Anda di halaman 1dari 6

Peta bumi intelektual Indonesia cukup kaya dengan kehadiran para pionir, raksasa pemikir, dan para martir

yang mempersembahkan diri demi pengayaan kecerdasan rakyat nusantara. Mereka tak semuanya melewati karpet merah sejarah berujung dengan penghormatan dan pengakuan mulia. Tak kurang-kurang pula tokoh yang perlaya dengan penistaan degil, serta selalu berbuntut dengan kontroversi. Potret kultural seperti inilah yang menjadi lahan semai gagasan-gagasan progresif dari seorang Santri Jombang yang juga nyantri di Chicago University, yaitu Nurcholis Madjid. Oposisi ide terhadap Cak Nur, dengan hormat kita menyebut yang bersumber dari: Endang Saefudin Anshari, HM. Rasyidi, Ridwan Saidi, Daud Rasyid, atau bahkan Akhmad Soemargono, serta sayap radikal kelompok-kelompok Islam lain, menurut saya benar ketika mengatakan bahwa Cak Nur tidak orisinil. Tapi sama sekali tak boleh menyedot takaran persembahan ide Cak Nur yang artikulatif. Cak Nur tak terbang sendiri dengan keresahan untuk memberangus sikap ber-Islam yang jumud, taklid, dan anti intelektual. Sebab, sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, dalam epilog oleh Buddy Munawar Rachman, bahwa Bung Karno pun jauh-jauh hari sudah menggagas perlunya menyerap Api Islam. Si Bung Besar itu berdakwah bahwa Umat Islam Indonesia hanya bisa menangkap abu dan arang Islam. Tetapi jika ukurannya adalah produktivitas, artikulasi, konsistensi, keberanian, dan disertai kebersahajaan akhlak, Cak Nur nyaris berkibar dengan sedikit mitra. Para penggugat, penyerang, dan bahkan pelaku fitnah keji terhadap Cak Nur terkadang bersikap oversimplifikasi (terlalu menyepelekan persoalan). Mereka terlalu pandai meramu istilah stigmatif, insulting (penghinaan) dan provokasi. Misalnya menyebut Sang Lokomotif Pembaharu Islam itu dengan sebutan Agen Zionis Yahudi, kader PSI, pengkhianat Masyumi, dan yang lebih membakar hati kita adalah fitnah ketika Cak Nur wafat (mereka menyebut muka Cak Nur terbakar karena durhaka!). Astagrfirullah Padahal, jika mau jujur, mereka bisa mengklarifikasi ide-ide Cak Nur yang bertabur dalam makalah, buku dan jurnal. Cak Nur bukan tokoh introvert dan inferior, karena ia berani bertanggungjawab. Atau jika tak mumpuni dalam memahami inti gagasan Cak Nur,mengapa mereka tidak melihat pola hidup dan ketulusan Cak Nur. Misalnya tentang agen Zionis, bukankah Cak Nur pernah menolak tawaran dari George Soros, untuk membantu Yayasan Paramadina? Lihat halaman 169. Sekali lagi, Cak Nur juga yang kesepian ketika harus mendedah serangan bertubi-tubi. Ia menjadi intelektual yang paling sering dimusuhi, oleh kelompoknya sendiri (Islam modernis, seperti HMI, PII, Muhammadiyah, atau juga Masyumi). Ia juga yang selalu menjadi obyek penistaan dari sayap islam radikal yang lain. Buku ini, serasa begitu tepat kehadirannya. Beda dengan literatur lain yang fokus pada pengembaraan ide, buku ini hadir dengan sentuhan manusiawi yang kental. Sebuah biografi intelektual dengan warna humanis.

Kuburan (Intelektual) Apakah seorang intelektual harus selalu kesepian, seperti pernyataan Soe Hok Gie? Atau menjadi minoritas yang menentang arus publik, seperti disebut oleh Ali Syariati? Jawabannya tegas: tidak selalu. Masalahnya adalah struktur kognitif dan memori kolektif sebuah komunitas yang menjadi penentu, apakah sebuah pemikiran bisa diapresiasi dengan normal atau justru dijejali dengan kemarahan-kemarahan. Kultur masyarakat Islam Indonesia mengidap inferioritas akut. Kompleks rendah diri dan bara dendam atas penindasan yang memang juga kejam. Lalu, kondisi itu tak jua regang manakala harga diri bangsa merdeka berhasil direbut. Sebab, seperti telaah dari Edward Said, penulis buku Orientalism, bahwa seringkali bangsa yang merdeka secara politik tidak bisa merdeka dari nilai-nilai feodal yang dipelihara kaum kolonial. Mari lacak. Ketika Cak Nur membesut ide-ide penyegaran, via metode sekularisasi dan pluralisme, publik marah karena mengidentifikasi bahwa gagasan itu datang dari Barat (simbol kolonialis dan Kristen). Sementara, di saat pemikiran Nurcholis yang mendorong sikap pencarian kebenaran yang lapang, inklusif, terbuka terhadap kritik, dan mencari titik-titik temu kebenaran agama, ia dihajar oleh kalangan penguasa dan pemimpin feudal (baik di lingkar agamawan,maupun penguasa). Dengan demikian, tepat sekali pemaparan Yudi Latief, dalam prolog buku ini, di halaman XXIV. Para intelektual mengeluhkan tidak adanya pemahaman publik yang baik. Dan publik juga tak memiliki kemampuan untuk paham. Atau bahkan bersikap memusuhi. Inilah yang menyebabkan pudarnya intelektualisme . Singkat kata, cara masyarakat merumuskan makna terhadap ide baru, gagasan asaing, adalah bersumber dari struktur ide yang berkembang di masyarakat itu sendiri, sebagaimana ungkapan dari Jay L. Lemke, bahwa semua makna tercipta dalam masyarakat. Struktur ide yang berkembang di masyarakat, tak bisa dilepaskan dari dimensi-dimensi sosial dan historis. Dan struktur ide masyarakat muslim Indonesia adalah inferiority complex (keruwetan-keruwetan inferior, rendah diri). Kemudian yang menguat adalah identifikasi diri, politik identitas, dan membuat binner oposition (segala sesuatu dipolakan menjadi kawan dan lawan). Publik muslim menjadi mudah terjerembab menjadi garang, karena struktur ide mereka direcoki oleh klaim-klaim apologetik dan jauh dari kenyataan. Sementara, untuk menerima ide-ide dan gagasan bernas, menjadi kesulitan. Lebih-lebih jika ide itu memiliki akar tunjang episteme barat, seperti dari sisi teori, istilah, metodologi, atau bahkan berkiblat pada tokoh-tokoh intelektual barat. Publik mencurigai ide secara a priori, dan melihatnya sebagai the otherness (sesuatu yang lain, bukan datang dari Islam Indonesia). Struktur ide masyarakat islam indonesia juga tak tercukupi oleh kultur dan proses-proses yang menyertai (less necessary conditions). Internalisasi gagasan, pewarisan ilmu, dan pemasokan gagasan dalam struktur belajar masyarakat islam indonesia berpola feodal,

jauh dari diskursus, pedagogik, dan hanya menguntungkan pihak tertentu. Ini adalah hasil dari pola pendidikan yang oleh Paolo Freire disebut an opressed education. Walhasil, komunitas muslim Indonesia nyaris menjadi kuburan bagi para intelektual progresif. Intelektual Organis Buku Api Islam Nurcholis Madjid ini, yang ditulis oleh Ahmad Gaus AF, mampu merekonstruksi bangunan pemikiran Cak Nur. Lengkap dengan segala kontroversi, dan mengungkap sisi hitam dan putih Cak Nur dari segala sudut pandang. Cak Nur bukan saja raksasa intelektual yang pernah dimiliki negeri ini. Ia, seperti halnya intelektual sejati lainnya, hidup dalam nuansa kesahajaan yang patut diteladani. Ia hidup sederhana. Bahkan pernah tak mampu mengobati anaknya yang sakit (mengingatkan kita kepada tokoh Agus Salim, yang meski dihargai di mana-mana, tetapi hidup dari kontrakan ke kontrakkan, juga terhadap Bung Hatta). Ia juga seorang intelektual organik, yang tahu berbuat konkret. Termasuk bertindak secara gigih dalam melawan arus. Di saat orang ramai-ramai membuat sakralisasi terhadap partai islam, ia berkibar dengan kredo: Islam Yes, Partai Islam No! Atau tatkala banyak orang bedol desa ke Partai Golkar, ia malah berkampanye untuk PPP. Karena, menurutnya, demokrasi butuh kekuatan pengimbang, dan PPP adalah ban kempes yang harus dipompa (halaman 141). Banyak lokus dan jejak langkah Cak Nur yang menjadi senarai bukti bahwa beliau adalah intelektual organik. Termasuk ketika ber-HMI, mendirikan Yayasan Paramadina, dan membidani lahirnya KIPP (Komite Independen Pemantau Pemilu) serta ICMI. Memori publik juga pasti belum lupa, ketika Cak Nur mengkampanyekan oposisi yang loyal. Dengan memberikan kunci istilah yang tegas, yaitu You are my opponent, not my enemy (anda adalah lawan saya dalam politik, tetapi bukan musuh). Nilai-nilai yang diusung Nurcholis Madjid adalah nilai-nilai universal, ada pada setiap agama, dan tidak sektarian. Di saat terjadi arus balik politik identitas dan kericuhan antar kelompok, hadirnya buku ini menjadi sangat penting Cak Nur adalah kekasih hati bagi Ummat Islam yang berakal jernih. Indonesianis dari Ohio State University, AS, Prof. William Lidlle, bahkan menyebut gagasan Cak Nur menyulut revolusi, karena membuka ruang intelektual dan emosional. Banyak orang dan generasi sesudahnya yang mampu memperbarui keimanannya. Sebagaimana petikan pengakuan Goenawan Muhammad, bahwa setiap kali membaca Cak Nur, maka ada Iman yang terselamatkan dalam jiwa saya (Kata Pengantar untuk buku Pintu-Pintu Menuju Tuhan). Daya dobrak ide Cak Nur pertama-tama menohok pada sikap puritan Ummat Islam Indonesia, yang ideologis-politis, apologetik, dan terperangkap dalam formalismlegalisme. Dalam jangka pendek, kadang sikap ini memang terkesan heroik dan memuaskan nafsu. Sayangnya, tak ada kreativitas dan inovasi apapun di sana, kecuali

mengulang-ulang lagu lama. Pada akhirnya, terlihat bahwa opini sedemikian adalah palsu, dan menjadi bumerang yang memukul balik Ummat Islam (lihat halaman 121). Jika Islam menjadi kekuatan politik, maka ia akan sektarian, terbatas dan ekslusif. Sementara Islam, menurut Cak Nur, bukanlah agama formalistik, melainkan substansinya berpijak pada nilai, moral dan etik. Dengan demikian, kekuatan Islam adalah kekuatan budaya, yang maknanya terlihat pada penghormatan terhadap keadilan, kesetaraan, kebebasan, dan pluralisme. Agenda-agenda seperti itu, tentu akan berkesuaian dan sinergik dengan kelompok lain (halaman 155). Nurcholis juga membawa titik terang terhadap kehidupan keagamaan yang humanis, berwajah santun, damai dan penuh toleransi. Ia menganjurkan pencarian titik-titik temu (kalimatun sawa, common denominator) antara wahyu yang dipeluk oleh umat beragama. Serta menganut cara hidup yang mencari kebenaran dengan lapang atau al hannafiyat al samhah (lihat halaman 227). Tak heran bila kemudian gagasan ini juga mendapat gaung apresiasi bagus dari berbagai kalangan, termasuk dari umat Kristen. Sorotan bernas terhadap gagasan Cak Nur, misalnya hadir dari Frans Magnis Suseno, J.B. Banawiratama, dan Martin L. Sinaga. Setengah Gagal Kini, hampir tiga puluhan tahun paska pidato Cak Nur di TIM, tentang Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam, dunia membuka mata terhadap perlunya bersikap inklusif dan pluralis. Di wilayah politik, penerimaan prinsip ini nyaris menjadi harga mati. Bahkan PKS dan PAN sekalipun kini bersifat terbuka sesuatu yang tak terbayangkan, dulu. Tetapi juga tak sepenuhya bersih. Umat Islam Indonesia justru memperlihatkan wajah yang garang dan kurang toleran. Lantaran masih banyak konflik-konflik sosial, politik, dan ekonomi yang berwajah sectarian, ekslusif, dan merasa benar sendiri. Bagaimana memahami kondisi ini? Pertama, Cak Nur dan kawan-kawan berhasil membentuk academic circle secara terbatas. Ide-ide pembaharuan yang ia pancang berhasil tersemai di HMI, PII, ICMI, dan Paramadina (tidak semua, tetap umumnya ramah terhadap Cak Nur). Tetapi jaringan ide ini tumpas oleh beragam faktor, baik ekonomis maupun politis. Inilah yang disebut oleh Buddy Munawar Rachman di bagian epilog buku ini sebagai jaringan ide. Kedua, muslim Indonesia tak pernah mampu menghadirkan kelompok sekunder dalam jumlah massif, yang menggerakan kultur serta perubahan sosial. Sehingga sikap-sikap inklusif dan toleran yang terpagut pada basis pemikiran yang jernih, hanya melingkarlingkar di kelompok tertentu. Ketiga, terjadi arus balik yang luar biasa kuat dalam kebijakan politik nasional yang beresiko menyuburkan benih-benih konflik sektarian, melalui Pilkada, pemekaran wilayah, dan perebutan sumber-sumber daya.

Demikianlah ikhtiar memahami Cak Nur. Lewat buku ini, agaknya kita mahfum belaka bahwa Sang Penarik Gerbong Pemikiran Islam ini telah memenuhi amanat sejarahnya. Soal berhasil atau tidak, ini menjadi tanggungjawab kita bersama. Wallahualam. Peresensi, Endi Biaro, seorang penggemar buku, Alumni HMI Cabang Manado
ISLAM sebenarnya dimulai dengan proses sekularisasi dan ajaran tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi (Cak Nur). Teks itulah yang menjadi substansi pemikiran Nurcholis Madjid (Cak Nur) dalam gagasan sekularisasi. Berpangkal dari statement tersebut Cak Nur melahirkan gagasan rasionalisasi dan desakralisasi. Cak Nur merumuskan ide tersebut berdasarkan cara pandang terhadap fenomena peralihan animis ke kepercayaan tauhid (masuk Islam). Cak Nur lantas menjustifikasi idenya itu dengan sekuralisasi yang diperintahkan. Sekularisasi ini, bagi Cak Nur, bukanlah sekularisasi sebagai penerapan sekularisme seperti yang terjadi di Barat yang, bagi Cak Nur, dilarang. Cara berpikir dan muatan pemikiran Cak Nur seperti itu terasa sangat kontroversial di telinga kebanyakan umat Islam. Karena dalam Alquran maupun hadis tak sedikit pun menjelaskan ihwal sekularisasi. Tak pelak, saat menggelar istilah tersebut pada 1970-an, Cak Nur mendapatkan banyak bantahan dari intelektual Indonesia, termasuk di antaranya adalah HM Rasidji dan Imaduddin Abdurrahim. Dari sinilah kita dibawa oleh Cak Nur ke pengembaraan yang jauh dan masuk ke dalam rimba konfusi semantik dan scientific dengan idenya yang ia klaim sebagai sekularisasi yang diperintahkan oleh Islam. Du pengkritik Cak Nur adalah kawan karib dan lawan berpikir. Sekarang pengkritiknya murid Cak Nur sendiri. Dialah Prof Dr Faisal Ismail yang pernah diajar Cak Nur pada mata kuliah Modern Islamic Development in Indonesia di Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Kanada. Sebagai murid yang baik, Faisal Ismail menumpahkan kegundahan pemikiran gurunya dalam buku ini. Penulis ingin menjadi murid yang baik bagi Cak Nur. Dengan koreksi total pemikiran sekularisasi Cak Nur inilah Faisal ingin menunjukkan diri sebagai murid Cak Nur yang bisa membuat sang guru tersebut bahagia di alam barzakh. Bagi penulis, mengagumi Cak Nur bukanlah dengan menerima pemikirannya secara taken for granted, justru model murid semacam inilah yang dulu sering diejek dan marahi Cak Nur, karena justru akan memitoskan Cak Nur dan membuat pemikiran dan intelektualitas mandek. Tidak Sepakat Kembali ihwal masalah sekularisasi, penulis sangat tidak sepakat dengan pemikiran sang guru ini. Baginya gagasan sekularisasi sangat rancu kalau dilekatkan dalam Islam. Islam tidak mengenal sekularisasi, apalagi sekularisasi yang diistilahkan Cak Nur adalah peralihan dari animis menuju tauhid. Islam tidak mengenal sekularisasi, apalagi ada sekularisasi yang diperintahkan. Dalam pembacaan penulis, tidak teks prinsip dalam Alquran maupun hadis yang menjelaskan sekularisasi. Baik itu secara eksplisit maupun implisit. Bagi penulis, Islam dimulai dengan akidah tauhid dan ajaran tauhid merupakan jiwa, semangat, dasar, dan pangkal tolak islamisasi. Sementara itu, tidak ada bukti empiris-historis-sosiologis yang mengindikasikan, apalagi

membuktikan, Nabi dan umatnya pada masa itu telah melakukan sekularisasi. Baik legitimasi normatif dan legitimasi historis-sosiologis yang ilmiah, tak ada penjelasan sedikitpun sekularisasi dilekatkan dalam Islam. Cak Nur sendiri, kala itu, juga tidak mampu membuktikan dasar epistemologis dalam Alquran yang menjelaskan ihwal sekularisasi. Di berbagai makalah dan bukunya, Cak Nur gagal menjelaskan dasar epistemologis sekularisasi yang melekat dalam Alquran. Begitu juga Cak Nur tidak memberikan contoh-contoh konkret tentang sekularisasi yang, menurut dia, diperintahkan itu. Berbicara tentang ajaran dan perintah dalam Islam, Cak Nur tidak mampu merinci atau menyebut contoh-contoh ayat atau hadits sebagaimana yang sesuai dengan idenya sekularisasi yang diperintahkan. Pangkal Tolak Cak Nur hanya mengemukakan, misalnya, suatu ide tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi secara besar-besaran. Itu bukan contoh tentang sekularisasi yang diperintahkan (perintah harus ada nash, seperti shalat). Sekularisasi yang diperintahkan dan ide yang diklaim sebagai sekularisasi yang diperintahkan adalah berbeda (halaman 50). Karena Cak Nur tidak berangkat dari definisi yang jelas tentang sekularisasi, dan idenya juga lahir dari rahim epistemologi yang serampangan, maka ide sekularisasi yang ditawarkan Cak Nur sebenarnya merupakan ide yang tumpang tindih dalam berbagai gagasan turunannya. Terjadilah inkonsistensi, inkoherensi, dan konfusi dalam pemikiran sekularisasinya. Dari sini, sang murid melihat beberapa kesalahan dalam ide sekularisasi sang guru. Pertama, Cak Nur telah berbuat kesalahan terminologis karena secara ekslusif menggunakan istilah sekularisasi hanya bagi animis yang convert ke kepercayaan tauhid. Kalau orang Islam yang convert ke animis, Cak Nur tidak bisa menjelaskan apa-apa soal ini. Kedua, Cak Nur telah berbuat arbitrary karena memakai istilah sekularisasi untuk suatu peristiwa yang sebenarnya disebut konversi (perpindahan animis pada kepercayaan tauhid). Bukti kerancuannya adalah: tauhid merupakan pangkal tolak sekularisasi secara besar-besaran. Yang benar adalah: tauhid merupakan pangkal tolak islamisasi. Ketiga, Cak Nur telah membuat kesalahan karena, menurut dia, terjadi sekularisasi pada animis yang masuk Islam. Kesalahan ini berpangkal pada ketidakpahaman Cak Nur bahwa sebenarnya sekularisasi itu hanya dilakukan oleh seseorang (atau sekelompok orang) yang masih terikat kepada kepercayaan atau agama yang sedang ia anut. Keempat, Cak Nur telah berbuat kesalahan karena, bagi dia, terjadi sekularisasi pada animis yang beralih kepada agama Islam (menjadi muallaf). Ini berarti, tauhid telah membuat muallaf mengalami sekularisasi besarbesaran. Padahal, muallaf itu mengalami islamisasi, menjadi Islam, berakidah Islam, dan beridentitas Islam. Bukan menjadi sekuler atau mengalami sekularisasi. (halaman 75-76). Di sinilah, Faisal Ismail yang sekarang menjadi Guru Besar Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga, membongkar kerancuan pemikiran sang guru. Sekali lagi, penulis hanya ingin menjadi murid yang baik. Dengan saling koreksi dalam dunia intelektual inilah, bagi penulis, terjadi perdebatan dinamis yang bisa menggairahkan iklim keilmuan yang diskursif. Faisal juga menantang publik untuk mendiskusikan ulang ide Cak Nur dan kotrapemikirannya atas sang guru. (Muhammadun AS-35)