Anda di halaman 1dari 57

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk wanita relatif cukup tinggi dibanding dengan pria. Ratio penduduk wanita dengan pria adalah 100 : 99,8 (BPS, 2000), yang berarti bahwa setiap seratus wanita berbanding 99,8 pria. Kondisi ini perlu mendapat perhatian secara khusus untuk masyarakat Indonesia bahwa dimasa yang akan datang permasalahan kaum wanita akan lebih bannyak muncul khususnya yang berhubungan dengan menopause. Permasalahan menopause akan menjadi lebih kompleks masa akan datang seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk wanita. Spencer & Brown (2007) mengartikan menopause sebagai suatu akhir proses biologis dari siklus menstruasi yang terjadi karena penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan ovarium (indung telur). Proses menuju menopause dimulai dengan perlambatan fungsi indung telur, lima tahun sebelum periode menstruasi terakhir. Terdapat juga perubahan-perubahan fisik dan emosi beberapa tahun setelah haid terakhir. Selama masa ini, terjadi perubahan dalam keseimbangan hormon, ditandai dengan pengurangan jumlah estrogen yang diproduksi indung telur, sehingga haid menjadi tidak teratur dan akhirnya berhenti.

Data Bidan Praktek Swasta (dalam Proyeksi Penduduk, 2011) menunjukkan bahwa 6.730.000 wanita Indonesia memasuki masa menopause per tahunnya, dan 72% dari jumlah tersebut mengalami gejala-gejala menopause. Beberapa perubahan atau gejala fisik yang dialami oleh seseorang yang memasuki masa menopause diantaranya adalah rasa panas (hot flashes) yang timbul pada saat seseorang masih menstruasi sampai menstruasi benar-benar berhenti. Munculnya gejolak rasa panas ini sering diawali pada daerah dada, leher, wajah dan beberapa daerah tubuh yang lain. Mustopo (2005) mengatakan bahwa 85% wanita mengalami gejolak rasa panas tersebut saat menopause. Selain itu kekeringan vagina yang dialami akibat kekurangan hormon estrogen, dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman saat berhubungan seksual. Perubahan fisik yang terjadi ketika menopause disertai juga dengan beberapa gejala psikologis yang menonjol, seperti stress, frustasi dan adanya penolakan terhadap menopause (Papalia, 2003). Ibrahim (2002) mengemukakan bahwa wanita yang mengalami menopause juga merasa sangat minder yang disebabkan oleh perubahanperubahan yang terjadi pada tubuhnya selama menopause, dan rasa minder tersebut disertai dengan berbagai kecemasan dan keresahan. Selain itu Reitz (1993) menyatakan bahwa banyak wanita menopause menggunakan obat-obatan penenang untuk menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran dalam dirinya. Akibat dari fisik yang tidak nyaman dan kecemasan yang terjadi pada masa menopause dapat menimbulkan ketegangan dan konflik batin serta gangguan-

gangguan emosional yang menjadi alasan bagi timbulnya kesehatan mental yang kurang baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rostiana (2004) menunjukkan bahwa kecemasan yang dirasakan oleh wanita menopause mengakibatkan dirinya sulit untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu, kesulitan dalam membuat keputusan, sering mengalami sulit tidur serta munculnya perasaan-perasaan seperti rasa gugup dan panik. Hasil penelitian Palupi (2011) di Desa Bonjok Kidul Kecamatan Bonorowo Kebumen menunjukkan bahwa Responden yang tidak siap menghadapi menopause lebih banyak yakni (86,7%) dibandingkan dengan responden' yang siap menghadapi menopause (13,3%) dengan hasil penelitiannya juga menunjukkan Ada hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan kesiapan menghadapi menopause di desa Bonjok Kidul kecamatan Bonorowo kabupaten Kebumen (p =0,0001) Kecemasan yang dialami seseorang selama menopause dipengaruhi oleh sikap orang tersebut terhadap menopause, dimana menopause sering dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan bagi wanita (Dacey & Travers, 2002). Kekhawatiran ini berawal dari pemikiran seseorang bahwa dirinya akan menjadi tidak sehat, tidak bugar dan tidak cantik lagi. Padahal, masa menopause merupakan salah satu fase yang harus dijalani seorang wanita dalam kehidupannya, dan kecemasan yang mereka alami dapat menyebabkan mereka sangat sulit menjalani masa ini (Kasdu, 2002). Agar dapat menjalani menopause dengan baik, diperlukan kemauan diri untuk memandang hidup sebagai sebuah harapan, dan dibutuhkan pikiran yang

positif dalam memandang setiap kejadian/ peristiwa yang dialami. Apabila seseorang dapat berpikir secara positif, maka mereka dapat melalui masa menopause dengan mudah. Namun sebaliknya, apabila orang tersebut berpikir negatif tentang menopause, maka keluhan-keluhan yang muncul akan semakin memberatkan hidupnya. Oleh karena itu penting bagi seseorang untuk berpikir secara positif bahwa menopause merupakan sesuatu yang sifatnya alami, sama halnya seperti fase kehidupan yang lain. Sikap positif tersebut dapat muncul apabila ada bantuan dari orang-orang disekitarnya (Kasdu, 2002). Berdasarkan survay awal yang penulis lakukan pasa tanggal 09 desember 2011 di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur, didapatkan 6 dari 8 orang ibu pramenopause yang tidak tahu tentang perubahan masa menopause. Sebanyak 4 dari 8 orang ibu pramenopause tidak siap menerima kondisi menopause yang mereka alami. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti hubungan antara pengetahuan ibu tentang menopause dengan kesiapan menghadapi menopause di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkat Timur Kota Bengkulu.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di latar belakang di atas maka masalah dalam penelitian ini yaitu masih rendahnya pengetahuan ibu tentang menopause dan kurangnya kesiapan ibu dalam menghadapi menopause. Maka timbul pertanyaan Apakah ada Hubungan Kesiapan Menghadapi Menopause di Tinjau Dari

Pengetahuan dan Perilaku ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu?

1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku ibu dengan kesiapan menghadapi menopause. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran pengetahuan ibu dalam kesiapan menghadapi menopause. b. Mengetahui menopause c. Mengetahui gambaran kesiapan ibu menghadapi menopause. d. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kesiapan menghadapi menopause. e. Mengetahui hubungan perilaku ibu dengan kesiapan menghadapi menopause. gambaran perilaku ibu dalam kesiapan menghadapi

1.4 Manfaat Penelitian. a. Bagi puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Bagi instansi pelayanan kesehatan khususnya Puskesmas Lingkar Timur yang bekerjasama dengan kecamatan dapat meningkatkan mutu sumberdaya manusia tenaga kesehatan terutama tenaga kebidanan dalam

upaya mengoptimalkan pelaksanaan tindakan kebidanan yang tepat untuk lebih meningkatkan kesiapan pada para wanita dalam menghadapi menopause. b. Bagi Akademik Memberikan informasi dan masukan, menambah wawasan dan

pengetahuan tentang kesiapan apa saja menjelang menopause khususnya bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Dehasen yang akan turun langsung dimasyarakat dalam memberikan pelayanan c. Bagi Peneliti Lain Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar dalam mengembangkan penelitian selanjutnya.

1.5 Keaslian Penelitian Penelitian ini serupa dengan penelitian yang di teliti oleh : 1. Deti,N. (2009) dengan judul penelitian adalah: Hubungan Respon Psikologis dengan Wanita Pre Menopause wilayah Puskesmas Pasar Lais Kabupaten Bengkulu Utara. dengan hasil ada hubungan antara respon psikologis dengan wanita pre menopause . Perbedaan dengan penelitian ini adalah metode penelitian, variabel independent dan dependent analisis data, dan sampel, tempat dan waktu . 2. Meta, (2010) dengan judul penelitian Hubungan Pengetahuan Ibu Dalam Kesiapan Menghadapi Menopousedi Wilayah Kerja Puskesmas Semidang Alas Maras dengan hasil ada hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan

ibu dalam menghadapi menopouse. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu metoda penelitian, variabel independent (Kesiapan) dan dependent

(Pengetahuan) analisis data sampel, tempat dan waktu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teori


2.1.1 Menopause.
Menopause adalah suatu fase alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita yang biasanya terjadi diatas usia 40 tahun. Ini merupakan suatu akhir proses biologis dari siklus menstruasi yang terjadi karena penurunan produksi hormon estrogen yang dihasilkan indung telur. Berhentinya haid akan membawa dampak pada konsekuensi kesehatan baik fisik maupun psikis (Yudomustopo, 1999).

Menopause adalah titik dimana menstruasi berhenti, usia rata-rata menopause adalah 51,4 tahun tetapi 10% wanita berhenti menstruasi pada usia 40 tahun dan 5% tidak berhenti sampai usia 60 tahun. Menopause bedah terjadi akibat histerektomi dan ooforektomi bilateral (Bobak, 2005). Menopause adalah periode peralihan dari fase reproduksi menuju fase usia tua yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif atau endokrinologi dari ovarium (Baziad A, 2003). Menopause adalah berhentinya haid yang dialami oleh wanita yang dipengaruhi oleh Hormon Reproduksi (Levina S, 2000). Menopause digambarkan sebagai penghentian fisiologis haid

berhubungan dengan kegagalan fungsi ovarium, selama fungsi reproduktif menurun dan berakhir (Smeltzer, 2002). Menopause adalah berhentinya siklus

perdarahan uterus yang teratur, merupakan satu peristiwa dalam klimakterium. Menopause biasanya terjadi antara usia 45-52 tahun (Price, 2006). Menopause terjadi pada wanita sewaktu ovariumnya tidak lagi berespon terhadap LH (Luteinizing Hormon) dan FSH (Folicle Stimulating Hormon) dengan membentuk estrogen dan progesterone. Menopause biasanya terjadi antara usia 40 dan 50 tahun dan dapat berlangsung selama 8-10 tahun (Corwin, 2001). Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan menopause adalah suatu fase dari kehidupan wanita yang ditandai dengan berhentinya menstruasi, berhentinya produksi sel telur, hilangnya kemampuan melahirkan anak, dan membawa perubahan dan kemunduran baik secara fisik maupun psikis. Istilah menopause seringkali disalah artikan dengan klimakterium. a. Klimakterium adalah masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum mencapai senium, yang mulai dari akhir masa reproduktif dari kehidupan sampai masa non reproduktif. b. Masa klimakterium meliputi pramenopause, menopause, dan

pascamenopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun. c. Klimakterium prekoks adalah klimakterium yang terjadi pada wanita umur kurang dari 40 tahun. d. Pramenopause adalah masa 4-5 tahun sebelum menopause, keluhan klimakterik sudah mulai timbul, hormon estrogen masih dibentuk. Bila kadar estrogen menurun maka akan terjadi perdarahan tak teratur.

10

e. Menopause adalah henti haid yang terakhir yang terjadi dalam masa klimakterium dan hormon estrogen tidak dibentuk lagi, jadi merupakan satu titik waktu dalam masa tersebut. Umumnya terjadi pada umur 4555 tahun. f. Pascamenopause adalah masa 3-5 tahun setelah menopause, dijumpai hipergonadotropin (FSH dan LH), dan kadang-kadang hipertiroid. g. Sindrom klimakterik klinis adalah keluhan-keluhan yang timbul pada masa pramenopause, menopause, dan pascamenopause. h. Sindrom klimakterik endokrinologis adalah penurunan kadar estrogen, peningkatan kadar gonadotropin (FSH dan LH). Disebut juga sebagai sindrom defisiensi estrogen.

2.1.2 Tahap-Tahap Menopause Menurut Baziad A, (2003) fase-fase dalam menopause adalah sebagai berikut: a. Premenopause adalah masa sebelum menopause yang dapat ditandai dengan timbulnya keluhan-keluhan klimakterium dan periode pendarahan uterus yang bersifat tidak teratur. Dimulai sekitar usia 40 tahun. Pendarahan terjadi karena menurunnya kadar estrogen, insufisiensi korpus luteum dan kegagalan proses ovulasi. Sehingga bentuk kelainan haid dapat

bermanifestasi seperti amenorrhoe, polimenorrhoe, serta hipermenorrhoe. b. Perimenopause adalah masa menjelang dan setelah menopause sekitar usia 50 tahun. Keluhan sistematik berkaitan dengan vasomotor. Keluhan yang

11

sering dijumpai adalah berupa gejolak panas (hot flushes), berkeringat banyak, insomnia, depresi, serta perasaan mudah tersinggung. c. Pascamenopause adalah masa yang berlangsung kurang lebih 3-5 tahun setelah menopause. Keluhan lokal pada sistem urogenital bagian bawah, atrofi vulva dan vagina menimbulkan berkurangnya produksi

lendir/timbulnya nyeri senggama (Baziad, 2003).

2.1.3 Manifestasi Klinis Turunnya fungsi ovarium (sel telur) mengakibatkan hormon terutama estrogen dan progesteron sangat berkurang di dalam tubuh kita. Kekurangan hormon estrogen ini menyebabkan keluhan-keluhan: a. Fisik Beberapa keluhan fisik yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu: 1) Tidakteraturan Siklus Haid Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih.

12

2) Gejolak Rasa Panas Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi. 3) Kekeringan Vagina Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, liang senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing. Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme.

13

4) Perubahan Kulit Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas. 5) Keringat di Malam Hari Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman atau pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak. 6) Sulit Tidur Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang lain. 7) Perubahan Pada Mulut Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal. 8) Kerapuhan Tulang Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses

osteoporosis (kerapuhan tulang). Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan.

14

Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh. 9) Badan Menjadi Gemuk Banyak wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga. 10) Penyakit Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting yang terjadi pada waktu menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut. Semakin lama kehidupan maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang. Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa menopause. b. Psikologis Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang, cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri

15

karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Gejala-Gejala Menopause 1. Faktor psikis. Perubahan-perubahan psikologis maupun fisik ini berhubungan dengan kadar estrogen, gejala yang menonjol adalah berkurangnya tenaga dan gairah, berkurangnya konsentrasi dan kemampuan akademik, timbulnya perubahan emosi seperti mudah tersinggung, susah tidur, rasa kekurangan, rasa kesunyian, ketakutan keganasan, tidak sabar lagi. Perubahan psikis ini berbeda-beda tergantung dari kemampuan wanita untuk menyesuaikan diri. 2. Sosial ekonomi Keadaan sosial ekonomi mempengaruhi faktor fisik, kesehatan dan pendidikan. Apabila faktor-faktor di atas cukup baik, akan mengurangi beban fisiologis, psikologis. Kesehatan akan faktor klimakterium sebagai faktor fisiologis. 3. Budaya dan lingkungan Pengaruh budaya dan lingkungan sudah dibuktikan sangat

mempengaruhi wanita untuk dapat atau tidak dapat menyesuaikan diri dengan fase klimakterium dini.

16

4. Faktor Lain Wanita yang belum menikah, wanita karier baik yang sudah atau belum berumah tangga, menarche yang terlambat berpengaruh terhadap keluhan-keluhan klimakterium yang ringan.

2.1.5 Patofisiologi Menopause Sebelum seorang wanita mengalami menopause, telah terjadi perubahan anatomis pada ovarium berupa sclerosis vaskuler, pengurangan jumlah folikel primordial, serta penurunan aktivitas sintesa hormon steroid. Penurunan hormon estrogen akan berlangsung dimulai pada awal masa klimakterium dan makin menurun pada menopause, serta mencapai kadar terendah pada saat pascamenopause (Deborah, 2004). Penurunan ini menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negative terhadap hypothalamus, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan produksi gonadotropin sehingga membuat pola hormonal wanita klimakterium menjadi hipergonadotropin, hipogonadisme. Dengan menurunnya kadar estrogen di dalam tubuh maka fungsi fisiologis hormone tersebut akan menjadi terganggu. Perubahan fisiologik sindroma kekurangan estrogen akan menampilkan gambaran klinis berupa gangguan neurovegetatif, gangguan psikis, gangguan somatic, dan gangguan siklus haid (Baziad, 2003).

2.1.6 Perubahan-Perubahan Organik Pada Masa Klimakterium a. Perubahan pada organ reproduksi

17

1) Uterus (kandungan) Uterus mengecil, selain disebabkan atrofi endometrium juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat intertisial. Serabut otot miometrium menebal, pembuluh darah miometrium menebal dan menonjol. 2) Tuba Falopii (saluran Telur) Lipatan-lipatan tuba menjadi lebih pendek, menipis dan mengkerut, endosalpingo menipis mendatar dan silia menghilang. 3) Serviks (mulut rahim) Serviks akan mengkerut sampai terselubung oleh dinding vagina, kripta servikal menjadi atropik, kanalis servikalis memendek, sehingga menyerupai ukuran serviks fundus saat masa adolesen. 4) Vagina (liang kemaluan) Terjadinya penipisan vagina menyebabkan hilangnya rugae berkurangnya vaskularisasi, elastistik yang berkurang, secret vagina menjadi encer, indeks kario piknotik menurun. PH vagina meningkat karena

terhambatnya pertumbuhan basil Donderlein yang menyebabkan glikogen seluler meningkat, sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Uretra ikut memendek dengan pengerutan vagina, sehingga meatus eksternus melemah timbul uretritis dan pembentukkan karankula. 5) Dasar pinggul Kekuatan dan elastistik menghilang, karena atrofi dan lemahnya daya sokong disebabkan prolapsus utero vaginal.

18

6) Perineum dan anus Lemak subcutan menghilang, atrofi otot sekitarnya menghilang yang menyebabkan tonus spincter melemah dan menghilang. Sering terjadi inkontinensia alvi vagina. 7) Vesica Urinaria (kandung kencing) Tampak aktivitas kendali spincter dan detrusor hilang, sehingga sering kencing tanpa sadar. 8) Kelenjar payudara Diserapnya lemak subcutan, atrofi jaringan parenkim, lobules menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal. Puting susu mengecil kurang erektil, pigmentasi berkurang, sehingga payudara menjadi datar dan mengendor. b. Perubahan diluar organ reproduksi 1) Adipositas (penimbunan lemak) Penyebaran lemak ditemukan pada tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. 2) Hipertensi (tekanan darah tinggi) Adanya gejolak panas terjadi suatu peningkatan tekanan darah baik sistole maupun diastole. Diketahui bahwa 2/3 penderita hipertensi esential primer adalah wanita antara 45-70 tahun yang diketahui permulaan peningkatan tensi paling banyak terjadi selama masa klimakterium. Peningkatan tekanan darah pada usia klimakterium terjadi secara bertahap, kemudian menetap dan lebih tinggi dari tensi sebelumnya.

19

3) Hiperkolesterolnemia (kolesterol tinggi) Penurunan atau hilangnya kadar estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol. Peningkatan kadar kolestrol pada wanita terjadi 10-15 tahun lebih lambat pada laki-laki. Peningkatan kadar kolesterol yang merupakan faktor utama dalam penyebab arterosklerosis. 4) Aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah) Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis. Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun. 5) Virilisasi (pertumbuhan rambut-rambut halus) Turunnya estrogen dalam darah adanya efek androgen menyebabkan tanda-tanda diferensiasi dari defeminisasi dan maskulinisasi. Hal ini berhubungan dengan ovarium sendiri membentuk estron yang bersifat androgen. 6) Osteoporosis (keropos tulang) Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi osteoclast merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast, sehingga tulang menjadi osteoporosis.

20

2.1.7 Masalah Psikologis Semua gejala psikologis yang timbul pada masa pubertas maupun pada masa klimakterik seperti rasa takut, tegang, rasa sedih, mudah tersinggung dan depresi sebenarnya sangat bergantung pada perubahan hormonal tubuh wanita itu sendiri. Kondisi dan simptom psikologis wanita di masa klimakterium sangat dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor internal maupun eksternal.

2.1.9 Kesiapan dalam Menghadapi Menopause Dampak yang timbul pada ibu yang mulai menghadapi masa menopause adalah kurang istirahat karena sering terbangun dari tidur pada malam hari, mudah tersinggung, mudah marah. Semua gejala yang mengganggu pada umumnya diiringi suasana hati yang cepat berganti atau berubah. Ibu menjadi sangat sulit, banyak menuntut, jadi rewel, gelisah dan cerewet. Semuanya sangat tergantung dari pandangan hidup dan eksistensi dirinya. Jika tidak bisa menemukan harmoni dan keseimbangan, maka terjadilah trauma biologis dan trauma psikis. Terjadi pula perasaan degradasi diri, perilaku yang aneh, tidak rasional dan binal (Kartono, 2002). Menurut Depkes RI (2004), beberapa gambaran terhadap kesiapan dalam menghadapi menopause antara lain : a. Menerima apa adanya dan tetap merawat diri b. Mencari informasi melalui teman, keluarga atau petugas kesehatan. Media cetak dan elektronik. Informasi dan pertolongan mengenai menopause dapat diperoleh di pondok bersalin, puskesmas, rumah sakit, bidan/dokter.

21

c. Berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman, keluarga, kelompokkelompok sosial. d. Meningkatkan aktifitas fisik dan olahraga. Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi. Olahraga adalah bentuk aktivitas fisik dari otot tubuh yang bila dilaksanakan dengan baik, benar, terukur dan teratur akan meningkatkan kebugaran jasmani. e. Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang sejak dini Gizi seimbang adalah makanan sehari-hari yang terdiri dari beraneka ragam bahan makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan oleh tubuh baik jenis dan jumlahnya, yaitu sumber tenaga, misalnya beras, jagung dan gandum. Sumber zat pembangun, misalnya kacang-kacangan, tempe,tahu, telor, ikan dan susu. Sumber zat pengatur, misalnya sayuran, buah-buahan.

2.1.10 Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan menghadapi menopause Menurut Notoatmodjo (2002) bahwa perilaku sescorang sangat tergantung karakteristik individu yang tcrgolong dalam faktor internal (jenis kelamin umur, pengetahuan, tingkat kecerdasan, tingkat pendidikan, sikap dan sebagainya) dan faktor eksternal (sosial budaya, lingkungan fisik, ekonomi, politik dan sebagainya).

22

2.2 Pengetahuan Menurut notoatmodjo (2010), pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui yang dimilikinya (mata, hidung telinga, dan seabagainya). Dengan seandirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan pengertahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh indra pendengaran (telinga), dan indra pengelihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan,yakni: a. Tahu (know) Tahu hanya diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengalami sesuatu. Misalnya : tahu bahwa sebuah tomat banyak mengandung vitamin C, jamban adalah tempat membuang air besar, penyakit demam berdarah di sebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Agepti, dan sebagainya.untuk mengetahui dan mengukur bahwa seseorang tahu sesuatu dapat mengunakan pertanyaan-pertanyaan misalnya : apa tanda-tanda anak kurang gizi, apa menyebab penyakit TBC, bagaimana cara melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk), dan sebagainya. b. Memahami (comprehsension) Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap suatu objektersebut, tidak hanya sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus

23

dapat mengintrepretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Misalnya orang yang mengetahui cara pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3 M (mengubur,menutup, dan menguras), tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus menutup,menguras dan sebagainya, tempat-tempat penampungan air tersebut. c. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang di maksuddapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah paham tentang proses perencanaan, ia harus dapat mebuat perencanaan program kesehatan ditempat ia bekerja atau dimana saja, orang yang telah pahan metedologi penelitian, ia akan lebih mudah membuat proposal penelitian dimana saja, dan seterusnya. d. Analisis ( analysis) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, dan kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagrainya (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut. Misalnya, dapat membedakan antara nyamuk Aedes Agepty dengan nyamuk biasa, dapat membuat diagram (flow chart) siklus hidup cacing kremi, dan sebagainya.

24

e. Sintesis (syinthesis) Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang di miliki dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada misalnya dapat meringkas atau merangkum kata atau kalimat sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar, dan dapat membuat kesimpulan tentang artikel yang telah di baca f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi dapat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiriatau norma-norma yang telah berlaku dimasyarakat. Misalnya seorang ibu dapat menilai dan menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seorang dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana bagi keluarga, dan sebagainya.

2.3 Perilaku Sehat Prilaku sehat adalah prilaku-prilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan (Notoatmodjo,2010), antara lain :

25

a. Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang disini adalah pola makan sehari-hari yang memenuhi kebutuhan tubuh baik secara jumlahnya (kuantitas), maupun jenisnya (kualitas). b. Kegiatan fisik yang teratur dan cukup. Kegiatan fisik disini tidak harus olahraga. Bagi seseorang yang pekerjaannya memang sudah memenuhi gerakan-gerakan fisik secara rutin dan teratur, sebenarnya sudah dapat dikatagorikan berolahraga.bagi seseorang yang pekerjaannya tidak melakukan kegiatan fisk seperti menejer, administrasion, sekretaris, dan sebagainya memerlukan plahraga secara teratur. c. Tidak merokok dan minum-minuman yang keras serta menggunakan narkoba. Merokok adalah kebiasaan yang tidak sehat, namun diindonesiajumlah perokok cenderung meningkat. Hampir 50%pria dewasa di indonesia adalah perokok. Sedangkan minum minuman keras dan penggunaan narkoba meskipun masih rendah (sekitar 1,0%), tetapi mungkin meningkat pula. d. Istirahat yang cukup, istirahat yang cukup bukan hanya berguna memelihara kesehatn fisik, tetapi juga kesehatan mental. Dengan perkembangannya iptek dewasa ini , juga memacu orang untuk meningkatkan kemampuan kehidupannya, baik di bidang sosial, dan ekonomi, yang akhirnya mendorong seseorang bersangkutanuntuk bekerja keras, tanpa menghiraukan beban fisik dan mentalnya. Istirahat yang cukup adalah kebutuhan dasar manusia untuk meningkatkan kesehatan seseorang. e. Pengendalian atau manajement stres. Stres adalah bagian dari kehidupan setiap orang, tanpa pandang bulu. Semua orang terbebas dari tingkat sosial,

26

ekonomi, jabatan atau kedudukan. Dan sebaginya mengalami stres. Stres tidak dapat dihindari oleh siapa saja, namun yang dapat mengatasi ,

memgendalikan, atau mengola stres tersebut agar tidak dapat mengakibatkan gangguan kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental (rohani). f. Prilaku atau gaya hidup positif yang lain untuk kesehatan, yang intinya adalah tindakan atau prilaku seseorang agar dapat terhindar dari berbagai macam penyakit atau masalah kesehatan, termasuk prilaku untuk meningkatkan kesehatan.

2.4 Kesiapan Kesiapan berasal dari kata siap yang artinya sudah bersedia. Kesiapan artinya sudah bersedia untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi (Alwi , 2003) a. Kesiapan Fisik dan psikologi 1. Kesiapan Fisik. Seorang wanita harus menyadari bahwa perubahan fisik yang terjadi merupakan perubahan alami yang timbul pada setiap wanita menopause, untuk itu agar ibu siap secara fisik dalam menghadapi masa menopause hendaknya ibu melakukan hal-hal sebagai berikut : a. Memeriksakan kesehatan secara berkala minimal 2 kali dalam satu tahun. Ditujukan pada penyakit hypertensi, karllcer, jantung, otak. Osteoporosis dan diabetes melitus.

27

b. Mengikuti senam jantung sehat, poco-poco, jalan kaki pada pagi hari yang dilakukan 3 kali dalam seminggu. Karena dengan gerakan badan dapat mencegah terjadinya osteoporosis dan juga dapat membantu relaksasi sehingga mengurangi ketegangan atau stress. c. Makanlah dengan cara yang sehat yaitu dengan menghindari makanan yang berlemak, banyak makan sayur serta buah-buahan. Sayuran dan buah banyak mengandung vitamin yang baik untuk tubuh seperti : vitamin C yang dapat membantu penyerapan zat besi, B6 membantu menghilangkan depresi dan vitamin E yang dapat membantu mengurangi muka kemerahan dan panas. d. Tetap memelihara dan menjaga penampilan dengan menghias diri guna meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri ibu. e. Mengkonsumsi kalsium dan vitamin E dalam jumlah yang cukup dengan cara minum susu serta mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung sereal karena dapat membantu mencegah terjadinya osteoporosis. f. Mengikuti kegiatan yang ada di masyarakat. Wanita yang aktif dapat melalui masa menopause tanpa merasa apa-apa dan tanpa keluhan (Levina , 2000). g. Meningkatkan personal hyegine, karena reaksi immun tubuh menjadi tumpul pada usia tua sehingga cenderung untuk terkena penyakit infeksi.

28

h. Membuat keterampilan seperti : menjahit, memasak sesuai dengan minat dan kemampuan yang di miliki oleh ibu. 2. Kesiapan psikologis Penatalaksanaan dalam menghadapi masa menopause agar wanita siap secara psikologis yaitu : a. Penurunan libido (sex) merupakan suatu hal yang alami yang timbul pada setiap wanita yang mengalami masa menopause. Untuk menjaga agar hubungan dengan suami tetap harmonis dapat dilakukan dengan cara relaksasi dan tetap menjaga hubungan sexual. b. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan banyak beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan seperti : pengajian serta mengikuti arisan yang ada RT setempat. c. Ibu menopause harus tetap merasa masih bermanfaat bagi orang lain dengan cara mau menerima keadaan, sabar dan optimis serta meningkatkan rasa percaya diri dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan. d. Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga misalnya : melakukan rekreasi atau liburan bersama keluarga, serta dengan lingkungan masyarakat yaitu dengan mengikuti arisan atau pengajian yang dilakukan RT setempat. e. Mengembangkan hobi ibu seperti : memasak, menjahit dan lain-lain. Tidak semua wanita dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, agar wanita tersebut dapat menerima perubahan fisik dan

29

perubahan psikologis maka wanita tersebut harus dapat mempersiapkan dirinya dalam menghadapi masa menopause misalnya: 1) Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang. 2) Mencari informasi melalui petugas kesehatan, keluarga, teman, media cetak ataupun elektronik. 3) Berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman dan keluarga. Apabila kesiapan fisik dan psikologis diatas sudah dapat dilakukan, maka wanita yang menghadapi masa menopause akan siap dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari seperti biasanya tanpa harus memikirkan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya (Depkes RI, 2004).

2.5 Kerangka Konsep Menurut notoatmodjo (2010), pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui yang dimilikinya (mata, hidung telinga, dan seabagainya). Prilaku sehat adalah prilaku-prilaku atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan (Notoatmodjo,2010). Kesiapan artinya sudah bersedia untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi (Alwi , 2003).

30

Variabel independen 1. Pengetahuan 2. Perilaku sehat

Varibel Dependen Kesiapan menghadapi menopause

Bagan. 1.1 kerangka konsep penelitian

2.6 Hipotesis Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul, Beradasarkan kerangka konsep yang diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : Ha : ada hubungan pengetahuan dan perilaku ibu dengan kesiapan menghadapi menopause di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu.

31

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara analitik dengan menggunakan desain cross-sectional yang merupakan rencana penelitian dengan menggunakan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali sewaktu) antara variabel bebas dengan variabel tergantung, (Hidayat, 2002). Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Siap Baik Tidak Siap Siap Pengetahuan Ibu Kesiapan ibu dalam menghadapi menopause Cukup Tidak Siap Siap Kurang Tidak Siap

Mendukung Perilaku

Siap Tidak Siap Siap

Tidak mendukung

Tidak Siap

Bagan 1.2. Desain Penelitian

31

32

3.2 Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Pengetahua n Ibu Definisi Operasional Segala sesuatu yang diketahui ibu tentang menopause: - Pengertian - Klasifikasi - Tanda-tanda Alat Ukur Wawancara dan koensioner Hasil Ukur (0) kurang jika jawaban benar < 60%. (1) cukup jika jawaban benar 60-70%. (2) baik jika jawaban benar 80-100%. Skala Ukur Ordinal

Perilaku

Prilaku kesehatan ibu dalam menghadapi menopause

Check list

(0) Tidak Nominal Mendukung jika jawaban Ya < 60 % (1) Mendukung jika jawaban Ya > 60 % (0) Tidak siap jika jawaban ya < 60% (1) Siap jika jawaban ya > 60% Nominal

Kesiapan menghadapi menopause

Kondisi yang menggambarkan kesiapan ibu dalam menghadapi monepause

Check list

3.3 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2012 sampai Juli 2012. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu. data yang ada di puskesmas mendukung untuk dilakukan penelitian.

33

3.4 Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu pramenopause yang ada di wilayah kerja puskesmas lingkar timur pada tahun 2011 dengan usia 45-59 tahun sebanyak 3.402 orang. b. Sampel Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi, (Notoatmojo, 2005). Teknik

pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan dengan teknik random sampling yaitu setiap anggota populasi mempunyai hak untuk diambil sebagai sampel. Besar sampel dihitung menggunakan rumus sebagai berikut: Z1- . p . q n= (d)2 1,962.0,86.0,14 n= 0,092 0,46 n= 0,0081 n= 56 Responden Keterangan: n : Jumlah sampel Z1- : Nilai standar normal untuk , d : Penyimpangan / presisi = 0,075 q : 1-p p : Proporsi = 86% di dapat dari hasil penelitian Palupi (2011) di Desa Bonjok Kidul Kecamatan Bonorowo Kebumen dengan

34

judul Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Umur 40-45 Tahun tentang Menopause dengan Kesiapan Ibu Menghadapi Menopause.Tehnik Pengambilan data

3.5 Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengumpulan Data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai responden untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dengan kesiapan ibu tentang perubahan pada masa menopause Di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu. 2. Pengolahan Data a. Editing Menilai setiap lembar format pengumpulan data untuk memastikan data yang diperoleh benar-benar relevan dan sesuai dengan yang diinginkan. Dari kuisioner yang disebarkan semuanya kembali dan data lengkap. b. Coding Setiap lembar yang memenuhi kriteria sampel dan telah terisi semua, dilakukan pengkodean data untuk mempermudah pengelompokan data. Coding dilakukan sendiri oleh peneliti, yaitu jika responden menjawab benar diberi coding: 1, jika salah: 0. c. Tabulating Setelah dilakukan coding kemudian dilakukan tabulasi data dari skor jawaban yang diperoleh.

35

3. Analisis Data a. Analisis Univariat Untuk melihat distribusi frekuensi variabel yang diteliti dan dipersentasikan dengan menggunakan rumus :
P f x 100% n

Keterangan : P = Persentase yang ingin di cari f = Jumlah frekuensi sesuai dengan kategori n = Jumlah sebagian populasi b. Analisis Bivariat Digunakan untuk melihat hubungan atau pengaruh variabel independent (bebas) terhadap variabel dependent (terikat) dengan menggunakan uji statistik Chi-Square pada program SPSS dengan tingkat kemaknaan yang digunakan adalah <0,05. Hasil penghitungan dianalisa : Jika P 0,05 : Ho ditolak, berarti ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kesiapan menghadapi menopause. Jika P > 0,05 : Ho gagal ditolak, berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kesiapan menghadapi menopouse.

36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Jalannya Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu pada tanggal 28 Mei s/d. 20 Juli 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku ibu dengan kesiapan menghadapi menopause di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu tahun 2012. Jenis penelitian ini adalah secara analitik dengan menggunakan desain cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu pramenopause yang ada di wilayah kerja puskesmas lingkar timur pada tahun 2010 dengan usia 45-59 tahun sebanyak 3.402 orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 56 responden diambil dengan teknik random sampling. Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara Pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai responden untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan dengan kesiapan ibu tentang perubahan pada masa menopause di wilayah kerja puskesmas lingkar timur kota bengkulu. Data yang diperoleh, diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariat untuk mendapatkan nilai p.

36

37

4.1.2 Gambaran Pengetahuan Ibu Dalam Kesiapan Menghadapi Menopause. Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Dalam Kesiapan Menghadapi Menopause di Wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Tahun 2012. No 1 2 3 Kurang Cukup Baik Jumlah Pengetahuan Frekuensi (f) 19 20 17 56 Prosentase (%) 33,9 35,7 30,4 100,0

Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa hampir dari sebagian (33,9%) responden mempunyai pengetahuan kurang tentang menopause. 4.1.3 Gambaran Perilaku Ibu Dalam Kesiapan Menghadapi Menopause. Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Ibu Dalam Kesiapan Menghadapi Menopause di Wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Tahun 2012 No Perilaku Frekuensi Prosentase (f) (%) 1 Tidak Mendukung 33 58,9 2 Mendukung 23 41,1 Jumlah 56 100,0 Dari tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar (58,9%) responden berperilaku tidak mendukung dalam menghadapi menopause.

38

4.1.4 Gambaran Ibu Dalam Kesiapan Menghadapi Menopause. Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kesiapan Ibu Menghadapi Menopause di Wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Tahun 2012 No 1 2 Kesiapan Menghadapi Menopause Tidak Siap Siap Jumlah Frekuensi (f) 29 27 56 Prosentase (%) 51,8 48,2 100,0

Dari tabel 4.2 dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian (51,8%) responden tidak siap dalam menghadapi menopause. 4.1.5 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause. Tabel 4.4 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause di Wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Tahun 2012. Kesiapan Menghadapi Menopause Tidak Siap Siap 17 2 89,5% 10,5% 8 12 40.0% 60.0% 4 13 23.5% 76.5%

Variabel Pengetahuan Kurang Cukup Baik

Jumlah 19 100% 20 100% 17 100%

p value

0,000

Dari tabel 4.4 diatas diketahui bahwa dari ibu yang mempunyai pengetahuan kurang tentang menoupose diketahui sebagian besar (89,5%) ibu tidak siap menghadapi menopause sedangkan dari ibu yang mempunyai pengetahuan cukup tentang menoupose terdapat terrdapat sebagian besar ibu (60%) siap menghadapi menopause dan yang mempunyai pengetahuan baik tentang menoupose terdapat sebagian besar (76,5%) ibu yang siap menghadapi

39

menopause. Berdasarkan hasil uji chi square dapat diketahui bahwa nilai p=0,000 lebih kecil dari alpha 5% berarti ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan Ibu dengan kesiapan menghadapi menopause di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu tahun 2012. Tabel 4.5 Hubungan Perilaku Ibu Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause di Wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Tahun 2012. Variabel Perilaku Tidak Mendukung Mendukung Kesiapan Menghadapi Menopause Tidak Siap Siap 22 11 66,7% 33,3% 7 16 30,4% 69,6% p value

Jumlah 33 100,0% 23 100,0%

0,016

Dari tabel 4.5 diatas dapat diketahui bahwa dari ibu yang berperilaku tidak mendukung dalam kesiapan menghadapi menopouse terdapat sebagian besar ibu (66,7%) tidak siap menghadapi menopause sedangkan ibu yang berperilaku mendukung terdapat sebagian besar ibu (69,6%) yang siap menghadapi menopause. Berdasarkan hasil uji chi square diketahui bahwa nilai p=0,016 lebih kecil dari alpha 5% berarti ada hubungan yang bermakna antara perilaku Ibu dengan kesiapan menghadapi menopause di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu tahun 2012.

4.2 Pembahasan 4.2.1 Gambaran Kesiapan Ibu Menghadapi Menopause. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari sebagian (51,8%) responden tidak siap dalam menghadapi menopause. Hal ini dapat disebabkan

40

oleh kurangnya pengetahuan ibu dalam menghadapi menopause atau juga dapat disebabkan oleh peran dari keluarga terutama suami kurang baik selain itu juga dapat disebabkan oleh sikap dan perilaku yang malas atau tidak mendukung dalam menghadapi menopaus seperti harus teratur berolahraga, menjaga keadaan pola fikir yang positif, dan menjaga pola makan yang bergizi. Keadaan ini menggambarkan bahwa menopause mempunyai dampak besar kepada psilkologis ibu yang mungkin takut tidak mampu membahagikan keluarga terutama suami dengan dampak psikologis dari menopause ini seorang ibu yang tidak siap menghadapi menopause dapat mengalami depresi, tidak percaya diri, dan yang paling ditakutkan dapat menggangu kesehatan karena stress yang berlebih sehingga mengganggu aktivitas dan pola hidup sehatnya.
Menurut Baziad, (2003).Menopause merupakan masa berhentinya menstruasi yang terjadi pada perempuan dengan rentang usia antara 48 sampai 55 tahun. Masa ini sangat kompleks bagi perempuan karena berkaitan dengan keadaan fisik dan kejiwaannya. Selain perempuan mengalami stress fisik dapat juga mengalami stress psikologi yang mempengaruhi keadaan emosi dalam menghadapi hal normal sebagaimana yang dijalani oleh semua perempuan. Jika kondisi ini tidak bisa diatasi akan berkembang menjadi stress yang berdampak buruk pada kehidupan sosial perempuan yang akan merangsang otak sehingga dapat mengganggu keseimbangan hormon dan akhirnya berakibat buruk pada kesehatan tubuh (Kasdu, 2002).

Hasil penelitian Palupi (2011) di Desa Bonjok Kidul Kecamatan Bonorowo Kebumen menunjukkan bahwa Responden yang tidak siap

41

menghadapi menopause lebih banyak yakni (86,7%) dibandingkan dengan responden' yang siap menghadapi menopause (13,3%). Menurut peneliti Kesiapan seorang wanita menghadapi menopause akan sangat membantu seorang wanita menjalani masa ini dengan lebih baik. Mengkonsumsi makanan bergizi, menghindari stress, Menghentikan merokok dan minum alkohol, olahraga secara teratur, berkonsultasi dengan dokter, dukungan keluarga. 4.2.2 Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan Ibu dengan kesiapan menghadapi menopause (p=0,000). Hasil penelitian ini sejalan dengan Hasil penelitian Palupi (2011) di Desa Bonjok Kidul Kecamatan Bonorowo Kebumen menunjukkan ada hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan kesiapan menghadapi menopause di desa Bonjok Kidul kecamatan Bonorowo kabupaten Kebumen (p=0,0001). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori yang kemukakan oleh Notoatmodjo, (2003) yang mengatakan pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

42

Menurut peneliti pengetahuan seorang ibu sangat penting bagi ibu seorang ibu dalam menghadapai menopause hal ini dikarekan dalam menghadapi menopause banyak hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan. Tingkat pengetahuan ini erat kaitanya dengan cara dan tindakan ibu dalam mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin timbul. Ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akan lebih tahu dan tanggap terhadap tandatanda menopause akan lebih cepat merespon dan akan berperilaku sesuai anjuran seperti mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi, rutin dalam belolah raga, dan ibu juga akan lebih bisa memodifikasi lingkungan disekitar rumah agar tetap nyaman sehingga rasa kejenuhan dan gangguan psikologis lainya dapat dialihkan. 4.2.3 Hubungan Perilaku Ibu Dengan Kesiapan Menghadapi Menopause. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara perilaku Ibu dengan kesiapan menghadapi menopause (p=0,016). hasil pemnelitian ini sejalan dengan pendapat Baziad (2003) yang mengatakan bahwa dampak usia harapan hidup yang tinggi menyebabkan para wanita harus hidup dengan berbagai keluhan memasuki usia tua seperti halnya pada masa menopause yaitu depresi dan stress yang dapat mengakibatkan terganggunya aktifitas sehari-hari. Komplikasi ini dapat berlanjut pada gangguan kejiwaan, dengan keadaan demikian perilaku yang baik dari sorang ibu sangat di perlu kan dalam menghindari faktor-faktor pencetus yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan atau komplikasi saat menopouse.

43

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Konita (2011) yang mengatakan bahwa pengaruh lingkungan dan perilaku ibu dalam memilah makanan juga mengakibatkan konsumsi menjadi tidak seimbang.

Ketidakseimbangan gizi yaitu ketidakseimbangan antara gizi dan kebutuhan, menyebabkan wanita menopause menjadi kurang gizi atau kegemukan. Pada wanita menopause yang kurang gizi masalahnya adalah kemampuan indra rasa lidah yang menurun, juga menurunnya kemampuan tubuh mencerna makanan. Pengaruh lingkungan ikut menyebabkan konsumsi makanan menjadi rendah, sehingga tidak mencungkupi kebutuhan. Sebaliknya pada golongan menopause yang kegemukan disebabkan konsumsi yang relatif tetap sedangkan kebutuhan menurun. Penurunan kebutuhan ini disebabkan metabolisme dan aktifitas yang menurun pula. Untuk Menetralisir keadaan tubuh pada ibu menopause tentu diperlukan perilaku yang baik guna mengidealkan berat badan serta kondisi kesehatannya dan nutrisi yang baik merupakan salah satu faktor penting yang diperluan agar sehat di usia baya. Berdasarkan pengamatan peneliti saat penelitian berdasarkan goeorafis wilayah daerah lingkar timur merupakan daerah yang padat penduduk dengan, yang dekat dengan pasar, yang rata-rata ibu mempvnyai pekerjaan diluar rumah walau pekerjan tersebu mungkin dapat menghilangkan stres namun tak sedikit juga ibu yang tak mengimbanginya dengan pola hidup yang sehat keadaan ini terlihat berdasarkan data penelitian ibu yang tidak berperilaku tidak mendukung adalah dalam mengahadapi menopause banyak yang mengatakan bahwa tidak melakukan olah raga walau cuma sekadar olahraga kecil disekitar rumah, selain

44

itu masih banyak ibu yang tidak menjaga pola asupan gizi yang baik, tidak menjaga lingkungan yang baik.

45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian tentang kajian kesiapan menghadapi menopause di tinjau dari pengetahuan dan prilaku ibu dengan di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu tahun 2012 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: a. Hampir dari sebagian responden (33,9%) mempunyai pengetahuan kurang tentang menopause b. Sebagian besar responden (58,9%) berperilaku tidak mendukung dalam menghadapi menopause c. Lebih dari sebagian responden (51,8%) menopause. d. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan Ibu dengan kesiapan menghadapi menopause (p=0,000). e. Ada hubungan yang bermakna antara perilaku Ibu dengan kesiapan menghadapi menopause (p=0,016). tidak siap dalam menghadapi

5.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka peneliti memberi saran kepada:

45

46

a. Puskesmas Lingkar Timur. Kepada pihak institusi Puskesmas diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang ada dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan baik langsung maupun dengan cara membagikan liflet-liflet tentang menopause kepada ibu yang mengalami premenopouse agar para ibu lebih mengerti dan lebih siap dalam menghadapi menopause. b. Stikes Dehasen Bengkulu Kepada pihak institusi Akbid Dehasen Bengkulu diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan menciptakan bidan profesional dengan meningkatkan kualitas belajar mengajar mengadakan pelatihanpelatihan khusus untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan para mahasiswa kebidanan. c. Peneliti selanjutnya Kepada peneliti selanjutnya diharapkan megembangkan penelitian ini dengan menentukan variabel lain yang berhubungan dengan kesiapan ibu dalam menghadapi menopause, seperti pekerjaan, peran keluarga dengan

memperluas ruang lingkup penelitian untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. d. Masyarakat dan responden. Kepada mayarakat diharapkan dapat lebih siap dalam menghadapai menopause yang dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang bagaimana cara menghadapai menopause dan berprilaku yang baik dalam menghadapi masa menopause seperti melakukan olah raga secara rutin, menghindari faktor

47

psikologis yang dapat menyebabkan stres agar tercapai derajat kesehatan yang lebih baik lagi.

48

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, H. 2003. Tata Bahasa baku bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. Baziad, A. (2003). Menopause Dan andropause. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiraharjo. Bobak, dkk. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Edisi 4.EGC. Jakarta Corwin, Elizabeth. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta. EGC Cowlley, Deborah S. 2004. Curent care of women diagnostic & Treatmen. United State : Mc Grow-Hill Companies. Dacey, J. S., & Travers, J. F. (2002). Human development : across the life span. Fifth Edition. Mc.Graw Hill. Ibrahim, Z. (2002). Psikologi wanita. Jakarta. Pustaka Hidayah. Kartono, K. (2002). Psikologi wanita. Jilid 2. Bandung : CV. Mandar Maju. Kasdu, P. (2002). Kiat sehat dan bahagia di usia menopause. Jakarta : Puspa Swara. Levina Pakasi. 2000. Menopause : Masalah dan Penanggulangannya. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Mustopo, S. (2005). Perawatan kesehatan menopause alami. Jakarta : Penerbit Harapan Baru. Notoatmodjo, s. (2010). Metotologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Notoatmodjo, s. (2010). Ilmu Prilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Papalia, F. (2003). Human development : A life span approach. Boston. Mc Graw Hill. Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta : EGC Reitz, R. (1993). Menopause : suatu pendekatan positif. Bumi Aksara. Rostiana, T. (2004). Kecemasan pada wanita yang menghadapi Menopause. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.

49

Smeltzer, Suzanne C. 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-bedah Brunner dan Suddarth Edisi 8. Jakarta. EGC Spencer, RF & Brown, P. 2007. Kehamilan dan Menopause. Jakarta. Erlangga. Yudomustopo, B, dkk., 1999. Problema Wanita Menghadapi Menopause. Kumpulan Makalah Ilmiah Populer, Penerbit Rumah Sakit Pertamina, Jakarta.

50

LAMPIRAN

51

KUISIONER PENELITIAN KAJIAN KESIAPAN MENGHADAPI MENOPAUSE DITINJAU DARI PENGETAHUAN DAN PERILAKU IBU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LINGKAR TIMUR KOTA BENGKULU T.A 2012

A. Identifikasi Responden Nama Umur Alamat : : :

B. Berilah tanda silang (X) yang anda anggap benar ! 1. Apa yang di maksud dengan menopause ? a. Menstruasi tapi sedikit-sedikit b. Menstruasi tapi tidak teratur c. Masa berhenti menstruasi 2. Keluhan yang sering timbul pada wanita yang mengalami menopause? a. Cemas, mudah tersinggung, dan sulit tidur b. Sakit kepala, mudah lelah, dan sakit pada otot c. Semua jawaban benar 3. Apa tanda awal pada ibu yang mengalami masa menopause ? a. Menstruasi menjadi tidak lancar dan tidak teratur b. Ibu tidak lelah c. Ibu tidak pusing 4. Perubahan yang terjadi pada perubahan psikologi pada ibu yang menopause ? a. Perasaan menurun dan cenderung untuk sedih dan murung b. Gampang lupa c. Semua jawaban benar 5. Bagaimana cara merawat diri agar bisa menjalani menopause, kecuali: a. Makan-makanan yang bergizi b. Tidur terus-menerus c. Sering berolahraga

52

6. Salah satu fungsi melakukan senam ringan pada menopause adalah untuk: a. Melancarkan peredaran darah pada tubuh b. Melenturkan otot c. Semua jawaban benar 7. Apakah yang di rasakan pada ibu menjelang menopause ? a. Ibu merasa lebih cantik b. Merasa tidak percaya diri dan atau tidak ada arti lagi di mata suami c. Semua jawaban benar 8. Perasaan yang sering timbul pada wanita yang memasuki menopause ? a. Merasa tidak berguna lagi b. Nilai kewanitaan seakan sirna dan tidak lagi sempurna c. Semua jawaban benar 9. Kenapa pada ibu menopause perlu melakukan perawatn diri ? a. Karena ingin mencari kesenangan b. Karena iseng c. Karena penting untuk kesehantan 10. Manfaat banyak makan sayur dan buah menjelang menopause adalah : a. Dapat memperlambat menopause b. Dapat mencerahkan klit c. Semua jawaban benar

53

C. Kesiapan ibu menghadapi meopause Petunjuk : berilah tanda () pada kolom iya atau tidak No 1 Pertanyaan YA Apakah setiap wanita yang berumur 45-59 akan mengalami menopause ? Apakah ibu cemas mengalami menopause tetapi menerima sebagai suatu kenyataan ? Saya tidak lagi makan makanan yang mengandung kolesterol tinggi seperti seafood, daging, kulit, dan belut. Setelah menopause saya tetap menjaga kesehatan diri dengan olahraga dan kegiatan lainnya seperti refresing. Apakah perlu saya datang ketenaga kesehatan apabila ada keluhan menopause yang tidak bisa di tangani sendiri. Saya akan tetap menjaga kebersihan diri sekalipun saya sudah menopause. Saya tetap mengikuti kegiatan sosial sekalipun sudah menopause. Saya lebih percaya diri sekalipun sudah menopause. Apakah saya tetap bermanfaat bagi orang lain sekalipun sudah menopause. Apakah saya tetap bermanfaat bagi orang lain sekalipun sudah menopause. TIDAK

8 9

10

54

D. Perilaku ibu dalam menghadapi menopause. Petunjuk : berilah tanda () pada kolom iya atau tidak

No 1

Pertanyaan YA TIDAK Apakah ibu mengkonsumsi minum-minuman keras dan rokok ?s Apakah ibu sering mengkonsumsi makan-makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran dan buah-buahan? Apakah ibu sering berolahraga untuk kesehatannya ?

3 4 Apakah ibu peduli pada kebersihan di lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat ? Apakah ibu seorang wanita karir atau seorang wanita yang hanya bekerja dirumah ?

55

Lampiran: Hasil Pengolahan Data Penelitian Kesiapan Menghadapi Menopause Di Tinjau Dari Pengetahuan Dan Perilaku Ibu Dengan Di Wilayah Kerja Puskesmas Lingkar Timur Kota Bengkulu Tahun 2012

1. Analisa Univariat
Pengetahuan Frequency Valid Kurang Cukup Baik Total 19 20 17 56 Percent 33.9 35.7 30.4 100.0 Valid Percent 33.9 35.7 30.4 100.0 Cumulative Percent 33.9 69.6 100.0

Perilaku Frequency Va Tidak Mendukung lid Mendukung Total 33 23 56 Percent 58.9 41.1 100.0 Valid Percent 58.9 41.1 100.0 Cumulative Percent 58.9 100.0

Kesiapan menghadapi menopause Frequency Valid Tidak Siap Siap Total 29 27 56 Percent 51.8 48.2 100.0 Valid Percent 51.8 48.2 100.0 Cumulative Percent 51.8 100.0

56

2. Analisa Bivariat

Pengetahuan * Kesiapan menghadapi menopause


Crosstab Kesiapan menghadapi menopause Tidak Siap Pengetahuan Kurang Cukup Baik Total Count % within Pengetahuan Count % within Pengetahuan Count % within Pengetahuan Count % within Pengetahuan Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 17.358 19.304 15.672
a

Siap 17 2 10.5% 12 60.0% 13 76.5% 27 48.2%

Total 19 100.0% 20 100.0% 17 100.0% 56 100.0%

89.5% 8 40.0% 4 23.5% 29 51.8%

df 2 2 1

Asymp. Sig. (2sided) .000 .000 .000

56

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,20.

Perilaku * Kesiapan menghadapi menopause


Crosstab Kesiapan menghadapi menopause Tidak Siap Perilaku Tidak Mendukung Mendukung Total Count % within Prilaku Count % within Prilaku Count % within Prilaku 22 66.7% 7 30.4% 29 51.8% Siap 11 33.3% 16 69.6% 27 48.2% Total 33 100.0% 23 100.0% 56 100.0%

57

Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
b b

df
a

Asymp. Sig. (2sided) 1 1 1 .008 .016 .007

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

7.126

5.749 7.284

.014 6.999 56 1 .008

.008

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 11,09. b. Computed only for a 2x2 table Risk Estimate 95% Confidence Interval Value Odds Ratio for Prilaku (Tidak Mendukung / Mendukung) For cohort Kesiapan menghadapi menopause = Tidak Siap For cohort Kesiapan menghadapi menopause = Siap N of Valid Cases 4.571 2.190 Lower 1.454 1.128 Upper 14.376 4.252

.479 56

.276

.833