Anda di halaman 1dari 12

Potensi Bakteri Streptomyces sp.

Sebagai Agens Pengendali Hayati (APH)


I. Pendahuluan Pengendalian hayati termasuk dalam komponen Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu (PHPT) yang salah satunya dapat dilakukan dengan memanfaatkan bakteri antagonis. Berbagai penelitian tentang bakteri antagonis membuktikan bahwa beberapa jenis bakteri potensial digunakan sebagai agens hayati. Bakteri antagonis tersebut selain dapat menghasilkan antibiotik dan siderofor, juga dapat berperan sebagai kompetitor terhadap unsur hara bagi patogen tanaman. Pemanfaatan bakteri antagonis dimasa depan akan menjadi salah satu pilihan bijak dalam usaha meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian hayati untuk menunjang budidaya pertanian berkelanjutan. Agens pengendali hayati secara umum memiliki mekanisme penghambatan terhadap patogen melalui antibiotik yang dihasilkannya, kompetisi terhadap nutrisi, atau parasitisme langsung terhadap patogen. APH tidak memberi peluang pada patogen untuk mencapai populasi yang cukup tinggi hingga dapat menyebabkan tingkat keparahan penyakit yang tinggi (Agrios, 2005). Mikroorganisme baru yang diintroduksi ke tanah (lahan), terkadang tidak dapat berkompetisi dengan mikroflora yang telah ada sebelumnya serta tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Keberhasilan pengendalian hayati akan memberikan pengaruh yang baik dengan pembuatan formula dari antagonis. Salah satu cara untuk meningkatkan daya guna dari antagonis yaitu dengan memanipulasi unsur hara dalam memproduksi formula mikroba. Formula yang akan digunakan harus tersusun oleh bahan yang sesuai, terutama fungsinya terhadap APH. Streptomyces sp. merupakan salah satu kelompok mikroorganisme antagonis yang berpotensi digunakan sebagai agens pengendali hayati patogen penyebab penyakit tanaman. Beberapa peneliti melaporkan kemampuan Streptomyces sp. sebagai agen pengendali patogen tanaman. Kim, Moon dan Hwang (1999) melaporkan, bahwa antibiotik As1A yang dihasilkan oleh Streptomyces libani dapat menghambat pertumbuhan miselia dari Botrytis cinerea, Cladosporium cumeris, Colletotricum lagenarium, Cylindrocarpon destructans, Magnaporthe grisea dan Phytopthora capsici pada uji antagonis di laboratorium. Penggunaan antibiotik As1A yang dihasilkan oleh Streptomyces libani pada tanaman cabai di percobaan

rumah kaca juga dapat mengurangi penyakit layu yang disebabkan oleh P. capsici dan antraknosa yang disebabkan oleh C. lagenarium. Streptomyces mempunyai peranan penting dalam proses penguraian bahan organik terutama dalam hal pengomposan. Beberapa spesies dari Streptomyces terlibat dalam sebuah hubungan simbiotik dengan genus attini ants. Attini ants merupakan bakteri yang berfungsi sebagai perkembangbiakan jamur dengan bakteri ini maka akan mempermudah untuk mengembiakan jamur. Sedangkan fungsi dari streptomyces adalah untuk memproduksi toxin yang digunkan untuk memelihara agar jamur tesebut tidak ditumbuhi rumput (Alia, M.N., 2009).

II. Mengenal Bakteri Streptomyces sp. Streptomyces merupakan salah satu genus dari kelas Actinomycetes yang biasanya terdapat di tanah. Actinomycetes adalah prokariot yang menghasilkan substansi penting untuk kesehatan seperti antibiotik, enzim, dan immunomodulator (Moncheva et al., 2000 dalam Puryatiningsih, 2009) dan salah satu organisme tanah yang memiliki sifat-sifat umum yang dimiliki oleh bakteri dan jamur tetapi juga memiliki ciri khas yang cukup berbeda yang membatasinya menjadi satu kelompok yang jelas berbeda (Rao, 1994 dalam Puryatiningsih, 2009). Banyak anggota dari Actinomycetes tumbuh seperti filamen-filamen yang tipis seperti kapang daripada sel tunggal sehingga Actinomycetes dianggap sebagai fungi atau cendawan. Meskipun ada persamaan dalam hal pola pertumbuhannya, fungi itu eukariota sedangkan Actinomycetes adalah prokariota (Kimball, 1999 dalam Puryatiningsih, 2009). Pada lempeng agar Actinomycetes dapat dibedakan dengan mudah dari bakteri yang sebenarnya tidak seperti koloni bakteri yang jelas berlendir dan tumbuh dengan cepat. Koloni Actinomycetes muncul perlahan, menunjukkan konsistensi berbubuk dan melekat erat pada permukaan agar (Rao, 1994 dalam Puryatiningsih, 2009). Streptomyces menghasilkan antibiotik di mana lebih dari setengahnya merupakan antibiotik yang efektif melawan bakteri, misalnya streptomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Isolasi Streptomyces menghasilkan koloni-koloni kecil (berdiameter 1-10 mm), terpisahpisah seperti liken, dan seperti kulit atau butirus (mempunyai konsistensi seperti mentega), mula-mula permukaannya relatif licin tetapi kemudian membentuk semacam tenunan miselium udara yang dapat menampakkan granularnya, seperti bubuk, seperti beludru, atau flokos, menghasilkan berbagai macam pigmen yang menimbulkan warna pada miselium vegetatif, miselium udara, dan substrat (Pelczar dan Chan, 1988 dalam Puryatiningsih,

2009). Streptomyces mempunyai misel yang baunya sangat kuat, berkembang dan mengandung hifa udara (sporofor), dari bentuk ini terjadi konstruksi lurus, bergelombang, mirip spiral, dapat mengurai selulosa, khitin dan zat-zat lain sukar dipecah. Streptomyces umumnya memproduksi antibiotik yang dipakai manusia dalam bidang kedokteran dan pertanian, juga sebagai agen antiparasit, herbisida, metabolisme aktif, farmakologi, dan beberapa enzim penting dalam makanan dan industri lain (Schlegel, 1994 dalam Puryatiningsih, 2009). Streptomyces spp. termasuk ke dalam kelompok bakteri gram positif. Ditinjau dari segi morfologinya, Streptomyces sp. memiliki hifa ramping yang bercabang tanpa sekat melintang, dengan diameter antara 0,5-2 m. Ciri inilah yang membuat Streptomyces sp. mudah dibedakan dari genus bakteri lain karena miseliumnya bercabang banyak dan berkembang dengan baik dalam rangkaian konidia yang menggulung (Agrios, 2005). Menurut Kingdom Divisi Kelas Genus Spesies Agrios (2005), Streptomyces sp. diklasifikasikan sebagai berikut:

: Prokaryotae : Firmicutes : Thallobacteria : Streptomyces : Streptomyces spp.

Genus Streptomyces terdapat dalam jumlah spesies yang sangat besar dan beragam diantara famili Actinomycetaceae lainnya. Genus tersebut memiliki keragaman dalam morfologi, fisiologi, dan aktivitas biokimia yang menghasilkan berbagai antibiotik (Taddei, 2005). Streptomyces sp, telah dikenal memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang potential untuk menghambat pertumbuhan mikroba patogen tular tanah (Lestari, 2007). Antibiotik dari jenis Streptomyces yaitu bleomisin, eritromisin, josamisin, kanamisin, neomisin, tetrasiklin, dan lain-lain (Hasim, 2003 dalam Listari, 2009 dalam Anonim, 2012). Streptomyces sp. merupakan salah satu mikroorganisme pendegradasi khitin terbanyak dari ordo actinomycetes. Kemampuan khitinolitik Streptomyces sp. banyak mendapat perhatian peneliti, karena Streptomyces sp. adalah ordo actinomycetes dengan jumlah terbanyak di tanah yang mampu memanfaatkan khitin sebagai sumber karbon dan nitrogennya (Yurnaliza, 2002). Streptomyces sp. non patogen sangat potensial dalam menghambat mikroba patogen tular tanah karena Streptomyces sp. merupakan agens hayati yang mampu bekerja efektif baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan mikroorganisme prokariotik lainnya (Cook dan Baker, 1983 dalam Anonim, 2012).

III. Streptomyces sp. Sebagai Agens Pengendali Hayati (APH) 1. Streptomyces sp. berpotensi membentuk senyawa anti mikroba Streptomyces diketahui mampu menghasilkan lebih dari 500 senyawa anti mikroba yang telah diketahui senyawa penyusunnya. Senyawa anti mikroba ini dalam bidang pertanian dimanfaatkan sebagai pestisida hayati. Mekanisme penghambatan Streptomyces sp. terhadap fungi dapat terjadi karena kemampuannya dalam

menghasilkan antibiotik dan senyawa Hidrolitik seperti Glukanase, kitinase yang mampu mendegradasi dinding sel fungi (Prapagdee et al, 2008 dalam J. Ulya, 2009) Aktivitas penghambatan senyawa anti mikroba secara umum dapat dilakukan dengan berbagai mekanisme, diantaranya adalah : 1. Merusak dinding sel dengan cara menghambat pembentukan maupun merubah setelah terbentuk. 2. Perubahan permeabilitas sel, kerusakan pada membran ini berakibat terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel, karena membran bertujuan untuk memelihara integritas komponen-komponen seluler. 3. Perubahan molekul protein dan asam nukleat 4. Penghambatan kerja enzim yang mengakibatkan terganggunya metabolisme sel atau matinya sel. 5. Penghambatan sintesa asam nukleat dan protein yang berakibat terganggunya Aktivitas metabolisme karena DNA, RNA dan protein memegang peranan penting dalam mekanisme sel secara normal (Pelczar dan Chan, 2005 dalam J. Ulya, 2009). 2. Potensi Streptomyces sp. Sebagai Agen Biokontrol Mikroba Patogen Tular Tanah Streptomyces sp. dapat bersifat saprofit, mampu mendekomposisi bahan organik seperti lignoselulosa, patin dan kitin. Streptomyces sp. Di-994 dapat mengendalikan bakteri Rhizoctonia solani, Hwang et al, (2001), meyatakan bahwa senyaw bioaktif asam fenil asetat dan sodium fenil asetat yang dihasilkan oleh Streptomyces humidus mampu melawan P. capsici, R. solanacearum, F. oxysporum, F. moniliforme, B. subtilis, R. solani. Menurut Lestari (2007) dalam Anonim, (2012), Streptomyces sp. yang berperan sebagai bakteri antagonis memiliki kemampuan menghasilkan senyawa anti mikroba. Soesanto (2008) menyatakan bahwa mekanisme penghambatan agens pengendali hayati adalah cara kerja agens pengendali hayati di dalam mengendalikan patogen tanaman. Cara kerja yang dilakukan oleh agens tersebut biasanya menggunakan hasil metabolisme

sekunder, baik berupa antibiotika, toksin, enzim, atau hormon, serta tanpa melibatkan hasil metabolisme tersebut. Menurut Shimizu et al. (2000) dalam Anonim, (2012), beberapa antibiotika yang dihasilkan Streptomyces sp. adalah metabolit sekunder (alnumisin, Phythoxazolin A dan B-D), antibiotika polyene, vinilamisin, dan geldamisin. Selain menghasilkan antibiotika tersebut, Streptomyces sp. juga mampu memproduksi auksin indole-3-acetid acid (IAA) yang berperan menstimulasi pertumbuhan tanaman (Tuomi et al., 1994 dalam Aryantha et al., 2004). IAA merupakan auksin yang dihasilkan mikroba berguna dalam tanah yang diperkirakan menjadi salah satu mekanisme dalam Plant Growth Promoting

Rhizobacteria (PGPR) (Soesanto, 2008 dalam Anonim, (2012). Streptomyces sp. S4 adalah bakteri dari rizosfer terung yang memiliki kemampuan antagonis cukup baik terhadap R. solanacearum secara in vitro dengan cara antibiosis dan mekanisme penghambatan secara bakteriostatik. Bakteri ini mempunyai kemampuan yang baik dalam memanfaatkan beberapa senyawa karbon (glukosa, fruktosa, maltosa, selobiosa, sukrosa, dan trehalosa), nitrogen (histidin, prolin, dan sistein), mendegradasi makromolekul (gelatin, pati, tween 80, eskulin, dan reaksi kuning telur), mampu tumbuh pada berbagai suhu (4-45 oC) dan kandungan garam, serta dapat tumbuh pada medium yang mengandung kitin dan pektin (Djatmiko et al., 2007) (Anonim, 2012).

DAFTAR PUSTAKA

Alia M. N., 2009, Bakteri Streptomyces Griseus, dikutip dari http://unalea.blogspot.com/2009/03/bakteri-streptomyces-griseus.html , diakses pada tanggal 10 Oktober 2012. ini Anonim, 2010, Biobakterisida Streptomyces spp. S4, dikutip dari http://z47d.wordpress.com/2010/04/18/biobakterisida-streptomyces-spp-s4/ , diakses pada tanggal 9 Oktober 2012. Anonim, 2012, Agens Pengendali Hayati, dikutip dari http://blog.ub.ac.id/noviadwirani/2012/06/16/agens-pengendali-hayati-aph/ , diakses pada tanggal 9 Oktober 2012. J. Ulya, 2009, Kemampuan Penghambatan Streptomyces spp. terhadap Mikroba Patogen Tular Tanah Pada Beberapa Kondisi Pertumbuhan : Jenis media, Waktu Produksi, pH dan Suhu, dikutip dari http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/4626/Tinjauan%20Pustaka_2009j ul-3.pdf?sequence=9, diakses pada tanggal 15 Oktober 2012. Puryatiningsih, R. A., 2009, Isolasi Streptomyces Dari Rizosfer Familia Poaceae Yang Berpotensi Menghasilkan Antibiotik Terhadap Escherichia Coli, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Oleh: Asri Maria Widiastuti, SP POPT Ahli Pertama

ISOLASI STREPTOMYCES DARI RIZOSFER FAMILIA POACEAE YANG BERPOTENSI MENGHASILKAN ANTIBIOTIK TERHADAP Escherichia coli RETNO AYU PURYANTININGSIH K 100050004 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2009

Anonym, 2012

http://blog.ub.ac.id/noviadwirani/2012/06/16/agens-pengendali-hayati-aph/

Diposkan oleh Muna Noor Alia di 20:47

http://unalea.blogspot.com/2009/03/bakteri-streptomyces-griseus.html

II. Mengenal Bakteri Streptomyces sp. Agen pengendali hayati golongan bakteri dalam mengendalikan patogen pada dasarnya memiliki 3 mekanisme yaitu: 1. Hiperparasitisme: terjadi apabila organisme antagonis memparasit organisme parasit (patogen tumbuhan) 2. Kompetisi ruang dan hara: terjadi persaingan dalam mendapatkan ruang hidup dan hara,

seperti karbohidrat, Nitrogen, ZPT dan vitamin. 3. Antibiosis: terjadi penghambatan atau penghancuran suatu organisme oleh senyawa metabolik yang diproduksi oleh organisme lain (Anonim, 2009). Salah satu agen pengendali hayati dari golongan bakteri adalah bakteri Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini termasuk dalam bakteri perakaran (rhizosfer) yang dikenal sebagai plant growth promoting rhizobacteria (PGPR).

http://tanimulya.blog.com/2010/06/13/agens-hayati/

Jun 13
http://blog.ub.ac.id/noviadwirani/2012/06/16/agens-pengendali-hayati-aph/

Agens Pengendali Hayati (APH)


C. Bakteri Antagonis Streptomyces spp. Streptomyces spp. termasuk ke dalam kelompok bakteri gram positif. Ditinjau dari segi morfologinya, Streptomyces spp. memiliki hifa ramping yang bercabang tanpa sekat melintang, dengan diameter antara 0,5-2 m. Ciri inilah yang membuat Streptomyces spp. mudah dibedakan dari genus bakteri lain karena miseliumnya bercabang banyak dan berkembang dengan baik dalam rangkaian konidia yang menggulung (Agrios, 2005). Menurut Agrios (2005), Streptomyces spp. diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Prokaryotae

Divisi : Firmicutes Kelas : Thallobacteria Genus : Streptomyces Spesies : Streptomyces spp. Genus Streptomyces terdapat dalam jumlah spesies yang sangat besar dan beragam diantara famili Actinomycetaceae lainnya. Genus tersebut memiliki keragaman dalam morfologi, fisiologi, dan aktivitas biokimia yang menghasilkan berbagai antibiotik (Taddei, 2005). Streptomyces spp, telah dikenal memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang potential untuk menghambat pertumbuhan mikroba patogen tular tanah (Lestari, 2007). Antibiotik dari jenis Streptomyces yaitu bleomisin, eritromisin, josamisin, kanamisin, neomisin, tetrasiklin, dan lain-lain (Hasim, 2003 dalam Listari, 2009). Streptomyces spp. merupakan salah satu mikroorganisme pendegradasi khitin terbanyak dari ordo actinomycetes. Kemampuan khitinolitik Streptomyces spp. banyak mendapat perhatian peneliti, karena Streptomyces spp. adalah ordo actinomycetes dengan jumlah terbanyak di tanah yang mampu memanfaatkan khitin sebagai sumber karbon dan nitrogennya (Yurnaliza, 2002). Streptomyces spp. non patogen sangat potensial dalam menghambat mikroba patogen tular tanah karena Streptomyces spp. merupakan agens hayati yang mampu bekerja efektif baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan mikroorganisme prokariotik lainnya (Cook dan Baker, 1983).

http://z47d.wordpress.com/2010/04/18/biobakterisida-streptomyces-spp-s4/

Biobakterisida Streptomyces spp. S4


Biobakterisida adalah pestisida yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri dan virus serta memiliki sifat patogenik terhadap bakteri patogen. Pemanfaatan biobakterisida merupakan salah satu alternatif dalam pengendalian patogen. Selain ramah terhadap lingkungan, biobakterisida juga dapat menutupi kekurangan suplai bahan aktif pestisida dan meningkatkan daya saing ekspor produk pertanian (Yulifianti, 2008). Beberapa bakteri yang telah banyak dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai pengendali bakteri patogen tanaman adalah Bacillus sp., Pseudomonas fluorescens, dan Streptomyces spp. Selain sebagai agens pengendali hayati, bakteri ini juga dapat berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman (Plant Growth Promoting Rhizocacteria / PGPR) (Desmawati, 2006). Streptomyces spp. merupakan genus paling besar dari ordo Actinomycetales yang termasuk gram positif (Tyo, 2008). Genus ini kebanyakan dapat ditemukan di tanah

dan tumbuhan yang membusuk. Streptomyces spp. memiliki bau khas yang dihasilkan dari metabolisme dan geosmin yang menguap (Agrios, 2005). Streptomyces spp. merupakan bakteri penghuni tanah yang membentuk miselium bercabang-cabang dengan ukuran antara 0,5-2,0 m dan membentuk rantai spora pada ujung hifa udara dengan diameter 0,5-2,0 m. Streptomyces spp. bersifat aerobik, oksidatif, dan sedikit asam yang diakumulasi dalam medium (Goto, 1992). Menurut Agrios (2005), klasifikasi bakteri ini adalah: Kingdom Divisi Kelas Genus : Procaryotae : Firmicutes : Thallobacteria : Streptomyces

Spesies : Streptomyces spp. Kinkel et al. (2008) menyatakan bahwa Streptomyces spp. non-patogenik yang diisolasi dari tanah tertindas menghasilkan antibiotika yang dapat membunuh S. scabies dan beberapa jenis jamur secara in vitro. Aplikasi isolat Streptomyces spp. terhadap patogen kudis kentang di ladang yang berlokasi di Minnesota dan Wisconsin menghasilkan pengurangan yang nyata pada penyakit kudis kentang. Streptomyces spp. antagonis tersebut dapat mengurangi populasi patogen S. scabies kurang lebih 50%. Menurut Lestari (2007), Streptomyces spp. yang berperan sebagai bakteri antagonis memiliki kemampuan menghasilkan senyawa anti mikroba. Soesanto (2008) menyatakan bahwa mekanisme penghambatan agens pengendali hayati adalah cara kerja agens pengendali hayati di dalam mengendalikan patogen tanaman. Cara kerja yang dilakukan oleh agens tersebut biasanya menggunakan hasil metabolisme sekunder, baik berupa antibiotika, toksin, enzim, atau hormon, serta tanpa melibatkan hasil metabolisme tersebut. Menurut Shimizu et al. (2000), beberapa antibiotika yang dihasilkan Streptomyces spp. adalah metabolit sekunder (alnumisin, Phythoxazolin A dan B-D), antibiotika polyene, vinilamisin, dan geldamisin. Selain menghasilkan antibiotika tersebut, Streptomyces spp. juga mampu memproduksi auksin indole-3acetid acid (IAA) yang berperan menstimulasi pertumbuhan tanaman (Tuomi et al., 1994 dalam Aryantha et al., 2004). IAA merupakan auksin yang dihasilkan mikroba

berguna dalam tanah yang diperkirakan menjadi salah satu mekanisme dalam Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) (Soesanto, 2008). Streptomyces spp. S4 adalah bakteri dari rizosfer terung yang memiliki kemampuan antagonis cukup baik terhadap R. solanacearum secara in vitro dengan cara antibiosis dan mekanisme penghambatan secara bakteriostatik. Bakteri ini mempunyai kemampuan yang baik dalam memanfaatkan beberapa senyawa karbon (glukosa, fruktosa, maltosa, selobiosa, sukrosa, dan trehalosa), nitrogen (histidin, prolin, dan sistein), mendegradasi makromolekul (gelatin, pati, tween 80, eskulin, dan reaksi kuning telur), mampu tumbuh pada berbagai suhu (4-45 oC) dan kandungan garam, serta dapat tumbuh pada medium yang mengandung kitin dan pektin (Djatmiko et al., 2007).

http://id.wikipedia.org/wiki/Streptomyces

Streptomyces
Streptomyces adalah bakteri gram positif yang menghasilkan spora yang dapat ditemukan [1] [1] di tanah. Bakteri ini nonmotil dan berfilamen. Selain ditemukan pada tanah, bakteri ini juga dapat [1] ditemukan pada tumbuhan yang membusuk. Streptomyces dikenal juga karena memproduksi [1] senyawa volatil yaitu Geosmin yang memiliki bau khas pada tanah. Streptomyces termasuk ke dalam golongan Actinomycesyaitu bakteri yang memiliki struktur hifa bercabang menyerupai fungi dan dapat [2] menghasilkan spora.

Karakteristik

Karateristik Streptomyces yang lain adalah koloni mereka yang keras, berbulu dan tidak/jarang [3] berpigmen. Streptomyces adalah organismekemoheteroorganotrof yaitu organisme yang mampu [3] menggunakan materi organik yang kompleks sebagai sumber karbon dan energi. Materi yang mereka [3] dapatkan berasal dari degradasi molekul ini di dalam tanah. Karena sifat ini bakteri ini penting untuk [3] o menjaga tekstur dan kesuburan tanah. Bakteri ini memiliki suhu optimal untuk pertumbuhan pada 25 C [3] dan pH 8-9. Streptomyces jarang bersifat patogen, tetapi beberapa spesies seperti S. somaliensis dan S. sudanensis dapat menyebabkan mycetoma serta dapat menyebabkan [4][5] penyakit scabies pada tanaman disebabkan oleh S. caviscabies dan S. Scabies.

Manfaat

Diketahui pula bahwa Streptomyces adalah sumber utama senyawa antibiotik dewasa ini. Saat ini, Streptomyces memproduksi lebih dari dua pertiga antibiotik alami yang berguna secara [6] klinis. Streptomycin adalah salah satu contoh antibiotik terkenal yang berasal [6] dari Streptomyces. Antibiotik primer tersebut dapat diaplikasikan pada manusia (sebagai obat antikanker,immunoregulator) atau digunakan sebagai herbisida, agen anti-parasit, dan penghasil [6] beberapa enzim penting untuk industri makanan dan industri lainnya. Streptomyces dikenal karena kemampuannya untuk mensintesis senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain, antara lain Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio [7] cholerae, Salmonella typhi, Staphylococcus aureus, dan Shigella dysenteriae. Antibiotik yang dihasilkan oleh Streptomyces sangat banyak, antara lain neomisin dan [8] kloramfenikol. Selain itu antibiotik streptomisin juga dinamakan berdasarkan bakteri penghasilnya, [9] yaituStreptomyces griseus. Antibiotik yang dihasilkan oleh genus ini antara lain nystatin dari S. noursei, amphotericin B dari S. nodosus, natamycin dari S. natalensis, erythromycin dari S. erythreus, neomycin dari S. fradiae, streptomycin dari S. griseus, tetrasiklin dari S. rimosus, vancomycin dari S. orientalis, rifamycin dari S. mediterranei, chloramphenicol dari S. venezuelae, puromycin dari S. alboniger dan [10] lincomycin dari S. lincolnensis.

[6]