Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Ibuprofen

Ibuprofen atau asam 2-(-4-Isobutilfenil) propionat dengan rumus molekul

C 13 H 18 O 2 dan bobot molekul 206.28, rumus bangun dari ibuprofen adalah sebagai

berikut :

CH 3 CH 3 H 3 C
CH 3
CH 3
H 3 C

COOH

Gambar 1. Struktur Kimia Ibuprofen

Ibuprofen berupa serbuk hablur putih hingga hampir putih, berbau khas

lemah dan tidak berasa dengan titik lebur 75.0 – 77.5 C. Ibuprofen praktis tidak

larut dalam air, sangat mudah larut dalam etanol, dalam metanol, dalam aseton

dan dalam chloroform serta sukar larut dalam etil asetat (Ditjen POM, 1995).

Larutan

ibuprofen

dalam

NaOH

0.1N

dengan

(A 1 1 =18.5a),

memperlihatkan serapan maksimum pada panjang gelombang 265 dan 273 nm

sedangkan pada inframerah memperlihatkan puncak pada 1721, 1232, 779, 1185,

1273 dan 870 cm -1 (Moffat. A. C., dkk., 2005).

Ibuprofen merupakan obat anti radang non steroid, turunan asam arilasetat

yang

mempunyai

aktivitas

antiradang

dan

analgesik

yang

tinggi,

terutama

digunakan untuk mengurangi rasa nyeri akibat peradangan pada berbagai kondisi

rematik dan arthritis. Ibuprofen dapat menimbulkan efek samping iritasi saluran

cerna, diabsorpsi cepat dalam saluran cerna, kadar serum tertinggi terjadi dalam

Universitas Sumatera Utara

1-2 jam setelah pemberian oral, dengan waktu paruh 1.8-2 jam, dosis: 400 mg 3-4

dd (Katzung, B.G., 2002; Siswandono dan Soekardjo, B., 2000).

Ibuprofen

menimbulkan

efek

analgesik

dengan

menghambat

secara

langsung dan selektif enzim-enzim pada system saraf pusat yang mengkatalis

biosintesis prostaglandin seperti siklooksigenase sehingga mencegah sensitasi

reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit seperti bradikinin, histamin,

serotonin,

prostasiklin,

prostaglandin,

ion

hidrogen

dan

kalium

yang

dapat

merangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi (Siswandono dan Soekardjo,

B., 2000).

2.2.

Parasetamol

Parasetamol atau 4-hidroksiasetanilida dengan rumus molekul C 8 H 9 NO 2

dan bobot molekul 152.16, rumus bangun dari parasetamol adalah sebagai berikut:

H

3

H C N
H
C
N

O

dari parasetamol adalah sebagai berikut: H 3 H C N O OH Gambar 2. Struktur Kimia

OH

Gambar

2. Struktur Kimia Parasetamol

Parasetamol berupa serbuk hablur putih, tidak berbau dan rasa sedikit

pahit

dengan

titik

lebur

169-170.5 C.

Parasetamol

mudah

larut

dalam

air

mendidih, sangat mudah larut dalam chloroform, larut dalam etanol, metanol,

dimetil formamida, aseton dan etil asetat, praktis tidak larut dalam benzen.

(Ditjen POM, 1995).

Parasetamol

memiliki

serapan

maksimum

dalam

larutan

asam

pada

panjang gelombang 245 nm (A 1 1 =668a) dan dalam larutan basa pada panjang

Universitas Sumatera Utara

gelombang

257 nm

(A 1 1 =715a)

sedangkan

pada

inframerah

memperlihatkan

puncak pada 1506, 1657, 1565, 1263, 1227, 1612 cm 1. (Moffat A.C., dkk, 2005).

Parasetamol dengan pKa 9.5 diabsorpsi cepat melalui usus dan konsentrasi

tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh dalam plasma

antara 1-3 jam, dimetabolisme oleh enzim mikrosom dan dieksresikan melalui

ginjal. Turunan dari para-aminofenol ini bekerja sebagai analgetik-antipiretik

serta memiliki aktivitas antiinflamasi yang rendah dan dapat diberikan secara oral,

intravena

serta

rektal.

Parasetamol

merupakan

obat

pilihan

pertama

dalam

penanganan nyeri dan demam karena relatif aman, tidak mengiritasi lambung dan

dapat

digunakan

untuk

anak-anak

serta

pasien

asma.

Efek

samping

yang

ditimbulkan

adalah

methemoglobin

dan

hepatotoksik

(Ditjen

Binfar,

2006;

Mycek.J.M., 2001).

Sebagai antipiretik parasetamol dapat meningkatkan eliminasi panas pada

penderita suhu tinggi dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh darah perifer

dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan pengeluaran keringat.

Pengaruh obat pada suhu badan normal relatif kecil. Penurunan suhu tersebut

adalah hasil kerja obat pada system saraf pusat yang melibatkan pusat kontrol

suhu di hipotalamus (Siswandono dan Soekardjo, B., 2000).

2.3. Volumetri

Volumetri adalah suatu metode analisis kimia kuantitatif yang digunakan

untuk menentukan kadar analit

dengan menggunakan larutan pereaksi yang

konsentrasinya diketahui. Pada umumnya metode volumetri disebut metode titrasi

dan pereaksinya disebut pentitrasi. Pereaksi harus bereaksi stoikiometri dengan

Universitas Sumatera Utara

analit dan kadar zat dihitung dari volume pereaksi yang bereaksi ekivalen dengan

analit (Satiadarma, K., 2004).

Untuk dapat dilakukan analisis volumetri harus dipenuhi syarat-syarat berikut :

1. Harus ada suatu reaksi yang sederhana, yang dapat dinyatakan dengan suatu

persamaan kimia, zat yang akan ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan

reagensia dalam proporsi yang stokiometri atau ekivalen

2. Reaksi harus praktis dan berjalan sangat cepat, dalam beberapa keadaan

penambahan katalis akan menaikan kecepatan reaksi.

3. Harus tersedia indikator yang dapat digunakan untuk menentukan titik akhir

titrasi.

Berdasarkan reaksi kimianya, volumetri dapat dikelompokan atas :

1.

Reaksi penentralan (asidimetri dan alkalimetri)

 

Penetapan kadar suatu zat (asam atau basa) berdasarkan prinsip netralisasi,

bila

sebagai titran

digunakan

larutan

baku

asam,

maka

penetapan

tersebut

dinamakan asidimetri, sebaliknya bila larutan baku basa sebagai titran, maka

penetapan itu disebut alkalimetri.

2. Reaksi pembentukan kompleks

Merupakan reaksi yang menghasilkan suatu kompleks atau ion komplek yang

dapat larut tetapi sedikit terdisosiasi, misalnya reaksi ion perak dengan ion sianida

untuk membentuk kompleks Ag(CN)2 - yang sangat stabil

3. Reaksi oksidasi reduksi (Redoks)

Reaksi-reaksi kimia yang menyangkut oksidasi-reduksi secara luas digunakan

dalam analisa volumetri

4. Pengendapan (Underwood, L.A., 1980)

Universitas Sumatera Utara

Proses yang kita gunakan untuk menentukan secara teliti konsentrasi suatu

larutan dikenal dengan standarisasi dengan menggunakan standar primer, dengan

syarat sebagai berikut:

1. Mudah didapat dalam bentuk murni atau dalam keadaaan kemurnian yang

diketahui dengan harga yang wajar. Pada umumnya jumlah pengotoran harus

tidak melebihi 0.01 sampai 0.02% dan harus mungkin diuji kemurnianya dengan

uji-uji yang diketahui kepekaanya.

2. Zat itu harus tetap, harus mudah dikeringkan dan harus tidak higroskopik,

tidak berkurang beratnya sewaktu terkena udara.

3. Mempunyai berat ekivalen yang tinggi sehingga kesalahan penimbangan

akan menjadi lebih kecil dan mudah larut serta reaksi cepat dan stokiometri

(Basset,J., dkk. 1994)

2.4. Metode Penetapan Kadar Ibuprofen

2.4.1. Alkalimetri

Bila ditinjau dari harga pKa nya, ibuprofen dapat ditetapkan kadarnya secara

alkalimetri,

Btitish

Pharmacopoeia

tahun

2007

dan

The

International

Pharmacopoeia third edition tahun 2003, kadar ibuprofen dapat ditetapkan secara

titrasi menggunakan larutan NaOH 0.1 N dengan indikator fenolftalein. Metode

ini didasarkan pada perpindahan proton dari zat yang bersifat asam, Fenolftalein

adalah indikator dari golongan ftalein yang banyak digunakan dalam pelaksanaan

pemeriksaan kimia,

berupa hablur

putih

yang

mempunyai kerangka

lakton,

indikator ini sukar larut dalam air, tapi dapat bereaksi dengan air sehingga cicncin

laktonya terbuka dan membentuk asam yang berwarna (Basset,J., dkk. 1994)

Universitas Sumatera Utara

HO

OH HO -H + C OH + H + COO -
OH
HO
-H +
C
OH
+ H +
COO -
C COO - .
C
COO - .

O

HIn -

In 2-

Tak berwarna

merah

Gambar 3. Perubahan Struktur Fenolftalein

2.4.2. Secara Spektrofototmetri UV-VIS

Jika dilihat dari strukturnya Ibuprofen memiliki gugus kromofor yang

dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, Menurut Ebeshi, U. B., 2009,

kadar

ibuprofen

dalam

sediaan

tablet

dapat

ditetapkan

kadarnya

secara

spektrofotometri ultraviolet karena Ibuprofen memiliki serapan maksimum dalam

larutan basa pada panjang gelombang 265 nm (A 1 1 =18.5a).

2.4.3. Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 dan USP XXX tahun

2007, kadar ibuprofen dalam sediaan tablet dapat ditetapkan secara KCKT dengan

menggunakan fase gerak; canpuran larutan asam kloroasetat 1 %b/v dengan

asetonitril yang diatur pada PH 3.0.

2.5. Metode Penetapan Kadar Parasetamol

2.5.1. Nitrimetri (Titrasi Diazotasi)

Titrasi diazotasi ini sangat sederhana dan berguna untuk menetapkan kadar

senyawa-senyawa sulfonamid dan senyawa-senyawa anastetik lokal golongan

asam amino benzoat. Nitrimetri adalah metode penetapan kadar secara kuantitatif

dengan menggunakan larutan baku natrium nitrit, metode ini didasarkan pada

Universitas Sumatera Utara

reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit

dalam suasana asam membentuk garam diazonium (Gandjar, G.H., dan Rohman,

A., 2007).

Dalam

nitrimetri,

berat

ekivalen

suatu

senyawa

sama

dengan

berat

molekulnya karena 1 mol senyawa bereaksi dengan 1 mol asam nitrit dan

menghasilkan 1 mol garam diazonium. Pada titrasi diazotasi, penentuan titik akhir

dapat menggunakan indikator luar, indikator dalam dan secara potensiometri (Kar,

A., 2005).

Indikator luar yang digunakan adalah pasta kanji-iodida atau kertas kanji-

iodida, ketika larutan digoreskan pada pasta, adanya kelebihan asam nitrit akan

mengoksidasi iodida menjadi

iodium dengan adanya kanji akan menghasilkan

warna biru segera. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut (Ditjen

POM, 1995).

NaNO 2

+ HCl

HNO 2 + NaCl

KI

+ HCl

KCl

+

HI

2

HI

+ 2 HONO

→ I 2

+ 2 NO

+ 2H 2 O

I 2 + kanji

→ kanji iod ( biru)

Titik akhir titrasi tercapai apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi

pada pasta kanji-iodida akan terbentuk warna biru segera sebab warna biru juga

terbentuk beberapa saat setelah dibiarkan diudara, hal ini disebabkan karena

oksidasi iodida oleh udara (O 2 ) menurut reaksi (Kar, A., 2005).

4 KI

+ 4 HCl

+ O 2

→ 2H 2 O

I2 + kanji

→ kanji iod (biru)

+

2I 2

+ 4 KCl

Universitas Sumatera Utara

Untuk menyakinkan apakah benar-benar sudah terjadi titik akhir titrasi,

maka pengujian seperti di atas dilakukan lagi setelah dua menit. Indikator dalam

terdiri atas campuran trepeolin OO dan metilen biru. Trepeolin OO merupakan

indikator asam-basa yang berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna

kuning bila dioksidasi oleh adanya kelebihan asam nitrit, sedangkan metilen biru

sebagai pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan

dari

ungu

menjadi

biru

sampai

hijau

tergantung

senyawa

yang

dititrasi.

Pemakaian kedua indikator ini ternyata memiliki kekurangan. Pada indikator luar

harus diketahui dulu perkiraan jumlah titran yang diperlukan, sebab kalau tidak

diketahui

dulu

perkiraan

jumlah

titran

yang

dibutuhkan

maka

akan

sering

melakukan

pengujian

apakah

sudah

tercapai

titik

akhir

titrasi

atau

belum.

Disamping itu kalau sering melakukan pengujian, dikhawatirkan akan banyak

sampel yang hilang pada saat pengujian titik akhir. Sementara itu pada pemakaian

indikator dalam walaupun perlakuanya mudah tetapi seringkali untuk senyawa

yang

berbeda

akan

Rohman, A., 2007).

memberikan

warna

yang

berbeda

(Gandjar,

G.H.,

dan

Metode potensiometri, merupakan metode yang baik untuk penetapan titik

akhir dengan menggunakan elektrode kolomel-platina yang dicelupkan ke dalam

titrat. Pada saat titik akhir titrasi adanya kelebihan asam nitrit akan tejadi

depolarisasi elektroda sehingga akan terjadi perubahan arus yang sangat tajam

sekitar

+0,80 Volt sampai +0.90 Volt. Metode ini sangat cocok untuk sampel

bentuk sediaan syrup yang berwarna (Gandjar, G.H., dan Rohman, A., 2007).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Higuchi 1968 dan The International Pharmacopoeia tahun 2003,

kadar

parasetamol

dapat

ditetapkan

secara

nitrimetri,

dimana

parasetamol

direfluks dengan H 2 SO 4 10 % b/b, sehingga diperoleh para-aminofenol dan

dititrasi secara nitrimetri, menggunakan indikator pasta kanji, dengan Reaksi

sebagai berikut : HO
sebagai berikut :
HO

H

N

O C / H + H 2 O CH 3
O
C
/
H +
H 2 O
CH 3

HO

sebagai berikut : HO H N O C / H + H 2 O CH 3

NH 2

sebagai berikut : HO H N O C / H + H 2 O CH 3

CH 3 COOH

Gambar 4 . Hidrolisis Parasetamol

2.5.2. Serimetri

Menurut British Pharmacopoeia tahun 2007 dan Hermann, J 1991 parasetamol dapat ditetapkan kadarnya secara serimetri menggunakan larutan serium(IV)sulfat sebagai pentiter. Dilarutkan 0.300 g didalam campuran 10 ml akuades dan H 2 SO 4 encer, kemudian direfluks selama 1 jam dan diencerkan sampai 100.0 ml dengan akuades. Pipet 20 ml dan tambahkan 40 ml akuades, 15 ml HCl encer dan 0.1 ml ferroin, kemudian dititrasi dengan larutan Serium(IV) sulfat 0.1 N sampai terbentuk warna kuning kehijauan dan dilakukan titrasi blanko.

1 ml serium (IV) sulfat setara dengan 7.56 mg C 8 H 9 NO 2

Reaksi :

O H + / H 2 O H HO N C HO CH 3 2Ce
O
H + / H 2 O
H
HO
N
C
HO
CH 3
2Ce 4+
HO
NH 2
O

NH 2

NH

2 Reaksi : O H + / H 2 O H HO N C HO CH

H 3 C

COOH

Universitas Sumatera Utara

2.5.3.

Secara Spektrofototmetri UV-VIS

Jika dilihat dari strukturnya parasetamol memiliki gugus kromofor yang

dapat menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, Menurut Moffat, dkk., (2005)

parasetamol memiliki serapan maksimum dalam larutan asam pada panjang

gelombang 245 nm (A 1 1 =668a) dan dalam larutan basa pada panjang gelombang

257 nm (A 1 1 =715a).

Menurut Farmakope Indonesia edisi III tahun 1979, parasetamol dalam

sediaan tablet dapat ditetapkan secara spektrofotometri ultraviolet pada larutan

basa pada panjang gelombang 257 nm dan menurut Shrestha dan Pradhananga,

tahun

2009,

parasetamol dapat

ditetapkan

kadarnya

secara

spektrofotometri

visibel berdasarkan pembentukan warna setelah direaksikan dengan 1-naftol atau

resorsinol kemudian dianalisis pada panjang gelombang 505 nm.

2.5.4. Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 dan USP XXX tahun

2007, kadar parasetamol dalam sediaan tablet dapat ditetapkan secara KCKT

dengan menggunakan fase gerak; campuran air-metanol (3:1).

2.6. Spektrofotometer inframerah

Secara umum spektrofotometer inframerah digunakan untuk menentukan

gugus fungsi suatu senyawa organik dan untuk mengetahui informasi struktur

suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah sidik jarinya. Pengukuran

pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-

infrared) yaitu pada panjang gelombang 4000-200 cm -1 (Dachriyanus, 2004).

Universitas Sumatera Utara

Energi yang dihasilkan oleh radiasi ini akan menyebabkan vibrasi atau

getaran pada molekul. Pita absorbsi inframerah sangat khas dan spesifik untuk

tipe

ikatan

kimia

atau

gugus

fungsi,

metode

ini

sangat

berguna

untuk

mengidentifikasi senyawa organik dan organometalik (Dachriyanus, 2004)

Vibrasi molekul dapat digolongkan atas dua golongan :

1. Vibrasi regangan (Streching)

Vibrasi regangan (Stretching Vibration), yaitu vibrasi yang mengakibatkan

perubahan panjang ikatan suatu ikatan, vibrasi regangan dibagi menjadi dua

macam :

a. Regangan simetri yakni bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang datar b. Regangan asimetri
a.
Regangan simetri yakni bergerak bersamaan dan searah dalam satu bidang
datar
b.
Regangan asimetri yakni bergerak bersamaan dan tidak searah tapi masih
dalam satu bidang datar
Gambar 5: Contoh Vibrasi Regangan Simetri Dan Asimetri
2.
Vibrasi tekuk (Bending Vibrations)

Vibrasi tekuk (Bending Vibrations), yaitu vibrasi yang mengakibatkan perubahan sudut ikatan antara dua ikatan, vibrasi ini dibagi menjadi 4 bagian:

Vibrasi Goyangan (Rocking), unit struktur bergerak mengayun asimetri tetapi masih dalam bidang datar.

Universitas Sumatera Utara

Vibrasi Guntingan (Scissoring), unit struktur bergerak mengayun simetri dan

masih dalam bidang datar.

Vibrasi Kibasan (Wagging), unit struktur bergerak mengibas keluar dari

bidang datar.

Vibrasi Pelintiran (Twisting), unit struktur berputar mengelilingi ikatan yang

menghubungkan dengan molekul induk dan berada di dalam bidang datar

( Susilo, A., 2009 ).

induk dan berada di dalam bidang datar ( Susilo, A., 2009 ). Gambar 6 : Contoh

Gambar 6: Contoh Vibrasi Tekuk

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1:

Serapan Khas Beberapa Gugus Fungsi

 

Gugus

   

Frekuensi, cm-1

 

OH

alkohol H yang terikat Asam

   

3580-3650

3210-3550

2500-2700

NH

Amin

 

3300-3700

CH

Alkana

 

2850-2960

Alken

3010-3095

 

Aromatik

 

~3030

C=C

Alkena

 

1620-1680

Aromatik

~1600

C=O

Aldehid

 

1720-1740

Keton

1675-1725

Asam

1700-1725

Ester

1720-1750

NO2

Nitro

 

1500-1650

2.7. Validasi Metode Analisis

 
 

Validasi

metode

analisis

adalah

suatu

tindakan

penilaian

terhadap

parameter

tertentu,

berdasarkan percobaan

laboratorium untuk

membuktikan

bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaanya.Validasi

metoda menurut United States Pharmacopoeia (USP) dilakukan untuk menjamin

bahwa metode analisis yang digunakan akurat, spesisfik dan reproduksibel serta

tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Suatu metode analisis harus

divalidasi untuk

melakukan verifikasi bahwa parameter-parameter kinerjanya

cukup mampu untuk mengatasi problem analisis (Gandjar, G.H., dan Rohman, A.,

2007).

Universitas Sumatera Utara

Beberapa parameter analisis yang harus dipertimbangkan dalam validasi metode

analisis :

1. Kecermatan (accuracy)

Merupakan ukuran yang menunjukan derajat kedekatan hasil analisis

dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persen

perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan ditentukan

dengan dua cara yaitu metode simulasi (spiked-placebo recovery) dan metode

penambahan baku (standard addition method). Dalam metode simulasi sejumlah

analit bahan murni ditambahkan ke dalam campuran bahan pembawa sediaan

farmasi lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan kadar

analit

yang

ditambahkan, tetapi bila tidak

memungkinkan membuat

sampel

placebo karena matriksnya tidak diketahui seperti obat-obat paten atau karena

analitnya berupa suatu senyawa endogen misalnya metabolit skunder maka dapat

dipakai metode adisi. Metode adisi dibuat dengan menambahkan sejumlah analit

dengan konsentrasi tertentu pada sampel yang diperiksa, lalu dianalisis dengan

metode tersebut (Harmita, 2004).

Rentang kesalahan yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada

matriks dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2. Rentang persen recovery yang diperbolehkan

No.

Analit pada matriks sampel (%)

Rata-rata yang diperoleh (%)

1

≥10

98-102

2

≥1

90-110

3

0.1 -

1

80-120

4

< 0.1

75-125

Universitas Sumatera Utara

2.

Keseksamaan (Precision)

Merupakan ukuran yang menunjuakan derajat kesesuaian antara hasil uji

individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur

diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang

homogen. Keseksamaan dilakukan dengan cara melakukan analisis, minimal 9

kali perlakuan yaitu tiga konsentrasi dengan tiga replikasi atau minimal 6 replikasi

pada konsentrasi 100 %. Rentang presisi yang diperbolehkan dapat dilihat pada

tabel dibawah ini (Anonim 2, 2007)

Tabel 3. Rentang presisi yang diperbolehkan

No.

Konsentrasi sampel (%)

Presisi (%)

1

≥10

≤ 2

2

1.0 – 10.0

≤ 5

3

0.1 – 1.0 %

≤ 10

4

< 0.1

≤ 20

3. Selektivitas (spesifisitas)

Merupakan suatu parameter untuk mengetahui kemampuannya yang hanya

mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen

lain yang mungkin ada dalam matrik sampel. Selektivitas seringkali dapat

dinyatakan sebagai derjat penyimpangan metode yang dilakukan terhadap sampel

yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran hasil urai, senyawa

sejenis, senyawa asing lainya dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel

yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan (Harmita ,2004; Gandjar,

G.H., dan Rohman, A., 2007).

Universitas Sumatera Utara

4.

Linearitas

Adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon secara

langsung atau dengan bantuan transformasi matematika yang baik, proporsional

terhadap

konsentrasi

analit

dalam

sampel.

Menurut

USP

XXX,

linieritas

dilakukan dengan melakukan analisis, minimal 5 konsentrasi dengan kisaran 80-

100 % dari konsentrasi perlakuan.

5. Rentang (Range)

Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang

sudah ditunjukan dapat ditetapkan dengan kecermatan dan linieritas yang dapat

diterima (Gandjar, G.H., dan Rohman, A., 2007).

6. Batas Deteksi dan Batas Kuantisi

Batas deteksi merupakan jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat

dideteksi

yang

masih

memberikan

respon

signifikan

dibandingkan

dengan

blanko, batas deteksi merupakan uji batas. Batas kuantisi merupakan kuantitas

terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan

seksama ( Harmita, 2004)

7. Ketangguahan metode

Ketangguahan

metode

merupakan

derajat

ketertiruan

hasil

uji

yang

diperoleh dari analisis yang sama dalam berbagai kondisi uji normal seperti

laboratorium

analisis,

instrument,

bahan

pereaksi,

suhu

dan

lain-lain.

Ketangguhan metode dinyatakan sebagai tidak

adanya pengaruh perbedaaan

operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji. Ketangguhan metode merupakan

ukuran ketertiruan pada kondisi opersi normal antar lab dan antar analis (Gandjar,

G.H., dan Rohman, A., 2007; Harmita, 2004).

Universitas Sumatera Utara