Anda di halaman 1dari 0

BAB 1

PENCEMARAN AIR MINUM DAN


DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN

Oleh :
Nusa Idaman Said

1.1 PENDAHULUAN

Bahaya atau resiko kesehatan yang berhubungan dengan
pencemaran air secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua
yakni bahaya langsung dan bahaya tak langsung. Bahaya
langsung terhadap kesehatan manusia/masyarakat dapat terjadi
akibat mengkonsumsi air yang tercemar atau air dengan kualitas
yang buruk, baik secara langsung diminum atau melalui
makanan, dan akibat penggunaan air yang tercemar untuk
berbagai kegiatan sehari-hari untuk misalnya mencuci peralatan
makan dll, atau akibat penggunaan air untuk rekreasi. Bahaya
terhadap kesehatan masyarakat dapat juga diakibatkan oleh
berbagai dampak kegiatan industri dan pertanian. Sedangkan
bahaya tak langsung dapat terjadi misalnya akibat mengkonsumsi
hasil perikanan dimana produk-produk tersebut dapat
mengakumulasi zat-zat atau polutan berbahaya.
Pencemaran air oleh virus, bakteri patogen, dan parasit
lainnya, atau oleh zat kimia, dapat terjadi pada sumber air
bakunya, ataupun terjadi pada saat pengaliran air olahan dari
pusat pengolahan ke konsumen. Di beberapa negara yang
sedang membangun, termasuk di Indonesia, sungai, danau,
kolam (situ) dan kanal sering digunakan untuk berbagai
kegunaan, misalnya untuk mandi, mencuci pakaian, untuk tempat
pembuangan limbah kotoran (tinja), sehingga badan air menjadi
tercemar berat oleh virus, bakteri patogen serta parasit lainnya.
Disamping hal tersebut diatas, resiko kesehatan juga dapat
diakibatkan oleh polusi senyawa kimia yang tidak menimbulkan
gejala yang segera (acute), tetapi dapat berpengaruh terhadap
kesehatan akibat pemaparan yang terus menerus pada dosis
rendah, serta seringkali tidak spesifik dan sulit untuk dideteksi.
Sebagai contoh misalnya senyawa trihalomethan (THMs) atau

1
senyawa khlorophenol yang dapat terjadi akibat hasil samping
proses khlorinasi pada proses pengolahan air minum.


1.2 PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN AIR
(WATERBORNE DESEASES)

Beberapa penyakit yang berhubungan dengan air telah
dikenal sejak lama. Pencemaran air minum oleh air limbah
dan/atau oleh kotoran manusia (tinja), yang mengandung
organisme yang dapat menimbulkan penyakit, virus, bakteria
patogen dan sebagainya, dapat menyebar dengan cepat ke
seluruh sistem jaringan pelayanan air minum tersebut, serta
dapat menyebabkan wabah atau peledakan jumlah penderita
penyakit di suatu wilayah dalam waktu singkat.
Beberapa ciri khusus penyebaran penyakit-penyakit
tersebut antara lain yakni proses penularan umumnya melalui
mulut; terjadi di daerah pelayanan yang airnya tercemar; pederita
umumnya terkonsentrasi pada suatu wilayah secara temporer;
penderitanya tidak terbatas pada suku, umur, atau jenis kelamin
tertentu; meskipun sulit mendeteksi bakteri patogen dalam air,
tetapi dapat di perkirakan melalui pemerikasaan/pendeteksian
bakteri coli yang disebabkan oleh pencemaran tinja; dan waktu
inkubasi biasanya sedikit lebih panjang dibandingkan apabila
keracunan oleh makanan. Beberapa penyakit yang berhubungan
dengan air yang paling sering berjangkit antara lain :

1.2.1 Disentri (Dysentery)

Penyebabnya adalah beberapa jenis bakteri dysentery
baccilus, waktu inkubasi 1 - 7 hari, biasanya sekitar 4 hari atau
kurang. Gejala penyakitnya antara lain : bakteri disentri yang
masuk melalui mulut akan tumbuh di dalam perut besar, dan
berubah secara lokal ke kondisi sakit misalnya timbulnya bisul
pada selapur lendir (mucous membrane). Gejala utama yakni
mencret, mulas, demam, rasa mual, muntah-muntah, serta berak
darah campur lendir. Infeksi penyakit ini dapat berjangkit
sepanjang tahun. Penderita dan carriernya adalah sumber
penularaan yang utama, dan penularannya dapat terjadi melalui
makanan, air minum atau kontak orang ke orang.


2
1.2.2 Thypus dan Paratyphus

Penyebabnya adalah jenis bacillus typhus dan
parathyphus, dengan waktu inkubasi antara 1 sampai 3 minggu.
Bakteri penyakit tersebut masuk melalui mulut dan menjangki
pada struktur lympha (getah bening) pada bagian bawah usus
halus, kemudian masuk ke aliran darah dan akan terbawa ke
organ-organ internal sehingga gejala muncul pada seluruh tubuh
misalnya: seluruh badan lemas, pusing, hilang nafsu makan, dan
timbul deman serta badan menggigil. Pada penderita yang serius
sering timbul gejala pendarahan usus. Suhu badan berfluktuasi
dan akan turun perlahan-lahan setelah infeksi berjalan tiga atau
empat minggu, dan gejala umum juga hilang. Untuk penyakit
paratyphus, gejalanya hampir sama, hanya lebih lunak.
Sumber penularan yang utama adalah penderita itu sendiri
atau carriernya, dan penularan dapat terjadi karena infeksi yang
disebabkan oleh bakteria yang ada di dalam tinja penderita
melalui air minum, makanan atau kontak langsung.

1.2.3 Kholera

Penyebabnya adalah bakteri patogen jenis vibrio cholerae,
dan waktu inkubasinya antara beberapa jam sampai lima hari.
Bakteri vibrio cholerae yang masuk melalui mulut akan
berkembang di dalam usus halus (small intestine), dan
menghasilkan exotoxin yang menyebabkan rasa mual. Gejala
yang penting yakni mencret atau diare dengan warna putih keruh
dan muntah-muntah. Kadang-kadang juga terjadi dehidrasi, dan
pada kasus yang serius kemungkin an dapat menyebabkan
penderita menjadi koma. Keadaan kritis tersebut dapat dihindari
apabila dilakukan penanganan yang sesuai.
Sumber utama penunularan yakni air minum atau makanan
yang terkontaminasi atau tercemar oleh kotoran atau muntahan
penderita ataupun tercemar oleh inang atau pembawa bakteri
kholera.

1.2.4 Hepatitis A

Penyebabnya adalah virus hepatitis A, dengan waktu
inkubasi antara 15 sampai 30 hari (biasanya 30 hari). Infeksi
umumnya terjadi melalui mulut. Gejala primairnya antara lain

3
rasa mual, pusing disertai demam, dan rasa lelah/lemas di
seluruh tubuh. Gelaja spesifik antara lain terjadinya
pembengkaan liver dan timbul gejala sakit kuning.
Sumber penularan yakni air minum atau makanan yang
tercemar oleh kotoran manusia yang mengandung virus hepatitis
A.

1.2.5 Poliomelistis Anterior Akut

Penyebabnya adalah virus polio, waktu inkubasi antara 3
sampai 21 hari, biasanya antara 7 sampai 12 hari. Virus polio
masuk melalui mulut dan menginfeksi seluruh struktur tubuh,
kemudian menjalar melalui simpul saraf lokal, dan selanjutnya
menyerang sistem saraf pusat, yang dapat menyebabkan
kelumpuhan. Beberapa gejala dapat terlihat antara yakni demam,
rasa meriang/tak enak badan, tenggorokan sakit, pusing-pusing
dan terjadi kejang mulut (bibir atas dan bawah tidak dapat
digerakkan).
Sumber infeksi yakni virus polio yang terdapat pada tinja
atau dahak penderita atau virus yang terbawa oleh inangnya
(carrier), dan penularan kadang-kadang juga melalui air minum
atau makanan yang terkontaminasi (tercemar).


1.3 PENYAKIT YANG BERKAITAN DENGAN KEBERSIHAN

Diare atau sering disebut mencret adalah penyakit yang
erat kaitannya dengan kebersihan. Penyakit ini adalah salah satu
penyakit yang paling banyak terjadi di negara berkembang,
termasuk di Indonesia. Yang paling banyak terserang penyakit ini
umumnya adalah anak-anak balita, dan bila keadaannya parah
seringkali dapat menyebabkan dehidarasi, yang apabila tidak
ditangani dengan segera dapat pula menyebabkan kematian.
Bakteri patogen yang menyebabkan penyakit ini berasal dari tinja,
dan masuk ke tubuh manusia lewat mulut melalui makanan atau
minumam atau melalui kontak orang ke orang.
Sering kali organisme penyebab infeksi enterik tersebut
diakibatkan oleh kondisi lingkungan rumah yang kotor dan tidak
sehat. Hal tersebut juga sering diakibatkan oleh pencucian
tangan yang kurang bersih pada waktu buang kotoran, atau
secara lansung melalui inangnya misalnya oleh lalat. Banyak juga

4
kasus terjadi akibat makanan atau minuman yang dijual oleh
penjaja atau warung-warung yang kebersihannya kurang
memadai
Salah satu faktor yang penting untuk menganggulangan
hal tersebut yakni dengan cara meningkatkan kebersihan
lingkungan, meningkatkan pelayanan air bersih yang sehat,
meningkatkan sistem pembuangan limbah atau pengolahan
kotoran manusia (tinja) yang memenuhi syarat, serta dengan
memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang
pentingnya kebersihan


1.4 MIKROORGANISME PATOGEN ATAU PARASIT DI
DALAM AIR

Beberapa mikroorganisme patogen dan parasit biasanya
ditemukan di dalam air limbah domestik dan juga di dalam efluen
dari unit pengolahan air limbah. Beberapa penyakit yang
disebabkan oleh agen infeksi yang sering ditemukan didalam air
limbah antara lain adalah sebagai berikut.

1.4.1 Bakteria Patogen
Tinja atau kotoran binatang (fecal matter) mengandung
lebih dari 10
12
bakteria per gram. Kandungan bakteria di dalam
tinja (feces) mencapai kira-kira 9 % dari berat basah (Dean and
Lund, 1981). Bakteria yang ada di dalam air limbah telah
diklasifikasikan menjadi beberapa grup yakni :

1. Bakteria gram-negative fakultative anaerobik misalnya
Aeromonas, Plesiomonas, Vibrio, Enterobacter, Escherichia,
Klebsiella dan Shigella.
2. Bakteria gram-negative aerobik misalnya Pseudomonas,
Alcaligenes, Flavobacterium, dan Acinetobacter.
3. Bakteria gram-positive pembentuk spora misalnya Bacillus
spp.
4. Bakteria gram-positive non spora misalnya
Arthrobacter,Corynebacterium, Rhodococcus.

Kompilasi dari bakteria yang terpenting yang mungkin bersifat
patogen terhadap manusia dan yang dapat berpindah baik secara

5
langsung atau tak langsung melalui air limbah ditunjukkan pada
Tabel 1.1.

Tabel 1.1 : Penyakit bawaan air yang disebabkanoleh bakteria.

No Agen Bakteria Penyakit Utama Reservoir
utama
Daerah yang
diserang
1 Salmonella typhi Demam
Typhoid
(Tiphus)
Tinja
manusia
Saluran
Gastrointestinal
2 Salmonella
paratyphi
Demam
paratyphoid
(paratiphus)
Tinja
manusia
Saluran
Gastrointestinal
3 Shigella Dysentri basiler Tinja
manusia
Intestine bawah
4 Vibrio cholerae Kholera Tinja
manusia
Saluran
Gastrointestinal
5 Enteropathogenie
E. Coli
Gastroenteritis Tinja
manusia
Saluran
Gastrointestinal
6 Yersinia
enterocolitica
Gastroenteritis Kotoran
hewan atau
manusia
Saluran
Gastrointestinal
7 Champylobacter
jejuni
Gastroenteritis Kotoran
hewan atau
manusia
Saluran
Gastrointestinal
8 Legionella
pneumophila
Penyakit
pernafasan
akut
Air panas Paru-paru
9 Mycobacterium
tuberculosis
Tuberculosis Dahak/ludah
atau
pernafasan
manusia
Paru-paru
10 Leptospira Leptospirosis Air kencing
dan kotoran
hewan
Umum
11 Opportunistik
bakteria
Variabel Air alam Umumnya saluran
pencernaan
Disesuaikan dari Sobsey dan Olson (1983) di dalam Bitton, 1994.

Bakteria-bakteria tersebut menyebabkan infeksi interik misalnya
wabah tipus, kholera, dan shigellosis. Beberapa mikroorganisme

6
patogen yang penting yang ada di dalam air limbah antara lain
sebagai berikut :

1.4.1.1 Salmonella

Salmonella adalah enterobacteriaceae yang terdistribusi
secara luas di dalam lingkungan, dan meliputi lebih dari 2000
stereotipe. Salmonella merupakan bakteria patogen yang paling
utama yang terdapat di dalam air limbah, yang dapat
menyebabkan demam tipus dan paratipus, dan gastroenteristis
(radang lambung/perut).
Konsentrasi salmonella di dalam air limbah berkisar dari
beberapa sel sampai mencapai 8000 organisme per 100 ml air
limbah (Feachem et.al., 1983). Diperkirakan bahwa hampir 0,1 %
dari penduduk mengeluarkan salmonella di dalam tinja. Di
Amerika Serikat, salmonellosis terutama disebabkan karena
kontaminasi makanan, tetapi transmisi lewat air minum masih
menjadi perhatian yang utama (Sobsey and Olson, 1983, di
dalam Bitton 1994).
Salmonella typhi adalah agen infeksi demam tipus, suatu
penyakit yang tidak segera diobati dapat menyebabkan kematian.
Penanggulangan penyakit tersebut telah dilakukan dengan cara
menggunakan teknologi proses pengolahan air yang memadai
misalnya dengan filtrasi dan khlorinasi. Salmonella thypi tersebut
menghasilkan endotoxin yang dapat menyebabkan demam, mual
dan diare, dan dapat berakibat fatal apabila tidak diobatai
dengan antibiotik (Sterrit and Lester, 1988 di dalam Bitton 1994).
Species salmonella yang sering terdapat pada makanan yang
terkontaminasi antara lain yakni salmonella paratyphi dan
salmonella typhimurium. Species tersebut dapat tumbuh dengan
cepat di dalam makanan yang terkontaminasi tersebut. Species
salmonella seperti S. typhimurium dan S. enteriditis dapat
menyebabkan gastroenteristis (radang lambung) dengan gejala
diare dan kejang perut.

1.4.1.2 Shigella

Shigella secara sepintas adalah agen disentri bacillus,
suatu penyakit diare yang menyebabkan berak darah sebagai
akibat peradangan dan pendarahan selaput atau dinding usus.
Ada empat species shigella yang bersifat patogen yakni Shigella
flexneri, Shigella dysentriae, Shigella boydii, dan Shigella sonnei.

7
Ke empat shigella patogen tersebut dapat berpindah dengan cara
kontak langsung dengan penderita yang telah terinfeksi, yang
mana orang yang terkena infeksi mengeluarkan shigella di dalam
tinjanya dengan konsentrasi lebih dari 10
9
shigella per gram tinja.
Dosis infeksi dari shigella relaitif kecil yakni sekitar 10 organisme.
Meskipun perpindahan atau penularan shigella melalui
kontak orang ke orang adalah merupakan moda penularan yang
utama, tetapi penularan melalui makanan atau melalui air juga
perlu diperhatikan. Sebagai contoh, telah diketahui bahwa
penggunaan air tanah mempunyai andil terhadap shigellosis yang
terjadi di Florida, yang telah menginfeksi sekitar 1200 orang.
Meskipun demikan shigella kurang tahan di lingkungan
dibandingkan dengan fecal coliforms. Shigella sangat sulit
dikultivasi (dibiakkan), oleh karena itu belum ada data secara
kuantitatif tentang kehadirannya dan efisiensi penghilangan pada
instalasi penjernihan air maupun instalasi pengolahan air limbah.

1.4.1.3 Vibrio Cholerae

Vibrio cholerae adalah bakteri gram-negative yang
berbentuk batang melengkung (curved rod), bakteri ini berjangkit
atau berpindah melalui air. Vibrio cholerae mengeluarkan atau
melepaskan suatu enterotoxin yang menyebabkan diare ringan
sampai diare hebat, muntah, dan menyebabkan kehilangan
cairan dengan cepat, serta dapat menyebabkan kematian dalam
waktu yang relatif singkat (Sterritt and Lester, 1988). Meskipun
jarang ditemukan di Amerika atau Eropa, vibrio cholerae sering
muncul sebagai endemik di banyak wilayah di Asia.
Organisme patogen tersebut terdapat di dalam air limbah
dengan konsentrasi berkisar antara 10

- 10
4
organisme per 100
ml air limbah pada saat terjadi endemik (Kott and Betzer, 1972).
Ledakan endemik cholera dan demam tipus telah di
dokumentasikan di Peru dan Chili, yang disebabkan
mengkonsumsi sayuran yang telah terkontaminasi oleh air limbah
domestik (Shuval, 1992). Vibrio cholerae juga secara alamiah
terdapat di alam dan melekat pada tanah atau padatan, termasuk
zooplankton (misal, copepod) dan phytoplankton (misalnya
volvox). Bakteria yang bergabung dengan phytoplankton tersebut
berada dalam kondisi yang tak dapat dibiakkan (nonculturable
state) dan dapat dilihat dengan mikroskop dengan cara teknik
fluorecent-monoclonal antibody (Brayton et.al., 1987).


8
1.4.1.4 E. Coli

Banyak strain E. coli yang beberapa diantaranya tidak
berbahaya, terdapat pada saluran gastrointestinal pada manusia
atau hewan berdarah panas. Tetapi ada beberpa kategori E. Coli
yang bersifat beracun , dan dapat menyebabkan diare. Ada
beberpa strain E. Coli yang bersifat enterotoxigenic (ETEC),
enteropathogenic (EPEC), enterohemorrhagic (EHEC), dan
enteroinvasive (Levine, 1987).
E. Coli enterotoxigenic dapat menyebabkan radang
lambung (gastroenteristis) dan diare yang hebat disertai dengan
kram perut dan muntah-muntah (Harris, 1986). Kira-kira 2% - 8 %
dari E. Coli yang terdapat di dalam air bersifat enteropathogenic
yang dapat menyebabkan diare. Air dan makanan merupakan
faktor penularan atau penyebaran dari E. Coli tersebut. Dosis
infeksi dari E. Coli jenis ini relatif tinggi yakni berkiasar antara 10
6

- 10
9
organisme. Beberapa jenis E. Coli yang bersifat
diarrheagenic telah dideteksi di dalam air yang telah diproses
(treated water), dan hal ini menunjukkan resiko kesehatan
terhadap konsumen.

1.4.1.5 Yersina

Yersina.enterocolica adalah penyebab gastroenteritis akut,
binatang pembawanya terutama adalah babi hutan, namun
binatang peliharaan atau binatang buas yang lainnya kadangkala
menjadi pembawa patogen ini. Keterlibatan air dengan patogen
ini masih belum jelas, namun ada sebuah contoh yang
disebutkan oleh Schiemen, 1990, bahwa air dapat menyebarkan
gastroenteritis. Organisme psychrotrophic berkembang biak dan
subur hingga suhu terendah 4
o
C.

1.4.1.6 Campylobacter

Patogen ini dikenal dapat menginfeksi manusia, binatang
buas dan binatang peliharaan. Patogen ini dapat menyebabkan
gastroenteritis akut (demam, pusing, sakit perut, diare, mual) dan
beralih ke tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi,
terutama daging unggas dan air yang terkontaminasi. Air ledeng
seperti juga aliran air dari gunung dapat merupakan sumber
infeksi.

9
Campylobacte terdeteksi pada air permukaan, air minum
dan air buangan, namun belum pernah terdeteksi pada lumpur.
Jumlah organisme campylobacter tidak dapat ditunjukkan atau
dihubungkan dengan heterotrophic plate counts, total dan fecal
coliforms atau fecal streptococci.

1.4.1.7 Leptospira

Leptospira adalah spirochete kecil yang dapat masuk ke
dalam tubuh manusia melalui luka pada kulit atau melalui selaput
lendir. Penyakit yang disebabkan oleh leptospira disebut
leptospirosis, yang mempunyai karakter terjadinya diseminasi
patogen dalam darah tubuh pasien dan berikutnya terjadi infeksi
pada ginjal dan pada sistem pusat saraf. Wabah ini dapat
ditularkan dari binatang (binatang pengerat, binatang peliharaan
dan binatang buas) ke manusia melalui kontak (misal mandi)
menggunakan air yang telah terkontaminasi oleh kotoran
binatang.
Patogen ini tidak menjadi perhatian utama karena patogen
ini tidak mudah hidup dalam air buangan.
Masa inkubasi penyakit ini antara dua hari hingga 26 hari,
tetapi umumnya antara 7 sampai 13 hari. Mulai hari ke dua akan
terlihat gejala seperti demam tinggi, kepala pusing, mata kuning,
air kencing berwarna seperti teh, timbul rasa nyeri pada otot
tungkai bawah dan mata berwarna merah. Wabah ini dapat
mengenai pekerja galian saluran air. Namun patogen ini tidak
merupakan perhatian utama karena patogen ini tidak mudah
hidup dalam air buangan.
Di Indonesia, Leptospira ditemukan pertama kali pada
orang-orang yang bekerja di perkebunan karet sewaktu
penjajahan belanda pada tahun 1920. Selanjutnya tahun 1940,
Prof Suratno menemukan leptospira pada hewan babi di Jakarta.
Kuman penyakit ini kemudian diisolasi yang selanjutnya disebut
leptospira interrogans serovar pomona (Republika Minggu 17
Maret 2002). Sampai saat ini total serovar leptospira yang
ditemukan Balitvet Bogor berjumlah 16 jenis.

1.4.1.8 Legionella Pneumophila

Bakteri legionella pneumophila adalah pembawa penyakit
legionnaire (etiological agent), pertama dikemukakan pada tahun
976 di Philadelphia, Pennsylvania. Penyakit ini semacam

10
penyakit pneumonia akut, yang kadang kala melibatkan
gastrointestinal dan saluran air kencing, juga dengan sistem urat
syaraf. Infeksi. Gejala yang terjadi pada infeksi ini adalah suhu
badan naik, sakit kepala dan sakit otot, namun akan membaik
dengan sendirinya tanpa perlu penanganan. Organisme ini
berpindah melalui aerosolization.
Penularan penyakit legionnaire berhubungan dengan
terjadinya pemaparan dengan microbial aerosol yang berasal dari
cooling tower (menara pendingin), evaporative condenser,
humidifier dan shower. Menara pendingin biasanya mendinginkan
air panas yang dihasilkan dari pembangkit tenaga. Bagian atas
menara pendingin ini menyebarkan microbial aerosol, termasuk
legionella, Diperkirakan bahwa sumber legionella adalah air yang
mengalir dari air permukaan terdekat atau dari air minum yang
digunakan untuk menggantikan uap air yang hilang pada saat
proses pendinginan.
Seseorang dapat terjangkit penyakit nosocomial legionella
apabila terkena legionella melalui sistem distribusi air di rumah
sakit. Air minum merupakan sumber wabah penyakit legionnaire
di rumah sakit. Jumlah kasus bertambah sejalan dengan
penurunan tekanan pada sistem distribusi, yang kemungkinan
terjadi pelepasan sel legionella dari lapisan biofilm yang tumbuh
pada pipa distribusi. Namun demikian kasus berkurang sejalan
dengan hiperkhlorinasi (>2 mg/l sisa khlor bebas).
Bakteri ini terdapat dimana-mana dan berasal dari air
buangan, tanah dan lingkungan perairan. Pada lingkungan yang
biasa patogen ini dapat berkembang berdampingan dengan
bakteri lain seperti ganggang hijau dan ganggang biru-hijau,
amuba atau ciliates, sebagai hasil dari meningkatnya kekebalan
terhadap biocides, khlorinasi, ph rendah dan temperatur tinggi.

1.4.1.9 Bacteroides Fragilis

Strain produksi enterotoxin dari bakteri anaerobik ini
merupakan penyebab diare pada manusia. Patogen ini ditemukan
pada air buangan pada tingkat berkisar dari 6,2 x 10
4
sampai 1,1
x 10
5
CFU/ml, 9,3 % adalah enterotoxigenic.

1.4.1.10 Opportunistic Bacterial Pathogens

Dalam grup ini termasuk bakteri gram negatif heterotropic
yaitu: pseudomonas, klebsiella, flavobacterium, enterobacter,

11
proteus dan providencia. Segmen masyarakat yang berisiko
terkena infeksi opportunistic pathogen adalah bayi yang baru
lahir, orang lanjut uisia dan orang yang dalam keadaan sakit.
Organisme ini banyak terdapat dalam air minum dan pada pipa
distribusi air di gedung-gedung seperti rumah sakit. Opportunistic
pathogen lainnya adalah nontubercular mycobacteria yang dapat
menyebabkan sakit paru-paru (pulmonary) dan penyakit lainnya.
Yang paling sering diteliti dari jenis nontubercular mycobacteria
adalah species mycobacterium avium-intracellulare. Air minum
terutama di rumah sakit dapat mendorong pertumbuhan bakteri
ini yang kemungkinan berkaitan dengan infeksi nosocomial.

1.4.2 Bakteria Pembentuk Antibiotik (Antibiotic Producing
Bacteria)

Penderita yang menerima pengobatan antibiotik
menyimpan sejumlah besar bakteri kebal antibiotik pada saluran
ususnya. Bakteri ini terbawa keluar dalam jumlah besar dalam
kotoran manusia dan akhirnya masuk ke dalam instalasi
pengolahan air buangan. Faktor kekebalan terhadap antibiotik
terdapat pada plasmids (R faktor) dan pada kondisi yang tertentu
dapat berpindah ke bakteri lain melalui suatu hubungan kontak
antar sel. Apabila bakteri penerima adalah patogen potensial,
maka akan menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat sebagai
akibat timbulnya kekebalan terhadap antibiotik pada patogen
tersebut. Microorganisme yang kebal obat menghasilkan
nosocomial dan kumpulan penyebab infeksi pada manusia, yang
dapat menyebabkan peningkatan wabah penyakit dan kematian.
Kebal obat pada bakteri akan menyebabkan kenaikan biaya
pengobatan.
Strategi untuk menanggulangi masalah ini adalah
mengurangi penggunaan antibiotik pada manusia dan hewan
serta mencari cara pencegahan terhadap penularan penyakit
infeksi. Bakteri yang tahan terhadap antibiotik telah terdeteksi
pada lingkungan daratan dan lingkungan air, terutama pada
lokasi yang terkontaminasi oleh buangan rumah sakit.
Faktor pembawa antar microorganisme diketahui terdapat
pada lingkungan alamiah maupun pada lingkungan hasil
rekayasa seperti instalasi pengolahan air limbah. Peneliti
menggunakan ruang terlindung untuk memperlihatkan
perpindahan plasmid R diantara bakteri dalam air buangan
domestik. Frekwensi perpindahan rata-rata dalam air buangan

12
bervariasi antara 4,9x10
-5
dan 7,5x10
-5
. Frekwensi perpindahan
paling tinggi (2,7x10
-4
) terjadi antara Salmonela enteritidis dan
E.coli. Plasmid non penghubung (misal pBR plasmid) dapat juga
sebagai perantara, namun memerlukan kehadiran bakteri
penggerak sebagai media pemindah. Beberapa bakteri
penggerak telah diisolasi dari air buangan. Setiap bakteri ini
mampu membantu perpindahan plasmid pBR325 ke penerima
bakteri e.coli.
Telah ditemukan adanya indikator dan patogen multiple-
antibiotic-resistant (MAR) (misal salmonela) dalam instalasi air
bersih dan air buangan. Dalam air buangan yang belum diolah,
presentasi multiple-antibiotic-resistant coliform bervariasi antara
kurang dari 1% hingga kira-kira 5% dari total coliform. Khlorinasi
bekerja untuk menghilangkan bakteri kebal antibiotik pada
instalasi pengolahan air buangan. Namun peneliti lain
melaporkan bahwa khlorinasi menaikkan kekebalan bakteri
terhadap beberapa antibiotik (seperti ampicilin, tetracycline) tapi
tidak terhadap yang lainnya. Perbandingan bakteri pembawa
faktor R bertambah mengikuti proses pengolahan air dan air
buangan. Sebagai contoh, dalam suatu studi MAR diharapkan
sebesar 18,6% dari bakteri heterotrophic plate count dalam air
yang belum diolah dibandingkan dengan nilai 67,8% untuk bakteri
dalam sistem distribusi. Serupa dalam instalasi pengolahan air di
Oregon, presentasi MAR 15,8% dalam air yang belum diolah
(dalam sungai) dibandingkan dengan nilai 57,1% dalam air yang
telah diolah. MAR selanjutnya dihubungkan dengan kekebalan
terhadap logam berat (misal Cu
2+
, Pb
2+
, Zn
2+
). Phenomena ini
telah dibuktikan dalam air minum dan air buangan. Efek terhadap
kesehatan masyarakat terhadap penomena ini belum banyak
diketahui.

1.4.3 Virus

Air dan air limbah dapat terkontaminasi oleh sevabyak 140
jenis virus perut. Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui
mulut dan berkembang baik dalam saluran pencernaan dan
kemudian dikeluarkan dalam jumlah yang besar melalui kotoran
manusia yang terinfeksi.
Tabel 1.2 (Bitton, 1980a; Jehl-Pietri, 1992; Schwartzbrod,
1991; Schwartzbrod et al., 1990) memperlihatkan daftar enteric
virus (virus perut) yang ditemukan dalam lingkungan perairan
yang bersifat patogen terhadap manusia.

13

Tabel 1.2 : Beberapa virus enteric pada manusia

Grup Virus Sero
type
Penyakit yang disebabkan oleh Virus
A. Entero Virus :
Poliovirus 3 Paralysis, aseptic meningitis
Coxsackievirus A 23 Herpangia, aseptic meningitis, penyakit
pernafasan, paralysis, demam
Coxsackievirus B 6 Pleurodynia, aseptic meningitis, radang
selaput jantung (pericarditis), penyakit hati
bawaan, anomali, radang ginjal (nephritis),
demam
Echovirus (68-71) 34 Meningitis, penyakit pernafasan
Virus hepatitis A
(HAV)
4 Infeksi hepatitis
B. Reovirus 3 Penyakit pernafasan
C. Rotavirus 4 Gastroenteristis
D. Adenovirus 41 Penyakit pernafasan, conjunctivitis akut,
gastroenteristis
E. Norwalk agent
(calicivirus)
1 Gastroenteristis
F. Astrovirus 5 Gastroenteristis

Disesuaikan dari Bitton (1980), Jehl-Pietri (1992), dan Schwartzbrod
(1990).

Virus-virus yang masuk tersebut kadangkala menyebabkan
infeksi yang tidak terlihat, sehingga sulit dideteksi. Virus ini
penyebab penyakit yang sangat luas spektrumnya yang
bervariasi mulai dari penyakit kulit, demam, infeksi pernafasan,
penyakit yang berhubungan dengan pencernaan dan
kelumpuhan.
Virus perut relatif berjumlah sedikit dalam air buangan,
namun demikian sampel sebanyak 10 1000 liter harus
dipekatkan untuk mendeteksi patogen ini. Pendekatan dalam
menentukan angka patogen ini telah diperoleh. Pendekatan yang
paling banyak dilakukan adalah berdasarkan pada adsorpsi virus
ke dalam pori-pori mikro saringan yang terbuat dari bermacam-
macam komposisi bahan (nitroselulose, fiberglass, epoxy-
fiberglass, modifikasi celulosa, celulose + glass fibers),

14
selanjutnya virus yang teradsorbsi diambil dari permukaan filter,
konsentrasi sampel diperoleh dengan menggunakan saringan
membran atau dengan flokulasi organik. Konsentrat kemudian
diuji dengan jaringan kultur binatang.
Ditinjau dari ilmu epidemi, virus perut umumnya berpindah
melalui kontak orang ke orang. Namun dapat pula menular
melalui perantara air baik langsung (air minum, kolam renang)
maupun tidak langsung melalui makanan yang terkontaminasi.
Penularan waterborne virus perut digambarkan pada Gambar 1.1.



Gambar 1.1 : Penyebaran virus perut (entericviruses) melalui air
(waterborne).

Proses infeksi tergantung pada dosis efektif minimal (MID)
dan pada host yang mudah tertular, dalam hal ini menyangkut
faktor host (imunitas spesifik, jenis kelamin, umur) dan faktor
lingkungan (misal tingkat sosial-ekonomi, kondisi kebersihan,
temperatur, kelembaban). Walaupun MID virus masih
kontroversial, secara umum relatif rendah dibandingkan dengan
bakteri patogen. Percobaan pada manusia menunjukkan MID 17
PFU (plaque-forming units) untuk echovirus 12. Beberapa
penelitian epidemi menunjukkan bahwa virus perut merupakan
penyebab 4,7 % - 11 % epidemi waterborne. Penyelidikan
dibuktikan terhadap penularan waterborne dan foodborne dari
penyakit virus seperti hepatitis dan penyakit pencernaan.

15
1.4.3.1 Hepatitis

Terdapat beberapa jenis penyakit Hepatitis, masing-masing
disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Beriku adalah jenis-
jenis virus penyebab hepatitis.
Infeksi hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis A (HAV),
yaitu enterovirus 27-nm RNA, dengan masa inkubasi relatif
pendek (2-6 minggu) dan penularan melalui fecal-oral. Virus ini
sulit dideteksi walaupun dapat dibiakan dalam jaringan namun
tidak selalu mempunyai efek cytopathic. Cara lain untuk
mendeteksi HAV adalah dengan peyelidikan genetik dan metode
imunologi (immunoelectron microscopy, radioimmunoassay,
enzyme immunoassay, radioimmunofocus assay).
Serum hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV),
yaitu virus 42-nm DNA, mempunyai masa inkubasi relatif lama (4-
12 minggu). Virus ini ditularkan melalui kontak dengan darah
yang terinfeksi atau melalui hubungan sex. Kematian (1% - 4%)
lebih tinggi dari pada infeksi hepatitis (< 0,5%).
Non-A,non-B viral hepatitis disebabkan oleh 2 jenis virus :
yaitu 50-nm sampai dengan 60-nm flavivirus dengan karakteristik
klinik dan epidemi sama dengan virus hepatitis B dan 32-nm
sampai dengan 34-nm calicivirus yang karakteristiknya sama
dengan virus hepatitis A.
Chronic delta hepatitis yang disebabkan oleh virus 28-nm
hingga 35-nm RNA namun belum diketahui secara lengkap
mengenai karakteristiknya. Pola klinik dan epideminya sama
dengan virus hepatitis B.
HAV menyebabkan kerusakan liver dengan terjadinya
peradangan. Setelah terjadi infeksi, masa inkubasi berlangsung
hingga 6 minggu. Salah satu simptom adalah kulit terlihat kuning.
Hepatitis A menular melalui fecal-oral baik melalui kontak
antar orang ke orang maupun melalui waterborne atau food-
borne. Penyakit ini menyebar di seluruh dunia dan antibodi HAV
lebih banyak terdapat pada kelompok dengan tingkat sosial-
ekonomi rendah, kemudian meningkat sesuai umur orang yang
terinfeksi. Penularan melalui air tercatat di seluruh dunia kasus
hepatitis ini terjadi akibat mengkonsumsi air yang pengolahannya
tidak sempurna. Penularan melalui makanan lebih menjadi
perhatian dibandingkan melalui air. Mengkonsumsi kerang-
kerangan yang tumbuh dalam air buangan yang terkontaminasi

16
menimbulkan kasus hepatitis cukup besar, catatan yang terjadi di
seluruh dunia dapat dilihat pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3 : Beberapa outbreak Virus Hepatitis yang disebabkan
oleh mengkonsumsi kerang-kerangan.

Tahun Jenis kerang Negara Jumlah Kasus
1953 Oyster USA 30
1955 Oyster Swedia 600
1961 Oyster USA 84
1962 Clams USA 464
1963/1966 Calms Oyster USA 180
1964 Clams USA 306
1964 Oyster USA 3
1966 Clams USA 4
1968/1971 Clams/ oyster Gemany 34
1971 Clams USA 17
1972 Mussels Perancis 13
1973 Oyster USA 265
1976 Mussels Australia 7
1978 Mussels Inggris 41
1979 Oyster USA 8
1980 Oyster Philipina 7
1980/1981 Cockle Inggris 424
1982 Kerang-
kerangan
Inggris 172
1982 Oyster USA 204
1982 Clams USA 150
1984 Cockle Malaisia 322
1984 Mussels Yugoslavia 51
1985 Clams USA 5
1988 Clams Cina 192.000

Keterangan :
Oyster = Tiram Cockle = sejenis tiram
Clams = Remis besar, Kijing Mussels = remis

Sumber :Jehl-Pietri (1992) dan Schwartzbrod (1991)

1.4.3.2 Viral Gastroenteristis

Penyakit perut merupakan penyakit menular yang paling
sering terjadi. Penyakit ini disebabkan oleh parasit protozoa,
bakteri patogen dan virus patogen (misal rotavirus dan agen tipe-

17
Norwalk). Berikut ini akan dibahas rotavirus dan virus tipe
Norwalk sebagai penyebab penyakit perut.

a. Rotavirus.
Rotavirus termasuk dalam keluarga Reoviridae, partikel 70-
nm yang mengandung RNA double-stranded dikelilingi double-
shelled capsid. Rotavirus adalah penyebab utama penyakit perut
akut pada anak dibawah umur 2 tahun. Penyakit ini banyak
menyebabkan kematian anak-anak di negara-negara
berkembang. Rotavirus juga dapat menyebabkan wabah pada
populasi orang dewasa (terutama orang tua), dan merupakan
penyebab utama diare.
Virus menyebar melalui fecal-oral, namun kemungkinan
pula melalui pernafasan. Pernah terjadi beberapa wabah penyakit
perut yang disebabkan rotavirus yang berasal dari air buangan.
Beberapa wabah yang berhubungan dengan rotavirus dapat
dilihat pada Tabel 1.4.

Tabel 1.4 : Beberapa wabah Rotavirus di dunia

Tahun Lokasi Jumlah
Pasien
Keterangan
1977 Swedia 3.172 Suplai air bersih disebuah kota kecil
terkontaminasi oleh air limbah domestik
1980 Brazil ~ 900 Kontaminasi air di satu sekolah swasta
1980 Norfolk
Island
- Kontaminasi air tanah
1981 Rusia 173 Kontaminasi suplai air bersih
masyarakat
1981 Colorado 1.500 Kerusakan pada sistem penyaringan
dan khlorinasi
1982 Israel ~ 2000 Kontaminasi Reservoir oleh anak-anak
1981-
1982
Jerman
Timur
11.600 Kontaminasi air sumur akibat banjir
1982-
1983
China 13.311 Kontaminasi pada sistem suplai air
bersih
1991 Arizona 900 Kontaminasi air sumur oleh air limbah
pada sebuah resort

Sumber : Bitton (1994), Gerba (1995) dan Williams and Akin (1986)

Untuk mendeteksi rotavirus pada air buangan dan sampel
lainnya digunakan microscopy elektron, pengujian ikatan enzym

18
immunosorbent (ELISA Kits), atau kultur jaringan (sel yang
populer adalah MA-104, yang diturunkan dari ginjal monyet).
Deteksi pada jaringan sel termasuk di dalamnya metode seperti
pengujian plaque, efek cytopathic (CPE), dan
immunfluorescence.

b. Agen Tipe Norwalk.

Virus 27-nm kecil ini pertama kali ditemukan tahun 1968 di
Norwalk, Ohio. Virus ini merupakan penyebab utama penyakit
menular yang melalui air (waterborne) dan juga melalui makanan.
Menyebabkan diare dan mual dan dapat menyerang usus halus,
namun mekanisme pathogenicity belum diketahui. Karena virus
ini tidak bisa berkembang biak pada cultur jaringan, maka masih
sedikit yang diketahui mengenai struktur dan kandungan asam
nucleic virusi ini.
Peralatan yang digunakan untuk mendeteksi sampel
klinik adalah microscopy immune electron dan teknik
radioimmunoassay, namun tidak cukup sensitif untuk sampel
lingkungan. Virus norwalk memegang peranan penting pada
penyebaran penyakit perut melalui air, juga berperan pada
penularan diare. 42 % dari wabah penyakit perut nonbakteri
disebabkan oleh virus Norwalk.

1.4.4 Parasit Protozoa

Pada umumnya parasit protozoa menghasilkan kista
sehingga dapat bertahan diluar hostnya dengan kondisi
lingkungan yang berlawanan. Penyebab terjadinya kista adalah
beberapa faktor seperti kekurangan makanan, akumulasi racun
metabolit dan reaksi kekebalan host. Pada kondisi yang cocok,
trophozoite baru dilepaskan dari kista. Proses ini disebut
excystment. Protozoa patogen yang menular melalui air dan
berpengaruh terhadap manusia adalah sebagai berikut (Tabel
1.5).

1.4.4.1 Giardia Lamblia

Parasit protozoa flagelat ini mempunyai bentuk buah pear
trophozoite (panjang 9-21 um) dan tahap kista bentuk telur
(panjang 8-12 um dan lebar 7-10 um). Orang yang terinfeksi akan

19
mengeluarkan kista (1-5) x 10
6
per gram feces. Air buangan
domestik merupakan sumber terbesar Giardia. Binatang buas
dan binatang peliharaan berlaku sebagai tempat penampungan
kista Giardia. Parasit ini menjadi wabah di daerah pegunungan di
Amerika dan menginfeksi manusia, binatang buas dan binatang
peliharaan. Infeksi disebabkan oleh ingestion kista yang
ditemukan di dalam air. Dalam tubuh manusia, infeksi dapat
berlangsung bulanan hingga tahunan.

Tabel 1.5 : Penularan penyakit melalui air yang disebabkan
Protozoa

Oragisme Penyakit
(Lokasi yang terkena)
Sumber utama
Giardia lamblia Giardiasis
(GI tract)
Kotoran manusia dan
hewan
Entamoeba
histolytica
Amoebic disentery
(GI tract)
Kotoran manusia

Achanthamoeba
castellani
Amoebic
meningoencephalitis
(Sistem saraf pusat)
Tanah dan air

Naeleria gruberi Amoebic
meningoencephalitis
(Sistem saraf pusat)
Tanah dan air

Balantidium coli Dysentery/ perut
(GI tract)
Kotoran manusia
Cryptosporidium Diarrhea : turun berat
badan, rasa mual
demam (GI tract)
Kotoran manusia dan
hewan

Sumber : Bitton,1994.

Parasit ini Bergerak melalui perut dan kemudian
melepaskan trophozoite, yang akan menempel pada sel epitel
dari bagian atas usus halus dan berproduksi kembali secara fisi
binary. Trophozoite melapisi epithelium saluran pencernaan
sehingga mengganggu absorpsi lemak dan nutrient lain. Mereka
membentuk kista selama mereka melewati pencernaan dan
akhirnya mencapai usus besar.
Giardia mempunyai masa inkubasi satu sampai delapan
minggu. Menyebabkan diare, sakit perut, pusing, kelelahan, dan
berat badan menurun, namun giardiasis tidak beakibat fatal.
Biasanya penularan terjadi melalui orang ke orang, namun
Giardia dikenal sebagai salah satu agen etiologi yang penting

20
dalam terjadinya wabah penyakit yang ditularkan melalui air
(waterborne desease). Wabah terjadi akibat mengkonsumsi air
yang dikhlorinasi namun tidak dilakukan penyaringan.
Pada umumnya wabah giardiasis berhubungan dengan
mengkonsumsi air yang tidak diolah atau diolah namun belum
sempurna. Kesalahan desain atau kesalahan konstruksi saringan
dapat menyebabkan timbulnya Giardia lamblia dan selanjutnya
akan mencemari air minum. Indikator bakteri secara tradisional
tidak dapat mendeteksi adanya kista giardia dalam air atau dalam
sampel lingkungan lainnya. Terdapat korelasi yang baik antara
terjadinya kista Giardia dengan Cryptosporidium oocysts seperti
juga dengan beberapa parameter kualitas air tradisional seperti
kekeruhan.
Kista Giardia lambia dapat dikonsentrasi dari air dan air
buangan dengan cara ultra-filtration atau adsorpsi dengan
cartidge poly-propilene. Oleh karena Giardia lamblia tidak dapat
dibiakkan di laboratorium, maka kista harus dideteksi dan
diindentifikasi dengan immunofluorescence dengan antibodi
polyclonal atau monoclonal atau dengan phase-contrast
microscopy. Kista yang terpapar oleh khlor dengan konsentrasi 1
11 mg/l, walaupun memantul, namun tidak dapat dideteksi
dengan phase-contrast microscopy karena unsur ini struktur
dalamnya hilang.
Survey air buangan di beberapa negara bagian di Amerika
Serikat menunjukkan bahwa jumlah kista Giardia bervariasi dari
ratusan hingga ribuan kista per liter, namun konsentrasi kista
tertinggi adalah 10
5
per liter. Di Arizona, jumlah Giardia dideteksi
48 kista per 40 L dalam efluent lumpur aktif. Konsentrasi ini
menurun menjadi 0,3 kista/40 L setelah penyaringan pasir.
Parasit ini lebih tahan terhadap khlor dari pada bakteri.

1.4.4.2 Cryptosporidium

Parasit coccidian protozoan Cryptosporidium menginfeksi
binatang (sapi, kambing, ayam, turkey, tikus, babi, anjing,
kucing). Infeksi terhadap manusia dilaporkan pada tahun 1970
an. Cryptosporidium parvum adalah spesies utama yang
mengakibatkan infeksi pada manusia dan binatang.
Tahap infeksi dari protozoa ini adalah kista (oocyst) ukuran
5 7 um, yang tahan terhadap kondisi lingkungan. Selanjutnya
ingestion dengan host yang cocok, oocyst melangsungkan

21
excystation dan mengeluarkan infective sporozoites, yang
menjadi parasit pada sel epithelial terutama dalam saluran
pencernaan host. Beberapa peneliti menyatakan minimum dosis
infeksi untuk Cryptosporidium pada manusia kurang dari atau
sama dengan 1.000 oocyst. Pada binatang sejumlah 1 10
oocyst dapat menimbulkan infeksi. Parasit ini menyebabkan diare
yang selanjutnya menyebabkan penurunan berat badan dan
kadangkala menimbulkan pusing, mual dan demam. Lamanya
gejala dan akibatnya tergantung tingkat kekebalan si penderita.
Umumnya diare berlangsung 1- 10 hari pada penderita yang
kekebalannya baik, namun dapat lebih lama lagi hingga lebih dari
sebulan pada penderita lemah kekebalannya (misal penderita
AIDS, kanker). Penelitian pada ribuan sampel kotoran manusia di
Amerika Serikat, Kanada dan Eropa ditemukan bahwa lazimnya
cryptosporidiosis pada manusia berkisar antara 1% - 5%.
Cara penularan Cryptosporidium umumnya melalui orang
ke orang, melalui air, melalui makanan dan melalui binatang.
Penularan orang ke orang merupakan penularan yang utama.
Penularan patogen dari binatang yang terinfeksi kepada manusia,
diperkirakan lebih besar untuk Cryptosporidium dari pada untuk
Giardia.
Wabah di Carrollton, Georgia, AS menimpa hampir 13.000
orang dan terjadi karena mengkonsumsi air minum dari instalasi
air minum yang menerapkan proses saringan pasir cepat yang
kurang baik. Masalah yang ditemukan pada instalasi tersebut
adalah adanya flokulasi yang tidak efektif dan memulai kembali
penyaringan dengan saringan pasir tanpa melakukan cuci balik.
Patogen ini tidak efektif dihilangkan dengan cara
pengolahan air konvensional seperti saringan pasir atau
khlorinasi. Pengolahan dengan kapur untuk proses pelunakan air
dapat me-non-aktifkan sebagian oocyst Cryptosporidium.

1.4.4.3 Entamoeba Histolytica

E. histolytica membentuk kista infeksi (diameter 10 15
um) bertahan dalam waktu yang lama dengan tidak ada gejala
pada pembawanya; Sangat bertahan dalam air dan air buangan
dan selanjutnya hidup pada host yang baru. Jumlah kista dalam
air buangan dapat mencapai 5.000 kista per liter.
Parasit protozoa ini menular ke dalam tubuh manusia
terutama melalui air atau makanan yang terkontaminasi.
Substansi ini menyebabkan amebiasis atau disentri amoeba,

22
yang merupakan penyakit usus besar. Gejala bervariasi mulai
dari diare bergantian dengan sembelit hingga disentri akut. Dapat
pula menyebabkan borok pada lapisan mucosa saluran
pencernaan, menimbulkan diare dan kram. Hal ini menyebabkan
banyak kematian terutama di negara-negara berkembang dan
terjadi terutama karena mengkonsumsi air minum yang
terkontaminasi.

1.4.4.4 Naegleria

Naeglaria fowleri adalah penyebab primary amoebic
meningoencephalitis (PAME), yang pertama kali dilaporkan di
Australia pada tahun 1965. Berakibat fatal setelah 4 5 tahun
masuk ke dalam tubuh.
Protozoa ini masuk ke dalam tubuh melalui membran
mucous hidung dan selanjutnya berpindah ke dalam sistem
syaraf pusat. Penyakit ini berhubungan dengan kegiatan
berenang dan menyelam. Hal lain yang mengkhawatirkan,
Naeglaria dapat bergabung dengan Legionella pneumophila dan
patogen lainnya. Akibat dari penggabungan ini terhadap
manusia, masih dalam penelitian.
Terdapat teknik identifikasi yang cepat (contoh Cytometry,
sistem APIZYM, yang berdasarkan pada deteksi enzym aktif)
yang dapat membedakan antara Naeglaria fowleri dengan
spesies Naeglaria lainnya.


1.4.5 Cacing Parasit (Helminth Parasites)

Walaupun cacing (Helminth) parasit tidak biasa diteliti oleh
para ahli mikrobiologi, namun demikian keberadaannya dalam air
buangan bersamaan dengan viral pathogen dan protozoan
parasites, menjadi perhatian dalam hal pengaruhnya terhadap
kesehatan manusia. Bentuk telurnya merupakan tahap infeksi
dari parasit helminth; mereka keluar bersama dengan kotoran
dan menyebar melalui air buangan, tanah atau makanan. Telur ini
sangat tahan terhadap tekanan lingkungan dan terhadap
khlorinasi dalam pengolahan air buangan. Parasit-parasit yang
perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

1.4.5.1 Taenia Spp.


23
Terdapat 2 jenis yaitu Taenia saginata (cacing pita sapi)
dan Taenia solium (cacing pita babi) sekarang ini jarang
ditemukan di Amerika Serikat. Parasit ini berkembang dalam host
antara sehingga menjadi tahap larva yang disebut cysticercus
dan akhirnya mencapai tubuh manusia, yang berperan sebagai
host terakhir. Ternak sapi menelan telur parasit pada saat makan
rumput dan berperan sebagai inang (host) antara untuk Taenia
saganita, babi menjadi inang antara untuk Taenia solium.
Cysticerci masuk ke dalam otot, mata dan otak. Parasit ini
mengganggu pencernaan, sakit perut dan berat badan turun.

1.4.5.2 Ascaris Lumbricoides (Cacing Gelang)

Di dalam siklus kehidupan cacing ini , pada saat fase larva
dapat berpindah ke paru-paru dan menyebabkan pneumonitis.
Penyakit ini dapat terjangkit dengan cara terkena hanya beberapa
telur. Individu yang terinfeksi mengeluarkan sejumlah besar telur,
dan setiap Ascaris betina dapat menghasilkan hampir 200.000
telur per hari. Telur-telur ini menggumpal dan dapat dihilangkan
dengan cara sedimentasi pada proses pengolahan air buangan.
Walaupun dapat dihilangkan secara efektif dengan proses lumpur
aktif, telur-telur ini tahan terhadap khlor.

1.4.5.3 Toxocara Canis

Parasit ini terutama menginfeksi anak-anak yang punya
kebiasaan makan makanan kotor. Selain dapat mengganggu
pencernaan larva parasit ini dapat berpindah ke mata, yang dapat
menyebabkan kerusakan ocular, kadangkala dapat menyebabkan
kehilangan mata.

1.4.5.4 Trichuris Trichiura

Trichuris trichiura menyebabkan infeksi whipworm pada
manusia. Telur-telurnya menggumpal dan dapat mengendap
pada tanki sedimentasi.

1.4.6 Masalah Lain Yang Disebabkan Oleh Mikroorganisme

Air permukaan yang merupakan air baku instalasi
pengolahan air minum dapat menjadi tempat sejumlah besar
konsentrasi ganggang biru-hijau seperti Anabaena flos-aquae,

24
Microcystis aeruginosa, dan Schizothrix calcicola. Ganggang ini
menghasilkan exotoxins (peptides dan alkaloid) juga endotoxins
(lipopolysaccharides) yang menyebabkan sindrome seperti
gastroenteritis. Namun karena kurang pengetahuan tantang
keberadaan dan potensi untuk memisahkan racun ini dari
pengolahan air dan air buangan, risiko terhadap kesehatan belum
dievaluasi.


1.5 BAHAYA OLEH ZAT KIMIA YANG ADA DALAM AIR
MINUM

Resiko atau bahaya terhadap kesehatan dapat juga akibat
adanya kandungan zat atau senyawa kimia dalam air minum,
yang melebihi ambang batas konsentarsi yang diijinkan. Adanya
zat/senyawa kimia dalam air minum ini dapat terjadi secara alami
dan atau akibat kegiatan manusia misalnya oleh limbah rumah
tangga, industri dll.
Beberapa zat /senyawa kimia yang bersifat racun terhadap
tubuh manusia misalnya logam berat, pestisida, senyawa mikro
polutan hidrokarbon, zat-zat radio aktif alami atau buatan dan
sebagainya. Beberapa contoh senyawa kimia racun yang sering
ada dalam air minum antara lain yakni :

1.5.1 Parameter Fisis

1.5.1.1 Bau

Air minum yang berbau selain tidak etis juga tidak akan di
sukai oleh masyarakat. Bau air dapat memberi petunjuk akan
kualitas air. Misalnya, bau amis dapat disebabkan oleh
tumbuhnya algae.

1.5.1.2 Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS)

TDS biasanya terdiri dari zat organik, garam anorganik dan
gas terlarut. Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik
pula. Untuk air tanah atau air permukaan di dekat daerah pantai
TDS biasanya mempunyai korelasi dengan kadar salinitas atau
konsentrasi garam (NaCl). Selanjutnya, efek TDS ataupun
kesadahan tehadap kesehatan tergantung pada spesies kimia
penyebab masalah tersebut.

25

1.5.1.3 Kekeruhan

Kekeruhan air dapat disebabkan oleh zat padat yang
tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun yang bersifat
organik. Zat organik, biasanya berasalkan pelapukan batuan dan
logam, sedangkan yang bersifat organik dapat berasal dari
pelapukan tanaman atau hewan. Limbah industri dapat juga
merupakan sumber kekeruhan. Zat organik dapat menjadi
makanan bakteri, sehingga mendukung perkembangan biaknya.
Bakteri ini juga merupakan zat organik tersuspensi sehingga
pertambahannya akan menambah pula kekeruhan air. Demikian
pula dengan algae yang berkembang biak karena adanya zat
hara N,P,K akan menambah kekeruan air. Air yang keruh sulit
didesinfeksi, karena mikroba terlindung oleh zat tersuspensi
tersebut. Hal ini tentu berbahaya bagi kesehatan, bila mikroba itu
patogen.

1.5.1.4 Rasa

Air minum biasanya tidak berasa (tawar). Air yang berasa
(tidak tawar) menunjukan adanya kandungan berbagai zat yang
dapat membahayakan kesehatan. Rasa yang sering ada di dalam
air antara lain yakni rasa logam/amis, rasa pahit, asin, dan
sebagainya. Pengaruh rasa terhadap kesehatan tergantung dari
penyebab timbulnya rasa tersebut.

1.5.1.5 Suhu

Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar
tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran/pipa, yang
dapat membahayakan kesehatan. Selain itu temperatur yang
tinggi dapat mempercepat reaksi-reaksi biokimia di dalam
saluran/pipa.

1.5.1.6 Warna

Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetika
dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun
milkroorganisme yang berwarna. Warna dapat disebabkan
adanya tanin dan asam humus yang terdapat secara alamiah di

26
dalam air rawa, berwarna kuning muda sampai coklat kehitaman
menyerupai teh, atau dapat juga disebabkan oleh koloid dari
oksida besi atai oksida mangan. Zat warna organik (asam humus)
dapat bereaksi dengan senyawa khlor membentuk senyawa
trihalomethan yang bersifat karsinogen.

1.5.1.6 pH

Air minum sebaiknya netral, tidak asam/basa, untuk
mencegah terjadinya pelarutan logam berat, dan korosi jaringan
ditribusi air minum. Air adalah bahan pelarut yang baik sekali,
maka dibantu dengan pH yang tidak netral, dapat melarutkan
berbagai element kimia yang dilaluinya.



1.5.2 Parameter Kimia

1.5.2.1 Kimia Anorganik

Air Raksa

Air raksa atau mercury adalah unsur logam yang termasuk
logam berat yang bersifat racun terhadap tubuh manusia.
Biasanya secara alami ada dalam air dengan konsentrasi yang
sangat kecil. Pencemaran air atau sumber air oleh merkuri
umumnya akibat limbah limbah yang berasal dari industri.
Pada tahun 1950an, kasus pencemaran oleh logam berat
khusunya merkuri telah terjadi di teluk Minamata, Jepang, dan
telah meracuni penduduk di daerah sekitar teluk Minamata
tersebut. Logam merkuri atau air raksa (Hg) ini dapat
terakumulasi di dalam produk perikanan atau tanaman dan jika
produk tersebut dimakan oleh manusia akan dapat terakumulasi
di dalam tubuh. Akumulasi logam Hg ini dapat meracuni tubuh
dan mengakibatkan kerusakan permanen terhadap sistem saraf,
dengan gejala sakit-sakit pada seluruh tubuh. Oleh karena itu, di
Jepang, penyakit karena kercunan merkuri (Hg) dinamakan
penyakit Itai-itai yang berarti sakit-sakit, atau sering disebut juga
dengan penyakit Minamata (Minamata disease).
Dari hasil peneletian, kasus penyakit di Minamata tersebut
disebabkan karena pencemaran air oleh limbah yang

27
mengandung merkuri khlorida (HgCl) yang dikeluarkan oleh
pabrik-pabrik di sekitar teluk Minamata.
Air raksa atau merkuri atau hydrargyrum (Hg) adalah
logam yang menguap pada temperatur kamar. Karena sifat kimia-
fisiknya, merkuri pernah digunakan sebagai campuran obat. Saat
ini merkuri banyak digunakan dalam industri pembuatan
amalgam, perhiasan, instrumentasi, fungsida, bakterisida, dan
lain-lainnya. Air raksa merupakan racun sistemik dan dapat
terakumulasi di dalam di hati (lever), ginjal, limpa, atau tulang. Hg
dapat dikeluarkan oleh tubuh manusia diexkresikan lewat urine,
feces, keringat, saliva, dan air susu. Keracunan Hg akan
menimbulkan gejala gangguan susunan saraf pusat (SSP) seperti
kelainan kepribadian dan tremor, convulsi, pikun, insomania,
kehilangan kepercayaan diri, iritasi, depresi, dan rasa ketakutan.
Gejala gastero-intestinal (GI) seperti stomatis, hipersalivasi,
colitis, sakit saat mengunyah, ginggivitis, garis hitam pada gusi
(leadline), dan gigi yang mudah lepas. Kulit dapat menderita
dermatritis, dan ulcer. Hg yang organik cenderung merusak
susunan saraf pusat (tremor, ataxia, lapangan penglihatan
meciut, perubahan kepribadian), sedangkan Hg anorganik
bisanya merusak ginjal, dan menyebabkan cacat bawaaan. Di
alam, Hg anorganik dapat berubah menjadi organik dan
sebaliknya karena adanya karena adanya interaksi dengan
mikroba. Genus Pseudomonas dan Neurospora dapat mengubah
Hg anorganik menjadi organik. Staphilococcus aureus antara lain
dapat mereduksi Hg
2+
menjadi Hg elemental.

Almunium

Almunium (Al) adalah metal yang dapat dibentuk, dan
karenanya banyak digunakan, sehinggga terdapat banyak di
lingkungan dan didapat pada berbagai jenis makanan. Sumber
alamiah Al terutama adalah bauxit dan cryolit. Industri kilang
minyak, peleburan metal, serta lain-lain industri pengguna Al
merupakan sumber buatan. Orang belum yakin apakah Al
beracun. Tetapi dalam dosis tinggi dapat menimbulkan luka pada
usus. Almunium yang berbentuk debu akan diakumulasikan di
dalam paru-paru. Al juga dapat meyebabkan iritasi kulit, selaput
lendir, dan saluran pernapasan.

28

Arsen

Arsen (As) adalah logam yang mudah patah, berwarna
keperakan dan sangat toxik. As elemental didapat di alam dalam
jumlah tang sangat terbatas; terdapat bersama-sam Cu,sehingga
didapatkan produk sampingan pabrik peleburan Cu. As sudah
sejak lama sering digunakan untuk racun tikus; dan keracunan
arsen pada manusia sudah sangat dikenal, baik yang disengaja
maupun tidak disengaja. Keracunan akut menimbulkan gejala
muntaber disertai darah, disusul dengan koma, dan apabila
dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Secara khronis
keracunan arsen dapat menimbulkan anorexia, kolk, mual, diare
atau konstipasi, iceterus, pendarahan pada ginjal, dan kanker
kulit. As dapat menimbulkan iritasi, alergi, dan cacat bawaaan.
Dimasa lampau, As dalam dosis kecil digunakan sebagai
campuran tonikum; tetapi kemudian ternyata bahwa As ini dapat
menimbulkan kanker kulit pada peminumnya.

Barium

Barium (Ba) juga suatu metal, berwarna putih. Sumber
alamiah Ba adalah BaSO
4
dan BaCO
3
. Barium digunakan di
dalam industri gelas, keramik, textil, plastik, dan lain-lain. Sama
halnya dengan almunium, barium juga didapat banyak di dalam
lingkungan. Dalam bentuk debu Ba dapat terakumulasi di dalam
paru-paru, dan menyebabkan fibsosis, terkenal sebagai Baritosis.
Barium yang larut dalam cairan tubuh seperti barium khlorida
atau sulfida bersifat racun terhadap tubuh. Barium merupakan
stimultan jaringan otot, termasuk otot polos. Keracunan Barium
dapat menghentikan otot-otot jantung dalam satu jam. Pada fase
akhir keracunan, biasanya terjadi juga kelumpuhan urat syaraf .
Sampai saat ini Barum Sulfat yang tidak larut di dalam cairan
tubuh masih bisa digunakan orang dalam pembuatan foto kontras
di rumah sakit.

Besi

Besi atau Ferrum (Fe) adalah metal berwarna abu-abu, liat,
dan dapat di bentuk. Di alam didapat sebagai hematit. Didalam
air minum Fe menimbulkan warna (kuning), rasa, pengendapan

29
pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan kekeruhan.
Besi dibutuhkan tubuh dalam pembentukan Hemoglobin.
Banyaknya Fe didalam tubuh dikendalikan pada fase absorsi.
Tubuh manusia tidak dapat mengexkresikan Fe. Karenanya
mereka yang sering mendapat tranfusi darah, warna kulitnya
menjadi hitam karena akumulasi Fe. Sekalipun Fe itu diperlukan
tubuh, tetapi dalam dosis besar dapat merusak dinding usus.
Kematian seringkali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini.
Debu Fe juga dapat di akumulasikan di dalam alveoli, dan
menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru .

Fluorida

Fluorida adalah senyawa Fluor. Fluor (F) adalah halogen
yang sangat reaktif, karena di alam selalu di dapat dalam bentuk
senyawa. Fluorida anargonik bersifat lebih toxis dan lebih iritant
daripada organik. Keracunan kronis menyebbkan orang menjadi
kurus , pertumbuhan tubuh terganggu, terjadi fluorosis gigi serta
kerangka. Dan gangguan pencernaan yang dapat disertai
dehidrasi. Pada kasus keracunan berat dapat terjadi cacat tulang,
kelumpuhan, dan kematian. Baru-baru ini penelitian tentang
senyawa fluorida pada tikus memperhatikan adanya hubungan
yang bermakna antara fluorida dengan kanker tulang . Hal ini
tentunya meresahkan para dokter gigi yang menggunakan
senyawa fluor sebagai pencegah caries dentis. Juga para ahli
penyediaan air bersih perlu meninjau kembali manfaat fluoridasi
air, serta standar air minum bagi fluorida.

Cadmium

Cadmium (Cd) adalah metal berbentuk kristal putih
keperakan. Cd didapat bersama-sama Zn, Cu, Pb, dalam jumlah
yang kecil. Cd didapat pada industri alloy, pemurnian Zn,
pestisida, dan lain-lain. Tubuh manusia tidak memerlukan Cd
dalam fungsi pertumbuhannya, karena Cd sangat beracun bagi
manusia. Keracunan akut akan menyebabkan gejala
gasterointestial, dan penyakit ginjal. Gejala klinis keracunan Cd
sangat mirip dengan penyakit glomerulo-nephiritis biasa. Hanya
pada fase lanjut dari keracunan Cd ditemukan pelunakan dan
fraktur (patah) tulang punggung. Di Jepang sakit pinggang ini
dikenal sebagai penyakit Itai-Itai Byo . gejalanya adalah sakit

30
pinggang, patah tulang, tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal,
gejala seperti influenza, dan sterilitas pada laki-laki.
Konsentrasi kadmium (Cd) dalam air olahan (finished
water) yang dipasok oleh PAM umumnya sangat rendah, karena
umumnya senyawa alami senyawa kadmium ini jarang terdapat di
dalam sumber air baku, atau jika ada konsentrasinya di dalam air
baku sangat rendah. Selain itu dengan pengolahan air minum
secara konvesional, senyawa kadmium ini dapat dihilangkan
dengan efektif.
Air minum biasanya mengandung kadmium (Cd) dengan
konsentrasi 1 g, atau kadang-kadang mencapai 5 g dan jarang
yang melebihi 10 g. Pada beberapa wilayah tertentu yang
struktur tanahnya banyak mengandung kadmium, air tanahnya
kadang juga mengandung kadmium dengan konsentrasi agak
tinggi. Konsentrasi kadmium dalam air minum yang cukup tinggi,
kemungkinan juga dapat terjadi pada wilayah yang dipasok
dengan air dengan pH yang sedikit asam. Hal ini disebabkan
karena pada pH yang agak asam bersifat korosif terhadap sistem
plumbing atau bahan sambungan perpipaan yang mengandung
kadmium. Tingkat konsentrasi kadmium ini merupakan fungsi
berapa lama air kontak/berhubungan dengan sistem perpipaan
(plumbing system), dan sebagai akibatnya apabila dilakukan
pemeriksaan contoh pada lokasi yang sama, seringkali terdapat
variasi tingkat konsentrasi. Oleh karena itu untuk mendapatkan
konsentrasi rata-rata yang akurat, memerlukan data yang cukup
banyak.
Keracunan oleh kadmium menunjukkan gejala yang mirip
dengan gejala penyakit akibat keracunan senyawa merkuri (Hg)
atau penyakit Minamata. Berdasarkan baku mutu air minum yang
dikeluarkan oleh WHO (1971), kadar kadmium maksimum dalam
air minum yang dibolehkan yakni 0,01 mg/l, sedangkan menurut
Peraruran Pemerintah Republik Indonesia No: 20 Tahun 1990,
kadar maksimum kadmium dalam air minum yang dibolehkan
yakni 0,005 mg/l.

Kesadahan

Kesadahan dapat menyebabkan pengendapan pada
dinding pipa. Kesadahan yang tinggi di sebabkan sebagian besar
oleh Calcium, Magnesium, Strontium, dan Ferrum. Masalah yang

31
timbul adalah sulitnya sabun membusa, sehingga masyarakat
tidak suka memeanfaatkan penyediaan air bersih tersebut.

Klorida

Klorida adalah senyawa hologen Khlor (Cl). Toksisitasnya
tergantung pada gugus senyawanya. Misalnya NaCI sangat tidak
beracun, tetapi karboksil khlorida sangat beracun. Di Indonesia,
Khlor digunakan sebagai desinfektan dalam penyediaan air
minum. Dalam jumlah banyak, CI akan menimbulkan rasa asin,
korosi pada pipa sistem penyediaan air panas. Sebagai
desinfektan, sisa khlor didalam penyediaan air sengaja di
dipertahankan dengan konsentrasi sekitar 0,1 mg/l untuk
mencegah terjadinya rekontaminasi oleh mikroorganisme
patogen, tetapi khlor ini dapat terikat senyawa organik berbentuk
hologen-hidrokarbon (Cl-HC) banyak diantaranya dikenal dikenal
sebagai senyawa Karsinogenik. Oleh karena itu, diberbagai
negara maju sekarang ini, khlorinisasi sebagai proses desinfektan
tidak lagi digunakan.

Khromium Valensi 6

Khromium (Cr) adalh metal kelabu yang keras. Cr
didapatkan pada industri gelas, metal, fotografi, dan
elektroplating. Khromium sendiri sebetulnya tidak toxik, tetapi
senyawanya sangat iritan dan korosif, menimbulkan ulcus yang
dalam pada kulit dan selaput lendir. Inhalisi Cr dapat
menimbulkan kerusakan pada tulang hidung. Di dalam paru-paru,
Cr ini dapat menimbulkan kanker.

Mangan

Mangan (Mn) adalah metal abu-abu-kemerahan.
Keracunan seringkali bersifat kronis sebagai akibat inhalasi debu
dan uap logam. Gejala yang timbul berupa gejala susunan urat
syaraf: insomnia, kemudian lemah pada kaki dan otot muka
sehingga expresi muka menjadi beku dam muka tampak seperti
topeng (mask). Bila pemaparan berlanjut maka, bicaranya
melambat dan monoton, terjadi hyperrefleksi, clonus pada patella
dan tumit, dan berjalan seperti penderita parkinsonism.
Selanjutnya akan terjadi paralysis bulbar, post encephalitic

32
parkinsonism, multiple sclerosis, amyotrophic lateral sclerosis,
dan degenerasi lentik yang progresif (Peny. Wolson). Tidak ada
gejala GI, saluran uro-genital (UG), kelainan ada liquor cerebro
spinalis. Keracunan Mn ini adalah salah satu contoh, dimana
kasus keracuanan tidak menimbulkan gejala muntah berak,
sebagaimana orang awam selalu memperkirakannya. Didalam
penyediaan air, seperti halnya Fe, Mn juga menimbulkan masalah
warna, hanya warnanya ungu/hitam .

Natrium

Natrium elemental (Na) sangat reaktif, karena bila berada
didalam air akan terdapat sebagai suatu senyawa. Natrium
sendiri bagi tubuh tidak merupakan benda asing, tetapi
toxisitasnya tergantung pada gugus senyawanya. NaOH, atau
hidroxida Na sangat korosif,tetapi NaCI justru dibutuhkan oleh
tubuh .

Nitrat, Nitrit

Nitrat dan Nitrit dalam jumlah besar dapat menyebabkan
gangguan GI, diare campur darah, disusul oleh konvulsi, koma,
dan bila tidak tertolong akan meningggal. Keracunan kronis
menyebabkan depresi umum, sakit kepala, dan gangguan
mental. Nitrit terutama bereaksi dengan hemoglobin dan
memebentuk Methemoglobin (metHb). Dalam jumlah melebihi
normal MetHb akan menimbulkan Methemoglobinaemia. Pada
bayi Methemoglobinaemia sering dijumpai karena pembentukan
enzim untuk mengurai MetHb menjadi Hb masih belum
sempurna. Sebagai akibat Methemoglobineamia, bayi akan
kekurangan oxigen, maka mukanya akan tampak biru, dam
karenanya penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit blue
babies.

a. Nitrat

Salah satu contoh sumber pencemaran nitrat terhadap air
minum yakni akibat kegiatan pertanian. Meskipun pencemaran
nitrat juga dapat terjadi secara alami, tetapi yang paling sering
yakni akibat pencemaran yang berasal dari air limbah pertanian
yang banyak mengandung senyawa nitrat akibat pemakaian
pupuk nitrogen (urea).

33
Senyawa nitrat dalam air minum dalam jumlah yang besar
dapat menyebabkan methaemoglobinameia, yakni kondisi
dimana haemoglobin di dalam darah berubah menjadi
methaemoglobin sehingga darah menjadi kekurangan oksigen.
Hal ini dapat mengakibatkan pengaruh yang fatal, serta dapat
mengakibatkan kematian khususnya pada bayi.

b. Fluorida (F)

Fluorida adalah senyawa kimia yang secara alami ada
dalam air pada berbagai konsentrasi. Pada konsentrasi yang
lebih kecil 1,5 mg/l , sangat bermanfaat bagi kesehatan
khususnya kesehatan gigi, karena dapat mencegah kerusakan
gigi. Tetapi pada konsentrasi yang besar (lebih besar 2 mg/l),
dapat menyebabkan kerusakan gigi (fluorosis) yakni gigi menjadi
bercak-bercak. Pemaparan fluorida pada konsentrasi yang lebih
besar lagi (3 - 6 mg/l), dapat menyebabkan kerusakan pada
struktur tulang. Oleh kerana itu, dosis fluorida dalam air minum
dibatasi maksimal 0,8 mg/l.

Perak

Perak atau Argentum (Ag) adala metal berwana putih. Ag
didapat pada industri antaralain industri alloy, keramik, gelas,
fotografi, cermin, dan cat rambut. Bila masuk kedalam tubuh, Ag
akan diakumulasikan di berbagai organ dan menimbulkan
pigmentasi kelabu, disebut Argyria. Pigmentasi ini bersifat
permanen, karena tubuh tidak dapat mengekskresikannya.
Sebagai debu, senyawa Ag dapat menimbulkan iritasi kulit, dan
menghitamkan kulit (argyria). Bila terikat nitrat, Ag akan menjadi
sangat korosif. Argyria sistemik dapat juga terjadi, karena perak
diakumulasikan didalam selaput lendir dan kulit.

Selenium

Selenium adalah logam berat yang berbau bawang putih;
didapat bersama-sama dengan Cu, Au, Ni, dan Ag. Selenium
juga dapat antara lain pada industri gelas, kimia, plastik, dan
semikonduktor. Dalam dosis besar Se akan menyebabkan gejala
GI seperti muntah dam diare. Bila pemaparan berlanjut, maka
akan terjadi gejala gangguan susunan urat syaraf seperti

34
hilangnya reflex-reflex, iritasi cerebral, konvulsi, dan dapat juga
menyebabkan kematian. Se merupakan racun sistemik, dan
mungkin juga bersifat karsinogenik.
Selenium dalam air dengan konsentrasi yang agak tinggi
biasanya terdapat di daerah seleniferous. Di daerah seperti ini
kandungan selinium dalam air tanah (sumur) ataupun air
permukaan dapat mencapai orde mg/l. Berdasarkan penelitian
terhadap tikus betina, LD
50
akut melalui mulut untuk sodium
selenate yakni 31,5 mg/kg berat tubuh, dan berdasarkan
pengetesan toksisitas akut terhadap tikus, menunjukkan
penurunan gerakan spontan, pernafasan yang cepat dan hebat,
diare dan selanjutnya mati karena susah bernafas. Gejala
subakut meliputi menurunnya laju pertumbuhan, terjadi hambatan
terhadap intake makanan, dan keluarnya cairan kotoran (tinja).
Berdasarkan hasil penelitian terhadap tikus dengan memberikan
dosis secara kontinyu selama satu bulan melalui mulut, gejala
toksisitas subakut dari sodium selenate terjadi pada dosis 1
mg/kg/hari untuk tikus jantan dan 5 mg/kg/hari untuk tikus betina.
Setelah pemberian dosis terus-menerus selama satu bulan,
terjadi anemia yang disebabkan menurunya jumlah sel darah
merah serta jumlah haemoglobin, dan berdasarkan hasil
pembedahan terjadi akumulasi sodium selenate pada hati, ginjal,
testis, paru-paru dan limpha.
Bedasarkan penelitian toksisitas baik akut maupun subakut
dari selenium tersebut maka WHO menetapkan kadar maksimun
selenium yang dibolehkan dalam air minum yakni 0,01 mg/l, dan
menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002, kadar
maksimum selenium dalam air minum yang dibolehkan juga 0,01
mg/l.

Seng

Seng (Zn) adalah metal yang didapat antara lain pada
industri alloy, keramik, kosmetik, pigmen, dan karet. Toxisitas Zn
pada hakekatnya rendah. Tubuh memerlukan Zn untuk proses
metabolisme, tetapi dalam kadar tinggi dapat bersifat racun.
Didalam air akan menimbulkan rasa kesat, dan dapat
menimbulkan gejala muntaber. Seng menyebabkan warna air
menjadi opalescent, dan bila dimasak akan menimbulkan
endapan seperti pasir.

35

Sianida

Sianida adalah senyawa sian (Cn) yang sudah lama
terkenal sebagai racun. Didalam tubuh akan menghambat
pernafasan jaringan, sehingga terjadi asphyxia, orang merasa
akan tercekik dan cepat diikuti oleh kematian. Keracuanan kronis
menimbulkan malaise, dan iritasi. Sianida ini didapatkan secara
alami di berbagai tumbuhan. Apabila ada didalam air minum,
maka untuk menghilangkan nya diperlukan pengolahan khusus.
Selain itu, hidrocyanida juga mudah terbakar.

Sulfat

Sulfat bersifat iritan bagi saluran gastro-intestinal, bila
dicampur dengan magnesium atau natrium. Jumlah MgSO4 yang
tidak terlalu besar sudah dapat menimbulkan diare. Sulfat pada
boiler menimbulkan endapan (hard scales), demikian pula heat
exchanger.

Sulfida

Senyawa sulfida menimbulkan rasa dan bau, bersifat
korosif daniritan. Dalam dosis tinggi merusak SSP. Keracunan
biasanya jarag terjadi, karena zat ini berbau busuk. Bila orng
sempat menjauh, maka tidak akan keracunan. Tetapi apabila
sulfida ini berbentuk gas yang menjalar cepat, sehinngga tidak
sepat melarikan diri, maka orang dapat menderita keracunan akut
yang mematikan dalam waktu singkat kaena asphyxia.

Tembaga

Tembaga (Cu) sebetulnya diperlukan untuk perkembangan
tubuh manusia. Tetapi, dalam dosis tinggi dapat meyebabkan
gejala GI, SSP, ginjal, hati; muntaber, pusing kepala, lemah,
anemia, kramp, konvulsi, shock, koma, dan dapat meninggal.
Dalam dosis rendah menimbulkan rasa kesat, warna, dan korosi
pada pipa, sambungan dan peralatan dapur.

Timbal (Pb)


36
Timbal atau plumbum (Pb) adalah metal kehitaman.
Dahulu digunakan sebagai kontituen di dalam cat, materai,dan
saat ini banyak di gunakan dalam bensin. Pb organik (TEL
singkatan dari tetra ethyl lead) sengaja ditambahkan kedalam
bensin untuk meningkatkan oktan. Pb pada racun adalah
sistemik. Keracunan Pb akan menimblkan gejala: rasa logam di
mulut, garis hitam pada gusi, gangguan GI, anorexia, muntah-
muntah, encephalitis, wtrist drop, irritable, perubahan
kepribadian, kelumpuhan, dan kebutaan. Basophilic stippling dari
sel darah merah merupakan gejala patognomonis bagi keracunan
Pb. Gejala lain dari keracunan ini berupa anemia dan
albuminuria. Pb organik cenderung menyebabkan
encephalopathy. Pada keracunan akut, akan terjadi meninges
dan ceberal, diikuti dengan stupor,coma, dan kematian. Tekanan
liquor cerebro-spinalis (LCS) tinggi, insomnia, dan somnolence.


I.5.2.2 Kimia Organik

Aldrin dan diedrin

Aldrin (C
12
H
8
C
16
), bebentuk kristal, dan dapat digunakan
sebagai insektisida. Merupakan racun sistemik. Dapat
menimbulkn keracunan yang akut ataupun kronis. Aldrin juga
merupakan suatu iritan, dapat menyebabkan konvulsi, depresi,
dan dapat merusak hati dalam 1-4 jam. Bila dipanaskan Aldrin
akan terurai dan mengeluarkan forgen dan HCI yang toxis.
Deidrin (C
12
H
10
C
16
), juga berbentuk kristal dan dapat digunakan
seebagai insektisida. Toxisnya belum diketahui dengan jelas,
skalipun dapat diabsorsi oleh kulit sehat. SSP dapat terstimulasi,
dan terjadi anorexia, kkonvulsi dan koma. Pada hewan LD
50
-nya
adalah lima kalinya LD
50
DDT. Diedrin menyebabkan kulit telur
unggas menjadi tipis, sehingga mudah pecah. Populasi burung
Falco misalnya, menjadi berkurang karenanya. Pada tikus
percobaaan, baik aldrin maupun diedrin dapat menimbulkan
kanker dam mutasi.

Benzene

Benzene atau benzol, C
6
H
6
, digunakan dalam industri
sebagai pelarut lemak. Toxisitasnya dapat akut lokal, akut
sistemik;maupun kronis. Bezene menyebabkan erythyema,

37
vesikel, dan udema. Pengaruhnya terhadap SSP bersifat narkotik
dan anestetik. Pemaparan kronis menimbilkan hyppplasia atau
pun hyperplasia sumsum tulang yang berakibatkan anemia,
leucopenia, thrombocytopenia, dan sangat mungkin
menyebabkan leukemia.

Benzo(a)pyrene (B(a)P)

B(a)P adalah suatu polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH),
hasil pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna.
Didapat dalam asap rokok, gas buang kendaraan bermotor, dan
jelaga. B(a)P dan senyawa-senyawa PAH lainnya menarik
perhatian ahli karena bersifat karsinogen dan merupakan
mutagen yang potensial.

Chlordane

Chlordane adalah insektisida, C
10
H
6
C1
8
, tergolong
hidrokarbon terkhlorinasi, dan sering didapat sebagai pencemar
air. Chlorodane mudah sekali diabsorsi kulit, menimbulkan
hyperexitasi, dan konvulsi. Disebut pula sebagai penyebab
kelainan gambaran darah, seprti thrombocytopenia (kekurangan
thrombosit), agranulocytosis (tidak terdapat granulocyt), dan
anemia aplastik. Bila di panaskan akan berdekomposisi dan
mengeluarkan gas Cl
2
yang beracun.

Chloroform

Chloroform (CHCl
3
) juga merupakan hidrokarbon
terkhlorinasi, suatu anestetik. Menimbulkan iritasi, dilatasi pupil,
dan merusak hepar, jantung, dan ginjal. Keracunan khloroform
dapat menimbulkan toxisitas akut dan sistemik, sedangkan efek
khronis belum diketahui dengan jelas. Dahulu, chloroform
digunakan sebagai anestetik, tetapi saat ini sudah disubtitusi
dengan zat yang lebih aman.

2,4 D

2,4 D dichloropphenoxyl acetic acid (2,4 D) merupakan
herbisida, mematikan tanaman berdaun lebar dengan
mengganggu sistem hormonal tumbuhan. Bersifat iritan terhadap

38
mata, dan percernaaan. Di dalam air tumbuhan akan mudah
membusuk, maka pertumbuhan mikroba pembusuk bertambah
cepat, sehingga oxigen terlarut (DO) cepat menurun secara tidak
langsung dapat menimbulkan kelainan bawaan. Pada tumbuhan
terjadi aberasi khromosom, dan menyebabkan berubahnya warna
dan bentuk.

Dichloro-diphenyl-trichloroethane (DDT)

DDT adalah insektisida yang pertama kali di buat orang
dan telah di gunakan secara luas dan lama untuk keperluan
kesehatan. DDT kemudian ternyata persisten, sehingga
terakumulasi di dalam rantai makanan dan terjadi biomagnifikasi.
(ClC
6
H
4
)
2
CHCCl
3
menyebabkan pusing kepala, mual ,tremor,
convulsi dan kerusakan hati, SSP, serta ginjal. Dosis kecil yang
berulang dikatakan lebih berbahaya dari pada dosis tunggal. Saat
ini DDT sudah tidak boleh digunakan lagi.

Deterjen

Deterjen ada yang bersifat kationik, anionik, maupun
nonionik. Kesemuanya membuat zat yang lipofilik mudah terlarut
dan menyebar di perairan. Selain itu, ukuran zat lipofilik menjadi
lebih halus, sehingga mempertinggi toxisitas racun. Deterjen juga
mempermudah absorpsi racun melalui insang. Deterjen adapula
yang persisten, sehingga terjadi akumulasi. Seperti halnya
dengan DDT, detergen jenis ini sudah tidak boleh digunakan lagi.

1,2, Dichloroethane dan 1,3, Dichloroethane

Dichloroethane, CH
3
CHCl
2
, adalah cairan tidak berwarna,
berbau wangi dan berasa manis, mudah terbakar . Dapat
menimbulkan toxitas sistemik akut. Menyebabkan kerusakan
ginjal dan hati. Bila dipanaskan dapat timbul fosgen yang toxik.

Heptachloor dan heptachlorepoxide

Kedua zat ini tergolong hidrokarbon terkhlorinasi. Bahaya
dapat timbul bila dipanaskan sehingga timbul gas beracun. Kedua
zat ini pun menimbulkan kanker pada tikus dan menyebabkan
kulit telur menjadi tipis sehingga populasi burung dapat
berkurang.

39

Gamma hexachlorobenzene

Juga disebut Benzene hexachloroda (BHC), C
6
H
6
, isomer
gammanya disebut lindane. Suatu inseksida, menimbulkan
toxisitas akut maupun khronis sistemik. Lidane adalah insektisida
jenis racun perut atau racun kontak .

Methoxychlor

Disebut juga DMDT, singkatan dari dimetthoxypheny-
diphenyl-trichloroethane, suatu derivatif DDT. Apabila di masukan
akan menimbulkan gas-gas beracun (Cl
2
). Keracunan yang dapat
menyebabkan toxitas akut lokal, alergi, dan akut sistemik.
Sedangkan toxisitas khronisnya sama dengan toxisitas akut .

Senyawa Phenol

Phenol mudah masuk lewat kulit sehat. Keracunan akut
menyebabkan gejala gastero-intestinal, sakit perut, kelainan
koordinasi bibir mulut, dan tenggorokan. Dapat pula terjadi
kerusakan usus. Keracunan kronis menimbulkan gejala gastero-
intestinal, kesulitan menelan, dan hipersalivasi, kerusakan ginjal
dan hati, dan dapat diikuti kematian. Rasa air berubah dan phenol
menjadi lebih terasa bila air tercampur khlor.

Pentakhorophenol

Rumus molekul Pentakhloropenol adalah Cl
5
C
6
-OH,
disingkat sebagai PCP. Toxisitasnya baik yang akut maupun
yang kronis ternyata menimbulkan lokal iritan, dan sistemik.
Pemaparan yang kronis ternyata menimbulkan kerusakan pada
hepar (hati), dan pada hewan percobaan dapat bersifat
tertogenik. Bila di panaskan menimbulkan gas Cl
2
yang toxis.

4,6 Trichlorophenol

Trichlorophenol adalah suatu herbisida defoliant. Sama
dengan yang sebelumnya, ia menguapkan gas Cl
2
yang toxis,
Cl
3
C
6
H
2
O
2
mempunyai toxisitas baik akut maupun lokal, iritan
dan akut sistemik maupun toxisitas khronis sistemik .

40

f. Trihalomethan

Saat ini beberapa salah satu masalah yang banyak
dijumpai dalam air minum yakni masalah yang termasuk polutan
mikro yang terjadi akibat hasil samping proses khlorinasi.
Senyawa tersebut antara lain yakni trihalomethan atau disingkat
THMs.
Trihalomethane adalah senyawa organik derivat methan
(CH
4
) yang mana tiga buah atom Hidrogen (H)nya diganti oleh
atom halogen yakni khlor (Cl), Brom (Br), Iodium (I). Beberapa
senyawa trialomethane yang umum dijumpai antara lain yakni
khloroform (CHCl
3
), dibromokhloromethan (CHBr
2
Cl), bromoform
(CHBr
3
). Jumlah total ke empat senyawa tersebut sering disebut
total trihalomethan (TTHM). Selain ke empat senyawa tersebut di
atas masih ada beberapa senyawa trihalomenthan lainnya tetapi
biasanya kurang stabil. Beberapa jenis senyawa THMs
ditunjukkan seperti pada Gambar 1.2.
Adanya senyawa trihalomethan dalam air minum ini
pertama kali diungkapkan oleh J. Rook pada sekitar tahun 1972.
Pada tahun 1975 Rook mempresentasikan secara lebih lengkap
hasil penelitiannya tentang beberapa faktor yang menyebabkan
terbentuknya senyawa THMs dalam air minum. Rook
menyatakan bahwa senyawa THMs terbentuk akibat reaksi
antara senyawa khlorine dengan senyawa alami seperti senyawa
humus yang ada dalam air baku.
Setelah penemuan Rook tersebut, Environmental
Protection Agency (EPA) Amerika Serikat mempresentasikan
hasil penelitian yang dilakukan oleh National Organic
Reconnaissance Survey (NORS) yang menyatakan bahwa THMs
ditemukan hampir di seluruh air miunm (finished water) dan
hanya kadang-kadang saja ditemukan pada air bakunya.
Pada tahun 1976, National Cancer Institute mengumumkan
bahwa senyawa khloroform yang merupakan senyawa senyawa
THMs yang sering dijumpai dalam air minum, dengan dosis yang
cukup tinggi dapat menyebabkan kanker pada tikus.


41


Gambar 1.2 : Jenis senyawa trihalomethane.

Sekarang ini, hampir tidak ada keraguan lagi bahwa
senyawa THMs khususnya khloroform adalah senyawa yang
sangat potensial dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu,
konsentrasi senyawa THMs dalam air maksimum yang
dibolehkan umumnya yakni 0,01 mg/l, bahkan ada beberapa
standar menetapkan konsentrasi maksimum THMs dalam air
minum lebih kecil dari yang tersebut di atas.

1.5.3 Parameter Radioaktivitas

Adapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah sama, yakni
menimbulkan kerusakan sel yang terpapar. Kerusakan dapat

42
berupa kematian, dan perubahan komposisi genetik. Kematian
sel dapat diganti kembali apabila sel dapat beregenerasi dan
apabila tidak seluruh sel mati. Perubahan genetis dapat
menimbulakan berbagai penyakit seperti kanker dan mutasi.
Sinar alpha, beta dan gamma berbeda dalam kemampuan
menembus jaringan tubuh. Sinar alpha sulit menembus kulit,
sedangkan sinar beta dapat menembus kulit dan gamma dapat
menembus sangat dalam. Kerusakan yang terjadi ditentukan oleh
intensitas sinar serta frekuensi dan luasnya pemaparan.

Sinar alfa
Sinar alfa, karena tidak mempnyai daya tembus, maka efek
yang terjadi bisanya bersifat lokal.
Apabil tertelan lewat minuman, maka kerusakan pada sel-sel
saluran pencernaaan.

Sinar Beta

Sinar beta dapat menembus kulit, dalamnya tergantung
pada aktivitasnya. Dengan demikian, kerusakan yang terjadi
dapat lebih luas lagi dan lebih mendalam daipada sinar alpha.


1.6 PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM

Dari seluruh uraian diatas, dapat diketahui dengan jelas
bahwa kualitas air khususnya kualitas air minum mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan kesehatan masyarakat, dan
oleh karena suplai air minum dengan kualitas yang buruk dapat
mengakibatkan pengaruh yang buruk terhadap tingat kesehatan
masyarakat, maka air yang disuplai untuk masyarakat misalnya
air PAM haruslah memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam
hal ini oleh Pemerintah atau Instansi yang berwenang.
Dengan melihat kenyataan bahwa air baku untuk air minum
yang ada di Indonesia khususnya di daerah hilir atau di daerah
perkotaan yang semakin buruk, maka dengan teknologi
pengolahan secara konvensional saja, masih sangat diragukan
apakah air hasil olahannya sudah memenuhi syarat atau belum.
Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya keluhan-keluhan oleh
masyarakat tentang buruknya kualitas air PAM, apalagi jika
ditinjau dari beberapa parameter yang termasuk senyawa polutan

43
mikro misalnya trihalomethan, khlorophenol, pestisida dan
lainnya, karena selama ini pihak PAM tidak pernah memeriksa
parameter-parameter yang termasuk senyawa polutan mikro
tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilaksanakan
berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas air
minum yang dikonsumsi oleh masyarakat, dan agar air minum
dikonsumsi masyarakat tidak menimbulkan gangguan kesehatan
perlu menetapkan persyaratan kesehatan kualitas air minum.
Untuk itu Pemerintah Repuplik Indonesia melalui Keputusan
Menteri Kesehatan telah menetapkan syarat-syarat dan
pengawasan kualitas air minum yang dituangkan dalam
Keputusan Menteri Kesehatan Repuplik Indonesia Nomor
907/Menkes/SK/VII/2002, Tanggal 29 Juli 2002, tentang Syarat-
Syarat Dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Di dalam surat
keputusan tersebut yang dimaksud dengan air minum adalah air
yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan
yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum,
sedangkan jenis air minum meliputi air yang didistribusikan
melalui pipa untuk keperluan rumah tangga, air yang
didistribusikan melalui tangki air, air kemasan, serta air yang
digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang
disajikan kepada masyarakat. Persyaratan kesehatan air minum
sebagaimana dimaksud dindalam Surat Keputusan tersebut
meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.
Pembinaan teknis terhadap segala kegiatan yang
berhubungan dengan penyelenggaraan persyaratan kualitas air
minum dilakukan oleh Menteri Kesehatan, sedangkan
pengawasan kualitas air minum dilaksanakan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota melalui kegiatan :
a. Inspeksi sanitasi dan pengambilan sampel air termasuk
air pada sumber air baku, proses produksi, jaringan
distribusi, air minum isi ulang dan air minum dalam
kemasan.
b. Pemeriksaan kualitas air dilakukan di tempat/di lapangan
dan atau di laboratorium.
c. Analisis hasil pemeriksaan laboratorium dan pengamatan
lapangan.
d. Memberi rekomendasi untuk mengatasi masalah yang
ditemui dari hasil kegiatan a, b, c yang ditujukan kepada

44
e. Tindak lanjut upaya penanggulangan/perbaikan dilakukan
oleh pengelola penyedia air minum.
f. Penyuluhan kepada msyarakat

Pengawasan kualitas air dilakukan secara berkala sekurang-
kurangnya setiap 3 (tiga) bulan dan hasil pengawasan
sebagaimana dimaksud wajib dilaporkan secara berkala oleh
Kepala Dinas kepada Bupati/Wali Kota

Pengawasan kualitas air minum dalam hal ini meliputi :

Air minum yang diproduksi oleh suatu perusahaan, baik
pemerintah maupun swasta yang didistribusikan ke
masyarakat dengan sistem perpipaan.

Air minum yang diproduksi oleh suatu perusahaan, baik
pemerintah maupun swasta, didistribusikan kepada
masyarakat dengan kemasan dan atau kemasan isi ulang.

Kegiatan pengawasan kualitas air minum dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota yang meliputi :

1.6.1 Pengamatan Lapangan atau Inspeksi Sanitasi

Untuk air minum perpipaan maupun air minum kemasan,
pengawasan dilakukan pada seluruh unit pengolahan air minum,
mulai dari sumber air baku, instalasi pengolahan, proses
pengemasan bagi air minum kemasan, dan jaringan distribusi
sampai dengan sambungan rumah bagi air minum perpipaan.

1.6.2 Pengambilan Sampel

Jumlah, frekuensi dan titik pengambilan sampel air minum
harus dilaksanakan sesuai kebutuhan, dengan ketentuan minimal
sebagai berikut :

1.6.2.1 Untuk Penyediaan Air Minum Perpipaan

(1) Pemeriksaan kualitas bakteriologi


45
Jumlah minimal sampel air minum perpipaan pada jaringan
distribusi adalah seperti pada Tabel 1.6 :

Tabel 1.6 : Jumlah minimal sampel air minum perpipaan pada
jaringan distribusi untuk pemeriksaan bakteriologi.

Produk yang dilayani Jumlah minimal sampel per
bulan
< 5000 jiwa 1 sampel
5000 s/d 10.000 jiwa 1 sampel per 5000 jiwa
> 100.000 jiwa 1 sampel per 10.000 jiwa
ditambah
10 sampel tambahan

(2) Pemeriksaan kualitas kimiawi

Jumlah sampel air minum perpipaan pada jaringan distribusi
minimal 10% dari jumlah sampel untuk pemeriksaan bakteriologi.

(3) Titik pengambilan sampel air

Harus dipilih sedemikian rupa sehingga mewakili secara
keseluruhan dari sistem penyediaan air minum tersebut,
termasuk sampel air baku.

1.6.2.2 Untuk Penyediaan Air Minum Kemasan Dan Atau
Kemasan Isi Ulang

Jumlah dan frekuensi sampel air minum harus dilaksanakan
sesuai kebutuhan, dengan ketentuan minimal sebagai berikut :

(1) Pemeriksaan kualitas bakteriologi :

Jumlah minimal sampel air minum pada penyediaan air minum
kemasan dan atau kemasan isi ulang adalah sebagai berikut :

Air baku diperiksa minimal satu sampel tiga bulan satu
kali.
Air dalam kemasan minimal dua sampel satu bulan satu
kali.


46
(2) Pemeriksaan kualitas kimiawi :

Jumlah minimal sampel air minum adalah sebagai berikut :
Air baku diperiksa minimal satu sampel enam bulan satu
kali.
Air dalam kemasan minimal satu sampel 3 bulan satu
kali.

(3) Pemeriksaan kualitas air minum :

Dilakukan di lapangan, dan di Laboratorium Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, atau laboratorium lainnya yang ditunjuk.

(4) Hasil pemeriksaan laboratorium harus disampaikan kepada
pemakai jasa, selambat-lambatnya 7 hari untuk pemeriksaan
mikrobiologi dan 10 hari untuk pemeriksaan kualitas kimiawi.

(5) Pengambilan dan pemeriksaan sampel air minum dapat
dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan karena adanya
dugaan terjadinya pencemaran air minum yang
menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan atau kejadian
luar biasa pada para konsumen.

(6) Parameter kualitas air yang diperiksa :

Dalam rangka pengawasan kualitas air minum secara rutin yang
dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat, maka parameter
kualitas air minimal yang harus diperiksa di Laboratorium adalah
sebagai berikut :

Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan :

a) Parameter Mikrobiologi :
(1) E. Koli
(2) Total Koliform

b) Kimia anorganik :
(1) Arsen
(2) Fluorida
(3) Kromium- Valensi 6
(4) Kadmium

47
(5) Nitrit, sbg-N
(6) Nitrat, sbg-N
(7) Sianida
(8) Selenium

Parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan :

a) Parameter Fisik :
(1) Bau
(2) Warna
(3) Jumlah zat padat terlarut (TDS)
(4) Kekeruhan
(5) Rasa
(6) Suhu

b) Parameter Kimiawi :
(1) Aluminium
(2) Besi
(3) Kesadahan
(4) Khlorida
(5) Mangan
(6) pH
(7) Seng
(8) Sulfat
(9) Tembaga
(10) Sisa Khlor
(11) Amonia

(7) Parameter kualitas air minum lainnya selain dari parameter
yang tersebut di atas, dapat dilakukan pemeriksaan bila
diperlukan, terutama karena adanya indikasi pencemaran
oleh bahan tersebut.

(8) Pada awal beroperasinya sistem penyediaan air minum,
jumlah parameter yang diperiksa, minimal seperti yang
tercantum pada point (6) tersebut di atas, periksa selanjutnya
minimal setahun sekali dilakukan pemeriksaan ulang, dan
sewaktu-waktu bila merasa diperlukan.

(9) Bila parameter yang tercantum tersebut di atas tidak dapat
diperiksa di laboratorium Kabupaten atau Kota, maka

48

49
pemeriksaannya dapat dirujuk ke laboratorium propinsi atau
laboratorium yang ditunjuk sebagai laboratorium rujukan.

(10)Bahan kimia yang diperbolehkan digunakan untuk
pengolahan air, termasuk bahan kimia tambahan lainnya
hanya boleh digunakan setelah mendapatkan rekomendasi
dari Dinas Kesehatan setempat.

(11)Hasil pengawasan kualitas air wajib dilaporkan secara
berkala oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat kepada
Pemerintah Kabupaten/Kota setempat secara rutin, minimal
setiap 3 (tiga) bulan sekali, dan apabila terjadi kejadian luar
biasa karena terjadinya penurunan kualitas air minum dari
penyediaan air minum tersebut, maka pelaporannya wajib
langsung dilakukan, dengan tembusan kepada Dinas.


1.6.3 Pengawasan Internal Kualitas Air oleh Pengelola Air
Minum

Untuk menjamin kualitas air minum yang diproduksinya,
Pengelola wajib mengadakan pengawasan secara terus-menerus
dan berkesinambungan agar air yang diproduksi terjamin
kualitasnya. Untuk ini perlu pemeriksaan internal beberapa
parameter yang frekuensinya tergantung dari besarnya volume
air yang diproduksi Pengelola penyediaan air minum melalui
sistem perpipaan. Berapa parameter yang harus diperiksa serta
frekwensi pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 1.7.
Langkah-langkah menjamin kualitas air minum oleh
pengelola penyediaan air minum melalui sistem perpipaan,
diantaranya adalah :
Memperbaiki dan menjaga kualitas air sesuai petunjuk yang
diberikan Dinas Kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan
yang telah dilakukan.
Melakukan pemeliharaan jaringan perpipaan dari kebocoran
dan melakukan usaha-usaha untuk mengatasi korosifitas air
di dalam jaringan perpipaan secara rutin.
Membantu petugas Dinas Kesehatan setempat dalam
pelaksanaan pengawasan kualitas air dengan memberi
kemudahan petugas memasuki tempat-tempat dimana tugas
pengawasan kualitas air dilaksanakan.
Tabel 1.7 : Parameter yang harus diperiksa serta frekwensi pemeriksaan.
Vol. Prod.
Air/M
3
/Th/Cab
ang
Test untuk memonitor
desinfeksi pada setiap
reservoir/stasiun
khlorinasi (1) (3)
Test rutin minimal pada
jaringan pipa

Test untuk setiap
reservoir minimal 1X
per minggu

Test minimal untuk air
baku minimal 2X per
tahun menurut musim
< 200.000 M
3
Sisa khlor = minimal 1X per hari 1. pH = 1X per minggu 1. pH 1. Total/Fecal coli

2. DHL = 1X per Thn 2. DHL 2. DO
3. Kekeruhan 1 X per Thn 3. Alkalinitas 3. Bahan organik (KMnO4)
4. Organoleptik 1X per hari 4. Kesadahan Total 4. Alkalinitas
5. Sisa Chlor 1X per
hari (pada titik terjauh)
5. CO2 5. Kesadahan Total (mg/l
CaCO3)
6. Suhu 6. PH
7. Besi & Mangan, jika
menjadi masalah
7. CO2

8. Suhu
> 200.000 M
3
Sisa khlor = minimal 1X per hari 1. pH. 1. pH 9. DHL
2. DHL 2. DHL 10. Besi, mangan, jika menjadi
masalah
3. Kekeruhan 3. AAlkalinitas
4. Total coliforms/E.Coli 4. Kesadahan Total
5. Sisa Chlor/ORP (2) (No. 1
s/d No. 5 = 1 smp/15.000
M3)
5. CCO2


6. Al 1X per bulan (jika Al
digunakan sebagai Flokulan)
6. Suhu


7. Besi & Mangan, jika
menjadi masalah


50

Keterangan Tabel :

(2) Untuk memastikan efisiensi proses khlorinasi sebelum
didistribusikan.
(3) Untuk pemeriksaan rutin sisa Chlor dapat digantikan sebagian
dengan pengukuran ORP, hanya jika telah terbukti terdapat
hubungan antara Sisa Chlor dan ORP dan secara rutin telah
dikalibrasi, menurut sumber airnya.
(4) Berlaku jika khlor dipakai sebagai desinfektan, jika tidak sampel
khlor bebas diganti menjadi tambahan Fecal/Total coli.


Mencatat hasil pemeriksaan setiap sampel air, meliputi tempat
pengambilan sampel (permukiman, jalan, nomor rumah, titik
samp ling), waktu pengambilan, hasil analisis pemeriksaan
laboratorium termasuk metode yang dipakai, dan
penyimpangan parameter.
Mengirimkan duplikat pencatatan kepada Dinas Kesehatan
setempat, dokumen ini harus disimpan arsipnya untuk masa
selama minimal 5 tahun.






















51
DAFTAR PUSTAKA

----- " Water Supply Engineering Vol.1 , , JICA, March 1984.
-----, Gesuidou Shissetsu Sekkei Shisin to Kaisetsu , Nihon
Gesuidou Kyoukai, 1984.
Bitton, G. 1990. Introduction to Environmental Virology. Wiley,
New York.
Bitton. G. 1994. Wastewater Microbiology. Wiley-Liss, New
York.
Cliver, D.O. 1984. Significance of water and environment in
the transmission of virus disease. Monogr. Virol.
Craun, G.F., Ed. 1986. Waterborne Disease in The United
States. CRC Press, Boca Raton.
Fair, Gordon Maskew et.al., " Eements Of Water Supply And
Waste Water Disposal, John Willey And Sons Inc., 1971.
Gerba, C.P., S.N. Singh, and J.B. Rose. 1985. Waterborne
gastroenteristis and viral hepatitis. CRC Crit. Rev. Environ.
Control.
Gouda T., Suisitsu Kougaku - Ouyouben, Maruzen
kabushiki Kaisha, Tokyo, 1979.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002 tentang
syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum
MetCalf And Eddy, " Waste Water Engineering, Mc Graw Hill
1978.
Slamet, Juli Soemirat, 1996. Kesehatan Lingkungan. Gajah
Mada University Press.
Sobsey, M.D., and B. Olson. 1983. Microbial agents of
waterborne disease, in : Assessement of Microbiology and
Turbidity Standards fo Drinking Water, P.S.Berger and
Argaman, Eds. EPA Report # EPA 570-9-83-001.










52