Anda di halaman 1dari 9

1

MIKROBODI Istilah mikrobodi kembali digunakan pada tahun 1954 oleh J. Rhodin. Beliau mendeskripsi struktur dan sifat-sifat organel tersebut pada jaringan ginjal mencit. Kemudian organelorganel dengan organisasi yang mirip diltemukan pada beberapa jaringan hewan dan tumbuhan. Pada tahun 1965, de Duve menunjukkan bahwa mikrobodi pada hati tikus mengandung sejumlah enzim-enzim oksidase yang mentransfer atom hidrogen ke molekuler oksigen membentuk hidrogen peroksida. De Duve menggunakan istilah proksisom untuk organel tersebut walaupun aktivitas peroksidasinya hanya dapat ditunjukkan secara in vitro. Mikrobodi sangat mudah dibedakan dari organel sel yang lain karena mengandung enzim katalase. Enzim ini dapat divisualisasikan dengan mikroskop electron. Jika sel-sel diperlakukan dengan pewarna 3,3-diaminobenzidin (DAB), maka daerah dimana terdapat katalase tampak berwarna gelap (Gambar 1). Mikrobodi adalah organel yang dibatasi oleh membran tunggal. Bagian matriksnya adalah amorf atau granuler. Pada setiap jaringan, matriks mikrobodi mengandung crystalline nucleoid atau bentuk kristalin dari urat oksidase, satu dari jenis enzim yang terdapat pada matriks. Pada jaringan hewan, mikrobodi tersebar pada seluruh bagian sel. Namun biasanya terdapat disekitar retikulum endoplasma. Pada sel tumbuhan, mikrobodi biasanya berdekatan dengan kloroplas. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan kerja antara kedua organel tersebut, khususnya pada jalur reaksi-reaksi daur glioksilat.

Gambar 1. Mikrobodi pada sel mesofil daun tembakau (Thorpe, 1984)

Membran yang membatasi mikrobodi memiliki ketebalan antara 6-8 nm, lebih tipis dari membran plasma. Membran

mikrobodi mengandung enzim sitokrom b5 dan NADH-sitokrom b5 reduktase. Enzim tersebut juga merupakan protein integral pada membran retikulum endoplasma. A. KOMPOSISI KIMIA MIKROBODI 1. Komposisi Kimia Mikrobodi Membran mikrobodi terutama terdiri atas fosfatidilkolin. Selain itu, terdapat fosfatidiletanolamin, fosfatidilinositol, fosfatidilserin dan kardiolipin (Tabel 1). Dalam banyak hal, permiabilitas mikrobodi terhadap berbagai molekul adalah sama dengan mikrosom. Membran mikrobodi tampaknya permiabel terhadap sejumlah substansi-substansi seperti asam amino, asam alfa hidroksi. Sebaliknya, nukleotida-nukleotida pirimidin, NADH, dan NADPH tidak permiabel terhadap membran mikrobodi. Ini merupakan suatu problem yang penting, sebab koenzim-koenzim tersebut digunakan dalam organel-organel sebagai akseptor elektron untuk enzim-enzim oksidatif. Jika koenzim tersebut tidak dapat melintasi membran, bagaimana koenzim tersebut dapat diperbaharui menjadi bentuk-bentuk teroksidasi yang memungkinkannya untuk terus berfungsi di dalam organel?
Tabel 1. Komposisi fosfolipida mikrobodi (% total) (Thorpe, 1984)

Fosfolipida
Fosfatidilkolin F. etanolamin F. inositol F. serin Kardiolipin

Hati Tikus
Peroksi Mitokon Mikrosom som dria 55,1 44,5 49,8 16,0 28,1 18,8 19,7 7,1 19,7 7,4 1,9 8,5 1,6 18,4 3,1

Endosperm buncis
Glioksi Mitokon Mikrosom som dria 49,0 36,9 50,0 31,4 30,9 26,6 6,1 14,3 18,9 4,1 1,8 2,4 13,7 2,7

2. Regenerasi Koenzim Peristiwa regenerasi koenzim-koenzim pada mikrobodi berlangsung melalui peristiwa Shuttle sehingga NAD dalam bentuk tereduksi dapat kembali melintasi membran (Gambar 2). Peristiwa shuttle berlangsung dalam dua jalur, yaitu melalui jalur oksaloasetat-malat dan jalur dihidroksiaseton fosfatgliserolfosfat. Baik malat maupun gliserol-3-fosfat bersifat permiabel terhadap membran mikrobodi. Shuttle malat oksaloasetat berlangsung pada gliok-sisom, sedangkan shuttle dihidroksi-asetonfosfat-gliserol-3-fosfat berlangsung pada

peroksi-som. Di dalam mikrobodi terkandung berbagai jenis enzim-enzim (Tabel 2).

Gambar 2. Fungsi shuttle dalam regenerasi nukleotida pirimidin (Thorpe, 1984)

Tabel 2 Berbagai jenis enzim yang terdapat di dalam mikrobodi (Thorpe, 1984)
Katalase NAD malat dehidrogenase Hidrogen piruvat reduktase Serin-glioksilat aminotransferase Glikolat oksidase Glutamat-okslaoasetat aminotransferase Glutamat-glioksilat aminotransferase NADP-isositratdehidrogenase Urat oksidase Xantin dehidrogenase NAD gliserol fosfat dehidrogenase Malat sintetase Sitrat sintetase Acinitase Isositrat liase Asam lemak KoA sintetase Enzim-enzim oksidasi Thiolase Allantoinase Asam amino oksidase

B. FUNGSI MIKROBODI Sebagian besar enzim katalase yang terdapat di dalam sel terkum-pul di dalam mikrobodi. Mikrobodi mengandung lebih dari sebuah enzim yang menggunakan oksigen untuk menghilangkan atom hidrogen dari suatu substrat melalui reaksi oksidatif sebagai berikut: RH2 + O2 R + H2O2 Katalase menggunakan H2O2 yang terbentuk untuk mengoksidasi berbagai macam substrat misalnya fenol, asam formiat, formaldehida, dan alkohol dengan reaksi sebagai berikut : Katalase H2O2 + RH2 R + 2 H2O Apabila kadar R H2 di dalam sel rendah, maka reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut : 2 H2O2 2 H2O + O2 Reaksi di atas digunakan sebagai pelindung untuk mencegah tertimbunnya H2O2. Hal yang perlu diperhatikan adalah sifat dari membran mikrobodi yang sangat permiabel, sehingga ion-ion anorganik, senyawa dengan berat molekul rendah sampai ukuran sukrosa dapat dengan bebas masuk ke mikrobodi. Di dalam glioksisom endosperm tumbuhan ditemukan sejumlah enzim yang berperan untuk oksidasi--asam lemak. Jalur yang digunakan sama dengan yang dijumpai pada peroksisom mamalia. Endosperm pada tumbuhan mengandung jaringan penyimpan lemak. Endosperm tumbuhan berperan untuk menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk berlangsungnya perkecambahan biji. Sumber energi untuk perkecam-bahan adalah karbohidrat dan bukan lipida. Jadi perubahan lipida menjadi karbohidrat dilakukan dengan bantuan enzim-enzim glioksisom. Hail oksidasi berupa asetil KoA digunakan di glioksisom untuk membentuk asam-asam C4 menuju daur glioksilat (Thorpe, 1989). Peroksisom pada mamalia, misalnya tikus, mampu mengoksidasi palmitat-KoA menjadi asetil-KoA dengan menggunakan O2 dan NAD sebagai akseptor elektron. Tahaptahap reaksinya ditunjukkan pada gambar 9.4. Asetil KoA yang terbentuk pada jalur tersebut dibawa ke mitokondria dan masuk ke daur asam sitrat, atau jika asetil KoA tetap di dalam sitosol, maka asetil KoA dapat diubah menjadi asam lemak dan asam lemak netral (Arbayah, 1989; Thorpe, 1984).

Gambar 1 Skema oksidasi asil KoA yang berlangsung pada glioksisom endosperm biji jarak yang sedang berkecambah (Thorpe, 1984) Jalur oksidasi pada gambar 3 sama dengan jalur yang berlangsung pada mitokondria dengan satu pengecualian penting. Dalam mitokondria, flavin dehidrogenase menyerahkan elektronnya ke rantai respiratoris dan dehidrogenase tidak bereaksi dengan molekul oksigen. Di dalam mikrobodi, dehidrogenase bereaksi langsung dengan molekul oksigen dan menghasilkan H2O2. Mitokondria tidak mengandung katalase, oleh sebab itu tidak dapat mengatasi jika ada H2O2 yang toksik, sedangkan bagi peroksisom, hal tersebut bukan merupakan suatu masalah. DAUR GLIOKSILAT Daur glioksilat dianggap sebagai satu bentuk modifikasi daur asam sitrat. Daur glioksilat menggunakan asam lemak dalam bentuk asetil KoA sebagai satu-satunya sumber karbon untuk mensintesis karbohidrat. Untuk setiap dua molekul asetil KoA yang masuk ke dalam daur dibentuk satu molekul suksinat yang selanjutnya dipergunakan sebagai prekursor untuk glukoneogenesis di dalam mitokondria ( Thorpe, 1984).

Gambar 2 Skema daur glioksilat (Thorpe, 1984) Molekul asetil Ko A yang pertama berkondensasi dengan oksaloasetat membentu asam sitrat. Asam sitrat selanjutnya secara bertahap diubah menjadi isositrat. Enzim isositral liase mengkatalisis perubahan isositrat menjadi suksinat dan glioksilat. Reaksi glioksilat dengan molekul asetil Ko A yang kedua menhasilkan malat dan selanjtnya malat diubah menjadi oksaloasetat. Di dalam mitokondria, suksinat diubah menjadi malat dan pada akhirnya di dalam sitosol, malat diubah menjadi fosfoenolpiruvat melalui oksaloasetat untuk digunakan dalam pembentukan glukosa baru. Hewan tingkat tinggi tidak dapat melaksanakan sintesis glukosa dari asam lemak karena hewan tersebut tidak mempunyai dua enzim glioksisom yang penting, yaitu isositrat liase atau isositrase dan malat sintetase. Oleh sebab itu, kedua karbon asetil KoA masuk ke daur asam sitrat dan akhirnya dilepaskan sebagai CO2.

Gambar 5 Perbandingan antara daur Krebs dan Daur Glioksilat (Sheeler dan Binchii, 1983).

DAUR GLIKOLAT Daur glikolat merupakan suatu rangkaian reaksi yang berlangsung di dalam peroksisom daun tumbuhan sehubungan dengan daur karbon di dalam kloroplas. Jalur ini merupakan jalur gabungan antara kloroplas, peroksisom, mitokondria, dan sitosol. Daur glikolat melaksanakan perubahan-perubahan senyawa-senyawa tidak terfosforilasi menjadi glisin, serin, dan senyawa C1, dan dalam keadaan tersebut berperan sebagai penghasil pra zat bagi biosintesis asam nukleat. Daur glikolat dapat dianggap dimulai dalam kloroplas, tempat terbentuknya secara fotosintesis senyawa-senyawa fosfoglikolat, glikolat, dan fosfogliserat. Kloroplas memiliki fosfatase yang memotong fosfat dari substrat yang mengandung fosfat sehingga terbentuk glikolat.

Gambar 6 Lintasan reaksi daur glikolat (Thorpe, 1984) Glikolat kemudian meninggalkan kloroplas dan diangkut ke peroksisom oleh shuttle glikolat-glikosilat. Di dalam peroksisom, glikolat mengalami oksidasi oleh suatu oksidase menghasilkan hidrogen peroksida dan glioksilat. Glioksilat tetap berada di dalam peroksisom untuk mengalami aminasi menjadi serin atau kembali ke kloroplas melalui shuttle. Kembalinya glioksilat ke kloroplas melengkapi satu daur samping yang kecil selain daur glikolat. Diperkirakan bahwa daur samping itu adalah suatu mekanisme penggunaan kelebihan NADPH di dalam kloroplas, sehingga berperan sebagai satu cara mengatur hasil bersih fotosintesis. Di dalam kloroplas, NADPH mengalami oksidasi kembali oleh mekanisme ini tanpa menghasilkan hidrogen peroksida. Bila hidrogen peroksida dihasilkan di dalam kloroplas, maka

kloroplas tidak dapat mengatasinya karena tidak memiliki katalase. Sebaliknya di dalam peroksisom yang memiliki katalase dihasilkan hidrogen peroksida (Thorpe, 1984). Glisin yang dibentuk dari glioksilat di dalam mitokondria mengalami suatu reaksi dan diubah menjadi serin. Serin dikembalikan ke peroksisom dan mengalami deaminasi menjadi hidroksi piruvat, kemudian hidroksi piruvat direduksi menjadi gliserat dan diangkut kembali ke dalam kloroplas. Di dalam kloroplas, gliserat mengalami fosforilasi menjadi fosfogliserat. Hingga disini daur sudah lengkap. Daur glikolat menghasilkan satu molekul CO2 dan satu molekul serin atau gliserat dari dua molekul fosfoglikolat; atau menghasilkan satu molekul serin atau satu molekul glisin ditambah dengan C1 dari 1,3 fosfogliserat. Jalur metabolisme ini sangat penting di dalam sel tumbuhan, karena tampaknya setengah dari jumlah karbon yang difiksasi berlangsung melalui jalur ini (Thorpe, 1984).