Anda di halaman 1dari 23

PSAK No.

30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30


AKUNTANSI SEWA GUNA USAHA

Dalam rangka pengembangan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) menjadi Standar


Akuntansi Keuangan (SAK), maka Pernyataan Prinsip Akuntansi Indonesia No. 6
tentang Standar Khusus Akuntansi Sewa Guna Usaha telah disesuaikan seperlunya
menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 tentang Akuntansi
Sewa Guna Usaha, yang telah disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi
Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan telah disahkan oleh Pengurus Pusat
lkatan Akuntan Indonesia pada tanggal 7 September 1994.

Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material (immaterial
items)

Jakarta, 7 September 1994


Pengurus Pusat
lkatan Akuntan Indonesia
Komite Prinsip Akuntansi Indonesia

Hans Kartikahadi Ketua


Jusuf Halim Sekretaris
Hein G. Surjaatmadja Anggota
Katjep K. Abdoelkadir Anggota
Wahjudi Prakarsa Anggota
Jan Hoesada Anggota
M. Ashadi Anggota
Mirza Mochtar Anggota
IPG. Ary Suta Anggota
Sobo Sitorus Anggota
Timoty Marnandus Anggota
Mirawati Soedjono Anggota

1 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

KATA PENGANTAR

Perkembangan perekonomian Indonesia yang sedemikian pesat, khususnya sejak


Pemerintah menggalakkan program deregulasi dan debirokratisasi pada awal
dasawarsa 1980-an, telah mendorong peningkatan kebutuhan yang mendesak
terhadap dana investasi yang harus dipenuhi melalui berbagai alternatif sumber
pembiayaan. Tidak terkecuali kebutuhan dana investasi yang dapat digali dari salah
satu alternatif sumber pembiayaan barang modal yang relatif baru di Indonesia,
yaitu sektor leasing atau sewa guna usaha.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, timbul kebutuhan yang mendesak pula


untuk menyediakan standar akuntansi keuangan yang dapat digunakan sebagai
pedoman untuk mencatat dan melaporkan transaksi-transaksi sewa guna usaha
sebagai salah satu cara pembiayaan di samping cara-cara pembiayaan konvensional
yang lazim dilakukan melalui sektor perbankan dan pasar modal.

Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 yang beriaku saat ini belum sepenuhnya dapat
memenuhi kebutuhan akan standar akuntansi keuangan untuk transaksi sewa guna
usaha. Menyadari hal tersebut, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Asosiasi Leasing
Indonesia (ALI), Direktorat Jenderal Moneter (DJM) serta Direktorat Jenderal Pajak
(DJP) telah mengadakan kerjasama untuk menyusun Pernyataan ini, yang
dituangkan dalam Piagam Kerjasama tertanggal 10 Nopember 1989.

Berdasarkan Piagam Kerjasama tersebut, telah dibentuk suatu Tim Perumus untuk
menyusun Standar Khusus Akuntansi Sewa Guna Usaha, dengan susunan anggota
sebagai berikut:

Ketua Drs. Jusuf Halim (IAI)


Wakil Ketua Drs. Karnedi Djairan (DJM)
Sekretaris Drs. Budi Purwanto (ALI)
Anggota Drs. Taufieq Herman M.A (DJP)
Anggota Drs. Bambang Heryanto (DJM)
Anggota Dr. Wahjudi Prakarsa (IAI)
Anggota Drs. Sobo Sitorus (DJP)
Anggota Drs. M.V. Adhiprabawa (ALI)
Anggota Drs. Muchtar Tumin (DJP)
Anggota Drs. Victor Panjaitan (DJM)

Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 memuat konsep dasar, prinsip, prosedur, metode
dan teknik akuntansi yang merupakan norma umum dalam praktek penyusunan
laporan keuangan, khususnya yang ditujukan kepada pihak luar (akuntansi
keuangan). Untuk melengkapi dan mengembangkan buku PAI 1984, maka
diterbitkan seri "Pernyataan" dan "Interpretasi Prinsip Akuntansi Indonesia (IPAI)".
Di samping itu, sebagai pedoman dalam penyusunan laporan keuangan industri atau
jenis usaha tertentu, lkatan Akuntan Indonesia juga memandang perlu untuk
menerbitkan standar akuntansi dengan sebutan khusus. Setelah diadakan
pengkajian secara mendalam baik dari sudut pengetahuan maupun praktek
akuntansi, maka telah diperoleh kesepakatan untuk menggunakan istilah "Standar
Khusus Akuntansi" bagi setiap Pernyataan PAI yang khusus berlaku bagi suatu
industri atau jenis usaha tertentu.

2 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Sehubungan dengan itu Prinsip Akuntansi Indonesia Pernyataan No. 6 ini disebut
"Standar Khusus Akuntansi Sewa Guna Usaha". Standar Khusus Akuntansi Sewa
Guna Usaha ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam perlakuan dan
pelaporan transaksi sewa guna usaha.

Jakarta, 19 September 1990

Pengurus Pusat

Ikatan Akuntan Indonesia

3 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Prinsip Akuntansi Indonesia - Pernyataan No. 6 berjudul Standar Khusus Akuntansi


Sewa Guna Usaha telah disetujui dalam rapat komite Prinsip Akuntansi lndoenesia
pada tanggal 15 September 1990 dan telah disahkan oleh rapat pengurus Pusat
Ikatan Akuntan Indonesia pada tanggal 19 September 1990.

Jakarta, 19 September 1990

Pengurus Pusat
Ikatan Akuntan Indonesia

Komite Prinsip Akuntansi Indonesia

Hans Kartikahadi Ketua


Jusuf Halim Sekretaris
Hein G. Surjaatmadja Anggota
Katjep K. Abdoelkadir Anggota
Wahjudi Prakarsa Anggota
M. Ashadi Anggota
Mirza Mochtar Anggota
IPG. Ary Suta Anggota
Sobo Sitorus Anggota
Timoty Marnandus Anggota
Mirawati Soedjono Anggota

4 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

2. Jenis-jenis Sewa Guna Usaha

3. Pelaksanaan Transaksi Sewa Guna Usaha

STANDAR AKUNTANSI SEWA GUNA USAHA

1. Dasar Pertimbangan

2. Tujuan

3. Kriteria Pengelompokan Transaksi Sewa Guna Usaha

4. Perlakuan Akuntansi oleh Perusahaan Sewa Guna (Lessor)

5. Perlakuan Akuntansi oleh Penyewagunausaha (Lessee)

6. Pelaporan dan Pengungkapan Transaksi Sewa Guna Usaha oleh Perusahaan Sewa
Guna Usaha

7. Pelaporan dan Pengungkapan Transaksi Sewa Guna Usaha oleh Penyewa guna
usaha

TANGGAL BERLAKU

LAMPIRAN

Masalah Serta Perkembangan dalam Akuntansi Transaksi Sewa Guna Usaha

5 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kegiatan sewa guna usaha (leasing) diperkenalkan untuk pertama kalinya di


Indonesia pada tahun 1974 dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama
Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian No. Kep-
122/MK/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974 dan No. 30/Kpb/I/74 tanggal 7 Pebruari 1974
tentang "Perijinan Usaha Leasing". Sejak saat itu dan khususnya sejak tahun 1980
jumlah perusahaan sewa guna usaha dan transaksi sewa guna usaha makin
bertambah dan meningkat dari tahun ke tahun untuk membiayai penyediaan barang-
barang modal dunia usaha.

Hadirnya perusahaan sewa guna usaha patungan (joint venture) bersama


perusahaan swasta nasional telah mampu mempopulerkan peranan kegiatan sewa
guna usaha sebagai alternatif pembiayaan barang modal yang sangat dibutuhkan
para pengusaha di Indonesia, disamping cara-cara pembiayaan konvensional yang
lazim dilakukan melalui perbankan.

Perluasan cara-cara pembiayaan tersebut sejalan dengan definisi leasing atau sewa
guna usaha sebagaimana dituangkan dalam pasal 1 SKB Menteri Keuangan, Menteri
Perdagangan dan Menteri Perindustrian tersebut diatas yang menyatakan:

"Leasing ialah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan


barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka
waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan
hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang
bersangkutan atau me mperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang
telah disepakati bersama".

Definisi tersebut tampaknya hanya menampung satu jenis sewa guna usaha yang
lazim disebut finance lease atau sewa guna usaha pembiayaan. Namun demikian,
dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1988
tanggal 20 Desember 1988, jenis kegiatan sewa guna usaha telah diperluas
sebagaimana tersirat dalam pasal 1 keputusan tersebut yang menampung definisi-
definisi berikut ini:

a. Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company) adalah badan usaha yang
melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal
baik secara Finance Lease maupun Operating Lease untuk digunakan oleh
Penyewa Guna Usaha selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran
secara berkala.

6 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

b. Finance Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha, di mana Penyewa Guna
Usaha pada akhir masa kontrak mempunyai hak opsi untuk membeli obyek
sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama.

c. Operating Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha di mana Penyewa Guna
Usaha tidak mempunyai hak opsi untuk membeli obyek sewa guna usaha.

d. Penyewa Guna Usaha (Lessee) adalah perusahaan atau perorangan yang


menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak Perusahaan Sewa
Guna Usaha (lessor). "

Ketentuan tersebut ternyata tidak banyak merubah pengertian dasar sewa guna
usaha di Indonesia karena hanya membuka peluang bagi perusahaan sewa guna
usaha untuk melakukan kegiatan usahanya dalam operating lease yang pada
hakekatnya merupakan usaha sewa-menyewa biasa.

Namun demikian, dengan terbukanya kemungkinan bagi perusahaan sewa guna


usaha untuk memperluas bidang usahanya yang mencakup baik sewa guna usaha
pembiayaan (finance lease) maupun sewa-menyewa biasa (operating lease) maka
dirasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk menyediakan standar akuntansi
keuangan yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk mencatat dan melaporkan
transaksi-transaksi sewa guna usaha sesuai dengan karakteristik serta ruang lingkup
yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan tersebut. Kebutuhan ini
terutama lebih dirasakan pentingnya mengingat selama ini belum ada ketetapan
tentang status hukum maupun perlakuan akuntansi yang jelas mengenai transaksi
sewa guna usaha.

Di samping itu, meskipun kegiatan sewa guna usaha di negara-negara maju relatif
lebih dikenal dan berkembang, perlakuan akuntansi atas transaksi sewa guna usaha
ternyata masih terbentur pada berbagai masalah pelik dan rumit yang senantiasa
menjadi obyek pertentangan.

Masalah- masalah yang dihadapi dalam hubungan ini serta perkembangan akuntansi
sewa guna usaha diikhtisarkan dalam Lampiran.

2. Jenis-jenis Sewa Guna Usaha

Jenis-jenis sewa guna usaha yang sudah dikenal secara umum, termasuk dua jenis
sewa guna usaha yang telah ditampung dalam Keputusan Menteri Keuangan
tersebut, adalah sebagai berikut:

2.1 Finance Lease (Sewa Guna Usaha Pembiayaan)

Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah pihak
yang membiayai penyediaan barang modal. Penyewa guna usaha (lessee) biasanya
memilih barang modal yang dibutuhkan dan, atas nama perusahaan sewa guna
usaha, sebagai pemilik barang modal tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan
serta pemeliharaan barang modal yang menjadi obyek transaksi sewa guna usaha.
Selama masa sewa guna usaha, penyewa guna usaha melakukan pembayaran sewa
guna usaha secara berkala di mana jumlah seluruhnya ditambah dengan
pembayaran nilai sisa (residual value), kalau ada, akan mencakup pengembalian

7 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

harga perolehan barang modal yang dibiayai serta bunganya, yang merupakan
pendapatan perusahaan sewa guna usaha.

2.2. Operating Lease (Sewa-Menyewa Biasa)

Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha membeli barang modal
dan selanjutnya disewagunausahakan kepada penyewa guna usaha. Berbeda dengan
finance lease, jumlah seluruh pembayaran sewa guna usaha berkala dalam operating
lease tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang
modal tersebut berikut dengan bunganya. Perbedaan ini disebabkan karena
perusahaan sewa guna usaha mengharapkan keuntungan justru dari penjualan
barang modal yang disewagunausahakan, atau melalui beberapa kontrak sewa guna
usaha lainnya.

Dalam sewa guna usaha jenis ini dibutuhkan keahlian khusus dari perusahaan sewa
guna usaha untuk memelihara dan memasarkan kembali barang modal yang
disewagunausahakan sehingga, berbeda dengan finance lease, perusahaan sewa
guna usaha dalam operating lease biasanya bertanggungjawab atas biaya-biaya
pelaksanaan sewa guna usaha seperti asuransi, pajak maupun pemeliharaan barang
modal yang bersangkutan.

2.3. Sales-Type Lease (Sewa Guna Usaha Penjualan)

Sewa guna usaha jenis ini merupakan transaksi pembiayaan sewa guna usaha
secara langsung (direct finance lease) di mana dalam jumlah transaksi termasuk
laba yang diperhitungkan oleh pabrikan atau penyalur yang juga merupakan
perusahaan sewa guna usaha. Sewa guna usaha jenis ini seringkali merupakan suatu
jalur pemasaran bagi produk perusahaan tertentu.

2.4. Leveraged Lease

Transaksi sewa guna usaha jenis ini melibatkan setidaknya tiga pihak, yakni
penyewa guna usaha, perusahaan sewa guna usaha dan kreditor jangka panjang
yang membiayai bagian terbesar dari transaksi sewa guna usaha.

3. Pelaksanaan transaksi sewa guna uwha

Ditinjau dari teknis pelaksanaannya, transaksi sewa guna usaha dapat dilaksanakan
sebagai berikut:

3.1. Sewa Guna Usaha Langsung (Direct Lease)

Dalam transaksi jenis ini penyewa guna usaha belum pernah memiliki barang modal
yang menjadi obyek sewa guna usaha sehingga atas permintaannya perusahaan
sewa guna usaha membeli barang modal tersebut.

Tujuan utama penyewa guna usaha adalah mendapatkan pembiayaan melalui sewa
guna usaha untuk memperoleh barang modal yang dapat digunakan dalam proses
produksi.

8 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

3.2. Penjualan dan Penyewaan Kembali (Sale and Leaseback)

Dalam transaksi ini, penyewa guna usaha terlebih dahulu menjual barang modal
yang sudah dimilikinya kepada perusahaan sewa guna usaha dan atas barang modal
yang sama ini kemudian dilakukan kontrak sewa guna usaha antara penyewa guna
usaha (pemilik semula) dengan perusahaan sewa guna usaha.

4. Sewa Guna Usaha Sindikasi (Syndicated Lease)

Dalam sewa guna usaha sindikasi beberapa perusahaan sewa guna usaha secara
bersama melakukan transaksi sewa guna usaha dengan satu penyewa guna usaha.
Sewa guna usaha ini dilakukan karena nilai transaksi yang terlampau besar atau
karena faktor-faktor lain. Salah satu perusahaan sewa guna usaha akan ditunjuk
sebagai koordinator sehingga penyewa guna usaha cukup berkomunikasi dengan
perusahaan ini untuk melaksanakan segala sesuatu yang menyangkut transaksi
sewa guna usaha. Pelaksanaan transaksi ini dapat dilakukan baik melalui sewa guna
usaha langsung maupun penjualan dan penyewaan kembali.

9 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

BAB II

STANDAR AKUNTANSI SEWA GUNA USAHA

1. Dasar Pertimbangan

Menurut ketentuan dalam pasal 3 ayat (3) Keputusan Menteri Keuangan No.
1251/KMK.013/1988 tanggal 20 Desember 1988 dinyatakan bahwa sepanjang
perjanjian sewa guna usaha masih berlaku, hak milik atas barang modal obyek
transaksi sewa guna usaha berada pada perusahaan sewa guna usaha. Dengan
demikian, selama jangka waktu sewa guna usaha, hak milik (legal title) atas aktiva
yang disewagunausahakan tetap berada pada perusahaan sewa guna usaha
meskipun berdasarkan suatu perjanjian sewa guna usaha tanggung jawab atas
penggunaan aktiva tersebut diserahkan kepada penyewa guna usaha.

Terlepas dari ketentuan tersebut, ditinjau dari aspek akuntansi, paragraf 35


Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan menyatakan bahwa
laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomi (economic substance)
dari suatu peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (legal form).

Oleh karena itu, apabila suatu transaksi sewa guna usaha yang berdasarkan makna
ekonominya merupakan pemindahan dari seluruh manfaat serta resiko yang melekat
pada kepemilikan suatu aktiva, maka transaksi tersebut harus dipandang sebagai
perolehan suatu aktiva dan terjadinya kewajiban (capital lease) bagi penyewa guna
usaha, dan suatu penjualan atau pembiayaan (finance lease) bagi perusahaan sewa
guna usaha.

Sebaliknya apabila suatu transaksi sewa guna usaha yang berdasarkan makna
ekonominya tidak merupakan suatu pemindahan seluruh manfaat dan resiko yang
melekat pada kepemilikan aktiva tersebut, maka transaksi tersebut harus dipandang
sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease) antara perusahaan sewa
guna usaha dengan penyewa guna usaha.

2. TUJUAN

Pernyataan ini dirumuskan berdasarkan beberapa alasan berikut ini:

(a) Diperlukan ketegasan tentang perlakuan dan pelaporan transaksi sewa guna
usaha yang dapat mengungkapkan status aktiva yang disewagunausahakan
baik bagi perusahaan sewa guna usaha maupun penyewa guna usaha.

(b) Perlu adanya pedoman tentang keseragaman perlakuan akuntansi transaksi


sewa guna usaha sehingga data keuangan yang disajikan dalam laporan
keuangan dapat dianalisis dan ditafsirkan dengan mudah oleh semua pihak
yang berkepentingan.

(c) Dengan meluasnya transaksi sewa guna usaha di Indonesia setelah kebijakan
deregulasi dan debirokratisasi, maka perlu diatur pengungkapan yang layak

10 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

dalam standar akuntansi keuangan untuk memenuhi kebutuhan para pemakai


laporan keuangan.

3. Kriteria Pengelompokan Transaksi Sewa Guna Usaha

Berhubung dasar pertimbangan utama yang digunakan adalah asas makna ekonomi,
maka suatu transaksi sewa guna usaha akan dikelompokkan sebagai capital lease
bagi penyewa guna usaha atau finance lease bagi perusahaan sewa guna usaha
apabila dipenuhi semua kriteria berikut ini:

(a) Penyewa guna usaha memiliki hak opsi untuk membeli aktiva yang
disewagunausaha pada akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang telah
disetujui bersama pada saat dimulainya perjanjian sewa guna usaha.

(b) Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewa guna usaha
ditambah dengan nilai sisa mencakup pengembalian harga perolehan barang
modal yang disewagunausaha serta bunganya, sebagai keuntungan perusahaan
sewa guna usaha (full payout lease).

(c) Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) tahun.

Kalau salah satu kriteria tersebut di atas tidak terpenuhi maka transaksi sewa guna
usaha dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease).

4. Perlakuan Akuntansi oleh Perusahaan Sewa Guna Usaha (Lessor)

4.1. Finance Lease

1 . Penanaman neto dalam aktiva yang disewagunausahakan harus diperlakukan dan


dicatat sebagai penanaman neto sewa guna usaha. Jumiah penanaman neto
tersebut terdiri dari jumlah piutang sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga
opsi) yang akan diterima oleh perusahaan sewa guna usaha pada akhir masa
sewa guna usaha dikurangi dengan pendapatan sewa guna usaha yang belum
diakui (unearned lease income), dan simpanan jaminan (security deposit).

2. Selisih antara piutang sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) dengan
harga perolehan aktiva yang disewagunausahakan diperlakukan sebagai
pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui (unearned lease income).

3. Pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui harus dialokasikan secara
konsisten sebagai pendapatan tahun berjalan berdasarkan suatu tingkat
pengembalian berkala (periodic rate of retum) atas penanaman neto perusahaan
sewa guna usaha.

4. Apabila perusahaan sewa guna usaha menjual barang modal kepada penyewa
guna usaha sebelum berakhirnya masa sewa guna usaha, maka perbedaan
antara harga jual dengan penanaman neto dalam sewa guna usaha pada saat
penjualan dilakukan harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian
periode berjalan.

11 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

5. Pendapatan lain yang diterima sehubungan dengan transaksi Sewa Guna Usaha
harus diakui dan dicatat sebagai pendapatan periode berjalan.

4.2. Operating Lease

1 . Barang modal yang disewagunausahakan harus diperlakukan dan dicatat sebagai


aktiva sewa guna usaha berdasarkan harga perolehan.

2. Pembayaran sewa guna usaha (lease payments) selama tahun berjalan yang
diperoleh dari penyewa guna usaha diakui dan dicatat sebagai pendapatan sewa.
Pendapatan sewa harus diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus
sepanjang masa sewa guna usaha, meskipun pembayaran sewa guna usaha
mungkin dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode.

3. Penyusutan aktiva yang disewagunausahakan harus dilakukan dalam jumlah


yang layak berdasarkan taksiran masa manfaatnya.

4. Kalau aktiva yang disewagunausahakan dijual maka perbedaan antara nilai buku
dan harga jual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian tahun
berjalan.

5. Perlakuan Akuntansi o leh Penyewagunausaha (Lessee)

5.1. Capital Lease

1. Transaksi sewa guna usaha diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan
kewajiban pada awal masa sewa guna usaha sebesar nilai tunai dari seluruh
pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus
dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha. Selama
masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha dialokasikan dan
dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban bunga
berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban
penyewa guna usaha.

2. Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran
sewa guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh perusahaan sewa
guna usaha atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha.

3. Aktiva yang disewagunausaha harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar


berdasarkan taksiran masa manfaatnya.

4. Kalau aktiva yang disewagunausaha dibeli sebelum berakhirnya masa sewa guna
usaha, maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan dengan sisa
kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan.

5. Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka
panjang sesuai dengan praktek yang lazim untuk jenis usaha penyewa guna
usaha.

12 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

6. Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sales and leaseback)
maka transaksi tersebut harus diperlakukan sebagai dua transaksi yang terpisah
yaitu transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. Selisih antara harga
jual dan nila i buku aktiva yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai
keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntungan atau
kerugian yang ditangguhkan harus dilakukan secara proporsional dengan biaya
amortisasi aktiva yang disewa guna usaha apabila leaseback merupakan capital
lease atau secara proporsional dengan biaya sewa apabila leaseback merupakan
operating lease.

5.2. Sewa Menyewa Biasa {Operating Lease)

Pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang
diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus selama masa sewa guna usaha,
meskipun pembayaran sewa guna usaha dilakukan dalam jumlah yang tidak sama
setiap periode.

6. pelaporan dan pengungkapan Transaksi Sewa Guna Usaha oleh


Perusahaan Sewa Guna Usaha

6.1. Finance Lease

1. Aktiva dilaporkan berdasarkan urutan likuiditasnya, kewajiban dilaporkan


berdasarkan urutan jatuh temponya tanpa mengelompokkan ke dalam unsur
lancar dan tidak lancar (unclassified balance sheet).

2. Penanaman neto dalam aktiva yang disewagunausahakan harus dilaporkan dalam


neraca dengan rincian sebagai berikut:

Piutang Sewa Guna Usaha Rp xxxxx


Nilai Sisa Yang Terjamin - xxxxx
Pendapatan Sewa Guna Usaha Yang
Belum Diakui- (xxxxx)
Simpanan Jaminan - (xxxxx)
Penanaman Netto Sewa Guna Usaha Rp xxxxx
Penyisihan Piutang Sewa Guna Usaha
yang Diragukan (xxxxx)
Jumlah Penanaman Neto Rp xxxxx

3. Laporan laba rugi disajikan sedemikian rupa sehingga seluruh pendapatan


dilaporkan dalam kelompok yang terpisah dari kelompok biaya (single step).
Pendapatan sewa guna usaha harus dilaporkan sebagai komponen utama dalam
kelompok Pendapatan.

4. Jumlah penanaman neto dan pendapatan sewa guna usaha dalam sewa guna
usaha sindikasi dan leveraged leases harus dilaporkan oleh masing- masing pihak
secara proporsional sesuai dengan penyertaannya.

5. Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan


keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut:

13 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

• Kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan


transaksi sewa guna usaha.
• Jumlah pembayaran sewa guna usaha paling tidak untuk 2 (dua) tahun
berikutnya.
• Sifat dari simpanan jaminan yang merupakan kewajiban perusahaan
sewa guna usaha kepada penyewa guna usaha.
• Piutang sewa guna usaha yang dijaminkan kepada pihak ketiga.
• Sewa guna usaha sindikasi dan leveraged leases.

6. 2. Operating Lease

1. Barang modal yang disewagunausahakan dilaporkan berdasarkan harga perolehan


setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutannya.

2. Aktiva yang disewagunausahakan dilaporkan secara terpisah dari aktiva tetap


yang tidak disewagunausahakan.

3. Perhitungan rugi laba harus disusun sedemikian rupa sehingga seluruh


pendapatan dilaporkan dalam kelompok yang terpisah dari kelompok biaya
(single step). Pendapatan sewa guna usaha harus dilaporkan sebagai komponen
utama dalam kelompok pendapatan.

4. Penyusutan aktiva yang disewagunausahakan dilaporkan secara terpisah dari


penyusutan aktiva yang tidak disewagunausahakan .

5. Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan


keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut:

• Kebijakan akuntansi penting yang digunakan sehubungan dengan transaksi


sewa guna usaha.
• Jumlah pembayaran sewa guna usaha paling tidak untuk 2 (dua) tahun
berikutnya.
• Sifat dari simpanan jaminan (jika ada)
• Aktiva yang disewagunausahakan yang dijaminkan kepada pihak ketiga.
• Sewa guna usaha sindikasi dan leveraged leases.

7. Pelaporan dan Pengungkapan Transaksi sewa Guna Usaha oleh


Penyewagunausaha

7.1. Capital Lease

1. Aktiva yang disewagunausaha dilaporkan sebagai bagian aktiva tetap dalam


kelompok tersendiri. Kewajiban sewa guna usaha yang bersangkutan harus
disajikan terpisah dari kewajiban lainnya.

2. Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan


keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut:

14 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dibayar paling tidak untuk 2 (dua)
tahun berikutnya.

• Penyusutan aktiva yang disewagunausahakan yang dibebankan dalam tahun


berjalan.
• Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha.
• Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya
sehubungan dengan transaksi sale and leaseback.
• Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha
(major covenants).

7.2. Operating Lease

Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan
mengenai hal-hal sebagai berikut:

• Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan yang


dibebankan sebagai biaya sewa.
• Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dilakukan paling tidak
untuk 2 (dua) tahun berikutnya.
• Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha.
• Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya
sehubungan dengan transaksi sale and leaseback.
• Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha
(major covenants).

15 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

BAB III

TANGGAL BERLAKU

Pernyataan ini berlaku untuk transaksi sewa guna usaha yang dilakukan selambat-
lambatnya mulai tanggal 1 Januari 1991. Namun demikian penerapan lebih dini
dianjurkan.

Transaksi sewa guna usaha yang telah dilakukan sebelum tanggal 1 Januari 1991,
perlakuannya harus mengacu pada pernyataan ini mulai tanggal 1 Januari 1991,
tanpa perlu melakukan pernyataan kembali (restatement) terhadap laporan
keuangan yang telah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya.

16 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

LAMPIRAN

MASALAH SERTA PERKEMBANGAN DALAM

AKUNTANSI TRANSAKSI GUNA USAHA

Sebagaimana telah disinggung dalam Bab Pendahuluan, meskipun tahap


perkembangan kegiatan sewa guna. usaha di negara-negara maju sudah jauh lebih
lanjut relatif terhadap perkembangannya di Indonesia, perlakuan akuntansinya
masih terbentur pada berbagai masalah pelik dan rumit yang senantiasa menjadi
obyek pertentangan.

Misalnya, Leaseurope (organisasi yang mewakili assosiasi-assosiasi leasing dari 16


negara-negara Eropa Barat) keberatan apabila kapitalisasi sewa guna usaha
dilakukan oleh penyewa guna usaha karena pertentangan hak atas aktiva yang
dikapitalisasi serta kerumitan yang inheren dalam penerapannya. Penolakan ini
menunjukkan bahwa proses penerapan International Accounting Standard (IAS) 17
di Eropa tidak selancar seperti yang diharapkan, karena belum adanya kesepakatan
di kalangan profesi akuntansi dan para praktisi mengenai perlakuan akuntansinya.

Demikian pula halnya di Amerika Serikat di mana penerapan Statement of Financial


Accounting Standard (SFAS) 13 telah terbukt i mengalami berbagai kesulitan.
Akibatnya, Statement tersebut terpaksa diikuti dengan berbagai tindak lanjut di
antaranya melalui beberapa SFAS dan FASB Interpretation.1

Footnote :

1 SFAS S22, "Changes in the Provision of Lease Agreements Resulting from Refunding of Tax Exempt Debt: SFAS 23,
"Inception of the Lease"; SFAS 26,"Profit Recognition on Sales -Type Leases of Real Estate"; SFAS 27, "Classification of
Renewals or Extensions of Existing Sales-Type or Direct Financing Leases"; SFAS 29, "Determining Contingent
Rentals"; FASB Interpretation 19,"Lessee Guarantee of the Residual Value of Leased Property"; FASB

Interpretation 23, "Leases of Certain Property Owned by a Governmental Unit or Authority"; FASB Interpretation 24,
"Leases Involving Only Part of a Building"; FASB Interpretation 26, "Accounting for Purchase of a Leased Asset by the
Lessee During the Term of the Lease"; dan FASB Interpretation 27, "Accounting for a Loss on Sublease".

Meskipun baru berkembang pada tahap dini, situasi yang dihadapi di Indonesia tidak
jauh berbeda. Selama ini, perkembangan perlakuan akuntansi transaksi sewa guna
usaha yang diterapkan oleh perusahaan sewa guna usaha dan penyewa guna usaha
selama ini hanya mengacu pada berbagai sumber serta ketentuan-ketentuan sebagai
berikut ini:

1. Surat Edaran Direktur Jenderal Moneter Dalam Negeri No. SE-499/MD/1984 tanggal
24 Januari 1984 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penyampaian Laporan Perusahaan
Leasing. Butir 5 Surat Edaran tersebut menyatakan bahwa: "Neraca dan Perhitungan
Laba Rugi Perusahaan disusun berdasarkan finance method dengan ketentuan
sekurang-kurangnya harus dapat mencerminkan secara jelas posisi investasi dalam
leasing, aktiva lancar, aktiva tetap, hutang lancar/ jangka pendek, hutang jangka
panjang dan modal sendiri (equity) perusahaan pada periode laporan".

Surat Edaran tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi berdasarkan Keputusan Presiden
No. 61/1988 dan Keputusan Menteri Keuangan No. 1251/KMK.013/1988 tanggal 20
Desember 1988.

17 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

2. Exposure Draft Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1983 Pasal 13 Pada Bab III tentang
leasing menyatakan:

2.1. Leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk


penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan
untuk suatu jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran
secara berkala, disertai dengan hak pilih (opsi) bagi perusahaan tersebut untuk
membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang
jangka waktu sewa berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama.

2.2. Akuntansi untuk el ase berlandaskan pada konsep makna ekonomi ("substance
over form"), yaitu dengan melihat pada makna/hakekat dari transaksi yang
bersangkutan, apakah telah terjadi pemindahan secara substantial atas
manfaat dan risiko yang inherent dalam pemilikan aktiva yang disewakan.

Bila terjadi pemindahan risiko dan manfaat secara substansial dari lessor
kepada lessee, lease demikian dikategorikan sebagai "capital lease" oleh lessee,
dan merupakan "direct financing lease" atau "sales-type lease" bagi lessor. Bila
terjadi hal yang sebaliknya, baik lessor maupun lessee
mempertanggungjawabkannya sebagai operating lease.

2.3. Perlakuan akuntansi untuk lease dalam laporan keuangan lessee dapat
diikhtisarkan sebagai berikut:

2.3.1. Capital lease. Direfleksikan dalam neraca dengan cara mencatat


timbulnya suatu aktiva dan kewajiban sebesar nilai terendah dari nilai
tunai pembayaran sewa minimum selama periode lease atau nilai wajar
aktiva yang disewa pada awal periode lease.

Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha
akan dialokasikan sebagai pengurang kewajiban serta biaya bunga.
Aktiva yang disewagunausaha berdasarkan capital lease serta akumulasi
penyusutannya harus disajikan dalam neraca lessee secara terpisah
ataupun diungkapkan secara wajar dalam catatan atas laporan
keuangan. Demikian pula dengan kewajiban karena suatu sewa guna
usaha, harus dinyatakan dan dikelompokkan sebagai kewajiban lancar
atau kewajiban jangka panjang dalam neraca sesuai dengan ketentuan
yang lazim dilakukan. Penyusutan aktiva yang disewagunausaha yang
dibebankan terhadap pendapatan harus pula diungkapkan.

2.3.2. Operating lease. Pembayaran sewa guna usaha dalam suatu operating
lease dibebankan sebagai biaya sepanjang masa sewa guna usaha pada
saat terhutang .

Apabila pembayaran sewa guna usaha tidak dilakukan berdasarkan


metode garis lurus, biaya sewa guna usaha tetap harus diakui
berdasarkan metode garis lurus kecuali terdapat dasar lain yang lebih
sistematis dan mencerminkan pola waktu manfaat yang diperoleh dari
penggunaan akt iva tersebut.

18 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

2.4. Dari pihak lessor, perlakuan akuntansinya adalah sebagai berikut:

2.4.1. Direct financing lease. Pada neraca dicatat "tagihan pembayaran lease"
(lease payments receivable) sejumlah pembayaran sewa minimum
ditambah unguaranteed residual value. Selisih nilai tersebut dengan
biaya atau nilai buku aktiva yang disewakan, dicatat sebagai
pendapatan yang ditangguhkan.

2.4.2. Sales-type lease. Perlakuan akuntansinya sama dengan direct financing


lease. Satu hal yang membedakan sales-type lease dengan direct
financing lease adalah adanya unsur "manufacturer's or dealer's profit"
pada permulaan lease.

2.4.3. Operating lease . Lessor tetap mencatat aktiva yang disewakan sebagai
aktiva tetap dan menyusutkannya sesuai dengan kebijaksanaan
penyusutan yang normal. Pendapatan sewa harus dilaporkan dalam
laporan laba rugi selama jangka waktu lease.

Usul ini telah diputuskan untuk ditangguhkan dan tidak ditampung dalam
Standar Akuntansi Keuangan dengan catatan akan dikeluarkan dalam suatu
pernyataan tersendiri.

3. International Accounting Standard (IAS) NO. 17

3.1. Pengelompokan Sewa Guna Usaha

Pengelompokan sewa guna usaha oleh IAS didasarkan pada pandangan makna
ekonomi di mana risiko serta manfaat yang melekat pada kepemilikan aktiva yang
disewagunausahakan ada pada pihak lessor atau lessee dan bukannya berdasarkan
kontrak sewa guna usaha.

Suatu sewa guna usaha dikelompokkan sebagai finance lease apabila seluruh risiko
serta manfaat yang melekat pada kepemilikan diserahkan kepada lessee. Sewa guna
usaha jenis ini biasanya tidak dapat dibatalkan dan menjamin lessor terhadap
pengembalian modal maupun pendapatannya dalam penanaman sewa guna usaha
tersebut.

Sewa guna usaha yang tidak memenuhi kriteria ini dikelompokkan sebagai operating
lease.

3.2. Akuntansi Sewa Guna Usaha dalam Laporan Keuangan lessor

Dalam pasal 48 dinyatakan bahwa suatu aktiva berdasarkan finance lease harus
dicatat dalam neraca sebagai piutang sejumlah yang sama dengan penanaman neto
dalam sewa guna usaha dan bukannya sebagai aktiva tetap.

Sedangkan dalam pasal 49 dinyatakan bahwa pendapatan dalam finance lease harus
didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian berkala
yang tetap dan harus diterapkan secara konsisten.

19 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Dalam operating lease pendapatan sewa guna usaha harus diakui berdasarkan garis
lurus selama masa sewa guna usaha atau dengan dasar lain yang lebih sistimatis
dan tetap berdasarkan pola waktu pembentukan pendapatan.

Sedangkan penyusutan aktiva yang disewagunausahakan harus diterapkan secara


konsisten berdasarkan kebijaksanaan umum lessor dalam penyusutan aktiva tetap
lainnya.

Atas transaksi sewa guna usaha yang dilaporkan sebagai finance lease
pengungkapan yang layak harus dilakukan pada setiap tanggal neraca mengenai
jumlah bruto penanaman, pendapatan yang belum dihasilkan serta nilai sisa aktiva
yang dilease yang tidak terjamin. Dasar yang digunakan untuk pengakuan
pendapatan juga harus diungkapkan. Sedangkan apabila sebagian besar kegiatan
usaha lessor terdiri dari operating /ease, pada setiap tanggal neraca lessor harus
mengungkapkan jumlah aktiva berdasarkan pengelompokan aktiva serta akumulasi
penyusutannya.

3.3. Akuntansi Sewa Guna Usaha Dalam Laporan Keuangan Lessee

Dalam pasal 44 dinyatakan bahwa suatu finance lease harus dicerminkan dalam
neraca lessee dengan mencatat aktiva dan kewajiban sejumlah yang sama dengan
nilai pasar yang wajar atau dengan nilai tunai jumlah pembayaran sewa guna usaha
berkala pada saat permulaan masa sewa guna usaha.

Sedangkan dalam pasal 47 dinyatakan bahwa dalam operating lease pembebanan


biaya terhadap pendapatan harus merupakan biaya sewa (sewa guna usaha) untuk
periode akuntansi yang bersangkutan dan diakui berdasarkan metode yang sistimatis
serta mencerminkan pola waktu manfaat yang diperoleh lessee.

Dalam finance lease, alokasi pembayaran sewa guna usaha harus dilakukan terhadap
pengurangan pokok kewajiban lessee serta pembayaran bunga berdasarkan tingkat
bunga yang tetap terhadap sisa kewajiban lessee. Suatu finance lease
mengakibatkan timbulnya penyusutan atas aktiva yang disewagunausahakan bagi
lessee. Kebijaksanaan penyusutan aktiva yang disewagunausaha harus diterapkan
secara konsisten sesuai dengan kebijaksanaan penyusutan aktiva tetap lainnya.

Apabila tidak ada kepastian bahwa lessee akan mendapatkan kepemilikan pada akhir
masa sewa guna usaha, nilai aktiva yang disewa guna usaha harus disusutkan
seluruhnya dalam jangka waktu yang lebih singkat daripada masa sewa guna usaha
atau umur ekonomisnya.

Dalam transaksi sale-leaseback yang dilakukan secara finance lease, kelebihan hasil
penjualan terhadap nilai buku tidak boleh segera diakui sebagai pendapatan dalam
laporan keuangan penjual (lessee) melainkan pengakuannya ditangguhkan dan
dialokasikan selama masa sewa guna usaha.

Apabila transaksi sale-leaseback ini dilakukan secara operating lease berdasarkan


nilai pasar yang wajar, laba atau rugi harus langsung diakui. Sedangkan apabila nilai
transaksi sale-leaseback itu dilakukan di atas nilai pasar yang wajar, kelebihan
terhadap nilai pasar yang wajar harus ditangguhkan pengakuannya dan dialokasikan
selama masa sewa guna usaha.

20 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Pada setiap tanggal neraca, pengungkapan yang layak harus dilakukan terhadap
jumlah aktiva yang diperoleh melalui finance lease. Kewajiban yang berhubungan
dengan sewa guna usaha harus dinyatakan secara terpisah dari kewajiban lainnya
dengan membedakan bagian yang bersifat lancar dan jangka panjang.

Ikatan untuk pembayaran sewa guna usaha minimum berdasarkan finance lease
maupun dalam operating lease yang tidak dapat dibatalkan dan jangka waktunya
melebihi satu tahun, harus diungkapkan dalam bentuk ringkasan yang meliputi
jumlah serta masa berdasarkan jatuh tempo pembayarannya.

Pengungkapan juga harus dilakukan terhadap data penting seperti pembatasan-


pembatasan di bidang keuangan, pembaharuan serta opsi untuk membeli,
pembayaran sewa yang masih harus dilakukan serta ikatan-ikatan lainnya yang
ditimbulkan oleh adanya sewa guna usaha.

4. Statement of Financial Accounting Standard (SFAS) No. 13

4.1. Kriteria Pengelompokan Sewa Guna Usaha

SFAS No. 13 menentukan kriteria pengelompokan sewa guna usaha berdasarkan


suatu konsep makna ekonomi yaitu apabila suatu sewa guna usaha memindahkan
seluruh manfaat dan risiko yang melekat pada kepemilikan aktiva, maka sewa guna
usaha harus dipandang sebagai perolehan suatu aktiva dan terjadinya suatu
kewajiban bagi lessee, dan sebagai suatu penjualan atau pembiayaan bagi lessor.

Dan apabila pada awal suatu sewa guna usaha terpenuhi salah satu dari kriteria
berikut, maka sewa guna usaha akan dikelompokkan sebagai capital lease bagi
lessee, apabila tidak, maka sewa guna usaha tersebut akan dikelompokkan sebagai
operating lease.

Kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pada akhir masa sewa guna usaha terdapat pemindahan kepemilikan aktiva yang
disewagunausaha dari lessor kepada lessee.

2. Pada akhir masa sewa guna usaha terdapat hak opsi bagi lessee untuk membeli
aktiva yang disewagunausaha pada suatu tingkat harga yang lebih rendah dari
taksiran nilai pasar yang wajar pada saat hak opsi dilakukan.

3. Masa sewa guna usaha sama atau melebihi 75 % dari taksiran umur ekonomis
aktiva yang disewa guna usaha.

4. Nilai tunai pada awal masa sewa guna usaha atas pembayaran sewa guna usaha
minimum, tidak termasuk biaya biaya pelaksanaan, sama atau lebih besar dari
90 % nilai wajar aktiva yang disewagunausaha.

Sedangkan bagi lessor untuk dapat dikelompokkan sebagai direct financing lease
selain salah satu dari kriteria di atas, dua kriteria lain juga mutlak harus dipenuhi.
Apabila tidak maka sewa guna usaha tersebut akan dikelompokkan sebagai
operating lease.

21 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

Kedua kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tertagihnya pembayaran sewa guna usaha minimum dapat diramalkan.

2. Tidak terdapat ketidakpastian yang berarti terhadap jumlah biaya yang


merupakan beban lessor atas suatu sewa guna usaha.

4.2. Akuntansi Sewa Guna Usaha Dalam Laporan Keuangan Lessor

Dalam pasal 18 dinyatakan bahwa dalam direct financing lease pembayaran sewa
guna usaha minimum ditambah dengan nilai sisa yang tidak dijamin yang
diperhitungkan sebagai manfaat lessor harus dicatat sebagai penanaman bruto
dalam sewa guna usaha.

Selisih jumlah penanaman bruto dengan harga perolehan akan dicatat sebagai
pendapatan yang belum diakui yang akan dialokasikan selama masa sewa guna
usaha untuk menghasilkan suatu tingkat pengembalian berkala terhadap penanaman
neto dalam sewa guna usaha. Penanaman bruto dikurangkan dengan pendapatan
yang belum diakui, akan merupakan penanaman neto dalam sewa guna usaha.
Pengelompokan penanaman neto sebagai aktiva lancar dan aktiva jangka panjang
dalam neraca dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sedangkan dalam pasal 19 dinyatakan bahwa dalam operating lease, barang modal
yang menjadi obyek sewa guna usaha akan dicatat sebagai aktiva yang
disewagunausahakan, dan disajikan mendahului atau segera setelah aktiva tetap
dalam neraca lessor. Penyusutan dilakukan berdasarkan cara yang lazim dilakukan
lessor untuk penyusutan aktiva tetap lainnya dan akumulasi penyusutannya
dikurangkan atas penanaman dalam sewa guna usaha tersebut.

Pembayaran sewa guna usaha dalam operating lease akan dilaporkan sebagai
pendapatan selama masa sewa guna usaha pada saat terhutang oleh lessee sesuai
dengan ketentuan dalam kontrak sewa guna usaha.

Meskipun pembayaran sewa guna usaha berbeda dengan metode garis lurus, namun
pengakuan sebagai pendapatan dilakukan dengan metode garis lurus, kecuali apabila
terdapat dasar lain yang lebih sistematik dan mencerminkan pola waktu
pengurangan manfaat aktiva akibat penggunaan.

Pada setiap tanggal neraca dalam suatu direct financing lease harus diungkapkan
secara layak jumlah pembayaran sewa guna usaha minimum yang harus diterima
untuk setiap tahun sampai tahun kelima, nilai sisa yang tidak dijamin yang
diperhitungkan untuk manfaat lessor serta pendapatan yang belum diakui.
Sedangkan untuk operating lease harga perolehan aktiva yang disewagunausahakan
atau nilai sisanya apabila berbeda diungkapkan dengan merinci berdasarkan sifat
dan fungsi kelompok aktiva disertai dengan akumulasi penyusutannya masing-
masing. Jumlah pembayaran sewa guna usaha minimum atas sewa guna usaha yang
tidak bisa dibatalkan harus diungkapkan untuk setiap tahun sampai tahun kelima
berikutnya.

22 of 23
PSAK No. 30 Akuntansi Sewa Guna Usaha

4.3. Akuntansi Sewa Guna Usaha Dalam Laporan Keuangan Lessee

Dalam pasal 10 dinyatakan bahwa dalam capital lease, lessee harus mencatat
barang modal sewa guna usaha sebagai aktiva, dan kewajiban pada suatu jumlah
yang sama dengan nilai tunai pembayaran sewa guna usaha minimum selama masa
sewa guna usaha pada saat permulaan sewa guna usaha. Dalam hal jumlah yang
ditentukan terhadap aktiva yang disewagunausaha melebihi nilai pasar yang wajar
pada saat permulaan sewa guna usaha, jumlah yang dicatat sebagai aktiva dan
kewajiban harus tetap berdasarkan jumlah nilai pasar yang wajar. Selama masa
sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha akan dialokasikan sebagai
pengurang kewajiban serta biaya bunga.

Aktiva yang disewagunausaha berdasarkan capital lease serta akumulasi


penyusutannya harus disajikan dalam neraca lessee secara terpisah ataupun
diungkapka n secara wajar dalam catatan atas laporan keuangan. Demikian pula
dengan kewajiban karena suatu sewa guna usaha, harus dinyatakan dan
dikelompokkan sebagai kewajiban lancar atau kewajiban jangka panjang dalam
neraca sesuai dengan ketentuan yang lazim dilakukan.

Penyusutan aktiva yang disewagunausaha yang dibebankan terhadap pendapatan


harus pula diungkapkan. Sedangkan dalam pasal 15 dinyatakan bahwa biasanya
pembayaran sewa guna usaha dalam suatu operating lease akan dibebankan sebagai
biaya selama masa sewa guna usaha pada saat terhutang.

Apabila pembayaran sewa guna usaha tidak dilakukan berdasarkan metode garis
lurus, biaya sewa guna usaha tetap harus diakui berdasarkan metode garis lurus
kecuali terdapat dasar lain yang lebih sistematik dan mencerminkan pola waktu
manfaat yang diperoleh dari penggunaan aktiva tersebut.

Pengungkapan yang layak harus dilakukan dalam direct financing lease terhadap
jumlah bruto aktiva yang disajikan berdasarkan sifat dan fungsi aktiva serta jumlah
pembayaran sewa guna usaha minimum setiap tahun sampai tahun kelima.

Pengungkapan yang layak dalam operating lease yang tidak dapat dibatalkan harus
dilakukan terhadap jumlah pembayaran sewa guna usaha minimum untuk setiap
tahun sampai tahun kelima.

Pembayaran sewa guna usaha yang merupakan biaya dalam perhitungan rugi laba
yang disajikan harus pula diungkapkan.

23 of 23