Anda di halaman 1dari 14

Makalah Epidemiologi Lingkungan A

PENYAKIT RABIES
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Epidemiologi Lingkungan A

Disusun Oleh :

1. Ika Nur Rizki 2. Muhammad Adam 3. Novita Anggraini

(PO7133112024) (PO7133112035) (PO7133112038)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN DIII KESEHATAN LINGKUNGAN 2013

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya tim penyusun dapat menyelesaikan Makalah Epidemiologi Lingkungan A dengan baik tanpa ada halangan yang berarti. Tim penyusun membuat makalah ini untuk melengkapi tugas mata kuliah Epidemiologi Lingkungan A. Selain itu, tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan makalah ini terutama pada dosen pembimbing yang telah memberi motivasi serta pengarahan sehingga tim penyusun mampu

menyelesaikan makalah ini dengan baik dan benar. Dan tidak lupa tim penyusun memohon maaf kepada para pembaca atas kekurangan dari makalah ini. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik pembaca yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Pembimbing

Yogyakarta, Juni 2013

Abdul Hadi Kadarusno, SKM, MPH

Tim Penyusun

Daftar Isi

Halaman Judul .............................................................................. Kata Pengantar .............................................................................. Daftar Isi ....................................................................................... BAB I Pendahuluan a. Latar Belakang........................................................................ b. Rumusan Masalah .................................................................. c. Tujuan ..................................................................................... d. Manfaat ................................................................................... BAB II Pembahasan ..................................................................... 1. Pengertian Penyakit Rabies .................................................... 2. Penyebab Penyakit Rabies ...................................................... 3. Identifikasi Penyakit Rabies ................................................... 4. Reservoir Penyakit Rabies ...................................................... 5. Cara Penularan Penyakit Rabies ............................................. 6. Gejala Klinis dan Perjalanan Penyakit Rabies 1. Pada Hewan ....................................................................... 2. Pada Manusia ..................................................................... G. Masa Inkubasi .......................................................................... H. Epidemiologi 1. Berdasarkan Orang ............................................................. 2. Berdasarkan Tempat ........................................................... 3. Berdasarkan Waktu ............................................................. I. Kerentanan dan Ketahanan Penyakit Rabies ............................. J. Upaya Pencegahan, Penanggulangan, dan Pengobatan Penyakit Rabies: 1. Pencegahan ........................................................................... 2. Penanggulangan .................................................................... 3. Penggobatan ......................................................................... BAB III Penutup A. Kesimpulan ............................................................................. B. Saran ....................................................................................... Daftar Pustaka ..............................................................................

i ii iii 1 2 2 2 4 4 4 4 5 5 5 6 7 7 7 8 8

8 9 9 11 11 12

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Kesehatan manusia hanya dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan jika manusia tersebut terpapar terhadap factor lingkungan pada tingkat yang tidak dapat ditenggang keberadaannya. Seorang tokoh di dunia kedokteran Hipokrates (460-377 SM) adalah tokoh yang pertama-tama berpendapat bahwa penyakit itu ada hubungannya dengan fenomena alam dan lingkungannya. Salah satunya penyakit rabies merupakan jenis penyakit yang didapat karena fenomena alam dan lingkungan tersebut. Rabies disebabkan oleh gigitan anjing, kera dan kucing serta hewan yang berdarah yang berada disekitar kita. Hal ini adalah jelas bahwa bintang tersebut merupakan fenomena yang jelas-jelas berada di sekeliling kita. Rabies adalah infeksi virus akut yang menyerang sis tem saraf pusat (SSP)manusia dan mamalia dengan mortalitas 100%. Penyebabnya adalah virus rabies yang termasuk genus Lyssa virus, famili

Rhabdoviridae , Vi r u s r a b i e s t e r d a p a t dalam air liur hewan yang terinfeksi. Hewan ini menularkan infeksi kepada hewanlainnya atu manusia melalui gigitan dan kadang melalui jilatan. Banyak hewan yang bisa menularkan rabies kepada manusia. Yang paling sering menjadi sumber dari rabies adalah anjing, hewan lainnya yang juga bisa menjadi sumber penularan rabies adalah kucing, kelelawar, rakun, sigung, rubah. Penyakit rabies mempunyai gejala patognomik takut air ( hydrophobia) , t a k u t s i n a r m a t a h a r i ( photophobia), takut suara, dan takut udara (aerophobia). Gejala tersebut disertai dengan air mata berlebihan (hiperlakrimasi), air liur berlebihan ( hipersalivasi), timbul kejang bilaada rangsangan, kemudian lumpuh dan terdapat tanda bekas gigitan hewan penular rabies. Menurut laporan Departemen Kesehatan Republik Indonesia di Indonesia, kasus gigitan rabies ke Indonesia mencapai jumlah 20.926 kasus gigitan per tahun pada tahun 2010 yang terlaporkankepada Dinas-Dinas Kesehatan di seluruh Kabupaten di Indonesia.

B. Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah makalah ini adalah : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Apa pengertian penyakit rabies? Apa penyebab dari penyakit rabies ? Bagaimana identifikasi penyakit rabies ? Jelaskan tentang reservoir penyakit rabies! Bagaimana cara penularan penyakit rabies ? Bagamaina gejala klinis dan perjalanan penyakit rabies ? Bagaimana masa inkubasi penyakit rabies ? Bagaimana epidemiologi penyakit rabies ? Jelaskan kerentanan dan ketahanan penyakit rabies! Bagaimana upaya pencegahan, penanggulangan dan pengobatan penyakit rabies ? C. Tujuan Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Untuk mengetahui pengertian penyakit rabies. Untuk mengetahui penyebab dari penyakit rabies. Untuk mengetahui cara identifikasi penyakit rabies. Untuk mengetahui reservoir penyakit rabies. Untuk mengetahui cara penularan penyakit rabies. Untuk mengetahui gejala klinis dan perjalanan penyakit rabies. Untuk mengetahui masa inkubasi penyakit rabies. Untuk mengetahui epidemiologi penyakit rabies. Untuk mengetahui kerentanan dan ketahanan penyakit rabies. Untuk mengetahui upaya pencegahan, penanggulangan dan pengobatan penyakit rabies. D. Manfaat Adapun yang menjadi manfaat penulisan makalah ini adalah : a. b. c. d. Mengetahui pengertian penyakit rabies. Mengetahui penyebab dari penyakit rabies. Mengetahui cara identifikasi penyakit rabies. Mengetahui reservoir penyakit rabies.

e. f. g. h. i. j.

Mengetahui cara penularan penyakit rabies. Mengetahui gejala klinis dan perjalanan penyakit rabies. Mengetahui masa inkubasi penyakit rabies. Mengetahui epidemiologi penyakit rabies. Mengetahui kerentanan dan ketahanan penyakit rabies. Mengetahui upaya pencegahan, penanggulangan dan pengobatan penyakit rabies.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Penyakit Rabies Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat pada hewan berdarah panas dan manusia. Rabies bersifat zoonosisartinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan kematian pada manusia dengan CFR (Case Fatality Rate) 100%. Virus rabies dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi da disebarkan melalui luka gigitan atau jilatan. B. Penyebab Penyakit Rabies Virus rabies merupakan virus RNA, termasuk dalam familia Rhabdoviridae, genus Lyssa. Virus berbentuk peluru atau silindris dengan salah satu ujungnya berbentuk kerucut dan pada potongan melintang berbentuk bulat atau elips (lonjong). Virus tersusun dari ribonukleokapsid dibagian tengah, memiliki membrane selubung (amplop) dibagian luarnya yang pada permukaannya terdapat tonjoloan (spikes) yang jumlahnya lebih dari 500 buah. Pada membran selubung (amplop) terdapat kandungan lemak yang tinggi. Virus tersusun dari ribonukleokapsid dibagian tengah, memiliki membrane selubung (amplop) dibagian luarnya yang pada permukaannya terdapat tonjoloan (spikes) yang jumlahnya lebih dari 500 buah. Pada membran selubung (amplop) terdapat kandungan lemak yang tinggi. Virus berukuran panjang 180 nm, diameter 75 nm, tonjolan berukuran 9 nm, dan jarak antara spikes 4-5 nm. Virus peka terhadap sinar ultraviolet, zat pelarut lemak, alkohol 70 %,yodium, fenol dan klorofrom. Virus dapat bertahan hidup selama 1 tahun dalam larutan gliserin 50 %. Pada suhu 600 C virus mati dalam waktu 1 jam dan dalam penyimpanan kering beku (freezedried) atau pada suhu 40 C dapat tahan selama bebarapa tahun. C. Identifikasi Penyakit Rabies Suatu penyakit encephalomyelitis viral akut dan fatal. Serangan biasanya dimulai dengan perasaan ketakutan, sakit kepala, demam, malaise, perubahan perasaan sensoris, pada bekas gigitan binatang. Gejala yang sering muncul adalah eksitabilitas dan aerophobia. Penyakit ini berlanjut kearah terjadinya paresis atau

paralisis, kejang otot-otot menelan menjurus kepada perasaan takut terhadap air (hydrophobia), diikuti dengan delirium dan kejang. Tanpa intervensi medis, basanya berlangsung 2-6 hari dan kadang-kadang lebih, 428 kematian biasanya karena paralisis pernafasan. Diagnosa ditegakkan dengan teknik pewarnaan FA yang spesifik terhadap jaringan otak atau dengan isolasi virus pada tikus atau sistem pembiakan sel. Diagnosa presumptive dapat ditegakkan dengan teknik pewarnaan FA spesifik dari potongan kulit yang dibekukan diambil dari kuduk kepaa bagian yang berambut. Diagnosa serologis didasarkan pada tes neutralisasi pada mencit atau kultur sel. D. Reservoir Penyakit Rabies Sebagai reservoir adalah berbagai Canidae domestic dan liar, seperti anjing, serigala,rubah, dan mamalia menggigit lainnya. Kelelawar frugivorous (pemakan buah) dan insectivorous (pemakan serangga) ditemukan di Amerika Serikat dan Kanada bahkan Eropa. Di Negara berkembang Anjing tetap menjadi reservoir utama. E. Cara Penularan Penyakit Rabies Penyakit rabies ditularkan melalui gigitan binatang. Kuman yang terdapat dalam air liur binatang ini akan masuk ke aliran darah dan menginfeksi tubuh manusia. Binatang yang sering menderita rabies adalah anjing, kucing, kelelawar dan kera. Selain lewat gigitan, rabies juga dapat ditularkan melalui mata, hidung, mulut dan luka yang terkontaminasi oleh air liur binatang yang terjangkit rabies. Penularan lewat cara ini sangat jarang terjadi, umumnya penularan melalui gigitan. Sedangkan penularan rabies dari manusia ke manusia sampai saat ini belum ada bukti maupun penelitian yang dapat membuktikannya, meskipun ada teori yang menyatakan bahwa rabies dapat ditularkan dari orang ke orang namun pada kenyataannya tidak dapat dibuktikan F. Gejala Klinis dan Perjalanan Penyakit Rabies 1. Pada Hewan Gejala klinis pada hewan dibagi menjadi tiga stadium : a. Stadium Prodromal Keadaan ini merupakan tahapan awal gejala klinis yang dapat berlangsung antara 2-3 hari. Pada tahap ini akan terlihat adanya

perubahan temperamen yang masih ringan. Hewan mulai mencari tempat-tempat yang dingin/gelap, menyendiri, reflek kornea berkurang, pupil melebar dan hewan terlihat acuh terhadap tuannya. Hewan menjadi sangat perasa, mudah terkejut dan cepat berontak bila ada

provokasi.Dalam keadaan ini perubahan perilaku mulai diikuti oleh kenaikan suhu badan. b. Stadium Eksitasi Tahap eksitasi berlangsung lebih lama daripada tahap prodromal, bahkan dapat berlangsung selama 3-7 hari. Hewan mulai garang, menyerang hewan lain ataupun manusia yang dijumpai dan hipersalivasi. Dalam keadaan tidak ada provokasi hewan menjadi murung terkesan lelah dan selalu tampak seperti ketakutan. Hewan mengalami fotopobi atau takut melihat sinar sehingga bila ada cahaya akan bereaksi secara berlebihan dan tampak ketakutan. c. Stadium Paralisis. Tahap paralisis ini dapat berlangsung secara singkat, sehingga sulit untuk dikenali atau bahkan tidak terjadi dan langsung berlanjut pada kematian. Hewan mengalami kesulitan menelan, suara parau,

sempoyongan, akhirnya lumpuh dan mati. 2. Pada Manusia Gejala klinis pada manusia dibagi menjadi empat stadium. e. Stadium Prodromal Gejala awal yang terjadi sewaktu virus menyerang susunan saraf pusat adalah perasaan gelisah, demam, malaise, mual, sakit kepala, gatal, merasa seperti terbakar, kedinginan, kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa hari. f. Stadium Sensoris Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap ransangan sensoris. g. Stadium Eksitasi Tonus otot-otot akan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan

gejala berupa eksitasi atau ketakutan berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan cahaya, tiupan angin atau suara keras. Umumnya selalu merintih sebelum kesadaran hilang. Penderita menjadi bingung, gelisah, rasa tidak nyaman dan ketidak beraturan. Kebingungan menjadi semakin hebat dan berkembang menjadi argresif, halusinasi, dan selalu ketakutan. Tubuh gemetar atau kaku kejang. h. Stadium Paralis Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresisotot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan. G. Masa Inkubasi Masa inkubasi pada manusia yang khas adalah 1-2 bulan tetapi bisa 1 minggu atau selama beberapa tahun (mungkin 6 tahun ata u lebih). Biasanya lebih cepat pada anak-anak dari pada dewasa. Kasus rabies manusia dengan periode inkubasi yang panjang (2 sampai 7 tahun) telah dilaporkan, tetapi jarang terjadi. Masa inkubasi tergantung pada umur pasien, latar belakang genetic, status immune, strainvirus yang terlibat, dan jarak yang harus ditempuh virus dari titik pintu. Masuknya ke susunan saraf pusat. Masa inkubasi tergantung dari lamanya pergerakan virus dari lamanya pergerakan virus dari luka sampai ke otak, pada gigitan dikaki masa inkubasi kira-kira 60 hari, pada gigitan ditangan masa inkubasi 40 hari, pada gigitan di kepala masa inkubasi kira-kira 30 hari. H. Epidemiologi 1. Berdasarkan Orang Rabies telah menyebabkan kematian pada orang dalam jumlah yang cukup banyak. Tahun 2000, World Health Organization(WHO)

memperkirakan bahwa setiap tahun di dunia ini terdapat sekurang-kurangnya 50.000 orang meninggal karena rabies, kepekaan terhadap rabies kelihatannya tidak berkaitan dengan usia, seks atau ras. 2. Berdasarkan Tempat Di Amerika Serikat rabies terutama terjadi pada musang, raccoon,

10

serigala dan kelelawar. Rabies serigala terdapat di Kanada, Alaska dan New York. Kelelawar penghisap darah (vampir), yang menggigit ternak merupakan bagian penting siklus rabies di Amerika latin. Eropa mempunyai rabies serigala, di Asia dan Afrika masalah utamanya adalah anjing gila.Beberapa daerah di Indonesia yang saat ini masih tertular rabies sebanyak 16 propinsi, meliputi Pulau Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung), Pulau Sulawesi (Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara), Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur) dan Pulau Flores. Kasus terakhir yang terjadi adalah Propinsi Maluku (Kota Ambon dan Pulau Seram). 3. Berdasarkan Waktu Rabies bisa terjadi disetiap musim atau iklim. I. Kerentanan dan Ketahanan Penyakit Rabies Semua hewan yang berdarah panas adalah hewan rentan dan ketahanan

manusia tergantung dari daya tahan tubuh yang dimiliki. Semua mamalia rentan terhadap rabies dengan berbagai tingkatan yang sangat dipengaruhi oleh strain virus. Manusia paling resisten terhadap infeksi dibandingkan dengan banyak spesies binatang, hanya sekitar 40% dari orang Iran yang dipastikan digigit binatang yang menderita rabies berkembang menjadi sakit. J. Upaya Pencegahan, Penanggulangan dan Pengobatan Penyakit Rabies 7. Pencegahan a. Menempatkan hewan peliharaan dalam kandang yang baik dan sesuai dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya. b. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan yang baik, pemeliharaan yang baik dan melaksanakan Vaksinasi Rabies secara teratur setiap tahun ke Dinas Peternakan atau Dokter Hewan Praktek. Tindakan ini tidak hanya melindungi hewan anda dari penyakit rabies tetapi juga melindungi diri anda sendiri dan keluarga anda. c. Memasang rantai pada leher anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan. d. Selalu awasi binatang peliharaan anda. Kurangi kontak mereka dengan

11

hewan atau binatang liar. Jika binatang peliharaan anda digigit oleh hewan liar, segera ke dokter hewan untuk diperiksa keadaannya. e. Hubungi dinas peternakan setempat bila anda menjumpai ada binatang liar yang mencurigakan di lingkungan tempat tinggal anda. f. g. Hindari kontak dengan hewan liar yang tidak jelas asal usulnya. Nikmati hewan liar seperti rakun, serigala dari tempat yang jauh. Jangan coba-coba memberi mereka makan, membelai ataupun memelihara mereka di rumah walaupun kelihatan sangat jinak. h. i. Cegah kelelawar memasukan rumah atau tempat anda beraktifitas. Jika anda bepergian ke daerah yang terjangkit rabies, segeralah ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan vaksinasi rabies 8. Penanggulangan Tindakan Penanganan Kasus Gigitan Setiap penderita kasus gigitan oleh hewan penular rabies harus diduga sebagai tersangka rabies, tindakan yang harus dilakukan adalah: a. Pertolongan pertama terhadap penderita gigitan : Luka gigitan dicuci dengan detergen selama 5-10 menit, keringkan dan diberi yodium tinture atau alcohol 70%. Penderita di bawah ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut. b. Kejadian penggigitan dilaporkan ke petuga Dinas Peternakan/Pertanian setempat. c. Hewan yang menggigit harus ditangkap dan dilaporkan ke Dinas Peternakan/Pertanian untuk diobeservasi. Diamati selama 14 hari, jika hewan mati dengan gejala rabies dalam masa masa obeservas maka hewan tersangka dinyatakan positif rabies. d. Apabila dalam masa observasi hewan tetap sehat maka hewan tersebut divaksinasi anti rabies dan dikembalikan pada pemiliknya atau dibunuh bila tidak ada pemilik. 9. Pengobatan Pada hewan tidak ada pengobatan yang efektif, sehingga apabila hasil diagnosa positif rabies, diindikasikan mati/euthanasia. Sedangkan pada

12

manusia dapat dilakukan pengobatan Pasteur, pemberian VAR dan SAR sesuai dengan prosedur standar operasi (SOP)

13

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan 1. Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat pada hewan berdarah panas dan manusia. 2. Virus rabies merupakan virus RNA, termasuk dalam familia Rhabdoviridae, genus Lyssa. 3. 4. Penyakit rabies dapat diidentifikasi. Reservoir penyakit rabies adalah berbagai Canidae domestic dan liar, seperti anjing, serigala,rubah, dan mamalia menggigit lainnya 5. 6. Penyakit rabies ditularkan melalui gigitan binatang. Gejala klinis pada hewan meliputi: stadium prodromal, stadium eksitasi dan stadium paralisis. Sedangkan pada manusia meliputi: stadium prodromal, stadium sensoris, stadium eksitasi dan stadium paralisis 7. Masa inkubasi pada manusia yang khas adalah 1-2 bulan tetapi bisa 1 minggu atau selama beberapa tahun (mungkin 6 tahun atau lebih).n waktu. 8. 9. Epidemiologi penyakit rabies berdasarkan orang, tempat dan waktu . Semua hewan yang berdarah panas adalah hewan rentan dan ketahanan manusia tergantung dari daya tahan tubuh yang dimiliki. 10. Penyakit rabies harus dicegah, ditanggulangi dan diberi pengobatan. B. Saran Untuk mencegah penyakit ini dapat kita lakukan vaksinasi terhadap hewan-hewan seperti Anjing, Monyet, Kucing, Musang dll. Dan apabila tergigit oleh hewan tersebut maka kita harus cepat tanggap untuk menetralisir virus tersebut.

14