Anda di halaman 1dari 8

Pph Pasal 21

Jenis Pembayaran
A. PPh Pasal 21 yang dipotong tidak Final : 1. Pegawai Tetap Penghasilan Kena Pajak dihitung dari penghasilan bruto dikurangi dengan biaya jabatan, iuran pensiun termasuk iuran Tabungan Hari Tua/Tunjangan Hari Tua (THT) (kecuali iuran Tabungan Hari Tua/THT pegawai negeri sipil/anggota ABRI/pejabat negara), dan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Tarif yang digunakan sama dengan tarif untuk pegawai tetap dikalikan dengan penghasilan bruto. a. Penghasilan Kena Pajak dihitung dari penghasilan bruto dikurangi dengan biaya pensiun dan PTKP b. Lihat Keputusan Dirjen Pajak Nomor : KEP-172/PJ/1999, untuk melihat besarnya Iuran Pensiun. c. PTKP sama dengan PTKP untuk pegawai tetap. d. Tarif yang digunakan sama dengan tarif untuk pegawai tetap. Tarif sebesar 10% diterapkan atas upah harian, upah mingguan, dan uang saku harian yang jumlahnya melebihi Rp 14.400,00 tetapi tidak melebihi Rp 144.000,00 dalam satu bulan takwim dan atau tidak dibayarkan secara bulanan. Bila dalam satu bulan takwim jumlahnya melebihi Rp 144.000,00 maka besarnya PTKP yang dapat dikurangkan untuk satu hari adalah sesuai dengan jumlah PTKP yang sebenarnya dari penerima penghasilan yang bersangkutan dibagi dengan 360.

Tarif dan Cara Perhitungan

2. Mantan Pegawai yang menerima Jasa Produksi, Tantiem, Gratifikasi dan Bonus 3. Pensiunan dan Penerima Pembayaran berkala lainnya

4.

Pegawai harian / Mingguan a. upah/uang saku harian adalah upah yang terutang atau dibayarkan atas dasar jumlah hari kerja; b. upah mingguan adalah upah yang terutang atau dibayarkan secara mingguan;

5.

Pegawai Satuan upah satuan adalah upah yang terutang atau dibayarkan atas dasar banyaknya satuan yang dihasilkan;

Tarif sebesar 10% diterapkan atas upah satuan yang jumlahnya melebihi Rp 14.400,00 tetapi tidak melebihi Rp 144.000,00 dalam satu bulan takwim dan atau tidak dibayarkan secara bulanan. Bila dalam satu bulan takwim jumlahnya melebihi Rp 144.000,00 maka besarnya PTKP yang dapat dikurangkan untuk satu hari adalah sesuai dengan jumlah PTKP yang sebenarnya dari penerima penghasilan yang bersangkutan dibagi dengan 360.

6.

Pegawai Borongan upah borongan adalah upah

Tarif sebesar 10% diterapkan upah borongan yang jumlahnya melebihi Rp 14.400,00 tetapi tidak melebihi Rp 144.000,00 dalam satu bulan takwim dan atau tidak

yang terutang atau dibayarkan atas dasar penyelesaian pekerjaan tertentu.

dibayarkan secara bulanan. Bila dalam satu bulan takwim jumlahnya melebihi Rp 144.000,00 maka besarnya PTKP yang dapat dikurangkan untuk satu hari adalah sesuai dengan jumlah PTKP yang sebenarnya dari penerima penghasilan yang bersangkutan dibagi dengan 360.

7. Pegawai Honorer,Pegawai Tidak Tetap,Magang

a. Penghasilan Kena Pajak dihitung dari penghasilan bruto dikurangi dengan PTKP. b. PTKP sama dengan PTKP untuk pegawai tetap. c. Tarif yang digunakan sama dengan tarif untuk pegawai tetap. a. honorarium, uang saku, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, komisi, bea siswa, dan pembayaran lain dengan nama apapun sebagai imbalan atas jasa atau kegiatan yang jumlahnya dihitung tidak atas dasar banyaknya hari yang diperlukan untuk menyelesaikan jasa atau kegiatan yang diberikan; b. honorarium yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang sama; c. Tarif yang digunakan sama dengan tarif untuk pegawai tetap dikalikan dengan penghasilan bruto.

8.

Penerima Honorarium

9. Penghasilan yg diterima atau diperoleh sehubungan dengan kegiatan Multilevel Marketing

a. Penghasilan kena pajak yaitu penghasilan bruto dikurangi


PTKP

b. Tarif yang digunakan sama dengan tarif untuk pegawai


tetap dikalikan dengan Penghasilan Kena Pajak 20 % x Jumlah Bruto (pasal 21/26) a. Tarif yang digunakan adalah sebesar 15% dari perkiraan penghasilan neto yang dibayarkan atau terutang. b. Perkiraan penghasilan neto adalah sebesar 40 % dari penghasilan bruto berupa honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun.

10. Pegawai dengan status Wajib Pajak Luar Negeri 11. Penerima Imbalan Jasa (Orang Pribadi)

B. PPh Pasal 21 yang dipotong Final : 1. Uang tebusan pensiun yang dibayar oleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan Tunjangan

Lihat Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 462/KMK.04/1998 mengenai pemotongan pasal 21 yg bersifat Final. Apabila penghasilan bruto tidak lebih dari Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) sebesar 10 % (sepuluh persen) dari Jumlah bruto ; Apabila penghasilan bruto lebih dari Rp.

Hari Tua atau Tabungan Hari Tua yang dibayarkan sekaligus oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tanaga Kerja ;

25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) sebesar 15 % (lima belas persen) dari jumlah bruto. Dikecualikan dari pemotongan Pajak Penghasilan apabila penghasilan bruto jumlahnya Rp. 8.640.000,- (delapan juta enam ratus empat puluh ribu rupiah) atau kurang.

2. Uang Pesangon ;

Apabila penghasilan bruto tidak lebih dari Rp. 25.000.000,(dua puluh lima juta rupiah) sebesar 10 % (sepuluh persen) dari jumlah bruto ; Apabila penghasilan bruto lebih dari Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) sebesar 15 % (lima belas persen) dari jumlah bruto. Dikecualikan dari pemotongan Pajak Penghasilan apabila penghasilan bruto jumlahnya Rp. 17.280.000,- (tujuh belas juta dua ratus delapan puluh ribu rupiah).

2. Penerima Hadiah atau Penghargaan Perlombaan 3. Petugas Dinas Luar Asuransi dan Petugas Penjaja Barang yang menerima komisi 4. Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota ABRI, dan Pensiunan yang menerima Honorarium dan Imbalan lain yang

Dipotong Pajak Penghasilan sebesar 15 % (lima belas persen) dari jumlah bruto Atas komisi yang diterima diterapkan tarif sebesar 10% dengan syarat petugas tersebut bukan pegawai tetap.

Pph Pasal 23
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21. Pemotong PPh Pasal 23: badan pemerintah,Wajib Pajak badan dalam negeri, penyelenggaraan kegiatan, bentuk usaha tetap (BUT), perwakilan perusahaan luar negeri lainnya, Wajib Pajak Orang pribadi dalam negeri tertentu yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak. 15 % dari jumlah bruto atas: dividen, bunga, dan royalti, hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong PPh pasal 21. 15% dari perkiraan penghasilan neto atas sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Tarif, perkiraan penghasilan neto, dan objeknya adalah: 15 % x 20 % dari jumlah bruto atas sewa penggunaan harta khusus kendaraan angkutan darat, 15 % x 40 % dari jumlah bruto atas sewa lainnya (tidak termasuk sewa tanah dan bangunan).

15% dari imbalan jasa lainnya : DPP-nya 50% dari jumlah bruto (tidak termasuk PPN): a). Jasa profesi. b). Jasa konsultan, kecuali konsultan konstruksi c). Jasa akuntansi dan pembukuan d). Jasa penilai e). Jasa aktuaris DPP-nya 40% dari jumlah bruto (tidak termasuk PPN): a). Jasa tehnik dan jasa manajemen. b). Jasa perancang / desain : Jasa perancang interior dan jasa perancang pertamanan, Jasa perancang mesin dan jasa perancang peralatan, Jasa perancang alat-alat transportasi/kendaraan, Jasa perancang iklan/logo, Jasa perancang alat kemasan. c). Jasa instalasi/pemasangan : Jasa instalasi/pemasangan mesin, listrik / telepon / air / gas / AC / TV Kabel, kecuali dilakukan Wajib Pajak yang ruang lingkup pekerjaannya dibidang konstruksi dan mempunyai izin/sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi, Jasa instalasi/pemasangan peralatan, d). Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan, Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan mesin, listrik / telepon / air / gas / AC / TV kabel, Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan peralatan, Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan alatalat transportasi / kendaraan, Jasa perawatan / pemeliharaan / perbaikan bangunan, kecuali yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang lingkup pekerjaannya di bidang konstruksi dan mempunyai izin / sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi. e). Jasa pengeboran (jasa drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi (migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap. f). Jasa penunjang dibidang penambangan migas. g). Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain migas. h). Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara. i). Jasa penebangan hutan, termasuk land clearing. j). Jasa pengolahan/pembuangan limbah.

k). Jasa maklon. l). Jasa rekruitmen/penyediaan tenaga kerja. m). Jasa perantara. n). Jasa dibidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang dilakukan oleh BEJ, BES, KSEI dan KPEI. o). Jasa kustodian/penyimpanan/penitipan, kecuali yang dilakukan KSEI dan tidak termasuk sewa gudang yang telah dikenakan PPh final berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 p). Jasa telekomunikasi yang bukan untuk umum q). Jasa pengisian sulih suara (dubbing) dan/atau mixing film. r). Jasa pemanfaatan informasi dibidang teknologi, termasuk jasa internet. s). Jasa sehubungan dengan software komputer, termasuk perawatan/pemeliharaan dan perbaikan.

Pph Pasal 4 ayat 2


No Urut 1 Penghasilan Tarif % 20 Ketentuan Berlaku

Bunga Deposito/Tabungan, Diskonto SBI dan Jasa Giro****

bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi^ bunga obligasi ^^^ (adalah surat utang dan SUN yang lebih dari 12 bulan) : bunga dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak

10

3a.

15

Pasal 4 (2) a UU PPh jo PP 131 Nomor Tahun 2000 Jo KMK 51/KMK.04/2001 Pasal 4(2) a dan Pasal 17 (7) Jo PP No.15 Tahun 2009 Pasal 4 (2) a UU PPh jo PP Nomor 16 Tahun 2009 s.d.a

3b. 3c. 3d. 3e. 3f. 3g.

3h.

3i.

4 5

dalam negeri dan BUT bunga dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak LN Non BUT seusai P3B diskonto dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak dalam negeri dan BUT* Diskonto dari Obligasi dengan kupon bagi Wajib Pajak LN Non BUT sesuai P3B* diskonto dari Obligasi tanpa bunga bagi Wajib Pajak dalam negeri dan BUT** diskonto dari Obligasi tanpa bunga bagi Wajib Pajak LN Non BUT sesuai P3B** bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan untuk tahun 2009 s.d 2010 bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan untuk tahun 2011 s.d. tahun 2013 bunga dan/atau diskonto dari Obligasi yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan untuk tahun 2014 dst Deviden yang diterima/diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri hadiah undian

20 15 20 15 20 0

s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a

s.d.a

15

s.d.a

10 25

transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa*** Transaksi penjualan saham pendiri

2.5

7a

0.5

7b 8

Transaksi penjualan bukan saham pendiri Jasa Konstruksi

0.1

8a. 8b.

Pelaksana JK sertifikasi kecil Pelaksana JK tanpa sertifikasi

2 4

Pasal 17 (2c) dan Pasal 4 (2) UU PPh Pasal 4 (2) b UU PPh Jo PP No. 132 Tahun 2000 Pasal 4 (2) c UU PPh jo PP Nomor 17 Tahun 2009 PP Nomor 14 Tahun 1997 Jo KMK 282/KMK.04/1997 Jo SE 15/PJ.42/1997 dan SE 06/PJ.4/1997 s.d.a. Pasal 4 (2) c UU PPh Jo PP No. 51 Tahun 2008 Jo PP No. 40 Tahun 2009 s.d.a. s.d.a.

8c. 8d. 8e. 9

Pelaksana JK sertifikasi sedang dan besar Perancang atau pengawas JK oleh penyedia JK bersertifikasi usaha Perancang atau pengawas JK oleh penyedia JK tanpa bersertifikasi usaha Persewaan atas tanah dan/atau bangunan

3 4 6 10

s.d.a. s.d.a. s.d.a. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 jo PP No. 05 Tahun 2002 Pasal 4 (2) d UU PPh Jo PP No. 71 Thn 2008 s.d.a.

10a.

Wajib Pajak yang Melakukan Pengalihan Hak atas Tanah 5 dan/atau bangunan (termasuk usaha real estate)^* Pengalihan Rumah Sederhana dan Rumah Susun 1 Sederhana oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau bangunan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan 0.1 modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura^^

10b.

11

PP Nomor 4 Tahun 1995

PPN
a. b. c. Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen). Tarif Pajak Pertambahan Nilai atas ekspor Barang Kena Pajak adalah 0% (nol persen). Dengan Peraturan Pemerintah, tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5% (lima persen) dan setinggi-tingginya 15% (lima belas persen). d. Menghitung tariff pajak : Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 UU PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak.

Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk Masa Pajak
yang sama.

Dalam hal belum ada Pajak Keluaran dalam suatu Masa Pajak, maka Pajak Masukan tetap
dapat dikreditkan.

Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka
selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak.

Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada
Pajak Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dimintakan kembali atau dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.

Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang
terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak.

Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang
terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Pengusaha yang dikenakan Pajak
Penghasilan dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, dapat dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

NAMA : RENDA RAMAYANTI NPM : 0111U179 KELAS :D