Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Obesitas atau kegemukan mempunyai pengertian yang berbeda-beda bagi

setiap orang. Pada kebanyakan wanita dan pria, obesitas berarti kelebihan berat badan (BB) jauh melebihi berat yang diinginkan. Terkadang kita sering dibuat bingung dengan pengertian obesitas dan overweight, padahal kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Obesitas adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga BB seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan. Sementara overweight (kelebihan berat badan) adalah keadaan dimana BB seseorang melebihi BB normal. Obesitas kini mulai diterima sebagai salah satu masalah kesehatan serius di negara-negara berkembang Hal ini terutama karena orang obese cenderung menderita penyakit jantung, hipertensi, stroke, diabetes melitus, dan jenis kanker tertentu. Kematian yang disebabkan oleh penyakit-penyakit tersebut meningkat secara drastis terutama untuk Body Mass Index di atas 30.Terdapat sedikit pertentangan terhadap sejauh apa peranan obesitas, apakah menjadi penyebab utama bagi timbulnya penyakit-penyakit tenrtentu, atau semata-mata hanya sebagai suatu pertanda atau petunjuk bahwa orang bersangkutan mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit yang bersangkutan. Pandangan mengenai obesitas sebagai sesuatu yang tidak berbahaya, walau bagaimanapun, sudah tidak dapat diterima lagi, mengingat bukti-bukti yang telah dikumpulkan selama 10 tahun terakhir memperlihatkan hal sebaliknya.

B.

Rumusan Masalah 1. 2. Apa definisi obesitas ? Apa saja tipe-tipe obesitas ?

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Apa gejala-gejala timbulnya obesitas ? Apa penyebab timbulnya obesitas ? Bagaimana cara pengukuran obesitas ? Bagaimana mekanisme terjadinya Obesitas ? Penyakit-penyakit apa saja yang timbul akibat obesitas ? Pemeriksaan diagnosa ? Penatalaksanaan

C. 1. 2. 3. 4. 5.

Tujuan Untuk mengetahui apa definisi dari obesitas. Untuk mengetahui apa-apa saja gejala timbul obesitas. Untuk mengetahui penyebab timbulnya obesitas Untuk mengetahui Penyakit-penyakit apa saja yang timbul akibat obesitas? Untuk mengetahui cara pencegahan dan pengobatan penyakit obesitas.

BAB II PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian Obesitas Secara umum dapat dikatakan bahwa kegemukan adalah dampak dari

konsumsi energy yang berlebihan, dimana energy yang berlebihan tersebut dapat disimpan didalam tubuh sebagai lemak, sehingga akibatnya dari waktu ke waktu badan akan bertambah berat disamping faktor kelebihan konsumsi energi, faktor keturunan juga mempunyai andil dalam kegemukan (muchatadi, 2001). Obesitas adalah refleksi ketidakseimbangan konsumsi dan pengeluaran energi, penyebabnya ada yang bersifat Eksogenetis dan Endogenous. Penyebab Eksogenetis misalnya kegemaran makan secara berlebihan terutama makanan tinggi kalori tanpa diimbangi oleh aktivitas fisik yang cukup sehingga surflus energinya disimpan sebagai lemak tubuh (khomsan, 2004). Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Dari segi obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh, yang umumnya ditimbun dalam jaringan supkutan (bawah kulit) sekitar organ tubuh yang kadang terjadi peluasan kedalam jaringan organnya, dari segi ilmu gizi obesitas, penimbun trigliseida yang berlebihan di jaringan-jaringan tubuh. Para dokterdokter memiliki definisi tersendiri tentang obesitas, di antaranya yaitu: Suatu kondisi dimana lemak tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan Suatu penyakit kronik yang dapat diobati Suatu penyakit epidemik (mewabah) Suatu kondisi yang berhubungan dengan penyakit-penyakit lain dan dapat menurunkan kualitas hidup Penanganan obesitas membutuhkan biaya perawatan yang sangat tinggi

Obesitas terjadi karena energi intake lebih besar dari energi expenditure. Apapun penyebabnya, yang menjadikan seseorang obesitas pada dasarnya adalah energi intake atau masukan yang didapat dari makanan atau lainnya lebih besar dibandingkan energi expenditure atau energi yang dikeluarkan.

2.2. Akibat Obesitas Obesitas juga dapat meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti:

Penyakit Jantung Koroner Tekanan Darah Tinggi Diabetes Melitus (tipe 2 Gangguan Pernapasan Stroke

2.3.

Tipe-Tipe pada Obesitas Tipe pada obesitas dapat dibedakan menjadi 2 klasifikasi, yaitu Tipe

obesitas berdasarkan bentuk tubuh dan Tipe obesitas berdasarkan keadaan sel lemak.

1. tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh a. Obesitas tipe buah apel (Apple Shape) Type seperti ini biasanya terdapat pada pria. dimana lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe buah pear (Gynoid), b. Obesitas tipe buah pear (Gynoid) Tipe ini cenderung dimiliki oleh wanita, lemak yang ada disimpan di sekitar pinggul dan bokong. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil. c. Tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah) Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetik .

2. Tipe Obesitas Berdasarkan Keadaan Sel Lemak a. obesitas Tipe Hyperplastik Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih banyak dibandingkan keadaan normal. b. obesitas Tipe Hypertropik Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi lebih besar dibandingkan keadaan normal,tetapi jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal. c. obesitas Tipe Hyperplastik Dan Hypertropik Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran sel lemak melebihi normal. Pembentukan sel lemak baru terjadi segera setelah derajat hypertropi mencapai maksimal dengan perantaraan suatu sinyal yang dikeluarkan oleh sel lemak yang mengalami hypertropik.

2.4.

Patofisiologi Obesitas Secara umum obesitas dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan kalori,

yang diakibatkan asupan energy yang jauh melebihi kebutuhan tubuh. Pada bayi (infant), penumpukan lemak terjadi akibat pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini, terutama apabila makanan tersebut memiliki kandungan karbohidrat, lemak, dan protein yang tinggi. Pada masa anak-anak dan dewasa, asupan energy bergantung pada diet seseorang. Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%). Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi, dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyalsinyal eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adipose, usus dan jaringan otot). Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energi)

dan dapat pula bersifat katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi. Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptide Y (NPY), sehingga terjadi penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan. Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural dan humoral (neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik, nutrisi, lingkungan, dan sinyal psikologis. Mekanisme ini dirangsang oleh respon metabolic yang berpusat pada hipotalamus. Mekanisme neurohumoral ini dapat dibagi menjadi 3 komponen. a. Sistem Perifer/Sistem Aferen Merupakan sistem yang menyalurkan sinyal dari berbagai tempat. Komponen utamanya adalah leptin dan adiponektin (dari jaringan adiposa), ghrelin (dari lambung), peptide YY (dari ileum dan colon), serta insulin (dari pankreas). b. Nukleus Arkuatus dalam hipotalamus Merupakan sistem yang memproses dan mengintegrasikan sinyal periferal dan menghasilkan sinyal eferen kepada 2 jenis neuron orde pertama, yaitu (a) POMC (pro-opiomelanocortin) dan CART (cocaine and amphetamineregulated transcripts) neuron, (b) neuropeptida Y (NPY) dan AgRP

(Agouli-relate peptide). Neuron orde pertama ini akan berkomunikasi dengan neuron orde kedua. c. Sistem Eferen Merupakan sistem yang menerima sinyal yang diberikan neuron orde pertama dari hipotalamus untuk mengontrol asupan makanan dan penggunaan energi. Hipotalamus juga berkomunikasi dengan otak depan dan otak tengah untuk mengontrol system saraf otonom. Neuron POMC dan CART meningkatkan penggunaan energi dan -Melanocyte Stimulating Hormone), serta mengaktifkan reseptor melanokortin nomor 3 dan 4 (MC3/4R) sebagai neuron orde ke-2 sebagai efek anoreksigenik. Sedangkan neuron NYP dan AgRP merangsang lapar (food intake) dan peningkatan berat badan dengan mengaktifkan reseptor Y1/5 pada neuron orde ke-2nya sebagai efek oreksigenik.

Gambar 1. pengaturan keseimbangan energi. Jaringan lemak menghasilkan sinyal aferen yang mengaktifkan hipotalamus untuk mengatur nafsu makan dan kekentyangan. Sinyal ini mengnurunkan intake makanan dan menghambat siklus anabolik, dan mengaktifkan pemakaian energi dan mengaktifkan siklus katabolik.

Gambar 2. Jalur neurohumoral di hipotalamus yang mengatur kesetimbangan energi. Terlihat POMC dan CART sebagai neuron anoreksigenik, dan serta NPY dan AgRP sebagai neuron oreksigenik di hipotalamus bagian nukleud arkuatus.

Metode menentukan apakah ada obesitas : 1. Perbandingan berat dengan tabel berat badan yang diinginkan menurut tinggi 2. Indeks masa tubuh (BMI) > 27,8 untuk laki-laki / 27,3 untuk wanita. Formula BMI adalah berat (kg) : tinggi (m). 3. Pengukuran lemak supkutan, lipat kulit triseps 18,6 mm untuk laki-laki, 25,1 mm untuk wanita telah dipergunakan sebagai indikator obesitas.

E. Etiologi 1) Genetik : Anak-anak dari orangtua obes cenderung 3-8 kali menjadi obesitas dibandingkan dari orangtua berat badan normal, walaupun mereka tidak dibesarkan oleh orangtua kandung. 2) Lingkungan : Pengaruh keluarga (ex: penggunaan makanan sebagai hadiah, tidak boleh makan makanan pencuci mulut sebelum semua makanan dipiring habis). Membantu pengembangan kebiasaan makan yang dapat menyebabkan obesitas.

3) Psikologi : Makan berlebihan dapat terjadi sebagai respon terhadap kesepian, berduka/depresi, dapat merupakan respon terhadap rangsangan dari luar, ex: Iklan makanan/kenyataan bahwa ini adalah waktu makan. 4) Fisiologi : Energi yang dikeluarkan menurun dengan bertambahnya usia, dan ini sering menyebabkan peningkatan berat badan pada usia pertengahan, Ex: kelainan endokrin / seperti Hipotiroidy bertanggung jawab untuk obesitas. Adapun penyebab dasarnya faktor etiologi primer dari obesitas adalah konsumsi kalori yang berlebihan dari energy yang dibutuhkan (mary coutney moore, 1994). Kegemukan disebabkan oleh ketidak imbangan kalori yang masuk dibanding yang keluar. Kalori diperoleh dari makanan sedangkan pengeluarannya melalui aktivitas tubuh dan olah raga. Kalori terbanyak (60-70%) dipakai oleh tubuh untuk kehidupan dasar seperti bernafas, jantung berdenyut dan fungsi dasar sel. Besarnya kebutuhan kalori dasar ini ditentukan oleh genetik atau keturunan. Namun aktifitas fisik dan olah raga dapat meningkatkan jumlah penggunaan kalori keseluruhan. Jadi ketidak imbangan kalori ini dapat ditentukan oleh faktor keturunan tapi dipicu oleh pola hidup dan lingkungan. Kebiasaan hidup santai, malas bergerak, selalu dibantu oleh orang lain (pembantu/supir) atau alat (remote/ handphone/ eskalator/ kendaraan) dan makan berlebihan akan meningkatkan asupan dan menurunkan luaran kalori.

2.5. Gejala Obesitas Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.

Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki. Kegemukan dapat diketahui dengan mengukur jumlah lemak seluruh tubuh menggunakan alat impedans atau mengukur ketebalan lemak di tempattempat tertentu menggunakan alat kaliper. Selain itu lemak di sekitar perut dapat diukur dengan menggunakan meteran. Secara sederhana kegemukan dapat dihitung dengan menghitung Indeks Massa Tubuh, yaitu membagi berat badan (kg) dengan tinggi badan dikuadratkan (m2)

Atau IMT =BB/(TBxTB). .

Perhitungan ini tidak berlaku bagi atlet, ibu hamil dan anak-anak

10

2.6. Jenis-Jenis Obesitas Obesitas biasanya didefinisikan sebagai kelebihan berat lebih dari 120% dari berat badan ideal (BBI) atau berat badan yang diinginkan. Ada 3 derajat obesitas yaitu: a. Ringan 120% - 140% BBI b. Sedang 141% - 200% BBI c. Berat/Abnormal >200% BBI

2.7. Faktor Yang Mempengaruhi Obesitas Faktor makanan ini merupakan yang terpenting untuk terjadinya kegemukan baik sebagai penyebab tunggal maupun penyakit lainnya.

Ketidakseimbangan antara masukan kaliori dan pemakaian dapat disebabkan banyak faktor, antara lain: 1. Aktifitas Fisik Pada umumnya seseorang yang gemuk kurang aktif daripada seseorang dengan berat badan normal. Aktifitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik dan mental serta memanfaatkan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Aktifitas fisik secara teratur yang dilakukan paling sedikit 30 menit/hari. Jika lebih banyak waktu yang dipergunakan untuk beraktifitas fisik, maka manfaat yang diperoleh juga lebih banyak (admin, 2008). 2. Meningkatnya konsumsi zat gizi (asupan makanan) Terutama zat gizi makro yang menyebabkan kegemukan bila dimakan secara berlebihan, zat gizi ini akan disimpan dalam bentuk lemak tubuh dan akan meningkatkan berat badan secara keseluruhan. Adapun zat gizi makro yang dapat mempengaruhi kenaikan berat badan jika dikonsumsi berlebihan antara lain: a. Karbohidrat Karbohidrat memang merupakan peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi manusia dan hewan yang harganya relative murah. Semua karbohidrat berasal dari tumbuh-tumbuhan. Fungsi utama karbohidrat adalah Sumber energi pemberi rasa manis dari

11

makanan, penghemat protein, mengatur metabolisme lemak, membantu pengeluaran feces (altemaster, 2003). Dalam diet seimbang, dianjurkan 50-60 % kebutuhan kalori berasal dari karbohidrat, kegunaan utama energi. Kegunaan lainnya sebagai energy cadangan, komponen struktur sel, dan sumber serat (Sayogo, 2006). b. Protein Protein adalah molekul makro dan merupakan bagian terbesar setelah air. Protein terdiri atas rantai-rantai panjang asam amino yang terikat satu sama lain dalam ikatan peptide. Protein ini mempunyai fungsi khusus yang tidak tergantikan oleh zat lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh. Kebutuhan protein remaja berkisar antara 44-59 gr/hari. Tergantung pada jenis kelamin dan umur. Protein juga menyuplai sekitar 12-14% asupan energi selama masa anak dan remaja (Suandi, 2003). c. Lemak Lemak merupakan salah satu zat gizi makro yang berfungsi sebagai sumber energi, lemak juga menghasilkan 9 kal/gr nya, sebagai pelumas yaitu membantu pengeluaran sisa-sisa pencernaan dan metabolism, memelihara suhu tubuh dan pelindung organ-organ vital. Depkes RI menganjurkan untuk mengkonsumsi lemak kurang dari 25% total energi per hari (Sayogo, 2006).

Faktor-faktor lain dapat dibagi menjadi tiga faktor, yaitu: a. Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

12

b. Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

c. Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.

d. Faktor kesehatan. Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya: Hipotiroidisme Sindroma Cushing Sindroma Prader-Willi Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

e. Faktor obat-obatan. Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

f. Faktor perkembangan . Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh.

13

Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

g. Aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas. Adapun faktor-faktor lain yang berpengaruh dalam obesitas adalah gaya hidup dan konsumsi pangan, gaya hidup sendetari (unsur gerak fisik sangat minim), beban mental (stress) dan lingkungan. Seseorang dapat dikatakan obesitas jika berat badan pada laki-laki melebihi 15% dan wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya. Pada orang yang menderita obesitas, organ-organ tubuh harus bekerja lebih berat, karena harus membawa kelebihan berat badan yang tidak memberikan manfaat langsung, dan karena itu akan merasa lebih gerah. Resiko Kesehatan yang berhubungan dengan Obesitas.
NO 1 Hal/Tipe Masalah Kardiovaskuler Simtom Hipertensi: Jantung Koroner, vena varicose, sindrom pickwickian 2 Endokrin dan reproduktif Non-DM (tergantung insulin), Amenore, Infertilitas, Pre-Eklampsia 3 4 5 6 Gastrointestinal Psikiatri dan Sosial Muskuloskeletal & Dermis Keganasan Kolesistitis dan Kolelitiasis, Fatty Liver Diskriminasi Osteoarthritis, iritasi, infeksi (lipatan kulit, striae) Kanker Kolon, Rectum, Prostat, empedu, Buah dada, Uterus, Ovarium

14

2.8. Cara Penanganan Obesitas Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. Harus dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat. Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI. Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI : 1. Resiko rendah : BMI < 27 2. Resiko menengah : BMI 27-30 3. Resiko tinggi : BMI 30-35 4. Resiko sangat tinggi : BMI 35-40 5. Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih. Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan penderita. 1. Penderita dengan resiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (1200-1500 kalori/hari untuk wanita, 1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olah raga. 2. Penderita dengan resiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai olah raga. 3. Penderita dengan resiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi, mendapatkan obat anti-obesitas disertai diet rendah kalori dan olah raga.

Memilih program penurunan berat badan yang aman dan berhasil. Unsurunsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih suatu program penurunan berat badan :

15

a. Diet harus aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang dianjurkan (vitamin, mineral dan protein). Diet untuk menurunkan berat badan harus rendah kalori. b. Program penurunan berat badan harus diarahkan kepada penurunan berat badan secara perlahan dan stabil. c. Sebelum sebuah program penurunan berat badan dimulai, dilakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. d. Program yang diikuti harus meliputi pemeliharaan berat badan setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan. Program yang dipilih harus meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen, untuk merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat badan. Program ini harus menyelenggarakan perubahan perilaku, termasuk pendidikan dalam kebiasaan makan yang sehat dan rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah berat badan.

2.9. Pengukuran Tingkat Obesitas a. Pengukuran Secara Antropometri 1. Body Mass Index (BMI) Body Mass Index (BMI) Adalah sebuah ukuran berat terhadap tinggi badan yang umum digunakan untuk menggolongkan orang dewasa ke dalam kategori Underweight (kekurangan berat badan), Overweight (kelebihan berat badan) dan Obesitas (kegemukan).

2. RLPP (rasio lingkar pinggang dan pinggul) Untuk menilai timbunan lemak perut dapat digunakan cara lain, yaitu dengan mengukur rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP). Rumus yang digunakan cukup sederhana yaitu : Sebagai patokan, pinggang berukuran 90 cm merupakan tanda bahaya bagi pria, sedangkan untuk wanita risiko tersebut meningkat bila lingkar pinggang berukuran 80 cm. Jadi Jangan

16

hanya menghitung tinggi badan, berat badan dan IMT saja, lebih baik jika disertai dengan mengukur lingkar pinggang.

3. Indeks BROCCA Salah satu cara lain untuk mengukur obesitas adalah dengan menggunakan indeks Brocca, dengan rumus sebagai berikut: Bila hasilnya: 90-110% = Berat badan normal 110-120% = Kelebihan berat badan (Overweight) > 120% = Kegemukan (Obesitas)

3.0. Penatalaksanaan Penatalaksanaan obesitas dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: pengobatan dasar dan pengobatan terhadap komplikasinya. Pengobatan Dasar 1. Diet. Dianjurkan diet dengan rendah kalori tetapi cukup gizi, ialah 1520 kalori/kg.bb.,dengan komposisi 20% protein, 65% karbohidrat dan 15% lemak, komposisi tersebut mirip dengan komposisi diet B1 dari Askandar. Diet yang tak lazim misalnya diet hanya dengan protein saja (tiger diet), diet tidak makan nasi sama sekali, pada saat sekarang ini tidak sesuai lagi. 2. Olah Raga. Di samping mempercepat metabolisme, juga dapat membuat kondisi tubuh lebih segar dan dapat menambah estetika. Olah raga dimaksudkan agar jumlah kalori yang dikeluarkan tubuh lebih banyak daripada jumlah kalori yang masuk. Dengan olah raga yang baik akan terjadi peningkatan metabolisme. 3. Obat-obatan. Obat-obatan yang banyak digunakan untuk obesitas terdiri dari obat penahan nafsu makan di antaranya alah golongan amfetamin, obat yang meningkatkan/mempercepat metabolisme tubuh misalnya preparat tiroid, obat pemacu keluarnya cairan tubuh misalnya diuretika; pencahar. Namun obat-obat tersebut bila digunakan dalam jangka panjang akan

17

menyebabkan efek samping sangat merugikan tubuh. Oleh karena itu penggunaannya sebaiknya disertai kontrol ketat. 4. Pembedahan. Operasi jejuno-ileal by-pass dilakukan memotong sebagian usus halus yang menyerap makanan, tetapi resikonya cukup besar sehingga hal tersebut harus dilakukan dengan indikasi yang cukup kuat, yaitu apabila obesitas tak dapat diobati dengan tindakan konservatif. Operasi pengambilan jaringan lemak (adipektomi), lebih cenderung bersifat estetika.

18

Skema di atas merupakan algoritma penanganan obesitas pada dewasa. Penanganan obesitas tidak memerlukan farmakoterapi selama orang tersebut mendapatkan hasil yang mencukupi (penurunan berat badan > 0,5 kg perminggu setelah perubahan gaya hidup). Pilihan obat yang dapat digunakan pun sangat terbatas karena banyaknya efek samping yang berbahaya dengan konsumsinya. Secara garis besar ada tiga tahap utama dalam perubahan gaya hidup pasien obesitas yaitu : Peningkatan aktivitas fisik, sehingga pengeluaran energi akan meningkat juga. Aktivitas fisik ditingkatkan secara gradual bagi pasien obesitas dan dapat berbentuk dalam berbagai hal, diantaranya berjalan, berkebun, hingga olahraga tim/individual. Targetnya adalah mengerjakan minimal 30 menit kegiatan fisik sedang tiap harinya.

19

Terapi kebiasaan. Terapi ini dapat membantu perubahan dalam asupan makanan pasien obesitas. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain : self-monitoring, manajemen stres, dan dukungan sosial. Terapi ini dimaksudkan pula untuk membantu pasien tersebut beradaptasi dengan perubahan diet dan aktivitasnya.

Modifikasi diet. Asupan kalori pasien harus dikurangi sekitar 500-1000 kalori dari levelnya sekarang, dengan batas terendah adalah asupan 800 kkal/hari. Umumnya digunakan kisaran 1000-1200 kkal/hari untuk wanita dan 12001600 kkal/hari untuk pria.

Pengobatan terhadap komplikasi 1) Hipertensi Pada prinsipnya hampir semua peneliti dan para ahli berpendapat bila berat badan ditumnkan maka tekanan darah akan turun dengan sendirinya. Tetapi kadang kadang diperlukan juga pengobatan antihipertensi; juga perlu diperhatikan apakah penderita obesitas menggunakan obat-obat yang dapat meningkatkan tekanan darahnya. 2) Penyakit Jantung Iskemik Seperti apa yang telah dibicarakan di atas, obesitas bukan merupakan penyebab langsung terjadinya penyakit jantung iskemik, tetapi hanya merupakan faktor resiko saja; Apabila aktivitas fisik dijalankan dengan baik dan teratur maka kemungkinan terjadinya penyakit jantung iskemik akan berkurang. 3) Diabetes Melittus Penderita obes dengan diabetes melitus diberi diit rendah kalori yaitu 15 20 kalori/kg bb/hari. Selain itu sering didapatkan kurangnya sensitivitas terhadap pemberian insulin tetapi responsif terhadap sulfonil urea. Pemberian insulin harus dengan dosis yang lebih tinggi, kemudian ditumnkan secara perlahan-lahan. Askandar (1980) menetapkan penumnan dosis tersebut sebesar 2 unit per kali, disertai peningkatan penggunaan OAD sampai adekuat.

20

4) Osteoartrosis Pada obesitas dengan kelainan sendi (OA), tindakan utama adalah memberikan diet untuk menurunkan berat badan dengan tujuan mengurangi beban pada sendi penyangga berat badan; bila nyeri sekali sebaiknya sendi diistirahatkan dan dilakukan fisioterapi, bila tak teratasi dapat diberikan obat-obatan anti radang nonsteroid (NSAID), kadang-kadang dapat pula diberikan steroid intra artikuler.

21

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. kegemukan adalah dampak dari konsumsi energy yang berlebihan, dimana energy yang berlebihan tersebut dapat disimpan didalam tubuh sebagai lemak, sehingga akibatnya dari waktu ke waktu badan akan bertambah berat disamping faktor kelebihan konsumsi energi, faktor keturunan juga mempunyai andil dalam kegemukan

3.2. Saran Untuk mencegah penyakit ini, maka perlu diseimbangkan antara kelebihan dan keluaran kalori yang digunakan oleh tubuh. Untuk para pembaca agar selalu menjaga keseimbangan tubuh sesuai dengan lingkungan dan aktifitasnya sehari-hari. ingkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orangorang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas. Adapun faktor-faktor lain yang berpengaruh dalam obesitas adalah gaya hidup dan konsumsi pangan, gaya hidup sendetari (unsur gerak fisik sangat minim), beban mental (stress) dan lingkungan. Seseorang dapat dikatakan obesitas jika berat badan pada laki-laki melebihi 15% dan wanita melebihi 20% dari berat badan ideal menurut umurnya. Pada orang yang menderita obesitas, organ-organ tubuh harus bekerja lebih berat, karena harus membawa kelebihan berat badan yang tidak memberikan manfaat langsung, dan karena itu akan merasa lebih gera

22

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Syaiful. 2005. Obesitas dalam Masyarakat.Jakarta: Yudhistira. Ibrahim, Anwar. 2008. Obesitas. Surabaya: Pariwara. Suardi. 2010. Pengertian Obesitas. Diunduh di http://www.pediatrik.com, tanggal 19 September 2013 Jodi, M. 2009. Etiologi Obesitas. Diunduh di http://www.infokedokteran.net tanggal 21 September 2013 Tim Webster. 2010. Obesitas. Diunduh di http://www.obesitas.web.id tanggal 20 September 2013. Barbara C long. (1996). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung. Doengoes, E. M. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3, EGC : Jakarta. http:// metro.vivakepnews.com// Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. NANDA, Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2005-2006 Wong & Whaleys. (2002). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4, EGC: Jakarta. Manuaba, I.A. 2004. Dampak Buruk Obesitas. Efendy,Y.H 2004. Tinjauan Sekilas Tentang Obesitas. Jurnal Jurusan Gizi dan Masyarakat dan Sumber Daya Masyarakat, Vol. 1, No.1, Bogor : Institute PertanianBogor Barlow, S., dan Dietz, W. (2002). "Obesity Evaluation and Treatment: Expert Committee Recommendations." Pediatrics 102(3):111. "Obesitas Evaluasi dan Pengobatan: Rekomendasi Komite Ahli." Pediatrics 102 (3) :1-11. Ebbeling, Cara B.; Pawlak, Dororta B.; and Ludwig, David S. (2002). "Childhood Obesity: Public-Health Crisis, Common Sense Cure." Lancet 360:473482. "Anak Obesitas: Masyarakat-Kesehatan Krisis, Cure Common Sense." Lancet 360:473-482. Wallace SL. Gout, Pseudogout and Osteoarthritis. In : Geriatric Medicine the Treatment of Disease in Elderly. Harris R (ed.) 1982. p. 121-6. Askandar Tj. Dasar-dasar pengobatan Diabetes Melittus. Simposium pengobatan dan perawatan melittus 1980. Hal 1-22

23