Anda di halaman 1dari 0

Nomor 37 Tahun 12, April 2013

Nomor
37
BHUMI
Tahun
12
Halaman
1-200
Yogyakarta
April 2013
Pengantar Redaksi
Rantai Penjelas Konflik-konflik Agraria yang
Kronis, Sistemik, dan Meluas
Noer Fauzi Rachman
1-14
Potret Konflik Agraria di Indonesia
Widiyanto
15-27
Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik Agraria:
Studi Perbandingan antara Ranah Kebijakan
dan Ranah Perjuangan Agraria
Kus Sri Antoro
28-48
Land Grabbing dan Potensi Internal
Displacement Persons (IDP) Dalam Merauke
Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di
Papua
Amin Tohari
49-62
Perlawanan Ekstra Legal:
Transfromasi Perlawan Petani Menghadapi
Korporasi Perkebunan
Muhammad Afandi
63-95
Menjarah Pulau Gambut: Konflik dan
Ketegangan di Pulau Padang
M. Nazir Salim
96-121
Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik Seribu
Hektar Lahan Sawit Asiatic Persada
Dwi Wulan Pujiriyani & Widhiana Hestining Puri
122-141
Petani Melawan Perkebunan:
Perjuangan Agraria di Jawa Tengah
Siti Rakhma Mary Herwati
142-156
Perampasan Tanah dan Konflik:
Kisah Perlawanan Sedulur Sikep
Tri Chandra Aprianto
157-168
Kontekstualitas Aff irmative Action dalam
Kebijakan Pertanahan di Yogyakarta
Widhiana Hestining Puri
169-180
Dilematika Pelaksanaan Otonomi Dibidang
Pengelolaan Sumberdaya Alam/Agraria
Sarjita
181-195
Review Buku: Powe of Exclusion
Ahmad Nashih Luthf i
196-199
Daftar Isi
Penanganan sengketa dan konf lik adalah
salah satu tema Rapat Kerja Nasional BPN RI
tahun 2013. Tema ini seolah mengingatkan kem-
bali kepada para punggawa BPN untuk kembali
memberikan penekanan kepada penanganan
sengketa dan konflik. Mengapa? Jawabannya
selalu sama: karena ekskalasi konflik semakin
hari bukannya semakin surut akan tetapi sema-
kin meningkat baik dilihat dari sudut kuantitas
maupun kualitas. Nah, tentu dengan kondisi
konflik serta sengketa yang demikian ini, kita
dan anda semua harus turut berperanan sebab
pernyataannya selalu sama bahwa penanganan
sengketa dan konflik adalah tanggung jawab
bersama segenap anak bangsa ini. Dalam rangka
itu pula, jurnal terbitan pertama tahun 2013 ini
mengusung tema penanganan sengketa, konflik,
dan perkara. Pengambilan topik seperti ini kare-
na dua hal. Pertama bahwa sebagaimana kritik
yang sering dilontarkan terhadap jurnal ini
adalah tidak fokusnya kajian-kajian yang tersaji
dalam artikel yang diusungnya. Argumen bahwa
kita memang berfokus di bidang pertanahan se-
olah tidak cukup untuk mengeliminasi kritikan-
kritikan tersebut. Kedua, sudah tentu, kami, dan
tentu kita juga ingin turut serta mendukung
janji-janji para punggawa BPN di awal tahun itu.
Apa yang dapat kita lakukan? Inilah bentuk
kontribusi kami kepada janji-janji itu.
Pada terbitan kali ini, terdapat sebelas artikel
yang kesemuanya membahas konflik agraria.
Tiga artikel awal, yakni tulisan Noer Fauzi Rah-
man tentang penjelasan konflik dari penyebab
hingga faktor-faktor yang melestarikan konflik;
berikutnya tulisan Widiyanto yang sudah dengan
gamblang mengumumkan potret konflik-kon-
flik yang terjadi di tanah air; dan ketiga adalah
tulisan Kus Sri Antoro yang mencoba mensikapi
persoalan penyelesaian konflik yang selama ini
dilakukan di Indonesia. Penulis ini mencoba
membandingkan perilaku dua aktor (pemerin-
tah dan pejuang agraria) dalam mensikapi kon-
flik-konf lik yang terjadi. Kemudian, delapan
artikel lain, dimulai dari tulisan Saudara Amin
Tohari yang mengetengahkan land grabbing
sebagai bentuk lain dari konf lik latent yang
tengah marak sekarang ini; tulisan Muhammad
Affandi yang mengupas perubahan pola perla-
wanan petani terhadap korporasi perkebunan
dari legal ke ekstra legal; tulisan berikutnya
tentang kasus Pulau Padang yang coba diuraikan
oleh Muhammad Nazir Salim; Dwi Wulan Puji
Riyani dan Widhiana Hestning Puri mengangkat
perlawanan masyarakat Suku Anak Dalam Batin
9 yang wilayahnya diokupasi PT. Asiatic Persada;
Siti Rakhma Mary Herwati dengan artikel perla-
wanan petani kepada perkebunan di wilayah
Jawa Tengah; Tri Chandra Aprianto dengan kisah
perlawanan Sedulur Sikep; Widhiana Hestining
Puri dengan persoalan pembelaan terhadap
kaum minoritas tertentu; dan terakhir rekan Sar-
jita yang mengusung dilema-dilema otonomi da-
erah yang berkaitan dengan pengelolaan sum-
berdaya alam.
Tulisan-tulisan yang dimuat ini tidak ber-
maksud memperkeruh suasana. Tulisan-tulisan
ini semata-mata hanya ingin mengawal janji-janji
awal tahun pemangku kebijakan penyelesaian
konflik di negeri ini. Dengan kawalan ini, kita
hanya dapat berharap bahwa dalam penyelesaian
PENGANTAR REDAKSI
konf lik, seperti yang diungkapkan Gunawan
Wiradi (2000), kita tidak terjebak pada pende-
katan Nelson, Fabian, Jalan pintas, maupun
kekuatan. Pendekatan-pendekatan seperti tadi
adalah hal yang selama ini sering dipertonton-
kan. Oleh karena itu, berkaitan dengan pola pikir
serta cara pandang kita terhadap persoalan
sengketa, konflik, maupun perkara pertanahan
dan agraria di tempat kita berpijak ini, baik bagi
yang pro maupun kontra, kita hanya dapat ber-
harap bahwa tulisan-tulisan yang dimuat mem-
beri inspirasi serta ide-ide cemerlang lain bagi
kemaslahatan jejak laku kita dimasa yang akan
datang.
Satu yang terakhir, saat ini, jurnal ini sedang
kembali ke permulaan track menuju akreditasi.
Ini adalah momentum kedua yang dialami jurnal
ini. Mudah-mudahan, mulai sekarang dan hing-
ga tiga tahun kedepan kita dapat berada dalam
track itu. Anda dapat melihat beberapa peru-
bahan secara f isik dan itulah tuntutan akreditasi.
Akan tetapi, lebih jauh dari itu, jurnal ini tidak
akan berhasil tetap dalam track bila tidak mem-
peroleh bantuan dari segenap pembaca. Bagai-
mana bentuk perubahan-perubahan itu? Sidang
pembaca sedang menikmatinya sekarang ini.
Untuk itu, sebagai akhir pengantar ini, kami tetap
berharap artikel-artikel Bapak/Ibu pembaca
jurnal dapat terus mengisi jurnal-jurnal berikut-
nya. Mari kita tetap peliharan intuisi serta sen-
tuhan-sentuhan agraria kita. Selamat membaca!
Terima kasih.
Redaksi
Ahmad Nashih Luthf i
RANTAI PENJELAS KONFLIK-KONFLIK AGRARIA
YANG KRONIS, SISTEMIK, DAN MELUAS DI INDONESIA
Noer Fauzi Rachman
*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: The article offers an framework to identify causes, effects, perpetuating conditions, and structural roots of agrarian
conflicts. Systemic agrarian conflicts were defined as everlasting contradictory claims on who had the rights over access to lands,
natural resources, and territories between rural community and concession holders in the business of plantation, forestry,
mining, infrastructure, etc. The conflicting claims are perpetuated by significant efforts to delegitimize the existence of others
claims. Being different from various mainstream analysis promoting global market as opportunity, I prefer to use what Ellen M.
Wood notion of market-as-imperative. Using the illustration of the expansion of oil palm plantation in Indonesia, the article
shows the consequence of global capitalist markets to the emergence of the agrarian conflicts.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: agrarian conflicts, market, agrarian capitalism.
Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Artikel ini menawarkan sebuah kerangka penjelas untuk memahami sebab, akibat, kondisi yang melestarikan, dan akar-
akar masalah dari konflik agraria struktural. Konflik agraria struktural didefinisikan sebagai pertentangan klaim yang berkepanjangan
mengenai siapa yang berhak atas akses terhadap tanah, sumberdaya alam, dan wilayah antara satu kelompok rakyat pedesaan
dengan badan penguasa dan/atau pengelola tanah yang bergerak dalam bidang produksi, ekstraksi, konservasi, dan lainnya.
Pertentangan klaim tersebut disertai pula dengan upaya dan tindakan menghilangkan eksistensi, legitimasi, atau daya berlaku dari
klaim pihak lain. Berbeda dengan banyak analisis yang mengutamakan pasar-sebagai-kesempatan, penulis mendayagunakan
pemikiran Ellen M. Wood mengenai pasar-sebagai-keharusan. Dengan menggunakan ilustrasi pada konflik-konflik agraria berkenaan
dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia, artikel ini menempatkan konflik agraria sebagai konsekuensi dari
perkembangan pasar kapitalis.
Kata K Kata K Kata K Kata K Kata Kunci unci unci unci unci: Konflik agraria, pasar, kapitalisme agraria.
A. Pengantar
Konf lik agraria struktural yang dimaksud
dalam artikel ini merujuk pada pertentangan
klaim yang berkepanjangan mengenai siapa yang
berhak atas akses pada tanah, sumber daya alam
(SDA), dan wilayah antara suatu kelompok
rakyat pedesaan dengan badan penguasa/penge-
lola tanah
2
yang bergerak dalam bidang pro-
duksi, ekstraksi, konservasi, dan lainnya; dan pi-
Hukum memenjarakan laki-laki dan perempuan,
tersangka yang mencuri seekor angsa dari tanah kepunyaan bersama.
Namun tersangka yang lebih besar lolos begitu saja,
yakni mereka yang mencuri tanah milik bersama dari angsa itu

Dan para angsa terus hidup dalam kekurangan tanah bersama


Sampai mereka masuk dan mencurinya kembali.
1
*

Noer Fauzi Rachman, PhD adalah Direktur Sajogyo
Institute, Bogor; Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan
Agraria (KPA); dan pengajar mata kuliah Politik dan
Gerakan Agraria pada Departemen Sains Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat (SKPM), Fakultas Ekologi
Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor (IPB).
1
The law locks up the man or woman; Who steals
the goose from off the common; But leaves the greater
villain loose; Who steals the common from off the goose;
2 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
hak-pihak yang bertentangan tersebut berupaya
dan bertindak, secara langsung maupun tidak,
menghilangkan klaim pihak lain. Konflik agraria
yang dimaksud dimulai oleh surat keputusan
pejabat publik, termasuk Menteri Kehutanan,
Menteri ESDM (Energi Dan Sumber Daya Min-
eral), Kepala BPN (Badan Pertanahan Nasional),
Gubernur, dan Bupati, yang memberi ijin/hak/
lisensi pada badan usaha tertentu, dengan me-
masukkan tanah, SDA, dan wilayah kepunyaan
rakyat ke dalam konsesi-konsesi agraria yang
bergerak dalam bidang ekstrasi, produksi, mau-
pun konservasi berbasiskan sumberdaya alam.
Konflik agraria yang dimaksud dalam artikel
ini dimulai dengan pemberian ijin/hak
pemanfaatan oleh pejabat publik yang meng-
ekslusi sekelompok rakyat dari tanah, SDA, dan
wilayah kelolanya. Akses yang telah dipunyai
sekelompok rakyat itu dibatasi, atau dihilangkan
sepenuhnya. Dalam literature studi agraria ter-
baru, konsep akses dan ekslusi adalah dua kon-
sep yang diletakkan sebagai dua sisi dari satu
mata uang. Akses diberi makna sebagai kemam-
puan untuk mendapat manfaat dari sesuatu,
termasuk objek-objek material, orang-orang,
institusi-institusi dan simbol-simbol
3
, sedangkan
eksklusi dimaknakan sebagai cara-cara dimana
orang lain dicegah untuk mendapatkan manfaat
dari sesuatu (lebih khususnya, tanah).
4
Proses
eksklusi ini menggunakan regulasi, pasar, keku-
atan, dan legitimasi, sebagaimana dijelaskan
dengan panjang lebar dan secara ilustratif dalam
buku Derek Hall, Philip Hirsch, dan Tania
Murray Li dalam Power of Exclusion, Land Di-
lemmas in Southeast Asia, 2001.
Naskah ini akan secara lugas mengungkap
dan membahas rantai penjelas dari konflik agra-
ria (sebab langsung, sebab struktural, dan kon-
disi-kondisi yang melestarikannyalihat Bagan
1 di bawah), dengan mengambil ilustrasi konflik
agraria yang diakibatkan oleh ekspansi
perkebunan kelapa sawit.
B. Kerangka Rantai Penjelas Konflik-
konflik Agraria
Konflik agraria akan terus-menerus meletus
di sana-sini, bila sebab-sebabnya belum dihi-
langkan. Dengan tetap adanya kondisi-kondisi
yang melestarikannya, konflik-konflik agraria ini
menjadi kronis dan berdampak luas. Pelajaran
pokok yang hendak dikemukakan tulisan ini
adalah bahwa dalam menangani konflik-konflik
agraria struktural, yang kronis, sistemik dan
berdampak luas, kita tidak bisa mengandalkan
cara-cara tambal-sulam dengan sekedar menga-
tasi secara cepat dan darurat, terutama sehu-
bungan dengan eskalasi dan ekses yang tampak
dari konflik-konflik itu. Artikel ini mengan-
jurkan bahwa untuk memahami konflik-konflik
agraria seperti ini secara memadai, kita memer-
lukan pendekatan yang memadai pula, yang
mendasarkan diri pada rerantai sebab-akibat dan
kondisi-kondisi yang melestarikannya.
And geese will still a common lack; Till they go and
steal it back, demikian bait-bait protes atas enclosure
(perampasan tanah) yang merupakan gejala umum di Inggris
mulai abad 17. Dalam literature terbaru, kalimat-kalimat ini
dikutip kembali untuk menunjukkan relevansi konsep analitik
enclosure. Lihat misalnya Ollman (2008: 8), Kloppenburg
(2010: 367).
2
Dalam pengertian badan penguasa/pengelola tanah
ini mencakup baik perusahaan-perusahaan milik Negara,
maupun milik pribadi/swasta, domestik maupun asing; dan
juga badan-badan pemerintah pengelola tanah luas, seperti
taman-taman nasional yang berada langsung dibawah
Kementerian Kehutanan.
3
Jesse Ribot dan Nancy Lee Peluso, 2003, A
Theory of Access. Rural Sociology, 68 (2), hlm. 153.
4
Derek Hall, Philip Hirsch, dan Tania Li, 2011, Pow-
ers of Exclusion: Land Dilemmas in Southeast Asia. Singapore
and Manoa: NUS Press, hlm. 7.
3 Noer Fauzi Rachman: Rantai Penjelas Konflik-Konflik Agraria .....: 1-14
Sebab-sebab
Pemberian ijin/hak/konsesi oleh pejabat pub-
lik (Menteri kehutanan, Menteri ESDM,
Kepala BPN, Gubernur dan Bupati) yang me-
masukkan tanah/wilayah kelola/SDA ke-
punyaan sekelompok rakyat ke dalam konsesi
badan-badan usaha raksasa dalam bidang
produksi, ekstraksi, maupun konservasi.
Penggunaan kekerasan, manipulasi, dan pe-
nipuan dalam pengadaan tanah skala besar
untuk proyek-proyek pembangunan, perusa-
haan-perusahaan raksasa, dan pemegang
konsesi lain dalam bidang produksi, ekstraksi,
konservasi.
Ekslusi sekelompok rakyat pedesaan dari ta-
nah/wilayah kelola/SDA yang dimasukkan ke
dalam konsesi badan usaha raksasa tersebut.
Perlawanan langsung dari kelompok rakyat
sehubungan ekslusi tersebut.
Akibat-akibat
Ekslusi rakyat, perempuan dan laki-laki, atas
tanah, wilayah, dan SDA yang diperebutkan
secara langsung berakibat hilangnya (seba-
gian) wilayah hidup, mata pencaharian, dan
kepemilikan atas harta benda.
Menyempitnya ruang hidup rakyat, yang
diiringi menurunnya kemandirian rakyat
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, uta-
manya pangan.
Last but not least, transformasi dari petani
menjadi buruh upahan.
Akibat-akibat Lanjutan
Konflik yang berkepanjangan menciptakan
krisis sosial ekologi yang kronis, termasuk
mendorong penduduk desa bermigrasi ke
wilayah-wilayah baru untuk mendapatkan ta-
nah pertanian baru atau pergi ke kota menjadi
golongan miskin perkotaan.
Dalam krisis sosial ekologis ini secara khusus
perhatian perlu diberikan pada berbagai ben-
tuk ketidakadilan gender, dimana perempuan
dari kelompok marginal menghadapi dan
menanggung beban yang jauh lebih besar.
Merosotnya kepercayaan masyarakat setem-
Bagan 1. Kerangka penjelas sebab-akibat konflik agraria struktural, kondisi-kondisi yang melestarikan,
dan akar masalahnya
4 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
pat terhadap pemerintah yang pada gilirannya
dapat menggerus rasa ke-Indonesia-an para
korban.
Meluasnya artikulasi konflik agraria ke ben-
tuk-bentuk konflik lain seperti: konflik etnis,
konflik agama, konflik antar kampung/desa,
dan konflik antar penduduk asli dan pen-
datang.
Kondisi-kondisi yang Melestarikan
Tidak adanya koreksi atas putusan-putusan
pejabat publik yang memasukkan tanah/
wilayah kelola/SDA rakyat ke dalam konsesi
badan usaha atau badan pemerintah raksasa
untuk produksi, ekstraksi, maupun konser-
vasi, dan di sisi lain, berlangsungnya terus-
menerus proses pemberian ijin/hak pada
badan-badan raksasa tersebut.
Lembaga-lembaga pemerintah tidak pernah
membuka informasi kepada publik, apalagi
dikontrol oleh publik, perihal penerbit hak/
ijin/lisensi yang berada pada kewenangannya.
Ketiadaan kelembagaan yang memiliki
otoritas penuh, lintas sektor dalam lembaga
pemerintah, yang memadai dalam menanga-
ni konflik agraria yang telah, sedang, dan
akan terjadi.
Badan-badan usaha atau badan-badan peme-
rintah bersikap defensif apabila rakyat meng-
artikulasikan protes sebab hilang atau berku-
rangnya akses rakyat atas tanah, sumber daya
alam, dan wilayahnya, sebagai akibat dari hak/
ijin/lisensi yang mereka dapatkan itu. Lebih
lanjut, protes rakyat disikapi dengan keke-
rasan, kriminalisasi, dan intimidasi.
Sempitnya ruang lingkup dan terhambatnya
pelaksanaan program yang disebut Reforma
Agraria dalam membereskan ketimpangan
penguasaan tanah dan SDA. Lebih dari itu,
kita menyaksikan berbagai skandal dalam
implementasi redistribusi tanah, misalnya
pemberian tanah bukan pada mereka yang
memperjuangkan, pengurangan jumlah
tanah yang seharusnya diredistribusi, peni-
puan dan manipulasi nama-nama penerima
maupun objek redistribusi, dan tanah-tanah
yang diredistribusi dikuasai oleh tuan-tuan
tanah (rekonsentrasi).
Akar Masalah
Tidak adanya kebijakan untuk menyediakan
kepastian penguasaan (tenurial security) bagi
akses atas tanah-tanah/SDA/wilayah kelola
masyarakat, termasuk pada akses yang berada
dalam kawasan huatn negara.
Dominasi dan ekspansi badan-badan usaha
raksasa dalam industri ekstraktif, produksi
perkebunan dan kehutanan, serta konservasi.
Instrumentasi badan-badan pemerintahan
sebagai lembaga pengadaaan tanah melalui
rejim-rejim pemberian hak/ijin/lisensi atas
tanah dan sumber daya alam.
UUPA 1960 yang pada mulanya ditempatkan
sebagai UU Payung, pada prakteknya disem-
pitkan hanya mengurus wilayah non-hutan
(sekitar 30% wilayah RI), dan prinsip-prinsip-
nya diabaikan. Peraturan perundang-un-
dangan mengenai pertanahan/kehutanan/
PSDA lainnya tumpang tindih dan berten-
tangan antara satu dengan yang lain.
Hukum-hukum adat yang berlaku di ka-
langan rakyat diabaikan atau ditiadakan
keberlakuannya oleh perundang-undangan
agraria, kehutanan dan pertambangan.
Sektoralisme kelembagaan, sistem, mekanis-
me, dan administrasi yang mengatur perta-
nahan/kehutanan/SDA lainnya yang semakin
menjadi-jadi.
Last but not least, Semakin menajamnya ke-
timpangan penguasaan, pemilikan, penggu-
naan, dan peruntukan tanah/hutan/SDA
lainnya.
5 Noer Fauzi Rachman: Rantai Penjelas Konflik-Konflik Agraria .....: 1-14
C. Ilustrasi Konflik-konflik Agraria
sebagai Akibat Ekspansi Perkebunan
Kelapa Sawit
Produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia
terus tumbuh pesat dari tahun ke tahun. Indo-
nesia adalah penghasil CPO terbesar di dunia.
Pemantauan dari Indonesian Commercial News
Letter (Juli 2011) produksi CPO meningkat men-
jadi 21,0 juta pada 2010 dari tahun sebelumnya
19,4 juta ton. Pada 2011 produksi diperkirakan
akan naik 4,7% menjadi sekitar 22,0 juta ton.
Sementara itu, total ekspor juga meningkat, yak-
ni pada 2010 sekitar 15,65 juta ton, dan diper-
kirakan akan melonjak menjadi 18,0 juta ton
pada 2011. Dari total produksi tersebut diperki-
rakan hanya sekitar 25% atau sekitar 5,45 juta
ton yang dikonsumsi oleh pasar domestik. Pro-
duksi CPO sebanyak itu ditopang oleh total luas
konsesi perkebunan kelapa sawit yang terus
bertambah yaitu menjadi 7,9 juta hektar pada
2011 dari 7,5 juta hektar pada 2010.
Data Dirjenbun menunjukkan bahwa luasan
perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah 8,1
juta (Dirjenbun 2012 sebagaimana dikutip oleh
Sawit Watch 2012). Luas perkebunan ini, lebih
kecil dari yang sesungguhnya sebagaimana
diperkirakan oleh Sawit Watch (2012), telah men-
capai 11,5 juta hektar. Perkebunan-perkebunan
kelapa sawit sering lebih luas dari konsesi legal-
nya. Dari luasan ini berapa persen partisipasi
petani-petani yang bertanam kelapa sawit di
tanahnya sendiri. Menurut Dirjen Perkebunan,
Departemen Pertanian, luasan kebun sawit milik
petani di atas 40 % (sebagaimana dikutip oleh
Sawit Watch 2012). Sementara menurut Sawit
Watch sendiri (2012), jumlahnya adalah kurang
dari 30 %. Dengan percepatan luasan 400.000
ha per tahun, luasan kebun sawit Indonesia yang
digenjot pemerintah, perusahaan-perusahaan
swasta, dan petani-petani sawit, luasan kebun
sawit di Indonesia dicanangkan mencapai 20 juta
hektar pada tahun 2025.
Menarik sekali memperhatikan data dari
Direktur Pascapanen dan Pembinaan Usaha
Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkebunan pada
Kementerian Pertanian, Herdradjat Natawidjaja
(2012), sebagaimana dimuat dalam Kompas 26
Januari 2011, Lahan Sawit Rawan Konflik. Dalam
rapat koordinasi perkebunan berkelanjutan di
Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada tanggal
25 Januari 2012, ia menyampaikan data bahwa
sekitar 59 % dari 1.000 perusahaan kelapa sawit
di seluruh daerah Indonesia terlibat konf lik
dengan masyarakat terkait lahan. Tim dari Ditjen
Perkebunan sudah mengidentif ikasi konflik itu
di 22 provinsi dan 143 kabupaten. Totalnya ada
sekitar 591 konflik: Kalimantan Tengah menem-
pati urutan pertama dengan 250 kasus konflik,
disusul Sumatera Utara 101 kasus, Kalimantan
Timur 78 kasus, Kalimantan Barat 77 kasus, dan
Kalimantan Selatan 34 kasus.
Dalam banyak konflik-konflik agraria kita
juga menyaksikan instrumentasi hukum, peng-
gunaan kekerasan, kriminalisasi (tokoh) pendu-
duk, manipulasi, penipuan, dan pemaksaaan
persetujuan, yang dilakukan secara sistematik
dan meluas. Kesemua ini sering menyertai upaya
penghilangan klaim rakyat atau pengalihan
penguasaan atas tanah, SDA dan wilayah kelola
rakyat setempat ke konsesi yang dipunyai oleh
badan-badan usaha raksasa termaksud. Hal ini
sekaligus merupakan ekslusi atau pembatasan
akses rakyat terhadap tanah, SDA, maupun wila-
yah kelolanya. Sebaliknya, terjadi perlawanan
langsung dari rakyat maupun yang difasilitasi
oleh organisasi-organisasi gerakan sosial, lem-
baga swadaya masyarakat (LSM), maupun elite
politik, dilakukan untuk menentang eksklusi,
atau pembatasan paksa akses rakyat tersebut.
Sudah diakui bahwa masalah pengadaan ta-
nah untuk perkebunan sawit di Indonesia cende-
rung berujung pada konf lik agraria. Perten-
6 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tangan klaim hak atas tanah terjadi antara
pengusaha yang telah mengantongi Hak Guna
Usaha (HGU) dari pemerintah dengan masya-
rakat petani yang telah hidup bertahun-tahun
di sebuah wilayah dengan sistem tenurialnya
sendiri.
5
D. Sebab-sebab Struktural Konflik
Agraria
Konf lik agraria belum banyak diungkap
sebab-sebab strukturalnya, yakni yang berhu-
bungan dengan bagaimana ekonomi pasar
kapitalistik bekerja. Harus dipahami bahwa
ekonomi pasar kapitalistik bekerja sama sekali
berbeda dengan ekonomi pasar sederhana dima-
na terjadi tukar-menukar barang melalui tin-
dakan belanja dan membeli yang diperantarai
oleh uang. Dalam ekonomi pasar kapitalis,
bukanlah ekonomi yang melekat ke dalam hu-
bungan-hubungan sosial, melainkan hubungan-
hubungan sosial lah yang melekat ke dalam sis-
tem ekonomi kapitalis itu.
6
Pasar kapitalis memi-
liki kekuatannya sendiri yang dipercayai bisa
mengatur dirinya sendiri. Tapi, sebagaimana
ditunjukkan oleh Polanyi, badan-badan negara
lah yang sesungguhnya membuat pasar kapitalis
demikian itu bisa bekerja.
Ekonomi pasar kapitalis terus bergerak. Kalau
tidak bergerak dia mati. Gerakan pasar dapat
dibedakan sebagai penyedia kesempatan dan
juga dapat sebagai kekuatan pemaksa. Ellen
Wood (1994) mengistilahkannya sebagai mar-
ket-as-opportunity (pasar-sebagai-kesempatan),
dan market-as-imperative (pasar-sebagai-keha-
rusan). Pasar sebagai kesempatan bekerja melalui
proses sirkulasi barang dagangan. Kebutuhan
manusia pada gilirannya dibentuk agar dapat
mengkonsumsi apa-apa yang diproduksi. Seba-
gai suatu sistem produksi yang khusus, ia men-
dominasi cara pertukaran komoditas melalui
pasar. Lebih dari itu, perusahaan kapitalisme
sanggup membentuk bagaimana cara sektor
ekonomi dikelola oleh badan-badan pemerin-
tahan hingga ke pemikiran cara bagaimana cara
ekonomi pasar itu diagung-agungkan.
7
Negara Indonesia secara terus-menerus di-
bentuk menjadi negara neoliberal dalam rangka
melancarkan bekerjanya ekonomi pasar kapitalis
di zaman globalisasi sekarang ini. Hal ini perlu
dipahami dengan kerangka pasar-sebagai-keha-
rusan. Pasar-sebagai-keharusan dapat dipahami
mulai dari karakter sistem produksi kapitalis
sebagai yang paling mampu dalam mengakumu-
lasikan keuntungan melalui kemajuan dan
sof istikasi teknologi, serta peningkatan produk-
tivitas tenaga kerja per-unit kerja, dan ef isiensi
hubungan sosial dan pembagian kerja produksi
dan sirkulasi barang dagangan. Kesemuanya
mengakibatkan penggantian pabrik-pabrik yang
telah usang, sektor-sektor ekonomi yang tidak
kompetitif, hingga ketrampilan para pekerja yang
tidak lagi dapat dipakai.
Sebagai sistem produksi yang khusus, kapi-
talisme ini memberi tempat hidup dan insentif
bagi semua yang ef isien, dan menghukum mati
atau membiarkan mati hal-hal yang tidak
sanggup menyesuaikan diri dengannya. Selan-
jutnya, di atas apa-apa yang telah dihancur-lebur-
kan itulah dibangun sesuatu yang baru, yang
5
M. Colchester, N. Jiwan, M.T. Sirait, A.Y. Firdaus,
A. Surambo, & H. Pane, 2006, Promised Land: Palm Oil
and Land Acquisition in Indonesia - Implications for Local
Communities and Indigenous Peoples (published by Forest
People Programme (FPP), Sawit Watch, HUMA,
World Agroforestry Centre (ICRAF) SEA.
6
Karl Polanyi, 1967 (1944). The Great Transforma-
tion: The Political and Economic Origins of Our Time. Bos-
ton: Beacon Press, 1967/(1944), hlm. 57.
7
Perihal asal-mula dari keharusan-pasar (market-im-
peratives), dan cara bagaimana keharusan-keharusan ini
membentuk kebijakan-kebijakan ekonomi utama saat ini
silakan lihat karya-karya Wood (1994, 1995:28493; 1999a;
1999b; 2001,:2836; 2002a:1938; 2002b; and 2009)
7 Noer Fauzi Rachman: Rantai Penjelas Konflik-Konflik Agraria .....: 1-14
dapat lebih menjamin keberlangsungan akumu-
lasi keuntungan. Schumpeter (1944/1976:81-86)
menyebut hal ini sebagai the process of creative
destruction (proses penghancuran yang kreatif).
Sejarah penguasaan agraria di Indonesia ham-
pir mirip dengan sejarah yang terjadi di negara-
negara pasca-kolonial di Asia, Amerika Latin
hingga Afrika. Pemberlakuan hukum agraria
yang baru, termasuk di dalamnya hukum yang
mengatur usaha-usaha perkebunan, kehutanan,
dan pertambangan, merupakan suatu cara agar
perusahaan-perusahaan kapitalis dari negara-
negara penjajah di Eropa maupun Amerika dapat
memperoleh akses eksklusif atas tanah dan
kekayaan alam, yang kemudian mereka def ini-
sikan sebagai modal perusahaan-perusahaan itu.
Di Indonesia pasca-kolonial, kran liberalisasi
sumberdaya alam tersebut sangat jelas ketika
Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto mulai
berkuasa, tahun 1967. Liberalisasi ini telah me-
rampas kedaulatan rakyat atas tanah untuk
kedua kalinya setelah pemerintah kolonial mela-
kukan cara serupa semasa penjajahan sebelum-
nya. Badan-badan pemerintahan dan perusaha-
an-perusahaan mulai mengkapling-kapling
tanah-air Indonesia untuk konsesi perkebunan,
kehutanan dan pertambangan, dan mengelu-
arkan penduduk yang hidup di dalam konsesi
itu. Hubungan dan cara penduduk menikmati
hasil dari tanah dan alam telah diputus melalui
pemberlakuan hukum, penggunaan kekerasan,
pemagaran wilayah secara f isik, hingga peng-
gunaan simbol-simbol baru yang menunjukkan
status kepemilikan yang bukan lagi dipangku oleh
mereka. Bila saja sekelompok rakyat melakukan
protes dan perlawanan untuk menguasai dan
menikmati kembali tanah dan wilayah yang telah
diambil alih pemerintah dan perusahaan-peru-
sahaan itu, mereka akan merasakan akibat yang
sangat nyata: kriminalisasi, sanksi oleh birokrasi
hukum, atau tindakan kekerasan lainnya yang
seringkali dibenarkan secara hukum.
Pengkaplingan dan pemutusan hubungan itu
pada intinya adalah penghentian secara paksa
akses petani atas tanah dan kekayaan alam ter-
tentu, lalu tanah dan kekayaan alam itu masuk
ke dalam modal perusahaan-perusahaan kapi-
talistik.
8
Jadi, perubahan dari alam menjadi sum-
ber daya alam ini berakibat sangat pahit bagi
rakyat petani yang harus tersingkir dari tanah
asalnya dan sebagian dipaksa berubah menjadi
tenaga kerja/buruh upahan. Ini adalah proses
paksa menciptakan orang-orang yang tidak lagi
bekerja terikat pada tanah dan alam. Orang-
orang ini mengandalkan hanya pada tenaga yang
melekat pada dirinya saja, lalu menjadi para pe-
kerja bebas. Sebagian mereka pergi dari tanah
mereka di desa-desa ke kota-kota untuk menda-
patkan pekerjaan. Kantung-kantung kemiskinan
di kota-kota dilahirkan oleh proses demikian ini.
9
David Harvey (2003, 2005) mengemukakan
istilah accumulation by dispossession (akumulasi
8
Karl Marx dalam Das Capital (1867) mengembangkan
teori the so-called primitive accumulation, yang mendu-
dukkan proses perampasan tanah ini sebagai satu sisi dari
mata uang, dan kemudian memasangkannya dengan sisi
lainnya, yaitu penciptaan tenaga kerja bebas. Marx menger-
jakan kembali temuan Adam Smith (pemikir ekonomi terkenal
yang menteorikan mengenai tangan-tangan tak terlihat [in-
visible hands] yang bekerja dalam mengatur bagaimana pasar
bekerja), bahwa akumulasi kekayaan alam harus terjadi dulu
sebelum pembagian kerja, sebagaimana tertulis dalam karya
terkenalnya The Weath of Nations (1776, I.3: 277). Michael
Perelman memecahkan misteri penggunaan kata primitive
dalam primitive accumulation. Seperti yang secara tegas
tercantum dalam tulisan Marx, kata primitive berasal dari
istilah previous accumulation- Adam Smith. Marx yang
menulis dalam bahasa Jerman menerjemahkan kata previ-
ous dari karya Adam Smith menjadi ursprunglich, dimana
penerjemah bahasa Inggris Das Kapital karya Marx kemudian
menerjemahkannya menjadi kata primitive (Perelman
2000:25). Uraian menarik mengenai konsep original accu-
mulation dari Adam Smith dan primitive accumulation
dari Karl Marx, dan relevansinya untuk memahami
perkembangan kapitalisme dewasa ini, dapat ditemukan dalam
Perelman (2000) dan De Angelis (1999, 2007).
9
Mike Davis, 2006, Planet of Slums. New York: Verso.
8 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
dengan cara perampasan) yang dibedakan
dengan accumulation by exploitation, yakni aku-
mulasi modal secara meluas melalui eksploitasi
tenaga kerja dalam proses produksi dan sirkulasi
barang dagangan. Dalam proses akumulasi
dengan cara perampasan, dia menekankan pen-
tingnya produksi ruang, organisasi pembagian
kerja yang secara keseluruhannya baru dalam
wilayah yang baru pula, pembukaan berbagai
macam cara perolehan sumberdaya baru yang
jauh lebih murah, pembukaan wilayah-wilayah
baru sebagai bagian dari dinamika ruang-ruang
akumulasi modal, dan penetrasi terhadap forma-
si sosial yang ada oleh hubungan-hubungan so-
sial kapitalis dan tatanan kelembagaannya (con-
tohnya aturan kontrak dan kepemilikan pribadi)
membuka jalan bagi penyerapan surplus modal
maupun tenaga kerja.
10
Reorganisasi dan rekon-
struksi geograf is untuk pembukaan ruang-
ruang baru bagi sistem produksi kapitalis ini di-
mulai dengan menghancur-lebur hubungan
kepemilikan rakyat pedesaan dengan tanah,
kekayaan alam, dan wilayahnya, dan segala hal-
ihwal kebudayaannya yang hidup, melekat seca-
ra sosial pada tempat-tempat itu.
Reorganisasi dan rekonstruksi geograf is ini-
lah yang sedang kita alami dengan pemberian
konsesi-konsesi tanah dan sumber daya alam
untuk menghasilkan komoditas-komoditas glo-
bal seperti yang dirancang secara terpusat
dengan Masterplan Percepatan dan Pengem-
bangan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025.
Dalam MP3EI itu, tiap koridor ekonomi diran-
cang untuk menghasilkan andalan-andalan
komoditas global tertentu (lihat table 1 di bawah).
Tabel 1. Pembagian Koridor Ekonomi
menurut MP3EI
Pasar kapitalis membuat segala hal dikomo-
dif ikasi menjadi barang dagangan. Namun,
khusus untuk tanah (atau lebih luas alam), pasar
kapitalis tidak akan pernah berhasil mengko-
modif ikasi sepenuhnya. Karl Polanyi percaya
bahwa tanah (atau lebih luasnya: alam) sesung-
guhnya bukanlah komoditi atau barang da-
gangan, dan tidak dapat sepenuhnya diperlaku-
kan sebagai komoditi (barang dagangan). Tanah
melekat sepenuhnya dengan relasi-relasi sosial.
Jadi mereka yang memperlakukan tanah (alam)
sepenuhnya sebagai komoditi, sesungguhnya
bertentangan dengan hakekat tanah (alam) itu
sendiri. Tanah (alam) dapat dibayangkan sebagai
komoditi. Polanyi mengistilahkannya: f ictitious
commodity (barang dagangan yang dibayang-
kan). Menurut Polanyi memperlakukan tanah
(alam) sebagai barang dagangan dengan memi-
sahkannya dari ikatan hubungan-hubungan
sosial yang melekat padanya, niscaya akan meng-
hasilkan guncangan-guncangan yang menghan-
curkan sendi-sendi keberlanjutan hidup masya-
rakat itu, dan kemudian akan ada gerakan tan-
dingan untuk melindungi masyarakat dari keru-
sakan yang lebih parah.
10
David Harvey, 2003, The New Imperialism. Ox-
ford: Oxford University Press, hlm. 116.
Koridor Ekonomi Produksi Komoditas Global yang Diandalkan
Sumatera, Banten Utara Sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung
energi nasional dengan fokus sektor pada minyak kelapa
sawit/CPO, Karet, dan Batubara
Jawa Pendorong industri dan jasa nasional dengan fokus sektor
pada produk makanan, tekstil dan industri alat angkut
Kalimantan Pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung
energi nasional dengan fokus sektor pada migas, minyak
kelapa sawit, dan batubara
Sulawesi, Maluku Utara Pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan,
dan perikanan nasional dengan fokus sektor pada tanaman
pangan, perkebunan, perikanan, dan pertambangan nikel
Bali, Nusa Tenggara Pintu gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional
dengan fokus sektor pada pariwisata serta pertanian dan
peternakan
Papua, Maluku Pengolahan sumber daya alamyang melimpah dan SDM
yang sejahtera dengan fokus sektor pada pertambangan serta
pertanian dan perkebunan
9 Noer Fauzi Rachman: Rantai Penjelas Konflik-Konflik Agraria .....: 1-14
Tanah (dan juga tenaga kerja) merupakan
syarat hidup dari masyarakat. Memasukkan ta-
nah (dan juga tenaga kerja) dalam mekanisme
pasar adalah merendahkan hakekat masyarakat,
dan dengan demikian menyerahkan begitu saja
sepengaturan kehidupan masyarakat pada meka-
nisme pasar. Hal ini dengan sendirinya, akan
menimbulkan gejolak perlawanan, demikian
Polanyi menyebutkan. Polanyi pun menulis bah-
wa kelembagaan pasar demikian tak dapat
hidup lama tanpa melenyapkan hakekat alamiah
dan kemanusiaan dari masyarakat; Ia akan secara
f isik merusak manusia dan mengubah ling-
kungannya menjadi demikian tak terkendalikan.
Tak terelakkan lagi, masyarakat melakukan upaya
perlindungan diri.
11
Dalam bagian lain bukunya, Polanyi menulis
selama berabad dinamika masyarakat modern
diatur oleh suatu gerakan ganda (double move-
ment): pasar yang terus ekspansi meluaskan diri,
tapi gerakan (pasar) ini bertemu dengan suatu
gerakan tandingan (counter-movement) meng-
hadang ekspansi ini agar jalan ke arah yang ber-
beda. Apa yang diutamakan oleh gerakan tan-
dingan ini adalah untuk melindungi masyarakat,
yang pada akhirnya (gerakan tandingan itu) tak
cocok dengan prinsip pengaturan diri-sendiri
dari pasar, dan dengan demikian tidak cocok
pula dengan sistem pasar itu sendiri.
12
Protes-
protes itu adalah perlawanan balik yang sesaat
atau bisa juga berkepanjangan dari sekelompok
rakyat untuk bertahan, melindungi diri dan bah-
kan melawan proses komodif ikasi yang dilan-
carkan oleh pasar kapitalis itu.
13
E. Kesimpulan
Merujuk pada puisi yang dikutip di awal
tulisan ini, di kalangan kaum terdidik, termasuk
para ahli hukum, baik di Indonesia maupun di
berbagai belahan bumi lainnya, kita dihadapkan
oleh dua macam pemikiran yang bertentangan
satu sama lain, yakni mereka yang mempelajari
orang-orang yang mencuri seekor angsa dari
tanah milik bersama, dan mereka yang mempe-
lajari mereka yang mencuri tanah milik bersama
11
Karl Polanyi, 1944, The Great Transformation: The
Political and Economic Origins of Our Time. Boston: Bea-
con Press, hlm. 3.
12
Ibid, hlm. 130.
13
Noer Fauzi, 1999, Petani dan Penguasa. Dinamika
Perjalanan Politik Agraria Indonesia. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar-Insist Press dan Konsorsium Pembaruan Agraria.
10 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
dari angsa itu
14
. Tulisan ini mengajak kita
mengerti mereka yang mencuri angsa dari
tanah milik bersama itu, dengan berusaha
mengemukakan cara kerja mereka yang men-
curi tanah milik bersama dari angsa itu.
Kita sudah saksikan bahwa jika konf lik-
konflik agraria struktural, seperti yang terjadi
sehubungan dengan ekspansi perkebunan
kelapa sawit, dipahami hanya sebatas problem
kriminalitas rakyat, maka pendekatan polisionil
yang diterapkan sebagai konsekuensi dari pema-
haman itu berakibat pada semakin rumitnya
konflik-konflik agraria tersebut. Penulis mengan-
jurkan mendudukkan konflik-konflik agraria
yang berhubungan dengan perluasan perke-
bunan sawit di Indonesia dalam perspektif yang
lebih luas. Akibat lanjutan dari konflik agraria
ini adalah meluasnya konflik itu sendiri, dari
sekedar konflik klaim atas tanah, sumberdaya
alam dan wilayah menjadi konflik-konflik lain.
Konflik agraria yang berkepanjangan mencipta-
kan krisis sosial-ekologi, termasuk yang mendo-
rong penduduk desa bermigrasi ke wilayah-
wilayah baru untuk mendapatkan tanah perta-
nian baru, atau pergi dan hidup menjadi go-
longan miskin kota. Hal ini menjadi sumber
masalah baru di kota-kota.
Lebih jauh dari itu, artikulasi konflik agraria
dapat membentuk-bentuk konflik lain seperti
konflik antara para petani pemilik asal tanah
dengan pekerja perkebunan, konf lik antar
kelompok etnis, antar penduduk asli dan pen-
datang, bahkan hingga konflik antar kampung/
desa. Ketika konf lik-konf lik itu berlangsung
dalam intensitas yang tinggi, rakyat mencari
akses ke organisasi gerakan sosial, LSM, DPRD,
Badan Pertanahan Nasional, Kementrian Kehu-
tanan, hingga DPR Pusat, Komnas HAM, dll.
Dalam sejumlah kasus klaim dan keperluan
rakyat korban bisa diurus sesuai dengan kewe-
nangan dan kapasitas masing-masing lembaga.
Namun, tidak demikian halnya untuk kasus-
kasus dengan karakteristik konf liknya yang
bersifat struktural, dan sudah kronis, serta aki-
bat-akibatnya telah meluas.
Konflik agraria struktural macam ini diles-
tarikan oleh tidak adanya koreksi/ralat atas pu-
tusan-putusan pejabat publik (Menteri Kehu-
tanan, Kepala Badan Pertanahan Nasional, Men-
teri ESDM, Bupati dan Gubernur) yang mema-
sukkan tanah, SDA, dan wilayah hidup rakyat
ke dalam konsesi badan usaha raksasa untuk
produksi, ekstraksi, maupun konservasi. Kita
tahu bahwa berdasarkan kewenangannya,
pejabat publik itu dimotivasi oleh keperluan
perolehan rente maupun untuk pertumbuhan
ekonomi, mereka melanjutkan dan terus-mene-
rus memproses pemberian ijin/hak pada badan-
badan usaha/proyek raksasa tersebut. Kita tahu
pula bahwa bila suatu koreksi demikian dilaku-
kan, pejabat-pejabat publik dapat dituntut balik
oleh perusahaan-perusahaan yang konsesinya
dikurangi atau apalagi dibatalkan. Resiko keru-
gian yang bakal diderita bila kalah di Pengadilan
Tata Usaha Negara (PTUN) tentu dihindari oleh
pejabat publik yang bersangkutan.
Dalam situasi konflik agraria yang berkepan-
jangan, rakyat korban bertanya mengenai posisi
dan peran pemerintah. Rakyat bisa sampai pada
perasaan tidak adanya pemerintah yang melin-
dungi dan mengayomi. Pada tingkat awal mereka
akan memprotes pemerintah. Ketika krimina-
lisasi diberlakukan terhadap mereka, mereka
merasa dimusuhi pemerintah. Kalau hal ini
diteruskan, mereka merasakan pemerintah di
masa Reformasi berlaku sebagai penguasa dan
bertindak semaunya saja, termasuk menjadi pela-
yan pasar kapitalis. Kalau hal ini diteruskan, yang
akan terjadi adalah merosotnya legitimasi peme-
14
Bertell Ollman, 2008, Why Dialectics? Why
Now?, Dialectics for the New Century. Edited by Bertell
Ollman dan Tony Smith. Hampshire: Palgrave Macmillan,
hlm. 8.
11 Noer Fauzi Rachman: Rantai Penjelas Konflik-konflik Agraria .....: 1-14
rintah di mata rakyatnya. Hal ini tentunya akan
membuat negara kita semakin jauh dari yang
dicita-citakan oleh proklamasi kemerdekaan
Negara Republik Indonesia sebagaimana dike-
mukakan dalam pembukaan Undang-undang
Dasar 1945.
Merosotnya legitimasi rakyat terhadap peme-
rintah itu membuat mereka yang pada mulanya
berada dalam posisi korban dalam konf lik-
konf lik agraria itu sampai pada pertanyaan
apakah mereka berhak mempunyai hak?
15
Ilustrasi terbaik dari krisis legitimasi pemerintah
dan pentingnya hak untuk memiliki hak ini
adalah apa yang diperjuangakan oleh Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), sebagai-
mana terpantul dari motonya, Kalau negara
tidak mengakui kami, kami pun tidak mengakui
negara. Menurut penulis, tuntutan AMAN agar
negara mengakui eksistensi masyarakat adat
beserta pemastian hak atas tanah-air masyarakat
adat adalah suatu panggilan untuk pejabat dan
badan-badan negara untuk memenuhi kewa-
jiban konstitusional untuk melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum demi tujuan mewujudkan suatu ke-
adilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hasil
amandemen atas Undang-undang Dasar 1945
menghasilkan tiga ketentuan baru berkenaan
dengan eksistensi dan hak-hak masyarakat adat,
yaitu pasal 18B ayat (2), pasal 28i ayat (3), dan
ayat (2). Pengakuan eksistensi dan perlindungan
hak-hak masyarakat adat ini dipersyarati dengan
empat ketentuan, yakni sepanjang masih hidup,
sesuai dengan perkembangan masyarakat, sesuai
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,
dan diatur dalam undang-undang. Namun
pengakuan konstitusional ini tidak dengan sen-
dirinya (secara otomatis) mendorong penyesu-
aian perundang-undangan di bawahnya. Masih
banyak pekerjaan pembaruan perundang-un-
dangan untuk meralat penyangkalan dan mewu-
judkan pengakuan atas eksistensi masyarakat
adat itu dan segenap hak-hak dasarnya.
16
Lebih
jauh, agenda utama perjuangan AMAN adalah
(i) mendorong ralat kebijakan-kebijakan yang
menyangkal eksistensi masyarakat adat itu,
dengan memastikan bahwa masyarakat adat ada-
lah suatu subjek hukum yang sah, dan peme-
rintah Republik Indonesia wajib mengadminis-
trasikan hak-hak khusus yang melekat padanya,
termasuk hak-hak atas tanah, kekayaan alam, dan
wilayah kelolanya; dan (ii) mewujudkan hak
memperoleh pemulihan atas kerusakan sosial-
ekologis yang diderita masyarakat adat akibat
kekeliruan kebijakan pemerintah yang menyang-
kal eksistensinya sebagai subjek hukum, dan hak-
hak dasar yang melekat padanya.
17
15
Penulis mengambil konsep hak untuk memiliki hak
(the rights to have rights) dari filsuf politik Hannah Arendt
(1951) The Origins of Totalitarianism (1951). Arendt lah
yang membuat konsep hak untuk memiliki hak ini populer
sebagai hak politik yang paling fundamental bagi seorang
warganegara (Arendt 1951/1968: 177. Untuk pembahasan
terbaru mengenai konsep ini dalam konteks perjuangan hak
asasi manusia, kewajiban Negara, dan rejim pasar bebas,
lihat Somerr (2008), dan Kesby (2012).
16
Lihat Simarmata, 2006, Pengakuan Hukum terhadap
Masyarakat Adat di Indonesia. Jakarta: UNDP, Myrna
A. Safitri, Legislasi Hak-hak Masyarakat atas Tanah dan
Kekayaan Alam dalam Peraturan Perundang-undangan
Nasional Indonesia: Model, Masalah, dan Rekomendasi,
dalam Masa Depan Hak-hak Komunal atas Tanah: Beberapa
Gagasan untuk Pengakuan Hukum: Rekomendasi Kebijakan,
Universiteit Leiden dan BAPPENAS, hlm. 15-35, Yance
Arizona, 2010, Satu Dekade Legislasi Masyarakat Adat:
Trend Legislasi Nasional tentang Keberadaan dan Hak-
hak Masyarakat Adat atas Sumber Daya Alam di Indone-
sia (1999-2009), Kertas Kerja EPISTEMA No. 07/2010.
17
Noer Fauzi Rachman, 2012, Masyarakat Adat dan
Perjuangan Tanah-Airnya. Naskah kuliah dalam rangka
Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Tobelo, 20 April 2012. http://www.kongres4.aman.or.id/
2012/05/masyarakat-adat-dan-perjuangan-tanah-airnya.asp
(Terakhir diunduh pada 10 Maret 2013) dan Masyarakat
Adat dan Perjuangan Tanah-Airnya. Kompas 11 Juni 2012.
12 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Indonesia di bawah Orde Baru (1966-1998)
mewariskan cara bagaimana pemerintah yang
berkuasa menekankan kewajiban-kewajiban
sosial penduduk, dan bukan memenuhi hak-hak
sipil-politik dan ekonomi, sosial dan budaya
penduduk. Indonesia saat ini bukan hanya me-
merlukan Reformasi atas pemerintahan yang
otoritarian dan sentralistik dan digantikan oleh
suatu pemerintahan demokratis dan desentra-
listis, melainkan juga transformasi kelembagaan
yang menyeluruh.
18
Dalam konteks pokok ba-
hasan artikel ini, menjadi jelas bahwa satu agenda
utama dari transformasi kelembagaan itu adalah
memulihkan posisi kewarganegaran dari rakyat
miskin pedesaan, termasuk mereka yang berada
dalam situasi konflik agraria dan dalam kesatuan-
kesatuan masyarakat-hukum adat.
Ucapan Terima kasih
Versi-versi terdahulu atau bagian-bagian ter-
tentu dari naskah ini disajikan sebagai brief ing
paper, bahan presentasi dan/atau makalah di
banyak forum diskusi/lokakarya/seminar semen-
jak penulis aktif sebagai peneliti senior di Sajogyo
Institute. Forum-forum itu diselenggarakan oleh
berbagai unit/proyek dalam organisasi-organisasi
sebagai berikut: Konsorsium Pembaruan Agra-
ria, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Perkum-
pulan Pembaruan Hukum berbasis Masyarakat
dan Ekologis (HuMA), Program Studi Pasca Sar-
jana Sosiologi Universitas Indonesia, Unit Kerja
Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian
Pembangunan (UKP4), Yayasan Perspektif Baru,
Badan Legislatif DPR-RI, Komisi Pemberantasan
Korupsi, dan lainnya. Sebagian isi naskah ini
telah disajikan dalam Rachman dan Swanvri
(2012). Versi lain akan dimuat dalam Jurnal Ilmu
Pemerintahan Universitas Indonesia, 2013. Teri-
ma kasih untuk Didi Novrian dan Mia Siscawati
dan semua kolega lain di Sajogyo Institute yang
memberi banyak kritik, komentar, usulan dan
inspirasi untuk pengembangan naskah ini.
Daftar Pustaka
Arizona, Yance. 2010. Satu Dekade Legislasi
Masyarakat Adat: Trend Legislasi Nasional
tentang Keberadaan dan Hak-hak Masya-
rakat Adat atas Sumber Daya Alam di In-
donesia (1999-2009). Kertas Kerja EPIS-
TEMA No. 07/2010
Arendt, Hannah. 1951 (1968). The Origins of To-
talitarianism. New York: Harcourt Brace
Jovanovich.
Colchester, M., Jiwan, N., Sirait, M.T., Firdaus,
A.Y., Surambo, A. & Pane, H. ( 2006). Prom-
ised Land: Palm Oil and Land Acquisition
in Indonesia - Implications for Local Com-
munities and Indigenous Peoples (published
by Forest People Programme (FPP), Sawit
Watch, HUMA, World Agroforestry Cen-
tre (ICRAF) - SEA.
Davis, Mike. 2006. Planet of Slums. New York:
Verso.
De Angelis, Massimo. 1999. Marxs Theory of
Primitive Accumulation: A Suggested Re-
interpretation. University of East London.
Available online at http://
homepages. uel. ac. uk/M. DeAngelis/
PRIMACCA.htm (Unduh terakhir tanggal
04 Oktober 2012).
____. 2007. The Beginning of History: Value
Struggles and Global Capital. London, Pluto
Press
Fauzi, Noer. 1999. Petani dan Penguasa. Dina-
mika Perjalanan Politik Agraria Indonesia.
Yogyakarta, Pustaka Pelajar bekerjasama
dengan Insist Press dan Konsorsium Pem-
baruan Agraria.
Hall, Derek, Philip Hirsch, dan Tania Li. 2011.
18
Saich, Anthony, 2010, David Dapice, Tarek Masoud,
Dwight Perkins, Jonathan Pincus, Jay Rosengard, Tho-
mas Vallely, Ben Wilkinson, and Jeffrey Williams, Indo-
nesia Menentukan Nasib: dari Reformasi ke Transformasi
Kelembagaan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
13 Noer Fauzi Rachman: Rantai Penjelas Konflik-konflik Agraria .....: 1-14
Powers of Exclusion: Land Dilemmas in
Southeast Asia. Singapore and Manoa: NUS
Press.
Harvey, David. 2003. The New Imperialism. Ox-
ford: Oxford University Press.
____. 2004. The New Imperialism: Accumula-
tion by Disposession. in Socialist Register
2004, edited by L. Panitch and C. Leys. New
York: Monthly Review Press.
____. 2005. A Brief History of Neoliberalism.
Oxford: Oxford University Press.
Indonesian Commercial Letter. 2011. Indonesian
Commercial Letter, July 2011 http://
www.datacon.co.id/Sawit-2011Kelapa.html
(Unduh terakhir tanggal 04 Oktober 2012).
____. 2011. From Reformasi to Institutional
Transformation: A strategic Assessment of
Indonesias Prospects for Growth, Equity and
Democratic Governance. Harvard Kennedy
School Indonesia Program, Harvard, USA.
Kementerian Koordinator Bidang Perekono-
mian, 2011. Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indone-
sia 2011-2025. Jakarta: Kementerian Koordi-
nator Bidang Perekonomian, 2011 .
Kesby, Alison. 2012. The Right to Have Rights:
Citizenship, Humanity, and International
Law, Oxford University Press,.
Kloppenburg, Jack. 2010. Impeding disposses-
sion, enabling repossession: biological open
source and the recovery of seed sovereignty.
Journal of Agrarian Change 10:3 (July): 367-
388.
Ollman, Bertell. 2008. Why Dialectics? Why
Now?, Dialectics for the New Century. Ed-
ited by Bertell Ollman dan Tony Smith.
Hampshire: Palgrave Macmillan.
Perelman, Michael. 2000. The Invention of Capi-
talism: Classical Political Economy and the
Secret History of Primitive Accumulation.
Durham: Duke University Press.
Polanyi, Karl. 1967 (1944). The Great Transfor-
mation: The Political and Economic Origins
of Our Time. Boston: Beacon Press.
____. 2001 (1944) The Great Transformation: The
Political and Economic Origins of Our Time.
Boston: Beacon Press.
Rachman, Noer Fauzi. 2012a. Masyarakat Adat
dan Perjuangan Tanah-Airnya. Naskah
kuliah dalam rangka Kongres Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). To-
belo, 20 April 2012. http://
www. kongres4. aman. or. i d/2012/05/
masyarakat-adat-dan-perjuangan-tanah-
airnya.asp (Terakhir diunduh pada 10 Maret
2013).
____. 2012b. Masyarakat Adat dan Perjuangan
Tanah-Airnya. Kompas 11 Juni 2012.
Rachman, Noer Fauzi dan Swanvri. 2012. Pasar-
sebagai-Keharusan: Sebab Struktural
Konf lik Agraria. Sawit Watch Journal.
Vol.1:43-54.
Ribot, Jesse dan Nancy Lee Peluso. 2003. A
Theory of Access. Rural Sociology 68(2):153-
81.
Saf itri, Myrna A. 2010. Legislasi Hak-hak Masya-
rakat atas Tanah dan Kekayaan Alam dalam
Peraturan Perundang-undangan Nasional
Indonesia: Model, Masalah, dan Rekomen-
dasi, dalam Masa Depan Hak-hak Komunal
atas Tanah: Beberapa Gagasan untuk
Pengakuan Hukum: Rekomendasi Kebi-
jakan. Universiteit Leiden dan BAPPENAS,
hal 15-35.
Sawit Watch. 2012. Menerka Luasan Kebun
Sawit Rakyat http://sawitwatch.or.id/2012/
07/menerka-luasan-kebun-sawit-rakyat/
(Unduh terakhir tanggal 04 Oktober 2012).
Saich, Anthony, David Dapice, Tarek Masoud,
Dwight Perkins, Jonathan Pincus, Jay
Rosengard, Thomas Vallely, Ben Wilkinson,
and Jeff rey Williams. 2010. Indonesia
Menentukan Nasib: dari Reformasi ke
Transformasi Kelembagaan. Jakarta: Pener-
bit Buku Kompas.
Simarmata, Ricardo. 2006. Pengakuan Hukum
terhadap Masyarakat Adat di Indonesia.
Jakarta: UNDP.
Somers, Margaret R. 2008. Genealogies of Citi-
zenship: Markets, Statelessness and the Right
to Have Rights. Cambridge, Cambridge
University Press.
14 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Wood, Ellen Meiksins. 1994. From Opportunity
to Imperative: The History of the Market.
Monthly Review 46(3).
____. 1995, Democracy against Capitalism: Re-
newing Historical Materialism, Cambridge:
Cambridge University Press.
____. 1999a, Horizontal Relations: A Note on
Brenners Heresy, Historical Materialism,
4(1): 1719.
____. 1999b, The Politics of Capitalism, Monthly
Review, 51(4): 1226.
____. 2001. Contradiction: Only in Capitalism?,
in The Socialist Register 2002, edited by Leo
Panitch and Colin Leys, London: Merlin
Press.
____. 2002a. The Origin of Capitalism. A Longer
View. London, Verso.
____. 2002b, The Question of Market Depen-
dence, Journal of Agrarian Change, 2: 5087.
____. 2009, Getting Whats Coming to Us: Capi-
talism and Social Rights, Against the Cur-
rent, 140: 2832.
POTRET KONFLIK AGRARIA DI INDONESIA
Widiyanto
*
Abstract Abstract Abstract Abstract Abstract: For the last three years (2010-2013) the conflicts on natural and agrarian resources has taken public attention
beginning from the Government, Parliement, National Commission on Human Right to Non Governmental Organization as they
frequently took place. The conflicts, which had been previously latent, later they came into existence.The article talks about the
portrait of the agrarian conflicts taking place in Indonesia in general.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: conflicts, agraria, Indonesia, natural resources.
Intisari Intisari Intisari Intisari Intisari: Konflik sumberdaya alam dan agraria sepanjang tiga tahun terakhir (2010-2013) menyita perhatian publik, mulai dari
Pemerintah, Parlemen, Komnas HAM, dan LSM, mengingat intensitas ledakannya yang cukup sering. Ada tren yang cukup kuat,
konflik yang sebelumnya bersifat laten, beberapa tahun belakangan berubah menjadi manifes. Tulisan ini menyajikan potret konflik
agraria yang terjadi pada umumnya di Indonesia.
Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci: konflik, agraria, Indonesia, sumberdaya alam. .. ..
A. Pengantar
Konflik sumberdaya alam dan agraria secara
garis besar disebabkan paling tidak oleh dua hal.
Pertama, adalah ketimpangan penguasaan atas
tanah. Negara dan korporasi yang mendapat
konsesi darinya memiliki porsi penguasaan atas
tanah yang sangat dominan, dibanding dengan
penguasaan oleh mayoritas masyarakat di per-
desaan yang pada umumnya hidup di bawah
garis kemiskinan. Data Konsorsium Pembaruan
Agraria, misalnya, menyebut sekitar 64,2 juta
hektar tanah atau 33,7 persen daratan di Indone-
sia telah diberikan kepada perusahaan-perusa-
haan kehutanan, pertambangan gas, mineral,
dan batubara berupa izin konsesi. Meskipun
Pemerintah mengakui bahwa sebagian besar izin
sebenarnya bermasalah.
1
Di sektor kehutanan
sendiri, luas hutan yang ditunjuk mencapai
136,94 juta hektar atau 69 persen total luas wilayah
Indonesia. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 12-
13 persen yang telah selesai ditata batas. Dengan
wilayah seluas ini, Kementerian Kehutanan sela-
ku pihak pemangkunya, merupakan instansi
yang memiliki luasan terbesar dibanding instansi
lain. Penyebab konflik agraria yang kedua adalah
adanya perbedaan sistem penguasaan lahan antar
pihak dalam konflik agraria tak kunjung ada ke-
pastian. Masyarakat gigih mempertahankan hak
penguasaannya secara turun-temurun dan bersi-
fat informal, sementara perusahaan dan para
pihak lain datang dengan sistem aturan formal
yang tidak dikenal dalam kebiasaan masyarakat.
Kedua akar utama konflik agraria tersebut
memang saling terkait, bahkan melekat. Perbe-
daan keduanya baru dapat teridentif ikasi melalui
pokok masalah hingga penanganannya. Pokok
masalah pertama adalah ketimpangan pengu-
asaan lahan, kedua adalah pertentangan klaim.
Bila konflik didasari ketimpangan penguasaan,
maka problem solvingnya yang paling penting
didorong adalah dengan mekanisme redistribusi
*
Penulis adalah Koordinator Divisi Pusat Database
dan Informasi, www.huma.or.id.
1
Bernhard Limbong, Reforma Agraria, (Jakarta: Mar-
garetha Pustakan: 2012), hlm. 3.
16 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tanah. Sementara bila akar masalah konflik ada-
lah pertentangan klaim yang tak seimbang, maka
perlu adanya pengakuan yang mengarah pada
kepastian penguasaan yang dianggap tak resmi
atau formal. Itu sebabnya, gagasan pembaruan
agraria berujung pada keadilan dan memberikan
kepastian penguasaan kepada kelompok masya-
rakat yang lemah.
Lalu bagaimana potret konflik agraria di In-
donesia? Apa saja tipologi konf lik yang do-
minan? Dan bagaimana sebarannya? Pertanyaan
selanjutnya, apa implikasi konflik agraria terha-
dap hak asasi manusia, sebagai dimensi terpen-
ting dalam menjaga eksistensi para pihak teru-
tama bagi korban? Dalam tulisan ini, saya lebih
menekankan potret konf lik agraria dengan
mengacu pada penyebab yang kedua, yakni ada-
nya pertentangan klaim penguasaan lahan antar
pihak. Konflik bermula dari pertentangan dua
sistem penguasaan lahan, formal dan yang in-
formal, yang meletusnya dipicu dengan ke-
inginan salah satu pihak untuk memaksakan
sistemnya kepada pihak lain.
Banyak konflik yang mulanya terjadi secara
diam-diam, tiba-tiba meletus ke permukaan.
Perubahan tren konflik tersebut terjadi merata
di seluruh Indonesia. Kita bisa simak mulai dari
Mesuji di Lampung Utara, Ogan Komering Ilir,
Kebumen, hingga Sumbawa. Gambar di atas
menunjukkan sebaran konflik di Indonesia.
2
B. Sebaran Konflik
Dari data yang didokumentasikan oleh HuMa
terlihat bahwa ratusan konflik tersebut terjadi
di hampir seluruh provinsi di Indonesia dengan
tingkat frekuensi yang berbeda. Beberapa pro-
vinsi tidak masuk karena keterbatasan data yang
ada. Sangat mungkin provinsi seperti ini justru
memiliki intensitas konflik yang tinggi. Sebut
2
Widiyanto, dkk, Outlook Konflik Sumberdaya Alam
dan Agraria, HuMa, 2012
Gambar 1. Sebaran konflik Sumber Daya Alam di Indonesia. Sumber: Database HuMa, 2012.
17 Widiyanto: Potret Konflik Agraria di Indonesia .....: 15-27
saja seperti Provinsi Papua, dimana megaproyek
ambisius pengadaan lumbung pangan Merauke
Integrated Food and Energy Estate atau dikenal
MIFEE, sedang berlangsung. Proyek ini akan
mengkonversi sekitar sejuta hektar lahan yang
dikuasai masyarakat adat menjadi areal perke-
bunan dan pertanian oleh korporasi-korporasi
besar.
HuMa mencatat konflik berlangsung di 98
kota/kabupaten di 22 provinsi. Yang mempriha-
tinkan, luasan area konflik mencapai 2.043.287
hektar atau lebih dari 20 ribu km2. Luasan ini
setara dengan separoh luas Provinsi Sumatera
Barat. Konflik yang didokumentasikan HuMa
ini hanya potret permukaan saja. Bisa dibayang-
kan jika semua konflik berhasil diidentif ikasi
jumlah dan luasannya yang pasti akan jauh lebih
besar. Dari 22 provinsi konflik yang didokumen-
tasikan HuMa, tujuh provinsi di antaranya me-
miliki konflik paling banyak, yakni Aceh, Banten,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kali-
mantan Tengah dan Sumatera Utara.
Tabel 1. Jumlah Kasus Konflik Terbanyak
Sumber: Database HuMa, 2012.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi yang
paling banyak konflik, dimana 13 dari 14 kabu-
paten dan kotanya memendam masalah klaim
atas sumberdaya alam dan agraria. Artinya, kon-
flik berlangsung merata di wilayah administra-
tif provinsi tersebut. Sebanyak 85% dari kasus di
Kalimantan Tengah terjadi di sektor perkebunan.
Sedangkan 10% merupakan konflik di sektor
kehutanan. Sisanya adalah konf lik pertam-
bangan dan konflik lainnya. Meluasnya ekspansi
perkebunan monokultur seperti sawit di Kali-
mantan tak ayal membuat luas hutan berkurang
drastis. Perubahan status kawasan hutan melalui
mekanisme pelepasan, tukar-menukar yang tak
seimbang, maupun izin pinjam pakai marak
terjadi dan cenderung kian tak terkendali. Aki-
batnya, konflik klaim adat atas wilayah hutan
melawan penunjukan sepihak oleh negara yang
paling sering terjadi, makin runyam. Ketika kasus
macam ini belum tuntas, kini konflik bertambah
antara masyarakat dengan perusahaan. Keempat
provinsi se-Kalimantan menyumbang angka 36
persen konflik secara keseluruhan dari data kon-
flik HuMa. Konflik-konflik yang terjadi di pro-
vinsi-provinsi lain di Nusa Tenggara, Sulawesi,
Sumatera dan Jawa juga menunjukkan kondisi
yang mencemaskan.
Tipologi konflik yang terjadi di Sumatera
hampir mirip dengan Kalimantan, yakni konflik
klaim komunitas lokal atau masyarakat adat
dengan negara dan perusahaan. Dua pulau besar
ini memiliki kawasan hutan yang luas dan bela-
kangan menjadi wilayah dominan ekspansi
perkebunan sawit di Indonesia. Sementara
konflik di Jawa, lebih banyak menyangkut sektor
kehutanan, dimana gugatan masyarakat terha-
dap penguasaan wilayah oleh Perhutani masih
dalam deretan teratas. Konflik yang melibatkan
Perhutani terjadi di seluruh wilayah kerja peru-
sahaan plat merah tersebut, yaitu di Provinsi
Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Ti-
mur. Data resmi Perhutani menunjukkan bahwa
perusahaan ini menguasai kawasan hutan seluas
2,4 juta hektar. Terdapat sekitar 6.800 desa yang
berkonflik batas dengan kawasan Perhutani di
Pulau Jawa.
C. Konflik Dilihat dari Sektor
Menurut data HuMa, konflik perkebunan
dan kehutanan menjadi konf lik yang paling
sering terjadi di Indonesia. Konflik di dua sektor
No Provinsi Jumlah kasus
Luas Lahan
(hektar)
1
Kalimantan
Tengah 67 kasus 254.671
2 Jawa Tengah 36 kasus 9.043
3 Sumatera Utara 16 kasus 114,385
4 Banten 14 kasus 8,207
5 Jawa Barat 12 kasus 4,422
6 Kalimantan Barat 11 kasus 551,073
7 Aceh 10 kasus 28.522
18 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
ini mengalahkan konflik pertanahan atau agraria
non kawasan hutan dan kebun. Konflik perke-
bunan terjadi sebanyak 119, dengan luasan area
konflik mencapai 413.972 hektar. Meski frekuensi
konf lik kehutanan lebih sedikit dibanding
konflik perkebunan, namun secara luasan kon-
flik sektor ini paling besar. Dari 72 kasus, luas
area konflik kehutanan mencapai 1.2 juta hektar
lebih.
Sumber: Database HuMa, 2012.
Meluasnya area konflik sektor perkebunan
ditengarai sebagian besar berada di kawasan
hutan. Hutan yang sebelumnya ditumbuhi
pohon-pohon lebat dan banyak yang dikelola
oleh masyarakat, dalam satu dekade mengalami
deforestasi yang amat parah. Tingkat konversi
hutan cukup tinggi di daerah dimana ekspansi
sawit merajalela.Dorongan untuk memacu laju
investasi sektor perkebunan sawit diduga mem-
perkuat tekanan atas kebutuhan lahan, dan yang
paling rentan dikorbankan adalah kawasan ber-
hutan. Ini terjadi di Nagari Rantau, Kabupaten
Pasaman Barat, Sumatera Barat, yang melibatkan
PT. Anam Koto. Perusahaan ini memegang hak
guna usaha seluas 4,777 hektar di atas tanah yang
dulunya diklaim sebagai wilayah hutan adat.
Pendampingan kasus ini dikerjakan oleh Q-Bar,
mitra HuMa yang berbasis di Sumatera Barat.
1. Konflik Kehutanan dan Akarnya
Secara umum, konf lik sektor kehutanan
terjadi di 17 provinsi. Konflik sektor kehutanan
pada umumnya disebabkan hak menguasai
negara secara sepihak pada tanah-tanah yang
dikuasai oleh komunitas lokal secara komunal.
Politik penunjukan tanah yang diklaim milik
negara menyulut perlawanan yang menyebab-
kan konflik berlarut-larut.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS)
dan Kemenhut tahun 2007 dan 2009, terdapat
31.957 desa yang saat ini teridentif ikasi berada
di sekitar dan dalam kawasan hutan yang sedang
menunggu proses kejelasan statusnya. Di banyak
desa bahkan hampir secara keseluruhan wilayah
administratifnya berada di dalam kawasan hutan
lindung atau konservasi yang berarti dapat
dengan mudah dianggap sebagai tindakan ilegal,
bila ada masyarakat yang memungut atau
mengambil kayu hasil hutan.
Ambil contoh Desa Sedoa yang terletak di
Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sula-
wesi Tengah. Wilayah administratif desa ini
hampir 90 persen berada di kawasan hutan lin-
dung dan Taman Nasional Lore-Lindu. Kasus
Desa Sedoa kini masih dalam proses pendam-
pingan oleh Bantaya, mitra HuMa yang berada
di Palu, Sulawesi Tengah. Atau Kelurahan
Battang Barat, Kota Palopo, yang sekitar 400
hektar terkena perluasan kawasan Taman Wisata
Alam (TWA) Nanggala III yang diadvokasi oleh
Wallacea.Bagi desa yang berada dalam kawasan
hutan, seperti Desa Sedoa atau Kelurahan Bat-
tang Barat, maka atas tanah-tanah dalam desa
tersebut tidak dapat diterbitkan sertif ikat atau
Sumber: Database HuMa, 2012.
19 Widiyanto: Potret Konflik Agraria di Indonesia .....: 15-27
bukti terkuat kepemilikan atas tanah. Domain
pengaturan tanah dalam kawasan hutan berada
dalam rezim Kementerian Kehutanan, sementara
sertif ikat atau registrasi tanah berada di bawah
Badan Pertanahan Nasional. Sepintas masalah
desa-desa di sekitar dan di dalam kawasan hutan
ini masalah administratif. Akan tetapi perbedaan
rezim ini berimplikasi pada pelayanan publik,
jaringan infrastruktur, dan lain sebagainya, yang
rentan menghadirkan diskriminasi bagi masya-
rakat desa dalam kawasan hutan tersebut.
Selain konf lik mengenai kejelasan status
wilayah administratif, konflik kehutanan juga
dilatari perbedaan cara pandang antara perusa-
haan dengan komunitas setempat atas jenis ta-
naman yang ditanam. Biasanya konflik seperti
ini maraknya terjadi pada area-area konsesi hutan
produksi atau hutan tanaman industri yang me-
miliki tutupan primer. Perusahaan membutuh-
kan lahan skala luas untuk ditanami bahan baku
pembuatan kertas atau kayu lapis olahan. Salah
satu contoh konf lik kehutanan kategori ini
terjadi pada kasus PT. Toba Pulp Lestari di Ka-
bupaten Humbang Hasundutan, Sumatera
Utara. Perusahaan membabat Hutan Kemenyan
(Tombak Haminjon) yang sudah dikuasai secara
turun temurun oleh masyarakat adat Pandu-
maan dan Sipituhuta, dan menggantinya dengan
pohon ekaliptus. Terjadi pula pada kasus PT.
Wira Karya Sakti yang membabat hutan primer
untuk ditanami akasia dan ekaliptus di Kabu-
paten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Serta kasus
PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di
Semenanjung Kampar, Teluk Meranti, Kabupa-
ten Pelalawan, Riau.
2. Akar-akar Konflik Perkebunan
Sementara itu, jika konflik sektor perkebunan
tidak mendapat perhatian serius, bukan tak
mungkin luas lahan yang disengketakan akan
menyamai, bahkan melebihi luas area kehutanan
yang berkonflik.
Gambar 2. Sebaran konflik Sumber Daya Alam Sektor Kehutanan di Indonesia.
Sumber: Database HuMa, 2012.
20 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Konf lik perkebunan yang massif terjadi
belakangan secara tidak langsung dipicu oleh
ambisi Pemerintah untuk menjadikan sawit
sebagai komoditas unggulan Indonesia yang
terbesar di dunia.
Dalil ini kemudian dimanf aatkan oleh
kalangan pengu-
saha sawit untuk
me n d a p a t k a n
berbagai proteksi
dari Pemerintah.
Parahnya, Peme-
rintah lokal juga
turut bermain
dalam memudah-
kan penguasaan
lahan dan
pengoperasian perkebunan sawit di daerahnya
dengan pertimbangan ekonomi-politik jangka
pendek.
Dari data HuMa, paling tidak terdapat 14
provinsi yang tercatat memiliki konflik perke-
bunan yang mayoritas terjadi di Kalimantan dan
Sumatera. Banyak sumber yang merilis data
mengenai konversi besar-besaran kawasan hutan
menjadi area perkebunan kelapa sawit. Komu-
nitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, misal-
nya, menyebut penyusutan kawasan hutan seluas
1,1 juta hektar di Jambi dalam dua dekade ter-
akhir.
3
3. Konflik Pertambangan
Data konflik sektor pertambangan agaknya
memang tak sebanyak konflik kehutanan dan
perkebunan. Akan tetapi konflik sektor ini sangat
mudah meletup dibanding sektor kehutanan,
yang cenderung bersifat laten. Dari pantauan
HuMa, komunitas lokal sangat gigih memper-
tahankan wilayah kelolanya yang dirampas oleh
perusahaan dengan izin konsesi tambang, tanpa
ada pertimbangan persetujuan dengan dasar
informasi tanpa paksaan atau free, prior and in-
formed consent (FPIC).
Wilayah-wilayah pertambangan perusahaan
umumnya berada di kawasan yang memiliki
dimensi religius-magis bagi masyarakat adat
setempat. Perusahaan berdalih memegang izin
formal, masyarakat kukuh mempertahankan
wilayah yang sakral bagi leluhur mereka. Konflik
pun termanifes. Konflik pertambangan memiliki
kecenderungan sering terjadi bentrok f isik di
dalamnya. Korban luka banyak berjatuhan, bebe-
rapa di antaranya sampai meninggal dunia.
Dalam konflik pertambangan, perusahaan
hampir selalu tampil sebagai pemenang. Aparat
polisi, jaksa, hingga hakim cenderung lebih
mengutamakan pihak yang memegang konsesi
sebagai alas hukum ketimbang adat yang diang-
gap tak resmi atau formal.Perusahaan tambang
sendiri dengan mudah membelokkan tudingan
penyerobotan tanah, kawasan hutan atau pence-
maran lingkungan sebagai efek destruksi pengo-
lahan tambang terhadap lingkungan, menjadi
persoalan administrasi konsesi atau kontrak
karya. Tak jarang justru perusahaan-perusahaan
dibantu aparat penegak hukum melakukan
kriminalisasi terhadap warga yang melakukan
3
http://www.mongabay.co.id/2012/12/03/foto-udara-
kehancuran-hutan-jambi-akibat-perambahan-ekspansi-
perkebunan/
Gambar 3. Sebaran konflik Sumber Daya Alam
Sektor Kehutanan di Indonesia.
Sumber: Database HuMa, 2012.
21 Widiyanto: Potret Konflik Agraria di Indonesia .....: 15-27
protes dengan dalih anarkis. Warga ditangkapi,
ditahan, bahkan banyak yang dipenjarakan.
Seperti yang terjadi pada PT. Sorikmas Mining
yang beroperasi di Kabupaten Mandailing Na-
tal, Sumatera Utara.
Mahkamah Agung dalam putusan hak uji
materi SK Menteri Kehutanan No.126-Menhut-
II/2004 tentang Perubahan Fungsi dan Penun-
jukan Kawasan Taman Nasional Batang Gadis
memenangkan perusahaan yang sebagian besar
dimiliki oleh Aberifoyle Pungkut Investment
Singapura ini. Terkait kasus yang sama, lima
orang masyarakat Desa Huta Godang Muda dise-
ret ke pengadilan atas laporan PT. Sorikmas.
Di Kalimantan Barat, tepatnya di Pelaik Keru-
ap, Kabupaten Melawi, yang merupakan daerah
dampingan Lembaga Bela Banua Talino (LBBT),
tiga orang tokoh komunitas setempat dihukum
penjara dengan dakwaan menahan tanpa hak
rombongan surveyor perusahaan eksplorasi tam-
bang PT. Mekanika Utama yang masuk kampung
tengah malam. Padahal masyarakat setempat
sejatinya berniat untuk menanyakan maksud
kedatangan rombongan saat itu. Kasus krimi-
nalisasi dalam konflik pertambangan juga me-
nimpa empat warga Sirise, Kabupaten Mang-
garai, Nusa Tenggara Timur. Mereka dihukum
lima bulan penjara karena mempertahankan
lingko atau hutan adat yang diserobot konsesi
perusahaan tambang.
D. Siapa Para Pihak yang Terlibat
Konflik?
HuMa dengan menggunakan sistem pen-
dokumentasian HuMaWin, mengidentif ikasi
para pihak bersifat komunal. Unit terkecilnya
adalah komunitas, masyarakat, atau kelompok.
Tidak individual. Ada sembilan pihak yang
terlibat dalam konflik sumberdaya alam dan
agraria yang diidentif ikasi HuMa, yaitu: a)
Masyarakat Adat; b) Komunitas Lokal; c) Kelom-
pok Petani; d) Taman Nasional/Kementerian
Kehutanan; e) Perhutani; f ) PT. Perkebunan
Nusantara (PTPN); g) Perusahaan/Korporasi; h)
Perusahaan Daerah; i) Instansi Lain.
Masyarakat adat dengan komunitas lokal
sengaja dibedakan untuk menjelaskan perbe-
daan klaim historis atas lahan konflik. Sementara
kelompok petani diidentif ikasi bagi pihak yang
terkait dengan relasi kontraktual dengan peru-
sahaan. Ketiga pihak ini merupakan pihak yang
menjadi korban. Kementerian Kehutanan ma-
suk sebagai pihak yang berkonflik karena kewe-
nangan institusionalnya yang melekat untuk
menunjuk hingga menetapkan kawasan hutan.
Tabel 2. Para pihak yang berkonflik
Sumber: Database HuMa, 2012.
Perhutani sebagai institusi dipisahkan dengan
Kementerian Kehutanan. Sebagai unit bisnis
yang memiliki sejarah dan area konsesi tersendiri,
perusahaan plat merah yang mengelola hutan
Para Pihak
Frekuensi dalam
Konflik
Perusahaan/Korporasi 158
Komunitas Lokal 153
Petani 41
Masyarakat Adat 34
Perhutani 30
Taman Nasional/
Kemenhut 20
PTPN 11
Pemerintah Daerah 7
Instansi lain 2
22 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Jawa ini patut dipertimbangkan sebagai pihak
yang berkonf lik. Dasar pendirian Perhutani
pertama kali adalah Surat Keputusan Gubernur
Jenderal (Staatblad No. 110 tahun 1911) dan
mengalami berkali-kali revisi terakhir adalah
Peraturan Pemerintah No.72 tahun 2010 tentang
Perusahaan Umum Kehutanan Negara. Demi-
kian pula PTPN. Dalam setahun terakhir perkem-
bangan perusahaan negara di sektor perkebunan
ini perlu perhatian, terutama terkait konflik la-
han. Posisinya dalam peta ekonomi nasional
semakin signif ikan tatkala kebijakan nasional
mendorong pertumbuhan investasi dengan
menggenjot produksi komoditas dalam negeri.
Oleh karenanya, PTPN didudukkan sebagai unit
pelaku yang terlibat konflik secara tersendiri,
terpisah dengan entitas perusahaan (swasta). Me-
nurut data yang didokumentasi HuMa, paling
tidak PTPN terlibat dalam 11 kasus konflik agrari,
tentu kesemuanya berada di sektor perkebunan.
PTPN berperan penting sebagai produsen
komoditas andalan nasional, seperti gula dan
kopi. Tak heran bila Menteri Negara Urusan Ba-
dan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN), Dah-
lan Iskan, yang membawahi PTPN, mati-matian
membela luasan wilayah PTPN ketika meletup
kasus Cinta Manis, Sumatera Selatan, yang
digugat warga karena telah menyerobot tanah
mereka. Instansi lain di sini merujuk pada organ
kekuasaan yang ternyata mengklaim punya
penguasaan atas tanah, seperti TNI Angkatan
Darat dan Angkatan Laut.
Dari data yang dihimpun HuMa, perusahaan/
korporasi atau koperasi menempati urutan
pertama sebagai pelaku dalam konflik agraria
dan sumberdaya alam. Perusahaan/korporasi
banyak terlibat konflik di sektor perkebunan dan
pertambangan berlawanan dengan komunitas
lokal, masyarakat adat, bahkan dengan kelom-
pok petani. Bila terlibat di sektor kehutanan, da-
pat dipastikan mereka terlibat di kawasan hutan
yang status kawasannya hutan produksi. Fre-
kuensi keterlibatan perusahaan/korporasi men-
capai 35% dari keseluruhan data pelaku yang
didokumentasikan HuMa. Posisi perusahaan/
korporasi sebagai pelanggar hak asasi manusia
yang tinggi juga tercatat dalam laporan yang
dirilis oleh Komnas HAM atau lembaga advokasi
seperti Walhi. Hal ini menunjukkan makin be-
sarnya peran perusahaan/korporasi di segala
sektor kehidupan masyarakat, menggeser peran
dominan negara.
Dominannya swasta bisa kita simak lewat per-
putaran uang yang melibatkan sektor swasta.
Menurut Sof ian Wanandi, Ketua Asosiasi Pengu-
saha Indonesia (Apindo), perputaran uang di
swasta mencapai Rp. 7.000 trilyun. Bandingkan
dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nega-
ra (APBN) yang hanya sekitar Rp. 1.200 trilyun.
Dengan demikian peran swasta di masa depan,
dapat dipastikan akan membesar. Ini catatan
penting untuk diantisipasi dalam proses penye-
lesaian konflik agraria yang akan mengorbankan
masyarakat.
Taman Nasional atau dalam hal ini Kemen-
terian Kehutanan pada umumnya terlibat dalam
sengketa tata batas atau perluasan kawasan secara
sepihak oleh Kementerian Kehutanan, seperti
terjadi di Taman Nasional Gunung Halimun-
Salak (TNGHS), yang tertuang dalam SK Men-
hut No. 175/Kpts-II/2003. Seperti yang diidenti-
f ikasi Rimbawan Muda Indonesia (RMI), paling
tidak terdapat 314 kampung yang terkena perlu-
asan itu yang tersebar di sekitar kawasan Gunung
Halimun-Salak, di Kabupaten Bogor maupun
Kabupaten Lebak. Salah satu kampung yang ter-
kena perluasan TNGHS adalah Kampung
Nyungcung, Desa Malasari, Kecamatan Nang-
gung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dari uraian para pihak yang terlibat dalam
konflik agraria dan sumberdaya alam di atas,
perusahaan menjadi para pihak yang paling
sering menjadi pelaku konflik. Perusahaan terli-
bat dalam 158 konflik yang didata oleh HuMa.
23 Widiyanto: Potret Konflik Agraria di Indonesia .....: 15-27
Disusul kemudian Perhutani dengan 30 kasus,
dan Taman Nasional 20 kasus, PTPN di 11. Kemu-
dian Pemda dengan 7 kasus dan instansi lain 2
kasus. Berikut tabel para pihak pelaku konflik
sumberdaya alam dan agraria yang dihimpun
HuMa:
Sumber: Database HuMa, 2012.
E. Tipologi Konflik dan Pelanggaran
terhadap HAM
1. Tipologi Konflik Berdasar Pelaku
Secara umum dengan melihat para pihak
yang terlibat dalam konflik sumberdaya alam dan
agraria, terdapat empat jenis konflik yang do-
minan terjadi di Indonesia. Posisi perusahaan/
korporasi sebagai pelaku utama muncul paling
sering di empat tipologi konflik. Empat tipologi
konflik tersebut adalah: (1) Komunitas Lokal
melawan Perusahaan/Korporasi; (2) Petani mela-
wan Perusahaan; (3) Komunitas Lokal melawan
Perhutani; (4) Masyarakat Adat melawan Peru-
sahaan.
Tingginya frekuensi keterlibatan perusahaan
ini disumbang dari konflik sektor perkebunan
dan pertambangan. Barangkali hampir keselu-
ruhan konflik sumberdaya alam dan agraria ber-
dasar pada perbedaan dasar klaim para pihak
yang menyebabkan tumpang-tindih klaim. Dasar
klaim formal umumnya dijadikan pegangan oleh
perusahaan berhadapan dengan klaim historis
nonformal versi komunitas lokal atau masyarakat
adat.
Berangkat dari tipologi konflik yang telah
dipaparkan, sejumlah pelanggaran hak asasi
manusia telah terjadi di dalamnya. Sejalan
dengan perkembangan hak asasi manusia, maka
saat ini perusahaan atau korporasi dapat dikate-
gorikan sebagai pelaku. Tidak hanya negara.
Perusahaan tidak hanya beroperasi dengan ber-
singgungan dengan dimensi publik atau rakyat,
akan tetapi perusahaan atau bisnis juga menga-
lami pergeseran peran yang dalam banyak hal
menggerus kewenangan negara.
Menurut Kerangka Kerja PBB mengenai
Prinsip-prinsip Panduan untuk Bisnis dan Hak
Asasi Manusia Perlindungan, Penghormatan,
dan Pemulihan, setidaknya terdapat tiga pilar
penting dalam hal kaitan bisnis dan hak asasi
manusia ini. Pertama, tugas negara untuk
melindungi dari pelanggaran hak asasi manusia
oleh pihak ketiga, termasuk perusahaan bisnis,
melalui kebijakan, peraturan, dan peradilan yang
sesuai. Kedua, adalah tanggung jawab korporasi
untuk menghormati hak asasi manusia, yang
berati bahwa perusahaan bisnis harus bertindak
dengan uji tuntas untuk menghindari dilaku-
kannya pelanggaran atas hak pihak lain dan un-
tuk mengatasi akibat yang merugikan di mana
mereka terlibat. Ketiga, adalah kebutuhan atas
akses yang lebih luas oleh korban untuk men-
dapatkan pemulihan yang efektif, baik yudisial
maupun non yudisial.
Dalam realitas di lapangan, perusahaan
seringkali menggunakan instrumen atau apa-
Sumber: Database HuMa, 2012.
24 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
ratur negara dalam melakukan tindak kekerasan.
Perusahaan dengan modalitas ekonominya
mampu mempengaruhi dan bahkan memaksa
aparatur negara menghalau demonstrasi atau
protes-protes komunitas lokal atau masyarakat
adat dengan membabi buta. Contoh kongkrit
dalam relasi organisasi bisnis yang menggunakan
entitas atau aparat negara yang mengakibatkan
korban dapat kita lihat dalam kasus Mesuji atau
Cinta Manis yang mengakibatkan korban komu-
nitas lokal berjatuhan.
2. Pelanggar dan Pelanggaran HAM
Sistem pendokumentasian HuMaWin meng-
klasif ikasi kejadian seperti ini masuk dalam
kategori peristiwa yang melingkupi kasus.
HuMaWin mendokumentasikan konf lik
dengan dasar kasus, bukan peristiwa. Sehingga
keluaran data pelanggar berbeda dengan data
para pihak yang bertindak sebagai pelaku dalam
konf lik yang didokumentasikan. Bila dalam
kategori pelaku konf lik, perusahaan atau
korporasi menempati urutan teratas, maka
dalam kategori pelanggar hak asasi manusia
dalam konf lik agraria, entitas negara yang
menempati pelanggar pertama. Dari tingginya
pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi
melingkupi konflik agraria menunjukkan bahwa
penanganan konf lik yang termanifes pada
umumnya berlangsung sistematis menyasar
pada kelompok masyarakat yang melakukan aksi
demonstrasi menentang konsesi atau izin
perusahaan. Aparat negara, seperti personel
Brimob, dalam hal ini cenderung memposisikan
dirinya sebagai pihak yang mengamankan aset
perusahaan ketimbang melindungi masyarakat.
HuMa mencatat sebanyak 91.968 orang dari 315
komunitas telah menjadi korban dalam konflik
sumberdaya alam dan agraria.
HuMa juga mengidentif ikasi pelaku pelang-
gar hak asasi manusia dari kalangan individu
yang memiliki posisi dan pengaruh dalam
kekuasaan, umumnya di tingkat lokal. Kategori
pelaku individu ini dialamatkan kepada orang
seperti ketua kerapatan adat, yang menggunakan
kekuasaan simboliknya sebagai tetua adat untuk
menghasut atau menyerang masyarakat yang
melakukan protes-protes. Berikut tabel pelanggar
HAM yang berhasil dihimpun.
Tabel 3. Pelaku dan Pelanggar HAM
Sumber: Database HuMa, 2012.
Dalam konflik sumberdaya alam dan agraria,
jenis pelanggaran yang sering terjadi adalah
pelanggaran terhadap hak ekonomi, sosial-bu-
dayautamanya adalah hak ekonomi, akan teta-
pi hak sipil-politik dalam berbagai bentuk seperti
bentrokan yang disertai penembakan, sweeping,
penangkapan, penganiayaan, penggusuran, dan
perusakan properti milik komunitas juga kerap
dilakukan pelaku. Berikut contoh beberapa keja-
dian yang di dalamnya terdapat pelanggaran hak
sipil-politik.
Tabel 4. Beberapa contoh pelanggaran HAM
di daerah
Pelaku Pelanggar HAM Peristiwa Prosentase
Entitas Negara 266 53,96%
Organisasi Bisnis 179 36,31%
Individu dalam posisi
memiliki kekuasaan 48 9,74%
Jumlah 493 100,00%
No Daerah Pihak yang bersengketa
dengan komunitas
Pelanggaran hak sipil dan
politik
1 Aceh
Tamiang
PT Sinar Kaloy Perkasa
Indo
Pemaksaan Datok Desa
tandatangani rekomendasi
perluasan HGU
2 Muara Enim Pengusaha Burhan Penangkapan Junaidi dan
Kosim
3 Pasaman
Barat
PT. Permata Hijau
Pasaman II
20 orang terluka, 1 keguguran
saat polisi melakukan
sweeping. Warga lain trauma
todongan senjata.
4 Tanjung
Jabung Barat
PT Wira Karya Sakti Ahmad (45) tewas ditembak
anggota Brimob.
5 Pasaman
Barat
PT. Anam Koto Penculikan terhadap 2 aktivis
dan 5 warga
6 Binjai PTPN 2 Sei Semayang Remi (22) tewas akibat panah
beracun saat pertahankan
lahan
7 Bengkalis PT Arara Abadi Penangkapan 200 warga
disertai kekerasan, 1 balita
mati
8 Manggarai
Timur
Pemda Manggarai Pemukulan terhadap warga
yang tolak tanda tagan
penyerahan tanah
9 Minahasa
Selatan
PT. Sumber Energi Jaya Frengky Aringking luka
tertembak peluru polisi,
penangkapan Yance secara
paksa disertai sweeping
25 Widiyanto: Potret Konflik Agraria di Indonesia .....: 15-27
Dilihat dari jenis-jenis pelanggaran HAM, pe-
langgaran terhadap hak rakyat untuk meman-
faatkan kekayaan dan sumber-sumber alam yang
paling sering terjadi (25%). Umumnya pelang-
garan ini terjadi pada sengketa yang terkait
dengan kepemilikan kolektif, misalnya sekelom-
pok masyarakat adat yang kehilangan akses
mereka terhadap hutan adat akibat penetapan
lahan tersebut sebagai hutan negara yang dike-
lola oleh perusahaan swasta. Hal ini terjadi pada
kasus perampasan tanah ulayat milik masyarakat
Tanjung Medang oleh pengusaha di Muara
Enim, atau pembabatan hutan Kemenyan milik
Kemenyan Humbahas oleh PT Toba Pulp Lestari
Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera
Utara.
Kemudian pelanggaran terhadap hak untuk
memiliki atau menguasasi kekayaan (19%). Hal
ini terjadi pada perampasan tanah-tanah yang
dimiliki masyarakat secara individu. Sebagian
korban mempunyai surat kepemilikan tanah dan
sebagian lain tidak memilikinya. Di Kabupaten
Aceh Timur misalnya, terdapat 700 orang yang
tanah miliknya dalam sengketa dengan PT Bumi
Flora. Warga yang tersebar di 7 desa tersebut
tengah menunggu verif ikasi tim pemerintah
terhadap surat-surat bukti kepemilikan tanah
mereka. Kasus serupa juga terjadi pada kasus
sengketa antara PT Lestari Asri Jaya dengan warga
pendatang di Kabupaten Tebo. Mereka saling
meng-klaim sebagai pihak yang memiliki secara
syah tanah tersebut.
Pelanggaran hak atas kebebasan (18%), terjadi
ketika aparat Pemerintah melakukan penang-
kapan semena-mena terhadap masyarakat yang
melawan penyerobotan tanah. Peritiwa penang-
kapan besar-besaran terjadi dalam kasus seng-
keta tanah PT Arara Abadi di Kabupaten Beng-
kalis. Sebanyak 200 orang ditangkap dalam sebu-
ah sweeping yang mencekam dan berdarah. Hal
demikian juga terjadi di Kabupaten Labuhanbatu
Utara dimana 60 warga yang menentang penye-
robotan tanah PT Smart ditangkap. Contoh se-
rupa juga dialami 24 warga penentang tambang
PT. Fathi Resources di Kabupaten Sumba Timur.
Pelanggaran terhadap integritas pribadi,
seperti dijumpai pada kasus-kasus yang diwarnai
bentrokan. Bentrokan bisa terjadi antara masya-
rakat dengan petugas keamanan perusahaan
maupun dengan aparat kepolisian. Tidak jarang
sweeping oleh kepolisian dengan jumlah personel
yang besar dilakukan di desa-desa dengan tujuan
penangkapan mendapatkan perlawanan dari
warga yang berakhir dengan penembakan dan
penganiayaan.
Seperti yang terjadi dalam kasus PT. Permata
Hijau Pasaman II di Kabupaten Pasaman Barat,
sebanyak 20 orang mengalami luka tembak.
Peristiwa berdarah PTPN VII di Ogan Ilir juga
menyebabkan 23 warga luka tertembak. Berikut
merupakan daftar jenis pelanggaran hak asasi
manusia yang paling sering dilakukan pelaku,
yakni dari entitas negara (dalam hal ini seperti
aparatur bersenjata, Brimob), atau dari kalangan
korporasi, dan dari entitas individu yang memi-
liki kekuasaan:
p p g
10 Labuhanbatu
Utara
PT Smart Penangkapan terhadap 60
petani, Gusmanto (16)
tertembak
11 Aceh Barat PT KTS Tgk Banta Ali ditembak mati
pertahankan tanahnya
12 Ogan Ilir PTPN VII Cinta Manis Angga (12) tewas dan 23 orang
tertembak Brimob
13 Kotawaringin
Timur
PT. Nabatindo Karya
Utama
Penangkapan warga
14 Sumba Timur PT. Fathi Resources 4 warga mengalami luka-luka
akibat kerusuhan, 24 warga
dikriminalisasikan
15 Rokan Hulu PT Merangkai Artha
Nusantara
Bentrokan warga dengan
preman perusahaan, 5 warga
tidak pulang.
16 Mandailing
Natal
PT Sorikmas Mining Bentrok dengan petugas
perusahaan, 4 luka dan 1
mengalami luka tembak
17 Donggala PT. Cahaya Manunggal
Abadi
Masdudin (50) tewas dan
lima lainya tertembak polisi
Sumber: Database HuMa, 2012.
26 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
F. Kesimpulan
4
Konflik sumber daya alam terjadi di kawasan
perkebunan, kehutanan, tambang, adalah bun-
tut dari kebijakan Pemerintah yang dengan
sewenang-wenang memberikan perijinan dan
konsesi kepada perusahaan-perusahaan yang
bergerak di bidang ekstraktif seperti perkebunan
dan pertambangan skala luas. Di sektor kehu-
tanan masalah terbesar yang diwariskan oleh
Pemerintah hingga kini adalah dengan penun-
jukan kawasan hutan secara sepihak tanpa mem-
pertimbangkan keberadaan masyarakat adat,
lokal, serta kelangsungan ekosistem dan ling-
kungan berkelanjutan pada kawasan-kawasan
yang ditunjuk tersebut.
Dalam pemberian ijin-ijin dan penunjukan
tersebut, Pemerintah di segala tingkatan tidak
menggunakan prinsip persetujuan dini tanpa
paksaan atau mekanisme Free, Prior, and In-
formed Consent (FPIC). Padahal, di banyak ka-
sus, masyarakatlah yang sejak awal membuka
hutan, dan mendiami lahan-lahan garapan
mereka atau tanah-tanah ulayat. Pengambil-
alihan lahan-lahan komunitas lokal, masyarakat
adat, atau petani yang sebagian terjadi di masa
lalu (1965), masa Orde Baru, maupun setelah
masa Reformasi inilah yang menjadi akar konflik
agraria yang berlangsung hingga sekarang. Kon-
flik agraria ini terus meluas, menyebar, memba-
ra, dan berkelanjutan karena Pemerintah terus-
menerus memberikan ijin-ijin atau konsesi-kon-
sesi kepada perusahaan-perusahaan skala luas
tersebut, tetapi di sisi lain membiarkan konflik-
konflik agraria itu terjadi tanpa penanganan
yang menyeluruh dan memberikan keadilan bagi
masyarakat yang menjadi korban.
Konf lik agraria sekarang menjadi meluas
karena Pemerintah terus mendorong pertum-
buhan ekonomi tinggi, salah satunya dengan
membuka perkebunan-perkebunan baru kelapa
sawit, baik di atas tanah-tanah yang diklaim ma-
syarakat sebagai tanah ulayat mereka, maupun
dengan mengkonversi hutan. Di tengah sistem
hukum yang mengindahkan keberadaaan klaim-
klaim masyarakat atas sistem penguasaan lahan
masyarakat, Pemerintah melalui aparatur pene-
gak hukum dan bersenjatanya menopang keku-
asaan perusahaan-perusahaan pemegang bukti
formal meski terkadang diperoleh dengan
mekanisme yang koruptif. Ini tampak kuat terjadi
pada semua sektor konflik.
Negara, tak hanya memfasilitasi perusahaan-
perusahaan untuk mengambil-alih tanah masya-
rakat, tetapi juga membangun mesin pencari
keuntungan sendiri melalui PTPN-PTPN. Wal-
hasil, perusahaanlah yang menjadi aktor utama
yang berkonf lik dengan masyarakat. Modus
Sumber: Database HuMa, 2012.
Jenis Pelanggaran HAM Prosentase
Pelanggaran terhadap hak rakyat untuk memanfaatkan
-sumber alam
(Hak Akses terhadap Sumberdaya Alam)
Instrumen yang dilanggar:
Kovenan Hak Ekonomi Sosial dan Budaya Pasal 1 ayat (2)
Kovenan Hak Sipil Politik Pasal 1 ayat (2)
25%
Pelanggaran terhadap hak untuk memiliki atau menguasai
(Hak Milik atas Sumberdaya Alam)
Instrumen yang dilanggar:
asal 17 ayat (1) dan (2)
UU No39/1999 tentang HAMPasal 29 ayat (1)
UU No39/1999 tentang HAMPasal 31 ayat (1) dan (2)
19%
Pelanggaran terhadap hak atas kebebasan
Hak untuk Menyatakan Sikap, Berorganisasi,
Instrumen yang dilanggar:
asal 3 dan 9
Kovenan Hak Sipil Politik Pasal 9 ayat (1) dan (2) 18%
Serangan terhadap integritas pribadi
Instrumen yang dilanggar:
Kovenan Hak Sipil Politik Pasal 7
Kovenan Hak Sipil Politik Pasal 17 ayat (1) dan (2)
1999 tentang HAMPasal 33 ayat (1) 7%
Pelanggaran terhadap hak atas lingkungan yang sehat
Instrumen yang dilanggar:
Kovenan Hak Ekonomi Sosial dan Budaya Pasal 12 ayat
1999 tentang HAMPasal 9 ayat (3) 7%
Pelanggaran terhadap hak hidup
Instrumen yang dilanggar:
Kovenan Hak Sipil Politik Pasal 6 ayat (1)
1999 tentang HAMPasal 9 ayat (1)
1999 tentang HAMPasal 33 ayat (2) 6%
Tabel 5. Jenis-jenis Pelanggaran HAM
4
Bagian kesimpulan ini ditulis oleh Siti Rakhma Mary
Herwati.
27 Widiyanto: Potret Konflik Agraria di Indonesia .....: 15-27
yang digunakan oleh perusahaan untuk mem-
bungkam masyarakat yang memprotes peram-
pasan lahan itu adalah dengan menggunakan
aparat hukum seperti polisi (Brimob) dan TNI.
Mereka juga menggunakan centeng atau pre-
man bayaran.
Penanganan konflik agraria oleh Pemerintah
juga cenderung represif, sehingga alih-alih mem-
buat konflik selesai, Pemerintah dan aparat pene-
gak hukumnya bersama-sama perusahaan,
justru melakukan pelanggaran hak asasi manu-
sia, yaitu hak sipil politik ketika melakukan pe-
nanganan terhadap masyarakat yang menuntut
hak atas tanah. Pelaku pelanggaran HAM juga
meluas, tak hanya negara, aparatusnya, dan pe-
rusahaan, tetapi juga para individu yang menjadi
pemimpin-pemimpin kampung.
Konflik-konflik agraria tersebut akan terpeli-
hara selama Pemerintah tidak melakukan lang-
kah-langkah sebagai berikut: Pertama, morato-
rium atas semua perijinan untuk perusahaan-
perusahaan di bidang perkebunan, kehutanan,
pertambangan, dan pesisir. Kedua, menghentikan
segala bentuk penanganan konflik dengan cara
kekerasan. Ketiga, membentuk sebuah lembaga
Penyelesaian Konf lik Agraria yang bertugas
mengidentif ikasi, menyelidiki, konflik-konflik
agraria yang terjadi, case by case, dan memberi-
kan rekomendasinya kepada pemerintah. Keem-
pat, dari rekomendasi lembaga tersebut, peme-
rintah melakukan tindakan tegas berupa penca-
butan maupun pembatalan izin-izin perusahaan
tersebut, dan menindak secara pidana terhadap
perusahaan maupun aparat pemerintah yang
melakukan perampasan tanah rakyat. Kelima,
melakukan review terhadap peraturan perundang-
undangan yang tumpang tindih di bidang sum-
ber daya alam dan semua perizinan yang dikelu-
arkan di bidang sumber daya alam, dan Keenam,
mengembalikan tanah-tanah hasil rampasan
perusahaan maupun pemerintah kepada masya-
rakat sebagai pemiliknya. Keseluruhannya, dilak-
sanakan dalam kerangka menjalankan amanat
TAP MPR No. IX tahun 2001 tentang Pembaruan
Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Daftar Pustaka
Hedar Laudjeng, Hukum Kolonial di Negara Mer-
deka, paper diunduh dariwww.huma.or.id
Noer Fauzi Rahman, 2012. Landreform Dari Masa
Ke Masa, Yogyakarta: Tanah Air Beta dan
Konsorsium Pembaruan Agraria.
Gamma Galudra, dkk, 2006. Rapid Land Tenure
Analysis; Panduan Ringkas Bagi Praktisi,
World Agro Forestry-Asia Tenggara.
Departemen Kehutanan dan Biro Pusat Statistik,
2007. Identif ikasi Desa Dalam Kawasan
Hutan.
Departemen Kehutanan dan Biro Pusat Statis-
tik, 2009. Identif ikasi Desa di Dalam dan di
Sekitar Kawasan Hutan.
Wahyu Wagiman (ed), 2012. Prinsip-prinsip Pan-
duan untuk Bisnis dan Hak Asasi Manusia:
Kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa,
Perlindungan, Penghormatan dan Pemu-
lihan, Jakarta: Elsam.
Andi Muttaqien, dkk, 2012. UU Perkebunan:
Wajah Baru Agrarische Wet; Dasar
dan Alasan Pembatalan Pasal-pasal Krimi-
nalisasi oleh Mahkamah Konstitusi, Jakarta:
Elsam.
ANATOMI KONSEP PENYELESAIAN KONFLIK AGRARIA:
STUDI PERBANDINGAN ANTARA RANAH KEBIJAKAN DAN
RANAH PERJUANGAN AGRARIA
Kus Sri Antoro*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: This article is a conceptual idea of the comparison between a research finding and reality in the community related
to the agrarian conflict resolution. The study is entitled Resolution Policy on Contemporary Agrarian Conflict, which is one of the
systematic studies carried out by STPN in 2012; while the aforementioned reality in the society is gathered from records of the
dynamics of agrarian conflict and struggle in several areas collected by Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA), which are
published by FKMA and other official media. By exploring and comparing the conceptual ideas of the two written sources, this
article is intended to map out the approaches and models of agrarian conflict resolution, especially according to the perceptions
and interests of the three actors of agrarian political economy, namely the state, market and society.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: agrarian resources, conflict, conflict resolution
Intisari Intisari Intisari Intisari Intisari: Naskah ini merupakan gagasan konseptual atas perbandingan hasil penelitian dan kenyataan di masyarakat terkait
penyelesaian konflik agraria. Penelitian yang dimaksud berjudul Kebijakan Penyelesaian Konflik Agraria Kontemporer, yang
merupakan salah satu Riset Sistematis yang dilaksanakan oleh STPN pada tahun 2012, sedangkan kenyataan di masyarakat yang
dimaksud berupa laporan-laporan mengenai dinamika konflik dan perjuangan agraria di beberapa daerah yang dihimpun oleh
Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA), yang dipublikasikan oleh FKMA dan media resmi lainnya. Dengan menelusuri dan
membandingkan gagasan-gagasan konseptual atas dua sumber tertulis tersebut, naskah ini bertujuan untuk memetakan berbagai
pendekatan dan model penyelesaian konflik agraria, khususnya menurut persepsi dan kepentingan tiga aktor dalam ekonomi
politik agraria, yaitu negara; pasar; dan masyarakat.
Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci: sumberdaya agraria, konflik, penyelesaian konflik
A. Pengantar
Pada 7 dan 10 Februari 2013 terdapat dua seru-
an kepada pemerintah yang berisi harapan agar
konflik agraria segera diselesaikan. Seruan per-
tama berasal dari aliansi akademikus yang me-
namakan diri Forum Indonesia untuk Keadilan
Agraria (FIKA)
1
dan seruan kedua berasal dari
aliansi akar rumput yang menamakan diri Fo-
rum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA)
2
.
Keduanya berangkat dari latar belakang yang
berbeda, FIKA sebagai pengamat dan peneliti
agraria dan FKMA sebagai pelaku dalam pusaran
perubahan-perubahan agraria di pedesaan.
Kedua seruan tersebut berangkat dari kegeli-
sahan yang sama, yaitu konflik agraria tak kun-
jung selesai, meskipun payung hukum bagi kebi-
*Petani-peneliti dan Relawan di Forum Komunikasi
Masyarakat Agraris (FKMA).
1
FIKA adalah perhimpunan 153 akademikus yang mem-
perhatikan masalah agraria atau menggeluti studi agraria, selan-
jutnya simak http://www.change.org/petitions/surat-terbu-
ka-forum-indonesia-untuk-keadilan-agraria-kepada-presi-
den-republik-indonesia-untuk-penyelesaian-konflik-agraria.
2
FKMA adalah wadah perjuangan organisasi-
organisasi akar rumput (terutama petani) yang mandiri dan
independen, dideklarasikan pada 22 Desember 2012 di
Jogjakarta, saat ini mewadahi 15 organisasi di Jawa dan luar
Jawa, selanjutnya simak www.selamatkanbumi.com
29 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
jakan penyelesaian konflik telah ada. Hingga
kini, kedua seruan tersebut belum bersambut
meskipun seruan keduanya telah sampai kepada
yang dituju. Menurut Saleh et al. (2012)
3
, seruan
ini menunjukkan dua fakta, 1) alternatif kebi-
jakan yang dipakai pemerintah tidak mencapai
tujuan, 2) terdapat hal-hal di luar perhitungan
pemerintah dalam implementasi kebijakan
penyelesaian konflik agraria.
Tercatat di dalam surat terbuka kepada Presi-
den RI bertanggal 7 Februari 2013
4
, FIKA menun-
tut penyelesaian konflik agraria secara kelemba-
gaan yang difasilitasi sebagai kebijakan. Dengan
mempertimbangkan kepentingan pembangunan
ekonomi, sebagaimana butir ke-3 surat tersebut:
Pembangunan ekonomi yang sehat memerlukan
penataan penguasaan dan pemanfaatan tanah dan
sumberdaya alam yang adil dan berkelanjutan sebagai
basis penguatan ekonomi rakyat. Demikian pula
diperlukan partisipasi masyarakat secara hakiki.
Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kemauan
politik yang sungguh- sungguh dan konsisten serta
jaminan perlindungan hukum yang nyata terhadap
kelompok masyarakat rentan, utamanya masyarakat
tak bertanah (tunakisma) dan tidak memiliki akses
terhadap tanah dan sumberdaya alam
aliansi akademikus ini menengarai bahwa pem-
baruan agraria belum dilaksanakan, terbukti bah-
wa: 1) peraturan perundangan terkait agraria
banyak yang bertentangan secara substansi
dengan UUD 1945; 2) sinkronisasi dan harmo-
nisasi peraturan perundangan yang mengatur
sumberdaya alam dan lingkungan hidup belum
terjadi; 3) ketidaksinkronan antara peraturan
percepatan pertumbuhan ekonomi (umumnya
yang dirujuk adalah MP3EI) dengan peraturan
perundangan yang mengatur sumberdaya alam
dan lingkungan hidup; 4) peraturan daerah di-
dominasi oleh peraturan dengan semangat yang
eksploitatif dan bermotif jangka pendek; 5)
kebijakan perijinan bagi usaha skala besar belum
memperhatikan tata kelola yang baik; 6) konsen-
trasi penguasaan tanah pada segelintir orang/
badan hukum yang menimbulkan kesenjangan
sosial di sektor agraria; dan 7) perjanjian-perjan-
jian bilateral/multilateral yang bertentangan
dengan semangat keberlanjutan sosial/ling-
kungan hidup. Keenam butir inilah yang menjadi
akar konf lik agraria yang tak berkesudahan,
demikian menurut FIKA.
Berbeda dengan FIKA yang berangkat dari
perspektif kebijakan, yaitu menempatkan
ketiadaan reformasi hukum sebagai akar konflik
agraria dan pelaksanaan reformasi hukum
sebagai penyelesaian konflik agraria, melalui
pernyataan sikap bertanggal 10 Februari 2013
5
,
FKMA bertolak dari perspektif bahwa pem-
bangunan ekonomi (dalam persepsi pemerintah
dan swasta) dan kebijakan terkait sumberdaya
agraria justru merupakan pintu masuk bagi kon-
flik agraria. Hal ini tampak dari butir pembuka
pernyataan sikap mereka:
Membayangkan dunia tanpa petani/pertanian sama
seperti membayangkan hidup tanpa pangan.
Demikian pula, membayangkan negara yang abai
pada rakyat sama seperti membayangkan negara
tanpa kedaulatan Atas nama pembangunan,
negara dan perusahaan semakin gencar mengambil
alih lahan petani. Atas nama kesejahteraan, petani
secara perlahan dan teratur diubah menjadi buruh
cadangan. Atas nama kepentingan umum, ruang
hidup petani dipersempit bahkan dihilangkan untuk
memperkaya segelintir konglomerat. Atas nama
kemajuan, petani dikelabui untuk melepas hak
hidupnya, melepas tanahnya, melepas pekerjaannya,
3
Deden Dani Saleh, Widhiana H.P., Siti Fikriyah K.,
Kus Sri Antoro. 2012. Kebijakan Penyelesaian Konflik
Agraria Kontemporer Dalam Kebijakan, Konflik, dan
Perjuangan Agraria Indonesia Awal Abad 21 (Hasil
Penelitian Sistematis STPN 2012), AN. Luthfi (editor).
Yogyakarta: PPPM. hlm109.
4
Dapat disimak pada http://www.kpa.or.id/
?p=1158&lang=en
5
Dapat disimak di http://selamatkanbumi.com/
kongres-kedua-forum-komunikasi-masyarakat-agraris/
30 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
melepas jati dirinya, melepas kehormatannya sebagai
rakyat, sebagai manusia Hukum bukan lagi ruang
di mana rakyat dapat menemukan keadilan, tetapi
hukum menjadi pembenaran atas pelanggaran asas-
asas keadilan. Saat ini, pemerintah mencanangkan
pengurasan kekayaan alam Indonesia dan pengusiran
terhadap penduduk yang dianggap menghambat
perluasan modal, dengan produk hukum/kebijakan
yang membenarkan tindakan tersebut, antara lain :
(1). UU No 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Ta-
nah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum,
(2) UU No 7 Tahun 2012 tentang Penanganan
Konflik Sosial, (3) UU No 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (4) PP No
32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-
2015
Dengan mempertimbangkan bahwa 1) sejarah
konflik agraria (struktural) turut membangun
sejarah Indonesia, dan 2) konflik agraria akibat
ketimpangan struktur penguasaan sumberdaya
agraria hendak diselesaikan seturut cita-cita
proklamasi kemerdekaan, FKMA menengarai
bahwa konflik agraria yang tak kunjung usai
boleh jadi bukan hanya karena berputar dalam
lingkaran setan logika pemerintah, tetapi juga
sengaja dirawat untuk mengukuhkan tatanan
yang menguntungkan penguasa dan pengusaha.
Sementara instrumen kelembagaan dan kebi-
jakan sedang didorong agar dapat mewadahi ke-
pentingan pasar dan sosial, praktik-praktik
kerakusan terus menimbulkan kerusakan-keru-
sakan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan
masyarakat. Dan, di dalam dinamika konflik
agraria itulah, lembaga-lembaga negara justru
bertindak sebagai aktor kekerasan terhadap
rakyat melalui aksi-aksi yang diatas namakan
penegakan undang-undang, berupa kriminali-
sasi, teror, intimidasi, penculikan, dan penem-
bakan terhadap petani/pejuang hak-hak rakyat.
Sementara itu, ketika rakyat mempertahankan
haknya atas ruang hidup, kepada rakyatlah la-
bel kekerasan disematkan. Menurut FKMA, tin-
dakan rakyat dalam mempertahankan/merebut
kembali hak-haknya bukanlah kekerasan, me-
lainkan perjuangan sebagaimana perjuangan
bersenjata para pejuang kemerdekaan di jaman
kolonial. Akar konflik agraria bukan terletak
pada hukum yang tidak tegak, melainkan pada
penindasan dan ketidakadilan akibat kejahatan
korporasi, negara dan persekongkolan keduanya
dalam pengurusan sumberdaya alam/agraria,
demikian menurut FKMA.
Jika perspektif akademikus dan akar rumput
ini bertemu di satu titik, maka keduanya mung-
kin menyiratkan pesan bahwa konflik agaria
merupakan tanda bahwa kemerdekaan bangsa
belum tercapai; bukan hanya itu, bahkan meru-
pakan tanda bahwa negara telah kehilangan
kedaulatannya.
Kemudian, apa yang diharapkan oleh kedua
aliansi tersebut terkait penyelesaian konf lik
agraria? Beberapa rekomendasi FIKA antara lain
ialah mengusulkan kepada presiden RI untuk
melakukan : 1) pelaksanaan mandat TAP MPR
RI No. 9 Tahun 2001 secara konsisten dan me-
mantau pelaksanaannya secara transparan; 2)
mengupayakan penyelesaian konf lik agraria
secara berkesinambungan intensif, dan terko-
ordinasi dengan langkah-langkah tertentu; 3)
menugaskan menteri Hukum dan HAM untuk
memimpin pengkajian ulang terhadap seluruh
peraturan perundang-undangan di bidang agra-
ria dan pengelolaan sumberdaya alam yang tum-
pang tindih dan bertentangan satu sama lain,
dengan melibatkan akademisi dan masyarakat
madani; 4) menugaskan pimpinan kementrian
terkait dengan sumberdaya agraria dengan BPN
untuk melakukan beberapa langkah, antara lain
moratorium pemberian ijin pemanfaatan sum-
berdaya alam/hak atas tanah selama audit dila-
kukan oleh lembaga independen; mengemban
kebijakan pencegahan dampak negatif dari
konflik agraria dan terhadap lingkungan hidup;
melaksanakan UU 14 Tahun 2008; 5) mendorong
kementrian terkait BPN untuk mendukung
31 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
percepatan pembentukan UU yang mengatur
pengakuan dan perlindungan masyarakat
hukum adat, mendukung pemerintah daerah
melakukan proses identif ikasi dan verif ikasi
keberadaan masyarakat hukum adat; 6) menu-
gaskan kepada menteri kehutanan untuk segera
menyelesaikan konflik pada masyarakat yang
berbatasan dengan kawasan hutan; dan 7)
membentuk kementrian yang bertanggung-
jawab mengkoordinasikan kebijakan dan
implementasi di bidang pertanahan, sumberda-
ya alam, dan lingkungan hidup.
Sedikit berbeda dengan rekomendasi FIKA
yang bersifat mengusulkan dan menghimbau,
beberapa rekomendasi FKMA yang dirumuskan
dalam pernyataan sikap mereka lebih kuat nuan-
sa politiknya, antara lain: 1) memaksa pemerin-
tah untuk menghentikan kriminalisasi serta
membebaskan petani dan pejuang hak-hak
rakyat dari tahanan akibat konflik agraria; 2)
memerintahkan kepada Presiden RI dan jajaran
penyelenggara negara untuk mewujudkan hak-
hak rakyat atas sumberdaya agraria/ruang hidup;
3) memerintahkan kepada segenap penyeleng-
gara negara untuk tidak membuat atau menca-
but kebijakan yang menjadi legitimasi bagi
perampasan hak rakyat, terutama hak atas sum-
berdaya agraria; dan 4) menyerukan korporasi
untuk menghentikan segala upaya perampasan/
pengambilalihan lahan yang menjadi ruang
hidup rakyat. Butir-butir rekomendasi tersebut
dibangun atas kesadaran bahwa rakyat adalah
pemegang kekuasaan tertinggi dalam NKRI dan
negara sebagai alat untuk mencapai kesejahtera-
an, mereka meletakkan kembali posisi rakyat di
atas negara, dan meletakkan korporasi di bawah
kendali negara.
Perbandingan sikap politik antara FIKA dan
FKMA dalam merumuskan akar konflik agraria
dan cara menyikapinya cukup menggambarkan
bahwa: posisi politik suatu aktor memengaruhi
kerangka pemikiran dan metode yang dipilihnya.
Tentu saja, untuk membedah relasi dunia akade-
mik dengan dunia gerakan akar rumput diperlu-
kan studi lebih lanjut di luar konteks tulisan ini.
Akan tetapi, pertanyaan- pertanyaan awal perlu
diajukan: ketika secara nyata hukum adalah pro-
duk politik, sejauhmana hukum menjadi instru-
men bagi penyelesaian konflik agraria yang adil
bagi rakyat sebagai elemen terpenting dalam
NKRI? Dan, seturut rekam jejak konflik agraria
di nusantara (terutama untuk kawasan-kawasan
hutan dan perkebunan), sejauhmana persoalan
agraria dipandang sebagai akibat dari keberlan-
jutan model pembangunan yang dipertahankan
sejak jaman kolonial? Dan, dalam perspektif serta
kepentingan siapakah penyelesaian konflik ag-
raria didef inisikan, dirumuskan, dan diimple-
mentasikan?
Ilustrasi sikap politik FIKA dan FKMA me-
nunjukkan bahwa pemahaman keagrariaan
suatu pihak memengaruhi pemahaman pihak
tersebut atas konflik agraria. Bagaimana konflik
agraria ditakrif kan dan dipahami oleh suatu
pihak akan bergantung pada bagaimana Reforma
Agraria ditakrifkan dan dipahami oleh pihak
tersebut
6
. Dengan demikian, Reforma Agraria
(bukan Reformasi Agraria) menjadi kunci pen-
ting dalam studi tentang konflik agraria dan
penyelesaian konflik agraria.
B. Studi Perbandingan
Seturut dengan tradisi akademik yang
menjadi nafas FIKA, pada tahun 2012 STPN
menyelenggarakan riset sistematis bertema
Kebijakan, Konflik, dan Perjuangan Agraria In-
donesia Awal Abad 21. Salah satu topik penelitian
yang dipilih dalam tulisan ini sebagai bahan
perbandingan adalah yang berjudul Kebijakan
Penyelesaian Konf lik Agraria Kontemporer,
untuk selanjutnya disebut riset Kebijakan STPN
6
Saleh et al. 2012. hlm 123
32 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
2012. Penelitian ini mencoba untuk mengiden-
tif ikasi akar konflik agraria, pola-pola kebijakan
penyelesaian konflik agraria, menilai efektif itas
kebijakan tersebut di era reformasi, dan meru-
muskan rekomendasi untuk kebijakan penyele-
saian konflik agraria. Dan, sebagaimana dengan
perspektif FKMA, riset Kebijakan STPN 2012
melihat bahwa aktor ekonomi politik dalam
dinamika konflik agraria tidak dapat dilepaskan
dari posisi dan peran negara, pasar, dan masya-
rakat.
Riset Kebijakan STPN 2012 dilandasi oleh
argumentasi awal sebagai berikut: 1) kebijakan
dan konf lik agraria telah berlangsung jauh
sebelum proklamasi kemerdekaan, setidaknya
bersamaan dengan kolonialisme
7
. Bermula dari
pemutusan hubungan-hubungan agraria secara
paksa oleh pemerintah kolonial kepada pribumi
melalui kebijakan-kebijakan agraria yang
menguntungkan perusahaan baik negara/swas-
ta, konflik agraria hadir sebagai respons rakyat
atas kebijakan agraria negara dari jaman ke
jaman. 2) ketika konflik agraria adalah bentuk
respons (antitesis) dari kebijakan agraria (tesis),
maka penyelesaian konflik agraria dihadirkan
oleh negara sebagai sintesis, namun, dalam situ-
asi tertentu, apa yang dimaksudkan sebagai
sintesis ini belum beranjak dari tesis pendahu-
lunya sehingga kembali menarik kehadiran
antitesis. Riset lapang penelitian ini berlangsung
antara 28 Mei-2 Juni 2012 dan dilakukan dengan
pendekatan konstruksi sejarah kebijakan agraria,
penelusuran informasi (studi literatur, studi
arsip, wawancara kepada beberapa pengambil
kebijakan di lembaga-lembaga terpilih, dan studi
kasus), dan triangulasi data yang bersumber pada
keduanya. Identif ikasi permasalahan yang dite-
mukan melalui riset Kebijakan STPN 2012 disa-
jikan dalam Tabel 3 dan diuraikan lebih menda-
lam pada penjelasannya.
Di sisi lain, konflik-konf lik agraria di la-
pangan masih berlangsung hingga kini, tidak
hanya mengakibatkan kerusakan-kerusakan
tetapi juga melahirkan wacana-wacana akar
rumput tentang apa yang seharusnya dilakukan.
Sebagai kasus uji terhadap hasil riset Kebijakan
STPN 2012 tersebut, argumentasi dalam catatan
konflik-konflik agraria yang terjadi di Banten,
Jawa Barat (penambangan air)
8
; di Kulon Progo,
DIY (penambangan pasir besi)
9
; di Sidoarjo, Jawa
Timur (lumpur PT LAPINDO Brantas)
10
, dan di
Ogan Ilir, Sumatera Selatan (perkebunan PTPN
VII)
11
dipilih sebagai wacana pembanding. Ke-
empat komunitas tersebut diwadahi oleh FKMA.
Identif ikasi permasalahan disajikan dalam Tabel
4 dan diuraikan lebih mendalam pada penje-
lasannya.
Perbandingan antara temuan-temuan pene-
litian riset Kebijakan STPN 2012 dan temuan-
temuan pencermatan akar rumput atas konflik-
konflik agraria di daerah-daerah tersebut di atas,
disajikan dalam Tabel 5 dan diuraikan lebih men-
dalam pada penjelasannya. Agar memperoleh
pengetahuan yang lebih komprehensif dan dapat
menyumbang kritik akademis atas artikel ini,
pembaca disarankan untuk membaca terlebih
dahulu tulisan-tulisan yang menjadi sumber
studi perbandingan dalam artikel ini dan/atau
7
Saleh et al. , 2012. hlm 110-111
8
Berdasarkan artikel berjudul Kronologi Perlawanan
Warga Padarincang versus Aqua Danone, ditulis oleh
GRAPPAD (Gerakan Rakyat Anti Pembangunan Pabrik
Aqua Danone), dapat disimak di http://
selamatkanbumi.com/kronologi-perlawanan-warga-
padarincang-vs-aqua-danone/
9
Berdasarkan artikel berjudul Bertani atau Mati,
ditulis oleh Kus Antoro, dapat disimak di http://
selamatkanbumi.com/bertani-atau-mati/
10
Berdasarkan artikel berjudul Refleksi Perlawanan
Porong, ditulis oleh Rere, dapat disimak di http://
selamatkanbumi.com/refleksi-perlawanan-porong/
11
Berdasarkan artikel Risalah Kasus dan Riwayat
Tanah Warga Rengas (dipublikasikan dalam cetak), ditulis
oleh Mukhlis.
33 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
tulisan lain yang dirujuk dalam artikel ini
12
.
Artikel ini memberikan penjelasan yang sangat
terbatas karena pembatasan ruang.
Di Indonesia, kapitalisme bermula hampir
bersamaan dengan kolonialisme, dan secara
nyata mengemuka sebagai sejarah agraria.
Sejarah agraria tidak lain merupakan sejarah
konflik struktural, yaitu konflik yang melibatkan
rakyat berhadapan dengan kekuatan modal dan/
atau instrumen negara (dalam tulisan ini diisti-
lahkan sebagai negara-korporasi) memperebut-
kan alat produksi berupa tanah/sumberdaya
alam. Studi Kartodirjo dan Suryo (1991) tentang
perkebunan menunjukkan bahwa di Indonesia,
relasi kekuasaan antara modal dan negara untuk
mengukuhkan ekonomi politik kapitalisme
sudah dimulai sejak jaman kolonial, sebagai
bukti: negara merupakan instrumen dalam pe-
netrasi, akumulasi, dan ekspansi modal berbasis
sumberdaya alam. Akibatnya, terbentuk dua
kutub kekuatan, 1) korporasi dan negara yang
hendak menempatkan kapitalisme sebagai satu-
satunya kekuatan ekonomi politik dan 2) ke-
kuatan sosial yang dirugikan oleh kapitalisme.
Kedua kekuatan itu bertemu dalam perebutan
1) ruang dan alat produksi secara material; 2)
arena kekuasaan di ranah kebijakan; dan 3) waca-
na untuk legitimasi sosial. Di dalam kontestasi
kekuasaan antara kekuatan ekonomi politik
kapitalisme dan kekuatan sosial inilah, konflik
struktural lahir dan mengemuka.
Pemodal, baik pada masa kolonial maupun
pascakolonial, berkemampuan untuk mengubah
relasi-relasi agraria dalam masyarakat, yang
membawa konsekuensi bahwa tanah/ruang
hidup/sumberdaya alam harus berelasi dengan
pasar, sehingga modal dan tenaga kerja sebagai
penggerak moda produksi adalah kebutuhan
agar kapitalisme berlangsung.
Kekuatan sosial yang dirugikan oleh kapitalis-
me melakukan perlawanan, baik terorganisasi
(well organized) seperti serikat-serikat yang diini-
siasi oleh kaum intelektual di tingkat akar rum-
put, maupun tidak terorganisasi secara modern
seperti ditunjukkan oleh James C. Scott dalam
perlawanan keseharian. Corak-corak perlawanan
bervariasi tergantung dari bentuk kapitalisme
yang dihadapi; aktor yang dihadapi; struktur so-
sial (masyarakat) di mana konflik struktural itu
berlangsung; dan kesempatan politik yang di-
punyai oleh rakyat. Dan, dalam berbagai ben-
tuknya, negara dan/atau korporasi melakukan
penghentian perlawanan sosial itu, baik secara
f isik; regulasi; politik identitas; pengorganisasian
kekerasan; atau pelabelan dan pewacanaan bagi
mereka yang menolak patuh sebagai: musuh ber-
sama.
Pertarungan kekuasaan antara kapitalisme
dengan rakyat tak jarang juga diramaikan
dengan perang wacana yang akan menentukan
legitimasi (pembenaran): siapa yang dibenarkan
secara sosial untuk menentukan perubahan ling-
kungan dan sosial, lalu mereproduksi wacana
itu untuk kepentingannya.
Tulisan ini akan mengangkat tiga pendeka-
tan, yaitu Pendekatan Hak; Pendekatan Akses;
dan Pendekatan Ekososiologi, dalam memban-
dingkan hasil Riset Kebijakan STPN 2012 dengan
kertas-kertas kerja akar rumput sebagai kasus uji.
Dengan harapan, dapat tergambarkan secara
teoritis: sejauhmana penyelesaian konflik yang
diusulkan kepada pemerintah atau dirumuskan
oleh pemerintah telah menjadi bagian dari solusi.
12
Antara lain: 1) Membangun Gerakan Petani Mandiri,
ditulis oleh Guruh Dwi Riyanto, http://www.portalkbr.-
com/berita/saga/2526669_4216.html; 2) Akar Rumput
Menuju Kemandirian, ditulis oleh Sita Magfira dan Suluh
Pamuji, http://indoprogress.com/akar-rumput-menuju-
kemandirian/; 3) Merawat Nafas Panjang Perjuangan
Agraria, ditulis oleh Udin Choirudin, http://selamatkan-
bumi.com/merawat-nafas-panjang-perjuangan-agraria-
risalah-kongres-ii-forum-komunikasi-masyarakat-agraris-
fkma/; 4) Dari Gunawan Wiradi untuk Kawan-kawan
FKMA, ditulis oleh Gunawan Wiradi, http://selamatkan-
bumi.com/surat-dari-gunawan-wiradi-untuk-fkma/.
34 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
C. Kerangka Teori
1. Pendekatan Hak Milik
Locke memandang kepemilikan sebagai
klaim moral atas hak-hak yang muncul dari pen-
campuran tenaga kerja dan tanah
13
, sedangkan
pendapat oposannya, Marx
14
, memandang
bahwa kepemilikan adalah pencurian (theft).
Berbeda dengan Locke dan Marx, Proudhon
15
dan MacPherson
16
memandang kepemilikan
bukan sesuatu yang alami (natural), melainkan
klaim yang memperoleh legitimasi sosial. Peluso
dan Ribot
17
mengemukakan bahwa hak kepemi-
likan dikendalikan oleh sekelompok hak (a
bundle of rights), yang dicirikan dengan pengu-
asaan si pemilik hak untuk memiliki, meng-
gunakan, mewariskan, dan memindahkan
penguasaannya kepada pihak lain.
Lebih lanjut, Schlager dan Ostrom (1992)
membuat uraian atas a bundle of rights itu sebagai
berikut:
1. Hak atas akses (rights of access), yaitu hak
untuk memasuki wilayah tertentu, berlaku
bagi pemanfaat yang diijinkan (authorized
users), pemakai atau penyewa (claimant),
kepunyaan (propeitors), dan pemilik
(owners).
2. Hak pemanfaatan (rights of withdrawal), yaitu
hak untuk mengambil manfaat atas sesuatu
dari suatu tempat, berlaku bagi pemakai dan
penyewa, kepunyaan, dan pemilik.
3. Hak pengelolaan (rights of management),
yaitu hak untuk mengatur pola pemanfaatan
dan mengubah sumberdaya yang ada untuk
tujuan tertentu, berlaku bagi pemakai atau
penyewa, kepunyaan, dan pemilik.
4. Hak pembatasan (rights of exclusion), yaitu
hak untuk membatasi akses pihak lain terha-
dap sesuatu dan membuat aturan pemin-
dahan hak ini, berlaku bagi kepunyaan dan
pemilik.
Hak milik merupakan hak tertinggi karena
hanya pemilik yang mempunyai hak untuk
melepaskan penguasaannya kepada pihak lain.
2. Pendekatan Akses
Menurut Peluso dan Ribot (2003), jika hak
kepemilikan dikendalikan oleh sekelompok hak
(a bundle of rights), maka akses dikendalikan
oleh sekelompok kekuasaan (a bundle of pow-
ers). Kekuasaan lebih berperan daripada klaim
dalam pengambilan manf aat atas suatu
sumberdaya. Sekelompok orang mungkin tidak
mempunyai hak menurut hukum yang berlaku,
namun kekuasaan yang melekat padanya me-
mungkinkannya untuk mengakses sumberdaya,
bahkan membuat klaim kepemilikan atau me-
nentukan struktur penguasaan atas sumberdaya.
Kekuasaan kemudian menjadi konsep penting
untuk menelaah struktur penguasaan sumber-
daya dalam perspektif kelas, ranah di mana
konflik penguasaan sumberdaya sering berlang-
sung. Perbedaan perspektif kekuasaan dalam
akses SDA antara Teori Hak Kepemilikan (Theory
of Property Rights) dan Teori Akses (Theory of
Access) disajikan dalam Tabel 1.
13
property as the moral claim to rights arising from
mixing of labor with land (Peluso dan Ribot, 2003:156).
14
Property is appropriation, thus the rights that de-
rived from combining labor and land or resource use were
superceded by state backed institutions of property, causing
him (Marx) to regard property as theft (Ibid: 156-157)
15
One author teaches that property is a civil rights, based
on occupation and sanctioned by law; another holds that it is
a natural rights, arising from labor, and these doctrines, though
they seem opposed, are both encouraged and applauded. I
(Proudhon) contende that neither occupation nor labor nor
law can create property, which is rather an effect without
cause (Ibid:155).
16
a right in the sense of an enforceable and supported
by society through law, custom, or convention (Ibid).
17
Peluso, N.L. and J.C. Ribot. 2003. A Theory of
Access. Rural Sociology 68 (2) , pp 153-181.
35 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
Tabel 1. Perbedaan Theory of Property Rights
dan Theory of Access
Sumber: Peluso dan Ribot (2003) dan Schlager dan
Ostrom (1992)
3. Pendekatan Ekososiologi
Istilah Ekososiologi muncul dalam kumpulan
karya terpilih Sajogyo yang menyoroti peru-
bahan-perubahan agraria, terutama di pedesaan,
yang berangkat dari suatu upaya untuk mengu-
rai benang kusut pembangunan
18
. Beberapa
karya Sajogyo sebelumnya, seperti Moderniza-
tion Without Development dan Pertanian, Lan-
dasan Tolak bagi Pengembangan Bangsa berang-
kat dari argumentasi bahwa ketimpangan struk-
tur penguasaan sumberdaya agraria tidak selesai
semata-mata dengan kepastian hak yang dimo-
tori dengan modernisasi
19
. Mengkritisi revolusi
hijau, Sajogyo berpendapat bahwa modernisasi
justru tidak berdampak pembangunan, padahal
dalam tradisi wacana fungsionalisme/modernis-
me keduanya selalu identik. Studi Sajogyo dike-
nal berusaha memosisikan kelas terbawah dalam
struktur penguasaan sumberdaya agraria sebagai
aktor yang penting, memunculkannya dalam dis-
kursus: siapa yang paling berhak menikmati hasil
atas pembangunan dan perubahan-perubahan
agraria: rakyat atau korporat?
20
Apa yang menjadi
prioritas utama dalam pembangunan dan peru-
bahan-perubahan agraria: keberlanjutan atau per-
tumbuhan sesaat? Bagaimana pembangunan
dan perubahan-perubahan agraria yang berman-
faat luas akan dimulai: mengutamakan do-
rongan modal sosial atau mengutamakan tari-
kan kapital?
Meskipun belum diangkat sebagai sebuah
teori, Ekososiologi yang dirintis oleh Sajogyo
dalam beberapa hal sejalan dengan pendekatan
Political Ecology, seperti halnya ditunjukkan oleh
Watts dalam Robbins, bahwa ekologi politik ada-
lah
21
:
An approach to understand the complex relations
between nature and society through a careful analy-
sis of what one might call the forms of access and
control over resources and their implications for
environmental health and sustainable livelihoods.
Tentu saja, pendekatan Ekososiologi kental
dengan nuansa ekonomi politik.
Konf lik dan penyelesaian konf lik, dalam
pendekatan ekososiologi, perlu dipikirkan kem-
bali. Konflik hadir bukan sebagai sebab, melain-
kan sebagai akibat pertemuan dua subyek leng-
kap dengan kepentingan dan posisinya dalam
relasi lingkungan-sosial, mengarah aksi-reaksi
yang cenderung menegasikan. Dalam konflik
struktural, subyek itu adalah rakyat berhadapan
dengan negara dan/atau korporasi.
Menggunakan pendekatan ekososiologi,
klaim atas suatu sumberdaya harus diletakkan
kembali dalam sejarah kemunculan klaim itu.
Sebagai misal, menjawab siapa yang berhak atas
sumberdaya agraria di masa kolonial di nusan-
tara; pendekatan hak akan memunculkan ja-
waban tegas: mereka yang diakui oleh pemerin-
18
Sajogyo. 2006. Ekososiologi. Sains, Sekretariat Bina
Desa, Cindelaras Pustaka Cerdas. Yogyakarta.
19
Tulisan ini hadir sebagai Kata Pengantar dalam Invo-
lusi Pertanian (Geertz, 1983).
Sumber Konsep kunci Konsekuensi
Schlager dan
Ostrom (1992)
Theory of
Property Rights
A bundle of
rights
Hak adalah faktor yang menentukan
akses SDA seseorang atau sekelompok
orang. Hak tertinggi terdapat pada
aktor yang berkuasa melepaskan
penguasaannya atas SDA.
Kepastian hukumdiperoleh dari
kemelekatan hak pada seseorang atau
sekelompok orang atas SDA.
Ribot dan
Peluso (2003)
Theory of Access
A bundle of
power
Kekuasaan adalah faktor yang
menentukan akses SDA seseorang
atau sekelompok orang.
Hak adalah klaimyang memperoleh
legitimasi sosial.
Kepastian hukum merupakan arena
kekuasaan, pihak yang tidak dilekati
hak tetap dapat melakukan akses
melalui kekuasaannya.
20
Sajogjo. 1982. Modernzation without Development.
The Journal of Social Studies, Dacca (Bangladesh).
21
Robbins, Paul. 2004. Political Ecology A Critical
Introduction. Blacwell, Malden.
36 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tah kolonial dan dikuatkan dengan tanda bukti
kepemilikan hak adalah pihak yang berhak.
Namun, pendekatan ekososiologi akan memun-
culkan jawaban jelas: mereka yang telah menem-
pati dan memanfaatkan sumberdaya agraria
sebelum kolonial tiba adalah pihak yang berhak.
Demikian pula dalam penyelesaian konflik, pen-
dekatan hak akan mengutamakan penegakan
hukum positif di atas semua cara penyelesaian
yang ada, artinya dalam kasus tersebut di atas,
pemerintah kolonial selalu benar. Pendekatan
ekososiologi akan mendahulukan keadilan
sebelum hukum, artinya kepentingan sosial dan
pengolah sumberdaya agraria merupakan subjek
yang harus difasilitasi sekalipun fasilitas itu nanti
akan muncul sebagai hukum positif. Di masa ko-
lonial, kolonialisme adalah sebab, konflik agraria
adalah akibat. Penyelesaiannya kolonialisme ha-
rus diakhiri, dan ditata kembali pembaruan
struktur penguasaan sumberdaya agraria (dike-
nal sebagai reforma agraria yang diperjuangkan
melalui UUPA). Di masa pascakolonial, terlebih
di era reformasi, kapitalisasi sumberdaya agraria
adalah sebab, konf lik agraria adalah akibat.
Penyelesaiannya adalah mengganti model-mod-
el penyelesaian yang mendukung kapitalisasi sum-
berdaya agraria, meskipun bentuk penyelesaian
itu belum terpikir oleh pengambil kebijakan.
Tabel 2. Perbandingan Teoritis atas diskursus
tentang Konflik Agraria dan Penyelesaiannya
22
Sumber: Sajogjo (2006); Peluso dan Ribot (2003)
dan Schlager dan Ostrom (1992)
Riset Kebijakan STPN 2012 menemukan per-
masalahan seputar kebijakan penyelesaian kon-
flik agraria. Secara umum, konflik berlangsung
di dalam persaingan kepentingan Negara; Pasar;
dan Masyarakat.
Negara memandang agraria sebagai ruang
dan isinya yang merupakan entitas tak terpisah-
kan dari kekuasaan sistem politik bernama na-
tion- state. Sebagai kesatuan kekuasaan, hukum
dan kebijakan merupakan alat kontrol atas peru-
bahan-perubahan agraria, dengan demikian
kepastian hukum adalah syarat mutlak agar kebi-
jakan dapat dijalankan. Konflik hadir sebagai
akibat dari hukum yang tidak berjalan sebagai-
mana mestinya, pemerintah sebagai wakil insti-
tusi negara mempunyai wewenang untuk
mengatur bagaimana konflik akan diselesaikan,
salah satu bentuknya adalah penertiban admi-
nistrasi pertanahan (sertif ikasi).
Pasar memandang agraria sebagai komoditas
yang merupakan bagian tak terpisahkan dari
mesin pertumbuhan ekonomi. Sebagai pondasi
kekuatan ekonomi, pengubahan sumberdaya
agraria menjadi nilai lebih akan ef isien ketika
hak telah pasti. Kepastian hak akan menjadi ja-
minan bagi iklim investasi yang baik. Logika pasar
dan negara bertemu pada gagasan pembangunan
dan/atau pertumbuhan modal yang difasilitasi
dengan kepastian hak; perbedaannya, pasar per-
caya bahwa tanpa kebijakan negara pun moda
produksi tetap menggeliat, menumbuh-kem-
bangkan modal. Penertiban administrasi penting
sebagai mekanisme pengalihan hak dari publik
ke privat melalui pasar tanah.
Masyarakat memandang agraria sebagai
ruang di mana relasi-relasi kekuasaan bertemu
dalam berbagai kepentingan. Agraria bukan
hanya berfungsi privat, misalnya tanah warisan;
tetapi juga berfungsi sosial; misalnya sumber
mata pencaharian/penghidupan. Dalam perspek-
tif masyarakat, ada struktur penguasaan agraria
yang timpang, hak masyarakat atas sumberdaya
22
Data diolah dari buku Peluso dan Sajogyo.
Parameter PENDEKATAN TEORITIS
Hak
(a bundle of rights)
Akses
( a bundle of
powers)
Ekososiologi
Sumber
konflik
Ketidakpastian Hak Ketimpangan
akses
Ketimpangan
penguasaan
Tujuan
penyelesaian
Tercipta kepastian
hukum
Tercipta peluang
yang seimbang
Demokratisasi
struktur agraria
Instrumen Hukum positif Kontrak Kelembagaan sosial
Bentuk
penyelesaian
Sertifikasi Pembukaan
Akses
Keputusan yang
mengedepankan
kepentingan sosial
dan ekosistem
Konsekuensi Terbuka pada pasar
tanah
Exclussion
Berbagi otoritas Terbuka pada hak
milik komunal
37 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
agraria tidak diakui dan akses masyarakat ter-
hadapnya ditutup. Struktur penguasaan inilah
yang harus dirombak, dan bukan pada siapa
aktor yang kepadanya akan dilekatkan hak. Upa-
ya penertiban administrasi hanya akan meles-
tarikan konflik sejauh upaya itu memelihara ke-
timpangan struktur penguasaan agraria.
Tabel 3 Identif ikasi permasalahan yang
ditemukan riset sistematis STPN 2012 tentang
Kebijakan Penyelesaian Konflik Agraria
Kontemporer
23
Sumber: Saleh et al. (2012)
Kertas kerja akar rumput yang dihimpun oleh
FKMA menemukan permasalahan-permas-
alahan yang sedikit berbeda dengan Riset Kebi-
jakan STPN 2012. Secara umum, kertas kerja ini
menemukan hubungan mutualistik antara nega-
ra dan korporasi dalam menafsirkan, mengatur,
dan mengelola agraria. Hubungan mutualistik
ini dengan sendirinya menyingkirkan masya-
rakat yang secara normatif merupakan peme-
gang kedaulatan tertinggi NKRI dan merusak
lingkungan/ruang hidup masyarakat; sehingga,
diistilahkan oleh FKMA sebagai kejahatan nega-
ra-korporasi. Hubungan ini dilegitimasi oleh hu-
kum dan kebijakan, baik berupa Ijin Bupati (Ban-
ten), Kontrak Karya dan UU No 13 Tahun 2012
(Kulon Progo), Peraturan Presiden (Sidoarjo),
maupun Hak Guna Usaha (Ogan Ilir). Hukum
dan kebijakan tersebut bekerja dalam logika yang
sama: negara adalah penentu hubungan agraria
semua pihak, dan kepastian hak dibutuhkan un-
tuk mengamankan investasi atas sumberdaya
agraria. Tidak berbeda dengan temuan Saleh et
al. (2012), akar rumput menempatkan agraria
sebagai ruang hidup dan sumber penghidupan,
karenanya agraria tidak tergantikan. Pembe-
basan lahan, baik itu melalui mekanisme tran-
saksi maupun perampasan, bukan sebuah
pilihan bagi masyarakat yang ruang hidupnya
telah/akan hilang karena suatu moda produksi/
agenda pembangunan. Berbagai upaya legal for-
mal dan intraparlementer untuk menyelesaikan
konflik agraria structural telah dilakukan masya-
rakat, tetapi kandas oleh narasi hukum dan
ketidakmauan politik pemerintah untuk menye-
lesaikan konflik. Karena konflik antara masya-
rakat dan negara-korporasi bersifat saling mene-
gasikan, win win solution tidak dipandang sebagai
solusi bagi kelompok masyarakat ini. Konflik usai
jika akar konflik dihilangkan, yaitu hubungan
mutualistik negara dan korporasi, bentuk penye-
lesaian konfliknya ialah pembatalan legitmasi
dan praktik-praktik kelanjutannya. Istilah mem-
perpanjang nafas perjuangan dan mengutama-
kan kemandirian pemikiran dan gerak muncul
sebagai strategi sekaligus konsep tanding bagi
penyelesaian konflik agraria a la negara-koporasi,
sebagaimana diungkapkan oleh Magf ira dan
Pamuji (2013), Riyanto (2013), Choirudin (2013)
dan Wiradi (2013).
23
Deden dkk., op.cit.
Unsur-unsur
agraria
Negara Pasar
Kelompok
Masyarakat
Subyek dalam
konflik agraria
Ruang (tanah,
air, udara) dan
isinya
Komoditas
berbasis ruang
Relasi-relasi
kekuasaan
Hal yang di-
reform
Hukumdan
Kebijakan
Ketidakpastian
Hak dan Akses
Struktur
penguasaan
Pendekatan
Landreform
Dipandu
negara
Landreform
Dipandu pasar
Landreform
Dipandu
Organisasi
Masyarakat (by
leverage)
Tujuan
Kepastian
hukum melalui
tertib
administrasi
Jaminan
keamanan
investasi
Pemerataan
distribusi ruang,
pengakuan
kelembagaan atas
wilayah adat
Pelaku utama
Lembaga
negara
Badan usaha
didorong Badan
Finansial
Internasional
Lembaga
masyarakat
Realisasi Sertifikasi
Sertifikasi
Pasar tanah
Sertifikasi,
Pluralisme hukum
(dalam beberapa
hal)
38 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Unsur-unsur
agraria
Banten Kulon Progo Sidoarjo Ogan Ilir
Akar konflik Kejahatan negara-koporasi terhadap sumberdaya agraria
Aktor
penyebab
konflik
Pemerintah
Daerah
PT Aqua Golden
Missisipi
Kasultanan dan
Pakualaman
Pemerintah Daerah I
dan II
PT Indomines Ltd.
PT Lapindo
Brantas
PTPN VII
Basis material
yang menjadi
sumber konflik
Okupasi lahan
oleh korporasi
untuk industri air
mineral
Perubahan fungsi
kawasan dari
pertanian dan
pemukiman menjadi
pertambangan,
dilegalisasi dengan
Kontrak Karya
Pertambangan
(4 November 2008)
Semburan
lumpur akibat
pengeboran PT
Lapindo
Brantas (29
Mei 2006)
Tanah ulayat yang
diubah statusnya
menjadi HGU,
total areal tebu
2.354 ha, lahan
sengketa 1.529 ha.
Kebijakan
yang menjadi
sumber konflik
Surat Izin Bupati
dengan nomor
593/Kep.50-
Huk/2007
Melegalkan
akuisisi lahan
untuk tambang
air.
Perda DIY No 2
Tahun 2010, tentang
RTRW
UU No 13 Tahun 2012
Melegalkan akuisisi
lahan untuk
tambang pasir besi.
Perpres
14/2007
Perpres
48/2008
Warga harus
menjual tanah
ke PT.
LAPINDO
HGU atas tanah
ulayat
Surat Gubernur No
593.83/6623/I/200
0 kepada
Kementrian
BUMN, agar
mengembalikan
lahan dan
memberi
kompensasi pada
warga.
Upaya
penyelesaian
konflik agraria
pemerintah/pe
rusahaan
Pembebasan
lahan
Jual beli tanah
Pendaftaran tanah
Kasultanan/Pakuala
man
Penerbitan UU No 13
Tahun 2013, Perda
DIY No 2 Tahun 2010
Warga
diharuskan
menjual tanah
kepada PT
Lapindo
Pembayaran
tanah dan
bangunan
melalui APBN
Upaya penyadaran
hukumdan
perbaikan
manajemen PTPN
VII, unit usaha PG
Cinta Manis
Penyikapan
Masyarakat
Menuntut
pencabutan surat
izin No
593/Kep.50-
Huk/2007 tentang
izin lokasi
pembangunan
Pabrik Danone
oleh PT. Tirta
Investama.
Demonstrasi dan
mempertahankan
lahan
Upaya legal formal
(2007-2012) dan
selalu kandas
Tetap bertani di
lahan yang
ditetapkan sebagai
konsesi
pertambangan, agar
investor
mempertimbangkan
untuk tidak
mengambil risiko
kerugian.
Penuntutan
ganti rugi
kepada PT
Lapindo (2006-
2011)
Penuntutan
bedhol desa
kepada
pemerintah
(2013)
Okupasi dan
Penyelidikan
status tanah oleh
masyarakat
Mendesak
penyelesaian lewat
jalur hukumdan
tidak ditanggapi.
Tabel 4 Identif ikasi permasalahan yang ditemukan oleh akar rumput (FKMA)
Sumber: GRAPPAD (2013); Antoro (2012); Mukhlis (2013) dan Rere (2013)
39 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
Apa yang dibayangkan sebagai penyelesaian
konflik agraria oleh pemerintah di ranah kebi-
jakan ternyata tidak bekerja sebagai solusi di
lapangan. Permasalahannya bukan terletak pada
sejauhmana kebijakan penyelesaian konflik itu
efektif dan ef isien, melainkan pada sejauhmana
kebijakan penyelesaian konflik itu benar-benar
menjadi solusi sejak dalam ranah arena kebijakan
(bukan pada narasi/implementasi kebijakan).
Ranah arena kebijakan berbeda dengan ranah
narasi/implementasi kebijakan, ranah pertama
dapat diterjemahkan sebagai arsitektur konsep
dan arah kebijakan; sedangkan ranah kedua
adalah strukturisasi konsep dan arah kebijakan
tersebut.
Mayoritas kebijakan penyelesaian konf lik
agraria di Indonesia belum menyentuh akar
konflik agraria; sekalipun hal ini dibantah oleh
pemerintah, bukti di lapangan justru berbicara
sebaliknya: kebijakan penyelesaian konf lik
menjadi bagian dari pemeliharaan konf lik.
Kertas kerja akar rumput di FKMA maupun
Riset Kebijakan STPN 2012 menunjukkan hal itu,
terutama ketika menjawab: apa akar konflik agra-
ria?
Pendekatan Hak tampaknya ditinggalkan
oleh akar rumput dalam pembangunan wacana
untuk memperjuangkan hak atas agraria, baik
itu diwujudkan sebagai penutupan paksa alat
produksi korporasi; tuntutan pencabutan ijin
pemerintah pada korporasi; penolakan bentuk-
bentuk legitimasi untuk perampasan ruang
hidup; dan okupasi lahan untuk meneruskan
penghidupan. Pendekatan akses, yang dipromo-
sikan oleh Peluso dan Ribot sebagai Teori Akses,
tampaknya menjadi landasan bagi akar rumput
untuk menyelesaikan konflik agraria struktural
dengan caranya sendiri. Sedangkan Pendekatan
Ekososiologi tampaknya menjadi landasan teo-
ritik untuk melegitimasikan posisi akar rumput
dan ruang hidupnya dalam pusaran konf lik
agraria struktural.
Tabel 5 Perbandingan argumentasi tentang
konflik agraria dan penyelesaian konflik agraria
Sumber: Rere (2013), Mukhlis (2013), GRAPPAD
(2013), Antoro (2012), dan Saleh et al.
(2012)
Dengan membandingkan argumentasi yang
muncul dalam Riset Kebijakan STPN 2012 dan
kertas kerja FKMA, artikel ini hendak menyasar
pada isu penyelesaian konflik agraria dengan
pertanyaan-pertanyaan panduan sebagai berikut:
1. Apa makna agraria bagi negara, pasar, atau
masyarakat; dan mengapa demikian?
2. Apa akar konf lik agraria menurut negara;
pasar; dan masyarakat?
3. Apakah upaya-upaya penyelesaian konflik
yang dirumuskan dan/atau dijalankan oleh
negara, pasar, atau masyarakat sudah menjadi
bagian dari penyelesaian, atau justru menjadi
bagian dari persoalan baru yang harus disele-
saikan; dan mengapa demikian?
D. Analisis
Gillian Hart
24
dalam Development Debates in
the 1990s: Culs de Sac and Promising Paths,
mengembangkan kerangka analisis pembangun-
an dengan memisahkan sejenak dan mema-
dukan kembali antara kebijakan pembangunan
(pembangunan dalam huruf P besar) dan pro-
ses operasi pembangunan kapitalisme (pem-
bangunan dalam huruf p kecil). Pembangun-
24
Hart, G. Development Debates in the 1990s: Culs de
Sac and Promising Paths,Progress in Human Geography
25,4 , pp. 649658, 2001
Parameter Hasil penelitian Riset
Kebijakan STPN 2012
Kertas kerja FKMA
Dimensi material
akar konflik agraria
Komoditas berbasis
sumberdaya:
Pasir besi, air, tanaman,
gas bumi
Ruang hidup
Sarana penghidupan
(air , tanah, dan alat
produksi)
Dimensi Immaterial
akar konflik agraria
Ketidakpastian hukum
Ketimpangan akses
Kesehatan lingkungan
Keberlanjutan ekonomi
Relasi sosial
Identitas lokal
Pendekatan
penyelesaian konflik
agraria
Pendekatan Hak
Pendekatan Akses
Akses
Ekososiologi
Strategi penyelesaian
konflik
Kebijakan Okupasi dan
Memperpanjang nafas
perjuangan
40 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
andalam pemahaman pengambil kebijakan,
sesungguhnya suatu proyek intervensi negara-
negara dunia pertama pascaperang dunia II yang
diterjemahkan sebagai suatu perencanaan
(p)embangunan investasi dengan akuisisi ruang-
ruang baru di negara-negara bersumber daya
alam dan manusia yang melimpah, untuk meli-
patgandakan keuntungan skala besar bagi kepen-
tingan investasi tersebut (produksi ruang). Akui-
sisi dan produksi ruang ini tidak lagi menggu-
nakan cara-cara imperialisme kuno, yaitu invansi
militer, melainkan memanfaatkan kekuatan dari
dalam negara-negara dunia ketiga, yaitu penye-
lenggara negara (acquisition through state inter-
vention), dengan menggunakan logika (P)em-
bangunan dan Peningkatan Kesejahteraan. Mo-
del lain dari intervensi ini adalah dengan
dukungan Badan-badan Internasional yang
menitikberatkan pada program-program pener-
tiban administrasi pertanahan untuk kebutuhan
pasar tanah (acquisition through market inter-
vention).
Kebijakan pembangunan di Indonesia, teruta-
ma menjelang abad ke-21, ditandai oleh opera-
sionalisasi kekuatan-kekuatan struktural dari
agen-agen pasar baik transnasional maupun
nasional, yang bekerja melalui Badan-badan
Internasional, untuk meneruskan akumulasi
modal, sebagai contoh adalah keharusan mene-
rapkan SAPs dalam LoI IMF 1998. Logika kapi-
talisme mengharuskan modal harus berputar
(dijalankan dalam moda produksi) agar meng-
hasilkan surplus dan modal kembali. Jika sur-
plus yang terakumulasi tidak berputar kembali
dalam siklus produksi; sirkulasi; dan pertukaran
yang sudah ada; maka krisis akibat akumulasi
yang berlebihan akan terjadi. Sehingga, untuk
mencegah krisis itu, dibutuhkan ruang baru
untuk reproduksi kapital terus menerus. Harvey
dalam The Limit of Capital mengemukakan
bahwa produksi ruang baru merupakan solusi
kemacetan
25
. Lebih lanjut, Harvey menegaskan
bahwa perubahan besar di dalam sejarah sosial,
dikaitkan dengan diskursus (P)embangunan
dan (p)embangunan di Indonesia, dapat dilacak
dari enam hal pokok yang saling terhubung dan
memengaruhi, yakni perubahan teknologi, relasi
dengan alam, modus produksi, konsumsi sehari-
hari, mental conception, dan relasi sosial.
Levebre (2000) dalam Harvey
26
mengungkap-
kan bahwa daya hidup kapitalisme terjaga
melalui penciptaan perluasan ruang (production
of space), sebagaimana pendapatnya di sumber
lain:
According to Marxs early works, production is not
merely the making of products. ..it also signifies
the self-production of the human being in the
process of historical selfdevelopment, which involves
the production of social relations. Finally, in its full-
est sense, the term embraces re-production . . .
[this] being the outcome of a complex impulse
rather than of inertia or passivity; this impulse . . .
this praxis and poiesis does not take place in the
higher spheres of a society (state, scholarship, cul-
ture) but in everyday life (2000 [1971]:30"
27
Selanjutnya, Levebre mengungkapkan:
capitalism has found itself able to attenuate (if not
resolve) its internal contradictions . . . by occupy-
ing space, by producing a space.
Levebre menganjurkan untuk waspada terha-
dap cara-cara kerja kapitalisme dalam hidup kese-
harian, kapitalisme mampu menemukan celah
untuk mengambil-alih ruang (hidup) dan mem-
produksi ruang (kapital). Hal itu tampak jika
25
Levebre H. 2010. The Survival of Capitalism: Re-
production of the Relation of Production. Dalam David
Harvey. Imperialisme Baru, Genealogi dan Logika Kapi-
talisme Kontemporer. Terj. Eko PD. Jakarta: Resist Book
dan Institute of Global Justice.hlm, 97
26
Levebre.H. op.cit
27
Greig Charnoks. Challenging New State Spatiali-
ties: The Open Marxism of Henry Levebre. Antipode Vol.
42 No. 5 2010 ISSN 0066-4812, pp 12791303, 2010.
41 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
mengamati bagaimana ruang diatur, diproduksi,
bahkan direbut. Dengan demikian, diskursus
(P)embangunan dalam skema (p)embangunan
merupakan bagian dari produksi-reproduksi ru-
ang-ruang baru bagi akumulasi modal dengan
menggunakan instrumen-instrumen struktural,
baik negara maupun swasta.
1. Makna agraria
Menurut UU No 5 Tahun 1960, agraria dide-
f inisikan sebagai bumi, air, dan udara. Penger-
tian ini mengacu pada makna agraria sebagai
ruang (space) dan isinya. Ruang dapat berdi-
mensi f isik, seperti garis pantai, tepi sungai, te-
bing, tanggul, vegetasi; dan berdimensi imajiner
batas administrasi dalam peta. Sedangkan isi dari
ruang mengacu pada materi yang menempati
ruang tersebut, lebih dikenal dengan istilah sum-
berdaya alam, termasuk manusia. Dengan demi-
kian, istilah agraria, ruang, dan/atau sumberdaya
alam dapat digunakan secara bergantian untuk
menunjuk maksud yang sama.
Batas wilayah dapat menandakan identitas
ekologis, misalnya ekosistem hutan dan ekosis-
tem DAS; dapat pula bermakna politis, misalnya
batas negara; dapat bermakna sosiologis, misal-
nya batas pemangku adat; dapat pula bermakna
ekonomis, misalnya batas tanah yang dimiliki/
dikuasai oleh suatu pihak.
28
Sehingga, agraria
bermakna material sekaligus immaterial, terkait
dengan kewenangan suatu pihak untuk mengak-
ses; mengelola; memanfaatkan, dan mengklaim
suatu lingkup yang menjadi wilayahnya (do-
mein), dan kewenangan ini biasanya mengarah
pada bentuk penguasaan tunggal. Batas wilayah
dengan sendirinya menandakan pula klaim
kekuasaan suatu pihak atas materi yang berada
pada suatu wilayah, dan tak jarang klaim itu
bertubrukan dengan klaim pihak lain. Akibatnya,
konf lik yang memperebutkan klaim; akses;
pengelolaan; dan pemanfaatan sumberdaya
alam/agraria antara negara dan masyarakat adat
tidak terhindarkan. Agraria terkadang meru-
pakan ruang hidup yang tidak tergantikan. Se-
hingga, bagi pemaknanya, agraria akan diper-
tahankan hingga usai usia. Pemaknaan ini ba-
rangkali berbeda bagi negara atau swasta yang
menilai sumberdaya agraria adalah aset ekonomi,
baik untuk tujuan pertumbuhan ekonomi mau-
pun akumulasi kapital dan laba. Bagi negara dan
swasta, karena agraria sebagai aset, pemberian
kompensasi menjadi alternatif resolusi ketika
konflik agraria struktural terjadi.
2. Akar-akar konflik agraria
Akar-akar konflik agraria dapat dipetakan
dalam 5 hal, yaitu:
29
a. Proyek ideologi dan politik neoliberalisme
Sebagai sebuah teori, Neoliberalisme adalah
suatu aliran pemikiran yang mengutamakan
prinsip-prinsip kepemilikan pribadi secara
mutlak, pasar dan perdagangan bebas, dan
kebebasan dalam berusaha dan bersaing. Teori
ini segera menjadi kritik bagi tata pemerin-
tahan yang absolut. Neoliberalisme kemudian
dilembagakan dalam kebijakan pembangun-
an melalui SAPs (Structural Adjustment Pro-
grams), dipelopori oleh IMF dan Bank Dunia.
Harvey dalam A Brief History of Neoliberalism
memahami Neoliberlaisme sebagai agenda
konsolidasi kelas yang berkuasa untuk
mengatasi krisis-krisis akibat kejenuhan aku-
mulasi modal melalui accumulation by dis-
possession, yakni akumulasi modal dengan
cara perampasan disertai produksi ruang yang
baru; pembagian kerja yang baru; sumberda-
ya yang baru dan lebih murah; dan kelem-
bagaan modal yang baru, yang dibedakan
dengan accumulation by exploitation, yakni
akumulasi modal secara meluas melalui
28
Deden dkk., op.cit.
29
Deden dkk., op.cit.
42 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
eksploitasi tenaga kerja dalam proses produksi
dan sirkulasi barang dagangan
30
. Sehubungan
dengan hal itu, sumberdaya agraria merupa-
kan ruang pertemuan antara (P)embangunan
dan (p)embangunan, dan dimaknai sebagai
komoditas.
Jauh sebelum kritik Harvey terhadap perilaku
agen kapitalisme dalam memperlakukan
lahan, Polanyi, dalam The Great Transforma-
tion, menilai sumberdaya agraria bukan
sebagai komoditas, melainkan sebagai ruang
di mana relasi-relasi sosial terjadi dan be-
kerja
31
. Menurut Polanyi, ketika sumberdaya
agraria diperlakukan sebagai barang da-
gangan (komoditas) maka hubungan-hu-
bungan sosial yang melekat padanya akan
terlepas dan menghasilkan guncangan-gun-
cangan sosial berupa gerakan-gerakan tan-
dingan untuk melindungi masyarakat dari
kerusakan yang lebih parah. Sumberdaya
agraria beserta tenaga kerja merupakan syarat
hidup masyarakat, sehingga ketika keduanya
diintegrasikan ke dalam mekanisme pasar
sama saja dengan menyerahkan pengaturan
kehidupan sosial kepada pasar.
b. Sistem tenurial yang monopolistis
Domein Verklaring yang diperkenalkan oleh
Raf less menjadi landasan yang kuat bagi
klaim penguasaan atas ruang hingga saat ini.
Asas ini diadopsi oleh hukum nasional;
misalnya Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, dan oleh
hukum feodal; misalnya Rijksblad 1918 di
Lembaga Swapraja Yogyakarta
32
. Menurut
UUPA, Domein Verklaring dianggap menga-
baikan hubungan-hubungan agraria berbasis
komunal atau yang berbasis semangat so-
sialisme Indonesia
33
. Sesungguhnya, Domein
Verklaring lahir sebagai alat legitimasi peme-
rintah kolonial untuk mengukuhkan mono-
poli atas ruang dan pengelolaannya. Monopoli
itulah yang menjadi akar konflik karena akan
meniadakan pihak yang tidak dominan. Mes-
kipun asas domein verklaring dihapuskan da-
lam narasi kebijakan agraria, bukan berarti
semangat dan upaya-upaya untuk mencipta-
kan monopoli atas ruang turut pula hilang.
c. Konstruksi kebijakan agraria
Kebijakan yang mengatur pengelolaan agraria
di Indonesia bersifat tumpang tindih kepen-
tingan, bahkan bertentangan dengan asas
hukum agraria yang berlaku. Hal ini tampak,
jika UU No 5 Tahun 1960 tentang Pokok-
pokok Agraria (UUPA) dibadingkan dengan
UU Pertambangan, UU Kehutanan, UU
Pengadaaan Tanah untuk Kepentingan
Umum dan Pembangunan, dan MP3EI.
d. Moda Produksi atas agraria
Moda produksi atas agraria mengemuka
sebagai sumber konflik di beberapa tempat.
Kehutanan dan perkebunan merupakan
moda produksi penyumbang konflik agraria
struktural paling banyak dan paling lama da-
lam sejarah konflik agraria Indonesia, karena
sisa-sisa penerapan hukum kolonial pada
kedua sektor tersebut masih terjadi.
Reformasi hukum di bidang kehutanan, baik
UU No 5 tahun 1967 maupun UU No 41 tahun
1999 yang menggantikan Ordonansi 1927/
1932, tidak berarti menuntaskan konflik agra-
ria di sektor ini. Pembaruan hukum tanah
Agrarische Wet 1870 menjadi UU No 5 Tahun
30
Harvey, David. 2005. A Brief History of Neoli-
beralism. Oxford:Oxford University Press.
31
Polanyi, K. The great transformation. New York:
Rinehart. 1944
32
Kasus uji: Pertambangan Pasir Besi di DIY, klaim
tanah oleh Swapraja menggunakan produk kolonial Rijksblad
1918.
33
Antoro, Kus Sri. 2010. Konflik-konflik Sumbedaya
Alam di Kawasan Pertambangan Pasir Besi: Studi Implikasi
Otonomi Daerah (Studi Kasus di Kabupaten Kulon Progo
Daerah Istimewa Yogyakarta). Tesis. Sekolah Pascasarjana
IPB, tidak diterbitkan.
43 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
1960, dalam beberapa hal, juga demikian.
Dalam UU No 5 Tahun 1960, hak-hak yang
diturunkan langsung dari hukum kolonial,
terutama Hak Guna Usaha (HGU) yang ditu-
runkan langsung dari hak erpacht, meru-
pakan model yang paling sering menimbul-
kan konf lik agraria struktural. Penerapan
HGU pada suatu wilayah dengan serta merta
akan menghilangkan hubungan hukum yang
ada sebelumnya pada kawasan tersebut, kare-
na dikembalikan kepada asas muasal bahwa
HGU berasal dari tanah negara (bukan tanah
yang terlekati hak eigendom atau tanah
ulayat). Sehingga, HGU merupakan salah satu
cara penghilangan status hukum atas lahan
dan mekanisme peralihan penguasaan men-
jadi di tangan negara. Kasus di Ogan Ilir me-
nunjukkan demikian.
e. Politik hukum agraria
Kelsen berpendapat the state is the commu-
nity created by a national (as opposed to an
international) legal order
34
. The state as juris-
tic person is a personif ication of this commu-
nity on the national legal order constituting
this community. From a juristic point of view,
the problem of the state therefore appears as
the problem of the national legal order,
dengan demikian, persoalan negara, dalam
sudut pandang hukum, diartikulasikan seba-
gai persoalan tata hukum nasional.
Politik hukum agraria yang menempatkan
asas hukum positif sebagai satu-satunya asas
yang diijinkan hidup dalam masyarakat,
dengan kata lain meniadakan sistem hukum
yang lain. Dominansi hukum positif melahir-
kan konflik yang tiada habis, karena hukum
positif mengabaikan kearifan sistem yang lain.
Konsep kepemilikan yang diatur oleh bukan
hukum positif berlandaskan pada teori ipso
facto, menurut Burns hukum barat yang
dianut oleh pemerintah kolonial berlandas-
kan pada teori ipso jureteori ini didukung
oleh mazhab Utrecht yang melahirkan dok-
trin Domein Verklaring, yang berprinsip bah-
wa kepemilikan hak atas sumberdaya agraria
harus dinyatakan dengan alat bukti formal
berdasarkan prinsip rasionalisme
35
.
3. Penyelesaian Konflik agraria
Peraturan Kepala BPN No 3 Tahun 2011 Ten-
tang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan
Kasus Pertanahan membedakan dengan tegas
batasan Kasus, Sengketa, Perkara dan Konflik
pertanahan (tidak meliputi kawasan perairan;
udara; dan hutan). Kasus dibatasi sebagai seng-
keta, konf lik, atau perkara pertanahan yang
disampaikan kepada BPN RI untuk mendapat-
kan penanganan penyelesaian sesuai ketentuan
perundang-undangan dan/atau kebijakan
pertanahan nasional. Dalam hal ini jelas, bahwa
BPN tidak akan menangani kasus yang 1) tidak
dilaporkan, 2) di luar terminologi pertanahan,
dan 3) tidak berpayung hukum.
Sengketa dibatasi sebagai perselisihan perta-
nahan antara orang perseorangan, badan hu-
kum, atau lembaga yang tidak berdampak luas
secara sosio politik (berdimensi horizontal). Per-
kara adalah perselisihan pertanahan yang penye-
lesaiannya dilaksanakan oleh lembaga peradilan
atau putusan lembaga peradilan yang masih
dimintakan penanganan perselisihannya di BPN
RI. Konflik adalah perselisihan pertanahan antara
orang perseorangan, kelompok, golongan, orga-
nisasi, badan hukum, atau lembaga yang mem-
punyai kecenderungan atau sudah berdampak
luas secara sosio-politik (berdimensi struktural/
vertikal). Konflik agraria struktural lebih sering
34
Kelsen, Hans. 1961. General Theory of Law and State,
New York, Russell and Russell. hlm 181
35
Burns, Peter. 1999. The Leiden Legacy Concepts of
Law Indonesia. Jakarta:P.T. Pradnya Paramita, Jakarta.hlm
95.
44 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
merupakan kasus yang kronik, komprehensif,
dan sensitif pada isu-isu kemanusiaan yang adil
dan beradab dan/atau keadilan sosial bagi selu-
ruh rakyat Indonesia.
Ketetapan MPR RI No 9 Tahun 2001memberi
mandat kepada DPR dan Presiden untuk :
Menyelesaikan konflik-konflik yang berkenaan
dengan sumber daya agraria yang timbul selama
ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik
di masa mendatang guna menjamin terlaksana-
nya penegakan hukum dengan didasarkan atas
prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud Pasal 4
dari Ketetapan ini.
Konsekuensinya, pemerintah harus melaku-
kan 1) sinkronisasi kebijakan, untuk mengakhiri
dualisme hukum atau tumpang tindih kewe-
nangan; 2) landreform dengan mengedepankan
kepemilikan tanah untuk rakyat; 3) inventarisasi
dan pendaftaran tanah untuk landreform; 4)
pencegahan dan penyelesaian konflik agraria; 5)
penguatan kelembagaan dan kewenangan lem-
baga yang berkompeten; 6) pembiayaan dalam
Reforma Agraria dan penyelesaian konflik agra-
ria. Sedangkan Peraturan Presiden No 10 Tahun
2006 Tentang BPN mengatur kewenangan BPN
untuk melaksanakan tugas pemerintahan di bi-
dang pertanahan secara nasional, regional dan
sektoral (Pasal 2), dalam kaitannya dengan ama-
nah TAP MPR RI No 9 Tahun 2001, fungsi terse-
but dijabarkan dalam kewenangan untuk, antara
lain:
a. koordinasi kebijakan, perencanaan dan pro-
gram di bidang pertanahan;
b. pelaksanaan pendaftaran tanah dalam rangka
menjamin kepastian hukum;
c. pengaturan dan penetapan hak-hak atas ta-
nah;
d. pengawasan dan pengendalian penguasaan
pemilikan tanah;
e. pengkajian dan penanganan masalah, seng-
keta, perkara dan konflik di bidang perta-
nahan
Reforma Agraria (pemerintah dan pasar
menyebutnya Reformasi Agraria) mempunyai
dua fungsi, pertama sebagai tujuan yang mema-
yungi kebijakan agraria dan kedua sebagai cara
untuk penyelesaian konflik agraria
36
.
Menurut Bank Dunia, reformasi agraria
mempunyai lima dimensi, yaitu: 1) liberalisasi har-
ga dan pasar; 2) landreform (termasuk pengem-
bangan pasar tanah); 3) pengolahan hasil perta-
nian dan saluran pasokan pendapatan; 4) ke-
uangan pedesaan; dan 5) lembaga-lembaga
pasar
37
. Konsekuensinya adalah konsolidasi
tanah oleh pelaku pasar demi tujuan-tujuan
investasi yang ef isien. Logikanya, ef isiensi hanya
dapat dicapai apabila proses konsolidasi tanah
diserahkan kepada mekanisme pasar karena pa-
sar diyakini mempunyai kemampuan untuk
mengatur sendiri dalam mencapai keseimbangan
antara permintaan dan penawaran. Tidak meng-
herankan apabila pasar tanah dipromosikan
sebagai bagian dari kebijakan transformasi
penguasaan lahan. Sejalan dengan gagasan Bank
Dunia, ADB mempromosikan Land Administra-
tion Projects (LAP) sebagai bagian dari land-
reform, yang akan memenuhi dua fungsi yaitu 1)
kepastian hukum dan 2) kemudahan transaksi.
Merujuk pada Tuma dalam Twenty-Six Cen-
turies of Agrarian Reform, a Comparative Analy-
sis, Reforma Agraria didef inisikan oleh kelompok
yang mewakili kepentingan masyarakat sebagai
suatu upaya sistematik, terencana, dan dilakukan
secara relatif cepat, dalam jangka waktu tertentu
dan terbatas, untuk menciptakan kesejahteraan
dan keadilan sosial serta menjadi pembuka jalan
bagi pembentukan masyarakat baru yang de-
mokratis dan berkeadilan; yang dimulai dengan
langkah menata ulang penguasaan, pengguna-
an, dan pemanfaatan tanah dan kekayaan alam
lainnya, kemudian disusul dengan sejumlah pro-
36
Deden dkk., op.cit.
45 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
gram pendukung lain untuk meningkatkan pro-
duktivitas petani khususnya dan perekonomian
rakyat pada umumnya
38
. Konsekuensinya, seba-
gaimana yang di simpulkan oleh Lindquist
39
dalam Land and Power in South America, antara
lain adalah (1) Bermakna sebagai suatu transfer
kekuasaan; (2) Pengembalian tanah-tanah
(property) rakyat yang dirampas; (3) Pembagian
tanah secara merata (4) Mengarah kepada
pengelolaan tanah yang lebih baik; (5) Mening-
katkan standar kehidupan dari petani-petani
yang menerima manfaat dari reform; (6) Me-
ningkatkan produksi pertanian; (7) Menciptakan
lapangan kerja; (8) Mempercepat pembentukan
modal (capital formation), investasi dan tekno-
logi inovasi di bidang pertanian; (9) Mencipta-
kan dukungan politik untuk partai atai kelompok-
kelompok politik yang pro reform; (10) Memung-
kinkan untuk dilakukan/diterapkan dalam kon-
disi yang ada di tengah masyarakat, khususnya
dalam hal kapasitas personal/orang-orang yang
ada/tersedia; dan (11) Menjungkirbalikan
(mengubah) masyarakat kapitalis. Lebih lanjut,
Bachriadi
40
menegaskan bahwa Reforma Agraria
merupakan bagian dari program pembangunan
ekonomi sekaligus program politik untuk
mengubah struktur penguasaan dan penggu-
naan sumber-sumber agraria, yang meliputi 1)
redistribusi tanah dan sumber-sumber agraria
lainnya yang dikuasai secara berlebihan atau
skala besar dan 2) pengembalian tanah-tanah dan
sumber-sumber agraria lainnya yang dirampas
dari rakyat sebagai penguasa sebelumnya.
Dengan demikian, keberpihakan; kemauan
politik; dan posisi negara dalam penyelesaian
konflik agraria dapat dilihat dari praktik-prak-
tiknya, antara lain: bagaimana skema penyele-
saian konflik agraria dirumuskan dan ditempuh:
memenuhi amanat rakyat atau amanat pasar?
Tabel 6. Konflik Agraria menurut berbagai
pihak
41
Sumber: Saleh et al. (2012)
Pada 24 September 2012, dalam peringatan
Hari Tani ke 52, Kepala BPN RI menuangkan visi
lembaga negara yang dipimpinnya dalam soal
agraria nasional, melalui 7 tertib (Sapta Tertib),
yaitu Tertib Administrasi, Tertib Anggaran, Tertib
Perlengkapan, Tertib Perkantoran, Tertib Kepe-
gawaian, Tertib Disiplin Kerja, dan Tertib Moral.
Dan dalam rangka melaksanakan Sapta Tertib
itu, BPN telah mencanangkan dan melaksanakan
5 program strategis yaitu 1) Reforma Agraria, 2)
Penertiban Tanah Terlantar,3) Legalisasi Aset, 4)
Penyelesaian Sengketa dan Konflik Pertanahan,
dan 5) LARASITA.
Reforma agraria dilaksanakan melalui pena-
taan sistem politik dan hukum pertanahan dan
melalui landreform plus, yaitu penataan hukum
pertanahan yang didasarkan pada nilai-nilai dan
prinsip-prinsip ideologi negara dan UUD 1945,
dan bukan didasarkan pada nilai-nilai individu-
37
Limbong, Benhard. 2012. Konflik Pertanahan.
Jakarta:Margaretha Pustaka. hlm 168.
38
Tuma, Elias H. 1965. Twenty-Six Centuries of Agrar-
ian Reform, a Comparative Analysis . Berkeley: Universi-
ty of California Press
39
Lindquist. 1979. Land and Power in South America.
40
Bachriadi, Dianto. 2007. Reforma Agraria untuk
Indonesia: Pandangan Kritis tentang Program Pembaruan
Agraria Nasional (PPAN) atau Redistribusi Tanah ala
Pemerintahan SBY. Makalah Pertemuan Organisasi-orga-
nisasi Rakyat se-Jawa di Magelang, 6-7 Juni 2007.
41
Deden dkk., op.cit.
Unsur-unsur Pemerintah Pasar
Kelompok
Masyarakat
Akar masalah
Ketidakpastian
hukum
Kegagalan pasar
Ketimpangan
penguasaan
Sumber
masalah
Penegakan
hukumyang
lemah
Hambatan
structural
Dominansi
ekonomi pasar
Paradigma
Konflik sebagai
penghambat
kebijakan
Konflik sebagai
eksternalitas
Konflik sebagai
akibat (respons)
Solusi
Penertiban
administrasi
Mekanisme pasar
Perombakan
struktur
penguasaan
Eksekutor
Lembaga negara
melalui
pengadilan
Pasar tanah
Kelembagaan
negara dan
sosial
46 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
alis dan yang menempatkan tanah sebagai komo-
ditas. Berbagai peraturan baru telah dibuat antara
lain: 1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012
tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum, 2) Peraturan Peme-
rintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban
dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, 3) Pera-
turan Presiden RI Nomor 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pem-
bangunan Untuk Kepentingan Umum, 4) Pera-
turan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No-
mor 2 Tahun 2010 tentang Penanganan Penga-
duan Masyarakat, 5) Peraturan Kepala Badan
Pertanahan Nasional RI Nomor 4 Tahun 2010 ten-
tang Tata Cara Penertiban Tanah Terlantar dan
6) Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional
RI Nomor 3 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI
Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pelimpahan Kewe-
nangan Pemberian Hak Atas Tanah dan Kegiatan
Pendaftaran Tanah Tertentu. Sengketa, perkara
dan konflik pertanahan ditangani dengan mem-
bentuk Tim 11 (sebelas) dan Ad-hoc, yang juga
akan dibentuk pada tingkat Kantor Wilayah dan
Kantor Pertanahan untuk menyelesaikan kasus-
kasus di daerah dengan pola penyelesaian yang
sama, menggunakan prinsip. Win-Win Solution.
Tidak hanya berdasarkan hukum tertulis, tapi
lebih pada prinsip keadilan dan prinsip tanah
untuk kepentingan umum. Kontraproduktif
terhadap atas visi landreform plus di atas, BPN
RI merespons pengesahan UU No. 2 Tahun 2012
dengan penataan struktur organisasi agar dapat
melaksanakan pengadaan tanah bagi pem-
bangunan untuk kepentingan umum.
Menurut analisis Riset Kebijakan STPN 2012,
kebijakan BPN tersebut hanya merupakan salah
satu cara penyelesaian, tetapi tidak menyelesai-
kan persoalan ketika karakter konf lik saling
menegasikan. Rekomendasi Riset ini antara lain:
1) Konstruksi Kebijakan
2) Dibentuk peradilan khusus agraria
3) Sistem Tenurial yang tidak monopolistik
4) Penataan Ruang yang mengacu asas-asas
keadilan agraria
Dalam skema TAP MPR No 9/2001, reforma
agraria menjadi mekanisme yang harus ditem-
puh agar konflik agraria struktural terselesaikan.
Tetapi, setidaknya, saat ini negara dihadapkan
pada tiga pilihan bentuk reforma agraria: 1)
Reforma agraria yang dipandu oleh negara; 2)
Reforma agraria yang dipandu oleh pasar; dan
3) Reforma agraria yang digerakkan oleh masya-
rakat.
Meskipun sama-sama dianggap sebagai
masalah yang harus dipecahkan, konflik agraria
dipandang secara berbeda-beda oleh negara,
pasar, atau kelompok sosial (masyarakat), menu-
rut pemahaman masing-masing pihak terhadap
Reforma Agraria. Pasar melihat konflik agraria
sebagai akibat dari kegagalan pasar bebas, dian-
taranya karena keberadaan barang publik dan
eksternalitas yang tidak terselesaikan oleh pihak
yang berwenang (negara). Negara melihat kon-
flik agraria sebagai akibat dari ketidakpastian hu-
kum. Masyarakat melihat konflik agraria sebagai
akibat dari ketimpangan struktur penguasaan
sumberdaya agraria karena dominansi dua pihak
lainnya. Karenanya, pemaknaan Reforma Agraria
turut menentukan pendef inisian dan pemakna-
an konflik agraria, berikut tawaran resolusinya.
Upaya resolusi konf lik agraria tidak akan
menjadi bagian dari penyelesaian konflik ketika
dirumuskan dalam paradigma, pemahaman,
dan pendekatan yang melahirkan konflik agraria.
Tidak ada rumusan tunggal mengenai resolusi
konflik agraria, tergantung karakteristik mas-
alahnya. Sebagai contoh, untuk konflik akses,
penertiban administrasi dan penegakan hukum
justru tidak solutif, dibandingkan pendekatan
program-program pembukaan akses.
Apakah konf lik harus diselesaikan? Baik
negara, pasar, dan kelompok masyarakat (dalam
hal ini adalah komunitas akar rumput di titik-
47 Kus Sri Antoro: Anatomi Konsep Penyelesaian Konflik .....: 28-48
titik konflik) mempunyai jawaban seragam: Ya.
Tetapi, bagaimana dalam rumusan dan dalam
cara siapakah konflik agraria akan diselesaikan?
Jawabannya tidak sama. Bagi negara, mengakui
hak ulayat mungkin bukan solusi, demikian pula
bagi pasar, reforma agraria a la UUPA mungkin
juga bukan solusi. Bagi rakyat, win win solution
pun bukan penyelesaian konflik, karena rakyat
tetap kehilangan ruang hidup di dalam moda
produksi yang baru sekalipun. Memperpanjang
nafas perjuangan menjadi cara yang efektif
ketika rekomendasi kebijakan, jalur legal, dan
jalur parlementer selalu menemui jalan buntu.
E. Kesimpulan
Studi perbandingan atas hasil penelitian
sistematis STPN 2012 dan kertas kerja FKMA
(sebagai kasus uji) menunjukkan bahwa penye-
lesaian konflik agraria bukanlah terminologi
yang bebas nilai, istilah itu memuat perspektif
dan kepentingan aktor yang terlibat dalam
konflik agraria struktural. Perspektif, rumusan,
dan metode penyelesaian konflik berbeda-beda
antara aktor yang mewakili negara, pasar, atau
masyarakat sipil (terlebih akar rumput yang
terampas ruang hidupnya). Negara cenderung
mendorong pada penertiban administrasi
dengan dalih penegakan hukum positif. Pasar
cenderung mendorong pembebasan lahan
melalui mekanisme pasar dengan dalih ef isiensi.
Dan, masyarakat sipil yang menemui kegagalan
setelah menempuh upaya legal dan parlementer
ada yang cenderung mempertahankan sumber-
daya agraria untuk memperpanjang nafas per-
juangan hingga investasi akan dihentikan.
Daftar Pustaka
Antoro, Kus Sri. 2010. Konflik-konflik Sumber-
daya Alam di Kawasan Pertambangan Pasir
Besi: Studi Implikasi Otonomi Daerah
(Studi Kasus di Kabupaten Kulon Progo
Daerah Istimewa Yogyakarta). Tesis. Seko-
lah Pascasarjana IPB, tidak diterbitkan.
____. 2012. Bertani atau Mati, http://selamatkan-
bumi.com/bertani-atau-mati/, diakses 10
Maret 2013.
Bachriadi, Dianto. 2007. Reforma Agraria untuk
Indonesia: Pandangan Kritis tentang Pro-
gram Pembaruan Agraria Nasional (PPAN)
atau Redistribusi Tanah ala Pemerintahan
SBY. Makalah Pertemuan Organisasi-orga-
nisasi Rakyat se-Jawa di Magelang, 6-7 Juni
2007
Burns, Peter. 1999. The Leiden Legacy Concepts
of Law Indonesia. Jakarta: P.T. Pradnya
Paramita, Jakarta.
Choirudin, Udin. 2013. Merawat Nafas Panjang
Perjuangan Agraria, http://
selamatkanbumi.com/merawat-naf as-
panjang-perjuangan-agraria-risalah-
kongres-ii-forum-komunikasi-masyarakat-
agraris-fkma/, diakses 10 Maret 2013.
FIKA. 2013. Surat Terbuka Kepada Presiden RI.
http://www.change.org/petitions/surat-
terbuka-forum-indonesia-untuk-keadilan-
agrari a-kepada-presi den-republ i k-
indonesia-untuk-penyelesaian-konf lik-
agraria, dan http://www.kpa.or.id/
?p=1158&lang=en, diakses 10 Maret 2013.
Geertz, Clifford. 1983. Involusi Pertanian: Proses
Perubahan Ekologi di Indonesia. Jakarta:
Yayasan Obor.
GRAPPAD. 2013. Kronologi Perlawanan Warga
Padarincang versus Aqua Danone, ditulis
oleh GRAPPAD (Gerakan Rakyat Anti
Pembangunan Pabrik Aqua Danone), http:/
/sel amat kanbumi . com/kronol ogi -
perlawanan-warga-padarincang-vs-aqua-
danone/, diakses 10 Maret 2013.
Hart, Gillian. 2001. Development Debates in the
1990s: Culs de Sac and Promising Paths,
48 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Progress in Human Geography 25,4, pp.
649658.
Hart, Gillian. 2001. Development Debates in the
1990s: Culs de Sac and Promising Paths,
Progress in Human Geography 25,4, pp.
649658.
Harvey, David. 2005. A Brief History of Neoli-
beralism. Oxford: Oxford University Press.
Harvey, David. 2010. Imperialisme Baru, Genea-
logi dan Logika Kapitalisme Kontemporer.
Terj. Eko PD. Jakarta: Resist Book dan Insti-
tute of Global Justice.
Kartodirdjo, Sartono dan Djoko Suryo. 1991.
Sejarah Perkebunan Indonesia: Kajian
SosialEkonomi. Yogyakarta: Aditya Media.
Kelsen, Hans. 1961. General Theory of Law and
State. New York: Russell and Russell.
Levebre, Henry. 2010.The Survival of Capitalism:
Reproduction of the Relation of Production.
Dalam David Harvey. Imperialisme Baru,
Genealogi dan Logika Kapitalisme Kontem-
porer. Terj. Eko PD. Jakarta: Resist Book dan
Institute of Global Justice.
Limbong, Benhard. 2012. Konflik Pertanahan.
Jakarta: Margaretha Pustaka.
Magf ira, Sita dan Suluh Pamuji. 2013. Akar
Rumput Menuju Kemandirian, http://
indoprogress.com/akar-rumput-menuju-
kemandirian/, diakses 18 Maret 2013.
Mukhlis. 2013. Risalah Kasus dan Riwayat Tanah
Warga Rengas (dipublikasikan dalam
cetak).
Peluso, N.L. and J.C. Ribot. 2003. A Theory of
Access. Rural Sociology 68 (2), pp 153-181.
Polanyi, Karl. 1944. The great transformation.
New York: Rinehart.
Rere. 2013. Refleksi Perlawanan Porong, http://
selamatkanbumi.com/refleksi-perlawanan-
porong/, diakses 10 Maret 2013.
Riyanto, Guruh Dwi. 2013. Membangun Gerakan
Petani Mandiri, ditulis oleh, http://
www. por t al kbr. com/ ber i t a/ s aga/
2526669_4216.html, diakses 10 Maret 2013.
Robbins, Paul. 2004. Political Ecology A Critical
Introduction. Malden:Blacwell.
Sajogyo. 1982. Modernization without Develop-
ment. Dacca (Bangladesh):The Journal of
Social Studies.
Sajogyo. 2006. Ekososiologi. Sains, Sekretariat
Bina Desa. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka
Cerdas.
Saleh, Deden D., Widhiana H.P., Siti Fikriyah K.,
Kus Sri Antoro. 2012. Kebijakan Penyelesaian
Konf lik Agraria Kontemporer Dalam
Kebijakan, Konflik, dan Perjuangan Agraria
Indonesia Awal Abad 21 (Hasil Penelitian
Sistematis STPN 2012), AN. Luthf i (editor).
Yogyakarta: PPPM STPN.
Schlager, E. and E. Ostrom. 1992. Property Rights
Regimes and Natural Resources: A Consep-
tual Analysis, Land Economics 68(3), p 249-
262.
Scot, James C. 1985. Weapons of the Weak: Ev-
eryday Forms of Resistance. Oxford: Oxford
University Press.
Tuma, Elias H. 1965. Twenty-Six Centuries of
Agrarian Reform, a Comparative Analysis .
Berkeley: University of California Press.
Wiradi, Gunawan. 2013. Dari Gunawan Wiradi
untuk Kawan-kawan FKMA, http://
selamatkanbumi.com/surat-dari-gunawan-
wiradi-untuk-fkma/, diakses 10 Maret 2013.
LAND GRABBING DAN POTENSI INTERNAL DISPLACEMENT
PERSONS (IDP) DALAM MERAUKE INTEGRATED FOOD AND ENERGY
ESTATE (MIFEE) DI PAPUA
Amin Tohari*
Abstract Abstract Abstract Abstract Abstract: This article discussed the possible impact of land grabbing practice toward the emergence of internal displacement
person taken a close look to MIFEE project in papua. employed the concept of acumulation by dispossesion, it was found that the
major scale farming development kept a serious impact toward the emergence of internal displacement person. they are ones
whose land, forest and other aource of living had been taken away. The MIFEE had cause a socio-cultural gap between farming
mechanism and mode of production of the local people, a massice demographical change, economic polarisation, power politics
marginalization. with a big number of problems in IDP as a result of dispossesion practice, the IDP is directed toward group that
got an effect of development expansion rather than those who suffer from disaster. in the context of human right, the MIFEE was
a great potention for the occurance of a violation toward the local peoples right.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: Land Grabbing, Internal Displacement Persons, Accumulation, MIFFEE
Intisari Intisari Intisari Intisari Intisari:Tulisan ini mediskusikan kemungkinan dampak praktek land grabbing terhadap munculnya internal displacement person
dengan melihat kasus proyek MIFEE di Papua. Dengan menggunakan konsep accumulation by dispossession ditemukan bahwa
pembangunan pertanian skala besar tersebut menyimpan dampak serius terhadap kemunculan Internal Displacement Person,
yaitu orang-orang yang tercerabut dari tanah, hutan, dan sumber penghidupanya. MIFEE menimbulkan kesenjangan sosial-budaya
antara mekanisasi pertanian dan modus produksi masyarakat lokal, perubahan susunan demografi yang massif, polarisasi ekonomi,
dan peminggiran politik-kekuasan. Dengan banyaknya problem IDP akibat praktek dispossession ini sudah saatnya IDP diarahkan
kepada kelompok masyarakat yang terkena dampak dari ekspansi pembangunan di samping IDP akibat konflik dan bencana alam.
Dalam kontek HAM, MIFEE merupakan salah satu potensi besar terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat lokal.
Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci: Land Grabbing, Internal Displacement Person, Accumulation, MIFEE
A. Pengantar
Tulisan ini membahas isu land grabbing yang
terkait dengan hak asasi manusia terutama hak
atas tanah dan sumber penghidupan dari tanah.
Land grabbing kini menjadi kecenderungan baru
bentuk-bentuk investasi negara-negara kaya ke
negara-negara berkembang. Praktek global ini
terutama dipicu oleh kecemasan dunia atas krisis
pangan dan energi (von Braun & Meinzen-Dick,
2009; Ito at.all, 2011). Terutama negara-negara
pengimpor pangan yang memiliki hambatan
pada sumber daya air dan tanah namun memiliki
modal berlimpah merupakan aktor terdepan
dalam investasi tanah pertanian ini. Target utama
mereka adalah negara-negara berkembang yang
ongkos produksinya masih rendah dan memiliki
sumber daya agraria dan air yang berlimpah. Se-
lain mencari lahan baru untuk dapat memenuhi
kebutuhan pangan, land grabbing juga menjadi
skema banyak negara kaya lainya untuk mencari
lahan produksi energi baru terutama energi yang
dihasilkan dari tanaman (agrofuel). Perbedaan
mencolok dari praktek ini adalah jika pada deka-
de-dekade sebelumnya land grabbing dilakukan
sektor privat dengan motif pencarian keun-
* Alumni Pascasarjana Fisipol Universitas Gadjah
Mada, peneliti dan penggiat studi agraria.
50 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tungan, kini praktek ini banyak dilakukan oleh
negara dengan tujuan untuk memenuhi kebu-
tuhan pangan papulasinya.
Praktek land grabbing ini kemudian memun-
culkan dilema. Di satu sisi berurusan dengan isu
pembangunan seperti modernisasi pertanian,
peningkatan taraf hidup, dan investasi. Semen-
tara di sisi lain menimbulkan persoalan yang
terkait dengan hak-hak masyarakat adat atau hak
masyarakat terhadap ruang hidup yang sejak
lama telah menopang kehidupan mereka. Prak-
tek land grabbing ini tidak mengakuisisi tanah
dalam ukuran kecil melainkan dalam skala besar,
yang mencapai ribuan hektar, sehingga hal ini
dapat berakibat menyingkirkan masyarakat yang
sejak awal mendiami dan hidup di wilayah terse-
but. Tidak hanya itu saja, kesepakatan-kesepa-
katan akuisisi tanah ini hanya dilakukan antara
investor dengan pemegang otoritas suatu negara
dan tidak banyak melibatkan kelompok-kelom-
pok masyarakat setempat (von Braun & Meinzen-
Dick, 2009). Selain terkait dengan isu hak tanah
dan masyarakat adat, land grabbing juga dinilai
akan memunculkan masalah keberlanjutan
ekologis.
Pada prinispnya, tanah dan kekayaan alam
sebuah negara diperuntukkan bagi kesejahte-
raan warga negaranya. Prinsip dasar ini merupa-
kan pijakan utama bagi sebuah negara dalam
mengelola sumber daya alamnya. Di Indonesia,
Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 mengama-
nahkan bahwa Bumi, air, ruang angkasa dan
seluruh kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Terkait dengan hak kelola masyarakat adat atas
tanah dan hak mereka atas tanah juga diakui
oleh Undang-undang terutama Undang-un-
dang Pokok Agraria tahun 1960 (UUPA/1960).
Sebagai pihak yang memiliki hak atas tanah
masyarakat lokal pada dasarnya merupakan
pihak yang pertama kali harus diajak berunding
mengenai akuisisi yang mencakup wilayah hak
kelola mereka sebab jauh sebelum proyek-poryek
semacam land grabing ini muncul, mereka ada-
lah orang yang pertama kali mendiami wilayah
tersebut.
Terkait dengan masalah penghormatan,
perlingdungan, dan pemenuhan Hak Asasi
Manusia, pada 16 Mei 2006, di Switzerland dise-
lenggarakan seminar internasional bertajuk The
Global Land Grab: A Human Right Approach.
Seminar di Switzerland ini secara khusus menyo-
roti persoalan akuisisi tanah skala besar (LSLAs)
sebagai modus baru negara-negara kaya dalam
pemenuhan sumber pangan dan energi biofuel.
Seminar tersebut melibatkan beragam aktor
termasuk pakar-pakar hak asasi manusia dari
PBB, anggota-anggota gerakan sosial di dunia,
dan perwakilan NGO-NGO pembangunan inter-
nasional. Tujuan utama seminar ini salah satunya
adalah mencari metode-motode baru dan cara-
cara yang lebih efektif dalam mempromosikan
nilai-nilai HAM pada realitas baru berupa land
grabbing (Trand-Human Right-Equitable Econ-
omy, 2009). Dari perspektif HAM, seminar terse-
but melihat bahwa praktek land grabbing atau
yang mereka sebut dengan LSLAs (Large-Scala
Land Acquisitions) menyimpan akibat serius pada
upaya-upaya perwujudan hak asasi manusia.
Kehilangan akses atas tanah dan sumber-sumber
agraria lainya akan berdampak pada hak atas
standar hidup layak termasuk di dalamnya hak
atas pangan, rumah, dan air. Demikian pula hak
untuk menentukan diri sendiri (self-determina-
tion), hak atas pembangunan, dan hak untuk
berpatisipasi dalam kehidupan budaya. Hak-hak
sipil dan politik seperti misalnya hak berpartisipasi
dalam urusan-urusan publik dan hak mem-
peroleh informasi yang memadai akan terancam
ketika negosiasi dan implementasi LSLAs tersebut
dilakukan dengan cara yang tidak partisipatif
(Trand-Human Right-Equitable Economy,
2009). Partisipasi sendiri, sebagai gagasan yang
51 Amin Tohari: Land Grabbing dan Potensi IDP .....: 49-62
melekat dalam ide tentang demokrasi akan sulit
bisa dilakukan ketika infrastruktur dan proses-
proses demokrasi sebuah negara tidak berjalan
atau berjalan tetapi tidak subtantif.
Tulisan ini akan membicarakan beberapa
persoalan terkait dengan problem di atas. Perta-
ma, tulisan ini mendiskusikan tentang kondisi-
kondisi yang memunculkan praktek land grab-
bing. Dalam kaitan itu akan juga dibahas menge-
nai siapa saja yang menjadi aktor-aktor utama
praktek land grabbing ini di berbagi belahan
dunia. Dibicarakan juga implikasi potensial
praktek ini terutama dampak yang terkait
dengan persoalan HAM, namun sorotan dan
titik tekanya lebih diarahkan pada persoalan dis-
placement person sebagai akibatnya. Kedua,
secara teoritik memperbincangan praktek-
praktek land grabbing bisa muncul, bukan dalam
melihat kondisi pendorong kemunculanya
melainkan pada motif-motif apa yang berada
dibalik praktek global ini. Misalnya, benarkah
hanya karena persoalaan pangan dan energi saja
atau sebenarnya praktek land grabbing ini adalah
bagian dari gempuran kekuatan kapitalisme.
Ketiga, pada bagian ini akan disorot secara
spesif ik kasus-kasus di mana praktek land grab-
bing sudah berlangsung. Untuk itu, yang
menjadi bahan kajiannya adalah melihat hu-
bungan antara logika akumulasi primitif dengan
internal displacement persoan. Keempat, bagian
ini secara khusus membahas praktek land grab-
bing di Indonesia yang sering disebut dengan
proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and
Energy Estate). Pembahasan kasus ini akan dico-
ba lebih ditekankan pada melihat implikasinya
pada internal displacement person yang mungkin
akan ditimbulkanya.
B. Kemunculan Land Grabbing, Aktor-
aktor, dan Implikasi Potensialnya
Land Grabbing merupakan bentuk praktek
baru hasil campuran beragam faktor yang di
antaranya adalah volasitas harga di pasar global,
krisis pangan global, dan tingginya tingkat aktivi-
tas spekulasi. Secara sederhana praktek ini sangat
terkait dengan tiga hal yaitu meningkatnya
ketidakamanan pangan negara-negara yang
kemudian mencari cara-cara mengamankan
pasokan dan ketersediaan pangan negaranya,
melonjaknya permintaan terhadap agrofuel dan
bentuk-bentuk energi lainya (yang dianggap
alternatif dan ramah lingkungan), dan investasi
yang meningkat tajam baik dalam pasar tanah
maun komoditas-komoditas lainya yang terkait
dengan tanah (Daniel & Mittal 2009: 2).
Sejumlah faktor yang semakin mengancam
keamanan pangan sebuah negara mendorong
banyak negara, terutama negara-negara di ka-
wasan Asia Tengah dan Timur Tengah meme-
riksa kembali kebijakan domestik mereka atas
keamanan pangan. Peninjauan ulang kebijakan
domestik ini didasari oleh faktor-faktor seperti
meroketnya harga pangan pada tahun 2008 yang
meningkatkan nilai impor dan inflasi, perubahan
drastis kondisi iklim dunia, kekurangan lahan,
tanah subur, dan air di banyak wilayah bercampur
dengan pertumbuhan ekonomi dan tekanan
demograf i. Persoalan pangan ini, bagi pemerin-
tah di negera-negara tersebut, merupakan per-
soalan politik yang dapat memicu kerusuhan
sosial dan mengganggu stabilitas pemerintahan.
Oleh kerana itu, mereka mencari lahan dan
tanah di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan
pangan ini. Negara-negara teluk misalnya, total
nilai impor pangan mereka melonjak tajam dalam
kurun lima tahun dari $ 8 juta menjadi $ 20 juta
selama kurun waktu 2002 sampai 2007 (Daniel
& Mittal 2009, h. 2). Qatar misalnya, negara ini
hanya memiliki 1 % dari seluruh luas wilayah
negara yang bisa ditanami, selain itu sebagian
besarnya merupakan kilang minyak. Qatar telah
membeli tanah seluas 40.000 hektar di Kenya
untuk produksi pangan dan melakukan hal seru-
pa di Cambodia dan Vietnam untuk mempro-
52 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
duksi beras. Uni Emirat Arab yang mengimpor
sekitar 85 % panganya, kini membeli lahan seluas
324.000 hektar di Punjab dan Sind Pakistan pada
tahun 2008 (Daniel & Mittal 2009, h. 3). Jepang,
Cina, dan Korea Selatan juga melakukan hal yang
sama. Cina misalnya, negara ini telah membeli
101,171 hektar lahan di Zimbabwe. Korea Selatan
telah mengakuisisi tanah lebih dari 1 juta hektar
di Sudan, Mongolia, Indonesia, dan Argentina.
Sumber: IFPRI Policy Brief 2009
Faktor pendorong kedua atas praktek global
land grabbing ini adalah meningkatnya kebu-
tuhan energi dan manufaktur dunia. Permin-
taan bahan bakar dari tanaman telah meningkat
tajam selama beberapa tahun dan negara-negara
pengimpor bahan bakar mentargetkan produksi
besar-besaran agrofuel dan juga berambisi meng-
gabungkan bahan bakar biofuel dan bioethanol
dengan bahan bakar transportasi tradisional.
Kebijakan pembaruan standar bahan bakar Ame-
rika Serikat misalnya bertujuan untuk mening-
katkan penggunaan bahan bakar ethanol dari 3.5
milyar gallon antara 2005-2012, dan Uni Eropa
juga meningkatkan penggunaan biofuel pada
transportasi darat sampai 10 persen pada 2020
(Mitchell 2008).
Sementara itu, kondisi krisis pangan dan
energi dunia ini memberikan peluang baru bagi
investor-investor private kelas dunia untuk turut
terlibat dalam produksi pangan dan energi yang
semata-mata dilatari oleh motif keuntungan eko-
nomi. Gerak investor besar ini juga memicu
meningkatnya land grabbing di seluruh dunia.
Beberapa investor barat dan orang-orang terkaya
di dunia yang mulai melirik bisnis pangan dan
energi menggunakan skema land grabbing ini
di antaranya; Morgan Stanley membeli 40.000
hektar tanah pertanian di Ukraina, Goldman
Sachs mengakuisi industri unggas dan daging
Cina termasuk hak mereka atas tanah perta-
nianya pada tahun 2008, BlackRock, inc., dari
New York menyediakan $ 200 juta dana pertanian
dan sekitar $ 30 juta secara khusus digunakan
untuk mengakuisisi lahan pertanian (Daniel &
Mittal 2009).
Akan tetapi, tentu saja, praktek land grabbing
ini tidak mungkin berjalan secara demikian
masifnya tanpa melibatkan aktor-aktor f inansial
kelas dunia yang berkepentingan untuk
melancarkan proyek ini. Setidaknya, beberapa
aktor f inansial kelas dunia yang bisa disebut
dalam hal ini adalah International Financial Cor-
poration (IFA), sektor privat dari World Bank
Group yang mendanai investasi-investasi privat
di negara berkembang, dan mempromosikan
reformasi kebijakan, dengan melenyapkan
semua hal yang menghalangi datangnya
investasi. Salah satu program penting IFA
sekarang ini adalah membangun hutan
tanaman di lahan-lahan yang terdegradasi,
yang berarti program ini memaksudkan
pembiayaan dan dukungan atas praktek land
grabbing. Aksi ini utamanya didorong oleh
keyakinan bahwa tingginya harga pangan dunia
akan menciptakan kesempatan-kesempatan baru
munculnya pasar pangan. Sebab itu, beberapa
prinsip-prinsip utama IFA dalam upayanya ini
adalah memperbaiki produktif itas dengan trans-
fer teknologi, meningkatkan skala ekonomi
produksi dan proses pertanian, dan mendapat-
kan tanah lebih banyak lagi untuk produksi
pertanian (Daniel & Mittal 2009).
Untuk tujuan tersebut, IFA melakukan
beragam upaya membantu investor mengatasi
rintangan yang menghalangi investasi dalam
pasar tanah. Pertama, IFC menyarankan peme-
53 Amin Tohari: Land Grabbing dan Potensi IDP .....: 49-62
rintah suatu negara untuk mengurangi batasan-
batasan mereka dan membiarkan investor asing
masuk dan membeli tanah yang ada di negara
tersebut. Kedua, menyiapkan desain implemen-
tasi kebijakan yang efektif serta prosedur-prose-
dur yang memungkinkan bagi investasi asing,
misalnya dilakukan dengan cara merubah
aturan-aturan yang bisa meningkatkan jumlah
izin kepemilikan tanah oleh orang asing. Ketiga,
sementara itu FIAS (Foreign Investment Advisory
Service) mitra IFA secara khusus bekerja mem-
perbaiki iklim investasi pasar asing dengan cara
membangun prosedur yang simpel dan transpa-
ran bagi investor untuk memperoleh hak properti
yang aman dengan tingkat harga yang rasional
(Daniel & Mittal 2009).
Bagi para pendukung praktek land grabbing,
semua itu diperlukan karena proyek skala besar
ini dinilai merupakan jalan tengah yang saling
menguntungkan antara negara-negara kaya teta-
pi sedikit memiliki tanah subur, dan negara-
negara miskin yang memiliki tanah luas yang
subur dan populasi yang bisa menjadi bagian dari
bekerjanya land grabbing. Misalnya, land grab-
bing dianggap dapat mentransformasikan eko-
nomi negara berkembang baik dengan menye-
diakan lapangan pekerjaan di sektor pertanian,
maupun membuka lapangan pekerjaan melalui
penyediaan infrastruktur pendukung lainya
seperti transportasi dan perumahan. Praktek ini
juga dianggap dapat meningkatkan produksi
pertanian, meningkatkan nilai ekspor, dan mem-
bawa teknologi baru untuk memperbaiki ef isien-
si produksi pertanian (Daniel & Mittal 2009).
Secara makro retorika ini tampaknya sangat
menjanjikan, terutama bagi negara berkembang
yang menghadapi persoalan domestik khusus
perbaikan ekonomi. Namun demikian, jika tidak
melihat lebih dalam akibat yang sejauh ini
ditimbulkan maka akan mudah terjebak pada
pandangan simplistik. Retorika ini sebenarnya
sangat mirip dengan semua argumentasi yang
berdiri dibalik semua kebijakan eksplorasi dan
eksploitasi tanah atau alam melalui pemanggilan
investor sebanyak-banyak. Asumsi dibaliknya
adalah bahwa investasi akan menggerakkan
roda perekomian dan memodernisasi masya-
rakat.
Dengan melihat praktek land grabbing bekerja
di beberapa negara akan segera kelihatan bukti
yang berkebalikan dengan retorika optimistik di
atas. Pada dasarnya, praktek semacam ini bukan-
lah hal baru melainkandengan bentuk yang
sedikit berbedasudah dilakukan pada abad
sebelumnya, baik pada masa kolonialisme mau-
pun pascakolonial. Pembukaan lahan-lahan luas
untuk kepentingan perkebunan produksi ekpor
komoditas dunia merupakan awal dari praktek
ini. Jika pada masa lalu yang mendorong adalah
konsumsi dan perdagangan dunia sedangkan
saat ini didorong terutama oleh krisis pangan
dan energi dunia. Watak dasar praktek semacam
ini beserta akibat yang ditimbulkanya tidak juah
berbeda. Beberapa konsekuensi tidak sederhana
di antaranya adalah terjadinya displacement
petani kecil, merubah bentuk operasi pertanian
sehingga para petani yang dahulu memiliki tanah
mereka berubah menjadi buruh di tempat itu.
Kondisi ini dalam jangka panjang menjadi awal
dari kemunculan kekacauan sosial, ketidakadilan
sosial-ekonomi, dan bahkan pergolakan politik
lokal. Kelompok-kelompok lemah ini menjadi
semakin dirugikan manakala investor land grab-
bing mendapat dukungan dan proteksi yang
kuat dari negara karena klaim-kalim mereka
yang telah membuka lapangan pekerjaan dan
meningkatkan pendapatan (win win solution
claim). Akibat yang kedua adalah minimalisasi
akses terhadap sumber-sumber pangan sebab
sumber pangan yang dulu adalah kontrol dari
masyarakat setempat tetapi sejak land grabbing
dilakukan, maka akses terhadap sumber-sumber
pangan menjadi di bawah kontrol investor asing
(Daniel & Mittal 2009). Pangan kemudian tidak
54 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
merupakan sesuatu yang didistribusikan melalui
kelembagaan sosial tradisional masyarakat yang
mereka praktekkan dari generasi ke generasi
tetapi telah berubah menjadi sesuatu yang distri-
businya dilakukan dalam mekanisme-mekanis-
me pasar. Dengan demikian akan segera tampak
bahwa mereka yang tidak memiliki cukup modal
untuk memperoleh sumber pangan dari pasar
akan menjadi kelompok sosial paling rentan
padahal dahulunya mereka adalah pemilik tanah
dan pemegang kontrol atas produksi dan distri-
busi sumber-sumber pangan karena mereka yang
memiliki alat-alat produksinya.
C. Land Grabbing, Perluasan Kapital,
dan Masalah Internal Displacement
Persons
Bagaimana sebenarnya praktek land grabbing
ini didudukkan secara kritis dan bagaimana prak-
tek ini seharusnya dipahami? Apakah faktor
pendorong utamanya yaitu krisis pangan dan
energi benar-benar merupakan dasar satu-satu-
nya bagi kemunculanya? Ataukah praktek ini
adalah bagian dari perluasan kapitalisme? Meng-
ingat pada dasanya praktek serupa ini dalam
sejarah sudah pernah dilakukan meskipun
dalam bentuk yang tidak jauh berbeda. Penulis
melihat bahwa land grabbing pada dasarnya
merupakan perluasan ruang-ruang baru kapi-
talisme sebagai bagian dari upaya mengatasi
kondisi overaccumulation. Surplus kapital di
negara-negara kaya dihasilkan melalui praktik
pembangunan kapitalisme yang sampai taraf
tertentu surplus itu tidak lagi memadai diputar
di dalam negaranya sendiri. Agar surplus itu
tidak hilang maka harus dicari wilayah lain yang
dianggap memungkinkan dipertahankannya sur-
plus dan dilipatgandakanya surplus tersebut.
Itulah sebabnya pelaku land grabbing paling ter-
depan adalah negara-negara kaya di dunia yang
tidak lagi memiliki lahan untuk pertanian. Prak-
tek ini, sebagian besar merupakan dorongan
watak kapital yang terus menuntut akumulasi
dengan mencari ruang-ruang baru sirkulasinya.
Tiga watak utama kapital yang terus mendorong-
nya mencari daerah-derah baru adalah akumu-
lasi, enclosure, dan dispossession. Oleh sebab itu,
praktek ini harus dipahami dalam kerangkan
apa yang disebut dengan dinamika modal (the
dynamic of capital) (Ito, Rachman, dan Savitri,
2011).
Dinamika modal berkaitan dengan sejarah
politik kapitalisme yang bertumpu pada kecen-
derunganya mengakumulasi dan melakukan
perluasaan wilayah jelajah. Kondisi over-akumu-
lasi kemudian dipecahkan dengan jalan mencip-
takan ruang baru yang belum terjamah oleh
relasi produksi kapitalisme. Oleh karena itu,
praktek pengurungan atau pemagaran wilayah
tertentu, melakukan pencabutan hak, dan meru-
bah kondisi-kondisi sosial ekonomi di suatu
wilayah menjadi bagian tak terpisahkan dari
praktek ini. Menurut de Angelis (2004:72) prak-
tek perluasan ini terkait dengan dua hal yaitu
kolonisasi wilayah tapal batas dan melakukan
rekomposisi politik. Wilayah tapal batas yang
dimaksudkan adalah wilayah hidup yang belum
tersentuh oleh relasi produksi kapitalisme,
sedangkan rekomposisi politik adalah upaya
melenyapkan hambatan-hambatan sosial yang
menghalangi proses produksi kapitalisme. Kom-
binasinya tampak nyata ketika krisis energi dan
pangan dunia membuka kesempatan bagi
negara, korporasi internasional dan pemerintah
di level lokal untuk mentransformasikan tidak
hanya ruang geograf is yang mengandung ta-
nah-tanah subur dan hutan-hutan alami tetapi
juga ruang-ruang sosial dan relasi-relasi produksi
yang hadir sebelum land grabbing (Ito, Rachman,
Savitri 2011: 6). Dinamika kapital tidak hanya
berupa perampasan sumber daya dengan mele-
paskan produsen dari alat-alat produksi tetapi ia
juga merupakan kekuatan sosial yang bekerja
untuk memperdalam relasi kapitalistik yang
55 Amin Tohari: Land Grabbing dan Potensi IDP .....: 49-62
dibentuk untuk menyerap sebanyak mungkin
surplus produksi.
Kondisi-kondisi yang kemudian terbentuk
dari proses akumulasi dan ekspansi ini di
antaranya adalah apa yang disebut dengan In-
ternal Displacement Person (IDP). Orang-orang
yang terasingkan dari wilayah tempat sebelum-
nya mereka memiliki kontrol terhadapnya. Jika
menggunakan term akses Ribot dan Peluso
(2003), mereka adalah orang-orang yang tidak
lagi memiliki kemampuan untuk memperoleh
manfaat atau keuntungan dari sesuatuyang
dulu mereka miliki, bahkan dalam derajat ter-
tentu mereka tidak lagi memiliki hak mem-
peroleh manfaat dari sesuatu tersebut. Bagi Ribot
dan Peluso (2003) kondisi ini berada dalam
hubungan-hubungan sosial yang menghambat
dari memperoleh manfaat penggunaan sumber
daya tertentu. Pengertian ini, dalam konteks land
grabbing, lebih tepat dan lebih spesif ik daripada
pengertian IDP resmi yaitu;
Persons or groups of persons who have been forced
or obliged to flee or to leave their homes or places
of habitual residence, in particular as a result of or
in order to avoid the effects of armed conflict, situ-
ations of generalized violence, violations of human
rights or natural or human made disasters, and who
have not crossed an internationally recognized State
border (Global Protection Cluster Working Group
2007: 6).
Konsep IDP sebenarnya juga terkait dengan
kelompok-kelompok yang tersingkir dari praktek
semacam land grabbing. Mereka kehilangan
akses terhadap tanah mereka atau properti lainya
yang pernah mereka miliki atau mereka terputus
dari kehidupan normal mereka dan sumber
penghasilan mereka, dan sebagai hasilnya mere-
ka mengalami pemiskinan, marjinalisasi, eksploi-
tasi, dan obyek kesewenang-wenangan (Global
Protection Cluster Working Group 2007).
Namun demikian, tetap akan kesulitan untuk
melihat sebaran IDP Indonesia yang didasarkan
pada kondisi yang diakibatkan oleh praktek
akumulasi kapital melalui perampasan ruang
hidup yang seringkali dilakukan dengan cara
yang relatif halus dan sebagian besar dianggap
legal. Ini karena kebanyakan laporan tentang IDP
hanya merilis IDP yang diakibatkan oleh konflik
sosial maupun konflik militer dan bencana alam
(lihat Hugo 2002). Pada tahun 2007 misalnya,
Internal Displacement Monitoring Centre
(IDMC) dan Norwegian Refugee Council hanya
menyebutkan bahwa IDP di Indonesia sekitar
100.000-200.000 orang sebagai akibat konflik
sosial dan militer sejak awal tahun 2000. Mereka
adalah orang-orang yang menderita akibat
konflik di Aceh, Maluku-Ambon, Sampit-Kali-
mantan Tengah, Poso-Sulawesi Utara, dan Papua
Barat. Sampai laporan itu dirilis kondisi IDP In-
donesia yang tersebar di berbagai wilayah itu
sangat tidak memadai akibat manajeman dan
pengurusan yang diwarani oleh korupsi dan
penyalahgunaan bantuan (IDMC & NRC 2007:
91).
Kelompok-kelompok masyarakat yang sebe-
narnya masuk dalam kategori IDP sesuai dengan
pengertian IDP yang terkait dengan perampasan
tanah di atas, di Indonesia sangat banyak jum-
lahnya tetapi tidak kelihatan (dalam data IDP).
Untuk melihat massifnya gerak ekspansi kapital
yang menimbulkan akibat pada banyaknya IDP
di Indonesia salah satunya adalah dengan meli-
hat kasus konf lik pertanahan antara warga,
negara, dan kekuatan-kekuatan kapital. Dalam
tiga tahun terakhir ini, graf ik kejadian konflik
agraria di tanah air terus menunjukkan pening-
katan. Jika di tahun 2010 terdapat sedikitnya 106
konflik agraria di berbagai wilayah Indonesia,
kemudian di tahun 2011 terjadi peningkatan
drastis, yaitu 163 konflik agraria, yang ditandai
dengan tewasnya 22 petani/warga tewas di
wilayah-wilayah konflik tersebut, maka sepanjang
tahun 2012 ini, KPA mencatat terdapat 198
konflik agraria di seluruh Indonesia. Luasan ar-
56 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
eal konflik mencapai lebih dari 963.411,2 hektar,
serta melibatkan 141.915 kepala keluarga (KK)
dalam konflik-konflik yang terjadi.
Sementara catatan kriminalisasi dan keke-
rasan terhadap petani sepanjang tahun 2012
adalah; 156 orang petani telah ditahan, 55 orang
mengalami luka-luka dan penganiayaan, 25 peta-
ni tertembak, dan tercatat 3 orang telah tewas
dalam konflik agraria. Dari 198 kasus yang terja-
di di tahun 2012, terdapat 90 kasus terjadi di
sektor perkebunan (45%); 60 kasus di sektor pem-
bangunan infrastruktur (30%); 21 kasus di sektor
pertambangan (11 %); 20 kasus di sektor kehu-
tanan (4%); 5 kasus di sektor pertanian tambak/
pesisir (3%); dan 2 kasus di sektor kelautan dan
wilayah pesisir pantai (1 %).
Sejak 2004 hingga sekarang telah terjadi 618
konflik agraria di seluruh wilayah Republik In-
donesia, dengan areal konflik seluas 2.399.314,49
hektar, dimana ada lebih dari 731.342 KK harus
menghadapi ketidakadilan agraria dan konflik
berkepanjangan. Ketidakberpihakan pemerintah
kepada masyarakat yang tengah berkonflik, tin-
dakan intimidasi dan kriminalisasi, serta pemi-
lihan cara-cara represif oleh aparat kepolisian dan
militer dalam penanganan konflik dan sengketa
agraria yang melibatkan kelompok masyarakat
petani dan komunitas adat telah mengakibatkan
941 orang ditahan, 396 mengalami luka-luka, 63
orang diantaranya mengalami luka serius akibat
peluru aparat, serta meninggalnya 44 orang di
wilayah-wilayah konflik tersebut selama periode
20042012.
Dalam konteks pembangunan dan kebijakan
pemerintah, residu dari hal ini yang berbentuk
IDP, biasanya tidak masuk dalam pengertian IDP
yang diakui secara Internasional. UN OCHA
dalam buku Prinsip-prinsip Panduan Untuk IDP
menggariskan secara tegas;
The distinctive feature of internal displacement is
coerced or involuntary movement that takes place
within national borders. The reasons for flight may
vary and include armed conflict, situations of gen-
eralized violence, violations of human rights, and
natural or human-made disasters. Persons who
move from one place to another voluntarily for eco-
nomic, social, or cultural reasons do not fit the
description of internally displaced persons to whom
the Guiding Principles apply. By contrast, those who
are forced to leave their home areas or have to flee
because of conflict, human rights violations, and
other natural or human-made disas-ters do fit the
description of the internally displaced. In some cases,
internal displacement may be caused by a combi-
nation of coercive and economic factors
(Brookings Institution, UN OCHA 1999:5).
Tentu saja dengan def inisi semacam ini sulit
untuk memasukkan orang-orang yang pergi me-
ninggalkan rumah secara suka rela tetapi lebih
disebabkan oleh kondisi-kondisi yang mamaksa
seperti penyitaan tanah, pajak yang memberat-
kan, atau kondisi ekonomi yang membuat me-
ninggalkan rumah adalah opsi yang paling
memungkinkan dan rasional untuk merubah
hidup (Bosson, 2007). Pembangunan yang lebih
banyak didorong dan dioperasikan oleh prinsip
accumulation by dispossession pada kenyataanya
juga memunculkan banyak akibat yang mem-
buat penduduk kehilangan tempat hidupnya
(Lin, 2008). Namun sayangnya isu pem-
bangunan yang membawa displacement tidak
menjadi inti atau bagian penting dari wacana
dan praktek advokasi bagi orang-orang yang ter-
singkir di rumahnya sendiri. Di beberapa negara
berkembang Brazil dan Mexico misalnya, pem-
bangunan yang membawa displacement tersebut
menciptakan atau memperluas ketidaksetaraan
di dalam masyarakat, melenyapkan sumber
penghidupan tradisional, mencabut orang-orang
dari kehidupan komunitasnya dan masuk ke
dalam bentuk kehidupan individual yang
terpecah-pecah dan saling berhadapan satu sama
lain di dalam sistem ekonomi oportunistik. Hal
ini juga memunculkan budaya konsumer yang
mengakibatkan kehancuran sumber daya alam
(Sharma 2003:980). Kasus Merauke Integrated
57 Amin Tohari: Land Grabbing dan Potensi IDP .....: 49-62
Food and Energy Estate (MIFEE) di Papua pada
dasarnya merupakan praktek dari kebijakan pem-
bangunan bukan hanya pemerintah nasional-
lokal tetapi juga bagian dari keinginan dunia
internasional yang membawa akibat-akibtanya
sendiri terutamadalam kasus MIFEEadalah
terkait dengan internally displacment person.
Logika pembangunan dan pengembangan yang
dibaluti oleh alasan-alasan ekonomi seperti me-
ningkatkan taraf hidup masyarakat biasanya
menyimpan residu bagi masyarakat lokal karena
praktek semacam ini membawa dalam dirinya
ukuran-ukuran compatibilatas operasi yang se-
ringnya tidak sesuai dengan kondisi-kondisi
masyarakat lokal.
D. MIFEE dan Potensi
Internal Displacement Persons
MIFEE secara resmi dibuka pada 11 Agustus
2010 oleh Menteri Pertanian Indonesia. Proyek
besar ini dimaksudkan sebagai proyek pem-
bangunan skala besar yang didesain untuk mem-
produksi tanaman pangan dan bahan bakar da-
ri tumbuhan. Total target luas penggarapanya
adalah 1,282,833 hektar dengan perincian;
423,251.3 hektar pada 2010-2014; 632,504.8 hektar
pada 2015-2019; dan 227,076.9 hektar pada 2020-
2030 (GoI 2010: 36; BKTRN 2010: 10). Melalu
MIFEE ini diproyeksikan pada 2020 akan meng-
hasilkan produksi pangan beras sebesar 1.95 juta
ton, jagung 2.02 juta ton, kedelai 167,000 ton,
sapi 64,000, gula 2.5 juta ton, minyak kelapa sawit
mentah 937,000 tin per tahun. Di Indonesia,
proyek besar ini dilandaskan pada Kepres No 05/
2007 tentang Percepatan Pembangunan Papua
dan Papua Barat dan Peraturan Pemerintah No.
39/2009 tentang Zona Ekonomi Khusus yang
menetapkan Papua sebagai lokasi strategis pem-
bangunan nasional. Pada 2010, Peraturan Peme-
rintah No. 18/2010 tentang Pertanian Pangan
menjadi dasar payung proyek MIFEE (Jasuan,
2011).
Dilihat dari rencana tata ruang, Merauke diba-
gi ke dalam IX Kluster Sentra Produksi Pangan.
KSSP I adalah Greater Merauke mencakup lahan
seluas 9.932 hektar, KSSP II Kalikumb luasnya
214.336 hektar, KSSP III Yeinan 82.966 hektar,
KSSP IV Bian 91.754 hektar, KSSP V Okaba
127.271 hektar, KSSP VI Ilwayab 78.036 hektar,
KSSP VII Tubang 180.115 hektar, KSSP VIII
Tabonji 213.725, dan KSSP IX Nakias dengan luas
139.700. Secara lebih luas persebaran dan lokasi
masing-masing KSSP tersebut dapat dilihat pada
gambar peta di bawah ini (Gambar.2.). Rencana
Koridor Ekonomi Papua-Maluku 2011-2015 yang
dicanangkan pemerintah terdiri dari Sorong,
Wamena, Manokwari, Jayapura, dan Merauke
juga menempatkan Merauke sebagai sentra
produksi pertanian selain sebagian wilayah Jaya-
pura lainya.
Peta Arahan Kluster Sentra Produksi Pertanian
Kawasan Merauke
Sumber: Dirjen Sarana dan Prasarana Pertanian
Kementerian Pertanian 2010
Investasi besar produksi pangan dan energi
skala besar ini tidak dilakukan oleh perusahaan-
perusahaan negara tetapi semua perusahaan
yang adalah perusahaan swasta baik dalam nege-
ri maupun luar negeri. Jika melihat data Badan
Koordinasi Penanaman Modal Daerah dan
Perijinan (BKPMDP)Kabupaten Merauke tahun
2009, total area MIFFE lebih besar yaitu
1.616.234,56 hektar. Dari total jumlah tersebut
316.347 Ha untuk perkebunan kelapa sawit di-
kuasi 8 perusahaan, 156.812 Ha untuk perke-
bunan tebu dan produksi gula dipegang 5
58 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
perusahaan, 97.000 Ha untuk perkebunan ja-
gung yang dikuasai 4 perusahaan, 973.057,56 Ha
untuk hutan tanaman industri yang dipegang 9
perusahaan, 69.000 Ha untuk produksi tanaman
pangan dipegang 3 perusahaan, 2.818 Ha untuk
produksi kayu dikuasi 2 perusahaan, dan 1.200
Ha untuk pembangunan pelabuhan yang dipe-
gang oleh satu perusahaan (lihat Tabel.4.).
Tabel.4. Daftar Perusahaan, Luas Areal, dan
Jenis Tanaman/Usaha
Sumber: Badan Koordinasi Penanaman Modal Da-
erah dan Perijinan (BKPMDP), Peme-
rintah Kabupaten Merauke, 2009.
Merauke terletak di selatan Papua yang terdiri
dari banyak hutan-hutan rawa dengan banyak
aliran sungai, bercampur dengan padang rumput
luas. Merauke adalah satu tempat penting yang
dilimpahi kekayaan biodiversitas. Suku lokal yang
hidup di wilayah ini adalah suku Malind, Muyu
dan Mandobo, termasuk suku Mappi dan Auyu.
Dalam konteks proyek MIFEE, suku Malind ada-
lah suku yang paling terkena dampak proyek
pangan dan energi tersebut. Suku Malind saling
mengenal satu sama lain melalui simbol klan.
Terdapat enam klan besar dalam suku ini dengan
simbol mereka masing-masing. Klan gebze
disimbibolkan dengan kelapa, Mahuze dengan
sagu, Basik dengan babi, Samkakai dengan
kanguru, Kaize dengan burung kasuari, dan
Balagaise dengan burung elang. Simbol-simbol
ini terkait dengan aturan-aturan adat yang
mengontrol dan berpangaruh terhadap kehi-
dupan mereka. Kehilangan salah satu simbol ini
dari alamnya berarti kehilangan identitas mere-
ka. Karena itu, hewan dan tumbuhan yang me-
lambangkan setiap klan ini harus dijaga dan
dilindungi agar setiap klan tidak kehilangan
identitas masing-masing. Orang Malin meng-
identif ikasi dirinya dengan sesuai dengan lelu-
hurnya (Dema). Suku Malin juga percaya bahwa
tempat-tempat tertentu adalah keramat yang
pasti disinggahi oleh leluhur mereka itu. Mereka
juga percaya bahwa leluhur mereka hidup di
tempat itu sehingga mereka berkewajiban untuk
melindungi tempat-tempat itu dan menghorma-
tinya. Jika mereka tidak melakukanya, mereka
percaya bahwa mereka akan mendapat hu-
kuman adat yang akan menimbulkan sesuatu
yang buruk bagi kehidupan mereka. Keperca-
yaan ini terus diturunkan dari generasi ke
generasi. Proyek besar MIFEE berada di wilayah
teritorial suku ini yang berpotensi mengancam
dan memusnahkan kepercayaan, identitas, sim-
bol leluhur, dan sumber pangan mereka. Karena
itu banyak penolakan dilakukan oleh suku ini
terhadap program MIFEE meskipun bupatinya
adalah orang Malind sendiri dari klan Gebze,
John Gluba Gebze (Moiwend, 2011).
Orang-orang Malind memiliki mekanisme
sendiri dalam memanfaatkan sumberdaya alam.
Setiap klan memiliki teritori adat sendiri yang
No Nama Perusahaan Luas Area (Ha)
Jenis
Tanaman/Usaha
1 PT. Bio Inti Agrindo 39.900 Ha Sawit
2 PT. Ulilin Agro Lestari 30.000 Ha Sawit
3 PT. Dongin Prabhawa 39.800 Ha Sawit
4 PT. Berkat Cipta Abadi 40.000 Ha Sawit
5 PT. Papua Agro Lestari 39.800 Ha Sawit
6 PT. Hardaya Sawit Papua 62.150 Ha Sawit
7 PT. Mega Surya Agung 24.697 Ha Sawit
8 PT. Agrinusa Persada Mulia 40.000 Ha Sawit
Total Areal: 316.347 Ha
9 PT. Tebu Nusa Timur 12.000 Ha Gula Tebu
10 PT. Papua Resources Indonesia 20.000 Ha Gula Tebu
11 PT. Agri Surya Agung 40.000 Ha Gula Tebu
12 PT. Nusantara Agri Resources 40.000 Ha Gula Tebu
13 PT. Hardaya Sugar Papua 44.812 Ha Gula Tebu
Total Areal: 156.812 Ha
14 PT. Muting Jaya Lestari 40.000 Ha Jagung
15 PT. Digul Agro Lestari 40.000 Ha Jagung
16 PT. Tjipta Bangun Sarana 14.000 Ha Jagung
17 PT. Muting Jaya Lestari 3.000 Ha Jagung
Total Areal : 97.000 Ha
18 PT. Energi Hijau Kencana 90.225 Ha Hutan Industri
19 PT. Plasma Nutfah Marind Papua 67.735 Ha Hutan Industri
20 PT. Inocin Abadi 45.000 Ha Hutan Industri
21 PT. Balikpapan Forest Indonesia 40.000 Ha Hutan Industri
22 PT. Wanamulia Suskes Sejati 61.000 Ha Hutan Industri
23 PT. Wanamulia Suskes Sejati 96.553, 560 Ha Hutan Industri
24 PT. Wanamulia Suskes Sejati 116.000 Ha Hutan Industri
25 PT. Kertas Nusantara 154.943 Ha Hutan Industri
26 PT. Selaras Inti Semesta 301.600 Hutan Industri
Total Area : 973.057,56 Ha
27 PT. Sumber Alam Sutera 15.000 Ha Tanaman Pangan
28 PT. Bangun Cipta Sarana 14.000 Ha Tanaman Pangan
29 PT. Karisma Agri Pratama 40.000 Ha Tanaman Pangan
Total Areal: 69.000 Ha
30 PT. Muting Mekar Hijau 18 Ha Industri Kayu
31 PT. Medco Papua Industri Lestari 2.800 Ha Industri Kayu
Total Areal: 2.818 Ha
32 PT. Cupta Beton Sinar Perkasa 1.200 Ha Pembangunan
Pelabuhan
Total Areal: 1.200 Ha
TOTAL AREA : 1.616.234,56 Ha
59 Amin Tohari: Land Grabbing dan Potensi IDP .....: 49-62
berfungsi untuk tempat berburu, berkebun,
tangkapan ikan, dan pemukiman. Setiap tempat
mempunyai batas-batas sendiri yang tidak ke-
lihatan dalam peta resmi hak tanah pemerintah.
Apabila tempat-tempat suci dan batas-batasnya
hilang, ini berarti akan terjadi konflik di antara
mereka. Dengan total arena okupasi 1.616.234,56
Ha oleh 32 perusahaan dipastikan berpotensi me-
lenyapkan basis kehidupan orang-orang Malind
dan suku-suku lainya yang masih tergantung
pada moda produksi berburu-meramu dan
pertanian rumah tangga. Konflik dan sengketa
diperkirakan akan terus terjadi antara masya-
rakat asli dengan perusahaan dan pemerintah.
Sebuah riset yang dilakukan oleh Greenomic
Indonesia pada 2010 menyebutkan bahwa hanya
4.92 % (atau sekitar 235.260,68) dari 4.78 juta
hektar luas Merauke yang bukan kawasan hutan.
Bagian lain dari total luas areal itu yang men-
cakup 4.55 juta hektar atau sekitar 95 % masih
merupakan hutan. MIFEE diperkiran akan
menghabisi hutan Merauke secara masif, meng-
hilangkan kekayaan biodiversitas, dan menying-
kirkan orang-orang asli yang mendiami daerah
tersebut sejak lama. Data lain menyebutkan
seluas 125.485,5 hektar di antaranya adalah bukan
kawasan hutan, sisanya seluas 1.157.347,5 hektar
adalah kawasan hutan.Kawasan hutan tersebut
merupakan kawasan Hutan Produksi Konversi
(HPK), yang secara tata ruang memang dica-
dangkan untuk pembangunan di luar sektor
kehutanan,seperti pertanian. Namun, dari total
luas 1,45 juta hektar kawasan HPK di Merauke,
hanya 366.612,4 hektar yang dalam kondisi tak
ber-hutan. Sisanya seluas 1,06 juta hektar masih
berupa tegakan hutan alam dengan kondisi baik
(Pakage 2010).
Dampak sosial-budaya dan politik MIFEE
terhadap orang-orang asli Papua juga dilaporkan
oleh tim pencari fakta dan studi lapangan yang
dilakukan oleh Zakaria, dkk (2010). Mereka me-
laporkan bahwa MIFEE mengabaikan kesen-
jangan budaya sekitar 125 abad antara moda
produksi budi daya dan berburu, kemudian
marginalisasi orang-orang Papu adalah hasil dari
proyek ini dari aspek sosial, politik, ekonomi, dan
budaya. Pendek kata Internal Displacement Per-
son akan menjadi akibat paling nyata dari proyek
besar ini. Besarnya kemungkinan tersebut se-
tidaknya dapat diperkirakan dari beberapa hal;
pertama adalah masalah kesenjangan sosial-
budaya masyarakat sekitar proyek MIFEE. Ke-
senjangan ini terlihat dari rendahnya pendidikan
masyarakat Papua yang bercampur dengan moda
produksi bukan modern yaitu berburu-meramu,
dan mereka masih sangat tergantung pada hu-
tan. Moda produksi demikian itu dengan struk-
tur sosial dan budaya yang terbentuk di atasnya,
bagi masyarakat Papua khususnya Merauke
tidak mudah untuk bisa masuk ke sektor perta-
nian modern yang termekanisasi karena moder-
nisasi moda produksi mensyaratkan keteram-
pilan dan kemampuan tertentu yang dibutuhkan
oleh logika industri. Dengan tingkat pendidikan
yang rendah dan keterampilan yang tidak mema-
dai orang-orang Merauke ini akan sulit terserap
ke sektor pertanian modern tersebut. Sementara
di sisi lain tanah dan hutan yang selama ini
menopang dan menjadi basis kehidupan masya-
rakat telah hilang. Internal Displacement Person
akan menjadi satu dampak nyata yang segera
terlihat.
Kedua, terjadinya perubahan komposisi de-
mograf is besar karena kebutuhan tenaga buruh
yang sangat tinggi yang memaksa untuk menda-
tangkan tenaga buruh dari luar Papua, tentunya
dengan pertimbangan buruh luar Papua memi-
liki keahlian, keterampilan, dan kemampuan
lebih tinggi dari pada masyarakat lokal. Jika
diperkirakan sekitar 4 juta orang akan dida-
tangkan dari luar Papua untuk bekerja sebagai
buruh-tani dalam proyek MIFEE, artinya akan
ada pertambahan penduduk sekitar 4 juta
buruh-tani + 4 juta (suami/istri buruh-tani) + 8
60 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
juta (2 orang anak mereka sesuai standar KB) +
8 juta (2 orang kerabat buruh-tani) = 24 juta or-
ang. Dengan jumlah populasi penduduk pribumi
Merauke yang hanya sekitar 52.413 orang atau
sekitar 30% dari 174.710 total penduduk Kabu-
paten Merauke (Papua dan Non Papua), maka
bisa diperkirakan perubahan besar demograf i ini
dapat men-displacement orang Papua dari akses
pada sumber-sumber ekonomi dan sumber
penghidupan lainya (Pakage 2010).
Ketiga, sebagaimana sudah disebutkan di
depan bahwa proses dispossession yang meru-
pakan bawaan lahir dari akumulasi kapital secara
otomatis bekerja melakukan pemagaran dan
peminggiran. Hal ini dilakukan untuk memper-
dalam relasi moda produksi kapitalistik dai
dalam ruang hidup baru. Proses enclosure dan
dispossession menempatkan kapital bukan hanya
sebagai kekuatan ekonomi tetapi juga kekuatan
sosial yang bekerja melampuai batas-batasnya
(De Angelis 2004:72). Modernisasi pertanian
dalam proyek MIFEE dipastikan akan bekerja
dalam logika akumulasi kapital. Proses ini, jika
tidak secara positif melibatkan masyarakat lokal
dan tidak mempersiapkan jaring pengaman dari
resiko sirkulasi kapital yang ekspansif tersebut,
besar kemungkinan akan menciptakan pola-
risasi ekonomi baru. Masyarakat lokal Papua
yang dulu memiliki kedaulatan hidup akan beru-
bah dan menempati tingkat ekonomi paling
rendah.
Keempat, perubahan modus produksi, su-
sunan demograf i, dan akses sumber-sumber
ekonomi akan lebih banyak bisa diraih oleh
kelompok migran karena kesempatan ekonomi
yang tersedia. Hal ini lebih memungkinkan bagi
mereka untuk mendapat akses kepada kekuasa-
an, seperti halnya pada bidang pemerintahan.
Rekomposisi politik yang ditimbulkan dari proses
accumulation by dispossession yang dibawa oleh
proyek MIFEE diperkirakan menempatkan
masyarakat Papua di luar sumber kekuasaan.
Tabel.5. Aspek dan Dampak Potensial MIFEE
Sumber: Zakari, dkk., 2010.
E. Kesimpulan
Internal Displacement Person (IDP) yang
sejauh ini lebih banyak terfokus pada korban
konflik dan korban bencana alam, sudah saatnya
digeser lebih luas ke wilayah korban pem-
bangunan (Sah 1995, Patkar 1998). Enclosure dan
gerak dispossession yang masif membawa dam-
pak peminggiran orang-orang dari tanah me-
reka. Menurut Li (2009) ciri proses dispossesion
di Asia didorong oleh tiga faktor yang merasuk
ke masyarakat pedesaan. Pertama, penyitaan
tanah oleh negara dan perusahaan-perusahaan
yang mendapat dukungan oleh negara. Kedua,
piecemeal dispossession pada pertanian skala
kecil yang tidak mampu survive ketika masuk
dalam gelanggang kompetisi dengan modal skala
besar. Ketiga, menutup batas-batas hutan masya-
rakat untuk proyek konservasi. Proses-proses ini
banyak didorong oleh ekspansi akumulasi pri-
mitif yang untuk menjaga keberlanjutan mela-
kukan pendalam sistem relasi kapitalisme melalui
rekomposisi politik, restrukturasi modus produk-
si, dan pemagaran terhadap kelompok-kelompok
No Aspek Dampak
1 Kesenjangan Sosial-Budaya Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat
Papua dan moda produksi berburu dan
meramu akan melemparkan mereka dalam
perubahan besar ini dari pola pertanian
rumah tangga ke pertanian perusahaan
mekanistik
2 Revolusi Demografi Permintaan buruh pertanian diperkirakan
akan mendatangkan sekitar 4.8 juta
pendatang baru dari luar Papua yang
membuat populasi orang Papua hanya 5 %
dari total penduduk. Perubahan demografi
ini akan men-displace orang Papua dari
akses terhadap sumber ekonomi, seperti
yang dialami masyarakat Papua dari
dampak program Transmigrasi pada 1980 -
an.
3 Marjinalisasi Ekonomi Modernisasi pertanian yang tidak
menyediakan ruang bagi orang-orang Papua
dalam prosesnya akan menimbulkan
polarisasi sosial-ekonomi, dan akan
menempatkan orang-orang papua pada
tingkat ekonomi paling rendah.
4 Marjinalisasi Politik Kekuatan ekonomi besar yang lebih bisa
diakses oleh migran dari pada orang asli
Papua akan melahirkan akses yang lebih
luas bagi kekuasaan politik seperti halnya
pada kantor pemerintahan, dan bentuk-
bentuk kepemimpinan politik lainya.
Kondisi-kondisi ini potensial meningkatkan
konflik sosial di Papua.
61 Amin Tohari: Land Grabbing dan Potensi IDP .....: 49-62
yang tidak mampu masuk dan menyesuaikan
diri dengan logika akumulasinya.
Kasus MIFEE di Papua merupakan ciri dari
gerak enclosure dan dispossession dengan mela-
kukan pencabutan tanah masyarakat oleh negara
dan korporasi-korporasi nasional dan interna-
sional yang mendapat dukungan negara. Akibat
paling nyata di masa depan adalah munculnya
Internal Displecement Person karena orang-orang
setempat tidak mampu menyesuaikan diri
dengan logika industrialisasi pertanian skala
besar. Merauke Integrated Food and Energy Es-
tate memunculkan empat persoalan yaitu kesen-
jangan sosial-budaya, revolusi demograf i, mar-
jinalisasi ekonomi, dan marjinalisasi politik.
Proses-proses seperti di atas dalam jangka pan-
jang memunculkan persoalan yang terkait
dengan pemajuan, perlindungan, dan peme-
nuhan hak asai manusia. Internal Displacement
Person merupakan kelompok yang paling rentan
mengalami pelanggaran hak karena hilangnya
sumber pendapan dan sumber daya alam yang
dalam kasus MIFFE adalah hutan dan tanah
yang sejak lama menjadi bagian kehidupan me-
reka.
Hak-hak individu yang diakui secaa interna-
sional termasuk di dalamnya hak hidup,
makanan, kesehatan, bekerja, dan bebas dari
diskriminasi dalam dimensi apapun terancam
terlanggar dalam kasus MIFFE padahal, norma
hukum menuntut pemerintah untuk menghor-
mati, melindungi, dan memajukannya. Dalam
kaitanya dengan hak makanan misalnya, negara
harus mengambil tindakan yang menghalangi
seseorang mendapatkan akses pada makananya.
Sedangkan kewajiban untuk melindungi adalah
terkait dengan langkah-langkah negara untuk
meyiapkan kerangka aturan dan melakukan
tindakan pencegahan terhadap perbuatan peru-
sahaan maupun perorangan yang mungkin akan
mencabut akses seseorang atas makananya.
Negara juga diwajibkan untuk mengidentif ikasi
orang-orang yang paling rentan dan mengelu-
arkan kebijakan untuk menjamin akses mereka
terhadap sumber makanan termasuk memfasi-
litasi kemampuan mereka untuk mencari makan
bagi diri mereka sendiri.
Daftar Pustaka
Anonym. 2007. Handbook for the Protection of
Internally Displaced Persons. Global Protec-
tion Cluster Working Group: Geneva.
Anonym. 2011. The Global Land Grab: A Human
Rights Approach. Diunduh pada situs http:/
/ w w w. 3 d t h r e e . o r g / p d f _ 3 D /
3D_Reportlandgrabseminar.pdf pada 21
April 2011.
Araghi, Farshad. 2009. Invisible Hand, Visible
Foot, dalam Lodhi-Akram, Harun and Kay,
Cristobal. 2009. Peasants and Globalization;
Political Economy, Rural Transformastion,
and Agrarian Question. London and New
York: Rotledge.
Colbran, Nicola. n.d. Human Rights Implications
of Land Grabs: Palm Oil in Indonesia. Indo-
nesia Programme. Diunduh dari http://
w w w. 3 d t h r e e . o r g / p d f _ 3 D /
NicolaColbran_Indonesia.pdf pada 21 Mei
2011.
Daniel, Shepard dan Mittal, Anuradha. 2009.
The Great Land Grab Rush For Worlds Farm-
land Threatens Food Security For The Poor.
USA: Oaklan Institute. Naskah ini diunduh
dari situs http://www.oaklandinstitute.org/
pdfs/LandGrab_f inal_web.pdf pada 21 April
2011.
De Angelis, Massimo. 2004. Separating the Do-
ing and the Deed: Capital and the Continu-
ous Character of Enclosures. Historical
Materialism 12:57-87.
Derek Hall, Philip Hirsch, dan Tania Murray Li.
2011. Powers of Exclusion: Land Dilemmas
in Southeast Asia. Singapore and Manoa:
NUS Press and University of Hawaii Press.
E. Hedman,Eva-Lotta (edt). 2007. Dynamics of
62 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Conflict and Displacement in Papua, Indo-
nesia. Refugee Studies Centre: University of
Oxford.
Ginting,Longgena and Pye, Oliver. 2011. Resist-
ing Agribusiness Development: The Merauke
Integrated Food and Energy Estate in West
Papua, Indonesia. Paper presented at the
International Conference on Global Land
Grabbing 6-8 April 2011: University of Sussex.
Grabska,Katarzyna dan Mehta,Lyla (eds). 2008.
Forced Displacement Why Rights Matter.
New York:Palgrave Macmillan.
Hardianto,B Josie Susilo. MIFEE, Berkah atau
Kutuk? Diunduh dari http://
www.batukar.info/komunitas/articles/
mifee-berkah-atau-kutuk pada 21 Mei 2011.
IDMC and NRC. 2006. Indonesia: Support needed
for return and re-integration of displaced
Acehnese following peace agreement.
Geneva: Norwegian Refugee Council
Ito, Takeshi at.all,. 2011. Naturalizing Land Dis-
possession: A Policy Discourse Analysis of
the Merauke Integrated Food and Energy
Estate. Paper presented at the International
Conference on Global Land Grabbing 6-8
April 2011, University of Sussex.
Jasuan,Yulian Junaidi. 2011. Land Grabbing in
Indonesia. Paper presented at the Interna-
tional Conference on Global Land Grab-
bing: University of Sussex.
Jennings, Edmund. 2007. Internal Displacement.
Geneva: Imprimerie Lenzi.
Li,Tania Murray. 2009. To Make Live or Let Die?
Rural Dispossession and the Protection of
Surplus Populations. Antipode Vol. 41 No. S1.
M. Borras Jr,Saturnino and C. Franco,Jennifer.
2011. Political Dynamics of Land-grabbing
in Southeast Asia: Understanding Europes
Role. Transnational Institute: Amsterdam
The Netherlands.
Malik,Mahnaz. 2011. Foreign investment into ag-
riculture: Investment Treaties and the abil-
ity of governments to balance rights and
obligations between foreign investors and
local communities. Paper presented at the
International Conference on Global Land
Grabbing: University of Sussex.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011
2025. Istana Bogor, 11 Februari 2011.
Mitchell, d. 2008. A Note on Rising Food Prices.
Policy Research Working Paper 4682. World
Bank: New York
Moiwend, Rosa. 2010. War Prof iteer of the Month:
Merauke Integrated Food and Energy Estate
(MIFEE) - A Food Project Invasion in West
Papua. Diunduh dari http://www.wri-
irg.org/node/12386 pada 19 Mei 2011.
Pakage, John. 2010. MIFEE Di Merauke Ada-
lah Genosida. Diunduh dari http://digoel.
wordpress.com/2010/07/08/mifee-di-
merauke-adalah-genosida/ pada 21 Mei 2011.
Patkar,Medha. 1998. The Peoples Policy on De-
velopment, Displacement and Resettlement:
Need to Link Displacement and Develop-
ment. Economic and Political Weekly, Vol.
33, No. 38, pp. 2432-2433.
Ribot, Jesse C. dan Lee Peluso, Nancy. 2003. A
Theory of Access. Journal Rural Sociology ,
Volume 68, Nomor 2. pp 153-181.
Sah, D. C., 1995. Development and Displacement:
National Rehabilitation Policy. Economic
and Political Weekly, Vol. 30, No. 48, pp.
3055-3058.
Smaller, Carin. 2005. Planting the Rights Seed: A
human rights perspective on agriculture trade
and the WTO. Swiss Agency for Develop-
ment and Cooperation (SDC), 3D, and IATP.
von Braun, Joachim and Meinzen-Dick, Ruth.
2009. Land Grabbing by Foreign Investors
in Developing Countries: Risks and Oppor-
tunities. FPRI Policy Brief 13 April 2009.
Zakaria, Y., E.O. Kleden, and F. Samperante.
2010. Beyond Malind imagination: Beberapa
catatan atas upaya percepatan pem-
bangunan cq. Merauke Integrated Food and
Estate (MIFEE) di Kabupaten Merauke,
Papua, dan kesiapan masyarakat adat
setempat dalam menghadapinya. Jakarta:
Pusat Studi dan Advokasi Hak-hak Masya-
rakat Adat (PUSAKA).
PERLAWANAN EKSTRA LEGAL: TRANSFORMASI PERLAWANAN
PETANI MENGHADAPI KORPORASI PERKEBUNAN
Muhammad Afandi
*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: History of plantation is the history of peasants land grabbing in Nusantara. The peasants have responded this
situation with resistance in many ways. The theme of the research is peasant resistance during the transition of democracy
organized by peasant movement of Deli Serdang confronts PTPN II. This research reveals that the peasants consider that
reformation era has opened political chance for them to struggle in legal ways. But when the resistance in legal way is dead
locked, the peasants took another way to rebel, in the extra legal way, with its consequences such as open war with national
military or civilian militia recruited by PTPN II. The birth of extra legal movement is the consequence of nation failure and it is
also the consequence of the contradictions of the formal law in handling agrarian conflict.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: PTPN II, peasant social movement, reclaiming, rebellion transformation.
Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Intisari:Sepanjang sejarahnya perkebunan telah mengakibatkan terjadinya perampasan tanah-tanah petani di seluruh pelosok
Nusantara. Situasi yang demikian direspon oleh petani dengan melakukan perlawanan-perlawanan melalui beragam cara. Penelitian
ini mengangkat tema perlawanan petani di era transisi demokrasi yang dilakukan oleh gerakan petani Persil IV Deli Serdang
dalam menghadapi korporasi perkebunan negara (PTPN II). Penelitian ini mengungkapkan era transisi demokrasi (reformasi)
dimaknai oleh petani sebagai suatu kesempatan politik untuk menempuh perjuangan-perjuangan jalur legal. Namun ketika
perlawanan jalur legal menemui kebuntuan, petani meninggalkan pola perlawanan tersebut dengan menempuh perlawanan
ekstra legal yang dihadapkan pada resiko-resiko perang terbuka dengan aparat keamanan negara ataupun milisi-milisi sipil yang
direkrut oleh PTPN II. Lahirnya gerakan ekstra legal merupakan konsekuensi yang ditimbulkan akibat gagalnya negara serta
menguatnya kontradiksi-kontradiksi hukum formal dalam penyelesaian konflik agraria.
Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci: PTPN II, gerakan sosial petani, reklaiming, transformasi perlawanan.
A. Pengantar
dimanapun perkebunan itu timbul atau diimpor dari
luar, maka ia selalu merusak norma-norma budaya
yang telah ada sebelumnya dan menetapkan keten-
tuan-ketentuannya sendiri, kadang-kadang dengan
cara membujuk, kadang-kadang dengan paksaan,
tetapi selalu berada dalam konflik-konflik dengan
ketentuan-ketentuan budaya yang dilanda olehnya
(Eric Wolf)
Maraknya pemberitaan media tentang kon-
flik-konflik agraria dan perlawanan-perlawanan
petani di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa
Sumatera dan Kalimantan merupakan wilayah
yang paling rawan terjadinya sengketa perta-
nahan antara petani dengan korporasi perke-
bunan, khususnya perkebunan kelapa sawit.
Provinsi Sumatera Utara menempati posisi kedua
setelah Kalimantan Barat sebagai provinsi yang
menempati angka konflik agraria tertinggi.
Perlawanan-perlawanan petani di Indonesia
terhadap perkebunan telah muncul sejak dahu-
lu, seperti pemogokan atas tanam paksa hingga
pemberontakan, sebagaimana yang terjadi di
Langkat dan Deli pada tahun 1872, yang dikenal
sebagai Perang Batak. Pemberontakan tersebut
merupakan sikap penentangan Masyarakat Karo
terhadap Sultan Deli yang menyewakan tanah
*
Alumni Pasca Sarjana Antropologi UGM, Peneliti
Agraria dan Relawan FKMA (Forum Komunikasi
Masyarakat Agraris).
64 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
leluhur mereka kepada kolonial Barat untuk
memperluas perkebunan tembakau. Masyarakat
Karo menunjukkan perlawanan mereka dengan
membakar gudang-gudang tembakau. Pembe-
rontakan lain terhadap perkebunan juga terjadi
di Banten pada tahun 1888. Namun gerakan
petani yang bergaya mileniaris tersebut segera
mati seiring ditangkapnya pemimpin-pemimpin
gerakannya oleh pihak kolonial. Selanjutnya pada
masa Orde Baru yang menerapkan kebijakan
developmentalisme yang bercorak industrialisasi
pertanian semakin mempersempit ruang gerak
petani karena penyerobotan-penyerobotan tanah
terhadap petani yang meluas. Gerakan petani le-
bih memilih gerakan bawah tanah untuk meng-
hindari represif yang dibangun dengan gaya
militeristik. Di pihak lain, politik stigmatisasi
Orde Baru terhadap petani yang selalu meng-
hubungkannya dengan gerakan komunis dan
subversif, menyebabkan gerakan petani menjadi
semakin tiarap. Namun momentum reformasi
yang berakhir dengan tumbangnya rezim Orde
Baru menjadi awal satu masa transisi politik di
Indonesia, sekaligus menjadi katalisator bagi
meledaknya masalah-masalah agraria yang
selama ini bergolak di bawah tanah. Fenomena
politik ini mendorong lahirnya perlawanan-per-
lawanan petani dengan cara-cara yang terbuka
di berbagai daerah.
Dalam perlawanannya petani tidak jarang
menggunakan kekuatan-kekuatan politik formal
yang teroganisir dalam kekuatan negara seperti
partai politik, organisasi-organisasi tani resmi
bentukan pemerintah ataupun NGO untuk
memperluas dukungan dalam mencapai keme-
nangan-kemenangan yang diinginkan. Strategi
seperti ini biasanya akan mengarah pada satu
pola karakter gerakan perlawanan yang biasa
disebut legal. Orientasi gerakan seperti ini cen-
derung memahami negara sebagai sebuah arena
politik, dimana kanal-kanal politik yang tersedia
dimaknai sebagai suatu metode instrumentasi
strategi perjuangan. Dalam praktiknya, perla-
wanan akan menggunakan kekuatan parlemen
(partai) yang dipilih, sebagai pendorong tuntutan
yang diinginkan oleh petani dan selanjutnya
diperjuangkan dalam jalur-jalur hukum formal
negara (peradilan).
Selain perlawanan legal, hadir pula perla-
wanan petani yang ekstra legal. Dalam praktik-
nya, perlawanan ekstra legal tersebut justru
berorientasi pada gerakan sosial-revolutif yang
cenderung mempertahankan sikap garis keras
dan memilih berkonfrontasi langsung secara
terbuka dengan kekuatan negara. Pola perla-
wanan gerakan ini pada kelanjutannya meng-
hasilkan gerakan yang radikal konf rontatif
terhadap hegemoni negara dan mengadopsi
cara-cara yang disebut negara sebagai tidak le-
gal serta dianggap melanggar aturan hukum
negara. Dalam perkembangannya perlawanan
ekstra legal kerap dianggap sebagai gerakan sosial
baru (GSB) karena bercirikan pada perjuangan
yang berbasis otonom, anti institusional dan
bersifat anti otoritarian karena menolak campur
tangan negara.
Sejarah perkembangan perkebunan di Indo-
nesia terkait erat dengan sejarah perkembangan
kolonialisme, kapitalisme, dan modernisasi.
1
Perkebunan kelapa sawit dirintis sejak 1911 oleh
pemerintah Belanda dan terus berkembang
seiring dengan peningkatan permintaan minyak
nabati akibat revolusi industri pada pertengahan
abad ke-19. Perkebunan kelapa sawit pertama
berlokasi di pantai timur Sumatera (Deli) dan
Aceh yang saat itu luasnya 5.123 hektar. Selan-
jutnya di Masa Orde Baru, terutama di sekitar
tahun 1980 an, pemerintah banyak memberikan
ijin-ijin lokasi dan pengusahaan hutan kepada
korporasi-korporasi yang bergerak di bidang
1
Sartono Kartodirjo dan Joko Suryo, Sejarah
Perkebunan di Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media, 1989,
hlm. 3.
65 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
perkebunan kelapa sawit, hal tersebut disebab-
kan kelapa sawit menjadi komoditas monokultur
andalan Indonesia. Keuntungan besar dan orien-
tasi ekspor komoditas ini membuat pemerintah
mendorong investasi besar-besaran terhadap
industri perkebunan kelapa sawit dengan pem-
bukaan lahan besar-besaran melalui penggunaan
hukum negara sebagai alat pelegitimasian
perampasan tanah-tanah petani.
Hal inilah yang akhirnya mendorong terja-
dinya konflik di masyarakat akibat penyerobotan
tanah petani oleh korporasi sawit. (Aditjondro,
2011: 3). Konf lik-konflik tersebut merupakan
konsekuensi dari menguatnya kepentingan
kapitalisme global yang bekerja dalam bentuk
korporasi-korporasi raksasa di bidang perke-
bunan serta gagalnya negara dalam menyelesai-
kan sengketa-sengketa pertanahan. Penyero-
botan dan perampasan paksa terhadap tanah
petani memicu perlawanan-perlawanan dan
mendorong lahirnya gerakan sosial petani dalam
perkembangan maraknya industri perkebunan
kelapa sawit di Indonesia pada masa kini.
Berkaitan dengan semakin meluasnya kepen-
tingan kapitalisme perkebunan akan tanah yang
berdampak pada peningkatan konflik agraria,
lahirlah sebuah gerakan sosial petani Persil IV
melawan korporasi perkebunan negara (PTPN
II) di Deli Serdang yang belum berakhir hingga
sekarang. Bermula dari perampasan tanah petani
oleh negara yang terjadi pada tahun 1972 di masa
Rezim Orde Baru yang selanjutnya dikuasai oleh
PTPN II. Deli Serdang merupakan kabupaten
yang menempati urutan pertama jumlah kasus
sengketa pertanahan tertinggi di Propinsi Su-
matera Utara, dengan total 32 kasus dari 97 kasus.
Angka ini juga terkait dengan faktor kesejarahan
pertama kelapa sawit di Indonesia yang berlokasi
di Deli Serdang.
2
Oleh karena melalui perjuangan legal, perju-
angan yang ditempuh dengan cara-cara formal
di lembaga peradilan negara dari tahun 1997
hingga 2006 tidak membuahkan hasil secara
baik, maka petani memilih strategi reclaiming
dan pendudukan lahan sebagai alternatif terakhir
untuk mendapatkan tanah mereka itu hingga
detik ini.
Sebagai sebuah fenomena gerakan sosial
petani kontemporer, perubahan metode perju-
angan legal menjadi ekstra legal yaitu gerakan
reclaiming dan pendudukan yang dilakukan
oleh para petani tersebut menarik untuk dikaji
secara ilmiah. Hal ini bukan saja berkaitan
dengan semakin maraknya perlawanan-perla-
wanan petani di Indonesia pada masa kekinian
yang berkonflik dengan korporasi perkebunan
swasta ataupun negara, namun juga terkait
dengan meningkatnya pola-pola perlawanan
petani yang memilih cara ekstra legal dengan
variasi-variasi yang baru dan beragam, misalnya:
sabotase, pembakaran gedung-gedung pemerin-
tahan dan korporasi perkebunan, perusakan
tanaman, pemblokiran, hingga perang terbuka.
Berdasarkan logika di atas, kajian ini akan difo-
kuskan dengan merumuskan beberapa permasa-
lahan dalam bentuk pertanyaan penelitian, yaitu:
1. Bagaimana strategi bertahan hidup petani
setelah kehilangan tanah?
2. Bagaimana pola dan strategi perlawanan petani
dalam menghadapi korporasi perkebunan?
Etnograf i dari penelitian ini akan menyajikan
sebuah argumen tentang perlawanan petani
yang mengalami beberapa perubahan dalam
pola-pola perjuangan mereka. Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan historis-
antropologis melalui studi kasus. Menurut
Lofland,
3
metode studi kasus dalam penelitian
2
Bakumsu, Tabel Kasus Tanah di SUMUT: Medan,
2011.
3
John Lofland, Protes: Studi tentang Perilaku Kelompok
dan Gerakan Sosial (terj. Lutfhi Ashari), Yogyakarta: In-
sist Press, 2003.
66 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
gerakan sosial mengikuti beberapa tahapan:
menyeleksi sebuah kasus, mengumpulkan data,
mengajukan pertanyaan, dan menjawab perta-
nyaan-pertanyaan yang diajukan. Pengumpulan
data dalam penelitian ini dilakukan dengan
beberapa cara, sebagai berikut: observasi partisi-
patif, pengumpulan data dalam bentuk doku-
men, wawancara dan diskusi, browsing dan clip-
ping print.
Penelitian lapangan dalam studi ini dilakukan
di kawasan Persil IV yang berlokasi di 3 desa
(Tadukan Raga, Limau Mungkur, Lau Barus
Baru), Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli
Serdang, Provinsi Sumatera Utara.
B. Persil IV dalam Tekanan Zaman
1. Penamaan Persil IV dan Asal Mula
Perkampungan
Nama Persil IV sebenarnya merujuk pada kon-
sep sebuah kawasan yang sekarang ditempati
oleh Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara
II-PTPN II (Persero/BUMN) yang berkantor di
Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli
Serdang, terletak kurang lebih 30 kilometer dari
Kota Medan. Penamaan Persil IV bermula dari
kebijakan negara pada tahun 1956 yang mem-
berikan surat ijin garap berupa tanah suguhan
dengan sistem Persil yang ditandai empat nomor
seluas 525 hektar kepada masyarakat di 5 dusun.
Dusun-dusun tersebut adalah: Dusun Tung-
kusan yang secara administratif merupakan
wilayah Desa Tadukan Raga, Dusun Sinembah
dan Limau Mungkur yang secara administratif
merupakan wilayah Desa Limau Mungkur, Du-
sun Lau Barus dan Batutak yang secara admin-
istratif merupakan wilayah Desa Lau Barus Baru.
Ketiga desa tersebut secara administratif meru-
pakan wilayah Kecamatan STM Hilir, Kabupaten
Deli Serdang.
Sebelum negara memberikan surat ijin garap
kepada masyarakat yang pada umumnya ber-
mata pencaharian petani di lokasi penelitian ini,
sebagian besar masyarakat 5 dusun tersebut telah
mengusahai tanah dan mendirikan bangunan
rumah berupa gubuk-gubuk sebagai tempat
tinggal sementara selama musim tanam dari
sejak tahun 1940-an. Berbagai jenis tanaman yang
ditanam oleh masyarakat terdiri dari berbagai
jenis, mulai dari tanaman pangan pokok seperti
padi ladang, tanaman keras seperti pohon du-
rian, jengkol, petai dan jenis tanaman palawija
seperti jagung ataupun jenis tanaman buah
berupa pisang dan duku. Kawasan seluas 525 Ha
tersebut menurut penuturan salah seorang war-
ga Dusun Tungkusan yang bernama Syahrial (51
tahun) adalah sebuah kawasan yang dahulunya
adalah hutan tua, sekaligus satu-satunya kawasan
tersisa yang tidak dijadikan areal perkebunan
oleh perusahaan-perusahaan Perkebunan Belan-
da. Berbeda dengan kawasan-kawasan di sekitar-
nya yang umumnya adalah areal-areal perke-
bunan tembakau milik Belanda yang dikenal
sebagai basis kawasan tembakau Deli.
Jauh sebelum menjadi nama dusun, tempat
mereka tinggal disebut sebagai kampung. Sam-
pai saat penelitian ini dilakukan, belum ada ca-
tatan resmi atapun tulisan yang menjelaskan
tentang asal mula terbentuknya perkampungan
yang menjadi 5 dusun tersebut. Namun, hal ini
dapat digambarkan berdasarkan atas rabaan
yang dibuat melalui cerita para orang tua (sese-
puh) kelima dusun. Menurut penuturan Mak
Esron (66 tahun) sesepuh Dusun Limau Mung-
kur, menceritakan bahwa pada tahun 1940-an
penduduk yang tinggal di Limau Mungkur masih
sangat sedikit, tidak lebih dari 20 kepala keluarga
(KK). Pada awal tahun 1950-an, terjadi migrasi
penduduk dari Desa Durian Tinggung, Keca-
matan STM Hulu ke Limau Mungkur, Keca-
matan STM Hilir. Arus migrasi ini menambah
jumlah populasi penduduk di Desa Limau
Mungkur, selanjutnya warga pendatang juga
mulai ikut menggarap kawasan hutan tua
untuk bercocok tanam yang pada tahun 1956
67 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
akhirnya oleh negara diberikan surat ijin garap
di atas tanah yang disebut sebagai Tanah Su-
guhan Persil IV.
4
Per Kepala Keluarga (KK) men-
dapatkan 2 Ha.
Berbeda dengan Dusun Tungkusan, menu-
rut penuturan Syahrial, penduduk Tungkusan
sebelum tahun 1956 awalnya bermukim di tepian
Sungai Blumei, bersebelahan dengan kampung
Lubuk Beringin. Namun pada saat negara mem-
berikan surat ijin garap kepada warga pada tahun
1956 di kawasan Persil IV dengan luas 2 Ha per
KK dan 20 x 50 meter per KK untuk tempat ting-
gal, penduduk Tungkusan dan Lubuk Beringin
yang bermukim di tepian Sungai Blumei pindah
ke kawasan yang telah ditetapkan. Hal ini berdam-
pak pada terbentuknya pemukiman baru ber-
sebelahan dengan kawasan Persil IV. Kampung
Lubuk Beringin selanjutnya secara administratif
dipersatukan menjadi Dusun Tungkusan.
Menurut penuturan Pak Soni (61 tahun)
sesepuh Dusun Sinembah, kampungnya memi-
liki sejarah yang cukup panjang. Dahulunya para
orang tua mereka telah bermukim lama di Kam-
pung Sinembah. Pada awal tahun 1900-an, tanah
orang tua mereka dirampas paksa oleh peru-
sahaan perkebunan tembakau Belanda tanpa
ganti rugi. Ketika terjadi pemberontakan mela-
wan perusahaan perkebunan menawarkan
politik etis kepada warga yang bertujuan untuk
meredam pemberontakan dengan cara membe-
rikan tanah jaluran. Tanah jaluran tersebut
diperbolehkan untuk ditanami padi selepas
musim panen tembakau selama setahun.
5
Setahun setelah ditanami padi, tanah jaluran
harus kembali dikosongkan sampai enam atau
tujuh tahun untuk dipersiapkan menjadi areal
penanaman tembakau selanjutnya. Warga juga
tidak harus membersihkan dan mencangkul
tanah jaluran untuk proses awal penanaman padi
karena perusahaan perkebunan telah mentrak-
tornya selepas musim panen tembakau.
Dengan kata lain warga mendapat kemu-
dahan dalam pengelolaan tanah jaluran. Namun
menurut Pak Soni, ini hanya praktik tipu daya
perusahaan perkebunan, pentraktoran tersebut
baginya sangat berkaitan dengan proses perce-
patan produksi penanaman tembakau selanjut-
nya. Ia menjelaskan bahwa semakin cepat tanah
jaluran ditanami padi maka akan semakin mem-
percepat tanah tersebut kembali subur sehingga
tembakau dapat kembali ditanam oleh perusa-
haan. Apabila tanah selepas musim panen tem-
bakau langsung ditanami kembali maka kwalitas
tembakau yang dihasilkan akan bermutu rendah
dan memang tidak dibenarkan dalam proses
penanamannya. Ia menganggap politik etis peru-
sahaan perkebunan dengan memberikan tanah
jaluran kepada warga pada masa lampau me-
mang secara ekonomis membantu warga untuk
menghasilkan bahan pangan, namun hal itu juga
menguntungkan bagi perusahaan perkebunan
karena juga membantu kesuburan tanah untuk
ditanami tembakau kembali. Selanjutnya pada
tahun 1956, warga yang bermukim di Kampung
Sinembah oleh negara diberikan surat ijin garap
dengan luas 2 Ha per KK.
Dua dusun lainnya adalah Lau Barus dan
Batutak. Kampung Lau Barus terletak bersebe-
lahan dengan Limau Mungkur. Berdirinya Kam-
pung Lau Barus bermula dari perpindahan seba-
gian penduduk di Limau Mungkur ke daerah
tersebut. Menurut penuturan warga, Kampung
Lau Barus berdiri pada awal tahun 1950-an ketika
pemukiman di Limau Mungkur mulai sedikit
padat. Dusun yang terakhir adalah Batutak,
4
Hutan Tua adalah sebutan oleh warga terhadap
kawasan yang pada tahun 1956 disebut sebagai kawasan
Persil IV. Kawasan ini satu-satunya kawasan yang tidak
tersentuh oleh industri perkebunan. Kawasan ini selain
digunakan untuk bercocok tanam juga dimanfaatkan kayunya
untuk kebutuhan pembangunan tempat tinggal oleh warga.
5
Budi Agustono, Muhammad Osmar Tanjung dan
Edy Suhartono, Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indo-
nesia VS PTPN II. Bandung: Akatiga, 1997.
68 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
menurut penuturan Pak Tarigan (65 tahun),
berdirinya Kampung Batutak bermula dari
segelintir orang mantan pekerja perkebunan
tembakau yang bersuku Jawa menduduki tanah
perengan pada tahun 1940 yang selanjutnya
digunakan untuk mendirikan tempat tinggal.
Tanah perengan adalah tanah yang berkontur
tidak rata di areal perbukitan dalam kawasan
yang dikonsesikan untuk perkebunan tembakau
milik perusahaan Belanda. Tanah dengan
bercirikan tidak rata dalam sistem perkebunan
tidak digunakan sebagai areal penanaman. Peru-
sahaan perkebunan tembakau hanya meman-
faatkan tanah berkontur rata. Pendudukan ta-
nah perengan kemudian disusul oleh beberapa
Kepala Keluarga pendatang yang bersuku Karo.
Pendudukan tersebut dalam kurun waktu 10
tahun telah membentuk satu perkampungan
besar yang pada tahun 1950 menurut penuturan
Pak Tarigan telah mencapai 25 KK. Warga kedua
dusun tersebut selanjutnya pada tahun 1956 di-
berikan surat ijin garap Tanah Suguhan dengan
luas 2 Ha per KK.
2. Zaman Gelap Orde Baru dan
Perampasan Tanah
Tepat berusia enam belas tahun pada tahun
1972 petani mendapatkan pengakuan dari negara
atas kepemilikan tanah seluas 525 Hektar. Tanah
tersebut dimiliki kurang lebih 260 KK yang ter-
sebar di 5 dusun. Setiap tahunnya petani memba-
yar pajak atas tanah yang mereka miliki sejak
tahun 1956 tersebut. Wilayah Persil IV berbeda
dengan wilayah-wilayah di sekitarnya yang me-
rupakan wilayah perkebunan. Daerah ini dike-
lilingi oleh perkebunan-perkebunan raksasa
yang dimiliki oleh perkebunan negara dan peru-
sahaan-perusahaan swasta lainnya.
Pada tahun 1972 perkebunan tembakau mulai
ditinggalkan oleh perusahaan-perusahaan
perkebunan seiring dengan merosotnya kwalitas
yang dihasilkan dan faktor meningkatnya kebu-
tuhan minyak nabati di pasar dunia. Hal ini
berdampak pada beralihnya jenis tanaman yang
dikembangkan oleh perkebunan, yaitu karet dan
kelapa sawit mulai menjadi tanaman komoditas
andalan bagi perusahaan-perusahaan di masa
tahun 1970-an. Di tengah persaingan antar peru-
sahaan perkebunan, petani di Persil IV tetap me-
milih menanam tanaman berupa padi, palawija,
dan buah-buahan.
Tepat menjelang panen padi di pertengahan
tahun 1972, petani mendapat kabar dari pihak
perkebunan negara kebun Limau Mungkur
(sekarang PTPN II) bahwa tanah yang mereka
usahai di atas tanah Persil harus diserahkan
kepada pihak perkebunan dengan janji tanah
dan tanaman yang dimiliki oleh warga akan
diganti rugi. Pihak perkebunan juga mendesak
agar petani menyerahkan surat ijin garap atas
tanah Persil kepada pihak perkebunan dalam
tempo satu bulan setelah pengumuman ganti
rugi dikeluarkan. Mendapat kabar tersebut,
seorang petani sekaligus pemuka agama dusun
Tungkusan yang bernama Haji Sulaiman
mengundang seluruh warga yang memiliki surat
ijin garap tanah Persil untuk bermusyawarah
dirumahnya. Musyawarah dihadiri oleh seluruh
pemilik tanah yang memiliki surat ijin garap.
Sebagian besar para undangan yang hadir berse-
pakat untuk tidak menyerahkan surat ijin garap
kepada pihak perkebunan, hal ini disebabkan
tidak layaknya uang ganti rugi yang ditawarkan
oleh pihak perkebunan serta kuatnya keinginan
para warga untuk tetap mempertahankan tanah
mereka dikelola sebagai lahan pertanian.
Melihat perkembangan petani tidak bersedia
untuk menyerahkan surat ijin garap, pihak per-
kebunan melancarkan pernyataan secara seren-
tak di 5 dusun kawasan Persil IV dengan menya-
takan petani adalah sisa-sisa anggota Partai
Komunis Indonesia (PKI). Propaganda dan pela-
belan komunis terhadap petani juga didukung
oleh pihak kepolisian, tentara dan aparat
69 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
pemerintahan Kecamatan STM Hilir. Melihat
situasi ini, petani meresponnya dengan mem-
percepat masa panen terhadap tanaman yang
mereka tanam dan mulai secara bergiliran mela-
kukan penjagaan terhadap lahan yang mereka
miliki dengan memilih tinggal hingga berhari-
hari di lahan mereka. Mak Esron (66 tahun)
menyebutnya sebagai masa gagal panen, dia
mengartikan sebagai gagal panen yang disengaja
karena pemanenan dilakukan tidak tepat pada
waktunya.
Seminggu setelah hampir setengah dari
seluruh pemilik lahan mulai melakukan pema-
nenan, pihak perkebunan negara memobilisasi
seluruh pekerja perkebunan yang dibantu oleh
aparat kepolisian dan tentara bergerak menuju
lahan milik petani dengan membawa traktor dan
alat-alat berat lainnya. Pada malam yang tak ter-
duga, seluruh gubuk-gubuk milik petani dibakar
dan tanaman diatasnya dibabat serta ditebang.
Peristiwa itu berlanjut hingga esok harinya
dengan pentraktoran yang dikawal ketat oleh
puluhan aparat keamanan negara. Di atas lahan
Persil IV, tepatnya dua bulan setelah pentrak-
toran, pihak perkebunan negara menanaminya
dengan jenis tanaman karet seluas 320 hektar
dan 200 hektar sisanya ditanami kelapa sawit.
Akses petani untuk mengusahai tanah yang telah
mereka dapatkan secara sah menurut hukum
sejak tahun 1956 telah terputus pasca peristiwa
tahun 1972 tersebut.
3. Sekilas Tentang PTPN II
Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara II
(PTPN II) adalah sebuah badan usaha milik
negara yang bergerak di bidang agribisnis perke-
bunan. Produksinya meliputi budidaya kelapa
sawit, karet, kakao, gula dan tebu yang areal
penanamannya tersebar di Sumatera Utara dan
Papua. Dalam peta lokasi Sumatera Utara, peru-
sahaan ini menguasai lahan di tiga Kabupaten,
yaitu Serdang Bedagai, Deli Serdang dan
Langkat yang dibagi menjadi lima distrik. Budi-
daya kelapa sawit menempati areal seluas 85. 988,
92 ha, karet 10. 608, 47 ha, kakao 1. 981, 96 ha
dan tebu seluas 13. 226, 48 ha. Perusahaan per-
kebunan ini berkantor pusat di Tanjung Morawa,
Propinsi Sumatera Utara. Berdirinya PTPN II
didasari oleh ketentuan-ketentuan dalam Un-
dang-Undang No. 9 tahun 1969 dan Peraturan
Pemerintah No. 2 tahun 1969 yang mengatur
tentang Perusahaan Perseroan. PTPN II didiri-
kan pada tanggal 5 April 1976 melalui Akte Notaris
GHS Loemban Tobing, SH, No. 12, selanjutnya
disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat
Keputusan No. Y.A 5/43/8 tanggal 28 Januari 1977
dan diumumkan dalam lembaran negara No. 52
tahun 1978.
6
Lahan-lahan yang dikuasai PTPN II memiliki
keterkaitan sejarah yang cukup panjang dengan
perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda.
Lahan PTPN II berasal dari konsesi tanah NV.
Van Deli Maatschappij seluas 250. 000 ha yang
membentang dari Sungai Ular di Kabupaten Deli
Serdang hingga Sei Wampu Kabupaten Langkat
yang diusahai sejak 1870.
7
Pengambilalihan ta-
nah-tanah milik perkebunan Belanda ini bermula
pada 7 November 1957 terkait dengan krisis poli-
tik Perebutan Irian Barat dengan Belanda,
Soekarno selaku Presiden Republik Indonesia
mengumumkan untuk mengambil alih seluruh
perkebunan milik orang Belanda. Pengumuman
tersebut diteruskan dengan keluarnya pengu-
muman Menteri Kehakiman G.A Maengkom
pada tanggal 5 Desember 1957 yang menyatakan
pengambilalihan akan dilakukan oleh pihak yang
berwenang, yaitu Penguasa Militer Pusat dan
Daerah. Namun Juanda Kartawidjaja selaku
Menteri Pertahanan dan pimpinan tertinggi mi-
liter Republik Indonesia pada tanggal 9 Desember
6
http: ptpn2.com, 2012, diunduh pada 13 Januari 2012.
7
http : bumn.go.id, 2012, diunduh pada 15 Januari 2012.
70 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
1957 memberi wewenang kepada Menteri
Pertanian untuk mengeluarkan peraturan terkait
dengan pengelolaan perkebunan Belanda.
Dengan kewenangan tersebut Menteri Pertanian
menempatkan perkebunan Belanda dibawah
pengawasan sebuah organisasi yang bernama
Pusat Perkebunan Negara (PPN). Organisasi ini
menjadi cikal bakal lahirnya PTPN yang pada
masa selanjutnya menguasai konsesi tanah yang
dimiliki perkebunan Belanda di Sumatera Timur
setelah dikeluarkan Undang-Undang No. 86
tahun 1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-
Perusahaan Milik Belanda di Indonesia.
8
Gambar 1. Kantor PTPN II Kebun Limau Mung-
kur di Dusun Tungkusan. Sumber: foto pribadi
Kebijakan nasionalisasi itu dalam sejarah
perjalanannya justru menjadi salah satu penyebab
utama terjadinya konflik-konflik agraria yang
berkepanjangan, terutama pasca tumbangnya
era Demokrasi Terpimpin. Hal itu bermula ketika
pengkonversian tanah-tanah perkebunan Belan-
da yang mengantongi hak erfacht menjadi hak
guna usaha yang dinasionalisasi oleh negara
tidak terlebih dahulu mengembalikan tanah-
tanah rakyat yang dahulunya dirampas paksa
oleh kolonial. Selanjutnya posisi-posisi strategis
di tubuh organisasi perkebunan yang dijabat oleh
elit-elit tentara semakin mempersempit dan
menghalangi rakyat (petani) untuk menuntut
kembali tanah-tanah mereka yang terampas,
tuduhan sebagai pendudukan illegal dan dicap
sebagai komunis akan dilekatkan pada mereka
oleh tentara-tentara yang telah membentuk
kelas sosial baru.
9
Dalam perkembangannya PTPN II melaku-
kan peleburan (reorganisasi) dengan PTPN IX
menjadi PTPN II berdasarkan pada Peraturan
Pemerintah No. 7 Tahun 1996. Peleburan terse-
but dilakukan pada tanggal 11 Maret 1996 dengan
Akte Notaris Ahmad Bajumi, SH., kemudian
disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat
Keputusan No. C2.8330.HT.01.01.TH.96 dan di-
umumkan dalam Berita Negara RI nomor 81.
10
Di kabupaten Deli Serdang PTPN II memiliki 16
kebun yang setiap kebun dikepalai oleh seorang
Administratur (ADM). Wilayah Persil IV terletak
bersebelahan dengan salah satu kebun milik
PTPN II, yaitu kebun Limau Mungkur dengan
tapal batas sungai Batutak di sebelah Timur dan
Sungai Bekaca di sebelah Barat.
PTPN II Kebun Limau Mungkur mengklaim
mengusahai lahan seluas 2. 322 ha yang didalam-
nya termasuk wilayah Persil IV. Namun berda-
sarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri melalui
SK No. 13/HGU/DA/1975 tanggal 10 Maret 1975,
PTPN II hanya diberikan Hak Guna Usaha seluas
1400 ha. Hal ini ditegaskan kembali dengan surat
ukur yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan
Nasional (BPN) pada tanggal 20 Agustus 1993,
Nomor 1450/08/1993 yang menyatakan bahwa
PTPN II kebun Limau Mungkur hanya memiliki
HGU seluas 1400 ha.
11
Dengan demikian tanah
8
Karl Pelzer, Sengketa Agraria. Jakarta: Sinar
Harapan, 1991.
9
Noer Fauzi, Land Reform Dari Masa ke Masa.
Yogyakarta: Tanah Air Beta, 2012.
10
http : ptpn2.com, 2012, diunduh pada 13 Januari 2012.
11
Notulensi Rapat Kerja dan Jajak Pendapat Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Deli Serdang terhadap
Permasalahan Tanah Persil IV yang dihadiri oleh BPN
Tk. II Deli serdang, ADM PTPN II Kebun Limau
Mungkur, Camat Kecamatan STM Hilir, Kepada Desa
Tadukan Raga, Limau Mungkur, Lau Barus Baru dan Petani
pada tanggal 27 Oktober 1998.
71 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
seluas 922 ha (2.322 1400) dapat dikatakan seba-
gai areal yang tidak memiliki HGU, sekaligus
memperkuat argumentasi petani bahwa dida-
lamnya terdapat 525 ha tanah mereka yang
dirampas oleh PTPN II sejak tahun 1972.
C. Strategi Bertahan Hidup Petani Persil
IV di Masa Orba
1. Kondisi Petani di Awal Kehadiran
PTPN
Sejak terjadinya peristiwa perampasan tanah
pada tahun 1972, hubungan antara rakyat petani
dengan PTPN II terlihat kurang harmonis. Di
akhir tahun 1972, PTPN II mulai disibukkan
dengan mentraktor tanah, penyiangan bibit
karet dan kelapa sawit serta persiapan-persiapan
teknis untuk memulai dan mengembangkan
perkebunan di wilayah administrasi kebun Li-
mau Mungkur, sementara petani mulai kehi-
langan aktivitasnya untuk bertani. Harapan-
harapan untuk mendapatkan tanah mereka kem-
bali seakan menemui jalan buntu. Seluruh petani
Persil dihadapkan dengan persoalan-persoalan
ketiadaan tanah yang mereka fungsikan sebagai
sumber kehidupan. Hampir dari seluruh petani
menggantungkan kehidupan di atas tanah terse-
but. Hanya sekitar 20 persen (50-an KK) yang
masih memiliki lahan di luar lahan Persil.
12
Bagi
mereka yang memiliki lahan di luar Persil, mere-
ka mencoba untuk bertahan hidup dari tanah
yang tersisa, namun bagi sebagian yang lain hanya
mengandalkan sisa pekarangan rumah untuk
dikelola dan ditanami jenis tanaman sayur mayur
sebagai sumber penghasilan ataupun sekedar
untuk dikonsumsi.
Pada tahun 1975, Rajali dan Haji Sulaiman
(warga dusun Tungkusan) mencoba memper-
tanyakan kasus perampasan tanah yang dialami-
nya kepada kepala Desa Tadukan Raga. Dalam
pertemuan tersebut, Kepala Desa menyatakan
tidak tahu menahu persoalan yang dihadapi Haji
Sulaiman. Kepala Desa menyarankan Sulaiman
untuk mempertanyakan persoalannya kepada
Camat STM Hilir.
Kepala Desa yang kami harapkan untuk mengayomi
warganya saat itu tidak bisa berbuat apa-apa, malah
ia mengatakan agar kami merelakan tanah tersebut
diambil PTPN untuk kepentingan negara. Banyak
dari kami tidak memiliki lahan selain tanah Persil.
Bagi yang memiliki lahan cadangan (di luar tanah
Persil) bukan berarti tidak sengsara, mereka juga
mengalami nasib yang terpuruk. Saat itu kami benar-
benar tidak tahu harus mengadu kepada siapa karena
memang kita sama-sama tahu zaman Orde Baru
sangat represif. Bagi siapapun yang menolak
kebijakan pemerintah maka dia akan dicap PKI
ataupun ditangkap secara tidak wajar. (Rajali, 62
tahun)
Haji Sulaiman selanjutnya mencoba untuk
mendapatkan jawaban dari Camat STM Hilir
terkait persoalan yang dihadapinya. Usaha ke-
dua yang ditempuhnya juga berujung pada
ketidakpastian. Camat STM Hilir hanya memberi
jawaban saya tidak bisa memberikan kepastian
atas persoalan yang kalian hadapi. Ia juga me-
nambahkan agar para petani melaporkan per-
masalahan tersebut ke pemerintahan Kabupaten
Deli Serdang.
13
Usaha-usaha yang ditempuh
dengan mendatangi Kepala Desa dan Camat
tidak membuahkan hasil yang baik berdampak
pada kekecewaan yang mendalam terhadap insti-
tusi-institusi negara. Petani pemilik tanah Persil
di 4 dusun yang lain juga menyimpulkan bahwa
jalur-jalur formal dengan berharap pada sebuah
kepastian hukum di lembaga-lembaga pemerin-
12
Wawancara dengan Informan (Agus-Menantu Haji
Sulaiman : Pengurus Gerakan Petani Persil IV), April 2012.
Dalam wawancara ini, Informan mengatakan bahwa hanya
20 persen dari jumlah pemilik tanah Persil yang memiliki
lahan di luar areal Persil (lahan cadangan). 20 persen yang
memiliki lahan cadangan tidak terpusat di salah satu dusun,
tetapi tersebar di 5 dusun.
13
Wawancara dengan Informan (Rajali-Pengurus
Gerakan Tani Persil IV), April 2012.
72 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tahan tidak akan menghasilkan keadilan bagi
mereka.
Selain di Kecamatan STM Hilir, pada awal
tahun 1970-an perampasan tanah petani oleh
negara untuk kepentingan PTPN juga terjadi di
kecamatan-kecamatan lain dalam wilayah Ka-
bupaten Deli Serdang. Ada 32 kasus perampasan
tanah petani selain kasus Persil IV yang terjadi
di awal rejim Orde Baru dengan melibatkan
PTPN dan organisasi militer. 26 kasus merupa-
kan konflik antara petani dan PTPN II, 1 kasus
dengan PTPN III, 2 kasus dengan PTPN IV, 2
kasus dengan organisasi militer (Puskopad Bukit
Barisan dan Veteran) dan 1 kasus dengan peru-
sahaan swasta (PT. London Sumatera).
Tabel. Konflik Agraria (Tanah) Di Deli Serdang
Sumber: Hasil wawancara peneliti dengan berbagai
NGO di Sumatera Utara dan Bakumsu,
2012.
Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan
bahwa konflik agraria berupa perampasan tanah
petani oleh perkebunan negara maupun swasta
serta institusi militer di Kabupaten Deli Serdang
No Nama
Kelompok
Luas
Areal
Jumlah
KK
Lawan
Sengketa
Alas Hak
1 Kelompok Tani
Manunggal
42 Ha 36 KK PTPN II
Helvetia
SK Mendagri No. 12 5/4,
Tanggal 28 Juni 1951.
SK Gubsu No. 36/K/Agr,
Tanggal 28 September
2 Kelompok
Masyarakat
Pematang Belo
270 Ha 210 KK Veteran SK Kepala Kampung
Tandem Hilir II No.
196/T.H.II/66, Tanggal
30 Agustus 1966.
Menerangkan Pematang
Belo merupakann
garapan penduduk
Tandem Hilir II.
Restu dari Menteri
Agraria, 4 Mei 1962.
3 Kelompok Tani
Terbit Fajar, Desa
Tandem Hulu II,
Psr 2, 3, 4, 5, 6.
Kec. Hamparan
Perak
170 Ha 366 KK PTPN II
Kebun
Tandem
UU Darurat No. 8
Tahun 1954 KRPT
Daftar Panjang Bukti
Pembayaran Pajak.
4 Kelompok Tani
Sigara-gara I. Kec.
Patumbak
70 Ha 80 KK PTPN II
Kebun
Patumbak
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT, Peta
Kalk No. 594U oleh
Kantor Reorganisasi
Pemakaian Tanah Sum.
Timur. Tanggal 9
September 1960.
5 Kelompok Tani
Sigara-gara II.
Kec. Patumbak
80 Ha 60 KK PTPN II
Kebun
Patumbak
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT, Peta
Kalk No. 594P oleh Ktr.
Reorganisasi Pemakaian
Tanah Sum. Timur.
Tanggal 15 Juni 1957.
6 Kelompok Tani
Lantasan Lama,
Pasar 4. Kec.
Patumbak
60 Ha 90 KK PTPN II
Kebun
Patumbak
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT, Peta
Kalk No. 659P oleh Ktr.
Reorganisasi Pemakaian
Tanah Sum. Timur.
Tanggal 4 Juni 1957.
7 Kelompok Tani
Kurnia Negara.
Kec. Patumbak
100 Ha 150 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun
Patumbak
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT
Tanggal 22 Mei 1957.
8 Kelompok Tani
Paya Bakung.
Pasar 5,7,8,9. Kec.
Hamparan Perak
300 Ha 184 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun Sei
Semayang
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, SK
Mendagri No. 15 15/5/4
jo SK Gubsu 36/k/Agr
TI 27 September 1951.
9 Kelompok Tani
Paya Bakung,
Pasar 10, Bulu
Cina. Kec.
Hamparan Perak
105 Ha 95 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun Bulu
Cina
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, Peta Kalkir
dan Daftar Panjang.
10 Kelompok Tani
Paya Bakung,
Pasar 1 dan 2. Kec.
Hamparan Perak
208 Ha 104 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun Sei
Semayang
UU Darurat No.8 Tahun
1954, KRPT, Peta Kalkir,
SK Gubsu
36/k/Agr/1951.
11 Kelompok Tani
Bulu Cina, Pasar
2,3,4,5. Kec.
Hamparan Perak
550 Ha 235 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun Bulu
Cina
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT, Peta
Kalkir dan Daftar
Panjang.
12 Kelompok Tani
Bulu Cina, Pasar
9,10,11,12. Kec.
Hamparan Perak
489 Ha 342 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun Bulu
Cina
UU Darurat No.8 Tahun
1954, KRPT, SK Gubsu
36/k/Agr 1951.
13 Kelompok Tani
Klumpang. Kec.
Hamparan Perak
200 Ha 150 KK PTPN II
Tanjung
Morawa,
Kebun
Klumpang
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT, Peta
Lokasi BPPST No. 879,
Tanggal 15 Agustus
14 Kelompok Tani
Sei Semayang,
Pasar 1 dan 2. Kec.
Sunggal
80 Ha 53 KK PTPN II
Tamora,
Kebun Sei
Semayang
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT, Peta
Lokasi BPPST No. 879
Tahun 1960.
15 Kelompok Tani
Sukarende. Kec.
Kutalimbaru
50 Ha 58 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Tuntungan
UU Darurat No. 8
Tahun 1954.
16 Kelompok Tani
Silebo-lebo. Kec.
Kutalimbaru
350 Ha 300 KK PTPN II
Tamora,
Kebun Sei
Glugur
PLR Deli Serdang
No. Ist/LR/11/1968
17 Kelompok Tani
Paya Badau. Kec.
Patumbak
73 Ha 58 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Patumbak
UU Darurat No. 8
Tahun 1954
18 Kelompok Tani
Durin Tonggal.
Kec. Pancur Batu
524 Ha 500 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Berkala
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT No.
583A 1953.
19 Kelompok Tani
Dolok Masango.
Kec Kotarih
16 Ha 100 KK PTPN III Sei
Kambing
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, SK
Pembayaran Pajak
Tahun 1955-56.
20 Kelompok Tani
Ujung Jahe
Simalingkar. Kec.
Pancur Batu
300 Ha 100 KK PTPN II
Tamora,
Kebun Bekala
UU Darurat No 8 Tahun
21 Kelompok Tani
Psr 4 dan 5
Kelambir 5. Kec.
Hamparan Perak
83 Ha 58 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Kelambir
UU Darurat No. 8
Tahun 1954.
22 Kelompok Tani
Peta Kesra,
Ramunia. Kec.
Pantai Labu
351 Ha 250 KK Puskopad BB SK Pangdam II BB No.
153/II/175
23 Kelompok Tani
Psr 2 dan 3
Kelambir Lima.
Kec. Hamparan
Perak
85 Ha 38 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Kelambir
Lima
UU Darurat No. 8
Tahun 1954.
24 BPRPI Kebun
Saentis. Kec.
Percut
600 Ha 5000 KK PTPN
Bandar
Kalipah
Permohonan pelepasan
HGU PTPN II Kebun
Saentis
25 Kelompok Tani
Psr 3 Wonorejo.
Kec. Batang Kuis
100, 59
Ha
131 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Batang Kuis
Permohonan Pelepasan
HGU PTPN II Kebun
Saentis
26 Kelompok Tani
Veteran Pasar 1
dan 2 Helvetia
217 Ha 175 KK PTPN II
Tamora,
Kebun
Helvetia
UU Darurat No. 8
Tahun 1954, KRPT,
Daftar Panjang, Peta
Kalkir.
27 Kelompok Tani
Bingkat II. Kec.
Perbaungan
71 Ha 150 KK PTPN IV,
Kebun
Adolina
UU Darurat No. 8
Tahun 1954.
28 Kelompok Tani
Bingkat III. Kec.
Perbaungan
400 Ha 150 KK PTPN IV,
Kebun
Adolina
UU Darurat No. 8
Tahun 1954.
29 Kelompok Tani
Bingkat I. Kec.
Perbaungan
104 Ha 23 KK PTPN II
Tamora,
Kebun Melati
UU Darurat No. 8
Tahun 1954.
30 Kelompok Tani
Pintu Air
75 Ha 110 KK PTPN II Tj
Garbus
UU Darurat No. Tahun
31 Kelompok Tani
Mulyorejo. Kec.
Hamparan Perak
364 Ha 364 KK PTPN II
Tamora,
Kebun Sei
Semayang
Surat BPPST 8, 7, 8
Tahun 1960.
32 Kelompok Tani
Pergulaan
118 Ha 300 KK PT. Lonsum
JUMLAH 6.605,
59 Ha
10.020
KK
73 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
pada era awal rejim Orde Baru telah mengaki-
batkan tercaploknya lahan milik petani seluas
6.605, 59 hektar yang berdampak pada kehi-
dupan 10. 020 KK. Jika ditambah dengan luas
lahan Persil IV maka angka tersebut bertambah
menjadi 7. 130 hektar dan 10. 280 KK.
Terputusnya akses terhadap alat produksi
(tanah) berdampak pada penghilangan identitas
kehidupan petani. Situasi ini mendorong tercip-
tanya krisis subsistensi dan proletarisasi massal
yang berskala besar di era awal tahun 1970-an.
Petani dihadapkan dengan berbagai pilihan-
pilihan untuk bertahan hidup. Secara tofograf i
mereka tetap bermukim di areal rumah yang
selama ini mereka huni yang terletak menge-
lilingi lahan Persil. Namun akses terhadap tanah
untuk kegiatan produksi tidak lagi dapat mereka
gapai. Dalam kondisi demikian petani mencoba
melakukan usaha-usaha untuk bertahan hidup
dengan pilihan-pilihan yang sebenarnya tidak
mereka inginkan.
Sebelum peristiwa perampasan, Haji Sulai-
man biasanya menanam padi di tanah Persil selu-
as 2 hektar dengan sistem persawahan tadah hu-
jan. Selama setahun, pemanenan dapat dilaku-
kan dua kali jika curah hujan mencukupi. Hasil
dari pemanenan selama setahun, seperempatnya
digiling menjadi beras untuk pemenuhan kebu-
tuhan pangan keluarga setahun. Dua pertiganya
dijual untuk ditukar menjadi uang yang akan
digunakan untuk membiayai kebutuhan non
pangan dan pendidikan anaknya. Selain memi-
liki tanah Persil, Haji Sulaiman juga mempunyai
sebidang tanah lain seluas 0, 5 hektar yang loka-
sinya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Di atas
tanah tersebut ia menanam jenis tanaman buah
seperti dukuh, rambutan dan pinang. Setiap
tahun ia memanen dukuh dan rambutan yang
selanjutnya dijual ke pasar-pasar tradisional di
Kota Talun Kenas ataupun Tanjung Morawa.
Hasil panen disimpan dalam bentuk tabungan
untuk menjadi cadangan keuangan keluarga jika
sewaktu-waktu terjadi kebutuhan mendadak.
Selama lebih dari sepuluh tahun semenjak ia
mengelolah kedua lahan yang dimilikinya, ia
dapat menabung uang dengan jumlah yang me-
nurutnya dapat ditukarkan dengan enam sapi.
Kondisi ekonomi keluarganya sedikit lebih baik
daripada warga-warga lain di dusun Tungkusan.
Di dusun Tungkusan terdapat sekitar 100 or-
ang yang dikatakan sebagai pemilik tanah Persil.
14
Sisa pemilik lainnya berjumlah 160 orang dan
tersebar di empat dusun yang lain. Dari 100 orang
pemilik tanah Persil di dusun Tungkusan tidak
semuanya memiliki lahan cadangan seperti Haji
Sulaiman. Hanya sekitar 22 orang warga yang
memiliki lahan cadangan seperti Haji Sulaiman
di dusun Tungkusan. Bagi Rajali dan warga du-
sun Tungkusan lain yang tidak memiliki lahan
cadangan hanya mengandalkan pendapatan
ekonomi keluarga dari tanah Persil yang luasnya
2 hektar. Di atas tanah 2 hektar tersebut Rajali
menanam padi seluas 1 hektar, hektar sisanya
ia tanami jenis tanaman buah-buahan seperti
rambutan dan pisang. Dari 1 hektar, ia men-
dapatkan rata-rata 4 ton padi dalam sekali musim
panen. dari jumlah hasil panennya ia giling
secara berkala menjadi beras untuk kebutuhan
pangan keluarga selama setahun dan sisanya
dijual untuk memenuhi kebutuhan non pangan
dan pendidikan anaknya. Tidak hanya di dusun
Tungkusan, di 4 dusun yang lain (Sinembah,
Limau Mungkur, Lau Barus dan Batutak) juga
memiliki kesamaan dalam bertahan hidup. Da-
lam kesehariannya, warga di 4 dusun yang lain
juga bertahan hidup melalui aktif itas bercocok
tanam di dalam ataupun di luar tanah Persil yang
mereka miliki.
Setelah peristiwa perampasan di tahun 1972,
situasi dan kondisi perekonomian rumah tangga
14
Wawancara dengan Syahrial (Anak bungsu Haji
Sulaiman) pada 24 April 2012.
74 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
petani Persil berubah drastis. 260 KK pemilik ta-
nah Persil kehilangan haknya untuk mengakses
alat produksi (tanah). Haji Sulaiman dan warga
lain bertahan hidup di atas lahan cadangannya.
Lahan cadangan yang semula tidak diperuntuk-
kan untuk pertanian jenis tanaman pangan
pokok (padi) diubah sepenuhnya menjadi areal
pertanian jenis tanaman pangan pokok. Hal ini
dilakukan untuk menghindari krisis pangan
keluarga. Ia harus merelakan tanaman buah-
buahan di lahan cadangan dibabat dan diganti
menjadi padi ataupun ubi.
Situasi yang berbeda dialami Rajali dan warga
lain yang tidak mempunyai lahan cadangan.
Mereka berusaha bertahan hidup dengan men-
jadi buruh upahan di lahan-lahan milik warga
lain ataupun kuli bangunan di sekitar desa.
Perampasan tersebut selain berdampak pada ter-
cerabutnya petani dari akarnya juga mengaki-
batkan peningkatan kemiskinan di wilayah
Kabupaten Deli Serdang pada pertengahan
tahun 1970-an, khususnya pada wilayah-wilayah
konflik yang disebutkan pada tabel di atas.
Selain menjadi pekerja serabutan, kuli
bangunan dan buruh upahan di lahan-lahan
milik warga lain, kesempatan untuk bertahan
hidup juga muncul dari PTPN. Kesempatan
tersebut berupa tawaran-tawaran untuk bekerja
menjadi buruh di lingkungan perkebunan. Salah
seorang warga dusun Limau Mungkur bernama
Mak Esron (66 tahun) menceritakan penga-
lamannya sebagai berikut:
Pada masa itu saya masih ingat kira-kira tahun
1975, datang kepada saya 2 orang laki-laki yang
mengaku utusan dari PTPN, tetapi saya lupa na-
manya. Mereka mengatakan membawa pesan dari
atasan mereka yang berisi akan membantu warga
di dusun kami. Mereka menawarkan kepada kami
untuk bergabung dan bekerja di PTPN. Setiap warga
yang memiliki niat baik dan semangat kerja yang
tinggi akan dipertimbangkan untuk menjadi pekerja.
Pernyataan mereka langsung saya tolak karena saya
masih ingat betul ketika tanah saya dirampas mereka.
Jadi tidak akan pernah sudi keringat akan saya
berikan untuk perkebunan. Saya dan warga-warga
lain yang tanahnya dirampas perkebunan juga ber-
sepakat untuk tidak memberi restu kepada sanak
saudara yang ingin bekerja di perkebunan. Memang
kami miskin, tapi kami akan lebih bermartabat jika
kami tidak menjadi buruh di atas tanah sendiri.
Mak Esron-dusun Limau Mungkur, 18 April 2012
Dari tahun 1975-1980, PTPN II kebun Limau
Mungkur tetap berusaha untuk melakukan
perekrutan tenaga kerja dari 5 dusun Persil. Peta-
ni menganggap perekrutan tersebut merupakan
sebuah usaha yang tersistematis untuk penji-
nakkan sikap warga yang menentang kehadiran
PTPN II. Walaupun dalam kondisi ekonomi
rumah tangga yang semakin memburuk, hampir
seluruh dari pemilik tanah Persil yang tersebar
di 5 dusun tetap tidak menerima tawaran-ta-
waran untuk bekerja menjadi buruh di perke-
bunan. Sikap tersebut lahir dari sebuah proses
politik yang panjang. Perkebunan dianggap
menjadi musuh petani sejak lahirnya perke-
bunan-perkebunan Belanda yang telah meram-
pas tanah leluhur mereka. Kebencian terhadap
perkebunan kembali menguat di saat Orde Baru
memperlakukan mereka dengan sewenang-
wenang.
Kelangkaan dan terbatasnya kesempatan
kerja di sekitar desa mereka semakin mendorong
petani dalam ruang-ruang kemiskinan. Petani-
petani yang memiliki lahan cadangan dalam
beberapa musim panen mengalami kegagalan.
Haji Sulaiman dan Mak Esron beberapa kali
selama dalam kurun waktu lima tahun (1975-
1980) melakukan pinjaman kepada bank untuk
menutupi biaya produksi pertanian. Pinjaman
diberikan dengan menggadaikan surat tanah
cadangan kepada pihak bank. Kegagalan-kega-
galan panen disebabkan serangan wabah wereng
di areal pertanian mereka. Wabah wereng terse-
but dianggap tidak lahir begitu saja.
Menurut Haji Sulaiman, wereng mulai ada
75 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
ketika PTPN II hadir di wilayah mereka. Peng-
gunaan pestisida, pupuk dan cairan-cairan
senyawa kimia dalam jumlah besar yang di
semprotkan di areal perkebunan PTPN II terbawa
air di kala musim hujan dan mengalir ke sungai
Batutak, selanjutnya aliran air masuk ke sebagian
wilayah pertanian warga dan menimbulkan
dampak kerusakan ekosistem. Kerusakan itu
berdampak pada munculnya wabah wereng pa-
da tahun 1976-1980 dalam beberapa gelombang.
15
Rajali dan Pak Soni (66 tahun, dusun Sinembah)
warga yang digolongkan tidak memiliki lahan
cadangan untuk memenuhi kebutuhan hidup-
nya selalu berhutang ataupun menjual hewan
ternak karena penerimaan atas kegiatan produksi
mereka selalu def isit.
Hal yang demikian terus memicu petani
terjebak dalam proses pemiskinan dan keti-
dakstabilan ekonomi rumah tangga pertanian.
Dalam proses ekonomi yang seperti itu, petani
mengalami mobilitas profesi secara horizontal
dari petani menjadi buruh lintas profesi ataupun
pekerja sektor informal. Di sisi lain juga menga-
lami penurunan mobilitas secara vertikal, dari
petani pemilik lahan sedang menjadi petani
berlahan sempit. Perubahan-perubahan corak
produksi ini meluas pada terbentuknya relasi-
relasi yang bersifat konfliktual antara perke-
bunan dan petani. Relasi konfliktual yang berba-
sis pada perbedaan kepentingan ini secara perla-
han mendorong radikalisme petani dalam ben-
tuk perlawanan-perlawanan yang dilakukan
dengan diam-diam ataupun terbuka. Seperti
yang diungkapkan oleh Scott (1993), bahwa
pemutusan dan penghilangan akses terhadap
alat produksi (tanah) terhadap petani secara
sepihak akan memposisikan petani sebagai pihak
yang terpojokkan, dan sewaktu-waktu dalam
kondisi yang dirasa aman maka akan mencip-
takan suatu perlawanan dan pemberontakan
secara kolektif.
2. Berburu di Areal Perkebunan dan
Aksi Diam-diam
Dusun Tungkusan merupakan dusun dengan
jumlah penduduk terbesar daripada empat
dusun yang lainnya. Menurut catatan statistik
Desa Tadukan Raga, penduduknya pada tahun
1995 mencapai 856 jiwa dengan jumlah laki-laki
515 dan 341 perempuan. Diantara jumlah terse-
but, yang memiliki pekerjaan tetap sebagai Pega-
wai Negeri Sipil (PNS) hanya berjumlah 6 orang.
Sisanya berprofesi sebagai buruh upahan, kuli
bangunan, dan petani lahan kecil. Setengah dari
jumlah keseluruhan penduduk dusun Tung-
kusan memiliki hubungan kekerabatan dengan
pemilik tanah Persil. Namun setengah lainnya
sama sekali tidak memiliki hubungan kekera-
batan dan bukan sebagai ahli waris tanah Persil.
Penduduk yang sama sekali tidak memiliki hu-
bungan kekerabatan dengan pemilik tanah Persil
terdapat beberapa orang yang bekerja di perke-
bunan sebagai buruh rendahan. Keterbatasan
lapangan perkerjaan serta tidak terdapatnya
hubungan biologis dengan pemilik tanah Persil
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
seseorang menerima pekerjaan sebagai buruh
perkebunan. Walaupun demikian, hal itu tidak
memicu ketegangan dalam hubungan-hu-
bungan sosial keseharian antar warga.
Dalam kesehariannya pemuda-pemuda
dusun Tungkusan memilih bekerja sebagai
pengeruk pasir (bonjor) di Sungai Blumei yang
bersebelahan dengan tempat tinggal mereka.
Mereka bekerja dengan sistem manual melalui
penyelaman tanpa perlindungan alat-alat ke-
amanan. Pekerjaan itu mulai dilakukan sejak
tahun 1995 ketika sekelompok pengusaha dari
Kota Tanjung Morawa mendapatkan ijin penge-
15
Hasil wawancara dengan Mak Esron (66 tahun) warga
dusun Limau Mungkur. Ia mengatakan sebelum kehadiran
PTPN II di wilayah mereka wereng tidak pernah ada.
76 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
rukan dan pemanfaatan pasir sungai dari peme-
rintahan Kabupaten Deli Serdang. Namun
semenjak para pengusaha menggunakan teknik
pengerukan yang lebih canggih melalui mesin-
mesin penyedot, tenaga manusia menjadi tidak
dibutuhkan. Pemuda-pemuda tersebut kembali
menjadi pengangguran ataupun buruh sera-
butan di sekitar-sekitar desa.
Pemuda pengangguran desa sesekali meman-
faatkan waktu dengan berburu pada malam hari
di kawasan-kawasan sekitar desa, terutama di
pinggiran perkebunan. Hewan buruan bernilai
ekonomi tinggi adalah ular sawah dan babi hu-
tan. Mereka melakukan pemburuan menggu-
nakan senapan angin dan tombak bermata maja.
Satuan petugas keamanan perkebunan PTPN II
memberikan izin bagi para pemburu untuk
memasuki kawasan perkebunan. Kebijakan ini
bermula, setelah populasi babi hutan yang dika-
tegorikan sebagai hama pengganggu tanaman
meningkat di areal tersebut. Dengan ijin itu para
pemuda secara berkelompok melakukan pem-
buruan di kawasan-kawasan perkebunan PTPN
II. Setelah beberapa kali melakukan pemburuan,
kemudahan-kemudahan perijinan didapatkan
dengan mudah dalam waktu-waktu selanjutnya.
Terkadang tanpa harus melapor kepada pihak
petugas keamanan, mereka dapat langsung me-
masuki areal perkebunan.
Mula-mula situasi itu hanya dimanfaatkan
untuk memburu hewan yang bernilai ekonomi
tinggi. Tapi mereka menyadari sesuatu yang lain
juga akan mendatangkan keuntungan, yaitu
mencuri tandan buah kelapa sawit segar. Sejarah
perampasan yang dialami oleh orang tua mereka
mendorong terbentuknya kesadaran politik
untuk mengganggu aktif itas produksi perke-
bunan. Bahkan terputusnya sekolah sebagian
para penganggur ini disadari akibat sejarah tahun
1972. Secara perlahan beberapa perencanaan
untuk mencuri buah kelapa sawit kecil-kecilan
ini dilakukan dengan hati-hati dan secara sadar
mereka juga mengetahui akibat yang akan dipi-
kul jika aksi tersebut diketahui oleh petugas
keamanan. Pencurian dilakukan hanya seming-
gu sekali secara bergantian. Kelapa sawit hasil
curian dimasukkan ke dalam karung buruan.
Selanjutnya kegiatan berburu digunakan sebagai
alat dan taktik untuk bisa mengakses masuk ke
wilayah perkebunan secara terus menerus. He-
wan-hewan buruan tidak lagi menjadi target
utama, bahkan secara sengaja dibiarkan agar
produksi kelapa sawit perkebunan semakin me-
nurun sekaligus memperluas kesempatan
kegiatan berburu dapat terus dilakukan karena
hewan yang dianggap pengganggu tanaman itu
populasinya sengaja dibiarkan meningkat.
16
Gaya perlawanan cerdas ini merupakan ben-
tuk perlawanan yang oleh Scott disebut bersifat
Brechtian. Perlawanan yang sedikit atau sama
sekali tidak membutuhkan kordinasi atau
perencanaan luas dan secara sengaja menghin-
dari konfrontasi simbolis dengan kelas pengu-
asa.
17
Melihat perkembangan yang tidak menun-
jukkan pada penurunan populasi babi hutan,
pihak perkebunan melakukan penambahan jum-
lah petugas keamanan yang dilengkapi dengan
senapan angin berjenis khusus. Operasi rutin
perburuan babi hutan ditingkatkan. Walaupun
pihak perkebunan tetap memberikan ijin kepada
para pemuda untuk ikut dalam perburuan na-
mun operasi rutin yang dilakukan perkebunan
semakin mempersempit ruang gerak mereka
melakukan pencurian buah kelapa sawit.
16
Ramlan, salah seorang warga dusun Sinembah yang
kerap melakukan perburuan bersama pemuda dusun
Tungkusan menyatakan mereka sengaja membiarkan hewan
pengganggu tanaman tidak diburu. Dengan demikian
populasi babi hutan semakin meningkat dan hal tersebut
tetap memberikan peluang kepada mereka mendapat alasan
untuk bisa terus mengakses perkebunan dengan dalih
berburu kepada pihak petugas keamaman PTPN II.
17
James C Scott, 1997. Senjatanya Orang-orang Yang
Kalah. Jakarta: YOI, hlm. xxiii.
77 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
Selama lebih dari dua dekade, kehidupan
ekonomi rumah tangga petani menjadi porak-
poranda. Segala bentuk strategi bertahan hidup
telah dilakukan dengan berbagai cara, namun
petani dihadapkan pada suatu kenyataan kemis-
kinan yang bergerak secara progessif. Kekuasaan
modal (capital) di era rejim Orde Baru yang
ditransformasikan dalam bentuk industri perke-
bunan telah menghancurkan tatanan masyarakat
petani pedesaan. Dengan berbagai cara, modal
(negara ataupun swasta) mengambil alih perta-
nian dan mengubah secara mendasar bentuk-
bentuk tatanan masyarakat di dalamnya yang
selanjutnya memproduksi kemiskinan secara sis-
tematis di atas tatanan masyarakat baru (kapi-
talistik).
Dalam ranah agraria, akumulasi primitif yang
berasal dari sejarah perkembangan kapitalisme
ini telah mencirikan bentuk-bentuk transformasi,
diantaranya adalah mengubah kekayaan alam
menjadi modal dan kaum tani diubah menjadi
buruh tani. Skema pembangunan Orde Baru
yang ditandai pada tingginya angka perampasan
tanah-tanah petani akhirnya menghasilkan suatu
konflik-konflik struktural di berbagai daerah,
khususnya di wilayah-wilayah pinggiran perke-
bunan Sumatera Utara hingga saat ini.
D. Transformasi Perlawanan Petani
1. Awal Mula Terjadinya Gerakan Sosial
Petani
Setelah melewati proses waktu panjang
dengan kondisi perekonomian yang semakin
tidak mencukupi kebutuhan keluarga, petani
tetap berusaha mencari alternatif untuk keluar
dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Selain itu
mereka juga mulai membayangkan persoalan-
persoalan jumlah angka pemilik lahan yang
masih hidup semakin menurun. Petani berang-
gapan jika para generasi pertama (pemilik lahan
Persil) tidak memulai sesuatu untuk merebut
tanah mereka dari perkebunan maka untuk sela-
manya status kepemilikan tanah itu akan sema-
kin tidak jelas. Walaupun segala sesuatu yang
akan dilakukan tidak akan mengembalikan
tanah mereka pada masa itu tetapi petani berke-
yakinan dengan memulai sesuatu minimal telah
mewariskan sejarah perjuangan yang akan terus
dilanjutkan kepada generasi selanjutnya.
Awal tahun 1996, segelintir petani mencoba
untuk melakukan sebuah diskusi rutin terkait
penyelesaian atas tanah Persil. Pertemuan dila-
kukan secara bergiliran di setiap dusun. Dalam
pertemuan tersebut di sepakati untuk mengirim-
kan surat pengaduan kepada Wakil Presiden
melalui Tromol Pos 5000.
18
Petani beranggapan
surat pengaduan itu merupakan cara terakhir
yang mereka tempuh untuk mencari keadilan
lewat jalur formal.
Setiap dusun mendelegasikan satu orang un-
tuk menandatangani surat pengaduan yang diki-
rim pada tanggal 8 Agustus 1996. Mereka adalah
Haji Sulaiman, Polin Silalahi, Nazarudin Purba,
Nampat Sembiring dan K. Berutu. Di luar duga-
an, surat tersebut mendapatkan jawaban atas
nama Asisten Wakil Presiden yang berisikan agar
petani melaporkan perkara itu kepada Bupati Deli
Serdang. Selanjutnya petani menindak lanjuti
dengan mengirimkan surat pengaduan lanjutan
kepada Bupati Deli Serdang.
Bupati Deli Serdang pada tanggal 21 Februari
1997 mengeluarkan surat jawaban dengan No-
mor. 593/15/RHS yang isinya antara lain menya-
rankan agar petani menyelesaikan permasalahan
kasus tanah Persil melalui jalur hukum. Situasi
ini mendorong lahirnya sebuah harapan baru
terkait penyelesaian kasus perampasan yang
mereka hadapi. Informasi-informasi dan jawaban
18
Tromol Pos 5000 adalah kotak surat pengaduan yang
ditujukan untuk pemerintahan Pusat (Presiden/wakil
Presiden). Siapa saja berhak mengirim surat pengaduan,
secara perorangan maupun organisasi, yang berisi tentang
persoalan-persoalan yang sedang dihadapi.
78 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
dari surat-surat yang diterima di kelola oleh Haji
Sulaiman cs untuk mengkonsolidasikan perju-
angan petani. Haji Sulaiman merupakan salah
satu orang yang mempunyai pengaruh cukup
besar di dusun Tungkusan. Ia di anggap cukup
gigih dan konsisten dalam perjuangan sehingga
masyarakat sering menyebutnya sebagai tokoh
penggerak. Di sisi lain ketaatan agama serta gelar
haji yang melekat pada dirinya semakin mem-
perkuat kharisma yang dimilikinya. Begitu juga
dengan Polin Silalahi, seorang warga dusun
Batutak yang dianggap tokoh agama mewakili
petani beragama Kristen. Kedua orang itu diang-
gap tokoh kunci dan pemersatu perjuangan peta-
ni yang mulai menggelora.
Krisis ekonomi dan politik yang memuncak
pada jatuhnya Soeharto pada 20 Mei 1998 telah
menjadi katalisator meledaknya kekuatan-keku-
atan petani yang selama ini memilih jalur perla-
wanan bawah tanah. Puluhan ribu KK petani Deli
Serdang telah menunggu lama jatuhnya Soehar-
to, khususnya petani yang kehilangan tanah di
awal 1970-an. Euforia reformasi menyulut keben-
cian-kebencian petani untuk melakukan perla-
wanan-perlawanan terbuka. Zaman reformasi di
anggap suatu era transisi politik, dari otoritarian
menuju demokratis. McAdam, Tarrow, dan Tilly
dalam bukunya yang berjudul Dynamics of
Contentation (2001) menyatakan gerakan sosial
terbuka cenderung terjadi di dalam masyarakat
transisional.
Seminggu setelah kejatuhan Soeharto, ribuan
petani di pinggiran perkebunan Deli Serdang
menduduki kembali lahan mereka (reclaiming).
Organisasi-organisasi yang mengatasnamakan
kelompok perjuangan petani muncul secara
spontan di beberapa kecamatan dalam wilayah
Kabupaten Deli Serdang. Diantaranya 4 kelom-
pok tani di Kecamatan Patumbak, yaitu : Kelom-
pok Tani Sigara-gara I, II, Lantasan Lama dan
Kurnia Negara Namosuro. Pendudukan lahan
itu segera disusul oleh kelompok-kelompok tani
lain yang tersebar di beberapa kecamatan. Aksi
dilakukan dengan membabat seluruh lahan dan
tanaman perkebunan PTPN II.
Menurut catatan Badan Advokasi Hukum
Sumatera Utara (BAKUMSU), NGO yang ber-
gerak di bidang advokasi hukum, menyatakan
gerakan pendudukan lahan oleh petani di wila-
yah perkebunan PTPN juga terjadi di Kabupaten
Langkat, Asahan dan Labuhan Batu dalam jum-
lah besar di akhir Mei 1998. Gerakan pendudukan
tersebut mendorong lahirnya pembelajaran poli-
tik petani secara massal dan selanjutnya ditiru
oleh masyarakat petani di wilayah-wilayah ping-
giran perkebunan, terutama di wilayah rawan
konflik pertanahan. Perkebunan dianggap men-
jadi musuh bersama petani.
19
Meluasnya gerakan pendudukan lahan di
Deli Serdang berpengaruh terhadap psikologis
petani Persil. Kelompok tani di Kecamatan
Patumbak yang terletak tidak jauh dari wilayah
Persil dianggap telah berhasil mendapatkan tanah
mereka kembali. Pembabatan tanaman yang me-
reka lakukan mengakibatkan terhentinya ke-
giatan produksi perusahaan perkebunan. Isu-isu
tentang reformasi dan pelanggaran HAM mem-
persempit PTPN untuk melakukan represif itas
terhadap gerakan petani. Bahkan seminggu sete-
lah jatuhnya Soeharto, aktif itas penjagaan kea-
manan di lingkungan PTPN II terlihat menurun.
Melihat perkembangan ini, Haji Sulaiman cs
mengajak seluruh petani Persil untuk mendu-
duki lahan pada awal Juni 1998. Seluruh pemilik
lahan beserta para kerabat secara bergelombang
mulai menduduki tanahnya. Di atas lahan itu,
320 hektar tanaman karet yang telah ditanami
sejak tahun 1972 diganti menjadi tanaman kelapa
sawit pada awal tahun 1998 oleh PTPN II. Sebe-
lum kejatuhan Soeharto seluruh areal Persil
19
Soeharto dianggap menjadi musuh bersama seluruh
rakyat Indonesia, perkebunan dianggap menjadi musuh
bersama seluruh petani, Rajali-dusun Tungkusan.
79 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
dengan luas 525 hektar telah diseragamkan men-
jadi perkebunan kelapa sawit. Namun 320 hektar
masih tergolong tanaman kelapa sawit berumur
muda, 205 hektar sisanya merupakan tanaman
kelapa sawit berumur tua. Pendudukan dilaku-
kan di atas lahan 320 hektar tanaman kelapa sawit
muda. Hal ini dilakukan untuk mempermudah
pembabatan terhadap tanaman di atasnya. Mere-
ka menyepakati setiap KK mendapatkan 6 rante
(1 rante: 20 x 20 m) dan selanjutnya ditanami
dengan tanaman palawija.
Haji Sulaiman dan para panandatangan surat
pengaduan Tromol Pos berinisiatif untuk melan-
jutkan dan menindaklanjuti surat jawaban Bupa-
ti Deli Serdang dengan cara mendatangi komisi
A DPRD Deli Serdang. Petani merasa sudah
berhasil mendapatkan tanah mereka kembali.
Namun mereka tetap berkeinginan untuk men-
dapatkan kepastian hukum atas tanah tersebut.
DPRD Deli Serdang merespon laporan petani
dengan mengadakan sebuah pertemuan dengar
pendapat pada tanggal 27 Oktober 1998. Perte-
muan itu dihadiri oleh Kepala Badan Pertanahan
(BPN) tingkat II Deli Serdang, Kepala Adminis-
trasi PTPN II kebun Limau Mungkur, Camat
STM Hilir, Kepala Desa Tadukan Raga, Lau Barus
Baru dan Limau Mungkur serta seluruh petani
pemilik tanah Persil.
Dalam pertemuan tersebut disimpulkan
bahwa lahan Persil IV seluas 525 hektar tidak
termasuk dalam HGU PTPN II kebun Limau
Mungkur. Hal ini berdasarkan sertif ikat HGU
dan hak Konsesi Limau Mungkur Nomor.
02.04.08.05.2.0001 yang dikeluarkan Menteri
Dalam Negeri dengan surat keputusan Nomor.
13/HGU/DA/1975 serta Surat Ukur Nomor.1450/
08/1993.
ADM PTPN II Kebun Limau Mungkur men-
jelaskan bahwa tanah yang dikuasai dan diusahai
oleh PTPN II Kebun Limau Mungkur adalah
seluas 2322 hektar. Namun BPN Tk II Deli Ser-
dang sebagai perwakilan negara yang memiliki
otoritas pertanahan menjelaskan bahwa berda-
sarkan Keputusan Nomor.13/HGU/DA/1975 dan
Surat Ukur Nomor.1450/08/1993, PTPN II Kebun
Limau Mungkur hanya mengantongi ijin HGU
seluas 1400 hektar. Dengan demikian, tanah selu-
as 2322 hektar yang dikuasai oleh PTPN II Kebun
Limau Mungkur terdapat sisanya seluas 922
hektar yang tidak memiliki sertif ikat HGU. Per-
temuan itu semakin memperjelas bahwa di
dalam lahan 922 hektar terdapat tanah petani
Persil IV seluas 525 hektar yang dirampas PTPN
II pada tahun 1972. Sisanya (922-525) 397 hektar
juga diyakini milik petani Persil V yang dirampas
pada tahun 1972.
20
Kepala Desa Tadukan Raga, Limau Mungkur
dan Lau Barus dalam pertemuan itu menge-
luarkan pendapat bahwa tanah seluas 922 hektar
merupakan tanah milik petani Persil IV dan V
yang dirampas PTPN II Kebun Limau Mungkur
pada tahun 1972, selanjutnya para Kepala Desa
menyarankan agar tanah yang dipersengkatakan
segera dikembalikan kepada masyarakat sesuai
dengan bukti-bukti kepemilikan yang dimiliki.
Selain keberhasilan dari kelompok-kelompok
tani lain dalam menduduki lahan, surat-surat
jawaban ataupun rekomendasi dari Asisten Wa-
kil Presiden, Bupati, dan rapat dengar pendapat
juga menjadi faktor-faktor penting meyakinkan
petani untuk terus melakukan perjuangan.
Kemenangan dirasakan sudah di depan mata.
Reformasi dimaknai menjadi suatu kesempatan
untuk mendapatkan keadilan karena terbukanya
akses-akses institusional. Terbukanya akses-akses
instusional, melemahnya kedudukan negara
(Orde Baru) mencirikan suatu bentuk masyara-
kat yang sedang mengalami transisi politik.
Situasi ini memunculkan kecenderungan situasi
perlawanan rakyat di dalamnya dengan karakter
yang lebih terbuka. Segala sesuatu yang dimaknai
sebagai kesempatan akan menciptakan nilai-nilai
20
Notulensi rapat dengar pendapat, 27 Oktober 1998.
80 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
yang selanjutnya dimobilisasi sebagai kekuatan-
kekuatan perubahan social.
21
Petani menggunakan segala bentuk strategi
dalam perjuangannya. Walaupun dalam pendu-
dukan lahan yang mereka lakukan tidak menga-
lami represif itas dari pihak-pihak perkebunan,
namun mereka tetap menempuh perjuangan
dengan cara-cara yang disebut sebagai jalur legal
dan ekstra legal. Dua bentuk perjuangan ini mere-
ka gunakan untuk memenangkan dua wilayah
yang cukup berbeda, hukum dan non hukum.
Bagi mereka keputusan hukum akan mele-
gitimasi secara permanen terhadap kepemilikan
tanah sekaligus untuk memudahkan bentuk-
bentuk kegiatan transaksional, seperti pembagian
warisan ataupun jual beli jika tanah telah dikuasai
secara penuh. Kepemilikan tanah Persil IV yang
tidak bersifat komunal menjadi faktor penting
terbentuknya perjuangan yang masih memper-
cayai kemenangan hukum formal. Berbeda
dengan karakter perjuangan masyarakat berciri-
kan kepemilikan tanah komunal, yang biasanya
tidak mengadopsi perjuangan-perjuangan legal
ketika berhadapan dengan kekuasaan negara
karena di dalam masyarakat tersebut pada
umumnya tanah bersifat kepemilikan kolektif
dan sosial sehingga tidak dibenarkan untuk di
transaksikan dalam kegiatan-kegiatan komersial.
Pada tanggal 24 Maret 1999, BPN Tk II Deli
Serdang mengeluarkan surat keputusan dengan
Nomor.410.874/P3/1999 yang berisikan penje-
lasan bahwa tanah Persil IV yang dituntut oleh
petani adalah di luar HGU PTPN II kebun Limau
Mungkur. Setelah keputusan BPN ini dikelu-
arkan, petani mengajukan surat permohonan
kepada Camat STM Hilir untuk menindaklanjuti
dengan menuntut dibuatnya surat keterangan
Camat agar legitimasi atas kepemilikan tanah
tersebut menjadi semakin kuat.
2. Menempuh Perjuangan Legal:
Menang di Atas Kertas
Keputusan-keputusan lembaga negara sudah
dianggap berpihak kepada petani. Namun PTPN
II kebun Limau Mungkur tetap tidak mengelu-
arkan keputusan untuk menyerahkan tanah
persil kepada petani. Petani menyepakati untuk
menempuh jalur legal, menggugat PTPN II di
lembaga peradilan. Petani berkeyakinan dengan
bukti-bukti kepemilikan serta keputusan-ke-
putusan politik yang sudah di dapatkan akan
memenangkan gugatan yang mereka ajukan.
Petani Persil IV mengajak Petani Persil V untuk
bergabung melakukan gugatan perdata terhadap
PTPN II.
Untuk menuntut PTPN II di lembaga pera-
dilan bisa dilakukan dengan gugatan pero-
rangan. Namun petani memilih untuk menuntut
secara berkelompok. Atas kesepakatan itu, petani
Persil IV dan V menggunakan sebuah organisasi
koperasi milik petani Persil V yang bernama
Koperasi Juma Tombak untuk menuntut PTPN
II di lembaga peradilan. Aliansi ini bermula pada
satu pandangan untuk memudahkan keme-
nangan secara bersama, selain itu karena letak
kedua lahan (Persil IV dan V) sama-sama berada
dalam kawasan PTPN II kebun Limau Mungkur.
Mereka membentuk satu kepengurusan perju-
angan bersama. Petani Persil IV memilih perwa-
kilan-perwakilannya untuk di susun menjadi
kepengurusan kolektif dengan perwakilan-
perwakilan Petani Persil V. Haji Sulaiman dan
para penandatangan Tromol Pos terpilih menjadi
perwakilan dari Persil IV. Sementara di Persil V,
Supandi, seorang petani yang juga menjabat seba-
gai Kepala Desa Lau Barus Baru terpilih menjadi
salah perwakilan dari beberapa orang yang ter-
pilih. Kepengurusan kolektif bertanggung jawab
memimpin perjuangan di jalur legal (peradilan)
serta wajib mendistribusikan segala bentuk
perkembangan informasi kepada seluruh petani
21
Doug McAdam, Sidney Tarrow dan Charles Tilly,
Dynamics of Contention. New York: Cambridge Univer-
sity Press, 2001.
81 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
terkait perjuangan yang di tempuh melalui jalur
legal.
Pada tahun 1999, petani menggugat PTPN II
kebun Limau Mungkur di Pengadilan Negeri
Lubuk Pakam. Putusan Pengadilan Negeri
Lubuk Pakam dengan Nomor.61/Pdt.G/1999
mengabulkan tuntutan petani. PTPN II diwa-
jibkan membayar ganti rugi material 74 Milyar
rupiah dan diharuskan untuk mengembalikan
tanah seluas 922 hektar kepada petani. Putusan
pengadilan ini meningkatkan kepercayaan diri
mereka untuk tetap menduduki lahan. Aktif itas
produksi perkebunan PTPN II lumpuh total.
Tingkat keamanan di wilayah administrasi
kebun Limau Mungkur tidak berjalan normal,
kegiatan pemanenan kelapa sawit oleh PTPN II
di atas areal 205 hektar kelapa sawit tua Persil IV
terhenti setelah putusan Pengadilan Negeri
Lubuk Pakam mengabulkan tuntutan petani.
Dalam menjalani proses persidangan di
lembaga peradilan, petani hanya mengandalkan
sumber keuangan yang didapatkan dari iuran
wajib. Keuangan di kelola untuk membayar
sejumlah biaya administrasi persidangan dan
honor pengacara. Kegiatan pertanian di atas areal
320 hektar yang telah mereka kuasai tidak
mencukupi biaya-biaya operasional yang dibu-
tuhkan selama proses persidangan. Melihat
perkembangan situasi keamanan PTPN II di atas
areal 205 hektar yang semakin lumpuh total,
petani menyepakati untuk memanen kelapa
sawit sebagai sumber keuangan perjuangan.
Sejak itu, petani mendapatkan sumber-sumber
logistik yang cukup besar. Pemanenan kelapa
sawit di lakukan 2 kali dalam satu bulan.
Mendapatkan putusan kekalahan di tingkat
Pengadilan Negeri, PTPN II menempuh upaya
hukum banding di tingkat pengadilan Tinggi
yang berkedudukan di Kota Medan. Langkah
ini ditempuh PTPN II bertujuan untuk menga-
lahkan gugatan yang diajukan petani sekaligus
menggugurkan putusan Pengadilan Negeri
Lubuk Pakam. Namun pada tahun 2000, Penga-
dilan Tinggi Sumatera Utara memutuskan
perkara tersebut dengan Nomor.230/Pdt/2000
menolak pengajuan banding PTPN II. Majelis
Hakim Pengadilan Tinggi memutuskan tanah
seluas 922 hektar harus dikembalikan kepada
pihak penggugat (petani) dan PTPN II diwajib-
kan untuk membayar ganti rugi material 49
Milyar rupiah kepada petani.
Kemenangan ini dirayakan petani dengan
memagar seluruh areal PTPN II kebun Limau
Mungkur, khususnya wilayah Persil IV dan V.
Pemagaran ini dimaksudkan untuk melumpuh-
kan secara total aktif itas produksi PTPN II.
Perlawanan semakin luas dan terbuka. Pema-
garan dan pendirian plank-plank yang bertulis-
kan tanah ini milik rakyat di lakukan secara
serentak.
Setelah 2 kali mendapatkan kekalahan di lem-
baga peradilan, PTPN II pada tahun 2001 meng-
gunakan pihak ketiga, yaitu preman-preman
bayaran pimpinan Anto Keling untuk mengin-
timidasi kegiatan pendudukan lahan yang
sedang dilakukan petani. Anto Keling adalah seo-
rang pengusaha perkebunan swasta dan me-
mimpin salah satu organisasi kepemudaan di
Deli Serdang.
22
Intimidasi tersebut berlanjut
dengan pembabatan seluruh tanaman milik
petani di atas lahan 320 hektar dan berujung pada
sebuah bentrokan. Bentrokan mengakibatkan
seorang petani Persil IV (Rajali) menjadi korban
karena terkena bacokan senjata tajam berjenis
pedang.
23
Saya masih ingat peristiwa tersebut, di saat kami
dua kali dimenangkan oleh pengadilan, PTPN II
mendatangkan preman bersenjata dalam jumlah
22
Wawancara dengan Bang Esron (Informan), dusun
Limau Mungkur, 23 April 2012.
23
Rajali merupakan salah seorang petani yang berasal
dari dusun Tungkusan. Ia menjadi korban dalam bentrokan
yang terjadi pada tahun 2001 dan mengalami cacat permanen
hingga kini.
82 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
besar. Hampir seratus orang kira-kira jumlah
mereka. Kami tahu mereka akan datang ke lahan
kami, kemudian kami bersiap untuk menghadapi
mereka. Namun mereka sepertinya lebih ahli dalam
menggunakan senjata, seperti pasukan terlatih. Saya
tersungkur, bahkan saya kira sudah mati. Namun
saya masih hidup setelah satu bulan dirawat di rumah
sakit, tapi ya begini dengan kondisi banyak besi/
pen di tangan saya. Rajali-dusun Tungkusan.
Sebagian besar sumber keuangan/kas orga-
nisasi petani digunakan untuk biaya pengobatan
Rajali di rumah sakit. Di sisi lain pasca bentrokan
tersebut, lahan Persil IV seluruhnya dikuasai
oleh Anto Keling cs, dan lahan 320 hektar yang
telah dibabat oleh petani kembali ditanami kelapa
sawit oleh PTPN II. Sumber-sumber keuangan
yang biasanya di dapatkan dari pemanenan
kelapa sawit di atas lahan 205 hektar tidak lagi
berjalan. Anto Keling cs digunakan PTPN II
untuk melakukan penjagaan keamanan pena-
naman lahan 320 hektar dan pemanenan kelapa
sawit di areal 205 hektar.
Setelah menguasai lahan Persil IV, PTPN II
memberi kuasa kepada pihak Anto Keling cs
untuk melakukan pemanenan di areal Persil V.
Menurut salah seorang warga dusun Limau
Mungkur, Esron Ginting, mengatakan bahwa
pemberian kuasa tersebut adalah suatu tindakan
cacat hukum karena penggugat (petani) dan
tergugat (PTPN II) dalam proses berperkara tidak
berhak memberi kuasa kepada siapapun sebelum
adanya keputusan hukum tetap (eksekusi). Ia
menambahkan pemberian kuasa itu selain
merupakan tindakan cacat hukum juga sebagai
salah satu usaha PTPN II untuk mendorong kon-
flik horizontal.
Setelah berhasil menguasai lahan Persil IV
dan V melalui pihak ketiga, PTPN II mengajukan
upaya hukum Kasasi di tingkat Mahkamah
Agung. Upaya ini ditempuh PTPN II melalui ku-
asa hukumnya, Posman Nababan, SH, untuk
membatalkan putusan hukum Pengadilan Ting-
gi Sumatera Utara. Putusan Mahkamah Agung
pada tahun 2004 dengan Nomor. 1611.K/Pdt/
2004 menolak permohonan kasasi yang diajukan
PTPN II. Persidangan yang dipimpin oleh Abdul
Rahman Saleh, SH, MH tersebut memutuskan
bahwa PTPN II harus mengembalikan tanah
seluas 922 hektar dan membayar ganti rugi ma-
terial 49 Milyar kepada petani.
Setelah keluarnya putusan Mahkamah Agung
yang menolak permohonan Kasasi PTPN II
sekaligus mempertegas secara hukum keme-
nangan terhadap petani, PN Lubuk Pakam mem-
buat penetapan eksekusi dengan Nomor.14/Eks/
2004/61/Pdt/99 PN-LP. Penetapan eksekusi itu
mewajibkan PTPN II untuk menyerahkan tanah
seluas 922 hektar dan membayar ganti rugi ma-
terial 49 milyar rupiah kepada petani selambat-
lambatnya 8 hari sejak penetapan itu dikeluar-
kan.
Walaupun petani tidak lagi menduduki lahan
sejak peristiwa penyerangan kelompok Anto
Keling Cs pada tahun 2001, namun petani tetap
melakukan gugatan hukum terhadap PTPN II.
Kemenangan atas gugatan dari Pengadilan Nege-
ri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung
menjadi cukup bukti bagi petani untuk melaku-
kan pendudukan lahan kembali. Penetapan
eksekusi yang dikeluarkan oleh Pengadilan
Negeri Lubuk Pakam itu dianggap sebagai sum-
ber kekuatan hukum tetap.
Organisasi perjuangan petani Juma Tombak
mengkonsolidasikan seluruh petani untuk
turun ke lahan saat eksekusi dilakukan.
24
Na-
mun saat eksekusi akan dilakukan, pihak PTPN
II tetap menempatkan pihak ketiga (Anto Keling
cs) menjaga keamanan areal lahan perkebunan.
Eksekusi dibatalkan karena PTPN II menyatakan
telah mengajukan permohonon Peninjauan
Kembali (PK) atas putusan Kasasi di Mahkamah
Agung. Dengan dalih itu, PTPN II menyatakan
24
Turun ke lahan adalah istilah yang diartikan oleh
petani sebagai tindakan turun ke lahan.
83 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
putusan Kasasi belum menjadi kekuatan hukum
tetap.
Upaya permohonan PK yang diajukan PTPN
II dikabulkan oleh Mahkamah Agung. Hal ini
mengakibatkan putusan Kasasi yang memenang-
kan tuntutan petani secara hukum dianggap
tidak berlaku. Petani menjadi sangat kecewa atas
dikabulkannya PK PTPN II di Mahkamah Agung
karena lembaga tersebut dianggap mengelu-
arkan 2 putusan yang berbeda. PTPN II menya-
takan keberhasilan PK yang mereka ajukan di
Mahkamah Agung bersumber dari adanya salah
seorang pengurus koperasi Juma Tombak yang
berkhianat dengan memberikan kesaksian kepa-
da PTPN II bahwa ia tidak pernah ikut memberi
tanda tangan dalam pendirian koperasi Juma
Tombak. Kesaksian tersebut menjadi materi
dikabulkannya PK PTPN II di Mahkamah
Agung. Keterangan PTPN II itu tidak dipercayai
oleh petani dan dianggap hanya sebuah rekayasa
untuk memecah belah perjuangan. Namun
petani Persil IV secara perlahan mulai memper-
cayai keterangan PTPN II terkait penghianatan
tersebut. Hal ini disebabkan salah seorang
pengurus Koperasi Juma Tombak yang berasal
dari Persil V dicurigai telah mendapatkan sejum-
lah uang dari PTPN II dengan pembuktian or-
ang tersebut menjadi kaya mendadak. Terjadi
perpecahan di tubuh organisasi perjuangan peta-
ni Persil IV dan V. Petani Persil IV memilih untuk
memisahkan diri dari Petani Persil V, Haji Sulai-
man cs bersepakat mengeluarkan diri dari orga-
nisasi perjuangan Koperasi Juma Tombak.
Selama 8 tahun (1996-2004), petani telah
melakukan perjuangan dengan cara-cara yang
mereka yakini. Perjuangan dipilih dengan 2 cara
yang berbeda dalam waktu yang bersamaan,
perjuangan legal dan ekstra legal. Perjuangan
legal yang semula diyakini berhasil untuk
mengembalikan tanah berakhir dengan ketidak-
pastian. Perjuangan ekstra legal (reclaiming)
dihadapkan dengan intimidasi-intimidasi dari
pihak PTPN II.
Era transisi politik (reformasi) yang dimaknai
petani sebagai era keterbukaan, melahirkan pelu-
ang dan kesempatan yang selanjutnya dimobi-
lisasi menjadi kekuatan-kekuatan untuk meraih
kemenangan. Putusan-putusan pengadilan di
anggap sebagai sumber daya eksternal yang bisa
dimanfaatkan untuk membangun perlawanan
dengan cara-cara yang lebih terbuka. Menurut
McAdam, mobilisasi kekuatan-kekuatan ekster-
nal akan terus berubah seiring dengan situasi
politik yang berpihak kepada para aktor (petani)
atau sebaliknya. Pertikaian dan perlawanan akan
semakin meningkat ketika situasi kehidupan
sehari-hari semakin menekan dan melampaui
batas toleransi petani. Namun ketika para petani
kembali dihadapkan pada situasi yang tidak
menguntungkan dan sumber-sumber kekuatan
eksternal melemah, petani akan kembali memilih
strategi-strategi perlawanan lain. Kemenangan-
kemenangan petani di ranah hukum formal (le-
gal) tidak berbanding lurus dengan harapan
yang mereka inginkan, sehingga petani menye-
but kemenangan itu dengan istilah menang di
atas kertas.
3. Belajar Dari Keberhasilan Kelompok
Tani Lain
Sejak PTPN II berhasil menguasai kembali
lahan Persil IV dan V pada tahun 2001 dengan
memobilisir preman-preman bayaran pimpinan
Anto Keling cs serta dikabulkannya permohonan
Peninjauan Kembali (PK) PTPN II di Mahkamah
Agung semakin mempersempit ruang gerak
petani untuk menduduki lahan. Petani memilih
untuk tidak menduduki lahan karena penjagaan
keamanan di atas areal Persil IV semakin diper-
ketat dengan penambahan jumlah pasukan ke-
amanan.
Haji Sulaiman, Polin Silalahi, Rajali dan
seluruh petani Persil IV merefleksikan perju-
angan yang selama ini mereka lakukan. Mereka
84 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
merencanakan sebuah pertemuan untuk mem-
bahas persoalan tersebut sekaligus mengundang
kelompok tani Kecamatan Patumbak yang
dianggap telah berhasil secara penuh menda-
patkan tanah perjuangan. Dalam pertemuan
tersebut, delegasi kelompok tani Patumbak
mengatakan:
Perjuangan di meja pengadilan memang sering
dimenangkan oleh petani, tetapi petani tetap tidak
bisa menguasai lahannya secara penuh. PTPN II
selalu menggunakan preman yang dibayar dari sawit
yang ada di atasnya. Maka cara yang tepat adalah
membunuh kelapa sawit itu. Jika kelapa sawit itu
tidak lagi ada maka PTPN II tidak lagi bisa membayar
preman. Dengan cara itulah kami berhasil men-
duduki lahan kami.
Pernyataan delegasi kelompok tani Patumbak
dalam pertemuan itu menjadi sebuah materi ref-
leksi perjuangan petani Persil IV. Dari pernyataan
itu, petani baru menyadari areal 205 hektar
tanaman kelapa sawit tua di lahan Persil IV
menjadi sumber keuangan utama untuk meno-
pang pembiayaan operasional PTPN II dalam
membiayai para preman. Pertemuan refleksi
menyimpulan bahwa tanaman kelapa sawit tua
di areal 205 hektar harus dimusnahkan.
Untuk memusnahkan tanaman kelapa sawit,
petani Patumbak menyarankan untuk di bor dan
selanjutnya dimasukkan racun rumput. Cara lain
untuk memusnahkan tanaman kelapa sawit juga
bisa di lakukan dengan membakar, namun cara
tersebut mengundang resiko yang cukup besar
berupa penangkapan dari petugas keamanan
PTPN II terhadap petani. Satu botol racun rum-
put volume 1 liter dapat digunakan untuk me-
musnahkan 10 tanaman kelapa sawit. Di dalam
areal 1 hektar, tanaman kelapa sawit berjumlah
110 batang, maka di areal 205 hektar terdapat
22.550 batang tanaman kelapa sawit yang akan
dimusnahkan.
Petani mulai menghitung biaya produksi
pemusnahan 22.550 batang tanaman kelapa
sawit. Dibutuhkan biaya sekitar 90 juta rupiah
untuk membeli 2.225 botol racun. Petani menda-
patkan kesulitan untuk menutupi biaya yang
dibutuhkan. Menghadapi kesulitan-kesulitan
itu, dibentuklah satu kelompok khusus yang
merekrut sebagian kelompok pemuda untuk
mencuri kelapa sawit tua sebagai sumber keu-
angan pembelian racun. Pencurian di lakukan
pada malam hari, di saat petugas keamanan dan
preman bayaran PTPN II lengah dalam penja-
gaan. Petani dengan prinsip kehati-hatian secara
diam-diam melakukan pencurian lewat sistem
kordinasi yang hanya dimengerti oleh mereka
sendiri.
Kegiatan ini tidak berlangsung lama setelah
diketahui hasil produksi pemanenan mulai
menurun. PTPN II meningkatkan penjagaan
areal 205 hektar dengan sistem 24 jam. Pasca
peningkatan penjagaan keamanan ini, petani
tidak hanya terhenti untuk melakukan kegiatan
pencurian tetapi juga menghentikan operasi
pemusnahan tanaman kelapa sawit.
4. Menjadi Buruh Industri, Kehadiran
Mahasiswa dan Meluasnya Solidaritas
Gagalnya operasi pemusnahan kelapa sawit
pada tahun 2004, berakibat pada terhentinya
segala bentuk rencana kegiatan pendudukan.
Intimidasi secara terang-terangan oleh preman
PTPN II bahkan tidak hanya terjadi di areal per-
kebunan, meluas hingga perkampungan warga.
Di sela-sela waktu luang penjagaan, preman-pre-
man bayaran memasuki perkampungan warga
menenteng senjata tajam. Perilaku teror sengaja
dilakukan untuk mempersempit dan mengisolasi
kekuatan-kekuatan perlawanan petani. Selain itu,
pada awal tahun 2005, PTPN II mencoba mela-
kukan perekrutan terhadap pemuda-pemuda
Persil untuk bekerja sebagai petugas keamanan
di bawah kendali preman-preman PTPN II.
Petani memilih tiarap, tidak melakukan per-
lawanan-perlawanan terbuka sekaligus menolak
85 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
tawaran-tawaran bekerja sebagai petugas ke-
amanan di lingkungan perkebunan. Perekono-
mian rumah tangga petani menurun drastis,
petani yang berumur tua rata-rata mengandalkan
pendapatan rumah tangga dari bekerja menjadi
buruh upahan ataupun berdagang keliling di
sekitar desa. Pemuda-pemuda desa lulusan
Sekolah Menengah Atas sebagian besarnya terse-
rap menjadi buruh-buruh industri di Kawasan
Industri Medan Star (KIM) Tanjung Morawa
yang terletak tidak jauh dari wilayah Persil.
Kawasan Industri terbesar di Propinsi Sumatera
Utara yang dibangun di awal tahun 2000 itu
menyerap lebih dari 456 pemuda di dusun-dusun
Persil. Mobilisasi profesi secara besar-besaran
pemuda Persil menjadi buruh Industri di KIM
Tanjung Morawa mendorong perubahan kom-
posisi kependudukan masyarakat Persil.
Menurut catatan statistik Desa Tadukan Raga,
Limau Mungkur dan Lau Barus Baru, pada tahun
2005 jumlah penduduk berusia 19-35 tahun, lebih
dari setengahnya bekerja di KIM Tanjung Mora-
wa. Kehadiran KIM Tanjung Morawa berdam-
pak pada mobilisasi besar-besaran penduduk
yang berprofesi sebagai buruh perkebunan, kuli
bangunan dan jasa menjadi buruh industri di
KIM Tanjung Morawa.
Selain bekerja, sebagian buruh mulai terlibat
dalam kegiatan-kegiatan politik di serikat buruh.
Kegiatan-kegiatan politik di serikat buruh yang
mereka pilih mendorong lahirnya kesadaran
politik baru atas persoalan-persoalan yang diha-
dapi dan berdampak pada munculnya kesadaran
untuk berorganisasi pada pemuda-pemuda
Persil. Situasi ini berlanjut pada penalaran sikap
kritis terhadap kasus Persil IV yang dihadapi oleh
sebagain besar orang tua mereka. Proses tersebut
berkembang menjadi terciptanya kesadaran kelas
yang menuntut mereka membangun jaringan-
jaringan gerakan sosial yang dianggap akan
menguatkan perlawanan Persil IV.
Awalnya kami tidak tahu cara-cara berorganisasi
dengan baik. Setelah kami bekerja sebagai buruh
industri di Tanjung Morawa selanjutnya kami belajar
tentang berorganisasi dan terlibat dalam serikat-
serikat buruh. Teori-teori tentang gerakan sosial
kami pelajari pelan-pelan dan menjadi sadar terhadap
penindasan yang terjadi. Hal inilah yang mendorong
kami untuk membangun jaringan-jaringan gerakan,
khususnya gerakan mahasiswa, karena gerakan maha-
siwa kami anggap sangat berpengaruh terhadap
perubahan sosial-Agus, pemuda dusun Tungkusan.
Salah seorang pemuda, Agus (Menantu Haji
Sulaiman), mencoba menemui salah satu orga-
nisasi mahasiswa bernama Forum Mahasiswa
Anti Penindasan (FORMADAS) di Kota Medan
dari sebuah informasi yang didapatkan dari salah
satu kerabatnya.
25
Menurut kerabatnya, orga-
nisasi yang akan ditemui adalah organisasi maha-
siswa independen yang sering terlibat dalam
kegiatan-kegiatan advokasi rakyat pinggiran.
Pertemuan melahirkan sebuah kesepakatan
bahwa mahasiswa akan melakukan investigasi
dan pendataan terhadap kasus Persil IV yang akan
dimulai pada pertengahan Juni 2007. Sebulan
setelah itu FORMADAS memutuskan untuk
mengirim 8 orang mahasiswa untuk terlibat
dalam perjuangan petani dengan metode live in
(tinggal menetap).
26
Metode ini merupakan meto-
de pengorganisiran yang sering mereka gunakan
untuk membangun dan menguatkan gerakan
petani. Setiap dusun, FORMADAS menempat-
kan 2 orang mahasiswa tinggal bersama petani.
Kehadiran mahasiswa membawa dampak
perubahan terhadap semangat perlawanan peta-
ni yang telah melemah. Petani mulai agresif
25
FORMADAS adalah sebuah organisasi mahasiswa
independent yang berdiri pada tahun 2000 di kota Medan.
Organisasi ini mempunyai kepengurusan di 4 Universitas
dan aktif dalam kegiatan-kegiatan advokasi dan pengorga-
nisiran di sektor mahasiswa dan petani.
26
Wawancara dengan Juson Jusri Simbolon, salah
seorang pendiri FORMADAS dan 1 dari 8 orang mahasiswa
yang ikut live in di dusun Tungkusan sejak bulan Agustus
2006.
86 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
melakukan pertemuan-pertemuan terkait per-
masalahan perjuangan mereka yang berhenti
sejak dikuasainya lahan Persil oleh preman-pre-
man PTPN II. Pada tanggal 26 Agustus 2007,
sebuah pertemuan Akbar bertema Tanah Untuk
Rakyat dilaksanakan di dusun Tungkusan.
27
Seluruh pemilik tanah dan ahli waris menghadiri
acara tersebut. Pertemuan akbar menghasilkan
kesepakatan-kesepakatan untuk memulai kem-
bali perjuangan dengan menata ulang sistem
organisasi yang selama ini dianggap bersifat
sentralistik. Perombakan organisasi dilakukan
dengan mendirikan badan-badan otonom di
setiap dusun. Tiap-tiap dusun memiliki 5 orang
perwakilan yang akan disusun menjadi kepengu-
rusan bersama dengan perwakilan dusun-dusun
lainnya. Perombakan diharapkan meminimalisir
ketergantungan perjuangan terhadap sekelom-
pok orang.
Setelah terpilihnya 5 orang perwakilan setiap
dusun, dibentuk sebuah organisasi perjuangan
baru yang bernama Gerakan Petani Persil IV
(GTP-IV). Isu perjuangan petani diperluas dalam
diskusi-diskusi dan kegiatan politik di Kota
Medan yang digagas oleh FORMADAS dengan
menyertakan pengurus GTP-IV sebagai nara
sumber. Kegiatan-kegiatan ini memperluas
jaringan solidaritas terhadap perjuangan petani
Persil IV. Satu bulan setelah FORMADAS terlibat
dalam perjuangan petani, FORMADAS memben-
tuk satu aliansi yang bernama SMAPUR (Soli-
daritas Mahasiswa Untuk Perjuangan Rakyat).
Aliansi didirikan untuk memperluas solidaritas
perjuangan petani di tingkat mahasiswa yang
berkedudukan di Kota Medan. Aliansi ini terdiri
dari 6 organisasi mahasiwa di 4 kampus yang
berbeda.
28
5. Tanah Milik Petani, Kelapa Sawit
Milik PTPN II
Keterlibatan mahasiwa dalam perjuangan
petani berdampak pada berubahnya sistem ke-
amanan perkebunan PTPN II kebun Limau
Mungkur. Hal itu bermula ketika petani dan
mahasiswa melakukan sebuah aksi demonstrasi
pada tanggal 10 September 2007. Aksi turun ke
jalan ini merupakan demonstrasi pertama petani
sepanjang sejarah perjuangan yang mereka
lakukan. Petani menggeruduk Kantor DPRD,
Gubernur, dan Kepolisian Daerah Sumatera
Utara dengan menuntut pembentukan segera
tim penyelesaian tanah rakyat Persil IV dan peng-
hentian segala bentuk intimidasi serta kekerasan
terhadap petani. Aksi itu menghasilkan kepu-
tusan akan dilaksanakannya pertemuan dengar
pendapat antara pihak-pihak terkait yang akan
difasilitasi oleh Komisi A DPRD Sumatera Utara
pada tanggal 24 Oktober 2007.
Rapat dengar pendapat yang dilaksanakan
pada tanggal 24 Oktober 2007 menyepakati
untuk membentuk tim bersama penyelesaian
kasus tanah Persil IV. Namun karena lambatnya
proses pembentukan tim bersama, mahasiswa
dan beberapa utusan petani kembali menggelar
demonstrasi pada tanggal 1 November 2007 di
Kantor Gubernur Sumatera Utara.
Pada tanggal 10 Desember 2007, petani me-
manfaatkan hari Hak Azasi Manusia (HAM)
sebagai momentum untuk mengkampanyekan
persoalan kasus perampasan tanah dan pelang-
garan HAM yang terjadi. Mereka menggeruduk
kembali kantor DPRD Sumatera Utara. Aksi
demontrasi berujung pada sebuah bentrokan
yang mengakibatkan penangkapan terhadap 2
orang mahasiswa. Bentrokan dalam aksi
27
Arsip FORMADAS
28
SMAPUR didirikan setelah satu bulan
FORMADAS terlibat dalam perjuangan petani Persil IV.
SMAPUR menjadi organisasi aliansi dari beberapa
organisasi mahasiwa yang tersebar di beberapa kampus
(Institut Teknologi Medan, Universitas Islam Sumatera
Utara, Universitas Sumatera Utara dan Sekolah Tinggi Ilmu
Komunikasi) dan menjadi lembaga yang berfungsi untuk
memperluas kampanye solidaritas perjuangan petani.
87 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
demonstrasi itu mendorong terbentuknya opini
di media-media publik (koran dan televisi) ter-
hadap isu-isu seputar kasus Persil IV, khususnya
isu keterlibatan preman-preman bayaran PTPN
II.
29
Pemberitaan media publik tentang keterli-
batan preman-preman bayaran di areal petani
secara politis mempersempit PTPN II menerus-
kan sistem keamanan yang berbasis preman.
Menghindari tekanan-tekanan politis terhadap
penggunaan preman di areal petani, PTPN II
menggunakan isu tanah milik petani, tanaman
milik negara. Isu ini memberikan legitimasi
PTPN II sebagai Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) untuk menggunakan aparat Kepolisian
dalam sistem keamanan perkebunan PTPN II.
Jika areal lahan yang diklaim PTPN II tidak memiliki
HGU, maka tanaman kelapa sawit di atasnya
bukanlah aset negara. Walaupun penanaman kelapa
sawit tersebut dilakukan oleh PTPN II namun harus
diketahui bahwa tanah dibawahnya merupakan
tanah rakyat. Seharusnya PTPN II lah yang harus
membayar ganti rugi terhadap petani karena telah
mencaplok tanah Persil IV sejak tahun 1972. Klaim
PTPN II yang menyatakan tanaman kelapa sawit di
atas lahan Persil IV sebagai aset negara merupakan
klaim yang tidak beralaskan hukum, bahkan sebuah
rekayasa yang hanya untuk menjadikan kelapa sawit
di atasnya menjadi bisnis korupsi antara PTPN II
dan aparat keamanan. Kasus seperti ini tidak hanya
terjadi di Persil IV, bahkan banyak ratusan kasus
yang serupa terjadi di wilayah pinggiran perkebunan
PTPN II Sumatera Utara. Semua ini bermula dari
kebijakan Orde Baru yang dengan secara sengaja
merampas tanah rakyat untuk perkebunan negara
pada awal tahun 1970-an : SMAPUR-Medan.
Gambar 2. Aksi demontrasi petani dan mahasiswa
pada hari HAM pada tanggal 10 Desember 2007
di kantor DPRD SUMUT yang berujung
bentrok. Sumber: foto pribadi
Terusirnya preman-preman dari areal lahan
Persil dianggap oleh petani sebagai sebuah
keberhasilan yang disebabkan hadirnya maha-
siswa di dalam gerakan mereka. Namun di sisi
lain petani dihadapkan pada sebuah kekuatan
baru yang akan menjadi musuh di saat mereka
akan mencoba untuk menduduki lahan, yaitu
satuan petugas keamanan yang berasal dari
aparat Kepolisian.
6. Reklaiming dan Transformasi
Perlawanan
Perubahan sistem keamanan yang berbasis
pada penggunaan aparat Kepolisian semakin
memperuncing penyelesaian pengembalian
tanah kepada petani. Klaim tanaman kelapa
sawit adalah aset negara dirasa tidak beralaskan
azas-azas hukum formal yang berlaku karena
klaim kepemilikan tanaman tidak di dasarkan
pada pelekatan ijin HGU. Hukum formal telah
memberikan suatu penjelasan yang kontradiktif
terhadap kasus yang mereka alami. Pembuktian
terhadap kepemilikan tanah petani melalui
keputusan-keputusan institusi negara seperti
yang telah disebutkan di atas berupa putusan
pengadilan ataupun lembaga yang berwenang
atas otoritas pertanahan tidak mewujudkan
keadilan bagi petani serta meningkatnya tin-
dakan-tindakan represif aparatus negara
29
Arsip FORMADAS dan Harian Kompas, 11
Desember 2007.
88 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
semakin menimbulkan ketegangan-ketegangan
sosial yang tidak terdamaikan.
Pola-pola perlawanan bergaya legal dengan
menggunakan instrumen negara sebagai kanal-
kanal politik untuk mencapai keadilan telah
menemui jalan buntu. Strategi-strategi bertahan
hidup di tengah krisis subsistensi yang melonjak
telah dirasa melampaui batas toleransi, hal ini
menghadapkan petani pada beberapa pilihan
yang tidak lagi bisa ditawar. Di lain pihak, keme-
nangan-kemenangan kelompok tani lain di seki-
tarnya yang dianggap berhasil menguasai lahan
dengan cara memusnahkan tanaman di atasnya
menjadi sebuah tinjauan reflektif atas pola perju-
angan yang mereka lakukan. Pengalaman yang
demikian mendorong terbentuknya satu keper-
cayaan kolektif untuk menempuh perlawanan
bergaya ekstra legal.
Reklaiming dianggap sebagai cara yang ter-
baik bagi petani untuk mendapatkan tanah
mereka kembali sekaligus dimaknai sebagai
pencarian terhadap hukum petani itu sendiri
ketika hukum negara tidak memberikan ke-
adilan.
30
Bentrokan aksi demonstrasi pada hari
HAM yang berujung pada penangkapan 2 orang
mahasiswa menyulut kemarahan seluruh petani
dan mahasiswa terhadap institusi negara. Situasi
ini memancing pendudukan lahan pada 14 Desem-
ber 2007. Menghadapi gelombang pendudukan
lahan secara massal, PTPN II mengosongkan lahan
persil IV dari penjagaan keamanan. Selain men-
duduki lahan, petani juga mendirikan posko-
posko perjuangan di beberapa sudut areal lahan.
31
Posko-posko perjuangan digunakan sebagai
tempat konsolidasi pendudukan lahan yang
dijaga secara bergantian selama 24 jam. Kaum
perempuan mulai terlibat dalam gerakan pendu-
dukan, sebagian besarnya menggantikan peran
perjuangan suami yang telah meninggal dunia.
Pemusnahan tanaman mulai dilakukan secara
terang-terangan dengan cara membakar dan
meracuni pohon kelapa sawit.
Gambar 3. Petani sedang beristirahat di posko
perjuangan utama selepas pendudukan lahan.
Sumber: foto pribadi
Mahasiswa menggalang solidaritas perju-
angan di 2 lokasi yang berbeda. Sekitar 40-an
mahasiwa ikut dalam gerakan pendudukan itu,
sementara mahasiswa lainnya yang tergabung
dalam SMAPUR menggalang aksi solidaritas
melalui demontrasi jalanan di sekitar wilayah-
wilayah kampus selama berhari-hari. Aksi-aksi
ini difungsikan untuk meningkatkan kampanye
dan propaganda politik sebagai pencegah lahir-
nya black campaign terhadap gerakan pendu-
dukan yang dilakukan petani. Mahasiswa men-
duga PTPN II akan melakukan black campaign
atau kampanye hitam dengan memunculkan
opini-opini di media cetak yang akan menuduh
petani telah melakukan tindakan-tindakan
melawan hukum dan menjarah aset negara.
Tepat pada 16 Desember 2007, sebuah posko
utama yang biasanya dijadikan sebagai tempat
konsolidasi perjuangan petani di dusun Lau
Barus Baru dibakar orang tak dikenal. Peristiwa
itu meningkatkan jumlah massa pendudukan
lahan keesokan harinya. Di lain pihak, PTPN II
30
Wawancara dengan Ramlan.
31
Posko Perjuangan adalah sebuah tempat konsolidasi
yang dibangun petani dengan menggunakan bambu dan
beratap tepas di atas areal lahan Persil IV. Setiap dusun
memiliki posko-posko, namun terdapat satu posko utama
yang difungsikan sebagai tempat pertemuan seluruh unit-
unit dusun.
89 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
memobilisir preman-preman bayaran untuk
merespon gelombang pendudukan lahan yang
semakin membesar. Direktur PTPN II melaku-
kan Kerja Sama Operasional (KSO) dengan
pihak ketiga, yaitu CV. Bintang Meriah yang
dipimpin M. Said Ginting dan Koperasi Kecil
Nuansa Baru, pimpinan Yusron Harahap dalam
sebuah Surat Keputusan No.11.0/X/01/I/2007.
Surat KSO ini telah diajukan pada tanggal 4
Januari 2007, jauh sebelum peristiwa pendu-
dukan dilakukan, namun baru dilaksanakan
setelah peristiwa pendudukan lahan oleh petani
mulai membesar pada 16 Desember 2007.
M. Said Ginting dan Yusron Harahap dalam
surat KSO disebut sebagai pihak yang berhak
untuk memanen kelapa sawit dan menjaga
keamanan di areal PTPN II kebun Limau Mung-
kur. Penggunaan pihak ketiga ini merupakan
strategi PTPN II untuk menghindari tuntutan
secara hukum sekaligus menggeser konf lik
menjadi horizontal (petani versus preman).
Mobilisasi preman-preman bayaran ini diikuti
dengan penambahan pasukan keamanan yang
berasal dari satuan petugas Kepolisian Resort
Deli Serdang.
Kami sangat tahu, bahkan mungkin telah menjadi
rahasia umum bahwa kelapa sawit di atas areal persil
IV seluas 525 hektar bukanlah aset negara karena
tidak ada HGUnya. Nilai hasil panen setiap bulan
dari 525 hektar itu kira-kira mencapai paling sedikit
500 juta rupiah. Uang itulah yang dibagi-bagi antara
PTPN II, polisi dan preman. Mereka menggunakan
tipu muslihat kalau itu dikatakan aset negara. Saya
dan yang lain tidak akan berhenti untuk menruskan
perjuangan yang telah diamanatkan oleh orang tua
kami. Esron Ginting, dusun Limau Mungkur.
Jumlah preman-preman bayaran melebihi
jumlah petani yang melakukan pendudukan
lahan. Dalam situasi yang demikian petani dan
mahasiswa tetap melakukan pendudukan lahan
dengan cara membersihkan rumput-rumput
disekelilingnya tanpa merusak tanaman kelapa
sawit. Petani berdalih bahwa PTPN II pernah
menyatakan tanah adalah milik petani, dengan
itu mereka tetap bisa untuk mempertahankan
dan menduduki lahannya. Jika situasi dianggap
aman dari jangakauan pihak petugas keamanan,
petani secara diam-diam tetap melakukan pera-
cunan tanaman kelapa sawit, tetapi akan kembali
berpura-pura membersihkan rumput-rumput
jika satuan petugas keamanan datang. Strategi
ini untuk menghindari upaya kriminalisasi hu-
kum yang akan dijatuhkan jika petani tertangkap
tangan melakukan perusakan tanaman.
Namun bentuk-bentuk intimidasi yang tersis-
tematis tetap dilakukan PTPN II terhadap petani.
Pengurus-pengurus perjuangan tiap-tiap dusun
secara bergiliran diberikan surat panggilan ke
kantor polisi Resort Deli Serdang. Pemanggilan-
pemanggilan itu dilakukan untuk memberikan
tekanan secara politis dan psikologis agar mereka
merasa takut untuk ikut dalam pendudukan
lahan. Bahkan salah seorang pengurus perju-
angan dusun Batutak yang bernama M. Pasaribu
dijerat dengan hukuman 8 bulan penjara karena
dituduh melakukan pencurian buah kelapa
sawit selama masa meningkatnya gelombang
pendudukan lahan di awal januari 2008.
Saya tidak pernah melakukan pencurian buah kelapa
sawit, justru merekalah yang mencuri sebagian besar
kehidupan saya. Kasus itu direkayasa agar saya bisa
dijebloskan ke dalam penjara-M. Pasaribu, dusun
Batutak.
Menghadapi jumlah satuan petugas ke-
amanan PTPN II dalam jumlah yang tidak seim-
bang, kaum laki-laki mulai berhati-hati dalam
pendudukan lahan. Pendudukan dilakukan
dengan cara bergerombol dan memusat di satu
titik. Sementara kaum perempuan mulai me-
manfaatkan ruang-ruang keagamaan seperti
perwiritan dan ibadah gereja sebagai media
konsolidasi untuk mendiskusikan strategi-stra-
tegi perlawanan yang akan dipilih.
Perusakan portal-portal (penghalang) oleh
preman-preman bayaran PTPN II dan seringnya
90 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
aparat kepolisian melakukan penembakan-
penembakan ke udara di areal lahan pendu-
dukan berdampak pada menurunnya jumlah
petani laki-laki yang menduduki lahan. Kaum
perempuan mengambil alih peran laki-laki untuk
menduduki lahan. Mereka beranggapan strategi
tersebut tidak akan berakhir dengan bentrokan
f isik karena perempuan lebih aman dari penye-
rangan-penyerangan. Anggapan-anggapan
demikian dibuktikan dengan pembuatan bari-
kade untuk menghalangi truk pengangkut buah
kelapa sawit. Supir truk pengangkut buah kelapa
sawit yang merasa takut untuk menabrak barisan
barikade perempuan selanjutnya diambil alih oleh
seorang oknum kepolisian Resort Deli Serdang
yang bernama Bripka. K. Sihite. Peristiwa itu
berujung pada sebuah tragedi tabrakan yang
mengakibatkan 3 orang kaum perempuan men-
jadi korban.
32
Situasi kembali memanas pasca peristiwa
penabrakan kaum perempuan di areal pendu-
dukan lahan. Pada tanggal 14 Januari 2008 petani
dan mahasiswa kembali turun ke jalan meng-
geruduk kantor DPRD Sumatera Utara. Mereka
mendesak pemerintah Provinsi Sumatera Utara
untuk menarik seluruh aparat Kepolisian dan
preman-preman dari lahan sengketa. Situasi pen-
jagaan keamanan di lahan persil IV terlihat
menurun pasca aksi demonstrasi dilakukan.
Petani dan mahasiswa menggunakan strategi
demonstrasi sebagai bentuk kampanye dan pro-
paganda terbuka. Strategi ini bukan merupakan
suatu tujuan untuk mendapatkan perubahan
keadilan karena mereka menyadari jalur-jalur
formal tidak akan menghantarkan pada suatu
jalan kemenangan. Menghadapi tekanan-te-
kanan dan bentuk intimidasi yang diorganisir
dalam milisi-milisi sipil (preman) secara terus
menerus, aksi pendudukan tidak dapat dilaku-
kan secara rutin dan teratur. Di sisi lain petani
juga dihadapkan pada persoalan krisis ekonomi
rumah tangga yang berkepanjangan selama
masa pendudukan. Selanjutnya strategi pendu-
dukan lahan dilakukan secara bergantian oleh
tiap-tiap dusun agar memudahkan mereka untuk
bekerja menutupi sebagian kebutuhan ekonomi
rumah tangga.
Syarial, warga dusun Tungkusan akan bekerja
sebagai pemanjat pohon nira apabila dusunnya
sedang tidak mendapatkan giliran pendudukan
lahan. Sementara, Ramlan, warga dusun Sinem-
bah harus meninggalkan pekerjaannya sebagai
sopir apabila sedang mendapatkan giliran pen-
dudukan lahan.
Melihat perkembangan aksi pendudukan
lahan yang dilakukan petani semakin menurun,
PTPN II justru memobilisasi jumlah penam-
bahan preman. Situasi ini mempersempit petani,
khususnya kaum laki-laki. Pada pertengahan
2008, PTPN II mengalihkan kuasa keamanan
baru kepada pihak ketiga (Lingga).
33
Ini meru-
pakan ketiga kalinya PTPN II kebun Limau
Mungkur memberikan kuasa pemanenan dan
keamanan kepada pihak ketiga. Namun yang
berbeda dari sebelumnya adalah Lingga cs
dianggap lebih intimidatif dan terbuka melaku-
kan teror kepada petani dan mahasiswa, baik laki-
laki maupun perempuan.
Kelompok preman sebelumnya biasanya tidak ter-
lalu berani untuk mengahadapi massa petani perem-
puan apalagi mahasiswa. Namun Lingga cs lebih
beringas dan tidak pandang bulu, baik perempuan
ataupun mahasiwa jika melawan akan disikat-Agus,
dusun Tungkusan.
Jumlah preman terus meningkat, tidak seban-
ding dengan jumlah petani. Jika terus melakukan
pendudukan lahan dengan jumlah yang tidak
seimbang maka kerugian akan akan menimpa
32
Wawancara dengan Informan.
33
Lingga adalah seorang pimpinan di salah satu
organisasi kepemudaan (Pemuda Panca Marga) di Deli
Serdang yang berafiliasi sangat dekat dengan militer.
91 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
mereka. Memasuki Oktober 2008, petani meng-
hentikan aksi pendudukan lahan. Tindakan ini
disebut sebagai strategi tertutup, ditempuh un-
tuk menghindari kerugian-kerugian dalam
bentuk kekerasan f isik dan material. Perlawanan
petani akan terus beradaptasi dengan situasi dan
kondisi yang terjadi di medan politik. Pendu-
dukan lahan dianalogikan sebagai medan politik
perebutan sumber daya (tanah) saat reklaiming
ditempuh sebagai cara untuk memenangkan
pertarungan.
Pengurus-pengurus perjuangan tiap-tiap
dusun dan mahasiwa mencoba menemukan
strategi-strategi baru untuk menghadapi kelom-
pok preman bayaran PTPN II. Mereka merekrut
kerabat-kerabat yang bukan ahli waris tanah
persil IV ataupun warga-warga sekitar desa
untuk terlibat dalam kegiatan pendudukan
lahan. Strategi ini bertujuan untuk menggalang
penambahan jumlah massa menghadapi pre-
man-preman PTPN II yang berjumlah tidak ku-
rang dari 250 orang. Massa yang dihimpun peta-
ni ini disebut sebagai kelompok pendukung.
Strategi perekrutan oleh petani menawarkan
sejumlah tanah kepada kelompok pendukung.
Bagi siapa saja yang mendukung secara aktif
dalam pendudukan lahan maka ia berhak untuk
mendapatkan tanah Persil jika kemenangan
telah didapatkan. Saat itu setiap petani ataupun
ahli waris bersedia memberikan 10 rante dari 2
hektar yang dimiliki tiap-tiap petani kepada
kelompok pendukung. Strategi ini berhasil
merekrut 200 massa dari kelompok pendu-
kung.
Setiap pemilik dan ahli waris memiliki hak kepe-
milikan tanah Persil seluas 2 hektar, kami akan mem-
berikan 10 rante dari 2 hektar yang kami miliki
kepada siapa saja yang mau ikut bergabung dalam
pendudukan lahan. Pemilik tanah Persil ada sekitar
260 orang, namun yang aktif untuk menduduki
lahan hanya sekitar 200 orang karena sisanya harus
bekerja ataupun tidak kuat secara fisik. Namun jika
tiap-tiap pemilik mau memberikan sebagian
tanahnya maka jumlah massa akan bertambah untuk
menduduki lahan. Syahrial-dusun Tungkusan.
Merasa memiliki jumlah massa yang seim-
bang, petani melakukan pendudukan lahan
kembali pada awal Januari 2009. Mereka mem-
bakar dan merusak tanaman kelapa sawit secara
bergelombang hingga Maret 2009. Aksi itu telah
berhasil memusnahkan 90 hektar kelapa sawit
di areal Persil IV dan berdampak pada menurun-
nya jumlah hasil produksi pemanenan pihak
PTPN II. Aksi-aksi ini direspon secara massif oleh
PTPN II dengan menambah jumlah satuan petu-
gas keamanan dari pihak kepolisian dan preman-
preman bayaran. Kelompok pendukung dituduh
sebagai provokator dan perusak aset negara.
Namun isu-isu tersebut tidak berdampak pada
menurunnya jumlah kelompok pendukung
dalam aksi pendudukan lahan karena pemilik
dan ahli waris tanah Persil IV menaikkan jumlah
tawaran pemberian tanah kepada kelompok pen-
dukung hingga 1 hektar.
Ketegangan-ketegangan dalam konflik perta-
nahan yang terjadi di Persil IV kerap berujung
pada bentrokan-bentrokan antara kedua belah
pihak, yakni petani dan PTPN II. Kedua belah
pihak tetap mempertahankan kepentingan
masing-masing. Bagi petani, tanah merupakan
ruang hidup yang harus dipertahankan dan
direbut dari pihak-pihak yang telah mengklaim
secara sepihak atas kepemilikan tanah yang
mereka miliki. Di lain pihak, PTPN II tetap mem-
pertahankan aset tanaman kelapa sawit yang
telah divonis tidak memiliki HGU itu sebagai
lahan bisnis dan korupsi dengan klaim aset
negara tanpa mempertimbangkan dampak
kemiskinan yang timbul olehnya sejak tahun
1972. Selain berdampak pada kerugian materil
dan non materil, aksi pendudukan lahan terse-
but juga berdampak pada penghilangan nyawa
manusia, khususnya petani.
92 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Gambar 4. Preman-preman PTPN II kebun
Limau Mungkur. Sumber: foto pribadi
Pada Akhir Desember 2009, bermula dari
terjadinya pembakaran Posko Perjuangan
Bersama milik petani di atas areal Persil IV yang
dilakukan oleh pihak Lingga cs menyulut kema-
rahan petani untuk menyerang balik tindakan
tersebut. Bentrokan terulang kembali pada tang-
gal 17 April 2010, seorang petani tewas terkena
tusukan benda tajam.
7. Berubahnya Sistem Kepemilikan
Tanah
Terbentuknya kelompok pendukung pada
akhir tahun 2008 telah merubah sistem kepe-
milikan tanah petani. Setiap pemilik ataupun ahli
waris tanah Persil IV yang tiap-tiap individunya
berhak atas tanah seluas 2 hektar telah menge-
luarkan setengahnya kepada orang lain (kelom-
pok pendukung) untuk menambah jumlah
massa dalam aksi pendudukan lahan.
Perlawanan-perlawanan ekstra legal melalui
pendudukan lahan tidak hanya berdampak pada
berubahnya sistem kepercayaan petani terhadap
institusi negara namun juga berdampak pada
berubahnya sistem kepemilikan tanah. Petani
diharuskan untuk melakukan sesuatu ketika
dihadapkan pada suatu kenyataan dalam gera-
kan pendudukan lahan yang mereka lakukan
tidak mempunyai jumlah kekuatan yang seim-
bang menghadapi kekuatan korporasi perke-
bunan. Terbatasnya jumlah aktor (petani) dalam
gerakan pendudukan lahan mendorong lahirnya
perubahan-perubahan dalam sistem perlawanan
yang dilakukan. Kelompok Tani Patumbak yang
memiliki kekuatan massa lebih besar daripada
kekuatan preman-preman PTPN II tidak harus
mengeluarkan sebagian tanahnya untuk mem-
bentuk kelompok pendukung. Namun bagi
petani Persil IV akan mengalami tekanan yang
tidak seimbang jika tidak merekrut ataupun
membentuk kelompok pendukung untuk meng-
hadapi massa kekuatan PTPN II yang lebih besar.
Hal ini disebut sebagai strategi adaptasi dan
transformasi perlawanan petani.
E. Kesimpulan
Perlawanan-perlawanan petani di Indonesia
telah banyak dideskripsikan oleh para akademisi
dengan beberapa model pendekatan teori
sebagai unit analisa, khususnya dalam disiplin
ilmu-ilmu humaniora. Dari beberapa pendekatan
yang ditawarkan telah melahirkan sejumlah
karya akademik yang mengkategorisasikan perla-
wanan-perlawanan petani menjadi sangat bera-
gam. Keragaman itu tidak dapat dipisahkan dari
sudut pandang dan latar belakang paradigma
peneliti dalam menganalisis secara mendalam
terhadap fenomena-fenomena perlawanan peta-
ni sepanjang sejarahnya.
Studi penelitian ini memusatkan pada perla-
wanan petani masa kini dalam menghadapi
korporasi perkebunan. Model perlawanan
Scottian memang masih sangat relevan untuk
menjelaskan fenomena perlawanan petani yang
terjadi di Indonesia pada masa Orde Baru. Petani
di masa itu tidak memilih perlawanan-perla-
wanan yang demonstratif dan terbuka demi
menghindari kerugian-kerugian materil atau-
pun non materil. Namun argumentasi pende-
katan moral ekonomi Scottian yang menyatakan
gerakan petani merupakan sebuah reaksi untuk
mempertahankan institusi tradisional dan
norma-norma resiprositas mereka dari ancaman
kapitalisme menjadi tidak tepat jika melihat
93 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
struktur ekonomi dan sistem kepemilikan tanah
petani Persil IV.
Sistem kepemilikan tanah yang bersifat kepe-
milikan pribadi akan mencirikan suatu tatanan
masyarakat kapitalistik yang telah terlibat dalam
kegiatan-kegiatan transaksional (jual-beli, uang,
perdagangan), dan hal itu akan melemahkan
intitusi-instusi tradisional berfungsi sosial seka-
ligus melenyapkan bentuk-bentuk resiprositas
(pertukaran-barter). Pada umumnya di dalam
suatu masyarakat yang telah menganut sistem
kepemilikan pribadi, segala sesuatu akan dile-
takkan pada azas-azas ekonomi rasional, dengan
pengertian tiap-tiap individu memiliki keinginan
menjadi kaya. Dengan demikian, pada dasar-
nya yang ditolak petani bukan nilai-nilai kapi-
talisme namun perampasan tanah yang dilaku-
kan oleh para kapitalis negara sehingga mereka
kehilangan eksistensi dan sumber kehidupan-
nya.
McAdam, Tarrow, dan Tilly
34
menyatakan
gerakan sosial terbuka cenderung terjadi di
dalam masyarakat transisional. Segala sesuatu
yang dimaknai sebagai kesempatan akan men-
ciptakan nilai-nilai yang selanjutnya dimobilisasi
sebagai kekuatan-kekuatan perubahan sosial.
Seperti yang telah dijelaskan di dalam bab IV tesis
ini bahwa euforia reformasi menyulut keben-
cian-kebencian petani untuk melakukan perla-
wanan-perlawanan terbuka. Seminggu setelah
kejatuhan Soeharto, ribuan petani di pinggiran
perkebunan Deli Serdang menduduki kembali
lahan mereka (reclaiming). Organisasi-organisasi
yang mengatasnamakan kelompok perjuangan
petani muncul secara spontan di beberapa keca-
matan dalam wilayah kabupaten Deli Serdang.
Pendekatan ini masih sangat relevan untuk
menjelaskan perubahan-perubahan strategi
perjuangan petani di era transisi demokrasi.
Perjuangan-perjuangan jalur legal yang pada
mulanya dianggap dapat mengembalikan tanah
petani di era reformasi justru berakhir dengan
kemenangan-kemenangan di atas kertas. Situasi
ini direspon petani dengan memilih strategi per-
juangan ekstra legal melalui tindakan reklaiming
(pendudukan lahan). Lahirnya gerakan ekstra
legal merupakan konsekuensi yang ditimbulkan
akibat gagalnya negara serta menguatnya kon-
tradiksi-kontradiksi hukum formal dalam penye-
lesaian konflik agraria. Hal ini merupakan aspek
terpenting dari tesis ini terhadap perubahan pola-
pola perlawanan petani Persil IV.
Berdasarkan paparan pembahasan yang
dijelaskan pada Bab I hingga Bab IV, studi ini
menarik beberapa kesimpulan terkait strategi-
strategi bertahan hidup dan pola-pola perla-
wanan petani dalam menghadapi korporasi
perkebunan.
Berkaitan dengan bagaimana strategi berta-
han hidup petani setelah kehilangan tanah,
petani melakukan strategi subsistensi keamanan
pangan melalui pendayagunaan lahan yang
tersisa. Petani-petani yang masih memiliki lahan
cadangan bertahan hidup di atas lahan yang ter-
sisa dengan merubah areal lahan cadangan men-
jadi areal pertanian tanaman pangan pokok
(padi), dimana sebelum terjadinya perampasan
oleh PTPN II lahan cadangan hanya diman-
faatkan sebagai areal pertanian tanaman non
pangan pokok. Bagi petani-petani yang tidak
memiliki lahan cadangan berusaha bertahan
hidup dengan menjadi buruh upahan di lahan-
lahan milik warga lain ataupun kuli bangunan
di sekitar desa. Petani melakukan mobilitas pro-
fesi secara horizontal dari petani menjadi buruh
lintas profesi ataupun pekerja sektor informal
untuk menciptakan basis perekonomian uang.
Di sisi lain, juga melakukan penurunan mobilitas
secara vertikal, dari petani pemilik lahan sedang
menjadi petani pemilik lahan kecil.
Selanjutnya berkaitan dengan bagaimana pola
34
Doug McAdam, Sidney Tarrow dan Charles Tilly,
op.cit.
94 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
dan strategi perlawanan petani dalam meng-
hadapi korporasi perkebunan, petani melakukan:
Pertama, petani memilih strategi-strategi per-
lawanan tertutup bergaya Scottian pada masa
Orde Baru dengan melakukan pencurian ta-
naman kelapa sawit berskala kecil secara diam-
diam di atas areal tanah mereka yang telah
diklaim menjadi milik PTPN II. Namun strategi
tersebut berubah seiring hadirnya reformasi,
petani memilih strategi perlawanan terbuka
dengan cara menduduki kembali lahan mereka
(reclaiming). Hal ini juga dipengaruhi oleh laju
pertumbuhan penduduk yang semakin mening-
kat namun tidak berbanding lurus dengan
jumlah luas lahan untuk proses produksi
sehingga berdampak pada bertambahnya jumlah
angka pengangguran sekaligus terciptanya
buruh-buruh non skill (tidak terampil).
Kedua, petani menempuh perjuangan-per-
juangan di jalur legal (pengadilan). Selama
menempuh perjuangan di jalur legal, petani
bertambah percaya diri ketika lembaga-lembaga
peradilan mengabulkan gugatan-gugatan yang
mereka ajukan melawan PTPN II. Namun keme-
nangan berupa putusan-putusan tersebut ber-
akhir dengan kemenangan di atas kertas, secara
de jure mereka berhak atas tanah tetapi secara
de facto penguasaan lahan tidak dapat dilakukan.
Pernyataan PTPN II yang mengakui tanah milik
rakyat tetapi tanaman milik perkebunan sema-
kin menyebabkan kebuntuan-kebuntuan dalam
proses penyelesaian kasus tersebut. Kebuntuan
itu memicu lahirnya sebuah kesadaran untuk
meninggalkan pola-pola perjuangan legal
dengan memilih reklaiming sebagai cara yang
terbaik untuk mengembalikan tanah mereka
kembali. Di lain pihak, keberhasilan kelompok
tani Patumbak dan sekitarnya dalam menguasai
lahan dari pihak PTPN II dengan cara-cara men-
duduki lahan serta membabat seluruh tanaman
di atasnya menjadi faktor-faktor pendukung
strategi perjuangan ekstra legal dilakukan.
Ketiga, petani melakukan strategi aliansi
terbuka. Terbentuknya aliansi-aliansi politik yang
terbangun pasca meleburnya gerakan mahasiswa
dalam perjuangan petani dimaknai oleh petani
sebagai kekuatan-kekuatan pendukung untuk
memobilisasi ulang gerakan perlawanan petani.
Dalam kerangka berpikir seperti itu, munculnya
kembali perlawanan petani dengan pola-pola
ekstra legal melalui reclaiming merupakan suatu
gerakan perlawanan balik (counter-claim) ter-
hadap hegemoni dan kekuasaan negara yang
sebelumnya melakukan klaim secara sepihak ter-
hadap tanah petani. Proses yang demikian dengan
mempertimbangkan perubahan-perubahan pola
perlawanan petani di dalamnya disebut sebagai
peristiwa transformasi perlawanan petani.
Daftar Pustaka
Aditjondro, George. J, 1998. Seminar Konferensi
100 Tahun Perkebunan Kelapa Sawit di In-
donesia.
Agustono, Budi, Muhammad Osmar Tanjung
dan Edy Suhartono, 1997. Badan Perjuangan
Rakyat Penunggu Indonesia VS PTPN II.
Bandung: Akatiga.
Bakumsu, 2011. Tabel Kasus Tanah di SUMUT:
Medan.
Breman, Jan, 1989. The Taming the Coolie Beast:
Plantation Society and The Colonial Order
in Southeast Asia. New Delhi: Oxford Uni-
versity Press.
Eckstein, Susan, 1989. Power and Populer Pro-
test, Latin America Social Movements. Ber-
keley: University of California Press.
Fauzi, Noer, 2012. Land Reform Dari Masa ke
Masa. Yogyakarta: Tanah Air Beta.
Ikhsan, Edy, 2012. Ayam Mati di Dalam Lumbung:
Kepingan Sejarah Kekalahan Orang Melayu
Atas Tanah Adatnya.
Jorgensen, Danny L, 1989. Participant Observa-
tion. A Methodology for Human Studies.
London: Sage Publication.
95 Muhammad Afandi: Perlawanan Ekstra Legal .....: 63-95
Kartodirjo, Sartono dan Joko Suryo, 1989.
Sejarah Perkebunan di Indonesia. Yogya-
karta: Aditya Media.
Khudori, 2004. Neoliberalisme Menumpas Peta-
ni. Yogyakarta: Resist Book.
Kompas, 11 Desember 2007.
Kompas, 14 Desember 2007.
KPA, Konflik Kekerasan Agaria, 2007.
Kuntowijoyo, 2002. Radikalisasi Petani. Yogya-
karta: Yayasan Gentang Budaya.
Larana, Johnston, Gusf ield, 2002. New Social
Movement: from ideology to identity. Temple
University Press.
Lofland, John, 2003. Protes: Studi tentang Peri-
laku Kelompok dan Gerakan Sosial (terj.
Lutfhi Ashari), Yogyakarta: Insist Press.
Li, Tania Murray, 2003. Proses Transformasi
Daerah Pedalaman di Indonesia. Jakarta:
YOI.
Mamay, Sergey. Theories of Social Movements
and Their Surrent Development in Soviet
Society. www.lucy.ukc.ac.uk.
Manalu, Dimpos, 2009. Gerakan Sosial dan Peru-
bahan Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
McAdam, Doug, Sidney Tarrow dan Charles
Tilly, 2001. Dynamics of Contention. New
York: Cambridge University Press.
Mulyanto, Dede, 2011. Antropologi Marx. Ban-
dung: Ultimus.
Mustain, 2007. Petani Versus Negara. Yogyakata:
Arruz Media.
Padmo, Soegijanto, 2007. Landreform dan
Gerakan Protes Petani Klaten. Yogyakarta:
Media Pressindo.
Pelzer, Karl, 2007. Toean Keboen dan Petani.
Jakarta: Sinar Harapan.
____, 1991. Sengketa Agraria. Jakarta: Sinar Ha-
rapan.
Reid, Anthony, 2011. Menuju Sejarah Sumatera.
Jakarta: KITLV dan YOI.
Said, Mohammad, 1977. Suatu Zaman Gelap di
Deli, Koeli kotrak Tempo Doeloe Dengan
Segala Derita Dan Kemarahannya. Medan:
Waspada.
Sawit Watch, Kasus-kasus Perkebunan sawit.
Scott, James C, 1997. Senjatanya Orang-Orang
Yang Kalah. Jakarta: YOI.
____, 1989. Peasant Resistance. New York:
Rmunck Me Sharpe.
Situmorang, Abdul Wahab, 2007. Gerakan So-
sial: Studi Kasus Beberapa Perlawanan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Smelser, Neil J, 2007. Theory of Collective Beha-
vior. New York: The Free Press.
Soetrisno, Lukman, 1997. Kata Pengantar.
Senjatanya Orang-orang Yang Kalah, J.
Scott. Jakarta: YOI.
Spadley, James P, 1997. Metode Etnograf i. Yog-
yakarta: Tiara Wacana.
Stoller, Ann Laura, 2005. Kapitalisme dan
Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera
1870-1979. Yogyakarta: KARSA.
Tarrow, Sidney, 1998. Power in Movement: So-
cial Movement and Contentious Politics,
Cambridge: Cambridge University Press.
Tilly, Charles, 1978. From Mobilization to Revo-
lution. USA: Addison-Wesley Publishing
Company.
____, 1998. Social Movements and (all sors of )
other Political Interactions-Local, National,
and International-Including Identities,
Theory and Society 27: 453-480.
Wolf, Eric, R, 2009. Petani: Suatu Tinjauan Antro-
pologis. Jakarta: Rajawali Press.
____, 2009. Perang Petani. Yogyakarta: Insist
Press.
www.bumn.go.id
www.ptpn2.com
www. suarausu-online.com
www.walhi.or.id
MENJARAH PULAU GAMBUT:
KONFLIK DAN KETEGANGAN DI PULAU PADANG
M. Nazir Salim
*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: The article was saimed at describing the conflicts between the community, peasants at Pulau Padang, Meranti
Islands Regency, and PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). The conflict started from the policy of The Minister of Forestry
which allowed concession of HTI to RAPP at Pulau Padang. The problem was the permission itself as it took not only the area
of farming lands but also the areas of settlement. The other problem was the environment itself. This was a result of RAPP.
Various researches showed that Pulau Padang had thick peat. However, the permission for RAPP was to build industries and
canals needing a lot of water. This would damage the environment whereas the peat ought to be protected. If tis is done, the
serious damage of ecosystem at Pulau Padang will take place.
K KK KKeywor eywor eywor eywor eywords ds ds ds ds: Pulau Padang, RAPP, agrarian conflicts, peasants struggle.
Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Artikel ini mencoba melihat konflik antara warga dan petani Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti dengan PT
RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper). Konflik bermula dari kebijakan Menteri Kehutanan yang memberikan izin konsesi HTI
kepada RAPP di Pulau Padang. Izin itu dipermasalahkan karena luasan wilayahnya yang mengambil lahan warga, bukan saja lahan
pertanian, namun juga pemukiman. Persoalan lain adalah isu lingkungan yang akan menjadi perhatian warga jika RAPP beroperasi
di wilayah tersebut. Berbagai kajian menunjukkan bahwa Pulau Padang merupakan wilayah tanah gambut dengan ketebalan yang
cukup tinggi, sementara izin konsesi RAPP untuk tanaman industri membutuhkan banyak air dan pembangunan kanal-kanal, selain
tentunya tanah gambut dilindungi undang-undang. Jika hal itu dilakukan maka ancaman kekeringan dan kerusakan ekosistem di
Pulau Padang menjadi serius.
Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci: Pulau Padang, RAPP, konflik agraria, dan perjuangan petani.
A. Pengantar
Konflik sumber daya alam di Indonesia khu-
susnya di Sumatera terus mengalami pening-
katan. Beberapa catatan menunjukkan angka
yang terus bertambah, bahkan cenderung meng-
khawatirkan karena satu persoalan belum
terselesaikan kemudian muncul kembali konflik
baru, sehingga dari tahun ke tahun trend-nya
megalami kenaikan. Apa sebenarnya yang men-
jadi inti persoalannya? Banyak pakar melihat
konflik agraria terlalu akut
1
sehingga sulit untuk
diselesaikan dengan sistem parsial yakni dengan
menyelesaikan masing-masing konflik dan per
wilayah. Metode demikian terlalu menghabiskan
energi dan tak akan sebanding antara jumlah
penyelesaian konflik dengan tumbuhnya kon-
flik itu sendiri. Konflik yang terjadi di daerah
mayoritas akibat tumpang tindih lahan dan
aturan,
2
penguasaan sumber agraria yang
*
Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional,
Peneliti Agraria. Penulis mengucapkan terimakasih kepada
Mitra Bestari (Laksmi Savitri) yang memberikan beberapa
kritik dan masukan. Kepada Ahmad Zazali, Direktur Scale
Up, Pekanbaru, Riau yang membantu penulis dengan
mengirimkan data hasil Mediasi di Pulau Padang, dan beliau
menjadi salah satu anggota tim yang dibentuk oleh
Pemerintah..
1
Dianto Bachriadi dan Gunawan Wiradi, 2011. Enam
Dekade Ketimpangan. Jakarta: Bina Desa, ARC, KPA.
2
Gamma Galudra, Gamal Pasya, Martua Sirait, Chip
Fay, (peny.) 2006. Rapid Land Tenure Assessment: Panduan
Ringkas bagi Praktisi. Bogor: World Agroforestry Cen-
tre, hlm 8.
97 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
timpang, pemanfaatan yang tidak adil, distribusi
hasil yang tidak merata, serta policy negara yang
tidak berpihak kepada rakyat. Realitas itu men-
jadi bara api dalam setiap semak-semak perke-
bunan dan hutan-hutan yang ada.
Hasil penelitian yang dipimpin oleh DR.
Prudensius Maring, MA, Prof. DR. Afrizal dkk.
di empat provinsi di Sumatera (Sumatera Se-
latan, Jambi, Riau, dan Sumatera Barat) menun-
jukkan persoalan yang sama, sama dalam
pengertian sepanjang bentangan Pulau Suma-
tera konflik agraria menimpa kelompok yang
sama, tumpang tindih lahan yang sejenis, korban
yang luas, dan peminggiran oleh pelaku usaha
dan negara secara masif. Catatan empat provinsi
itu menunjukkan akar masalah yang hampir
sama, yakni: 1. Tumpang-tindih kebijakan peme-
rintah tentang pengelolaan SDA; 2. Ekspansi
penguasaan lahan untuk kepentingan HTI/HPH
dan perkebunan; 3. Kegagalan pengaturan tata-
ruang secara adil; 4. Ekspansi penguasaan lahan
berbasis adat oleh pemerintah dan perusahaan;
5. Ketidakadilan tatakelola sumberdaya alam oleh
pemerintah dan perusahaan; 6. Kegagalan pem-
bangunan ekonomi berbasis masyarakat.
3
Berkaca dari realitas itu, banyak kritik diaju-
kan kepada berbagai pihak yang bertanggung
jawab tehadap berbagai konflik tersebut. Apa
sebenarnya peran negara dalam konteks itu dan
apa yang telah dan akan dilakukan? Sepanjang
pemahaman yang tersebar secara luas, kesan
yang selama ini muncul adalah membiarkan hal
tersebut, membiarkan masyarakat menemukan
jalan penyelesaiannya. Tentu berbahaya bagi
kondisi kebangsaan saat masyarakat tertimpa
berbagai persoalan sementara negara seolah
membiarkan. Beberapa waktu lalu sempat ber-
kumpul beberapa akademisi, NGO, dan penggiat
studi agraria yang mencoba untuk mendorong
negara berperan lebih serius dalam melihat
persoalan tersebut. Upaya-upaya extra ordinary
menurut para akademisi diperlukan agar bangsa
ini bisa bangkit dari keterpurukan persolan kon-
flik agraria. Salah satu yang dianggap paling
penting adalah mendorong penguatan kinerja
lembaga yang bertanggung jawab terhadap
persoalan-persoalan menyangkut agraria.
Di luar enam akar persoalan di atas, konflik
terus mengalami peningkatan akibat perluasan
lahan yang tidak memperhatikan ekologi, tata
ruang, dan tata wilayah. Pemerintah gagal
mengatur dan menertibkan para pengusaha yang
terus mengajukan izin pembukaan lahan tanpa
mempertimbangkan aturan hukum yang berla-
ku. Bukan rahasia lagi bahwa kong kalikong anta-
ra penguasa dan pengusaha terus berjalan, baik
pada kasus pembukaan lahan perkebunan
4
mau-
pun kehutanan, dan celakanya hukum tidak
mampu menyentuh mereka. Pemerintah sudah
mencanangkan 2013 zero konflik lahan antara
pengusaha dengan masyarakat, akan tetapi upaya
itu tampaknya jauh panggang dari api, sebab
kegiatan hulu yang menjadi persoalan mendasar
masih terus diproduksi, yakni pemberian izin
pengelolaan dan perluasan pembukaan lahan,
baik untuk kepentingan perkebunan maupun
tanaman industri.
Untuk kasus Riau, hal yang sama sebagaima-
na laporan penelitian Prudensius Maring dkk.,
akar konf lik terjadi akibat tumpang tindih
kebijakan, perluasan HTI/HPH, dan kegagalan
negara berlaku adil terhadap semua warganya.
3
DR. Prudensius Maring, MA, Prof. DR. Afrizal,
MA, Jomi Suhendri S., SH, Dr. Ir. Rosyani, M.Si, dkk.
2011. Studi Pemahaman dan Praktik Alternatif
Penyelesaian Sengketa oleh Kelembagaan Mediasi Konflik
Sumberdaya Alam di Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Barat,
dan Sumatera Selatan, (Laporan Penelitian), Pekanbaru:
Scale Up (Kemitraan Pembangunan Sosial Berkelanjutan),
hlm. 65.
4
Anton Lucas dan Carol Warren, 2007. The State,
the People, and Their Mediators: The Struggle Over
Agrarian Law Reform in Post-New Order Indonesia.
Indonesia, Edisi 76.
98 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Pada sisi ini, munculnya konflik berbarengan
dengan munculnya kegagalan penataan ruang,
seperti yang terjadi pada kasus Pulau Padang
(Kabupaten Kepulauan Meranti) antara warga
dengan RAPP (Riang Andalan Pulp and Paper).
Negara tidak cermat menempatkan sebuah wila-
yah dalam izin konsesi HTI tanpa memper-
hatikan tata ruang. Bagaimana mungkin sebuah
wilayah yang puluhan bahkan ratusan tahun
didiami oleh warga dengan begitu saja tidak
dianggap, seolah tidak ada penghuninya. Wajar
apabila kemudian muncul persoalan yang
biayanya sangat mahal.
Sejak 2007-2009, kasus konflik di Sumatera
pada umumnya adalah persoalan konf lik
perkebunan. Beberapa catatan menunjukkan
pembukaan lahan sawit yang begitu besarRiau
memiliki lahan sawit terbesar di Indonesia
5

membuat semakin tingginya konflik perebutan


lahan antara pengusaha dengan warga. Hal itu
terjadi tidak saja menabrak lahan masyarakat
tetapi juga berusaha meminggirkan mereka.
Akan tetapi, pada tahun 2010-2012 terjadi peru-
bahan pola konflik, dari perkebunan ke hutan
produksi. Kisah konflik dan perebutan lahan
mengalami pergeseran dari perkebunan ke
hutan produksi/Hutan Tanaman Industri (HTI).
Digeser dalam pengertian kuantitas konflik di
HTI jauh lebih tinggi dibanding pada lahan
perkebunan. Namun, hal itu tidak berarti konflik
pada lahan perkebunan berkurang atau menge-
cil. Data yang dihimpun oleh Scale Up menun-
jukkan angka yang cukup menarik:
Diagram 1. Perbandingan dan distribusi
konflik berdasarkan status lahan, 2010
Diagram 2. Perbandingan jumlah konflik pada
lahan hutan produksi dengan lahan
perkebunan di Riau, 2011/2012
Sumber diagram 1-2: Laporan Tahunan (Executive
Summary). Konflik Sumberdaya Alam di
Riau Tahun 2008, 2009, 2010, 2011.
Pekanbaru: Scale Up (Sustainable Social
Development Partnership), 2012.
Tahun 2010 konflik pada lahan hutan produk-
si mengalami peningkatan yang cukup tinggi
dibanding pada tahun sebelumnya. Sejak 2010
persebaran konflik hutan produksi dengan ma-
syarakat mulai menyebar hampir ke seluruh
kabupaten di Riau. Peningkatan itu terjadi kare-
na ekspansi lahan beberapa perusahaan besar
semakin tak terbendung. Lebih dari 260 ribu
hektar lahan konflik terjadi di hutan produksi,
sementara konf lik di lahan perkebunan dan
hutan lindung relatif lebih rendah. Data di atas
menunjukkan, semakin besar konf lik dan
banyaknya kelompok yang memiliki interes,
maka semakin rumit diselesaikan karena berba-
gai elemen dan kepentingan masuk di dalamnya.
Faktanya, pertumbuhan konflik dari tahun keta-
hun bukan justru mengecil, baik dari sisi jumlah
lahan maupun pihak yang berkonflik.
Pada kasus Pulau Padang, persoalan menda-
sar adalah munculnya kegelisahan banyak warga
5
Marcus Colchester, Norman Jiwan, Andiko, dkk.
2006. Tanah yang Dijanjikan: Minyak Sawit dan Pem-
bebasan Tanah di Indonesia, Implikasi terhadap Masyarakat
Lokal dan Masyarakat Adat. Jakarta: Forest People Prog-
ramme dan Perkumpulan Sawit Watch, hlm. 26.
230.492
Hutan Produksi
Hutan lindung.konservasi
Perkebunan/HPL
28.000
84.079
99 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
akan status tanah yang mereka miliki secara adat
akibat keluarnya SK Menhut No. 327 Tahun 2009
dan terancamnya ekosistem yang berpengaruh
langsung terhadap kelangsungan kehidupan
masyarakat banyak. Lahan gambut sangat rentan
dengan status air, saat musim penghujan akan
datang banjir dan saat musim panas tiba ia akan
kehilangan air dalam situasi serius. Artinya ke-
beradaan RAPP yang akan membuka lahan hutan
di sekitarnya akan menjadi ancaman serius da-
lam jangka panjang, yakni ancaman air laut ma-
suk kedarat dan ancaman kekeringan saat musim
panas. Tentu dalam konteks land tenure akan
segera muncul sebagai bagian dari konsekuen-
sinya. Ketika isu terus bergulir, kecurigaan ma-
syarakat pada masing-masing kelompok mulai
terlihat karena ada pihak-pihak yang menolak
dan ada pihak-pihak yang menerima keberadaan
RAPP. Hal itu akan mempersulit posisi warga
kelas bawah bagaimana ia akan bertahan dan
menghadapi situasi yang serba tidak pasti.
Dari beberapa gambaran di atas, dalam artikel
ini penulis ingin melihat struktur yang ada dalam
permainan besar bernama konflik Hutan Ta-
naman Industri yang di dalamnya melibatkan
banyak pihak. Dari struktur itu penulis ingin
melihat proses-proses berlangsung yang meng-
hasilkan posisi masyarakat pada sisi yang lemah,
kedua ingin melihat sejauh mana secara luas
perubahan struktur dan kebijakan yang mun-
cul berimplikasi langsung terhadap masyarakat
Pulau Padang.
Untuk mengkaji persoalan konflik di Pulau
Padang yang terjadi antara masyarakat dengan
RAPP, penulis mencoba melakukan penelusuran
data secara maksimal dengan berbagai metode.
Saat berkunjung ke Riau pada tahun 2010 dan
2012, penulis sempat melakukan beberapa kali
wawancara terbatas, sekalipun wawancara itu
tidak untuk kepentingan langsung esai ini, akan
tetapi beberapa data sangat terkait dengan perso-
alan Pulau Padang. Wawancara dilakukan dengan
beberapa warga dan beberapa anggota dewan
setempat. Dokumen Scale Up, sebuah LSM di
Riau yang bergerak di bidang konservasi alam
dan isu-isu lingkungan telah kami dapatkan.
Melalui koresponden saya mendapatkan bebera-
pa data yang mereka miliki. Tentu saja ada juga
banyak data dukungan dari media online. Bebe-
rapa data online yang saya dapatkan sempat saya
komunikasikan dengan beberapa sumber yang
saya temui, baik kebetulan mereka datang ke
Yogyakarta maupun komunikasi via online.
Dalam melakukan penelusuran data-data
Pulau Padang, penulis menemukan beberapa
tulisan yang secara prinsip tidak pernah ditemu-
kan tulisan yang utuh tentang kasus konflik yang
sedang berlangsung di Pulau Padang. Akan teta-
pi, beberapa tulisan yang muncul adalah kajian
legal opini dan analisis konflik SDA secara luas,
begitu juga data-data online yang muncul adalah
berita-berita menyangkut persoalan Pulau
Padang.
6
Beberapa penulis seperti Imade Ali,
Sutarno, dan Teguh Yuwono, mencoba melihat
persoalan Pulau Padang dengan pendekatan
kronologis. Pendekatan ini sangat menarik kare-
na melihat persoalan dari sudut pandang gerak
dari waktu ke waktu apa yang terjadi di Pulau
Padang. Kajian ini penulis tempatkan sebagai
bahan rujukan dan pembanding dalam melihat
beberapa hal, termasuk merujuk kajian pada
Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 356/
Menhut-II/2004 Tanggal 1 November 2004 dan
SK Menteri Kehutanan No. 327, 2009. Anugerah
Perkasa, wartawan harian Bisnis Indonesia telah
melakukan investigasi ke Pulau Padang yang
menghasilkan 4 tulisan bersambung. Ia mencoba
menampilkan secara utuh namun singkat dari
6
Salah satu kajian legal opini dilakukan oleh Tim
Jikalahari yang mencoba embedah SK Menhut 327, tentang
izin konsesi HTI di Pulau Padang. Tim Jikalahari, 2011.
Hutan Rawa Gambut dan Permasalahan SK 327/
MENHUT-II/2009. Pekanbaru: Jikalahari, 2011.
100 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
pergerakan masyarakat Pulau Padang pada awal
2010 sampai usaha melakukan bakar diri di Ja-
karta.
7
Tulisan lain yang secara khusus dan kompre-
hensif dalam melihat Pulau Padang belum penu-
lis temukan, akan tetapi beberapa tulisan analisis
data yang dikeluarkan oleh Scale Up, Jikalahari,
Mongabay, STR (Sarikat Tani Riau) cukup mem-
bantu penulis dalam merekonstruksi beberapa
persoalan menyangkut kasus konf lik warga
dengan RAPP. Dalam skala luas untuk melihat
konflik, kajian Prudensius Maring dkk. cukup
memberikan pemahaman yang kompleks bagai-
mana konflik agraria terjadi di Pulau Sumatera.
Kajian ini memberikan keyakinan penulis bahwa
penyelesaian konflik agraria tidak bisa dilakukan
secara parsial sebagaimana selama ini dianut oleh
pemerintah, namun harus diselesaikan dari hu-
lu. Kebijakan negara dalam melihat persoalan
sumber daya agraria di Sumatera adalah kata
kunci bagaimana konf lik bisa diselesaikan.
Dengan mengkaji 4 provinsi di Sumatera, la-
poran penelitian ini membuat sebuah analisis
menarik, dengan menempatkan kebijakan hulu
sebagai persoalan krusial munculnya konflik di
daerah dan uniknya, empat provinsi dinilai me-
miliki akar persoalan yang sama.
8
Tulisan penting
lainnya adalah blog pribadi aktivis petani Pulau
Padang, M. Riduan. Sebagai pimpinan STR ca-
bang Meranti yang juga pimpinan aksi, ia
banyak melakukan pendokumentasian dan
menulis dalam blog pribadinya. Sekalipun ca-
tatannya singkat, hal itu sangat membantu
memahami penggalan cerita dari kasus Pulau
Padang.
9
Di atas semua itu, penulis ingin melihat
persoalan Pulau Padang dari sisi struktur keku-
asaan yang menyebabkan munculnya konflik di
Pulau Padang, tentu juga melihat proses-proses
yang terjadi di sana. Dengan melihat struktur
dan pola bangunan kekuasaan kapital, kasus
Pulau Padang menurut hemat penulis adalah
bagian kecil dari persoalan konflik sumberdaya
agraria di Indonesia.
Dalam teori klasik, konflik dilihat sebagai
bagian dari paradigma penyelesaian persoalan,
kelompok ini meyakini konflik akan menghasil-
kan sebuah perubahan. Beberapa teori ini sering
mengemuka bahwa konflik akan menunjukkan
ujungnya yakni berupa instrumen lahirnya sebu-
ah perubahan sekalipun dengan cara yang revo-
lusioner. Ralf Dahrendorf melihat masyarakat
dalam dua wajah, yakni konflik dan konsensus,
dalam kondisi ini kedua wajah itu saling meleng-
kapi. Ia meyakini konflik akan melahirkan kon-
sensus.
10
Jarang dalam sistem masyarakat yang
normal tak ada konflik yang tidak bisa dikonsen-
suskan. Dalam konteks ini, ilmu sosial selalu me-
lihat konflik adalah gejala yang terjadi di masya-
rakat dan dijadikan indikator untuk memahami
apa yang menjadi keinginannya. Tanpa menun-
jukkan kemauannya maka sulit untuk dipahami
perilaku dan struktur yang ada.
Berbeda dengan Karl Marx dalam melihat
masyarakat, ia meyakini masyarakat sudah ter-
7
Anugerah Perkasa, 2012. Tragedi Pulau Padang:
Dari Lukit hingga Tebet Dalam (1-4). www.bisnis.com,
13-14 Agustus 2012. Diakses pada tanggal 23 Oktober 2012.
Gerakan menuju titik ekstrim ini akibat eskkalasi dan
ketegangan yang tidak terdekteksi sehingga menuju pada
titik polarisasi, petani berubah menjadi ekstrim dalam
tindakan-tindakannya. Doug McAdam, Sidney Tarrow,
Charles Tilly, 2004. Dynamics of Contention. Cambridge
University Press.
8
DR. Prudensius Maring, op.cit., hlm. 65-66. Lihat
juga Johny Setiawan Mundung, Muhammad Ansor,
Muhammad Darwis, Khery Sudeska, Laporan Penelitian
Analisa Konflik Pertanahan di Provinsi Riau Antara
Masyarakat dengan Perusahaan (Studi Tentang PT RAPP,
PT IKPP, PT CPI dan PT Duta Palma 2003-2007),
Pekanbaru: Tim Litbang Data FKPMR, 2007. Didownload
dari: www.scaleup.or.id.
9
http://riduanmeranti.blogspot.com/#uds-search-
results.
10
Ritzer, George & J. Goodman, Douglas. 2004. Teori
Sosiologi Modern. Edisi keenam. Jakarta: Prenada Media.
101 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
bentuk dalam struktur kelas sosial, dan kelas
sosial secara sadar sudah memiliki potensi dan
konflik itu sendiri, ia melekat pada struktur
basisnya, sehingga konflik dengan sadar bisa
dipahami sebagai bagian dari aktivitas masyarakat.
Teori Marx
11
relatif bisa digunakan dalam melihat
segala jenis konflik yang terjadi di masyarakat
karena konflik dengan mudah bisa dideteksi
dengan melihat kelas, ketimpangan, dan ketidak-
adilan dalam sistem masyarakat, sekalipun kelas
tidak mesti selalu berlawanan, sebab kelas ka-
dang memiliki logikanya sendiri. Marx disan-
dingkan dengan Charles Tilly
12
dengan teorinya
collective action tampaknya mudah melihat stuk-
tur yang muncul dalam lingkup konflik.
Kasus Pulau Padang akan mudah dijelaskan
dengan pendekatan collective action karena
begitu banyaknya interest yang muncul dalam
ranah tersebut. Tilly meyakini common interest
menjadi poin penting dalam melihat konflik,
dan apa yang menjadi fenomena konflik sumber
daya alam bisa kita balik yang memiliki kepen-
tingan adalah para pelaku-pelaku yang meman-
f aatkan sumber daya alam. Saya mencoba
membandingkan dengan teori Tilly dkk lainnya
yang jauh lebih rumit. Dalam beberapa case di
Pulau Padang sangat mungkin dan menarik
untuk lebih jauh dielaborasi dengan pendekatan
Dynamic of Contention.
13
Pendekatan ini me-
mang lebih kompleks, karena memiliki prasyarat
dan beberapa proses: pembentukan identitas,
eskalasi, polarisasi, mobilisasi, dan pembentukan
aktor. Proses itu memang hampir semua terjadi
di Pulau Padang, namun tidak semasif
sebagaimana pada kasus-kasus besar seperti
Sambas, Poso, Ambon.
Polarisasi di Pulau Padang benar terjadi me-
nuju titik ekstrim dalam beberapa kasus, namun
tidak meluas, bahkan menurut saya mengalami
kegagalan sebagai upaya menuju target, namun
mobilisasi yang masif dari semua sikap acuh oleh
warga berhasil digerakkan, dalam konteks ini
bisa dilihat sebagai keberhasilan. Begitu juga
halnya ketika kelompok tak terorganisir saat ini
menjadi jauh lebih terorganisir, termasuk pem-
bentukan aktor.
B. Melihat Pulau Padang dari Dekat
Masyarakat Pulau Padang yang tadinya pragmatis,
ti dak tahu tentang pol i ti k, ki ni mengal ami
peningkatan kualitas kesadaran yang sangat luar
biasa. Aksi massa menjadi sebuah topik yang dibi-
carakan di mana-mana. Orang-orang di sepanjang
jalan yang saya temui, selalu menanyakan kepada
Ridwan agenda-agenda aksi dan berapa banyak
perwakilan yang harus mereka kirim. Di jalan itu
pula, Ridwan mengatakan, di Pulau Padang orang
kini punya semboyan, Hidup adalah mati, merdeka
adalah perang.
14
Tak bergeming aksi jahit mulut beberapa waktu
lalu, baik di Riau maupun di depan Gedung DPR
akhir tahun lalu, kali ini warga Pulau Padang, Ka-
bupaten Meranti, Provinsi Riau, kembali melakukan
aksi nekat cukup menggegerkan, yaitu aksi bakar
diri.
Aksi bakar diri ini, tidak lain tuntutannya agar menye-
lamatkan Pulau Padang. Aksi tersebut merupakan
penolakan terhadap pemerintah agar segera
mencabut SK 327 Menhut/2009 di mana peme-
rintah khususnya Menteri Kehutanan segera men-
cabut izin jalan aktivitas PT RAPP yang dianggapnya
secara tidak langsung dapat mengancam kehidupan
masyarakat Pulau Padang.
11
Franz Magnis-Suseno, 1999. Pemikiran Karl Marx:
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta:
Gramedia.
12
Charles Tilly, 2004. Social Movement, 1768-2004,
London: Paradigm Publisher, lihat juga R.Z. Leiriza, 2004.
Charles Tilly dan Studi tentang Revolusi, Jurnal Sejarah,
Vol. 6.
13
Doug McAdam, Sidney Tarrow, Charles Tilly,
2004. Op.cit.
14
Tutut Herlina, 2012. Berkorban demi Pulau Padang
(1), Sinar Harapan, Selasa, 25 September 2012. Lihat juga
http://www.shnews.co/detile-8396-berkorban-demi-
pulau-padang-1.html.
102 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Aksi bakar diri adalah tindakan yang suci dan harus
kami lakukan setelah aksi jahit mulut beberapa waktu
lalu agar pemerintah belajar mendengar, ujar Ketua
Umum Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Riau
(STR), M Ridwan kepada SH, di Pekanbaru, Senin
(18/6). Ia menegaskan, sejak awal telah disampaikan
bahwa pemerintah harus mampu menyelamatkan
Pulau Padang. Aksi bakar diri ini merupakan puncak
kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah yang
tidak berani mengevaluasi kebijakan SK Menhut No
327 Tahun 2009 yang dinilai salah.
15
Diagram di bawah ini sengaja penulis hadir-
kan untuk melihat peta persoalan mendasar
mengapa konflik begitu mudah muncul dan
bagaimana menjelaskan akar persoalannya. Se-
sungguhnya, konflik bukan suatu barang antik
yang penting untuk dipelihara, tapi harus disi-
kapi sebagai bagian dari sistem budaya dan kerja
dalam masyarakat. Konflik di Riau menyebar
begitu cepat dari satu ruang ke ruang yang lain,
dari satu lahan menuju lahan-lahan lain. Di sisi
lain kebijakan untuk menciptakan zero konflik
atau mengurangi konflik sangat minim, sehing-
ga konflik terus menjalar. Ada sepuluh kabu-
paten yang menjadi titik konflik di Riau baik kon-
f lik di lahan perkebunan maupun di hutan
produksi.
Diagram 3. Konflik di sektor hutan produksi
(Hutan Tanaman Industri) di Riau
berdasarkan kabupaten/kota, 2011/2012
Diagram 4. Konflik di sektor perkebunan di
Riau berdasarkan kabupaten/kota, 2011/2012
Diagram 5. Perbandingan total luasan
konflik sumberdaya alam di Riau tahun
2007, 2008, 2009, 2010, 2011
Sumber diagram 4-5: Laporan Tahunan (Executive
Summary). Konflik Sumberdaya Alam di
Riau Tahun 2008, 2009, 2010, 2011.
Pekanbaru: Scale Up (Sustainable Social
Development Partnership), 2012.
Jika diperhatikan data di atas, pada tahun 2011
konf lik di hutan produksi di seluruh Riau
melibatkan 262,877 hektar, sementara konflik
pada lahan perkebunan (sawit) telah melibatkan
39.246 hektar. Catatan ini coba saya tampilkan
dalam satu tahun untuk melihat tingginya laju
konflik pada lahan hutan produksi. Yang mena-
rik, jumlah konflik di lahan hutan produksi meli-
batkan begitu besar perusahaan. Menjadi peman-
dangan umum bahwa pembukaan hutan di Riau
secara besar-besaran telah berdampak serius pada
saat ini dimana semua perusahaan pulp and pa-
per telah menggunduli hutan-hutan Riau. Da-
lam laporan yang sama, ada sekitar 30 perusa-
haan yang berhubungan dengan bubur kertas,
dari 30 itu mereka telah berebut kayu-kayu Riau
dan ruang bekas penebangan kayu. Pada ruang
15
Uparlin Maharadja, 2012. Warga Pulau Padang Aksi
Bakar Diri di Depan Istana, Sinar Harapan, Selasa, 19
Juni 2012. Lihat juga http://www.shnews.co.
103 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
inilah mereka saling berlomba memperluas izin
usahanya untuk memenuhi kebutuhan bahan
baku industrinya. Realitasnya, apa yang dikerja-
kan mereka telah menimbulkan persoalan serius
dan sumber konflik bagi masyarakat Riau.
Kasus Pulau Padang dalam pandangan pene-
liti bukanlah suatu yang baru, bahkan terjadi di
berbagai tempat, akan tetapi setiap wilayah memi-
liki tipologi yang berbeda. Persoalan Pulau
Padang termasuk sebuah kasus yang cukup besar
dan menjadi isu nasional, bahkan menjadi
perhatian bagi NGO internasioal. Hal itu terjadi
karena melibatkan puluhan ribu warga tem-
patan, melibatkan sebuah perusahaan raksasa,
dan juga dalam berbagai analisis melibatkan
banyak elite birokrasi yang terlibat dalam berba-
gai kepentingan. Di sisi lain, Pulau Padang meru-
pakan kawasan lahan gambut yang seharusnya
dilindungi, sehingga menjadi perhatian banyak
pihak.
Tabael 1. Daftar Nama perusahaan dan luas
(Ha) konflik antara masyarakat dengan
perusahaan selama tahun 2011
Diagram 6. Distribusi konflik berdasarkan
group perusahaan di Riau
Sumber Tabel 1 dan Diagram 6: Laporan Tahunan
(Executive Summary). Konflik Sumber-
daya Alam di Riau Tahun 2008, 2009, 2010,
2011. Pekanbaru: Scale Up (Sustainable
Social Development Partnership), 2012.
Sebagai sebuah perusahaan besar, APRIL
(Asia Pacif ic Resources International Ltd.) yang
memiliki 7 anggota perusahaan telah lama
bercokol di wilayah Riau dan RAPP merupakan
salah satu yang terbesar. Perusahaan ini membu-
tuhkan banyak dukungan bahan baku untuk
keberlangsungan produksinya. Di mata orang
Riau dan NGO yang bergerak dalam hal konser-
vasi sekaligus pemerhati lingkungan, perusahaan
ini sangat akrab dengan isu konflik dan perusa-
kan lingkungan. Hal itu dibuktikan juga dengan
diagram di atas, April group menjadi juara
dalam hal urusan konflik dengan warga yang
melibatkan lahan seluas 203.870 hektar. Posisi
ini menurut data Scale Up, tidak terlalu menge-
jutkan karena sepak terjang RAPP hampir merata
di seluruh wilayah kabupaten kota di Riau. Untuk
kasus RAPP di Pulau Padang sendiri merupakan
yang terbesar di seluruh Riau (hampir 70.000
hektar), dan lebih dari separo lahan konflik ter-
sebut terdapat di Pulau Padang (41.205 hektar).
1. Meranti dan Pulau Padang
Kutipan laporan investigatif wartawan Sinar
Harapan di atas tidak berlebihan apalagi bom-
bastis, namun syarat menggambarkan perju-
angan warga Pulau Padang yang hingga kini be-
lum menemukan nasib baiknya. Warga Pulau
Padang yang sudah beberapa tahun terakhir ini
104 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
bergerak melawan korporasi sudah merenggang
nyawa demi menyelamatkan apa yang diyakini,
meyelamatkan apa yang selama ini menjadi sum-
ber penghidupan warga selama puluhan tahun.
Sebuah perusahaan raksasa bernama Riau An-
dalan Pulp and Paper (RAPP),
16
perusahaan
bubur kertas telah mengusik keheningan warga
yang jauh dari hiruk pikuk modernitas dan per-
kotaan. Sebuah pulau yang tidak terlalu besar
dan tidak memiliki kekayaan alam yang banyak,
hanya seonggok gambut tebal dengan segala
penghidupan warga dan aktif itas perkebunan
karetnya.
17
Secara administratif, Pulau Padang di bawah
sebuah kabupaten baru bernama Kepulauan
Meranti (akronim dari Merbau, Rangsang, dan
Tebing Tinggi). Meranti merupakan kabupaten
dengan tiga pulau kecil, Pulau Padang, Pulau
Rangsang, dan Pulau Tebing Tinggi. Kabupaten
ini sebelum 2009 berada di bawah administratif
Kabupaten Bengkalis, dan sejak 2009 menjelma
menjadi kabupaten sendiri. Meranti
18
terdiri atas
7 kecamatan, dan total penduduk pada 2011 seki-
tar 233.024 jiwa. Mayoritas masyarakat Meranti
tinggal di pedesaan dan bekerja pada perke-
bunan karet, sagu, sawit, dan bertani sayur-
sayuran. Sementara ibukota kabupaten berada
di Selatpanjang yang banyak dihuni oleh para
pedagang Tionghoa, Padang, Melayu, dan Jawa.
Selatpanjang adalah nama yang cukup dikenal
karena wilayah ini merupakan sebuah kota da-
gang transit Pesisir Timur Sumatera, ia menjadi
penghubung antara Pulau Batam-Tanjung Balai
Karimun dan Pekanbaru, dan juga Bengkalis
dan Dumai. Sebagai kota dagang transit, kota
ini cukup ramai dikunjungi oleh wilayah pinggir
seperti Rangsang Barat dan Timur, Kep. Merbau,
Belitung, Tanjung Samak, Guntung, dll. Hiruk
pikuk kota ini cukup ramai di pagi hari hingga
sekitar pukul 14.00, sorenya tidak terlalu banyak
aktif itas ekonomi, karena jalur laut yang diguna-
kan wilayah penyangga hanya sampai siang.
Pukul 14.00 puluhan kapal-kapal yang merapat
di dermaga-dermaga kecil di Selatpanjang sudah
kembali lagi ke daerahnya masing-masing.
Mayoritas lahan tiga pulau ini adalah lahan gam-
but dengan ketebalan yang cukup tinggi, bahkan
di Pulau Padang lahan gambut mencapai 9-12
meter.
19
Dalam Peraturan Menteri Kehutanan,
kawasan gambut dengan kedalaman > 3 meter
masuk kawasan yang harus dilindungi, tidak
diperuntukkan HTI, karena akan merusak eko-
16
PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP),
perusahaan milik Asia Pacific Resources Internationa Lim-
ited (APRIL) ini didirikan tahun 1992. Kantor pusat PT
RAPP berada di Pangkalan Kerinci, Kecamatan Langgam,
Kabupaten Pelalawan. RAPP merupakan kelompok Raja
Garuda Mas (RGM) milik konglomerat Sukanto Tanoto
dan kelompok Sinarmas milik taipan Eka Tjipta Widjaja
dari Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP).
17
Pulau Padang merupakan wilayah yang tak begitu
luas, sekitar 110 ribu hektar, didiami 14 desa (1 kelurahan
dan 13 desa), di bawah Kecamatan Merbau, dengan ibukota
Kecamatan Teluk Belitung. Penduduk Kecamatan ini
sejumlah 47.370 jiwa, dan luas total wilayahnya 1.348,91 KM
2
.
Terdiri atas Kelurahan Teluk Belitung, Desa Bagan Meli-
bur, Bandul, Dedap, Kudap, Lukit, Mekar Sari, Mengkirau,
Mengkopot, Meranti Bunting, Pelantai, Selat Akar, Tan-
jung Kulim, dan Desa Tanjung Padang. Mayoritas pendu-
duk Pulau Padang dari suku Melayu dan Jawa. Penghasilan
sehari-hari sebagai petani karet, kelapa, kopi, kapas, coklat,
dan persawahan (padi), lihat www.merantikab.go.id. Di pulau
ini terdapat satu tokoh yang cukup populer, Intsiawati
Ayus yang duduk di pusat sebagai anggota Dewan
Perwakilan Daerah utusan Provinsi Riau. Putri kelahiran
Teluk Belitung ini terpilih sebagai angora DPD pada
periode 2009-2014. Saat kasus Pulau Padang mencuat, beliau
juga tampil diberbagai kesempatan yang membela para
petani Pulau Padang.
18
Sebelum 2013, Kabupaten Meranti terdiri atas
Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Tebing Tinggi, Rangsang,
Rangsang Barat, Merbau, Tebing Tinggi Timur, Pulau
Merbau. Kecamatan Pulau Merbau meliputi seluruh Pulau
Merbau sedangkan Kecamatan Merbau wilayahnya meliputi
seluruh Pulau Padang.
19
Haryanto, 1989. Studi Pendahuluan Struktur
Vegetasi Hutan Gambut di Pulau Padang, Provinsi Riau.
Media Konservasi Vol. II (4), Desember 1989.
105 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
sistem dan berpotensi merusak kawasan terse-
but.
20
Pulau Padang sebelumnya tidak dikenal, dan
sejak 2009 menjadi sebuah berita nasional akibat
penolakan warganya atas tindakan PT. RAPP
mengekploitasi lahan gambutnya. Sebagaimana
ramai diberitakan, RAPP mendapat konsesi dari
Departemen Kehutanan di pulau tersebut seluas
41.205 hektar. Artinya lebih dari 40 persen wilayah
Pulau Padang dikonsesikan kepada RAPP, kare-
na luas pulau itu hanya sekitar 110 ribu hektar.
Anehnya, Departemen Kehutanan begitu saja
memberikan izin kepada RAPP dan menabrak
hampir semua wilayah (kampung) yang diting-
gali penduduk sejak puluhan tahun. Alasan bah-
wa menurut peta milik Departemen Kehutanan
bahwa Pulau Padang tidak berpenduduk sangat
menyakiti hati warga Pulau Padang, dan karena
itulah warga menjadi lebih berani, radikal, bah-
kan bertindak ekstrim di luar kebiasaan manusia
Melayu
21
pada umumnya, yakni aksi menjahit
mulut di depan gedung DPRD Riau dan DPR
pusat serta nekat mau membakar diri. Akan
tetapi upaya itu dapat digagalkan oleh polisi kare-
na enam petani yang menyelinap ke Jakarta ber-
hasil masuk radar intelijen polisi sehingga selama
di Jakarta gerak gerik mereka diawasi oleh aparat
kemanan.
22
Diagram 7. Distribusi total luas lahan konflik
sumberdaya alam berdasarkan kabupaten/kota
di Riau, 2011/2012
Sumber: Laporan Tahunan (Executive Summary).
Konflik Sumberdaya Alam di Riau Tahun
2008, 2009, 2010, 2011. Pekanbaru: Scale
Up (Sustainable Social Development Part-
nership), 2012.
Dari diagram di atas terlihat dengan jelas
bahwa konflik agraria yang terjadi saat ini di Riau
yang terbesar terjadi di Kabupaten Meranti
dengan melibatkan lahan seluas 69.890 hektar,
kemudian Kotamadya Dumai 50.000 hektar,
Pelalawan 44.957 hektar. Di Meranti konflik
melibatkan 3 kecamatan, dan konflik terbesar
terjadi di Kecamatan Merbau (Pulau Padang),
kemudian Kecamatan Rangsang, dan Kecamatan
Tebing Tinggi. Konflik ditiga kecamatan tersebut
semua menyangkut konflik hutan untuk kepen-
tingan industri pulp and paper, bukan konflik
perkebunan sebagaimana selama ini mendomi-
nasi. Ditiga kecamatan ini juga terdapat perke-
bunan yang cukup luas, terutama Kecamatan
Tebing Tinggi, yakni perkebunan sagu, karena
sagu menjadi salah satu makanan pokok seba-
gian masyarakat Meranti.
2. Apa yang Terdengar dan Terlihat di
Pulau Padang
Sejauh ini, RAPP sebagai sebuah perusahaan
besar telah lama bercokol di Riau (berdiri sejak
1992). Menurut catatan Scale Up, sebuah NGO
yang peduli dengan isu deforestasi di Riau,
APRIL grup mendominasi persoalan konflik HTI
di Riau. Dalam laporan tahunannya, sepanjang
20
Teguh Yuwono, tt. (tanpa tahun). Konflik Izin
IUPHHK-HT PT. RAAP di Pulau Padang: Potret Buram
Penataan Ruang & Kelola Hutan di Indonesia.
21
Dalam khasanah gerakan sosial Indonesia, orang
Melayu tidak memiliki sejarah kenekatan seperti yang telah
ditunjukkan oleh warga Pulau Padang. Mayoritas penduduk
pulau ini beragama Islam dan banyak pula warga di pulau ini
yang tradisi agamanya berbasis madrasah, pesantren (NU)
dan mayoritas tradisi agamanya cukup kuat. Usaha untuk
melakukan bakar diri yang juga berarti bunuh diri bagi tradisi
NU nyaris tidak dikenal, namun hal itu pernah akan dilakukan
oleh sekelompok petani di Pulau Padang, lihat Anugerah
Perkasa, op.cit.
22
Anugerah Perkasa, op.cit.
106 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
lima tahun terakhir area konsesi perusahaan ter-
sebut paling banyak bersengketa di Riau dengan
melibatkan lahan seluas 84.400 hektar, diikuti
oleh PT. Smatera Riang Lestari 57.100 hektar.
23
Sebelum kasus Pulau Padang muncul, RAPP
melalui mitranya (PT. Lestari Unggul Makmur)
juga mendapat izin konsesi di Pulau Tebing
Tinggi seluas 10.390 hektar dan Pulau Rangsang
melalui PT. Sumatera Riang Lestari memperoleh
18.890 hektar. Pulau Rangsang terletak persis di
utara Pulau Tebing Tinggi (Selatpanjang) ibukota
Kabupaten Meranti. Izin di Pulau Rangsang dan
Tebing Tinggi sebenarnya juga sempat menjadi
persoalan, akan tetapi warga tidak berhasil meno-
lak secara massal, sehingga proyek jalan terus
dan mitra RAPP tetap nyaman berada di pulau
tersebut.
24
Mengapa RAPP begitu perkasa di Riau? Seja-
rah tidak bisa begitu saja kita lepaskan, bahwa
RAPP telah begitu lama menguasai wilayah dara-
tan Riau dan kepulauanya. Sebagai sebuah peru-
sahaan bubur kertas yang mensuplai kertas-
kertas terbaik dunia, RAPP membutuhkan bahan
baku begitu banyak, bahkan tidak pernah akan
cukup sekalipun menggunduli semua hutan di
Sumatera. Kebutuhan kertas Indonesia dan du-
nia begitu tinggi sementara suplai bahan baku
tidak sebanding dengan laju kebutuhannya,
maka jalan pintas dilakukan oleh banyak peru-
sahaan. Kemandirian Perusahaan untuk mema-
sok bahan baku sendiri tidak pernah tejadi kare-
na tidak menciptakan sistem penanaman Hutan
Tanaman Industri sejak awal, dan mereka juga
sadar proses penanaman kayu membutuhkan
waktu 8 tahun untuk siap dipanen.
Indonesia memiliki sekitar 80 perusahaan
yang bergerak di bidang pulp and papers, dengan
menghasilkan sekitar 6.3 juta ton pertahun. Sinar
Mas melalui bendera usaha Asia Pulp & Paper
(APP) menguasai pangsa pasar terbesarnya. Di
bawah grup APP, ada 7 anak perusahaan yakni
PT. Pabrik kertas Tjiwi Kimia, PT. Indah Kiat Pulp
& Paper, PT. Pindo Deli Pulp and Papers Mills,
PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, PT.
The Univenus, PT Ekamas Fortuna, dan PT. Pu-
rinusa Ekapersada. Total kapasitas 7 perusahaan
itu menghasilkan 2,68 juta ton per tahun, atau
42 persen dari kapasitas nasional. Sementara
urutan kedua diduduki oleh RAPP di bawah
grup Raja Garuda Mas yang juga memiliki peru-
sahaan besar di Samosir (Sumatera Utara)
dengan bendera PT. Toba Pulp Lestari (TPL).
RAPP menghasilkan 2,21 juta ton pertahun atau
sekitar 35 persen dari kapasitas produksi na-
sional. Jika digabungkan dua perusahaan raksasa
itu menghasilkan kapasitas produksi 77 persen
dari kapasitas produksi yang dihasilkan Indone-
sia. Dengan kapasitas itu, Indonesia merupakan
pemasok kertas terbesar ke-12 di dunia dan terbe-
sar ke-4 di Asia setelah Cina, Jepang, dan Korea.
25
Menurut Wahana Lingkungan Hidup
(Walhi), APP dengan tujuh perusahaan besarnya
setiap tahun membutuhkan bahan baku kayu
sekitar 27,71 juta meter kubik. Sementara RAPP
setiap tahun membutuhkan 9,468 juta meter
kubik. Perusahaan tersebut baru bisa memasok
sendiri sebatas 5,465 juta meter kubik. Artinya
ada kekurangan bahan baku yang begitu banyak
(minus 31.713 juta meter kubik) dan hutan alam
23
Laporan Tahunan (Executive Summary), 2012.
Konflik Sumberdaya Alam di Riau Tahun 2008, 2009, 2010,
2011. Pekanbaru: Scale Up (Sustainable Social Develop-
ment Partnership), lihat juga M. Riduan, Ketika SK
Menhut MS Kaban No 327 di tentang oleh Rakyat, Namun
Pemerintah Tetap Memaksakan Kehendaknya...!, http://
riduanmeranti.blogspot.com/2011/05/ketika-sk-menhut-
ms-kaban-no-327-di.html
24
Menurut data Scale Up updating Juni 2012, terdapat
69.890 hektar konflik lahan di Kabupaten Meranti yang
terjadi di Pulau Padang dan Pulau Rangsang. Keduanya
konflik lahan antara warga dengan RAPP, ibid.
25
Data diolah dari http://www.balithut-kuok.org/
index.php/home/56-industri-pulp-dan-kertas-belum-
mandiri. Diakses pada tanggal 4 Maret 2013.
107 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
menjadi sasarannya. Diperkirakan 70 persen
kekurangan bahan baku diambilkan dari hutan
alam, artinya, mereka melakukan pembabatan
hutan secara masif demi untuk memenuhi kebu-
tuhan bahan baku bubur kertas.
26
Dengan data di atas, jelas, yang dihasilkan
oleh perusahaan raksasa itu tidak mampu diatasai
sendiri oleh perusahaan dalam memenuhi kebu-
tuhan pokoknya (bahan baku), bahkan, mayo-
ritas bahan baku diperoleh dari luar perusahaan.
Artinya kebutuhan bahan baku diambil dari
hutan alam Indonesia. Tidak heran jika hutan
Sumatera mengalami deforestasi secara masif
dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Situasi
ini sebenarnya sudah dengan jelas tercium oleh
dunia internasional atas pelanggaran-pelang-
garan yang dilakukan, karena dengan mengam-
bil hutan alam akan merusak ekosistem dan ta-
tanan sosial masyarakat tempatan, bahkan dam-
paknya lebih luas dari yang diperkirakan. Indi-
kasi lain, kertas dari Indonesia sekalipun diteri-
ma di pasaran internasional tetap dinilai berbeda
dengan memberlakukan pajak lebih tinggi
dibanding negara-negara pensuplai kertas lain-
nya. Bahkan sejak akhir 2012, beberapa negara
klien dari RAPP dan APP pergi akibat tidak
seriusnya kedua perusahaan tersebut menjadi-
kan sebuah perusahaan yang ramah terhadap
lingkungan. Sertif ikasi SVLK (Sistem Verif ikasi
Legalitas Kayu) tidak dimiliki sehingga produk
kedua perusahaan tersebut mengalami kesulitan
memasuki pasar Eropa. Anehnya, kini APP sudah
mengantongi 9 SVLK padahal mereka tidak mela-
kukan upaya-upaya aman dan ramah ling-
kungan terhadap usaha bubur kertasnya, bahkan
mereka masih melakukan perambahan dan
pengrusakan hutan alam.
27
Menurut Nazir Foead, Direktur Konservasi
WWF-Indonesia, saat ini, APRIL grup meru-
pakan pelaku pembukaan hutan alam terbesar
diantara produsen pulp lain di Indonesia. Dalam
catatan lain, laporan Eyes on the Forest menye-
butkan, APRIL merupakan pelaku terbesar
untuk perusakan hutan di Riau. Perusahaan ini
menebang sedikitnya 140.000 hektar hutan
tropis, sebagian besar terletak di lahan gambut
sebagaimana terjadi pada 2008-2011. Dalam
periode itu, APRIL bertanggung jawab atas
hilangnya hampir sepertiga hutan alam di Riau.
28
Pada peta berikut terlihat dengan jelas batas
hutan alam yang masih tersisa dan hutan alam
yang dihabiskan oleh perusahaan-perusahaan
dalam rangka penebangan untuk kepentingan
industri kertas.
Gambar merah pada peta berikut menun-
jukkan deforestasi yang terjadi sejak 2009-2012.
Angka itu jauh lebih tinggi dari laju deforestasi
antara 2005-2007, padahal pada tahun 2011 lewat
Inpres No. 10, 2011 pemerintah memberlakukan
penundaan izin baru di hutan primer dan lahan
gambut (moratorium),
29
namun justru pem-
babatan hutan mengalami laju deforestasi begitu
cepat. Dalam catatan Jikalaharisebuah NGO
yang fokus pada penyelamatan hutan Riautiga
tahun terakhir (pada 2009-2012), Riau kehi-
langan hutan alam sebesar 0,5 juta hektare,
dengan laju deforestasi sebesar 188 ribu hektare
pertahun. Ironisnya, 73,5 persen kehancuran itu
26
Ibid.
27
Aji Wihardandi, 2012. Asia Pulp and Paper Terus
Lolos Uji SVLK Kendati Klien Berlarian, Mongabay
Indonesia, www. mongabay.co.id, 19 November 2012.
Diakses pada tanggal 5 Maret 2013.
28
Sapariah Saturi, 2013. WWF Desak APRIL
Hentikan Penghancuran Hutan Alam.
www.mongabay.co.id, 13 Februari 2013. Diakses pada tanggal
5 Maret 2013.
29
Setahun Moratorium Hutan, Apakah hutan dan
Gambut Indonesia Sudah Terlindungi?. http://
www.greenpeace.org/seasia/id/blog/Setahun-Morato-
rium Hutan/blog/40230/. Ditulis oleh Yuyun Indradi, Juru
kampanye Hutan, 3 Mei, 2012. Diakses pada tanggal 19
Maret 2013. Moratorium akan berakhir pada bulan Mei
2013, dan pemerintah belum memutuskan memperpajang atau
mencabut kesepakatan tersebut.
108 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
terjadi pada hutan alam gambut yang seharusnya
dilindungi oleh negara. Dengan kondisi itu, saat
ini hutan alam Riau hanya tersisa 2,005 juta hektar
atau 22,5 persen dari luas daratan yang dimiliki
Riau.
30
Dikalangan aktivis NGO, kegiatan para
pengusaha pulp and papers ini begitu kasar kare-
na telah mengabaikan berbagai kepatutan kepa-
da alam. Pembalakan kayu secara liar di hutan
alam lebih disukai pelaku usaha dibanding
dengan mengusahakan Hutan Tanaman Indus-
tri (HTI). Ironisnya, pembalakan itu dilakukan
secara terang-terangan bahkan aksi legal
dengan menunjuk kontraktor. Akibat tindakan
pembalakan liar yang dilakukan oleh perusahaan
kertas, Balai Penelitian Teknologi Serat Tanaman
Hutan mensinyalir, setiap tahun Indonesia
kehilangan hutan seluas 27 kilometer persegi,
atau setiap 10 detik kita kehilangan hutan alam
seluas lapangan bola, dan setara juga dengan 10
ribu lapangan futsal setiap hari, sementara negara
dirugikan sekitar Rp 45 triliun per tahun.
31
Pengalaman penulis di wilayah Kabupaten
Meranti juga menunjukkan hal demikian, bahwa
pembalakan liar di hutan-hutan alam memang
terjadi secara masif, baik oleh perusahaan besar
maupun pelaku-pelaku kecil yang dilakukan oleh
masyarakat. Tentu berbeda dengan apa yang
dilakukan masyarakat, mereka menebang kayu
dan kemudian mengalirkan balok-balok kayu
30
Made Ali, 2013. Jikalahari: Deforestasi di Riau
2012 Setara Kehilangan 10 Ribu Lapangan Futsal Tiap Hari.:
http://www.mongabay.co.id/2013/01/02/jikalahari-catatan-
kej ahat an- kehut anan- r i au- sepanj ang- 201 2/
#ixzz3oOpj8kL6. 2 Januari 2013. Diakses pada tanggal 15
Maret 2013.
Peta 1: Sisa Tutupan Hutan Alam Riau Sampai Tahun 2012. Sumber: Jikalahari. Diundu dari http://
www.mongabay.co.id/2013/01/02/jikalahari-catatan kejahatan-kehutanan-riau-sepanjang-2012/
#ixzz3oOpj8kL6
31
Ibid. lihat juga Made Ali, Jikalahari: Deforestasi di
Riau 2012 Setara Kehilangan 10 Ribu Lapangan Futsal Tiap
Hari. www.mongabay.co.id/2013/01/02/jikalahari-catatan-
kej ahat an- kehut anan- r i au- sepanj ang- 201 2/
#ixzz3oOpj8kL6. 2 Januari 2013. Diakses pada tanggal 10
Maret 2013.
109 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
lewat parit (selokan) kecil ke laut dan menjual
kepada toke atau cukong hanya untuk meme-
nuhi kebutuhan hidup, sementara perusahaan
melakukan penebangan liar untuk mengumpul-
kan pundi-pundi keuntungan. Situasi itu sudah
menjadi pemandangan sehari-hari dengan apa
yang terjadi di selat-selat di Kabupaten Meranti.
Hampir setiap hari kapal-kapal mendayu-dayu
kelelahan karena beban berat menarik kayu yang
dirakit begitu panjang. Pemandangan itu jelas
bahwa mereka bergerak dengan cara legal seka-
lipun tindakan hulunya illegal, artinya negara
sengaja melakukan pembiaran yang begitu
serius terhadap deforestasi hutan-hutan di pulau
tersebut.
Menurut Ngabeni dan Riduan, illegal logging
yang dilakukan oleh masyarakat menemukan
tahun kejayaannya berkisar antara tahun 1990-
1998. Pada tahun-tahun itulah awal munculnya
permintaan kayu secara besar-besara oleh bebe-
rapa perusahaan di Riau, sehingga banyak orang
dengan sedikit modal bisa melakukan pene-
bangan hutan secara luas dan kemudian menju-
al kapada pengumpul-pengumpul kayu. Ke-
giatan masyarakat ini tidak tersentuh oleh hu-
kum karena tidak ada aparat hukum yang mau
masuk ke hutan dengan menempuh jalan kaki
berjam-jam. Tidak mungkin aparat keamanan
masuk hutan dengan berjalan kaki, sementara
kondisi jalan setapak yang gembur seperti bubur
karena tanah bergambut, sehingga masyarakat
dengan tenang melakukan kegiatan tersebut.
Akan tetapi setelah itu pemain illegal logging
bertambah banyak dan mereka dengan modal
besar bisa melakukan apa saja, misalnya mem-
bangun parit-parit (kanal) yang besar untuk
menyalurkan kayu ke laut. Begitu juga alat te-
bang pohon sinso
32
(chainsaw) yang canggih
telah mereka miliki, sementara masyarakat ma-
sih menggunakan cara-cara tradisional, mene-
bang dengan kampak (kapak), mengirim kayu
dengan cara di-gulek (didorong dengan tenaga
manusia). Sementara pelaku bermodal akan
membuat parit atau kanal berukuran besar se-
hingga dengan mudah kayu dimasukkan ke
dalam kanal dan mengirim ke laut.
33
Gambar di
bawah ini memperjelas bagaimana kayu diambil
dan dikumpulkan dalam jumlah yang banyak,
kemudian dialirkan ke kanal menuju sungai atau
laut.
Gambar 1: Tumpukan kayu hasil pembabatan dan
pembalakan di hutan alam Riau yang siap dialirkan
ke laut. Sumber: antara.go.id
32
Orang daerah meranti menyebut alat tebang pohon
yang terbuat dari rantai bermesin (chainsaw) ini dengan
sebutan umum sinso, gergaji mesin.
33
Hasil diskusi dengan H. Ngabeni, Meranti, 2011,
dengan Riduan, Klaten dan Jogja, 16-18 Maret 2013. Proses
umum pengambilan kayu di hutan sebagaimana diceritakan
Ngabeni, setelah ditebang kemudian kayu dipotong sesuai
ukuran kebutuhan, lalu diangkut dengan membuat jalan
khusus untuk memindahkan kayu dari satu titi ke titik lain.
Setelah terkumpul di pusat-pusat pengumpulan, biasanya
dipinggir kali atau orang Meranti menyebut parit yang ber-
ukuran kecil (lebar 60cm) ukuran besar (4-20 meter). Dari
parit ini kemudian kayu dialirkan ke hilir (sungai/laut), baru
kemudian dirakit dengan tali dan ditarik dengan kapal menuju
ke perusahaan ataupun tongkang besar untuk dibawa ke
perusahaan dalam negeri atau ke luar negeri. Menurutnya,
tindakan mereka ini hampir smuanya ilegal, tanpa izin namun
mereka sudah saling paham dan menyiapkan uang sogokan
manakala di jalan bertemu dengan aparat hukum. Tak jarang
sekali jalan mereka harus menyogok aparat hukum lebih
dari 3 kali, dari nilai kecil hanya 1-5 juta sampai puluhan juta.
Berdasarkan pengalaman mereka, nyaris tak ada yang
tertahan.
110 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
3. Pulau Padang: Konflik Hutan
Tanaman Industri
Sebuah perusahaan besar beroperasi di sekitar
Sungai Siak, Riau. Sebuah sungai yang menurut
banyak ahli sebagai sungai terdalam di Indone-
sia. Sungai yang lebarnya hanya sekitar 100an
meter itu merupakan sungai padat lalu lintas,
hampir setiap hari sungai ini dilalui kapal-kapal
cepat (speedboat) maupun kapal berkecepatan
sedang dan lambat. Sungai ini menghubungkan
antara Pekanbaru Perawang, Siak menuju ke
Buton-Bengkalis, Selatpanjang-Tanjungbalai
Karimun-Batam. Puluhan kapal cepat melalui
sungai ini karena hanya jalur ini yang paling
efektif untuk menuju Pekanbaru sebagai Ibukota
Provinsi Riau. Sungai ini menghubungkan pu-
lau-pulau kecil yang secara administratif di
bawah Riau. Di luar armada kapal cepat yang
melewati sungai ini, juga terdapat kapal-kapal
berukuran besar dan sedang yang memuat ber-
bagai macam kebutuhan, baik kebutuhan
pangan warga pulau yang disuplai dari Medan,
Padang, Pekanbaru dan sekitarnya menuju
wilayah-wilayah penyangga.
Sebagai ibukota provinsi tentu Pekanbaru
menjadi tempat banyak tujuan kepentingan
wilayah administratif lainnya karena di Pekan-
baru pula terdapat kampus negeri yang cukup
bergengsi di Riau, diantaranya UNRI (Universi-
tas Negeri Riau) UIN (Universitas Islam Negeri)
dan universitas swasta seperti Universitas Lan-
cangkuning dan Universitas Islam Riau. Banyak
diantara warga daerah pulau yang menyekolah-
kan anaknya ke Pekanbaru, Sungai Siak adalah
jalur yang selalu dilewati. Akan tetapi, dalamnya
sungai ini juga bisa dimanfaatkan oleh banyak
perusahaan besar untuk mengirim kayu dalam
jumlah besar. Kapal tengker dan kapal induk
barang biasa melewati sungai ini untuk mem-
bawa kayu dan batu bara keperusahaan bubur
kertas di sekitar Sungai Siak (Indah Kiat) dan ke
perusahaan lainnya.
Kisah Pulau Padang adalah kisah para
pengumpul pundi-pundi keuangan dari darat
melewati laut. Bahan baku diambil dari darat
(hutan) kemudian dikumpulkan di pingir kali/
parit lalu dialirkan ke sungai menuju laut.
Dengan cara ini kayu kemudian diangkut baik
dengan metode dirakit dan ditarik dengan kapal
atau langsung dimasukkan ke kapal tengker kayu
dan dibawa ke perusahaan. Dari sanalah semua
bermula, dari sanalah semua dimaknai oleh
warga Pulau Padang sebagai eskspansi para
pengusaha besar menancapkan kukunya ke
hutan-hutan sekitar warga tinggal. Mereka tidak
pernah sadar selama ini kapal-kapal, tongkang,
kapal induk barang yang mereka lihat lalu lalang
akan menjadi bagian dari sejarah mereka. Warga
Pulau Padang tentu tidak asing dengan peman-
dangan demikian karena mereka akrab dengan
sungai dan laut. Mereka hidup dengan sistem
dan budaya sungai sampai kemudian mereka
sadar abrasi semakin mengusir mereka dan ber-
geser ke darat.
Hal yang dilakukan oleh RAPP di Pulau
Padang adalah bagian dari paket kritikan aktivis
internasional atas ketidakramahan perusahaan
pulp and paper yang beroperasi di Indonesia
(Riau) terhadap lingkungan. Organisasi besar
internasional Greenpeace menjadikan Riau seba-
gai bagian dari target operasi kampanye, karena
di wilayah ini perusahaan beroperasi tanpa
memiliki Sistem Verif ikasi Legalitas Kayu (SVLK).
Hal itu terbukti dengan beberapa pejabat teras
Riau ditangkap KPK, termasuk mantan Kepala
Dinas Kehutanan Riau, Asral Rahman atas kasus
penerbitan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) tahun
2001-2006.
Dengan niat baik akan memenuhi pasokan
bahan baku untuk industrinya dan mengurangi
pembabatan hutan alam, APRIL grup menga-
jukan izin HTI kepada menteri kehutanan, yang
kebetulan salah satu izin tersebut di wilayah
111 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
Pulau Padang. Jauh sebelum izin itu diberikan
oleh Menhut, RAPP sudah mengantongi izin
pemanfaatan hasil hutan di wilayah tersebut.
Dengan izin itu ia telah menghabisi semua kayu
yang ada di wilayah Pulau Padang, dan izin beri-
kutnya adalah izin HTI. Menjadi ironis karena
niatan baik itu dilakukan setelah sebelumnya
membabat habis Pulau Padang, bahkan izin yang
dikantongi RAPP kemudian mengancam war-
ga sekitar karena izin lahan HTI-nya menabrak
mayoritas lahan penduduk, bahkan menabrak
lahan pemukiman.
Pada tahun 2007, saat Kabupaten Meranti
masih di bawah administratif Kabupaten
Bengkalis, Menteri Kehutanan mengeluarkan
surat izin HTI untuk wilayah Tebing Tinggi,
pulau yang saat ini menjadi Ibukota Meranti. Izin
HTI di pulau ini keluar dengan SK Menhut No.
217/Menhut-II/2007 Tanggal 31 Mei 2007. Izin
dikeluarkan untuk Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Tanaman Industri (UPHHTI) di Desa
Nipah Sendadu, Sungai Tohor, Tanjung Sari,
Lukun, dan Desa Kepau Baru seluas 10.390
hektare.
34
Warga melakukan penolakan karena
wilayah tersebut menjadi konsentrasi pengem-
bangan sagu, bahkan Tebing Tinggi merupakan
pusat sagu terbaik dan terbesar di Indonesia.
Dukungan datang dari banyak pihak, termasuk
Ketua DPRD Riau waktu itu, Chaidir. Alasannya
jelas, karena Tebing Tinggi akan difokuskan kepa-
da pengembangan sagu di Riau. Akan tetapi protes
tidak berlangsung lama karena perusahaan yang
ditunjuk RAPP, PT Lestari Unggul Makmur terus
beroperasi. Hal yang sama juga terjadi di Pulau
Rangsang, PT. Sumatera Riang Lestari (SRL)
mendapat izin operasi seluas 18.890 hektar.
Juni 2009, Kembali menteri Kehutanan
Republik Indonesia M.S. Kaban mengeluarkan
SK No. 327/Menhut-II/2009 Tanggal 12 Juni 2009.
SK ini kemudian menjadi persoalan nasional
hingga hari ini karena mendapat perlawanan
paling serius dari pihak warga, bahkan dalam
beberapa kajian tentang gerakan sosial atau protes
movement di Riau, SK ini mendapat porsi yang
luar biasa dari pemberitaan media. Artinya sejak
SK keluar dan masyarakat mengetahui, sejak itu
pula (akhir 2009) gerakan perlawanan masyara-
kat terus muncul. Dalam analisis strategi umpan
tarik ala pemerintah, SK ini hingga hari ini belum
dicabut oleh Menteri Kehutanan meskipun
mendapat perlawanan secara masif dari warga,
akan tetapi SK ini sudah hilang dari daftar resmi
SK yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan,
artinya SK itu tidak muncul di situs resmi
www.dephut.go.id. Status hukum policy tersebut
hingga hari ini adalah moratorium setelah
Menhut mendapat tekanan kuat dari berbagai
elemen masyarakat, baik masyarakat Meranti-
Riau maupun NGO.
Apa sebenarnya isi SK tersebut? Inti dari SK
ini adalah setelah RAPP mendapat izin pe-
manfaatan hutan Pulau Padang, RAPP kemu-
dian memanfaatakan lahannya untuk tanaman
industri (HTI). Proses munculnya SK bukan
pada tahun 2009, akan tetapi dimulai dari tahun
2004, dan SK 2009 bukan merupakan SK
tunggal, akan tetapi meliputi beberapa kabupaten,
dan Meranti hanya salah satu yang didapatkan
oleh RAPP di Riau. RAPP mendapatkan perse-
tujuan dari Menhut untuk melakukan beberapa
kali perubahan pengajuan izin, dari semula
hanya 235.140 hektar sesuai Surat Keputusan
Menteri Kehutanan No. SK.356/Menhut-II/2004
Tanggal 1 November 2004. Berdasarkan permo-
honan Direktur Utama PT.RAPP sesuai surat
Nomor: 02/RAPP-DU/I/04 Tanggal 19 Januari
2004, Menteri Kehutanan mengeluarkan kembali
keputusan penting, Surat Keputusan SK No. 327/
34
Sutarno, Kronologis Penolakan Masyarakat Pulau
Padang Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti
Prov. Riau Terhadap Hutan Tanaman Industri (HTI) PT.
RAPP Blok Pulau Padang (SK NO. 327/MENHUT-II/
2009 TANGGAL 12 JUNI 2009).
112 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Menhut-II/2009 tanggal 12 Juni 2009 dengan
luas areal 350.165 hektar yang tersebar ke 5 kabu-
paten dengan rincian luas masing-masing
kabupaten sebagai berikut:
Tabel 2. Peroses perolehan dan perubahan izin
PT RAPP di Riau
Sumber: Diolah dari Surat Keputusan Menteri
No.: 356/Menhut-II/2004, Dokumen
Jikalahari,
35
dan catatan M. Riduan (STR).
Kedua surat keputusan yang dikeluarkan oleh
Departemen Kehutanan tersebut menyangkut
lima kabupaten. Kajian ini penulis fokuskan pada
Kabupaten Kepulauan Meranti dimana antara
SK tahun 2004 dan 2009 tidak mengalami peru-
bahan, jumlah luasan izin yang diperoleh tetap
sama, 41.205 hektar. Pada kolom ketiga, jumlah
luasan lahan yang dikeluarkan pada tahun 2004,
kemudian diajukan kembali oleh RAPPP yang
direspon oleh Departemen Kehutanan sehingga
muncul perubahan luasan lahan konsesi yang
menjadi jauh lebih luas. Pada Kabupaten Meran-
ti tidak mengalami perubahan, karena Meranti
hanya menjadi bagian paket usulan baru oleh
RAPP.
Dari data resmi RAPP ada tiga skenario me-
manfaatkan hutan yang akan menjadi tanaman
industri mereka. Logika RAPP dari sisi agenda
konservasi sebagaimana mereka janjikan sangat
rasional, karena setelah hutan dihabisi secara
legal, maka ia harus melakukan penanaman
ulang. Persoalan muncul karena RAPP menar-
getkan pembukaan lahan 23.914 hektar hutan
gambut di Pulau Padang, padahal pulau ini ma-
suk kategori pulau sedang, luasnya hanya sekitar
110.000 hektar. Hutan gambut yang ditargetkan
ini kemudian justru mendapat izin konsesi seluas
41.205 hektar. Padahal RAPP belum melakukan
konservasi justru sudah akan melakukan pena-
naman pohon demi kepentingan bahan baku
perusahaan. Dalam laporan Eyes on the Forest,
sebuah NGO internasional yang melakukan
banyak investigasi di Sumatera, RAPP belum me-
lakukan apa yang menjadi janji dan kewa-
jibannya, justru sudah akan menanam untuk
kepentingan industrinya.
36
Pada posisi ini sebe-
narnya tidak banyak masalah, namun saat mem-
buka peta untuk kepentingan mensosialisasikan
izin konsesi dan diketahui oleh masyarakat
secara luas termasuk Sarikat Tani Riau (STR),
maka pecahlah persoalan menjadi meluas.
Setelah banyak melakukan berbagai protes
dan perlawanan terhadap RAPP, masyarakat
Pulau Padang pada akhir 2010 melakukan rapat
besar untuk membahas apa yang secara persis
terjadi di Pulau Padang. Hadir dalam forum
tersebut berbagai elemen masyarakat, petani,
tokoh masyarakat, DPD, NGO, Anggota DPRD
Kab. Meranti, politisi, birokrat, polisi, dan militer.
Dalam pembahasan tersebut akhirnya ditemu-
kan kejalasan status dan problem yang sedang
terjadi di Pulau Padang. Jika kita baca dari ber-
bagai laporan media, laporan NGO, dan laporan
berbagai aktivis yang tersebar, inti dari problem
tersebut adalah:
1. Areal konsesi PT. RAPP di Blok Pulau Padang
berada pada areal yang tumpang tindih
dengan lahan/kebun warga.
2. Lebih dari separo lahan dan pemukiman
warga Pulau Padang masuk dalam area izin
konsesi.
35
Tim Jikalahari, 2005. Assessment of Legal As-
pects of the Concession Expansion Plan by PT. RAPP
in Kampar Peninsula and Padang Island, Pekanbaru:
Jikalahari.
No. Kabupaten Luas perolehan
izin, SK 2004
(hektar)
Perubahan,
SK 2009
(hektar)
Selisih
(hektar)
1 Kampar 32.511 30.422 2.089
2 Siak 37.400 52.505 15.105
3 Pelalawan 89.440 151.254 61.814
4 Sengingi 75.789 74.779 1.010
5 Kepulauan Meranti
(Pulau Padang,
Tebing Tinggi,
Rangsang)
41.205 41.205 -
Jumlah Total 235.140 350.165 115.025
36
www.eyesontheforest.or.id.
113 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
3. Dengan dibukanya kanal-kanal akan menye-
babkan intrusi air masin ke darat dan penge-
ringan lahan yang cukup signif ikan pada
musim kemarau yang akan menyebabkan
mudah terbakar. Hal ini bisa terjadi karena
pulau ini memiliki gambut yang tebal lebih
dari 3 meter.
4. Perusahaan belum melakukan kewajibannya
setelah menghabisi hutan Pulau Padang.
5. Dari sisi perijinan, di ketahui bahwa rekomen-
dasi oleh pejabat Bengkalis yang dijadikan
acuan oleh pemerintah pusat sebagai dasar
dikeluarkannya SK Menhut 327 2009, sama
sekali tidak diketahui oleh DPRD Kabupaten
Bengkalis.
6. Tidak memiliki analisis Amdal yang baik, se-
hingga tidak memberikan jaminan keamanan
bagi masyarakat.
37
Dalam peta di atas terlihat bahwa blok
penguasaan RAPP di Pulau Padang cukup luas,
ia menguasai hampir semua sisi (warna gelap kiri
atas) dari keseluruhan pulau. Izin konsesi ini
keluar tanpa memperhatikan posisi dan letak
pemukiman, sehingga semua ruang hampir
terimbas oleh RAPP. Situasi ini membuat panik
warga karena mereka sudah puluhan tahun bah-
kan beberapa desa sudah ada di Pulau Padang
sejak abad ke-19. Realitas ini tentu menjadikan
syok beberapa warga apalagi berbagai isu dengan
mudah disebarmainkan yang menyebabkan
situasi begitu cepat berubah. Pada realitasnya,
beberapa wilayah sudah diolah oleh RAPP, se-
hingga mudah menyulut amarah warga. Bebe-
rapa pekerja dari perusahaan yang ditempatkan
di beberapa lokasi menjadi terancam oleh
penolakan dan perlawanan warga, bahkan kon-
flik sampai pada taraf pembakaran, perusakan
alat-alat berat, pemblokiran area, penutupan
akses jalur masuk lahan, sabotase kanal-kanal,
37
Disarikan dari berbagai sumber: Media cetak, online,
dokumen, dan wawancara dengan anggota DPRD Meranti
dan masyarakat Pulau Padang.
Peta 2. Peta Industri HTI PT LUM, PT SRL (mitra RAPP), PT RAPP di Kabupaten Kepulauan
Meranti. Peta oleh Sarikat Tani Riau (STR), diolah kembali oleh penulis. Sumber download: http://
www.mongabay.co.id
114 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
teror terhadap pekerja perusahaan, dan keke-
rasan lain yang sampai menimbulkan korban
jiwa.
38
Menjadi jelas apa yang disnyalir oleh Doug
McAdam, Sidney Tarrow, Charles Tilly bahwa
polarisasi dengan mudah muncul akibat kebi-
jakan tersebut dan masyarakat dalam beberapa
hal dari semula tidak peduli berubah menjadi
ekstrim. Ada kelompok aktor yang memobilisasi
warga untuk melakukan protes, dan dari hari
kehari eskalasinya meningkat.
Dari luasan wilayah konsesi, menurut data
RAPP diakui kalau ia sendiri belum memiliki tata
batas untuk area operasi. Namun RAPP mem-
buat sendiri tata batas tanpa kesepakatan dengan
pemda dan masyarakat. Dalam pernyataan res-
minya, Direktorat Pengukuhan dan Penatagu-
naan Kawasan Hutan belum dilakukan pembu-
atan tata batas, yang ada tata batas buatan PT.
RAPP yang dijadikan dasar untuk melakukan
operasi. Berikut tata batas yang dibuat oleh RAPP
yang luas totalnya 41.205 Ha, terdiri atas:
1. Tanaman Pokok: 27.375 Ha (66 %);
2. Tanaman Unggulan: 4.121 Ha (10 %);
3. Tanaman Kehidupan: 1.904 Ha (5 %);
4. Kawasan Lindung: 4.102 Ha (10 %);
5. Sarana prasarana: 808 Ha (2 %);
6. Areal Tidak Produktif: 2.895 Ha (7 %) (ter-
masuk di dalamnya areal tambang Kondur
Petroleum SA, milik Bakrie Group).
Setelah mempelajari situasi dan realitas izin
tersebut serta perlawanan masyarakat yang cu-
kup kuat, RAPP sempat berkompromi akan
mencoba menarik batas seminimal mungkin un-
tuk melakukan penarikan dan menghindarkan
lahan warga serta pemukiman. Sebab dari izin
yang dikantongi dengan jelas diakui oleh RAPP
akan menabarak hampir 2/3 lahan penduduk,
pemukiman, dan semua area fasilitas warga yang
ditempati.
Menurut Maruf Syaf ii,
39
anggota DPRD Ka-
bupaten Meranti, setelah ketahuan izin itu keluar
dan ternyata menabrak semua lahan penduduk,
Bupati Pjs. Kepulauan Meranti Syamsuar
mengajukan surat kepada Direktur Jenderal Bina
Produksi Kehutanan Nomor 100/Tapem/189
tentang Peninjauan Ulang Terhadap Semua
IUPHHK-HTI PT. LUM, PT. SRL dan PT RAPP
di Kabupaten Kepulauan Meranti. Warga men-
desak agar bupati melakukan upaya-upaya
menolak RAPP di Meranti. Apalagi izin itu keluar
bukan atas dasar pertimbangan pemda setempat,
lebih menyakitkan komentar menteri Kehutanan
(Zulkif li Hassan) mengatakan Pulau Padang
adalah Pulau tak berpenghuni, pulau tidak
produktif,
40
dan pulau yang lahan gambutnya
di bawah 3 meter. Akibat pernyataan itu pula
kemudian banyak pihak melakukan uji legal
opini atas SK Menhut dan menyimpulkan apa
yang menjadi dasar keputusan keluarnya SK
sangat lemah bahkan cenderung melawan hu-
kum. Karena jelas lahan gambut Pulau Padang
lebih dari 3 meter sebagi batas minimal lahan
yang harus dilindungi, di sisi lain dari sisi amdal
dan kondisi lahan tidak memenuhi syarakat
untuk dijadikan HTI.
Lahan gambut yang tebal akan sulit menahan
air jika dijadikan lahan tanaman industri, sebab
mereka membutuhkan kanal-kanal yang besar
dan air yang banyak. Kita tahu bahwa sistem
pengaliran kayu untuk industri dari hutan dila-
kukan dengan cara membuat kanal-kanal (parit)
yang besar agar kayu mudah dikirim ke hilir dan
diangkut dengan kapal lewat sungai dan laut.
Dalam skala besar, proses dari kegiatan ini sangat
38
Wawancara dengan Riduan, masyarakat Pulau
Padang.
39
Wawancara dengan Maruf Syafii, 21 Agustus 2012,
di Tebing Tinggi Barat, Kepulauan Meranti dan 30 Agustus
2012 di Yogyakarta.
40
Pulau Padang Tak Berpenghuni: STR Bantah
Keras Pernyataan Menhut, Tribun Pekanbaru, http://
pekanbaru.tribunnews.com/2011/05/04/str-bantah-keras-
pernyataan-menhut. Diakses pada tangal 21 Maret 2013.
115 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
merusak ekosistem lahan gambut dan menu-
runkan posisi tanah secara cepat, dan ending-
nya masyarakat yang melakukan kegiatan di
perkebunan karet, kopi, palawija, coklat, dan
kelapa akan kehilangan sumber air. Maka dari
itu bupati dengan sadar mengajukan surat
penolakan dan permintaan agar RAPP keluar dari
wilayah tersebut demi melindungi warganya.
Namun beberapa sumber meragukan niat baik
bupati Meranti, karena menurut beberapa harian
lokal Pekanbaru, bahwa laporan Pulau Padang
tak berpenghuni kepada Menhut justru datang
dari bupati itu sendiri. Dalam Analisis sederhana,
yang dilakukan oleh bupati dengan memenuhi
permintaan warga lebih pada meredam gejolak
warga Meranti agar mengurangi perlawanan dan
menjaga agar tidak muncul kegiatan di luar
kontrolnya.
41
Sejak surat bupati kepada Menhut dikirim-
kan, aktivitas penolakan warga untuk menekan
pemerintah terus diupayakan, bahkan pada
bulan Desember 2009, Selatpanjang sebagai pusat
ibukota selalu dijadikan tempat tujuan demon-
strasi menyuarakan aspirasi perlawanan dan
penolakan. Mereka tidak saja mendapat du-
kungan dari warga Pulau Padang, tetapi juga
dari berbagai daerah pinggir lainnya, seperti
Rangsang dan Tebing Tinggi Barat. Menurut
Maruf Syaf ii, sepanjang Desember 2009 sampai
akhir 2010, puluhan kali anggota DRPD melaku-
kan upaya penyelesaian konf lik kedua belah
pihak, namun masing-masing tidak menemu-
kan titik temu. Bahkan beberapa catatan anggota
dewan, perwakilan dari RAPP benar-benar tidak
mau mengalah dengan kondisi tersebut dan
tetap mempertahankan SK Menhut 2009 yang
menjadi acuannya.
Dari sisi peta dan struktur gerakan masya-
rakat, pada tahun 2009 dan awal 2010, gerakan
petani Pulau Padang masih menemukan mo-
mentum untuk terus melakukan perlawanan. Di
atas kertas, momentum dukungan bupati dan
anggota DPRD sangat penting bagi warga, oleh
karena itu kesempatan itu terus diupayakan dan
mencoba untuk menjaringkan keberbagai mitra
mereka. Salah satu kunci penting dalam gerakan
masyarakat Pulau Padang adalah dukungan para
ulama dan kyai, karena kultur masyarakat Pulau
Padang dan Meranti umumnya begitu tunduk
kepada para kyai dan tokoh panutan, sehingga
jalur itu juga digunakan. Para ulama dan kyai
mayoritas mendukung gerakan tersebut karena
posisi mereka juga menjadi bagian dari wilayah
yang terdampak akibat izin konsesi RAPP.
Dalam pernyataannya, wakil ketua DPRD
Kab. Meranti dari Gerindra Tauf ikurahman,
dengan tegas akan mendukung gerakan masya-
rakat Pulau Padang untuk memperjuangkan
hak-haknya. Akan tetapi politisi adalah politisi,
tergantung kesempatan dan kemungkinan dan
kalkulasi mereka, ketika gerakan itu tidak
menguntungkan, maka ia secara perlahan akan
berpaling dengan pasti, dengan alasan masih
banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan
dan berlindung dibalik tidak memiliki wewenang
untuk menolak dan menghentikan aktif itas
RAPP di Pulau Padang.
Realitas itu dengan tegas terlihat dari pernya-
taan Maruf Syaf ii dkk. saat berkunjung ke Yog-
yakarta 2010. Mereka mengaku kehilangan akses
dan dukungan dari berbagai pihak di Meranti
untuk memperjuangkan Pulau Padang, karena
Pulau Padang bukan persoalan sederhana, ada
struktur besar yang bermain di wilayah ini dan
tak mudah untuk disentuh oleh elite-elite lokal
yang baru saja dilantik menjadi wakil rakyat.
42
41
Ibid.
42
Pada tahun 2009 dan 2010, Maruf Syafii (anggota
DPRD Meranti dari PKB) dan Muhammad Adil (Wakil
Ketua DPRD Meranti dari Hanura) adalah sosok yang
dermawan, terlibat aktif memperjuangankan kepentingan
116 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Dalam bahasa sederhana, elite lokal ini ingin
mengatakan, terlalu banyak pemain illegal log-
ging di Meranti yang tidak terlalu suka dengan
gerakan dan dukungan pemerintah-DPRD kepa-
da masyarakat karena akan mengganggu aktif i-
tas yang sama pada pelaku-pelaku lain.
43
Seti-
daknya, ada banyak struktur kekuatan dan mod-
al yang bertahun-tahun bermain di Meranti,
termasuk mitra RAPP di Tebing Tinggi dan
Pulau Rangsang.
44
Dalam pengalaman melakukan mediasi
dengan masyarakat dan RAPP, posisi dewan
terlihat begitu lemah dan RAPP tampak begitu
conf ident sekaligus menguasai petanya, sehingga
seringkali yang menjadi kesepakatan di atas
kertas selalu diabaikan di lapangan.
45
Menyang-
kut perilaku RAPP ini, tampak ia memiliki deal-
deal besar terhadap penguasa di Riau, karena
dengan jelas kesepakatan moratorium dengan
warga dan Menteri Kehutanan tetap diabaikan,
karena saat ini RAPP tetap menjalankan aktif i-
tasnya di Pulau Padang sekalipun ada kesepa-
katan penghentian sementara semua aktif itas
penggarapan lahan. Beberapa kali perwakilan
RAPP berdialog dengan para petani Pulau
Padang, akan tetapi pertemuan tidak dilakukan
di Meranti, melainkan dilakukan di Pekanbaru.
Dari sisi itu saja, posisi petani sebagai pihak yang
mendatangi dan jauh lebih lemah dari anggapan
banyak pihak. Mereka harus mengalah dengan
mendatangi tempat yang jauh dari kampung
halaman mereka, ke Pekanbaru yang ditempuh
sekitar 4-5 jam.
Pada bulan Oktober dan November 2010,
Petani Pulau Padang diundang dalam perte-
muan yang dilakukan di Hotel Grand Zuri Pe-
kanbaru yang menghasilkan kesepakatan lisan
antara warga Pulau Padang dengan RAPP, inti-
nya masyarakat menuntut pihak perusahaan
sebelum beroperasi di Pulau Padang untuk
melakukan mapping (pemetaan ulang) dan
pembuatan tapal batas permanen sebelum RAPP
melakukan operasional di Pulau Padang. Secara
lisan pihak perusahaan menyetujui semua tun-
tutan masyarakat Pulau Padang yang saat itu
diwakili oleh 10 orang petani, namun secara
tertulis berbeda dengan apa yang disepakati
secara lisan. Sehingga pihak masyarakat tidak
mau menandatangani berita acara dan notulensi
hasil pertemuan.
46
Pada pertemuan kedua justru
RAPP menyampaikan atau sosialisasi bahwa
RAPP akan segera beroperasi di Pulau Padang.
Kelemahan itu jelas terlihat sebab pada perte-
muan kedua RAPP menunjukkan keabsahan
izin operasi dari Departemen Kehutanan dan
bupati mendapat instruksi dari Gubernur Riau
Rusli Zainal untuk memfasilitasi beroperasinya
RAPP di Pulau Padang. Artinya, kekalahan ke-
dua gerakan telah mulai tampak di depan mata,
sehingga mereka harus mengatur kembali basis
perjuangannya dengan para pengusung gerakan
tersebut.
masyarakat Pulau Padang. Mereka dengan gigih melakukan
upaya mediasi dan mencari solusi di dewan. Tak sedikit
mereka berkorban waktu, tenaga, dan dana untuk membiayai
masyarakat melakukan lobi-lobi sekaligus ke Jakarta
memperjuangankan nasibnya, akan tetapi pada titik tertentu,
mereka kehabisan amunisi untuk terus mendampngi
warga. Diakuinya anggota dewan tak memiliki kekuatan lobi
dan modal untuk melawan birokrasi dan raksana bernama
RAPP.
43
Ironisnya, menurut beberapa sumber, pihak-pihak
yang menikmati illegal logging adalah para birokrat dan elite
politik. Artinya memang hutan dijarah untuk kepentingan
beberapa kelompok dan untuk membiayai para politisi
menuju kursi dewan.
44
Wawancara dengan Maruf Syafii. Lihat juga laporan
tahunan (Scale Up), op.cit., hlm. 35.
45
Diskusi dengan Maruf Syafii dan beberapa mantan
anggota komisi B DPRD Kabupaten Meranti, di
Yogyakarta, 2010.
46
Made Ali, Kronologi Kasus Pulau Padang (4),
http://madealikade. wordpress.com/2012/07/10/
kronologis-kasus-pulau-padang-4/.
117 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
Jika kita melihat pada struktur modal dan
kuasa yang bermain di Meranti dan sekitarnya,
sedikitnya ada empat kelompok yang memiliki
interest. Pertama, kekuatan modal keturunan
Tionghoa yang sudah bercokol puluhan tahun.
Kelompok ini masuk pada basis kebutuhan dasar
masyarakat Meranti, seperti transportasi darat
dan laut, kebutuhan pokok, dan sebagian usaha
perkebunan; kedua, kelompok pemain besar
yang beraf iliasi dengan kekuatan lokal melaku-
kan eksploitasi hutan alam dan kayu; ketiga keku-
atan asing, hal ini selalu dilihat sebagai para
pegusaha Malaysia dan Singapura yang tidak
pernah menggunakan langsung tangannya,
tetapi memilih jalur aman memainkan relasi
gelap di bisnis illegal logging dan kebutuhan
dasar masyarakat Meranti; dan terakhir adalah
kekuatan birokrasi dan politisi lokal. Kelompok
ini bahkan masuk pada semua lini dalam me-
mainkan isu sekaligus pelaku kebijakan. Kita
mafhum bahwa sejak reformasi, biaya politik
sangat tinggi dan para politisi harus mengerah-
kan semua modal untuk menuju kursi kekuasa-
an. Tiga eleman modal menjadi bagian yang tak
terpisahkan, sehingga memunculkan persoalan
yang menahun sekaligus sebuah kekuatan dan
isu yang bisa dipelihara dan dimainkan.
Saat RAPP mendapat izin konsesi HTI di Pulau
Padang, beberapa analis melihat ada peta per-
saingan antara perusahaan besar dengan para
pemain kecil dan pelaku Illegal Logging yang
bertahun-tahun mensuplai beberapa perusahaan
di Malaysia.
47
Sempat muncul isu bahwa gerakan
masyarakat Pulau Padang di dukung oleh para
pelaku illegal logging dan beberapa perusahaan
Malaysia. Orang sudah faham bahwa pencurian
kayu di Meranti sudah lama terjadi dan pejualan
kayu illegal ke Malaysia sudah berlangsung
puluhan tahun. Kondisi geograf is wilayah ini
sangat mendukung, di samping dekat dengan
Malaysia, pulau-pulau di Meranti sangat banyak
anak sungai (jalur tikus) yang begitu mudah bagi
beberapa pelaku kejahatan dan pencurian kayu
untuk kabur dari penglihatan dan kejaran aparat
kemanan. Tentu kita memahami kemampuan
aparat penegak hukum kita dan sadar pula
dengan perilakunya, sehingga sekalipun tertang-
kap, jarang yang tidak dilepas. Dikalangan
mereka sudah menjadi rahasia umum, saat
tertangkap harus menyiapkan segepok rupiah
untuk lepas dari seretan ke meja hijau.
Ekspansi RAPP ke Pulau Padang, Rangsang,
dan Tebing Tinggi memperjelas ada beberapa
pemain di wilayah ini yang kehilangan kesem-
patan dan terdesak, khususnya para pelaku ille-
gal logging. Wilayah yang selama ini dikenal di
sekitar sekitar Desa Selatakar, Kudap, Lukit
(Pulau Padang) dan Pulau Rangsang Barat-
Timur dan sekitarnya adalah wilayah pengua-
saan para pengusaha kelas sedang dan kecil yang
mensuplai kayu ke Malaysia. Dan kini mereka
terdesak oleh perluasan eksploitasi RAPP di
wilayah tersebut. Dugaan ini sebenarnya tidak
terlalu kabur, karena persoalan illegal logging
antara pelaku-pelaku pembabat hutan alam di
Riau telah lama mengirim kayu tersebut ke Ma-
laysia.
48
Beberapa sarjana Indonesia yang sedang
studi di Malaysia pernah secara serius mendis-
kusikan hal tersebut di Malaysia, dan banyak
elite-elite Malaysia mengakui hal tersebut, namun
Malaysia tidak mau dipersalahkan begitu saja,
sebab banyak dari para tentara dan pelaku bisnis
Indonesia yang menyeret-nyeret pengusaha
47
Cukong Malaysia Bekingi Illegal Logging di
Riau?. http.www.okezone.com. 2 Juni 2012. Diakses tanggal
11 Maret 2013.
48
Bahkan beberapa anggota DPR sempat mensinyalir
hal tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa karena Malay-
sia yang hutannya jauh lebih sedikit dibanding Indonesia
justru mereka mengekspor kayu lebih besar dibanding In-
donesia. Pertanyaannya dari mana kayu itu diperoleh Ma-
laysia? Ibid.
118 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Malaysia untuk terlibat dalam perdagangan ilegal
tersebut.
49
Akhirnya, kita harus melihat Illegal Logging
adalah bagian dari persoalan-persoalan agraria
yang muncul ke permukaan sebagai aksesoris
persoalan besarnya. Persoalan utama yang men-
dasar adalah konflik agraria yang terus menga-
lami peningkatan dari tahun ke tahun. Seolah
tak menemukan solusi, negara kehilangan ruh
untuk menyelesaikan dan meminimalisir berba-
gai persoalan. Dalam catatan banyak pemerhati
dan peneliti agraria di Riau, laju konflik seban-
ding dengan laju luas wilayah konflik dan jum-
lah rumah tangga konflik. Akan tetapi tidak
signif ikan jumlah perusahaan yang terlibat
dalam konflik. Artinya, para pemain yang ter-
libat dalam konflik masih kelompok usaha lama
yang selama ini terlibat secara serius di wilayah
tersebut. Dalam analisis konflik dan pelaku tidak
menunjukkan perkembangan yang luar biasa,
tetapi sungguh menimbulkan dampak yang begi-
tu besar. Oleh karena itu tindakan hulu dari akar
persoalan mesti menjadi prioritas dari kebijakan
agraria Indonesia ke depan.
C. Kesimpulan
Konf lik dan ketegangan dalam persoalan
agraria di Riau sejak tahun 2011 mengalami
perubahan. Jika sebelumnya konflik didominasi
pada lahan perkebunan, khususnya perkebunan
sawit, kini konflik beralih pada hutan tanaman
industri. Sebenarnya dua lahan itu tidak bisa
dipisahkan karena sebenarnya mayoritas lahan
perkebunan di Riau sebelumnya juga hutan alam
yang telah dihabisi. Pada periode 1990-an,
pembukaan hutan secara luas dan mengalihkan
lahan tersebut ke sawit memunculkan persoalan
yang panjang. Konflik di lahan tersebut banyak
yang tidak terselesaikan sampai akhirnya banyak
warga tempatan mengalah karena memang tidak
mampu melawan tindakan korporasi. Mereka
lebih memilih pindah dan beralih profesi karena
tidak sanggup untuk bertahan.
Tahun 2000-an hal yang sama kembali terjadi
pembukaan lahan secara luas terjadi akibat kebi-
jakan negara yang mendukung penuh perusa-
haan pulp and paper di Riau. Dengan belajar
model yang terjadi pada tahun 1990-an, tampak-
nya persoalan yang sama akan terjadi pada tahun-
tahun mendatang. Saat ini, pemerintah mendu-
kung secara penuh dengan memberikan izin-
izin konsesi kepada perusahaan untuk melaku-
kan eksploitasi hutan alam, pada gilirannya
setelah kayunya habis, maka akan banyak
menyusul izin baru, baik untuk lahan perke-
bunan maupun tanaman industri.
50
Berkaca dari
persoalan tersebut, penulis meyakini jika mereka
gagal memanfaatkan lahan untuk kepentingan
tanaman industri, maka akan dialihkan ke
perkebunan dan sawit menjadi prioritas utama.
Gerakan perlawanan petani dan warga Pulau
Padang sampai pada titik jenuh, karena kekuatan
modal mereka untuk melawan kini sudah
habis. Apa yang diyakini dalam collective ac-
tion-Tilly sebenarnya menunjukkan kejelasn
49
Diskusi dengan Abdul Halim Mahally, Kandidiat
Doktor di University Kebangsaan Malaysia. Pernyataan
ini keluar dari beberapa elite Malaysia dalam rangka
menekan perdagangan ilegal kayu-kayu dari Riau.
50
Sempat terjadi moratorium pemberian izin untuk
pembukaan lahan hutan tanaman industri selama satu tahun,
namun pada tahun 2013 kembali dibuka. Pada kaus Pulau
Padang yang sebelumnya sempat terjadi pengehntian
sementara justru kini sudah dibuka kembali, dan RAPP
sudah beroperasi kembali di Pulau Padang, lihat Khairul
Hadi, Riau akan Semakin Sering Dilanda Banjir dan
Kekeringan. 10 Mei 2013. www.goriau.com. Diakses pada
tanggal 14 Mei 2013. Lihat juga hasil mediasi yang dibentuk
oleh pemerintah, namun tak juga dilaksanakan, Laporan
Tim Mediasi Penyelesaian Tuntutan Masyarakat Setempat
Terhadap Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada
Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) PT. RAPP di Pulau
Padang Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau.
(SK.736/Menhut-II/2011 tanggal 27 Desember 2011), (Ex-
ecutive Summary). Dokumen tidak dipublikasikan.
119 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
bahwa gerakan sosial akan melamah seiring
dengan lajunya kekuatan-kekuatan yang memi-
liki kepentingan dalam suatu objek. RAPP
dengan dukungan banyak pihak termasuk didu-
ga kelompok jaringan birokrasi dan aparat ke-
amanan tak mampu dilawan oleh masyarakat
Pulau Padang. Sekalipun sebenarnya upaya yang
dilakukan sebagaimana gerakan mengarah pada
meningkatkan eskalasi secara tidak sadar
menuju polarisasi yang ekstrim (Doug McAdam,
Sidney Tarrow, Charles Tilly, 2004) dengan
memainkan aktor-aktor justru menjadi pembe-
nar bagi pihak lawan untuk segera menghabisi
gerakan mereka.
Selain beberapa tokoh mereka ditangkap oleh
aparat keamanan dengan tuduhan merusak dan
perbuatan kriminal, dukungan beberapa pihak
lain perlahan mulai mengendur. Hal itu terkait
modal dan amunisi yang mereka miliki. Berju-
ang pada wilayah seperti Pulau Padang membu-
tuhkan dukungan dana yang tidak sedikit, kare-
na posisi wilayah yang jauh (antarpulau) mem-
butuhkan tenaga dan dana yang besar. Kekuatan
itu dalam skala tertentu sudah diperkirakan oleh
RAPP, terbukti mereka terus bergerak melaku-
kan pengerjaan lahan, karena mereka meyakini
akan ada titik pasrah dari warga dalam mem-
perjuangkannya. Kondisi lengah itulah yang
dimanfaatkan untuk melakukan lobi beberapa
pihak warga Pulau Padang agar dukungan kepa-
da RAPP di peroleh. Dan kini beberapa warga
mulai mengalami perubahan, ada yang menye-
rah, ada yang mencoba berkompromi, dan ada
pula yang bekerja sama. Realitas ini sebenarnya
sangat menyedihakan karena persoalan Pulau
Padang bukan persoalan warga Meranti semata,
tapi persoalan kesetiaan terhadap masa depan
anak negeri yang peduli terhadap lingkungan-
nya. Kekalahan warga memang sudah jauh
terlihat karena negara tidak berpihak pada
mereka, di sisi lain terlalu kuat struktur di balik
kekuasaan dan penguasaan hutan di Meranti.
Ada banyak pemain yang memiliki interest dan
mencoba memainkan isu Pulau Padang untuk
kepentingan kelompok tertentu, selain tentu saja
RAPP berkepentingan untuk mengamankan
dalam jangka panjang perusahaannya di wilayah
Riau.
Daftar Pustaka
Ali, Made, 2012. Kronologi Kasus Pulau Padang
(4), http://madealikade.wordpress.com/
2012/07/10/ kronologis-kasus-pulau-
padang-4/.
____, 2012. Jikalahari: Deforestasi di Riau 2012
Setara Kehilangan 10 Ribu Lapangan Futsal
Tiap Hari.: http://www.mongabay.co.id/
2013/01/02/jikalahari-catatan kejahatan-
kehut anan- r i au- s epanj ang- 201 2/
#ixzz3oOpj8kL6. 2 Januari 2013.
Bachriadi, Dianto dan Gunawan Wiradi, 2011.
Enam Dekade Ketimpangan. Jakarta: Bina
Desa, ARC, KPA.
Colchester, Marcus, Norman Jiwan, Andiko, dkk.
2006. Tanah yang Dijanjikan: Minyak Sawit
dan Pembebasan Tanah di Indonesia,
Implikasi terhadap Masyarakat Lokal dan
Masyarakat Adat. Jakarta: Forest People
Programme dan Perkumpulan Sawit
Watch.
Cukong Malaysia Bekingi Illegal Logging di
Riau?. http.www.okezone.com. 2 Juni 2012.
Diakses tanggal 11 Maret 2013.
Haryanto, 1989. Studi Pendahuluan Struktur
Vegetasi Hutan Gambut di Pulau Padang,
Provinsi Riau. Media Konservasi Vol. II (4),
Desember 1989.
Galudra,Gamma, Gamal Pasya, Martua Sirait,
Chip Fay, (peny.) 2006. Rapid Land Tenure
Assessment: Panduan Ringkas bagi Praktisi.
Bogor: World Agroforestry Centre.
Herlina, Tutut, 2012. Berkorban demi Pulau Padang
(1), Sinar Harapan, Selasa, 25 September
2012. Lihat juga http://www.shnews.co/detile-
8396-berkorban-demi-pulau-padang-1.html.
120 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Indradi, Yuyun, Setahun Moratorium Hutan,
Apakah hutan dan Gambut Indonesia
Sudah Terlindungi?. http://
www.greenpeace.org/seasia/id /blog/
Setahun-Moratorium Hutan/blog/40230/.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.356/
MENHUT-II/2004 Tentang Perubahan
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 130/
KPTS-II/1993 Tanggal 27 Pebruari 1993 JO.
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 137/
KPTS-II/1997 Tanggal 10 Maret 1997 Tentang
Pemberian Hak Pengusahaan Hutan
Tanaman Industri di Provinsi Riau Kepada
PT. Riau Andalan Pulp and Paper.
Laporan Tahunan (Executive Summary). 2012.
Konflik Sumberdaya Alam di Riau Tahun
2008, 2009, 2010, 2011. Pekanbaru: Scale Up
(Sustainable Social Development Partner-
ship).
Laporan Tim Mediasi Penyelesaian Tuntutan
Masyarakat Setempat Terhadap Ijin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan
Tanaman (IUPHHK-HT) PT. RAPP di Pulau
Padang Kabupaten Kepulauan Meranti
Provinsi Riau. (SK.736/Menhut-II/2011
tanggal 27 Desember 2011), (Executive Sum-
mary). Dokumen tidak dipublikasikan.
Leiriza, R.Z., 2004. Charles Tilly dan Studi ten-
tang Revolusi, Jurnal Sejarah, Vol. 6, 2004.
Lucas, Anton dan Carol Warren, 2007. The
State, the People, and Their Mediators: The
Struggle Over Agrarian Law Reform in Post-
New Order Indonesia. Indonesia, Edisi 76.
McAdam, Doug, Sidney Tarrow, Charles Tilly,
2004. Dynamics of Contention. Cambridge
University Press.
Magnis-Suseno, Franz, 1999. Pemikiran Karl
Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme, Jakarta: Gramedia.
Maring, Prudensius, Afrizal, Jomi Suhendri S,
Rosyani, dkk. 2011. Studi Pemahaman dan
Praktik Alternatif Penyelesaian Sengketa
oleh Kelembagaan Mediasi Konflik Sum-
berdaya Alam di Provinsi Riau, Jambi,
Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan,
(Laporan Penelitian), Pekanbaru: Scale Up
(Kemitraan Pembangunan Sosial Berkelan-
jutan).
Maharadja, Uparlin, 2012. Warga Pulau Padang
Aksi Bakar Diri di Depan Istana, Sinar
Harapan, Selasa, 19 Juni 2012. Lihat juga
http://www.shnews.co.
Mundung, Johny Setiawan, Muhammad Ansor,
Muhammad Darwis, Khery Sudeska, 2007.
Laporan Penelitian Analisa Konflik Per-
tanahan di Provinsi Riau Antara Masyarakat
dengan Perusahaan (Studi Tentang PT
RAPP, PT IKPP, PT CPI dan PT Duta Palma
2003-2007), Pekanbaru: Tim Litbang Data
FKPMR.
Perkasa, Anugerah, 2012. Tragedi Pulau Padang:
Dari Lukit hingga Tebet Dalam (1-4).
www.bisnis.com, 13-14 Agustus 2012. Diakses
pada tanggal 23 Oktober 2012).
Pulau Padang Tak Berpenghuni: STR Bantah
Keras Pernyataan Menhut, Tribun
Pekanbaru, http://pekanbaru.tribunnews.
com/2011/05/04 /str-bantah-keras-pernya-
taan-menhut.
Riduan, M. Ketika SK Menhut MS Kaban No
327 di tentang oleh Rakyat, Namun
Pemerintah Tetap Memaksakan Kehendak-
nya...!, http://riduanmeranti. blogspot.
com/2011/05/ketika-sk-menhut-ms-kaban-
no-327-di.html.
Ritzer, George & J. Goodman, Douglas. 2004.
Teori Sosiologi Modern. Edisi keenam.
Jakarta: Prenada Media.
Saturi, Sapariah, 2013. WWF Desak APRIL
Hentikan Penghancuran Hutan Alam.
www.mongabay.co.id, 13 Februari 2013.
Sutarno, Kronologis Penolakan Masyarakat
Pulau Padang Kecamatan Merbau Kabu-
paten Kepulauan Meranti Prov. Riau Ter-
hadap Hutan Tanaman Industri (HTI) PT.
RAPP Blok Pulau Padang (SK NO. 327/
MENHUT-II/2009 TANGGAL 12 JUNI
2009).
Tilly, Charles, 2004. Social Movement, 1768-2004,
London: Paradigm Publisher.
Tim Jikalahari, 2001. Hutan Rawa Gambut dan
Permasalahan SK 327/MENHUT-II/2009.
121 M. Nazir Salim: Menjarah Pulau Gambut.....: 96-121
Pekanbaru: Jikalahari, 2011. www.jikalahari. org
____, 2005. Assessment of Legal Aspects of the
Concession Expansion Plan by PT. RAPP in
Kampar Peninsula and Padang Island,
Pekanbaru: Jikalahari. www.jikalahari.org
____, Investigative Report, www.jikalahari.org
van Gelder, Jan Willem, 2005. The f inancing of
the Riau pulp producers Indah Kiat and
RAPP. A research paper prepared for
Jikalahari (Indonesia), 24 October 2005.
Wihardandi, Aji, 2012. Asia Pulp and Paper Terus
Lolos Uji SVLK Kendati Klien Berlarian,
Mongabay Indonesia, www. mongabay.
co.id, 19 November 2012.
Yuwono, Teguh, tt. Konflik Izin IUPHHK-HT
PT. RAAP di Pulau Padang:Potret Buram
Penataan Ruang & Kelola Hutan di Indo-
nesia.
http://riduanmeranti.blogspot.com/#uds-
search-results
http://www.merantikab.go.id.
http://www.balithut-kuok.org/index.php/home/
56-industri-pulp-dan-kertas-belum-
mandiri.
http://www.eyesontheforest.or.id
Wawancara: H. Ngabeni, Maruf Syaf ii, Riduan.
SUKU ANAK DALAM BATIN 9
DAN KONFLIK SERIBU HEKTAR LAHAN SAWIT ASIATIC PERSADA
1
Dwi Wulan Pujiriyani* & Widhiana Hestining Puri*
Abstract Abstract Abstract Abstract Abstract: This paper seeks to explore the case of conflict within palm oil plantation-local people partnership involving SAD
Batin 9 group with palm oil company. Bungku village was the site chosen to take this issue comprehensively.The expansion
ofpalm oil plantationshave led totheloss ofliving territoryto developtheir social system. Conflictsarisenot onlyverticalbut
alsohorizontal. Amongst the Inner SAD 9 itself, each fighting for its sovereignty emerged. SAD groups which were impover-
ished by imbalanced control structure eventually have to deal with a part of their own group which slowly became part of the new
ruling capital group. The palm oil skipper that came from a group of local residents as well as newcomers were the form of the
emerging plantation power. In the context of adverse incorporation, they were part of the group that get benefit from the
presence of palm oil plantation. Involvement or integration of this group in the oil business scheme has allowed them to
accumulate new capital sources. This group could accumulate greater profits from palm-oil they collect from small farmers.
Key words: Suku Anak Dalam, palm oil, conflict, partnership
Intisari Intisari Intisari Intisari Intisari: Tulisan ini berupaya untuk menelusuri kasus konflik kemitraan perkebunan dengan masyarakat yang melibatkan kelompok
SAD Batin 9 dengan perusahaan sawit. Desa Bungku merupakan lokasi yang dipilih untuk bisa memotret persoalan ini secara
komprehensif. Ekspansi perkebunan sawit telah menyebabkan masyarakat kehilangan kawasan hidup untuk mengembangkan
sistem sosial mereka. Konflik yang muncul tidak saja bersifat vertikal melainkan horizontal yaitu konflik yang terjadi diantara
sesama kelompok SAD Batin 9 yang masing-masing memperjuangkan kedaulatannya. Kelompok-kelompok SAD yang dimiskinkan
oleh struktur penguasaan yang tidak seimbang ini, pada akhirnya juga harus berhadapan dengan bagian dari kelompok mereka yang
ternyata secara perlahan telah menjadi bagian dari kelompok penguasa kapital baru. Para juragan sawit yang berasal dari kelompok
penduduk lokal dan juga pendatang merupakan wujud alih rupa dari kuasa perkebunan yang muncul. Dalam konteks adverse
incorporation, mereka inilah yang menjadi bagian dari kelompok yang diuntungkan dengan kehadiran sawit. Keterlibatan atau
integrasi kelompok ini dalam skema bisnis sawit, telah memungkinkan mereka untuk mengakumulasi sumber-sumber kapital
baru. Kelompok yang satu ini bisa mengakumulasi keuntungan yang lebih besar dari sawit-sawit yang mereka kumpulkan dari
petani kecil.
Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci: Suku Anak Dalam, Sawit, konflik, kemitraan
A. Pengantar
Masyarakat Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi
menerima kebun sawit seluas 1.000 hektar dari PT
Asiatic Persada, grup perusahaan Wilmar Interna-
tional, yang diharapkan bisa mengangkat kesejah-
teraan mereka. Selama kredit pengelolaan kebun
sawit itu belum lunas, kira-kira selama lima tahun,
setiap kepala keluarga akan menerima uang hasil
kebun sekitar Rp750 ribu per bulan, setelah kredit
lunas, pendapatan per kepala keluarga bisa dua kali
lipat, (Media Swara, 17 Juni 2010).
Konflik perkebunan dengan komunitas lokal
atau masyarakat adat adalah satu dari sekian
persoalan konf lik agraria di Indonesia yang
tercatat sebagai persoalan yang dari tahun ke
tahun menunjukkan tren yang terus meningkat.
Seperti dikutip oleh Saturi (2013), akar konflik
1
Ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan yang
dilakukan oleh tim riset sistematis Jambi (Bambang Suyudi,
Tanjung Nugroho, Deden Dani Saleh, Heru Purwandari,
Dwi Wulan Pujiriyani, Widhiana Hestining Puri) yang
dilaksanakan pada 13-23 September 2011.
* Staf pengajar Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional.
123 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
di sektor perkebunan terutama disebabkan oleh
tingkat konversi hutan menjadi sawit yang
menyebabkan deforestasi yang sangat parah.
Sumatera dan Kalimantan adalah dua wilayah
yang memiliki karakteristik konflik serupa ini
dimana ekspansi kawasan hutan luas yang dija-
dikan perkebunan sawit menyisakan konf lik
berupa klaim komunitas lokal atau masyarakat
adat dengan negara maupun perusahaan. Laju
investasi perkebunan sawit telah memperkuat
tekanan terhadap lahan.
Berbagai penelitian yang telah dilakukan me-
nunjukkan bahwa konflik antara masyarakat
lokal dengan perusahaan pengelola perkebunan
yang terjadi akibat ekspansi perkebunan sawit,
jamak berawal dari pengingkaran terhadap kebe-
radaan komunitas lokal atau masyarakat adat
yang telah turun temurun mencari penghidupan
di tanah-tanah yang telah diubah menjadi ka-
wasan perkebunan. Mengacu pada Djuweng dan
Dove dalam Julia (2009), aspek yang paling tam-
pak dari relasi antara masyarakat adat dengan
negara adalah penyangkalan terhadap kesahihan
posisi/keberadaan yang satu terhadap yang lain.
2
Negara tidak mengakui keberadaan masyarakat
adat dan sementara itu masyarakat adat juga tidak
mengakui klaim negara terhadap tanah leluhur
mereka. Tanah yang merupakan hal fundamen-
tal bagi hampir seluruh kelompok masyarakat
adat dan masyarakat lain yang bergantung kepa-
da hutan, merupakan kunci perdebatan dalam
isu perkebunan kelapa sawit. Pada saat dimana
banyak kelompok masyarakat adat harus tinggal
di tanah yang sama untuk beberapa generasi,
hak-hak mereka terhadap tanah tersebut juga
tidak jelas dalam hukum Indonesia (Marti, 2008).
Sementara itu White (2009) menyebutkan
bahwa sebagian besar ekspansi sawit di Indone-
sia dan beberapa negara lainnya dilakukan di ta-
nah-tanah luas yang penguasaannya tidak (be-
lum) dilindungi oleh hukum yang mengatur hu-
bungan-hubungan hak milik pribadi, tetapi
mempunyai status tanah publik atau negara.
3
Tanah-tanah ini memberi penghidupan bagi
jutaan petani dan pengguna hutan di bawah be-
ragam kedudukan hubungan tidak resmi dan
semi-resmi atau adat, individu atau kolektif. Hal
ini pada kenyataannya berdampak luas pada mata
pencaharian penduduk di pedesaan. Status kepe-
milikan tak resmi dan tidak pasti, dimana banyak
petani dan pengguna hutan mengusahakan la-
han ini, membuat mereka rentan. Di banyak ne-
gara dimana proyek-proyek biofuel berkembang,
ada keprihatinan luas tentang pelanggaran serius
baik terhadap hak atas tanah dan hak asasi,
dengan banyaknya ketidakberesan dalam cara
mendapatkan tanah serta cara memperlakukan
petani yang dilakukan oleh perusahaan modal
besar. Banyak terjadi kasus penipuan dalam pro-
ses pengadaan lahan, seperti skema inti-plasma
dimana penduduk menyerahkan tanah adat
mereka dan hanya sebagian kecil diantaranya
yang dikembalikan, pengambilalihan lahan tanpa
sepengetahuan masyarakat setempat dan penye-
waan tanah dengan harga yang sangat rendah.
4
Hal serupa juga ditegaskan oleh Colchester
(2006) yang dalam penelitiannya mengenai dam-
pak ekspansi perkebunan kelapa sawit di Lam-
2
Lebih lanjut lihat Julia. 2009. Pembangunan untuk
Siapa? Implikasi Jender Perkebunan Kelapa Sawit terhadap
Perempuan Dayak Hibun di Kalimantan Barat, Indonesia.
Dalam Jurnal Tanah Air, Edisi Oktober-Desember, hal
194-235.
3
Tulisan merupakan respon yang dilakukan penulis
terhadap Instruksi Presiden No 1 Tahun 2006 untuk
menyediakan 27 juta ha lahan yang disebut tanah hutan
yang tidak produktif untuk ditanami kelapa sawit, tebu,
jagung dan jarak pagar untuk penyediaan biofuel.
4
Hal ini salah satunya dilakukan oleh perusahaan
Daewoo Logistics Korea yang menyewa tanah seluas 1
juta hektar dengan harga 6 milyar $. Lebih lanjut lihat Ben
White. 2009. Laba dan Kuasa Dicat Warna Hijau: Catatan
Mengenai Biofuel, Agribisnis dan Petani. Dalam Jurnal
Tanah Air, Edisi Oktober-Desember, hal 238-257.
124 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
pung, Kalimantan, dan Padang, menyebutkan
bahwa konflik berawal dari masyarakat yang
merasa ditipu oleh perusahaan. Mereka merasa
dijebak dalam kesepakatan dan janji-janji palsu.
Beberapa penyimpangan yang ditengarai terjadi
antara lain: hak ulayat tidak diakui; perkebunan
kelapa sawit dibangun tanpa perizinan dari pe-
merintah; informasi tidak diberikan kepada
komunitas; kesepakatan untuk mufakat tidak
dirundingkan; pemuka adat dimanfaatkan un-
tuk memaksakan penjualan tanah; pembayaran
kompensasi tidak dilaksanakan; keuntungan
yang dijanjikan tidak diberikan; kebun untuk
petani tidak dibagikan atau dibangun; petani
dibebani dengan kredit yang tidak jelas; kajian
mengenai dampak lingkungan terlambat dila-
kukan; lahan tidak dikelola dalam waktu yang
ditentukan, penolakan masyarakat ditekan mela-
lui kekerasan dan pengerahan aparat; serta
pelanggaran hak asasi manusia serius.
5
Dalam konteks ekspansi sawit yang terjadi di
Sumatra atau secara spesif ik di Jambi, McCharty
(2011) memunculkan konsep inclusion dan
adverse incorporation. Dalam hal ini, kehadiran
sawit telah mengintegrasikan masyarakat lokal
dan mengubah pola hidup subsistennya untuk
kemudian terintegrasi dalam sebuah rantai ko-
moditas global. Jebakan kemiskinan adalah pot-
ret yang pada akhirnya muncul. Keterlibatan
mereka dalam skema kemitraan dengan perke-
bunan baik melalui PIR Trans maupun KKPA,
pada kenyataannya tidak sepenuhnya mampu
menjawab harapan tentang kemakmuran dan
pengentasan kemiskinan. Sawit mendatangkan
kemakmuran bagi sebagian dan sekaligus juga
menghadirkan kemiskinan bagi yang lain. Kemis-
kinan tidak terjadi karena mereka tidak bisa
mengambil bagian dalam proses transformasi
agraria yang ada, tetapi karena keterlibatan me-
reka dalam sebuah skema yang tidak mengun-
tungkan (inclusion on disanvantageous term).
Berbagai proses yang mensubordinasikan masya-
rakat terjadi dari mulai: status tanah plasma yang
tidak jelas, tidak adanya komitmen pihak per-
kebunan untuk menjalankan pola kemitraan
dengan baik, elite lokal yang memanfaatkan ke-
sempatan dengan mengintimidasi masyarakat
untuk menjual tanahnya, kurangnya kontrol pro-
ses dan kelembagaan dan sebagainya. Pada
akhirnya yang terjadi adalah sebagian masyarakat
lokal tetap miskin dan banyak yang justru kehi-
langan tanahnya.
Hal serupa juga dimunculkan oleh Fortin
(2011) dalam kasus ekspansi sawit yang terjadi
di Sanggau, Kalimantan Barat. Transformasi
agraria yang terjadi seiring dengan masuknya
sawit, telah menghadirkan kemakmuran dan
kesejahteraan bagi sebagian orang dan kemis-
kinan yang kronis bagi sebagian yang lain. Ske-
ma intiplasma yang diperkenalkan sebagai model
pengembangan pertanian telah menyebabkan
penyingkiran dan ketimpangan akses terhadap
tanah. Diferensiasi pedesaan melalui mekanisme
intiplasma telah memungkinkan sebagian orang
berhasil mengakumulasi kapital dan memperluas
produksi serta penguasaannya sementara seba-
gian yang lain terpaksa harus tersingkir tanpa
kompensasi dan keberlanjutan kebun plasmanya.
Petani terjebak pada rantai hutang yang tidak
5
Hal ini menunjukan bahwa masyarakat adat Indonesia
secara sistematis tersingkir dari warisan leluhur mereka
(tanah, hutan, sumber penghidupan dan budaya) oleh
perkebunan kelapa sawit tanpa menghargai hak dan
kepentingan mereka. Walaupun konstitusi Indonesia
bertujuan untuk melindungi hak masyarakat adat, sejumlah
kebijakan dan hukum memungkinkan hak tersebut diabaikan
demi kepentingan nasional. Bahkan ketika perundingan
dengan masyarakat terjadi, mereka tidak pernah diberikan
kesempatan untuk mengatakan tidak atas pengambil-alihan
tanah mereka, dan tidak pernah diberitahukan bahwa hak-
hak mereka dihapuskan dalam proses pembangunan
perkebunan. (Lebih lanjut lihat Colchester, et al. 2006. Prom-
ised Land: Palm Oil and Land Acquisition in Indonesia: Im-
plication for Local Communities and Indigenious People. Eng-
land: Forest People Programme (FPP); Bogor: Perkum-
pulan Sawit Watch).
125 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
bisa terselesaikan. Transformasi dari mode
produksi subsistensi ke komoditas produksi telah
memicu tersubordinasinya kelompok petani dari
pasar komoditas yang pada akhirnya menyebab-
kan tereleminasinya kelompok petani akibat pro-
ses industrualisasi yang terjadi. Kehadiran sawit
telah memicu terjadinya tranformasi agraria, dan
memunculkan pola inclusion, exclusion dan
adverse incorporation yang ditandai dengan
perubahan kepemilikan aset-aset pertanian dari
kelompok miskin serta distribusi sosial kekuasa-
an di daerah pinggiran yang berlangsung dalam
proses yang lebih panjang. Salah satu aspek
kunci dalam adverse incorporation adalah relasi
petani plasma yang seringkali tidak memahami
kewajiban, resiko dan kesempatan ketika mereka
menandatangani kontrak pertanian dengan
perusahaan sawit dimana relasi produksi yang
terjadi biasanya sangat monopolistik dan mono-
psonistik. Terlebih lagi melalui kerjasama KUD
dan KKPA, petani plasma tidak bisa mengetahui
keuntungan yang diperoleh dengan transparan.
Kelindan persoalan akibat ekspansi perke-
bunan monokultur dan perubahan status ka-
wasan hutan salah satunya terekam jelas dalam
konflik Suku Anak Dalam Batin 9 dengan PT
Asiatic Persada sebagai perusahaan pemegang
HGU. Hamparan sawit yang pada awalnya da-
tang dengan sebuah janji tentang kemakmuran
bagi komunitas lokal yang selama ini dengan
setia telah menggantungkan kehidupannya pada
kemurahan hutan ternyata harus dibayar mahal
dengan berbagai persoalan dari mulai tumpang
tindih klaim penguasaan tanah sampai peming-
giran dan penggusuran. Hutan Jambi yang kaya,
pada kenyataannya justru membawa petaka per-
soalan yang tidak ada habisnya.
6
Bagi masyarakat
SAD, sawit merupakan komoditas pertanian baru
yang berbeda dengan penghidupan mereka sela-
ma ini yang berbasis pada hutan. Cerita tentang
emas hijau bagi masyarakat SAD adalah bagian
dari skema internasionalisasi pertanian yang me-
nempatkan mereka dalam satu lingkar bisnis rak-
sasa dimana mereka dipaksa untuk keluar dari
produksi tanaman pangan tradisional dan meng-
gantikannya dengan kewajiban untuk tunduk
pada eksploitasi dalam bentuk kontrol atas
lahan, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya.
Ekspansi perkebunan sawit merupakan ba-
gian dari skenario kapitalisme yang bisa dilekat-
kan dengan pyramid of sacrif ise dari Berger
(1982:xiv-xvii). Standar kehidupan material yang
tinggi atau kesejahteraan yang ditawarkan dalam
skema bisnis sawit telah menempatkan tanah-
tanah yang kini menjadi hamparan kebun sawit
itu menjadi lahan perebutan dari mereka yang
mengklaim sebagai pemilik sah dan merasa pal-
ing berhak untuk mengambil manfaat penuh
dari tanah-tanah tersebut. Tulisan ini lebih lanjut
akan membahas persoalan konflik yang muncul
akibat ekspansi perkebunan sawit melalui potret
pemberian 1000 hektar lahan sawit dari PT Asiatic
6
Hutan di Jambi sebagaimana dicatat Handini
(2005:135), memang telah mengalami perubahan signifikan
pada beberapa dasawarsa terakhir. Pembukaan dan eksploi-
tasi hutan untuk berbagai kepentingan yang meningkat sejak
tahun 1970-an membuat wilayah hutan di Jambi semakin
berkurang. Pengembangan wilayah transmigrasi, pene-
bangan liar, dan perubahan peruntukan hutan telah mere-
duksi kuantitas serta kualitas lingkungan hutan. Bohmer
(1998:1-3) dalam Prasetijo (2011:18) menambahkan bahwa
pada tahun 1970 lingkungan alam di Jambi sebenarnya sudah
mulai berubah drastis sejak adanya program pembukaan
hutan untuk lahan hutan produksi (HTI), pemukiman
transmigrasi, pengembangan pertanian dan perkebunan,
serta proyek peningkatan infrastruktur. Kegiatan-kegiatan
ini berdampak pada terjadinya kebakaran hutan yang tidak
terkontrol serta pembukaan hutan dilakukan terus menerus,
sehingga menyebabkan penurunan kualitas lingkungan di
dataran rendah Jambi. Proyek transmigrasi berikut proyek-
proyek pendukung lainnya, seperti perkebunan sawit,
pemukiman, dan jalan, mempengaruhi perubahan lingkungan
di dataran rendah Jambi secara luas. Proyek-proyek terse-
but mengubah fungsi hutan, dari hutan primer ke kawasan
perkebunan dan pemukiman secara cepat.
126 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Persada sebagai pihak operasional perkebunan
dengan masyarakat SAD Batin 9. Seperti halnya
program transmigrasi besar-besaran pada tahun
1974 yang telah meminggirkan keberadaan mere-
ka, saat ini ekspansi perkebunan sawit pun
dengan cepat telah mengambil hutan yang sela-
ma ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Kasus pemberian 1000 hektar lahan sawit sebe-
narnya bisa dikatakan sebagai salah satu strategi
perusahaan untuk meminimalisir konflik dengan
masyarakat. Hal ini dimungkinkan karena begitu
banyaknya kasus sengketa yang muncul akibat
banyak tanah yang dikonversi menjadi perke-
bunan sawit. Sengketa tanah adat ini pada
kenyataannya juga berkembang terkait pola
kemitraan perkebunan kelapa sawit.
B. Wajah Perkebunan Sawit
di Kabupaten Batang Hari
Sawit memang layak disebut sebagai emas
hijau karena keuntungan yang ditawarkan dari
bisnis komoditi yang satu ini memang benar-
benar menggiurkan. Di Indonesia sendiri, sawit
merupakan salah satu produksi perkebunan
terbesar. Sampai saat ini Indonesia masih me-
nempati posisi teratas sebagai negara produsen
minyak kelapa sawit (CPO) terbesar dunia,
dengan produksi sebesar 19,4 juta ton pada 2009.
Sektor minyak kelapa sawit Indonesia memang
mengalami perkembangan yang berarti, hal ini
terlihat dari total luas areal perkebunan kelapa
sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7,3 juta
hektar pada 2009 dari 7,0 juta hektar pada 2008.
Sedangkan produksi minyak sawit (crude palm
oil/CPO) terus mengalami peningkatan dari ta-
hun ke tahun dari 19,2 juta ton pada 2008 me-
ningkat menjadi 19,4 juta ton pada 2009.
Sementara total ekspornya juga meningkat, pada
2008 tercatat sebesar 18,1 juta ton kemudian
menjadi 14,9 juta ton sampai dengan September
2009. Dalam 10 tahun terakhir luas areal per-
kebunan kelapa sawit di Indonesia terus mening-
kat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 8,7%
per tahun dari hanya seluas 3.902 ribu ha pada
1999 meningkat menjadi 7.321 ribu ha tahun
2009.
Produk minyak sawit di Indonesia meningkat
dengan pesat sejalan dengan peningkatan luas-
nya areal perkebunan kelapa sawit tersebut. Kela-
pa sawit merupakan tanaman penghasil minyak
yang berperan penting dalam perekonomian
dunia, baik sebagai bahan baku industri dalam
negeri maupun diekspor. Pada saat ini tanaman
kelapa sawit di Indonesia diusahakan oleh perke-
bunan pemerintah, swasta, dan perkebunan
rakyat. Dalam lima tahun terakhir, kelapa sawit
terus berkembang menjadi salah satu komoditas
ekspor andalan Indonesia. Kue konsumsi minyak
kelapa sawit mentah di pasar minyak nabati glo-
bal pun terus meningkat.
7
Minyak kelapa sawit
telah menjadi bahan baku yang sangat penting
bagi berbagai industri makanan, komestik dan
yang terbaru sebagai sumber energi.
8
Perkembangan pesat perkebunan kelapa
sawit dimulai pada akhir tahun 1980-an, ketika
perkebunan besar swasta (PBS) mulai masuk ke
sektor perkebunan dan pengolahan minyak kela-
pa sawit dalam jumlah besar. Sebelumnya perke-
bunan kelapa sawit didominasi oleh perkebunan
7
Itaibnu. 2011. Merawat Emas Hijau.www.bakti.org.
Diakses 24 November 2011
8
Jika dirunut dari jejak historisnya, kelapa sawit
pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1911, dibawa
oleh Adrien Hallet yang berkebangsaan Belgia. Empat
pohon sawit pertama dibawa dari Congo untuk kemudian
ditanam di Kebun Raya Bogor untuk melihat kecocokannya
dengan iklim dan tanah di Indonesia. Hasil perkembang-
biakan dari tanaman induk inilah yang kemudian menjadi
cikal bakal perkebunan sawit pertama di Sumatra,
SOCFINDO yang masih ada hingga hari ini. Benih induk
dari Kebun Raya Bogor ini jugalah yang kemudian dibawa
ke Malaysia sebagai awal perkebunan kelapa sawit di Ma-
laysia. Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indone-
sia, pada masa-masa awal sesungguhnya relatif lambat. Baru
pada tahun 1980-an terjadi booming kelapa sawit hingga
hari ini permintaan terus meningkat.
127 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
milik negara (PBN). Sejalan dengan harga Crude
Palm Oil yang terus meningkat maka selain per-
kebunan swasta besar, maka petani kecil mulai
menanam kelapa sawit. Semula kebun sawit
milik rakyat dibangun dalam skema inti plasma
dengan perkebunan besar baik swasta maupun
milik negara sebagai inti, namun kemudian per-
kebunan rakyat (PR) semakin berkembang dilu-
ar skema inti plasma. Saat ini PBS mendominasi
luas areal perkebunan sawit di Indonesia. Pada
tahun 2009 dari total areal perkebunan kelapa
sawit nasional seluas 7.077 ribu ha, sekitar 3.501
ribu ha (49,47%) diusahakan oleh perkebunan
besar swasta (PBS), sedangkan 2.959 ribu ha
(41,80%) diusahakan oleh perkebunan rakyat
(PR) dan selebihnya 617 ribu ha (8,73%) adalah
milik PBN.
9
Dalam skema bisnis sawit di Indonesia, Suma-
tera merupakan salah satu wilayah yang tercatat
memiliki luasan perkebunan yang paling besar
yaitu sebesar 4.280.094 ha atau 76,46% dari to-
tal areal perkebunan kelapa sawit nasional. Tidak
mengherankan kalau gerak industri sawit di
wilayah ini begitu masif.
10
Kebijakan tingkat lokal
maupun nasional mengarahkan Sumatera seba-
gai pemasok energi alternatif terbarukan yang
berasal dari biofuel sawit. Master plan MP3EI
menyatakan bahwa koridor ekonomi sumatera
diarahkan sebagai Sentra Produksi dan Pengo-
lahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional.
Kegiatan ekonomi utama di 11 daerah pusat
ekonomi diarahkan pada produksi kelapa sawit,
salah satunya adalah Jambi. Untuk Propinsi Jam-
bi sendiri, kelapa sawit merupakan komoditas
perkebunan yang sangat dominan dengan luas
lahan 574,514 ha. Hal ini didukung dengan pro-
gram Pemerintah Daerah Propinsi Jambi yaitu
Pengembangan Kelapa Sawit Sejuta Hektar.
Saat ini tidak kurang dari 30-an perusahaan sawit
yang beroperasi di wilayah ini. Sawit dapat dite-
mukan di di tujuh kabupaten yaitu Batanghari,
Muaro Jambi, Bungo, Sarolangun, Merangin,
Tanjung Jabung Barat dan Tebo.
Sawit memang tidak pernah datang tanpa
cerita. Masifnya ekspansi kebun sawit yang ter-
jadi di Jambi pada kenyataannya hadir bersama
wacana krisis ketahanan pangan lokal serta
benih-benih pemicu ekskalasi konflik yang terus
memanas. Menurut catatan Yayasan SETARA,
perkebunan kelapa sawit di propinsi Jambi yang
mencapai 480.000 Ha hingga tahun 2008 telah
banyak melahirkan konflik sosial yang 99 konflik
sosial diantaranya, tidak pernah selesai sampai
saat ini. Upaya-upaya penyelesaian yang muncul
pun pada dasarnya tidak permanen sehingga
tidak mengherankan jika kemudian konflik bisa
muncul kembali dengan mudah. Lemahnya
penataan ruang bagi areal-areal yang diperun-
tukkan bagi perkebunan kelapa sawit juga
dituding sebagai salah satu pemicu semakin
menurunya areal-areal pangan lokal milik masya-
rakat. Banyak areal padi milik masyarakat yang
telah berganti menjadi kebun sawit dan diusaha-
kan baik oleh perkebunan besar kelapa sawit mau-
pun oleh masyarakat sendiri.
Kabupaten Batanghari juga merupakan salah
satu wilayah Propinsi Jambi yang juga memiliki
cerita tentang perkebunan sawit. Sawit meru-
pakan komoditi tanaman perkebunan terbesar di
wilayah ini dengan produksi utama di kecamatan
Bajubang sebanyak 76,43 persen. Ada beberapa
perkebunan besar yang beroperasi di wilayah ini
seperti dapat dicermati dalam tabel berikut ini:
9
Pada periode 1999-2009, pertumbuhan luas areal
perkebunan besar negara hanya relatf kecil yaitu meningkat
rata-rata 1,73% per tahun. Sedangkan pertumbuhan terbesar
terjadi pada perkebunan rakyat yang mencapai tingkat
pertumbuhan rata-rata 12,01% per tahun. Sementara
perkebunan besar swasta meningkat rata-rata sekitar 5,04%
per tahun.
10
www.datacon.co.id diakses 14 november 2011,
INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA, Novem-
ber 2009
128 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Tabel. 1. Pelaku Usaha di Kabupaten
Batanghari
Sumber: www.regionalinvestment.com
Kehadiran perkebunan-perkebunan besar di
Kabupaten Batanghari bukan tanpa masalah.
Kehadiran mereka pada kenyataannya telah
menciptakan berbagai macam bentuk konflik.
Seperti dicatat oleh Persatuan Masyarakat Kor-
ban Perkebunan Sawit (2009), ratusan bahkan
ribuan hektar tanah, lahan dan kebun masyara-
kat telah di rampas oleh perusahaan perkebunan,
terutama perusahaan perkebunan besar. Kasus-
kasus yang terjadi di PT. Sawit Jambi Lestari, PT.
Sacona Persada PT. Sawit Desa Makmur, PT.
Maju Perkasa Sawit, PT. Jammer Tulen dan PT.
Asiatic Persada yang berada dibawah bendera
Asiatic Persada Group/Wilmar Group merupa-
kan salah satu bukti betapa berkuasanya perusa-
haan perkebunan besar. Dalam hal ini, Peme-
rintah Daerah Kabupaten Batanghari dipandang
kurang bisa mengambil sikap tegas untuk ber-
pihak pada rakyatnya. Kehadiran perusahaan
telah banyak menimbulkan kerugian fatal, baik
bagi rakyat maupun bagi Negara. Ada beberapa
indikasi pelanggaran yang teridentif ikasi dianta-
ranya: membuka lahan perkebunan sawit
dengan mengambil tanah, lahan dan kebun milik
masyarakat secara paksa; memperluas kebun
(kelebihan luasan HGU) hingga mencaplok ta-
nah milik warga; menelantarkan lahan-lahan inti
dan plasma dalam waktu yang cukup lama; serta
tidak membayar pajak kepada negara.
C. Kesejahteraan Semu: Berkah Tandan
Sawit di Desa Bungku
Desa Bungku merupakan salah satu potret
desa di wilayah Kecamatan Bajubang, Kabupaten
Batanghari yang mengalami perubahan akibat
ekspansi perkebunan sawit.
11
Kekhasan desa
Bungku ini seperti beberapa desa lain di Keca-
matan Bajubang, adalah pohon sawit yang men-
jadi primadona tak hanya di kebun, tetapi juga
ditanam sebagai peneduh dan tanaman peka-
rangan. Desa Bungku memang tercatat sebagai
salah satu desa yang memiliki potensi di bidang
perkebunan kelapa sawit dan karet. Untuk per-
kebunan sawit sendiri, desa ini memiliki perke-
bunan seluas seluas 50.000 hektar yang penge-
lolaan terbesarnya berada di pihak swasta.
Sebelum sawit menjadi primadona, konon
Desa Bungku merupakan daerah hutan rawa
yang lebat. Dengan jumlah penduduk yang
masih terbilang sedikit, sebuah sungai yang
melintas wilayah perkampungan menjadi salah
satu media transportasi yang sangat berperan
pada saat itu. Desa Bungku masa lalu hanya
didiami oleh beberapa kelompok suku yang
sering disebut Suku Anak Dalam (SAD).
12
Seiring
berjalannya waktu, banyak masyarakat dari luar
desa Bungku yang mulai mengetahui bahwa
hutan desa Bungku menyimpan banyak pundi-
pundi yang berasal dari kayu bulian. Kayu bulian
inilah yang pada akhirnya membawa banyak
pendatang masuk ke desa Bungku untuk
Nama Perusahaan Komoditi Jenis Produksi
PT Adora Mas
Sumatra Plantation
Perkebunan Kelapa sawit
PT Cipta Prasasti
Lestari
Perkebunan Kelapa sawit TBS (Tandan Buah Segar
PT Citra Quinta Perkebunan Kelapa sawit TBS
PT Angso Duo Sawit
Sejahtera
Industri Pengolahan
Kelapa sawit menjadi
CPO dan inti kernel
CPO dan inti sawit
PT Asiatic Persada Perkebunan kelapa sawit
dan pengolahannya
TBS, CPO dan INRI
PT Berkat Jaya
Pangestu
Perkebunan sawit dan
pengolahannya
TBS, CPO, dan INRI
11
Mengacu pada data Kantor Camat Bajubang, 2005,
Desa Bungku memiliki luas 40.000 ha dengan jumlah
penduduk 5782 jiwa dan jumlah kk 1589. Desa ini secara
administratif di sebelah utara berbatasan dengan Desa
Pompa Air, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Durian
Luncuk, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Singkawang
dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Markandang.
12
Suku Anak Dalam yang mendiami desa Bungku adalah
SAD yang berasal dari daerah Sumatera Selatan dan daerah
Bukit Dua Belas yang membentuk satu kelompok dengan
jumlah 10 keluarga.
129 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
mengambil kayu-kayu tersebut. Kayu bulian ada-
lah komoditas pertama yang membawa peru-
bahan di desa ini. Jalan-jalan mulai diperkeras
untuk jalan mobil para penebang kayu agar
mereka dapat membawa keluar kayu mereka.
Beberapa tahun kemudian setelah kayu bulian
mulai habis dan tidak ada yang dimanfaatkan
lagi, para penebang kayu pun meninggalkan hu-
tan yang sudah gundul begitu saja dan masuklah
perusahaan kelapa sawit mengambil alih penge-
lolaan lahan hutan untuk dijadikan lahan perke-
bunan kelapa sawit. Masuknya perusahaan sawit
telah menjadi magnet yang menarik banyak war-
ga dari luar untuk datang dan tinggal di desa
Bungku.
13
Potret kejayaan sawit terlihat jelas dari kontra-
diksi yang terekam di desa ini. Desa yang notabe-
ne berada di daerah pedalaman yang cukup
terpencil ini, ternyata menunjukan perkem-
bangan yang cukup memukau. Rumah berjajar
rapi di sepanjang jalan desa yang sudah diper-
keras dengan aspal. Rumah-rumah tipe kelas
menengah yang berdiri megah dengan desain-
desain modernnya dapat dijumpai dengan mu-
dah di desa ini. Polesan cat berwarna terang tam-
pak menambah elegan tampilan rumah-rumah
yang mungkin bisa disebut sebagai istana para
juragan sawit ini. Rumah-rumah panggung yang
seringkali digambarkan sebagai romantisme
klasik dari rumah-rumah penduduk asli di bumi
Sumatera, tidak lagi dijumpai di desa ini. Pa-
rabola terlihat bertengger menghias di hampir
setiap atap rumah di desa ini. Parabola tampak-
nya memang sudah tidak lagi menjadi simbol
status sosial melainkan sudah menjadi kebu-
tuhan wajib yang tidak bisa ditinggalkan. Pa-
rabola juga sudah menjadi satu paket kebutuhan
primer dengan generator yang menjadi nadi kehi-
dupan di desa ini.
Letak desa yang agak terpencil tampaknya
juga tidak menjauhkan desa Bungku dari penga-
ruh gaya hidup perkotaan yang konsumtif. Sepe-
da motor berbagai jenis merek tampak berlalu
lalang di sepanjang jalan. Kendaraan besar dari
mulai truk-truk perkebunan, pick up sampai mo-
bil pribadi sekelas avanza pun tidak kalah jum-
lahnya.
14
Mobil-mobil tampak terparkir dengan
rapi di depan rumah beberapa warga. Mungkin
inilah berkah sawit yang konon sering disebut
emas hijau. Sawit telah menyediakan lembaran-
lembaran rupiah yang bisa ditukar dengan segala
bentuk kenyamanan hidup.
15
Uang tunai cukup
besar yang akan diperoleh petani sawit setiap ha-
bis panen, tampaknya menjadi pemicu tumbuh
suburnya gaya hidup konsumtif. Tidak hanya
sepeda motor, peralatan elektronik seperti televisi,
kulkas, blender, atau mesin cuci juga tampak
terpajang dengan rapi di rumah warga. Agak
sayang sebenarnya karena beberapa barang
tampak tidak difungsikan dengan baik akibat
aliran listrik yang tidak stabil. Belum masuknya
jaringan listrik, membuat warga memanfaatkan
genset sebagai sumber energi yang utama. Genset
biasanya dimaksimalkan pemakaiannya pada
malam hari.
13
Para pendatang ini tidak hanya berasal dari wilayah
di seputar Jambi tetapi juga dari Padang, Palembang,
Lampung, Medan, Jawa, Madura, Lombok, dan Timor-
Timur. Para pendatang ini rata-rata bekerja di sawit (70%),
sementara sisanya bekerja di kebun karet (30%).
14
Menurut hasil interview dengan pak Nasri,
Kepemilikan kendaraan motor di desa Bungku bisa
dikatakan cukup fantastis. Jumlah mobil ada sekitar 200-an
lebih. Mobil-mobil umumnya berjenis pick up atau truk
yang berjumlah sekitar 30-an. Jumlah sepeda motor
memiliki angka yang paling tinggi yaitu 2864 unit. Setiap
satu keluarga bisa dipastikan memiliki minimal 1 unit motor.
15
Masyarakat rata-rata memiliki lahan seluas 2-4 ha.
Dalam sebulan, lahan seluas 2 ha dapat menghasilkan 2x
panen @ 3 ton. Dengan demikian, pendapatan perbulan
mencapai 6 ton. Apabila harga per kg mencapai 800 maka
pendapatan dalam 2 ha sawit mencapai Rp. 4800.000/bulan
atau jika petani memiliki 4 ha, maka pendapatan akan
mencapai Rp. 960.0000/bulan.
130 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Sawit tampaknya juga tidak hanya mengubah
rumah-rumah panggung menjadi rumah tem-
bok berlantai keramik, tetapi telah meninabo-
bokan masyarakat dalam kebiasaan hidup yang
santai untuk tidak menyebutnya sebagai ber-
malas-malasan. Hal ini salah satunya terlihat dari
pekarangan rumah yang rata-rata gersang dan
tidak dimanfaatkan. Disini orang sudah kaya-
kaya, mending beli saja, begitulah penuturan
salah seorang warga ketika memberi penjelasan
tentang banyaknya pekarangan yang tidak di-
manfaatkan. Di desa Bungku sendiri ada sekitar
10 tukang sayur yang siap melayani kebutuhan
seluruh warga. Warga hanya perlu menunggu
para penjaja ini lewat, untuk kemudian memilih
barang yang mereka butuhkan.
16
Kehadiran sawit di desa Bungku tidak dapat
dilepaskan dari keberadaan Suku Anak Dalam
(SAD).
17
Desa yang mulai diramaikan oleh pen-
datang dari berbagai daerah ini memiliki komu-
nitas penduduk asli yang jamak dikenal dengan
nama Suku Anak Dalam Batin 9 (SAD Batin 9).
Kelompok SAD Batin 9 inilah yang dalam ske-
nario pemberian 1000 hektar lahan sawit meru-
pakan kelompok yang dianggap berhak mem-
peroleh limpahan kemurahan hati dari sebuah
perkebunan sawit bernama PT. Asiatic Persada.
Kelompok SAD Batin 9 merupakan kelompok
etnik yang tersebar di wilayah Jambi bagian timur
atau tepatnya di wilayah Muara Bulian. Nama
Batin 9 sendiri merupakan identitas etnik yang
bersumber dari keyakinan bahwa nenek moyang
mereka berasal dari 9 orang bersaudara yang
tinggal di 9 anak sungai Batanghari (Bulian,
Bahar, Jebak, Jangga, Pemusiran, Burung antu,
Telisak, Sekamis, Singoan). Penguasaan sungai
memberi sebuah orientasi pada ruang yang ke-
mudian berdampak pada segi-segi kehidupan
SAD Batin IX. Sebagai sumber kehidupan, sungai
menjadi pusat dari segala acuan dalam pola pem-
bangunan pemukiman berupa rumah panggung
yang berada di sepanjang aliran sungai. Sungai
menjadi gerbang untuk berhubungan dengan or-
ang-orang lain di luar wilayah mereka. Aktivitas
perdagangan dan pertukaran barang dilakukan
melalui jalur transportasi air, sehingga aliran sungai
tidak boleh dibiarkan dangkal dan menyempit.
Keberadaan SAD masa kini tidak dapat dile-
paskan dari tren program pemberdayaan. Perlu
diketahui sebelumnya bahwa nama Suku Anak
Dalam di Jambi sendiri sudah bak sebuah merk
dagang, begitu juga dengan nama SAD Batin 9.
Ada banyak lembaga yang lahir dengan mengu-
sung nama Suku Anak Dalam dalam visi advo-
kasi mereka seperti dapat dilihat dalam tabel
berikut ini:
Tabel 2. Nama Lembaga yang Memakai Nama
SAD sebagai Bagian dari Program Advokasinya
(Sumber: Data primer, 2011)
16
Tukang sayur biasanya akan datang lima hari dalam
satu minggu, kecuali hari Jumat dan Sabtu. Mereka membawa
berbagai jenis sayuran, ikan, bumbu dapur dan kebutuhan
dapur lainnya.
17
Merunut pada legenda Sentano Padang Sembilan,
Desa Bungku adalah desa yang awalnya dihuni oleh
sekelompok orang yang terdiri dari sepuluh keluarga SAD
yang berasal dari daerah Sumatera Selatan dan daerah Bukit
Dua Belas. Kelompok yang dipimpin oleh seorang penghulu
bernama Pati inilah yang merupakan leluhur awal kelompok
SAD di Desa Bungku.
NO NAMA LEMBAGA
1 Aliansi Masyarakat Peduli Hutan dan Lahan (AMPHAL)
2 Hanura
3 Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Lingkungan (YLBHL)
4 Setara Jambi
5 Forum Komunikasi Lintas Adat Suku Anak Dalam
(FORKALA-SAD)
6 Lembaga Bantuan HukumBuruh (LBH Buruh)
7 Yayasan Masyarakat Adat Orang Kubu Dusun Lamo
Padang Salak, Sei Bahar, Kabupaten Batanghari, Propinsi
Jambi
8 PALM
9 KKI Warsi
10 Yayasan MABU
11 Trisula
12 FORMASKU
13 AMPHAL
14 Gerakan Pembela Masyarakat Jambi (GMPJ)
15 Peduli Bangsa
16 Merdeka
17 Keris
131 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
Di dalam lembaga-lembaga ini, dengan mu-
dah dapat dijumpai suara-suara vokal yang mem-
berikan dukungan bagi keberadaan mereka yang
seringkali dianggap sebagai kelompok yang ter-
pinggirkan. Keterpinggiran mereka ini dilekat-
kan dengan berbagai stereotype atau pelabelan
negatif seperti dapat dicermati dalam skema beri-
kut ini:
Gambar 1. Stereotype Suku Anak Dalam
(Sumber: data primer, 2011)
Pelabelan yang dilekatkan pada SAD juga
muncul di desa Bungku seperti dikutip: Kalau
desa Bungku ini yang paling kubu-kubu, di ujung
aspal itu lho, itu yang paling kolotnya. Yang kamu-
kamu nak pergi kan, yang kata kamu metak-
metak tanah. Itulah kubunya, itulah yang paling
kubu. Pelabelan negatif dilakukan dengan mem-
berikan istilah kubu untuk membedakan SAD
dengan masyarakat kebanyakan. Kelompok ini
memiliki kebiasaan yang lugu atau diistilahkan
dengan basah-basah kering seperti: seperti:
menjemur pakaian di depan rumah, mencuci pa-
kaian tanpa menggunakan sabun, atau makan
bersama dengan hewan peliharaan.
Dalam wacana yang lebih luas, pelabelan yang
diberikan pada SAD pada dasarnya mencitrakan
mereka sebagai kelompok yang harus ditolong,
dibantu, atau diselamatkan dari berbagai te-
kanan yang mengancam eksistensinya. Citra
serupa ini ditumbuhsuburkan oleh pemerintah
melalui program PKMT yang populer pada tahun
80-an yang salah satunya hadir dalam bentuk
pendef inisian Suku Anak Dalam seperti dapat
dilihat dari skema berikut ini:
Gambar 2. Skema Pendefinisian Suku Anak
Dalam (SAD). (Sumber: Data primer, 2011)
Pendef inisian mengenai identitas Suku Anak
Dalam telah melahirkan satu wacana tersendiri
bahwa keberadaan mereka memang dianggap
berbeda. Dalam kasus SAD, dominasi pendef i-
nisian yang lebih banyak berasal dari perspektif
orang luar telah menempatkan kelompok SAD
sebagai satu kelompok yang sama tanpa mem-
pertimbangkan bahwa nama SAD mewakili bebe-
rapa kelompok etnik yang berbeda di Jambi.
Untuk desa Bungku, pelabelan-pelabelan yang
dilekatkan pada SAD juga masih tersisa. Mes-
kipun demikian, pelabelan ini memang tidak
muncul dalam batas-batas yang tegas. Proses
pembauran yang terjadi antara SAD dengan ke-
lompok pendatang, telah memupus pelabelan
dan mengaburkan batas-batas antara kelompok
SAD denga kelompok pendatang. Proses pem-
bauran inilah yang pada akhirnya menghadirkan
perubahan pada sosok SAD masa kini seperti
dapat dilihat dalam ilustrasi berikut:
SAD
Miskin
Bodoh
Tidak
beragama
Tertutup
Terbelakang/
kolot
Kotor/
kulit
bersisik
Berbau
amis
Bertempat tinggal atau berkelana di
tempat-tempat yang secara
geografik terpencil, terisolir dan
secara sosial budaya terasing atau
masih terbelakang dibandingkan
dengan bangsa Indonesia pada
Keturunan sembilan saudara anak
Raden Ontar: Singo Jayo, Singo
Jabo, Singo Pati, Singo Inu, Singo
Besak, Singo Laut, Singo Delago,
Singo Mengalo, Singo Anum
PENDEFINISIANSAD
pola hidup berpindah, berdiamdiri
di dalam hutan, tidak memeluk/
kurang memahami agama islam,
tinggal terpencil,jauh dari
pemukiman masyarakat umum
Keturunan Puyang Semikat dari
Palembang yang menikah dengan
putri Depati Seneneng Ikan yaitu
putri Bayan Riu dan Bayan Lais
Versi pemerintah Versi SAD
132 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Gambar.3. Bagan SAD Masa Kini- SAD
yang sudah berbaur. (Sumber: data primer, 2011)
Potret kesejahteraan yang tergambar di Desa
Bungku pada kenyataanya merupakan sebuah
potret dari kesejahteraan sawit yang hanya dira-
sakan oleh sebagian kecil masyarakatnya. Spot-
spot kemakmuran ini cukup bertolak belakang
dengan kondisi sebagian besar masyarakat yang
tidak mampu mengambil bagian dalam lingkar
bisnis perkebunan sawit. Hal inilah yang mengu-
at dalam berbagai benturan yang akhirnya mela-
hirkan konflik berkaitan dengan klaim hak atas
tanah.
D. Perjalanan Konflik Lahan antara SAD
dan PT Asiatic Persada
18
Konf lik lahan antara SAD dan PT Asiatic
Persada sudah dimulai sejak sebuah perusahaan
perkayuan dengan Bendera Asiatik Mas Coorpo-
ration, beroperasi di wilayah Sungai Bahar,
Batanghari pada tahun 1986. Karena lokasi ini
telah habis masa eksploitasi kayunya, maka PT.
AMC pun mengajukan izin untuk mengelola
lahan menjadi kebun kelapa sawit, karet dan
coklat. Beberapa anak perusahaan pun akhirnya
dibentuk dengan salah satunya bernama PT.
Bangun Desa Utama (sekarang diganti dengan
PT Asiatic Persada).
PT. Bangun Desa Utama mendapat izin
prinsip HGU berdasarkan SK Menteri Dalam
Negeri tanggal 01 September 1986 dengan SK
Nomor 46/HGU/DA/86 sampai akhirnya
terbitlah sertif ikat HGU No. 1 Tahun 1986 pada
tanggal 20 Mei 1987. Tanah yang dicadangkan
oleh Gubernur Jambi untuk dikelola oleh PT
BDU pada waktu itu adalah seluas 40.000 Ha.
Dalam hal ini ternyata Menhut hanya melepas-
kan izin prinsip seluas 27.150 Ha. Ketika diinven-
tarisasi oleh BPN, luas tanah yang dikeluarkan
ijin HGU-nya dan dinyatakan layak untuk dike-
lola sebagai kawasan perkebunan hanya seluas
20.000 Ha. Sisa luasan sebasr 7.150 Ha yang secara
prinsip telah dikeluarkan peruntukannya oleh
Menteri, kemudian diberikan oleh gubernur
kepada 2 perusahaan di bawah Wilmar Group
lainnya yaitu PT Jammer Tulen dan PT Maju
Perkasa Sawit.
Pada tahun 1992, akhirnya PT. BDU berganti
nama menjadi PT Asiatic Persada.
19
PT. Asiatic
Persada beroperasi di wilayah perbatasan Kabu-
paten Batanghari dan Kabupaten Muaro Jambi
atau tepatnya di wilayah Desa Bungku, Keca-
matan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Pro-
vinsi Jambi. Secara spesif ik, lokasi HGU Asiatic
Persada memiliki batas-batas: sebelah utara
(Desa Pompa Air-Tiang Tunggang); sebelah sela-
tan (kawasan Hutan eks HPH Asialog, Unit 22 UPT
PTPN VI Sungai Bahar dan Desa Tanjung Lebar);
sebelah barat ( PTPN VI Sungai Bahar); sebelah
timur (PT. Maju Perkasa Sawit, PT. Jammer Tulen,
Kawasan Tahura Senami dan Desa Bungku).
Pemilik PT. Asiatic Persada sendiri juga berubah-
ubah, mulai dari Andi Senangsyah melalui hold-
ing company-nya yaitu Asiatic Mas Corporation,
CDC, Cargill, dan terakhir Wilmar International
Plantation yang berpusat di Singapura.
18
PT. Asiatic Persada adalah perusahaan perkebunan
kelapa sawit dan pengolahan tandan buah segar (TBS)
menjadi CPO sebagai produk utama dan sampingan adalah
palm kernel.
SAD
tidak mau tinggal di pinggir jalan,
pemukiman masuk ke dalam hutan
pemukiman menyebar, rumah-rumah mulai
dibangun di sepanjang jalan
mandi sekedar membasahi badan (berendam
di sungai)
Mandi dalam kamar mandi yang dibuat
permanen
Mencuci baju tidak menggunakan sabun,
tetapi dengan memukul -mukulkan kayu ke
pakaian
Mencuci baju sudah dengan sabun bahkan
menggunakan mesin cuci
Makan dan tidur di tempat yang sama
(makan bersama dengan hewan peliharaan)
Makan dan tidur dalam ruangan terpisah di
rumah permanen yang disekat -sekat
Sebelum berbaur Setelah berbaur
19
Pergantian nama ini didasarkan pada SK Pengesahan
dari Menteri Kehakiman No. C2.4726.HT.01.04 Tahun 1992.
133 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
Keberadaan HGU PT. Bangun Desa Utama
yang kemudian berubah menjadi PT.Asiatic
Persada sejak tahun 1986 telah membawa dam-
pak yang besar bagi masyarakat SAD. Banyak
masyarakat yang terpaksa pindah karena tergusur
maupun sengaja melarikan diri karena tekanan
dari perusahaan. Tercatat dua tahun sejak terbit-
nya HGU ditahun 1987, perusahaan telah mela-
kukan penggusuran 3 dusun, yaitu Dusun Tanah
Menang, Dusun Pinang Tinggi dan Dusun
Padang Salak.
20
E. Proses Perijinan yang Sumbang
Secara umum, sebuah perusahaan perke-
bunan yang telah berbadan hukum, berhak
untuk mengajukan permohonan hak atas tanah
berupa hak guna usaha. Hak guna usaha ini da-
pat dipahami sebagai hak untuk mengusahakan
tanah yang dikuasai langsung oleh negara seba-
gaimana ketentuan Pasal 28 UUPA. Dalam Pasal
30 selanjutnya dinyatakan bahwa yang dapat
mempunyai HGU adalah badan hukum yang
didirikan menurut hukum Indonesia dan berke-
dudukan di Indonesia. Atas dasar ini, maka PT.
Bangun Desa Utama atau PT. Asiatic Persada ber-
hak mengajukan dan memperoleh HGU atas
usaha perkebunannya. Sebagaimana diketahui
bahwa untuk terbitnya sertif ikat HGU atas suatu
perusahaan perkebunan terlebih dahulu harus
melalui tahapan maupun prosedur yaitu: pener-
bitan ijin pencadangan wilayah, penerbitan ijin
prinsip, penerbitan ijin lokasi, pelepasan kawasan
hutan, dan penerbitan sertif ikat HGU. Kesemua
prosedur ini idealnya harus dilalui secara ber-
urutan. Sebuah perusahaan baru bisa dikatakan
memiliki legalitas hukum yang kuat apabila telah
menjalankan setiap prosedur ini. Pada kenya-
taannya prosedur penerbitan sertif ikat HGU PT
Asiatic Persada tidak melalui proses yang seha-
rusnya. Penerbitan sertif ikat HGU ternyata telah
keluar sebelum ada ijin pelepasan kawasan hutan
dari menteri kehutanan. Selain itu teridentif ikasi
bahwa berdasarkan kegiatan inventarisasi tata
guna hutan tahun 1987, di dalam kawasan hutan
yang disiapkan sebagai lokasi PT. Asiatic Persada
ternyata mencakup tanah dan lahan milik ma-
syarakat. Dalam kasus serupa ini, PT. Asiatic
Persada seharusnya berkewajiban untuk menye-
lesaikan segala permasalahan yang ada termasuk
juga memberikan ganti kerugian atas hak masya-
rakat yang terambil.
Terbitnya Surat Keputusan Menhut pada
tanggal 11 Juli 1987 No. 393/ VII-4/ 1987 Tentang
Inventarisasi dan tata guna hutan menunjukan
adanya persetujuan areal hutan seluas 27.150 Ha
untuk perkebunan kelapa sawit dan coklat untuk
PT. Bangun Desa Utama HGU yang ternyata juga
meliputi 2.100 Ha kawasan milik masyarakat SAD.
Dalam hal ini teridentif ikasi bahwa terdapat lahan
masyarakat SAD seluas 2.100 Ha itu ada di dalam
kawasan HGU seluas 20.000 Ha. Dalam kawasan
seluas 27.150 Ha tersebut juga diketahui bahwa
sebagian tanah telah dikelola oleh masyarakat,
dengan rincian kawasan yang berhutan seluas
23.600 Ha, belukar 1.400 Ha dan perladangan seluas
2.100 Ha serta pemukiman penduduk seluas 50 Ha.
Gambar 4. Komposisi Penguasaan lahan. Hasil
Inventarisasi Tata Guna Hutan Tahun 1987
20
Pada tanggal 9 Agustus 2011 telah terjadi upaya
penggusuran dan intimidasi yang disertai perusakan harta
benda, penjarahan, bahkan kekerasan fisik yang tidak jarang
berakhir di penjara tepatnya di daerah Sungai Beruang,
Kabupaten Muaro Jambi. Banyak perubahan yang terjadi
akibat keberadaan perkebunan tersebut khususnya pada
wilayah-wilayah masyarakat Batin Sembilan yang masuk
dalam areal HGU.
134 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Areal yang menjadi HGU ternyata merupakan
lahan-lahan, perkampungan, pedusunan dan
hutan milik SAD Batin IX yang mendiami Sungai
Bahar. SAD telah mendiami wilayah ini jauh
sebelum perusahaan datang. Beberapa dusun
yang masuk dalam kawasan HGU adalah: Dusun
Lamo Pinang Tinggi, Dusun Lamo Padang Salak,
Dusun Lamo Tanah Menang, serta beberapa
pedusunan di wilayah Markanding. Selain pedu-
sunan, juga terdapat beberapa lokasi yang meru-
pakan ladang dan kebun milik SAD yaitu yang
berada di wilayah Bungin. Selain kebun dan pe-
mukiman, terdapat juga hutan masyarakat dan
hutan larangan.
Pada akhirnya, permasalahan yang muncul
pun semakin kompleks dari mulai: lokasi lahan
sawit yang diberikan, status pembagian lahan,
pola kerja sama SAD dengan perkebunan, ke-
lompok SAD lain yang belum memperoleh ganti
rugi atas tanah adatnya, sampai pada masalah
pemekaran kabupaten Muaro Jambi yang mem-
bawa akibat sebagian lahan daerah yang masuk
dalam HGU PT. Asiatic Persada tersebut berada
di wilayah Kabupaten Muaro Jambi.
21
Secara
lebih jelas, luasan HGU yang mencaplok tanah-
tanah milik SAD dapat dicermati pada skema
berikut ini:
Gambar 5. Persebaran wilayah HGU yang
berasal dari lahan SAD
22
Dari keseluruhan data luasan tanah yang
diklaim oleh kelompok-kelompok SAD yang
masuk dalam HGU PT. Asiatic Persada tersebut
seluas 17.937 Ha. Hal ini artinya mencapai hampir
70% dari seluruh luasan HGU seluas 20.000 Ha.
Gambar.6. komposisi lahan SAD yang masuk
dalam areal HGU PT. Asiatic Persada
21
Dengan adanya pemekaran wilayah tersebut, secara
administratif daerah-daerah tersebut masuk dalam
Kabupaten Muaro Jambi. Bahkan secara administratif
kependudukan masyarakat tercatat sebagai warga muaro
jambi. Namun ketika permasalahan terjadi misalnya terkait
pencurian sawit atau tuntutan konversi lahan yang
bersinggungan dengan PT. Asiatic Persada, maka aparat
kepolisian Kabupaten Batanghari merasa berhak bertindak
dengan mengacu pada kedudukan hukum HGU PT. Asi-
atic Persada.
22
Keterangan: Di batanghari terdiri dari: a) kelompok
113: meliputi desa tanah menang, pinang tinggi dan padang
salak seluas 3.070 Ha; b) kelompok Mat Ukup: berlokasi
di dekat wilayah 113, meliputi 2.067 Ha; c) Bungku: memanen
buah sawit di wilayah eks PT. Jamer Tulen dan PT. Maju
Perkasa Sawit seluas 7.000 Ha. Dari luasan ini 3.000 Ha
ditanami perusahaan dan dari 3.000 Ha ini 1000 Ha dipe-
runtukkan bagi kemitraan. Di Muaro Jambi terdiri dari: a)
Kelompok KOPSAD (Koperasi Suku Anak Dalam). Ber-
ada di wilayah Dsn Markanding, Tanjung Lebar dan Penye-
rokan. Secara administratif mereka tinggal di wilayah Kabu-
paten Muaro Jambi, namun perladangan mereka termasuk
dalam areal HGU PT. Asiatic persada yang masuk dalam
wilayah Kabupaten Batanghari seluas 519 Ha; b) Kelompok
Tani Persada. Mengklaim lahan seluas 5.100 Ha yang pada
tahun 1999 dilakukan pembukaan lahan untuk jalan poros,
perintisan, dan penataan pemukiman. Namun setelah dila-
kuakn pengukuran ulang, lahan ini masuk dalam areal HGU
PT. Asiatic Persada. Artinya, ada indikasi perluasan wila-
yah HGU; c) SAD Sungai Beruang, Sungai Buaian, dan
Danau Minang di Tanjung Lebar. Mengklaim lahan garapan
seluas 157 Ha dan pemukiman seluas 24 Ha.
135 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
Pada dasarnya terdapat banyak kelompok
yang mengklaim diri sebagai masyarakat SAD
yang berhak atas lahan yang saat ini menjadi
areal HGU PT. Asiatic Persada. Sebaran dari
penguasaan-penguasaan lahan di areal HGU PT.
Asiatic Persada pada tahun 2004 tersebut dapat
dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar. 7. Peta sebaran penguasaan/
penggarapan di lahan HGU PT. Asiatic (1986)
Dalam rangka memantapkan data penguasa-
an tanah, khusus untuk lokasi HGU PT. Asiatic
Persada seluas 20.000 Ha, Kanwil BPN Provinsi
Jambi sudah melakukan pengukuran dan pen-
dataan yang berakhir pada bulan Januari 2006
pada garapan/penguasaan masyarakat SAD dan
PIR-TRANS PTPN VI dengan perincian yang da-
pat dicermati dalam tabel berikut:
Tabel 3. Penguasaan Tanah di Lahan HGU
PT. Asiatic Persada
Sumber : BPN, Januari 2006
Dari luasan lahan tersebut, PT. Asiatic Persa-
da faktanya juga melaksanakan kegiatan opera-
sional kebun sawit di lokasi PT. Maju Perkasa
Sawit dan PT. Jamer Tulen. BPN setempat secara
tersirat juga membenarkan pada pernah ada
Surat Kakantah Batanghari kepada Setda pada
tahun 2007 perihal pengecekan luas lahan PT.
Asiatic Persada yang isinya menyebutkan bahwa
lahan sawit PT. Asiatic Persada eksisting telah
melampaui areal HGU yang diberikan. Salah satu
staf BPN Kabupaten Batanghari juga menyebut-
kan kalau lahan PT Jamer Tulen telah melebihi
areal pelepasan, dan telah masuk ke area kehu-
tanan seluas 512 Ha. Inilah yang menjadi pokok
masalah sehingga HGU Jamer Tulen tidak dapat
terbit, di samping konflik yang terjadi.
F. Pola Kemitraan
Meskipun tidak jelas koordinatnya perja-
lananan panjang pemberian kompensasi 1.000
Ha lahan sawit yang diwacanakan oleh peru-
sahaan telah dilakukan. Rencana Pola kemitraan
dilakukan dengan menempatkan SAD pada lo-
kasi yang telah habis perijinannya yaitu PT. Jamer
Tulen dan PT. Maju Perkasa Sawit. Ada beberapa
skenario terkait dengan lokasi pemberian 1000
ha. Pada tahun 2003, pernah terdapat pernyataan
yang menyebutkan bahwa 1.000 Ha tersebut
akan dibangun di Johor seluas 600 Ha untuk
SAD Bungku dan daerah Bungin seluas 400 Ha
untuk SAD Tanjung Lebar. Namun dalam kese-
pakatan lain, PT. Asiatic Persada pernah men-
janjikan akan membangun 600 Ha kebun kemit-
raan untuk SAD Tanjung Lebar dan 50 Ha untuk
pemukiman. Pada kenyataannya keberadaan
areal 1.000 Ha yang dijanjikan oleh PT. Asiatic
Persada untuk kemitraan tersebut sampai saat
ini masih belum teridentif ikasi.
Sementara itu dalam rangka kompensasi, pe-
nanaman modal dilakukan oleh Bank Mandiri
dengan penjaminan oleh PT. Asiatic Persada.
Pembayaran dan bunganya dilakukan oleh SAD
dengan pembagian sebesar 70:30, 70 untuk pe-
tani dan 30 untuk angsuran. SAD juga memba-
yar kembali semua biaya terkait pemeliharaan dan
rencana operasi kepada manajemen Asiatic
Persada. Sebagian laba bersih menjadi hak PT.
No Uraian Luas (Ha)
1
2
3
4
5
Tanaman sawit PT.Asiatic
Digunakan oleh PTPN VI untuk
PIR-TRANS
Garapan/Permukiman Penduduk
Garapan masyarakat SAD
Diklaim masyarakat yang
mengaku SAD
10.625
1.571,5
343,5
913
6.547
Jumlah 20.000
136 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Asiatic Persada. Dan kedua belah pihak wajib un-
tuk membayar pajak atas keuntungan yang mere-
ka peroleh. Pada hakekatnya perkiraan peren-
canaan operasi PT. Asiatic Persada tidak hanya
terkait dengan biaya-biaya, tetapi juga bantuan
teknis, modal, pembayaran bunga serta yang ter-
penting adalah keuntungan. Pembagian lahan
dilakukan sebagai ganti rugi karena SAD telah
menyerahkan tanahnya untuk HGU PT. Asiatic
Persada. Masyarakat yang membutuhkan lahan,
diminta untuk datang dan mendaftar.
Pola kemitraan yang ditawarkan perusahaan
ternyata berujung konflik. Hal ini terutama ter-
kait dengan skema kemitraan, lahan kemitraan,
dan petani calon mitra. Pada akhirnya di tahun
2010 Wilmar Internasional melalui anak perusa-
haannya PT.Asiatic Persada secara resmi berusa-
ha merangkul SAD di Batanghari dengan mem-
berikan 1.000 Ha lahan sawit yang kerjasamanya
dilakukan melalui Koperasi Sanak Mandiri.
23
Dengan bantuan dari Pemerintah Kabupaten
Batanghari, teridentif ikasi sebanyak 771 KK asli
SAD yang akhirnya diberi hak untuk menjadi
mitra PT. Asiatic Persada sekaligus penerima
1.000 Ha lahan sawit tersebut. Sayangnya peng-
identif ikasian serta penetapan kelompok SAD
yang dianggap asli, tidak jelas. Banyak kesim-
pangsiuran yang terjadi sehingga berkembang
cerita bahwa masyarakat penerima manfaat dari
1.000 ha lahan sawit lebih banyak merupakan
pendatang yang mangaku sebagai SAD.
G. Perubahan Ruang Hidup SAD
Ekspansi perkebunan sawit telah menyebab-
kan masyarakat kehilangan kawasan hidup
untuk mengembangkan sistem sosial mereka.
Konflik yang muncul tidak saja bersifat vertikal
melainkan horizontal yaitu konflik yang terjadi
diantara sesama kelompok SAD Batin 9 yang
masing-masing memperjuangkan kedaulatan-
nya. Idealnya apabila lahan seluas 1000 ha meru-
pakan realisasi tuntutan warga, maka harus
segera dilakukan over alih tanggungjawab dari
PT.AP ke masyarakat. Namun pada kenyataannya
seluruh pengelolaan masih berada di tangan PT.
AP.
Saat ini kelompok SAD yang tergusur terpaksa
harus membangun pemukiman-pemukiman
sementara.
24
Pola permukiman yang dikembang-
kan saat ini tidak berbeda dengan saat mereka
masih mengembangkan sistem berburu mera-
mu. Perbedaan hanya terletak pada material
bangunan yang digunakan. Jika pada generasi
pertama material bangunan yang digunakan
adalah kulit kayu untuk dinding dan anyaman
daun sebagai atap, maka pada saat ini mereka
menggunakan tenda sebagai dinding dan atap
23
Dalam sebuah dokumen investigasi independent
terkait kasus pembagian 1000 ha lahan sawit ini salah satunya
membahas tentang legalitas menyangkut rencana kemitraan
yang ada. Disana disebutkan bahwa berdasarkan rencana
kesepakatan antara PT. Asiatic Persada dan Koperasi Sanak
Mandiri tertanggal 24 Juni 2010. Dalam hubungannya
menyangkut kapasitas tiga orang yang mewakili koperasi
yaitu Hendriyanto (Ketua koperasi), Muhammad Adam
(sekretaris) dan Acil Saputra (bendahara) yang dipilih ber-
dasarkan keputusan rapat anggota koperasi tanggal 2 juni
2010 yang diformalkan melalui dokumen penetapan yang
dibuat dihadapan notaris Chintia Untari tertanggal 2 Juni
2010. Sedangkan Koperasi Sanak Mandiri disahkan oleh
Menteri Koperasi tertanggal 17 Juni 2010 No. 231.Gub.
Diskop.Umkm/Juni/2010, sehingga bisa dikatakan bahwa
legalitas para pihak yang mewakili koperasi ini masih belum
cukup untuk menandatangani perjanjian. Karena keberadaan
koperasi baru disahkan tertanggal 17 Juni 2010 sedangkan
pertemuan koperasi tentang penetapan anggota itu tanggal
2 Juni 2010. Sehingga ketika menandatangani perjanjian ter-
sebut, koperasi belum mempunyai kedudukan hukum dan
tanda tangan yang ada menjadi tidak sah. Hal ini semakin
memperkuat indikasi pelanggaran hukum yang ada karena
seolah ada skenario besar yang dijalankan untuk memuluskan
strategi pembagian lahan sawit dengan pola kemitraan/ plas-
ma ini.
24
Suku Anak Dalam Batin 9 yang mendapat lahan seluas
1000 ha berjumlah 771 KK beranggotakan penduduk dari
kelompok Acil, Nyogan, Desa Bungku, Desa Markanding,
dan Penyerokan. Mereka tinggal di Daerah Durian Dangkal.
137 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
layaknya orang berkemah. Satu tenda diisi oleh
tiga generasi yakni kakek, orangtua dan cucu.
Sebagai penerima lahan 1000 ha, warga SAD
Batin 9 berharap mendapat keleluasaan untuk
mengelola lahan sawit yang telah secara resmi
menjadi milik mereka. Namun kenyataannya,
batas antar lahan tidak terdef inisi dengan jelas.
Rata-rata penguasaan tanah adalah 1,3 ha yang
manajemen-nya berada di bawah koperasi. Lahan
1000 ha rupanya tidak dapat langsung diperoleh
oleh warga melainkan harus melalui koperasi.
Beberapa ketentuan keanggotaan harus dipenuhi
warga sebelum mendapat hak penuh untuk
mengelola. Posisi warga penerima lahan sawit
1000 ha saat ini hanya sebagai penunggu kebun
sawit. Pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari
adalah pengumpul berondolan sawit. Kegiatan
mengumpulkan brondolan sawit diupah Rp.
300/kg oleh perusahaan. Meskipun secara legal
mereka adalah penerima lahan 1000 ha, namun
mereka tidak mendapat hak untuk memanen.
Kesepakatan yang dibangun antara koperasi
dengan warga penerima sejumlah 771 KK adalah
warga harus membayar kredit kepemilikan sawit
sejumlah Rp. 28 Milyar yang diambil dari panen
sawit lahan 1000 ha. Hanya saja, pemanenan
dilakukan oleh PT. Asiatic Persada (PT. AP) dan
koperasi tinggal menerima perhitungan yang
keseluruhan proses dilakukan oleh PT. AP.
Hasil panen dianggap asset oleh keduabelah
pihak dan asset harus masuk ke koperasi untuk
memudahkan perhitungan. Pengakuan dari
ketua koperasi menyatakan bahwa telah terjadi
pengurangan asset sehingga dana yang dibagi-
kan kepada anggota koperasi makin sedikit.
Pengurangan asset diakibatkan oleh banyak hal
diantaranya warga tidak menjual sawit yang di-
panen kepada perusahaan, melainkan kepada
pihak ketiga. Beberapa warga Desa Bungku dite-
mukan berstatus sebagai pembeli sawit warga.
Salah satu contoh yang ditemukan adalah K-
nama samaran. Informan tersebut merupakan
pembeli sawit. Dalam sehari dapat mengumpul-
kan sawit sebanyak 10 ton dengan harga beli 800-
950/kg. sawit tersebut akan dijual ke pabrik yang
berada di Mersam dengan harga Rp 1350/kg.
Selisih harga jual merupakan keuntungan kotor
yang diperoleh. Apabila yang terserap hanya 8
ton, maka dalam sehari, penghasilan kotor men-
capai Rp. 3.200.000. Akibat banyak sawit yang
dijual ke luar pihak perusahaan, panen terakhir
yang masuk ke PT. AP hanya 15 ton yang apabila
dirupiahkan untuk harga sawit 1200/kg menca-
pai: Rp. 18 juta. Nilai 18 juta harus dibagi dua
dimana separuhnya harus diberikan kepada PT.
AP sebagai bagian pelunasan hutang. Separuh-
nya masih harus dipotong untuk administrasi
koperasi sejumlah 20% sehingga nilai rupiah yang
tersisa adalah Rp. 1.800.000 yang harus dibagikan
kepada 771 KK. Inilah mekanisme pengelolaan
lahan 1000 ha yang disebut oleh PT. AP sebagai
pola kemitraan.
Praktek-praktek penguasaan negara atas sum-
ber daya ekonomi rakyat, menjadikan kelompok
SAD Batin 9 semakin terpinggirkan. SAD ter-
paksa harus kehilangan sumber-sumber peng-
hidupan yang pada akhirnya memicu rusaknya
tatanan sosial budaya. Keberadaan perkebunan
sawit secara tidak langsung telah mencerabut
SAD dari sumber penghidupan asal mereka yaitu
hutan. Dari perkebunan sawitlah, akhirnya
mereka mulai mengembangkan sumber-sumber
penghidupan alternatif diantaranya dengan
menjadi buruh di perkebunan seperti dapat dili-
hat dalam tabel berikut ini:
Tabel. 4. Jenis Pekerjaan di Perkebunan Sawit
(Sumber: data primer, 2011)
No Jenis Pekerjaan Upah
1 Buruh Brondolan Rp. 300/kg
2 Buruh Nyimas
(membersihkan rumput)
Rp. 42.000/hari
3 Buruh pemupukan Rp. 42.000/hari
4 Buruh panen Rp. 100/kg
5 Sopir Rp. 1000.000/bulan
6 Satpam Rp. 1000.000/bulan
138 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Dengan menjadi buruh di perkebunan sawit
inilah, sebagian dari mereka bisa memperoleh
penghasilan. Selain dari sawit, mereka juga me-
miliki mata pencaharian lain seperti: menyadap
karet, membuat arang kayu, membuat kusen (tu-
kang gesek). Pelibatan SAD Batin 9 dalam sistem
perkebunan besar menempatkan petani jauh dari
sumberdaya-nya bahkan tidak dapat lagi dika-
tegorikan sebagai rumah tangga petani, melain-
kan buruh. Dalam sistem produksi perkebunan
besar, buruh tidak ada bedanya dengan posisi
buruh pabrik. Kelompok ini berada di dalam
sistem, memiliki nilai tawar yang tinggi terhadap
keberlangsungan sistem produksi namun tidak
dapat mengontrol nilai tawar yang dimiliki untuk
mendongkrak kesejahteraan mereka. Intervensi
perkebunan menggusur karakter warga dalam
mengembangkan sistem pencaharian mereka.
Posisi buruh merupakan posisi yang mem-
perlihatkan ketidak-berdaulatan mereka atas
dirinya. Model yang ditawarkan oleh pemerintah
adalah model KKPA yang secara formal sudah
ditawarkan melalui MOU Bupati tentang lahan
1000 ha dan pendirian koperasi 771 KK yang ter-
gabung dalam plasma. Dalam MOU disepakati
bahwa pengelolaan lahan 1000 ha akan dilakukan
dengan sistem plasma. Kenyataannya adalah
seluruh lahan berstatus sebagai inti. Warga terli-
bat hanya sebagai buruh harian lepas. Jam kerja
ditentukan dari pukul 07.30-14.00. Terdapat
aturan yang menyatakan bahwa karyawan yang
bekerja pada kebun sawit milik perusahaan tidak
boleh memiliki kebun dengan alasan khawatir
pupuk dilarikan ke kebun milik. Tingkat upah
yang diberikan tidak sebanding dengan nilai jual
komoditas sawit di pasaran dunia.
25
Pada kenyataannya, kelompok SAD harus
merespon perubahan-perubahan yang terjadi di
lingkungan sekitarnya dengan menggunakan
ukuran-ukuran dan simbol-simbol modernisme.
Ketiadaan sumber penghidupan menyebabkan
mereka lebih disibukkan dengan urusan mem-
pertahankan hidup daripada memikirkan cara
untuk meningkatkan pengetahuan ataupun
mempelajari perubahan-perubahan yang ada di
lingkungan mereka. Potret perubahan kehidupan
SAD dapat dicermati dalam tabel berikut ini:
Tabel. 5. Perbandingan Kehidupan SAD
sebelum dan sesudah Masuknya Perkebunan
Sawit
(Sumber: Hidayat, 2011)
25
Harga tandan buah segar Rp.1000-1900/kg. jika
diasumsikan produksi sawit adalah 3-4 ton/ha/bulan, maka
dalam setiap hektar, pendapatan kotor petani sawit akan
mencapai Rp. 3 juta -7,6 juta tergantung tingkat harga dan
produksi kebun sawit. Angka ini akan sangat timpang apabila
dibandingkan dengan nilai kompensasi yang diterima
sebesar Rp. 200.000/bulan dari yang seharusnya diterima
sebesar Rp. 1,5 juta.
Unsur/
Elemen
Pra-masuknya
perkebunan Sawit
Pasca masuknya perkebunan
sawit
Lingkungan
fisik
(sungai)
Sungai menjadi media
transportasi penting yang
menjadi penghubung antar
kelompok SAD. Sungai juga
menjadi penyedia nutrisi
melalui ikan-ikan yang
melimpah dan dapat
dikonsumsi setiap saat
Sungai menjadi dangkal dan
menyempit. Jumlah ikan
berkurang bahkan sulit
dijumpai
Tempat
tinggal/
Rumah
Tinggal di rumah panggung,
beratap ijuk
enau/mengkuang,
berdinding kulit pohon yang
dikeringkan/jalinan batang
bambu muda yang dipotong
dan diikat dengan rotan.
Rumah-rumah ini dibangun
di dekat aliran sungai
Tidak sepenuhnya
mempertahankan model rumah
panggung sebagai tempat
tinggal. Rumah-rumah
dibangun dengan
menggunakan arsitektur
modern, berdinding tembok,
bahkan banyak yang sudah
berlantai keramik. Rumah juga
tidak dibangun di dekat aliran
sungai, namun sudah menyebar
Aktivitas
Mata
Pencaharian
Berkebun/berladang,
mengambil madu dari
pohon sialang, mencari ikan
di sungai, mengambil
durian, memikat ayam
hutan, menanam padi
ladang dan umbi-umbian
Menjadi buruh di perkebunan
kelapa sawit, menyadap karet
di perkebunan-perkebunan
milik masyarakat
Struktur
kepemimpi
nan adat
Mengenal sistem pangkat
dan gelar yang mempunyai
fungsi sosial dalam
mengatur keseharian hidup
orang Batin IX
Struktur kepemimpinan adat
sudah tidak dijalankan lagi.
Sebutan gelar masih ada tapi
sudah tidak berfungsi sebagai
pimpinan adat
Interaksi
Sosial
Terjalin dengan baik, saling
mengenal satu dengan yang
lain, ikatan kekeluargaan
kuat
Benih-benih individualisme
mulai tumbuh akibat penetrasi
kapitalisme yang masuk
melalui budaya konsumerisme
Kepemilikan
tanah
Kepemilikan tradisional
membuka ladang dengan
menebang pohon di hutan.
Semakin banyak menebang
hutan, semakin luas
kepemilikan tanahnya
Pemilikan tanah mengacu pada
sistem legalitas formal
139 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
H. Kesimpulan
Kasus pemberian seribu hektar lahan sawit
kepada Suku Anak Dalam merupakan salah satu
bentuk kuasa kapital yang telah mengeksklusi
kelompok Suku Anak Dalam dari tanah-tanah
mereka. Berbagai bentuk perlawanan dari masya-
rakat lokal baik secara langsung maupun tidak
langsung merupakan potret resistensi SAD dalam
menghadapi kuasa modal. Melalui cara inilah
SAD bertahan dalam ruang hidup mereka seka-
rang. Kehilangan hutan, kehilangan mata penca-
harian, dislokasi sosial budaya, ketercerabutan
dari sumber-sumber daya agraria yang dimiliki
merupakan fakta-fakta konkrit yang memperli-
hatkan akses mereka terhadap hutan telah
disingkirkan oleh skema bisnis sawit. Keberada-
an sawit sebagai bagian dari komoditas interna-
sional yang menawarkan sejuta keuntungan eko-
nomis telah membentengi akses mereka untuk
bisa mempertahankan penghidupan dalam
memanfaatkan hutan.
Di tengah euforia bisnis sawit, kelompok-
kelompok SAD yang dimiskinkan oleh struktur
penguasaan yang tidak seimbang ini, pada akhir-
nya juga harus berhadapan dengan bagian dari
kelompok mereka yang ternyata secara perlahan
telah menjadi bagian dari kelompok penguasa
kapital baru. Para juragan sawit yang berasal dari
kelompok penduduk lokal dan juga pendatang
merupakan wujud alih rupa dari kuasa perke-
bunan yang muncul. Dalam konteks adverse
incorporation, mereka inilah yang menjadi bagian
dari kelompok yang diuntungkan dengan keha-
diran sawit. Keterlibatan atau integrasi kelompok
ini dalam skema bisnis sawit, telah memungkin-
kan mereka untuk mengakumulasi sumber-
sumber kapital baru. Kelompok yang satu ini bisa
mengakumulasi keuntungan yang lebih besar
dari sawit-sawit yang mereka kumpulkan dari
petani kecil. Hal ini bisa dicermati dari kepemi-
likan mereka baik rumah, kendaraan maupun
pekerja yang dimilikinya.
Kasus pemberian seribu hektar lahan kepada
Suku Anak Dalam merupakan cerminan dari
perebutan akses yang terjadi atas tanah. Pembe-
rian seribu hektar lahan sawit merupakan bentuk
strategi yang diambil oleh perusahaan dengan
mengkamuflasekan kesejahteraan sebagai slogan
dibalik upaya pengerukan keuntungan dan pen-
jinakan perlawanan dari masyarakat. Masyarakat
tetap diposisikan sebagai pihak yang pasif. Pola-
pola kemitraan yang diterapkan perusahaan,
tidak hanya meminggirkan masyarakat, tetapi
juga telah menciptakan konflik horisontal yang
memecah belah kelompok. Diferensiasi agraria
menguat dan memunculkan friksi yang cukup
tajam.
Tata kelola yang dilakukan oleh perusahaan
pada kenyataannya telah menciptakan bencana
sosial dan ekologis yang luar biasa bagi kelompok
SAD. Skema bisnis sawit telah menempatkan
mereka dalam rantai terendah dalam bisnis ini.
Sawit adalah tanaman baru yang jelas-jelas
sangat tidak ramah terhadap livelihood asli
mereka. Kesejahteraan yang diperoleh pada
kenyataanya hanya kesejahteraan semu yang
dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Pada
akhirnya yang didapatkan adalah ketercerabutan
dari tanah-tanah mereka. Perkebunan sawit
telah menggusur akses masyarakat terhadap
sumberdaya agrarianya. Tanah-tanah yang
dijanjikan pada mereka kenyataannya tidak
pernah ada secara jelas. Lokasi seribu hektar
lahan sawit selalu berpindah mengikuti logika-
logika kapital yang bekerja dalam kuasa
perkebunan sawit.
Dalam skema bisnis sawit, secara global ma-
syarakat juga sedang dihadapkan pada berbagai
dampak luar biasa yang mengancam ruang
hidup mereka. Skema bencana ekologis yang
akan terjadi 20 atau 30 tahun mendatang adalah
bagian dari fakta yang saat ini belum disadari
secara penuh. Perkebunan-perkebunan kelapa
sawit akan menghancurkan sumber-sumber air
140 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tanah.Hal ini sudah mulai terlihat dari semakin
keruhnya sungai Batanghari yang merupakan
sumber air di PDAM Provinsi Jambi. Selain krisis
air, masyarakat juga akan sangat disibukan
dengan persoalan peremajaan pada kebun-
kebun tua. Selama peremajaan dilakukan, praktis
dalam jangka waktu lima tahun risiko kehilangan
pendapatan dalam jumlah besar akan ditang-
gung petani bila tidak diantisipasi jauh-jauh hari.
Hal ini dapat melahirkan dampak sosial yang jauh
lebih besar dibanding ketika masa tanam dalam
siklus pertama dahulu.Hal ini terjadi karena dua
alasan. Pertama, tingginya pendapatan per kapita
yang selama ini diterima petani plasma telah
mengubah pola konsumsi rumah tangganya, ter-
masuk dalam kredit/ utang. Kedua, sebagian be-
sar kebun-kebun tua itu boleh jadi telah diwa-
riskan ke generasi berikutnya, generasi yang
tidak pernah merasakan sulitnya hidup di masa
awal-awal pembangunan sawit dahulu
Inilah fakta yang haru dihadapi akibat peru-
bahan yang dibawa oleh skema bisnis sawit. Yang
terjadi adalah masyarakat menjadi terusir dari
tanahnya sendiri. Minimnya akses informasi
tentang dampak yang akan ditimbulkan dari
pembangunan kelapa sawit dan pengaruh eko-
nomi liberal telah mengubah cara berpikir orang
Batin tentang tanah yang awalnya mempunyai
fungsi ekonomi dan sosial, berganti menjadi nilai
ekonomis semata. Warga kehilangan tanah aki-
bat proses ganti rugi dan terpaksa menjadi buruh
di perkebunan untuk menyambung hidupnya.
Kembali ke livelihood asal mungkin menjadi
sebuah kemustahilan ketika tanah-tanah yang
sekarang sudah dikonversi menjadi sawit tidak
memberikan cukup ruang untuk mengembali-
kan hutan-hutan ke kondisi awal.
Daftar Pustaka
Behrman, Julia, et all. 2011. The Gender Implica-
tions of Large-Scale Land Deals. IFPRI Dis-
cussion Paper.www.ifpri.org.
Colchester, et al. 2006. Promised Land: Palm Oil
and Land Acquisition in Indonesia: Implica-
tion for Local Communities and Indigenious
People. England: Forest People Programme
(FPP); Bogor: Perkumpulan Sawit Watch.
Fortin. 2011. The Biofuel Boom and IndonesiasOil
Palm Industry in West Kalimantan. Paper
presented in International Conference on
Global Land Grabbing 6-8 April 2011.
Handini, Retno. 2005. Foraging yang Memudar:
Suku Anak Dalam di Tengah Perubahan.
Yogyakarta: Galang Press
Hidayat, Rian. 2011. Suku Anak Dalam Batin 9:
Membangkitkan Batang Terendam, Sejarah
Asal Usul Kebudayaan dan Pengelolaan
Sumber Daya Alam. Draft Laporan Peneli-
tian. Jambi: Yayasan Setara Jambi.
Julia. 2009. Pembangunan untuk Siapa? Impli-
kasi Jender Perkebunan Kelapa Sawit terha-
dap Perempuan Dayak Hibun di Kalimantan
Barat, Indonesia. Dalam Jurnal Tanah Air,
Edisi Oktober-Desember, hal 194-235.
Kartika, Sandra dan Gautama, Candra. 1999.
Menggugah Posisi Masyarakat Adat Terha-
dap Negara. Prosiding Saresehan Masyara-
kat Adat Nusantara, Jakarta, 15-16 Maret.
Jakarta: Konggres Masyarakat Adat Nusan-
tara 1999 dan Lembaga Studi Pers dan Pem-
bangunan (LSPP).
Kusworo, Ahmad. 2000. Perambah Hutan atau
Kambing Hitam?: Potret Sengketa Kawasan
Hutan di Lampung. Bogor: Pustaka Latin.
Maryani dan Sapardiyono. 2005. Penguasaan
dan Pemilikan Tanah Masyarakat Suku
Anak Dalam di Desa Sungai Beringin Keca-
matan Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi
Jambi. Dalam Bhumi, Nomor 13 Tahun 5
Desember.
McCharty, S. 2010. Process of Inclusion and
Adverse Incorporation: Oil Palm and Agrar-
ian Change in Sumatra. Journal of Peasant
141 Dwi Wulan P & Widhiana HP: Suku Anak Dalam Batin 9 dan Konflik .....: 122-141
Studies vol 37.No.4.
Prasetijo, Adi. 2011. Serah Jajah dan Perlawanan
yang Tersisa Etnograf i Orang Rimba di
Jambi. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Sarifudin (dkk). 2010. Prof il Komunitas Adat
Terpencil (KAT) dan Program Pemberda-
yaan di Provinsi Jambi. Jambi: Dinsosna-
kertrans.
Tauf ik Rahman. Perkebunan Kelapa Sawit
Perparah Pencemaran Sungai Batanghari.
http://www.republika.co.id (diakses 25 No-
vember 2010).
White, Ben. 2009. Laba dan Kuasa Dicat Warna
Hijau: Catatan Mengenai Biofuel, Agribisnis
dan Petani. Dalam Jurnal Tanah Air, Edisi
Oktober-Desember, hal 238-257.
PETANI MELAWAN PERKEBUNAN:
PERJUANGAN AGRARIA DI JAWA TENGAH
1
Siti Rakhma Mary Herwati*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: One of current agrarian struggles in Central Java is between peasants against plantation estates. This paper
explicates four land conflict cases, and discusses varied responses of the state institutions to deal with land conflicts. This paper
start by showing the ways in which, after the fall of the authoritarian regime of Suharto in 1998, rural poor took the land back,
which previously controlled by plantations. They believed the reclaimed lands belong to them as heirs. The Reformasi provided
political opportunity for rural poor in various regions to do Aksi Reklaiming, and got legitimacy for their actions. However, the
plantation companies fought back, including by using legal and non-legal strategies. The paper shows in detail the trajectory of
each conflict and efforts to handle it, and put them in comparison one to another.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: agrarian conflicts, reclaiming action, Central Java.
Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Salah satu perjuangan agraria di Jawa Tengah saat ini adalah antara petani melawan perusahaan-perusahaan perkebunan.
Paper ini menjelaskan 4 kasus konflik tanah dan membahas respon institusi-insitusi negara dalam menangani konflik-konflik
tersebut. Dengan menceritakan akar konfliknya dalam sejarah kolonial, paper ini menunjukkan, bagaimana masyarakat miskin
pedesaan mengambil kembali tanah-tanah mereka yang sebelumnya dikuasai perkebunan-perkebunan sejak jatuhnya Soeharto
pada 1998. Mereka meyakini bahwa tanah yang mereka klaim tersebut adalah milik mereka sebagai ahli waris. Masa Reformasi
menyediakan kesempatan politik bagi masyarakat miskin pedesaan di beberapa daerah untuk melakukan Aksi-aksi Reklaiming, dan
mengusahakan legitimasi atas aksi-aksi mereka. Merespon petani, perusahaan-perusahaan perkebunan tersebut melawan mereka,
termasuk dengan menggunakan strategi hukum dan non-hukum. Paper ini menunjukkan secara rinci perjalanan dari konflik dan
penanganannya, dan meletakkannya dalam perbandingan satu dengan yang lain.
Kata K Kata K Kata K Kata K Kata Kunci unci unci unci unci: perjuangan agraria, konflik tanah, Jawa Tengah.
A. Pengantar
Kami juga berencana untuk menggugat Bupati Siti
Nurmarkesi (Dra Siti Nurmarkesi) yang telah
mengeluarkan SK (Surat Keputusan) perpanjangan
HGU atas tanah tersebut. Dulu tanah yang dikelola
milik PT KAL tersebut adalah milik warga, setelah
habis HGU mestinya dikembalikan kepada warga.
(Suara Merdeka, 26 November 2009).
Konf lik tanah antara petani Desa Trisobo
dengan PT KAL sebagaimana petikan berita di
atas hanyalah salah satu dari puluhan konflik
serupa di Jawa Tengah. LBH Semarang, sebuah
lembaga non pemerintah yang bergerak di
bidang advokasi hukum dan hak asasi manusia,
mencatat bahwa sampai akhir tahun 2011 terjadi
46 kasus di Jawa Tengah, yang mencakup konflik
antara petani dengan pengusaha perkebunan,
dan dengan Perhutani.
1
Judul ini diinspirasikan oleh judul buku klasik studi
agraria Indonesia: Karl Pelzer. 1982. Planters against Peas-
ants: The Agrarian Struggle in East Sumatra, 1947-1958. s-
Gravenhage: M. Nijhoff. Perspektif yang ditampilkan di
sini berangkat dari aksi-aksi kolektif petani dalam melawan
perkebunan dari waktu ke waktu. Sebagian materi artikel ini
pernah dipresentasikan pada Konferensi Internasional
Penguasaan Tanah di Jakarta pada 12 Oktober 2004 dan
Workshop di LIPI pada 11 Januari 2012. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada Noer Fauzi Rachman,
PhD atas komentar kritis, editing, dan masukan-masukannya
dalam penulisan artikel ini.
*
Penulis adalah Koordinator Pembaruan Hukum dan
Resolusi Konflik pada Perkumpulan Pembaruan Hukum
dan Masyarakat Berbasis Ekologis (HuMa) Jakarta.
143 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
Akar historis dari kasus-kasus konflik tanah
perkebunan itu bermula dari perampasan-pe-
rampasan tanah petani oleh perusahaan-peru-
sahaan perkebunan di zaman Hindia Belanda.
Perusahaan-perusahaan perkebunan itu mun-
cul, sejak berlakunya Agrarische Wet 1870. Agra-
rische Wet dan peraturan pemerintah pelaksa-
nanya (Agrarische Besluit) telah melapangkan
jalan pengusaha Belanda dalam mendapatkan
konsesi untuk menginvestasikan modal di sektor
perkebunan. Agrarische Wet memberi wewe-
nang kepada Kerajaan Belanda untuk melepas-
kan hak penguasaan rakyat atas tanah-tanah
yang digolongkan terlantar (woeste gronden)
maupun tanah yang sedang digarap rakyat un-
tuk kemudian memberikannya kepada pengu-
saha perkebunan dengan hak erfpacht yang
berjangka 75 tahun.
2
Pada masa itu banyak petani
kehilangan tanah.
Makalah ini hendak membahas konsekuensi
dari aksi-aksi petani pada awal masa Reformasi
untuk mengambil kembali tanah-tanah yang
sebelumnya dikuasai perusahaan-perusahaan
perkebunan. Pada masa reformasi 1998, para
petani di berbagai daerah menduduki tanah-
tanah perkebunan yang mereka yakini sebagai
pernah menjadi milik mereka sebagai ahli waris.
Tak terkecuali para petani di empat lokasi pene-
litian ini. Mereka menduduki tanah, menggarap,
dan menanaminya dengan berbagai tanaman
pangan. Tetapi, perusahaan perkebunan tak begi-
tu saja membiarkan pendudukan dan pengga-
rapan lahan itu. Mereka melaporkan para petani
itu ke polisi, memobilisasi preman untuk meng-
intimidasi para petani, atau menggugat para tokoh
petani ke pengadilan. Akibatnya, tak semua aksi
reklaiming berhasil mengembalikan tanah petani.
Dalam keempat kasus yang dibahas, para
petani meminta dan mendapatkan bantuan
hukum dari LBH Semarang. LBH Semarang
memandang penyelesaian konflik di luar penga-
dilan memberikan peluang untuk para petani
mendapatkan penyelesaian yang lebih adil.
3
Meski demikian, penyelesaian kasus tanah akhir-
nya sampai juga di ranah litigasi. Ini terjadi ketika
polisi menangkap tokoh-tokoh petani, menyidik-
nya, dan mengirim kasus dan terdakwanya ke
kejaksaaan, dan jaksa menghadapkan terdakwa
dan kasusnya ke muka pengadilan.
Tulisan ini membahas perjalanan perjuangan
agraria para petani di empat kasus dalam berkon-
f lik dengan perkebunan-perkebunan di Jawa
Tengah, termasuk penggunaan jalur pengadilan
dan di luar pengadilan. Adapun perusahaan-
perusahaan perkebunan yang dihadapi petani di
empat kasus ini adalah PT. Pagilaran di Kabu-
paten Batang, PTPN IX di Kabupaten Kendal,
PT. Sinar Kartasuran di Kabupaten Semarang,
dan PT. Karyadeka Alam Lestari (KAL) di Ka-
bupaten Kendal. Penulis adalah pengacara LBH
Semarang untuk para petani di empat kasus itu
sejak tahun 2000 sampai 2011. Dengan demikian,
penulis memiliki akses yang dalam dan luas
terhadap seluruh perjalanan keempat kasus ter-
sebut, termasuk melalui wawancara dan perca-
kapan dengan tokoh-tokoh petani, penelusuran
arsip, partisipasi dalam arena pengadilan maupun
non-pengadilan, dan lainnya.
B. Perjalanan Perjuangan Agraria
Petani melawan Perkebunan
Jauh sebelum datangnya perusahaan perke-
bunan ke Pagilaran pada sekitar tahun 1918-1925,
para petani Pagilaran telah membuka tanah
untuk dijadikan lahan pertanian dan pemu-
kiman. Sejumlah sesepuh Desa Pagilaran dian-
taranya Sutomo (alm), Mukhlas (alm, bekas
Petugas Keamanan PT Pagilaran dan saksi
2
Cf. Soetandyo Wignyosoebroto dalam Ricardo
Simarmata. 2002. Kapitalisme Perkebunan. Yogyakarta: In-
sist Press, hal 9.
3
Lihat: Mary, Rahma dan Muhadjirin. 2008. Konflik
Agraria di Jawa Tengah dan Penyelesaian Non-Litigasi.
Semarang: LBH Semarang.
144 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
pengusiran warga tahun 1966), Dirjo, menutur-
kan cerita turun-temurun tentang pembukaan
lahan tersebut. Menurut mereka, para sesepuh
mereka telah membuka lahan sebelum datang-
nya Londo (Belanda). Paguyuban Petani Korban
PT Pagilaran (P2KPP), organisasi tani lokal di
Pagilaran yang berdiri tahun 1999, dalam Riwa-
yat Asal-Usul Tanah Pagilaran menulis: pada 1878
masyarakat membuka tanah untuk lahan per-
tanian. Pada waktu itu tanah-tanah di Pagilaran
masih berupa hutan belantara, penduduknya
masih jarang, dan mereka membuat rumah di
dekat lahan pertanian masing-masing.
4
Sementara di Desa Kalisari yang secara geo-
grafis terletak di bawah Desa Pagilaransebelum
dijadikan areal perkebunan oleh Belandaterda-
pat kampung asli warga Kalisari yang bersisian
dengan kuburan warga. Lokasi kuburan tersebut
sampai saat ini berada di tengah areal perkebunan
dan masih dipergunakan warga Desa Kalisari.
Namun seiring kedatangan perusahaan Belan-
da, para petani kehilangan tanah-tanah garapan-
nya, karena perusahaan mengambil alihnya secara
paksa. Proses penyewaan berlangsung dengan
kekerasan setelah perusahaan Belanda memeta-
kan tanah-tanah untuk lahan perkebunan. Suto-
mo menuturkan: dengan memanfaatkan aparat
desa setempat, pengusaha Belanda membodohi
para petani dalam proses penyewaan lahan. Pe-
nelitian Anton Lucas memperkuat hal ini. Di seki-
tar tahun 1920-an, berdiri industri gula kolonial
di Karesidenan Pekalongan. Untuk menjamin
kebutuhan pabrik akan lahan-lahan sawah, pe-
merintah menetapkan luas tanah yang harus
disewakan di setiap desa. Untuk itu Pemerintah
Hindia Belanda menggunakan elit birokratis se-
tempat (Kepala Desa atau Pangreh Praja) untuk
memaksa para petani menyewakan tanahnya.
5
Pemaksaan seperti ini juga dialami oleh warga
Desa Gondang, Kalisari, Bawang, dan Bismo.
Seorang petani Desa Gondang, Minto Samari
(alm) mengungkapkan bahwa lahan-lahan
pertanian yang dibuka oleh para orang tua mere-
ka diambil alih oleh perusahaan perkebunan
dengan cara disewa paksa. Penyewaan itu dilaku-
kan dengan mengganti rugi tanaman yang masih
berdiri dengan uang yang jumlahnya tidak
seimbang. Selanjutnya, hampir semua tanah ga-
rapan dan pemukiman petani yang telah disewa
perusahaan Belanda dikosongkan.
Pada 1918, perusahaan perkebunan tersebut
mulai mengeksploitasi tanah Pagilaran. Mereka
datang untuk mencari dan menanam pohon-
pohon kina di sekitar hutan. Mereka menanam
pohon-pohon kina di Karangnangka dan Kali
Kenini. Setahun kemudian, yaitu 1919, mereka
mengukur tanah-tanah garapan para petani dan
membuatkan surat hak kepemilikan tanah
(pethok). Setelah surat pethok jadi, dengan janji
menyewa tanah, para petani di Blok Pekan-
dangan (Desa Bismo), Blok Karangsari (Desa
Bawang) diusir dari lahannya.
6
Mula-mula pengusaha Belanda menanam
pohon-pohon kina dan kopi. Kemudian meng-
gantinya dengan tanaman teh. Ide penanaman
teh ini muncul ketika pengusaha Belanda
mengetahui Mak Sitas membawa biji teh dari
Desa Tujungsari (Wonosobo). Pengusaha Belan-
da itu kemudian membeli biji teh itu untuk pem-
bibitan. Pembibitan itu berhasil, lalu si pengusaha
mengganti perkebunan kopi dengan perke-
bunan teh. Ia menjadikan para petani yang telah
kehilangan tanah sebagai buruh di lahan-lahan
perkebunan itu. Dari catatan resmi PT Pagilaran,
diketahui bahwa pada 1880 sebuah maskapai
Belanda mendirikan perkebunan Belanda. Pada
4
P2KPP, 1999, Riwayat Asal-Usul Tanah Pagilaran:
Naskah Kampanye Advokasi, tidak diterbitkan
5
Lucas, E. Anton, 1989, One Soul One Struggle,
Peristiwa Tiga Daerah, Resist Book, Yogyakarta, hal 18.
6
Divisi Pertanahan LBH Semarang, Naskah Gelar
Perkara Tanah PT Pagilaran di Mapolda Jawa Tengah, 21
Agustus 2000.
145 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
1922 pemerintah Kolonial Inggris membelinya
dan menggabungkannya dengan Pamanukan
and Tjiasem Lands PT (P&T Lands PT).
Sejarah para petani Pagilaran membuka
lahan pertanian dan permukiman ini tak jauh
berbeda dari sejarah para petani Dusun Kali-
dapu, Kabupaten Kendal dalam membuka tanah
pertanian dan permukiman. Namun terdapat
perbedaan masa pengambilalihan tanah-tanah
garapan petani Dusun Kalidapu dengan tanah
petani Pagilaran. Sejarah konflik agraria para
petani Dusun Dusun Kalidapu, Kabupaten Ken-
dal, diawali sebelum tahun 1940-an, ketika warga
Dusun Kalidapu, Desa Kaliputih, Kecamatan Singo-
rojo, Kabupaten Kendal yang berjumlah kurang
lebih 100 KK (Kepala Keluarga) membuka hutan
belantara (menurut bahasa setempat disebut alas
gung lewang lewung). Dalam prof il organisasi
Kerukunan Warga Kaliputih (1998) dituliskan:
pada saat itu warga tidak berani sendirian me-
masuki alas (hutan), karena sangat berbahaya.
Setelah membuka lahan, mereka membagi
tanah tersebut menjadi lima blok, yakni blok A,
B, C, D dan E. Blok-blok inilah yang sekarang
dinamakan Giri Salam, Cilapar, Kedung Bogor,
Kedung Kendil dan Munggang. Selanjutnya
para petani mengolah tanah hasil membuka
hutan tersebut hingga menjadi tanah garapan
yang subur dan menanam ketela, padi gogo,
jagung, pisang, durian, nangka, rambutan dan
tanaman lainnya yang menghasilkan.
Luas hutan belantara yang mereka buka ada-
lah kurang lebih 80100 hektar. Hutan belantara
itu membentang dari Giri Salam, Cilapar,
Kedung Bogor, Kedung Kendil sampai Mung-
gang. Rata-rata petani menggarap lahan seluas
antara 0,5 hektar sampai 1 hektar. Sebagian hasil
panen mereka konsumsi sendiri, sebagian lain-
nya di-barter dengan para pedagang dari Kali-
wungu dan Boja (Kabupaten Kendal) yang datang
ke Dusun Kalidapu. Di masa revolusi 1947-1949,
selain menggarap tanah dan berdagang di pasar
tradisional, para petani dan warga Dusun
Kalidapu membantu para pejuang Republik yang
bermarkas di Dusun Kalidapu melawan Belanda.
Sementara itu di Kabupaten Semarang, seja-
rah lahan yang dikuasai oleh PT Sinar Kartasura
dimulai pada sekitar tahun 1930, yaitu ketika
Belanda masuk ke Bandungan. Dari penuturan
para sesepuhnya, diketahui pada tahun 1930-an
tanah-tanahyang sekarang merupakan tanah-
tanah sengketayang terletak di tiga desa itu
merupakan lahan kosong dan semak belukar
(bero). Pada waktu itu, secara hampir bersamaan
para investor datang dan membuka usaha perke-
bunan. Tak ada yang bisa menjelaskan apakah
pengusahaan lahan itu telah dimusyawarahkan
dengan masyarakat sekitar dan telah ada ganti rugi
penggarapan atau belum. Warga sendiri merasa
tak pernah sama sekali diajak bermusyawarah.
Sukadiwarga Dusun Talun, Desa Candi,
Bandunganmengatakan pada tahun 30-an
lahan itu masih berupa tanah kosong dan semak
belukar. Pada tahun 1932 tiba-tiba Tuan Van
Harten menguasainya dan menanaminya
dengan kopi, akasia, dan serai. Di lahan yang
dikuasai Van Harten, seorang Jepang bernama
Takeshi juga mengusahakan tanaman bunga.
Pada tahun 1935 lahan tersebut dinamai persil
Langenharjo. Hanya sampai tahun 1942saat
dimulainya kolonialisme JepangVan Harten
mengelola lahan tersebut. Ketika Jepang berku-
asa, ia tinggalkan lahan tersebut begitu saja dan
kemudian diduduki oleh laskar rakyat yang ikut
berjuang mengusir penjajah bersama-sama war-
ga sekitar kebun. Setelah kemerdekaan, khusus-
nya setelah laskar rakyat pergi, masyarakatlah yang
secara optimal menggarap lahan tersebut. Kemu-
dian masing-masing Kepala Desa setempat mem-
beri para penggarap surat warna jambon (warna
merah muda) yang biasa disebut letter D.
7
7
Data ini diperoleh dari profil kasus PT Sinar
Kartasura, disusun oleh LBH Semarang di tahun 2000.
146 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Di Desa Trisobo, tanah-tanah garapan petani
hasil membuka hutan, disewa secara paksa oleh
pemerintah kolonial Belanda disekitar tahun
1920. Tanah garapan petani kemudian beralih
menjadi perkebunan P&T Lands milik Inggris.
Perusahaan ini menanam kopi, kakao, dan
randu.
1. Masa Pendudukan Jepang, 1942-1945
Selama pendudukan Jepang segala kegiatan
masyarakat ditujukan untuk menopang usaha
perang. Hal itu berlaku pula bagi bidang ekonomi
dan perkebunan.
8
Untuk menambah hasil bumi,
Jepang memperluas tanah pertanian rakyat
dengan mengurangi tanah-tanah perkebunan.
Kemudian diatas lahan-lahan lebih ditanami
padi dan tanaman pangan lainnya.
9
Para pengusaha perkebunan Belanda di
Pagilaransetelah Pemerintah Hindia Belanda
menyerah tanpa syaratsegera meninggalkan
atau membakar tanah-tanah perkebunannya,
akibatnya banyak tanah menjadi terlantar. Para
sesepuh menuturkan, pemerintah Jepang kemu-
dian menginstruksi para petani untuk menanami
lahan-lahan tersebut dengan jagung dan
palawija lainnya. Sebagian dari hasil panennya
dijadikan bahan pangan tentara Jepang. Hal
yang sama terjadi di Dusun Kalidapu, Kabupaten
Kendal, Desa Trisobo, dan Desa Bandungan,
Kabupaten Semarang. Tetapi selain mensuplai
bahan pangan tentara Jepang, di ketiga tempat
itu para petani secara sembunyi-sembunyi men-
suplai bahan makanan untuk para pejuang ke-
merdekaan (laskar rakyat).
Para petani terus menggarap lahan sampai
berakhirnya kekuasaan Jepang pada tahun 1945.
Namun setelah itu Belanda mencoba masuk lagi
ke perkebunan. Di Pagilaran, para pejuang Re-
publik membakar aset-aset perusahaan Belanda
dan akibatnya perkebunan teh hancur. Tetapi
Belanda membangun lagi perkebunan dan
pabriknya di luar tanah-tanah yang digarap
petani.
2. Masa Revitalisasi Perkebunan
Masa revitalisasi perkebunan yang dimulai
tahun 1956 merupakan periode sejarah yang
menentukan bagi pemerintah Republik untuk
menguasai aset-aset bangsa Indonesia yang sebe-
lumnya dikuasai para penjajah. Bagi petani, masa
nasionalisasi hanya menyisakan persoalan pan-
jang, karena tercerabutnya tanah garapan mere-
ka, bukan oleh Belanda, tetapi oleh bangsa sen-
diri.
Setelah pemerintah Belanda menyerahkan
kedaulatan kepada pemerintah Republik Indo-
nesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di
Den Haag pada 29 Desember 1949, Belanda
menyerahkan seluruh harta milik bangsa Belan-
da yang ada di Indonesia termasuk aset-aset
perkebunan. Dalam perundingan KMB tersebut,
selain penyerahan kedaulatan kepada Indone-
sia, ada satu pasal tentang Aturan Peralihan yang
merugikan kerjasama antara Belanda dan Indo-
nesia, yaitu persoalan Irian Barat. Peraturan
Peralihan, yang dibuat atas anjuran Komisi PBB,
tidak memberi kejelasan mengenai kedaulatan
Indonesia atas Irian Barat. Para perunding hanya
bicara tentang dipertahankannya keadaan sta-
tus quo atas karesidenan Irian Barat dengan
ketentuan, setahun setelah penyerahan kedau-
latan akan diadakan perundingan antara kedua
belah pihak (Indonesia dan Belanda) untuk
menentukan status ketatanegaraan daerah itu.
Dalam pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus
1950 Presiden Soekarno menyatakan: Irian
Barat adalah bagian Republik Indonesia, bukan
besok atau lusa, melainkan sekarang, pada saat
ini. Lebih lanjut ia mengatakan kekuasaan de
8
Sartono Kartodirjo dan Djoko Suryo, op.cit, hlm.
161.
9
Tauchid dalam Mubyarto dkk (eds.), op.cit, hlm. 49.
147 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
facto Belanda atas Irian Barat hanya diakui untuk
tahun ini. Bila dalam tahun ini jalan perun-
dingan tidak tercapai, akan terjadi sengketa
besar atas pulau itu.
10
Sengketa besar yang diucapkan Soekarno
akhirnya menjadi kenyataan, yaitu ketika pada
29 November 1957 Indonesia gagal memperoleh
dukungan dalam pemungutan suara di PBB
tentang masalah Irian Barat. Perdana Menteri
Djuanda mendesak bangsa Indonesia agar tetap
mengobarkan semangat juang demi merebut
kembali Irian Barat melalui jalan lain. Terjadilah
beberapa pemogokan di perusahaan-perusahaan
Belanda. Bahkan buruh-buruh mengambil alih
beberapa perusahaan Belanda. Tetapi pada tang-
gal 9 Desember 1957, Djuanda selaku pimpinan
tertinggi militer mengeluarkan sebuah peraturan
yang menempatkan semua perkebunan Belanda
termasuk pabrik, fasilitas penelitian pertanian,
semua bangunan lainnya, harta tetap dan harta
tidak tetap dalam yurisdiksi Republik Indone-
sia. Dan untuk itu ia memberi wewenang kepada
Menteri Pertanian untuk mengeluarkan pera-
turan yang perlu. Menteri Pertanian, melalui
peraturan yang dikeluarkan pada hari berikut-
nya, menempatkan perkebunan-perkebunan
Belanda dalam pengawasan teknis sebuah orga-
nisasi baru, Pusat Perkebunan Negara Baru
(PPN-Baru). Cikal bakal PPN-Baru adalah Pusat
Perkebunan Negara (PPN) dan Jawatan Perke-
bunan.
Selanjutnya pada tanggal 10 Desember 1957,
Jenderal A.H. Nasution (Kepala Staf Angkatan
Bersenjata) selaku Penguasa Militer Pusat,
mengeluarkan sebuah peraturan yang ditujukan
kepada segenap Penguasa Militer Daerah untuk
mengambil alih pelaksanaan semua perusahaan
Belanda yang ada dalam masing-masing wilayah
militer mereka atas nama Republik Indonesia.
11
Dalam penjelasannya di depan wakil-wakil
asosiasi perkebunan Belanda pada tanggal 10
Desember 1957, Menteri Pertanian Sadjarwo
menjamin tak akan ada nasionalisasi perusaha-
an-perusahaan Belanda. Hak milik perusahaan-
perusahaan Belanda tetap pada pemiliknya, yakni
orang-orang Belanda, namun di bawah penga-
wasan PPN-Baru. Tetapi pada tanggal 27 Desem-
ber 1957, Presiden Sukarno menandatangani UU
Nomor 86 Tahun 1957 mengenai Nasionalisasi
Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda di Indo-
nesia. Nasionalisasi ini merupakan bagian dari
perjuangan membebaskan Irian Barat dan harus
dianggap sebagai kebijaksanaan pembatalan
persetujuan KMB. Sementara pasal 2 mengatur
ganti rugi bagi pemilik lama dan memberikan
hak bagi pemilik lama untuk mencari penye-
lesaian hukum jika ganti rugi tidak memuaskan.
12
Di Kabupaten Batang, setelah revolusi kemer-
dekaan, perusahaan perkebunan Belanda masih
menguasai tanah perkebunan seluas 450 hektar
di luar tanah garapan petani. Namun tujuh
tahun setelah keluarnya UU Nomor 86 Tahun
1957 tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusa-
haan Milik Belanda di Indonesia, perkebunan
P&T Lands tersebut dinasionalisasi. Para saksi
sejarah mengungkapkan dahulu pada tahun 1963
warga dari kelima desa merebut lahan tersebut
dari Inggris. Waktu itu luasnya sekitar 663 ha.
Tetapi pada 1964 pemerintah menyerahkannya
kepada UGM melalui Fakultas Pertanian. Penye-
rahan ini adalah bentuk kebijakan pemerintah
Orde Lama menghibahkan tanah kepada lem-
baga pendidikan atau universitas tertentu yang
diistilahkan sebagai land grant college. Nama
perusahaan diubah menjadi PN Pagilaran, dan
10
Henderson dalam Ide Anak Agung Gde Agung, 1985,
Renville, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, halaman 335.
11
Karl J. Pelzer, 1991, Sengketa Agraria: Pengusaha
Perkebunan Melawan Petani, Jakarta, Pustaka Sinar
Harapan, halaman 206.
12
Ibid, halaman 214-215.
148 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
luas tanah yang dikuasai perusahaan ditambah
menjadi 836 hektar. Saat itu petani masih meng-
garap tanah.
Sejarah konflik agraria Dusun Kalidapu tak
jauh beda dari sejarah konflik agraria di Batang.
Setelah zaman Jepang sampai dengan tahun
1956, para petani tetap menggarap tanah. Tetapi
pada tahun 1957 ratusan petani penggarap di-
kumpulkan oleh PTP XVIII (sekarang PTPN IX)
di gedung Sinderan.

Mereka diminta membu-
buhkan cap jempol untuk dibuatkan letter D.
Tetapi ternyata mereka ditipu oleh PTP XVIII,
karena yang didapat bukan letter D, melainkan
surat pencabutan tanah garapan petani. Sejak itu
para petani dilarang memasuki tanah garapan.
Tanaman para petani diganti dengan pohon-
pohon karet dan kopi di bawah kekuasaan PTPN
XVIII Merbuh.
Di Bandungan Kabupaten Semarang, setelah
masa kemerdekaan, para petani masih mengu-
asai lahan-lahan pertanian. Lebih dari dua puluh
tahun kehidupan para petani Bandungan tak
terganggu oleh siapapun. Bahkan aparat desa
setempat, mengeluarkan Letter D, yang disebut
Pethok Jambon oleh para petani, mendukung
para petani menggarap lahan-lahan tersebut.
Tetapi pada awal tahun 1975 dengan kedatangan
oknum militer dari Koramil Ambarawa, kete-
nangan itu sirna. Mereka datang ke lahan ga-
rapan petani dan memaksa petani untuk keluar
dari lahan garapannya. Mereka mengancam
akan memasukkan para petani yang menolak ke
Beteng Pendem.
13
Petani terpaksa keluar dari la-
han garapannya.
Sementara di Desa Trisobo, pasca kemer-
dekaan tak otomatis tanah-tanah petani yang
diambil alih P&T Lands kembali pada petani.
Pada masa nasionalisasi, perkebunan beralih di
bawah kekuasaan PPN Dwikora IV yang kemu-
dian beralih ke PP Subang ditahun 1971.
14
3. Peristiwa 1965 dan Konsekuensinya
Tahun 1965 merupakan sejarah kelam kedua
bagi para petani. Peristiwa 30 September 1965 ber-
imbas pada stigmatisasi petani-petani penggarap
tanah sebagai anggota PKI (Partai Komunis In-
donesia). Akibatnya semua petani perkebunan
di tiga daerah tersebut tak berani menggarap
lahan-lahannya. Para petani di Pagilaranyang
tak pernah berpikir akan kehilangan lahan-lahan
garapannya setelah kedatangan UGMbahkan
diinstruksikan oleh Pimpinan Perusahaan Perke-
bunan Pagilaran untuk meninggalkan lahan-
lahannya. Hal ini bisa diketahui dari surat yang
ditandatangani oleh T. Chandra Bharata Bsc.,
Kepala Bagian Kebun pada tanggal 11 April 1966.
Sebelum itu, Mukhlas yang waktu itu menjabat
Bagian Keamanan Kebun ditugasi mencabut
lahan-lahan garapan petani. Tetapi ia menolak-
nya, karena tak memiliki surat tugas pencabutan,
maka oleh Chandra diketiklah surat pencabutan
itu:
Kepada semua penggarap tanah-tanah bekas
garapan orang-orang Gestapu, dengan ini diinstruk-
sikan agar menetapi/mentaati pengumuman dari Task
Force Siaga Komando Kebun Pagilaran tertanggal
26 April 1966 tentang pentjabutan tanah-tanah
tersebut dalam keadaan jang bagaimanapun.
Barangsiapa jang pada saat ini masih belum mentaati
instruksi tanggal 26 April 66 atau masih menger-
djakan tanah-tanah Gestok tersebut akan diambil
tindakan berdasarkan ketentuan2 jang berlaku.
Sekian agar mendjadikan maklum.
Dengan demikian sejak tanggal 26 April 1966,
para petani Pagilaran harus pergi dari tanah yang
telah mereka garap sejak tahun 1942.
Kondisi yang sama terjadi di Dusun Kalidapu
13
Nama penjara di kecamatan Ambarawa yang terkenal
menakutkan
14
Djarmadji, 2000, Sejarah Perjuangan Tanah Bondo
Deso Trisobo, Tanah Dirampas Rakyat Terhempas,
Kendal, belum diterbitkan
149 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
jauh sebelum tahun 1965. Petani Dusun Kalidapu
bahkan sudah sejak tahun 1957 tidak menggarap
lahan-lahannya, karena diusir oleh PTP XVIII
berdasarkan kebijakan nasionalisasi perkebunan.
Sementara para petani di Bandungan sempat
selama sepuluh tahun menggarap tanah-tanah-
nya setelah tahun 1965, sebelum akhirnya diusir
oleh militer. Ternyata pengambilalihan lahan-
lahan garapan hanya siasat untuk mengalihkan
ke pengusaha. Para oknum militer dan aparat
desa setempat merampas tanah-tanah para pe-
tani dan menyerahkannya kepada seorang
pengusaha bernama Buntik Buntoro. Ia mendi-
rikan sebuah kantor pabrik di wilayah Ampel-
gading diatas lahan-lahan eks para petani terse-
but. Buntik Buntoro mengkontrak lahan-lahan
tersebut dari Korps Veteran, tetapi tak menge-
tahui, Korps Veteran mana yang dimaksud.
4. Perjuangan Agraria di Masa
Orde Baru dan Reformasi
Pengambilalihan tanah-tanah garapan petani
di masa nasionalisasi 1957 dan setelah Septem-
ber 1965 mengakibatkan para petani tak memiliki
tanah garapan lagi. Jika dihitung lama waktu
petani tak lagi menggarap tanahnya sejak masa
nasionalisasi sampai masa reformasi berarti
sekitar 30-40 tahun. Sejak itu sebagian dari para
petani bekerja sebagai buruh industri, buruh
perkebunan, buruh tani, buruh bangunan,
Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri.
Para petani di empat wilayah ini menggu-
nakan situasi reformasi 1998 untuk mengambil
kembali hak atas tanah-tanahnya. Mereka meng-
organisir diri, menggabungkan diri dalam orga-
nisasi-organisasi tani lokal, dan memulai tun-
tutan-tuntutannya. Melalui organisasi-organisasi
tani lokal mereka me-reklaim tanah-tanah mere-
ka yang selama ini dikuasai oleh perusahaan-
perusahaan perkebunan.
Dalam buku Reklaiming dan Kedaulatan
Rakyat yang diterbitkan Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Indonesia, reklaiming adalah
sebuah tindakan perlawanan, yang dilakukan
oleh rakyat tertindas untuk memperoleh kembali
hak-haknya seperti tanah, air, dan sumber daya
alam lainnya, serta alat-alat produksi lainnya
secara adil, demi terciptanya kemakmuran rak-
yat semesta.
15
Reklaiming bukan sekedar
mengambil alih tanah dan sumber daya alam
lainnya, tetapi dikaitkan dengan hak-hak mereka
yang dirampas sejak masa kolonial sampai Orde
Baru. Reklaiming memerlukan strategi, yaitu:
mengorganisir diri, memahami hukum secara
kritis, revitalisasi nilai-nilai adat/lokal, melaku-
kan analisis sosial, membuat pandangan hukum,
melakukan negosiasi, mensosialisasikan opini,
mengembangkan jaringan, menentukan obyek
reklaiming.
16
Sebagai sebuah gerakan sosial, tantangan
terhadap reklaiming tak hanya datang dari ka-
langan penguasa atau pemilik modal. Pertama
adalah akademisi. Sebagian akademisi sering
memberikan analisis yang memojokkan para
pelaku reklaiming. Mereka menstigma gerakan
reklaiming sebagai gerakan anarkis, penjarahan,
gerakan melawan penguasa, atau tindakan mela-
wan hukum.
17
Kedua adalah golongan kompro-
mis, yang berpendapat bahwa penyelesaian
sengketa hak tanah petani tidak selalu menuntut
hak tanahnya tetapi juga bersama-sama menge-
lola tanah perkebunan. Konsep ini ditawarkan
oleh beberapa pemerintah lokal. Ketiga dari
15
Boedhi Wijardjo dan Herlambang Perdana, Reklai-
ming dan Kedaulatan Rakyat, YLBHI dan RACA Insti-
tute, Jakarta, hlm. 81. Istilah reklaiming muncul dalam
pertemuan para aktifis LBH ditahun 1998 di Jakarta. Para
aktifis LBH yang difasilitasi YLBHI berkumpul untuk
menyikapi situasi politik dan isu-isu pertanahan. Pertemuan
itu melahirkan satu kata yang kemudian menjadi model
gerakan perjuangan petani yaitu reklaiming. Istilah ini
menjadi kesepakatan bersama untuk menyebut pengam-
bilalihan kembali tanah-tanah rakyat
16
Ibid. hlm. 98-129.
17
Ibid., hlm. 35.
150 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
kelompok yang mendukung aksi-aksi gerakan
reklaiming petani. Kelompok akademisi ini
punya pergaulan dengan para aktivis atau man-
tan aktivis.
18
Respon beberapa pihak pasca reklaiming yang
diklasif ikasikan dalam empat pihak. Pihak
pertama adalah rakyat, yaitu membentuk kelom-
pok pengelolaan lahan, penguatan simbol-simbol
lokal dan legalisasi lahan reklaiming. Pihak kedua
adalah pemerintah, yaitu membentuk tim dan
mengusulkan penyelesaian melalui pengadilan
serta pengukuran lahan. Pihak pengusaha itu
mendatangkan preman, mengambil alih kembali
lahan reklaiming, meminta dukungan dan keter-
libatan pihak luar, mengkriminalkan petani,
menggugat perdata dan menggugat administra-
si. Pihak lain adalah mahasiswa, NGO, jaringan
lain yang turut mendukung dan mendampingi,
ulama dan informal leader yang sering melaku-
kan kooptasi dan aparat keamanan yang mela-
kukan konsolidasi pengamanan kebun.
19
C. Dinamika Perjuangan Agraria dan
Konflik Tanah di Empat wilayah Kasus
Empat kasus ini adalah kasus-kasus yang
diadvokasi berdasarkan pola pengorganisasian
yang sama. Latar belakang perkebunan adalah
perusahaan perkebunan swasta dan negara
dengan kondisi perkebunan yang berbeda-beda.
Di empat daerah ini, terdapat organisasi tani,
yang masing-masing berbeda-beda pula keku-
atannya. Naik turunnya perjuangan petani,
ditentukan juga oleh kekuatan organisasi tani,
dan dukungan pemerintah daerah. Dukungan
pemerintah daerah pun berkaitan erat dengan
kondisi masing-masing perkebunan. Di empat
daerah ini, hanya di tiga daerah, dimana terdapat
aparat keamanan yang menjaga keamanan
perkebunan, baik secara intens maupun sewak-
tu-waktu: yaitu di perkebunan Pagilaran, PTPN
IX, dan PT Karyadeka Alam Lestari. Penjagaan
aparat tidak ada di perkebunan PT Sinar Karta-
sura, kecuali pada waktu aparat kepolisian me-
nangkap 3 orang petani setelah para petani me-
reklaim tanah. PT Sinar Kartasura adalah perke-
bunan terlantar.
1. Kasus Pagilaran, Kabupaten Batang
Perlawanan petani di daerah ini dimulai sejak
tahun 1999. Warga 5 desa di sekitar perkebunan
Pagilaran, menuntut kembali hak atas tanah
yang dikuasai PT Pagilaran, perusahaan swasta
yang mengusahakan tanaman teh di atas lahan
seluas 1131,8 hektar. Petani memulai perlawanan
dengan memprotes PHK yang dilakukan PT
Pagilaran kepada 500 orang buruhnya. Mereka
di-PHK tanpa pesangon dan hak-hak normatif
lainnya. Tuntutan ini kemudian berkembang
kearah tuntutan hak atas tanah. Para petani ke-
mudian mengadukan persoalan ini ke LBH
Semarang.
LBH Semarang lalu melakukan investigasi,
mengumpulkan data, dan memfasilitasi ter-
bentuknya organisasi tani bernama Paguyuban
Petani Korban PT Pagilaran (P2KPP). Organisasi
tani ini meminta dukungan aparat pemerintahan
lokal seperti Kepala Desa, Camat, DPRD, dan
Badan Pertanahan Nasional (BPN). Sayangnya,
tak satupun aparat pemerintahan yang mendu-
kung tuntutan para petani. Meski demikian, BPN
melakukan pengukuran ulang atas Hak Guna
Usaha PT Pagilaran. Tetapi ditengah proses
pengukuran ulang, aparat kepolisian menangkap
para petani. Saat itu, para petani sedang meng-
garap dan mengukur lahan seluas sekitar 3 hektar
yang dikuasai PT Pagilaran untuk ditanami
tanaman pangan dan sayuran. Serombongan
18
Siti Rakhma Mary Herwati dan Noer Fauzi Rach-
man, 2012. Bantuan Hukum Struktural di Jawa Tengah
Catatan LBH Semarang, artikel dalam buku berjudul:
Verboden Voor Honden En Inlanders Dan Lahirlah LBH,
Catatan 40 Tahun Pasang Surut Keadilan, YLBHI, Jakarta,
hlm. 226.
19
Ibid., hlm. 222.
151 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
polisi datang dan menangkap petani. Mereka
memproses hukum para petani sampai ke penga-
dilan. Para hakim mendakwa petani dengan
pasal perusakan, penghasutan, dan penadahan.
Mereka menghukum penjara 21 petani selama
57 bulan.
Pasca kriminalisasi, para petani tetap berusaha
menuntut hak atas tanah. Mereka bergabung
dengan para buruh perkebunan dan mengganti
nama organisasi tani menjadi Paguyuban Masya-
rakat Gunung Kamulyan (PMGK). Beberapa aksi
demonstrasi pun dilakukan, diantaranya
demonstrasi besar ke Fakultas Pertanian Univer-
sitas Gajah Mada pada 2003. PT Pagilaran adalah
milik Yayasan Pembina Fakultas Pertanian uni-
versitas ini. Namun, pihak universitas tidak me-
nanggapi tuntutan petani. Mereka menganggap
tuntutan petani salah alamat. Petani lalu menem-
puh beberapa negosiasi ke BPN Provinsi Jawa
Tengah dan BPN Pusat. Mereka meminta BPN
mengeluarkan sebagian tanah yang diklaim
petani dari HGU PT Pagilaran. Alih-alih menge-
luarkan sebagian tanah dari HGU, BPN justru
memperpanjang HGU PT Pagilaran yang ber-
akhir pada 31 Desember 2008 selama 25 tahun.
2. Kasus PTPN IX, Kabupaten Kendal
Di masa Orde Baru, beberapa petani dari Desa
Kaliputih sebenarnya telah berupaya menuntut
kembalinya tanah-tanah mereka yang diambil
alih PTPN IX di sekitar tahun 1957. Tetapi upaya
ini tidak berhasil. Mereka kembali menuntut hak
atas tanah pada 1997. Beberapa negosiasi dengan
aparat pemerintahan lokal juga ditempuh.
Negosiasi itu juga tidak berhasil mengembalikan
tanah-tanah petani. Akhirnya, petani melakukan
aksi reklaiming. Petani mematoki, dan mengga-
rap tanah yang dikuasai PTPN IX. Aksi ini mem-
buat PTPN IX menggugat 521 petani ke Penga-
dilan Negeri Kendal. PTPN IX meminta kepada
hakim untuk memutuskan bahwa tanah adalah
milik PTPN IX dan menghukum petani untuk
membayar ganti rugi atas kerugian PTPN IX aki-
bat aksi reklaiming tersebut.
Pengadilan Negeri Kendal memenangkan
PTPN IX dalam perkara ini. Petani, didampingi
LBH Semarang mengajukan banding ke Penga-
dilan Tinggi Jawa Tengah. Tetapi, putusan
pengadilan ini menguatkan putusan Pengadilan
Negeri Kendal. Lalu, petani mengajukan kasasi
ke Mahkamah Agung. Di tingkat terakhir inilah,
MA mengabulkan kasasi para petani. Petani baru
menerima putusan MA pada tahun 2011, padahal
MA memutus perkara ini pada 2006.
3. Kasus Petani PT Sinar Kartasura,
Semarang
PT Sinar Kartasura seharusnya mengusaha-
kan tanaman sereh wangi. Tetapi mereka mene-
lantarkan tanahnya dan membuat peternakan
di atas lahan HGU. Pencemaran lingkungan
karena limbah peternakan itulah yang kemudian
membuat para petani dari 3 desa di Kabupaten
Semarang mempermasalahkan tanah HGU
tersebut. Menurut petani, tanah yang dikuasai
PT Sinar Kartasura, adalah tanah garapan petani.
Militer merampasnya sekitar tahun 1965, lalu
memberikannya kepada pengusaha. Dengan
dukungan LBH Semarang, petani meminta kem-
bali tanahnya. Mereka lalu menemui Bupati dan
DPRD Jawa Tengah. Komisi A DPRD Jawa
Tengah menyetujui tuntutan petani untuk
menggarap tanah yang diterlantarkan tersebut.
Meski mendapat persetujuan, beberapa pim-
pinan petani sempat ditangkap polisi setelah para
petani melakukan aksi reklaiming. Polisi menu-
duh 3 orang pimpinan petani tersebut mengha-
sut para petani untuk menduduki lahan. Di
Pengadilan Negeri Semarang, majelis hakim
membebaskan mereka. Menanggapi tuntutan
petani atas tanah, Badan Pertanahan Nasional
membatalkan HGU PT Sinar Kartasura pada
2001. Atas keputusan ini, PT Sinar Kartasura
menggugat BPN ke Pengadilan Tata Usaha Nega-
152 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
ra Jakarta. Hakim yang memeriksa perkara,
membatalkan Surat Keputusan BPN ini. BPN
mengajukan banding dan kemudian kasasi,
karena Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
memberikan putusan yang sama. Mahkamah
Agung sekarang tengah memeriksa kasus ini.
4. Kasus Karyadeka Alam Lestari, Kendal
Perlawanan petani Desa Trisobo kepada PT
Karyadeka Alam Lestari (KAL) telah berlangsung
sejak sebelum masa reformasi. Tetapi perlawanan
secara lebih sistematis dilakukan setelah masa
reformasi. Petani, dipimpin Kepala Desa, me-
nempuh jalur non-litigasi: membuat surat ke
kecamatan, mengikuti pertemuan-pertemuan
yang membahas kasus Trisobo, dan bernegosiasi
dengan PT KAL dengan difasilitasi pemerintah
setempat. Di tahun 2000, petani, yang tergabung
dalam Paguyuban Masyarakat Ngaglik Trisobo
(PPNT) melakukan reklaiming tanah. Mereka
menduduki lahan seluas 67 hektar, dengan cara
menanami sela-sela pohon karet yang masih
muda dengan tanaman kacang dan jagung.
Selama tahun 20002007, para petani mengga-
rap tanah dengan aman. Tetapi, situasi ini tidak
bertahan lama. Terjadi kasus pidana yang akhir-
nya menghancurkan PPNT.
Pada pertengahan 2008 pasca Kepala Desa
Trisobo tidak lagi menjabat sebagai Kepala Desa,
mantan Kepala Desa dan 9 orang pimpinan
petani, dikriminalkan aparat kepolisian. Atas
laporan PT KAL, petani dituduh menebang 6
batang pohon rambutan dan mangga, yang
diklaim PT KAL sebagai pohon miliknya di per-
kebunan karet. Sementara Kepala Desa dituduh
melakukan pencurian kayu di balai desa yang
terjadi tahun 2004. Para petani lalu divonis 6
bulan, 9 bulan, dan kepala desa 1, 5 tahun pen-
jara. LBH Semarang lalu mengajukan kasasi ke
Mahkamah Agung untuk kasus yang melibatkan
mantan Kepala Desa. MA membatalkan putusan
PN Kendal. Menurut mereka perbuatan kepala
desa bukanlah perbuatan pidana. Karena itu
kepala desa dilepaskan dari segala tuntutan
hukum. Tetapi, Djarmadji, kepala desa itu terlan-
jur menjalani 9 bulan di penjara.
Di tengah-tengah para pemimpin petani
menjalani proses pidana, Kanwil BPN Jateng dan
BPN Pusat menjalankan reforma agraria di Desa
Trisobo. Para petani yang tersisa, orang-orang
tua yang tidak menjadi pimpinan organisasi dan
para perempuan diajak bernegosiasi oleh BPN.
Para petani ini menolak tawaran BPN Jateng
untuk menerima lahan seluas 11,5 hektar di Desa
Trisobo untuk seluruh petani penggarap yang
jumlahnya lebih dari 300 KK. Petani, meng-
inginkan BPN melepaskan lahan seluas 80 hektar
yang selama sepuluh tahun sudah digarap peta-
ni. PT KAL menolak. BPN mengikuti kemauan
PT KAL untuk hanya melepaskan 11, 5 hektar
lahan. BPN kemudian memberikan tanah itu
kepada Kepala Desa Trisobo yang baru.
Sampai sekarang, tak satupun petani anggota
PPNT mau menggarap lahan itu. Setelah BPN
melepaskan lahan seluas 11,5 hektar tersebut, BPN
memperpanjang HGU PT KAL yang telah
berakhir 31 Desember 2002. HGU diperpanjang
selama 25 tahun. BPN mengklaim redistribusi
lahan di Desa Trisobo ini sebagai pelaksanaan
reforma agraria yang sukses. Petani kemudian
mengajukan gugatan pembatalan SK HGU ter-
sebut ke PTUN Semarang. Mereka juga menga-
jukan gugatan perdata ke PN Kendal. Di kedua
proses hukum tersebut, petani dikalahkan.
5. Perbandingan Keempat Kasus
Dari keempat kasus tersebut bisa terlihat per-
bedaan mengenai asal-mula munculnya kasus,
situasi masyarakat dan ada/tidak dukungan dari
pemerintah lokal (lihat tabel 1).
153 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
Tabel 1. Perbandingan Perjuangan Agraria
di 4 kasus
Pertama, Perkebunan teh PT Pagilaran adalah
perkebunan teh swasta berorientasi ekspor. Jum-
lah petani yang menuntut tanah cukup besar
(1500 KK), dan sebagian diantaranya bekerja
sebagai buruh perkebunan berupah rendah.
20
Meski demikian, tak ada dukungan dari peme-
rintah lokal karena perkebunan ini produktif.
Kedua, adalah perkebunan kopi dan karet milik
PTPN IX. Para petani di wilayah kasus ini pernah
mendapat dukungan Komisi A DPRD Kendal un-
tuk menggarap tanah. Dukungan ini memper-
kuat aksi reklaiming tanah yang mereka lakukan.
Sebagai perkebunan negara, posisi PTPN IX
cukup kuat, hingga BPN tak pernah mau menin-
jau ulang HGU perkebunan ini yang telah ber-
akhir sejak 2005. Meski gugatan PTPN IX terha-
dap petani dikalahkan oleh Mahkamah Agung,
PTPN IX tetap menguasai tanah konflik. Para
petani juga tetap menguasai tanah yang mereka
reklaim sejak 1998. Ketiga, adalah perkebunan
PT Sinar Kartasura. Kondisi perkebunan yang
terlantar, kekuatan organisasi tani, dan du-
kungan politik lokal membuat para petani sampai
sekarang memenangkan penguasaan f isik atas
lahan konflik. BPN telah membatalkan HGU
perkebunan ini. Hingga sekarang, petani meng-
garap tanah subur di kaki Gunung Ungaran ter-
sebut. Perkebunan terakhir adalah perkebunan
karet milik PT Karyadeka Alam Lestari. Ketiadaan
dukungan pemerintah lokal, kondisi perkebunan
yang cukup produktif dan kurangnya dukungan
seluruh warga Desa Trisobo mengakibatkan para
petani gagal mendapatkan hak atas tanah. BPN
hanya membagikan 11,5 hektar dari 80 hektar
tanah bekas HGU yang dituntut. Petani tak mau
menerimanya. Saat ini tak satupun petani yang
tergabung dalam Paguyuban Petani Ngaglik
Trisobo (PPNT) yang menggarap tanah. Tanah
hasil redistribusi ini jatuh ke tangan Kepala Desa
Trisobo dan kelompok pendukungnya.
Perbandingan keempat kasus tersebut me-
nunjukkan pula bagaimana perusahaan-peru-
sahaan perkebunan menghadapi tuntutan dan
aksi-aksi kolektif petani (lihat tabel 2)
Tabel 2. Respon perusahaan perkebunan
Setiap perusahaan perkebunan senantiasa
melaporkan para petani yang mencoba menun-
Kasus PT
Pagilaran
Kasus PTPN IX Kasus PT Sinar
Kartasura
PT KAL
Organisasi
Tani Lokal
P2KPP/PMGK KWK dan PWB P3TR PPNT
Tahun berdiri 1999 1998 2000 1999
Alasan
Gerakan
PHK 419 buruh
tanpa pesangon
Kemiskinan
dan krisis
ekonomi
Pencemaran
air minumoleh
limbah ternak
PT
Pengambilali
han
tanah
Struktur
Organisasi
Presidium Tunggal Presidium Tunggal
Mekanisme
Pengambilan
Keputusan
Pertemuan
tingkat desa dan
tingkat
presidium
Musyawarah
tingkat
Organisasi
Tani Lokal
Musyawarah
tingkat P3TR
Dusun dan
P3TR Desa
Musyawarah
tingkat
Organisasi
Tani Lokal
Jumlah
Anggota
1500 KK 853 KK 3000 KK 300 KK
Luas Tanah
Yang di -
reklaim
- 200 hektar 198 hektar 150 hektar
Kebun yang
di-reklaim
Kebun teh
orientasi ekspor
Kebun Kopi
yang sebagian
besar terlantar
Kebun
terlantar
Kebun karet,
sebagian
terlantar
Status
Perkebunan
Swasta Negara Swasta Swasta
Dukungan
Pemerintah
Lokal
Tidak ada Komisi A
DPRD Kendal
Komisi A
DPRD Jawa
Tengah, DPRD
Kabupaten
Semarang, dan
Bupati
Semarang
Tidak ada
PT PAGILARAN PT KAL
Bentuk-
bentuk
represi
Pengusiran
petani dari
lahan
garapan
(1966)
PHK (1999)
Kriminalisasi
(2000)
PHK sebagai
imbas
kriminalisasi
(2000-2001)
Premanisme
(2000)
Membentuk
organisasi
tandingan
(2000)
Pengusiran
buruh dari
emplasemen
(2001)
pencurian
kopi (2002)
Kriminalisasi
(1999)
Perusakan
tanaman
Intimidasi
Kriminalisasi
(2008)
Premanisme
Membentuk
organisasi
tandingan
20
Pada Maret 2013, upah buruh tetap dan harian lepas
pabrik PT. Pagilaran adalah Rp. 32.350 per hari, sementara
buruh petik adalah Rp. 450,00 per hari. Tiap hari rata-rata
buruh menghasilkan 10-15 kg daun teh basah.
154 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tut tanah ke polisi. Perusahaan tak hanya meng-
gunakan Hukum Pidana, tetapi juga Hukum Per-
data dan Peradilan Tata Usaha Negara tergan-
tung pada perkembangan kasus masing-masing.
Selain itu juga diketahui ketiga perusahaan per-
kebunan memiliki hubungan erat dengan aparat
keamanan, preman, dan akses lebih ke penga-
dilan. Penangkapan petani Pagilaran pada tahun
2000 dilakukan oleh gabungan aparat Polsek,
Polres, dan TNI. Pada masa itu, Perusahaan Per-
kebunan Pagilaran juga menjalin hubungan
dengan organisasi preman Roban Siluman yang
sekarang sudah dibubarkan.
Sementara itu, Polres Kendal juga mengaman-
kan puluhan kali sidang pengadilan kasus PTPN
IX, sementara Brimob mengamankan kebun
PTPN IX. PTPN IX juga menggunakan Serikat
Pekerja Perkebunan (SP Bun) untuk mengha-
dang perlawanan petani. Di pihak lain, PT. Sinar
Kartasura menjalin hubungan dengan Polwil
Semarang, Brimob, dan TNI. Sedangkan PT
KAL menggunakan preman dan polisi untuk
menghentikan perlawanan petani.
Ternyata, dalam perjalanan perjuangan
agraria para petani, mereka juga harus terlibat
dalam perkara-perkara di pengadilan (lihat Tabel
3 dan 4).
Tabel 3. Penggunaan Jenis-jenis Peradilan
di Keempat Kasus
Tabel 4. Putusan Hakim dalam Konflik
Tanah Perkebunan
Kriminalisasi terhadap petani terjadi di semua
kasus. Sedangkan perusahaan perkebunan yang
menggugat perdata hanya satu, yaitu PTPN IX.
Dua kasus yang lain, adalah gugatan pembatalan
SK HGU yang diajukan para petani yaitu di kasus
PT. Pagilaran dan kasus PT. KAL. Pengadilan Tata
Usaha Negara Jakarta dan Semarang mengalah-
kan petani di semua gugatannya. Tetapi gugatan
yang diajukan PTPN IX juga dibatalkan Mahka-
mah Agung di tingkat kasasi. Meski menang,
petani tak serta merta mendapatkan tanah dari
putusan pengadilan itu. Status tanah tetaplah
tanah negara.
D. Kesimpulan
Latar belakang sejarah keempat kasus ini
adalah perampasan-perampasan tanah petani
yang dilakukan perusahaan-perusahaan perke-
bunan di masa lalu, dibawah pemerintah kolo-
nial, yang akibat-akibatnya masih terjadi sampai
sekarang. Meskipun pemerintah telah memiliki
konstitusi yang memuat tekad untuk melin-
dungi segenap tumpah darah Indonesia dan
mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, dan mengeluarkan Undang-undang
Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang berbasis
kerakyatan, tetapi pemerintah terus memfasilitasi
kelanjutan perusahaan-perusahaan milik negara
maupun swasta paska kolonial untuk memupuk
dan mengembangbiakkan modal dengan
mengorbankan para petani.
Keempat kasus ini secara terang menunjuk-
kan kolaborasi perusahaan dengan aparat
keamanan seperti polisi, preman, dan aparat
peradilan. Aksi pengambilalihan tanah (reklai-
ming) yang dilakukan para petani di semua
wilayah ini, pertama kali ditanggapi dengan
kriminalisasi. Perusahaan perkebunan menggu-
nakan aparat kepolisian untuk menangkap para
pimpinan petani. Kriminalisasi ini adakalanya
mengendorkan semangat petani untuk menun-
tut kembali hak atas tanah mereka, seperti terjadi
PT Pagilaran PTPN IX PT Sinar Kartasura PT KAL
Peradilan Pidana - Pidana
- Perdata
- Pidana
- Administrasi
Negara
- Pidana
- PTUN
- Perdata
- PTUN
Jenis Perkara PT Pagilaran PTPN IX PT SK PT KAL
Pidana 5 bulan 2
tahun
penjara
Bebas - Perkara
penghasutan
diputus bebas
- Perkara
pembakaran
diputus 1,5
tahun penjara
6 bulan
1,5 tahun
penjara
Perdata - Menang
di MA
- kalah
PTUN Kalah - Menunggu
putusan
kalah
155 Siti Rakhma Mary Herwati: Pertani Melawan Perkebunan .....: 142-156
dalam kasus Pagilaran.
Beberapa faktor turut mempengaruhi keber-
hasilan petani mendapatkan hak atas tanahnya
kembali, seperti: kondisi perkebunan, situasi
politik lokal, kekuatan organisasi rakyat. Di Pagi-
laran, kekuatan organisasi rakyat dan jaringan
petani seperti organisasi masyarakat, organisasi
mahasiswa, dan organisasi pemerintah tak henti-
hentinya memberikan dukungan pada perju-
angan petani. Tetapi gerakan petani ini tidak
berhasil karena situasi politik lokal tidak men-
dukung. Tak satupun institusi negara dalam
kasus Pagilaran yang mendukung perjuangan
petani. Situasi sebaliknya terjadi di Kabupaten
Kendal, di wilayah kasus PT Karyadeka Alam Les-
tari di Desa Trisobo. Meski didukung organisasi
tani yang kuat, tapi dukungan pemerintah terha-
dap petani tidak ada. Sehingga ketika pimpinan
organisasi tani yang juga menjabat Kepala Desa
berpindah tangan, tanah yang dituntut juga ikut
berpindah tangan. Dalam kasus Trisobo, peru-
sahaan perkebunan mendatangkan aparat
kepolisian, preman, dan membuat organisasi tani
tandingan. Di kasus PTPN IX, perusahaan perke-
bunan juga menggunakan aparat kepolisian,
buruh perkebunan, dan preman untuk menjaga
perkebunan. Demikian juga di Kabupaten Sema-
rang, perusahaan perkebunan menggunakan
aparat kepolisian untuk menangkap para pim-
pinan petani.
Untuk menggagalkan tuntutan petani atas
tanah, dan aksi reklaiming yang mereka lakukan,
negara juga menggunakan pengadilan. Hak
Guna Usaha (HGU) empat perkebunan ini ber-
akhir hampir bersamaan. HGU PT Pagilaran ber-
akhir 31 Desember 2008, HGU PTPN IX berakhir
31 Desember 2005, HGU PT Karyadeka Alam
Lestari berakhir 31 Desember 2002, dan HGU PT
Sinar Kartasura berakhir 31 Desember 1999.
Seluruh HGU ini sudah diperpanjang oleh
Badan Pertanahan Nasional. Ini juga merupakan
kebijakan anti-land reform dalam menanggapi
tuntutan petani atas tanah. Menariknya, atas
tuntutan petani pula, BPN kemudian memba-
talkan HGU PT Sinar Kartasura.
Kebijakan anti-land reform juga ditunjukkan
ketika mereka melawan petani di pengadilan, saat
petani mengajukan gugatan pembatalan HGU
PT Pagilaran dan PT KAL. Bahkan dalam kasus
PT Karyadeka Alam Lestari, Polres Kendal
meminta staf BPN Provinsi Jawa Tengah menjadi
saksi ahli bagi Polres Kendal setelah Polres
Kendal menerima laporan terjadinya tindak
pidana dari PT KAL.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam 4
wilayah kasus diatas, terlihat 4 bentuk kebijakan
anti-land reform baik yang dilancarkan langsung
oleh badan pemerintahan maupun oleh peru-
sahaan dalam merespon aksi reklaiming tanah
petani. Pertama adalah penggunaan aparat ke-
amanan, kedua adalah pemberian Surat Kepu-
tusan Perpanjangan HGU, dan ketiga penggu-
naan pengadilan sebagai sarana represi. Ketiga,
kebijakan anti-land reform itu bertujuan menjaga
situasi tetap seperti semula, mempertahankan
modal dan menolak tanah-tanah kembali ke
petani. Jika dikaitkan dengan situasi yang terjadi
pada masa kolonial, maka situasi saat ini tak jauh
beda. Perampasan-perampasan tanah oleh peru-
sahaan perkebunan kolonial masih berlanjut
hingga saat ini dengan aktor yang berbeda.
Jika pada masa kolonial pemerintah kolonial
merampas tanah dengan kebijakan dan sewa
paksa, maka perampasan tanah yang dilakukan
saat ini juga menggunakan kebijakan dan insti-
tusi negara seperti aparat keamanan dan penga-
dilan. Penggunaan peradilan di semua levelnya,
pengiriman preman dan polisi untuk meredam
aksi reklaiming tanah, adalah bertentangan
dengan prinsip-prinsip keadilan sosial yang ada
dalam konstitusi dan UUPA. Menurut penulis,
seharusnya aksi reklaiming tidak diproses
dengan hukum-hukum represif, tetapi diselesai-
156 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
kan secara politik melalui kebijakan land reform
dengan hukum-hukum yang responsif dan
progresif.
21
Daftar Pustaka
Anonim, Leaflet PT Pagilaran.
Gde Agung, Ide Anak Agung, 1985. Renville.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Herwati, Siti Rakhma Mary, 2000, Laporan Live
In Di Dusun Kalidapu Kendal, LBH Sema-
rang.
Herwati, Siti Rakhma Mary, 2001. Laporan Live
In Di Pagilaran Batang, LBH Semarang.
Herwati, Siti Rakhma Mary dan Radjimo Sastro
Wijono, 2003. Atas Nama Pendidikan, Ter-
kuburnya Hak-Hak Petani Pagilaran Atas
Tanah, LBH Semarang dan PMGK.
Herwati, Siti Rakhma Mary dan Noer Fauzi Rach-
man. Bantuan Hukum Struktural di Jawa
TengahCatatan LBH Semarang, artikel
dalam buku berjudul: Verboden Voor
Honden En Inlanders Dan Lahirlah LBH,
Catatan 40 Tahun Pasang Surut Keadilan,
YLBHI, Februari 2012, Jakarta.
Herwati, Siti Rakhma Mary dan Muhadjirin,
2008. Konflik Agraria di Jawa Tengah dan
Penyelesaian Non-Litigasi, LBH Semarang.
Kartodirdjo, Sartono dan Djoko Suryo, 1991.
Sejarah Perkebunan Di Indonesia, Yogyakar-
ta, Aditya Media.
LBH Semarang. Divisi Pertanahan, 1998-2004.
Laporan Lapangan.
___. 2000. Naskah Gelar Perkara Kasus Tanah
PT. Pagilaran di Mapolda Jawa Tengah.
___. 2000. Pleidooi Dalam Perkara Pidana
Pagilaran.
___. Divisi Hak-Hak Sipil Politik, 2000-2001.
Laporan Lapangan.
___. Divisi Perburuhan, 2000-2002. Laporan Live
In Di Pagilaran.
___. Divisi Pertanahan, 2002. Dokumentasi
perkara perdata No. 16/Pdt/G/2000/PN.
Kendal.
___. Divisi Pertanahan, 2004. Dokumentasi
Perkara Pidana Bandungan
___. Divisi Pertanahan, 2004. Dokumentasi
Perkara Administrasi Bandungan.
Lucas, E. Anton, 1989. Peristiwa Tiga Daerah:
Revolusi Dalam Revolusi, Jakarta, Pustaka
Utama Graf iti.
Mubyarto, dkk, 1992, Tanah dan Tenaga Kerja
Perkebunan, Kajian Sosial Ekonomi, Yog-
yakarta, Aditya Media.
P2KPP, 2000. Riwayat Asal-Usul Tanah Pagilaran,
Naskah Kampanye Advokasi, tidak diter-
bitkan.
Padmo, Soegijanto 2004. Bunga Rampai Sejarah
Sosial Ekonomi Indonesia, Yogyakarta,
Aditya Media kerjasama dengan Jurusan
Sejarah Fakultas Ilmu Budaya dan Program
Studi Sejarah Program Pascasarjana, Uni-
versitas Gajah Mada.
Pelzer, J. Karl, 1991, Sengketa Agraria, Pengusaha
Perkebunan Melawan Petani, Jakarta,
Pustaka Sinar Harapan.
Rois, Mochammad, 2000. Kembalikan Tanah
Leluhur Kami Yang Diambil Oleh PTPN IX,
dalam Media Pendidikan Perjuangan Hak
Rakyat Atas Tanah: Kisah-Kisah Perjuangan
Hak Rakyat Atas Tanah, Konsorsium
Pembaruan Agraria (KPA).
Simarmata, Rikardo, 2002. Kapitalisme Perke-
bunan, Yogyakarta, Insist Press.
Wahyudi, 2004. Perlawanan Masyarakat Pagi-
laran: Orang Kampung vs Orang Kampus,
naskah tulisan, tidak diterbitkan.
Widjarjo, Boedhi dan Herlambang Perdana.
2001. Reklaiming dan Kedaulatan Rakyat.
Jakarta: YLBHI & RACA Institute.
21
Kalimat ini diinspirasikan oleh buku karya Philippe
Nonet dan Philippe Selznick yang berjudul: Hukum
Responsif, Pilihan di masa Transisi, yang versi
terjemahannya telah diterbitkan Perkumpulan HuMa pada
tahun 2003. Penulis juga terinspirasi oleh karya-karya Prof.
Satjipto Rahardjo tentang Hukum Progresif.
PERAMPASAN TANAH DAN KONFLIK:
KISAH PERLAWANAN SEDULUR SIKEP
1
Tri Chandra Aprianto
*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract:This paper draws how the people to make effort against land grabbing process in Kendeng montain range, Pati,
Central Java. The conflict not only into make effort the struggle forms of violence, but also come into fights on ideas level,
because the are other efforts to bear down the other to make academic and cultural in order to pave land grabbing. This paper
gets to know a consciousness of people to make effort against land grabbing. The consciousness of the people is an expression
of everyday live such as politic behavior, economic idea, and cultural idea. In addition resistant community, especially Sudulur
Sikep speak against land grabbing at the basis on their belief, and one of their conection is the one with the land.
K KK KKeywor eywor eywor eywor eywords: ds: ds: ds: ds: Land grabbing, industrialization, agrarian conflict, and Sedulur Sikep community.
Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Tulisan ini menggambarkan bagaimana perlawanan masyarakat atas proses perampasan tanah berlangsung di Pegunungan
Kendeng, Pati, Jawa Tengah. Konflik yang terjadi tidak saja berbentuk pertarungan kekerasan fisik, tapi juga terjadi pertarungan
pada wilayah ide, karena terdapat upaya menundukkan yang lain dengan menggunakan legitimasi akademik dan kultural, dalam
rangka memuluskan jalannya perampasan tanah. Tulisan ini berusaha memahami dan memperhitungkan kesadaran masyarakat di
tingkat bawah dalam melakukan perlawanan. Kesadaran masyarakat yang maujud/mewujud dalam ekspresi keseharian baik yang
bersifat perilaku politik, maupun cita-cita ekonomi dan bahkan angan-angan budaya. Dan perlawanan dari masyarakat, komunitas
Sedulur Sikep berdasar atas keyakinan mereka, yang salah satunya adalah hubungan mereka dengan tanah.
Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci Kata Kunci: Perampasan tanah, industrialisasi, konflik agraria, dan komunitas Sedulur Sikep.
A. Pengantar
Narasi pengelolaan sumber-sumber agraria di
Indonesia masih berkutat pada masalah klasik
menyediakan tanah untuk pembangunan.
Narasi itu maujud dalam bentuk formulasi kebi-
jakan yang memberi peluang bagi proses konsen-
trasi lahan pada satu kekuatan modal. Akibatnya,
masyarakat lokal disingkirkan secara perlahan
dari akses lahannya. Tanah tidak lagi menya-
tukan individu-individu yang tergabung dalam
masyarakat. Tanah sudah menjadi milik institusi
yang didukung penyelenggara negara dalam
rangka pelipatgandaan modal. Inilah yang dise-
but dengan perampasan tanah (land grabbing).
2
Kendati beberapa prakteknya terdapat unsur
penyewaan atau ganti rugi (jual beli), namun
itu tidak menghapus bahwa semua itu diperun-
tukkan pada akumulasi kapital.
Praktek land grabbing di Indonesia bukanlah
merupakan hal yang baru. Banyak studi yang
1
Tulisan ini adalah perbaikan dari makalah yang dipre-
sentasikan pada seminar hasil penelitian yang dilaksanakan
oleh Kapuslitbang Depag di Hotel Melenium, Jakarta, 27
Desember 2012.
*
Adalah Sejarawan Universitas Jember, aktivis dan
penggiat studi agraria, sekarang sedang menjadi Mahasiswa
S3 di FIB Universitas Indonesia.
2
Istilah land grabbing muncul pertama kali dari laporan
GRAIN, sebuah NOG dari Spanyol yang mendukung
kelompok petani kecil. Dalam laporan tersebut, land grab-
bing merupakan tren global yang terkait dengan promosi
bahan bakar nabati dan pangan untuk eksport. Lihat Dwi
Wulan Pujiriyani dkk, Perampasan Tanah Global Pada
Abad XXI, dalam Tim Peneliti STPN, 2012, Kebijakan,
Konflik, dan Perjuangan Agraria Indonesia Awal Abad 21
(Hasil Penelitian Sistematis STPN, 2012), Yogyakarta:
PPPM-STPN, hlm. 183.
158 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
telah menjelaskan praktek ini sejak era kolo-
nialisme. Ironisnya praktek untuk mengkonsen-
trasikan tanah pada satu kepemilikan tidak saja
(masih) menggunakan praktek kekerasan, tapi
juga bujuk rayu, dan buaian unsur keyakinan.
Sering kali, masyarakat yang menjadi korban
malah mendapatkan stigma negatif baik secara
hukum positif maupun norma kemasyarakatan.
Sementara praktek perampasan tersebut menjadi
sesuatu yang halal dan wajar. Praktek semacam
ini menyebabkan tertutupnya akses dan asset
penguasaan tanah oleh petani. Akibat selanjutnya
adalah memperpanjang daftar konflik agraria di
Indonesia.
Adalah Pegunungan Kendeng
3
yang menjadi
satu lahan yang ingin dibebaskan oleh kekuatan
modal. Skemanya, Pegunungan Kendeng harus
diubah dari kawasan lindung menjadi kawasan
industri semen. Pegunungan ini menyimpan le-
bih dari 200 mata air dan beberapa sungai bawah
tanah. Sekitar 45% kebutuhan air masyarakat Pati
di topang oleh wilayah ini. Adanya upaya untuk
merubah kawasan lindung menjadi kawasan
industri inilah praktek dari skema land grabbing
sedang diterapkan. Sejak tahun 2006 terjadilah
konflik antara pihak masyarakat salah satunya
adalah komunitas sedulur sikep
4
yang melakukan
penolakkan dengan pihak yang memaksakan
hadirnya industri semen.
Hampir satu dekade belakangan keberadaan
komunitas Sedulur Sikep muncul lagi dipermu-
kaan, tapi bukan lagi soal keunikannya hidup
sederhana di tengah budaya global.
5
Isu yang
menyeruak kepermukaan kali ini adalah peno-
lakan Sedulur Sikep atas rencana industrialisasi
di Pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah. Pa-
da pertengahan 2006, PT Semen Gresik beren-
cana berekspansi modal (sekitar 40% saham
asing) ke Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pabrik
semen itu akan dibangun di Kecamatan Sukolilo
yang merupakan kawasan pertanian.
Demikianlah tulisan ini hendak menempat-
kan proses konflik agraria yang berbasis land
grabbing terjadi tidak hanya bermakna perebutan
tata kelola dan penataan tata ruang atas sumber-
sumber agraria. Lebih jauh dari itu juga bermak-
na menata ulang hubungan kebudayaan antara
manusia dengan tanah. Pertanyaan adalah
mengapa Sedulur Sikep melakukan penolakan
atas rencara dibangunnya industri di daerah
Pengunungan Kendeng? Bagaimana bentuk
perlawanan Sedulur Sikep dari setiap rezim yang
ingin menundukkan mereka? Bagaimana proses
negosiasi antara berbagai pihak yang sedang
memperebutkan Pegunungan Kendeng? Kenda-
ti pertanyaan dasarnya seperti itu, namun tulisan
ini lebih ingin melakukan explanasi
6
pema-
3
Pegunungan Kendeng merupakan Kawasan Kars yaitu
perbukitan batu gamping yang terletak di Kecamatan
Sukolilo, Kayen, Tambakromo dan Brati (Kabupaten Pati),
Grobogan, Tawangharjo, Wirosari, Ngaringan (Kabupaten
Grobogan), dan Todanan (Kabupaten Blora). Menurut
laporan Penelitian ASC (Acintyacunyata Speleological
Club) pada tahun 2008, sebuah lembaga penelitian karst
yang berkedudukan di Yogyakarta, menyatakan bahwa
wilayah Pegunungan Kendeng termasuk dalam kawasan kars
kelas I sehingga tidak boleh ditambang. Jika ditambang maka
sumber air akan hilang, karena mata air tersebut berada di
bawah permukaan.
4
Sedulur Sikep dikenal sebagai sekelompok masya-
rakat yang lelaku hidupnya berpatokan pada ajaran Samin
Soerontiko (1890an). Samin Soerontiko ditangkap tahun
1907 selanjutnya dibuang ke Digul (Papua), kemudian dipin-
dah ke Sawahlunto (Sumatera Barat) hingga salin sandangan.
Wawancara Gunretno tanggal 12, 13 dan 14 Desember 2012.
Komunitas ini awalnya hadir di Klopoduwur, Randublatung,
Blora, kemudian berkembang ke daerah lain: Tapelan
(Bojonegoro), Tlaga Anyar (Lamongan), Nginggil dan
Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunung Segara
(Brebes) serta Kandangan dan Sukolilo (Pati). Lihat Harry
J. Benda dan Lance Castles, The Samin Movement, dalam
Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 125 (1969),
No: 2, Leiden, hlm. 207-240.
5
Salah satunya yang paling mutakhir adalah tulisan,
Moh Rosyid, Samin Kudus: Bersahaja di Tengah Asketisme
Lokal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
6
Dalam ilmu sejarah eksplanasi atau suatu penjelasan
itu berhubungan dengan hermeneutics dan verstehen,
159 Tri Chandra Aprianto: Perampasan Tanah dan konflik .....: 157-168
haman, pemikiran dan keyakinan Sedulur Sikep
dalam memandang setiap persoalan dari dunia
luar yang hadir dalam diri mereka. Mengingat
yang dihadapi oleh Sedulur Sikep adalah kepen-
tingan kapital besar, dan dalam prakteknya juga
menggunakan unsur moral keagamaan guna me-
minggirkan Sedulur Sikep.
Tulisan ini menyoroti bagaimana praktek land
grabbing dijalankan, Akan tetapi tetap penting
memahami dan memperhitungkan kesadaran
masyarakat di tingkat bawah dalam melakukan
perlawanan, bukan sebaliknya. Kesadaran ma-
syarakat yang maujud dalam ekspresi
7
keseharian
baik yang bersifat perilaku politik, maupun cita-
cita ekonomi dan bahkan angan-angan budaya.
Walaupun dalam realitas sosial yang terjadi sering
menunjukkan proses marjinalisasi kesadaran
masyarakat oleh mainstream. Kendati demikian,
hal itu tidak serta merta dapat menghapus dan
menaf ikan kehadiran serta bobot kesadaran
yang telah dilakukan oleh masyarakat.
8
Dengan
demikian guna memahami apa yang dilakukan
oleh komunitas Sedulur Sikep harus juga melihat
tindakan sosial mereka.
9
B. Perebutan Makna Pegunungan
Kendeng
Pembangunan dan industrialisasi merupakan
mitos kemajuan suatu masyarakat yang dipakai
dalam rangka memuluskan skema land grab-
bing. Kedua mitos tersebut diyakini dapat mem-
beri nilai tambah bagi pemerintah daerah. Keya-
kinan tersebut berhimpitan dengan berlakunya
era otonomi daerah di Indonesia (1998), yang
awalnya sebagai counter terhadap sentralistik
hierarkinya Orde Baru. Peletakkan batu pertama
era otonomi daerah merupakan pintu masuk bagi
komunikasi langsung antara kekuatan kapital
besar (baik asing maupun dalam negeri) dengan
pemerintah daerah. Sekaligus ini berkelindan
dengan skema land grabbing di Indonesia.
Berbekal surat ijin yang dikeluarkan Kantor
Pelayanan dan Perijinan Terpadu (Kayandu)
Kabupaten Pati, PT Semen Gresik Tbk mulai
tahun 2006 gencar melakukan sosialisasi rencana
pembangunan pabrik semen. Adapun rencana-
nya tampak tambangnya terletak di Kecamatan
Sukolilo. Rencana investasi untuk kawasan in-
dustri semen ini sebesar 3,5 trilyun. Gagasan yang
dikembangkan dalam sosialiasi tersebut adalah
pentingnya keberadaan pabrik semen dapat
mengangkat kesejahteraan masyarakat yang itu
lebih baik ketimbang bertani. Dengan mencon-
menafsirkan dan mengerti suatu peristiwa. Lihat pada
Kuntowijoyo, 2008. Penjelasan Sejarah (Historical Expla-
nation), Yogyakarta: Tiara Wacana, hlm. 1 dan 10. Proses
eksplanasi ini (bisa jadi) lebih mudah untuk ditampilkan,
ketimbang melakukan analisis. Lebih dalam, analisis suatu
proses sejarah seringkali tampak untuk menuntun dari,
ketimbang menuju suatu kompleksitas pemahaman peristi-
wa sejarah. Pemahaman ini dapat dilihat pada Donald L.
Donham, 1999. History, Power, Ideology: Central Issues in
Marxism and Antropology, Berkeley and Los Angeles:
University of California Press, hlm. 140.
7
Istilah ekspresi ini biasa disebut oleh kalangan ilmu-
wan sosial sebagai gerakan sosial, suatu tindakan sosial atau
tindakan kolektif untuk melakukan perubahan dalam satu
tatanan kehidupan sosial. Lihat A. Touraine, 1984. The Re-
turn to The Actor. Minneapolis. Istilah ini juga muncul di
kalangan sosiolog Amerika pada tahun 1950-an. Eric Hobsbawn
sejarawan Inggris yang pertama kali memakai istilah ini. Lihat
pada Peter Burke, 2001. Sejarah Dan Teori Sosial (Mestika
Zed, Penterjemah), Jakarta: Yayasan Obor, hlm. 132-136.
8
Kehadiran the other dalam hal ini pabrik semen pada
level tertentu merusak norma-norma budaya yang telah ada
sebelumnya dan menetapkan ketentuan-ketentuannya
sendiri. Eric Wolf, 1983. Petani Suatu Tinjauan Antro-
pologis, Jakarta: YIIS dan CV. Rajawali, hlm. 186.
9
Tindakan sosial dalam bukan sekedar perilaku (be-
havior) reflektif yang sama sekali tidak melibatkan proses
berpikir aktornya. Tindakan ini memiliki makna subyektif
yang dilakukan secara sadar guna mencapai suatu tujuan
tertentu. Tindakan ini akan dijalankan oleh aktornya bila-
mana tindakan tersebut kemudian dianggap memiliki makna
subyektif (subjective meaning) bagi para aktor yang terlibat.
Selain itu, tindakan ini akan sangat bergantung pada proses
interpretasi dan identifikasi para aktornya atas situasi yang
dihadapi. Lihat Antony Giddens, 1987. Social Theory and
Modern Sociology, Stanford: Stanford University Press.
160 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tohkan pendapatan daerah Kabupaten Tuban
90% disumbang oleh PT Semen Gresik dan PT
Holcim.
10
Ini adalah pemantik terjadinya situasi pro dan
kontra di masyarakat dalam menyikapi keha-
diran rencana industrialisasi di kawasan Pegu-
nungan Kendeng. Masyarakat merasa tidak dili-
batkan dalam proses perencanaan hadirnya
industrialisasi tersebut. Tiba-tiba saja sudah ada
proses sosialisasi yang dibungkus dengan pen-
jaringan aspirasi masyarakat. Anehnya Peme-
rintah Daerah (malah) melakukan pembiaran
atas terjadinya situasi tersebut. Bahkan secara
tegas Pemerintah Daerah mendukung praktek
land grabbing tersebut, dengan menerbitkan
Surat Pernyataan Bupati Nomor: 131/1814/2008
tentang kesesuaian lahan pengambilan bahan
baku PT Semen Gresik dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pati. Semen-
tara bagi masyarakat yang menolak itu berten-
tangan dengan RTRW Kabupaten Pati tahun
2001-2011.
11
Sementara itu penolakan Sedulur Sikep atas
rencana industrialisasi tersebut tidak semata
berdasar atas alasan legal formal di atas. Terdapat
alasan keyakinan yang melatari penolakan
tersebut. Adam seneng nyandang, doyan mangan,
dilakoni tata gauta, gebayah macung sing dumu-
nung weke dewe. Artinya Sedulur Sikep memiliki
sistem dan tata cara tersendiri dalam mencari
nafkah. Mereka sangat meyakini kerja keras
untuk memenuhi sandang dan pangan, yang itu
haruslah berasal dari sesuatu yang jelas demu-
nunge (asal-usulnya). Demunung merepresen-
tasikan konsep keyakinan tentang kemurnian
yang mereka jalankan. Dari konsep ini pekerjaan
mengolah tanah atau menjadi petani merupakan
satu-satunya pekerjaan jelas asal-usulnya bagi
mereka.
12
Pegunungan Kendeng bagi Sedulur Sikep
bukan hanya tanah yang semata-mata bermakna
sebagai lahan. Tanah juga telah bermakna
hadirnya sistem kehidupan bermasyarakat dan
bernegara. Menurut Gunarti, orang sering
menyebut dengan istilah Ibu Pertiwi untuk
menyebut tanah yang ditempatinya. Ada makna
ibu di sana, sebuah makna yang menghidupi
seluruh makhluk. Oleh sebab itu sudah menjadi
kewajiban bagi semua manusia, khususnya
Sedulur Sikep untuk merawat dan melindungi.
13
Bumi dianggap telah memberi mereka sumber
hidup dan penghidupan. Untuk itu mereka
wajib menyukurinya.
14
Implikasi dari eksploitasi Pegunungan Ken-
deng, tidak hanya sebatas semakin menipisnya
jumlah sumber mata air yang merupakan tum-
puan kehidupan masyarakat. Pada level lain juga
berdampak pada akan kehilangan kekayaan
keanekaragaman hayati dan kerusakan alam.
Dalam perspektif lain, ini merupakan tindakan
pengabaian/penggusuran hak-hak masyarakat
lokal serta marjinalisasi tatanan sosial dan budaya
masyarakat, yang tidak pernah diperhitungkan
sebagai ongkos ekonomi, ekologi, dan ongkos
sosial-budaya yang harus dikorbankan untuk
pembangunan serta mengabaikan kemaje-
10
Lihat pada Sri Hartati Samhadi dan Ahmad Arif,
Investasi Semen: Kami Juga Ingin Maju, dalam kompas
Edisi 1 Agustus 2008.
11
Husaini, 2008. Fakta Empiris Atas Pro-Kontra
Rencana Pembangunan Pabrik Semen: PT Semen Gresik
Tbk di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Makalah Tidak
Diterbitkan, Yayasan Sheep Indonesia, hlm. 4.
12
Wawancara Gunretno tanggal 12, 13, dan 14 Desember
2012.
13
Wawancara Gunarti tanggal 14 Desember 2012.
14
Dalam prakteknya, itu semua didasarkan pada nilai
kejujuran dan kebenaran dalam konsep pandom urip (Petun-
juk Hidup). Petunjuk hidup itu mencakup angger-angger
pratikel (hukum tindak tanduk), angger-angger pengucap
(hukum berbicara), serta angger-angger lakonana (hukum
perihal apa saja yang perlu dijalankan). Wawancara Gunret-
no tanggal 12, 13, dan 14 Desember 2012.
161 Tri Chandra Aprianto: Perampasan Tanah dan konflik .....: 157-168
mukan hukum yang hidup dan berkembang
dalam masyarakat.
15
Mempertahankan keberadaan Pegunungan
Kendeng dari acaman industrialisasi menurut
Mbah Tarno,
16
sesepuh Sedulur Sikep, bukan
gagasan kolot dan tak berdasar. Malah, itu harus
dilakukan demi menghargai sejarah. Selain itu,
agar peradaban manusia di masa depan tak
terancam runtuh. Bagi Mbah Tarno tidak ada
larangan atau hukuman untuk mempertahan-
kan lahan milik sendiri, termasuk oleh negara.
17
Negara dalam konsepsi Sedulur Sikep adalah se-
bagai pelayan rakyatnya. Adam ngongak sakjero-
ning negara, arti bebasnya orang sikep itu
mengerti secara mendalam tentang negara.
Sedulur Sikep iku dudu wonge negara, Sedulur
Sikep itu bukan orangnya pemerintah. Dengan
demikian Sedulur Sikep itu tidak bisa menjadi
pejabat di pemerintahan dan tidak punya cita-
cita untuk menjadi pejabat negara. Hal itu dika-
renakan, Sedulur Sikep wis milih dadi juragan,
Sedulur Sikep sudah memilih menjadi juragan.
Jabatan tertinggi dalam bernegara menurut kon-
sepsi Sedulur Sikep ini adalah rakyat yang berpro-
fesi sebagai petani. Karena merekalah yang
menghidupi negara. Pejabat negara adalah pela-
yan dari rakyat, bukan penguasa.
18
Akibat adanya perbedaan pemahaman antara
yang memaksakan hadirnya investasi dan meno-
lak, terjadilah polemik berkepanjangan. Berbagai
alasan f ilosof is dari pihak Sedulur Sikep dan
masyarakat yang menolak tidak dijadikan acuan
oleh pihak yang memaksakan hadirnya industri
semen. Pemaksaan kehendak tersebut mendapat
perlawanan yang salah satunya adalah pengha-
dangan rencana pengukuran lahan yang akan
dijadikan tapak tambang. Penghadangan terse-
but di desa Kedu Mulyo pada tanggal 22 Januari
2009. Dengan dukungan dari pihak aparat Polda
Jateng yang menurunkan personilnya sebanyak
250 orang membubarkan dan menangkap 9 or-
ang yang dianggap sebagai provokator yang
merusak fasilitas mobil PT Semen Gresik Tbk.
Perlawanan dari masyarakat tidak berhenti
akibat kejadian tersebut. Upaya untuk memper-
tahankan kelestarian Pegunungan Kendeng,
komunitas Sedulur Sikep juga mengajak masya-
rakat petani lainnya yang hidupnya juga tergan-
tung pada keberadaan Pegunungan Kendeng.
Mereka membangun organisasi petani, Serikat
Petani Pati (SPP). Selain itu mereka juga bekerja
sama dengan kalangan LSM dan akademisi
dalam rangka mengangkat isu-isu keadilan eko-
logi. Bahkan mereka juga melakukan perla-
wanan melalui jalur legal-formal. Hingga pada
tahun 2010, Mahkamah Agung (MA) membatal-
kan dokumen perijinan yang dikeluarkan Kantor
Pelayanan dan Perijinan Terpadu (Kayandu)
Kabupaten Pati.
19
Akibat batalnya rencana PT
Semen Gresik Tbk, Gubernur Jawa Tengah Bibit
Waluyo berkomentar kalau Pemerintah Jawa
Tengah telah dirugikan oleh orang-orang yang
menolak adanya investasi.
20
15
Lihat pada paper Erwin Dwi Kristianto, Perlawanan
Masyarakat Pegunungan Kendeng Utara, makalah tidak
diterbitkan.
16
http://nasional.kompas.com/read/2012/04/16/
02044683/Jujur.ala.Sedulur.Sikep
17
Menurut keyakinan Sedulur Sikep tidak boleh
menyalahi tatanan atau ajaran leluhur. Apabila terjadi
penyimpangan atau bahkan melakukan pelanggaran dengan
sengaja atas keberadaan ajaran leluhur, menurut keyakinan
Sedulur Sikep dapat dipastikan akan terjadi sesuatu yang
menimpa diri yang melanggar tersebut. Sedulur Sikep sering
mengancam dengan kata titenono (perhatikan secara serius).
Karenanya oleh sebagian kalangan juga disebut sebagai
wong peniten (orang yang mengajak selalu waspada).
Wawancara Gunretno tanggal 12, 13, dan 14 Desember 2012.
18
Wawancara dengan Gunretno tanggal 12, 13, dan 14
Desember 2012.
19
Tampaknya berbeda pada era kolonial dan Orde
Baru, perlawanan Sedulur Sikep lebih bersifat aktif, semen-
tara sebelumnya cenderung pasif kendati tetap berprinsip
dengan gerakan nir-kekerasannya akan tetapi pada kali ini.
20
Bibit Waluyo Geram, LSM Sontoloyo Bubarkan
Proyek 5 Trilun, dalam Koran Tempo, edisi 25 Juli 2009.
162 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
C. Perebutan yang Tidak Imbang
Dengan dibatalkannya oleh MA bukan berarti
skema land grabbing berhenti di situ. Kali ini
bukan oleh PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS)
mengajukan hal yang sama ke Pemerintah Da-
erah Pati. Perusahaan ini merupakan anak dari
PT Indocement Tunggal Prakarsa. Rencananya
tapak tambangnya tidak lagi di Kecamatan
Sukolilo sebagaimana PT Semen Gresik Tbk, tapi
wilayah Kecamatan Kayen dan Tambakromo.
Persis sebelumnya, PT ini juga bergerak pada
tambang pengolahan semen.
Kali ini, soliditas dan langkah-langkah perla-
wanan Sedulur Sikep di atas mulai menghadapi
praktek-praktek penundukkan yang lebih kom-
pleks. Praktek provokasi dan adu domba antar
kelompok masyarakat lebih sering terjadi.
Tuduhan terhadap Sedulur Sikep sebagai wong
mbangkang (kaum pembangkang) direpoduksi
kembali. Sebagai kelompok masyarakat yang
tidak mau dengan hadirnya kemajuan, emoh
modern dan anti pembangunan.
Pada zaman kolonial, Sedulur Sikep mendapat
stigma subvesif karena menolak membayar pajak
dan mengikuti sistem pendidikan Belanda.
21
Pada
zaman Orde Baru, Sedulur Sikep dikenal sebagai
komunitas yang tidak menyekolahkan anak-anak
mereka ke sekolah formal dan masuknya mereka
kedalam agama Budha, sebagai akibat pemaksa-
an pemerintah. Pada zaman Orde Baru mereka
mendapat stigma anti pembangunan, anti kema-
juan dan anti pemerintah.
22
Kini Sedulur Sikep
yang ada di Sukolilo, Pati mendapat stigma
sebagai provokator oleh kekuatan kapital besar,
karena menolak hadirnya pabrik semen.
23
Pandangan umum yang sengaja dibangun
bahwa Sedulur Sikep adalah komunitas yang
ngeyelan (suka mendebat), wong mbangkang
(pembangkang), susah diatur, dan terbelakang,
sehingga dikategorikan sebgai Komunitas Adat
Terpencil (KAT), karenanya perlu pembinaan.
24
Kali ini upaya-upaya penolakan yang dilaku-
kan oleh Sedulur Sikep mendapat perlawanan
dari orang-orang yang mendukung industriali-
sasi. Perlawanan tersebut berupa tindak keke-
rasan dalam rangka menghentikan penolakan
masyarakat tersebut. Setidaknya tercatat dua kali
terjadi aksi kekerasan antara massa yang meno-
lak kehadiran pabrik semen dengan massa yang
diorganisasi oleh pihak investor.
Pertama, pada 20 April 2011, masyarakat yang
menolak yang hendak melakukan demonstrasi
di Kantor Pemda dan DPRD Pati, dihadang pre-
man bayaran di depan Polsek Kayen, jalan raya
PatiPurwodadi, Km 26. Dalam aksi pengha-
dangan tersebut sempat terjadi adu f isik antara
dua belah pihak. Pihak kepolisian sendiri terke-
san mendukung aksi penghadangan tersebut.
21
Lihat Harry J. Benda dan Lance Castles, The Samin
Movement, dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volken-
kunde 125 (1969), no: 2, Leiden, hlm. 207-240. Gerakan Samin
adalah sebuah epos perjuangan rakyat dalam satu babak
sejarah nasional, sebagai gerakan ratu adil penentang
hegemoni kolonial. Lihat Sartono Kartodirdjo, 1984. Ratu
adil, Jakarta: Sinar Harapan.
22
Pada titik ini yang terjadi adalah narasi kuasa mena-
fikan keberadaan lokal, yang itu kemudian disalahtafsirkan.
Lihat Muhammad Nurkhoiron, 2010. Sedulur Sikep, Sedulur
(Saudara) Yang Sering Disalahtafsirkan, Jakarta: Desan-
tara.
23
Stigma yang menimpa mereka kali ini berkelindan
dengan nilai-nilai keagamaan mainstream, Islam. Komunitas
Sedulur Sikep memiliki sejarah benturan dengan kelompok
Islam. Khutbah-khutbah Samin Soerontiko dinilai oleh santri
di pesisir utara Jawa Tengah sebagai hal yang menyesatkan.
Lihat Suripan Sadi Hutomo, 1985. Samin Soerontiko dan
Ajaran-Ajarannya, Basis, Februari, hlm. 3.
24
Ridwan Al-Makassary, 2007. Multikulturalisme: Re-
view Teoritis Dan Beberapa Catatan Awal, dalam Mashudi
Noorsalim et.all (ed.), Hak Minoritas, Multikulturalisme
dan Dilema Negara Bangsa, Jakarta: Yayasan Interseksi,
hlm. 42. Lihat juga M Nurkhoiron, 2007. Minoritasisasi
dan Agenda Multikulturalisme di Indonesia: Sebuah Catatan
Awal, dalam Mashudi Noorsalim et.al (ed), Hak Minoritas
Multikulturalisme dan Dilema Negara Bangsa, Jakarta:
163 Tri Chandra Aprianto: Perampasan Tanah dan konflik .....: 157-168
Kedua, pada 1 Januari 2012, masyarakat yang
menolak kehadiran pabrik semen melakukan
pawai lingkungan hidup. Pawai ini dilakukan
dalam rangka kampanye pentingnya ekologi
terhadap generasi mendatang. Pawai lingkungan
hidup tersebut dihadang dan sebagian peserta
pawai dipukuli oleh preman-preman. Kejadian
kekerasan itu terjadi di wilayah Desa Keben, Ke-
camatan Tambakromo.
25
Bersamaan dengan tindak kekerasan yang
diterima oleh masyarakat yang melakukan peno-
lakan tersebut PT SMS berupaya untuk meleng-
kapi kelengkapan dokumen perijinan ling-
kungan. Perijinan ini merupakan legitimasi le-
gal yang dibutuhkan oleh kaum pemodal untuk
menjalankan praktek eksploitasinya. Komisi
Penilai Amdal Kabupaten Pati menyelenggarakan
sidang komisi pertama kali pada tanggal 30
Januari 2012. Adapun agenda dari sidang komisi
tersebut adalah membahas Kerangka Acuan -
Analisa Dampak Lingkungan (KA-ANDAL) Ren-
cana Pembangunan Pabrik Semen dan Pertam-
bangan PT. SMS. Uniknya dalam persidangan
ini penjagaan dilakukan sangat ketat. Ratusan
polisi dari Polres Pati dihadirkan untuk menga-
mankan jalannya sidang tersebut. Selain itu
untuk lebih memperkuat pengamanan sidang
juga dihadirkan ratusan anggota Barisan Serba-
guna (Banser) NU, selain masih terdapat banyak
orang yang berpakaian preman.
Sementara itu masyarakat yang menolak
rencana pembangunan pabrik semen tersebut
berencana menghadiri sidang komisi. Masya-
rakat berbondong-bondong ingin menghadiri
proses persidangan tersebut. Mereka hadir
dengan menggunakan kendaraan truk dari
berbagai daerah di kawasan Pegunungan Ken-
deng. Sedikitnya 56 truk yang mengangkut
mereka guna menuju Hotel Pati, tempat digelar-
nya sidang. Akan tetapi di depan Polsek Kayen,
truk-truk tersebut dihadang oleh ratusan orang
yang berseragam kaos berwarna putih-biru
bertuliskan Pro Investasi. Akibat adanya pengha-
dangan tersebut, bentrokkan f isik tidak terhin-
darkan. Kendati terdapat peristiwa tersebut,
akhirnya puluhan truk yang memuat masyarakat
yang menolak pabrik semen tersebut tiba juga
di lokasi sidang. Mereka menggelar orasi
menyampaikan aspirasi guna penolakan keha-
diran pabrik semen.
26
Sementara itu pihak masyarakat sendiri mulai
geram dengan tindakan kepala-kepala desa
mereka yang dianggap hanya mementingkan
dirinya sendiri. Kegeraman tersebut diwujudkan
masyarakat guna mendatangi beberapa kepala
desa yang setuju dengan kehadiran pabrik se-
men. Setidaknya ada 6 (enam) kepala desa yang
didatangi. Para kepala desa itu dipaksa menan-
datangani pernyataan resmi untuk menolak
rencana pendirian pabrik semen. Peristiwa itu
terjadi di Desa Brati Kecamatan Kayen, Desa
Keben, Larangan, Maitan, Karangawen dan
Wukirsari Kecamatan Tambakromo pada per-
tengahan bulan Februari 2012.
27
Selain menghadapi berbagai tindak kekerasan
Sedulur Sikep juga harus menghadapi upaya
penundukan yang bersifat akademik, seperti
seminar dan diskusi terbatas yang itu dilakukan
oleh pihak investor. Hal ini secara sadar
dilakukan, karena anggapan kaum pemodal
Sedulur Sikep adalah orang yang tidak berpen-
Yayasan Interseksi. Bandingkan juga dengan AA GN Ari
Dwipayana, Problematika Relasi Negara dan Desa,
makalah seminar Relasi Politik Negara dan Desa
diselenggarakan Lingkar Pembaharuan Agraria dan Desa
(KARSA), Yogyakarta, Desember 2007, hlm. 1-4.
25
Wawancara Gunretno tanggal 12, 13, dan 14
Desember 2012.
26
Cerita kronologis ini dituturkan oleh beberapa or-
ang yang sedang kumpul rumah Gunretno, pada tanggal 14
Desember 2012.
27
Ibid.
164 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
didikan.
28
Salah satunya adalah kegiatan semi-
nar tentang analisa dampak lingkungan di Ho-
tel Pati, pertengahan Desember 2011. Kendati
forum akademik, dan pihak Sedulur Sikep telah
menunjukkan data akademik, namun pihak
yang menginginkan hadirnya investasi memak-
nainya secara pejorative.
Bukan berhenti di situ, Sedulur Sikep juga ha-
rus dihadapkan dengan suatu kegiatan kesenian
dari budaya mainstream. Pemerintah Daerah
Pati mengadakan pentas malam kebudayan yang
dimeriahkan oleh pementasan Kyai Kanjeng di
bawah Pimpinan Emha Ainun Najib, pada tang-
gal 14 Desember 2011. Pemda berharap dengan
kegiatan ini dapat menjadi awal bagi komunikasi
yang lebih baik untuk pihak yang menolak
dengan pihak investor. Dan kedekatan Emha
Ainun Najib dengan Gunretno tokoh Sedulur
Sikep diharapkan dapat mencairkan ketegangan
diantara keduanya. Kegiatan tersebut dihadiri
dari kalangan Pemda, tokoh masyarakat, ulama,
pihak investor, Frangky Welirang dan Gunretno
sebagai pihak yang menolak hadirnya industri
semen.
29
Akan tetapi kalau ditilik dari struktur ke-
giatannya, ini merupakan kegiatan yang berupaya
menghadirkan budaya adiluhung guna menun-
dukkan budaya tanpa aji. Tanpa aji karena prak-
tek budaya yang dijalankan oleh Sedulur Sikep
adalah praktek budaya rakyat. Hal ini terwujud
dalam pilihan bahasa yang digunakan adalah
bahasa Jawa ngoko, bukan kromo.
30
Dengan
demikian budaya adiluhung harus mengajari
yang tanpa aji. Kyai Kanjeng adalah representasi
dari nilai santri. Sementara Sedulur Sikep repre-
sentasi sebagai sesuatu yang liyan (berbeda)
dengan mainstream.
Kehadiran Gunretno dalam kegiatan tersebut
memiliki arti yang sangat kompleks, tidak saja
bagi Gunretno pribadi, tetapi juga bagi kalangan
yang tidak setuju dengan adanya rencana
industrialisasi di wilayah Pegunungan Kendeng.
Selain itu makna kehadiran Gunretno dalam
acara tersebut juga memiliki makna lain bagi
pihak industri dan kalangan yang setuju dengan
industri, juga pihak orang luar. Padahal secara
denotatif (makna sesungguhnya) kehadiran
Gunretno adalah sebagai orang yang diundang
untuk menghadiri kegiatan pentas kesenian kyai
kanjeng. Akan tetapi secara konotatif (makna
tidak sesungguhnya) terdapat banyak tafsiran
dan makna atas kehadiran tersebut. Situasinya
adalah adanya upaya untuk menundukkan satu
sama lain.
Adanya situasi penundukan tersebut dapat
dilihat dari isi pidato dari pihak Pemerintah
Kabupaten mengetengahkan pentingnya proses
pembangunan di Kabupaten Pati. Pembangunan
menjadi syarat bagi kemajuan Kota Pati, sebagai
salah satu kota penting di Jawa Tengah. Untuk
itu perlu hadirnya investor dan proses pem-
bangunan yang itu bisa menyejahterakan masya-
rakat Pati. Tentu saja tafsir dibalik isi pidato
tersebut adalah terdapat sekelompok orang Pati
28
Sedulur Sikep dikenal sebagai komunitas yang enggan
memasukkan anaknya dalam sekolah formal. Adapun
alasannya menurut Gunarti, sekolah formal memberikan
ajaran yang mempengaruhi mereka untuk pindah. Tidak saja
pengaruh untuk mereka pindah keyakinan, tapi juga pindah
terhadap pengetahuan dasar mereka. Bagi Sedulur Sikep
ajaran ketauladanan orang tua itu sangat penting dan utama.
Guru bagi Sedulur Sikep adalah orang yang sudah bisa
menjaga omongan dan laku. Guru adalah gunem kawruh,
omongan pengetahuan yang mendalam, yaitu memberi ujaran
yang bermakna dalam kehidupan. Sehingga fungsinya juga
memberi keteladanan hidup bagi generasi mendatang.
Wawancara Gunarti 14 Desember 2012.
29
Wawancara dengan Jumadi, tanggal 15 dan 16 Desem-
ber 2012.
30
Untuk lebih detail soal penggunaan bahasa keseha-
rian Sedulur Sikep bisa dilihat pada, Hari Bakti Mardikan-
toro, 2012. Pilihan Bahasa Masyarakat Samin Dalam Ranah
Keluarga, Jurnal Humanior, volume 24, No. 3 Oktober,
hlm. 345 357.
165 Tri Chandra Aprianto: Perampasan Tanah dan konflik .....: 157-168
yang tidak mau dengan pembangunan. Emoh
dengan proses kemajuan dan modernisasi.
Representasi dari pembangunan, kemajuan dan
modernisasi adalah hadirnya pabrik semen.
Sementara kalangan yang menolak adalah ka-
langan yang anti pembangunan, anti kemajuan,
anti modern dan terpenting mereka adalah
petani. Petani selama ini telah menjadi simbol
masyarakat yang berada pada stratif ikasi paling
rendah. Mereka adalah kalangan tradisional,
jumud dengan keyakinannya dan menolak pro-
ses modernisasi. Hal itu tentu saja dengan mu-
dah semua tuduhan itu dapat dilekatkan pada
kalangan Sedulur Sikep.
Situasi penundukan semakin jelas dengan
pidato selanjutnya yang disampaikan oleh wakil
pemuka agama. Ia menyatakan kalau lantunan
syair Kyai Kanjeng berisi pencerahan. Pencerahan
terhadap keyakinan orang yang selama ini masih
berada pada kegelapan. Dengan pencerahan
orang akan dapat menerima mana hal yang baik
dan yang buruk. Adanya pencerahan orang dapat
menerima pemahaman baru, bukan lagi pema-
haman lama.
31
Upaya penundukan kebudayaan main-
stream terhadap apa yang lokal dirasakan betul
oleh pihak Sedulur Sikep. Kedua pidato sebelum-
nya dirasakan bukan hadir dalam pikiran yang
bersifat denotatif, tapi dalam kerangka pikiran
yang sarat konotatif. Kata-kata pembangunan,
kemajuan, kesejahteraan, pencerahan dan lain-
lain adalah kata-kata yang memiliki makna kono-
tasi, bukan denotasi. Kata-kata tersebut memiliki
konotasi menundukan, bukan konotasi yang
mengajak dialog.
Menghadapi upaya penundukkan tersebut,
Gunretno manakala mendapat kesempatan
menyampaikan gagasannya untuk kemajuan
dan pembangunan Kota Pati. Gunretno lang-
sung menghadap ribuan penonton yang sedang
menyaksikan pentas kesenian akhir tahun
tersebut. Gunretno merasa berkepentingan
dengan masyarakat luas, ketimbang dengan para
elit yang duduk bersamanya di atas panggung.
Ia menyampaikan pentingnya kelesatarian alam
Pegunungan Kendeng, ketimbang kesejahte-
raan yang ditawarkan oleh kaum pemodal, yang
dibalik itu kehancuran ekologi. Penjelasan
Gunretno sangat masuk akal kedalam alam pikir
penonton. Sehingga dengan mudah penonton
diajak yel-yel tentang kelestarian ketimbang
hadirnya pabrik semen. Setelah itu Gunretno
pamit kepada orang-orang yang ada di atas pang-
gung, seraya minta maaf dan tetap memperta-
hankan paseduluran. Uniknya begitu Gunretno
pamit dan meninggalkan panggung, sebagian
besar penonton ikut meninggalkan acara terse-
but.
32
D. Perebutkan Sakral
Mengingat stigma yang terus dilekatkan pada
komunitas Sedulur Sikep, sehingga setiap ke-
giatan mereka terlebih dulu berada dalam
kerangka yang pejorative. Apa yang dilakukan
oleh Sedulur Sikep dan masyarakat disekitar
Pegunungan Kendeng dalam rangka mempe-
ringati hari kemerdekaan Republik Indonesia
yang ke 67 tahun juga berada dalam kerangka
ini. Oleh sebab itu pihak aparat keamanan,
Kepolisian dan Kodim Pati melakukan berbagai
upaya untuk menggagalkan kegiatan tersebut.
Setidaknya terdapat empat alasan dari pihak
aparat keamanan untuk melakukan pelarangan
kegiatan tersebut. Pertama, terdapat informasi
bahwa kegiatan tersebut akan terjadi tindakan
yang sifatnya subversif. Kedua, terdapat kesan
akan ada pembangkangan sipil. Ketiga, bahwa
upacara peringatan hari kemerdekaan itu sakral,
31
Wawancara dengan Jumadi, tanggal 15 dan 16
Desember 2012.
32
Hasil kompilasi hasil Wawancara Gunretno dan
Jumadi.
166 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tidak bisa dilakukan secara serampangan. Keem-
pat, tempat upacara terjadi di Desa Brati itu ter-
letak di lereng Pegunungan Kendeng, sehingga
terkesan sembunyi-sembunyi dari keramaian.
Berdasar atas keempat alasan tersebut, pada
tanggal 16 Agustus 2012, aparat keamanan mulai
melakukan upaya untuk menggagalkan acara
tersebut. Sepasukan tentara dari Kodim Pati
mendatangi rumah Gunretno di Dukuh Bom-
bong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati.
Mereka datang di rumah Gunretno sejak pukul
13. Kursi tamu di ruang tamu Gunretno penuh
dengan aparat keamanan. Belum lagi yang ada
di luar rumahnya, juga ada beberapa aparat
keamanan yang berjaga-jaga. Hampir setiap
sudut rumah Gunretno difoto oleh aparat yang
ada di ruang tamu, termasuk diri Gunretno, istri
dan keluarganya, serta beberapa Sedulur Sikep
yang mendampingi Gunretno juga difoto. Berba-
gai macam ancaman diterima Gunretno dari
pihak Kodim Pati, jika tetap memaksakan diri
melanjutkan kegiatan tersebut.
Dalam alam pikir aparat keamanan, kegiatan
upacara peringatan Kemerdekaan RI adalah
sakral. Sakral menurut perspektif militer. Dalam
upacara yang dilakukan oleh rakyat di Pegu-
nungan Kendeng itu tidak sesuai dengan Tata-
cara Upacara Militer (TUM). Sehingga upacara
tersebut tidak bisa dilaksanakan. Apalagi rencana
kegiatan yang disodorkan oleh Gunretno banyak
berisi dengan tembang-tembang yang berbahasa
Jawa. Dialog antara Gunretno dan pihak aparat
dari Kodim itu berakhir jam 15, karena ia akan
dilakukan gladi resik di tempat upacara.
33
Kemudian Gunretno beserta aparat ke-
amanan tersebut berbondong-bondong ke tem-
pat upacara di lapangan di Desa Brati, Kecamatan
Kayen. Ternyata sesampai di tempat gladi resik,
Gunretno sangat terkejut, karena aparat lebih
banyak lagi di tempat gladi resik. Tidak hanya
hadir aparat dari Kodim Pati, tapi juga pihak
kepolisian. Melihat banyaknya pihak keamanan
tersebut, masyarakat sempat kebingungan
mengingat kehadiran aparat keamanan sebagai
sesuatu yang ganjil pada era reformasi. Akan
tetapi mereka juga bangga, tidak ada rencana
upacara peringatan hari kemerdekaan dijaga
oleh aparat keamanan, kecuali di Istana Negara.
Hal ini dirasakan sebagai hal yang berbeda
dengan kegiatan di tempat lain yang tidak pernah
ada penjagaan sedemikian ketat.
Sekembalinya dari gladi resik di tempat upa-
cara, rumah Gunretno kembali dikepung oleh
aparat dari Kodim. Hingga pukul 3 dini hari mere-
ka berada di rumah Gunretno. Rupanya pihak
aparat tetap dengan ketetapan meminta Gun-
retno membatalkan kegiatan upacara peringatan
hari kemerdekaan ala rakyat tersebut.
Tepat tanggal 17 Agustus 2012, upacara puncak
peringatan hari Kemerdekaan RI diperingati.
Aparat keamanan baik dari pihak Kodim mau-
pun dari Polres berjaga-jaga di tempat upacara.
Tidak kurang dari 5.000an orang hadir dalam
upacara ala rakyat tersebut. Mereka berusaha
baris serapi mungkin. Komandan upacara, Pak
Bambang menyiapkan upacara tersebut dengan
khidmat. Pada saat pembawa bendera jalan
menuju ke tiang bendera, diiringi dengan tem-
bang Ibu Pertiwi karangan Ki Narto Sabdo
(dalang terkenal pada tahun 1970-an). Sesampai
di pinggir tiang bendera, Pak Gimin orang yang
bertugas mengibarkan bendera Merah Putih
maju ke depan. Sebelum menuju tiang untuk
mengibarkan bendera dengan cara memanjat
tiang bendera, Ia menyembah terlebih dulu
peserta upacara, tiang bendera dan Bendera Me-
rah Putih sendiri.
Setelah berhasil memanjat tiang bendera dan
mengibarkan Bendera Merah Putih, rakyat
bersorak yang kemudian dilanjutkan dengan
menyanyikan lagu Indonesia Raya. Akhirnya
upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI 33
Ibid.
167 Tri Chandra Aprianto: Perampasan Tanah dan konflik .....: 157-168
berjalan lancar, aparat keamanan yang berjaga
juga merasakan keharuan tersendiri.
34
Begitu
juga pada peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desem-
ber 2012, Masyarakat Pegunungan Kendeng
menggelar peringatan Hari Ibu. Mereka memak-
nai ibu sebagai para pejuang bagi masa depan
anak-anaknya, untuk mempertahankan keles-
tarian alam dari ancaman industri tambang.
35
E. Kesimpulan
Sedulur Sikep melakukan penolakan atas
upaya industrialisasi sebagai bagian dari skema
land grabbing di Pegunungan Kendeng berda-
sarkan atas keyakinan mereka yang salah satunya
adalah hubungan antara manusia dengan alam.
Rencana industrialisasi di wilayah Pegunungan
Kendeng tidak saja mengganggu pencarian naf-
kah, tapi juga mengganggu keyakinan yang telah
dijalani oleh Sedulur Sikep. Skema ini dalam
prakteknya tidak saja menggunakan narasi keke-
rasan, tapi juga akademik, kebudayaan dan
keagamaan.
Wujud dari perlawanan yang dilakukan oleh
Sedulur Sikep tetap seperti ajaran leluhur mereka,
yaitu nir-kekerasan. Mereka lebih memilih jalan
kebudayaan bersama masyarakat akar rumput,
dengan memberi pemahaman, termasuk pema-
haman bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kegiatan upacara peringatan Hari Kemerdekaan
RI dan peringatan Hari Ibu yang baru lalu meru-
pakan bagian dari upaya penyadaran tersebut.
34
Hasil diskusi dengan beberapa orang yang terlibat
dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-67, yang
sedang berkunjung ke rumah Gunretno, tanggal 15
Desember 2012.
35
Lihat pada Kompas, 23 Desember 2012, hlm. 21.
Daftar Pustaka
Al-Makassary, Ridwan, 2007. Multikulturalisme:
Review Teoritis Dan Beberapa Catatan Awal,
dalam Mashudi Noorsalim et.all (ed.), Hak
Minoritas, Multikulturalisme dan Dilema
Negara Bangsa, Jakarta: Yayasan Interseksi.
Benda, Harry J. dan Lance Castles, 1969. The
Samin Movement, dalam Bijdragen tot de
Taal-, Land- en Volkenkunde 125 (1969), no:
2, Leiden, hal 207-240.
Bhabha, Homi K., 1994. Location On History,
London: Routledge.
Burke, Peter, 2001. Sejarah Dan Teori Sosial,
Mestika Zed, Penterjemah, Jakarta: Yayasan
Obor.
Donham, Donald L., 1999. History, Power, Ideolo-
gy: Central Issues in Marxism and Antro-
pology, Berkeley and Los Angeles: Univer-
sity of California Press.
Giddens, Antony, 1987. Social Theory and Mod-
ern Sociology, Stanford: Stanford Univer-
sity Press.
Husaini, 2008. Fakta Empiris Atas Pro-Kontra
Rencana Pembangunan Pabrik Semen: PT
Semen Gresik Tbk di Kabupaten Pati, Jawa
Tengah, Makalah Tidak Diterbitkan, Ya-
yasan Sheep Indonesia.
Hutomo, Suripan Sadi, 1985. Samin Surosentiko
dan Ajaran-Ajarannya, Basis, Februari 1985.
http://nasional.kompas.com/read/2012/04/16/
02044683/Jujur.ala.Sedulur.Sikep
Kartodirdjo, Sartono, 1984. Ratu adil, Jakarta:
Sinar Harapan.
Kabupaten Pati dalam angka, BPS, 2012.
Kompas, 23 Desember 2012, hlm 21.
Koran Tempo Bibit Waluyo Geram, LSM Son-
toloyo Bubarkan Proyek 5 Trilun, edisi 25
Juli 2009.
Kuntowijoyo, 2008. Penjelasan Sejarah (Histori-
cal Explanation), Yogyakarta: Tiara Wacana.
Laporan Penelitian dari tim ASC (Acintyacunyata
Speleological Club) tahun 2008.
Lloyd, Christopher, 1993. The Structures of His-
tory, London: Basil Blacwell.
Mardikantoro, Hari Bakti, Pilihan Bahasa Masya-
rakat Samin Dalam Ranah Keluarga, Jurnal
168 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Humanior, volume 24, No. 3 Oktober 2012,
hlm 345 357.
Nurkhoiron, Muhammad, 2007. Minoritisasi dan
Agenda Multikulturalisme di Indonesia:
Sebuah Catatan Awal, dalam Mashudi
Noorsalim et.al (ed), Hak Minoritas Multi-
kulturalisme dan Dilema Negara Bangsa,
Jakarta: Yayasan Interseksi.
Nurkhoiron, Muhammad, 2010. Sedulur Sikep,
Sedulur (Saudara) Yang Sering Disalahtaf-
sirkan, Jakarta: Desantara.
Pujiriyani, Dwi Wulan Pujiriyani, Perampasan
Tanah Global Pada Abad XXI, dalam Tim
Peneliti STPN, 2012. Kebijakan, Konflik, dan
Perjuangan Agraria Indonesia Awal Abad 21
(Hasil Penelitian Sistematis STPN, 2012),
Yogyakarta: PPPM STPN-Press.
Rosyid, Moh, 2008. Penulis buku Samin Kudus:
Bersahaja di Tengah Asketisme Lokal,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Samhadi, Sri Hartati dan Arif, Ahmad, 2008.
Investasi Semen: Kami Juga Ingin Maju,
dalam Kompas Edisi 1 Agustus 2008.
Touraine, A., 1984. The Return to The Actor, Min-
neapolis.
Weiringa, Saskia Eleonora, 1999. Penghancuran
Gerakan Perempuan di Indonesia, Jakarta:
Kalyanamitra dan Garba Budaya.
Widodo, Amrih, Samin In The New Order: The
Politic of Encounter and Isolation, hlm 278.
Wolf, Eric, 1983. Petani Suatu Tinjauan Antro-
pologis, Jakarta: YIIS dan CV. Rajawali.
Wawancara dengan Gunretno, tanggal 12, 13 dan
14 Desember 2012.
Wawancara dengan Gunarti, tanggal 14 Desem-
ber 2012.
Wawancara dengan Jumadi, tanggal 15 dan 16
Desember 2012.
Diskusi dengan beberapa orang Sedulur Sikep
di rumah Gunretno tanggal 14 Desember
2012.
Diskusi dengan beberapa orang yang terlibat
dalam upacara peringatan Hari Kemer-
dekaan RI ke-67, yang sedang berkunjung
ke rumah Gunretno, tanggal 15 Desember
2012.
KONTEKSTUALITAS AFFIRMATIVE ACTION
DALAM KEBIJAKAN PERTANAHAN DI YOGYAKARTA
Widhiana Hestining Puri*
Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: Abstract: The land policy in Yogyakarta Special Province, especially the one related to land ownership by the Indonesian-
Chinese blood, is different from that of another region. It is stated on the Governors Instruction No. K. 898/I/A/1975 about
The Uniformity of Giving the Right on Land Policy to Non Indonesian citizens, Indonesian-Chinese blood which states that they
are not allowed to own the land. The policy is called the affirmative action that is the positive discrimination having the
ideological purpose of reaching the justice and similarity for The Indonesian origins in Yogyakarta. The affirmative action needs
some requirements to get the effective implementation.
K KK KKeywor eywor eywor eywor eywords ds ds ds ds: Affirmative action, land policy, Yogyakarta.
Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Intisari: Kebijakan pertanahan yang berlaku di DIY khususnya dalam pemilikan tanah oleh WNI keturunan Tionghoa berbeda
dengan daerah lainnya. Berdasarkan Instruksi Kepala Daerah DIY Nomor K. 898/I/A/1975 tentang Penyeragaman Policy Pemberian
Hak Atas Tanah kepada seorang WNI Non Pribumi, WNI keturunan Tionghoa tidak diijinkan untuk menguasai tanah dengan status
Hak Milik. Kebijakan ini disebut sebagai affirmative action/diskriminasi positif yang memiliki tujuan ideologis untuk mencapai
keadilan dan kesetaraan, khususnya bagi WNI asli/pribumi di DIY. Affirmative action mensyaratkan sejumlah hal dalam pelaksanaannya
agar dapat berlaku secara benar dan efektif. Tulisan ini berusaha mengupas sejauhmana pelaksanaan kebijakan tersebut sekaligus
kontekstualitasnya dalam kaitan dengan perkembangan peraturan perundang-undangan Indonesia dan globalisasi.
Kata K Kata K Kata K Kata K Kata Kunci unci unci unci unci: Affirmative action, pertanahan, Yogyakarta.
A. Pengantar
.. Hingar-bingar HUT Ke-64 Kemerdekaan RI
tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebe-
lumnya. Di sela-sela rasa bangga, terselip kepedihan.
Akhir Juli 2009, saat mengurus akta jual beli tanah
seluas 126 meter persegi (kredit pula) pada seorang
notaris di Sleman, Yogyakarta, keindonesiaan saya
kembali dipertanyakan.
1
Negara Indonesia memiliki tujuan utama
dalam bidang ekonomi untuk menciptakan
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penge-
jawantahan tujuan ini salah satunya terkandung
dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang mengatur
bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang ter-
kandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemak-
muran rakyat. Sangatlah jelas bahwa negara
memiliki peran strategis sebagai pengemban
amanat kedaulatan rakyat untuk menjalankan
pemerintahan guna mencapai tujuan-tujuan
negara yang telah ditetapkan salah satunya
dengan mengatur peruntukan dan penggunaan
bumi, air, dan kekayaan alamnya. Negara dibe-
rikan kewenangan besar melalui Hak Menguasai
Negara (HMN) yang merupakan gempilan dari
Hak Bangsa.
2
Isi kewenangan HMN tersebut
*
Staf pengajar Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional,
Yogyakarta.
1
Lihat Kompas 8 September 2009 pada bagian Surat
untuk Redaksi dengan judul Status Hak Milik Tanah Bagi
WNI Pribumi dan Keturunan.
2
Modul Perkuliahan Perbandingan Hukum Tanah.
2009. Istilah gempilan ini diperoleh karena HMN dianggap
merupakan bagian kecil bagian dari Hak Bangsa yakni hak
seluruh bangsa Indonesia atas tanah diseluruh bagian negara
Indonesia.
170 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
secara resmi dijabarkan oleh Pasal 2 ayat (2) Un-
dang-undang tentang Peraturan Dasar Pokok-
pokok Agraria (UUPA).
3
Tahapan berikutnya
sebagai perwujudan HMN ini tentunya dapat
kita lihat bagaimana negara melakukan penge-
lolaan maupun institusionalisasi lembaga-lem-
baga negara yang diberi kewenangan dalam
mengurusi bumi, air, dan kekayaan alam ini.
Sebagai payung hukum dalam pengelolaan
pertanahan di Indonesia ditetapkanlah Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) pada 24
September 1960 dengan Badan Pertanahan
Nasional (BPN) sebagai otoritas yang mengurusi
pertanahan.
UUPA sebenarnya diharapkan dapat menjadi
payung hukum bagi pengelolaan sumber-sum-
ber agraria. Namun dalam kenyataannya, UUPA
hanya dijadikan acuan oleh BPN atau bidang per-
tanahan saja. Sedangkan dimensi agraria yang
lain seperti kehutanan, pertambangan, air, serta
bidang pembangunan lain yang bersentuhan
dengan tanah juga memiliki payung hukum sen-
diri yang bersifat sektoral. Hal ini tentunya men-
dorong munculnya banyak permasalahan dalam
pengelolaan sumber agraria karena tumpang-
tindihnya peraturan hukum yang dijadikan acu-
an/the jungle regulation serta egoisme sektoral
yang dikembangkan oleh masing-masing insti-
tusi.
4
Pluralisme hukum dalam bidang pertanahan
tidak berhenti pada egoisme sektoral kelemba-
gaan negara yang mengatur, namun juga masuk
ke ranah sistem pemerintahan. Bentuk negara
Indonesia yang republik tidak memungkinkan
adanya negara di dalam negara. Yang ada adalah
daerah di dalam negara dengan memberikan
keleluasaan pengembangan potensi daerah
melalui sistem pemerintahan desentralisasi serta
pengakuan keistimewaan beberapa daerah/pro-
vinsi yang kesemuanya dikukuhkan melalui
peraturan perundang-undangan. Sebut saja
salah satu daerah yang sangat menonjol karena
dianggap memiliki kebijakan pertanahan tersen-
diri adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah
Istimewa mempunyai keistimewaan asal-usul dan
di jaman Republik Indonesia mempunyai peme-
rintahan yang bersifat istimewa (zelfbesturende
landschappen). Hal ini sangat berkaitan erat
dengan sejarah perjuangan pada masa penja-
jahan Belanda. Fakta masa lalu memang menun-
jukkan adanya perhargaan pemerintah Indone-
sia kepada Kasultanan Yogyakarta yang menya-
takan diri sebagai bagian dari wilayah Indonesia
yang notabene pada saat itu diakui oleh peme-
rintah Hindia Belanda telah memiliki kedaulatan
sendiri. Kita tentunya menyadari bahwa bidang
pertanahan mendapatkan dampak juga berda-
sarkan Undang-undang No. 32 Tahun 2004 ten-
tang Pemerintah Daerah ada urusan yang layak
didesentralisasikan kepada derah dan ada yang
menjadi wewenang pemerintah pusat. Masalah
pertanahan sebagai masalah yang penting ten-
tunya akan ada banyak problematika yang mun-
cul ketika ada beberapa aturan hukum yang ber-
tentangan. Apalagi praktek yang dilakukan ter-
jadi dalam lingkup wilayah yang kecil, misalnya
3
Pasal 2 ayat (2) UUPA mengatur HMN yang mem-
beri wewenang untuk: (a) mengatur dan menyelenggarakan
peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan, air,
dan ruang angkasa; (b) menentukan dan mengatur hubungan-
hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air, dan
ruang angkasa; serta (c) menentukan dan mengatur hu-
bungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-
perbuatan hukum antara orang-orang dan perbuatan-per-
buatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang angkasa.
4
Dalam beberapa kesempatan Mantan Kepala BPN
Joyo Winoto menyampaikan betapa peliknya masalah agra-
ria di Indonesia karena adanya the jungle regulation. Hal
ini karena ada banyaknya peraturan perundang-undangan
dalam bidang agraria yang berlaku di Indonesia yang digu-
nakan sebagai acuan/payung hukum bagi tiap-tiap sektor
agraria yang sebagian besar saling bertentangan dan tum-
pang tindih.
171 Widhiana Hestining Puri: Kontekstualitas Aff irmative .....: 169-180
satu provinsi yang dinyatakan istimewa. Contoh
nyatanya adalah sebagaimana latar belakang ka-
sus yang diuraikan diatas. Perlakuan berbeda
akan diterima bagi warga negara Indonesia khu-
susnya keturunan Tionghoa dalam memiliki hak
atas tanah di Yogyakarta dengan di wilayah lain
di Indonesia. Kiranya kajian ini akan menjadi
hal yang menarik serta memberikan pemahaman
yang lebih luas bagi kita semua.
Telah ada penelitian sejenis yang dilakukan
oleh Hendras Budi Pamungkas di tahun 2006
yang berjudul Tinjauan Yuridis Terhadap Instruk-
si Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta
Nomor K.898/I/A/1975 tentang Penyeragaman
Policy Pemberian Hak atas Tanah kepada Seo-
rang WNI Non Pribumi
5
. Dalam penelitiannya,
Hendras menarik kesimpulan antara lain bahwa
kebijakan pertanahan yang diambil oleh Peme-
rintah Kota Yogyakarta dan Kantor Pertanahan
Kota Yogyakarta setelah keluarnya UU Kewar-
ganegaraan, mengenai pelayanan pertanahan
masih mengacu pada Instruksi 898/1975. Artinya
eksistensi kebijakan tersebut masih ada dan tetap
berlaku. Namun penelitian ini tidak mengkaji
kontekstualitas kebijakan dimaksud yang oleh
banyak kalangan hukum disebut sebagai aff ir-
mative action.
Permasalahan yang menggelitik kita semua
adalah bagaimanakah konsep aff irmative action
yang disebut-sebut sebagai diskriminasi positif
dalam kebijakan pertanahan di Daerah Istimewa
Yogyakarta? Bagaimana juga kontekstualitasnya
terhadap kebijakan pertanahan Indonesia secara
luas?
Metode penelitian yang dipergunakan adalah
penelitian hukum kualitatif dengan pendekatan
sosiologis/ empiris. Data-data yang dibutuhkan
dalam penelitian ini akan diperoleh melalui wa-
wancara, observasi dan studi literatur yang terkait
erat dengan praktek kebijakan pertanahan di
Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN)
wilayah Yogyakarta juga melalui bahan hukum
lain baik primer maupun sekunder.
B. Yogyakarta Sebagai Daerah
istimewa Bagi Indonesia
Berbicara soal Yogyakarta, maka kita tidak
bisa lepas dari sejarah panjang terbentuknya
negara Republik Indonesia pada masa lalu. Bagai-
mana sebuah kasultanan/ kerajaan/daerah swa-
praja yang memiliki kedaulatan sendiri secara
legowo menundukkan diri dan menyatakan
sebagai bagian dari negara Indonesia yang nota-
bene saat itu baru saja berdiri. DIY memiliki luas
3.185,80 km
2
dan berdasarkan sensus penduduk
2010 memiliki jumlah penduduk 3.452.390 jiwa
dengan proporsi 1.705.404 laki-laki dan 1.746.986
perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk
sebesar 1.084 jiwa per km2.
6
Padahal apabila ditilik
dari luas wilayah maupun kedaulatan pemerin-
tahan pada saat itu, bahkan posisi Kasultanan
Yogyakarta lebih luas dan mapan dari pada In-
donesia yang baru berdiri. Maka tidak menghe-
rankan apabila Yogyakarta menjadi pilihan
pertama sebagai lokasi pemindahan ibukota
negara Indonesia sebagaimana pernah terjadi saat
Jakarta (Batavia) dalam keadaan genting akibat
peperangan dengan Belanda di tahun 1946.
7
Posisi Yogyakarta bagi negara Indonesia secara
yuridis formil diakui oleh pemerintah melalui
penetapan Daerah Istimewa Yogyakarta berda-
5
Hendras Budi Pamungkas. 2006. Tinjauan Yuridis
Terhadap Instruksi Kepala Daerah Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor K.898/I/A/1975 tentang Penyera-
gaman Policy Pemberian Hak Atas Tanah Kepada Seorang
WNI Non Pribumi. Pustaka Agraria.org. Diakses tanggal
20 Desember 2012.
6
http://yogyakarta.bps.go.id/. Diakses tanggal 20
Desember 2012.
7
Sejarah mencatat, Indonesia pernah memindahkan
ibukota sebanyak 3 kali. Peristiwa ini terjadi setelah prok-
lamasi kemerdakaan. Setelah Indonesia mendeklarasikan
kemerdekaannya, situasi di negeri ini belum stabil. Ibukota
pernah dipindahkan ke Yogyakarta, Bukittinggi, dan Jakarta.
172 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
sarkan Undang-Undang No. 3 Tahun 1950 ten-
tang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta
yang mempunyai kewenangan mengatur rumah
tangganya sendiri termasuk masalah keagra-
riaan. Keistimewaan Yogyakarta diperkuat
dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
Pasal 225 yang menyatakan bahwa:
Daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan
diberikan otonomi khusus selain diatur dengan
undang-undang diberlakukan pula ketentuan khusus
yang diatur dengan undang-undang lain.
Begitu tingginya penghormatan dan penghar-
gaan pemerintah bagi Yogyakarta pada masa itu,
sehingga pemerintah menetapkan Yogyakarta
sebagai salah satu provinsi dengan status daerah
istimewa di samping Aceh. Banyak keistimewaan
lain yang bisa ditonjolkan dari Provinsi Yogya-
karta. Bahkan keistimewaan tersebut semakin
menonjol setelah disahkannya Undang-undang
Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan
Daerah Istimewa Yogyakarta.
8
C. Konsep Aff irmative Action di
Indonesia
Pengertian awal aff irmative action adalah
hukum dan kebijakan yang mensyaratkan dike-
nakannya kepada kelompok tertentu pemberian
kompensasi dan keistimewaan dalam kasus-
kasus tertentu guna mencapai representasi yang
lebih proporsional dalam beragam institusi dan
okupasi. Aff irmative action merupakan diskrimi-
nasi positif (positive discrimination) atau lang-
kah-langkah khusus yang dilakukan untuk mem-
percepat tercapainya keadilan dan kesetaraan.
Salah satu sarana terpenting untuk menerapkan-
nya adalah hukum. Karena jaminan pelaksana-
annya harus ada dalam konstitusi dan undang-
undang. Guna menjamin pemberlakuan hal
tersebut, UUD 1945 dalam Pasal 23 mengisya-
ratkan pelaksanaan kebijakan tersebut di Indo-
nesia.
Andri Rusta menjelaskan bahwa aff irmative
mempunyai tiga sasaran yaitu:
9
1. memberikan dampak positif kepada suatu
institusi agar lebih cakap memahami sekali-
gus mengeliminasi berbagai bentuk rasisme
dan seksisme di tempat kerja
2. agar institusi tersebut mampu mencegah
terjadinya bias gender maupun bias ras dalam
segala kesempatan
3. sifatnya lebih sementara tapi konsisten, ketika
sasaran untuk mencapai kegiatan telah ter-
capai, dan jika kelompok yang telah dilin-
dungi terintegrasi, maka kebijakan tersebut
bisa dicabut.
Dapat dikatakan bahwa penekanan aff irma-
tive action adalah adanya persamaan/equality
dalam kesempatan dan persamaan terhadap hasil
yang dicapai. Negara berkewajiban membuat
peraturan khusus bagi mereka yang karena kon-
disi dan rintangannya tidak dapat menerima
manfaat dari ketentuan yang bersifat netral tadi.
8
Berdasarkan UU No. 13 tahun 2012, keistimewaan
DIY meliputi tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas
dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur, kelemba-
gaan pemerintah daerah DIY, kebudayaan, pertanahan, dan
tata ruang.
9
Jurnal Perempuan #63 Catatan Perjuangan Politik
Perempuan: Afirmative Action. Diakses tanggal 25
Desember 2012. Ketentuan tentang affirmative action diatur,
yaitu dalam Bab X A tentang Hak Asasi Manusia pasal 28
H ayat (2) yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak
mendapatkan kemudahan dan perlakukan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna men-
capai persamaan dan keadilan. Pasal ini didasarkan atas
kesadaran bahwa satu peraturan yang netral, yang diber-
lakukan sama kepada seluruh kelompok masyarakat yang
berbeda keadaannya, akan menimbulkan kesempatan dan
manfaat yang berbeda yang berdampak lahirnya ketidak-
adilan. Dukungan terhadap affirmative action juga terdapat
dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
Tentang Hak Asasi Manusi yaitu Sistem pemilihan umum,
kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif, dan sistem
pengangkatan di bidang eksekutif, yudikatif, harus menjamin
keterwakilan wanita sesuai persyaratan yang ditentukan.
173 Widhiana Hestining Puri: Kontekstualitas Aff irmative .....: 169-180
Tindakan ini disandarkan pada fungsi hukum
sebagaimana dinyatakan oleh Roscoe Pound yak-
ni sebagai sarana untuk mencerminkan keter-
tiban dan keadilan (social control), serta melaku-
kan rekayasa sosial (social engineering) untuk
merubah perilaku masyarakat.
10
Istilah aff irmative action memiliki makna
ideologis. Sama sekali bukan berarti politik belas
kasihan. Namun memiliki sebuah cita-cita luhur
yang diharapkan di masa mendatang. Jika meli-
hat tujuan penerapan kebijakan ini adalah untuk
mencapai keadilan, maka Aristoteles membeda-
kan keadilan dalam 2 jenis.
11
1. Justisia distributive yang menghendaki setiap
orang mendapat apa yang menjadi haknya.
2. Justisia commutative yang menghendaki se-
tiap orang mendapatkan hak yang sama
banyaknya (keadilan menyamakan).
Indonesia memang menerapkan kebijakan
aff irmative dalam beberapa bidang kehidupan
bernegara. Kesemuanya ditetapkan pemerintah
sebagai upaya mewujudkan ciri/ prinsip negara
hukum (rechtstaat) yang disebutkan dalam
UUD 1945.
12
Orientasi dan tujuan utama dari
pelaksanaan aff irmative action oleh negara/ pe-
merintah semata-mata adalah untuk mencipta-
kan kedudukan yang seimbang diantara kelom-
pok masyarakat baik atas dasar gender, ras, faktor
ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Keten-
tuan tentang aff irmative action diatur juga
dalam Bab X A tentang Hak Asasi Manusia Pasal
28 H ayat (2) yang menyebutkan bahwa setiap
orang berhak mendapatkan kemudahan dan
perlakukan khusus untuk memperoleh kesem-
patan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan. Pasal ini didasarkan atas
kesadaran bahwa satu peraturan yang netral,
yang diberlakukan sama kepada seluruh kelom-
pok masyarakat yang berbeda keadaannya, akan
menimbulkan kesempatan dan manfaat yang
berbeda yang berdampak lahirnya ketidakadilan.
Negara berkewajiban membuat peraturan
khusus bagi mereka yang karena kondisi dan
rintangannya tidak dapat menerima manfaat
dari ketentuan yang bersifat netral tadi.
Beberapa kebijakan yang secara terbuka
diklaim pemerintah sebagai bentuk aff irmative
action di Indonesia diantaranya adalah:
1. Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang
Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan
DPRD (UU Pemilu Legislatif) telah mengako-
modasi tindakan af irmatif bagi perempuan.
Ditentukan bahwa dalam daftar calon legis-
latif yang diajukan oleh partai politik, mini-
mal harus terdiri dari 30% persen perempuan.
Hal ini juga diperkuat dengan beberapa
aturan hukum yang mengizinkan pelaksa-
naan kebijakan aff irmative tersebut dalam
kaitannya dengan gender. Hal ini sebagai-
mana diatur dalam UU RI No. 7 Tahun 1984
serta Konvensi Penghapusan Segala Ben-
tuk Diskriminasi terhadap Wanita;
2. Kebijakan nasional untuk percepatan pem-
bangunan sejumlah daerah tertinggal sebagai
suatu tindakan af irmatif (aff irmative action)
yang merupakan langkah strategis pemerin-
tah dalam upaya pemerataan pembangunan.
Berdasarkan sumber dari Kementerian
Negara Percepatan Daerah Tertinggal, saat ini
masih sebanyak 183 kabupaten di Indonesia
masih berstatus daerah tertinggal, sebagian
besar daerah tertinggal ini berada di kawasan
Indonesia bagian timur. Sehingga atas
daerah-daerah tersebut dilakukan kebijakan
diskriminasi untuk mempercepat kemajuan
10
Esmi Warassih, 2005. Sebagai sarana kontrol sosial
hukum berfungsi mempengaruhi warga masyarakat agar
bertingkah laku sejalan dengan apa yang telah digariskan
sebagai aturan hukum, termasuk nilai-nilai yang hidup
didalam masyarakat. hlm: 120.
11
Esmi Warassih., op.cit. hlm 24-25.
12
Lihat UUD 1945. Ditegaskan bahwa Negara Indo-
nesia adalah berdasarkan hukum (rechtstaat) dan bukan
berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat).
174 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
mereka menuju posisi setara dengan daerah
lain diantaranya melalui pengalokasian dana
pembangunan dari Kementerian Negara
Percepatan Daerah Tertinggal.
13
D. Kebijakan Pertanahan di Yogyakarta
Kebijakan pertanahan yang berlaku di
Yogyakarta dapat kita bedakan menjadi 2
periode:
1. Sebelum pemberlakuan UUPA
Sebagai daerah istimewa, Yogyakarta telah
mempunyai kebijakan pertanahan tersendiri.
Kebijakan ini diatur dalam UU No. 3 Tahun
1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa
Jogjakarta. Lebih spesif ik lagi, kebijakan
tersebut diatur dalam Peraturan Daerah
Nomor 5 Tahun 1954 tentang Hak Atas Tanah
di Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian
bagi Warga Negara Indonesia Keturunan
Tionghoa diatur dalam Instruksi Kepala
Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor K.898/
I/A/1975 tentang Penyeragaman Policy
Pemberian Hak atas tanah kepada seorang
WNI Non Pribumi sebagaimana dinyatakan:
Guna penyeragaman policy pemberian hak
atas tanah dalam wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta kepada seorang Warga negara
Indonesia non Pribumi, dengan ini diminta:
Apabila ada seorang Warga Negara Indone-
sia non Pribumi membeli tanah hak milik
rakyat, hendaknya diproseskan sebagaimana
biasa, ialah dengan melalui pelepasan hak,
sehingga tanahnya kembali menjadi tanah
negara yang dikuasai langsung oleh Peme-
rintah Daerah DIY dan kemudian yang
berkepentingan/melepaskan supaya menga-
jukan permohonan kepada Kepala Daerah
DIY untuk mendapatkan sesuatu hak.
2. Setelah lahirnya UUPA
Namun dalam perjalanan politik dan keta-
tanegaraan Indonesia, terjadi perubahan atas
konsep keistimewaan negara ini. Perubahan
rejim dari pemerintahan orde lama ke orde
baru menunjukkan juga konsep keagrariaan
yang akan dikembangkan. Komitmen untuk
mewujudkan negara kesatuan yang sentra-
listik dan utuh dengan prioritas penanganan
urusan pemerintahan terpusat mengha-
ruskan pemerintah untuk menyeragamkan
kebijakan pemerintahan bagi semua daerah
di Indonesia. Pada tahun 1984, pemerintah
memiliki komitmen kuat untuk menerapkan
UUPA sebagai payung hukum bagi pengelo-
laan dan pengaturan sumber agraria di selu-
ruh wilayah Indonesia. Komitmen ini ditandai
dengan upaya pemberlakuan UUPA secara
penuh di wilayah Yogyakarta berdasarkan
Keputusan Presiden No. 33 Tahun 1984, da-
lam Pasal 1 disebutkan:
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agrari a dan
peraturan pelaksanaannya, dinyatakan berlaku
sepenuhnya untuk seluruh wilayah Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Dan sebagai wilayah yang telah menyatakan
diri sebagai bagian dari Indonesia, aturan ini
juga di terapkan di Yogyakarta. Untuk pelak-
sanaannya dikeluarkannya Keputusan Men-
teri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 1984
tentang Pelaksanaan Pemberlakukan Sepe-
nuhnya Undang-undang Nomor 5 Tahun
1960 di Propinsi DIY. Selain itu juga diterbit-
kan Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 3
Tahun 1984 tentang Pelaksanaan Berlaku
Sepenuhnya Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1960 di Propinsi DIY. Namun, hal yang
menarik di Yogyakarta aturan hukum perta-
nahan lama masih diberlakukan sampai saat
ini. Dalam memberikan pelayanan perta-
nahan, dikenal adanya perbedaan antara WNI
13
http://www.pkb-majalengka.or.id/indeks/kemenag-
pdt-kembangkan-pertanian-di-daerah-tertinggal. Diakses
tanggal 2 Februari 2013.
175 Widhiana Hestining Puri: Kontekstualitas Aff irmative .....: 169-180
pribumi dan WNI keturunan. Hal ini diatur
dalam Instruksi Kepala Daerah Daerah Isti-
mewa Yogyakarta Nomor K.898/I/A/1975 ten-
tang Penyeragaman Policy Pemberian Hak
Atas Tanah Kepada Seseorang Warga Negara
Indonesia Non-Pribumi. Yang apabila dikaji
secara substansial justru akan terlihat adanya
pertentangan dengan kebijakan awal tentang
pemberlakuan UUPA di Yogyakarta. Kebi-
jakan pertanahan yang berlaku di Yogyakarta
memiliki kekhususan dan berbeda dengan
daerah lain yang lebih dikenal dengan istilah
aff irmative action. Berdasarkan instruksi ter-
sebut ditetapkan bahwa bagi warga negara
Indonesia non-pribumi hanya diperkenankan
untuk mempunyai hak atas tanah berupa Hak
Guna Bangunan atau Hak Pakai serta tidak
diperkenankan menjadi pemegang Hak Milik
atas tanah. Hal inipun dalam prakteknya
mengerucut pada WNI keturunan Tionghoa.
Ketentuan ini masih berlaku sampai sekarang
dan secara konsisten diterapkan oleh BPN di
wilayah Yogyakarta. Akibatnya sudah bisa
ditebak bahwa muncul banyak keluhan dan
pengaduan berkenaan dengan hal ini khu-
susnya oleh para WNI keturunan yang
mengalami kesulitan dalam memperoleh hak
milik atas tanah.
Warga negara Indonesia keturunan yang
tinggal dan berdomisili di wilayah Yogyakarta
mengalami kesulitan untuk memperoleh hak
milik atas tanah. Padahal secara yuridis formal,
mekanisme yang dilakukan untuk memperoleh
hak milik atas tanah telah dilakukan secara benar.
Sesuai dengan ketentuan UUPA, cara perolehan
hak milik dapat melalui 2 (dua) cara, pertama
melalui penetapan pemerintah. Dalam hal ini
didahului dengan adanya permohonan untuk
dapat memperoleh Hak Milik atas tanah untuk
obyek berupa tanah negara. Permohonan ini
akan ditindaklanjuti melalui keputusan pene-
tapan pemerintah untuk menolak ataupun
mengabulkan permohonannya. Cara kedua ada-
lah karena undang-undang. Terjadinya hak milik
karena ketentuan undang-undang dalam hal ini
adalah karena ketentuan konversi. Konversi
adalah penyesuaian hak atas tanah yang lama
baik yang berdasarkan Hukum Barat (Hak Barat)
dan Hukum Adat (Hak Indonesia) ke dalam
sistem hukum yang baru, yakni yang berda-
sarkan UUPA. Melalui UU ini akan dilihat kese-
suaian jenis hak atas tanah lama yang ada
dengan hak baru yang ditetapkan melalui UUPA.
Namun tentunya juga dengan melihat karakte-
ristik hak yang ada, misalnya syarat tentang sub-
yek hak yang berkaitan erat dengan kewargane-
garaannya. Perlu diperhatikan bahwa hak milik
hanya dapat dimiliki oleh orang Indonesia
dengan kewarganegaraan tunggal serta beberapa
badan hukum tertentu yang ditentukan menu-
rut peraturan undang-undang. Kesemua hak
milik yang muncul pertama kali tersebut wajib
didaftarkan untuk diterbitkan sertif ikat bukti
kepemilikan yang memiliki kekuatan pembuk-
tian kuat. Dari proses-proses awal terbitnya hak
milik pertama kali tersebut, dalam perjalanannya
akan terjadi peralihan baik melalui perbuatan
hukum maupun karena peristiwa hukum. Pera-
lihan hak milik melalui jual beli adalah hal yang
paling jamak terjadi sebagai bentuk peralihan
kepemilikan tanah. Melalui jual beli, akan terjadi
peralihan subyek pemegang hak milik dari pemi-
lik awal kepada pembeli tanah yang baru. Proses
pendaftaran tanah yang dilakukan selanjutnya
bertujuan untuk melakukan perubahan penye-
suaian data terhadap sertif ikat bukti kepemilikan
tanah dengan data pemilik yang baru. Pendaf-
taran tanah diatur dalam Peraturan Pemerintah
No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Selanjutnya peraturan ini ditindaklanjuti dengan
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN
Perkaban No. 3 Tahun 1997 tentang ketentuan
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 24
Tahun 1997 Tentang Pendaftaran tanah. Dalam
176 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
proses pendaftaran tanah/jual beli inilah umum-
nya mulai muncul permasalahan.
14
Karakteristik
hak milik sebagai hak yang terkuat dan terpenuh
atas tanah membuatnya berada pada tingkat
tertinggi sehingga secara otomatis ia tidak bisa
lagi di tingkatkan menjadi bentuk hak atas tanah
yang lain, namun justru bisa diturunkan kepada
bentuk lain apabila persyaratan tentang subyek
dan peruntukannya dinilai tidak sesuai oleh
pemerintah dalam hal ini BPN. Hal ini diatur
dalam Keputusan Menteri Negara Agraria/ Kepa-
la BPN No. 16 Tahun 1997 tentang Perubahan
Hak Milik Menjadi Hak Guna Bangunan/ Hak
Pakai dan Hak Guna Bangunan menjadi Hak
Pakai.
Kemungkinan hak milik menjadi HGU bisa
terjadi setelah melalui beberapa tahapan. Karena
seperti juga kita ketahui bahwa HGU hanya ter-
jadi di atas tanah negara. Artinya ada proses
pelepasan/penyerahan hak atas tanah kepada
negara untuk kemudian tanah tersebut dimo-
honkan HGUnya oleh pengusaha perkebunan.
Dan ketika HGU berakhirpun, tanah tersebut
akan kembali menjadi tanah negara. Konsekuen-
si selanjutnya ketika terjadi peralihan kepemi-
likan kepada WNI keturunan di wilayah Yogya-
karta, maka berdasarkan pada Instruksi Kepala
Daerah tersebut diberlakukan ketentuan perta-
nahan yang secara tidak langsung mempersa-
makan WNI keturunan dengan WNA. Keten-
tuan tentang perolehan hak atas tanah bagi
WNA di Indonesia juga diberlakukan kepada
WNI keturunan.
Bagan Proses Peralihan Hak Milik di
Yogyakarta
Sebagaimana disebutkan dibagian awal, BPN
yang bertindak sebagai pengelola administrasi
pertanahan dalam kegiatan pendaftaran tanah
selanjutnya melakukan penilaian untuk memas-
tikan bahwa persyaratan perolehan hak milik atas
tanah terpenuhi. Secara substansial berdasarkan
UUPA, maka dapat dikatakan tidak ada masalah.
Namun ketika ketentuan lama berupa Instruksi
Kepala Daerah tentang Penyeragaman Policy
Pemberian Hak Atas Tanah Kepada Seseorang
Warga Negara Indonesia Non-Pribumi maka
secara khusus mempersempit subyek hak milik
menjadi hanya warga negara Indonesia pribumi.
Dan kepada para pemohon hak milik yang meru-
pakan WNI keturunan diberikan hak atas tanah
dalam bentuk yang lain. Seperti halnya ketentuan
UUPA yang diberlakukan bagi WNA untuk
dapat memperoleh hak atas tanah. Hal ini masih
diikuti syarat yang wajib dilaksanakan seperti:
15
1. Pewarisan/hibah. Kepada mereka yang tidak
memenuhi persyaratan sebagai pemegang
hak milik atas tanah (subyeknya), diberikan
jangka waktu selama 1 (satu) tahun untuk
mengalihkan hak milik tersebut kepada or-
ang lain.
2. Ketentuan lain menerangkan bahwa terha-
dap WNA dimungkinkan menjadi pemegang
hak atas tanah di Indonesia dengan status hak
guna usaha atau hak pakai, sesuai peruntukan
tanah tersebut.
Seharusnya dengan pemberlakuan Undang-
undang No. 12 Tahun 2006 tentang Kewargane-
Tanah
Hak Milik
Peralihan
Subyek Pemohon WNI Pribumi Subyek Pemohon WNI Keturunan
Hak Milik Hak Pakai HGB
BPN
14
Hambali Thalib, 2009. Sanksi Pemidanaan dalam
Konflik Pertanahan, Kebijakan Alternatif Penyelesaian
Konflik Pertanahan di Luar Kodifikasi Hukum Pidana.
Jakarta: Prenada Media Group.
15
Lihat Pasal 21 UUPA.
177 Widhiana Hestining Puri: Kontekstualitas Aff irmative .....: 169-180
garaan, kita sudah tidak mengenal istilah WNI
keturunan. Karena berdasar UU ini, Indonesia
hanya mengenal pembagian penduduk dalam
WNI dan WNA. Penggolongan struktur masya-
rakat Indonesia pernah terjadi di Indonesia. Pada
masa penjajahan Belanda, di Indonesia dikenal
penggolongan masyarakat yang secara otomatis
juga akan berkaitan dengan hukum mana yang
akan berlaku atas golongan tersebut. Adalah
Pasal 163 Indische Staatsregeling (IS) yaitu sebuah
pasal yang mengatur pembagian golongan
dihadapan hukum pada jaman kolonial Belanda
di Indonesia. Pasal ini baru berlaku sejak Indische
Staatsregeling mulai berlaku pada tahun 1926.
Golongan masyarakat Indonesia pada waktu itu,
dibagi menjadi 3 golongan yaitu Golongan Ero-
pa, Golongan Timur Asing, dan Golongan
Indonesia (Bumiputera).
16
Adapun alasan perlu-
nya penggolongan masyarakat pada masa itu
adalah:
1. Kebutuhan masyarakat menghendakinya,
maka akan ditundukkan pada perundang-
undangan yang berlaku bagi Golongan Eropa.
2. Kebutuhan masyarakat menghendaki atau
berdasarkan kepentingan umum, maka pem-
bentuk ordonansi dapat mengadakan hukum
yang berlaku bagi orang Indonesia dan Timur
Asing atau bagian-bagian tersendiri dari
golongan itu, yang bukan hukum adat bukan
pula hukum Eropa melainkan hukum yang
diciptakan oleh Pembentuk UU sendiri.
Namun tentunya ketentuan ini sekarang
tidak lagi berlaku. Hanya saja, seolah ada feno-
mena hal yang serupa terjadi saat ini. Jika di masa
lalu pemerintah kolonial yang memberlakukan
aturan yang merugikan golongan lain, pemerin-
tah Yogyakarta juga membuat semacam peng-
golongan yang membawa konsekuensi serupa.
Pro dan kontra atas pemberlakuan kebijakan
pertanahan ini tentunya ada, bahkan kian
menguat. Pihak yang mendukung kebijakan ini
beralasan bahwa kebijakan yang ada merupakan
bentuk aff irmative action bagi masyarakat pri-
bumi Yogyakarta. Namun pihak yang menentang
kebijakan ini memiliki lebih banyak alasan yang
menguatkan. Pertimbangan yang dijadikan alas
an diantaranya adanya pernyataan penggunaan
UUPA untuk wilayah Yogyakarta, UU Kewarga-
negaraan, UU HAM, dan lain sebagainya. Bah-
kan penetapan UU keistimewaan Yogyakarta
beberapa waktu yang lalu juga memberikan im-
plikasi atas kebijakan ini di ranah implementasi.
E. Kontekstualitas Affirmative Action
Dalam Bidang Pertanahan
Kita tentunya sudah tidak asing dengan istilah
kontekstualitas yang seringkali muncul dalam
berbagai perbincangan dewasa ini. Kontekstuali-
tas berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia
berarti mengembalikan/melakukan kajian
dengan merujuk pada teks kalimat yang ada.
Konstitusi Indonesia mengadopsi prinsip perbe-
daan (difference principle), pada Pasal 28H ayat
(2) UUD 1945 yang berbunyi, Setiap orang ber-
hak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus
untuk memperoleh kesempatan dan manfaat
yang sama guna mencapai persamaan dan ke-
adilan. Hal ini menjadi dasar penerapan aff ir-
mative action atau positive discrimination secara
konstitusional. Sebagaimana telah dikemukakan
diawal bahwa aff irmative action ini bukan meru-
pakan kebijakan belas kasih namun dilaksa-
nakan untuk mencapai tujuan tertentu. Ada
beberapa faktor yang bisa kita gunakan untuk
menilai kebijakan pertanahan yang terkandung
dalam Instruksi Kepala Daerah Istimewa Yog-
yakarta Nomor K.898/I/A/1975 tentang Penye-
ragaman Policy Pemberian Hak atas tanah
kepada seorang WNI Non Pribumi:
1. Merupakan sebuah kebijakan yang memiliki
16
Boedi Harsono. 2003. Hukum Agraria Indonesia,
Sejarah Pembentukan Undang-undang Pokok Agraria, Isi
dan Pelaksanaannya. Jakarta: Djambatan. hlm 53.
178 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
tujuan tertentu dalam rangka mencapai kese-
taraan/kedudukan seimbang dari suatu
kelompok tertentu;
2. Konsisten dan memiliki jangka waktu yang
terbatas/bersifat sementara;
3. Adanya pengawasan.
Kita perlu mengupas kebijakan ini secara lebih
mendetail berdasarkan persyaratan sebuah
kebijakan disebut sebagai aff irmative action. Hal
pertama yang harus kita lihat adalah pada tujuan
implisit dari kebijakan ini. Kebijakan ini berusaha
melindungi tanah-tanah yang ada di Yogyakarta
agar tidak sepenuhnya dikuasai/dimiliki oleh
WNI non pribumi. Luas wilayah di Yogyakarta
sendiri adalah sekitar 3.185,80 km
2
dengan jum-
lah penduduk pada tahun 2010 sebanyak
3.452.390 jiwa. Dari data ini dapat kita rinci
dengan suku bangsa yang mendiami wilayah
Yogyakarta sebagaimana tercantum dalam tabel
berikut ini:
Tabel Komposisi Suku Bangsa di Wilayah
Yogyakarta
Sumber: Data BPS tahun 2010.
Dari data ini kita tentunya bisa melihat, bahwa
alasan penerapan kebijakan tersebut tentunya
bukan pada tinjauan kuantitas/jumlah populasi
antara warga pribumi dan non pribumi khu-
susnya Tionghoa. Data yang hampir sama juga
ditunjukkan pada periode tahun 1811-1816,
jumlah etnis Tionghoa di Yogyakarta sebesar
2.202 jiwa dengan rincian sebanyak 1.201 laki-laki
dan 1.001 perempuan.
17
Namun kita tentunya
paham, bahwa sejarah panjang perjuangan
bangsa Indonesia khususnya masyarakat
Yogyakarta melawan para penjajah, menempat-
kan masyarakat asli sebagai golongan dengan
tingkat pendidikan, ekonomi, sosial, dan bahkan
kesehatan yang rendah. Golongan seperti timur
asing/Tionghoa terkenal memiliki kemampuan
ekonomi, etos/budaya kerja, serta kemampuan
komunikasi dan bisnis yang sangat tinggi. Hal
ini tentunya membawa kekhawatiran tersendiri
dari pemerintah Yogyakarta. Sebagai kelompok
etnis terbesar ketiga di Yogyakarta, etnis Tiong-
hoa memang terkenal memiliki jiwa bisnis dan
perdagangan yang sangat kuat. Bahkan tidak
jarang untuk memperkuat jaringan bisnisnya
mereka tidak segan merantau atau membeli
properti khususnya tanah guna kelancaran
usahanya. Hal ini ditambah lagi dengan catatan
sejarah yang menunjukkan bahwa pernah ter-
jadi gerakan perlawanan dari etnis Tionghoa
pada masa pra kemerdekaan yang akhirnya
menyebabkan pecahnya Kerajaan Mataram.
Berbagai faktor tersebut tentunya menyumbang
lahirnya pemikiran dan kekhawatiran di masa
depan yang turut membawa dampak pada
penguasaan tanah yang luasnya terbatas namun
didesak dengan permintaan yang tinggi. Oleh
karenanya tidak mengherankan apabila asumsi
inilah yang mendasari keluarnya kebijakan pem-
batasan penguasaan tanah tersebut khususnya
No Suku Bangsa Jumlah Populasi
Konsentrasi
(%)
1 Jawa 3.020.157 96,82
2 Sunda 17.539 0,56
3 Melayu 10.706 0,34
4 Tionghoa 9.942 0,32
5 Batak 7.890 0,25
6 Minangkabau 3.504 0,11
7 Bali 3.076 0,10
8 Madura 2.739 0,09
9 Banjar 2.639 0,08
10 Bugis 2.208 0,07
11 Betawi 2.018 0,06
12 Banten 156 0,01
13 Lain-lain 36.769 1,18
17
Data diperoleh dari Catatan Raffles saat menjabat
sebagai Gubernur Jenderal di Jawa. Di mana saat itu masya-
rakat Tionghoa terkonsentrasi di sekitar pasar, di antara
benteng Belanda (Vredeburg) dan Kepatihan Danurejan.
179 Widhiana Hestining Puri: Kontekstualitas Aff irmative .....: 169-180
dikalangan pengambil kebijakan. Sedangkan
ditataran implementasi, BPN maupun Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT) di wilayah Yogya-
karta hanya sekedar melaksanakan ketentuan
dan aturan yang telah ada tersebut sampai
dengan sekarang.
Faktor kedua adalah bahwa kebijakan ini telah
berlangsung selama hampir 37 (tiga puluh tujuh)
tahun secara konsisten. Bahkan ditengah per-
kembangan dan menjamurnya berbagai pera-
turan perundangan yang silih berganti hadir
khususnya dalam bidang pertanahan, kebijakan
ini tetap berjalan dan eksis. Namun sedikit ironis
saat aff irmative action yang dinyatakan sebagai
sebuah kebijakan yang sifatnya sementara ini
tidak jelas kapan masa berlakunya. Hal ini ten-
tunya mengundang tanya, karena kebijakan ini
jika kita kaji dari sudut perundang-undangan
lain bisa dikatakan merupakan kebijakan yang
diskriminatif. Hal ini akan terdengar rancu juga
saat secara suka rela Yogyakarta menyatakan diri
menerima dan menyatakan berlaku sepenuhnya
UU No. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Dasar
Pokok-Pokok Agraria. Jika dengan dalih guna
memberi keadilan bagi masyarakat pribumi,
maka perlu penegasan mengenai jangka waktu
maupun ukuran pencapaian kesetaraan yang di-
maksud dan kiranya perlu menghilangkan stig-
ma negatif.
Kajian sejarah perlu juga dilakukan untuk
melihat nuansa politik lahirnya kebijakan yang
bersumber pada Instruksi Kepala Daerah DIY
tentang Penyeragaman Policy Hak Atas Tanah
Bagi Warga Negara Indonesia Non pribumi yang
dikeluarkan pada tahun 1975. Pada periode ter-
sebut (1954-1984) urusan agraria/pertanahan
merupakan urusan rumah tangga DIY. Dimana
Pemerintah DIY berhak memberikan hak milik
turun temurun atas bidang tanah kepada WNI.
Sehingga kebijakan yang ada tersebut tentunya
tidak bermasalah karena memang didasarkan
pada kewenangan yang dimiliki oleh Pemda.
Semangat mewujudkan prinsip equality before
the law dan keadilan melalui pencapaian kondisi
yang setara antar masyarakat pribumi yang serba
terbatas kondisi perekonomiannya serta WNI
keturunan yang memang sejak awal teristime-
wakan dengan kebijakan warisan Kolonial
Belanda. Latar belakang ideologis inilah yang
menggerakan Pemerintah Daerah dalam hal ini
untuk menerapkan kebijakan pertanahan yang
mampu mengayomi masyarakat dan agar tetap
memberi ruang bagi mereka yang memiliki ke-
mampuan ekonomi/modal yang terbatas. Na-
mun memang seiring dengan perkembangan
jaman serta perkembangan peraturan perun-
dang-undangan yang berlaku di Indonesia,
terdapat beberapa hal yang kiranya bertentangan
dengan semangat keadilan dan prinsip hukum
equality before the law. Hal ini sebagaimana
ketentuan tentang subjek hak milik dan peris-
tilahan WNI keturunan yang termuat dalam UU
No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan,
UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-pokok Agraria, UU No. 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia maupun juga PP No.
38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabu-
paten/Kota, dalam bidang pertanahan.
F. Kesimpulan
Konstitusi negara kita yaitu UUD 1945 telah
secara tegas menyatakan bahwa negara Indone-
sia adalah berdasarkan atas hukum sebagaimana
dimuat dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Konse-
kuensi logis yang tentunya harus kita terima
adalah bahwa berbagai elemen/ciri negara hu-
kum harus ada di Indonesia. Salah satu elemen
negara hukum yang berusaha diwujudkan di
Indonesia adalah prinsip equality before the law
atau prinsip persamaan kedudukan di depan
hukum. Pemaknaan prinsip ini harus kita lihat
secara luas dalam koridor tujuan negara hukum
180 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
18
Konsep affirmative action merupakan sebuah kebo-
lehan yang diijinkan dan dibenarkan dalam rangka mencapai
kesetaraan atas sebuah kondisi yang melibatkan kelompok
tertentu yang memiliki kedudukan tidak seimbang.
untuk mewujudkan welfare state. Prinsip ini
berusaha memberikan penghormatan setinggi-
tingginya terhadap harkat dan martabat manusia
termasuk hak asasi manusia untuk dihormati
secara seimbang di mata hukum. Prinsip ini tidak
memperkenankan segala bentuk perilaku tin-
dakan diskriminatif dalam segala bentuk dan
manifestasinya, kecuali tindakan-tindakan yang
bersifat khusus dan sementara yang dinamakan
aff irmative action guna mendorong dan mem-
percepat kelompok masyarakat tertentu atau
kelompok warga masyarakat tertentu untuk
mengejar kemajuan sehingga mencapai tingkat
perkembangan yang sama dan setara dengan
kelompok masyarakat kebanyakan yang sudah
jauh lebih maju.
18
Sasaran aff irmative action
terhadap WNI Pribumi lebih didasarkan pada
faktor ekonomi, kondisi wilayah/ geograf is, serta
tinjauan sejarah masa lalu. Namun dengan me-
lihat perkembangan peraturan perundang-un-
dangan yang berlaku di Indonesia serta sebagai
penghormatan atas hak asasi manusia di Indo-
nesia, kebijakan pertanahan ini perlu mendapat-
kan penyempurnaan. Perlu pembatasan yang
lebih tegas dan jelas mengenai jangka waktunya
serta keserasian dengan peraturan perundang-
undangan lainnya.
Daftar Pustaka
Ani Widyani Soetjipto. 2005. Politik Perempuan
Bukan Gerhana, Jurnal Perempuan #63
Catatan Perjuangan Politik Perempuan:
Af irmative Action. Diakses tanggal 25 De-
sember 2012.
Boedi Harsono. 2003. Hukum Agraria Indone-
sia, Sejarah Pembentukan Undang-undang
Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya. Ja-
karta: Djambatan.
Esmi Warassih. 2005. Pranata Hukum, Sebuah
Telaah Sosiologis. Semarang: PT. Suryan-
daru Utama.
Hambali Thalib. 2009. Sanksi Pemidanaan dalam
Konflik Pertanahan, Kebijakan Alternatif
Penyelesaian Konflik Pertanahan di Luar
Kodif ikasi Hukum Pidana. Jakarta: Prenada
Media Group
Hendras Budi Pamungkas. 2006. Tinjauan Yuri-
dis Terhadap Instruksi Kepala Daerah Da-
erah Istimewa Yogyakarta Nomor K.898/I/
A/1975 tentang Penyeragaman Policy
Pemberian Hak Atas Tanah Kepada Seorang
WNI Non Pribumi. Pustaka agrarian.org.
Diunduh tanggal 20 Desember 2012.
Kompas. 8 September 2009. Surat untuk Redaksi:
Status Hak Milik Tanah Bagi WNI Pribumi
dan Keturunan.
Oloan sitorus dan Rof iq Laksamana. 2009. Modul
Perbandingan Hukum Tanah. Yogyakarta:
STPN. Tidak diterbitkan.
Supriadi. 2007. Hukum Agraria. Jakarta: Sinar
Graf ika.
http://yogyakarta.bps.go.id/. Diakses tanggal 20
Desember 2012.
http://www.pkb-majalengka.or.id/indeks/
kemenag-pdt-kembangkan-pertanian-di-
daerah-tertinggal. Diakses tanggal 2
Februari 2013.
DILEMATIKA PELAKSANAAN OTONOMI
DI BIDANG PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM/AGRARIA
Sarjita*
Abstract Abstract Abstract Abstract Abstract: The management of natural/agrarian resources in the reformation era influence the governance of the government
after Amendment of the 1945 Constitution. The article is aimed at analyzing the crusial problems related to the right of the
central government on managing (the land, forestry, mining, and taxation) problems. Yet, at present, those duties are imple-
mented by the provincial and regional governments. The result of the analysis showed that the implementation caused the
decrease of the environmental quality, overlapping of services and so forth. Therefore, to make the regulations accord with the
constitution, the break law by the judges of the constitutional court was badly required.
Keywords Keywords Keywords Keywords Keywords: dilemma, implementation, management natural/agrarian resources.
Intisari Intisari Intisari Intisari Intisari: Dilematika pengelolaan sumber daya agraria/sumber daya alam pada era reformasi dengan sistem penyelenggaraan
pemerintahan yang menerapkan pembagian kewenangan pemerintahan oleh Pemerintah (pusat/sentralisasi), Pemerintahan Daerah
(desentralisasi), telah mewarnai tata kelola pemerintahan paska amademen UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Tulisan ini berkehendak mengurai beberapa persoalan krusial terkait pelaksanaan kewenangan pemerintahan (pertanahan, kehutanan,
pertambangan, dan perpajakan) yang semula merupakan kewenangan Pemerintah (Pusat), kemudian sebagian dilaksanakan,
didesentralisasikan kepada pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, beserta permasalahan yang timbul sebagai ikutannya. Hasil
analisis/kajian menunjukan, bahwa pelaksanaan kewenangan di bidang pengelolaan sumber daya agraria/alam terjadi slenco
alias tidak sinkron, bahkan belum optimal dan menyeluruh, serta mengakibatkan degradasi/penurunan kualitas lingkungan,
tumpang tindih (overlapping) penanganan pelayanan, dll. Oleh karena itu, untuk menjaga agar regulasi pengelolaan sumber daya
Agraria/Alam senafas dengan konstitusi, diperlukan terobosan break law oleh hakim MK melalui sarana judicial review.
Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci Kata kunci: Dilematika regulasi dan implementasi, tata kelola sumber daya agraria/alam, era reformasi.
A. Pengantar
Mencermati secara seksama, problematika
yang muncul dalam berbangsa dan bernegara
Indonesia, mendorong kita untuk lebih menda-
lami dan mengkaji amanah para pendiri negara
(the funding fathers) yang terkandung di dalam
konstitusi negara Republik Indonesia (UUD
1945). Konstitusi tersebut merupakan hasil ke-
adaan materiil dan spiritual masa yang berlang-
sung saat dibentuk UUD 1945 sebagai dokumen
formal, tertulis serta mengisyaratkan hal-hal
sebagai berikut: 1) hasil perjuangan politik bangsa
di waktu lampau; 2) tingkat-tingkat tertinggi per-
kembangan ketatanegaraan bangsa; 3) pan-
dangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwu-
judkan baik untuk waktu sekarang maupun
untuk masa yang akan datang; dan 4) suatu ke-
inginan dengan mana perkembangan kehi-
dupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.
Dengan memperhatikan secara substantif
UUD 1945, maka sangat benar dan tepat apa yang
dikemukakn oleh N. Navi Pillay (Komisioner
* Dosen/Ketua Jurusan Manajemen Pertanahan pada
STPN dan Dosen Luar Biasa Mata Kuliah HTN, Hukum
Kepartaian dan Pemilu serta Hukum Konstitusi pada Fakul-
tas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
182 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa) seba-
gaimana dilontarkan pada Bali Democracy Fo-
rum: 8-9 November 2012 di Nusa Dua Bali. Beliau
menyatakan bahwa Pemerintah harus melaksa-
nakan konstitusi, termasuk menunjukan bahwa
seluruh peraturan harus mematuhi konstitusi.
Pemerintah juga harus memastikan bahwa setiap
orang yang tinggal di Indonesia dilindungi hak
azasinya.
1
Realitas sosial yang muncul, menunjukan
telah terjadi kecenderungan dalam formulasi/
perumusan regulasi di bidang pengelolaan sum-
berdaya alam/agraria, yaitu mengalami krisis
orientasi harmonisasi dan keberlanjutan yang
bersifat krusial. Hal tersebut dibuktikan dengan
telah dikabulkannya oleh Mahkamah Konstitusi
terkait dengan pengujian/judicial review ter-
hadap beberapa UU yang mengatur pengelolaan
SDA dan secara substantif bertentangan dengan
UUD 1945. Beberapa UU terkait dengan penge-
lolaan Sumberdaya Alam/Agraria tersebut,
antara lain sederet Putusan MK, masing-masing
Nomor 10/PUU-X/2012 tertanggal 20 November
2012 UU Nomor 4 Tahun 2009 ttg Minerba,
Putusan MK Nomor 45/PUU-IX/2011 tertanggal
9 Pebruari 2012 UU Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, Putusan MK Nomor 3/PUU-
VIII/2010 tertanggal 9 Juni 2012- UU Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil, Putusan MK Nomor 55/
PUU-VIII/2010 UU Nomor 18 Tahun 2004 ten-
tang Perkebunan, Putusan MK Nomor 21/PUU-
V/2008, PUU Nomor 22/PUU-V/2008 tertanggal
25 Maret 2008 UU Nomor 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal, Putusan MK Nomor
02/PUU-I/2003 UU Nomor 21 Tahun 2002
tentang Migas, Putusan MK Nomor 36/PUU-X/
2012 tertanggal 13 November 2012UU Nomor
22 Tahun 2001 tentang Migas, dan hanya satu
UU yang lolos dari judicial review (ditolak/tidak
dikabulkan) MK, yaitu Putusan MK Nomor 58/
PUU-II/2004, 59/PUU-II/2004, 60/PUU-II/2004,
63/PUU-II/2004 UU Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumber Daya Air.
Dengan mencermati secara substantif dalil
dan alasan beberapa putusan MK tersebut,
mengisyaratkan kepada Badan Legislatif (DPR)
untuk secara jernih memikirkan ulang bagai-
mana menjalankan/mengemban amanah UUD
1945 agar keberadaan Konstitusi (UUD 1945)
benar-benar menampung/mengejawantahkan
suatu keinginan dengan mana perkembangan
kehidupan ketatanegaraan bangsa yang hendak
dipimpin.
Sudahkan terwujud sendi-sendi kehidupan
yang berkeadilan di dalam masyarakat sebagai
tugas utama negara? Tugas negara yang utama
2
yaitu, Pertama: memberikan perlindungan kepa-
da penduduk dalam wilayah tertentu; Kedua:
mendukung atas atau langsung menyediakan
pelbagai pelayanan kehidupan masyarakat dalam
bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan; Ketiga:
menjadi wasit yang tidak memihak antara pihak-
pihak yang berkonflik dalam masyarakat serta
menyediakan suatu sistem yudisial yang men-
jamin keadilan dasar dalam hubungan sosial
masyarakat.
Realitas lain yang ditemukan adalah, terja-
dinya berbagai tindak pidana, diberbagai lini,
baik legilatif, eksekutif maupun yudikatif, di
ranah pemerintah pusat, daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota, bahkan telah merasuk ke pe-
merintah desa. Di Bidang eksekutif, dan legislatif,
dan yudikatif ternyata apa yang dilaksanakan
oleh para pemimpin, wakil kita di parlemen,
1
Koran Tempo, Seluruh Peraturan Harus Patuhi
Konstitusi, 16 November 2012, hlm. A14.
2
Frans Magnis Suseno, 2001. Etika Politik Prinsip-
Prinsip Moral dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, hlm. 316-317.
183 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
bahkan yang seharusnya memberikan keadilan
sebagai wakil Tuhan di bumi (hakim) banyak
yang masih tidak nyambung alias slenco
3
yang
terjadi dalam hal korupsi, bahkan dalam tata poli-
tik. Kondisi yang demikian ini, besar kemung-
kinan terjadi pula di lingkungan sekitar kita,
cuma mau melihat secara jernih atau tidak
dengan hati nurani. Tidak jarang pula kemam-
puan melihat dengan mata hati atau biso ru-
mongso dalam menyikapi persoalan telah tum-
pul, sebaliknya sikap rumongso biso yang akhir-
nya masuk ke ranah panca indra yang akhirnya
tidak lagi mengilhami yang seharusnya untuk
menangkap makna yang sejatinya, untuk apa
mereka sebenarnya dipilih menjadi pemimpin,
wakil rakyat dan Tuhan di bumi menjadi terge-
rus atau sirna? Jadi, slenco telah merambah
hampir di setiap perilaku kehidupan manusia
dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
kuncinya satu yaitu masihkah mempunyai rasa
malu dan mau hidup sederhana.
Demikian pula, kita susah menemukan lagi
sosok/f igur pimpinan atau wakil rakyat yang
sepadan dengan tokoh Sukrasana
4
dalam
kehidupan saat ini. Sukrasana, adalah tokoh
dalam pewayangan yang buruk muka tetapi sakti
dan berwatak mulia, mrantasi alias memberi
solusi. Berorientasi untuk mewujudkan nilai-
nilai ideal kehidupan, pencapaian cita-cita yang
membawa kemaslahatan bagi orang banyak.
Yang terjadi sebaliknya muncul tokoh ala Arju-
na baik di Pusat maupun di daerah yang dengan
polesan gincunya, yang dibisiki oleh para rak-
seksorakseksi untuk menggunakan kas kera-
jaan demi kepentingan diri sendiri dan keluar-
ganya atau kroni-kroninya, mereka mengerogoti
secara sistematis mulai dari saat penganggaran
sampai eksekusinya.
Dampak dari semua itu adalah semakin me-
lemahnya semangat untuk mencapai atau
mewujudkan sendi-sendi berkehidupan yang
berkeadilan bagi masyarakat. A. Zen Umar
Purba,
5
menyatakan bahwa Tidak mudah
berusaha di Indonesia, Hasil survei berbagai
peraturan di 183 negara itu menempatkan Indo-
nesia di posisi ke-129 pada tahun 2012, yang
berarti mundur dari kursi 126 untuk tahun 2011.
Selanjutnya diukur dari 10 pembukaan bidang
usaha, pengurusan izin usaha kontruksi, pem-
prosesan listrik, pendaftaran properti, perolehan
kredit, perlindungan investor, pembayaran pajak,
perdagangan lintas negara, pelaksanaan kontrak
dan penutupan usaha. Kemudian dikaji dari
kemudahan berusaha secara keseluruhan,
menempatkan Indonesia berada pada posisi pal-
ing buruk/urutan ke-155 terkait di bidang usaha
dan pelaksanaan kontrak. Pendapat senada,
dikemukakan oleh Nico Kanter
6
(C.E.O PT. Vale
Indonesia), perusahaann yang bergerak di bi-
dang pertambangan Nikel dan Bijih Besi.
Menyatakan bahwa masih peliknya Kepastian
hukum. Belum lagi soal pinjam pakai kawasan
hutan, merupakan urusan yang cukup pelik
karena melibatkan dari pemerintah kabupaten-
Pusat, dan harus dapat menjebatani antara kepen-
tingan investasi perusahaan, pemerintah dan
pemodal. Titik krusialnya terletak pada regulasi
dan kebijakan serta implementasi di lapangan, dan
bersentuhan dengan masyarakat hukum adat.
Berangkat dari beberapa uraian/paparan ter-
sebut di atas, dalam makalah ini akan disajikan
problematika regulasi dan solusi otonomi/pelim-
pahan wewenang pengelolaan di bBidang Sum-
berdaya Alam/Agraria.
3
Sindhunata, Slemco, Kompas, 2013.
4
Indra Tranggono, Mencari Sukrasana, Kompas,
2013.
5
Zen Umar Purba, Tidak Mudah berusaha di Indo-
nesia. Koran Tempo, 19 November 2012, hlm. A8.
6
Nico Kanter, Peliknya Kepastian Hukum,
Kompas, 4 Februari 2013.
184 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
B. Menuju Kepastian dan Keadilan
Tenurial
Kita memerlukan sebuah arah perubahan
kebijakan penguasaan kawasan hutan untuk
mencapai kepastian dan keadilan tenurial. Ide
pemikiran ini pernah di sampikan oleh berbagai
kelompok Lembaga Swadaya Masyarat/LSM
(HuMa, WG-Tenure, FKKM, KPSHK, AMAN,
Karsa, dll.) pada tahun 2011. Kemudian pada awal
tahun 2013 disuarakan dalam Petisi/Surat Ter-
buka kepada Presiden terkait dengan Forum
Indonesia Untuk Keadilan Agraria yang diketuai
oleh Dr. Soerjo Adiwibowo dengan dukungan
para Akademisi Perguruan Tinggi yang konsen
pada masalah/persoalan Agraria, Peneliti, Tokoh-
Tokoh Masyarakat (terlampir). Para pegiat agra-
ria itu menyampaikan gagasan berupa 3 (tiga)
arah perubahan yaitu:
1. Perbaikan kebijakan dan percepatan proses
pengukuhan kawasan hutan;
a. Pengukuhan Kawasan Hutan
Regulasi pengukuhan kawasan hutan,
semua diatur dalam Permenhut No. P.50/
Menhut-II/2009 tentang Penegasan Status
dan Fungsi Kawasan Hutan, Permenhut
Nomor P.50/Menhut-II/20011 tentang
Pengukuhan Kawasan Hutan. Kedua pera-
turan Menteri Kehutanan tersebut, telah
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku
berdasarkan ketentuan Pasal 64 Permen-
hut Nomor P.44/Menhut-II/2012 tertanggal
11 Desember 2012 tentang Pengukuhan
Kawasan Hutan. Untuk memberikan ke-
pastian hukum atas kawasan hutan, dila-
kukan proses pengukuhan kawasan hutan.
Tahapan atau proses pengukuhan ka-
wasan hutan ini diawali dengan penun-
jukan kawasan hutan, penataan batas ka-
wasan hutan, penetapan kawasan hutan.
Selanjutnya ditindaklanjuti dengan ke-
giatan penunjukan dengan Keputusan
Manteri, pelaksanaan tata batas; pembu-
atan Berita Acara Tata Batas Kawasan
Hutan yang ditandatangani oleh Panitia
Tata Batas atau Pejabat yang berwenang;
dan penetapan dengan Keputusan Men-
teri.
Penunjukan kawasan hutan untuk wila-
yah tertentu yang secara parsial dapat
dilakukan pada areal bukan kawasan hu-
tan yang berasal dari:
1) Lahan pengganti dari tukar-menukar
kawasan hutan, dilakukan setelah Beri-
ta Acara Tukar menukar Kawasan
Hutan ditandatangani oleh Dirjend atas
nama Menteri bersama pemohon;
2) Lahan kompensasi dari izin pinjam
pakai kawasan hutan dengan kom-
pensasi lahan, dilakukan setelah Berita
Acara Serah Terima Lahan Kompensasi
ditandatangani oleh Dirjend atas nama
Menteri bersama pemohon;
3) Tanah timbul;
4) Tanah milik yang diserahkan secara
sukarela, maka menteri dapat langsung
menunjuk sebagai kawasan hutan; atau
5) Tanah selain dimaksud pada angka 1 s/
d 3 sesuai ketentuan peraturan perun-
dang-undangan.
Adapun syarat-syarat untuk Penunjukan
Kawasan Hutan ada usulan atau rekomendasi
gubernur dan/atau bupati/walikota (dalam hal
usulan dilakukan oleh gubernur, maka reko-
mendasi oleh bupati/walikota, sebaliknya jika
usulan dari bupati/walikoat, maka rekomendasi
oleh gubernur. Khusus untuk usulan yang ta-
nahnya berasal dari lahan kkompensasi, maka
rekomendasi diberikan oleh gubernur atau
bupati/walikota); dan secara teknis dapat dija-
dikan hutan.
Dalam rangka pengukuhan kawasan hutan
di dalamnya terdapat hak-hak pihak ketiga, maka
terlebih dahulu dilakukan tahapan berupa
inventarisasi, identivikasi dan penyelesaian
185 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
hak-hak Pihak ketiga. Hak-hak pihak ketiga
dibuktikan dengan alat bukti tertulis atau tidak
tertulis. Bukti tertulis (Sertipikat Hak Atas
Tanah) meliputi Hak Milik, Hak Guna Usaha,
Hak Guna Bangunan, HakPakai, dan Hak Penge-
lolaan. Sedangkan alat bukti tidak tertulis
lainnya (Selain Sertipikat Hak Atas Tanah),
seperti hak eigendom, optal, erfpacht, petuk pa-
jak bumi/landrente, girik, pilil, kekitir, Verponding
Indonesia dan alas hak yang dipersamakan
dengan itu; Surat Keterangan Riwayat Tanah
yang dibuat oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan; atau lain-lain bentuk alat pem-
buktian tertulis dengan nama apapun juga seba-
gaimana dimaksud dalam Pasal II, Pasal VI, dan
Pasal VII Ketentuan-Ketentuan Konversi UU
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. (Ban-
dingkan dengan alat bukti tidak tertulis
yang dimaksud dalam Pasal 24 PP Nomor 24
Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah Jo.
Pasal 60 (Sistematik) dan 76 (Sporadik)
PMNA/Ka. BPN Nomor 3 Tahun 1997 Jis. Per-
kaban Nomor 3 Tahun 2012).
7
Untuk memperkuat keabsahan alat bukti
tersebut, maka harus disertai Klarifikasi dari
instansi yang membidangi urusan perta-
nahan sesuai dengan kewenangannya.
Permenhut Nomor P.44/Permenhut-II/2012
ini juga mengakomodasikan alat-alat bukti tidak
tertulis yang idlakukan dengan ketentuan sebagai
berikut:
1) Permukiman, fasilitas umum, fasilitas sosial
yang berdasarkan sejarah keberadaannya
sudah ada sebelum penunjukan kawasan
hutan;
2) Permukiman, fasilitas umum, fasilitas sosial
dalam desa/kampung yang berdasarkan se-
jarah keberadaannya ada setelah penun-
jukan kawasan hutan dapat dikeluarkan dari
kawasan hutan dengan kriteria:
a) Telah ditetapkan dalam Perda, dan
b) Tercatat pada statistik Desa/Kalurahan; dan
c) Penduduk di atas 10 (sepuluh) KK dan
terdiri dari minimal 10 (sepuluh) rumah.
d) Ketentuan tersebut tidak berlaku pada
provinsi yang luas kawasan hutannya di
bawah 30% (per seratus).
Keberadaan permukiman fasilitas umum,
fasilitas sosial tersebut di atas didukung dengan
citra penginderaan jauh resolusi menengah sam-
pai tinggi dan menjadi bagian yang tidak terpi-
sahkan dalam Berita Acara Tata batas.
Hal yang perlu mendapat, perhatian yaitu ter-
kait dengan pendistribusian Dokumen Pengu-
kuhan Kawasan Hutan. Mengingat bahwa areal
batas kawasan hutan selalu bersinggungan/ber-
batasan dengan otoritas pertanahan, maka ada
baiknya jika Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota
(di tingkat Daerah) atau secara nasional di tingkat
Pusat (BPN-RI) memperoleh salinan tentang
penetapan Kawasan Hutan sebagai bahan
pertimbangan bagi aparatur BPN untuk
pengambilan kebijakan pengelolan perta-
nahan yang berbatasan dengan kawasan
hutan. Dengan mekanisme ini, maka akan
mereduksi timbulnya konf lik pertanahan
dengan otoritas Kementerian Kehutanan.
Pasal 57 Ketentuan peralihan Permenhut
Nomor 44/Permenhut-II/2012 menyebutkan,
7
Menurut penulis sudah merujuk pada ketentuan
UUPA dan Peraturan pelaksanannya, namun masih terdapat
alat-alat bukti tertulis yang belum diakomodasikan oleh
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/Permenhut-
II/2012, seperti halnya surat bukti hak milik yang diterbitkan
berdasarkan Peratutran Daerah Swapradja; surat keputusan
pemberian HM dari pejabat yang berwenang baik sbeleum
atau sejak berlakunya IIPA yang tidak diserati kewajiban
untuk mendaftarkan hak yang diberikan, tetapi telah dipenuhi
kewajiban yang disebutkan di dalamnya, akta pemindahan
hak yang dibuat di bawah tangan yang dibubhi tanda kesak-
sian oleh Kepala Adat/Desa/Kalurahan yang dibuat sebe-
lum berlakunya PP Nomor 24 Tahun 1997 Jo. PMNA/
Ka. BPN Nomor 3 Tahun 1997 dengan disertai alas hak
yang dialihkan, atau akta pemindahan hak atas tanah yang
dibuat oleh PPAT yang tanahnya belum dibukukan dengan
disertai alas hak yang dialihkan.
186 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
bahwa Terhadap hak atas tanah yang diterbitkan
oleh pejabat yang berwenang sebelum diterbit-
kannya peta register hutan, penunjukan parsial,
Rencana Pengukuhan dan Penggunaan Hutan
(RPPH)/Tata Guna Hutan Kesepkatan (TGHK)
yang merupakan lampiran dari Keputusan
Menteri Pertanian/Kehutanantentang Penun-
jukan areal hutan di provinsi merupakan ka-
wasan hutan, maka hak atas tanah diakui dan
dikeluarkan keberadaannya dari kawasan
hutan (enclave).
Hal-hal lain yang perlu mendapat pencer-
matan, yaitu:
a) Mekanisme pengukuhan kawasan hutan
selayaknya jika memberikan ruang partisipasi
yang sangat optimal bagi masyarakat, khu-
susnya masyarakat hukum adat. Pengaturan
mengenai kelembagaan, prosedur/meka-
nisme partisipasi, dan kriterianya.
b) Menerapkan UU Keterbukaan Informasi
Publik (KIP), untuk membuka ruang akses
masyarakat luas pada dokumen-dokumen
Berita Acara penataan batas Kawasan hutan.
2. Penyelesaian konflik kehutanan
Konflik tenurial kehuatanan hampir merata
terjadi di seluruh Indonesia. Konflik kehutanan
jelas akan berdampak pada terganggungya ke-
pastian hukum di bidang usaha/investasi khu-
susnya bagi pemegang izin di bidang kehutanan
dan/atau perizinan di bidang pertanahan yang
arealnya berbatasan dengan Kawasan hutan.
Konfli tersebut, disebabakan oleh berbagai hal,
seperti pelanggaran terhadap prosedur penun-
jukan kawasan hutan era/rezim sebelum dike-
luarkannya Keputusan Mahkamah Konstitusi
Nomor Nomor 45/PUU-IX/2011 tertanggal 9
Pebruari 2012 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan, Klaim wilayah hutan sebagai hutan
negara secara sepihak oleh Kementerian kehu-
tanan maupun pemerintahan Kolonial Belanda.
Kondisi tersebut diperparah lagi dengan ke-
bijakan Departemen/Kementerian Kehuatanan,
menerbitkan perizinan kepada Pihak ketiga (lain)
dengan menaf ikan/menegasikan keberadaan
masyarakat hukum adat. Terkait kriteria kebe-
radaanya menurut ketentuan Penjelasan Pasal
67 UU Nomor 41 Tahun 1999, mustahil untuk
terpenuhi, khsususnya terkait persyaratan
keberadaan lembaga peradilan adat, sebagaimana
telah kita ketahui bersama bahwa keberadaan
lembaga peradilan adat telah digantikan oleh
Peradilan Negara (UU Darurat Nomor 1 Tahun
1951 tentang Penghapusan Peradilan Adat).
Penanganan dan penyelesaian konflik kehu-
tanan yang berbenturan dengan eksistensi
masyarakat hukum adat maupun pihak lainnya,
akan berdampak positif, tidak hanya pada upaya
membuka akses ksejahteraan bagi masyarakat,
tetapi juga memberikan kepastian hukum
berusaha bagi pemegang izin.
Secara garis besar tipologi konflik tenurial
kehutanan dapat dibedakan berdasarkan pihak-
pihak yang terlibat, yaitu:
a) Konf lik antara masyarakat hukum adat
dengan Kementerian Kehutanan, sehu-
bungan dengan penunjukan dan/atau pene-
tapan kawasan hutan adat sebagai kawasan
hutan negara. Perlu kami tegaskan bahwa
lebensraum/wewengkon /wilayah masayara-
kat hukum adat jangan hanya dipahami/
dimaknai objeknya sebagai tanah saja,
melainkan juga hutan, perairan pedalaman
(Sungai, danau) maupun perairan luar (Pan-
tai/pesisir).
b) Konf lik antara masyarakat hukum adat
dengan Kementerian kehutanan dan/atau
Badan Pertanahan Nasional. Misalnya konflik
karena penerbitan bukti hak atas tanah pada
areal wilayah masyarakat hukum adat, dan
diklasif ikasikan sebagai kawasan hutan.
c) Konf lik antara masyarakat Transmigran
dengan masyarakat (adat/Lokal) dan/atau
kementerian Kehutanan sebagai Kawasan
Hutan.
187 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
d) Konf lik antara masyarakat hukum adat
dengan petani peladang berpindah-pindaha
atau karena adanya mitigasi bencana;
e) Konf lik antara Pemerintah Desa dengan
Kementerian Kehutanan;
f ) Konflik atara spekulan tanah dengan melibat-
kan elite politik melawan Kementerian kehu-
tanan;
g) Konf lik antara masyarakat lokal dengan
insvestor pemegang izin kehutanan;
h) Konflik antara investor pemegang izin Ke-
menterian Kehutanan dengan Investor Peme-
gang Izin dari Otoritas BPN-RI. (Dahulu
antara Pemegang HPH/Kementerian Kehu-
tanan dengan Pemegang HGU/BPN-RI dan
Kementerian Pertanian dan Perkebunan, dan
kemungkinan juga dengan Pemegang izin di
bidang Pertambangan/KP Kementerian
ESDM)
i) Konflik kehutanan terkait dengan pember-
lakukan Perda Tata Ruang Wilayah Kab/Kota,
Provinsi.
Penanganan konf lik kehutanan tersebut
dapat dilakukan dengan merujuk pada substansi
Ketetapan MPR RI Nomor IX/MPR/2001 tentang
Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber-
daya Alam. Meskipun telah dibentuk Tim Me-
diasi Konf lik Kehutanan dengan Keputusan
Manteri kehutanan Nomor SK. 254/Menhut-II/
2008, masih perlu dilakukan perbaikan dan
pembenahan lebih lanjut, dengan mengadopsi
prinsip-prinsip kearifan lokal dan substansi
PERMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Mediasi
di Pengadilan. Disamping itu koordinasi lintas
sektor dalam perumusan kebijakan dan pembe-
rian perizinan sangat membantu mereduksi ter-
jadinya konflik di kemudian hari. Jika dimung-
kinkan dibentuk lembaga yang khusus me-
nangani korban karena kebijakan sektor
Kementerian Kehutanan yang tujuannya mem-
berikan perlindungan korban kejahatan karena
pola penunjukan kawasan hutan yang menga-
baikan hak-hak dasar warganegara, seperti hak-
hak masyarakat hukum adat dengan menerap-
kan dan mempertimbangkan akademisi pergu-
ruan tinggi yang memahami dan ahli di bidang
victimologi.
3. Perluasan wilayah kelola rakyat dan pening-
katan kesejahteraan masyarakat adat dan
masyarakat lokal lainnya.
Memperhatikan hasil Identif ikasi Desa Dalam
Kawasan Hutan pada Tahun 2008 dan Tahun
2009, keberadaan Desa/Kelurahan diperoleh
kriteria 3 (tiga), yaitu:
a) Desa/Kelurahan di dalam kawasan hutan,
yaitu Desa/Kelurahan yang letaknya di
tengah atau di kelilingi kawasan hutan baik
desa yang sudah dienclave maupun yang
belum;
b) Desa/Kelurahan di tepi kawasan hutan a,
yaitu desa/kelurahan yang letaknya di tepi,
atau di pinggir kawasan hutan, atau ber-
batasan dengan kawasan hutan;
c) Desa/Kelurahan di luar kawasan hutan,
yaitu desa/kelurahan letaknya jauh dari
kawasan hutan.
Dari hasil identisikasi tersebut diketahui
bahwa pada tahun 2007 terdapat 31.957 desa/
kelurahan di dalam kawasan hutan dari sekitar
15 Provinsi, dan terdapat 7.943 Desa/kelurahan
yang lokasinya/letaknya di tepi kawasan hutan.
8
Selanjutnya pada tahun 2009 terdapat Desa/
Kelurahan sebanyak 1.500 yang lokasi/letaknya
di dalam kawasan hutan dan 8.602 desa/
kelurahan yang lokasi/letaknya di tepi kawasan
hutan.
9
Beberapa Program Pemberdayaan
8
Pusat Rencana Statistik Kehutanan Departemen
Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian BPS,
2007. Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007, hlm.
14.
9
Pusat Rencana Statistik Kehutanan Departemen Ke-
hutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian BPS, 2009.
Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2009. Jakarta, hlm.
18.
188 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
masyarakat yang dilakukan oleh Kementerian
Kehutanan, seperti Hutan Kemasyarakatan
(HKm), Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat
(HTR) dan Kemitraan. Jika diperlukan mela-
kukan koordinasi dengan lembaga keuangan/
perbankan atau Pemerintah Daerah, dll., maka
untuk pendampingan sosial, ekonomi, modal, insfra-
struktur pedesaan sebagai stimulan. Para pelaku
usaha di bidang kehutanan sebagai bagian dari
badan hukum (PT) agar menerapkan ketentuan
PP Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung
Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan
Terbatas. Dalam PP tertsebut ditegaskan bahwa
Perseroan terbatas sebagai badan hukum yang
merupakan persekutuan modal, didirikan berda-
sarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha
dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi
dalam saham dan memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dengan UU Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas diwajibkan bagi
Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya
di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber
daya alam adalah perseroan yang tidak menge-
lola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam,
tetapi kegiatyanny usahanya berdampak pada
fungsi kemampuan sumberdaya alam termasuk
pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan men-
jalankan perusahaan berdasarkan Undang-
Undang harus dimaknai dengan ruang lingkup
kegiatan usaha di bidang perindustrian, kehu-
tanan, miyak dan gas bumi, BUMN, Usaha Panas
Bumi, Sumber Daya Air, pertambangan mineral
dan batubara, ketenagalistrikan, perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup, larangan
praktiik monopoli, dan persaingan usaha tidak
sehat, HAM, Ketengakerjaan, serta perlindungan
konsumen. Upaya lain yang masih dapat dilaku-
kan dan ditingkatkan yaitu percepatan dan per-
luasan wilayah kelola masyarakat lokal di sekitar
hutan dengan program atsu sekama HKm,
Hutan Desa, HTR, dll.
C. Pelaksanaan Kewenangan Daerah
di Bidang Pengelolaan Sumberdaya
Alam
Ritme penyelenggaraan kewenangan di
bidang pemerintahan yang telah dan sedang
diterapkan adalah sistem Sentralisasi/Kekuasaan
pemerintahan terpusat di Jakarta (Orde Lama-
Orda Baru), Desentralisasi, Dekonsentrasi dan
Tugas Perbantuan (Medebewind) berjalan
setelah Era Reformasi dengan diberlakukannya
UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah yang kemudian terjadi gejolak dalam
implementasinya, sehiongga dilakukan penyem-
purnaan dengan UU Nomor 32 Tahun 2004. UU
Nomor 32 Tahun 2004 ini kemudian ditindak
lanjuti dengan PP Nomor 38 tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Peme-
rintah Pusat, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
1. Bidang Pertanahan
Di bidang pertanahan, jauh sebelum keluar
PP Nomor 38 Tahun 2007, Presiden sudah
menerbitkan Keppres Nomor 34 Tahun 2003
tentang Kebijakan Nasional Di Bidang Perta-
nahan.
10
Kebijakan tersebut, selanjutnya ditu-
angkan dalam PP Nomor 38 Tahun 2007, ada 8
(delapan) kewenangan di bidang pertanahan
yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota yang dilaksanakan berdasarkan
azas desentralisasi dan 1 (satu) kewenangan yang
dilaksanakan berdasakan azas tugas perbantuan
(medebewind).
Selanjutnya dalam Lampiran I PP Nomor 38
Tahun 2007 dicantumkan kewenangan apa saja
yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabu-
paten/Kota di bidang pelayanan pertanahan,
sebagai berikut:
10
Sarjita, 2005. Masalah Pelaksanaan Urusan Perta-
nahan Dalam Era Otonomi Darerah. Yogyakarta: Tugujogja
Pustaka.
189 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
Tabel 1. Urusan wajib Pemerintahan
Kabupaten/Kota di Bidang Pertanahan Berda-
sarkan\Peraturan Pemerintah Nomor 38
Tahun 2007
Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: Pembagian Urusan Pemerintah Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Provinsi dan Pemeriuntahan
Daerah Kabupaten/Kota, Yogyakarta,
Fokus Media, 2007, hlm. 215-226.
2. Bidang Kehutanan
Selanjutnya, di Bidang Kehutanan, dapat
dipedomani pada lampiran: AA PP Nomor 38
Tahun 2007 beberapa kewenangan di bidang
kehutanan yang menjadi wewenang Pemerin-
tahan Daerah Kabupaten/Kota meliputi 59 (lima
puluh) jenis antara lain: pengusulan, pertim-
bangan teknis, pemberian izin, pengelolaan,
penetapan, perencanaan, pelaksanaan, pengusa-
haan, pengawetan, lembaga Konservasi, Perlin-
dungan Penelitian dan pengembangan, penyu-
luhan, pembinaan dan pengendalian serta
pengawasan. Secara rinci dapat disajikan dianta-
ranya:
a. Penyelenggaraan inventarisasi hutan produksi
(HP) dan hutan lindung dan skala Daerah
Aliran Sungai dalam wilayah Kabupaten/kota;
b. Pengusulan penunjukan kawasan hutan
Hutan Produksi Hutan Lindung, Kawasan
Pelestarian Alam, Kawasan Suaka Alam dan
Taman Buru;
c. Pengusulan pengelolaan hutan dengan
tujuan khusus untuk masyarakat hukum
No. Kewenangan/
Urusan
Pemerin tahan
Sistem
Penyeleng
garaan Urusan
Pemerintahan
Jenis Kegiatan Urusan Pemerintahan yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota
1. Izin Lokasi Desentralisasi 1. penerimaan permohonan dan pemeriksaan
kelengkapan berkas persyaratan;
2. kompilasi bahan koordinasi;
3. pelaksanaan rapat koordinasi;
4. pelaksanaan peninjuan lokasi;
5. penyiapan berita acara koordinasi berdasarkan
pertimbangan teknis pertanahan dari kantor
pertanahan kabupaten/kota dan pertimbangan
teknis lainnya dari instansi teknis terkait;
6. pembuatan peta lokasi sebagai lampiran SK izin
lokasi yang diterbitkan;
7. penerbitan SK Izin Lokasi;
8. pertimbangan dan usulanpencabutan izin dan
pembatalan SK Izin Lokasi dengan pertimbangan
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.
9. monitoring dan pembinaan perolehan tanah.
2. Pengadaan
Tanah Untuk
Kepentingan
Umum
Desentralisasi
Catatan:
Kewenangan ini
dengan diberla
kukannya UU
Nomor 2 Tahun
2012 tentang
Pengadaan
Tanah Bagi
Pembangunan
Untuk
Kepentingan
Umum sudah
ditarik kembali
menjadi
kewenangan
Pusat Cq. BPN
RI.
1. penetapan lokasi;
2. pembentukan panitia pengadaan tanah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan;
3. pelaksanaan penyuluhan;
4. pelaksanaan inventarisasi;
5. pembentukan Tim Penilai Tanah;
6. Penerimaan hasil penaksiran nilai tanah dari
Lembaga/Tim Penilai tanah;
7. pelaksanaan musyawarah;
8. penetapan bentuk dan besarnya ganti kerugian;
9. pelaksanaan pemberian ganti kerugian;
10. Penyelesaian bentuk dan besarnya ganti kerugian;
11. pelaksanaan pelepasan hak dan penyerahan tanah
di hadapan Kepala kantor Pertanahan
kabupaten/Kota
3. Penyelesaian
Sengketa tanah
Garapan
Desentralisasi 1. penerimaan dan pengkajian laporan pengaduan
sengketa tanah garapan;
2. penelitian terhadap subjek dan objek sengketa;
3. pencegahan meluasnya dampak sengketa tanah
garapan;
4. koordinasi dengan kantor pertanahan untuk
menetapkan langkah-langkah penanganannya;
5. fasilitasi musyawarah antar pihak yang bersengketa
untuk mendapatkan kesepakatan para pihak;
4. Penyelesaian
Masalah ganti
Kerugian dan
Santunan
Tanah Untuk
pembangunan
Desentralisasi 1. pembentukan Tim Pengawasan Pengendalian;
2. penyelesaian masalah ganti kerugian dan dan
santunan tanah untuk pembangunan;
5. penetapan
subjek dan
objek
redistribusi
tanah serta
ganti kerugian
tanah
kelebihan
maksimum
dan tanah
absentee
Desentralisasi 1. Pembentukan Panitia Pertimbangan Landreform
dan Sekretariat Panitia;
2. Pelaksanaan sidang yang membahas hasil
inventarisasi untuk penetapan subjek dan objek
redistribusi tanah serta ganti kerugian tanah
kelebihan maksimumdan tanah absentee;
3. Pembuatan hasil sidang dalam Berita Acara;
4. Penetapan tanah kebihan maksimumdan tanah
absentee sebagai objek Landreform berdasarkan
sidang hasil panitia;
5. Penetapan para penerima kelebihan tanah
maksimumdan tanah absentee berdasarkan hasil
sidang panitia;
6. Penerbitan SK Subjek dan Objek redistribusi tanah
serta ganti kerugian;
6. Penetapan
Tanah Ulayat
Desentralisasi 1. Pembentukan Panitia Peneliti;
2. Penelitian dan kompilasi hasil penelitian;
3. pelaksanaan dengan pendapat umumdalam
rangka penetapan tanah ulayat;
4. Pengusulan Rancangan Peraturan daerah tentang
Penetapan tanah ulayat;
5. Pengusulan pemetaan dan pencatatan tanah ulayat
dalamdaftar tanah kepada kantor pertanahan
Kabupaten/Kota;
6. Penanganan masalah tanah ulayat melalui
musyawarah dan mufakat.
7. Penyelesaian
Masalah Tanah
Kosong
Desentralsiasi 1. Inventarisasii dan identifikasi tanah kosong
untuk pemanfaatan tanaman pangan semusim;
2. Penetapan bidang-bidang tanah sebagai tanah
kosong yang dapat digunakan untuk tanaman
pangan semusim bersama pihak lain berdasarkan
perjanjian;
3. Penetapan pihak-pihak yang memerlukan tanah
untuk tanaman pangan semusimdengan
mengutamakan masyarakat setempat;
4. Fasilitasi perjanjian kerjasama antara pemegang
hak atas tanah dengan pihak yang akan
memanfaatkan tanah di hadapan/diketahui oleh
Kepala Desa/Lurah dan Camat setempat dengan
perjanjian untuk dua kali musim tanam;
5. Penaganan masalah yang timbul dalam
pemanfaatan tanah kosong jika salah satu pihak
tidak memenuhi kewajiban dalam perjan jian
8. Izin Membuka
Tanah
Tugas
perbantuan
(Medebewind)
1. penerimaan dan pemeriksaan permohonan;
2. Pemeriksaan lapang dengan memperhatikan
kemampuan tanah, status tanah dan Rencana
Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten/Kota;
3. Penerbitan Izin Membuka tanah dengan
memperhatikan pertimbangan teknis dari
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota;
4. Pengawasan dan pengendalian penggunaan izin
membuka tanah.
9. Perencanaan
Penggunaan
Tanah Wilayah
Kabupaten/
Kota
Desentralisasi 1. Pembentukan Tim Koordinasi Tingkat
Kabupaten/Kota;
2. Kompilasi data dan informasi yang terdiri dari:
a. Peta Pola Penatagunaan Tanah atau Peta
Wilayah Tanah Usaha atau peta Persediaan
Tanah dari kantor Pertanahan
kabupaten/Kota;
b. Rencana Tata Ruang Wilayah;
c. Rencana pembangunan yang akan
menggunakan tanah baik rencana
Pemerintah, Pemerintah Kabupaten/ Kota,
maupun instansi swasta.
3. Analisis kelayakan letak lokasi sesuai dengan
ketentuan dan kriteria teknis dari instansi
terkait;
4. Penyiapan draf Rencana Letak Kegiatan
Penggunaan Tanah;
5. Pelaksanaan rapat koordinasi terhadap draff
rencana letak kegiatan penggunaan tanah
dengan instansi terkait;
6. Konsultasi publik untuk memperoleh draff
rencana letak kegiatan penggunaan tanah;
7. Penyusunan Draff final rencana letak kegiatan
penggunaan tanah;
8. Penetapan rencana letak kegiatan penggunaan
tanah dalam bentuk peta dan penjelasannya
dengan keputusan Bupatio/Walikota;
9. Sosialisasi tentang rencana letak kegiatan
penggunaan tanah kepada instansi terkait;
190 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
adat, penelitian dan pengembangan, pendi-
dikan dan pelatihan kehutanan, lembaga
sosial dan keagamaan untuk skala kabupaten/
kota denganpertimbangan gubernur;
d. Pengusulan perubahan status dan fungsi
hutan dan perubahan status dari lahan milik
menjadi kawasan hutan, dan penggunaan
serta tukar-menukar kawasan hutan;
e. Pertimbangan penyusunan rancang bangun
dan pengusulan pembentukan wilayah
pengelolaan hutan lindung dan hutan pro-
duksi, serta institusi wilayah pengelolaan
hutan;
f. Pertimbangan teknis pengesahan rencana
pengelolaan jangka panjang, jangka me-
nengah, dan jangka pendek unit KPHP;
g. Pertimbangan teknis pengesahan rencana
kerja usaha 20, 5, 1 tahunan uni usaha peman-
faatan HP;
h. Pertimbangan teknis untuk pengesahan, dan
pengawasan pelaksanaan penataan batas luar
areal kerja unit pemanfaatan HP dalam Kabu-
paten/Kota;
i. Pertimbangan teknis pengesahan rencana
pengelolaan 20, 5, 1 tahunan unit usaha pe-
manfaatan hutan Lindung (KPHL);
j. Pertimbangan teknis pengesahan penataan
areal kerja unti usaha pemanfataan hutan
lindung kepada provinsi;
k. Pertimbangan teknis rencana pengelolaan 20,
5, 1 tahunan unit KPHK;
l. Pertimbangan teknis pensehan rencana
pengelolaan 20, 5, 1 tahunan untuk cagar alam,
suaka margasatwa, taman nasional, taman wisa-
ta alam dan taman buru skala kabupaten/kota;
m. Pengelolaan Taman Hutan Raya, penyusunan
rencana pengelolaan dan penataan blok
(zonasi) serta pemberian perizinan usaha pari-
wisata alam dan jasa lingkungan serta reha-
bilitasi di taman hutan raya skala kabupaten/
kota;
n. Penyusunan rencana-rencana kehutanan
tingkat kabupaten/kota;
o. Penyusunan Sistem Informasi Kehutanan
(numerik dan spasial) tingkat Kab/Kota;
p. Pertimbangan teknis kapada Gubernur untuk
pemberian perpanjangan IUP Hasil Hutan
Kayu, serta pemberian perizinan usaha pe-
manfaatan hasil hutan bukan kayu, pembe-
rian perizinan pemungutan hasil hutan
bukan kayu pada HP kecuali pada kawasan
hutan negara pada wilayah kerja Perun Per-
hutani;
q. Pemberian izin pemanfaatan kawasan hutan
dan jasa lingkungan skala Kabupaten/Kota
kecuali pada kawasan hutan negara pada
wilayah kerja Perum Perhutani;
r. Pertimbangan teknis pemberian izin industri
primer hasil hutan kayu, pengawasan dan
pengendalian penatausahaan hasil hutan
skala kabupaten/kota;
s. Pemberian perizinan pemanfaatan kawasan
hutan, pemungutan kayu yang tidak dilin-
dungi dan tidak termasuk ke dalam Lampiran
CITES dan pemanfaatan jasa lingkungan
skala kabupaten/kota kecuali pada kawasan
hutan negara pada wilayah kerja Perum
Perhutani;
t. Pelaksanaan pemungutan penerimaan negara
bukan pajak (PNBP) skala kabupaten/kota;
u. Penetapan lahan kritis skala kabupaten/kota,
pertimbangan teknis rencana rehabilitasi hu-
tan dan lahan DAS/Sub DAS, penetapan ren-
cana pengelolaan, rencana tahunan dan ran-
cangan rehabilitasi hutan pada hutan taman
hutan raya skala kabupaten/kota.
Terkait dengan kewenangan di bidang kehu-
tanan dalam rangka pelaksanaan ketentuan PP
Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonstrasi dan
Tugas Pembantuan, Kementerian Kehutanan
menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan
Nomor P.24/Menhut-II/2012 tertanggal 11 Juni
2012 tetang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Urusan
(Dekonsentrasi) Bidang Kehutanan Tahun 2012
191 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
Yang Dilimpahkan kepada Gubernur Selaku
Wakil Pemerintah
3. Bidang Minerba dan Panas Bumi dan
Air Tanah
Kewenangan Pemerintahan Daerah Kabupa-
ten/Kota di bidang Mineral, Batubara, Panas Bumi
dan Air Tanah, meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Penyusunan peraturan perundang-un-
dangan daerah kabupaten/kota di bidang
mineral, batubara, panas bumi dan air tanah;
b. Penyusunan data dan informasi wilayah kerja
usaha pertambangan minerba serta panas
bumi skala kabupaten/kota;
c. Penyusunan data dan informasi cekungan air
tanah skala kabupaten/kota;
d. Pemberian rekomendasi teknis izin penge-
boran, izin penggalian dan iizin penurapan
air tanah pada cekungan air tanah pada wila-
yah kabupaten/kota;
e. Pemberian izin usaha pertambangan minerba
dan panas umi pada wilayah kabupaten/kota
dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi;
f. Pemberian izin usaha pertambangan minerba
untuk operasi produksi yang berdampak ling-
kungan langsung pada wilayah kabupaten/
kota dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi;
g. Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan izin
usaha pertambangan minerba dan panas
bumi pada wilayah kabupaten/kota dari 1/3
dari wilayah kewenangan provinsi;
h. Pemberian izin badan usaha jasa pertam-
bangan minerba dan panas bumi dalam
rangka PMA dan PMDN di wilayah kabu-
paten/kota;
i. Pengelolaan, pembinaan dan pengawasan
pelaksanaan izin usaha jasa pertambangan
minerba dan panas bumi dalam rangka
penanaman modal di wilayah kabupaten/kota;
j. Pembinaan dan pengawasan keselamatan dan
kesehatan kerja, lingkungan pertambangan
termasuk reklamasi lahan pasca tambang,
konservasi dan peningkatan nilai tambah
terhadap usaha pertambangan minerba dan
panas bumi pada wilayah kabupaten/kota;
k. Penetapan wilayah konservasi air tanah dalam
wilayah kabupaten/kota;
l. Pembinaan dan pengawasan serta kesehatan
kerja, lingkungan pertambangan termasuk
reklamasi lahan pasca tambang, konservasi
dan peningkatan nilai tambah Kuasa Pertam-
bangan dalam wilayah Kabupaten/Kota;
m. Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan izin
usaha pertambangan minerba untuk operasi
produksi, serta panas bumi yang berdampak
lingkungan langsung dalam wilayah kabu-
paten/kota;
n. Penetapan nilai perolehan air tanah pada
cekungan air tanah dalam wilayah kabupaten/
kota;
o. Pengelolaan data informasi minerba, panas
bumi dan air tanah serta pengusahaan dan
Sistem Informasi Geograf is wilayah kerja per-
tambangan di wilayah kabupaten/kota;
p. Penetapan potenasi panas bumi dan air tanah
serta neraca sumber daya dan cadangan mi-
nerba di wilayah kabupaten/kota;
q. Pengangkatan dan pembinaan inspektur
tambang serta pembinaan jabatan fungsional
kabupaten/kota.
11
4. Bidang Minyak dan Gas Bumi
Kewenangan Pemerintahan Daerah Kabupa-
ten/Kota di bidang Minyak dan Gas Bumi, meli-
puti hal-hal sebagai berikut:
a. Penghitungan produksi dan realisasi lifting
minyak bumi dan gas bumi bersama peme-
rintah;
b. Pemberian rekomendasi penggunaan wilayah
kerja kontrak kerja sama untuk kegiatan lain
11
Pembagian Urusan Pemerintah Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Provinsi Dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, Yogyakarta, Fokus
Media, 2007, hlm. 535-537
192 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
di luar kegiatan migas pada wilayah kabu-
petan/kota;
c. Pemberian izin pembukaan kantor perwa-
kilan perusahaan di sub sektor migas;
d. Pengawasan pengendalian pendistribusian
dan tata niaga bahan bakar minyak dari agen
dan pangkalan dan sampai konsumen akhir
di wilayah kabupaten/kota;
e. Pemantauan dan inventarisasi penyediaaan,
penyaluran dan kualitas harga BBM serta
melakukan analisas dan evaluasi terhadap
kebutuhan BBM di wilayah kabupaten/kota;
f. Pemberian rekomendasi lokasi pendirian
kilang dan tempat penyimpanan;
g. Pemberian izin lokasi pendirian Stasiun
Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU);
h. Pemberian rekomendasi pendirian gudang
bahan peledak dalam rangka kegiatan usaha
migas di daerah operasi daratan dan di daerah
oeprasi wilayah kabupaten/kota dan 1/3 dari
wilayah kewenangan provinsi;
i. Pengangkatan dan pembinaan inspektur
migas serta pembinaan jabatan fungsional
kabupaten/kota;
j. Penyertaan dan/atau menfasilitasi penyeleng-
garaan assessment bekerjasama dengan
lembaga assessment Departemen ESDM;
k. Penyusunan kebutuhan dan penyelenggara-
an diklat teknis dan fungsional tertentu sek-
tor energi dan sumberdaya mineral dalam
skala kabupaten/kota.
12
Untuk memantau perkembangan pelaksa-
naan terhadap penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupa-
ten/kota, Kementerian ESDM menerbitkan Pera-
turan Menteri ESDM Nomor 02 Tahun 2013 ter-
tanggal 11 Januari 2013. Adapun pejabat yang
ditnjuk untuk melakukan pengawasan dilakukan
oleh Direktur Jenderal (Dirjend), sedangkan
ruang lingkup pengawasan tersebut meliputi:
a. penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat
(WPR);
b. penetapan dan pemberian Wilayah Izin Usaha
Pertambangan (WIUP) mineral bukan logam
dan WIUP batuan;
c. pemberian Wilayah Izin Usaha Pertam-
bangan mineral logam dan WIUP batubara;
d. penerbitan Izin Pertambangan Rakyat (IPR);
e. penerbitan Izin Usaha Pertambangan (IUP);
f. penyelenggaraan pembinaan dan penga-
wasan kegiatan yang dilakukan oleh peme-
gang IPR dan IUP.
Khusus pada huruf a di atas, maka penetapan
WPR dilakukan setelah berkoordinasi dengan
Pemprov dan berkonsultasi dengan DPRD
Kabupaten/Kota. Kemudian sebelum melakukan
koordinasi dengfan Pemprov dan berkonsultasi
dengan DPRD, terlebih dahulu wajib memas-
tikan lokasi WPR: a. Masuk dalam Kawasan
Peruntukan pertambangan yang tercantum
dalam RTRW Kabupaten/Kota yang ditetapkan
dalam Perda; b. Telah mendapatkan persetujuan
dari pemegang hak atas tanah sesuai dengan
ketentuan per UU; c. Telah menggunakan sistem
koordinat pemetaaan dengan Datum Geodesi
Nasional yang mempunyai parameter sama
dengan parameter Ellipsoid World Geodetic Sys-
tem. d. Telah memenuhi kriteria penetapan WPR
sesuai Pera UU; dan e. Telah dilaksanakan
pengumuman rencana penetapan WPR kepada
masyarakat secara terbuka paling sedikit pada
kantor Kelurahan/desa di lokasi WPR sesuai
dengan ketentuan PerUU.
D. Pelaksanaan UU Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah
1. Pemaknaan Pajak dan Ruang Akses
Masyarakat
Sejalan dengan dinamika masyarakat dan tim-
bulnya demokrasi dalam berbangsa dan berne-
12
Ibid., hlm. 535-537.
193 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
gara, maka pemaknaan hakekat pajak dipersep-
sikan sesuai kepentingan penguasa. Mengapa
demikian, dikarenakan secara substantif dasar
pemungutan dan mekanisme pemungutan pajak
diwadahi dalam regulasi berupa UU yang juga
merupakan produk politik dari penguasa untuk
menjalankan strategi kekuasaanya.
Pada masa kerajaan otoriter, pajak dimaknai
sebagai penghisapan sekaligus wujud persem-
bahan dari rakyat kepada raja yang bertahta.
Kemudian pada masa kolonialisme, pajak difo-
kuskan pada kepentingan penjajah (eksploitasi
rakyat negara jajahan). Berikutnya pada awal
kemerdekaan, di mana negara/pemerintah me-
merlukan anggaran untuk keberlangsungan
eksistensi NKRI, maka meskipun rakyat di-
pungut pajak tanpa suatu kontraprestasi yang
nyata mereka tetap mendukung dan menyadari
sepenuhnya. Pada masa Orla, Orba dan Era
Reformasi, masyarakat memaknai pajak diorie-
ntasikan untuk pembangunan berbagai insfra-
struktur demi menunjang kesejahteraan rakyat.
Pasal 1 angka 10 UU Nomor 28 Tahun 2009 mene-
gaskan, bahwa .... pemungutan pajak digunakan
untuk membiayai penyelenggaraan peme-
rintahan daerah dan pembangunan daerah.
Dalam perkembangan selanjutnya, terkait
dengan perpajakan dilakukan regulasi agar ter-
dapat kepastian hukum subjek, objek, perbuatan
atau peristiwa hukum yang akan terkena keten-
tuan pajak. Secara f ilosf is, UU Perpajakan ditu-
jukan untuk membangun sistem pemungutan
pajak dengan memberi porsi kepercayaan yang
lebih besar kepada anggota masyarakat sebagai
wajib pajak untuk melaksanakan kewajibannya.
Di Indonesia dasar pemungutan pajak ditu-
angkan dalam Pasal 23A UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, pajak dan pungutan lain
yang bersifat memaksa untuk negara diatur
dengan undang-undang. Dengan demikian,
maka peraturan perundang-undangan pe-
mungutan pajak dan pungutan lainya dapat di
lihat dalam 2 aspek, yaitu: Pertama, aspek yuridis
perlunya keselarasan dalam regulasi antara
peraturan perundang-undangan sebagai dasar
pemungutan pajak dengan tujuan negara
sebagaimana tercantum dalam konstitusi UUD
1945. Kedua, aspek demokratis, pemungutan
pajak diputuskan dalam suatupersetujuan rakyat
melalui wakil-wakil mereka di DPR Pusat mau-
pun DPRD. Dengan demikian, maka kedua
ruang yaitu aspek hukum dan demokrasi akan
memberikan ruang bagi rakyat untuk aktif da-
lam membangun sistem perpajakan. Bentuk
partispasi sebagai ruang akses publik/masyarakat
dalam pemungutan pajak tersbut, maka kepada
masyarakat yang hak konstitusionalnya terabai-
kan/dirugikan dapat melakukan judicial review
terhadap UU/Perpu Perpajakan ke MK, dan
Peraturan perundang-undangan di bawah un-
dang-undang/Perpu ke MA. Kemudian jika
terjadi sengketa pajak, juga sudah disediakan
forum/lembaga peradilan pajak sebagai peradilan
kekhususan di bawah lingkungan Peradilan Tata
Usaha Negara.
2. Persoalan Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah (UU No. 28 Tahun
2009)
Persoalan terkait pemberlakukan UU Nomor
28 tahun 2009 tentang Pajak Derah dan Retribusi
Daerah disebabkan kurangnya tingkat pema-
haman baik oleh legislatif maupun eksekutif
terhadap berbagai aspek hukum dan kebijakan
publik. Disamping itu objek yang diatur cukup
luas atau banyak ruang lingkupnya dari substansi
pertambangan, air, tanah, hotel dan lain seba-
gainya. Mengingat Pemerintah Daerah melalui
UU Nomor 28 Tahun 2009 telah mendapat dan
memperoleh kewenangan yang luas dan nyata
untuk menggali sumber-sumber PAD, maka
dalam pembahasan substansi Perda terkait pajak
daerah dan retribusi daerah jangan asal meme-
nuhi azas formalitas sebuah Perda, melainkan
194 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
secara subtansial juga harus dilakukan secara
optimal, jika hanya mengejar formalitas, maka
akan berdampak pada wajib pajak dan pem-
bangunan daerah secara keseluruhan. Jangan
sampai setelah Perda disahkan, justru dalam
pelaksanaanya menimbulkan beban bagi masya-
rakat, mengganggu iklim berinvestasi atau
bahkan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.
Melalui UU Nomor 28 Tahun 2009, kewe-
nangan pemungutan dan pengelolaan pajak
yang semua ditangani Pemerintah Pusat, ber-
geser menjadi kewenangan Pemerintah Daerah
(Desentralisasi Fiskal). Kondisi yang terjadi saat
sebelum dikeluarkanya UU Nomor 28 Tahun
2009, melalui berbagai Perda Pajak dan Retribusi
Daerah, ternyata telah melanggar Azas Ekono-
mi
13
dan Azas Non Double Taxation.
14
Penca-
buatan dan pembatalan Perda terkait Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah oleh Menteri Da-
lam Negeri pada masa lalu, harus diambil hik-
mahnya, supaya tidak terjadi /terulang kembali
pada era UU No. 28 Tahun 2009. Beberapa alasan
atau pertimbangan dicabut dan dibatalkannya
beberapa Perda di atas, antara lain:
a. Merintangi arus sumber daya ekonomi antar
daerah dan kegiatan ekspor impor serta
menyebabkan ekonomi biaya tinggi;
b. Retribus menyebabkan terjadinya pungutan
ganda karena aitem pembayaran jalan yang
diterapkan pemerintah sudah dilakukan
pungutan kepada pengguna jalan melaui
PKB dan PBBKB.
c. Segala pemberian ijin usaha pada dasarnya
untuk pendaftaran usaha merupakan urusan
umum pemerintahan yang layak dibiayai dari
penerimaan umum.
3. Terobosan Kepala BPN RI terkait
Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas
Tanah
Pasal 91 UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menentukan
bahwa :
(1) PPAT/Notaris hanya dapat menandatangani
akta pemindahan Hak atas Tanah dan/atau
Bangunan setelah Wajib Pajak menyerahkan
bukti pembayaran pajak;
(2)Kepala kantor yang membidangi pelayanan
lelang Negara hanya dapat menandatangani
risalah lelang Perolehan Hak atas tanah dan/
atau Bangunan setelah Wajib Pajak menyerah-
kan bukti pembayaran pajak;
(3)Kepala Kantor di bidang pertanahan hanya
dapat melakukan pendaftaran Hak atas
Tanah dan/atau pendaftaran peralihan hak
atas tanah setelah Wajib Pajak.
Kebijakan baru di bidang pertanahan dalam
menyikapi ketentuan Pasal 91 UU Nomor 28
tahun 2009, khususnya terkait pelayanan pendaf-
taran hak atas tanah sering menjadi kendala, dan
mengalami keterlambatan, dikarenakan menu-
rut UU Nomor 20 Tahun 2000 Jo. UU Nomor 21
Tahun 1997 tentang BPHTB Jis. SE Kepala BPN
Nomor 500-1757 tertanggal 9 Juli 2004, yang me-
wajibkan suatu persyaratan pada tahap pendaf-
taran hak atas tanah terlebih dahulu melakukan
pengecekan tanda bukti setoran pembayaran
BPHTB baik pada kegiatan pendaftaran hak atas
tanah atau pendaftaran peralihan hak atas tanah.
Persyaratan tersebut, dirasakan menambah
simpul/persyaratan pelayanan dan berakibat
13
Pajak yang dipungut oleh Negara tidak boleh
mengakibatkan terhambatnya kelancaran produksi dan
perdagangan. Harus diusahakan supaya tujuan untuk
mencapai kebahagiaan dan terselenggarannya kepentingan
umum dapat dilaksanakan dengan tidak dihambat oleh adanya
pemungutan pajak.
14
Pajak berganda adalah pemungutan 2 (dua) pajak atas
satu kekayaan alam satu periode pemungutan yang sama
dan dengan tujuan yang sama pula. Pemungutan 2 (dua) pajak
pada satu keuntungan perusahaan. Keuntungan/penghasilan
perusahaan dikenakan pajak 2 kali, satu kali pada tingkat
perusahaan yaitu pada saat mendapatkan penghasilan, dan
satu kali pada pemegang saham. Pada tingkat internasional,
pemungutan pajak-pajak sejenis 2 atau lebih negara terhadap
seorang wajib pajak atas satu tujuan yang sama.
195 Sarjita: Dilematika Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang.....: 181-195
terjadi keterlambatan pelayanan pendaftaran hak
atas tanah. Demi kelancaran proses pelayanan
pendaftaran hak atas tanah itu, maka Kepala BPN
melakukan mencabut dan menyatakan tidak
berlaku SE tersebut, dan selanjutnya mener-
bitkan SE Nomor 5/SE/IV/2013 tertanggal 10 April
2013 tentang Pendaftaran Hak Atas Tanah Atau
Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah Terkait
Dengan Pelaksanaan UU Nomor 28 Tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Secara substansi SE tersebut, menyatakkan
bahwa untuk peningkatan pelayanan di bidang
pertanahan menyarankan agar Para Kakanwil
BPN Provinsi dan Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten/Kota tidak perlu terlebih dahulu
melakukan pengecekan tanda bukti setoran
pembayaran BPHTB pada instansi yang berwe-
nang dan dapat langsung melakukan proses pen-
daftaran hak atas tanah atau pendaftaran pe-
ralihan hak atas tanah.
Daftar Pustaka
Anonimous, 2007. Pembagian Urusan Peme-
rintah Antara Pemerintah, Pemerintahan
Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota. Yogyakarta: Fokus Media.
Indra Tranggono, Mencari Sukrasana, Kompas,
2013.
Nico Kanter, Peliknya Kepastian Hukum, Kom-
pas, 4 Pebruari 2013.
Purba, Zen Umar, 2012. Tidak Mudah berusaha
di Indonesia. Koran Tempo, 19 November
2012.
Pusat Rencana Statistik Kehutanan Departemen
Kehutanan dengan Direktorat Statistik
Pertanian BPS, 2007. Identif ikasi Desa
Dalam Kawasan Hutan, 2007.
____, 2009. Identif ikasi Desa Dalam Kawasan
Hutan, 2009. Jakarta.
Sarjita, 2005. Masalah Pelaksanaan Urusan
Pertanahan Dalam Era Otonomi Daerah.
Yogyakarta: Tugujogja Pustaka.
____, Dkk., 2012. Strategi Dan Manajemen Reso-
lusi Konflik, Sengketa dan Perkara Perta-
nahan Untuk Keamanan di Bidang Investasi.
Yogyakarta: Mitra Amanah Publishing-
PUSPIN Jakarta.
Seluruh Peraturan Harus Patuhi Konstitusi,
Koran Tempo, 16 November 2012.
Sindhunata, Slenco, Kompas, 2013.
Suseno, Frans Magnis, 2001. Etika Politik Prin-
sip-Prinsip Moral dasar Kenegaraan Mod-
ern. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
EKSKLUSI DAN INKLUSI SEBAGAI DUA SISI MATA UANG
Ahmad Nashih Luthf i
Judul: Power of Exclusion, Land
Dilemmas in Southeast Asia
Penulis: Derek Hall, Philip
Hirsch, dan tania Murray Li
Penerbit: National University
of Singapore
Tahun terbit: 2011
Halaman: 257 hlm
Transfromasi agraria
Transformasi agraria Asia Tenggara mutakhir
ditandai dengan konversi besar-besaran lahan
pertanian untuk kepentingan komersial, indus-
tri, perumahan, pariwisata dan infastruktur, serta
tujuan konservasi lingkungan. Di sisi lain posisi
pertanian menurun secara progresif dalam eko-
nomi nasional maupun sebagai sumber penghi-
dupan penduduk. Akibatnya penduduk perta-
nian menurun drastis. Proses ini mengarah pada
apa yang disebut sebagai deagrarianisasi. Per-
juangan atas tanah sebagai ruang hidup dan
penghidupan terjadi secara kontestatif dan kon-
fliktual melibatkan aktor penduduk, negara, dan
swasta, yang ini merupakan gambaran kronis di
kawasan Asia Tenggara.
Transformasi agraria kontemporer ini berbe-
da dengan transisi agraria sebelumnya yang
memiliki konteks pelaksanaan Revolusi Hijau
pada tahun 1960-an hingga 1980-an. Di periode
ini transisi agraria mengarah pada proses dife-
rensiasi sosial pedesaan yang ditandai dengan
proses perubahan dalam cara mengakses sum-
ber-sumber produksi oleh berbagai kelompok
sosial berbasis tanah yang seringkali berjalan
secara tidak adil; perubahan hubungan produsen
maupun non-produsen sehingga di dalamnya
menghasilkan ekstraksi surplus; dan koeksistensi
di dalam stratif ikasi sosial pedesaan. Aktor-aktor
yang bekerja di dalam proses transisi agraria di
periode ini adalah kekuatan lokal desa (para tuan
tanah, petani penyewa, money lenders, dan petu-
gas pajak), dan negara. (Gillian Hart, dkk., 1989).
Selain itu, Revolusi Hijau yang ditandai dengan
intensifnya penggunaan teknologi dan komer-
sialisasi, membawa akibat pada marjinalisasi pe-
rempuan dan punahnya keragaman hayati.
Dalam mengatasi problem agraria di era ter-
sebut, ketimbang melakukan optimalisasi keku-
atan dalam melalui penataan struktur agraria
(landreform), beberapa negara memilih melaku-
kan optimalisasi kekuatan luar melalui pem-
berian kredit dan bantuan teknologi pertanian
yang dananya berasal dari hutang asing. Semen-
tara penduduk pedesaan dimobilisasi untuk
mendukung upaya peningkatan produksi
pangan. Di dalam proses semacam inilah, tenaga
kerja pedesaan sekaligus dikontrol oleh keku-
atan negara. Realitas demikian dinyatakan dalam
analisa Gillian Hart, dengan apa yang disebut
sebagai exclusionary labor arrangement (Gillian
Hart 1986). Akibat perubahan politik, ekonomi,
dan penggunaan teknologi di desa tersebut,
hubungan kerja dan sistem penyakapan yang
semula terbuka menjadi tertutup. Banyak tenaga
kerja kehilangan kesempatan kerja. Fenomena
permanent-circulair migrant worker muncul
akibat ini. Secara umum, strategi rekruitmen
tenaga kerja, pengorganisasian, dan pengaturan-
nya, dibentuk bukan hanya oleh pola supply and
demand, namun oleh hubungan kekuasaan di
level nasional maupun lokal. Otoritas nasional
pun kemudian merasa bergantung pada keku-
Review Buku
197 Ahmad Nashih Luthf i: Eksklusi dan Inklusi sebagai Dua .....: 196-199
atan asing. Hal demikian merupakan gambaran
nyata bagaimana saling terkaitnya antara keku-
atan ekonomi-politik di level makro dengan
modus pengerahan dan kontrol tenaga kerja di
level lokal (mikro), sekaligus kekuatan nasional
dan global.
The powers of exclusion
Derek Hall, Philip Hirsch, dan Tania Murray
Li (selanjutnya disebut HHL) dalam buku
berjudul The powers of exclusion, Land Dilem-
mas in Southeast Asia ini menunjukkan bahwa
globalisasi dan proses eksklusi bukanlah hal
baru. Ditulis secara kombinatif oleh tiga sarjana
terkemuka, Hall seorang ilmuwan politik Wilfrid
Laurier University yang baru-baru ini juga me-
nerbitkan buku berjudul Land (2013); Hirsch
seorang ahli geograf i di University of Sydney dan
direktur Australian Mekong Resource Centre;
sementara Tania Li adalah antropolog di Univer-
sity of Toronto sekaligus direktur pada Canada
Research Chair in Political Economy and Cul-
ture in Asia-Pacif ic yang telah menerbitkan
beberapa buku dan tulisan yang dihasilkannya
dari penelitian di Indonesia, dengan bukunya
ini mereka bertujuan menunjukkan powers yang
bekerja di ruang geograf is-sejarah dan konjunk-
tur masyarakat Asia Tenggara yang berubah dari
waktu ke waktu. Juga ditunjukkannya processes,
actors yang terlibat dan dampak bagi mereka
(baik yang kalah maupun yang menang), dan
bentuk-bentuk counter atas eksklusi yang terjadi.
Di sinilah mereka mengeksplorasi bagaimana
dan mengapa berbagai kenyataan di atas muncul,
apa kekuasaan (power) yang bekerja dalam tran-
sformasi itu, siapa aktor yang mendorong atau
melawan perubahan yang terjadi pada relasi
pertanahan itu, apa dilema dan debat yang ditim-
bulkan dari perubahan itu, siapa yang menang dan
siapa yang kalah di berbagai arena dan waktu?
Untuk mengarahkan pembacaan di atas,
mereka memfokuskan pada berbagai cara yang
berubah yang mengakibatkan penduduk ter-
eksklusi dari akses atas tanah. Mereka menggu-
nakan terminologi exclusion yang dihubung-
kan dengan konsep akses. Akses diartikan seba-
gai kemampuan untuk memperoleh manfaat dari
sesuatu (the ability to derive benef it from things).
Def inisi ini lebih luas dari pengertian klasik
tentang properti, yang didef inisikan sebagai hak
untuk memperoleh dari sesuatu (the right to
benef it from things). Akses dalam pengertian ini
mengandung makna sekumpulan kekuasaan
(a bundle of powers) berbeda dengan properti
yang memandang akses sebagai sekumpulan
hak (bundle of rights). Dalam pengertian akses
semacam ini maka kekuasan diartikan sebagai
sesuatu yang terdiri atas elemen-elemen mate-
rial, budaya dan ekonomi-politik yang terhim-
pun sedemikian rupa membentuk bundel keku-
asaan (bundle of powers) dan jaringan keku-
asaan (web of powers) yang kemudian menjadi
penentu akses ke sumber daya. (Ribot dan Peluso
2003).

Cara melihat akses atas tanah yang beralih
dari cara pandang hak (right) menuju kekuasaan
(power) dapat menjelaskan proses perolehan
tanah. Dalam pengertian inilah maka ke-
tereksklusian, inklusi, atau security semestinya
dibaca.
HHL dalam bukunya tersebut melihat eksklu-
si dalam pengertian sebagai kondisi, dimana
orang berada dalam situasi tuna akses pada
tanah, atau situasi yang mana tanah dikuasai
dalam bentuk kepemilikan pribadi (private prop-
erty). Eksklusi juga bermakna proses yang
mana aksi-aksi kekerasan intens dan berskala luas
mengakibatkan orang miskin terusir dari tanah-
nya oleh atau atasnama orang yang berkuasa.
Eksklusi bukanlah proses acak, ia distruktu-
rasi oleh relasi kekuasaan. Di pedesaan Asia
Tenggara, dari kajian empiris yang mereka la-
kukan, kondisi dan proses eksklusi tercipta dari
interaksi empat kekuasaan (power) berikut: regu-
lation (kebijakan); force (kekuatan); the market
198 Bhumi No. 37 Tahun 12, April 2013
(pasar); dan legiti-
mation (pengab-
sahan). Regula-
tion, seringkali na-
mun tidak eksklu-
sif, diasosiasikan
dengan instru-
men legal-negara,
yang menetapkan
aturan akses atas
tanah dan kondisi
penggunaannya.
Force adalah keke-
rasan atau an-
caman kekerasan
baik yang aktornya
state atau non-
state. The market adalah kekuatan eksklusi yang
bekerja membatasi akses melalui bentuk harga
dan kreasi insentif dengan semakin terin-
dividualisasikannya tanah. Legitimation menen-
tukan dasar moral atas klaim, dan tentu saja
dalam membuat regulasi, pasar, dan kekuatan,
sehingga dengan itu menjadi basis eksklusi yang
secara politik dan sosial dapat diterima.
Bentuk-bentuk powers of exclusion yang ber-
hasil ditunjukkan penulis menandai transfor-
masi agraria yang terjadi di Asia Tenggara adalah
6 ragam berikut: (1) regulerisasi akses atas tanah
melalui program pemerintah, sertipikasi tanah,
formalisasi, dan settlement; (2) ekspansi spasial
dan intensif nya upaya melakukan konservasi
hutan dengan bentuk pelarangan pertanian; (3)
hadirnya boom crops yang terlihat massif, cepat,
keras, yang membalikkan tanah-tanah konversi
untuk produksi monocrops; (4) konversi lahan
pertanian untuk tujuan-tujuan pasca-agraria;
(5) terbentuknya formasi kelas agraris secara in-
timate dan dalam skala desa; (6) mobilisasi ko-
lektif itas untuk mempertahankan atau menun-
tut akses atas tanah mereka, dengan mengor-
bankan pengguna atau penggunaan tanah lain.
HHL menyusun bukunya kedalam delapan
bab. Bab pertama mendedahkan kerangka
teoritik dan konsep-konsep utamanya; bab dua
berjudul Licensed Exclusion: Land Titling, Re-
form, and Allocation; bab tiga Ambient Exclu-
sion: Environtmentalism and Conservation; bab
empat Volatile Exclusion: Crops Boom and Their
Fallout; bab lima Post Agrarian Exclusion: Land
Conversion, bab enam Intimate Exclusion: Eve-
ryday Accumulation and Dispossession, bab
tujuh Counter Exclusion: Collective Mobiliza-
tions for Land and Territory, dan bab delapan
adalah kesimpulan. Bab-bab ini disusun mengi-
kuti empat ragam kekuatan (power) yang ber-
langsung dalam enam proses dan bentuk eksklu-
si tersebut di tujuh negara di kawasan Asia
Tenggara, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia,
Filipina, Thailand dan Vietnam.
Land dilemmas
Seorang petani tidak mungkin bisa mengolah
tanahnya yang subur (inklusi) tanpa ia membatasi
atau melarang orang lain (eksklusi) mengklaim
atas tanah tersebut. Di sinilah inklusi dan eksklusi
itu berlangsung secara bersamaan, bagai dua sisi
TRANSFORMASI AGRARIA ASIA TENGGARA
Konteks Revolusi Hijau: 1960 Konteks Globalisasi: Akhir Perang Dingin hingga Krisis Ekonomi 2007
yang mendorong atau melawan perubahan yang terjadi pada relasi agraria itu; apa dilema dan debat yang ditimbulkannya; siapa
yang menang dan siapa yang kalah di berbagai arena dan waktu dalam transformasi itu?
199 Ahmad Nashih Luthf i: Eksklusi dan Inklusi sebagai Dua .....: 196-199
mata uang yang sama. Penulis menyebut ini se-
bagai the double edges of exclusion, dan di sini-
lah letak dilemanya, bahwa pada saat orang
mengakses tanah secara bersamaan ia memba-
tasi bahkan menutup akses orang lain atas tanah
tersebut. Tepat pada poin inilah inti argumentasi
penulis: exclusion itself is an unavoidable fact
of land access and use (hlm. 198). Perhatiannya
bukan pada apakah eksklusi itu baik ataukah
buruk, namun yang ingin mereka tunjukkan
adalah bahwa dalam setiap proses inklusi dan
mengakses tanah, akan selalu ada yang ter-
eksklusi, sehingga yang kemudian penting dilihat
adalah, who will win, and who will lose, from
the ways in which boundaries are drawn (p. 198).
Pemerintah harus memperhatikan misalnya
dalam program legalisasi tanah, berakibat pada
siapa sajakah kegiatan ini di hutan alam dataran
tinggi Kamboja, demikian pula saat dilaksana-
kannya program penetapan kawasan hutan
(Land and Forest Allocation) dengan membuat
batas yang tegas antara hutan dengan perta-
nian, antara desa dan bukan desa dan seterus-
nya di Laos. Di Myanmar justru banyak NGO
internasional yang mendukung sistem adminis-
trasi pertanahan dalam menghadapi liberalisasi
ekonomi dan peluang investasi asing. Pemerin-
tah kerajaan Sarawak terlibat dalam mendef i-
nisikan dan akhirnya mengakui (sekaligus tidak
mengakui pada pihak yang lain) Hak Masyarakat
Adat tatkala terjadi konflik antara komunitas
dengan pelaku illegal logging yang didukung
oleh pemerintah.
Indonesia digambarkan dalam buku ini uta-
manya dalam bab 6, dimana masyarakat (dengan
kasus Subang dan dataran tinggi Sulawesi) satu
sama lain yang mereka ini saling mengenal,
melakukan exclude akses atas tanah sebagai
bagian dari akumulasi kapital. Masyarakat desa
Jawa yang digambarkan secara idyllic sebagai
komunitas yang homogen dan harmonis tidak
menemukan pembenarannya sebab secara inter-
nal mereka terdiferensiasi dalam kelas pengu-
asaan tanah, satu dengan lainnya terikat dalam
hubungan penggarapan tanah, bagi hasil, sewa
dan gadai tanah, kredit, hutang-piutang, yang
tidak jarang berujung pada proses pelepasan
tanah bagi kelas yang lemah, dan akumulasi
pada pihak yang sebaliknya. Demikian pula yang
terjadi di dataran tinggi Sulawesi dengan me-
luasnya penanaman kakao di wilayah ini yang
membutuhkan lahan-lahan baru yang diperoleh
dengan cara membeli tanah penduduk setempat
oleh para pendatang yang kebanyakan dari Bu-
gis.
Saya setuju dengan Keith Barney (2012) yang
membuat penilaian bahwa buku ini menye-
diakan kerangka analitis yang baru, diskusi kom-
paratif yang detail mengenai transformasi agra-
ria, dan merupakan sumbangan yang inspiratif
bagi ekologi politik untuk kawasan Asia Teng-
gara, meski dilakukan atas data-data yang
sebenarnya tidak lagi baru.
Pustaka
Hart, Gillian, Andrew Turton, dan Benjamin
White (ed.), 1989. Agrarian Transformation,
Local Processes and the State in Southeast
Asia, California: University California Press.
Hart, Gillian, 1986. Power, Labor, and Livelihood,
Processes of Change in Rural Java, (Berke-
ley dan Los Angeles: University of Califor-
nia Press.
Hall, Derek, Philip Hirsch, dan Tania Murray Li,
2011. Power of Exclusion, Land Dilemmas in
Southeast Asia, Singapore: National Univer-
sity of Singapore.
Ribot, J.C. dan Nancy Peluso, 2003. A Theory of
Access, Rural Sociology, 68 (2).
Barney, Keith, 2012. Review of Powers of Exclu-
sion, http://asiapacif ic.anu.edu.au, diakses
pada tanggal 21 Mei 2012.
asdasdsdasdas