Anda di halaman 1dari 120

KAK KAJIAN KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH DALAM MENDUKUNG PEMBA NGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PEKERJAAN UMUM, Paket 12,

tersurat bahwa isi Laporan Akhir adalah seluruh hasil pekerjaan termasuk kesimpulan dan rekomen dasi. Esensi kajian kebijakan, seperti yang diuraikan dalam Bab I, yaitu: Pertama, kebijakan dalam arti produk hukum terkait pengadaan tanah, khususnya yang menunjang pelaksanaan pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum; Kedua, kebijakan dalam arti tindakan yang telah diambil oleh Kementerian Pekerjaan Umum selama ini dalam mencapai tujuan pengadaan tanah, khususnya pada pelaksanaan pembangunan bidang pekerjaan umum yang tepat biaya, waktu dan kualitas serta manfaat. Pembangunan infrastruktur bidang PU merupakan pembangunan fisik yang membutuhkan tanah, sebagai lokasi bangunan maupun dukungan kemanfaatan. Pembangunan bersifat sektoral sehingga pengadaan tanah mengacu NSPM sektor ybs. Pengalaman dan pembelajaran pengadaan tanah per sektor sebagai masukan rekomendasi kebijakan. Berbagai produk hukum mempengaruhi/menentukan kebijakan pengadaan tanah. Sumber dana pinjaman/hibah luar negeri sampai kesiapan pemerintah kabupaten/kota mempengaruhi praktek pengadaan tanah di lokasi pembangunan infrastruktur bidang PU. Jakarta, 2010 PT KANTA KARYA UTAMA

LAPORAN DRAFT FINAL PAKET 12 TA 2010

DAFTAR ISI
Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel . Daftar Gambar . BAB I. PENDAHULUAN .. 1.1 Substansi dan Fokus KAK . 1.1.1 Latar Belakang . 1.1.2 Maksud dan Tujuan . 1.1.3 Sasaran .. 1.1.4 Keluaran . 1.1.5 Lingkup, Lokasi Kegiatan, Data dan Fasilitas . 1.1.6 Pendekatan dan Metodologi 1.2 Apresiasi Konsultan Atas KAK 1.2.1 Apresiasi Judul .. 1.2.2 Apresiasi Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Keluaran . 1.2.3 Apresiasi Pendekatan dan Metodologi ... 1.3 Sistematika Pelaporan .. i ii v vi 1-1 1-2 1-2 1-3 1-3 1-3 1-4 1-4 1-5 1-6 1-12 1-13 1-14

BAB II. RENCANA STRATGEIS SEBAGAI DASAR PERENCANAAN PENGADAAN TANAH . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2-1 2.1 Tugas, Fungsi, Mandat dan Kewenangan serta Peran Kementerian PU 2010-2014 .. 2-2 2.1.1 Tugas dan Fungsi Kementerian PU . 2-3 2.1.2 Mandat Kementerian PU 2-4 2.1.3 Kewenangan Kementerian PU . 2-11 2.1.4 Peran Infrastruktur PU dan Permukiman .. 2-13 2.2 Program dan Kegiatan Kementerian PU ... 2-14 2.2.1 Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian PU .. 2-19 2.2.2 Kebijakan Pengadaan Tanah ... 2-21 2.3 Kontribusi Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum . 2-22 2.3.1 Capaian dan Target Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air ................ 2-23 2.3.2 Capaian dan Target Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan ... .. 2-26 2.3.3 Capaian dan Target Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya . ........ 2-28
LAPORAN DRAFT FINAL PAKET 12 TA 2010

ii

2.4 Kebijakan Pengembangan KPS (Kerja sama PemerintahSwasta) ....... 2-28 2.4.1 Arah Kebijakan Penyediaan Infrastruktur Dengan Skema KPS ....... 2-29 BAB III. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PU UNTUK KEPENTINGAN UMUM 3-1 3.1 Maksud dan Tujuan Rencana Pembangunan .. 3-2 3.1.1 Pembangunan Untuk Kepentingan Umum .. 3-3 3.1.2 Pembangunan Sebagai Kegiatan Pekerjaan Konstruksi 3-4 3.1.3 Pembangunan Infrastruktur Bidang PU 3-8 3.2 Kesesuaian Dengan RTRW atau Rencana Pembangunan Nasional dan Daerah .. 3-11 3.2.1 Rencana Tata Ruang Wilayah . 3-11 3.2.2 Musyawarah Rencana Pembangunan.. 3-11 3.2.3 Sinergi Pusat-Daerah dan Antar Daerah .. 3-11 3.3 Letak Tanah ........ 3-11 3.3.1 Lokasi Program/Kegiatan Pembangunan Infrastruktur Bidang PU .. 3-12 3.3.2 Dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota ...... 3-13 3.4 Luas Tanah Yang Dibutuhkan 3-15 3.5 Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pengadaan Tanah .. 3-15 3.6 Perkiraan Jangka Waktu Pelaksanaan Pembangunan . 3-15 3.7 Perkiraan Nilai Tanah . 3-15 3.7.1 Nilai Ganti Rugi .... 3-16 3.7.2 Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) .. 3-16 3.7.3 Biaya Pengadaan Tanah .... 3-17 3.7.4 Biaya P2T ........ 3-17 3.8 Rencana Penganggaran 3-18 BAB IV. KERANGKA KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PU 4-1 4.1 Perencanaan Pengadaan Tanah Dalam Tahap Pra Konstruksi 4-2 4.1.1 Data dan Informasi Kegiatan Pembangunan Infrastruktur Bidang PU ...... 4-3 4.1.2 Proposal Rencana Pembangunan ... 4-10 4.1.3 Alternatif Pengadaan/Penggantian Tanah .. 4-18 4.2 Perencanaan Pengadaan Tanah Dalam Tahap Konstruksi . 4-27 4.2.1 Penetapan Lokasi Kegiatan ... 4-28 4.2.2 Penghormatan Terhadap Hak Atas Tanah .. 4-28
LAPORAN DRAFT FINAL PAKET 12 TA 2010

iii

4.2.3 Jaminan Kehidupan Yang Lebih Baik .. 4.2.4 Pembangunan Yang Berkeadilan .... 4.2.5 Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia ..... 4.2.6 Masyarakat Sebagai Mitra . 4.3 Perencanaan Pengadaan Tanah Dalam Tahap Pasca Konstruksi 4.3.1 Dukungan dan Kerja Sama Antar Daerah ... 4.3.2 Obyek Kerja Sama Daerah 4.3.3 Sinkronisasi Kegiatan Pusat-Daerah ... 4.3.4 Tanggung Jawab Kelembagaa ...... 4.3.5 Masyarakat Sebagai Pemanfaat/Pengelola Lahan Sekitar Lokasi ... 4.3.6 Pemantauan dan Evaluasi ..

4-29 4-30 4-31 4-31 4-31 4-31 4-31 4-31 4-31 4-31 4-35

BAB V. ALTERNATIF DAN FOKUS KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH 5-1 5.1 Fokus Kebijakan Pengadaan Tanah.. 5-1 5.1.2 Sinkronisasi Dengan BPN . 5-2 5.1.2 Program/Kegiatan Berbasis Daerah . 5-3 5.2 Alternatif Pengadaan Tanah .... 5-4 5.2.1 Mekanisme Pengadaan Tanah 5-4 5.2.2 Konfirmasi Pengadaan Tanah .. 5-4 5.2.3 P2T Internal Satker . 5-5 5.2.4 Asas Musyawarah . 5-5 5.2.5 Penetapan Ganti Rugi 5-5 5.2.6 Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) 5-6 5.2.7 Pengurusan Serifikasi . 5-6 5.2.8 Tata Cara Pembayaran Tanah .. 5-6 BAB VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6.1 Kesimpulan .... 6.1.1 Masyarakat Sebagai Pemegang Hak Atas Tanah 6.1.2 Pihak Terkait Pengadaan Tanah . 6.1.3 Karaktersitik Infrastruktur Bidang PU . 6.2 Rekomendasi .... 6.2.1 Produk Hukum . 6.2.2 Tanggung jawab kelembagaan . 6.2.3 Masyarakat Sebagai Subyek .

6-1 6-1 6-1 6-2 6-2 6-2 6-2 6-3 6-3

LAPORAN DRAFT FINAL PAKET 12 TA 2010

iv

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tabel 1.2 Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 3.1. Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tabel 3.3 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Program dan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum . 1-10 Program dan Unit Organisasi Pelaksana Kementerian PU .. 1-11 Lokasi Program dan Kegiatan Kementerian PU .. Jumlah Satuan Kerja per Satminkal . Pencapaian 2005-2009 dan Target Pembangunan Irigasi 2010-2014 Rekapitulasi Pembangunan Waduk/Bendungan 2010-2014 . Klasifikasi Fungsi dan Sub Fungsi ... Rincian Menurut Program dan Kegiatan .... Rencana Rinci Bidang Infrastruktur untuk Irigasi Rencana Rinci Bidang Infrastruktur untuk Rehabilitasi/ Pembangunan Jalan dan Jembatan .. Rencana Rinci Bidang Infrastruktur untuk Air Baku Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang PU Target Pembangunan Waduk 2010-2014 . Matriks Sinkronisasi Pusat dan Daerah Rencana Rinci Bidang Infrastruktur untuk Irigasi 2-2 2-3 2-25 2-25 3-4 3-5 3-6 3-7 3-7 3-9 3-12 3-12 3-12

Identifikasi Permasalahan Perumahan 4-27 Substansi Inti/Kegiatan Prioritas Tanah dan Tata Ruang . 4-33 Kondisi Perumahan . 4-36

LAPORAN DRAFT FINAL PAKET 12 TA 2010

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Diagram Alir Kajian Kebijakan Pengadaan Tanah ... 1-14 Gambar 2.1 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana SDA Sebagai Bagian Program 5 Tahun .... Gambar 2.2 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana Jalan Sebagai Bagian Program 5 Tahun (1) . Gambar 2.3 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana Jalan Sebagai Bagian Program 5 Tahun (2) ....... Gambar 2.4 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana Jalan Sebagai Bagian Program 5 Tahun (3) . Gambar 2.5 Target Program Strategis Sub Bidang Infrastruktur Permukiman Sebagai Bagian Program 5 Tahun .. Gambar 2.6 Peran Pembangunan Infrastruktur Bidang PU .

2-17 2-17 2-18 2-18 2-19 2-23

LAPORAN DRAFT FINAL PAKET 12 TA 2010

vi

Peningkatan pembangunan infrastruktur bidang Pekerjaan Umum (khususnya infrastruktur jalan, untuk distribusi lalu lintas barang dan manusia maupun pembentuk struktur ruang wilayah. Infrastuktur sumber daya air, untuk mendukung penyimpanan dan pendistribusian air maupun prasarana dan sarana untuk pengendalian daya rusak air. Infrastruktur cipta karya, termasuk infrastruktur lingkungan perumahan dan permukiman, sebagai pendukung kualitas kehidupan dan penghidupan masyarakat yang mencakup pelayanan transportasi lokal, pelayanan air minum dan sanitasi lingkungan termasuk penanganan persampahan, penyediaan drainase untuk mengatasi genangan dan pengendalian banjir, serta penanganan air limbah domestik) memerlukan dukungan jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan. Tanah dibutuhkan dalam semua tahapan konstruksi, baik pada saat prakonstruksi maupun dalam tahap pascakonstruksi atau dalam menunjang asas manfaat. Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak atas tanah (Perpres 36/2005). Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah (Perpres 65/2006). Kerangka Acuan Kerja (KAK) KAJIAN KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PEKERJAAN UMUM TA 2010 sebagai bagian tak terpisahkan dari dokumen kontrak, secara umum merupakan landasan kerja bagi Konsultan dalam menyelesaikan tugas. Di sisi lain, KAK berfungsi sebagai alat kendali, pemantauan dan evaluasi bagi pemberi tugas/ pengguna jasa. Melalui pemahaman atas KAK, Konsultan akan mendapatkan kejelasan atas proses atau tahapan pekerjaan dan substansi yang akan disajikan.

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 1

Mengantispasi berbagai perubahan yang akan mempengaruhi proses pekerjaan maupun hasil yang diharapkan, baik dari hasil konsultasi dengan Tim Teknis, pembahasan laporan, masukan manajemen, kondisi di lapangan, perkembangan kebijakan, percepatan kegiatan 2010 akan diakomodir dalam laporan pekerjaan. Tahapan proses sesuai dengan KAK, baik bersifat laporan maupun status kegiatan.
1.1. SUBSTANSI DAN FOKUS KAK

KAK sebagai landasan operasional (kandungan administratif maupun muatan substantif) dalam melaksanakan pekerjaan jasa konsultasi. Bab ini menyajikan substansi dan administratif dan fokus KAK, meliputi :

1.1.1. LATAR BELAKANG

Pengadaan tanah masih merupakan persoalan utama pembangunan bidang Pekerjaan Umum, terutama pada masa Reformasi ini. Kendala pengadaan tanah akibat naiknya harga tanah secara ekstrim sesungguhnya bukanlah hal baru, namun sejauh ini, Pemerintah belum juga berhasil menemukan formula yang tepat dalam memecahkan masalah klasik ini. Sistem pertanahan di Indonesia mengadopsi sistem Eropa daratan, di mana pengakuan atas hak-hak kepemilikan tanah (individu, kolektif, maupun adat) diakui secara penuh (sacred) dan tidak dapat diganggu gugat oleh siapa oleh siapapun (unviolated). Namun, atas nama keselamatan dan/atau kepentingan umum Pemerintah dapat menggunakan haknya untuk mengambil alih hak atas tanah tersebut melalui mekanisme kompensasi yang layak. Hak Pemerintah ini disebut dengan Empirium. Pemerintah menterjemahkan hak emporium tersebut, misalnya, melalui penerbitan Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2006 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM atau UU No. 26/2007 tentang PENATAAN RUANG, khususnya pasal 33 ayat (3) yang berbunyi : Penatagunaan tanah pada ruang yang direncanakan untuk pembangunan prasarana dan sarana bagi kepentingan umum memberikan hak prioritas pertama bagi Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menerima pengalihan hak atas tanah dari pemegang hak atas tanah Khusus dalam hal pembebasan tanah, Perpres 65/2006 terdapat 3 (tiga) alternatif yang bisa ditempuh : pertama, masyarakat menerima uang ganti rugi berdasarkan musyawarah; kedua, jika mereka memerlukan tanah lagi, maka Pemerintah bisa mencarikan tempat lain sebagai penggantinya dan jika jumlahnya banyak dan minta di-resttlement maka kemungkinan bisa saja di-

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 2

resettlement; sedangkan alternatif ketiga, dana ganti rugi tanah dapat dikonversi menjadi saham proyek infrastruktur yang bersangkutan. Berkaitan dengan percepatan pembangunan proyek infrastruktur terutama adanya ketidakpastian dalam hal pengadaan tanah, diperlukan suatu mekanisme pengadaan tanah yang mendukung. Dari penjelasan di atas, Pemerintah dapat memahami bahwa masalah pengadaan tanah sangatlah kompleks. Pemerintah perlu meninjau kembali aturan-aturan pengadaan tanah sehingga menjadi lebih sederhana namun tegas. Pada satu titik di mana negosiasi mengenai harga tanah mengalami kebuntuan, Pemerintah perlu mengefektifkan instrument / prosedur terakhir yang sifatnya final untuk mengkompensasi pengalihan hak atas tanah sesuai dengan pagu harga tertinggi sesuai dengan masukan tim auditor independen. Secara hukum, prosedur ekspropriasi ini dimungkinkan. Dengan pertimbangan uraian di atas, maka kegiatan ini dibuat untuk mengkaji kebijakan mengenai pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum.
1.1.2. MAKSUD DAN TUJUAN

a. MAKSUD Mengkaji kompleksitas permasalahan pengadaan tanah agar dapat dilakukan dengan transparan dan tidak berlarut-larut. b. TUJUAN Tersusunnya kajian kebijakan mengenai pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum.

1.1.3. SASARAN

Sasaran dari kegiatan ini adalah tersedianya mekanisme untuk pengadaan tanah yang mudah prosesnya, bersifat jangka panjang dan mengoptimalkan prinsip investasi, serta alternatif-alternatif lain dalam pengadaan tanah.

1.1.4. KELUARAN

Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah konsep pengembangan kebijakan dan mekanisme pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum.

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 3

1.1.5. LINGKUP, LOKASI KEGIATAN, DATA DAN FASILITAS PENUNJANG

SERTA ALIH PENGETAHUAN. a. LINGKUP KEGIATAN Lingkup kegiatan ini, adalah : 1). Studi kepustakaan mengenai peraturan perundangan dan literatur terkait dengan prosedur pengadaan tanah baik di Indonesia maupun di luar negeri (best-practice). 2). Identifikasi dan analisis berbagai program-program pembangunan beserta permasalahan pengadaan tanah dalam pembangunan bidang PU. 3). Menyusun rekomendasi kebijakan pembiayaan pengadaan tanah dalam mendukung kerja sama pemerintah dengan swasta untuk penyelenggaraan pembangunan bidang PU. b. LOKASI KEGIATAN Kegiatan jasa konsultasi ini harus dilaksanakan di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. DATA DAN FASILITAS PENUNJANG Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) akan mengangkat Tim Teknis yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping/counterpart Tenaga Ahli dalam rangka pelaksanaan jasa konsultasi. d. ALIH PENGETAHUAN Apabila dipandang perlu oleh PPK, maka penyedia jasa harus meng adakan pelatihan, kursus singkat, diskusi dan seminar terkait dengan substansi pelaksanaan pekerjaan dalam rangka alih pengetahuan kepada staf di lingkungan Pusat Kajian Strategis.

1.1.6. PENDEKATAN DAN METODOLOGI.

Sebagai bahan acuan untuk mengerjakan pekerjaan ini dapat menggunakan metodologi sebagai berikut : a. PENGUMPULAN DATA Sebagai dasar analisis diperlukan pengumpulan data antara lain data sekunder yang dapat dikumpulkan dengan cara kaji ulang dokumen data sekunder yang merupakan dokumen resmi/hasil kajian yang menyatakan informasi tentang keadaan, aturan, pedoman, standar dan sebagainya baik yang diterbitkan oleh internal maupun eksternal Departemen PU.

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 4

Selanjutnya untuk pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara dengan berbagai sumber untuk meggali informasi dari internal dan eksternal Departemen PU. b. ANALISIS DATA Untuk melakukan kajian ini secara umum menggunakan metode analisis kualitatif yaitu untuk mengkaji tentang permasalahan yang hanya dapat dianalisis secara deskriptif dan bersifat tidak terukur. c. PERUMUSAN KONSEP REKOMENDASI KEBIJAKAN Sebagai bagian dari upaya memberikan masukan kepada kebijakan Departemen, diperlukan pengembangan konsep kebijakan yang dilandasi oleh hasil-hasil pengumpulan dan analisis data yang dilakukan dan mampu direkomendasikan dengan muatan substansi yang lebih aplikatif. 1.2. APRESIASI KONSULTAN ATAS KAK Berdasarkan Usulan Teknis waktu proses pengadaan barang / jasa, pemahaman dan tanggapan atas KAK, sebagai apresiasi Konsultan, namun dengan mengantisipasi Jenis Laporan yang harus diserahkan kepada PPK, khususnya pada Laporan Akhir yang diharapkan berisikan : a. Rencana kerja penyedia jasa secara menyeluruh; b. Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainnya; c. Jadual kegiatan penyedia jasa; d. Pendekatan dan metodologi serta hasil observasi dan analisa awal. Laporan Pendahuluan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak SPMK diterbitkan dan dibuat sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan. Konsultan akan menguraikan baik yang tersurat maupun yang tersirat, mulai dari : i. judul [dari judul banyak hal yang perlu diklarifikasi, baik secara terminologi maupun acuan normatif serta kajian pustaka (bahan acuan dan kompilasi data/informasi) dan kajian lapangan, faktor pengaruh / penentu kegiatan]; ii. analisis maksud, tujuan, sasaran dan keluaran (sebagai umpan balik); serta iii. pendekatan dan metodologi (ilustrasi dalam bentuk diagram alir). Kemungkinan terjadinya pengulangan atau duplikasi redaksi antar bab, untuk memperkuat alur pikir atau adanya benang merah. Mulai dari judul, prosesi pelaksanaan pekerjaan sampai pemantapan hasil akhir tetap dalam koridornya atau benang merahnya.

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 5

Kemungkinan studi ini akan terfokus bagaimana membuat mekanisme atau aturan yang umum guna dapat menyelenggarakan pengadaan tanah untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum ke depan. Kerangka sistem penyelenggaraan pengadaan tanah untuk infrastruktur bidang pekerjaan umum yang akan disusun harus dapat diterapkan dalam semua jenis penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum, mulai dari pembangunan di bidang Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Cipta Karya, dengan tetap memperhatikan aspek Penataan Ruang di dalamnya. Sebagai langkah awal harus ditetapkan aspek-aspek apa saja yang akan digunakan sebagai penyusun kerangka sistem penyelenggaraan pengadaan tanah untuk infrastruktur bidang pekerjaan umum tersebut. Aspek-aspek ini merupakan faktor utama dalam penyusunan kebijakan. Ada 4 (empat) aspek yang akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan kerangka sistem penyelenggaraan pengadaan tanah untuk infrastruktur bidang pekerjaan umum, antara lain: 1) hukum; 2) sosial; 3) ekonomi; dan 4) kelembagaan. Dari masing-masing aspek tersebut akan diuraikan parameter sebagai bahan untuk melakukan kajian dan analisis, yang selanjutnya dengan memperhatikan faktor internal dan eksternal dari penyelenggaraan infrastruktur bidang pekerjaan umum, sistem penyelenggaraan pengadaan tanah tersebut akan disusun. 1.2.1. APRESIASI JUDUL Judul KAJIAN KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PEKERJAAN UMUM, dapat diuraikan dengan beberapa persepsi antara lain : a. KAJIAN KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH Diawali dengan penetapan makna yang akan memperjelas dan membatasi tahapan berikutnya, yaitu : Pertama, kebijakan dalam arti produk hukum terkait pengadaan tanah, khususnya yang menunjang pelaksanaan pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum; Kedua, kebijakan dalam arti tindakan yang telah diambil oleh Kementerian Pekerjaan Umum selama ini dalam mencapai tujuan pengadaan tanah, khususnya pada pelaksanaan pembangunan bidang pekerjaan umum yang tepat biaya, waktu dan kualitas serta manfaat. Jadi, kajian secara paralel atau yang merupakan gabungan pengalaman dan pembelajaran dengan landasan yuridis dalam pengadaan tanah di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 6

Melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 603/PRT/M/2005 tentang PEDOMAN UMUM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA BIDANG PEKERJAAN UMUM, telah diputuskan Sistem Pengendalian Manajemen,

disingkat dengan Sisdalmen, adalah Pedoman Umum Sistem Pengendalian Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana dan Sarana Bidang Pekerjaan Umum.

Sisdalmen disusun menurut : 1). Tahap Survei, Investigasi, dan Desain (SID) 2). Tahap Pengadaan Lahan (Land Acquisition/LA) 3). Tahap Pelaksanaan Konstruksi (Construction/C) 4). Tahap Operasi dan Pemeliharaan/O&P (Operation & Maintenance /O&M). Sisdalmen ini menguraikan secara rinci, lengkap, dan jelas tentang tata cara pelaksanaan kegiatan Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan), yang disusun sesuai kaidah penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana dalam lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, dengan urutan tahapan kegiatan SIDLACOM. Sisdalmen yang merupakan sarana baik pengawasan melekat maupun pengendalian penyelenggaraan pembangunan oleh setiap kepala satuan kerja (pejabat yang ditugasi), minimal harus digunakan pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan berkesinambungan. Sisdalmen ini berisi hal-hal sebagai berikut : 1. Perencanaan Konstruksi (SID) a. Tahap Pra Kontrak 1). Persiapan Pengadaan 2). Pemilihan Penyedia Jasa b. Tahap Penandatanganan Kontrak 1). Penyusunan Dokumen Kontrak 2). Penandatanganan Kontrak c. Tahap Pasca Penandatanganan Kontrak 1). Persiapan Pelaksanaan Kontrak 2). Pelaksanaan Kontrak 3). Serah Terima Pekerjaan 4). Evaluasi Produk Konsultan / Desain 5). Pemanfaatan Produk
halaman

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

1- 7

2. Pengadaan Lahan (Land Acquisition) a. Penetapan Lokasi Pembangunan b. Permohonan Pengadaan Tanah c. Pelaksanaan Pengadaan Tanah d. Keberatan atas Keputusan Panitia e. Pelaksanaan Pemberian Ganti Rugi f. Pelepasan, Penyerahan, dan Permohonan Hak atas Tanah g. Risalah Pengadaan Lahan h. Pengamanan Aset 3. Pelaksanaan Konstruksi (Construction) a. Tahap Pra Kontrak 1). Persiapan Pengadaan 2). Pemilihan Penyedia Jasa b. Tahap Penandatanganan Kontrak 1). Penyusunan Dokumen Kontrak 2). Penandatanganan Kontrak c. Tahap Pasca Penandatanganan Kontrak 1). Persiapan Pelaksanaan Kontrak 2). Pelaksanaan Kontrak a) Mobilisasi b) Pemeriksaan bersama c) Tinjauan desain d) Pembayaran uang muka e) Buku harian dan laporan harian, mingguan, dan bulanan f) Pengendalian pelaksanaan pekerjaan g) Pengukuran prestasi pekerjaan h) Pembayaran prestasi pekerjaan i) Perubahan kegiatan pekerjaan j) Denda dan ganti rugi k) Penyesuaian/eskalasi harga l) Keadaan kahar/force majeure m) Penghentian dan pemutusan kontrak n) Perpanjangan waktu o) Kerja sama dengan sub kontraktor p) Kompensasi q) Perselisihan/dispute r) Serah terima pekerjaan s) Laporan hasil penilaian pelaksanaan program mutu 3). Serah Terima Pekerjaan 4). Evaluasi Produk Konsultan / Desain 5). Pemanfaatan Produk
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 8

4. Operasi dan Pemeliharaan / O & P (Operation & Maintenance / O & M). a. Penyiapan perangkat O & P b. Program O & P c. Ketersediaan perangkat/sumber daya O & P d. Perencanaan Perbaikan e. Pelaksanaan Perbaikan f. Kegagalan Bangunan g. Keluaran/output h. Manfaat/outcome i. Penyerahan proyek selesai b. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PEKERJAAN UMUM. Bidang Pekerjaan Umum mempunyai beberapa pengertian, antara lain : Bidang Pekerjaan Umum adalah kegiatan yang meliputi subbidang Sumber Daya Air, Bina Marga, Perkotaan dan Perdesaan, Air Minum, Air Limbah, Persampahan, Drainase, Permukiman, Bangunan Gedung dan Lingkungan, serta Jasa Konstruksi. (sumber Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DEPARTEMEN PEKERJAAN
UMUM YANG MERUPAKAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAN DILAKSANAKAN MELALUI DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN ).

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2007 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR
51/PRT/2005 TENTANG RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM TAHUN 20052009 menyebutkan bahwa berdasarkan tugas dan

fungsi Departemen Pekerjaan Umum, infrastruktur dalam lingkup bidang pekerjaan umum tersebut meliputi: infrastruktur jalan, untuk distribusi lalulintas barang dan manusia maupun pembentuk struktur ruang wilayah. Infrastuktur sumber daya air, untuk mendukung penyimpanan dan pendistribusian air maupun prasarana dan sarana untuk pengendalian daya rusak air. Infrastruktur cipta karya, termasuk infrastruktur lingkungan perumahan dan permukiman, sebagai pendukung kualitas kehidupan dan penghidupan masyarakat yang mencakup pelayanan transportasi lokal, pelayanan air minum dan sanitasi lingkungan termasuk penanganan persampahan, penyediaan drainase untuk mengatasi genangan dan pengendalian banjir, serta penanganan air limbah domestik.

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 9

Berdasarkan Peprpres 67/2005 jenis infrastruktur yang dapat dikerja samakan dengan Badan Usaha mencakup: a. infrastruktur jalan, meliputi jalan tol dan jembatan tol; b. infrastruktur pengairan, meliputi saluran pembawa air baku; c. infrastruktur air minum yang meliputi bangunan pengambilan air baku, jaringan transmisi, jaringan distribusi, instalasi pengolahan air minum; dan d. infrastruktur air limbah yang meliputi instalasi pengolah air limbah, jaringan pengumpul dan jaringan utama, dan sarana persampahan yang meliputi pengangkut dan tempat pembuangan. Jenis infrastruktur ini dikerjasamakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di sektor yang bersangkutan. Mengacu pada Perpres 65/2006, pembangunan untuk kepentingan umum yang dilaksanakan Pemerintah atau Pemerintah Daerah, yang selanjutnya dimiliki atau akan dimiliki oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah, meliputi : a. jalan umum dan jalan tol, rel kereta api (di atas tanah, di ruang atas tanah, ataupun di ruang bawah tanah), saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan sanitasi; b. waduk, bendungan, bendungan irigasi dan bangunan pengairan lainnya; c. pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api ,dan terminal; d. fasilitas keselamatan umum, seperti tanggul penanggulangan bahaya banjir, lahar, dan lain-lain bencana; e. tempat pembuangan sampah; f. cagar alam dan cagar budaya; g. pembangkit, transmisi, distribusi tenaga listrik. Mulai tahun anggaran 2010, Kementerian Pekerjaan Umum menetapkan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Permukiman. Program dan kegiatan, meliputi :
Tabel 1.1. Program dan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum 9 PROGRAM DAN 56 KEGIATAN SDA Bina Marga Cipta Karya Penataan Ruang Setjen 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

9 kegiatan 8 kegiatan 7 kegiatan 6 kegiatan 8 kegiatan 2 kegiatan halaman

1- 10

Itjen Balitbang BPKSDM

1 Program 1 Program 1 Program

6 kegiatan 5 kegiatan 5 kegiatan

Tabel 1.2. Program dan Unit Organisasi Pelaksana Kementerian Pekerjaan Umum
PROGRAM 1. 2. 3. PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR PENYELENGGARAAN JALAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN INFRASTRUK TUR PERMUKIMAN. PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DUKUNGAN MANAJEMEN DAN TUGAS TEKNIS LAINNYA PEKERJAAN UMUM. PELAKSANAAN KEMENTERIAN SEKRETARIAT JENDERAL UNIT ORGANISASI PELAKSANAN DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR. DIREKTORAT BINA MARGA. JENDERAL

DIREKTORAT JENDERAL CIPTA KARYA. DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG.

4. 5.

6. 7. 8. 9.

PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA APARATUR KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. PENINGKATAN PENGAWASAN AKUNTABILITAS APARATUR NEGARA. DAN

INSPEKTORAT JENDERAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI.

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. PROGRAM PEMBINAAN KONSTRUKSI

Pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman mempunyai manfaat langsung untuk peningkatan taraf hidup masyarakat dan kualitas lingkungan, karena semenjak tahap konstruksi telah dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekaligus menggerakkan sektor riil. Sementara pada masa layanan, berbagai multiplier ekonomi dapat dibangkitkan melalui kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur. Infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman yang telah terbangun tersebut pada akhirnya juga akan dapat memperbaiki kualitas permukiman. Perwujudan pembangunan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman tersebut terlihat melalui: (i) Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang berperan untuk mendukung distribusi lalu-lintas barang dan manusia maupun pembentuk struktur ruang wilayah; (ii) Infrastuktur sumber daya air yang berperan dalam penyimpanan dan pendistribusian air untuk keperluan domestik (rumah tangga), industri, dan pertanian guna
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 11

mendukung ketahanan pangan, dan pelaksanaan konservasi sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air; dan (iii) Infrastruktur permukiman yang berperan dalam menyediakan pelayanan air minum dan sanitasi lingkungan, infrastruktur permukiman di perkotaan dan perdesaan dan revitalisasi kawasan serta pengembangan kawasan agropolitan. Seluruh penyediaan infrastruktur tersebut diselenggarakan berbasiskan penataan ruang. 1.2.2. APRESIASI MAKSUD, TUJUAN, SASARAN DAN KELUARAN. Maksud, tujuan dan sasaran serta keluaran jika ditarik mundur, bisa sebagai faktor penentu/pengaruh, sebagai koridor yang mengarahkan atau mengerucutkan substansi pekerjaan. a. MAKSUD Mengkaji kompleksitas permasalahan pengadaan tanah agar dapat dilakukan dengan transparan dan tidak berlarut-larut. Mengkaji diperlukan data/informasi yang lengkap, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan serta metode kajian. Data/informasi tersebut diperoleh secara primer (ke instansi ybs, kuesioner,dll) maupun secara sekunder (laporan bulanan/tahunan, format sesuai PP 39/2006, memorandum program, bahan pidato kenegaraan, hasil monev internal, dsb khususnya pengalaman Kementerian Pekerjaan Umum). Permasalahan pengadaan tanah, mulai dari penerapan produk hukum sampai hasil pelaksanaan di lapangan. Pengadaan tanah tidak bisa dilakukan sendiri oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Dimungkinkan untuk mengembangkan sistem informasi pengadaan tanah. b. TUJUAN Tersusunnya kajian kebijakan mengenai pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum. Hasil kebijakan yang berbasis apakah pencapaian (keluaran/hasil/ dampak) program mampu mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan. Hasil kajian yang menyiratkan efisiensi (keluaran dan hasil dibandingkan masukan), efektivitas (hasil dan dampak terhadap sasaran), ataupun manfaat (dampak terhadap kebutuhan) dari suatu program. Hasil kajian ini juga mengidentifikasi atau menemukenali potensi pengadaan tanah mendatang dengan mempertimbangkan berbagai
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 12

faktor kunci pembentuk daya tarik investasi pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum. c. SASARAN Sasaran dari kegiatan ini adalah tersedianya mekanisme untuk pengadaan tanah yang mudah prosesnya, bersifat jangka panjang dan mengoptimalkan prinsip investasi, serta alternatif-alternatif lain dalam pengadaan tanah. Analisa kebijakan dan pelaksanaan pengadaan tanah, mulai dari peraturan perundang-undangan, paket kebijakan pengadaan tanah dalam investasi, paket kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur, kelembagaan, SDM, dsb. Memberikan rekomendasi implementasi pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum yang berisiko tinggi Memberikan rekomendasi berbagai alternatif dalam pengadaan tanah. d. KELUARAN Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah konsep pengembangan kebijakan dan mekanisme pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum. Rancangan kerangka kebijakan dan pedoman operasional pengadaan tanah. Rancangan bersifat umum untuk pengadaan tanah dalam pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum. 1.2.3. APRESIASI PENDEKATAN DAN METODOLOGI. Gambar 1. menunjukkan pendekatan dan metodologi berdasarkan KAK, dengan batasan : a. Fokus Masalah Merupakan upaya pengumpulan data/informasi, baik sekunder maupun primer, dengan melihat berbagai permasalahan dalam pengadaan tanah. Kajian bersifat pararel, antara produk hukum dengan operasionalisasi di lapangan. b. Pengalaman dan pembelajaran Berbagai permasalahan hanya dapat dianalisis secara deskriptif dan bersifat tidak terukur, khususnya pengalaman dalam pengadaan tanah yang mewakili sumber daya air, bina marga dan cipta karya. Berbagai pengalaman, antar satminkal bisa berbeda atau tidak sama, namun mempunyai basis yang sama (untuk kepentingan umum atau bernilai strategis).
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 13

c. Kesimpulan Pengolahan data sekunder diimbangi konfirmasi dari pihak terkait, baik dari aspek yuridis maupun operasional, mungkin sudah dapat diambil berbagai kesimpulan. Melalui mekanisme diskusi, review, pembahasan, maka perumusan konsep rekomendasi kebijakan secara substansial dapat lebih aplikatif.
Gambar 1.1. Diagram alir kajian kebijakan pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang pekerjaan umum.

FOKUS MASALAH

PENGALAMAN DAN PEMBELAJARAN

KESIMPULAN

Kebutuhan akan infrastruktur bidang PU Pelaksanaan Pengadaan Tanah

Produk Hukum Sektoral

Pengadaan Tanah

Titik kritis Pengadaan Tanah

Produk Hukum Pertanahan

Alternatif Pengadaan Tanah

Pemilikan, Penguasaan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah 1. Konsolidasi Tanah. 2. Bank Tanah.

Rekomendasi Kebijakan Pengadaan Tanah

1.3. SISTEMATIKA PELAPORAN Jenis laporan yang harus diserahkan kepada PPK meliputi : a. LAPORAN PENDAHULUAN, berisi : 1). Rencana kerja penyedia jasa secara menyeluruh; 2). Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainnya; 3). Jadwal kegiatan penyedia jasa; 4). Pendekatan dan metodologi serta hasil observasi dan analisa awal. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak SPMK diterbitkan dan dibuat sebanyak 10 (sepuluh) buku laporan. b. LAPORAN ANTARA/INTERIM, berisi : Hasil sementara pelaksanaan pekerjaan, diserahkan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sejak SPMK diterbitkan dan dibuat sebanyak 15 (lima belas) buku laporan.
Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 14

c. LAPORAN DRAFT FINAL, berisi : Konsep pengembangan kebijakan pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur PU. Diserahkan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak SPMK diterbitkan dan dibuat sebanyak 15 (lima belas) buku laporan, d. LAPORAN AKHIR, berisi : Seluruh hasil pekerjaan termasuk kesimpulan dan rekomendasi, serta telah disempurnakan berdasarkan hasil pembahasan dengan Tim Teknis. Laporan dilengkapi dengan eksekutif summary yang menyajikan secara ringkas isi keseluruhan pekerjaan yang dilakukan. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) bulan sejak SPMK diterbitkan dan dibuat sebanyak 20 (dua puluh) buku laporan disertai penyerahan 5 (lima) buah dalam bentuk Compact Disk (CD) yang berisi seluruh laporan dan 15 (lima belas) laporan eksekutif summary. Untuk Laporan Draft Final disajikan dalam bentuk bab-bab :
BAB I.

PENDAHULUAN Bersisikan antara lain substansi KAK, apresiasi konsultan atas KAK dan sistematika pelaporan. Juga mengakomodir masukan dari hasil pembahasan Laporan Antara. STRATEGIS SEBAGAI DASAR PERENCANAAN PENGADAAN TANAH. Mengacu pada Rencana Strategis Kementerian PU 2010-2014, memang secara tak langsung tersirat adanya pembangunan infrastruktur yang membutuhkan tanah.

BAB II. RENCANA

BAB III. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH INFRASTRUKTUR BIDANG

PU UNTUK KEPENTINGAN UMUM. Sebagian pembangunan infrastruktur PU masuk pembangunan untuk kepentingan umum. Berbagai produk hukum tentang tanah, jasa konstruksi, pengadaan barang/jasa, dsb mempengaruhi pengadaan tanah untuk pembangunan infrastruktur bidang PU.

Pengadaan tanah sebagai domain BPN, berarti setiap K/L yang membutuhkan tanah harus berkoordinasi dengan BPN.

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 15

BAB IV. KERANGKA KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH INFRASTRUKTUR

BIDANG PU. Praktek pengadaan tanah di Kementerian PU sangat kompleks dan dinamis. Sumber dana pinjaman/hibah luar negeri, pemberi pinjaman juga mengatur pengadaan tanah. Pengadaan tanah disesuaikan dengan tahapan dalam pekerjaan konstruksi atau berdasarkan Sisdalmen. Sampai tahap operasi dan pemeliharaan, Kementerian PU tetap peduli pada masyarakat terkena dampak pembangunan infrastruktur bidang PU.

BAB V. ALTERNATIF DAN FOKUS PENGADAAN TANAH

Pemerintah kabupaten/kota sebagai penerima manfaat berdampak pada perencanaan, pemrograman dan penganggaran pada pembangunan daerah.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Laporan Akhir. Paket 12 . TA 2010

halaman

1- 16

Perencanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, yang menjadi tanggung jawab dan wewenang Kementerian PU, didasarkan atas prioritas pembangunan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah, Rencana Strategis dan Rencana Kerja Pemerintah. Rencana Strategis Kementerian PU yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian PU, adalah dokumen perencanaan Kementerian PU untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2010 sampai dengan 2014. Renstra Kementerian PU ditetapkan dengan Peraturan Menteri PU Nomor: 02/PRT/M/2010 Tentang RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2010-2014, pada tanggal 29 Januari 2010. Renstra Kementerian PU disebut pula sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kementerian/Lembaga. Renstra Kementerian PU meliputi uraian tentang Mandat, Tugas, Fungsi dan Kewenangan serta Peran Kementerian PU, Kondisi dan Tantangan serta Isu Strategis, Visi dan Misi Kementerian PU, Tujuan, Sasaran, Arah Kebijakan, Strategi, Program, Kegiatan dan Target Capaian yang dilengkapi dengan pendanaan, indikator output, outcome dan indikator kinerja utama (IKU). Renstra Kementerian PU merupakan acuan untuk menyusun Renja Kementerian PU (yang selanjutnya disebut Renja 2. Kementerian PU, adalah dokumen perencanaan Kementerian Pekerjaan Umum untuk periode 1 (satu) tahun) yang dijabarkan lebih lanjut oleh setiap Satminkal di lingkungan Kementerian PU dalam penyusunan program 5 (lima) tahun tiap Satminkal. Dengan ditetapkannya Renstra Kementerian PU ini maka selanjutnya Renstra harus menjadi acuan dalam penyusunan program masing-masing satminkal di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum serta Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Pekerjaan Umum setiap tahun mulai tahun 2010, 2011, 2112, 2013, sampai dengan tahun 2014.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-1

2.1. TUGAS, FUNGSI, MANDAT DAN KEWENANGAN SERTA PERAN KEMEN TERIAN PU 2010-2014. Untuk mendapatkan kondisi nyata kebutuhan akan tanah, diperlukan pemahaman atas berbagai uraian yang tercantum dalam Renstra Kementerian PU. Narasi dalam Renstra mengarah s.d. program dan kegiatan, yang terbagi dalam sistem satu satminkal 1 program (bisa lebih), seperti tergambar dalam Tabel 2.1. Program, dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Pekerjaan Umum yang disusun dengan berpedoman pada RPJMN 2010 - 2014 yang telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 pada tanggal 20 Januari 2010 dan bersifat indikatif.. Mulai tahun anggaran 2010, Kementerian Pekerjaan Umum menetapkan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Permukiman. Lokasi Program dan kegiatan, dijabarkan oleh setiap Satminkal :
Tabel 2.1. Lokasi Program dan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum 9 PROGRAM DAN 56 KEGIATAN SDA Bina Marga Cipta Karya Penataan Ruang Setjen Itjen Balitbang BPKSDM 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 1 Program 9 kegiatan 8 kegiatan 7 kegiatan 6 kegiatan 8 kegiatan 2 kegiatan 6 kegiatan 5 kegiatan 5 kegiatan LOKASI Pusat, tersebar di kab/kota, lintas kab/kota, provinsi, lintas provinsi, skala nasional

Berbagai upaya untuk mencapai tujuan dan sasaran Kementerian Pekerjaan Umum akan dilaksanakan melalui target-target berupa program dan kegiatan, baik yang bersifat reguler maupun berupa dukungan terhadap prioritas dan fokus prioritas nasional, dengan mempertimbangkan kondisi keuangan negara dan perkembangan situasi ekonomi gobal. Pelaksanan program dan kegiatan sebagaimana tertuang dalam Renstra tersebut akan memerlukan koordinasi, konsolidasi, dan sinergi antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah dan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah dengan Dunia Usaha agar keseluruhan sumber daya yang ada dapat digunakan secara optimal dan dapat mencapai kinerja yang maksimal dalam rangka meningkatkan ketersediaan dan kualitas pelayanan infrastruktur yang lebih merata.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-2

Oleh karenanya penyelenggaraan infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman perlu dilandasi dengan kerangka peraturan perundang-undangan yang mantap dan supportif dan menjadi dasar bagi penyelenggaraan pembangunan infrastruktur ke depan yang lebih terpadu dan efektif yang mengedepankan proses partisipatif dan menghasilkan output dan outcome yang optimal.
Tabel 2.2. Jumlah Satuan Kerja per Satminkal
SNVT Prov 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ditjen SDA Ditjen MB Ditjen CK Ditjen PR Sekjen Itjen Balitbang Bapekon BPJT 8 10 15 6 10 1 5 3 1 1 60 30 14 --1 13 --13 12 ----83 40 144 162 --1 ----------347 Kab/ Kota ----355 --------------355 Prov 27 31 ----------------58 SKPD TP Kab/ Kota 132 ------------------132 Dekon Prov ------32 ------------32 237 199 532 39 24 1 18 15 1 1 1.067 Total

SATMINKAL

Pusat

UPT / Balai

10. BPPSPAM Total

2.1.1 TUGAS DAN FUNGSI KEMENTERIAN PU Tugas dan Fungsi Kementerian PU, sudah dipatok dalam Pasal 391 dan Pasal 392, Peraturan Presiden RI Nomor : 24 tahun 2010 Tentang KEDUDUKAN,
TUGAS, DAN FUNGSI KEMENTERIAN NEGARA SERTA SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS, DAN FUNGSI ESELON I KEMENTERIAN NEGARA, tertanggal 14 April

2010, tersurat sebagai berikut : Bagian Keempatbelas Kementerian Pekerjaan Umum Pasal 390 (1) Kementerian Pekerjaan Umum berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. (2) Kementerian Pekerjaan Umum dipimpin oleh Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 391 Kementerian Pekerjaan Umum mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pekerjaan umum dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-3

Pasal 392 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 391, Kementerian Pekerjaan Umum menyelenggarakan fungsi: a. perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pekerjaan umum; b. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum; c. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum; d. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Pekerjaan Umum di daerah; dan e. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional. Susunan organisasi Eselon I Kementerian PU, tugas Wakil Menteri PU, tugas Staf Ahli, dan tugas dan fungsi Satminkal diuraikan lebih lanjut dalam Pasal 393 s.d. Pasal 411. 2.1.2 MANDAT KEMENTERIAN PU Terkait dengan tugas dan fungsi tersebut, dalam PP RI 38/2007 tentang PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI, DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA, telah ditetapkan secara lebih spesifik tentang mandat yang diberikan kepada Kementerian PU yang terbagi ke dalam 2 (dua) bidang utama, yaitu urusan bidang Pekerjaan Umum dan urusan bidang Penataan Ruang yang selanjutnya dibagi lagi ke dalam sub-sub bidang. Setiap sub bidang terdiri dari sub-sub bidang yang meliputi pengaturan, pembinaan dan pemberdayaan, pembangunan dan pengelolaan, serta pengawasan dan pengendalian. Berdasarkan Undang-Undang sektor ke-PU-an yang terdiri atas : Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang PENATAAN RUANG, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang SUMBER DAYA AIR, Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang PENGELOLAAN SAMPAH, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang BANGUNAN GEDUNG, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN, dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang JASA KONSTRUKSI, penyelenggaraan bidang PU dan permukiman telah dimandatkan secara tegas oleh ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut dan peraturan pelaksanaannya yang menjadi turunan dari UU di atas. Sebagai dasar hukum pelaksanaan pengelolaan sumber daya air, telah diterbitkan empat Peraturan Pemerintah (PP) dari sepuluh PP turunan UU No.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-4

7 Tahun 2004 tentang SUMBER DAYA AIR, yaitu: (a) PP No.16 Tahun 2005 tentang PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM; (b) PP No.20 Tahun 2006 tentang Irigasi; (c) PP No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air; dan (d) PP No.43 Tahun 2008 tentang Air Tanah. Beberapa peraturan perundangan yang telah disahkan sebagai pedoman operasional dalam pelaksanaan koordinasi/pengelolaan sumber daya air, yaitu: (a) Perpres No.12 Tahun 2008 tentang Dewan Sumber Daya Air; (b) Keppres No. 6 Tahun 2009 tentang Pembentukan Dewan Sumber Daya Air; dan (c) Kepmen PU No.390/KPTS/M/2007 tentang Penentuan Status Daerah Irigasi serta 4 (empat) Permen PU lainnya. Sub bidang dalam bidang PU yang menjadi mandat Kementerian PU adalah sebagai berikut: a. SUB BIDANG SUMBER DAYA AIR 1). Pengaturan, meliputi 1) penetapan kebijakan nasional sumber daya air; 2) penetapan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 3) penetapan rencana pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 4) penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sumber air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 5) pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional, wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi, dan wadah koordinasi sumber daya air wilayah sungai strategis nasional; 6) penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) pengelolaan sumber daya air; 7) penetapan status daerah irigasi yang sudah dibangun yang menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota; dan 8) pengesahan pembentukan komisi irigasi antar provinsi. 2). Pembinaan, meliputi 1) penetapan dan pemberian izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 2) penetapan dan pemberian rekomendasi teknis atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air tanah lintas negara; 3) menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 4) pemberian bantuan teknis dalam pengelolaan sumber daya air kepada provinsi dan kabupaten/kota; 5)
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-5

fasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam pengelolaan sumber daya air; 6) pemberian izin pembangunan, pemanfaatan, pengubahan, dan/atau pembongkaran bangunan dan/atau saluran irigasi pada jaringan irigasi primer dan sekunder dalam daerah irigasi lintas provinsi, daerah irigasi lintas negara, dan daerah irigasi strategis nasional; 7) pemberdayaan para pemilik kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota; dan 8) pemberdayaan kelembagaan sumber daya air tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota. 3). Pembangunan/Pengelolaan, meliputi 1) konservasi sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 2) pendayagunaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi,wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional; 3) pengendalian daya rusak air yang berdampak skala nasional; 4) penyelenggaraan sistem informasi sumber daya air tingkat nasional; 5) pembangunan dan peningkatan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi lintas provinsi, daerah irigasi lintas negara, dan daerah irigasi strategis nasional; 6) operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya lebih dari 3.000 ha atau pada daerah irigasi lintas provinsi, daerah irigasi lintas negara, dan daerah irigasi strategis nasional; dan 7) Operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi pada sungai, danau, waduk dan pantai pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional. 4). Pengawasan dan Pengendalian, meliputi pengawasan pengelolaan sumber daya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional. b. SUB BIDANG BINA MARGA 1). Pengaturan, meliputi pengaturan jalan secara umum dan pengaturan jalan nasional serta pengaturan jalan tol. 2). Pembinaan, meliputi pembinaan jalan secara umum dan jalan nasional; pengembangan teknologi terapan di bidang jalan untuk jalan kabupaten/kota; pembinaan jalan tol yaitu penyusunan pedoman dan standar teknis, pelayanan, pemberdayaan serta penelitian dan pengembangan. 3). Pembangunan dan Pengusahaan, meliputi pembangunan jalan nasional dan pengusahaan jalan tol. 4). Pengawasan, meliputi pengawasan jalan secara umum dan pengawasan jalan nasional.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-6

c. SUB BIDANG PERSAMPAHAN 1). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan prasarana dan sarana persampahan. 2). Pembinaan, antara lain fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antarprovinsi. 3). Pembangunan, antara lain fasilitasi penyelenggaraan dan pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana persampahan secara nasional (lintas provinsi). 4). Pengawasan, antara lain pengawasan dan pengendalian pengembangan persampahan secara nasional. d. SUB BIDANG DRAINASE 1). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan dan strategi nasional dalam penyelenggaraan drainase dan pematusan genangan. 2). Pembinaan, antara lain fasilitasi bantuan teknis pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan drainase. 3). Pembangunan, antara lain fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan operasionalisasi sistem drainase dan penanggulangan banjir lintas provinsi. 4). Pengawasan, antara lain evaluasi kinerja penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir secara nasional. e. SUB BIDANG AIR MINUM 1). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan pelayanan air minum. 2). Pembinaan, antara lain fasilitasi penyelesaian masalah dan permasalahan antarprovinsi, yang bersifat khusus, strategis, baik yang bersifat nasional maupun internasional. 3). Pembangunan, antara lain fasilitasi pemenuhan kebutuhan air baku untuk kebutuhan pengembangan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) secara nasional. 4). Pengawasan, antara lain pengawasan terhadap seluruh tahapan penyelenggaraan pengembangan SPAM secara nasional. f. SUB BIDANG AIR LIMBAH 1). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan dan strategi nasional pengembangan prasarana dan sarana air limbah. 2). Pembinaan, antara lain fasilitasi penyelesaian permasalahan antar provinsi yang bersifat khusus, strategis baik yang bersifat nasional maupun internasional.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-7

3). Pembangunan, antara lain fasilitasi pengembangan PS air limbah skala kota untuk kota-kota metropolitan dan kota besar dalam rangka kepentingan strategis nasional. 4). Pengawasan, antara lain pengendalian dan pengawasan atas penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah. g. SUB BIDANG BANGUNAN GEDUNG DAN LINGKUNGAN 1). Pengaturan, antara lain penetapan peraturan perundang-undangan, norma, standar, prosedur dan kriteria/bangunan gedung dan lingkungan. 2). Pembinaan, antara lain pemberdayaan kepada pemerintah daerah dan penyelenggara bangunan gedung dan lingkungannya. 3). Pembangunan, antara lain fasilitasi bantuan teknis penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan. 4). Pengawasan, antara lain pengawasan secara nasional terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan, pedoman, dan standar teknis bangunan gedung dan lingkungannya, serta gedung dan rumah negara. h. SUB BIDANG PERMUKIMAN 1). Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) yang berdiri sendiri, terdiri dari: a). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan teknis Kasiba dan Lisiba nasional. b). Pembinaan, antara lain fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan Kasiba dan Lisiba. c). Pembangunan, antara lain fasilitasi penyelenggaraan pembangunan Kasiba dan Lisiba strategis nasional. d). Pengawasan, antara lain pengawasan dan pengendalian kebijakan nasional penyelenggaraan Kasiba dan Lisiba. 2). Permukiman Kumuh/Nelayan, terdiri dari: a). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan nasional tentang penanggulangan permukiman kumuh perkotaan dan nelayan. b). Pembinaan, yaitu fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan dalam penanganan permukiman kumuh secara nasional (bantuan teknis). c). Pembangunan, antara lain fasilitasi program penanganan permukiman kumuh bagi lokasi yang strategis secara nasional. d). Pengawasan, antara lain melaksanakan pengawasan dan pengendalian penanganan permukiman kumuh nasional. 3). Pembangunan Kawasan, terdiri dari:
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-8

a). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan pembangunan kawasan strategis nasional. b). Pembinaan, antara lain fasilitasi peningkatan kapasitas daerah dalam pembangunan kawasan strategis nasional. c). Pembangunan, yaitu fasilitasi penyelenggaraan pembangunan kawasan strategis nasional. d). Pengawasan, antara lain pengawasan dan pengendalian pembangunan kawasan strategis nasional. i. SUB BIDANG PERKOTAAN DAN PERDESAAN 1). Pengaturan, antara lain penetapan kebijakan dan strategi nasional pembangunan perkotaan dan perdesaan. 2). Pembinaan, antara lain fasilitasi peningkatan kapasitas manajemen pembangunan dan pengelolaan Prasarana dan Sarana (PS) perkotaan dan pedesaan tingkat nasional. 3). Pembangunan, antara lain fasilitasi perencanaan program pembangunan PS perkotaan dan perdesaan jangka panjang dan jangka menengah. 4). Pengawasan, antara lain pengawasan dan pengendalian program pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan dan perdesaan secara nasional. j. SUB BIDANG JASA KONSTRUKSI 1). Pengaturan, antara lain penetapan dan penerapan kebijakan nasional pengembangan usaha, termasuk upaya mendorong kemitraan fungsional sinergis. 2). Pemberdayaan, antara lain pemberdayaan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Nasional serta asosiasi badan usaha dan profesi tingkat nasional. 3). Pengawasan, antara lain pengawasan guna tertib usaha mengenai persyaratan perizinan dan ketentuan ketenagakerjaan. Sub bidang dalam bidang Penataan Ruang, yang menjadi mandat Kementerian PU terdiri dari: k. SUB BIDANG PENGATURAN, meliputi : 1). Penetapan peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang. 2). Penetapan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) bidang penataan ruang. 3). Penetapan penataan ruang perairan di luar 12 (dua belas) mil dari garis pantai.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2-9

4). Penetapan kriteria penentuan dan kriteria perubahan fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar dan berdampak penting dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang. 5). Penetapan kawasan strategis nasional. 6). Penetapan kawasan-kawasan andalan. 7). Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang penataan ruang. l. SUB BIDANG PEMBINAAN, meliputi : 1). Koordinasi penyelenggaraan penataan ruang pada semua tingkatan wilayah. 2). Sosialisasi NSPK bidang penataan ruang. 3). Sosialisasi SPM bidang penataan ruang. 4). Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang terhadap pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. 5). Pendidikan dan pelatihan. 6). Penelitian dan pengembangan. 7). Pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang nasional. 8). Penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat. 9). Pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat. 10). Koordinasi dan fasilitasi penataan ruang lintas provinsi. 11). Pembinaan penataan ruang untuk lintas provinsi. m. SUB BIDANG PEMBANGUNAN, meliputi : 1). Perencanaan Tata Ruang a). Penyusunan dan penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). b). Penyusunan dan penetapan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional c). Penetapan rencana detail tata ruang untuk RTRWN. 2). Pemanfaatan Ruang a). Penyusunan program dan anggaran nasional di bidang penataan ruang, serta fasilitasi dan koordinasi antar provinsi. b). Pemanfaatan kawasan strategis nasional. c). Pemanfaatan kawasan andalan sebagai bagian dari RTRWN d). Pemanfaatan investasi di kawasan andalan dan kawasan strategis nasional serta kawasan lintas provinsi bekerjasama dengan pemerintah daerah, masyarakat dan dunia usaha. e). Pemanfaatan SPM di bidang penataan ruang.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 10

f). Penyusunan neraca penatagunaan tanah, neraca penatagunaan sumber daya air, neraca penatagunaan udara, neraca penatagunaan sumberdaya alam lainnya. g). Perumusan kebijakan strategis operasionalisasi RTRWN dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional. h). Perumusan program sektoral dalam rangka perwujudan struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional dan kawasan strategis nasional. i). Pelaksanaan pembangunan sesuai program pemanfaatan ruang wilayah nasional dan kawasan strategis nasional. 3). Pengendalian Pemanfaatan Ruang a). Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional termasuk lintas provinsi. b). Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional. c). Penyusunan peraturan zonasi sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang nasional. d). Pemberian izin pemanfaatan ruang yang sesuai dengan RTRWN. e). Pembatalan izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan RTRWN. f). Pengambilalihan kewenangan pemerintah provinsi dalam hal pemerintah provinsi tidak dapat memenuhi SPM di bidang penataan ruang. g). Pemberian pertimbangan atau penyelesaian permasalahan penataan ruang yang tidak dapat diselesaikan pada tingkat provinsi. h). Fasilitasi penyelesaian perselisihan dalam pelaksanaan penataan antara provinsi dengan kabupaten/kota. n. SUB BIDANG PENGAWASAN, meliputi : 1). Pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang di wilayah nasional. 2). Pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang di wilayah provinsi. 3). Pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang di wilayah kabupaten/kota. 2.1.3 KEWENANGAN KEMENTERIAN PU Dalam menyelenggarakan mandat, tugas dan fungsinya, Kementerian PU mempunyai kewenangan sebagai berikut: a. penetapan kebijakan di bidang PU dan permukiman untuk mendukung pembangunan secara makro;
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 11

b. penetapan pedoman untuk menentukan standar pelayanan minimum yang wajib dilaksanakan oleh kabupaten/kota di bidang PU dan permukiman; c. penetapan kriteria penentuan dan perubahan fungsi ruang kawasan/ lahan wilayah; d. penyusunan rencana nasional secara makro di bidang PU dan permukiman; e. penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang PU dan permukiman; f. pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi kelembagaan, pemberian pedoman/bimbingan, pelatihan, arahan, dan supervisi di bidang PU dan permukiman; g. pengaturan penetapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama negara di bidang PU dan permukiman; penetapan standar pemberian izin oleh daerah di bidang PU dan permukiman; h. penanggulangan bencana yang berskala nasional di bidang PU dan permukiman; i. penetapan kebijakan sistem informasi nasional di bidang PU dan permukiman; pengaturan sistem lembaga perekonomian negara di bidang PU dan permukiman; j. penyelesaian perselisihan antarprovinsi di bidang PU dan permukiman; penetapan persyaratan untuk penetapan status dan fungsi jalan; pengaturan dan penetapan status jalan nasional; k. penetapan pedoman konservasi arsitektur bangunan dan pelestarian kawasan bangunan bersejarah serta pedoman teknis pengelolaan fisik gedung dan pengelolaan rumah negara; l. penetapan standar prasarana dan sarana kawasan terbangun dan sistem manajemen konstruksi; m. penetapan standar pengembangan konstruksi bangunan sipil dan arsitektur; dan kewenangan lain yang melekat dan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kewenangan lain yang melekat tersebut adalah penetapan pedoman perencanaan, pengembangan, pengawasan, dan pengendalian pembangunan infrastruktur perumahan dan permukiman; n. penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah/ kawasan tangkapan air pada daerah aliran sungai dan pedoman pengelolaan sumber daya air; o. penetapan standar prasarana dan sarana wilayah di bidang sumber daya air dan jaringan jalan; p. perencanaan makro dan pedoman pengelolaan sumber daya air lintas provinsi;
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 12

q. penyelenggaraan dan pemberian izin pengelolaan sumber daya air lintas provinsi; r. penetapan standar prasarana dan sarana perkotaan dan pedesaan ; s. penetapan pedoman perizinan penyelenggaraan jalan bebas hambatan lintas provinsi; t. penetapan kebijakan dan pembinaan pengembangan bidang konstruksi nasional; dan u. pembangunan dan pemeliharaan jaringan jalan nasional serta prasarana dan sarana sumber daya air lintas provinsi atau yang strategis nasional sesuai dengan kesepakatan Daerah. 2.1.4 PERAN INFRASTRUKTUR PU DAN PERMUKIMAN Pembangunan infrastruktur PU dan permukiman mempunyai manfaat langsung untuk peningkatan taraf hidup masyarakat dan kualitas lingkungan, karena semenjak tahap konstruksi telah dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekaligus menggerakkan sektor riil. Sementara pada masa layanan, berbagai multiplier ekonomi dapat dibangkitkan melalui kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur. Infrastruktur PU dan permukiman yang telah terbangun tersebut pada akhirnya juga akan dapat memperbaiki kualitas permukiman. Disamping itu, infrastruktur PU dan permukiman juga berperan sebagai pendukung kelancaran kegiatan sektor pembangunan lainnya antara lain sektor pertanian, industri, kelautan dan perikanan. Pembangunan infrastruktur PU dan permukiman karenanya berperan sebagai stimulan dalam mendukung perkembangan ekonomi wilayah yang signifikan. Oleh karenanya, upaya pembangunan infrastruktur perlu direncanakan dengan matang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan perkembangan suatu wilayah, yang pada gilirannya akan menjadi modal penting dalam mewujudkan berbagai tujuan dan sasaran pembangunan nasional, termasuk kaitannya dengan pencapaian sasaran-sasaran Millennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 mendatang. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur PU dan permukiman pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai 3 (tiga) strategic goals, yaitu: a) meningkatkan pertumbuhan ekonomi; b) meningkatkan kesejahteraan masyarakat; dan c) meningkatkan kualitas lingkungan. Perwujudan pembangunan infrastruktur PU dan permukiman tersebut terlihat melalui: (i) Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang berperan untuk mendukung distribusi lalu-lintas barang dan manusia maupun
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 13

pembentuk struktur ruang wilayah; (ii) Infrastuktur sumber daya air yang berperan dalam penyimpanan dan pendistribusian air untuk keperluan domestik (rumah tangga), industri, dan pertanian guna mendukung ketahanan pangan, dan pelaksanaan konservasi sumber daya air, serta pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air; dan (iii) Infrastruktur permukiman yang berperan dalam menyediakan pelayanan air minum dan sanitasi lingkungan, infrastruktur permukiman di perkotaan dan perdesaan dan revitalisasi kawasan serta pengembangan kawasan agropolitan. Seluruh penyediaan infrastruktur tersebut diselenggarakan berbasiskan penataan ruang. Oleh karenanya, pembangunan infrastruktur bukan hanya harus benar-benar dirancang dan diimplementasikan secara sistematis, tetapi juga harus berkualitas supaya mampu menciptakan dan membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi (economic gains), menghadirkan keuntungan sosial (social benefits), meningkatkan layanan publik (public services), serta meningkatan partisipasi politik (political participation) di segenap lapisan masyarakat. Pembangunan infrastruktur PU dan permukiman juga harus selaras dan bersinergi dengan sektor-sektor lainnya sehingga mampu mendukung pengembangan wilayah dan permukiman dalam rangka perwujudan dan pemantapan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 2.2. PROGRAM DAN KEGIATAN KEMENTERIAN PU 2010-2014 . Program, kegiatan, dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan di dalam Renstra Kementerian PU harus dijabarkan ke dalam sasaran-sasaran program per wilayah (provinsi, kabupaten/kota) sesuai Rencana Tata Ruang Wilayahnya. Perwujudan program, kegiatan, dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan di dalam Renstra Kementerian PU ini akan dicapai melalui pembiayaan yang bersumber dari dana pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Program pada dokumen Renstra Kementerian PU 2010-2014 merupakan program yang disusun pada masa transisi menjelang ditetapkannya struktur program berbasis arsitektur program dan penerapan kerangka pengeluaran jangka menengah sebagai amanat UU 17/2003 tentang Keuangan Negara dan UU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Target Program Strategis Kementerian PU dalam periode 2010-2014 secara keseluruhan akan meliputi:
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 14

1. 2.

3. 4. 5. 6. 7.

8.

9. 10. 11.

12.

13.

Preservasi pada ruas jalan nasional baik lintas maupun non-lintas, sehingga 94% jaringan jalan nasional dalam kondisi mantap. Peningkatan kapasitas jalan sepanjang 19.370 Km, sehingga Lintas Timur Sumatera dan Pantura Jawa memiliki lebar minimum 7 m, dengan Pantura Jakarta-Surabaya memenuhi spesifikasi jalan raya; Lintas Selatan Kalimantan dan Lintas Barat Sulawesi memiliki lebar minimum 6 m; terjadi penurunan panjang jalan sub standar sebesar 10% dan penambahan lajur kilometer sepanjang 13.000 Km; serta panjang jalan yang memenuhi spesifikasi jalan raya bertambah 400 Km. Pengurangan jumlah lokasi rawan kecelakaan terkait kondisi jalan. Dukungan infrastruktur permukiman sebanyak 240 kawasan permukiman, MBR 26.700 unit hunian rusunawa dan infrastruktur pendukungnya. Penyelesaian Banjir Kanal Timur. Pelaksanaan pembangunan prasarana pengendalian banjir dan pengembangan terpadu aliran Sungai Bengawan Solo. Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan ruang terpadu. Konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/lembaga terkait pemanfaatan tanah dan penataan ruang bagi kepentingan rakyat banyak. Inventarisasi lahan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pembangunan/rehabilitasi/OP prasarana sumber daya air untuk melayani daerah sentra produksi pertanian. Fasilitasi pembangunan dan preservasi jalan nasional menuju kawasan perbatasan (yang terdepan dan terluar serta masih banyak yang tertinggal) di Aruk, Entikong, Nanga Badau, Simanggaris, dan Nunukan di Pulau Kalimantan dan Sota (Merauke) di Papua serta memfasilitasi pembangunan jalan daerah untuk memberi akses transportasi di daerah tertinggal terdepan, terluar dan pasca-konflik. Memberikan program-program terkait mitigasi bencana untuk 15 kawasan, 8.803 desa di daerah tertinggal mendapatkan dukungan infrastruktur permukiman, dan 102 kawasan perbatasan dan pulau kecil mendapatkan dukungan infrastruktur permukiman Pembangunan dan preservasi jaringan jalan tol sepanjang 700 km yang dilaksanakan oleh Pemerintah sepanjang 44 km dan fasilitasi pembangunan jalan tol yang dilaksanakan oleh swasta sepanjang 656 km serta melakukan pembangunan akses tol pada koridor-koridor dengan intensitas pergerakan barang dan jasa yang tinggi dan berorientasi ekspor seperti: Pembangunan Jalan Akses Tanjung Priok, Dry Port Cikarang dan Gedebage, Bandara Juanda dan Kualanamu, maupun jalan non-tol yang merupakan jalan-jalan akses dari Lintas Timur Sumatera menuju Pelabuhan Belawan dan
halaman

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

2 - 15

14.

15. 16. 17.

18.

19.

Pelabuhan Dumai, serta pembangunan jalan-jalan akses dari Pantura Pulau Jawa menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Tanjung Mas, Pelabuhan Tanjung Perak, dan lain-lain. Program pembangunan infrastruktur perdesaan di 8.803 desa tertinggal, program penanggulangan kemiskinan perkotaan di 9.956 kelurahan/desa, program air minum (4.650 desa) dan sanitasi masyarakat (220 kawasan), dan program pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah di 185 kawasan. Fasilitasi terhadap 107 PDAM untuk mendapatkan pinjaman bank dan 185 PDAM mendapatkan pembinaan teknis. Peningkatan kapasitas produksi Sistem Penyediaan Air Minum di 32 provinsi dengan total peningkatan 9.470 liter/detik. Revisi Perpres No. 67/2005 yang mencakup: (i) penyesuaian ketentuan pelelangan sesuai Peraturan Pemerintah tentang Jalan Tol (apabila peserta pelelangan kurang dari 2, dapat dilakukan negosiasi setelah mendapat persetujuan Menteri); (ii) perubahan pemegang saham sebelum jalan tol beroperasi atas ijin Menteri; penataan ruang bagi kepentingan rakyat banyak, dan (iii) perubahan preferensi untuk prakarsa Badan Usaha dari 10% menjadi 20%. Pembentukan unit Pemerintah untuk melaksanakan pembangunan jalan bebas 18. hambatan yang secara finansial/komersial masih marginal dan unit tersebut dapat langsung menggunakan pendapatan tol untuk membangun jalan bebas hambatan lainnya. Mengusulkan penyempurnaan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional 19. No.3 Tahun 2007 sehingga lebih operasional terutama terkait dengan pengaturan dan konsinyasi.

Sebaran target program strategis tiap sektor di Kementerian PU dapat dilihat pada Gambar 2.1 s.d. Gambar 2.5 di bawah ini:

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 16

Gambar 2.1 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana SDA Sebagai Bagian Program 5 Tahun

Gambar 2.2 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana Jalan Sebagai Bagian Program 5 Tahun (1)

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 17

Gambar 2.3 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana Jalan Sebagai Bagian Program 5 Tahun (2)

Gambar 2.4 Target Program Strategis Sub Bidang Prasarana Jalan Sebagai Bagian Program 5 Tahun (3)

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 18

Gambar 2.5 Target Program Strategis Sub Bidang Infrastruktur Permukiman Sebagai Bagian Program 5 Tahun

2.2.1 INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) KEMENTERIAN PU Sementara Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Pekerjaan Umum yang sekaligus juga mencerminkan indikator impact dari seluruh sasaran strategis Kementerian PU yang merupakan gabungan, perampatan dan sinergitas dari seluruh indikator kinerja utama (outcome) unit-unit Eselon I adalah sebagai berikut: 1. Jumlah K/L, Provinsi, Kabupaten, Kota yang RPJM dan program tahunannya sesuai dengan RTRWN dan RTRW. 2. a. Kapasitas debit layanan air baku untuk air minum yang dibangun /ditingkatkan. b. Kapasitas tampung sumber air yang dibangun dan dijaga/dipelihara. c. Luas areal yang dilayani jaringan irigasi. 3. a. Luas kawasan yang terlindungi dari dampak banjir. b. Panjang garis pantai yang terlindungi dari abrasi pantai. 4. Prosentase panjang jalan nasional dengan kondisi mantap. 5. Jumlah kawasan permukiman yang tertangani infrastruktur permukiman, terlayani penataan bangunan gedung dan lingkungannya, mendapat akses prasarana dan sarana air limbah, tertangani pelayanan drainasenya, tertangani sistem persampahannya, dan mendapat pelayanan air minumnya. 6. Indeks pembinaan jasa konstruksi nasional dan daerah.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 19

Secara rinci yang menggambarkan hasil-hasil utama dari unit-unit kerja Eselon I di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum adalah: a. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air : 1). Kapasitas tampung sumber air yang dibangun dan dijaga/dipelihara. 2). Luas cakupan layanan jaringan irigasi yang dibangun/ditingkatkan dan dijaga/dipelihara. 3). Luas cakupan layanan jaringan irigasi air tanah yang dibangun/ ditingkatkan dan dijaga/dipelihara. 4). Luas cakupan layanan jaringan reklamasi rawa yang dibangun/ ditingkatkan dan dijaga/dipelihara. 5). Kapasitas debit layanan air baku untuk air minum yang dibangun/ ditingkatkan. 6). Luas target kawasan yang terlindungi dari bahaya banjir. 7). Panjang garis pantai yang terlindungi dari abrasi pantai. b. Direktorat Jenderal Bina Marga : 1). Prosentase jalan nasional dengan kondisi mantap. 2). Tingkat penggunaan jalan pada ruas jalan nasional yang meningkat. 3). Prosentase fasilitasi pembinaan pelaksanaan teknis dan NSPK penyelenggaraan jalan daerah yang meningkat. c. Direktorat Jenderal Cipta Karya : 1). Jumlah kabupaten/kota yang menerbitkan produk pengaturan dan mereplikasi bantek permukiman, bangunan gedung dan lingkungan, pengelolaan air limbah dan drainase, pengelolaan persampahan dan air minum. 2). Jumlah kebijakan, program dan anggaran, kerjasama luar negeri, data informasi serta evaluasi kinerja infrastruktur bidang permukiman. 3). Jumlah kawasan yang tertangani infrastruktur permukimannya, terlayani penataan bangunan gedung dan lingkungannya, mendapat akses prasarana dan sarana air limbah, tertangani pelayanan drainasenya, tertangani sistem persampahannya, serta mendapatkan pelayanan air minumnya. 4). Jumlah penyelenggara air minum yang mampu meningkatkan kinerja pelayanannya. d. Direktorat Jenderal Penataan Ruang : 1). Prosentase K/L, provinsi, kabupaten, dan kota yang RPJM dan program tahunannya sesuai dengan RTRWN dan RTRW. 2). Prosentase kesesuaian pembangunan infrastruktur dengan rencana struktur dan pola ruang wilayah nasional.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 20

e. Sekretariat Jenderal : 1). Prosentase hasil evaluasi kinerja kebijakan perencanaan dan yang dimanfaatkan. 2). Prosentase tingkat dukungan pelayanan sumber daya yang prima. 3). Prosentase dukungan manajemen melalui mutu kompetensi aparatur PU sesuai yang disyaratkan. 4). Prosentase tingkat pelayanan pimpinan dan publik yang akurat. f. Inspektorat Jenderal : 1). Prosentase peningkatan kualitas pembangunan infrastruktur dan penurunan kebocoran keuangan negara. g. Badan Pembinaan Konstruksi : 1). Indeks pembinaan jasa konstruksi nasional dan daerah. h. Badan Penelitian dan Pengembangan : 1). Prosentase rekomendasi IPTEK yang siap diterapkan oleh stakeholders (melalui instansi yang berwenang). 2). Prosentase NSPK dan teknologi yang diberlakukan oleh stakeholders (melalui instansi yang berwenang). 3). Prosentase rekomendasi IPTEK yang diterima oleh stakeholders (melalui instansi berwenang) 4). Prosentase peningkatan kapasitas Litbang. 2.2.2 KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH Hal lainnya adalah perlunya dukungan Pemerintah dalam pengadaan tanah/lahan yang merupakan komponen penting dalam pembangunan infrastruktur. Sejauh ini kebijakan yang diterapkan adalah biaya pengadaan tanah yang dibutuhkan ditanggung oleh Pemerintah atau sekaligus oleh pihak Swasta yang akan diperhitungkan dalam masa konsesi. Kebijakan ke depan yang akan diterapkan terkait dengan lahan ini adalah pentingnya mengimplementasikan land capping dengan dukungan dana APBN. Untuk menjamin hal tersebut, maka diterapkannya payung hukum untuk mengurangi aksi spekulan tanah dan payung hukum yang lebih tinggi tentang penitipan ganti rugi (konsinyasi) ke pengadilan dan pelaksanaan pembangunan pada tanah yang ganti ruginya telah dititipkan tersebut mutlak diperlukan. Percepatan pemulihan infrastruktur jalan arteri dan jalan tol tangat tergantung pada tersedianya lahan yang bisa dibebaskan. Sampai dengan akhir tahun anggaran 2009, masih terdapat beberapa warga pemilik tanah darat/kering
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 21

yang belum sepakat dengan besaran ganti rugi dan menuntut harga yang melampaui penawaran tim appraisal. Strategi yang akan ditempuh dalam penyediaan infrastruktur melalui skema KPS adalah sebagai (a) membentuk jejaring dan meningkatkan kapasitas untuk mendorong perencanaan dan persiapan proyek KPS, melakukan promosi KPS, peningkatan kapasitas dalam pengembangan, dan memantau pelaksanaan KPS; (b) membentuk fasilitas-fasilitas yang mendorong pelaksanaan proyek KPS, seperti: fasilitasi dalam penyediaan tanah dan pendanaan seperti Infrastructure funds dan guarantee funds; (c) mendorong terbentuknya regulator ekonomi sektoral yang adil dalam mewakili kepentingan pemerintah, badan usaha, dan konsumen; (d) memfasilitasi penyelesaian sengketa pelaksanaan proyek KPS secara efisien dan mengikat (e) mempersiapkan proyek KPS yang akan ditawarkan secara matang melalui proses perencanaan yang transparan dan akuntabel; (f) memberi jaminan adanya sistem seleksi dan kompetisi yang adil, transparan, dan akuntabel; (g) meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana daerah melalui peningkatan pengeluaran pemerintah daerah yang didukung oleh kerangka insentif yang lebih baik. Fasilitasi BLU yang tersalurkan untuk pengadaan tanah jalan tol dalam penyelenggaraan jalan tol. 2.3. KONTRIBUSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM Pembangunan infrastruktur bidang Pekerjaan Umum dan Permukiman pada dasarnya sangat penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah, ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan dasar lingkungan permukiman. Tema Prioritas Pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat. Substansi Inti Tanah dan tata ruang: Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan tata ruang secara terpadu Jalan: Penyelesaian pembangunan Lintas Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua sepanjang total 19.370 km pada 2014
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 22

Perhubungan: Pembangunan jaringan prasarana dan penyediaan sarana transportasi antar-moda dan antar-pulau yang terintegrasi sesuai dengan Sistem Transportasi Nasional dan Cetak Biru Transportasi Multimoda dan penurunan tingkat kecelakaan transportasi sehingga pada 2014 lebih kecil dari 50% keadaan saat ini Perumahan rakyat: Pembangunan 685.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi, 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012 Pengendalian banjir: Penyelesaian pembangunan prasarana pengendalian banjir, diantaranya Banjir Kanal Timur Jakarta sebelum 2012 dan penanganan secara terpadu Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo sebelum 2013 Telekomunikasi: Penuntasan pembangunan jaringan serat optik di Indonesia bagian timur sebelum 2013 dan maksimalisasi tersedianya akses komunikasi data dan suara bagi seluruh rakyat Transportasi perkotaan: Perbaikan sistem dan jaringan transportasi di 4 kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan) sesuai dengan Cetak Biru Transportasi Perkotaan, termasuk penyelesaian pembangunan angkutan kereta listrik (MRT dan Monorail) Jakarta selambat-lambatnya 2014
Gambar 2.6. Peran Pembangunan Infrastruktur Bidang PU
Penyimpanan dan pendistribusian air untuk keperluan domestik (rumah tangga), industri, pertanian guna mendukung KETAHANAN PANGAN, dan pelaksanaan konservasi, serta pendayagunaan dan perlindungan terhadap daya rusak air. Mendukung KELANCARAN ARUS ORANG DAN BARANG (dalam rangka DOMESTIC CONNECTIVITY) dan mengurangi Kesenjangan Wilayah maupun pembentuk struktur ruang wilayah.

BERBASISKAN PENATAAN RUANG

INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR INFRASTRUKTUR JALAN DAN JEMBATAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA

Mendukung PELAYANAN DASAR PERMUKIMAN seperti air minum, sanitasi perumahan dan persampahan baik di perkotaan dan perdesaan.

2.3.1 CAPAIAN DAN TARGET PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR (untuk mendukung ketahanan pangan). Kondisi infrastruktur pekerjaan umum dan permukiman saat ini menunjukkan tingkat yang beragam. Infrastruktur Sumber Daya Air (SDA) belum optimal dalam mendukung pencapaian kinerja pembangunan bidang pekerjaan umum
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 23

secara keseluruhan, seperti kinerja layanan jaringan irigasi yang ada dalam mendukung pemenuhan produksi pangan. Seluas 7,2 juta ha jaringan sawah beririgasi yang sudah terbangun seluruhnya berfungsi. Namun demikian, masih ada kerusakan jaringan irigasi, tercatat mencapai lebih kurang 18%, yang banyak terjadi di daerah irigasi yang potensial menyumbang pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Menurunnya fungsi jaringan irigasi (termasuk rawa) disebabkan oleh tingginya tingkat kerusakan karena umur konstruksi, bencana alam dan kurang optimalnya kegiatan operasi dan pemeliharaan di samping rendahnya keterlibatan petani dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan jaringan irigasi. Selain itu, kondisi debit sungai yang airnya digunakan untuk kebutuhan irigasi sangat fluktuatif antara musim hujan dan musim kemarau. a. PERMASALAHAN BIDANG IRIGASI o Terbatasnya potensi perluasan tanah irigasi di pulau Jawa yang sangat subur, di lain pihak ancaman ancaman alih fungsi sangat tinggi. o Masih rendahnya efisiensi pemanfaatan air irigasi. o Tingginya kehilangan air irigasi akibat penyimpangan operasi dan pemanfaatan air. o Beralihnya lahan beririgasi ke lahan komoditas lain non-padi atau ke sektor lain. o Terjadinya degradasi sarana dan prasarana irigasi. o Terjadinya penurunan debit sungai. o Pembangunan bendung, saluran primer dan saluran sekunder belum diikuti dengan pembangunan jaringan irigasi tersier dan pencetakan sawah. o Bencana alam, baik banjir maupun kekeringan. o Kurangnya alokasi sumber daya (prasarana, SDM, pembiayaan) untuk pengelolaan irigasi. b. KEBIJAKAN BIDANG IRIGASI o Perbaikan pengelolaan irigasi di pulau Jawa dalam rangka mengoptimalkan daerah-daerah itigasi yang telah dibangun. o Meningkatkan fungsi jaringan irigasi yang sudah dibangun tapi belum berfungsi, merehabilitasi jaringan yang mengalami kerusakan dan meningkatkan kinerja opreasi dan pemeliharaan. o Penyusunan mekanisme pemberian insentif bagi para petani yang bersedia bercocok tanam padi. o Perlu ada jaminan dari pemerintah provinsi atau kabupaten/kota bahwa areal yang akan dikembangkan adalah lahan untuk tanaman pangan perutama padi, yang dituangkan dalam perda rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 24

o Melakukan modernisasi (rekonstruksi dan perbaikan pengelolaan) irigasi dalam rangka mengoptimalkan daerah-daerah irigasi yang telah dibangun. o Membangun irigasi baru secara selektif di luar pulau Jawa pada daerah potensoal. o Mensosialisasikan pengembangan teknologi usaha tani hemat air, melaui System of Rice Intensification (SRI). o Perlunya upaya konservasi di bagian hulu Daerah Aliran Sungai dengan memperkuat Gerakan Nasional Kemitraan Penyelematan Air (GNKPA). o Membangun dan mempertahankan keberadaan waduk/embung/situ untuk menjamin ketersediaan air untuk irigasi.
Tabel 2.3. PENCAPAIAN 2005-2009 DAN TARGET PEMBANGUNAN IRIGASI 2010-2014

KEGIATAN

2005 - 2009

2010 - 2014 500.000 Ha 1.340.000 Ha 2.315.000 Ha 19* Buah

Pembangunan/ 504.294 Ha Peningkatan. Rehabilitasi 1.455.839 Ha Operasi dan Pemeliharaan Waduk 2.051.370 Ha 11 Buah

* terdiri atas 6 waduk selesai sebelum 2014 dan 13 pembangunan baru


akan selesai tahun 2014. 7 dari 19 waduk tersebut merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo.

Tabel 2.4. REKAPITULASI PEMBANGUNAN WADUK / BENDUNGAN 2010-2014 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Waduk Rajui Karian Sindanghuela Jatigede Diponegoro Jatibarang Pidekso Gonggang Kresek Provinsi NAD Banten Banten Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Tengah *) Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur Jawa Timur
*) *) *) *)

Tampungan 2010 2011 2012 2013 2014 3 (juta m ) 2,6 219 8 980 1,2 20,4 83,1 2,2 12 1,7 25,9 7,4 halaman

Ket selesai

selesai selesai selesai

10. Kedung Bendo 11. Gondang 12. Bajulmati

Jawa Tengah

selesai

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

2 - 25

13. B e n d o 14. Kendang 15. Marangkayu 16. T r i t i b 17. T i t a b 18. Pandanduri 19. Raknamo Total
*)

Jawa Timur Jawa Timur Kaltim Kaltim Bali NTB NTT

*) *)

33,5 6,2 9,3 2,5 12,79 27,2 14,09 1.469,08 selesai

DAS Bengawan Solo

2.3.2 CAPAIAN DAN TARGET PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR JALAN DAN JEMBATAN. Untuk infrastruktur jalan, dari panjang jalan nasional yang sampai saat ini telah mencapai 34.628 km, tercatat kondisi jalan mantap mencapai 83,23% (2008), rusak ringan 13,34%, dan rusak berat 3,43%. Sedangkan kinerja kondisi jalan nasional mantap pada tahun 2009 adalah sebesar 89%, rusak ringan 11%, dan rusak berat 0%. Untuk jalan provinsi, total panjang jalan adalah 48.681 km, sedangkan total panjang jalan kabupaten adalah 288.185 km. Sampai akhir tahun 2009, jalan tol yang telah beroperasi baru mencapai 697,12 km. Panjang jalan tol tidak mengalami pertumbuhan signifikan sejak dioperasikannya jalan tol pertama tahun 1978 (Jalan Tol Jagorawi sepanjang 59 km). Sejak tahun 1987, swasta mulai ikut dalam investasi jalan tol dan telah membangun jalan tol sepanjang 203,30 km. Sejumlah kendala investasi jalan tol memang masih terus menghambat yaitu masalah pembebasan tanah, sumber pembiayaan, serta belum intensnya dukungan Pemerintah Daerah dalam pengembangan jaringan jalan tol. Pembangunan infrastruktur jalan tol tidaklah begitu mudah. Penyebab utamanya adalah masalah pembebasan lahan. Pertumbuhan jalan tol di Indonesia relatif rendah, yakni hanya 20 km/tahun. Saat ini dari rencana jaringan tol nasional sepanjang 3.087,88 km, baru 693 km (22%) yang sudah beroperasi, sepanjang 1.432 km (46%) akan ditender dalam 5 tahun ke depan, dan sisanya sebagian besar masih dalam tahap pembebasan lahan. Saat ini PT Jasa Marga (Persero) Tbk atau JSMR menguasai 530 km atau 77% dari panjang tol yang sudah beroperasi di Indonesia. Kenaikan tarif tol sesuai tingkat inflasi tiap dua tahun sekali merupakan hasil kontrak dengan pemerintah. Kenaikan tersebut dalam rangka pengembalian investasi yang sangat besar, biaya pemeliharaan, dan juga untuk membangun jalan tol baru. Pemerintah sendiri tidak mempunyai
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 26

dana yang cukup untuk membangun dan memelihara jalan tol, oleh karena itu pemerintah memerlukan investor. Untuk menarik investor maka diberikanlah hak konsensi dengan penyesuaian tarif secara berkala. Pada tahun 2010 JSMR menganggarkan investasi jalan tol baru sebesar Rp 3 triliun atau naik 50% dibandingkan tahun 2009. Diharapkan dalam 3-4 tahun ke depan dapat diselesaikan pembangunan jalan tol baru sepanjang 190 km, sehingga jalan tol yang dikuasai JSMR kelak menjadi 720 km. a. PERMASALAHAN UMUM 1) Terbatasnya kemampuan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dalam penyediaan equitas. 2) Biaya pengadaan tanah menjadi beban BUJT dan waktu pengadaan tanah dan waktu pengadaan tanah tidak pasti. 3) Berbagai masalah dalam pengadaan tanah, antara lain faktor P2T, sengketa tanah, aturan-aturan yang multitafsir, UUPA 5/1960 dimana proses pengadaan tanah melalui musyawarah. 4) Waktu konsesi berkurang (terbuang percuma) akibat dari lamanya proses pengadaan tanah (ketidakpastian waktu) sehingga menurunkan tingkat kelayakan finansial. b. HASIL EVALUASI 1) Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) diteruskan Restrukturisasi pemegang saham (pemegang sahanm tidak mampu) sesuai Peraturan Menteri PU Nomor 6 tahun 2010. Kepastian tersedianya dana pengadaan tanah sebesar Rp 20,4 T (Rp 13,3 T merupakan kewajiban BUJT dan Rp 8,1 T merupakan kewajiban Pemerintah) dan dana dukungan untuk konstruksi sebesar Rp 2,7 T. Diperlukan : Dana bergulir BLU sebesar Rp 6 T (2010 s.d 2012) APBN sebesar Rp 8,6 T (2010 s.d 2013) Kepastian proses pengadaan tanah, dengan percepatan penyelesaian UU Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, serta PP terkait. Dukungan dari instansi terkait, yaitu : Kementerian Keuangan (kepastian pencairan anggaran BLU melalui APBN-P 2010 sebesar Rp 2,3 T, kepastian alokasi tahun 2011 sebesar Rp 3,7 T, kepastian alokasi land capping). Badan Pertanahan Nasional (peningkatan koordinasi di lapangan).
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 27

Kementerian Kehutanan (ijin Dispensasi penggunaan lahan dan lahan pengganti). Kementerian Negara BUMN (rekomendasi penggunaan tanah perkebunan). Kementerian Dalam Negeri (penyelesaian tanah kas desa, koordinasi dengan P2T). Dukungan dari lembaga keuangan/perbankan untuk pemenuhan pembiayaan/pinjaman. Dukungan Pemerintah untuk ruas tol Solo-Kertosono : Tanah sebesar Rp 1.388,7 M (2010 s.d 2012). Konstruksi sebesar Rp 2.678,7 M (2012 dan 2013). Agar pembangunan jalan tol dapat terwujud pada tahun 2014 maka berbagai dukungan sebagaimana dimaksud di atas harus dipenuhi.

2) PPJT diakhiri Penyelesaian masalah hukum (ada potensi terjadi masalah hukum). Opsi penerusan selanjutnya : Dibangun Pemerintah (APBN), tersedianya APBN yang cukup. Built Operate Transfer (BOT), tersedianya dana APBN untuk pengadaan tanah. 2.3.3 CAPAIAN DAN TARGET PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA. Infrastruktur bidang Cipta Karya yang mencakup sub bidang air minum, sanitasi, pengembangan permukiman, dan penataanbangunan dan lingkungan menunjukkan pula kondisi yang beragam. 2.4. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KPS (KERJASAMA PEMERINTAH-SWASTA) Penyediaan infrastruktur dengan skema KPS diarahkan untuk infrastruktur yang dapat memenuhi pemulihan biaya melalui struktur tarif yang mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi dan kemampuan daya beli masyarakat, sehingga memungkinkan adanya subsidi silang bagi tingkat konsumen tertentu, yang tidak memiliki kemampuan membayar layanan. Di samping itu, pemerintah juga dapat memberikan subsidi yang merupakan kewajiban pemerintah (PSO) kepada penyedia jasa infrastruktur untuk mencapai standar pelayanan minimum tertentu yang akan dicapai. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesinambungan pelayanan infrastruktur dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. KPS yang diselenggarakan melalui kompetisi yang adil, terbuka dan transparan akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelayanan infrastruktur yang berkesinambungan dan akan menurunkan tarif pelayanan infrastruktur. Seiring dengan semakin terjangkaunya layanan infrastruktur oleh konsumen, peningkatan kuantitas dan
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 28

perluasan pelayanan akan semakin mudah dicapai oleh penyedia jasa. Tersedianya infrastruktur yang murah, handal, dan berkelanjutan akan menurunkan biaya produksi dan distribusi barang, jasa, dan informasi untuk meningkatkan daya saing produk nasional. Infrastruktur yang telah dibangun memerlukan pendanaan untuk pemeliharaan agar dapat mempertahankan tingkat pelayanannya. Selama ini pendanaan pemerintah dalam investasi sarana dan prasarana transportasi masih sangat dominan, padahal kemampuan pemerintah sangat terbatas. Sementara itu, peran swasta dan masyarakat masih belum optimal. Peningkatan KPS masih terkendala kerangka hukum dan peraturan untuk meningkatkan investasi swasta masih belum memadai. Kebijakan tarif yang memperhatikan kelayakan investasi, serta sistem konsesi, pembagian risiko antara pemerintah dan investor serta pola kompetisi masih belum menarik investasi swasta. Terbatas pendanaan untuk mendukung keseluruhan aspek penyediaan air minum. Pendanaan air minum masih bertumpu pada anggaran pemerintah. Rendahnya kinerja keuangan PDAM juga menyebabkan PDAM sulit mendapatkan sumber pendanaan alternatif. Sementara itu, sumber pendanaan dari pihak swasta, baik dalam bentuk KPS ataupun Corporate Social Responsibility (CSR) masih belum dimanfaatkan secara signifikan. Penyediaan infrastruktur yang efektif, efisien, dan berkelanjutan merupakan salah satu faktor pendorong pertumbuhan dan pemerataan perekonomian jika dilaksanakan melalui kompetisi secara terbuka, adil, dan akuntabel. Untuk itu, pemerintah akan mengurangi perannya sebagai penyedia keseluruhan layanan infrastruktur menjadi fasilitator atau enabler sarana dan prasarana yang sudah dapat dilakukan melalui peran serta masyarakat (termasuk badan usaha swasta). Perubahan peran tersebut diwujudkan melalui perubahan peraturan perundang-undangan, baik sektor maupun lintas sektor dengan membuka peluang penyediaan infrastruktur melalui skema KPS. 2.4.1 ARAH KEBIJAKAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN SKEMA KPS Sehubungan dengan hal itu, arah kebijakan dalam penyediaan infrastruktur melalui skema KPS adalah: (a) melanjutkan reformasi strategis kelembagaan dan peraturan perundang-undangan pada sektor dan lintas sektor yang mendorong pelaksanaan KPS, (b) mempersiapkan proyek KPS secara matang sehingga dapat menekan biaya transaksi yang tidak perlu, dan (c) menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mendukung investasi dalam pembangunan dan pengoperasian proyek KPS, termasuk menyediakan dana pendukung di dalam APBN.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 29

Untuk mendukung tercapainya sasaran pembangunan sarana dan prasarana tahun 20102014, diperkirakan total investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 1.429,3 Trilyun, yang didalamnya kemampuan pemerintah pusat dalam penyediaan pendanaannya hanya sekitar 35,75% dari total kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan, dilakukan pengembangan KPS, privatisasi, CSR, serta partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat. Hal ini harus sejalan dengan visi, misi, dan program aksi presiden terpilih untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan melalui dual track strategy, yaitu membangun sarana dan prasarana yang dapat memperlancar arus lalu-lintas barang dan informasi, serta mendorong program industrialisasi berupa pengembangan pusat kegiatan (kawasan) yang dapat menarik industri lanjutan untuk berinvestasi di Indonesia. Arah kebijakan secara rinci dalam pengembangan KPS pada setiap sub bidang infrastruktur adalah sebagai berikut : a. SUMBER DAYA AIR Kebijakan dalam mendukung KPS diarahkan untuk mendorong peran swasta dan masyarakat dalam penyediaan infrastruktur sumber daya air, terutama saluran pembawa air baku. Kebijakan tersebut perlu didukung dengan upaya untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif, di antaranya melalui penetapan hak guna air, peningkatan jaminan atas resiko oleh pemerintah, dan peningkatan willingness to pay bagi penerima manfaat. Strategi pelaksanaan kebijakan tersebut adalah sebagai berikut: (a) menyusun peraturan perundangan yang menjamin swasta untuk dapat berpartisipasi dalam penyediaan sarana dan prasarana sumber daya air; (b) meningkatkan koordinasi antarkementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat; (c) mendorong restrukturisasi dan reformasi kelembagaan penyelenggara pelayanan air baku; (d) mengembangkan inovasi sumber pendanaan termasuk penyediaan dukungan pemerintah; (e) mengembangkan kegiatan yang terpadu antara sumber penyediaan air baku dengan sistem penyediaan air minum pada kawasan komersial (termasuk water conveyance). b. TRANSPORTASI Untuk mendukung kelancaran distribusi barang, jasa, dan informasi baik dalam transportasi perkotaan, antarkota maupun antarpulau, arah kebijakan pembangunan transportasi melalui skema KPS dilakukan dengan: (a) mendorong peran swasta pada sektor transportasi melalui reformasi kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang memungkinkan penyediaan infrastruktur dilakukan secara efektif dan efisien melalui kompetisi yang adil, transparan dan terbuka, (b) mendorong kerjasama dan
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 30

peningkatan kapasitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam merencanakan, mempersiapkan serta melakukan transaksi proyek KPS, (c) melakukan bundling dan unbundling proyek KPS sektor transportasi dan menyediakan fasilitas pendukung kelayakan proyek untuk lebih menarik untuk swasta dalam KPS. Strategi untuk pelaksanaan arah kebijakan tersebut adalah: (a) melibatkan berbagai sumber pendanaan dalam pembiayaan pembangunan sarana dan prasarana transportasi termasuk dana infrastruktur, perbankan, pasar modal, dana pensiun, asuransi, dan obligasi, baik domestik maupun internasional; (b) deregulasi sektor transportasi untuk meningkatkan keterlibatan swasta dan masyarakat, antara lain, melalui penerapan tarif yang bersifat pemulihan biaya dan kepastian penerapan tarif berkala, dengan mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi dan kemampuan daya beli masyarakat, dan penerapan manajemen resiko yang tepat; (c) menciptakan peraturan perundang-undangan yang lebih operasional yang merupakan turunan dari UU bidang transportasi; (d) mendorong restrukturisasi dan reformasi kelembagaan meliputi pemberdayaan Simpul KPS (PPP Nodes) dan peningkatan kapasitas fungsi regulator ekonomi dan penanggung jawab proyek serta reposisi BUMN sektor transportasi sebagai operator sepenuhnya (bukan sebagai regulator); (e) mengembangkan bundling pembangunan sarana dan prasarana transportasi dengan pengembangan pusat kegiatan, kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, kawasan perdagangan bebas, atau sektor infrastruktur lainnya (seperti jaringan migas, listrik, telekomunikasi, air bersih); (f) mengembangkan unbundling pembangunan infrastruktur transportasi melalui penyediaan dukungan pemerintah, baik langsung maupun tidak langsung, yang bersumber dari APBN/APBD murni dan/atau pinjaman/hibah luar negeri untuk penyediaan prasarana nonkomersial termasuk lahan, sedangkan dana pihak swasta digunakan untuk membiayai sarana dan prasarana komersial; (g) mengembangkan skema subsidi/PSO khususnya untuk tarif pelayanan sarana transportasi kelas ekonomi agar terjangkau masyarakat; (h) meningkatkan kerjasama daerah dalam pembangunan sarana dan prasarana transportasi, baik yang bersifat lokal, regional, maupun nasional; serta (i) meningkatkan kerjasama regional dan bilateral serta multilateral khususnya dalam penyediaan fasilitas pendanaan jangka panjang termasuk hibah dan pinjaman lunak yang disertai transfer pengetahuan dan teknologi yang tepat.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 31

c. PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN 1) Air Minum Arah kebijakan dalam penyediaan air minum dengan skema KPS adalah mengembangkan inovasi pendanaan yang disesuaikan dengan modalitas proyek. Strategi yang ditempuh untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra penyediaan air minum adalah: (a) memperbaharui perangkat peraturan yang mendukung pelaksanaan KPS dalam penyediaan air minum; (b) mengembangkan inovasi sumber pendanaan dalam pembiayaan air minum; (c) memperkuat koordinasi kerjasama antarpemerintah daerah dalam konteks pelayanan regional; serta (d) mengembangkan bundling untuk sistem penyediaan air minum, seperti instalasi pengolahan air (IPA), transmisi, dan distribusi khususnya dalam skala kawasan komersial, dan unbundling untuk penyediaan air minum yang paling komersial, seperti water meter. 2) Persampahan Arah kebijakan dalam persampahan yang dikembangkan dengan skema KPS adalah meningkatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan. Strategi yang ditempuh untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra persampahan adalah: (a) upaya pengurangan timbulan sampah mulai dari sumbernya melalui penerapan prinsip 3 R ( reuse, reduce and recycle), dan mendorong swasta untuk menggunakan kemasan pembungkus yang ramah lingkungan; (b) pengelolaan persampahan secara profesional, melalui pemasaran bisnis persampahan pada masyarakat dan swasta; (c) perkuatan lembaga pengelolaan sampah untuk peningkatan pelayanan persampahan dalam satu wilayah; (d) pemeberian jaminan kepastian hukum kerjasama pengelolaan sampah antarpemda dalam pengelolaan akhir sampah bersama dan antara pemda dengan swasta; (e) memperkuat koordinasi kerjasama antarpemda dalam konteks pelayanan regional; (f) mengembangkan sistem tarif (tipping fee) yang mempertimbangkan pemulihan biaya dan kemampuan APBD dan masyarakat di daerah; serta (g) mengembangkan bundling untuk sistem pengelolaan sampah, seperti pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan akhir sampah, khususnya dalam skala kawasan komersial, serta pentahapan (unbundling) untuk sistem pengelolaan persampahan yang paling komersial, sehingga menarik bagi masyarakat dan swasta. ___________________________________________________________________
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

2 - 32

Pengadaan tanah (untuk kepentingan umum) diawali dengan tahapan Perencanaan Pengadaan Tanah. Instansi yang memerlukan tanah membuat perencanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum menurut ketentuan peraturan perundangundangan. Perencanaan pengadaan tanah dalam bentuk Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah, yang memuat antara lain : a. b. c. d. e. f. g. h. Maksud dan tujuan rencana pembangunan; Kesesuaian dengan RTRW atau rencana pembangunan nasional dan daerah; Letak tanah; Luas tanah yang dibutuhkan; Perkiraan jangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah; Perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan; Perkiraan nilai tanah; dan Rencana penganggaran.

Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah didasarkan atas Studi Kelayakan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Secara substansial, muatan dalam Dokumen dimaksud telah tersurat mulai dari RPJMN, Renstra, RKP sampai DIPA di setiap K/L. RPJMN II 20102014, kegiatan pembangunan akan diarahkan untuk beberapa tujuan, yaitu: (a) memantapkan penataan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia, (b) meningkatkan kualitas sumber daya manusia, (c) membangun kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (d) memperkuat daya saing perekonomian. Upaya pencapaian tujuan-tujuan tersebut akan diimplementasikan melalui pencapaian sasaran pembangunan di tiap tahun dengan fokus yang berbeda, sesuai dengan tantangan dan kondisi yang ada. Fokus kegiatan tersebut diterjemahkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) di tiap-tiap tahun.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3-1

Melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 603/PRT/M/2005 tentang


PEDOMAN UMUM SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN PENYELENGGARAAN PEMBANGUNAN PRASARANA DAN SARANA BIDANG PEKERJAAN UMUM, telah diputuskan Sistem

Pengendalian Manajemen, disingkat dengan Sisdalmen, adalah Pedoman Umum Sistem Pengendalian Manajemen Penyelenggaraan Pembangunan Prasarana dan Sarana Bidang Pekerjaan Umum. Ruang lingkup Sisdalmen ini meliputi pengendalian atas kegiatan perencanaan konstruksi, pengadaan lahan, pelaksanaan konstruksi, dan persiapan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana bidang pekerjaan umum. Pelaksanaan pengendalian kegiatan dilakukan dengan menggunakan daftar simak Sisdalmen sebagai dokumen catatan pengendalian penyelenggaraan kegiatan dimaksud. Sisdalmen ini menguraikan secara rinci, lengkap, dan jelas tentang tata cara pelaksanaan kegiatan Penyelenggaraan Kontrak Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan), yang disusun sesuai kaidah penyelenggaraan pembangunan prasarana dan sarana dalam lingkungan Departemen Pekerjaan Umum, dengan urutan tahapan kegiatan SIDLACOM. Sisdalmen yang merupakan sarana baik pengawasan melekat maupun pengendalian penyelenggaraan pembangunan oleh setiap kepala satuan kerja (pejabat yang ditugasi), minimal harus digunakan pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan secara sistematis dan berkesinambungan. Sisdalmen disusun menurut : 1). Tahap Survei, Investigasi, dan Desain (SID) 2). Tahap Pengadaan Lahan (Land Acquisition/LA) 3). Tahap Pelaksanaan Konstruksi (Construction/C) 4). Tahap Operasi dan Pemeliharaan/O&P (Operation & Maintenance /O&M). Mengacu pada batasan konsep pengembangan kebijakan pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur PU, maka uraian berikut akan mengarah ke dasar-dasar pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur PU. 3.1. MAKSUD DAN TUJUAN RENCANA PEMBANGUNAN Pembangunan infrastruktur PU mempunyai 2 (dua) terminologi, yaitu :
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3-2

3.1.1

PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM a. Mengacu pada Perpres 65/2006 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN
PRESIDEN NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM, disebutkan

bahwa pembangunan untuk kepentingan umum yang dilaksanakan Pemerintah atau Pemerintah, yang selanjutnya dimiliki atau akan dimiliki oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah, meliputi : 1). jalan umum dan jalan tol, rel kereta api (di atas tanah, di ruang atas tanah, ataupun di ruang bawah tanah), saluran air minum/air bersih, saluran pembuangan air dan sanitasi; 2). waduk, bendungan, bendungan irigasi dan bangunan pengairan lainnya; 3). pelabuhan, bandar udara, stasiun kereta api, dan terminal; 4). fasilitas keselamatan umum, seperti tanggul penanggulangan bahaya banjir, lahar, dan lain-lain bencana; 5). tempat pembuangan sampah; 6). cagar alam dan cagar budaya; 7). pembangkit, transmisi, distribusi tenaga listrik. b. Mengacu pada draft RUU PENGADAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN, disebutkan bahwa jenis pembangunan untuk kepentingan umum yang akan diatur dalam UU meliputi pembangunan untuk : 1). jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, stasiun kereta api, dan fasilitas operasi kereta api; 2). waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air minum, saluran pembuang air dan sanitasi, dan bangunan pengairan lainnya; 3). pelabuhan, bandar udara dan terminal; 4). infrastruktur minyak, gas dan panas bumi, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi serta meluputi transmisi dan/atau distribusi minyak, gas dan panas bumi; 5). pembangkit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi tenaga listrik; 6). jaringan telekomunikasi dan informatika; 7). tempat pembuangan dan pengelolaan sampah; 8). rumah sakit pemerintah/pemerintah daeah; 9). tempat pemakaman umum pemerintah/pemerintah daerah; 10). fasilitas keselamatan umum; 11). cagar alam dan cagar budaya; 12). pertahanan dan keamanan nasional; 13). kantor pemerintah/pemerintah daerah/desa; dan 14). penataan pemukiman kumuh perkotaan dan/atau konsolidasi tanah; 15). sekolah pemerintah;
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3-3

16). pendidikan dan olah raga dan kepentingan umum lainnya. Sebagian pembangunan kepentingan umum.
3.1.2

infrastruktur

PU

masuk

pembangunan

untuk

PEMBANGUNAN SEBAGAI KEGIATAN/PEKERJAAN KONSTRUKSI a. Mengacu pada PP 21/2004 tentang PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN
ANGGARAN KEMENTRIAN NEGARA/LEMBAGA, Pembangunan dimaksud adalah

kegiatan, berdasarkan urutan fungsi/sub fungsi/program/ kegiatan :

Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Program adalah penjabaran kebijakan Kementerian Negara/Lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi Kementerian Negara/Lembaga. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.

Sebagai contoh dalam 2 tabel berikut :


Tabel 3.1. KLASIFIKASI FUNGSI DAN SUB FUNGSI KODE 04 04 01 04 02 04 03 04 04 04 05 04 06 04 07 04 08 Ekonomi Perdagangan, Pengembangan Usaha, Koperasi, dan UKM Tenaga Kerja Pertanian, Kehutanan, Perikanan dan Kelautan Pengairan Bahan Bakar dan Energi Pertambangan Industri dan Konstruksi Transportasi halaman FUNGSI DAN SUB FUNGSI

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

3-4

04 09 04 10 04 90

Administrasi dari operasi, penggunaan, konstruksi, pemeliharaan dari transportasi jalan raya, transportasi air, transportasi kereta api, transportasi udara, dan bentuk transportasi lainnya; Pengawasan dan pengaturan yang berhubungan dengan dari transportasi jalan raya, transportasi air, transportasi kereta api, transportasi udara, dan bentuk transportasi lainnya; Konstruksi atau operasi dari fasilitas lainnya pendukung transportasi jalan raya, transportasi air, transportasi kereta api, transportasi udara, dan bentuk transportasi lainnya; Penyiapan dan penyebaran informasi, dokumentasi, dan statistik yang berhubungan dengan transportasi jalan raya, transportasi air, transportasi kereta api, transportasi udara, dan bentuk transportasi lainnya; Hibah, pinjaman, atau subsidi untuk mengembangkan kebijakan dan program transportasi jalan raya, transportasi air, transportasi kereta api, transportasi udara, dan bentuk transportasi lainnya. Telekomunikasi dan Informatika Litbang Ekonomi Ekonomi lainnya

Tabel 3.2.. RINCIAN MENURUT PROGRAM DAN KEGIATAN KODE/NAMA FUNGSI/SUB FUNGSI/PROGRAM/KEGIATAN 04.08 TRANSPORTASI 01 PROGRAM REHABILITASI/PEMELIHARAAN JALAN DAN JEMBATAN 1 0055 PENINGKATAN FASILITAS PELAYANAN UMUM DAN OPERASIONAL 2 0089 PENGADAAN PERALATAN DAN PERLENGKAPAN GEDUNG 3 4244 BANTUAN PENANGGULANGAN DARURAT JALAN DAN JEMBATAN 4 4326 REHABILITASI JALAN NASIONAL 5 4327 PEMELIHARAAN JALAN NASIONAL 6 4328 REHABILITASI JEMBATAN RUAS JALAN NASIONAL 7 4329 PEMELIHARAAN JEMBATAN RUAS JALAN NASIONAL 02 PROGRAM PENINGKATAN/PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN 1 0021 PEMBINAAN/KOORDINASI/PELAKSANAAN MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN 2 0055 PENINGKATAN FASILITAS PELAYANAN UMUM DAN OPERASIONAL 3 0111 PERAWATAN/PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA 4 4246 PENGADAAN PERALATAN / BAHAN JALAN DAN JEMBATAN 5 4247 PEMBINAAN MANAJEMEN KEBINAMARGAAN 6 4250 PENERAPAN TEKNOLOGI PENINGKATAN/PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN 7 4251 ADVIS TEKNIS PENINGKATAN/PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN 8 4252 PENGATURAN JALAN TOL 9 4253 PENGUSAHAAN JALAN TOL
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3-5

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

4254 4330 4331 4333 4334 4346 4587 4610 4626 4627 4642 4643 4644 4645 4646 4648 4651 4653

28 4655 29 9309
2OO9

PENGAWASAN JALAN TOL PEMBANGUNAN JALAN NASIONAL PEMBANGUNAN JEMBATAN RUAS JALAN NASIONAL PEMBINAAN PELAKSANAAN TEKNIS JALAN DAN JEMBATAN PEMBEBASAN LAHAN PERENCANAAN DAN PENGAWASAN TEKNIS JALAN DAN JEMBATAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PROGRAM JALAN DAN JEMBATAN PEMBANGUNAN FLY OVER PENINGKATAN/PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN LINTAS PENINGKATAN/PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN NON LINTAS PEMBANGUNAN JEMBATAN SURAMADU PEMBANGUNAN JALAN KAWASAN DI PERBATASAN PEMBANGUNAN JALAN LINTAS PANTAI SELATAN JAWA PEMBANGUNAN JALAN DI PULAU-PULAU TERPENCIL DAN PULAU TERLUAR PEMBANGUNAN JALAN AKSES PEMBINAAN PENYELENGGARAN JALAN BEBAS HAMBATAN PEMBINAAN TEKNIK JALAN DAN JEMBATAN PEMBINAAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN WILAYAH TIMUR PEMBANGUNAN JALAN BARU DAN PENINGKATAN JALAN STRATEGIS PEMBANGUNAN JALAN TOL

Sumber : Perpres 72/2008 tentang RINCIAN ANGGARAN BELANJA PEMERINTAH PUSAT TAHUN ANGGARAN

Berdasarkan butir 3.1.1. dan 3.1.2. , maka maksud dan tujuan pembangunan sebagaimana tersirat dalam DIPA K/L ybs. Atau dalam bentuk RENCANA RINCI, sebagaimana Tabel 3.3. berikut :
Tabel 3.3. Rencana Rinci Bidang Infrastruktur untuk Irigasi No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Uraian Nama Program Nama Kegiatan Sasaran Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Irigasi Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Irigasi lainnya. Pembangunan/Rehabilitasi jaringan irigasi Terlaksananya pelayanan air irigasi untuk lahan basah Meningkatnya hasil produksi petani Masyarakat korban bencana yang membutuhkan pelayanan air irigasi. Daerah Irigasi Fanating, Kokar, Aimoli, Mainang dan Daro. Pembangunan Bandung Bangunan Air Saluran Irigsi Sarana dan prasarana irigasi dapat berfungsi lebih baik Fase rehabilitasi dan rekonstruksi Tahun 2005

7. 8.

Indikator Keberhasilan Jadwal Waktu

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3-6

Instansi Pelaksana dan Penanggung jawab 10. Perkiraan Biaya 11. Sumber Pembiayaan

9.

Departemen Pekerjaan Umum, Dinas Pekerjaan Umum provinsi NTT, dan Dinas Pekerjaan Umum kab. Alor. Rp 4,85 miliar APBN, APBD, kontribusi masyarakat dan swasta

Tabel 3.4. Rencana Rinci Bidang Infrastruktur Untuk Rehabilitasi/Pembangunan Jalan Kabupaten No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Uraian Nama Program Nama Kegiatan Sasaran Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Volume Pekerjaan Indikator Keberhasilan Jadwal Waktu Instansi Pelaksana dan Penanggung jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan Transportasi Jalan dan Jembatan Rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan Rehabilitasi ruas jalan perdesaan dan perkotaan akibat bencana alam kabupaten Alor. Jalan desa dan kota kabupaten Alor. Pulihnya fungsi pelayanan transportasi jalan. P. Alor. Rehabilitasi ruas jalan desa dan kota di kab. Alor akibat dampak bencana alam. 9.5 km jalan dengan lebar bervariasi. Meningkatnya pelayanan lalu lintas kendaraan dan barang pada ruas-ruas jalan desa dan kota kab. Alor. Tahun 2006 Departemen Pekerjaan Umum, Ditjen Cipta Karya, Dinas PU provinsi NTT, dan Dinas PU kab. Alor. Rp 7,5 miliar APBN/APBD/Dana Bencana Alam dan atau Hibah Luar Negeri.

11. 12.

Tabel 3.5. Rencana Rinci Bidang Infrastruktur untuk Air baku No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Uraian Nama Program Nama Kegiatan Sasaran Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Air Baku Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku Pengobaran air tanah dan rehabilitasi embung. Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga rawan air minum. Masyarakat korban bencana yang membutuhkan pelayanan air minum. Desa Alor Besar, desa Adang, Petleng dan pada lokasi yang terkena bencana. Rehabilitasi dan pembuatan sumur. Pengadaan pompa air dan rumah pompa. Pengadaan/pemasangan pipa. Rehabilitasi dan pembangunan embung-embung. Perbaikan spillway, tubuh bendung, intake air baku dan jaringan pipa air baku. halaman

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

3-7

7. 8. 9.

Indikator Keberhasilan Jadwal Waktu Instansi Pelaksana dan Penanggung jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

Sarana dan prasarana air baku yang rusak dapat berfungsi kembali Fase Rehabilitasi dan Rekonstruksi 2005 Departemen Pekerjaan Umum, Dinas PU provinsi NTT, dan Dinas PU kab. Alor. Rp 5,65 miliar APBN, APBD, konstribusi masyarakat dan swasta.

10. 11.

b. Mengacu pada UU 18/1999 tentang JASA KONSTRUKSI disebutkan bahwa

pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk lain.

3.1.3

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PEKERJAAN UMUM a. Mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/ M/2008 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN KEGIATAN DEPARTEMEN
PEKERJAAN UMUM YANG MERUPAKAN KEWENANGAN PEMERINTAH DAN DILAKSANAKAN MELALUI DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN,

disebutkan bahwa Bidang Pekerjaan Umum mempunyai beberapa pengertian, antara lain : Bidang Pekerjaan Umum adalah kegiatan yang meliputi subbidang Sumber Daya Air, Bina Marga, Perkotaan dan Perdesaan, Air Minum, Air Limbah, Persampahan, Drainase, Permukiman, Bangunan Gedung dan Lingkungan, serta Jasa Konstruksi. b. Mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/ M/2007 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR 51/PRT/2005 TENTANG RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM TAHUN 20052009 menyebutkan bahwa berdasarkan tugas dan

fungsi Departemen Pekerjaan Umum, infrastruktur dalam lingkup bidang pekerjaan umum tersebut meliputi: infrastruktur jalan, untuk distribusi lalulintas barang dan manusia maupun pembentuk struktur ruang wilayah. Infrastuktur sumber daya air, untuk mendukung penyimpanan dan pendistribusian air maupun prasarana dan sarana untuk pengendalian daya rusak air. Infrastruktur cipta karya, termasuk infrastruktur lingkungan perumahan dan permukiman, sebagai pendukung kualitas kehidupan dan penghidupan masyarakat yang mencakup pelayanan transportasi lokal, pelayanan air minum dan sanitasi lingkungan termasuk
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3-8

penanganan persampahan, penyediaan drainase untuk mengatasi genangan dan pengendalian banjir, serta penanganan air limbah domestik. c. Mengacu pada PP 38/2007 tentang PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI, DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA, disebutkan bahwa urusan pemerintahan terdiri atas 31 (tiga puluh satu) bidang urusan pemerintahan meliputi:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. pendidikan; kesehatan; pekerjaan umum; perumahan; penataan ruang; perencanaan pembangunan; perhubungan; lingkungan hidup; pertanahan; kependudukan dan catatan sipil; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; keluarga berencana dan keluarga sejahtera; sosial; ketenagakerjaan dan ketransmigrasian; koperasi dan usaha kecil dan menengah; penanaman modal; kebudayaan dan pariwisata;

18. kepemudaan dan olah raga; 19. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; 20. otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian; 21. pemberdayaan masyarakat dan desa; 22. statistik; 23. kearsipan; 24. perpustakaan; 25. komunikasi dan informatika; 26. pertanian dan ketahanan pangan; 27. kehutanan; 28. energi dan sumber daya mineral; 29. kelautan dan perikanan; 30. perdagangan; dan 31. perindustrian.

Setiap bidang urusan pemerintahan sebagaimana terdiri dari sub bidang, dan setiap sub bidang terdiri dari sub sub bidang, sebagaimana Tabel 3.3.
Tabel 3.6. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PEKERJAAN UMUM

SUB BIDANG 1. Sumber Daya Air (SDA). 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4.

SUB-SUB BIDANG Pengaturan Pembinaan Pembangunan / Pengelolaan. Pengawasan dan Pengedalian Pengaturan Pembinaan Pembangunan dan Pengusahaan Pengawasan

2. Bina Marga

3. Perkotaan dan Perdesaan


Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

1. Pengaturan 2. Pembinaan halaman

3-9

3. Pembangunan 4. Pengawasan 4. Air Minum 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. Pengaturan Pembinaan Pembangunan Pengawasan Pengaturan Pembinaan Pembangunan Pengawasan Pengaturan Pembinaan Pembangunan Pengawasan Pengaturan Pembinaan Pembangunan Pengawasan

5. Air Limbah

6. Persampahan

7. Drainase

8. Permukiman

1. Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba) yang Berdiri Sendiri. a. Pengaturan b. Pembinaan c. Pembangunan d. Pengawasan 2. Permukiman Kumuh/Nelayan a. Pengaturan b. Pembinaan c. Pembangunan d. Pengawasan 3. Pembangunan Kawasan a. Pengaturan b. Pembinaan c. Pembangunan d. Pengawasan dan 1. Pengaturan 2. Pembinaan 3. Pembangunan 4. Pengawasan

9. Bangunan Gedung Lingkungan.

10. Jasa Konstruksi


Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

1. Pengaturan 2. Pemberdayaan halaman

3 - 10

3. Pengawasan

3.2. KESESUAIAN DENGAN RTRW ATAU RENCANA PEMBANGUNAN NASIONAL DAN DAERAH. Setiap program/kegiatam dalam DIPA K/L telah melalui mekanisme sistem perencanaan, pemrograman dan penganggaran, termasuk kriteria usulan. Mekanisme dimaksud antara lain : 3.2.1 RENCANA TATA RUANG WILAYAH Perencanaan tata ruang dilakukan antara lain untuk menghasilkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR). RUTR sebagaimana dimaksud secara hierarkis terdiri atas: a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; b. rencana tata ruang wilayah provinsi; dan c. rencana tata ruang wilayah kabupaten dan rencana tata ruang wilayah kota. 3.2.2 MUSYAWARAH RENCANA PEMBANGUNAN Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya disingkat Musrenbang adalah forum antar pelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan Nasional dan rencana pembangunan Daerah. Selain kesesuaian ada kondisi yang patut dicermati, yaitu : 3.2.3 SINERGI PUSAT-DAERAH DAN ANTAR DAERAH Mengurangi kesenjangan antarwilayah secara lebih terarah dan sistematik dengan skenario yang disepakati semua pihak. Meningkatkan keterkaitan pembangunan antarwilayah dalam rangka memperkuat perekonomian domestik. Mendorong pembangunan kawasan perbatasan, terdepan, terluar, tertinggal, pasca konflik dan kawasan ekonomi khusus. 3.3. LETAK TANAH Letak tanah secara koordinat atau letak geografis dipengaruhi oleh lokasi dan spesifikasi teknis pembangunan infrastruktur bidang PU. Letak tanah bersifat operasional, namun tak lepas dari acuan landasan kebijakan yang telah menetapkan lokasi program/kegiatan pembangunan infrastruktur PU.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 11

3.3.1. LOKASI PROGRAM/KEGIATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PU. a. Peraturan Menteri PU Nomor: 02/PRT/M/2010 Tentang RENCANA STRA TEGIS KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM TAHUN 2010-2014, pada tanggal 29 Januari 201, khususnya pada LAMPIRAN 3, TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. Atau dalam contoh seperti dalam Tabel 3.7.
Tabel 3.7. TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM (pembangunan waduk)
PROGRAM/ KEGIATAN Program : PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Meningkatnya kinerja pengelolaan sumber daya air. Indikator Outcome : a. Kapasitas tampung sumber air yg dibangun/ ditingkatkan (1,1 mliyar m3) dan dijaga/ dipelihara (12,5 milyar m3). OUTCOME/ OUTPUT INDIKATOR TARGET 2010 2014 angka satuan angka satuan KETERANGAN/LOKASI

5,4

miliar m3

12,4

miliar m3

6 waduk selesai : Jatigede (Jabar); Jatibarang (Jateng); Bajulmati, Bendo, Gonggang (Jatim); Marangkayu (Kaltim). 12 waduk dimulai dan dilanjutkan : Rajui (NAD); Diponegoro (Jateng); Tritib (Kaltim); Titab (Bali); Pandaduri (NTB); Karian, Sindangheula (Banten); Pidekso, Gondang (Jateng); Kresek, Kedung Bendo (Jatim); Raknamo (NTT).

b. Mengacu pada MATRIKS SINKRONISASI PUSAT DAN DAERAH DALAM PENCAPAIAN PRIORITAS NASIONAL, khususnya pada PRIORITAS 6 : INFRASTRUKTUR. Atau dalam contoh Tabel 3.5.
Tabel 3.8. MATRIKS SINKRONISASI PUSAT DAN DAERAH DALAM PENCAPAIAN PRIORITAS NASIONAL PRIORITAS 6 : INFRASTRUKTUR (contoh PEMBANGUNAN JALAN)
SUBSTANSI INTI / KEGIATAN PRIORITAS INSTANSI PELAKSANA Kementerian PU Kementerian Perhubungan Sumatera Terbangunnya Jalan Lintas Sumatera, sepanjang 6.081,50 km. Jawa Bali Terbangunnya Jalan Lintas Jawa Bali, sepanjang 1730,7 km. Kalimantan Terbangunnya Jalan Lintas Kalimantan, sepanjang 3.331,04 km. Sulawesi Terbangunnya Jalan Lintas Sulawesi, sepanjang Nusa Tenggara Maluku Terbangunnya Jalan Lintas Maluku, sepanjang 830 km. Papua Terbangunnya Jalan Lintas Papua, sepanjang 1.835.16 km.

Penyelesaian

JALAN

pembangunan Lintas Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan,Sul awesi NTB, NTT, dan Papua sepanjang 19,370 km pada tahun 2014.

Terbangunnya Jalan Lintas Nusa Tenggara, 3.978,34 km. sepanjang 1.583,38 km.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 12

3.3.2. DUKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI DAN PEMERINTAH KAB/KOTA Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. (Pengadaan tanah selain bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilakukan dengan cara jual beli, tukar menukar, atau cara lain yang disepakati secara sukarela oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Alternatif khusus, seperti pembangunan jalan tol secara bertahap, juga harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, di wilayah-wilayah di mana volume lalu lintas saat ini masih rendah (seperti Kalimantan atau Sulawesi) pembangunan jalan raya baru di alinyemen baru untuk jalan bebas hambatan di kemudian hari dapat dilakukan tinimbang melakukan pelebaran secara berulang pada jalan yang ada dengan alinyemen berkecepatan rendah. Ini dapat menghasilkan keuntungan jangka menengah atas konektivitas antar-wilayah melalui jarak dan waktu tempuh yang lebih pendek, menambah kapasitas lalu lintas, dan memudahkan pembebasan tanah dan pemukiman kembali. Ini juga akan memfasilitasi pembangunan akhir jalan bebas hambatan. a. PERENCANAAN DAN PENGGANGGARAN PARTISIPATIF Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif dapat diartikan sebagai: mekanisme (atau proses) yang memungkinkan penduduk secara langsung memutuskan atau berkontribusi terhadap keputusan yang dibuat mengenai semua atau sebagian sumber daya publik (termasuk anggaran) yang tersedia. Istilah secara langsung atau berkontribusi terhadap keputusan sangat penting digarisbawahi. Istilah ini menunjukkan bahwa partisipasi harus dibedakan dengan pemberian informasi dan konsultasi. Mengapa perlu partisipasi dalam perencanaan dan penganggaran daerah? Bukankah proses demokratis sudah menempatkan perwakilan di pemerintahan (baik legislatif maupun eksekutif) yang memang bertugas mengagregasi dan membuat kebijakan publik? Pertanyaan ini penting dijawab untuk menghindari dispute mengenai partisipasi dalam pembuatan kebijakan publik dengan sistem demokrasi perwakilan. Setidaknya ada lima alasan mengapa perencanaan dan alokasi barang publik (termasuk alokasi anggaran) harus partisipatif.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 13

b. PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH Sebagai bagian integral dari pembangunan nasional, pembangunan infrastruktur di daerah diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pelayanan umum, baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga ketersediaannya yang memadai dapat meningkatkan kesejahteraan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah sebagai penyelenggara utama pembangunan di daerah, memiliki kewenangan yang dapat memaksimalkan potensi dan sumber daya yang tersedia dalam pembangunan infrastruktur. Dalam pengembangan infrastruktur di daerah perlu dipertimbangkan sektor-sektor unggulan yang ada di daerah, kemampuan pendanaan daerah, dan dukungan kelembagaan yang ada. c. PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAERAH Kebijakan pembangunan infrastruktur daerah telah tertampung di dalam masing-masing produk Rencana Tata Ruang Wilayah, baik wilayah Provinsi (RTRWP), maupun wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK). Rencana pembangunan infrastruktur yang termuat di dalam produk rencana tata ruang tersebut tidak terlepas dari pedoman RTRWN yang merupakan penjabaran teknis dari UU 26/2007. RTRWN merupakan perencanaan makro strategis nasional yang menggambarkan arah dan kebijakan pembangunan nasional secara ketataruangan yang memuat antara lain infrastruktur nasional seperti jalan nasional, pelabuhan samudera maupun bandara internasional. Sebagaimana tercantum di dalam Undang-Undang Penataan Ruang, muatan yang terdapat di dalam produk rencana tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota harus memuat aturan mengenai pemanfaatan lahan (zoning regulation) dan sanksi serta insentif dan disinsentif dari pelaksanaan pemanfaatan ruang di daerah. RTRW Provinsi merupakan perencanaan regional yang menjabarkan RTRWN dalam konteks ruang wilayah Provinsi secara lebih rinci termasuk memuat rencana pengembangan infrastruktur jalan provinsi, terminal, maupunpelabuhan regional. Sementara itu RTRW Kabupaten/Kota merupakan rencana tata ruang skala kabupaten/kota dengan muatan utama kelengkapan infrastruktur di tingkat lokal atau regional seperti jalan kabupaten/kota, kebutuhan jaringan air bersih, listrik, dan telekomunikasi yang disesuaikan dengan karakteristik zona-zona pengembangan kawasan yang ada.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 14

3.4. LUAS TANAH YANG DIBUTUHKAN Luas tanah bisa diperkirakan dari hasil studi, standar perencanaan (NSPK) maupun asumsi dari berbagai pengalaman. Luas tanah bisa dipengaruhi oleh kebutuhan lokasi pada saat pekerjaan konstruksi maupun dukungan pada saat pemanfaatan, operasi dan pemeliharaan. 3.5. PERKIRAAN JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH Pendekatan prioritas yang kuat diperlukan karena proyek-proyek konstruksi besar butuh waktu lama untuk pelaksanaannya, dari 5 sampai 15 tahun mengingat masalah pembebasan tanah yang begitu kompleks, masalah pembiayaan dan masalah kontrak. Di sana selalu tersedia pilihan-antara dengan biaya yang lebih rendah yang mungkin lebih cocok untuk jangka pendek, tapi mungkin tidak ekonomis untuk jangka menengah hingga jangka panjang. 3.6. PERKIRAAN JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PEMBANGUNAN Pelaksanaan pembangunan pada umumnya dibatasi waktu dalam satu tahun anggaran, atau bisa juga merupakan pembangunan tahun jamak. Pembangunan infrastruktur memerlukan waktu yang lama sehingga pengembalian investasinya juga lama. Oleh karena itu, sumber dana untuk membiayainya, idealnya harus memiliki jangka waktu yang panjang. Pembangunan jaringan jalan bebas hambatan telah jauh ketinggalan dari pertumbuhan permintaan beban lalu lintas, dan saat ini telah menyebabkan kendala yang signifikan pada efisiensi perjalanan antar-wilayah dan akses ke dan di sekitar kota-kota metropolitan. Meskipun beberapa hambatan utama dalam pelaksanaan program pembangunan jalan bebas hambatan itu telah ditanggulangi - proses yang transparan dan kuat untuk memobilisasi investasi sektor swasta dan pengelolaan risiko, serta pengelolaan pendanaan dan pengelolaan pembebasan tanah - tetap saja terdapat kesenjangan pendanaan yang signifikan. Juga ada kekurangan dalam pengaturan kelembagaan yang menghambat perencanaan dan pengelolaan program jalan bebas hambatan, dengan tanggung jawab yang berbagi antara BM dan BPJT. 3.7. PERKIRAAN NILAI TANAH Penilaian harga tanah yang terkena pembangunan untuk kepentingan umum dilakukan oleh Lembaga Penilai Harga Tanah atau Tim Penilai Harga Tanah.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 15

Nilai atau harga jual tanah dipengaruhi oleh berbagai faktor, estimasi biaya pengadaan tanah menurut klasifikasi lahan/tanah dan bangunan perlu dihitung, karena akan menjadi salah satu komponen bagi perhitungan biaya proyek. Harga pasar tanah di lokasi pembangunan, sebagai patokan untuk mengetahui nilai tanah. 3.7.1 NILAI GANTI RUGI Dasar perhitungan besarnya ganti rugi didasarkan atas : a. Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) atau nilai nyata/sebenarnya dengan memperhatikan Nilai Jual Obyek Pajak tahun berjalan berdasarkan penilaian Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah yang ditunjuk oleh panitia; b. nilai jual bangunan yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang bangunan; c. nilai jual tanaman yang ditaksir oleh perangkat daerah yang bertanggung jawab di bidang pertanian. Dalam rangka menetapkan dasar perhitungan ganti rugi, Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur bagi Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah adalah lembaga/tim yang profesional dan independen untuk menentukan nilai/harga tanah yang akan digunakan sebagai dasar guna mencapai kesepakatan atas jumlah/besarnya ganti rugi. Tim Penilai Harga Tanah adalah tim yang dibentuk dengan Keputusan Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk menilai harga tanah, apabila di wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan atau sekitarnya tidak terdapat Lembaga Penilai Harga Tanah. 3.7.2 NILAI JUAL OBYEK PAJAK (NJOP) Tim Penilai Harga Tanah melakukan penilaian harga tanah berdasarkan pada NJOP atau nilai nyata/sebenarnya dengan memperhatikan NJOP tahun berjalan, dan dapat berpedoman pada variabel-variabel sebagai berikut : a. lokasi dan letak tanah; b. status tanah; c. peruntukan tanah; d. kesesuaian penggunaan tanah dengan rencana tata ruang wilayah atau perencanaan ruang wilayah atau kota yang telah ada; e. sarana dan prasarana yang tersedia; dan f. faktor lainnya yang mempengaruhi harga tanah.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 16

Penilaian harga bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah dilakukan oleh Kepala Dinas/Kantor/Badan di Kabupaten/Kota yang membidangi bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah, dengan berpedoman pada standar harga yang telah ditetapkan peraturan perundang-undangan. Hasil penilaian sebagaimana dimaksud di atas diserahkan kepada P2T Kabupaten/Kota, untuk dipergunakan sebagai dasar musyawarah antara instansi pemerintah yang memerlukan tanah dengan para memilik. 3.7.3 BIAYA PENGADAAN TANAH Biaya pengadaan tanah dibebankan kepada instansi pemerintah yang memerlukan tanah, yang terdiri dari biaya : a. pengukuran dan pemetaan tanah; b. pemberian ganti rugi kepada pemilik; c. Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota, Provinsi, dan/atau Nasional; d. Lembaga Penilai Harga Tanah/Tim Penilai Harga Tanah; e. Pengurusan hak atas tanah sampai dengan penerbitan sertipikat; f. penitipan ganti rugi apabila diperlukan; g. pemisahan dari sisa bagian tanah pemilik; h. dalam rangka pembinaan, koordinasi, konsultasi, evaluasi, supervisi, dan penyelesaian masalah; dan i. lainnya yang diperlukan dalam menunjang pelaksanaan tugas Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota, Provinsi, dan/atau Nasional. Besaran biaya P2T sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan Kepala Badan Pertanahan Nasional, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A Perpres 65/2006. 3.7.4 BIAYA P2T Sesuai Peraturan Menteri Keuangan NOMOR 58/PMK.02/2008 tentang
BIAYA PANITIA PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM disebutkan bahwa :

a. Biaya P2T bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum adalah biaya operasional yang disediakan untuk Panitia Pengadaan Tanah dalam rangka membantu pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. b. Biaya operasional dimaksud disediakan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) satuan kerja yang memerlukan pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 17

c. Besaran biaya operasional P2T ditentukan paling tinggi 4% (empat perseratus) untuk ganti rugi sampai dengan atau setara Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan selanjutnya dengan prosentase menurun. d. Besaran biaya sebagaimana dimaksud pada butir c. didasarkan pada perhitungan ganti rugi yang ditetapkan oleh P2T. 3.8. RENCANA PENGANGGARAN. Anggaran infrastruktur di K/L mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari program dan proyek yang ditawarkan terlihat bahwa pemeliharaan dan pembangunan infrastruktur yang strategis dan vital menjadi prioritas utama. Sumber daya yang diperlukan untuk program jalan bebas hambatan yang dapat dimulai dalam periode 2010-2014 diperkirakan mencapai Rp 34,4 triliun, atau rata-rata Rp 6,9 triliun/tahun. Pembebasan tanah berkisar antara 10-30 persen dari biaya investasi. Rata-rata biaya konstruksi, termasuk pembebasan tanah, berada di kisaran Rp 70-85 miliar/km, atau 15 kali lebih tinggi daripada pembangunan jalan arteri dengan 2-lajur, tidak termasuk biaya pembebasan tanah. Tiga ruas jalan bebas hambatan yang direncanakan akan didanai oleh pemerintah, diperkirakan memakan biaya Rp 6.6 triliun untuk selama kurun waktu yang belum dapat ditentukan, tetapi mungkin untuk sepuluh tahun sampai tahun 201911. Program jalan bebas hambatan ini mungkin akan menjadi pengguna dana Kerjasama Swasta-Publik terbesar untuk kurun waktu tahun 2009-2011. Namun jangka waktu untuk mengikat besaran dana dan kebutuhan akan dana publik (APBN) tidak jelas. Percepatan pembangunan tol: Pengeluaran sebesar Rp 1,7 triliun per tahun di jalan tol diharapkan akan meningkatkan output sekitar 140 km per tahun. Selain itu, akan ada Rp 0,85 triliun per tahun yang akan digunakan untuk sekitar 30 km interurban baru dan perkotaan jalan raya per tahun, dan sekitar 2.450 m untuk jalan layang. Namun alokasi untuk pembangunan jalan tol hanya sekitar Rp 12 miliar per km (termasuk anggaran untuk tanah) atau 20 persen dari biaya konstruksi substansial sehingga ketergantungan pada investasi sektor swasta akan tetap ada. Sebagian besar dana ditujukan untuk tiga proyek besar dengan total 146 km (Solo-Kertosono dan Bandung Intra-kota di Jawa, dan MedanKualanamu di Sumatra) ditambah biaya tanah untuk 443 km lainnya.

__________________________________________________________________________________

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

3 - 18

Pengalaman Kementerian PU dalam menjalankan tugas menyelenggarakan urusan di bidang pekerjaan umum dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, mempunyai berbagai pengalaman dalam pengadaan tanah. NSPM berbasis pengadaan tanah telah diterbitkan, mulai dari Sisdalmen (Permen PU 603/2005) sampai dengan tiap satminkal mempunyai pedoman pengadaan tanah. Program/kegiatan yang ditunjang oleh dana pinjaman/hibah luar negeri, dalam pelaksanaannya mempunyai pedoman pengadaan tanah. Kegiatan yang dapat diusulkan untuk dapat dibiayai dengan pinjaman/hibah luar negeri adalah kegiatan prioritas untuk mencapai sasaran RPJM dan sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga. Rencana pengadaan tanah dan/atau resettlement telah ada, termasuk ketersediaan dana yang diperlukan termasuk salah satu kriteria kesiapan kegiatan yang harus dipenuhi sebelum dilaksanakannya perundingan dengan calon pemberi pinjaman luar negeri (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/KPTS/M/2006 tentang
PETUNJUK TEKNIS PENGENDALIAN PINJAMAN DAN/ATAU HIBAH LUAR NEGERI BIDANG PEKERJAAN UMUM). Rencana pembebasan tanah/pengadaan lahan dan atau

rencana pemindahan penduduk untuk keperluan Pelaksanaan Pekerjaan Sipil Tahun I telah selesai 2 (dua) minggu sebelum negosiasi NPHLN/NPHLN dilaksanakan. Naskah Perjanjian Hibah Luar Negeri, yang selanjutnya disebut NPHLN, adalah naskah perjanjian atau naskah lain yang disamakan yang memuat kesepakatan mengenai Hibah Luar Negeri antara Pemerintah dengan Pemberi Hibah Luar Negeri. Mengacu pada ruang lingkup Sisdalmen yang meliputi pengendalian atas kegiatan perencanaan konstruksi, pengadaan lahan, pelaksanaan konstruksi, dan persiapan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana bidang pekerjaan umum, maka uraian Bab 4 berdasarkan hal dimaksud, meliputi :

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-1

4.1. PERENCANAAN PENGADAAN TANAH DALAM TAHAP PRA KONSTRUKSI Perencanaan dalam tahapan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi : prastudi kelayakan, studi kelayakan, perencanaan umum dan perencanaan teknik. Terkait dengan pengadaan tanah, bisa sejalan dengan pekerjaan konstruksi, kontrak, prosesi lainnya atau sebagai masukan manajemen dalam sistem perencanaan, pemrograman dan penganggaran. Pekerjaan Konstruksi adalah seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi bangunan atau pembuatan wujud fisik lainnya. Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal dan tata lingkungan masingmasing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk lain. Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan beserta pengawasannya yang masing-masing tahap dilaksanakan melalui kegiatan penyiapan, pengerjaan, dan pengakhiran (UU18/1999).

Usaha perencanaan konstruksi memberikan layanan jasa perencanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagianbagian dari kegiatan mulai dari studi pengembangan sampai dengan penyusunan dokumen kontrak kerja konstruksi. Usaha pelaksanaan konstruksi memberikan layanan jasa pelaksanaan dalam pekerjaan konstruksi yang meliputi rangkaian kegiatan atau bagianbagian dari kegiatan mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan akhir hasil pekerjaan konstruksi. Usaha pengawasan konstruksi memberikan layanan jasa pengawasan baik sebagian atau keseluruhan pekerjaan pelaksanaan konstruksi mulai dari penyiapan lapangan sampai dengan penyerahan akhir hasil konstruksi.

Perpres 54/2010 tentang PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH menyebutkan pasal yang salah satu ayatnya menetapkan bahwa ketentuan pengadaan tanah

diatur dengan peraturan perundang-undangan tersendiri.


Sisdalmen Kementerian PU menyiratkan tahapan SIDLA (survey, investigasi, desain dan Pengadaan Lahan (Land Acquisition) masuk tahap prakonstruksi. SID juga merupakan Perencanaan Konstruksi yang meliputi Tahap Pra Kontrak, Tahap Penandatangan Kontrak, dan Tahap Pasca Kontrak. Secara umum kondisi yang harus ditampilkan meliputi :
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-2

4.1.1 DATA DAN INFORMASI KEGIATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PU. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih Unit Pelaksana Teknis (UPT) pada Kementerian Pekerjaan Umum sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri atas sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya manusia, barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan untuk menghasilkan keluaran dalam bentuk barang/jasa. Kegiatan yang berasal dari proyek atau bagian proyek dimasukkan sebagai salah satu kegiatan pada Satuan Kerja (satker) yang membawahi proyek tersebut. Kegiatan yang berasal dari proyek atau bagian proyek yang tidak dapat dimasukkan ke dalam Satuan Kerja tertentu dibuat sebagai Satuan Kerja Sementara. Menteri/pemimpin lembaga selaku Pengguna Anggaran bertanggung jawab atas keberhasilanpencapaian sasaran program berupa hasil (political accountability). Kepala Kantor/Satuan Kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran bertanggung jawab atas keberhasilan pencapaian sasaran kegiatan berupa keluaran (operational accountability). Penerapan anggaran terpadu berbasis kinerja telah mulai dilakukan bertahap mulai TA 2005 dengan konsekuensi pengelolaan anggaran Kementerian PI berunah, antara lain yang semula dilaksanakan oleh lembaga dalam bentuk Proyek, menjadi Satuan Kerja. Kementeria PU membentuk UPT sesuai dengan kewenangan satminkal dalam bentuk Balai, SNVT, dan SKPD. UPT adalah satuan vertical dari K/L. Satuan Vertikal adalah satker di daerah yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dan mengelola anggaran K/L untuk mencapai keluaran/output dalam rangka menunjang sasaran program K/L ybs. Balai merupakan satker UPT pusat yang melaksanakan urusan pemerintahan bidang PU kewenangan Pemerintah yang dilaksanakan sendiri dan berada di daerah Tampilan data dan informasi kegiatan, khususnya untuk tahun anggaran sedang berjalan, sangat bervariasi dengan tingkat kedalaman yang beragam. Data dan informasi kegiatan yang disajikan, bisa bersifat umum atau dengan tujuan tertentu. Media atau format yang dipakai dalam bentuk antara lain : a. KERANGKA ACUAN KERJA atau TERMS OF REFERENCE. KAK atau TOR adalah uraian tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup, masukan yang dibutuhkan dan hasil yang diharapkan dari suatu kegiatan. Muatan dan kedalaman KAK bisa berkembang sesuai dengan
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-3

besaran kegiatan (misal terkait dengan lokasi tanah yang diperlukan; luas dan gambar kasar tanah yang diperlukan; penggunaan tanah pada saat permohonan diajukan; uraian rencana kegiatan, aspek pembiayaan, waktu pelaksanaan), karakteristik dan spesifikasi kegiatan (lintas sektor, lintas provinsi/kabupaten/ kota, multi fungsi, tahun jamak), dll. Deskripsi kegiatan bisa bersifat dari aspek historis, aspek yuridis, aspek geografis, aspek lingkungan sampai aspek teknis b. URAIAN POKOK KEGIATAN atau PROJECT DIGEST. Uraian pokok kegiatan dalah uraian singkat tentang suatu kegiatan yang mencakup tujuan/sasaran kegiatan, lingkup kegiatan, lokasi kegiatan, dan biaya kegiatan termasuk kebutuhan pembiayaan dari dana luar negeri (Foreign Exchange) yang diperlukan. c. PRA STUDI KELAYAKAN KEGIATAN Pra studi kelayakan merupakan salah satu bagian dari kegiatan perencanaan secara keseluruhan yang dimulai dari identifikasi masalah, perencanaan umum, kelayakan, dan desain/perancangan teknis. Pra studi kelayakan merupakan bagian dari tahapan evaluasi kelayakan, dimana rekomendasi formulasi kebijakan berupa koridor/alternatif solusi yang dihasilkan akan ditindaklanjuti dalam kegiatan studi kelayakan. 1) KRITERIA KEBUTUHAN PRA STUDI KELAYAKAN Kegiatan pra studi kelayakan diharapkan menghasilkan rekomendasi tentang formulasi kebijakan dan identifikasi alternatif solusi yang dibutuhkan sebagai dasar pembuatan studi kelayakan. Kegiatan yang memerlukan pra studi kelayakan harus memenuhi kriteria : a) Menggunakan dana publik yang cukup besar dan atau kegiatan yang penting dan strategis berdasarkan kebijakan publik; b) Mempunyai sifat ketidakpastian dan risiko cukup tinggi; c) Memiliki alternatif/pilihan akses atau teknologi yang cukup banyak; d) Membutuhkan penentuan prioritas pelaksanaan karena keterbatasan dana; e) Atau berdasarkan keinginan pemberi kerja, dan lain-lain. 2) LINGKUP DAN HASIL PRA STUDI KELAYAKAN Lingkup kegiatan pra studi kelayakan meliputi :

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-4

a) Formulasi kebijakan perencanaan yang meliputi kajian terhadap kebijakan dan sasaran perencanaan, lingkungan dan penataan ruang, serta pembebasan lahan; b) Kajian terhadap kondisi eksisting pada wilayah studi termasuk melakukan kajian terhadap dampak yang mungkin timbul untuk setiap solusi yang diusulkan; c) Pengambilan data fisik, ekonomi dan lingkungan serta identifikasi lokasi-lokasi rawan bencana (hazard); d) Studi kom parasi beberapa koridor yang terpilih. Hasil kegiatan pra studi kelayakan meliputi : a) Formulasi dari sasaran proyek; b) Penajaman tujuan dan implementasi strategi; c) Urutan dari alternatif solusi yang dipelajari atas dasar indikasi kelayakan, sebagai masukan dari pihak pengambil keputusan; d) Rekomendasi tipe penanganan; e) Identifikasi kebutuhan investigasi lingkungan dan sosial; f) Kerangka acuan studi kelayakan; g) Rona awal lingkungan atau kerangka acuan analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal), jika dibutuhkan, atau upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) - upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL). 3) PENDEKATAN ANALISIS PRA STUDI KELAYAKAN Metode pendekatan ada 2 cara, yaitu : a) Metode before and after project; b) Metode with and without project. Metode yang lazim digunakan adalah metode with and without project. Sehingga dalam pedoman ini menggunakan metode pendekatan pembandingan kondisi dengan proyek (with project) dan tanpa proyek (without project), dan atas dasar pendekatan kebijakan publik atau pendekatan economic analysis. Pendekatan dengan proyek (with project) diasumsikan sebagai suatu kondisi, dimana diperlukan suatu investasi/proyek yang besar, yang dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas maupun struktur jalan. Sedangkan untuk pendekatan tanpa proyek (without project) diasumsikan sebagai suatu kondisi, dimana tidak ada investasi/proyek yang dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas maupun struktur jalan, kecuali untuk mempertahankan fungsi pelayanan jalan, yaitu berupa pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-5

Tahapan analisis yang dilakukan, antara lain : a) Formulasi dari sasaran kegiatan pembangunan, monitoring dan evaluasi manfaat kegiatan di masa mendatang akan merujuk pada sasaran ini; b) Ana;isa kualitatif untuk memformulasikan berbagai alternative solusi yang dapat dilaksanakan secara teknis, dan dapat diterima oleh lingkungan di sekitarnya; c) Analisa ekonomi untuk membandingkan kelayakan ekonomi setiap alternatif koridor untuk mendapatkan prioritas pilihan sebagai bahan studi kelayakan; d) Analisis kelayakan secara menyeluruh yang menggabungkan hasil analisis ekonomi dengan aspek non ekonomi yang relevan. 4) PERIODE ANALISIS DAN ASPEK YANG DITINJAU Periode analisis yang digunakan dalam pra studi kelayakan adalah 10 tahun, atau sesuai dengan rencana tata ruang dari wilayah studi, dengan aspek yang ditinjau meliputi : a) Aspek teknis; b) Aspek lingkungan dan keselamatan; c) Aspek ekonomi; d) Aspek lain-lain. d. DOKUMEN STUDI KELAYAKAN KEGIATAN Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS) adalah hasil penelitian yang dibuat oleh tenaga ahli pada Kementerian PU, maupun tenaga ahli yang dikontrak oleh Kementerian PU, yang memberi gambaran secara lengkap tentang layak tidaknya suatu kegiatan berdasarkan aspek-aspek yang dianggap perlu, sebagai dasar untuk pengambilan keputusan dilaksanakannya suatu kegiatan yang bersangkutan. Studi Kelayakan adalah analisis dari segi teknis dan ekonomis untuk lokasi kegiatan yang sedang dirumuskan, menentukan batasan/definisi lokasi kegiatan dan sekaligus menetapkan prasarana yang diperlukan, mengajukan program pelaksanaan, menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan aspek-aspek teknis, melakukan survei pengukuran topografi, survei geoteknik dan kualitas tanah secara ekstensif. Beberapa aspek dimaksud meliputi : i. Kelayakan Teknis adalah gambaran atas kondisi rencana kegiatan yang memperhitungkan unsur keteknikan dan non keteknikan sehingga kegiatan tersebut dapat dilaksanakan. ii. Kelayakan Finansial adalah gambaran aspek finansial atas penggunaan sumber daya dengan hasil yang diperoleh dari
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-6

pelaksanaan rencana kegiatan yang diperhitungkan dengan menggunakan harga pasar iii. Kelayakan ekonomi adalah gambaran atas efisiensi penggunaan sumber daya dengan manfaat yang diperoleh dalam pelaksanaan rencana kegiatan, mencakup aspek sosial, lingkungan dan/atau ekonomi. Studi Kelayakan merupakan bagian akhir dari tahapan evaluasi kelayakan kegiatan, untuk menilai tingkat kelayakan suatu alinyemen pada koridor yang terplilih pada pra studi kelayakan, dan untuk menajamkan analisis kelayakan bagi beberapa alternatif rute terpilih yang diusulkan. Ada beberapa perbedaan antara studi kelayakan dengan pra studi kelayakan. Dalam studi kelayakan, data yang diperlukan berupa data sekunder dan data primer. Sedangkan dalam pra studi kelayakan hanya dibutuhkan data sekunder. Selain itu juga ketentuan teknis yang mengatur tingkat kedalaman aspek-aspek yang ditinjau dan dianalisis juga berbeda. Dalam studi kelayakan diperlukan survei-survei yang lebih detail dan analisis-analisis dengan pendekatan secara lebih akurat dengan menggunakan model. Sedangkan dalam pra studi kelayakan hanya memerlukan survei pendahuluan (ground checking) saja. 1) KRITERIA KEBUTUHAN STUDI KELAYAKAN Kegiatan studi kelayakan merupakan tindak lanjut dari rekomendasi formulasi kebijakan berupa alternatif solusi yang dihasilkan dalam pra studi kelayakan. Kegiatan yang memerlukan studi kelayakan harus memenuhi kriteria : a) Menggunakan dana publik yang cukup besar dan atau kegiatan yang penting dan strategis berdasarkan kebijakan publik; b) Mempunyai sifat ketidakpastian dan risiko cukup tinggi; c) Merinci kegiatan-kegiatan yang dihasilkan dalam pra studi kelayakan yang mempunyai kelayakan yang tinggi; d) Kegiatan memerlukan penajaman dalam rencana, melalui pembanding dua atau lebih alternatif solusi yang unggul; e) Kegiatan memerlukan indikator kelayakan yang lebih teliti; f) Atau berdasarkan keinginan pemberi kerja, dan lain-lain. 2) LINGKUP DAN HASIL KEGIATAN STUDI KELAYAKAN Lingkup kegiatan studi kelayakan meliputi :

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-7

a) Formulasi kebijakan perencanaan yang meliputi kajian terhadap kebijakan dan sasaran perencanaan, lingkungan dan penataan ruang, serta pengadaan tanah; b) Kajian terhadap kondisi eksisting pada wilayah studi; c) Pengambilan data fisik, ekonomi dan lingkungan; d) Prediksi hasil analisa kuantitatif untuk setiap alternatif solusi; e) Kajian penggunaan alternatif teknologi dan standar yang berkaitan dengan kebutuhan proyek; f) Studi komparasi alternatif solusi pada koridor yang terpilih dalam pra studi kelayakan. Hasil kegiatan studi kelayakan meliputi : a) Formulasi dari sasaran kegiatan; b) Merupakan urutan unggulan, atas dasar indikator kelayakan yang teliti dari alternatif solusi yang distudi, sebagai masukan bagi pihak pengambil keputusan; c) Penajaman rencana dan rekomendasi alinyemen yang cocok, serta standar-standar yang akan digunakan; d) Rekomendasi waktu optimum (timing optimum) dan program konstruksi; e) Rekomendasi investigasi lingkungan dan sosial; f) Kerangka acuan analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal), jika dibutuhkan, atau upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) - upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL); g) Kebutuhan survei untuk Detaild Engineering Design (DED); h) Estimasi biaya. 3) PENDEKATAN ANALISIS KEGIATAN STUDI KELAYAKAN Metode pendekatan ada 2 cara, yaitu : a) Metode before and after project; b) Metode with and without project. Metode yang lazim digunakan adalah metode with and without project. Sehingga dalam pedoman ini menggunakan metode pendekatan pembandingan kondisi dengan proyek (with project) dan tanpa proyek (without project), dan atas dasar pendekatan kebijakan publik atau pendekatan economic analysis. Pendekatan dengan proyek (with project) diasumsikan sebagai suatu kondisi, dimana diperlukan suatu investasi/proyek yang besar, yang dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas maupun struktur jalan. Sedangkan untuk pendekatan tanpa proyek (without project)
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-8

diasumsikan sebagai suatu kondisi, dimana tidak ada investasi/proyek yang dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas maupun struktur jalan, kecuali untuk mempertahankan fungsi pelayanan jalan, yaitu berupa pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala. Tahapan analisis yang dilakukan, antara lain : a) Formulasi dari sasaran kegiatan pembangunan, monitoring dan evaluasi manfaat kegiatan di masa mendatang akan merujuk pada sasaran ini; b) Formulasi dari satu atau lebih alternatif solusi yang potensial. c) Analisa ekonomi untuk memperoleh/membandingkan kelayakan ekonomi dari seluruh alternatif solusi; d) Analisis kelayakan menyeluruh yang menggabungkan hasil analisis ekonomi dengan aspek ekonomi yang relevan. 4) PERIODE ANALISIS DAN ASPEK YANG DITINJAU Periode analisis yang digunakan dalam pra studi kelayakan adalah 10 tahun, atau sesuai dengan rencana tata ruang dari wilayah studi, dengan aspek yang ditinjau meliputi : a) Aspek teknis; b) Aspek lingkungan dan keselamatan; c) Aspek ekonomi; d) Aspek lain-lain. 5) KEDUDUKAN DAN FUNGSI STUDI KELAYAKAN Kedudukan studi kelayakan : Studi kelayakan merupakan bagian akhir dari tahapan evaluasi kelayakan proyek, untuk menindaklanjuti hasil proses seleksi proyek jalan dan jembatan dengan indikasi kelayakan yang tinggi, yang telah dihasilkan dalam pra studi kelayakan. Fungsi studi kelayakan : Fungsi kegiatan studi kelayakan adalah untuk menilai tingkat kelayakan suatu alinyemen pada koridor yang terpilih pada pra studi kelayakan, dan untuk menajamkan analisis kelayakan bagi satu atau lebih alternatif solusi yang unggul. Apabila tahapan pra studi kelayakan belum dilaksanakan, maka fungsi kegiatan untuk mengidentifikasi alternatif solusi dengan menilai tingkat kelayakan, dan membandingkan kinerja ekonomis suatu alternative terhadap alternatif yang lain tetap dilakukan.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4-9

h. KAJIAN TENTANG PENGADAAN TANAH 1) Pengadaan tanah merupakan langkah awal kegiatan pelaksanaan konstruksi jalan dan jembatan, dalam pelaksanaannya tidak mudah dan membutuhkan waktu, serta pelaksanaannya seringkali sangat merugikan masyarakat. 2) Lahan/tanah harus dapat dibebaskan sesuai dengan kebutuhan akan Rumija pada alternatif solusi yang terpilih. Dalam pelaksanaannya, pengadaan tanah seringkali melebihi Rumija yang direncanakan, karena adanya sedikit sisa lahan/tanah yang terpaksa harus dibebaskan juga. 3) Luas Rumija yang dibutuhkan dan estimasi biaya pengadaan tanah menurut klasifikasi lahan/tanah dan bangunan perlu dihitung, karena akan menjadi salah satu komponen bagi perhitungan biaya proyek. 4) Pengadaan tanah harus sudah selesai pada tahap awal pelaksanaan konstruksi, sehingga serah terima lapangan (site handover) kepada pihak kontraktor dapat dilaksanakan. 5) Tanah yang diperuntukkan bagi proyek jalan dan jembatan dibebaskan melalui mekanisme yang sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku dengan mempertimbangkan kriteria/faktor tata guna lahan/tanah dan kesesuaian lahan/tanah. Estimasi biaya pengadaan tanah disesuaikan dengan Perpres 65/2006 dan keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nomor 3/2007, serta kebijakan pemukiman kembali yang didasarkan pada kepadatan penduduk, luas pengadaan tanah serta prosentasi keluarga yang setuju untuk dipindahkan, atau mengikuti pedoman pengadaan tanah untuk pembangunan jalan yang dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum. 6) Kegiatan yang berpengaruh besar terhadap pengadaan tanah, meliputi : penetapan tanggal permulaan yang tepat untuk pekerjaanpekerjaan konstruksi; penetapan dan perhitungan biaya-biaya proyek; kebijakan dan regulasi pemerintah kaitannya dengan pertanahan dan pengadaan tanah. 4.1.2 PROPOSAL RENCANA PEMBANGUNAN Sebagai upaya untuk memperoleh tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum, Kementerian PU sebagai instansi pemerintah yang memerlukan tanah menyusun proposal rencana pembangunan paling lambat 1 (satu) tahun sebelumnya, yang menguraikan : a. maksud dan tujuan pembangunan; b. letak dan lokasi pembangunan; c. luasan tanah yang diperlukan;
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 10

d. sumber pendanaan; e. analisis kelayakan lingkungan perencanaan pembangunan, termasuk dampak pembangunan berikut upaya pencegahan dan pengendaliannya. Penyusunan proposal rencana pembangunan Kementerian PU yang memerlukan tanah dapat meminta pertimbangan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Proposal rencana pembangunan tidak diperlukan dalam hal pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum dipergunakan untuk fasilitas keselamatan umum dan penanganan bencana yang bersifat mendesak. a. PROAKTIF DAN ANTISIPASI TUGAS P2T Berdasarkan Perpres 65/2006, tugas P2T meliputi : 1) mengadakan penelitian dan inventarisasi atas tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda lain yang ada kaitannya dengan tanah yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan; 2) mengadakan penelitian mengenai status hukum tanah yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan dan dokumen yang mendukungnya; 3) menetapkan besarnya ganti rugi atas yang haknya akan dilepaskan atau diserahkan; 4) memberikan penjelasan atau penyuluhan kepada masyarakat yang terkena rencana pembangunan dan/atau pemegang hak atas tanah mengenai rencana dan tujuan pengadaan tanah tersebut dalam bentuk konsultasi publik baik melalui tatap muka, media cetak, maupun media elektronik agar dapat diketahui oleh seluruh masyarakat yang terkena rencana pembangunan dan/atau pemegang hak atas tanah; 5) mengadakan musyawarah dengan para pemegang hak atas tanah dan instansi pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang memerlukan tanah dalam rangka menetapkan bentuk dan/atau besarnya ganti rugi; 6) menyaksikan pelaksanaan penyerahan ganti rugi kepada para pemegang hak atas tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang ada di atas tanah; 7) membuat berita acara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah; 8) mengadministrasikan dan mendokumentasikan semua berkas pengadaan tanah dan menyerahkan kepada pihak yang berkompeten. b. HASIL SURVEI LAPANGAN Mengingat bahwa pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah,
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 11

maka data dan informasi kondisi eksisting tanah dari hasil survei lapangan secara awal untuk mendapatkan : kepastian jumlah penduduk/KK yang terkena pembangunan infrastruktur bidang PU untuk menghindari masuknya orang-orang yang mencoba mengambil keuntungan dari kebijaksanaan ini, dan mengumpulkan data tentang kondisi sosial ekonomi penduduk dan kondisi kegiatan infrastruktur bidang PU. Ikhwal tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah yang akan terkena kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU, tampilan yang disajikan meliputi : i. luas, kondisi, status tanah dan bangunan yang terkena pembangunan infrastruktur bidang PU (disusun dalam tabel kelompok yang terkena dampak : 0-25%, 25-50%, 50-75%, dan 75-100%); ii. jumlah orang yang dipindahkan yang terkena; iii. umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, standar hidup dan biaya hidup orang yang dipindahkan serta mereka yang terpindahkan; iv. jumlah, jenis dan besaran usaha formal maupun informal; v. kemungkinan dampak positif dan negatif terhadap penduduk, aset budaya serta lingkungan. Secara rinci, ada pula yang perlu diketahui : 1) TANAH Data dan informasi tentang tanah bisa menentukan besaran ganti rugi. a) tanah perumahan : apabila sisa tanah tidak layak huni, sisa luas tanah < 60 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRW, dianggap seluruh bidang tanah terkena kegiatan dan harus diganti seluruhnya; b) tanah yang dipergunakan untuk bangunan tempat usaha : apabila sisa tanah tidak layak usaha, sisa luas tanah < 24 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRW, dianggap seluruh bidang tanah terkena kegiatan dan harus diganti seluruhnya; c) lahan usaha pertanian : apabila sisa tanah tidak layak usaha yang berbasisikan tanah, sisa luas tanah < 0,25 ha atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRW, dianggap seluruh bidang tanah terkena kegiatan dan harus diganti seluruhnya. 2) BANGUNAN Data dan informasi tentang bangunan bisa menentukan besaran ganti rugi. a) bangunan rumah tinggal :
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 12

apabila sisa luas bangunan tidak layak huni, sisa luas bangunan < 21 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRW, dianggap seluruh bidang tanah terkena kegiatan dan harus diganti seluruhnya; b) bangunan tempat usaha : apabila sisa bangunan tidak layak usaha, sisa luas bangunan < 18 m2 atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRW, dianggap seluruh bangunan terkena kegiatan dan harus diganti seluruhnya; c) bangunan lainnya : apabila sisa bangunan tidak layak pakai atau tidak sesuai untuk pengunaan seperti sebelumnya, atau tidak sesuai dengan ketentuan RTRW, dianggap seluruh bangunan terkena kegiatan dan harus diganti seluruhnya. Perkiraan besarnya ganti kerugian bangunan didasarkan atas nilai jual bangunan yang bersangkutan dengan mengacu pada standar harga bangunan dari instansi terkait, misalnya NJOP, dengan memperhatikan aspirasi masyarakat dan ijin mendirikan bangunan (IMB). Besarnya gantu kerugian berdasarkan IMB, dihitung sebagai berikut : a) Bangunan yang sudah memiliki IMB dinilai, 100%, atau disesuaikan dengan peraturan daerah yang bersangkutan; b) Bangunan yang belum meiliki IMB dinilai maksimal 75%, atau disesuaikan dengan peraturan daerah yang bersangkutan. 3) TANAMAN Nilai jual dari tanaman yang dilakukan oleh instansi terkait, sebagai kondisi yang harus dicermati, dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut : a) Jenis tanaman dan nilai komersialnya; b) Umur dan tingkat produktifitas. 4) BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH Nilai benda atau asset yang berkaitan dengan tanah, terkadang sulit ditaksir nilainya, berdasarkan tingkat pentingnya dinilai berdasarkan : a) Ketentuan dan standar harga dari instansi terkait; b) Pedoman harga berdasarkan kebijakan pemerintah kabupaten/kota setempat; c) Aspirasi Masyarakat.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 13

c. HASIL JAJAG DAN PENYULUHAN MASYARAKAT Masyarakat sebagai pemegang hak atas tanah, sebagai subyek pembangunan, sebagai pemangku kepentingan, sebagai pengguna/pemanfaat akhir sampai sebagai masyarakat terkena dampak pembangunan infrastruktur bidang PU. Kementerian PU sebagai instansi pemerintah yang memerlukan tanah bersama P2T Kabupaten/Kota melaksanakan penyuluhan untuk menjelaskan manfaat, maksud dan tujuan pembangunan kepada masyarakat serta dalam rangka memperoleh kesediaan dari para pemilik. Penyuluhan dilaksanakan di tempat yang ditentukan dalam surat undangan yang dibuat oleh P2T Kabupaten/Kota, dan dalam pelaksanaannya dipandu P2T Kabupaten/Kota. 1) TANGGAPAN MASYARAKAT Dalam hal penyuluhan terjadi keadaan atau tanggapan masyarakat : a) diterima oleh masyarakat, dilanjutkan dengan kegiatan pengadaan tanah; b) tidak diterima oleh masyarakat, P2T Kabupaten/Kota melakukan penyuluhan kembali . Dalam hal penyuluhan kembali telah dilakukan, namun terjadi : a) tetap tidak diterima oleh 75% (tujuh puluh lima persen) dari para pemilik tanah, sedangkan lokasinya dapat dipindahkan, Kementerian PU sebagai instansi pemerintah yang memerlukan tanah mengajukan alternatif lokasi lain; b) tetap tidak diterima oleh masyarakat, sedangkan lokasinya tidak dapat dipindahkan ke lokasi lain sebagaimana kriteria yang telah ditetapkan, maka P2T Kabupaten/Kota mengusulkan kepada Bupati /Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk menggunakan ketentuan UU 20/1961. d. KELOMPOK MASYARAKAT TERKENA KEGIATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BIDANG PU. Masyarakat dimaksud dapat dikelompokkan dalam: 1) Masyarakat yang mempunyai sertifikat yang sah, girik, atau hak adat (perorangan atau kelompok); 2) Masyarakat yang menguasai tanah pada lahan pemukiman, komersial, atau industri di lokasi proyek, tetapi belum mempunyai sertifikat atau bukti pemilikan yang sah;
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 14

3) Masyarakat yang menduduki tanah pada lahan prasarana dan fasilitas umum seperti: di atas sungai, jalan, taman atau fasilitas umum lainnya di daerah proyek; 4) Masyarakat yang berstatus sebagai penyewa. ad 1) Masyarakat yang mempunyai sertifikat yang sah, Girik atau Adat. a) Masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU, yang mempunyai sertifikat, girik atau hak adat, mendapat ganti rugi atas tanah, bangunan dan aset yang terlekat sesuai dengan status kepemilikan dan kondisi lingkungannya. b) Masyarakat yang terpaksa pindah, dapat memilih kompensasi tunai atau bentuk lainnya. c) Kapling tanah pada lokasi yang baru tersebut akan berstatus sama atau lebih tinggi dari hak-hak yang semula dimilikinya, dan sertifikat akan diterbitkan dalam waktu enam bulan setelah pemindahan masyarakat. d) Mereka mendapat biaya transport untuk memindahkan barangbarangnya tidak termasuk bahan sisa bangunan. e) Mereka juga mendapat bantuan dan pembinaan untuk meningkatkan kemampuannya untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik. ad 2) Masyarakat yang menguasai tanah pada lahan pemukiman, komersial, atau industri di lokasi proyek, tetapi belum mempunyai sertifikat atau bukti kepemilikan yang sah. a) Masyarakat yang terkena pembangunan infrastruktur bidang PU, yang terdaftar dalam survei dasar, yang menguasai tanah dalam daerah pemukiman, komersial, atau industri pada lokasi proyek, tetapi belum mempunyai sertifikat, girik atau hak adat, mendapat ganti rugi atas tanah, bangunan dan aset yang terlekat sesuai dengan lamanya tinggal dan nilai asetnya. b) Masyarakat yang tersebut, yang terdaftar pada survei sosial ekonomi, yang terpaksa pindah, dapat memilih kompensasi tunai atau bentuk lainnya. c) Kapling tanah pada lokasi yang baru tersebut akan berstatus hak pakai atau hak yang lebih tinggi, dan sertifikatnya akan diterbitkan dalam waktu enam bulan setelah pemindahan masyarakat. d) Masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU mendapat biaya pindah untuk memindahkan barang-barangnya tidak termasuk bahan sisa bangunan.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 15

e) Masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU juga mendapat bantuan dan pembinaan dari Pemerintah Kabupaten/ Kota untuk meningkatkan keterampilan untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik. ad 3) Masyarakat yang menguasai tanah pada lahan prasarana dan fasilitas umum. a) Masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU, yang terdaftar pada survei sosial ekonomi yang berada di daerah yang dikategorikan sebagai lahan umum, seperti: jalan kereta api, atau di bawah jembatan layang, akan menerima santunan atau bantuan pemukiman kembali lainnya dari pemerintah daerah. b) Dalam hal lahan umum tersebut: (i) telah ditempati dalam waktu yang cukup lama tanpa sanksi dari pemerintah, (ii) mendapat pengakuan dari pemerintah daerah dalam hal: kewajiban untuk membayar pajak tanah atau biaya lainnya, persetujuan Camat/ Lurah dalam transaksi tanah sehingga tidak jelas apakah tanah tersebut adalah milik umum, masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU harus mendapat kompensasi sesuai rekomendasi dalam survei sosial ekonomi. ad 4) Masyarakat yang berstatus sebagai penyewa Masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU yang berstatus sebagai penyewa, dan terdaftar pada survei sosial ekonomi akan dibantu dengan mencarikan rumah sewaan, atau rumah tinggal dengan ukuran yang sama, yang dapat disewa atau sewa beli dengan harga yang layak. e. SURVEI SOSIAL EKONOMI, INFORMASI DAN KONSULTASI CALON LOKASI. Calon lokasi pembangunan infrastruktur bidang PU, baik yang membentuk jaringan, menyebar maupun yang terkonsentrasi dalam satu lokasi, khususnya sebagai pembangunan baru membutuhkan informasi lokasi. 1) SURVEI DASAR SOSIAL EKONOMI a) Sebagai bagian dari proses perencanaan pembangunan infrastruktur bidang PU, Pemerintah Kabupaten/Kota akan melakukan survei dasar untuk: i) menentukan daerah yang akan dipengaruhi oleh proyek dengan membuat alignment drawing; ii) mengidentifikasi perkiraan dampak lingkungan dan sosial antara lain informasi
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 16

b) c)

d)

e)

mengenai jumlah warga, tanah, bangunan dan aset lain yang mungkin akan terkena. Survey sosial ekonomi dilakukan setelah desain proyek tersedia atau minimum setelah koridor jalan dapat dipastikan. Tanggal pelaksanaan survei sosial ekonomi akan menjadi batas akhir pencatatan masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU yang berhak menerima kompensasi, pemukiman kembali dan pembinaan. Survei sosial ekonomi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran rinci mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU sebelum sub kegiatan dilaksanakan. Kegiatan survei ini akan mencakup antara lain: (1) luas, kondisi, status tanah dan bangunan. (2) karakteristik sosial warga/rumah tangga yang terkena: jumlah, umur, jenis kelamin, pendidikan, mata pencaharian (usaha formal dan informal), standar hidup, lama tinggal. (3) Informasi tentang kelompok rentan, misal kelompok yang hidup di bawah garis kemiskinan, kepala rumah tangga perempuan, janda, kelompok jompo, anak-anak, kelompok minoritas, orangorang yang tidak dilindungi oleh hukum terutama yang berkaitan dengan kompensasi atas tanah. (4) Status tanah dan sistem pengalihannya termasuk pola penguasaan tanah. (5) Harga pasar dan NJOP tanah dan bangunan. Informasi didasarkan atas infromasi tertulis dari instansi berwenang seperti bank lokal, broker lokal and notaris lokal. (6) Dampak subproyek terhadap pola-pola interaksi sosial dalam komunitas warga terkena subproyek termasuk jaringan sosial dan sistem dukungan sosial. (7) Karakteristik budaya masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU misal sistem kepercayaan yang dianut warga, upacara tradisional keagamaan/kepercayaan, kelompok -kelompok budaya. (8) Karakteristik sosial budaya dari warga yang tinggal disekitar relokasi baru. Survei tersebut akan mencakup seluruh masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU, dan akan digunakan sebagai informasi dasar bagi proses pengadaan tanah dan pemukiman kembali serta program pembinaannya.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 17

2) INFORMASI, SOSIALISASI DAN KONSULTASI a) Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan sosialisasi secara intensif kepada warga yang terkena proyek, untuk memberikan informasi mengenai rencana, manfaat dan kemungkinan dampak kegiatan. b) Sosialisasi dan konsultasi dilakukan bersamaan dengan survei sosial ekonomi kepada seluruh masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU dan pemangku kepentingan terkait. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui diskusi terbuka, FGD (diskusi kelompok), dialog, atau cara-cara lain sesuai dengan kondisi lokal. c) Konsultasi dimaksudkan untuk menyerap pendapat/aspirasi dan saran-saran dari masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU dan stakeholder terkait mengenai kebijakan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. 4.1.3 ALTERNATIF PENGADAAN/PENGGANTIAN TANAH Pengadaan tanah tidak hanya untuk kepentingan pekerjaan konstruksi saja, tetapi berorientasi pada nilai manfaat dari hasil pembangunan infrastruktur bidang PU. a. RENCANA KERJA PENGADAAN TANAH, PEMUKIMAN KEMBALI DAN PEMBINAAN (RK-PTPKP). Berdasarkan Land Aqcuisition and Resettlement Action Plan (LARAP), sebagai upaya dalam pengadaan tanah dan pemukiman kembali. 1) Berdasarkan hasil survei sebagaimana dimaksud, selanjutnya Pemerintah Kabupaten/Kota menyiapkan rencana kerja secara menyeluruh mengenai RK-PTPKP. 2) Lingkup dan kedalaman RK-PTPKP ini akan bervariasi sesuai dengan besaran dampak yang mungkin terjadi. 3) RK-PTPKP atau Land Aqcuisition and Resettlement Action Plan (LARAP). Lengkap minimal harus mencakup elemen berikut : a) deskripsi sub kegiatan; b) dampak potensial dari sub-proyek, termasuk kegiatan proyek yang memiliki dampak serta wilayah yang terkena dampak; c) sasaran utama RK-PTPKP; d) hasil temuan dari studi sosial-ekonomi; e) kerangka institusi yang mengidentifikasi lembaga-lembaga yang bertanggungjawab atas kegiatan pemukiman kembali serta langkah -langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas lembaga tersebut dalam melaksanakan pemukiman kembali; f) kriteria kualifikasi bagi masyarakat terkena dampak pembangunan infrastruktur bidang PU terhadap bentuk kompensasi dan pembinaan pemukiman kembali yang akan diperoleh;
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 18

g) penilaian asset; h) langkah-langkah pemukiman kembali, termasuk deskripsi mengenai paket kompensasi dan langkah-langkah pemukiman kembali untuk setiap kategori masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU, pemilihan lokasi, penyiapan dan strategi pemindahan ke lokasi baru, perumahan, prasarana dan pelayanan sosial, perlindungan dan pengelolaan lingkungan, mekanisme partisipasi masyarakat dalam proses pemukiman kembali (termasuk warga penerima); i) prosedur penanganan keluhan ; j) jadwal pelaksanaan dan organisasi penanggungjawab, termasuk biaya dan anggaran ; k) pemantauan dan evaluasi. 4) RK-PTPKP Sederhana (Abbreviated LARAP) Jika jumlah masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU kurang dari 200 orang atau 40 KK, atau jika aset produktif yang terkena dampak subproyek kurang dari 10%, maka dapat disusun RK-PTPKP sederhana. RKPTPKP Sederhana minimal harus mencakup elemen-elemen berikut : a) survei sensus mengenai warga yang terkena proyek dan taksiran aset; b) deskripsi kompensasi dan pemukiman kembali; c) konsultasi dengan masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU mengenai alternatif kompensasi; d) tangggung jawab kelembagaan untuk pelaksanaan dan prosedur penanganan keluhan dan solusinya; e) pengaturan dan monitoring pelaksanaan; dan f) jadwal dan pembiayaan. 5) RK-PTPKP disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota untuk diserahkan ke Kementerian PU untuk direview dan mendapat persetujuan. Setelah Kementerian PU menyetujui, RK-PTPKP atau LARAP akan ditetapkan sebagai Keputusan Bupati/Walikota. 6) Kementerian PU akan mengeluarkan Surat Tidak Berkeberatan (No Objection Letter/NOL) apabila pengadaan tanah dapat diselesaikan dan warga telah menerima kompensasi sesuai dengan RK-PTPKP. 7) Informasi kemajuan pelaksanaan pengadaan tanah disusun oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan dikirimkan kepada Kementerian PU. b. KOMPENSASI DAN PILIHAN GANTI RUGI Perlu jaminan agar masyarakat tidak dirugikan dalam proses pembangunan, Kementerian PU berusaha mencegah atau mengurangi dampak pemukiman
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 19

kembali. Jika pemukiman kembali tidak dapat dihindari, Kementerian PU membantu memulihkan mutu kehidupan dan mata pencaharian orang terkena dampak. Apabila memungkinkan tidak hanya memulihkan tapi juga meningkatkan mutu kehidupan, khususnya bagi kelompok rawan/rentan. 1) KOMPENSASI a) Masyarakat terkena dampak pembangunan infrastruktur bidang PU, terutama yang dipindahkan akan mendapat ganti kerugian. Ganti kerugian atas tanah, bangunan, dan aset yang terlekat ditetapkan sebagai biaya penggantian nyata sesuai yang ditetapkan. Ganti kerugian tersebut disepakati dalam musyawarah antara pihak Kementerian PU dan orang-orang yang dipindahkan berdasarkan biaya penggantian nyata tersebut. b) Kompensasi untuk pohon, tanaman dan harta lainnya disesuaikan dengan standard harga per pohon dari instansi yang relevan dengan memperhitungkan harga pasar setempat. c) Tidak ada orang-orang yang dipindahkan diambil tanah dan asetnya tanpa menerima kompensasi yang wajar. d) Sistem pemantauan dan evaluasi untuk jalannya proses kompensasi akan dilaksanakan untuk menjamin bahwa orang-orang yang dipindahkan telah menerima kompensasinya sesuai dengan yang dijelaskan di atas. Pemantauan akan dilaksanakan oleh lembaga independen setempat (misalnya Perguruan Tinggi) dan akan berupa survei sensus atau sampling tergantung pada jumlah rumah tangga yang terkena proyek. Laporan mengenai hasil dan rekomendasinya akan dipublikasikan. 2) REHABILITASI DAN PEMBINAAN Disamping menerima ganti kerugian atas tanah/.bangunan, dan aset yang terlekat, orang-orang yang dipindahkan akan mendapat bantuan rehabilitasi dan pembinaan, agar mampu mengembangkan kehidupan yang lebih baik dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. 3) PILIHAN GANTI RUGI a) Berdasarkan kesepakatan yang dicapai dalam musyawarah, warga yang terpindahkan dapat mempunyai pilihan untuk mendapatkan ganti kerugian yaitu berupa uang, pemukiman kembali atau bentuk lainnya. b) Ganti kerugian dalam bentuk lain adalah berupa alternatif pilihan antara lain : kaveling siap bangun, pertukaran tanah, perumahan murah, rumah susun, real estate dengan fasilitas KPR-BTN atau
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 20

c)

d)

e)

f)

g) h)

i)

j)

k)

kemungkinan lainnya yang dapat diusahakan oleh kepedulian Pemerintah Kabupaten/Kota. Di antara berbagai pilihan tersebut terdapat kemungkinan untuk tempat penampungan, dimana warga yang terpindahkan tidak perlu membayar lebih daripada pengeluaran rutin seperti tercatat pada survei sosial ekonomi. Orang-orang yang dipindahkan dapat pula membentuk kelompok perumahan kooperatif melalui usaha bersama membangun perumahannya. Untuk ini kepedulian Pemerintah Kabupaten/Kota berkoordinasi dengan Instansi terkait memberikan bantuan pelayanan dan pembinaan yang diperlukan. Jika jumlah orang yang dipindahkan melebihi 200 orang, atau 40 keluarga, dimana pada lokasi disekitarnya tidak terdapat proyek Perumnas, proyek perumahan pemerintah, atau proyek perumahan murah dengan fasilitas KPR-BTN yang dapat dikoordinasikan, maka Kepedulian Pemerintah Kabupaten/Kota akan membangun lokasi pemukiman kembali sesuai permintaan orang-orang yang dipindahkan secara khusus. Orang-orang yang dipindahkan tidak akan dibebani penyusutan (depresiasi) bangunan, pungutan atau pajak atas ganti rugi yang diterimanya. Jika ada, maka penyusutan bangunan, pungutan dan pajak atas ganti rugi tersebut akan dicakup dalam biaya proyek. Biaya sertifikat baru yang diberikan kepada orang-orang yang dipindahkan akan dicakup dalam biaya proyek. Orang-orang yang dipindahkan dapat mengambil dan membawa bekas bahan bangunan mereka ke lokasi yang baru. Mereka mendapat bantuan biaya angkutan untuk pindah ke lokasi yang baru. Orang-orang yang dipindahkan yang mempunyai (i) sisa tanah dan bangunannya tidak layak untuk hunian atau tempat kerja, atau (ii) sisa tanahnya kurang dari 60 m2, atau (iii) sisa tanah pertaniannya kurang dari 50% terhadap ukurannya semula, atau (iv) sisa bangunannya kurang dari 21 m2, mempunyai pilihan untuk dimasukkan dalam kelompok warga yang terpindahkan dengan mendapat kompensasi 100% terhadap pemindahan hak aset-aset yang terkena sesuai dengan nilai dan perjanjian. Orang-orang yang dipindahkan yang memenuhi ketentuan a.l. yang sisa luas tanahnya kurang dari 60 m2 dan bangunannya kurang dari 21 m2 akan mempunyai pilihan untuk pindah ke kaveling baru dengan luas tanah 60 m2 dan luas bangunan 21 m2. Pembangunan lahan pemukiman kembali, pemindahan penduduk, dan pembayaran ganti rugi sesuai dengan RK-PTPKP diselesaikan
halaman

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

4 - 21

sebelum pelaksanaan konstruksi bagian proyek yang bersangkutan dimulai. c. PEMUKIMAN KEMBALI Pelaksanaan pembangunan infrastruktur bidang PU, khususnya pada Proyek Prasarana Jalan Strategis (SRIP - Strategis Roads Infrastructure Project) telah menerapkan kegiatan pemukiman kembali pada warga terkena proyek maupun pada warga yang secara fisik terpindahkan. Pemukiman kembali (Resettlement), adalah upaya/kegiatan memukimkan kembali warga terkena proyek ke lokasi baru yang memenuhi syarat sehingga dapat mengembangkan kehidupan yang lebih baik atau minimal sama dengan kondisi sebelumnya. Masyarakat terkena kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU adalah orang-orang atau institusi atau unit usaha yang karena pelaksanaan sub kegiatan mengalami atau akan mengalami dampak pada (i) tingkat kehidupannya; (ii) hak, pemilikan atau manfaat atas bangunan, tanah (tanah pertanian, tanah rumput dan tanah produktif lain), atau aset fisik lainnya yang diperoleh atau dimiliki, untuk sementara atau permanen; (iii) akses menuju aset produktif baik sementara atau permanen; atau (iv) tempat usaha, mata pencaharian, pekerjaan atau tempat tinggal atau habitat; Masyarakat yang secara fisik terpindahkan, adalah masyarakat terkena proyek yang mempunyai (i) sisa tanah dan bangunannya tidak layak untuk hunian atau tempat kerja, atau (ii) sisa tanahnya kurang dari 60 m2, atau (iii) sisa tanah pertaniannya tidak layak usaha; Praktek atas operasionalisasi pengadaan tanah yang telah dilakukan namun tidak diakomodir dalam pasal produk hukum antara lain tentang permukiman kembali. Kata lain dari bentuk ganti rugi berupa permukiman kembali dilaksanakan hanya sekedar memindahkan warga masyarakat yang terkena proyek pembebasan dari tempat yang lama ke tempat yang baru, tanpa diikuti dengan kegiatan untuk memulihkan kehidupan sosial ekonomi mereka. Hubungan antara rakyat sebagai pemilik tanah secara turun temurun, dengan tanah yang dimiliki tidak sekadar hubungan manusia dengan barang atau benda mati. Raihan kenikmatan yang tak terukur dalam Rp, walau luasan tanah menjadi berkurang karena warisan, mereka tetap merasa nyaman dan aman tinggal dalam komunitas yang dinamis. Secara ekonomis mereka mampu memprediksi nilai produktif tanah (cukup untuk kehidupan keluarga, bahkan investasi tanah walau fluktuatif tetap menjanjikan), harga tawar nilai
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 22

jual obyek pajak, mereka juga telah mengkalkulasi posisi strategis lokasi tanah yang prospektif. Kontribusi tanah milik bagi penataan lingkungan untuk menunjang komunitas lokal. Tanah yang mereka miliki - dalam tataran pendayagunaan - pun telah memberikan kegiatan produktif dan nilai ekonomi bagi tetangga dan atau warga sekitar dalam satu wilayah hunian. Berarti, tanah milik warga telah menghasilkan fungsi sosial. Di tengah masyarakat yang statis pun telah berkembang mekanisme jual beli tanah di antara mereka. Hubungan transaksi didasarkan pada kepentingan meningkatkan taraf hidup ekonomi dengan semangat gotong royong. Mereka kenal harga dan permintaan pasar berdasarkan nilai produktif dan lokasi strategis investasi di sektor-sektor yang dibutuhkan. Pasca Reformasi, masyarakat sudah memahami arti dibalik pembebasan tanah untuk kepentingan umum sekali pun. Pemikiran tentang perlunya pemulihan sosial ekonomi warga masyarakat yang terkena pembebasan tanah masih bukan sebagai solusi yang jitu. Bagi warga masyarakat yang sebelumnya tanah merupakan aset yang berharga, sebagai tempat usaha produktif, terpaksa kehilangan aset nya kerena mereka dipindahkan ketempat pemukiman yang baru. Pemulihan lokasi pemukiman yang baru bagi warga masyarakat seharusnya dibarengi dengan perencanaan pembangunan infrastruktur yang mendukung kegiatan dalam upaya pemulihan kehidupan sosial ekonomi warga masyarakat. Setidak-tidaknya masyarakat tidak akan menjadi lebih miskin sebelum tanah dibebaskan. 1) LOKASI PEMUKIMAN KEMBALI Lokasi yang dicadangkan untuk memukimkan kembali warga yang terpindahkan, dilengkapi dengan prasarana dan sarana umum yang mencukupi untuk mendukung pengembangan kehidupan sosial ekonomi yang baik, di antaranya: a) jalan kendaraan atau jalan setapak sesuai dengan kebutuhan; b) saluran drainase; c) sarana air minum, jika belum ada jaringan PDAM perlu tersedia air sumur yang memenuhi syarat kesehatan ; d) sambungan listrik; e) fasilitas kesehatan, pendidikan, tempat kerja, ibadah, olahraga dsb sesuai dengan besaran komunitas yang terbentuk; f) kemudahan angkutan umum.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 23

Lokasi yang dicadangkan untuk pemukiman kembali sebagaimana dimaksud di atas akan diumumkan secara luas sehingga masyarakat umum dapat mengetahui. Masyarakat terkena pembangunan infrastruktur bidang PU akan diberitahu mengenai kesiapan lokasi pemukiman kembali paling sedikit satu bulan sebelum pemindahan dan diberi kesempatan untuk meninjau lokasi tersebut. Pemindahan masyarakat dilaksanakan setelah prasarana dan sarana di lokasi pemukiman kembali selesai dibangun dan dinyatakan layak huni oleh direksi pengawas proyek dan tokoh masyarakat setempat 2) PRINSIP UMUM Pemukiman kembali secara tidak suka rela harus sedapat mungkin dihindari atau diminimalkan. Jika pemukiman kembali tidak dapat dihindarkan, masyarakat terkena kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU harus dibantu dalam upaya mereka untuk meningkatkan mata pencaharian dan standard hidup sehingga tingkat kehidupannya menjadi lebih baik atau setidak-tidaknya sama dengan tingkat kehidupan sebelumnya. Masyarakat terkena kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU akan mendapatkan kompensasi yang layak sesuai dengan perhitungan biaya penggantian riil (real replacement cost) atas hilangnya aset yang dimiliki sebagai akibat dari sub-proyek. Masyarakat terkena kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU harus mendapatkan informasi yang layak atas hak-haknya serta mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan pengadaan tanah dan pemukiman kembali. Apabila antara warga terkena proyek dan pemerintah kabupaten/kota tidak berhasil mencapai kesepakatan mengenai Resettlement Action Plan (RAP) selama lebih dari satu tahun, maka subproyek yang bersangkutan akan dikeluarkan dari program SRIP. Jika jumlah warga terkena proyek kurang dari 200 orang atau 40 KK, atau jika aset produktif yang hilang kurang dari 10% dan tidak terdapat warga yang secara fisik terpindahkan, maka Land Aqcuisition and Resettlement
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 24

Action Plan (LARAP) Sederhana dapat dilakukan. Selain dari kondisi tersebut, LARAP lengkap perlu dilakukan. Namun, ketentuan dilakukannya LARAP Sederhana atau LARAP Lengkap dalam setiap sub-proyek harus dikaji secara kasus per kasus. 3) PENTING/TIDAK PENTINGNYA PEMUKIMAN KEMBALI Rencana pemukiman kembali tidak melihat seberapa penting/tindak pentingnya dampak pemukiman kembali. Tingkat dampak dan jumlah masyarakat terkena dampak kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU, bukan sebagai faktor penentu diberlakukannya suatu pemukiman kembali. Pemukiman kembali ibarat menata ulang kehidupan masyarakat, baik dalam tataran individu, keluarga atau dalam satu tatanan komunitas. Pemukiman kembali diharapka tidak memutus mata rantai kehidupan masyarakat. Kendati terjadi pemukiman kembali, ada beberapa faktor pertimbagan : a) Kerangka kebijakan, apa sudah tersedia dalam NSPM, bersifat insidentil/kondisional, atau diperlukan kebijakan khusus?. b) Mendefinisikan entitelmen (bantuan/hak yang layak diterima masyarakat terkena dampak pembangunan inftasruktur bidang PU berdasarkan jenis kerugian yang dialami dan kelayakan, siapa yang akan menerima ganti rugi dan rehabilitasi serta bagaimana bentuk langkah ini? c) Perencanaan Jender, apakah hak dan kepentingan wanita sudah masuk dalam pertimbangan? d) Persiapan social, apakah kepentingan penduduk suku terasing dan kelompok rentan/rawan dipenuhi? e) Anggaran, bagaimana pengadaan lahan dan pemukiman kembali dibiayai? f) Batasan waktu, bagaimana pengadaan lahan dan pemukiman kembali sesuai dengan jadwal kegiatan pembangunan secara keseluruhan? 4) MIGRASI SECARA SUKARELA Pemindahan secara suka rela seperti migrasi dari desa ke kota dan program transmigrasi yang dikelola pemerintah, umumnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Penduduk yang ikut dalam pemindahan seperti ini (i) mungkin atas keinginan sendiri, berusia muda atau dewasa yang belum berumah tangga; atau (ii) rumah-tangga yang dikepalai laki-laki pada kategori (i) mereka bersifat dinamis, berinisiatif dan mau menghadapi risiko dalam mengejar kesempatan dan tantangan baru. Program transmigrasi, yang dilakukan oleh pemerintah, dan berhasil adalah yang
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 25

sering direncanakan dengan perhatian besar bukan saja terhadap tempat perumahan baru tetapi juga terhadap kesempatan memperoleh mata pencaharian, fasilitas sosial, organisasi kemasyarakatan serta kebutuhan sosial budaya dan agama. Perencanaan program seperti ini, pada umumnya, dibuat dengan seksama, melibatkan survai sumber daya alam termasuk keadaan agroklimatik di daerah pemukiman dan identifikasi pola tanam yang sesuai dan kesempatan mata pencaharian lain yang dapat berhasil. Transmigran dibantu untuk pindah ke lokasi baru, diberikan rumah dan bantuan makanan selama masa transisi, dilatih dan dibina bagaimana mengembangkan diri dan diberikan bantuan fasilitas di daerah transmigrasi, seperti mendapat pinjaman, pemasaran dan fasilitas lanjutan. 5) MENGHINDARKAN ATAU MEMINIMALKAN PEMUKIMAN KEMBALI Secara teknis, perencanaan umum maupun perencanaan teknis infrastruktur bidang PU dapat menyesuaikan dengan kondisi fisik lapangan, terutama pada lokasi padat penduduk, lahan produktif pertanian, daerah berkembang, dsb. Jika terjadi pemukiman kembali, diusahakan paling tidak seperti pola yang pernah ada, yaitu : a) Pemukiman kembali rudapaksa : suatu proyek pemukiman kembali bagi orang terkena dampak karena adanya pembangunan atau proyek yang mengakibatkan kerugian sehingga orang-orang tersebut tidak mempunyai pilihan kecuali berusaha membangun kembali kehidupannya, penghasilannya dan harta kekayaanya ditempat lain. Pemukiman kembali rudapaksa melibatkan penduduk dari berbagai tingkat usia dan jenis kelamin. Sebagian dari mereka dipindahkan ke tempat lain yang bertentangan dengan keinginannya. Kebanyakan mereka ini tidak suka mengambil resiko dan kurang dinamis, kurang inisiatif dan tidak menginginkan pindah ke lokasi baru ini dan tidak ingin melakukan pekerjaan baru. Kaum wanita dan rumah tangga yang kepala rumah tangganya wanita akan lebih menderita daripada kaum pria, karena ganti rugi seringkali diberikan kepada pria, dan rumah tangga yang kepala rumah tangganya wanita biasanya berstatus ekonomi lemah dan terbatas kemampuannya ke tempat-tempat fasilitas umum/sosial. Tanpa bantuan yang cukup, orang yang dimukimkan rudapaksa ini dapat menjadi miskin. Jika pemukiman ini tidak dapat dihindarkan, harus direncanakan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat dan kemiskinan turun, khususnya, bagi orang-orang rentan/rawan.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 26

b) Relokasi : Membangun kembali perumahan, harta kekayaan, termasuk tanah produktif dan prasarana umum di lokasi lain. Melalui identifikasi permasalahan, khususnya yang terkait dengan perumahan dapat dijaring pandangan keinginan masyarakat. Table 4.
Tabel 4.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PERUMAHAN
HASIL SURVEI Dibangunkan rumah layak huni di lokasi baru. MASALAH YG DIHADAPI FAKTOR PENYEBAB Relokasi pemukiman kembali / KENDALA UTAMA Akses ke tempat kerja, pendidikan, dll. KEINGINAN MASYARAKAT Bangun baru permanen. dan

Memulai

kehidupan baru. Akses ke sumber daya kunci terbatas.

Perbaikan rumah

Komunitas

berkurang. Adaptasi dengan infrastruktur terbangun.

50%-75% tanah dibebaskan

Pengaruh lingkungan eksternal / infrastruktur bid PU.

Perbaikan kebutuhan.

sesuai

4.2. PENGADAAN TANAH DALAM TAHAP PELAKSANAAN KONSTRUKSI Mengacu pada pengertian pengadaan tanah (adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah) maka data dan informasi tentang tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah sangat diperlukan sebagai tahap awal pengadaan tanah. Pelaksanaan konstruksi (Construction) dalam Sisdalmen Kementerian PU mempunyai tahap sesuai pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi Tahap Pra Kontra, Tahap Penandatangan Kontrak dan Tahap Pasca Penandatangan Kontrak. Untuk mendapatkan data dan informasi tentang kondisi eksisting tanah, Kementerian PU yang telah menyusun Proposal Rencana Pembangunan dapat mengajukan permohonan penetapan lokasi kepada Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan tembusan disampaikan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Sejalan dengan proses formal di BPN tersebut, pihak Kementerian PU melalui Satker atau UPT dapat melalukan proses informal ke masyarakat di calon lokasi kegiatan. Proses yang dilakukan bisa merupakan penajaman dari lingkup
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 27

dan hasil studi kelayakan. Agar tak terjadi tumpang tindih maupun duplikasi dengan tugas Panita Pengadaan Tanah (P2T), tak ada salahnya melakukan upaya proaktif atau langkah antisipatif. 4.2.1 PENETAPAN LOKASI KEGIATAN Sejalan dengan prosesi penetapan lokasi, Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta melakukan pengkajian kesesuaian rencana pembangunan dari aspek : i. tata ruang; ii. penatagunaan tanah; iii. sosial ekonomi; iv. lingkungan; serta v. penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan tanah. Pelaksanaan pengkajian kesesuaian rencana pembangunan didasarkan atas rekomendasi instansi terkait dan Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. Berdasarkan rekomendasi dimaksud, BupatilWalikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta menerbitkan keputusan penetapan lokasi. Keputusan penetapan lokasi sebagaimana dimaksud disampaikan kepada Kementerian PU selaku instansi pemerintah yang memerlukan tanah yang tembusannya disampaikan kepada Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota dan instansi terkait. Keputusan penetapan lokasi tersebut berlaku juga sebagai ijin perolehan tanah bagi Kementerian PU selaku instansi pemerintah yang memerlukan tanah. 4.2.2 PENGHORMATAN TERHADAP HAK ATAS TANAH Pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan tanah, pengadaannya perlu dilakukan secara cepat dan transparan dengan tetap memperhatikan prinsip penghormatan terhadap hak-hak yang sah atas tanah dan kepastian hukum. Secara cepat dan transparan, termasuk prinsip dalam pembangunan infrastruktur bidang PU yang juga merupakan pekerjaan konstruksi. Sebagai pekerjaan konstruksi yang dalam pelaksanaannya diikat dengan kontrak dan jadwal waktu.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 28

Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai Pengadaan Tanah bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh instansi pemerintah yang membutuhkan tanah serta oleh masyarakat pada umumnya. Hak atas tanah sebagai awal proses untuk mendapatkan hak untuk hidup (UU 39/1999 tentang HAK ASASI MANUSIA, yaitu dalam hal : i. Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan meningkatkan taraf kehidupannya. ii. Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin. iii. Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. a. KEPASTIAN HUKUM HAK ATAS TANAH Kepastian hukum dimulai atau termasuk batasan bahwa Kabupaten/Kota telah mempunyai RTRW. Dengan RTRW yang telah ditetapkan maka pengadaan dan rencana pemenuhan kebutuhan tanah, yang diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum dapat dilakukan. Pihak yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah adalah perseorangan, badan hukum, lembaga, unit usaha yang mempunyai hak penguasaan atas tanah dan/atau bangunan serta tanaman yang ada di atas tanah. b. PENGARUH HAK ATAS TANAH TERHADAP KONTRAK Proses pengadaan tanah kemungkinan menemukan berbagai kendala di lapangan, di lain pihak pekerjaan konstruksi tak bisa ditunda. Perpres 54/2010 tentang PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH telah mengatur jika dalam hal terdapat perbedaan antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan, dengan gambar dan/atau spesifikasi teknis yang ditentukan dalam Dokumen Kontrak, PPK bersama Penyedia Barang/Jasa dapat melakukan perubahan Kontrak yang meliputi : i. menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak; ii. menambah dan/atau mengurangi jenis pekerjaan; iii. mengubah spesifikasi teknis pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan; atau iv. mengubah jadwal pelaksanaan. 4.2.3 JAMINAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK Mengacu pada ganti rugi adalah penggantian terhadap kerugian baik bersifat fisik dan/atau nonfisik sebagai akibat pengadaan tanah kepada yang
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 29

mempunyai tanah, bangunan, tanaman, dan/atau benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah yang dapat memberikan kelangsungan hidup yang lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah. Ganti rugi tidak hanya didasarkan pada aspek Rupiah saja, tetapi aspek lainnya (sosial ekonomi). Outcome LARAP dirancang mengikuti prinsip yang sama dengan makna ganti rugi, yaitu memberikan kelangsungan hidup yang lebih baik dari tingkat kehidupan sosial ekonomi sebelum terkena pengadaan tanah. Prinsip ini membawa konsekuensi pada proses pemantauan dan evaluasi, yaitu pelaksanaannya dilakukan selama umur pakai infrastruktur publik yang dibangun. 4.2.4 PEMBANGUNAN YANG BERKEADILAN Berdasarkan identifikasi permasalahan pembangunan, pembangunan infrastruktur diprioritaskan pada penyediaan infrastruktur dasar agar dapat menjamin baik keberlangsungan fungsi masyarakat atau rumah tangga, maupun dunia usaha dalam rangka mewujudkan kesejahteraan, memperkecil kesenjangan, dan mewujudkan keadilan. Infrastruktur dasar merupakan infrastruktur yang harus disediakan oleh pemerintah karena tidak memiliki aspek komersial, sedangkan infrastruktur yang memiliki nilai komersial diharapkan dibiayai melalui partisipasi pihak swasta ataupun masyarakat melalu mekanisme unbundling maupun dual track strategy. Penyediaan infrastruktur dasar diprioritaskan untuk menjamin akses masyarakat terhadap jasa kegiatan infrastruktur, seperti air bersih, sanitasi, perumahan, transportasi, listrik serta informasi dengan harga terjangkau bagi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah; serta pengelolaan sungai beserta daerah tangkapan air, seperti pembangunan Banjir Kanal Jakarta dan penanganan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo untuk mengatasi bencana alam banjir di berbagai daerah. Pembangunan yang berkeadilan sesuai Inpres 3/2010 tentang PROGRAM PEMBANGUNAN YANG BERKEADILAN, meliputi program : i. Pro rakyat; ii. Keadilan untuk semua (justice for all); iii. Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals - MDGs).

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 30

4.2.5 PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA Esensi pembangunan yang berkeadilan termasuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia, melalui pembangunan infrastruktur dasar. Terkait dengan pengadaan tanah, maka pilihan untuk tetap tinggal di sekitar tanah yang dibebaskan atau pindah ke lokasi lain yang harus tersedia (sebagai relokasi atau ganti untung). Pilihan lain seperti menerima uang tunai, ikut menanam modal usaha, tukar guling, sebagai tenaga kerja, dan sebagainya dapat dirumuskan dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kearifan lokal. 4.2.6 MASYARAKAT SEBAGAI MITRA Belajar dari berbagai pengalaman dalam membangunan infrastruktur bidang PU, tentu banyak faedah, manfaat maupun hikmah yang dapat dijadikan pedoman selanjutnya. Masyarakat sebagai mitra (dalam tataran pemangku kepentingan) lebih ke arah penerapan pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach) dengan lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, baik dalam pemilihan sistem yang dibangun, pola pendanaan, maupun tata cara pengelolaannya. 4.3. DAMPAK PENGADAAN TANAH DALAM TAHAP PASCA KONSTRUKSI Tahap Operasi dan Pemeliharaan dalam Sisdalmen Kementerian PU, menandakan bahwa telah terjadi Serah Terima Pekerjaan. 4.3.1 DUKUNGAN DAN KERJA SAMA ANTAR DAERAH Infrastruktur bidang PU memerlukan lahan luas di suatu lokasi (irigasi/waduk) atau membutuhkan lahan yang memanjang (seperti jalan, jalan tol, pematusan, jaringan pipa air minum) dapat melintas lebih dari satu batas wilayah administratif. Masing-masing pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota mungkin mempunyai pedoman mengenai Pemukiman Kembali yang berbeda, cara pelaksanaan yang berbeda, kemampuan yang berbeda dan sumber daya yang berbeda. Kerja sama antar daerah diawali dari bidang penataan ruang, karena penataan ruang daerah tidak dapat dibatasi oleh administratif daerah tapi lebih ditentukan oleh terbangunnya kawasan yang fungsional dan lingkungan ekosistem wilayah. Peran provinsi sangat menentukan dalam rangka pelaksanaan penataan ruang terutama untuk mensinergikan pelaksanaan penataan ruang di wilayah perbatasan antar kabupaten/antar kota/ antar kabupaten-kota, pengembangan infrastruktur lintas daerah, dan pengendalian pemanfaatan ruang diantara kedua wilayah administrasi yang berbatasan.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 31

Pembangunan infrastruktur berbasis penataan ruang untuk mendukung pusat-pusat produksi dan ketahanan pangan, mendukung keseimbangan pembangunan antar daerah, meningktakan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman dan mendorong industri konstruksi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. Melalui kerja sama daerah diharapkan dapat mengurangi kesenjangan daerah dalam penyediaan pelayanan umum khususnya yang ada di wilayah terpencil, perbatasan antar daerah dan daerah tertinggal. 4.3.2 OBJEK KERJA SAMA DAERAH Objek kerja sama daerah adalah seluruh urusan pemerintahan yang telah menjadi kewenangan daerah otonom dan dapat berupa penyediaan pelayanan publik (adalah pelayanan yang diberikan bagi masyarakat oleh Pemerintah yang berupa pelayanan administrasi, pengembangan sektor unggulan dan penyediaan barang dan jasa seperti rumah sakit, pasar, pengelolaan air bersih, perumahan, tempat pemakaman umum, perparkiran, persampahan, pariwisata, dan lain-lain). Pelayanan publik (UU 25/2009 tentang PELAYANAN PUBLIK) adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam r angka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Objek yang dapat dikerjasamakan meliputi seluruh urusan yang menjadi kewenangan daerah otonom, aset daerah dan potensi daerah serta penyediaan pelayanan umum. Pelaksanaan kerja sama harus berpegang pada prinsip efisiensi, efektivitas, sinergi, saling menguntungkan, kesepakatan bersama, itikad baik, mengutamakan kepentingan nasional dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, persamaan kedudukan, transparansi, keadilan dan kepastian hukum. Objek kerja sama merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kerja sama untuk selanjutnya menentukan pilihan bentuk kerja sama yang akan dilaksanakan. 4.3.3 SINKRONISASI KEGIATAN PUSAT DAN DAERAH Berdasarkan kebijakan penganggaran (2010), rambu-rambu sinkronisasi kegiatan pusat dan daerah : a. Memilih kegiatan dengan merujuk pada pembagian urusan dan kewenangan pusat dan daerah; b. Mensinkronisasi antara kegiatan pada Renja K/L dengan kegiatan di daerah yang dibiayai dari Dana Perimbangan dan Dana Otsus.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 32

Kegiatan perencanaan (daerah) diatur Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Sesuai dengan undang-undang tsb, perencanaan pembangunan nasional mencakup penyelenggaraan perencanaan makro semua fungsi pemerintahan yang meliputi semua bidang kehidupan secara terpadu dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perencanaan pembangunan nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh Kementerian/Lembaga dan perencanaan pembangunan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Perencanaan Pembangunan Nasional tersebut menghasilkan: Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM); Rencana Pembangunan Tahunan (RKP = Rencana Kerja Pemerintah). Dokumen rencana pembangunan yang disusun oleh pemerintah daerah sesuai dengan SPPN adalah sebagai berikut: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Rencana Pembangunan Tahunan/Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD).
Tabel 4.2. Substansi Inti/Kegiatan Prirotas Tanah dan Tata Ruang SUBSTANSI INTI/KEGIATAN PRIORITAS Tanah dan Tata Ruang Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan tata ruang secara terpadu. Tanah dan Tata Ruang Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan tata ruang secara terpadu. SASARAN PELAKSANAAN DI WILAYAH Terlaksananya sinkronisasi kebijakan terkait tata ruang dan pertanahan.

INSTANSI PELAKSANA BPN, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, Setneg, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan. Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kemeneg LH, Kementerian Nakertrans, Kementerian PU, Kemeneg PDT.

Penyusunan RPP tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 33

4.3.4 TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN Kementerian PU sebagai penanggung jawab program/kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU, selain memfungsionalisasikan P2T yang telah dibentuk untuk menunjang penyelenggaraan pembangunan pada tahapan pengadaan tanah, sedangkan peran pemerintah kabupaten/kota pada tahapan pemukiman kembali dan pemberdayaan. Kontribusi pemerintah kabupaten/kota dapat berupa : a. Peningkatan keterampilan warga terutama penganggur sehingga memiliki keterampilan siap pakai sesuai peluang usaha yang ada. b. Pemberdayaan Perempuan dalam bidang Perekonomian bagi yang memilki keterampilan. c. Pelatihan Manjemen Usaha dan Keterampilan, Pembinaan usaha dan membangun kemitraan. d. Suntikan modal untuk pengembangan dan peningkatan uasaha kecil Menengah. e. Bantuan pinjaman modal/tambahan modal dan pendamping usaha. f. Penyediaan informasi lapangan kerja, penyediaan lapangan kerja/usaha. g. Pemberian Bea siswa kepada anak yatim/miskin/anak usia sekolah yang putus sekolah. h. Memenuhi kebutuhan anak usia sekolah dari keluarga dampak pembangunan di lembaga pendidikan formal maupun informal dalam pemenuhan gizi. i. Meringankan beban pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. j. Membentuk TPA anak-anak, pengajian remaja dan dewasa. k. Santunan untuk fakir miskin, janda dan orang jompo. l. Membentuk organisasi kepemudaan tingkat lingkungan/kelurahan. 4.3.5 MASYARAKAT SEBAGAI PEMANFAAT/PENGELOLA LAHAN SEKITAR LOKASI. Sejauh ini kita mengenal adanya pekerjaan yang dapat dilakukan dengan Swakelola meliputi a.l. pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi langsung masyarakat setempat. Partisipasi langsung masyarakat setempat antara lain pekerjaan pemeliharaan saluran irigasi tersier, pemeliharaan hutan/tanah ulayat, pemeliharaan saluran/jalan desa. Pada tahap pengoperasian dan pemeliharaan terdapat lahan sekitar lokasi infrastruktur bidang PU yang dapat dimanfaatkan maupun dikelola oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh : a. PERAN SERTA MASYARAKAT DAN SWASTA DALAM PEMANFAATAN LAHAN SEKITAR TPA. 1) Ikut serta dalam pengambilan keputusan penentuan pemanfaatan lahan di sekitar TPA.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 34

2) Ikut serta dalam penyelesaian sengketa pemanfaatan lahan di sekitar TPA melalui: Musyawarah mufakat; Pengadilan; dan Di luar pengadilan. 3) Memiliki hak untuk: Mengetahui rencana pemanfaatan lahan di kawasan sekitar TPA; dan Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai rencana pemanfaatan lahan. 4) Memiliki kewajiban untuk: Berlaku tertib dalam keikutsertaan kegiatan pemanfaatan ruang; dan Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang. b. PERAN SERTA MASYARAKAT DAN SWASTA DALAM PENGELOLAAN KAWASAN SEKITAR TPA. 1) Memelihara kualitas ruang dan menaati ketentuan rencana pemanfaatan ruang disekitar kawasan TPA yang telah ditetapkan. 2) Memiliki hak untuk: Mengajukan keberatan kepada pihak yang berwenang terhadap pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan pedoman; dan mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan pedoman kepada pihak yang berwenang; dan Mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai denganpedoman menimbulkan kerugian. 3) Memiliki kewajiban untuk: Memanfaatkan ruang sesuai dengan pedoman pemanfaatan ruang kawasan sekitar TPA sampah; dan Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh pedoman dinyatakan sebagai kawasan yang harus diatur. 4.3.6 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Selain masyarakat mampu mengorganisir diri, baik yang masih berada di sekit ar lokasi infrastruktur bidang PU, khususnya yang berada di tempat baru (relokasi atau pemukiman kembali), Kementerian PU maupun organisasi perangkat daerah tidak bisa lepas tangan.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 35

Kepedulian Pemerintah maupun pemerintah kabupaten/kota terhadap masyarakat terkena dampak pembangunan infrastruktur bidang PU, terutama di pemukiman baru, melalui program/kegiatan tertentu tetap dipantau. Kebehasilan masyarakat dengan lingkungan barunya, bisa diidentifikasi a.l. pada mendapatkan kegiatan produktif/mata pencaharian baru, akses ke pendidikan, menyatu dengan lingkungan sampai termasuk kontribusi pemerintah kabupaten/kota. Salah satu bentuk pemantauan dan evaluasi, seperti dalam Tabel 4.3.
Tabel 4.3. KONDISI PERUMAHAN
PROFIL DAN KARAKTERISTIK PERUMAHAN MASYARAKAT TERKENA DAMPAK NAMA MASYARAKAT STATUS KEPEMILIKAN RUMAH sendiri sewa lainlain KONDISI RUMAH SEBELUM PEMBANGUNAN permanen Semi permanen kayu KONDISI RUMAH DI LOKASI BARU permanen semi permanen kayu

1. Agus Bambang 2. Bambang Agus 3.

___________________________________________________________________

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

4 - 36

Berbagai faktor pertimbangan yang harus dicermati, secara yuridis maupun substansi akan mempengaruhi/menentukan pengadaan tanah dalam mendukung pembangunan infrastruktur bidang PU. Tinjauan berikut bersifat generik, dan mungkin ideal, untuk mengilustrasikan langkah-langkah pengadaan tanah dan interaksinya dalam tiga kegiatan utama, yaitu: (i) pendekatan rencana anggaran rutin Pemerintah Kabupaten/Kota di Indonesia, (ii) tahapan teknis yang diperlukan dalam pengadaan tanah, dan (iii) tindakan-tindakan dan kegiatan-kegiatan safeguard. Pemerintah Kabupaten/Kota yang terlibat diminta untuk mempertimbangkan pentahapan dan unsur-unsur bab ini, sebagai persyaratan minimum dalam penyiapan dan pelaksanaan kegiatan. Pendekatan ini berlaku baik untuk kegiatan/investasi 1 tahun maupun tahun jamak (multi-year). Untuk kegiatan tahun jamak, Pemerintah Kabupaten/Kota yang terlibat perlu mengalokasikan dana operasi dan pemeliharaan tiap tahun anggaran. Untuk menjamin alokasi dana operasi dan pemeliharaan tersebut, Pemerintah Kabupaten /Kota perlu membuat MOU dengan DPRD setempat. Berkaitan dengan alokasi anggaran untuk kebutuhan safeguard, patut dicatat bahwa anggaran untuk penyiapan ANDAL dan RKL/RPL harus dialokasikan bersamaan dengan alokasi anggaran untuk perencanaan dan desain, baik melalui APBD maupun KPS. Anggaran ini biasanya dialokasikan setahun sebelum investasi. Anggaran untuk pemantauan dan pelaksanaan rencana pengelolaan perlu dialokasikan dalam anggaran daerah selama tahap pelaksanaan maun tahap operasi dan pemeliharaan. 5.1. FOKUS KEBIJAKAN PENGADAAN TANAH Masyarakat sebagai pemegang hak atas tanah, dan/atau pemilik bangunan, dan/atau pemilik tanaman, dan/atau pemilik benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah, di pihak lain merupakan atau termasuk sebagai pemangku kepentingan. Karakteristik infrastruktur bidang PU, a.l. dalam hal lokasi yang membentuk jaringan, terpusat, menyebar ataupun karena memerlukan dukungan K/L lain
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 1

(sebagai pembangunan terpadu) maupun mendukung program/kegiatan daerah. Koordinasi dengan K/L atau dengan organisasi perangkat daerah, dimulai dari tahap perencanaan sampai tahap pemanfaatan hasil pembangunan infrastruktur bidang PU. 5.1.1 SINKRONISASI DENGAN BPN Kementerian PU dalam perencanaan maupun praktek pengadaan tanah dapat memanfaatkan fungsi BPN, yang meliputi : a. perumusan kebijakan nasional di bidang pertanahan; b. perumusan kebijakan teknis di bidang pertanahan; c. koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan; d. pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang pertanahan; e. penyelenggaraan dan pelaksanaan survei, pengukuran dan pemetaan di bidang pertanahan; f. pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka menjamin kepastian hukum; g. pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah; h. pelaksanaan penatagunaan tanah, reformasi agraria dan penataan wilayah-wilayah khusus; i. penyiapan administrasi atas tanah yang dikuasai dan/atau milik negara/daerah bekerja sama dengan Departemen Keuangan; j. pengawasan dan pengendalian penguasaan pemilikan tanah; k. kerja sama dengan lembaga-lembaga lain; l. penyelenggaraan dan pelaksanaan kebijakan, perencanaan dan program di bidang pertanahan; m. pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan; n. pengkajian dan penanganan masalah, sengketa, perkara dan konflik di bidang pertanahan; o. pengkajian dan pengembangan hukum pertanahan; p. penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan; q. pendidikan, latihan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan; r. pengelolaan data dan informasi di bidang pertanahan; s. pembinaan fungsional lembaga-lembaga yang berkaitan dengan bidang pertanahan; t. pembatalan dan penghentian hubungan hukum antara orang, dan/atau badan hukum dengan tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; u. fungsi lain di bidang pertanahan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 2

5.1.2 PROGRAM/KEGIATAN BERBASIS DAERAH Berbagai kemasan dalam pembangunan infrastruktur bidang PU, khususnya yang berbasis pinjaman/hibah luar negeri, dalam tataran dan tatanan tertentu dapat menunjang pengadaan tanah. Seperti Urban Sector Development Reform Project (USDRP) bertujuan mendukung Pemerintah Kabupaten/Kota dalam usahanya menanggulangi persoalan kemiskinan, mendorong perkembangan ekonomi lokal, dan meningkatkan layanan perkotaan secara berkelanjutan dan berdasarpermintaan (demand-driven). Tujuan akhir upaya-upaya ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup warga kota. Untuk mencapai tujuan tersebut, proyek akan mendorong Pemerintah Daerah yang terlibat dalam proyek ini untuk: Memilih investasi prioritas untuk pengembangan prasarana, dengan berdasar pada Strategi Pembangunan Jangka Panjang dan Program Jangka Menengah (PJM) yang telah disepakati; Terlibat dalam reformasi tata-pemerintahan yang mendorong partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas, serta reformasi dalam manajemen internal yang berfokus pada pengadaan barang dan jasa, dan manajemen keuangan Mengembangkan kapasitas kelembagaan dan peraturan-perundangan untuk menjamin pemberian layanan perkotaan yang lebih baik; Menentukan dan melaksanakan investasi prioritas secara partisipatif dan akuntabel. USDRP menjawab kebutuhan masyarakat sipil, yang berubah pada lingkungan yang terdesentralisasi dan demokratis. USDRP dibangun di atas pendekatan proyek-proyek pengembangan perkotaan sebelumnya, seperti IUIDP (Integrated Urban infrastructure Program), yang menempatkan investasi prasarana sebagai tujuan utamanya. Namun demikian, USDRP memandang investasi dalam infrastruktur hanyalah salah satu bagian dari pendekatan pembangunan yang lebih luas dan komprehensif. Unsur-unsur strategis lainnya, antara lain, adalah pembentukan dan pelaksanaan reformasi tata-pemerintahan secara menyeluruh dan peningkatan kapasitas pelayanan publik. USDRP mendorong Pemerintah Kota/Kabupaten yang terlibat dalam proyek ini untuk mengidentifikasi proyek melalui pendekatan open-menu. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembangunan perkotaan, Pemerintah Kabupaten/Kota dapat melakukan investasi tanpa batasanspesifik tertentu. Sektor investasi utama meliputi: pekerjaan umum, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Proses identifikasi dan seleksi kebutuhan proyek perlu
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 3

dilakukan secara partisipatif, dengan melibatkan: Pemerintahan Kabupaten/ Kota, DPRD dan Forum Stakeholders. Konsisten dengan pendekatan ini, USDRP tidak menetapkan plafon angka bagi usulan proyek. Namun proyek-proyek yang diajukan harus layak secara sosial, lingkungan dan ekonomi, dan telah termaktub dalam Program Jangka Menengah (PJM) yang disepakati. Jumlah pinjaman bagi masing-masing Pemerintah Kabupaten/Kota bergantung pada kemampuan keuangannya masing-masing. Sesuai namanya, investasi yang terkait dengan USDRP hanya akan dilakukan di wilayah perkotaan dan tidak akan memasuki wilayah yang dilindungi. Hal ini mempengaruhi jenis kerangka safeguard yang diperlukan oleh sebagian terbesar subproyek USDRP, yaitu lingkungan, pengadaan tanah dan pemukiman kembali, dan warga terasing dan rentan. Kerangka safeguard lingkungan ini merupakan salah satu dari kerangka safeguard dimaksud. 5.2. ALTERNATIF PENGADAAN TANAH Berbagai kemungkinan dalam pengadaan tanah, termasuk kondisi masyarakat maupun kesiapan pemerintah kabupaten/kota, serta dukungan yuridis yang bersifat dinamis. 5.2.1 MEKANISME PENGADAAN TANAH Pengadaan tanah berbeda dengan pengadaan barang/jasa Pemerintah lainnya, yakni tidak perlu melalui pelelangan umum. Pengadaan tanah dilakukan melalui kepanitiaan tersendiri di luar Panitia Pengadaan Barang/Jasa yang telah ditetapkan oleh KPA yaitu dilaksanakan oleh P 2T yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah DKI Jakarta dalam hal pengadaan tanah yang luasnya lebih dari 1 (satu) hektar atau dilaksanakan secara langsung melalui jual beli, tukar menukar, atau cara lain yang disepakati para pihak. Berkaitan dengan percepatan pembangunan proyek infrastruktur terutama adanya ketidakpastian dalam hal pengadaan tanah, diperlukan suatu mekanisme pengadaan tanah yang mendukung. 5.2.2 KONFRIMASI PENGADAAN TANAH Sebelum melaksanakan pengadan tanah untuk kepentingan umum pihak instansi/satker terlebih dahulu perlu melakukan konfirmasi secara formal kepada instansi terkait (Dinas Tata Kota) setempat mengenai Rencana Tata Ruang, baik menyangkut peruntukan ataupun maksimum luasan yang dapat dibangun, termasuk melakukan konfirmasi kepada Kantor BPN untuk keabsahan Sertifikat.
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 4

Konfirmasi perlu dilakukan dalam rangka pengamanan dan legalitas status tanah, terkait dengan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan, seperti di DKI ternyata untuk daerah-daerah tertentu luasan bangunan yang diperkenankan maksimal 20% dari luas tanah, hal tersebut dalam rangka mempertahankan ruang hijau atau memperhitungkan penyerapan air agar tidak banjir. 5.2.3 P2T INTERNAL SATKER Pengadaaan tanah selain bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) Perpres 36 Tahun 2005 jo Perpres 65 tahun 2006, yakni pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan instansi pemerintah, yang dimiliki pemerintah atau pemda, dapat dilakukan secara langsung melalui jual beli, tukar menukar, atau cara lain yang disepakati kedua belah pihak. Pengadaan dimaksud dapat dilakukan tanpa melalui P2T yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat, Namun untuk transparansi dan agar memperoleh harga yang wajar, pihak Satker hendaknya membentuk P 2T internal dalam rangka membantu KPA.

5.2.4 ASAS MUSYAWARAH Meskipun dalam pelaksanaan pengadaan tanah tidak termasuk kategori untuk kepentingan umum, namun pelaksanaannya diharapkan dapat ditempuh dengan musyawarah dan hasil kesepakatan bersama dan untuk tertib administrasi dan pengamananya perlu dibuatkan surat undangan formal dan Berita Acara Kesepakatan disamping disaksikan petugas /pejabat yang berwenang (minimal lurah/camat) dan dibuatkan dokumentasi. 5.2.5 PENETAPAN HARGA GANTI RUGI Harga yang dipergunakan sebagai dasar pembayaran/kesepakatan adalah NJOP yang ditetapkan KP-PBB setempat. Namun jika harga tanah tersebut melebihi NJOP disarankan untuk memperhatikan Nilai Jual Obyek Pajak tahun berjalan berdasarkan Penilaian Lembaga/Tim Penilai Harga Tanah yang ditunjuk Panitia. Lembaga Penilai Harga Tanah adalah lembaga yang ditetapkanoleh Bupati/Walikota dan sudah mendapat lisensi dari BPN, sedangkan dalam hal di Kab/Kota belum terdapat lembaga dimaksud Bupati/Walkota dapat membentuk Tim Penilai Harga Tanah. Keanggotaan Tim Penilai Harga Tanah terdiri dari unsur-unsur instansi yang membidangi bangunan/dan atau tanaman, instansi pusat yang membidangi pertanahan nasional, instansi pelayanan PBB, ahli yang berpengalaman
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 5

sebagai penilai harga tanah, dan akademisi yang mampu menilai harga tanah/bangunan/tanaman atau benda lain yang berkaitan dengan tanah. Tim Penilai yang ditunjuk Bupati atau minimal data pendukung lainnya seperti Surat Keterangan Harga Pasar yang diketahui oleh Lurah dan Camat setempat). Khusus dalam hal pembebasan tanah, Perpres 65/2006 terdapat 3 (tiga) alternatif yang bisa ditempuh: pertama, masyarakat menerima uang ganti rugi berdasarkan musyawarah; kedua, jika mereka memerlukan tanah lagi, maka Pemerintah bisa mencarikan tempat lain sebagai penggantinya dan jika jumlahnya banyak dan minta di-resttlement maka kemungkinan bisa saja diresettlement; sedangkan alternatif ketiga, dana ganti rugi tanah dapat dikonversi menjadi saham proyek infrastruktur yang bersangkutan. 5.2.6 BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) Mengingat yang melakukan pembelian adalah instansi pemerintah, maka sesuai ketentuan Ditjen Pajak, pengadaan tanah tersebut tidak dipungut BPHTB, untuk itu perlu dimintakan Surat Keterangan Bebas BPHTB dari KPPBB setempat atau Direktur PBB sesuai kewenangannya. 5.2.7 PENGURUSAN SERTIFIKASI Untuk menampung pengeluaran yang tidak resmi dalam penerbitan/ balik nama Sertifikat Tanah yang kurang tidak dapat dipertanggung-jawabkan, maka dalam pengurusan/ pembuatan Akta Jual Beli di Notaris agar dimasukkan komponen pengurusan penyelesaian Sertifikat Has Atas Tanah atau Pelepasan Hak Atas Tanah dengan menerbitkan Surat Perintah Kerja atau Surat Perjanjian/Kontrak tersendiri. 5.2.8 TATA CARA PEMBAYARAN TANAH Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan No.PER-66/2005 dilakukan melalui mekanisme pembayaran Langsung (LS). Namun apabila tidak mungkin dilaksanakan dengan LS, dapat dilakukan melalui UP/TUP. Sedangkan untuk pembayaran biaya panitia pengadaan tanah diatur dalam Peraturan Dirjen Perbendaharaan No. PER-31/PB/2008 tentang MEKANISME PEMBAYARAN
BIAYA PANITIA PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM YANG DANANYA BERSUMBER DARI APBN.

Untuk pembayaran pengadan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP terlebih dahulu harus mendapatkan ijin dispensasi dari Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan untuk satker pusat pada K/L atau Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk Satker Instansi Vertikal, sedang-kan besaran
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 6

uangnya harus mendapatkan dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku, yakni di bawah 200 juta rupiah oleh Kepala KPPN, sedangkan di atas 200 juta rupiah oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan. Mencermati kompleksitas permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam proses pengadaan tanah, komitmen P2T saja tidaklah cukup. Patut diingat bahwa pengadaan tanah oleh Pemerintah diatur dan dibatasi oleh ketentuan dan peraturan-perundangan. Dengan demikian, pada setiap langkahnya memiliki implikasi hukum, terutama yang berkenaan dengan penggunaan uang negara. a. Persyaratan SPP-Langsung: Sebagai dokumen pendukung dalam penerbitan SPP-LS antara lain adalah: 1) Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari 1 (satu) hektar di Kabupaten/Kota; 2) Photo kopi bukti kepemilikan tanah/sertifikat hak atas tanah; 3) Kuitansi pembayaran; 4) SPPT PBB tahun transaksi; 5) Surat Persetujuan Harga; 6) Pernyataan dari penjual bahwa tanah tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam agunan; 7) Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli dihadapan PPAT; 8) SSP Pph final atas pelepasan hak = 6%; 9) Surat pelepasan adat (bila diperlukan). b. Persyaratan SPP-UP/TUP: 1) Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari 1 (satu) hektar dilengkapi persyaratan daftar nomitatif pemilik tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA; 2) Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari 1 (satu) hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di Kabupaten /Kota setempat dan dilengkapi dengan daftar nominatif pemilik tanah dan besaran harga tanah yang ditandatangani oleh Kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan tanah; 3) Ijin dispensasi pembayaran dengan UP/TUP dari Kantor Pusat Ditjen PB atau untuk satker pusat K/L atau Kanwil DJPB untuk satker Instansi Vertikal dan Ijin dispensasi permintaan UP/TUP dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan/KPPN setempat sesuai besarannya untuk satker Instansi Vertikal.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 7

Dokumen yang dipergunakan sebagai data pendukung pada setiap satker baik untuk pembayaran melalui SPP-LS maupun melalui UP/TUP pada dasarnya tetap sama, sehingga pada setiap satker harus menyimpan dokumen, sebagai dokumen arsip sekaligus dipergunakan sebagai bahan untuk pemeriksaan instansi yang berwenang. _________________________________________________________________

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

5- 8

Formulasi pengadaan tanah berdasarkan pengalaman Kementerian PU selama ini, ada yang bersifat ideal, sesuai standar baku, melalui tahapan yang sistematis, hubungan operasional yang bersifat seri sampai kepada modus operasional yang bersifat praktis, luwes, simple, hubungan operasional yang bersifat pararel atau yang paling mungkin dikerjakan sesuai rencana. Pengadaan tanah pada lokasi yang berdekatan, belum tentu akan mengalami proses dan prosedur yang sama, tingkat kemudahan/kesulitan yang sama, waktu penyelesaian yang sama, kendala dan masalah yang sama. Pembangunan infrastruktur bidang PU tak lepas dari pekerjaan konstruksi; pengadaan barang/jasa pemerintah; perencanaan, pemrograman dan penganggaran; sinkronisasi kegiatan pusat dengan daerah; koordinasi dengan antar K/L. 6.1. KESIMPULAN Berbagai faktor pertimbangan yang akan mempengaruhi/menentukan pengadaan tanah, dimulai dari : 6.1.1 MASYARAKAT SEBAGAI PEMEGANG HAK ATAS TANAH a. Masyarakat sebagai pihak yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah tidak hanya masyarakat individual atau perseorangan, tetapi juga sebagai badan hukum, lembaga, unit usaha yang mempunyai hak penguasaan atas tanah dan/atau bangunan serta tanaman yang ada di atas tanah. b. Masyarakat sebagai pemegang hak atas tanah, dan/atau pemilik bangunan, dan/atau pemilik tanaman, dan/atau pemilik benda-benda lain yang berkaitan dengan tanah, di pihak lain merupakan atau termasuk sebagai pemangku kepentingan. c. Masyarakat terkena dampak pembangunan baik selama pekerjaan konstruksi maupun pada tahap operasi dan pemeliharaan.

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

6- 1

6.1.2 PIHAK TERKAIT PENGADAAN TANAH Pengadaan tanah merupakan tahapan yang sistematis serta melibatkan banyak pihak, mulai sejak usulan penetapan lokasi sampai tahap operasi dan pemeliharaan. a. Koordinasi dengan BPN yang tugas dan fungsinya bergerak di bidang pertanahan, baik secara administratif maupun teknis lapangan. b. Koordinasi dengan K/L dan organisasi perangkat daerah yang menangani fungsi, peruntukan atau lingkungan tertentu. c. Sinkronisasi program/kegiatan pembangunan infrastruktur bidang PU dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. d. Musrenbang dilanjutkan dengan koordinasi dengan organisasi perangkat daerah. 6.1.3 KARAKTERISTIK INFRASTRUKTUR BIDANG PU Lokasi pembangunan infrastruktur bidang PU sangat bervariasi, mulai dari yang terpusat di satu lokasi, menyebar atau yang membentuk jaringan akan mempengaruhi/menentukan kebutuhan tanah. a. Pembangunan infrastruktur bidang PU pada umumnya membutuhkan waktu lebih dari 1 (satu) tahun anggaran. b. Pembangunan infrastruktur bidang PU sebagai pekerjaan konstruksi dilaksanakan melalui mekanisme pengadaan barang/jasa pemerintah. c. Pembangunan infrastruktur bidang PU menunjang program nasional, terkait dengan sektor lainnya sehingga membutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan. d. Pembangunan infrastruktur bidang PU terkait dengan kebutuhan dasar manusia maupun kebutuhan daerah. 6.2. REKOMENDASI Berdasarkan kesimpulan tadi, ada beberapa item yang perlu ditingkatkan : 6.2.1 PRODUK HUKUM Peraturan perundang-undangan bertujuan untuk menjamin agar pembangunan infrastruktur bidang PU bisa dilaksanakan, juga memberikan kepastian hukum bagi pihak pemegang hak atas tanah yang terkena pembebasan. a. Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum perlu dukungan dalam bentuk Undang-Undang dan kelengkapannya. b. Pengadaan tanah juga mengacu pada atau terkait dengan sektor lain (penataan ruang, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, penggunaan kawasan hutan, kebijakan sektoral).
Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

6- 2

c. Di tingkat operasional, tiap K/L menetapkan NSPK yang berlaku nasional sebagai landasan yuridis secara administratif maupun teknis. d. Di lingkungan Kementerian PU, NSPK yang ada (yang ditetapkan oleh Menteri maupun produk satminkal), perlu dievaluasi secara berkala serta diselaraskan dengan jasa konstruksi; pengadaan barang/jasa pemerintah; perencanaan, pemrograman dan penganggaran; kerja sama pemerintah dengan swasta; tata cara penggunaan dana pinjaman/hibah luar negeri. 6.2.2 TANGGUNG JAWAB KELEMBAGAAN a. Kementerian PU dalam melaksanakan pembangunan, kepedulian terhadap masyarakat atau pihak pemegang hak atas tanah tidak hanya pada saat pembebasan atau prakonstruksi tetapi juga sampai tahap pasca konstruksi (operasi dan pemeliharaan), termasuk pemanfaatan kawasan sekitar lokasi bangunan. b. Bersama K/L yang mempunyai program/kegiatan berbasis masyarakat dapat dilakukan keterpaduan pelaksanaan. c. Memberikan informasi dan akses ke sumber daya kunci, agar masyarakat dan aparat kelurahan/desa dapat terlibat secara aktif dan menerus. 6.2.3 MASYARAKAT SEBAGAI SUBYEK a. Pelibatan masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan sangat dimungkinkan, baik masyarakat yang tanahnya dibebaskan maupun masyarakat sekitar lokasi bangunan. b. Rencana Tindak Masyarakat atau bentukan dari masyarakat mengorganisir diri perlu dukungan pihak lurah/desa dalam mendapatkan program/kegiatan pembangunan. c. Program/kegiatan berbasis masyarakat dengan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat melalui mekanisme perencanaan yang ada. _________________________________________________________________

Laporan Akhir . Paket 12 . TA 2010

halaman

6- 3