Anda di halaman 1dari 14

TOPIK 5

5.1 Teori Akuntansi Sektor Publik


Teori akuntansi memiliki kaitan yang erat dengan akuntansi keuangan, terutama dalam hal pelaporan keuangan kepada pihak eksternal. Pada dasarnya, terdapat 3 tujuan mempelajari teori akuntansi yaitu: 1. Untuk memahami praktik akuntansi yang ada saat ini. 2. Mempelajari kelemahan dan kekurangan dari praktik akuntansi yang dilakukan saat ini. 3. Memperbaiki praktik akuntansi di masa yang akan datang. Akuntansi sektor publik merupakan salah satu cabang dari ilmu akuntansi itu sendiri. Oleh karena itu, pengembangan teori akuntansi sektor publik sangat tergantung pada perkembangan ilmu akuntansi. Hal ini terkait dengan upaya meningkatkan kualitas laporan keuangan sektor publik, yakni laporan keuangan yang mampu menyajikan informasi keuangan yang relevan dan dapat diandalkan. Untuk menghasilkan laporan keuangan sektor publik yang relevan dan dapat diandalkan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi akuntansi sektor publik, seperti: a. Objektivitas b. Konsistensi c. Daya banding d. Tepat waktu e. Ekonomis dalam penyajian laporan f. Materialitas

5.2 Sistem Akuntansi Sektor Publik


Ruang lingkup akuntansi keuangan pemerintah meliputi semua kegiatan yang mencakup pengumpulan data, penganalisaan, pengklasifikasian, pencatatan dan pelaporan atas transaksi keuangan pemerintah sebagai suatu entitas serta penafsiran terhadap hasilnya. Masisi (1978) dalam Glynn (1993) menjelaskan aturan dasar sistem akuntansi keuangan sebagai berikut: a. Identifikasi kegiatan operasi yang relevan.

b. Pengklasifikasian kegiatan operasi secara tepat. c. Adanya sistem pengendalian untuk menjamin reliabilitas. d. Menghitung pengaruh masing masing operasi. Akuntansi keuangan sektor publik terkait dengan dengan tujuan dihasilkannya laporan eksternal dan penghitungan biaya pelayanan. Oleh karena itu, akuntansi keuangan sektor publik pada dasarnya berbicara masalah tujuan laporan keuangan sektor publik, jenis laporan, sistem akuntansi, standar akuntansi keuangan sektor publik dan akuntansi biaya sektor publik.

5.3 Standar Akuntansi Sektor Publik


Penetapan standar akuntansi sangat diperlukan untuk memberikan jaminan dalam aspek konsistensi pelaporan keuangan. Tidak adanya standar akuntansi yang memadai akan menimbulkan implikasi negatif berupa rendahnya reliabilitas dan objektivitas informasi yang disajikan, inkonsistensi dalam pelaporan keuangan serta menyulitkan pengauditan. Proses penetapan dan pelaksanaan standar akuntansi sektor publik merupakan masalah yang serius bagi praktek akuntansi, profesi akuntan, dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pembuatan suatu standar mungkin dapat bermanfat bagi suatu pihak, namun dapat juga merugikan bagi pihak lain. Penentuan mekanisme yang terbaik dalam menetapkan keseragaman standar akuntansi merupakan faktor penting agar standar akuntansi dapat diterima pihak-pihak yang berkepentingan dan bermanfaat bagi pengembangan akuntansi sektor publik itu sendiri. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam penetapan standar akuntansi, antara lain: 1. Standar memberikan pedoman tentang informasi yang harus disajikan dalam laporan posisi keuangan, kinerja, dan aktivitas sebuah organisasi bagi seluruh pengguna informasi. 2. Standar memberikan petunjuk dan aturan tindakan bagi auditor yang

memungkinkan pengujian secara hati-hati dan independen saat menggunakan keahlian dan integritasnya dalam mengaudit laporan suatu organisasi serta saat membuktikan kewajaran. 3. Standar memberikan petunjuk tentang data yang perlu disajikan yang berkaitan dengan berbagai variabel yang patut dipertimbangkan dalam bidang perpajakan,

regulasi, perencanaan serta regulasi ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi serta tujuan sosial lainnya. 4. Standar menghasilkan prinsip dan teori yang penting bagi seluruh pihak yang berkepentingan dalam disiplin ilmu akuntansi. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dan penetapan standar adalah sedapat mungkin menghindari terjadinya standar yang overload. Standar yang overload terjadi ketika: a. Standar terlalu banyak, b. Standar terlalu rumit, c. Tidak ada standar yang tegas sehingga sulit untuk membuat pilihan dalam penerapannya, d. Standar mempunyai tujuan yang sifatnya umum sehingga gagal dalam menyajikan perbedaan kebutuhan diantara para penyaji dan pengguna. e. Standar kurang spesifik sehingga gagal dalam mengidentifikasi perbedaan antara: entitas publik dan non publik, laporan keuangan tahunan dan interim, organisasi besar dan kecil serta laporan keuangan auditan dan non auditan. f. Pengungkapan yang berlebihan, pengukuran yang terlalu kompleks dan kedua-duanya.

5.4 Teknik Teknik Akuntansi Keuangan Sektor Publik


Teknik akuntansi keuangan yang dapat diadopsi oleh sektor publik: a. Akuntansi Anggaran Merupakan teknik akuntansi yang menyajikan jumlah yang dianggarkan dengan jumlah aktual dan dicatat secara berpasangan (double entry). Lebih menekankan pada bentuk dari akun-akun keuangan bukan pada isi akun tersebut. Dapat membandingkan secara sistematik dan kontinyu jumlah anggaran dengan realisasi anggaran, sehingga dapat dilakukan tindakan koreksi bila terdapat varians. Tujuannya untuk menekankan peran anggaran dalam siklus perencanaan, pengendalian, dan akuntabilitas. Kelemahannya teknik ini sangat kompleks. b. Akuntansi Komitmen

Akuntansi komitmen adalah sistem akuntansi yang mengakui transaksi dan mencatatnya pada saat order dikeluarkan. Tujuannya untuk pengendalian anggaran, agar tidak over-commit the budget. Masalahnya, akun yang dicatat hanya didukung oleh order yang dikeluarkan, tak ada legal-liability untuk patuh pada order yang terjadi dan order tersebut dapat dengan mudah dibatalkan. Sehingga sulit untuk mengakui biaya untuk periode tertentu yang didasarkan pada order yang dikeluarkan c. Akuntansi Dana Masalah utama orang publik adalah pencarian sumber dan alokasi dana. Teori akuntansi dana dikembangkan oleh Vatter (1947) untuk tujuan organisasi bisnis. Dengan melihat beberapa kelemahan perusahaan pribadi dengan perusahaan badan, yaitu : 1. Perusahaan perorangan (milik pribadi) kurang menguntungkan daripada perusahaan milik publik/PT. 2. Adanya kesalahan dalam memahami makna entitas. d. Akuntansi Kas Penerapan akuntansi kas yaitu pendapatan dicatat pada saat kas diterima dan pengeluaran dicatat ketika kas dikeluarkan. Kelebihannya, mencerminkan

pengeluaran yang aktual, riil dan obyektif. Namun GAAP tidak menganjurkan pencatatan dengan dasar kas karena tidak dapat mencerminkan kinerja sesungguhnya. e. Akuntansi Akrual Akuntansi akrual dianggap lebih baik daripada akuntansi kas. Akuntansi akrual diyakini dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih dapat dipercaya, akurat, komprehensif dan relevan untuk pengambilan keputusan ekonomi, sosial dan politik. Pengaplikasian akrual basis dalam akuntansi sektor publik adalah untuk menentukan cost of services dan charging for services, yaitu untuk mengetahui besarnya biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan pelayanan publik serta penentuan harga

pelayanan yang dibebankan kepada publik. Aplikasi akrual basis sektor swasta digunakan untuk proper matching cost againts revenue. Perbedaan ini disebabkan karena pada sektor swasta lebih profit oriented, sedangkan sektor publik pada public service oriented. Teknik akuntansi tersebut tidak bersifat mutually, artinya penggunaan satu teknik tidak berarti menolak penggunaan teknik lain. Single Entry dan Double Entry Single entry digunakan sebagai dasar pembukuan dengan alasan kemudahan dan kepraktisan. Namun tidak dapat memberikan informasi yang komprehensif dan

mencerminkan kinerja sesungguhnya. Tuntutan good governance (transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan organisasi sektor publik) menjadikan perubahan dari sistem single entry menjadi double entry sebagai solusi mendesak diterapkan. Aplikasi pencatatan transaksi dengan sistem double entry ditujukan untuk: 1. Menghasilkan laporan keuangan yang auditable dan traceable yang merupakan faktor utama menghasilkan informasi keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. 2. Dapat dilakukan pengukuran kinerja secara lebih tepat.

5.5 Laporan Keuangan Sektor Publik


Akuntansi sektor publik memiliki peran penting untuk menyiapkan laporan keuangan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan akuntabilitas publik. Akuntansi dan laporan keuangan mengandung pengertian sebagai suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan pengkomunikasian informasi yang bermanfaat untuk pembuatan keputusan dan untuk menilai kinerja organisasi. Informasi keuangan berfungsi memberikan dasar pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Informasi akuntansi merupakan alat untuk melaksanakan akuntabilitas sektor publik secara efektif, bukan tujuan akhir sektor publik itu sendiri. Karena kebutuhan informasi di sektor publik lebih bervariasi, maka informasi tidak terbatas pada informasi keuangan yang dihasilkan dari sistem akuntansi organisasi. Informasi nonmoneter seperti ukuran output pelayanan harus juga dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan.

Organisasi sektor publik dituntut untuk dapat membuat laporan keuangan eksternal yang meliputi laporan keuangan formal, seperti Laporan Surplus/Defisit, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Rugi/Laba, Laporan Aliran Kas, Neraca, serta Laporan Kinerja yang dinyatakan dalam ukuran finansial dan non-finansial. Terdapat beberapa alasan mengapa perlu dibuat laporan keuangan. Dilihat dari sisi manajemen perusahaan, laporan keuangan merupakan alat pengendalian dan evaluasi kinerja manajerial dan organisasi. Sedangkan dari sisi pemakai eksternal, laporan keuangan merupakan salah satu bentuk mekanisme pertanggungjawaban dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Organisasi sektor publik diwajibkan untuk membuat laporan keuangan dan laporan tersebut perlu diaudit untuk menjamin telah dilakukannya true and fair presentation.

5.6 Tujuan dan Fungsi Laporan Keuangan Sektor Publik


Secara umum, tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik adalah : 1. Kepatuhan dan Pengelolaan (compliance and stewardship) Laporan keuangan digunakan untuk memberikan jaminan kepada pengguna laporan keuangan dan pihak otoritas penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan lain yang telah ditetapkan. 2. Akuntabilitas dan Pelaporan Retrospektif (accountability and retrospective reporting). Laporan keuangan digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik, untuk memonitor kinerja dan mengevaluasi manajemen, memberikan dasar untuk mengamati trend antar kurun waktu, pencapaian atas tujuan yang telah ditetapkan, dan membandingkannya dengan kinerja organisasi lain yang sejenis jika ada serta memungkinkan pihak luar untuk memperoleh informasi biaya atas barang dan jasa yang diterima dan untuk menilai efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya organisasi. 3. Perencanaan dan Informasi Otorisasi (planning and authorization information) Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang dan untuk memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana.

4. Kelangsungan Organisasi (viability) Laporan keuangan berfungsi untuk membantu pembaca dalam menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat meneruskan menyediakan barang dan jasa (pelayanan) di masa yang akan datang. 5. Hubungan Masyarakat (public relation) Laporan keuangan berfungsi untuk memberikan kesempatan kepada organisasi, untuk mengemukakan pernyataan atas prestasi yang telah dicapai kepada pemilik yang dipengaruhi karyawan dan masyarakat serta sebagai alat komunikasi dengan publik dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. 6. Sumber Fakta dan Gambaran (source of facts and figures) Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi kepada kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara lebih mendalam. Secara rinci tujuan akuntansi dan laporan keuangan organisasi pemerintah adalah : 1. Memberikan informasi keuangan untuk menemukan dan memprediksi aliran kas, saldo neraca dan kebutuhan sumber daya finansial jangka pendek unit pemerintah. 2. Memberikan informasi keuangan untuk menentukan dan memprediksi kondisi ekonomi suatu unit pemerintahan dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. 3. Memberikan informasi keuangan untuk memonitor kinerja, kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan, kontrak yang telah di sepakati dan ketentuan lain yang di syaratkan. 4. Memberikan informasi untuk perencanaan dan penganggaran, serta untuk memprediksi pengaruh akuisisi dan alokasi sumber daya terhadap pencapaian tujuan operasional. 5. Memberikan informasi untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan operasional. Laporan keuangan untuk mendukung pembuatan keputusan ekonomi, sosial, dan politik tersebut meliputi informasi yang digunakan untuk : a. Membandingkan kinerja keuangan aktual dengan yang dianggarkan. b. Menilai kondisi keuangan dan hasil-hasil operasi.

c. Membantu menentukan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang terkait dengan masalah keuangan lainnya. d. Membantu dalam mengevaluasi efisiensi dan efektivitas.

5.7 Tujuan Laporan Keuangan Menurut SFAC No 4


Tujuan laporan keuangan organisasi nirlaba dalam SFAC 4 tersebut adalah: 1. Laporan keuangan organisasi non-bisnis hendaknya dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi penyedia dan calon penyedia sumber daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam pembuatan keputusan yang rasional mengenai alokasi sumber daya organisasi. 2. Memberikan informasi untuk membantu para penyedia dan calon penyedia sumber daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam menilai pelayanan yang diberikan oleh organisasi non-bisnis serta kemampuannya untuk melanjutkan member pelayanan tersebut. 3. Memberikan informasi yang bermanfaat bagi penyedia dan calon penyedia sumber daya, serta pemakai dan calon pemakai lainnya dalam menilai kinerja manajer organisasi nonbisnis atas pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan serta aspek kinerja lainnya. 4. Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, kewajiban, dan kekayaan bersih organisasi, serta pengaruh dari transaksi, peristiwa dan kejadian ekonomi yang mengubah sumber daya dan kepentingan sumber daya tersebut. 5. Memberikan informasi mengenai kinerja organisasi selama satu periode. Pengukuran secara periodik atas perubahan jumlah dan keadaan/kondisi sumber kekayaan bersih organisasi non-bisnis serta informasi mengenai usaha dan hasil pelayanan organisasi secara bersama-sama yang dapat menunjukkan informasi yang berguna untuk menilai kinerja. 6. Memberikan informasi mengenai bagaimana oganisasi memperoleh dan

membelanjakan kas atau sumber daya kas, mengenai utang dan pembayaran kembali utang dan mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi likuiditas organisasi.

7. Memberikan penjelasan dan interprestasi untuk membantu pemakai dalam memahami informasi keuangan yang diberikan.

5.8 Pemakai Laporan Keuangan Sektor Publik dan Kepentingannya


Drebin et al. (1981) mengidentifikasikan terdapat sepuluh kelompok pemakai laporan keuangan. Lebih lanjut Drebin menjelaskan keterkaitan antar kelompok pemakai laporan keuangan tersebut dan menjelaskan kebutuhannya. Kesepuluh kelompok pamakai laporan keuangan tersebut adalah: 1. Pembayar pajak (taxpayers) 2. Pemberi dana bantuan (grantors) 3. Investor 4. Pengguna jasa (fee-paying service recipients) 5. Karyawan/pegawai 6. Pemasok (vendor) 7. Dewan legislatif 8. Manajemen 9. Pemilih (voters) 10. Badan pengawas (oversight bodies) Pengklasifikasian tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa pembayar pajak, pemberi dana bantuan, investor, dan pembayar jasa pelayanan merupakan sumber penyedia keuangan organisasi, karyawan dan pemasok merupakan penyedia tenaga kerja dan sumber daya material, dewan legislatif dan manajemen membuat keputusan alokasi sumber daya dan aktivitas mereka semua diawasi oleh pemilih dan badan pengawas, termasuk level pemerintahan yang lebih tinggi. Anthony mengklasifikasikan pemakai laporan keuangan sektor publik menjadi lima kelompok, yaitu: 1. Lembaga pemerintah (governing bodies) 2. Investor dan kreditor 3. Pemberi sumber daya (resource providers) 4. Badan pengawas (oversight bodies) 5. konstituen

Pengklasifikasian pemakai laporan keuangan yang dilakukan Anthony adalah dengan mempertimbangkan semua organisasi nonbisnis, bukan untuk organisasi pemerintahan saja sedangkan Drebin et al. mengklasifikasikan pemakai laporan keuangan untuk sektor pemerintahan saja. Jika dibandingkan dengan analisis Drebin et al., Anthony memasukkan pembayar pajak, pemilih dan karyawan dalam satu kelompok yang ia sebut konstituen, ia mengelompokkan pemberi dana bantuan dan pembayar jasa sebagai pemberi sumber daya, investor dan kreditor dikelompokkan menjadi satu. Sementara itu, Hanley et al. (1992) mengklasifikasikan pengguna laporan keuangan sektor publik menjadi dua belas kelompok, yaitu: 1. Anggota terpilih (elected members) 2. Masyarakat sebagai pemilih dan/atau pembayar pajak 3. Pelanggan atau klien 4. Karyawan/pegawai 5. Pelanggan dan pemasok 6. Pemerintah 7. Pesaing (competitors) 8. Regulator 9. Pemberi pinjaman (lenders) 10. Donor dan sponsor 11. Investor atau partner bisnis 12. Kelompok penekan lainnya Pengklasifikasian pemakai laporan keuangan sektor publik menurut Borgonovi dan Anessi-Pessina (1997): 1. Masyarakat pengguna jasa publik 2. Masyarakat pembayar pajak 3. Perusahaan dan organisasi sosial ekonomi yang menggunakan pelayanan publik sebagai input atas aktivitas organisasi 4. Bank dan masyarakat sebagai kreditor pemerintah 5. Badan-badan international, seperti Bank Dunia, IMF, ADB, PBB, dan sebagainya. 6. Investor asing dan Country Analyst 7. Generasi yang akan datang 8. Lembaga Negara

9. Partai Politik 10. Manajer Publik 11. Pegawai Pemerintah Serikat dagang sektor publik GASB (1999, p. B184) mengidentifikasikan pemakai laporan keuangan pemerintah menjadi 3 kelompok besar yaitu: 1. Masyarakat yang kepadanya pemerintah bertanggung jawab. 2. Legislatif dan Badan Pengawasan yang secara langsung mewakili rakyat. 3. Investor dan kreditor.

5.9 Hak dan Kebutuhan Pemakai Laporan Keuangan


Pada dasarnya masyarakat (publik) memiliki hak dasar terhadap pemerintah, yaitu : a. Hak untuk mengetahui (right to know), yaitu : Mengetahui kebijakan pemerintah Mengetahui keputusan yang diambil pemerintah Mengetahui alasan dilakukannya suatu kebijakan dan keputusan tertentu b. Hak untuk diberi informasi (right to be informed ) yang meliputi hak untuk diberi penjelasan secara terbuka atas permasalahan permasalahan tertentu yang menjadi perdebatan publik. c. Hak untuk didengar aspirasinya ( right to be heard and to be listen to ). Kebutuhan informasi pemakai laporan keuangan pemerintah tersebut dapat diringkas sebagai berikut : 1. Masyarakat pengguna pelayanan publik membutuhkan informasi atas biaya, harga dan kualitas pelayanan yang diberikan. 2. Masyarakat pembayar pajak dan pemberi bantuan ingin mengetahui keberadaan dan penggunaan dana yang telah diberikan. Publik ingin mengetahui apakah pemerintah melakukan ketaatan fiskal dan ketaatan pada peraturan perundangan atas pengeluaran yang dilakukan. 3. Kreditor dan investor membutuhkan informasi untuk menghiitung tingkat risiko, likuiditas dan solvabilitas.

4. Parlemen dan kelompok politik memerlukan informasi keuangan untuk melakukan fungsi pengawasan, mencegah terjadinya laporan yang bias atas kondisi keuangan pemerintah dan penyelewengan keuangan negara. 5. Manajer publik membutuhkan informasi akuntansi sebagai komponen sistem informasi manajemen untuk membantu perencanaan dan pengendalian organisasi, pengukuran kinerja dan membandingkan kinerja organisasi antar kurun waktu dan dengan organisasi lain yang sejenis. 6. Pegawai membutuhkan informasi atas gaji dan manajemen kompensasi.

5.10 Perbedaan Laporan Keuangan Sektor Publik dengan Sektor Swasta


PERBEDAAN Laporan Departemen Pemerintah Fokus Finansial dan Politik Laporan Keuangan Sektor Swasta Fokus Finansial

Kinerja diukur secara finansial dan non- Sebagian besar diukur secara finansial finansial Pertanggungjawaban kepada pemegang Pertanggungjawaban kepada parlemen dan saham dan kreditur masyarakat luas Berfokus pada organisasi secara keseluruhan Berfokus pada bagian organiasasi Tidak dapat melihat masa depan secara Melihat ke masa depan secara detail detail Aturan pelaporan departemen keuangan ditentukan oleh Aturan pelaporan ditentukan oleh undang undang, standar akuntansi, pasar modal, dan praktik akuntansi. Laporan keuangan diperiksa oleh auditor independen Accrual Accounting PERSAMAAN Dokumen dokumen sumber Berperan sebagai hubungan masyarakat Laporan keuangan pemerintahan yang buruk dapat menimbulkan implikasi negatif, antara lain :

Laporan diperiksa oleh Treasury Cash Accounting

a. Menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pengelola dana publik. b. Investor akan takut menanamkan modalnya karena laporan keuangan tidak dapat diprediksi yang berakibat meningkatnya risiko investasi. c. Pemberi donor akan mengurangi atau menghentikan bantuannya. d. Kualitas keputusan menjadi buruk. e. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan kinerja aktual. Pemberi informasi keuangan yang tidak dapat diandalkan akan mempengaruhi kualitas keputusan baik bagi pemakai internal maupun pemakai eksternal.

5.11 Luas Pengungkapan (Disclosure) yang Diperlukan


Pemerintah harus menentukan kebijakan yang menjelaskan komponen apa saja yang dapat dikategorikan sebagai pendapatan atau biaya operasi yang tepat untuk suatu unit kerja yang dilaporkan, luas pengungkapan (disclosure) dan kebijakan kebijakan akuntansi yang dipraktikkan secara konsisten. Pemerintah diharapkan dapat memberikan tambahan informasi untuk hal hal sebagai berikut : 1. Fokus pengukuran dan dasar akuntansi yang digunakan untuk pembuatan laporan. 2. Kebijakan menghapuskan / menghentikan aktivitas internal unit kerja pada Laporan Aktivitas. 3. Kebijakan kapitalisasi aktiva dan menaksir umur ekonomi aktiva aktiva tersebut untuk menentukan biaya depresiasinya. 4. Deskripsi mengenai jenis jenis transaksi yang masuk dalam penerimaan program dan kebijakan untuk mengalokasikan biaya biaya tidak langsung kepada suatu fungsi atau unit kerja dalam Laporan Aktivitas. 5. Kebijakan pemerintah dalam menentukan pendapatan operasi dan non operasi. 6. Pemerintah harus mengungkapkan secara detail/lengkap dalam catatan (notes) laporan keuangan mengenai aset modal dan utang jangka panjang. Aset modal yang tidak didepresiasi harus diungkapkan secara terpisah dari aset modal yang didepresiasi. Informasi mengenai kewajiban jangka panjang meliputi: obligasi, utang wesel, pinjaman, utang leasing, tuntutan dan sebagainya.

REFERENSI

Prof.Dr,Mardiasmo,MBA,Ak.(2002).Akuntansi Sektor Publik.Yogyakarta.Penerbit:ANDI

http://dedew-ofthinkingabout.blogspot.com/2010/06/teknik-akuntansi-keuangandalam-sektor.html. Di akses pada tanggal 16 Oktober 2012.

http://raisa-umami.blogspot.com/2012/01/teknik-akuntansi-keuangan-sektorpublik.html. Di akses pada tanggal 16 Oktober 2012.

http://harahapinhere.blogspot.com/2009/11/laporan-keuangan-sektorpublik_14.html. Di akses pada tanggal 16 Oktober 2012.