sin )


= 2,40 + (0,56. 2 / 5)
= 2,90 m
= [(2/3) . (h1 / sin )] + 0,56

x1

= [(2/3) . (0,7344 / (2 / 5))] + 0,56


= 1,107 m
= [(h3 / sin ) (1/3) . (h2 / sin ]

x2

= [(2,90 / (2 / 5) (1/3) . (0,7199 / (2 / 5)]


= 2,974 m
x3

= 0,56 . cos = 0,25 m

x4

= ((1/2). Hpintu 1) . (1/ 5)


= ((1/2) . 4,0) 1) . (1/5)
= 0,271 m

GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton


MT = momen tahan = P1 . x1 + GP . x4

) ) ((( 2 / 3) .) ( h / (sin )) + ( H

MT = (1/ 2 ) . . ( h1 / sin ) .B .

eff pintu

( h1 / sin ) )

+ ( GP.x4 )
= [((1/2)..((h12/(4/5))).2,0).(((2/3).(h1/(2/5))+(4,0 - (h1/(2/5))))]

+(0,677.0,271)
= 5h12 -0,466 h13 + 0,1835
Direncanakan H = 0,7344 m atau pada elevasi muka air +0,7344 m
MT = -0,466 h12 + 5 h13 + 0,1835 + Ge. x3
MT = -0,466 (0,7344)2 + 5 (0,7344)3 + 0,1835 + 0,88. 0,25
MT = 2,1326 tm
MB = momen buka = P2 . x2
= 0,647.2,974
= 0,1926 tm
MT > MB pintu dalam keadaan tertutup

5.6.2.2 Pintu klep pada saluran drainase

Pintu klep pada saluran drainase berfungsi untuk menahan air dari luar
saluran drainase saat air mulai pasang dan membuka pada saat air mulai surut.
Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

189

BAB V PERENCANAAN

Pintu ini direncanakan dalam keadaan tertutup akibat tekanan air dari saluran
primer dan tekanan air dalam saluran drainase saat pasang.
Direncanakan pintu klep dalam kondisi akan tertutup pada elevasi muka air
di saluran + 0,7583 m pada hulu pintu klep dan + 0,7599 m di hilir pintu klep dan
akan mulai membuka bila elevasi di hulu pintu klep lebih tinggi daripada di hilir
pintu klep.
X4
X1

Gc
X3

h3

X2
h2

Gp

h1

P1
P2

+0,00 m

Gambar 5.36. Pintu Klep pada Saluran Drainase

H eff pintu = 4,0 m

= arc tan 2/1 = 63,430

h1

= 0,7599 m

h2

= 0,7583 m

h3

= 2,40 + (0,56 sin )


= 2,40 + (0,56. 2 / 5)
= 2,90 m

x1

= [(2/3) . (h1 / sin )] + 0,56


= [(2/3) . (0,7599 / (2 / 5))] + 0,56
= 1,126 m

x2

= [(h3 / sin ) (1/3) . (h2 / sin ]


= [(2,90 /( 2 / 5)) (1/3) . (0,7583/ (2 / 5)]
= 2,96 m

x3

= 0,56 . cos = 0,25 m

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

190

BAB V PERENCANAAN
x4

= ((1/2). Hpintu 1) . (1/ 5)


= ((1/2) . 4,0) 1) . (1/5)
= 0,271 m

GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton


MT = momen tahan = P1 . x1 + GP . x4

) ) ((( 2 / 3) .) ( h / (sin )) + ( H

MT = (1/ 2 ) . . ( h1 / sin ) .B .

eff pintu

( h1 / sin ) )

+ ( GP.x4 )
= [((1/2)..((h12/(4/5))).2,0).(((2/3).(h1/(2/5))+(4,0 - (h1/(2/5))))]

+(0,677.0,271)
= 5h12 -0,466 h13 + 0,1835
Direncanakan H = 0,7599 m atau pada elevasi muka air +0,7599 m
MT = -0,466 h12 + 5 h13 + 0,1835
MT = -0,466 (0,7599)2 + 5 (0,7599)3 + 0,1835
MT = 2,1084 tm
MB = momen buka P2 . x2
= 0,718.2,96
= 2,127 tm
MT < MB pintu dalam keadaan terbuka
Untuk itu diperlukan counterweight agar pintu dapat menutup (MB=MT). Berat
counterweight yang dibutuhkan adalah sebagai berikut : MB = MT =>

merupakan kondisi pintu agar tertutup


MT = MB
2,1084 + Ge. x3

= P2 . x2

2,1084 + Ge. 0,25 = 2,127


Ge

= 0,076 t 80 kg

Jadi berat counterweight yang dibutuhkan adalah 0,080 ton atau 80 kg


Kontrol keadaan pintu klep apakah akan membuka atau menutup pada
kondisi-kondisi dibawah ini
1. Pada kondisi di hulu pintu klep +0,7583 m dan muka air dalam saluran =
+0,7501 m

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

191

BAB V PERENCANAAN

X4
X1

Gc
X3

h3

X2

Gp

h2

h1

P2

P1
+0,00 m

Gambar 5.35. Kontrol Keadaan Pintu Klep pada Saluran Drainase pada
Kondisi di Hulu Pintu Klep +0,7583 m dan Muka Air dalam Saluran =
+0,7501 m

H eff pintu = 4,0 m

= arc tan 2/1 = 63,430

h1

= 0,7501 m

h2

= 0,7583 m

h3

= 2,40 + (0,56 sin )


= 2,40 + (0,56. 2 / 5)
= 2,90 m

x1

= [(2/3) . (h1 / sin )] + 0,56


= [(2/3) . (0,7501 / (2 / 5))] + 0,56
= 1,119 m

x2

= [(h3 / sin ) (1/3) . (h2 / sin ]


= [(2,90 / (2 / 5) (1/3) . (0,7583 / (2 / 5)]
= 2,96 m

x3

= 0,56 . cos = 0,25 m

x4

= ((1/2). Hpintu 1) . (1/ 5)


= ((1/2) . 4,0) 1) . (1/5)
= 0,271 m

GP = berat pintu = 676,52 kg = 0,677 ton


Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

192

BAB V PERENCANAAN
MT = momen tahan = P1 . x1 + GP . x4

) )(

2
MT = (1/ 2 ) . . ( h1 / sin ) .B . ( ( 2 / 3) .) ( h1 / ( sin ) ) + ( H eff pintu ( h1 / sin ) )

+ ( GP.x4 )
= [((1/2)..((h12/(4/5))).2,0).(((2/3).(h1/(2/5))+(4,0 - (h1/(2/5))))]

+(0,677.0,271)
= 5h12 -0,466 h13 + 0,1835
Direncanakan H = 0,7501 m atau pada elevasi muka air +0,7501 m
MT = -0,466 h12 + 5 h13 + 0,1835 + Ge. x3
MT = -0,466 (0,7501)2 + 5 (0,7501)3 + 0,1835 + 0,08. 0,25
MT = 2,0515 tm
MB = momen buka P2 . x2
= 0,7187.2,96
= 2,1275 tm
MT < MB pintu dalam keadaan terbuka

5.6.3. Perhitungan Dinding Penahan Tanah Pada Pintu


Direncanakan bangunan dinding penahan tanah yang berupa pasangan batu
kali, yang fungsinya sebagai tempat dipasangnya sisi samping pintu klep dan
menahan tekanan air.

q = 0,88 t/m
Muka tanggul
0,3 m
Pa1

MAT
Pa2

Pa4

Q
2,7 m

Pair

3,2 m

Muka tanah

Pa3

0,80 m

G
Pp
2,00 m

Gambar 5.36. Tampak Samping Dinding Penahan Tanah pada Pintu Klep

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN

193

Diketahui :

Lapisan tanah sampai kedalaman 1,5 m, jenis tanah humus kelanauan


warna hitam

1 = 1,7012 gr/cm3 , C1 = 0,14 kg/cm2 , = 130


Ka1 = tan2 (45 - (1/2))
= tan 2 (45 (13/2))
= 0,633
Kp1 = tan2 (45 + (2/2))
= tan2 (45 + (13/2))
= 1,580
Tekanan arah vertikal

air

= 1 t/m3

pasangan = 2,2 t/m3


P = (1/2) . air . H2
= (1/2) . 1 . 2,402
= 2,88 t
G = A . pasangan
= (3,5.2) . 2,2
= 15,4 t
Q=q.L
= 0,88 . 2
= 1,76 t
Tegangan tanah aktif horizontal

pa1 = 1 . h1 . Ka
= 1,7012 . 0,3 . 0,633
= 0,323 t/m2
pa2 = . h1 . Ka1 2 . C1 . Ka1
= 0,323 2 . 0,14 . 0,633
= 0,1 t/m2
pa3 = sub . h2 . Ka1
= (1,7012 1) . 3,2 . 0,633
= 1,4203 t/m2

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

194

BAB V PERENCANAAN
pa4 = w . h2
= 1 . 3,2
= 3,2 t/m2
Tegangan tanah pasif horizontal

pp

= . h1 . Kp2
= 1,6077 . 0,80 . 1,323
= 1,701 t/m2

Tekanan tanah aktif horizontal

Pa1

= . pa1 . h1
= . 0,323 . 0,3
= 0,0484 t

Pa2

= pa2 . h2
= 0,1 . 3,2
= 0,32 t

Pa3

= . pa3 . h2
= . 1,4203 . 3,2
= 2,272 t

Pa4

= . pa4 . h2
= . 3,2 . 3,2
= 5,12 t

Tekanan tanah pasif horizontal

Pp

= . pp . h
= . 1,701 . 0,80
= 0,6804 t

Tabel 5.43. Gaya-Gaya Vertikal yang Bekerja pada DPT Bangunan Pintu
Gaya

Berat (ton)

Lengan

Momen (ton.m)

15,4

15,4

1,76

1,76

V = 17,16

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

Mv = 17,16

195

BAB V PERENCANAAN

Tabel 5.44. Gaya-Gaya Horizontal yang Bekerja pada DPT Bangunan Pintu
Gaya

Berat (ton)

Lengan (m)

Momen (tm)

Pa1

0,0484

3,35

0,1621

Pa2

0,32

1,6

0,512

Pa3

2,272

1,066

2,4219

Pa4

5,12

1,066

5,458

Pp

-0,6804

0,26

-0,1769

pair

-2,880

1,60

-4,608

H = 4,2

MH = 3,7691

Checking terhadap penggulingan

Syarat : FS = MV / MH > 1,5


FS = 17,16 / 3,7691
= 4,55 > 1,5 AMAN !
Checking terhadap pergeseran

Syarat : FS = gaya-gaya vertikal / gaya-gaya horizontal

>1,5

FS = 17,16 / 4,2
= 4,086 AMAN !
Checking terhadap pecahnya konstruksi

Syarat :

e B/6
B/6 = 2/6 = 0,333
e

= (2/2) ((MV - MH) / GV)


= (2/2) ((17,16 3,7691) / 17,16)
= 0,219 < B/6 = 0,333 AMAN !

Checking terhadap daya dukung tanah

qult

= 1,3. C. Nc + .D. Nq + 0,4. 1. B. Nq


= 130 ( Nc = 8,68 ; Nq = 2,26 ; N = 0,92 )

qult

= 1,3. 1400. 8,68 + 1701,2. 3,5. 2,26 + 0,4. 1701,2. 2. 0,92


= 30506,17 kg/m2

qult

= 30506,17 / 1,5

= 20337,45 kg/m2 = 20,34 t/m2

MH V

W
A

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

BAB V PERENCANAAN
W = 1/6. B. L2 = 1/6. 2. 22 = 1,33 m3
A = B. L = 2.2 = 4 m2

3, 7691 17,16

= 2,834 4, 29
1,33
4

maks = 7,124 t/m2


min = 1,456 t/m2
maks = 7,124 < qult = 20,34 AMAN !

Hendri Setiawan
Jahiel R. Sidabutar

L2A001076
L2A001084

196