Anda di halaman 1dari 2

PEMERIKSAAN ZAT KETON DALAM URIN

B. Cara Gerhardt I. Tinjauan Pustaka Badan keton (aseto-asetat, beta hidroksibutirat, dan aseton) dibentuk di mitokondria hati jika laju oksidasi asam lemak tinggi. Jalur ketogenesis melibatkan sintesis dan pemecahan 3-hidroksi-3-metilglutaril-KoA (HMG-KoA) oleh dua enzim kunci, HMG-KoA sintase dan HMG-KoA lipase. Badan keton adalah bahan bakar yang penting bagi jaringan ekstrahepatik. Adanya benda keton dalam jumlah yang melebihi kadar normal dalam darah atau urin masing-masing disebut ketonemia (hiperketonemia) atau ketonuria. Secara keseluruhan, keduanya disebut ketosis. Bentuk dasar ketosis terjadi pada keadaan kelaparan dan berupa berkurangnya karbohidrat yang tersedia disertai oleh mobilisasi asam lemak bebas. Pola umum metabolisme ini mengalami peningkatan berlebihan sehingga timbul keadaan patologis, seperti dijumpai pada diabetes mellitus, yang tipe 2-nya kini semakin sering dijumpai di negara-negara Barat; twin lamb disease; dan ketosis pada sapi menyusui. Bentuk nonpatologis ketosis ditemukan pada kondisi pemberian makan tinggi lemak dan setelah berolahraga berat pada keadaan pascaabsorptif. Asam aseto-asetat dan beta hidroksibutirat adalah asam berkekuatan sedang dan akan disangga jika terdapat di dalam darah atau jaringan lain. Namun, ekskresi keduanya secara terus menerus dalam jumlah besar akan secara progresif mengurangi cadangan basa sehingga timbul ketoasidosis. Pada diabetes mellitus yang tak-terkontrol, hal ini dapat berakibat fatal. Prinsip Pemeriksaan Pemeriksaan ini berdasarkan reaksi antara asam aseto-asetat dan ferri-klorida dalam reagen yang akan menghasilkan suatu zat berwarna seperti anggur port (merah coklat). Pemeriksaan ini sangat kurang peka dibandingkan reaksi Rothera untuk mendeteksi asam aseto-asetat, sedangkan untuk aseton dan asam beta hidroksi butirat tidak bereaksi. Untuk pemeriksaan ini juga harus menggunakan urin segar.

II.

III. Alat & Bahan a) Urin segar b) Ferri klorida 10% c) Kertas saring d) Corong e) Tabung reaksi f) Pipet tetes

IV. Cara Kerja a) OP diminta untuk miksi, dan urin ditampung ke dalam gelas ukur. b) Memasukkan 5 mL urin segar tersebut ke dalam tabung reaksi. c) Meneteskan larutan ferri klorida 10% ke dalam tabung reaksi sambil mengocok. d) Apabila sudah terbentuk presipitat putih, berhenti meneteskan larutan ferri klorida. Pada percobaan ini, digunakan 15 tetes larutan ferri klorida hingga terbentuk presipitat putih. e) Setelah itu, campuran tersebut disaring menggunakan corong dan kertas saring. f) Kemudian, menambahkan beberapa tetes larutan ferri klorida 10% lagi pada filtrat. Pada percobaan ini, digunakan 5 tetes larutan ferri klorida 10%. g) Mengamati perubahan warna yang terjadi. V. Menilai Hasil Warna merah anggur tidak hanya ditimbulkan oleh asam aseto-asetat, tetapi juga dapat ditimbulkan oleh fenol, salisilat, antipyrin, dan natrium bikarbonat. Tes Gerhardt positif harus disertai tes Rothera positif. Seandainya tes Gerhardt positif dengan tes Rothera negatif, berarti tes Gerhardt positif palsu. Bila tes Gerhardt positif disertai dengan tes Rothera positif menunjukkan ketonuria yang lebih berat dibandingkan dengan tes Rothera saja yang positif. Hasil tes Gerhardt dilaporkan secara kualitatif.

VI. Hasil Orang Percobaan (OP): Prayogi Kramy Warna Hasil Percobaan Kuning kecoklatan Negatif (-) Interpretasi

VII. Kesimpulan Urin yang digunakan pada uji ini tidak menunjukkan ketonuria karena warna urin hasil Uji Gerhardt adalah kuning kecoklatan (negatif), buka berwarna merah anggur. VIII. Referensi 1. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia Harper. Edisi 27. Jakarta: EGC, 2009. 2. Buku Penuntun Praktikum (BPP) Modul Metabolik & Endokrin, Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) UNPAR, 2012-2013

Anda mungkin juga menyukai