Anda di halaman 1dari 13

Proyek Statistik Dasar

Analisis Data

Proyek ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata Kuliah statistik Dasar Disusun oleh :

1. 2. 3. 4.

Cici Putri R Enggar M Rina Dwi R Yuniarti K

(K3310018) (K3310031) (K3310074) (K3310088)

Pendidikan Kimia Jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta 2013

Analisis Data
A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran yang baik sudah seharusnya bukan hanya sekedar transfer pengetahuan tetapi juga memfasilitasi siswa untuk terlibat aktif selama proses pembelajaran. Salah satu cara untuk membuat siswa lebih terlibat aktif yaitu dengan interaksi kooperatif di dalam kelas, membuat mereka untuk mengajarkan materi pelajaran satu sama lain dan menggali lebih dalam pemahaman materi yang diajarkan (Smith et al., 2005). Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran merupakan hal yang utama, akan tetapi keadaan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Guru berperan sebagai satu-satunya sumber informasi, sedangkan siswa hanya pasif menerima informasi. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang ada saat ini kebanyakan masih berpusat pada guru (teacher centered). Berdasarkan observasi yang telah diakukan peneliti hal serupa terjadi di SMA Negeri 4 Magelang. diperoleh informasi bahwa penyampaian materi pelajaran kimia, khususnya materi sistem koloid masih menggunakan model pembelajaran konvensional. Guru lebih terfokus pada ketercapaian target materi pelajaran bukan pada keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Kondisi yang demikian tidak hanya mengakibatkan kebosanan pada siswa selama pembelajaran, tetapi juga menyebabkan kegagalan dalam pencapaian tujuan pembelajaran sehingga berimbas pada rendahnya prestasi belajar siswa. Dalam konteks pembelajaran, pemilihan dan penguasaan model pembelajaran menjadi aspek penting dalam keberhasilan pembelajaran karena melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengeskpresikan ide (Suprijono, 2009). Masalah yang banyak ditemukan dalam pembelajaran kimia yaitu kurangnya pemahaman siswa mengenai konsep karena selama pembelajaran siswa lebih sering dituntut untuk sekedar menghafal tanpa memahami materi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengajaran teman sebaya (peer teaching) ternyata lebih efektif daripada pengajaran oleh guru. Salah satu alternatif model pembelajaran yang mendukung terlaksananya peer teaching yaitu pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square (TPSq). Melalui pembelajaran kooperatif tipe TSTS siswa dilatih bertanggung jawab terhadap perannya masing-masing dan dilatih untuk menyampaikan ide dengan cara menjelaskan hasil temuannya kepada pihak lain.

Sedangkan teknik pembelajaran Think Pair Square memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Intervensi dari siswa lain dalam pembelajaran TSTS lebih banyak terjadi dibandingkan pada pembelajaran TPSq. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran TSTS terjadi interaksi antar kelompok, sedangkan interaksi pada pembelajaran TPSq hanya terbatas dalam satu kelompok. Selain ketepatan penggunaan model pembelajaran, peningkatan hasil belajar juga akan diperoleh jika siswa mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya (Slameto, 2010). Salah satu cara menarik perhatian siswa selama pembelajaran dapat dilakukan dengan memanfaatkan media pembelajaran. Pada hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti kenyataan yang dijumpai di lapangan, sebagian guru di SMA Negeri 4 Magelang belum memaksimalkan penggunaan media pembelajaran. Terkait penyampaian materi yang berhubungan dengan konsep-konsep dalam materi sistem koloid yang memerlukan pemahaman secara bertahap, maka dalam penelitian ini peneliti memilih alternatif media pembelajaran yang dipilih yaitu peta konsep. Penelitian yang dilakukan kali ini bertujuan untuk mengetahui apakah prestasi belajar aspek kognitif siswa kelas XI IPA SMA N 4 Magelang pada pokok bahasan sistem koloid menggunakan pembelajaran kooperatif berbantuan peta konsep tipe Two Stay Two Stray (TSTS) lebih tinggi daripada tipe Think Pair Square (TPSq). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan Randomized Pretest Posttest Comparison Group Design untuk tes kognitif dimana prestasi belajar ditentukan dari selisih nilai pretest dan posttest.

B. Metode Pengambilan Data Pada analisa kali ini data yang digunakan adalah data sekunder yang merupakan sebagian data dari Skripsi yang berjudul Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan Think Pair Square (TPSq) Melalui Pemanfaatan Peta Konsep terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Koloid Kelas XI SMA N 4 Magelang Tahun Ajaran 2011/ 2012 oleh LINA NURKHASANAH.

C. Analisa Data Data prestasi belajar (merupakan selisih nilai pretest dan posttest) Eksperimen 1 (metode TSTS ) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Prestasi belajar 27 22 22 31 31 18 31 27 23 18 31 31 26 31 26 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Eksperimen 2 (metode TPsq) Prestasi belajar 28 28 15 18 27 20 14 19 19 14 24 14 27 19 14

a. Variabel Penelitian Variabel terikat pada penelitian ini adalah prestasi belajar kimia siswa pada pokok bahasan sistem koloid. Variabel bebas dalam penelitian ini berupa model pembelajaran, yaitu pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan tipe Think Pair Square (TPSq). b. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan analisis uji-t. Penggunaan analisis jenis ini dikarenakan penelitian ini bertujuan untuk menentukan perlakuan yang lebih efektif diantara dua perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini.

Sebelum menguji hipotesis ini, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. 1. Uji Prasyarat Analisis a. Uji Normalitas Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Liliefors. Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari populasi yang terdistribusi normal atau tidak. Prosedur uji normalitas dengan menggunakan metode Liliefors adalah sebagai berikut : 1) Hipotesis H0 : sampel berasal dari populasi berdistribusi normal H1 : sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal 2) Statistik Uji L = max F Zi SZi Dengan: Z berdistribusi N (0,1) F(Zi) = P(Z Zi) S(Zi) = proporsi cacah Z Zi terhadap seluruh Zi Data dari kelas Eksperiment 1 (Metode TSTS) nilai 18 22 23 26 27 31 f 2 2 1 2 2 6 fk 2 4 5 7 9 15

No. 1 2 3 4 5 6

Xi 18 18 22 22 23 26

Xi-X -8,333 -8,333 -4,333 -4,333 -3,333 -0,333

zi -1,745 -1,745 -0,907 -0,907 -0,698 -0,070

F(zi) 0,0405 0,0405 0,1821 0,1821 0,2426 0,4722

S(zi) 0,1333 0,1333 0,2667 0,2667 0,3333 0,4667

F(zi)-S(zi) 0,0928 0,0928 0,0845 0,0845 0,0907 0,0055

7 8 9 10 11 12 13 14 15

26 27 27 31 31 31 31 31 31

-0,333 0,667 0,667 4,667 4,667 4,667 4,667 4,667 4,667

-0,070 0,140 0,140 0,977 0,977 0,977 0,977 0,977 0,977

0,4722 0,5555 0,5555 0,8357 0,8357 0,8357 0,8357 0,8357 0,8357

0,4667 0,6000 0,6000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 1,0000 L max L tabel

0,0055 0,0445 0,0445 0,1643 0,1643 0,1643 0,1643 0,1643 0,1643 0,1643 0,220

Rerata 26,3333 SD 4,7759

Daerah kritik : H0 ditolak jika L>L,n Harga Lmaks adalah 0,1643 sedangkan Ltabel (n = 15, = 0.05) adalah 0,220 Karena Lmaks < Ltabel, maka dapat disimpulkan sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

Data dari kelas Eksperiment 2 (Metode TPSq) nilai 14 15 18 19 20 24 27 28 F 4 1 1 3 1 1 2 2 fk 4 5 6 9 10 11 13 15

F(zi)No. 1 2 3 Xi 14 14 14 Xi-X -6,000 -6,000 -6,000 zi -1,098 -1,098 -1,098 F(zi) 0,1361 0,1361 0,1361 S(zi) 0,2667 0,2667 0,2667 S(zi) 0,1306 0,1306 0,1306

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

14 15 18 19 19 19 20 24 27 27 28 28

-6,000 -5,000 -2,000 -1,000 -1,000 -1,000 0,000 4,000 7,000 7,000 8,000 8,000

-1,098 -0,915 -0,366 -0,183 -0,183 -0,183 0,000 0,732 1,281 1,281 1,464 1,464

0,1361 0,1801 0,3572 0,4274 0,4274 0,4274 0,5000 0,7679 0,8999 0,8999 0,9284 0,9284

0,2667 0,3333 0,4000 0,6000 0,6000 0,6000 0,6667 0,7333 0,8667 0,8667 1,0000 1,0000 L max L tabel

0,1306 0,1533 0,0428 0,1726 0,1726 0,1726 0,1667 0,0346 0,0332 0,0332 0,0716 0,0716 0,1726 0,220

Rerata 20,0000 SD 5,4642

Daerah kritik : H0 ditolak jika L>L,n Keputusan uji : Harga Lmaks adalah 0,1726 sedangkan Ltabel (n = 15, = 0.05) adalah 0,220 Karena Lmaks < Ltabel, maka Kesimpulan : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. b. Uji Homogenitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah populasi penelitian mempunyai variansi yang sama atau tidak. Jika k kelompok mempunyai variansi yang sama maka kelompok tersebut dikatakan homogen. Pengujian homogenitas dilakukan menggunakan uji Bartlett. Hipotesis yang akan diuji adalah : H0 = 12 = 22 = kedua populasi mempunyai variansi yang sama. H1 = 12 22 = paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku. Langkah-langkah pengujian homogenitas dengan menggunakan uji Bartlett sebagai berikut :

2 =

dengan f = N-k

c=[

)]

RKG adalah rataan kuadrat galat = Dimana =


( )

Keputusan Uji : Ho ditolak jika 2 > (k adalah banyaknya sampel atau populasi) Tabulasi data sebagai berikut: Eksperimen 1 Prestasi belajar 27 22 22 31 31 18 31 27 23 18 31 31 26 31 26 Rerata SD Varian 395 26,3333 4,7759 22,8095 Rerata SD Varian Eksperimen 2 Prestasi belajar 28 28 15 18 27 20 14 19 19 14 24 14 27 19 14 300 20,0000 5,4642 29,8571

Sampel 1 2

Fj 14 14 28

Sj2

SSj

log (Sj ) 1,3581 1,4750 2,8332


2

fj log (Sj2) 19,0136 20,6507 39,6643

22,8095 319,3333 29,8571 418,0000 52,6667 737,3333

RKG log RKG

26,3333 1,4205

F logRKG 39,7742

2
DK = H0 ditolak jika 2 > 2 ( ; k -1) 2 (0,05; 1 ) = 3,841

0,244

(keterangan : perhitungan komputasi atau dengan bantuan Microsoft Excel)

Keputusan Uji :Harga 2 = 0,24433 < 2(0,05; 1) = 3,841 atau berada di luar daerah kritik sehingga H0 diterima, Kesimpulan : Jadi kedua populasi penelitian mempunyai variansi yang sama atau homogen. c. Independensi Karena kedua sampel diambil dari populasi yang berbeda dan dilakukan perlakuan yang berbeda maka dapat dinyatakan bahwa kedua sampel independen. 2. Uji t Dilakukan untuk mengetahui apakah prestasi belajar aspek kognitif siswa kelas XI IPA SMA N 4 Magelang pada pokok bahasan sistem koloid menggunakan pembelajaran kooperatif berbantuan peta konsep tipe Two Stay Two Stray (TSTS) lebih tinggi daripada tipe Think Pair Square (TPSq). Hipotesis yang diuji: H0 = 1 2 (prestasi belajar aspek kognitif siswa pembelajaran kooperatif TSTS lebih rendah daripada TPSq) H1 = 1 > 2 (prestasi belajar aspek kognitif siswa pembelajaran kooperatif TSTS lebih tinggi daripada TPSq) Dimana 1 adalah rata-rata selisish nilai pretest posttest dari eksperiment 1 (menggunakan TSTS) dan 2 adalah rata-rata selisish nilai pretest posttest dari eksperiment 2 (menggunakan TPSq)

Statistik Uji:

t=

dengan

adalah variansi sampel 1 dan Eksperimen 1 Prestasi belajar 27 22 22 31 31 18 31 27 23 18 31 31 26 31 26 Rerata SD Varian 395 26,3333 4,7759 22,8095

adalah variansi sampel 2, n merupakan banyak data. Eksperimen 2 Prestasi belajar 28 28 15 18 27 20 14 19 19 14 24 14 27 19 14 Rerata SD Varian 300 20,0000 5,4642 29,8571

Berdasarkan perhitungan :

= 26,3333

Dan Sp =

= 5,1316

Statistik Uji (berdasarkan nilai-nilai yang didapatkan dari komputasi diatas):

t=


adalah 0

karena tidak dibicarakan selisih rataan X1 dan X2 maka nilai dan didapatkan nilai

t = 3,3805 t>

Daerah kritik : Ho ditolak apabila

= t ,28 =1,701
Keputusan uji : karena nilai

t = 3,3805 lebih besar dari t

,28

=1,701 atau

(t >
bandingkan tipe TPSq

Kesimpulan : Prestasi belajar aspek kognitif menggunakan Tipe TSTS lebih tinggi di

D. Kesimpulan Data prestasi belajar siswa (selisih nilai pretest posttest) pada pokok bahasan sistem koloid menggunakan pembelajaran kooperatif berbantuan peta konsep tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan tipe Think Pair Square (TPSq) berasal dari populasi berdistribusi normal dan homogen (memiliki variansi yang sama). Dengan Uji t didapatkan bahwa prestasi belajar siswa (selisih nilai pretest posttest) pada pokok bahasan sistem koloid menggunakan pembelajaran kooperatif berbantuan peta konsep tipe Two Stay Two Stray (TSTS) lebih tinggi daripada dengan tipe Think Pair Square (TPSq).

E. Daftar Pustaka Budiyono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Surakarta : UNS Press. Lina, Nurkhasanah. 2013. SkripsiEfektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dan Think Pair Square (TPSq) Melalui Pemanfaatan Peta Konsep terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Koloid Kelas XI SMA N 4 Magelang Tahun Ajaran 2011/ 2012. Surakarta : Universitas Sebelas Maret. Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Smith, K.A., Sheppard, S.D., Johnson, D.W., & Johnson, R.T. 2005. Pedagogies of Engagement: Classroom-Based Practices. Journal of Engineering Education, (94)1, 87-101. Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning, Teori dan Aplikasi. Surabaya.

Lampiran 23. Data Induk Penelitian Data Induk Penelitian A. Data Induk Penilaian Aspek Kognitif Kelas Eksperimen 1 No. Pretest Postest Selisih Absen 1. 61 88 27 2. 70 92 22 3. 22 67 45 4. 61 83 22 5. 48 79 31 6. 39 79 40 7. 52 83 31 8. 52 92 40 9. 39 71 32 10. 26 71 45 11. 39 75 36 12. 57 75 18 13. 61 96 35 14. 39 75 36 15. 48 79 31 16. 48 96 48 17. 52 79 27 18. 48 71 23 19. 65 83 18 20. 48 83 35 21. 57 88 31 22. 48 79 31 23. 26 67 41 24. 35 71 36 25. 57 83 26 26. 65 100 35 27. 52 88 36 28. 48 79 31 29. 61 96 35 30. 57 83 26 31. 39 71 32 32. 61 92 31 1581 2614 1033 X 81,688 32,281 Rerata 49,406 11,981 9,121 7,411 SD 83,190 54,918 Varian 143,539 70 100 48 Max 22 67 18 Min Kelas Eksperimen 2 No. Absen 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. X Rerata SD Varian Max Min Pretest 39 35 26 35 39 48 65 35 44 30 35 48 30 57 44 44 52 52 39 61 61 44 26 39 26 57 39 44 39 44 44 30 1351 42,219 10,549 111,273 65 26 Postest 67 67 54 50 79 79 83 71 71 50 71 88 71 71 63 75 96 88 58 96 75 79 58 63 71 71 71 71 58 79 58 63 2265 70,781 11,818 139,660 96 50 Selisih 28 32 28 15 40 31 18 36 27 20 36 40 41 14 19 31 44 36 19 35 14 35 32 24 45 14 32 27 19 35 14 33 914 28,563 9,504 90,319 45 14