Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI INDUSTRI PEMERIKSAAN KADAR KREATININ (Metode Jaffe Kinetik)

Oleh : KELOMPOK 1 1. Siti Masruroh 2. Frensiska Nuratri 3. Rt. Puri Ayu P. 4. Septi Maulidya 5. Anita Pratiwi 6. Ristiana Andriyani 7. Sri Sulastri 8. Dany Dwi N. 9. Toni yana G1B009005 G1B007006 G1B007008 G1B007014 G1B009017 G1B009022 G1B009026 G1B009051 G1B009066

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT PURWOKERTO 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Beberapa agen lingkungan dapat bersifat sebagai nefrotoksin atau bersifat toksik terhadap oragan ginjal. Contoh zat nefrotoksin adalah karbontetraachklorid (CCl4), chloroform (CHCl3), karbaryl (insektisida karbamat). Selain itu logam berat seperti Kadmium (Cd), merkuri (Hg) dan timah hitam (Pb) juga bersifat nefrotoksik. Apabila keberadaan zat nefrotoksik terlalu banyak yang masuk kedalam tubuh, maka tidak dapat didetoksifikasi oleh hati, seh9ingga dapat merusak ginjal sebagai oragan ekskresi. Sebagai akibatnya glomerulus ginjal akan mengalami kerusakan, sehingga proses filtrasi urine oleh glomerulus akan menurun. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kadar kreatinin dan urea nitrogen dalam darah maupun urine. Pemeriksaan kreatinin dalam darah merupakan salah satu

parameterpenting untuk mengetahui fungsi ginjal. Pemeriksaan ini juga sangatmembantu kebijakan melakukan terapi pada penderita gangguan fungsiginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin dalam darah digunakan sebagaiindikator penting dalam menentukan apakah seorang dengan

gangguanfungsi ginjal memerlukan tindakan hemodialisis. Kreatinin mempunyai batasan normal yang sempit, nilai di atasbatasan ini menunjukkan semakin berkurangnya nilai ginjal secara pasti.Disamping itu terdapat hubungan jelas antara bertambahnya nilai kreatinindengan derajat kerusakan ginjal, sehingga diketahui pada nilai berapa perludilakukan cuci darah. Pemilihan metode yang tepat juga banyak membantu dalammelakukan pemeriksaan. Ada beberapa metode yang digunakan dalampemeriksaan kreatinin dalam darah. Deproteinasi dan tanpa deproteinasimerupakan salah satu cara yang banyak dipakai. Deproteinasi adalah denganpenambahan TCA (Trichlor Acetic Acid) 1,2 N pada serum sebelummelakukan pengukuran, yang berfungsi mengendapkan protein dan senyawa senyawa kimia askorbat,aseto asetat, piruvat, sevalosporin dan metildopa, sedangkan cara tanpa deproteinasi

adalah tanpa penambahan TCA (TrichlorAcetic Acid) 1,2 N atau disebut juga fixed kinetik, yaitu pengukurankreatinin dalam suasana alkalis dan konsentrasi di tentukan dengan ketepatan waktu pembacaan. Kedua cara ini mungkin juga akan ditemukan hasil yangtidak sama.

B. Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengukur kadar kreatinin darah dengan metode Jaffe kinetik. 2. Mahasiswa dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan kreatinin darah pada saat praktikum setelah membandingkannyua dengan nilai normal. 3. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan biomarker keracunan zat nefrotoksin.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kretinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi. Konsentrasinya relatif konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal (Corwin J.E, 2001) Peningkatan kadar kreatinin dua kali lipat kadar kreatinin serum mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50%, demikian juga peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengisyaratkan penurunan fungsi ginjal sebesar 75% (Soeparman dkk, 2001). Metabolisme kreatinin : kreatinin adalah anhidrida dari kreatin, dibentuk sebagian besar dalam otot dengan pembuangan air dari kreatinfosfat secara tak reversibel dan non non enzimatik. Kreatinin bebas terdapat dalam darah dan urin, pembentukan kreatinin rupanya adalah langkah permulaan yang diperlukan untuk ekskresi sebagian besar kreatinin (Harper H.A, 1999). Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar kreatinin dalam darah, diantaranya : a) Perubahan masa otot b) Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam setelah makan c) Aktifitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah d) Obat-obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dan co-trimexazole dapat mengganggu sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin darah e) Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal

f) Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada orang muda, serta pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada wanita (Sukandar E, 1997).

B. Ginjal Ginjal adalah suatu organ yang secara struktural kompleks dan telah berkembang untuk melaksanakan sejumlah fungsi penting, seperti : eksresi produk sisa metabolisme, pengendalian air dan garam, pemeliharaan keseimbangan asam yang sesuai dan sekresi berbagai hormon dan autokoid. Ginjal mempunyai berbagai fungsi antara lain : 1. Pengeluaran zat sisa organik, seperti urea, asam urat, kreatinin dan produk penguraian hemoglobin dan hormon. 2. Pengaturan konsenterasi ion-ion penting antara lain ion natrium, kalium, kalsium, magnesium, sulfat dan fosfat. 3. Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. 4. Pengaturan produksi sel darah merah dalam tubuh. 5. Pengaturan tekanan darah. 6. Pengendalian terbatas terhadap konsenterasi glukosa darah dan asam amino darah. 7. Pengeluaran zat beracun dari zat tambahan makanan, obat-obatan atau zat kimia asing lain dari tubuh (Hudok CM, 1999; Sloane, 2003: Gibson J, 2002).

C. Manfaat Pemeriksaan Kreatinin Pemeriksaan kadar kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal, karena

konsenterasi dalam plasma dan eksresinya di urine dalam 24 jam relatif konstan. Kadar kreatinin darah yang lebih besar dari normal

menginsyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal. Nilai kreatinin normal pada metode Jaffe Reaction adalah laki-laki 0,8 sampai 1,2 mg/dl sedangkan pada wanita 0,6 sampai 1,1 mg/dl (Sodeman,1995).

Pemeriksaan kreatinin darah dengan kreatinin urine bisa digunakan untuk menilai kemampuan laju filtrasi glomerolus, yaitu dengan melakukan tes kreatinin klirens. Selain itu tinggi rendahnya kadar kreatinin darah juga memberi gambaran tentang berat ringannya gangguan fungsi ginjal. Hemodialisis dilakukan pada gangguan fungsi ginjal yang berat yaitu jika kadar kreatinin lebih dari 7 mg/dl serum. Namun dianjurkan bahwa sebaiknya hemodialisis dilakukan sedini mungkin untuk menghambat progresifitas penyakit.

D. Metode Pemeriksaan Kreatinin Darah Beberapa metode yang sering dipakai untuk pemeriksaan kreatinin darah adalah : 1. Jaffe reaction Dasar dari metode ini adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk senyawa kuning jingga menggunakan alat photometer. 2. Kinetik Dasar metode ini relatif sama hanya dalam pengukuran dibutuhan sekali pembacaan menggunakan alat autoanalyzer. 3. Enzimatik darah Dasar metode ini adalah adanya substrat dalam sampel bereaksi dengan enzim membentuk senyawa substrat menggunakan alat photometer. Dari ketiga metode diatas, yang banyak digunakan adalah Jaffe Reaction, dimana metode ini bisa menggunakan serum atau plasma yang telah dideproteinasi dan tanpa deproteinasi. Kedua cara tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan, salah satunya adalah untuk deproteinasi cukup banyak memakan waktu yaitu sekitar 30 menit, sedangkan tanpa deproteinasi hanya memerlukan waktu yang relatif singkat yaitu antara 2-3 menit.

E. Faktor yang Mempengaruhi Pemeriksaan Kreatinin Senyawa-senyawa yang dapat mengganggu pemeriksaan kadar kreatinin darah hingga menyebabkan overestimasi nilai kreatinin sampai 20% adalah aseton, asam askorbat, bilirubin, asam urat, asam aceto acetat, piruvat, barbiturat, sefalosporin, metildopa. Senyawa-senyawa tersebut dapat memberi reaksi terhadap reagen kreatinin dengan membentuk warna yang serupa kreatinin sehingga dapat menyebabkan kadar kreatinin tinggi palsu. Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat tergantung dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan waktu dan suhu inkubasi, pencatatan hasil pemeriksaan dan pelaporan hasil.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Alat dan Bahan a. Alat 1) Spuit 3 cc 2) Tourniket 3) Plakon 4) Pipet ukur 5 ml 5) Eppendorf 6) Sentrifugator 7) Mikropipet 10-100 l 8) Yellow tip 9) Kuvet 10) Spektrofotometer

b. Bahan 1) Sampel darah 2) EDTA 3) Reagen 1 (larutan asam pikrat) 4) Reagen 2 (NaOH) 5) Aquades

2. Metode Metode : Jaffe Metode pengukuran pada spektofotometer : Jaffe dengan kinetik

3. Cara kerja : a. Persiapan sampel : 1) Diambil darah probandus sebanyak 3 cc menggunakan spuit.

2) Darah kemudian dimasukkan kedalam tabung eppenderf yang telah diberi EDTA. 3) Darah yang telah dicampur dengan EDTA disentrifuse dengan kecepatan 4000 rpm selama 10 menit dan kemudian diambil plasmanya untuk sampel. b. Pembuatan reagen : 1) Reagen 2 yang berisi NaOH dilarutkan dengan aquades perbandingan 1 : 4. 2) Reagen 2 yang telah ditambah aquades dicampur dengan reagen 1 (asam pikrat) dengan perbandingan 1 : 1. c. Walking reagen sebanyak 1 ml dicampur dengan plasma sebanyak 10 l dan langsung dibaca absorbansinya pada spektofotometer dengan panjang gelombang 492 nm.

4. Skema Kerja
Pembuatan Sampel Pembuatan Reagen

Darah Diambil 3cc Dimasukkan ke tabung dengan EDTA Disentrifuse selama 10 menit

Reagen 2 (NaOH)

Ditambah aquades (1:4) Dicampur reagen 1 (1:1)

Sampel

Working reagen

Working reagen 1ml + plasma 10l

Diukur absorbansinya spektofotometer

di

Nilai kadar kreatinin dalam darah

5. Identitas objek praktikum : a. Nama b. Usia : Ratu Puri Ayu Paramitha : 19 tahun

c. Pekerjaan : Mahasiswi

6. Hasil praktikum : Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan kadar kreatinin dalam darah dari subjek penelitian yaitu 0,5 mg/dl.

B. Pembahasan Kreatinin darah meningkat jika fungsi ginjal menurun. Oleh karena itu kreatinin dianggap lebih sensitif dan merupakan indikator khusus pada penyakit ginjal dibandingkan uji dengan kadar nitrogen urea darah (BUN). Sedikit peningkatan kadar BUN dapat menandakan terjadinya hipovolemia (kekurangan volume cairan), namun kadar kreatinin sebesar 2,5 mg/dl dapat menjadi indikasi kerusakan ginjal. Kreatinin serum sangat berguna untuk mengevaluasi fungsi glomerulus. Keadaan yang berhubungan dengan peningkatan kadar kreatinin adalah : gagal ginjal akut dan kronis, nekrosis tubular akut, glomerulonefritis, nefropati diabetik, pielonefritis, eklampsia, pre-eklampsia, hipertensi esensial, dehidrasi, penurunan aliran darah ke ginjal (syok berkepanjangan, gagal jantung kongestif), rhabdomiolisis, lupus nefritis, kanker (usus, kandung kemih, testis, uterus, prostat), leukemia, penyakit Hodgkin, diet tinggi protein. Obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar kreatinin adalah:

Amfoterisin B, sefalosporin (sefazolin, sefalotin), aminoglikosid (gentamisin), kanamisin, metisilin, simetidin, asam askorbat, obat kemoterapi sisplatin, trimetoprim, barbiturat, litium karbonat, mitramisin, metildopa,

triamteren.Penurunan kadar kreatinin dapat dijumpai pada : distrofi otot (tahap akhir), myasthenia gravis. Nilai normal kadar kreatinin dalam darah pada laki-laki sebesar 0,6-1,1 mg/dl, sedangkan pada perempuan sebesar 0,5-0,9 mg/dl. Berdasarkan data hasil praktrikum didapatkan nilai kadar kreatinin dalam darah yaitu sebesar 0,5

mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan kreatinin dalam darah masih dalam keadaan normal artinya zat nefrotoksin yang terkandung dalam darah masih dalam keadaan normal tidak membahayakan dan tidak mengindikasikan adanya gangguan pada ginjal.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan 1. Dasar pengukuran kadar kreatinin dalam darah dengan metode Jaffe kinetik adalah kreatinin dalam suasana alkalis dengan asam pikrat membentuk senyawa kuning jingga menggunakan alat photometer, dalam pengukuran ini dibutuhan sekali pembacaan menggunakan alat autoanalyzer. Sehingga didapatkan hasil pengukuran dari kreatinin darah yaitu 0,5mg/dl. 2. Berdasarkan hasil pemeriksaan kreatinin darah didapatkan hasil yang normal (0,5mg/dl) dengan kadar normal kreatinin dalam darah yaitu sebesar 0,5-0,9 mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan kreatinin dalam darah masih dalam keadaan normal artinya zat nefrotoksin yang terkandung dalam darah masih dalam keadaan normal tidak membahayakan dan tidak mengindikasikan adanya gangguan pada ginjal. 3. Pemeriksaan kreatinin dalam darah dengan metode jaffe kinetik merupakan salah satu cara untuk mengetahui biomarker keracunan zat nefrotoksin pada tubuh.

B. Saran 1. Jangan melakukan aktifitas yang berlebihan karena akan mengganggu kadar kreatinin dan fungsi ginjal. 2. Apabila melakukan diet, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter supaya psogram dietnya tidak mengganggu kadar kratinin dan mengganggu kerja ginjalnya.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin J.E. 2001.Buku saku patofisiologi. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Soeparman. 2001.Ilmu Penyakit DalamJilid II. Jakarta. Balai Penerbit FKUI.