Anda di halaman 1dari 5

ANALISA KASUS TB paru adalah infeksi kronik pada paru yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis, ditandai

dengan pembentukan granuloma dan adanya reaksi hipersensitifitas tipe lambat.2 Sumber penularan umumnya adalah penderita Tb yang dahaknya mengandung Basil Tahan Asam(BTA).5,8, !iagnosis tuberkulosis paru dapat ditegakkan berdasarkan ge"ala klinis#pemeriksaan fisik, foto toraks, pemeriksaan sputum BTA dan laboratorium penun"ang. $e"ala klinis pada penderita Tb paru dibagi men"adi ge"ala sistemik dan ge"ala respiratorik. $e"ala sistemik berupa demam dan berkeringat pada malam hari, badan terasa lemah, kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan. $e"ala respiratorik berupa batuk, sesak napas dan rasa nyeri dada. Batuk biasanya lebih dari % minggu, kering sampai produktif dengan sputum mukoid atau purulen. Batuk darah dapat ter"adi bila ada pembuluh darah yang robek, sesak napas biasanya ter"adi pada penyakit yang sudah lan"ut.&,',( )ada pasien ini, ditemukan ge"ala klinis berupa batuk* % minggu, sesak nafas, keringat dan demam lama pada malam hari, serta nafsu makan dan berat badan menurun. !iagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik sangat tergantung pada luas dan kelainan struktural paru. )emeriksaan fisik dapat normal pada lesi minimal, kelainan umumnya terletak pada daerah apikal#posterior lobus atas dan daerah apikal lobus ba+ah. ,elainan yang dapat ditemukan antara lain berupa bentuk dada yang tidak simetris, pergerakan paru yang tertinggal, peningkatan stem fremitus, redup pada perkusi, suara napas bronkial#amforik# -esikuler melemah,#ronkhi basah ataupun tanda.tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.&,( ,elainan pulmo yang dapat ditemukan pada Tn. /u adalah sela iga melebar, retraksi dinding dada, pada inspeksi. Sedangkan pada palpasi dan perkusi, serta auskultasi ditemukan stemfremitus kanan 0 kiri, redup pada kedua lapangan paru, serta -esikuler (1) kanan 0 kiri, ronkhi basah sedang di kedua lapangan paru.

&5

!ari pemeriksaan foto toraks standar pada TB paru yaitu foto toraks )A dan lateral ditemukan gambaran lesi yang menyokong ke arah TB paru aktif biasanya berupa infiltrat nodular berbagai ukuran di lobus atas paru, ka-itas (terutama lebih dari satu), ber2ak milier ataupun adanya efusi pleura unilateral. $ambaran lesi tidak aktif biasanya berupa fibrotik, atelektasis, kalsifikasi, penebalan pleura, penarikan hilus dan de-iasi trakea. ( Berdasarkan luas lesi pada paru, ATS (American Thoracic Society) membaginya atas lesi minimal, lesi sedang dan lesi luas.&,( )ada foto toraks pasien ini tampak gambaran lesi berupa infiltrat di 2#% medial paru kanan dan &#% medial paru kiri. 3uga dapat ditemukan tenting di diafragma kanan. Berdasarkan gambaran lesi tersebut, luas lesi paru pada pasien ini termasuk dalam lesi luas. Selain itu, kita dapat menegakkan diagnosis paru berdasarkan hasil laboratorium. )emeriksaan BTA (Basil Tahan Asam) sangat penting dalam menegakkan diagnosis TB )aru. !ahak terbaik adalah dahak pagi hari sebelum makan, kental, purulen, dengan "umlah minimal %.5 ml. !ahak diperiksa % hari berturut.turut dengan pe+arnaan 4iel /eelsen atau ,inyoun $abbet. 5ntuk lebih efisien, !epkes 67 mengan"urkan pengambilan dahak S)S (Se+aktu, )agi, Se+aktu) yang dikumpulkan dalam 2 hari. BTA dikatakan positif bila BTA di"umpai setidaknya pada dua dari tiga pemeriksaan BTA. ,ultur lebih sensitif dibanding BTA, namun membutuhkan +aktu lebih lama ('.8 minggu). 8etode yang dipakai antara lain 9o+enstein 3ensen, :ga+a dan ,udoh. ;asil pemeriksaan BTA sputum Tn. /u 1% pada BTA 7, 77, 777. ;asil pemeriksaan darah rutin kurang spesifik untuk TB paru. ,elainan yang sering di"umpai adalah anemia, peningkatan la"u endap darah, lekositosis dan limfositosis.& )ada pasien ini hanya ditemukan anemia dan peningkatan la"u endap darah. Terminologi tipe penderita Tb dibagi men"adi enam kelompok, yaitu kasus baru, kasus kambuh, kasus gagal, kasus pindahan, kasus berobat setelah lalai, dan kasus kronik. ,asus baru adalah penderita Tb paru yang belum pernah mendapat :AT atau yang pernah mendapat :AT tetapi kurang dari satu bulan. ,asus kambuh adalah penderita Tb paru dengan BTA positif yang sebelumnya sudah

&'

dinyatakan sembuh, tetapi kini datang lagi dan pada pemeriksaan BTA memberikan hasil positif. ,asus gagal adalah penderita Tb paru dengan BTA positif yang sudah mendapat :AT, tetapi sputum BTA positif pada & bulan sebelum akhir akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan. Batasan ini "uga berlaku untuk penderita Tb paru dengan BTA negati-e yang sudah mendapat :AT, tetapi sputum BTA "ustru men"adi positif pada akhir pengobatan fase a+al. ,asus pindahan adalah penderita Tb paru dari kabupaten#kota lain yang sekarang menetap di kabupaten#kota ini. ,asus berobat setelah lalai adalah penderita Tb paru yang menghentikan pengobatan (2 bulan atau lebih) dalam keadaan belum dinyatakan sembuh dan kini dating lagi untuk berobat dengan BTA positif. ,asus kronik adalah penderita Tb paru dengan BTA yang tetap positif, +alaupun sudah mendapatkan ulang yang adekuat dengan penga+asan yang baik. ( )asien ini mempunyai ri+ayat minum :AT pada tahun 2<<' selama 5 bulan dan berhenti sendiri. 3adi pasien ini termasuk pasien dengan kasus lalai. Terminologi diagnosis dibagi dalam % kelompok, yaitu Tb paru BTA positif, Tb paru BTA negatif dan bekas Tb paru. =ang termasuk Tb paru BTA positif apabila sputum BTA positif * 2 kali, sputu BTA positif * & kali dengan kultur positif atau sputum BTA positif * & kali dengan klinis#radiologist sesuai dengan Tb paru. Tb paru negatif apabila klinis dan radiologist sesuai dengan Tb paru, sputum BTA negatif dan kultur negatif atau positif. Bekas Tb paru apabila sputum dan kultur negatif, ge"ala klinis tidak menun"ang dan gambaran radiologis menun"ukkan gambaran tak aktif.( 8edikamentosa obat anti Tuberkulosis dibagi > kategori. %

&(

Regimen pengobatan Kriteria penderita Kategori I Kasus baru BTA (+) Kasus baru BTA (-) Ro (+) sakit berat Kasus TBEP berat II Kasus BTA !ositi" Ka#bu$ %a&a' Putus berobat III Kasus baru BTA (-) TBEP ri*&a* 2 RHZES atau ( RHZE 2 RHZES atau ( RHZE* 2 RHZ 2 RHZ 2 RHZ* I+ Kasus kro*ik ,bat-obat seku*-er 6 EH 4 RH 4R H * ) RHE )R H E * Fase Awal 2 RHZE (RHZS) 2 RHZE (RHZS) 2 RHZE (RHZS)* Fase lanjutan 6 EH 4 RH 4R H *

:leh karena pasien ini termasuk dalam kategori kasus lalai, "adi perlu diobati dengan :AT kategori 77, dengan regimen 6ifampisin, 7/;, )ira?inamid, @tambutol, dan Streptomisin selama 2 bulan 1 & bulan tambahan tanpa streptomisin. ,emudian dilan"utkan dengan 5 bulan 6ifampisin, 7/;, dan @tambutol. )asien ini "uga mengeluh nyeri tenggorokan dan suara serak, kemungkinan pasien ini menderita laryngitis Tb. ;al ini bisa sa"a ter"adi berdasarkan hasil pemeriksaan BTA sputum yang kita dapatkan. ,etiga BTA sputum 111 yang berarti "umlah mi2oba2terium yang banyak dan aktif, ditandai dengan lesi yang luas, mungkin sa"a akan dapat menginfeksi saluran nafas. 5ntuk itulah, pasien ini dikonsultasikan ke bagian T;T dan disarankan untuk dilakukan s+ab laring. )asien ini "uga didiagnosis menderita pneumonia atypi2al dan malnutrisi. )enatalaksanaan pneumonia atypi2al pasien ini dengan memberikan AefotaBim in"eksi 2B& gr. Sedangkan malnutrisinya diatasi dengan memberikan diet tinggi kalori tinggi protein, dengan kalori & << kkal dan protein sebesar 2.> gr#kg BB.

&8

!ari hasil pemeriksaan kimia klinik Tn. /u didapatkan kadar albumin yang rendah, yaitu 2,< gr#dl. 5ntuk mengatasinya, diberikan human albumin sebanyak % botol. )asien "uga mengalami keadaan hiponatremi yang dikoreksi dengan intravenous fluid drip /aAl % C. !ari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penun"ang, pasien ini kami diagnosa sebagai ,asus lalai Tb paru lesi luas BTA (1) 1 suspek laryngitis Tb 1
pneumoni atypi2al 1 malnutrisi 1 hiponatremi.

&