Anda di halaman 1dari 79

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Salah satu ciri organisme hidup seperti tumbuhan adalah berkembang biak menjadi lebih banyak atau memperbanyak diri. Ada dua cara tumbuhan dalam memperbanyak diri, yaitu dengan cara aseksual dan seksual. Cara perkembangbiakan secara aseksual adalah suatu cara perkembangbiakan dengan menggunakan organ vegetatif. Cara ini banyak dilakukan oleh

tanaman yang tidak mempunyai bunga atau tidak mampu melakukan penyerbukan karena bunga tidak lengkap atau karena faktor lain yang menghalangi terjadinya penyerbukan. Bagian tanaman yang dipakai untuk berkembang biak adalah batang, umbi, atau mata tunas. Sedangkan cara

perkembangbiakan secara seksual adalah perkembang biakan dengan menggunakan biji. Biji berasal dari bakal biji, yang dapat disamakan dengan makrosporangium dan terdapat di dalam bunga. Ciri yang amat penting dalam reproduksi seksual adalah pembuahan, yaitu penyatuan sel betina dan sel jantan, atau gamet untuk membentuk zigot. Zigot tumbuh menjadi embrio (janin) di dalam biji. Bila berkecambah akan menjadi tumbuhan dewasa (Tjitrosomo dkk, 1985). Bunga merupakan salah satu alat reproduksi secara seksual pada tumbuhan. Pada bunga yang sempurna terdapat benang sari yang merupakan alat reproduksi jantan dan putik yang merupakan alat reproduksi betina. Dari peleburan antara benang sari dan putik inilah nantinya akan muncul buah yang di dalamnya terdapat biji, dan biji inilah yang nantinya dijadikan alat perkembangbiakan pada suatu tumbuhan. Dari segi biologi bunga merupakan alat perkembangbiakan tanaman. Sebab, bunga dapat tumbuh menjadi buah yang berisi biji, dan dari biji dapat tumbuh menjadi tanaman yang baru. Pembungaan, penyerbukan, pembuahan dan pembentukan buah merupakan faktor yang sangat menentukan produktivitas tanaman. Dari keempat faktor tersebut yang terpenting adalah

pembungaan, karena tanpa pembungaan maka tidak akan terjadi penyerbukan bunga atau pembentukan buah dan tidak akan diperoleh biji dari suatu tanaman (Darjanto dan Satifah, 1984). Bunga juga dapat dipandang sebagai suatu batang atau cabang pendek yang berdaun dan telah mengalami perubahan bentuk (metamorfosis) sebelum suatu tumbuhan mati. Karena

pentingnya keberadaan bunga bagi tanaman, maka perlu dipelajari lebih lanjut mengenai karakteristik berbagai macam bunga. Sebab setiap bunga memiliki karakteristik yang berbeda-beda pada setiap jenis tanaman yang akan menentukan tipe persilangan tanaman tersebut. Setiap bunga terbentuk pada tangkai khusus, yaitu tangkai bunga (pedicellus). Bagian bunga yang paling menyolok ialah daun mahkota (petal) atau biasa disebut mahkota bunga. Kelopak dan mahkota bunga, keduanya merupakan perhiasan bunga. Sedangakan. Putik dibentuk oleh satuan daun buah atau carpellum, yang secara kolektif dinamai gynaecium (Tjitrosoma, 1984).

B. Tujuan 1. Mempelajari struktur bunga. 2. Mempelajari tipe persilangan dari tanaman.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bunga merupakan suatu batang atau cabang pendek yang terbatas, neruas pendak-pendek dan daunnya telah mengalami perubahan

bentukbmenjadi kelopak, mahkota, benang sari dan putik, yang tersusun melingkar rapat sehingga tampaknya seperti bertumpuk pada sebuah buku (Darjanto dan Satifah, 1984). Hasil penelitian lebih lanjut tentang bunga, menunjukkan bahwa : 1. Bunga dapat terletak di ujung batang atau cabang dan di ketiak daun, yang letaknya sama dengan tempat tunas yang akan tumbuh manjadi cabang. 2. Bagian-bagian bunga (kelopak, tajuk, benang sari, putik) kadang-kadang dapat menyerupai daun biasa dengan perbedaan sedikit sampai besar sekali. 3. Pada ketiak daun kelopak atau daun tajuk kadang-kadang dapat terbentuk sebuah kuncup. 4. Kadang-kadang bunga dapat membentuk cabang biasa yang berdaun. Bunga sangat beragam strukturnya. Meskipun demikian, persamaan yang pokok di antara tumbuhan itu lebih besar dibandingkan dengan kelainannya, karena semua bunga mempunyai kerangka struktur dasar yang sama. Menurut botaniwan, bunga adalah sepotong batang atau cabang dengan sekumpulan daun yang mengalami metamorfosis yang behubungan dengan fungsinya untuk bereproduksi.(Tjitrosoma, 1984). Dilihat dari komponen penyusunnya, menurut Nasir (2001) menyatakan bahwa bunga dapat diklasifikasikan menjadi 2 macam, yaitu : 1. Bunga lengkap, yaitu sunga yang memiliki semua bagian bunga secara lengkap. 2. Bunga tidak lengkap, yaitu bunga yang tidak memiliki salah satu atau lebih komponen penyusun bunga.

Sedangkan, dilihat dari keberadaan alat kelamin jantan dan betina, Nasir (2001) membedakan bunga menjadi : 1. Bunga sempurna, yaitu bunga yang memiliki alat kelamin jantan dan betina pada satu bunga. 2. Bunga tidak sempurna, yaitu bunga yang tidak memiliki salah satu dari alat kelamin jantan atau alat kelamin betina. Menurut Darjanto dan Satifah (1984), bunga lengkap mempunyai empat bagian yaitu : kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistilum). Bunga dapat dipandang sebagai suatu batang atau cabang pendek yang bedaun dan telah mengalami perubahan bentuk kuncup. Kelopak merupakan rangkaian dari daun-daun bunga pertama dari bawah, yang pada kuncup bunga terletak paling luar. Adapun fungsi kelopak adalah untuk

melindungi bagian-bangian bunga lainnya dari gangguan luar sebelum kuncup bunga itu mekar. Rangkaian daun bunga yang kedua dari bawah adalah

corolla, yang biasanya lebih halus, lebih lemas, tidak kaku, lebar, dan lebih indah warnanya. Rangkaian daun bunga yang ketiga semuanya masih bergulung dan disebut benang sari. Benang sari adalah bagian bunga yang berfungsi sebagai alat kelamin jantan pada bunga. Benang sari yang normal mempunyai tangkai sari (bagian dari benang sari yang biasanya berbentuk silinder dan cukup panjang) dan kepala sari (bagian dari benang sari yang terletak pada ujung tangkai sari). Dan rangkaian daun yang keempat disebut putik, yang berada paling ujung dan berlekatan menjadi empat bunga duduk di atas dasar bunga (receptaculum), yaitu di ujung tangkai bunga yang biasanya melebar. Putik adalah bagian bunga yang berfungsi sebagai alat kelamin betina. Putik terdiri atas kepala putik, tangkai putik (berupa sebuah pipa atau tabung yang panjang dan merupakan tiang penghubung antara kepala putik dan bakal buah), dan bakal buah (bagian dari putik yang terletak paling bawah dan duduk di atas dasar bunga).

III. METODE PRAKTIKUM

A.

Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum biologi binga ini adalah berbagai macam bunga dari tanaman yang akan diamati.

B.

Alat Alat yang di gunakan dalam praktikum biologi bunga ini, antara lain: 1. Loupe 2. Alat tulis dan gambar.

C.

Prosedur Kerja 1. Morfologi bunga dari masing-masing jenis tanaman diamati. Apabila perlu, lup digunakan untuk mengamati bagian-bagian yang kecil. 2. Bunga digambar, lengkap dengan bagian-bagiannya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil

No. 1

Gambar Bunga pepaya jantan

Keterangan Bagian bunga : 1. Putik 2. Bakal buah 3. Benang sari 4. Kelopak 5. Mahkota Tipe bunga: lengkap, sempurna. Penyerbukan: sendiri Bagian bunga jantan : 1. Benang sari 2. Mahkota 3. Kelopak Tipe bung a: tidak lengkap, tidak sempurna. Persilangan: silang Bagian bunga betina: 1. Putik 2. Mahkota 3. Bakal buah 4. Kelopak Tipe bunga: tidak lengkap, tidak sempurna. Penyerbukan: silang

Bunga padi

Bagian bunga: 1. Kepala putik 2. Kepala sari 3. Palea 4. Lemma 5. Tangkai sari 6. Tangkai putik 7. Lodicules 8. Bakal buah Tipe bunga: tidak lengkap, sempurna. Persilangan: sendiri

Bunga jagung jantan

Bagian bunga: 1. Mahkota 2. Benang sari 3. Putik 4. Kelopak 5. Tangkai Tipe bunga: tidak lengkap, tidak sempurna. Persilangan: silang

Bunga jagung betina

Bagian bunga: 1. Glume atas 2. Pedicelled spikelet 3. Kepala sari bunga yang diatas akan membuka lebih dahulu 4. Palea bunga yang dibawah

5. Lemma di bawah 6. Glume bawah Tipe bunga: tidak lengkap, tidak sempurna. Persilangan: silang 5 Bunga kelapa Bagian bunga: 1. Putik 2. Kelopak 3. Bakal buah 4. Benang sari 5. Tangkai Tipe bunga: tidak lengkap, tidak sempurna. Persilangan: silang 6 Bunga sepatu Bagian bunga: 1. Putik 2. Benang sari 3. Mahkota 4. Kelopak 5. Tangkai Tipe bunga: lengkap, sempurna. Persilangan: sendiri 7 Bunga Anggrek Bagian bunga: 1. Putik 2. Benang sari 3. Mahkota 4. Kelopak 5. Tangkai Tipe bunga: lengkap,

sempurna. Persilangan: sendiri

Bunga cabai

Bagian bunga: 1. Putik 2. Benang sari 3. Mahkota 4. Kelopak 5. Tangkai Tipe bunga: lengkap, sempurna. Persilangan: sendiri

B.

Pembahasan Bunga merupakan alat perkembangbiakan tanaman. Bunga adalah wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan gamet betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Fase dimulai dari pembungaan, penyerbukan, pembuahan, pembentukan buah, dan dilanjutkan dengan pembentukan biji. Dalam hal ini terdapat permasalahan, yaitu selama masa berbunga tidak semua pucuk dapat terinduksi dan bertransisi dari fase vegetatif ke fase reproduktif. Keberhasilan proses pembungaan dimulai setelah terjadi induksi bunga, diikuti proses diferensiasi, pendewasaan organ-organ bunga, antesis, dan polinasi.

Dilihat dari bagian-bagian penyusunnya, bunga dapat dibedakan menjadi : 1. Bunga lengkap yaitu bunga yang memiliki semua bagian bunga, yang meliputi kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (androecium) dan putik (gynaecium). Yang termasuk bunga lengkap, misalnya bunga tomat, bunga papaya (hemaprodit), bunga sepatu, bunga anggrek, bunga cabai, bunga terong, bunga melati, bunga mawar, bunga matahari dan latulip. 2. Bunga tidak lengkap, yaitu bunga yang tidak memiliki komponen penyusun bunga secara lengkap, terdapat satu atau lebih komponen penyusun bunga yang tidak dimilikinya. Contoh bunga tidak lengkap, yaitu bunga kelapa, bunga padi, bunga papaya, bunga jagung, bunga salak, bunga melinjo. Dilihat dari kelengkapan alat kelamin jantan dan alat kelamin betina, bunga dibedakan menjadi : 1. Bunga sempurna, yaitu bunga yang memiliki benang sari (androecium) dan putik (gynaecium) pada satu bunga yang sama. Contoh bunga

sempurna, yaitu bunga padi, bunga papaya (hemaprodit), bunga melati, bunga tomat, bunga terung, bunga cabai, bunga anggrek, bunga sepatu, bunga melati dan bunga mawar. 2. Bunga tidak sempurna, yaitu bunga yang tidak memiliki salah satu dari alat kelamin jantan (benang sari) atau alat kelamin betina (putik). Contoh bunga tidak sempurna, yaitu bunga kelapa, bunga jagung, bunga salak, bunga melinjo, bunga semangka, bunga papaya. Karakter bunga yang dimiliki oleh tanaman, menentukan tipe persilangan dari setiap tanaman, terutama mengenai keberadaan alat kelamin jantan dan betina. Tipe persilangan tanaman dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tanaman menyerbuk sendiri dan tanaman menyerbuk silang.

10

Penyerbukan sendiri (autogami), terjadi apabila serbuk sari yang jatuh ke kepala putik berasal dari benang sari bunga itu sendiri. Dengan kata lain, penyerbukan terjadi antara tepung sari dan putik yang berasal dari bunga dari tanaman yang sama. Contoh tanaman yang melakukan

penyerbukan sendiri, antara lain alpukat (Persea Americana), padi (Oryza sativa), rambutan (Nephelium lappaceum), mangga (Mangifera indica), kedelai (Glycine max), kapas, kacang tanah dan gandum. menyerbuk sendiri umumnya homozigot. Tanaman

Tanaman yang mulanya

heterosigot, keragaman genetiknya akan menurun bila terjadi penyerbukan sendiri terus-menerus. Penyerbukan silang terjadi apabila serbuk sari yang jatuh ke kepala putik berasal dari bunga yang berbeda. Dengan kata lain, penyerbukan yang terjadi antara tepung sari dari bunga yang berbeda pada satu tanaman atau dari tanaman yang berbeda pada satu spesies. Penyerbukan silang ini akan menimbulkan keragaman genetic yang besar. Contoh tanaman yang

melakukan penyerbukan silang, antaralain salak (Salacca zalacca), pepaya (Carica papaya), jagung (Zea mays), nanas (Ananas comosus), dan kedondong (Spondias dulcis Forst.). Beberapa hal yang menyebabkan

terjadinya penyerbukan silang, antara lain : 1. Letak bunga jantan dan betina yang terpisah. 2. Serbuk sari yang mudah diterbangkan angin dan tahan lama. Dari pengamatan yang telah dilakukan pada praktikum bioogi bunga, jumlah benang sari pada setiap bunga yang diamati adalah sebagai berikut : 1. Bunga padi merupakan bunga telanjang yang mempunyai satu bakal buah, mempunyai 6 benang sari, yang terdiri dari tangkai sari dan kandung serbuk.. 2. Bunga anggrek merupakan bunga yang mempunyai bentuk berbedabeda, tipe penyerbukan pada bunga anggrek yaitu penyerbukan sendiri. Jumlah benang sari pada anggrek berjumlah satu atau dua, terdiri dari

11

benang sari yang lateral pada lingkaran dalam atau yang median dari lingkaran luar, sedangkan benang sari yang lainya bersifat mandul. 3. Bunga pepaya terdapat tiga macam jenis bunga yaitu : bunga jantan, bunga betina dan bunga hemaprodit atau bunga banci. Bunga papaya memiliki kelopak berlekuk 5 atau bertepi rata, daun mahkota 5. Benang sari 10 tertanam pada mahkotanya, tangkai sari bebas atau berlekatan pada pangkalnya. Bunga banci mempunyai dasar bunga yang berbentuk seperti lonceng. Pada bunga betina tidak ada rudimen benang sari atau staminodium, dan memiliki putik dengan tangkai putik pendek, bebas atau tanpa tangkai putik, bakal buah menumpang. Bakal biji banyak pada 3 sampai 5 tembuni yang terdapat pada dinding bakal buah, masing-masing dengan dua integumen. Pada pepaya mempunyai tipe penyerbukan silang dan persilangan terbuka. 4. Bunga sepatu termasuk jenis tanaman perdu dengan tinggi 1-4 m. Bunganya merupakan bunga tunggal yang muncul pada ketiak daun dan posisinya sedikit menggantung. Daun kelopak tambahan 6-9 berbentuk lanset garis, lebih pendek daripada kelopak bunga. Kelopak bunga

berbentuk tabung. Daun mahkota bunga berbentuk bulat telur terbalik, bentuk baji, panjang 5,5-5,8 cm berwarna merah darah, kuning atau jingga dengan noda tua pada pangkalnya. Tangkai benang sari

berbentuk tabung menyelubungi putik. Panjang benang sari lebih kurang sama dengan panjang mahkota bunga. Bakal bunga beruang lima.

Kepala putik dan benang sari terdapat dalam satu tempat yang berbentuk tabung. Pada dasar tabung tersebut terdapat ruang bakal biji atau ruang bakal buah. Pada bunga ini terdapat pula modifikasi dari kelompok bunga (calyx) yang disebut epycalyx. Kelopak bunganya berbentuk bulat telur terbalik dengan warna merah muda dan tersusun bertumpuktumpuk (Suryowinoto, 1997). 5. Bunga cabai adalah bunga lengkap, berbentuk seperti bintang laut, bakaal buah letaknya lebih tinggi dari benang sari dan mahkota bunga. Kelopak terdiri dari 5 helai daun kelopak yang saling berlekatan.

12

Mahkota bunga terdiri dari 5 helai berwarna putih, jumlah benang sari 5 buah, tangkai benang sari kecil dengan kepala besar mengelilingi bakal buah. 6. Bunga jagung pada perbungaan jantan berbentuk malai (tassel), yang terdiri dari bulir poros tengah dan cabang lateral. Poros malai bunga jantan merupakan kelanjutan dari batang pokok. Pada poros dan cabangcabang dari malai bunga jantan terdapat pasangan-pasangan spikelet. Tiap pasang spikelet terdiri dari sessile dan pedicelled. Tiap sessile terdiri dari 2 bunga dan masing-masing bunga mempunyai palea dan lemma, 2 lodicule dan 3 buah benang sari. Benang sari pada bunga yang letaknya lebih atas akan pecah lebih dulu. 7. Pada bunga kelapa bagian-bagian bunga jantannya terdiri dari tiga helai kelopak bunga berukuran 3-5 mm, tiga helai daun mahkota berukuran 15 mm, enam helai benang sari, satu putik rudimeter dengan kepala putik bersirip tiga lembar. Diantara sirip-sirip terdapat zat nektar atau zat madu. Sedangkan bunga betinanya berukuran lebih besar yaitu 3 cm. Kelopak bunga lebar dan tebal, hampir membungkus bagian-bagian

yang lainya. Pada bagian ujung masih nampak keluar sedikit bagian ujung dari daun mahkota bunga.

13

V. SIMPULAN

1. Bunga merupakan alat perkembangbiakan tanaman. Bunga adalah wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan gamet betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. 2. Berdasarkan komponen penyusunnya, bunga dikelompokkan menjasi bunga lengkap dan bunga tidak lengkap. Bunga lengkap adalah bunga yang memiliki semua komponen penyusun bunga (kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (androecium), putik (gynaecium) dan tangkai bunga). Sedangkan bunga tidak lengkap adalah bunga yang tidak memiliki salah satu atau dua komponen penyusun bunga. 3. Berdasarkan kepunyaan akan benang sari dan putik, bunga dibedakan menjadi bunga sempurna dan bunga tidak sempurna. Bunga sempurna adalah bunga yang memiliki benang sari dan putik dalam satu bunga. Sedangkan bunga tidak sempurna adalah bunga yang benang sari dan putiknya terletak pada bunga yang berbeda. 4. Karakteristik bunga mempengaruhi tipe persilangan tanaman. Bunga

sempurna biasanya merupakan tipe tanaman menyerbuk sendiri, sedangkan bunga tidak sempurna merupakan tipe tanaman menyerbuk silang.

14

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu tujuan dari pemuliaan tanaman adalah mendapatkan suatu varietas yang memiliki sifat-sifat yang baik. Terkadang dari sifat-sifat tersebut terdapat hubungan antara yang satu dengan yang lain. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan yang positif maupun negatif. Apabila hubungan tersebut

dimisalkan dengan peubah X dan Y yang memperlihatkan adanya suatu kenaikan atau pertambahan pada peubah X yang dibarengi dengan pertambahan yang berpadanan pada peubah Y, atau suatu penurunan pada X ternyata bertalian dengan penurunan pada Y, maka hal tersebut dapat menunjukkan bahwa perubahan pada satu peubah bagaimana pun bertalian dengan perubahan pada peubah lain, maka kedua peubah itu dapat dikatakan berkorelasi (Schefler, 1987). Derajat hubungan yang berkaitan dengan sifat-sifat yang saling berhubungan dinyatakan dalam suatu bilangan yang disebut koefisien korelasi. Dalam kegiatan seleksi, korelasi antar karakter tanaman memiliki arti yang sangat penting. Untuk mengestimasi suatu karakter tertentu dapat digunakan penduga yang juga merupakan suatu karakter yang lain yang relatif mudah diamati. Seleksi akan efektif bila terdapat hubungan erat anatar karakter penduga dengan karakter yang dituju dalam satu program seleksi. biasanya digunakan karakter morfologis. Analisis korelasi dan regresi merupakan salah satu cara yang digunakan untuk menentukan bentuk hubungan serta seberapa besar hubungan kedua sifat tersebut. Tujuan utama dalam penggunaan analisis ini adalah untuk meramalkan nilai dari suatu variabel dalam hubungannya dengan variabel lainnya yang dapat diketahui melalui persamaan regresi yang dipengaruhi oleh koefisien korelasi. Dalam praktiknya

15

Asumsi dasar korelasi diantaranya seperti tertera di bawah ini:


1.

Kedua variabel bersifat independen satu dengan lainnya, artinya masingmasing variabel berdiri sendiri dan tidak tergantung satu dengan lainnya. Tidak ada istilah variabel bebas dan variabel tergantung.

2.

Data untuk kedua variabel berdistribusi normal. distribusi normal artinya data yang distribusinya

Data yang mempunyai simetris sempurna. Jika

digunakan bahasa umum disebut berbentuk kurva bel. Ciri-ciri data yang mempunyai distribusi normal ialah sebagai berikut: a. Kurva frekuensi normal menunjukkan frekuensi tertinggi berada di tengah-tengah, yaitu berada pada rata-rata (mean) nilai distribusi dengan kurva sejajar dan tepat sama pada bagian sisi kiri dan kanannya. Kesimpulannya, nilai yang paling sering muncul dalam distribusi normal ialah rata-rata (average), dengan setengahnya berada dibawah rata-rata dan setengahnya yang lain berada di atas rata-rata. b. Kurva normal, sering juga disebut sebagai kurva bel, berbentuk simetris sempurna. c. Karena dua bagian sisi dari tengah-tengah benar-benar simetris, maka frekuensi nilai-nilai diatas rata-rata (mean) akan benar-benar cocok dengan frekuensi nilai-nilai di bawah rata-rata. d. Frekuensi total semua nilai dalam populasi akan berada dalam dibawah kurva. area

Perlu diketahui bahwa area total dibawah kurva

mewakili kemungkinan munculnya karakteristik tersebut. e. Kurva normal dapat mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Yang

menentukan bentuk-bentuk tersebut adalah nilai rata-rata dan simpangan baku (standard deviation) populasi.

B.

Tujuan 1. Mengetahui hubungan antara dua sifat pada tanaman. 2. Mengetahui bentuk hubungan yang ada diantara dua sifat yang bersangkutan.

16

II. TINJAUAN PUSTAKA

Korelasi merupakan salah satu teknik statistic yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih, yang sifatnya kuantitatif. Teknik korelasi merupakan teknik analisis yang melihat kecenderungan pola dalam satu variabel berdasrakan kecenderungan pola dalam variabel yang lainnya. Ketika satu variabel mmiliki kecenderungan untuk naik maka akan terlihat kecenderungan dalam veriabel yang lain, apakah naik, turun, atau tidak menentu. Jika kecenderungan dalam variabel selalu diikuti oleh kecenderungan dalam variabel lain, maka dapat dikatakan bahwa dua variabel memiliki hubungan atau korelasi. Koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui tingkat kemiripan dalam variabilitas antar tanaman induk dengan keturunannya. Fungsi uji korelasi

menurut Soepomo (1968) adalah untuk mengkaji hubungan satu sifat dengan sifat yang lainnya. Ada dua macam koefisien korelasi, yaitu : 1. Koefisien korelasi positif Apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang nyata. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan bertambah pula nilai sifat yang lain. Hal ini juga berlaku sebaliknya, yaitu berkurangnya sifat yang satu akan berkurang pula sifat yang lainnnya. 2. Koefisien korelasi negatif Apabila derajat hubungan antara dua sifat tanaman menunjukkan hal yang berlawanan. Artinya bertambahnya nilai sifat yang satu akan diikuti berkurangnya nilai sifat yang lain.

17

Analisis korelasi bertujuan untuk mengukur seberapa kuat atau derajat kedekatan auatu relasi yang terjadi antar sifat atau variabel. Korelasi antara dua sifat dapat dibagi dalam korelasi fenotipik dan korelasi genotipik. Korelasi

fenotipik dapat dipisahkan menjadi korelasi genotipik dan korelasi lingkungan. Oleh karena itu, korelasi fenotipik ini selanjutnya diharapkan dapat menunjukkan korelasi genotipik yang lebih berati dalam usaha pemuliaan panaman. Korelasi ini dapat diartikan sebagai korelasi nilai pemuliaan dari dua sifat yang diamati. Sedangkan korelasi lingkungan merupakan sisaan galat yang juga memberikan konstribusi terhadap fenotip (Nasir, 2001). Nilai korelasi antara dua sifat tanaman bervariasi, yaitu berkisar antara -1 sampai +1, sehingga dikenal dua macam koefisien korelasi yaitu koefisien korelasi positif dan koefisien korelasi negatif. Korelasi positif abila bertambahnya sifat yang satu bersamaan dengan bertambahnya sifat yang lain. Korelasi negatif, abila bertambahnya sifat yang satu bersamaan dengan berkurangnya sifat yang lain. Sedangkan apabila koefisien korelasi = 0 berarti tidak ada hubungan sama sekali antara kedua sifat tersebut (Sudjana1983: Soepomo,1968). Perhitungan koefisien korelasi antara x dan y sebagai ukuran hubungan dapat dilihat dari dua segi. Pertama, koefisien korelasi dihitung untuk

menentukan apakah ada korelasi antara x dan y dan jika ada apakah berarti atau tidak. Kedua, untuk menentukan derjat hubungan antara x dan y jika hubungan itu memang sudah ada atau barang kali diasumsikan ada (Sudjana, 1983).

18

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum koefisien korelasi antara dua sifat pada tanaman ini adalah bahan-bahan yang hendak dicari koefisien korelasinya. B. Alat 1. Penggaris 2. Timbangan 3. Counter C. Prosedur Kerja 1. Bahan-bahan dan sifat-sifat yang hendak dicari koefisien korelasinya diamati. 2. Semua hasil pengamatan, pengukuran, penimbangan dan perhitungan ditulis dengan baik pada tabel yang telah disiapkan sebelumnya. 3. Data hasil pengamatan dimasukkan dalam tabel frekuensi.

19

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil No 1 2 3 4 X (cm) 23,5 20,5 23,5 21 88,5 22,12 Y (cm) 4 8 11,25 5,50 28,75 7,18

Xi- +1,38 -1,62 1,38 -1,12 0,02

(Xi- 1,90 2,62 1,90 1,25 7,67

(Yi- -3,18 0,82 4,07 -1,68 0,03

(Yi- 10,11 0,67 16,56 2,82 30,16

XY 94,0 164 264,37 115,5 637

= S

= =

= =

=2,55 =10,05 = =0,59 = 0,11

Sxy= R=

= 0,0121 Sr = T= = = = 0,15 = = 0,7

Kesimpulan t hitung < t table (5,591) berarti kofesien korelasi tidak jauh berbeda nyata.

20

B. Pembahasan Korelasi adalah hubungan yang terdapat antara dua atau beberapa sifat (pengamatan) (Soepomo,R, 1968). Pada empat varietas padi yang telah diukur panjang malainya, jumlah bulir, jumlah biji, dan bobot malainya didapat bentuk korelasi yang berbeda sesuai dengan sifat-sifat yang dibandingkan. Sebelumnya ditentukan dahulu koefisien korelasinya (r), jika r = 0 berarti tidak ada korelasi, r = 0 sampai +1 berarti adanya korelasi positif, r = 0 sampai -1 berarti adanya korelasi negatif (Soepomo,R, 1968). Kemudian dilakukan pengujian terhadap koefisien korelasi tersebut yang dibandingkan dengan standar errornya. Uji ini disebut uji t yang bertujuan untuk menguji kepastian korelasi. Jika nilai t yang didapat ini lebih besar dari nilai t tabel maka koefisien korelasinya nyata, artinya antara kedua sampel saling mempengaruhi. Untuk melakukan interpretasi kekuatan hubungan antara dua variabel dilakukan dengan melihat angka koefesien korelasi hasil perhitungan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut :
1.

Jika angka koefesien korelasi menunjukkan 0, maka kedua variabel tidak mempunyai hubungan.

2.

Jika

angka koefesien korelasi mendekati 1, maka kedua variabel

mempunyai hubungan semakin kuat.


3.

Jika

angka koefesien korelasi mendekati 0, maka kedua variabel

mempunyai hubungan semakin lemah.


4.

Jika angka koefesien korelasi sama dengan 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna positif. Jika angka koefesien korelasi sama dengan -1, maka kedua variabel

mempunyai hubungan linier sempurna negatif

21

Ditinjau dari sifat-sifat yang berhubungan, korelasi dibedakan menjadi tiga, yaitu : 1. Korelasi sederhana Korelasi sederhana terjadi apabila satu sifat dipengaruhi oleh satu sifat yang lain, misalnya panjang malai dengan banyaknya gabah per malai pada tanaman padi. Korelasi sederhana digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara dua variabel, untuk melihat kuat lemahnya hubungan dan arah hubungan antara dua variabel. 2. Korelasi partial Korelasi partial terjadi apabila dua sifat dipengaruhi oleh sifat-sifat yang lain. Misalnya tingginya produksi dan tingginya sterilitas biji

dipengaruhi oleh bobot malai dan serangan penyakit. Korelasi partial digunakan untuk mengetahui derajat hubungan antara suatu variable bebas dengan satu veriabel terikat, dengan cara mengkondisikan variable bebas lainnya dibuat tetap/konstan/ dikendalikan dalam analisis multiple correlation. 3. Korelasi berganda Korelasi berganda terjadi apabila satu sifat dipengaruhi oleh banyak sifat yang lain. Korelasi ganda (multiple correlation) adalah korelasi antara dua atau lebih variable bebas secara bersama-sama dengan suatu variable terikat. Angka yang menunjukkan arah dan besar kuatnya hubungan antara dua atau lebih variable bebas dengan satu variable terikat disebut koefisien korelasi ganda, dan biasa disimbolkan R. Praktikum yang dilakukan kali ini mengamati dan menghitung korelasi pada tanaman padi yang meliputi : 1. Korelasi antara panjang malai dengan jumlah bulir. 2. Korelasi antara panjang malai dengan jumlah biji. 3. Korelasi antara panjang malai dengan bobot malai. 4. Korelasi antara jumlah bulir dengan jumlah biji.

22

5. Korelasi antara jumlah bulir dengan bobot malai. 6. Korelasi antara jumlah biji dengan bobot malai. Setelah dilakukan perhitungan, koefisien korelasi yang didapat bernilai positif sehingga dikatakan bahwa kedua variabel tersebut mempunyai korelasi positif. Dan setelah dilakukan uji t, kedua variabel tersebut menunjukkan korelasi yang tidak berbeda nyata. Sebab, t hitung kurang dari t tabel. Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa korelasi yang berlaku merupakan korelasi sederhana, korelasi partial dan korelasi berganda. Korelasi sederhana dapat dicontohkan pada hubungan antara

panjang malai (X) dan jumlah bulir (Y). Sedangkan korelasi bergnda dapat dicontohkan pada bobot malai dipengaruhi oleh panjang malai, jumlah bulir dan jumlah biji. Ditinjau dari sifat yang berhubungan maka korelasi dan percobaan yang dilakukan adalah termasuk sederhana karena hanya mengukur keeratan dua sifat/peubah misalnya panjang malai dengan bobot malai. Ada hubungan antara korelasi dengan persamaan regresi karena perhitungan koefisien korelasi dengan rumus didasarkan pada studi matematika dari garis regresi. Garis regresi diperoleh dari persamaan regresi. Selain itu korelasi

membicarakan hubungan antara dua ciri atau lebih, sedangkan regresi menduga bentuk hubungan antar ciri-ciri tersebut sehingga keduanya punya hubungan yang sangat erat. Dalam statistik, koefisien korelasi ituberhubungan dengan

persamman regresi karena persamaan regresi menunjukkan bentuk persamaan hubungan antara 2 variabel atau lebih. Sedangkan koefisien

korelasi menunjukkan erat tidaknya hubungan antar variabel tersebut (Sudjana,1983).

23

V. SIMPULAN

a. Korelasi merupakan salah satu teknik statistic yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih, yang sifatnya kuantitatif. b. Besarnya korelasi antar dua sifat pada tanaman bervariasi, yaitu antara -1 sampai +1. 1. Jika r = 0, berarti antar kedua sifat tersebut tidak berkorelasi 2. Jika r = 0 sampai +1, berarti antar kedua sifat tersebut ada korelasi positif 3. Jika r = 0 sampai -1, berarti antar kedua sifat tersebut ada korelasi negatif c. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa korelasi yang berlaku merupakan korelasi sederhana, korelasi partial dan korelasi berganda. Korelasi

sederhana dapat dicontohkan pada hubungan antara panjang malai (X) dan jumlah bulir (Y). Sedangkan korelasi bergnda dapat dicontohkan pada bobot malai dipengaruhi oleh panjang malai, jumlah bulir dan jumlah biji. d. Pada perhitungan korelasi antara panjang malai dengan jumlah bulir, meyatakan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang tidak berbeda nyata. Sebab, t hitung kurang dari t tabel.

24

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tujuan pemuliaan tanaman salah satunya adalah untuk mendapatkan varietas tanaman yang lebih baik. Varietas tanaman yang baik berasal dari gen-gen yang menyusun sifat-sifat baik pula. Gen-gen tersebut diambil dari koleksi gen di dalam plasma nutfah yang berasal dari hasil mutasi, varietas lokal, kegiatan pemuliaan, dan introduksi tanaman. Perkawinan antar spesies merupakan salah satu cara yang digunakan dalam meningkatkan keragaman genetik bahan pemuliaan. Keragaman tersebut nantinya akan diseleksi untuk mendapatkan varietas yang memiliki sifat unggul. Tujuan pemuliaan tanaman salah satunya adalah untuk mendapatkan varietas tanaman yang lebih baik. Varietas tanaman yang baik berasal dari gen-gen yang menyusun sifat-sifat baik pula. Gen-gen tersebut diambil dari koleksi gen di dalam plasma nutfah yang berasal dari hasil mutasi, varietas lokal, kegiatan pemuliaan, dan introduksi tanaman. Cara untuk mendapatkan varietas tanaman yang lebih baik yaitu dengan fusi protoplas, kultur jaringan, induksi mutasi, transfer gen, dan hibiridisasi. Hibridisasi adalah tindakan menyerbuki suatu tanaman dengan tepung sari yang berasal dari varietas lain pada suatu jenis tanaman. Tanaman yang akan dihibridisasi pada praktikum kali ini adalah tanaman padi. Sebelum dilakukan proses hibridisasi, terlebih dahulu dilakukan proses kastrasi.

B. Tujuan 1. Menghilangkan kepala sari sebelum bunga membuka dengan maksud untuk mencegah terjadinya pembuahan sendiri. 2. Menyerbuki bunga-bunga yang telah dikastrasi dengan tepung sari dari jenis tanaman yang kita kehendaki sebagai induk jantan.

25

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pemuliaan tanaman yang dikembangbiakan secara vegetatif dapat ditempuh melalui hibridisasi. Oleh karena kita perlu membuat variasi, maka dilakukan hibridisasi. Dengan jalan ini akan diperoleh sumber variabilitas atau klon-klon baru yang sangat luas variabilitasnya dan menjadi sumber penyeleksian klon baru. Berbeda dengan tanaman yang menyerbuk sendiri, dalam tanaman yang diperbanyak dengan jalan aseksual karena sifatnya heterozigot maka segregasi terjadi pada F1. Jadi tiap tanaman dalam F1 adalah sumber potensi dari klon baru, menghasilkan F2 jarang dilakukan. Selfing dapat menurunkan vigor (Sunarto, 1997). Tanaman menyerbuk sendiri dapat dimuliakan antara lain melalui hibridisasi. Hibridisasi atau persilangan bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari kedua tetua atau induknya sedemikian rupa sehingga sifat-sifat baik tersebut dimiliki keturunannya. Sebagai hasil dari hibridisasi adalah timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya. Dari keragaman yang tinggi inilah pemulia tanaman akan memilih tanaman yang mempunyai sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan (Sunarto, 1997). Langkah pertama hibridisasi pada tanaman yang menyerbuk sendiri yaitu memilih tetua yang berpotensi. Pemilihan tetua ini tergantung pada sifat yang akan dimuliakan apakah sifat kualitatif atau sifat kuantitatif. Pemilihan tetua kualitatif lebih mudah karena perbedaan penampakan tetua menunjukkan pula perbedaan gen pengendali sifat itu. Pemilihan tetua untuk sifat kuantitatif lebih sulit karena adanya perbedaan fenotipe yang belum tentu. Oleh karena itu, pemilihan tetua perlu dipertimbangkan dari segi lain, yaitu sifat fisiologi, adaptasi dan susunan genetik (Wels, 1981). Hibridisasi dilakukan setelah bunga dikastrasi. Pengertian dari hibridisasi adalah suatu tindakan menyerbuki bunga-bunga yang telah dikastrasi dengan tepung sari dari jenis tanaman yang dikendaki oleh penyerbuk. Menurut

Soemedi (1977), hibridisasi dalam pemuliaan tanaman padi sebagai usaha

26

terbaik untuk mendapatkan varietas baru. Fungsi hibridisasi yang lain menurut Nasir (2001) adalah untuk menguji potensi satu atau beberapa tetua. Penyerbukan yang terjadi pada bunga padi pada dasarnya adalah penyerbukan sendiri. Penyerbukan sendiri terjadi dalam kuncup bunga yang telah dewasa sebelum kuncup itu mekar, ketika benang sari dan putik masih terbungkus oleh dua sekam kelopak dan dua helai sekam tajuk yang lebih besar. Penyerbukan silang pada bunga padi juga dapat terjadi. Penyerbukan silang tersebut dapat terjadi dengan bantuan manusia ketika bunga sudah mekar dan disebut dengan kastogami. Bunga padi umumnya mekar pukul enam pagi, oleh karena itu pelaksanaan persilangan buatan harus dimulai sebelum pukul enam pagi (Darjanto dan Satifah, 1984). Penyerbukan silang buatan pada padi dimulai dengan melakukan kastrasi terlebih dahulu. Pengertian kastrasi atau emaskulasi itu sendiri adalah suatu tindakan membuang semua benang sari yang masih muda atau yang belum masak dari sebuah kuncup bunga suatu tanaman induk betina, dengan maksud agar bunga tersebut tidak mengalami penyerbukan sendiri. Kastrasi dilakukan satu atau dua hari atau sesaat sebelum kuncup bunga itu mekar. Tanaman yang digunakan untuk kastrasi adalah tanaman yang bunganya sudah dewasa, tetapi benang sari dalam bunga tersebut masih tergolong muda, yaitu yang belum mengeluarkan serbuk sari dan ruang sarinya masih tertutup rapat (Darjanto dan Satifah, 1984).

27

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah tanaman yang siap disilangkan. B. Alat 1. Alat tulis 2. Label persilangan 3. Kantong kertas 4. Gunting 5. Tusuk gigi 6. Crossing set C. Prosedur Kerja 1. Dipilih malai yang masih tertutup oleh daun bendera yang akan digunakan sebagai tetua betina, dengan ketentuan bahwa malai yang keluar dari daun bendera baru sekitar 10 % - 20 %. Buang-bunga yang sudah diserbuki atau belum siap diserbuki. 2. Benang sari diemaskulasi. Digunting kira-kira sepertiga bagian dari palea dan lemma, kemudian gunting didorong keatas sehingga anternya terbuang semua dan tinggal kepala putiknya saja. Benang sari yang tersisa dapat dibuang dengan gunting. 3. Dipilih malai yang sudah mekar yang akan digunakan sebagai tetua jantan. 4. Penyerbukan dilakukan dengan menggoyang-goyangkan malai bunga jantan diatas bunga betina yang telah diemaskulasi. 5. Ditutup malai (bunga-bunga) hasil persilangan dengan kantong kertas, kemudian cantumkan label mengenai informasi yang diperlukan dari persilangan tersebut. 6. Diamati keberhasilan persilangan dan hitung tingkat keberhasilannya dengan rumus sebagai berikut : Tingkat keberhasilan (%) == X 100 %

28

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Nama Penyerbuk : 1. Hamdan Maruli S 2. Kutut Apriyadi 3. Emi Permata Sari 4. Trian Aprilianti 5. Darfan Suhendra 6. Jamaludin Tanggal Menyerbuk Nama varietas padi Induk jantan Induk betina Jumlah gabah yang dikastrasi Jumlah gabah yang terbuahi Tingakat Keberhasilan : = 9 x 100% 128 = 7,03 % : 22 Desember 2011 : Situgonggo X Danau tempe : Danau tempe : Situgonggo : 128 bulir : 9 bulir X 100 %

B. Pembahasan Tanaman padi pada umumnya tergolong ke dalam tanaman yang melakukan penyerbukan sendiri. Walaupun demikian tanaman padi tidak tertutup

kemungkinan untuk melakukan penyerbukan silang. Penyerbukan silang pada padi dapat dilakukan dengan bantuan manusia yaitu dengan hibridisasi. Menurut Nasir (2001), tujuan dari setiap program persilangan adalah untuk menyatukan gamet jantan dan gamet betina yang diinginkan dari tetua yang terpilih. Pemilihan tetua sebagai induk dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu :

29

a. Pemilihan tetua untuk karakter kualitatif Karakter kualitatif menunjukkan fenotip yang berbeda akibat adanya genotip yang berbeda. b. Pemilihan tetua untuk karakter kuantitatif Pemilihan karakter kuantitatif lebih sulit karena perbedaan fenotip belum tentu disebabkan oleh genotip yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pemilihan tetua untuk karakter ini perlu dipertimbangkan dari segi aspek fisiologi, aspek adaptasi, dan susunan genotip.

Kastrasi dilakukan pada pagi hari pukul 05.30 karena bunga padi dapat lekas mekar pada cuaca yang terang dan banyak mendapat sinar matahari. Bunga yang akan dikastrasi dipilih bunga yang belum mekar atau hampir mekar sehubungan dengan itu maka pertumbuhan kuncup bunga perlu diamati dengan seksama. Kastrasi dapat dilakukan pada pagi hari hingga pukul 08.00 yaitu pada suhu rendah dengan udara yang cukup lembab, maka kepala sari itu biasanya masih tertutup rapat, sehingga dengan mudah benang sari dapat dibuang dalam keadaan utuh. Kastrasi dilakukan dengan cara menggunting sepertiga bagian bulir padi Mentik Wangi kemudian dikumpulkan benang sarinya. Selanjutnya untuk menghindari jatuhnya serbuk sari yang tidak diinginkan sebaiknya bunga diisolasi dengan menggunakan kantong kertas, baik sebelum atau sesudah persilangan dilakukan. Pengerudungan (cover off) pada bunga tersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu pembuahan dan perkembangan embrio. Bunga padi adalah bunga panjang dan berkelamin dua (hermaphrodit). Bunga-bunga mekar pada tiap malai dari bawah keatas, atau dari luar kedalam, yaitu kearah poros. Lamanya pembungaan dari tiap malai berkisar antara 5 sampai 10 hari (Darjanto dan Satifah, 1984). Pada praktikum hibridisasi tanaman menyerbuk sendiri, varietas padi yang digunakan adalah varietas Situgonggo () dan Danau tempe (). Metode kastrasi yang dilakukan pada praktikum kastrasi dan hibridisasi adalah clipping method. Palea dan lemma padi dipotong lebih kurang seperempat dari panjangnya, kemudian diambil

30

benang sarinya dan kemudian dimasukkan ke dalam petridis. Setelah dikastrasi, untuk menunggu hibridisasi yang akan dilakukan seminggu setelahnya maka bunga yang dikastrasi tersebut ditutup dengan kantong kertas untuk menghindari jatuhnya serbuk sari yang tidak diinginkan. Hibridasi adalah penyerbukan antara tanaman homosigot. Tujuan hibridisasi adalah untuk memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipenya. Kegiatan hibridisasi meliputi: a. Mengumpulkan tepung sari Pengumpulan serbuk sari dari pohon tetua jantan dapat dimulai beberapa jam sebelim kuncup-kuncup bunga itu mekar. b. Kastrasi Kastrasi adalah membersihkan bagian tanaman yang ada disekitar bunga yang akan di emanskulasi dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup bunga yang tidak dipakai. Membuang mahkota bunga dan dan kelopak termasuk dalam kegiatan ini. c. Emaskulasi Emaskulasi adalah pembuangan alat kelamin jantan pada tetua betina. Tujuan emaskulasi adalah untuk mencegah penyerbukan sendiri terjadi. Oleh karena itu emaskulasi dilakukan sebelum bunga itu mekar atau sebelum mengalami penyerbukan sendiri. Cara atau metode yang dapat digunakan antara lain, clipping method, sucking method, hot water treatment, chemical method dan male sterility method. d. Hibridisasi Hibridisasi dikerjakan langsung sesuadah kastrasi, sebaiknya jangan melebihi pukul 11.00. Caranya dengan menggosok-gosokkan kuas yang sudah ada tepung sarinya pada kepala putik bunga yang sudah dikastrasi tersebut serata mungkin.

31

e. Memberi tanda dan etiket Bunga-bunga yang sudah diserbuki, tangkainya diikat dengan benang berwarna dan etiket untuk menjaga kekeliruan. Etiket tersebut berisi nama penyerbuk, tanggal penyerbukan, nama jenis tanaman betina dan jantan. f. Pembungkusan Pembukusan dilakukan untuk mencegah terjadinya penyerbukan silang yang tidak dikehendaki dan gangguan lain, karangan bunga yang sudah diserbuki tersebut dibungkus dengan menggunakan kantong. Pemilihan alat

pembungkus disesuaikan dengan ukuran bunga. g. Control Control dibuat dengan hanya mengkastrasi sejumlah bunga tetapi tidak diserbuki. Hibridisasi yang dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri agar berhasil sesuai dengan yang diharapkan maka perlu dilakukan pemilihan tetua yang memiliki potensi genetik yang diinginkan. Pemilihan tetua ini sangat tergaantung pada karakter tanaman yang akan digunakan, yaitu apakah termasuk karakter kualitatif atau kuantitatif. Tujuan dari setiap program pemuliaan tanaman adalah untuk menyatukan gamet jantan dan gamet betina yang diinginkan dari tetua yang terpilih (Nasir, 2001). Karakter kualitatif menunjukkan fenotip yang berbeda akibat adanya genotip yang berbeda pula. Sedangkan pemilihan tetua untuk karakter kuantitatif jauh lebih sulit karena perbedaan fenotip belum tentu disebabkan oleh genotif yang berbeda. Karena faktor lingkungan juga mempengaruhi terhadap penampilan dari fenotip yang ada. Hibridisasi dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 10.30. Dilakukan dengan cara menaburkan benang sari varietas Danau tempe sebagai induk jantan ke kepala putik varietas situ Situgonggo sebagai induk betina dengan menggoyang-goyangkan benang sari induk jantan. Tujuan dari hibridisasi adalah menggabungkan dua sifat dari dua varietas tanaman ke dalam satu tubuh tanaman. Oleh karena itu, sifat tanaman hasil persilangan (F1) merupakan gabungan sifat diantara kedua tetuanya. Faktor lain yang harus diperhatikan

32

dalam melakukan hibridisasi adalah lamanya daya hidup (viabilitas) serbuk sari. Untuk tanaman serealia, viabilitas serbuk sari relatif sangat singkat biasanya hanya bertahan dalam beberapa menit saja. Sedangkan untuk tanaman tahunan dan buah-buahan serbuk sari masih bisa bertahan hidup normal meskipun telah disimpan selama beberapa bulan bahkan beberapa tahun lamanya (Nasir, 2001). Menurut Welsh (1981), kombinasi sifat dari kedua tetua pada F1 terjadi secara acak, jadi bisa saja kombinasi sifat yang ada pada F1 bersifat lebih menguntungkan dari kedua tetuanya. Karena sifat kedua tetua berbeda satu dengan yang lainnya, maka keturunan yang diperoleh dapat mempunyai sifatsifat baru yang berbeda dengan sifat yang ada pada kedua induknya. Keturunan F1 bersifat heterozigot dan mengalami pemisahan pada generasi berikutnya. Hibribridisasi Situgonggo dan Danau tempe menghasilkan 9 bulir padi yang mengalami pembuahan, sedangkan 119 bulir padi yang lainnya mengalami kegagalan. Persentase keberhasilan hibridisasi sebesar 7,03%. Hibridisasi ini dianggap tidak berhasil karena persentase keberhasilan kurang dari 50 %. Hal ini disebabkan karena dalam melakukan hibridisasi serbuk sari yang tersedia tidak cukup banyak sehingga ada beberapa bunga yang tidak terserbuki dan pada waktu penyerbukan yang dilakukan dengan menggoyanggoyangkan tetua jantan tidak semua serbuk sari masuk ke putik, sehingga tidak semua bunga terjadi pembuahan. Kegagalan dalam hibridisasi juga dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan, yaitu pada waktu memotong putiknya ikut terpotong sehingga tidak mungkin terjadi pembuahan.

33

V. SIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Hibridisasi adalah suatu cara untuk memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya. 2. Kegiatan herbidisasi terdiri atas mengumpulkan tepung sari, kastrasi, hibridisasi, memberi tanda dan etiket, pembungkusan dan kontrol. 3. Kastrasi harus dilakukan sebelum bunga mekar dengan tujuan agar benang sari tidak keluar lebih dahulu. 4. Tingkat keberhasilan hibridisasi antara padi varietas Situgonggo dan Danau tempe adalah sebesar 7,03%.

34

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman. Tujuan utama melakukan persilangan adalah Menggabungkan

semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru, Memperluas keragaman genetic, Memanfaatkan vigor hibrida atau Menguji potensi tetua (uji turunan). Dari keempat tujuan utama ini dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman. Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Namun demikian, kegiatan seleksi tersebut seringkali tidak dapat langsung diterapkan, karena sifat-sifat keunggulan yang dimaksud tidak seluruhnya terdapat pada satu genotipe saja, melainkan terpisah pada genotipe yang lainnya. Misalnya, suatu genotipe mempunyai daya hasil yang tinggi tapi rentan terhadap penyakit, sedangkan genotipe lainnya memiliki sifat-sifat lainnya (sebaliknya). Jika seleksi diterapkan secara langsung maka kedua sifat unggul tersebut akan selalu terpisah pada genotipe yang berbeda. Oleh sebab itu untuk mendapatkan

35

genotipe yang baru yang memiliki kedua sifat unggul tersebut perlu dilakukan penggabungan melalui rekombinasi gen. Persilangan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan rekombinasi gen. Secara teknis, persilangan dilakukan dengan cara memindahklan tepung sari kekepala putik pada tanaman yang diinginkan sebagai tetua, baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri (self polination crop) maupun pada tanaman yang menmyerbuk silang (cross polination crop). Keberhasilan persilangan sangat ditentukan oleh pemulia tanaman mengenai tehnik persilangan itu sendiri maupun pada pengetahuan akan bunga,misalnya: a. Stuktur bunga. b. Waktu berbunga. c. Saat bunga mekar. d. Kapan bunga betina siap menerima bunga jantan (tepung sari). e. Tipe penyerbukan. Tujuan pemuliaan tanaman salah satunya adalah untuk mendapatkan varietas tanaman yang lebih baik. Varietas tanaman yang baik berasal dari gen-gen yang menyusun sifat-sifat baik pula. Gen-gen tersebut diambil dari koleksi gen di dalam plasma nutfah yang berasal dari hasil mutasi, varietas lokal, kegiatan pemuliaan, dan introduksi tanaman. Cara untuk mendapatkan varietas tanaman yang lebih baik yaitu dengan fusi protoplas, kultur jaringan, induksi mutasi, transfer gen, dan hibiridisasi. Hibridisasi adalah tindakan

menyebuki suatu tanaman dengan tepung sari yang berasal dari varietas lain pada suatu jenis tanaman. B. Tujuan Menghasilkan biji F1 dengan kombinasi sifat tetua dari persilangan jagung, sebagai salah satu tahap upaya perakitan varietas baru untuk tanaman menyerbkan silang.

36

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dari hibridisasi adalah suatu tindakan menyerbuki bunga-bunga yang telah dikastrasi dengan tepung sari dari jenis tanaman yang dikendaki oleh penyerbuk. Menurut Soemedi (1977), hibridisasi dalam pemuliaan tanaman padi sebagai usaha terbaik untuk mendapatkan varietas baru. Fungsi hibridisasi yang lain menurut Nasir (2001) adalah untuk menguji potensi satu atau beberapa tetua. Hibridisasi dilakukan dengan menggosok-gosokkan pinset halus (dimasukkan) satu benang sari pada putik dari bunga yang telah dikastrasi. Cara yang lainnya dari hibridisasi adalah dengan menggoyang-goyangkan bunga yang mekar diatas bunga-bunga yang telah dikastrasi. Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma bunga yang berbeda. Contoh dari persilangan ini adalah ubi kayu, alfalfa, jagung, padi liar ,dan lain-lain. Terjadinya penyerbukan silang disebabkan oleh: Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik.Sterilitas dan inkompatibilitas Adanya bunga monocious dan diocious. Jagung adalah tipe monocious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang. Serbuk sari mudah diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan meskipun penyerbukan sendiri bisa terjadi 5% atau lebih. (Anonim, 2011)

37

Tanaman jagung mempunyai komposisi genetik yang sangat dinamis karena cara penyerbukan bunganya menyilang. Fiksasi gen-gen unggul (favorable genes) pada genotipe yang homozigot justru akan berakibat depresi inbreeding yang menghasilkan tanaman kerdil dan daya hasilnya rendah. Tanaman yang vigor, tumbuh cepat, subur, dan hasilnya tinggi justru diperoleh dari tanaman yang komposisi genetiknya heterozigot. Varietas hibrida merupakan generasi pertama hasil persilangan antara tetua berupa galur inbrida. Varietas hibrida dapat dibentuk pada tanaman menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Jagung merupakan tanaman pertama yang dibentuk menghasilkan varietas hibrida secara komersial. (Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, 2006)

38

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat 1. Tongkol tetua betina 2. Malai tetua jantan 3. Kantong kertas besar 4. Kantong kertas sedang 5. Trigonal klip/stapler-isi stapler 6. Label 7. Pensil

B. Prosedur Kerja 1. Ditentukan / disiapkan bunga jantan dan bunga betina yang akan digunakan sebagai tetua dalam pelaksanaan hibridisasi. Pada tahap ini dilakukan pemilihan terhadap tetua jantan (malai) yang sehat dan kotak sarinya belum pecah. Begitu pula dengan tetua betina (tongkol) dilakukan pemilihan terhadap tetua betina yang masih sehat dan belum tersebuki. 2. Disungkup bunga betina dengan kantong kertas, untuk menghindari tersebuki oleh sebuk sari yang tidak dikehendaki. 3. Tanaman pejantan tetap dibiarkan bunga jantannya keluar dan berkembang. Menjelang bunga jantan mekar, sungkup dengan kantong kertas untuk mencegah hilangnya serbuk sari yang akan digunakan untuk menyerbuki bunga betina. 4. Penyerbukan dilakukan dengan menggoyang-goyangkan malai pada kantong penutupnya, sehingga serbuksari terkumpul.

39

5. Kantong yang berisi serbuk sari dilepaskan dari malai dengan hati-hati, agar serbuk sari tidak kelura dan tidak terjadi kontaminasi, dekatkan pada ujung rambut tongkol bunga betina. 6. Jika sudah terlalu panjang, rambut tongkol dipotong hingga panjangnya kira-kira 2 cm dari ujung tongkol. Dengan demikian rambut tongkol menjadi rata. 7. Sebuk sari ditaburka pada ujung rambut tongkol dengan cepat untuk menghindari kontaminasi. 8. Setelah penyerbukan selesai, tongkol ditutup kembali dengan kantong malai, dan dikuatkan pada batang dengan staplers. 9. Pada kantong ditulis tanggal dan jenis persilangan. 10. Dipelihara dan diamati perkembangan bakal biji pada tongkol setelah 2 minggu dilakukannya persilangan.

40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Jumlah biji yang terbentuk 475 B. Pembahasan Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman. (Nasir, 2001). Faktor faktor yang harus diperhatikan ketika melakukan hibridisasi pada tanaman menyerbuk silang 1. Internal Pemilihan Tetua. Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik.

41

Waktu Tanaman Berbunga. Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan

singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga. (Syukur, 2009)

2. Eksternal Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan. Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai berikut : a. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu. b. waktu antesis dan reseptif berbeda. c. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin. d. adanya bunga monoecious dan dioecious.

42

Cuaca Saat Penyerbukan. Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan persilangan buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara terlalu rendah menyebabkan bunga rontok. Demikian pula jika ada angin kencang dan hujan yang terlalu lebat. Pelaksanaan. Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan bersungguh-sungguh dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh maka hibridisasi akan gagal. (Syukur, 2009). Pada palaksanaan praktikum hibridisasi tanaman menyerbuk silang kali ini bahan yang digunakan untuk pelaksanaan praktikum adalah tanaman jagung. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaanya antara lain: a. Menentukan bunga jantan dan bunga betina yang akan digunakan sebagai tetua dalam pelaksanaan hibridisasi. Pada tahap ini dilakukan pemilihan terhadap tetua jantan (malai) yang sehat dan kotak sarinya belum pecah. Begitu pula dengan tetua betina (tongkol) dilakukan pemilihan terhadap tetua betina yang masih sehat dan belum tersebuki. Kegiatan ini dilakukan sebelum pelaksanaan hibridisasi dimulai dan tetua yang terpilih kemudian disungkup dengan kantong kertas. b. Menyiapkan alat yang akan digunakan untuk pelaksanaan hibridisasi c. Polinasi (pemindahan pollen ke kepala putik), dilakukan setelah tetua jantan dan tetua betina diisolasi. Pada kegiatan ini sungkup pada masingmasing tetua dibuka, kemudian pollen dari tetua jantan dijatuhkan di atas putik tetua betina. d. Pembungkusan. Setelah polinasi dilakukan, kemudian tetua betina disugkup kembali. e. Pemberian label pada tanaman yang telah dilakukan hibridisasi.

43

f. Setelah beberapa hari, kemudian diamati perubahan yang terjadi pada penyerbukan silang tersebut, dengan cara mengamati perubahan yang terjadi pada tongkol buah jagung. g. Menentukan tingkat keberhasilannya. Adapun fungsi diadakannya hibridisasi pada tanaman menyerbuk silang adalah : a. Menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru; b. Memperluas keragaman genetik. c. Memanfaatkan vigor hibrida. d. Menguji potensi tetua (uji turunan). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman. Contohnya Varietas hibrida yang merupakan generasi pertama hasil persilangan antara tetua berupa galur inbrida. Varietas hibrida dapat dibentuk pada tanaman menyerbuk sendiri maupun menyerbuk silang. Jagung merupakan tanaman pertama yang dibentuk menghasilkan varietas hibrida secara komersial. (Allard, 1992 ). Pengamatan tanaman jagung dilakukan saat panen meliputi: a. Jumlah tongkol yang jadi (buah). b. Panjang tongkol (cm), diukur setelah tongkol dikupas. c. Diameter tongkol (cm), diukur pada bagian tengah tongkol. d. Jumlah biji per tongkol Hasil persilangan jagung terlihat jumlah biji yang dihasilkan tidak rata atau tongkol yang bernas sedikit, hal ini menunjukkan serbuk sari pejantannya sedikit yang berhasil membuahi putik. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap hibridisasi yang dilakukan, menurut kelompok kami hibridisasi tersebut sudah berhasil, sebab bunga betina yang diamati menunjukkan tanda-tanda keberhasilan hibridisasi yaitu bulu-bulu benang tongkol berubah warna menjadi

44

kecoklatan dan tongkol membesar. Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan. Tanda Keberhasilan Hibridisasi pada tanaman jagung

Tongkol jagung membesar Rambut tongkol berwarna kecoklatan dan rontok. (Syukur, 2009).

45

V. SIMPULAN a. Untuk meningkatkan keberhasilan hibridisasi pada tanaman menyerbuk silang, hal-hal penting yang perlu diperhatikan adalah (1) pemilihan tetua dalam hubungannya dengan tujuan dilakukannyapersilangan, (2)

pengetahuan tentang morfologi dan metode reproduksi tanaman, (3) waktutanaman bunga (waktu bunga mekar/tanaman berbunga), dan (4) keadaan cuaca saatpenyerbukan. b. Tanda Keberhasilan Hibridisasi pada tanaman jagung Tongkol jagung membesar. Rambut tongkol berwarna kecoklatan dan rontok.

46

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan pangan baik dari segi kualitas maupun kuantitas selalu terjadi. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu dari tanaman adalah dengan menggunakan metode pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman adalah suatu metode yang sistematis merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (sunarto, 1997). Tujuan utama dari pemuliaan tanaman adalah untuk mendapatkan varietas yang lebih baik yang menguntungkan pera petani yang menanamnya. Sebelum varietas baru yang terbentuk

disebarluaskan dan dilempar kepasaran petani, ada beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain : a. Adanya pembuktian keunggulan dari varietas baru melalui berbagai macam pengujian. b. Adanya pengujian multilokasi yang bekerja sama dengan instansi daerah. c. Melakukan pencatatan secara teliti dalam berbagai sifat serta digunakan berbagai disain eksperimen (percobaan) yang tepat. Kewajiban para pemulia untuk mempertahankan benih misalnya dengan klon, berbagai galur murni/galur silang dalam (inbreed) untuk varietas hibrida atau sebagai galur-galur yang membentuk varietas kompasit yang dijaga agar susunan genetiknya berubah. (Makmur, 1995). Mengingat pentingnya masalah benih maka sudah sewajarnya penggunaan benih dan pemilihan benih mendapat perhatian khusus. Penentuan benih dapat dilakukan dengan menentukan bobot 1000 biji. Pengetahuan tetang biji akan mempermudah dalam penentuan benih, sebagai contoh ketika biji sudah besar dan mempunyai bobot yang berat menandakan bahwa biji tersebut sudah

47

matang atau benar-benar masak. Biji yang baik untuk dijadikan benih adalah biji yang telah benar-benar masak. Benih ataupun benih adalah faktor penetu pertama berhasilnya pertanian yang dilakukan. Benih yang baik akan mendatangkan hasil yang baik pula bagi pertanian yang di kembangkan. Namun sebaliknya benih yang buruk mampu mengakibatkan kegagalan hasil pada pertanian yang diusahakan. Oleh karena itu perlu adanya pengujian benih untuk mendapatkan benih yang baik untuk pertanian yang diusahakan. Biji yang baik dari berbagai lahan pertanian harus mempunyai suatu varietas superior. Karakteristik biji yang baik pada umumnya terlihat dari pertumbuhan bijinya. Biji yang baik dijelaskan oleh Hayes (1942), yaitu harus mempunyai sifat-sifat antara lain : 1. Mampu beradaptasi terhadap lingkungan dan tanah. 2. Kemurnian jenisnya tinggi. 3. Daya produksinya tinggi. 4. Karakter-karakter agronomi sesuai dengan yang diinginkan. 5. Ketahanan terhadap hama penyakit tinggi. 6. Kualitas sifat-sifat khusus baik.

B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk menentukan bobot 1000 biji dari suatu tanmaan.

48

II. TINJAUAN PUSTAKA

Benih atau biji mempunyai arti dan pengertian yang bermacam-macam, tergantung dari bidang, dan dari segi mana peninjauannya. Biji merupakan alat untuk mempertahankan kelanjutan hidup jenis (spesies) suatu tumbuhan yaitu dengan cara mempertahankan atau memeperpanjang kehidupan embryonic axis. Kehidupan embryonic axis dalam biji kemudian berubah menjadi kehidupan bentuk baru sampai bertahun-tahun sesudah tanaman induknya mati (Jurnalis Kamil, 1979). Benih adalah simbol dari suatu permulaan, ia merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman. Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi, sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum sebagai teknologi yang maju (Lita Sutopo, 1985). Benih yang digunakan sebagai alat perkembangbiakan suatu tanaman harus mempunyai mutu dan kualitas yang baik. Benih bermutu dan memiliki kualitas yang baik adalah benih yang berasal dari bibit yang unggul dan setelah dibudidayakan mempunyai hasil dengan kuantitas dan kualitas yang baik pula. Salah satu cara untuk menjaga mutu dan kualitas benih adalah dengan penggunaan benih bersertifikat yang pada proses produksinya diterapkan cara dan persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan sertifikasi benih. Bobot 1000 biji merupakan salah satu persyaratan dalam kegiatan sertifikasi benih sehingga diperlukan teknik dan metode tertentu dalam menentukan bobot 1000 biji. Menurut Kartasapoetra, dkk (1992), benih yang berkualitas tinggi itu memiliki daya tumbuh lebih dari 90 persen, dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

49

1. Memiliki

viabilitas

atau

dapat

mempertahankan

kelangsungan

pertumbuhannya menjadi tanaman yang baik atau mampu berkecambah (tumbuh dengan normal) merupakan tanaman yang menghasilkan atau sering disebut juga sebagai benih yang matang. 2. Memiliki kemurnian (trueness seeds), artinya terbebas dari kotoran, terbebas dari benih jenis tanaman lain, terbebas dari benih varietas lain, dan terbebas dari biji herba, hama, dan penyakit.

Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih. Pengujian kualitas benih dilakukan di laboratorium untuk menentukan baik mutu fisik maupun mutu fisiologik suatu jenis atau kelompok benih. Pengujian terhadap mutu fisik benih mencakup kegiatan pengambilan contoh benih, kadar air benih dan berat 1000 butir benih. Sedangkan pengujian terhadap mutu fisiologik benih mencakup kegiatan pengujian daya kecambah, kekuatan tumbuh, dan kesehatan benih (Lita Sutopo, 2002).

50

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat 1. Biji padi (Oryza sativa) 2. Biji kacang tanah (Arachis hypogaea L.) 3. Biji kedelai (Glycine max L.) 4. Hand counter 5. Timbangan analitik

B. Prosedur Kerja 1. Metode 1 a. Diambil benih sebanyak 1000 butir dan ditimbang b. Dicatat angka hasil penimbangan c. Dihitung bobot 1000 biji dengan rumus: Bobot 1000 biji (g) =

1000 x bobot biji 1000

d. Dikerjakan 5 kali ulangan.

2. Metode 11 a. Diambil benih sebanyak 200 butir dan ditimbang b. Dicatat angka hasil penimbangan c. Dihitung bobot 1000 biji dengan rumus: Bobot 1000 biji (g) = d. Dikerjakan 5 kali ulangan.
1000 x bobot biji 200

51

3. Metode 111 a. Diambil benih sebanyak kurang lebih 1000 butir dan ditimbang b. Dicatat angka hasil penimbangan c. Dihitung bobot 1000 biji dengan rumus: Bobot 1000 biji (g) =
bobotbiji x bobot biji jumlahbiji

d. Dikerjakan 5 kali ulangan. 4. Dibuat table untuk masing-massing metode.

52

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil METODE 1 No Bobot 1000 biji = x 1. 29. 50 g 2. 30. 8 g 3. 27. 70 g 4. 33. 45 g 5. 29. 40 g

Bobot 1000 biji = y 29. 50 g 30. 8 g 27. 70 g 33. 45 g 29. 40 g 150. 85 g

V (M-y) + 0.67 - 0. 63 + 2. 47 - 3. 28 0. 77 0.4489 0. 3969 6.1009 10.7584 0.5929 18.298

Berat rata-rata M = = Salah menengah = =

= 30. 17 g = = = 0. 9149

Bobotbiji yang sebenarnya = 30. 17 0.9149 METODE II No Berat 200 biji = x 1. 5. 2 g 2. 5. 5 g 3. 6. 3 g 4. 5. 3 g 5. 5. 3 g

Bobot 1000 biji = y 26.00 g 27.50 g 31.50 g 26.50 g 26.50 g Y= 138 g

V (M-y) 1.6 0.1 -3.9 1.1 1.1

2.56 o.o1 15.21 1.21 1.21 20.2

Berat rata-rata M = = Salah menengah = =

= 27.6 g = = = 1.01 g

Bobotbiji yang sebenarnya = 27. 6 1.01 g

53

METODE III No Berat 200 biji = x 1. 31. 2 g 2. 42.2 g 3. 43.2 g 4. 53.1 g 5. 42.6 g

Bobot 1000 biji = y 25.34 g 24.52 g 25.62 g 27.03 g 25.49 g Y= 128 g

V (M-y) 0.26 1.08 -0.02 -1.43 o.11

0.0676 1.1664 0.0004 2.0449 0.0121 3.2914

Berat rata-rata M = = Salah menengah = =

= 25.6 g = 0.16 g

Bobotbiji yang sebenarnya = 25. 6 0.16 g

B. Pembahasan Bobot 1.000 biji merupakan berat nisbah dari 1.000 butir benih yang dihasilkan oleh suatu jenis tanaman atau varietas. Pengujian bobot 1000 biji adalah kegiatan menelaah benih dengan membandingkan dengan bobot benih dengan deskripsi yang telah ada sehingga dapat diketahui kualitas benih. Benih dengan bobot besar dapat dianggap baik karena dimungkinkan benih tersebut benar-benar masak pada saat pemanenanya. Berbeda dengan bibit yang pemanenannya sebelum masak maka bibit itu akan ringan. Salah satu aplikasi penggunaan bobot 1.000 biji adalah untuk menentukan kebutuhan benih dalam satu hektar. Penentuan benih dapat dilakukan dengan menetukan bobot 1000 biji. Dengan mengetahui biji yang besar atau berat berarti menandakan biji tersebut pada saat dipanen sudah dalam keadaan yang benar-benar masak, karena biji yang baik untuk ditanam atau dijadikan benih adalah biji yang benar-benar masak. Penggunaan bobot 1000 biji adalah untuk mencari bobot rata-rata yang dapat menyebabkan ukuran benih yang konstan dalam beberapa spesies karena penggunaan contohnya terlalu banyak, hal ini dapat menutupi variasi dalam tiap individu

54

tumbuhan. Pada banyak spesies bobot benih merupakan salah satu ciri fenotip yang paling kurang fleksibel. Pengujian benih ini dilakukan untuk mengetahui kualitas benih. Penentuan kualitas ini dapat ditentukan berdasarkan bobot seribu benih dan pengujian kemurnian benih. Penetapan bobot 1000 mempunyai tujuan yang sama dengan tujuan memilih bibit atau benih yang lebih baik, yaitu supaya tanaman yang akan memperoleh hasil yang lebih banyak dan sesuai keinginan penyeleksi. (Soepomo, 1968). Bobot 1000 biji merupakan karakter penting dalam pengadaan suatu varietas unggul baru karena menentukan jumlah produksi. Tinggi bobot 1000 biji dipengaruhi lingkungan pada saat fase pematangan biji. Produksi adalah jumlah berat hasil yang dikumpulkan dari tempat pemeliharaan yang diusahakan dengan skala kecil maupun skala besar. Produksi padi yang tinggi merupakan salah satu sifat yang diinginkan oleh petani. Menurut Taslin et. al. (1989), produksi padi dapat diketahui melalui karakter bobot 1000 biji, persentase gabah isi, jumlah gabah per malai, dan bobot gabah per petak efektif kg/m2. Penentuan berat untuk 1000 butir benih dilakukan karena karakter ini merupakan salah satu ciri dari suatu jenis benih yang juga tercantum dalam deskripsi varietas. Benih dapat dihitung secara manual dengan menggunakan sebuah spatula dan diletakkan pada sebuah tempat dengan warna permukaan kontras terhadap berwarna benih, kemudian jumlah benih tersebut ditimbang. Pekerjaan menghitung jumlah benih akan lebih mudah dengan alat penghitung automatik. Bila alat tersebut digunakan secara benar maka tingkat ketepannya adalah sekitar + 5 % (Sutopo, 2002). Pengujian biji dipilih berukuran yang besar dan berat karena diduga behwa biji yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak, kemungkinan ukuran embrionya lebih besar dibandingkan dengan benih yang berukuran kecil. Berat benih menentukan pula berat tanaman pada saat dipanen dan besarnya kecambah pada permulaan.

55

Besar dan berat dari biji (benih) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : Benih induk besar atau berat sehingga menghasilkan biji yang berat atau besar pula. Adanya pengaruh faktor genetik dan agrogeologi. Kematangan vegetasi, semakin matang vegetasi biji semakin berat. Habitat tanaman, pada habitat tanaman yang kering biji yang dihasilkan besar. Panjang hari yang dialami oleh tumbuhan pada waktu pembentukan primordial bunga. Pengujian kemurnian benih yang merupakan hasil dari penentuan bobot 1000 biji adalah pengujian atas dasar keselarasan dengan faktor kualitas benih. Faktor kualitas benih yaitu prosentase benih murni, benih tanaman lain, biji herba, kotoran yang tercampur, daya dan kecepatan kecambah, daya tumbuh benih, terbebasnya benih dari penyakit, kadar air serta hasil pengujian berat benih perseribu benih. Secara garis besar perbedaan yang terjadi antara pengguaan metode I, metode II dan metode III tidak menunjukkan adanya sebuah perbedaan bobot biji yang sebenarnya secara mencolok. Perbedaan bobot diantara biji tersebut mungkin dikarenakan ukuran biji yang berbeda. Rata-rata bobot benih cenderung menjadi ciri yang tetap dari setiap spesies. Ukuran benih sedikit banyak merupakan fungsi dari ukuran tumbuh induknya. Benih yang sangat kecil merupakan ciri dari tumbuhan yang parasitik atau saprofitik, paling tidak dalam tahapan dini pertumbuhannya. Benih atau biji yang berukuran besar juga memiliki kerugian, yakni benih atau biji yang besar memiliki selaput benih yang relatif jauh lebih berat (Wahju Qamara, 1990). Hal ini juga dapat mempengaruhi bobot 1000 biji. Bobot 1000 biji perlu ditetapkan, karena membantu kita untuk menegetahui bobot rata-rata dari suatu biji tertentu yang mewakili keseluruhan kelompok biji lebih besar jumlahnya. Biji yang mempunyai bobot besar, biasanya biji tersebut dianggap mempunyai ukuran yang besar. Dalam

56

prakteknya orang-orang cenderung memilih biji yang berukuran besar dari pada biji yang berukuran kecil, karena diduga bahwa biji yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak, mungkin pula mempunyai embrio yang lebih besar. Berat benih atau biji berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi, karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan berat tanaman pada saat dipanen, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi (Lita Sutopo, 1985). Berdasarkan percobaan pada bobot 1000 biji, dari ketiga macam metode yang digunakan hasil yang diperoleh tidak berbeda jauh. Metode III hasilnya kurang maksimal dari pada metode-metode yang lainnya. Hal ini disebabkan karena besar biji tidak sama, ada yang terlalu kecil maupun terlalu besar dan ketelitian dari praktikan sendiri juga sangat mempengaruhi hasil yang diperoleh, sehingga bobot 1000 bijinya tidak dapat dihitung dengan tepat. Metode yang paling baik untuk menghitung bobot 1000 biji adalah metode I. Hal ini disebabkan pada metode I kita benar-benar menghitung 1000 biji dan kemudian menimbangnya, sehingga hasilnya lebih mendekati dari pada metode-metode yang lain. Sedangkan pada metode 111 kita hanya mengambil sampel dengan mengira-ngira saja, sehingga kemungkinan adanya factor human error.

57

V. SIMPULAN

Bobot 1.000 biji merupakan berat nisbah dari 1.000 butir benih yang dihasilkan oleh suatu jenis tanaman atau varietas. Pengujian bobot 1000 biji merupakan salah satu cara dalam pengujian biji yang bermutu dan berkualitas. Bobot 1000 biji suatu tanaman bukan merupakan sifat yang dapat diwariskan. Faktor yang mempengaruhi bobot/besarnya biji adalah umure biji, lama biji berada di lapangan setelah masak, lingkungan, dan waktu pemanenan.

58

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penggunaan varietas unggul untuk meningkatkan produksi tanaman merupakan usaha yang paling mudah diserap oleh petani. Semakin banyak varietas yang beredar di kalangan petani, diharapkan peningkatan produksi tanaman dapat terjamin. Penyebaran masing-masing varietas unggul

bervariasi tergantung keunggulannya, daya adaptasi dan selera konsumen terhadap sifat-sifat yang dimiliki oleh setiap varietas. Penggunaan varietas unggul harus disertai tersedianya benih yang bermutu tinggi yang dalam penyediaannya ditempuh dengan penerapan sistem sertifikasi. Dala kegiatan sertifikasi, kegiatan pkoknya adalah

menilai kemurnian benih secara genetis melalui sifat morfologi yang nampak. Untuk itu deskripsi carietas yang berisi sifat-sifat morfologis dapat membantu untuk menilai kemurnian benih. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya pemahaman yang baik mengenai sifat0sifat morfologi yang disajikan dalam deskripsi tanaman. Deskripsi merupakan suatu panduan yang menyajikan sejarah asalusul sifat-sifat morfologi, reaksi ketahanan terhadap penyakit dan hama utama serta anjuran tanam. Sifat-sifat morfologi yang disajikan dalam deskripsi sehingga sebagian besar merupakan sifat yang diatur secara kuantitatif sehingga penampilannya dapat menimbulkan variasi fisik. Variasi tersebut dapat terjadi pada seua varietas terutama apabila ditanam pada lokasi dan musil tanam yang berbeda. B. Tujuan Praktikum ini bertujuan :Mengetahui deskripsi tiap-tiap tanaman secara keseluruhan.

59

II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam upaya untuk terus meningkatkan produksi pertanian, para pemulia tanaman senantiasa berusaha menciptakan varietas unggul modern yang memiliki sifat-sifat yang dinginkan dan cocok untuk kondisi lingkungan tertentu (Anonim,2010). Penelitian di bidang pemuliaan tanaman dikatakan berhasil, apabila diperoleh produk akhir, yaitu adanya pelepasan varietas unggul baru. Sejak tahun 1971 Pemerintah telah mengambil kebijaksanaan mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masalah perbenihan yakni dengan dibentuknya Badan Benih Nasional atau BBN yang berada dalam lingkup Departemen Pertanian dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian. Dalam susunan organisasi BBN ini antara lain dibentuk Tim Penilai dan Pelepas Varietas. Dalam kaitan ini pada tahun 1992 diberlakukan Undang Undang Nomor 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman di mana pengaturan pelaksanaannya tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995 (Sucipto, A. 1993). Di sini antara lain ditegaskan bahwa dalam pelepasan varietas diperlukan berbagai kebutuhan kelembagaan, syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas. Dalam tulisan ini akan disampaikan kepada para pemulia suatu kajian tentang prosedur dan syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas. Dalam tulisan ini akan disampaikan kepada para pemulia suatu kajian tentang prosedur dan syarat-syarat pelepasan varietas untuk dapat dipenuhi pada waktu pengajuan usulan dan pembahasan oleh Tim Penilai dan Pelepas Varietas, sehingga apa yang menjadi tujuan dapat berjalan lancer (Sucipto, A. 1993).

SYARAT-SYARAT PELEPASAN VARIETAS Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 476/Kpts/Um 8/1977 menetapkan syaratsyarat dan prosedur pelepasan varietas: 1. Untuk Varietas yang akan dilepas harus diberikan silsilah bahan asal dan cara mendapatkannnya. 2. Metode seleksi yang digunakan harus disebutkan

60

3. Untuk varietas yang akan dilepas harus diadakan percobaan adaptasi, dibandingkan dengan varietas baku, di beberapa tempat yang mewakili daerah, di mana varietas tersebut akan dianjurkan. 4. Percobaan adaptasi dilaksanakan sedemikian rupa sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya. 5. Rancangan percobaan dan cara analisa data percobaan harus memenuhi kaidah statistik. 6. Untuk varietas yang akan dilepas harus tersedia cukup benih.

PROSEDUR PELEPASAN VARIETAS 1. Permohonan pelepasan varietas diajukan secara tertulis kepada Menteri Pertanian melalui Ketua Badan Benih Nasional. 2. Permohonan pelepasan varietas tersebut harus dilampiri keterangan-keterangan mengenai hal-hal yang disebutkan dalam syarat-syarat pelepasan varietas, hasil percobaan dan deskripsi varietas. 3. Deskripsi varietas meliputi sifat-sifat morfologi, fisiologi, agronomi daya adaptasi, ketahanan terhadap hama/penyakit dan sifat-sifat yang dianggap perlu. 4. Setelah mendengarkan pendapat Ketua BBN, Menteri Pertanian dapat menyetujui atau menolak permohonan pelepasan varietas tersebut. 5. Keputusan tentang pelepasan varietas ditetapkan oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan. 6. Penyimpangan dari ketentuan-ketentuan dimaksud dalam Surat Keputusan ini dapat dipertimbangkan oleh Menteri Pertanian atas saran Ketua Badan Benih Nasional.

61

III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Penggaris 2. Busur derajat 3. Tanaman dari varietas yang akan dicandra. B. Prosedur Kerja 1) Penampilan tanaman yang akan diseskripsikan diamati 2) Data tanaman yang dideskripsi diambil 3) Berdasarkan data yang sudah diperoleh dibuat candra tanaman

62

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Varietas Padi Sitipatenggang 1) Asal 2) Golongan 3) Umur tanaman 4) Bentuk tanaman 5) Tinggi tanaman 6) Anakan produktif 7) Warna kaki 8) Warna batang 9) Posisi daun 10) Posisi daun bendera 11) Bentuk gabah 12) Warna gabah : Blora : Cere : Masuk fase generative : Intermedia 300 : 147 cm : sedikit : Coklat kemerahan : Hijau muda : Tegak 300 : Tegak 300 : Sedang/lonjong = rasionya 0,7 : 0,3 : Hijau kecoklatan

B. Pembahasan Hasil Praktikum yang dapat kami amati yaitu mengenai deskripsi varietas pada tanaman padi. Pada kesempatan kali ini kami mengambil tanaman padi dengan varietas situpatenggang yang telah banyak dikenal oleh banyak orang. Dari pengamatan yang kami dapatkan mengenai padi bervarietas ini tercantum dalam hasil praktikum sedangkan dalam literature yang kami dapatkan deskripsi dari jenis padi ini adalah :

63

Deskripsi Varietas Tanaman Padi Situpatenggang


Nama seleksi Asal persilangan Golongan Umur tanaman Bentuk tanaman Tinggi tanaman Anakan produktif Warna kaki Warna batang Warna telinga daun Warna lidah daun Warna daun Muka daun Posisi daun Daun bendera Bentuk gabah Warna gabah Kerontokan Kerebahan Tekstur nasi Kadar amilosa Bobot 1000 butir Rata-rata hasil Potensi hasil Ketahanan terhadapPenyakit : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : BP1153C-9-12 Kartuna / TB47H-MR-10 Cere 110 -120 hari Tegak 100 -110 cm 10 - 11 batang Ungu tua Hijau tua Kuning kotor Ungu Hijau, tepi daun tua berkilau ungu Bagian atas kasar, bawah permukaan halus Tegak Menyudut 35 50 derajat Agak gemuk Kuning kotor Sedang Tahan Sedang 24 % 27 g 4, 6 t/ha 6,0 t/ha T tahan blas A aromatik, respon terhadap Sifat khusus : pemupukan, mampu dikembangkan di sawah

64

Dari pengamatan yang kami lakukan ternyata masih terdapat beberapa perbedaan yang tidak sesuai dengan literature. Seperti halnya asal tanaman

golongan, bentuk tanaman, anakan produktif, warna kaki, posisi daun, bentuk gabah dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan karena kemungkinan perbedaan lokasi dan musim pada suatu tempat. Tempat pengamatan yang kami lakukan dengan tempat yang dilakukan oleh pembuat literature ini. Deskripsi varietas ini dapat membantu para petani untuk membedakan suatu varietas yang akan ditanamnya. Selain itu, dengan adanya banyak varietas memungkinkan untuk terbentuknya pola seleksi. Seleksi yang dimaksud adalah seleksi untuk penanaman yang baik, padi yang dapat menghasilkan sesuai yang diinginkan dan sampai bentuk maupun tekstur nasi nanti yang dipilih. Deskripsi ini juga meliputi : Asal tanaman dimana asal tanaman ini merupakan suatu silsilah dan awal dalam varietas tersebut. Golongan

menunjukkan bulu yang tetrs=dapat pada ujung gabah. Umur tanaman dihitung mulai benih sampai 80% masak fisiologi. Bentuk tanaman yaitu posisi tunas tanaman berdasarkan sudut yang terbentuk antara sumbu batang dengan tunas primer. Tinggi tanaman. Anakan produktif yaitu jumlah anakan yang hanya menghasilkan malai. Selain itu, terdapat warna kaki yaitu warna pelepah daun bagian luar. Warna batang yaitu warna ruas batang yang terletak antara dua buku batang. Posisi daun terhadap sumbu batang. Posisi daun bendera yaitu posisi bendera terhadap sumbu batang. Bentuk gabah berdasarkan rasio antara lebar dan panjang gabah. Warna gabah, teksur nasi, bobot 1000 biji, kadar amilosa dan ketahanan terhadap hama dan penyakit.

65

V. SIMPULAN

1) Penentuan deskripsi varietas dapat ditentukan dengan melihat penampilan luar sampai setelah panen yang berbentuk nasi 2) Deskrispi varietas ini dapat mempermudah kita untuk lebih memehami dan mengenal berbagai macam jenis padi khususnya. 3) Deskripsi varietas mulai asal, sifat tanaman sampai kadar yang terkandung pada tanaman tersebut.

66

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang Pemuliaan tanaman merupakan ilmu yang mempelajari pertukaran dan perbaikan karakter tanaman yang diwariskan pada suatu populasi baru dengan sifat genetik baru. Seni yang dan pengetahuan yang mendukung dilakukannya perbaikan suatu karakter tanaman melalui program pemulian tanaman meliputi dua tahapan, yaitu tahapan evolusioner, yang bertujuan untuk terbentuknya atau bertambahnya keragaman genetik, dan tahapan evaluasi, dimana seleksi dilakukan terhadap genotip-genotip yang diinginkan dari beberapa populasi yang dimiliki. Secara konvensional program pemuliaan tanaman, seleksi didasarkan atas pemilihan tanaman oleh pemulia tanaman untuk satu atau beberapa

penampakan (fenotip)dari karakter yang menjadi target perbaikan, baik secara individu maupun populasi tanaman. Karakter-karakter yang umumnya merupakan target seleksi antara lain produksi, mutu hasil, ketahanan terhadap hama dan penyakit atau toleransi terhadap lingkungan marginal. Telah kita ketahui bersama bahwa penampakan dari suatu karakter ditentukan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan, bahkan kadang-kadang ditentukan pula oleh interaksi antara genetic dan lingkungan.Oleh sebab itu, pemilihan tanaman yang didasarkan atas fenotip ini memiliki beberapa kelemahan atau kekurangan, terutama bila karakter tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, yang dalam pemuliaan tanaman disebut sebagai karakter yang memiliki heritabilitas rendah.

B. Tujuan Tujuan pada praktikum kemajuan seleksi adalah untuk menduga kemajuan seleksi (selection advance) pada suatu populasi dalam rangka usaha pemuliaan tanaman.

67

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pemuliaan tanaman dalam usaha menemukan suatu varietas unggul dapat dilakukan dengan beberapa jalan. Penenmuan tersebut dapat dilakukan dengan jalan : 1. Introduksi 2. Seleksi terhadap populasi yang ada 3. Melakukan mutasi, persilangan dan mandul jantan (Mursito, 2003) Salah satu jalan tersebut adalah seleksi, seleksi adalah suatu kegiatan seleksi, seleksi adalah suatu kegiatan pemilihan tanaman baik secaraindividu maupun populasi berdasarkan karakter target yang diinginkan untuk diperbaiki. Tujuan dari seleksi adalah untuk memperbaiki proporsi karakter yang diinginkan pada populasi tanaman. Misalnya bila kita menginginkan tanaman yang berproduksi tinggi, maka kita memilih tanaman yang berproduksi tinggi tersebut untuk dikembangkan pada generasi berikutnya, sehingga dari generasi ke generasi akan diperoleh peningkatan proporsi tanaman yang berproduksi tinggi. Begitu pula untuk karakter-karakter lain yang diinginkan, misalnya tahan terhadap hama dan penyakit, kandungan protein tinggi, memiliki aroma dan rasa enak dan lain-lain. Kegiatan seleksi ini secara tidak disadari telah berkembang sesuai dengan kemajuan dan peradaban manusia. Hal ini dapat dimengerti karena manusia pada hakekatnya menginginkan produk ekonomis, sehingga sifat-sifat yang tidak menguntungkan akan dibuang atau tidak dikembangkan lebih lanjut, sedangkan sifat yang dikehendaki akan dipertahankan dan dikembangkan pada generasigenerasi berikutnya. Pada akhirnya, tanaman dengan karakter-karakter yang diinginkan itu berada pada populasi tanaman yang meluas, sementara sifat-sifat yang tidak dikehendaki menjadi punah.Seleksi ini dapat pula berlangsung secara alami, yang kita sebut sebagai seleksi alam.Oleh sebab itu seleksi dapat dikelompokkan menjadi seleksi alam dan seleksi buatan. Seleksi alam merupakan seleksi yang dipengaruhi oleh faktor alam dalam mengarahkan seleksi tersebut yang umumnya bersifat acak.Sedangkan seleksi buatan merupakan seleksi yang sengaja dilakukan oleh manusia untuk

68

mendapatkan atau meningkatkan proporsi karakter yang diinginkan berada pada populasi tanaman yang dikembangkan (Widodo, 2003).Seleksi pada suatu tanaman merupakan penunjukkan suatu respek fenotip suatu tanaman. Dalam pemuliaan tanaman seleksi yang diberlakukan bertujuan agar terjadi suatu kestabilan sifat yang muncul berasal dari komponen genetika dalam tanaman itu sendiri (Nanda,2000). Dalam seleksi dikenal dengan istilah heritabilitas.Heritabilitas adalah perbandingan sifat genetik disbanding sifat fenotipnya. Menurut Whriter (1979) dan Mursito (2003) memperlihatkan kriteria nilai heritabilitas dalam arti luas mengikuti ketentuan sebagai berikut : 1. H < 0,20 2. 0,20 < H < 0,50 3. H > 0,50 = heritabilitas rendah = heritabilitas sedang = heritabilitas tinggi

Pendugaan kemajuan seleksi memerlukan informasi besaran ragam fenotipik, di samping ragam aditif dan ragam dominan.Ragam fenotipik merupakan komponen dalam perhitungan pendugaan kemajuan seleksi yang berbanding terbalik dengan kemajuan seleksi sehingga makin besar fenotipik semakin kecil kemajuan seleksi yang diperoleh. Heritabilitas suatu karakter merupakan porsi dari total keragaman fenotipe yang disebabkan oleh faktor genetik. Oleh karena itu, keberhasilan seleksi dapat dicerminkan oleh besaran heritabilitas (Sutoro, 2006). Syarat keberhasilan suatu usaha pemuliaan tanaman adalah tersediannya keragaman dalam suatu populasi agar dapat dipilih genotip yang disukai. Seleksi dapat dilakukan pada berbagai tingkatan, yaitu antar individu, antar famili, dan bahkan antar sel. Seleksi diferensial (S) adalah rata-rata populasi terpilih (selected group) dikurangi rata-rata populasi awal. Seleksi advanced atau kemajuan seleksi ( R ) adalah rata-rata populasi asal dikurangi rata-rata keturunan selected group. Besarnya kemajuan seleksi ( R ) = H . S, dimana H adalah data waris atau heritabilitas suatu sifat. Menurut Yatim (1983), karakter-karakter yang diseleksi adalah 1. Ketahanan terhadap cuaca, suhu, dan kekeringan 2. Ketahanan terhadap sejenis hama

69

3. Kekokohan batang agar jangan mudah rebah 4. Memperpendek masa berbunga dan berbuah agar hasilnya cepat dipetik 5. Melamakan waktu berbunga agar lebih lama dinikmati keindahannya, atau melamakan waktu matang buah agar lebih besar 6. Meningkatkan mutu getahan seperti air susu, kina, dan minyak 7. Meningkatkan mutu dan jumlah kawinan 8. Membuang karakter-karakter buruk atau yang tidak ekonomis, sehingga karakter-karakter yang baik saja yang menonjol. Sifat-sifat yang harus diperhatikan dalam seleksi adalah kuantitas dan kualitas hasil.Hal ini sesuai dengan pendapat soepomo (1968), bahwa sifat-sifat umum yang harus diperhatikan dalam seleksi adalah banyaknya hasil, kualitas hasil, dan kepastian mendapatkan hasil. Menurut Yatim (1983), dalam kita melakukan seleksi terhadap galur terberat tak cukup hanya melihat biji suatu kelompok batang atau keturunan, harus ditelusuri juga sifat genetisnya.

70

III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum kemajuan seleksi adalah sebagai berikut : Kelompok biji kacang tanah ukuran besar dengan keragaman kecil Kelompok biji kacang tanah ukuran kecil dengan keragaman kecil Kelompok biji kacang tanah dengan keragaman besar

B. Alat Alat yang digunakan pada praktikum kemajuan seleksi adalah : Timbangan analitik Alat tulis Kalkulator

C. Prosedur Kerja 1. Diambil secara acak sebanyak 50 biji dari ketiga kelompok yang ada 2. Ditimbang setiap biji yang terambil dan dicatat bobotnya 3. Diulangi pekerjaan nomor 1 dan 2 sebanyak tiga kali 4. Biji-biji yang selesai ditimbang dikembalikan lagi pada tempatnya 5. Pilih biji-biji yang ukurannya besar (seleksi) sebanyak 30 biji dari setip kelompok biji yang ada 6. Ditimbang setiap biji yang terseleksi/terpilih dan catat bobotnya

71

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kelompok biji kacang tanah ukuran besar keragaman kecil No 1 2 3 4 Bobotbiji (po) 0,4 0,5 0,6 0,8 biji (po) 11 23 13 3 50 30 Bobotbiji (pi) 0,8 0,6 O,5 biji (pi) 3 13 14

Po = Pi = S= Pi- Po = 0,492- 0,642 = - 0,15 R= HxS = 0,21 x (- 0,15) = - 0,0315 =

= = 0,492

= 0,642

72

Grafik perlakuan 1.
25 20 15 Po 10 5 0 0,4 0,5 0,6 0,8 Pi

Kelompok biji kacang tanah ukuran kecil keragaman kecil No 1 2 3 Bobotbiji (po) 0,1 0,2 0,3 biji (po) 3 25 22 Bobotbiji (pi) 0,3 0,2 O,1 biji (pi) 22 7 1

Po = Pi = S= Pi - Po = 0, 27- 0, 238 = - 0,032 R= H x S = 0,21 x (- 0,032) = - 0,0672

= 0,238 = 0,27

73

Grafik perlakuan 2.
30 25 20 15 10 5 0 0,1 0,2 1,3 Po Pi

Kelompok biji kacang tanah keragaman besar No 1 2 3 Bobotbiji (po) 3,25 2,5 1,0 biji (po) 17 31 2 Bobotbiji (pi) 3,25 2,5 1 biji (pi) 17 12 1

Po = Pi = S= Pi - Po = 2,875- 2,695 = 0,18 R= H x S = 0,21 x (0,18) = -0,0378

= 2,695 = 2,875

74

Grafik pengamatan 3.
35 30 25 20 15 10 5 0 1,0 2,5 3,25 Po Pi

B. Pembahasan Menurut Yatim (1983), seleksi adalah memilih serta mencari keuntungan tanaman atau ternak yang memiliki karakter baik, yang berguna untuk meningkatkan hasil serta mutunya. Karakter-karakter baik ditentukan genotipe, tetapi ekspresinya dipengaruhi oleh faktor lingkungan.Oleh karena itu, dalam mencari serta memilih sifat genetik yang baik, sekaligus disertai dengan menentukan lingkungan yang cocok dan paling ekonomis terhadap yang diseleksi.Seleksi juga dapat disebut dengan usaha pemuliaan. Menurut Allard (1988), dalam kegiatan seleksi ada dua hal yang sangat penting untuk memehami prinsip pemuliaan tanaman yaitu seleksi dapat bekerja secara efektif hanya dalam perbedaan yang dapat diwariskan dan seleksi tidak dapat menciptakan variabilitas tetapi hanya bekerja pada sifat yang telah ada. Menurut Sunarto (1997), seleksi tanaman didasarkan atas fenotipnya. Agar seleksi efektif dibutuhkan pengalaman atau kemampuan pendugaan hingga dapat menilai fenotipnya yang tidak menyimpang jauh dari nilai genotip Menurut Yatim (1983), seleksi perlu dilakukan kerena sifat genetis penduduk suatu spesies pada umumnya sangat heterozigot. Hal ini disebabkan tempat hidup yang berbeda-beda, daya dan arah mutasinya pun berbeda-beda

75

pada gen yang sama, lingkungan yang berbeda, dan adanya perkawinan acak. Keheterozigotan tersebut menyebabkan banyak sifat genetis baik yang tersembunyi dan ditutupi oleh sifat yang lain. Adanya seleksi alel akan

mengekspresikan kembali sifat-sifat tersebut. Keuntungan dari adanya seleksi diutarakan oleh Van Mons di Belgia, Knight di Inggris, dan Cooper di Amerika dalam bukunya Allard (1988), yaitu seleksi dapat menghasilkan perbaikan yang berharga dalam varietas tanaman. Menurut Yatim (1983), karakter-karakter yang diseleksi adalah : 1. Ketahanan terhadap cuaca, suhu, dan kekeringan 2. Ketahanan terhadap sejenis hama 3. Kekokohan batang agar jangan mudah rebah 4. Memperpendek masa berbunga dan berbuah, agar hasilnya cepat dipetik 5. Melamakan waktu berbunga agar lebih lama dinikmati keindahannya; atau melamakan waktu matang buah agar lebih besar 6. Meningkatkan mutu getahan seperti air susu, kina, dan minyak 7. Meningkatkan mutu dan jumlah kawinan 8. Membuang karakter-karakter buruk atau yang tidak ekonomis, sehingga karakter-karakter yang baik saja yang menonjol Heritabilitas adalah perbandingan antara besaran ragam genotipe dengan besaran total ragam fenotipe dari suatu sifat. Hubungan ini menggambarkan seberapa jauh fenotipe yang tampak merupakan repleksi dari

genotipe.Heritabilitas juga merupakan perbandingan relatif antara pengaruh sifat yang dari genetik berbanding dengan sifat fenotip yang ada. Semakin tinggi nilai H, maka akan semakin tinggi pula nilai heritabilitasnya, Whrither (1979) disitasi oleh Mursito (2003) memperlihatkan kriteria nilai heritabilitas dalam arti luas memiliki kriteria nilai heritabilitas sebagai berikut : 1. H < 0,20 2. 0,20 < H < 0,50 3. H > 0,50 = heritabilitas rendah = heritabilitas sedang = heritabilitas tinggi

76

Tingginya nilai kemajuan seleksi merupakan suatu perwujudan dari besarnya nilai keragaman aditif pada suatu populasi. Keragamman aditif sendirimerupakan koponen yang diperlukan untuk seleksi yang berulang (Sutoro, 2006).Selain nilai R, H dan S yangdalam pendugaan nilai kemajuan seleksi juga didapat grafik yangmenunjukkan nilai bobot dan frekuensi (jumlah) yang diperoleh. Dari grafiktersebut dapat terlihat posisi grafik dari pengambilan kedelai sebanyak 50 rata-rata berada di atas dari pengambilan 30. Grafik secara umum akn berbentuk kuadratik. Semakinbentuk grafik kuadratik semakin besar nilai kemajuan seleksinya. Adanya grafikyang saling menumpuk memperlihatkan adanya kondisi stuck atau berhentinya suatu keragaman seleksi pada penilaianseleksi tersebut.Berhentinya seleksi tersebut dapat berarti bahwa keragamanpada seleksi terpilih dan awal adalah sama pada sifat tersebut. Heritabilitas berhubungan dengan kemajuan seleksi karena dalam pemuliaan tanaman memerlukan nilai heritabilitas dari suatu sifat. Secara mutlak tidak bisa dikatakan apakah suatu sifat ditentukan oleh faktor genetik atau faktor lingkungan. Faktor genetik tidak akan memperlihatkan sifat yang dibawanya kecuali dengan adanya faktor lingkungan yang diperlukan. Sebaliknya, bagaimanapun orang mengadakan manipulasi dan perbaikanperbaikan terhadap faktor-faktor lingkungan, tak akan menyebabkan perkembangan suatu sifat kecuali kalau faktor genetik yang diperlukan terdapat pada individu-individu atau populasi tanaman yang bersangkutan. Keragaman yang diamati pada suatu sifat harus dapat dibedakan apakah disebabkan terutama oleh faktor genetik atau faktor lingkungan. Sama halnya juga dalam pengamatan atas beberapa sifat, harus mampu untuk menjelaskan apakah kiranya disebabkan oleh perbedaan antar gen yang dibawa oleh satu individu dari individu lainnya ataukah oleh perbedaan-perbedaan lingkungan dari setiap individu dimana mereka tumbuh. Disinilah dirasakan perlu adanya

suatu pernyataan yang bersifat kuantitatif antara peranan faktor genetik relatif terhadap faktor-faktor lingkungan dalam memberikan penampilan akhir atau fenotipe yang diamati. Heritabilitas dapat dipergunakan untuk kerpelruan

77

tersebut. Pada dasarnya seleksi terhadap populasi bersegregasi dilakukan melalui nilai-nilai besaran karakter fenotipenya. Dalam kaitan ini, penting diketahui peluang terseleksinya individu yang secara fenotipe menghasilkan turunan yang sama miripnya dengan individu terseleksi tadi. Misalkan dalam suatu populasi dijumpai ragam genetik tinggi untuk suatu karakter dan ragam fenotipenya rendah, maka dapat diramalkan bahwa turunan individu terseleksi akan mirip dengan dirinya untuk karakter tersebut dan sebaliknya.

78

V. SIMPULAN

a. Kemajuan seleksi suatu populasi akan dipengaruhi oleh nilai heritabilitas (H) dan nilai S. b. Nilai R yang ada pada system seleksi akan berpengaruh secara langsung terhadap kemajuan seleksi yang didapat. c. Heritabilitas juga merupakan perbandingan relatif antara pengaruh sifat yang dari genetik berbanding dengan sifat fenotip yang ada. d. Seleksi adalah memilih serta mencari keuntungan tanaman atau ternak yang memiliki karakter baik, yang berguna untuk meningkatkan hasil serta mutunya.

79