Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN BIOLOGIS

BISNIS BEBEK HIBRIDA RAJA

Disusun Oleh: Harish Muhammad 10410017

RR. Yuliana Eka Prabandari 21312501

PROGRAM STUDI BIOMANAJEMEN SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

I. PENDAHULUAN Sejak lima tahun terakhir kuliner bebek mengalami booming. Dari hari ke hari tempat makan dengan menu olahan itik kian diburu oleh para pecinta kuliner. Peran bebek sebagai penghasil daging di Indonesia menurut data statistik pada tahun 2010 masih rendah, yaitu hanya dapat memenuhi 6,4 ribu ton dari kebutuhan bebek sebesar 14,3 ribu ton, sehingga kekurangan daging mencapai 7,9 ribu ton. (DITJENNAK, 2010). Kandungan protein pada daging bebek yang lebih banyak dari daging ayam juga turut menjadi pemicu meningkatnya konsumsi daging bebek. Menurut Piliang (2000), protein daging bebek adalah 23,5 g, sedangkan protein daging ayam adalah 18,2 g, sehingga selisih kandungan protein antara daging bebek dan ayam adalah 5,3 g. Melihat fakta meningkatnya permintaan bebek membuat usaha peternakan bebek menjadi usaha yang sangat potensial untuk dikembangkan. Bebek pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh orang India pada abad VII, terutama di Pulau Jawa melalui jalur perdagangan. Bebek adalah burung akuatik yang sebagian besar berukuran lebih kecil dibandingkan kerabatnya, angsa dan angsa berleher pendek. Secara keseluruhan tubuh bebek berlekuk dan lebar, dan memiliki leher yang relatif panjang, meski tidak sepanjang angsa. Bentuk tubuh bebek bervariasi dan umumnya membulat. Paruhnya berbentuk lebar dan mengandung lamellae yang berguna sebagai penyaring makanan. Pada spesies penangkap ikan, paruhnya berbentuk lebih panjang dan lebih kuat. Kakinya yang bersisik kuat dan terbentuk dengan baik, dan umumnya berada jauh di belakang tubuh, yang umum terdapat pada burung akuatik. Sayapnya sangat kuat dan umumnya pendek. Penerbangan bebek membutuhkan kepakan berkelanjutan sehingga membutuhkan otot sayap yang kuat. Bebek memiliki makanan yang bervariasi seperti rumput, tanaman air, ikan, serangga, amfibi kecil, cacing, dan moluska kecil. Bebek berhabitat dekat dengan daerah perairan, baik pada perairan air tawar maupun air laut. Bebek termasuk hewan berdarah panas atau homoiterm. Bebek bereproduksi dengan fertilisasi eksternal atau ovipar. Bebek secara alami umumnya monogami, meskipun hanya bertahan dalam setahun. Bebek sebagian besar berkembang biak setahun sekali pada kondisi yang sesuai (ada yang musim panas, ada yang musim semi dan ada yang musim hujan). Bebek memiliki banyak kegunaan ekonomis, untuk diternakkan demi daging, bulu, telur, dan juga kotoran mereka. Bebek yang diternakkan merupakan keturunan dari bebek liar Mallard (Anas platyrhyncos) Klasifikasi Bebek Kerajaan : Animalia Filum : Chordata

Kelas Ordo Famili Genus Species

: Aves : Anseriformes : Anatidae : Anas : Anas platyrhyncos

II. MENGENAL BEBEK HIBRIDA RAJA Bebek raja merupakan jenis bebek hibrida unggulan baru yang dihasilkan dari persilangan antara bebek Mojosari jantan dengan bebek Alabio betina. Bebek Mojosari dan Alabio yang digunakan sebagai induk dalam menghasilkan bebek hibrida harus sudah melalui serangkaian proses seleksi agar dapat berproduksi bagus dan konsisten, dengan keseragaman produksi yang tinggi.

Bebek hibrida ini dihasilkan melalui perkawinan alami di antara induk-induknya dengan perbandingan 1 jantan dengan tidak lebih dari 8 betina. Hasil perkawinan alami jauh lebih baik dari hasil kawin suntik. Telur bebek hasil persilangan bisa mulai ditetaskan setelah 2 bulan sejak awal bertelur karena kualitas telur sudah stabil dan memenuhi syarat, dari aspek bobot telur, ukuran telur, dan ketebalan kerabang. Telur tetas yang baik dapat dihasilkan seekor induk selama 2 siklus produksi, yaitu sampai mencapai umur sekitar 2,5 tahun. Proses penetasan telur merupakan proses alami yang sangat komplek untuk menghasilkan individu baru. Telur tetas yang baik seharusnya mempunyai daya tunas (fertilitas) mencapai 90-95% dan daya tetas 70-80%, dan pencapaian ini merupakan kombinasi antara kualitas induk dan kualitas mesin tetas. Telur bebek memerlukan waktu 28 hari untuk menetas dengan baik. Ciri Fisik Bebek Hibrida Raja Secara visual, bebek raja mempunnyai postur lebih besar dibanding induknya.

Sikap berdirinya hampir tegak seperti botol

Warna bulunya coklat kemerahan dengan bintik-bintik cokelat hitam di bagian dada dan perutnya.

Di bagian leher terdapat bintik-bintik putih memanjang dari bawah mulut sampai bawah perut

Warna bulu kepala hitam dan terdapat warna putih di atas mata menyerupai alis. Bulu tersebut akan hilang ketika dewasa

Di bagian sayap terdapat beberapa lembar bulu suri yang mengkilap berwarna biru kehitaman

Paruh dan kakinya berwarna hitam.

Keunggulan Bebek Hibrida Raja Keunggulan Teknis a. Rataan produksi telur per tahun: 70% (265 butir), 15% lebih tinggi b.Puncak produksi telur: 94% (10-15% lebih tinggi) c. Umur pertama bertelur :18 minggu (4,5 bulan),1 bulan lebih awal d. Masa produksi telur10-12 bulan/siklus, tanpa rontok bulu e. Rasio penggunaan pakan (FCR) : 3,2 f. Tingkat kematian : sangat rendah(<1%) g. Daya tahan hidup lebih tinggi dengan tingkat stress yang lebih rendah, baik stress akibat perubahan cuaca maupun stress akibat adanya suara-suara bising. Keunggulan Biologis a. Identifikasi jenis kelamin pada saat menetas mudah, hanya berdasarkan warna bulu (bebek jantan berwarna lebih gelap). b. Pertumbuhan anak itik jantan lebih cepat sehingga cocok untuk penggemukan sebagai itik potong ukuran sedang. c. Warna bulu spesifik dan sangat seragam. d. Wama kulit telur seragam hijau kebiruan. e. Dagingnya tebal, empuk, lezat, dan tidak terlalu amis. Keunggulan Ekonomi

a.Keuntungan usaha produksi telur Rp 25.000/ekor/tahun, akan semakin tinggi dengan meningkatnya skala usaha b. Biaya menghasilkan induk siap bertelur lebih murah Rp 16.500/ekor. III. FAKTOR YANG PERLU DIPERSIAPKAN KETIKA BETERNAK BEBEK Sebelum beternak bebek terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar usaha ternak bebek ini berjalan. Adapun persiapan untuk beternak bebek harus memenuhi kebutuhan parameter hidup bebek hibrida raja, hal-hal yang dipersiapkan diantarnya A. Menentukan Lokasi Dalam menentukan lokasi yang sesuai untuk berternak, terdapat kriteria-kriteria yang harus dipenuhi diantaranya 1. Sebaiknya jauh dari pemukiman penduduk karena kotoran dan bau dikhawatirkan mengganggu kenyamanan penduduk 2. Di dekat lokasi terdapat sumber air sehingga ketersediaan air memadai, selain itu air untuk minum itu hendaknya memenuhi baku mutu air 3. Sirkulasi udara berjalan baik dimana untuk bebek raja kondisi lingkungan yang cocok pada suhu 24-31o C dan kelembaban udara 60-65% 4. Akses jalan menuju lokasi peternakan mudah ditempuh sehingga persoalan distribusi dan transportasi baik pengangkutan DOD, maupun peralatan budidaya tidak menjadi masalah 5. Keamanan lingkungan terjaga dan gunakan pagar untuk menjaga dari masuknya hewan pemangsa 6. Pastikan perizinan tempat peternakan sudah diurus dengan baik. B. Sarana Bangunan Bangunan yang digunakan untuk berternak bebek, mirip dengan bangunan untuk ternak ayam dan unggas lainya. Bangunan yang dibuat untuk budidaya bebek setidaknya terdiri atas bangunan kandang DOD, kandang pembesaran, kandang isolasi bebek yang sakit, ruang penyimpanan telur, tempat pembakaran bebek yang mati, saluran pembuangan limbah, gudang pakan, peralatan, dan obat. Konstruksi bangunan menggunakan material yang ekonomis, kuat, mudah dibersihkan dan didesinfeksi, serta tidak menimbulkan kecelakaan pada ternak. Bangunan juga dirancang memiliki ventilasi udara dan memenuhi daya tampung sehingga aliran udara ruang ternak bebek tidak pengap.

C. Kandang Bebek Dalam membuat kandang bebek terdapat persyaratan teknis yang perlu diperhatikan, diantaranya tata letak kandang ditempat yang cukup mendapat sinar matahari dan tidak bising, terdapat drainase, sirkulasi udara memadai dan bersih. Ketika membudidayakan bebek dalam kandang, terdapat kepadatan ideal yang sesuai berdasarkan kelompok umurnya. Semakin tua umur bebek, semakin renggang kepadatan bebek di dalam kandang. Apabila kepadatan bebek tidak sesuai atau misalnya teralu padat, dapat terjadi hal yang tidak diinginkan seperti tidak seragamnya ukuran bebek. Selain kepadatan individu dalam kandang, di dalam kandang sebaiknya terdapat komponen-komponen baik material maupun peralatan yang dapat digunakan untuk mengatur suhu kandang berdasarkan kebutuhan bebek. Tabel di bawah ini memperlihatkan kebutuhan rentang suhu lingkungan berdasarkan tingkat umurnya Umur Suhu Ideal 1-7 Hari 29-31o C 7 Hari sampai 2 Minggu 27-29o C Setelah 2 Minggu 25o C Secara umum kandang bebek terbagi menjadi tiga menurut fungsinya, yaitu kandang starter, kandang grower dan kandang layar. Kandang starter digunakan untuk pemeliharaan bebek yang baru menetas (day old duck atau DOD) hingga berumur dua minggu. Sementara kandang pembesaran digunakan untuk pemeliharaan bebek raja berumur 2 sampai 6 minggu. Untuk kandang layar, kandang ini digunakan untuk keperluan bertelur bagi indukan. Untuk kandang starter digunakan model kandang box. Kandang ini digunakan pada periode pemeliharaan DOD hingga minggu ke dua atau minggu ketiga. Dalam kandang box ini, pemanas menjadi komponen penting agar fluktuasi suhu yang signifikan tidak terjadi, pemanas dapat berupa lampu minyak atau listrik dan digunakan DOD. Selain itu pada kandang box juga diberi tray feeder dan tempat minum, pastikan tempat minum hanya bisa dimasuki paruh bebek dan tidak bisa dipakai berkubang. Untuk kandang pembesaran, bentuknya berupa kandang postal, dimana menurut Mulyantini (2010) kandang postal adalah kandang yang berlantai rapat dan biasanya menggunakan alas litter. Ukuran untuk kandang postal adalah 11 x 22 m dan tempat peradukan pakan jadi satu dengan kandang tersebut. Pada kandang layar, modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter

persegi 4-5 ekor itik dewasa. Peralatan dalam kandang juga harus diperhatikan detaildetailnya, tempat makan dan minum hendaknya dari bahan tidak mudah berkarat dan penempatannya mudah dijangkau, mudah dipindahkan, diganti, ditambah isinya dan mudah dibersihkan. Untuk alat pembersih kandang juga harus lengkap, alat pembersih dari kandang isolasi tidak boleh digunakan pada kandang lainyya.

D. Pemilihan Bibit atau DOD Pemilihan DOD jantan dan betina biasanya dilakukan orang awam dengan cara hard sexing, yaitu dengan membuka dan meraba bagian kloaka anak bebek. DOD jantan dicirikan dengan adanya organ phallus yang terlihat panjang menonjol. Untuk bebek yang ingin diambil dagingnya hanya digunakan DOD yang berkelamin jantan, sebab harganya yang lebih murah dan lebih cepat besar. Dalam pemilihan bibit, sejak awal harus dipastikan bahwa bibit tersebut bebas dari penyakit unggas a.I: Avian Influenza Fowl Pox, Avian Chlamydiasis Salmonellosis (S. pullorum; S, enteridis), Aspergilosis Cocidiosis dan penyakit unggas lainnya yang ditetapkan. Untuk menjamin DOD yang dibeli terbebas dari penyakit, sebaiknya belilah DOD dari penjual yang telah dipercaya dan tersertifikasi. E. Penyediaan Pakan Pakan harus tersedia sebelum memulai produksi dengan jumlah yang harus cukup, memenuhi persyaratan kebutuhan bebek, dan berkualitas baik. Ada baiknya pakan yang digunakan menggunakan standar mutu sesuai dengan SNI 01-3908-2006 untuk pakan meri (duck starter) pakan bebek pedaging, SNI 01-3909-2006 untuk pakan itik petelur dara (duck grower). Jika menggunakan pakan pabrikan, hendaknya telah terdaftar dan berlabel, disesuaikan jumlah, mutu umur atau periode pertumbuhan itik. Tabel Kandungan Gizi Pakan Menggunakan Standar Mutu (SNI)
Pakan Itik Meri Kandungan Kadar air (maks Protein Kasar (min) Satuan (%) (%) Dara

(1hr-8 mg) (>8-22mg) 14 18 14 14

Lemak Kasar (min) Serat Kasar (maks) Abu (maks) Kalsium/Ca (min) Fospor total Fospor tersedia ME (min) Aflatoxsin (maks) Asam Amino - Lisin (min) - Methionin (min) - Methionin+sistin (min)

(%) (%) (%) (%) (%) (%)

7 7 8

7 8 8

0,90-1,20 0,90-1,20 0,60-1,00 0,60-1,00 0,4 0,4 2.600 20

(Kkal/Kg) 2.700 (ug/Kg) 20

(%) (%) (%)

0,9 0,4 0,6

0,65 0,3 0,5

(DISNASKESWAN, 2013)

F. Penyediaan Obat-obatan Harus tersedia obat-obatan baik yang dipergunakan untuk vaksinasi, pengobatan dan keperluan lainnya sesuai dengan peruntukkannya, obat-obatan tersebut harus terdaftar serta penggunaannya sesuai dosis.

IV. FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN KETIKA PEMBESARAN BEBEK HIBRIDA RAJA A. Pemeliharaan Masa Starter Masa starter merupakan masa pemeliharaan bebek sejak DOD hingga berumur 14 hari. Pada masa starter pakan yang dikonsumsi sebaiknya berupa pakan pabrikan yang mengandung protein sekitar 20%. Pada masa starter pakan sebaiknya diberikan menggunakan tray feeder. Kebutuhan air minum untuk DOD umur 5-22 hari adalah 1:4,25 yang artinya setiap 1 gram bobot badan membutuhkan 4,25 gram air. Obat-

obatan yang biasa diberikan pada masa starter adalah obat cacing. Sementara untuk vitamin diberikan Vita Chicks (untuk memacu pertumbuhan) dan Vita Stress (untuk mencegah stress). Hal lain yang harus diperhatikan adalah populasi bebek. Saat berumur satu minggu kepadatan bebek sekitar 50-60 ekor per m2. Selanjutnya angka kepadatan terus dikurangi dari minggu ke minggu. Tabel berikut ini menggambarkan hubungan kepadatan ideal individu bebek/m2 dengan kelompok umurnya.
Tabel

Hubungan Kepadatan Ideal Individu bebek/m2 dan Kelompok Umurnya Umur (minggu) 1 1-2 2-3 3-7 Jumlah ekor/m2 50 20 12 9-5 (DISNASKESWAN, 2013)

Mendekati panen kepadatan kandang dijaga 8 ekor per m2. Stress pada bebek bisa diakibatkan karena suhu yang terlalu panas atau dingin. Maka dari itu diperlukan pengontrolan suhu. Ketika suhu terlalu dingin untuk mengatasinya bisa dilakukan dengan membagi itik menjadi dua sekatan kandang kemudian memberi pemanas di masing-masing sekat. Ketika suhu panas untuk mengatasinya dilakukan dengan menyiram atap kandang dengan air, memberikan vitamin C ke dalam air minum, atau memasang kipas angin dalam kandang. B. Pemeliharaan Masa Finisher Masa finisher merupakan masa pemeliharaan bebek sejak umur dua minggu hingga panen. Pakan untuk masa finisher sebaiknya mengandung protein sekitar 18-19%. Pada masa finisher kebutuhan energy cenderung lebih besar karena untuk memacu penambahan bobot bebek agar tumbuh cepat. Jumlah air yang dibutuhkan pada masa finisher disinergikan dengan konsumsi pakan. Untuk konsumsi pakan bebek 115 gram/kg bobot badan/hari diperlukan air sebanyak 2,6 liter/kg bobot badan/hari. Dalam masa transisi dari fase starter ke finisher perlu dilakukan penimbangan untuk mengetahui pemeliharaan tingkat bebek keseragaman bobot dalam populasi bebek. sehingga

khususnya pemberian pakan lebih mengutamakan bebek

dengan bobot di bawah


Zat Makanan Masa Starter (%) Protein kasar Lemak Serat Kasar Abu Kalsium Fosfor Energi Metabolis 20 % 5,0 4,0 6,5 0,9-1,2 0,7 2800-2900 kkl/kg

rata-rataBerikut adalah kebutuhan pakan bebek hibrida


Masa Finisher (%) 18-19% 7,0 4,3 6,2 0,8-1,1 0,7 2900-3000 kkl/kg Umur Minggu Pertama Minggu Kedua Minggu Ketiga Minggu Keempat Minggu Kelima Minggu Keenam Minggu Ketuju Kebutuhan Pakan 91 gram/ekor/minggu 280 gram/ekor/minggu 420 gram/ekor/minggu 480 gram/ekor/minggu 600 gram/ekor/minggu 714 gram/ekor/minggu 816 gram/ekor/minggu

raja Adapun usaha lain yang dilakukan agar ukuran bebek seragam diantaranya memberi beberapa tempat pakan dan tempat minum dalam satu kandang. Hal ini disebabkan sejumlah tempat pakan dan tempat air minum yang terlalu sedikit akan membuat itik saling berebutan (bersaing) dalam memperoleh pakan dan minum. Ternak yang dominan akan dengan mudah mendapatkan jatan pakan/minum sedang ternak yang kalah akan kesulitan dalam mendapatkan jatah pakan/minum. Sehingga jumlah tempat pakan dan minum yang sedikit akan membuat pertumbuhan itik tidak merata sehingga secara otomatis menyebabkan ketidakseragaman berat akhir. Biasanya peternak memberi tempat pakan sebanyak 3-4 buah untuk 50 ekor. Begitu juga kebutuhan tempat minum tidak jauh beda dengan jumlah kebutuhan tempat pakan. Di samping manajemen pakan, sanitasi meliputi kebersihan kandang, kebersihan peralatan kandang, kebersihan pakan (kualitas pakan), dan pengelolanya juga

merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan. Terkait dengan masalah sanitasi kandang, maka kandang itik sebaiknya tidak lembab, kotoran itik dan sisa pakan kalau bisa tidak sampai menumpuk sehingga menyebabkan bau. Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit. Pengontrolan penyakit juga dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh, catat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.

V. PANEN DAN PASCA PANEN A. PANEN

Bebek raja sudah dapat dipanen saat berumur enam minggu. Panen bisa dilakukan secara serentak atau bertahap. Jika pemeliharaan dilakukan dengan system satu umur (all in all out) panen dapat dilakukan enam minggu sekali. Namun jika menginginkan panen dilakukan setiap minggu maka pemeliharaan menggunakan system berbagai umur (multi age). Pada system berbagai umur (multi age) bebek dipelihara dalam sekat kandang yang berbeda sesuai umur pemeliharaan. Panen bebek sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika suhu udara tidak terlalu panas agar bebek tidak stress. Saat panen harus diperhatikan juga kesehatan bebek dan bobot badan rata-rata yang sesuai kebutuhan pasar.

B. PASCA PANEN Setelah panen selesai kandang yang telah kosong harus segera dibersihkan dan didesinfeksi agar kandang terbebas dari sumber penyakit dan aman bagi DOD yang baru masuk. VI. PEMASARAN Pemasaran bebek tidaklah sulit sebab biasanya pengepul sendirilah yang akan datang ke peternakan. Selain cara tersebut peternak juga bisa menawarkan langsung hasil panennya kepada pengusaha olahan daging bebek seperti warung makan, restoran, pedagang pasar, hingga supermarket. Bahkan peternak bisa menjualnya secara langsung di tempat strategis atau memasarkannya lewat internet.

VII. HASIL TAMBAHAN BETERNAK BEBEK HIBRIDARAJA Selain dimanfaatkan dagingnya bebek raja betina dapat dimanfaatkan sebagai penghasil telur yang bisa menambah pendapatan peternak bebek. Bebek raja betina sebagai petelur dapat dipelihara dan masih menguntungkan sampai dengan 2 siklus produksi, dan setelah itu dapat dijual untuk dipotong dan diambil dagingnya. Sementara itu limbah dari ternak bebek yang berupa kotoran bebek dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman pangan maupun palawija.

VIII. ESTIMASI WAKTU Berikut merupakan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis bebek hibrida raja mulai dari survey lokasi peternakan sampai dengan pemasaran.

Kegiatan Survei lokasi peternakan yang sesuai

Waktu 7 Hari

Persiapan lokasi peternakan (perizinan, penataan lokasi, pembersihan, 4 Hari dll) Pembuatan kandang Menata perlengkapan dalam kandang (tempat minum, pemanas, dll) Pemilihan DOD yang berkualitas Pemeliharaan Panen dan Pasca panen (pembersihan kandang) Pemasaran TOTAL 7 Hari 4 Hari 7 Hari 40 Hari 4 Hari 7 Hari 80 Hari

Pada awal menjalankan bisnis dibutuhkan waktu dengan perkiraan paling lama 80 hari sampai dengan pemasaran hasil. Namun apabila peternakan ini sudah berjalan pada bulan-bulan berikutnya hanya diperlukan waktu 40 hari untuk memelihara bebek hibrida raja ini sampai masa panen tiba. IX. ANALISIS USAHA A. Asumsi Usaha 1. Harga DOD Rp 5.000,- per ekor 2. Usaha ini dimulai dengan membeli bebek raja sebanyak 1000 ekor 3. Kandang milik sendiri 4. Pemeliharaan dilakukan selama enam minggu (1,5 bulan) dengan bobot rata-rata 1,3 kg. 5. Mortalitas sekitar 5%. Maka, sekitar 950 ekor bebek yang bisa dipanen. 6. Pakan awalnya diberikan berupa pakan pabrikan selama dua minggu. Selebihnya secara perlahan diganti dengan pakan hasil meramu sendiri. 7. Masa pakai kandang dan perlengkapannya adalah tiga tahun atau 24 periode. 8. Masa pakai pemanas selama lima tahun atau 40 periode. 9. Masa pakai perlengkapan lain-lain selama tiga tahun atau 24 periode. 10. Hasil panen diambil pengepul sehingga tidak ada biaya panen dan transportasi. B. Analisis Usaha a. Biaya Investasi Kandang pembesaran dan perlengkapan kandang Pemanas Semawar Rp 5.000.000 Rp 300.000

Tabung gas 15 kg dua buah Perlengkapan lain-lain Total Investasi b. Biaya Operasional Per Periode 1. Biaya Tetap Penyusutan kandang dan perlengkapan (Rp 5.000.000/24) Penyusutan pemanas (Rp 300.000/40) Penyusutan perlengkapan lain-lain (Rp 300.00/24) Total biaya tetap 2. Biaya Variabel Pembelian DOD (1.000 ekor x Rp 5.000/ekor) Sekam Gas untuk pemanas Pakan DOD hingga panen (Rp 11.568/ekor x 1.000 ekor) Obat-obatan, vitamin, dan herbal Upah karyawan Total biaya variable Biaya operasional per periode

Rp Rp

600.000 300.000

Rp 6.200.000

Rp 208.000 Rp 7.500

Rp 12.500 Rp 228.000

Rp 5.000.000 Rp Rp 50.000 200.000

Rp11.568.000 Rp Rp 200.000 600.000

Rp17.618.000 = Total biaya tetap + Total biaya variabel = Rp 228.000 + Rp 17.618.000 = Rp 17.846.000

c. Pendapatan Penjualan bebek raja Rp 17.000/kg x 1,3 kg x 950 ekor = Rp 20.995.000 d. Keuntungan Per Periode Keuntungan = Rp 20.995.000 Rp 17.846.000 = Rp 3.149.000 Keuntungan per bulan = Rp 3.149.000 : 1,5 bulan = Rp 2.099.000 Catatan : Harga Rp 17.000/kg merupakan harga jual minimum bebek raja saat panen. Sementara apabila di luar masa panen dan tidak dibeli sekaligus harga mencapai Rp 22.000 sampai Rp 25.000/kg. e. Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) R/C Ratio = Total Pendapatan : Total Biaya Operasional = Rp 20.995.000 : Rp 17.846.000 = 1,17

Artinya setiap pengeluaran biaya sebesar Rp 1.000 akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp 1.170 f. Pay Back Period Pay Back Period = (Total Investasi : Keuntungan per bulan) x 1 bulan = (Rp 6.200.000 : Rp 2.099.000) x 1 bulan = 3 bulan X. DAFTAR PUSTAKA DITJENNAK. 2010. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, CV. Karya Cemerlang, Departemen Pertanian RI, Jakarta. Mulyantini. 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Piliang, W.G. dan S. Djojosoebagio. 2000. Fisiologi Nutrisi. Volume I. Ed ke-2. IPB Press. Bogor. Supriyadi. 2011. Panen Itik Pedaging dalam 6 Minggu. Penebar Swadaya. Jakarta. Feily, Bagus. 2012. 40 Hari Panen Itik Raja. Agromedia Pustaka. Jakarta. Balai Penelitian Ternak (BALITNAK). 2011. Itik Hibrida Master Bibit Niaga Itik Petelur Unggul. Edisi Khusus Penas XIII Carboneras, Carles (1992): Family Anatidae (Ducks, Geese and Swans). In: del Hoyo, Josep; Elliott, Andrew & Sargatal, Jordi (eds.): Handbook of Birds of the World (Volume 1: Ostrich to Ducks): 536-629. Lynx Edicions. Barcelona. DISNASKESWAN. 2013. Pedoman Budidaya Itik Pedaging yang Baik.

http://disnakeswan.kalbarprov.go.id/blog/2013/03/pedoman-budidaya-itik-pedaging -yang-baik. Akses 29-9-2013