Anda di halaman 1dari 18

ARTIKEL ILMIAH

Penelitian Dosen Muda 2007


Model Kegentingan Kredit Bank Syariah Pada Masa Krisis
Lukman Hakim, S.E, M.Si
Siti Aisyah Tri Rahayu, S.E, M.Si
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS)

ABSTRAK
Studi ini bertujuan untuk menganalis faktor-faktor yang menyebabkan kegentingan kredit
dalam perbankan syariah. Kegentingan kredit adalah situasi dimana kredit perbankan tidak dapat
tersalur secara optimal kepada sektor riil. Studi ini menggunakan dua model yakni pertama model
permintaan dan penawaran kredit yang diestimasi dengan Two Stage Least Square (TSLS) dan
model Vector Autoregression (VAR). Variabel yang dipergunakan dalam studi ini adalah
permintaan dan penawaran kredit perbankan syariah (LKRED), nisbah mudharabah (MD), indeks
produksi (PI), kapasitas kredit (LKAP), kredit macet (NPF), dan nisbah pembiayaan dan deposit
(FDR).
Pada persamaan permintaan kredit, hubungan nisbah bagi hasil mudharabah (MD) terhadap
total kredit syariah (LKREDD) menunjukkan hubungan negatif. Hal ini sesuai dengan teori.
Yakni jika nisbah mudharabah meningkat maka akan menurunkan permintaan kredit syariah atau
MD↑⇒LKREDD↓. Demikian halnya, yang terjadi hubungan indeks produksi (PI) yang
merupakan proxy dari pertumbuhan ekonomi terhadap permintaan kredit (LKREDD), juga sesuai
dengan teori. Yaitu jika indeks produksi meningkat maka permintaan terhadap kredit syariah juga
akan meningkat atau PI ↑\ ⇒ LKREDD ↑.
Sementara itu, pada model penawaran kredit hubungan nisbah bagi hasil mudharabah (MD)
terhadap total kredit syariah (LKREDD) menunjukkan hubungan positif. Hal ini sesuai dengan
teori. Yakni jika nisbah mudharabah meningkat maka akan meningkatkan penawaran kredit
syariah atau MD ↑ ⇒ LKREDS↑. Berikutnya adalah hubungan kapasitas kredit terhadap
penawaran kredit. Semakin tinggi kapasitas kredit yang dimiliki oleh perbankan syariah, maka
semakin besar dana yang dapat disalurkan. Oleh sebab itu, hubungan antara kapasitas kredit
terhadap dengan penawaran kredit adalah positif. Hasil estimasi menunjukkan kesesuaian dengan
teori yakni kenaikan kapasitas kredit akan meningkatkan penawaran kredit atau KAP ↑ ⇒
LKREDS ↑. Hubungan kredit macet (NPF) dengan penawaran kredit perbankan syariah adalah
negatif. Semakin tinggi kredit macet akan menyebabkan penurunan penawaran kredit perbankan
syariah. Hasil estimasi sesuai dengan teori ini, yakni meningkatnya kredit macet (NPF) akan
menurunkan panawaran kredit perbankan syariah atau NPF ↑ ⇒ LKREDS ↓. Hubungan nisbah
pinjaman dan simpanan (FDR) terhadap penawaran kredit perbankan syariah adalah positif.
Semakin tinggi FDR maka akan semakin meningkatkan kredit perbankan syariah. Hasil estimasi
menunjukkan kesesuaiannya dengan teori, yaitu semakin tinggi FDR akan mendorong
peningkatan penawaran kredit atau FDR ↑ ⇒ LKREDS ↑.
Berdasarkan hasil persamaan simultan itu, kegentingan kredit perbankan syariah disebabkan
oleh sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan dengan semakin tinggi nisbah
mudharabah (MD) menyebabkan penurunan permintaan kredit perbankan syariah. Sementara dari

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


sudut penawaran kredit, kredit macet (NPF) merupakan faktor utama yang dapat mengurangi
penawaran kredit.
Sementara itu, berdasarkan hasil metode VAR menunjukkan bahwa untuk perkembangan
berikutnya, yang perlu diperhatikan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam mengembangkan
perbankan syariah adalah situasi ekonomi yang kondusif seperti ditunjukkan dengan variabel
indeks produksi (IP) yang sangat berpengaruh pada permintaan kredit dan semakin besarnya
kapasitas kredit (KAP) yang dimiliki oleh perbankan syariah yang sangat berpengaruh pada
penawaran kredit syariah.

PENDAHULUAN
Kegentingan kredit (credit crunch) merupakan fenomena ekonomi di mana kredit
perbankan tidak dapat disalurkan secara optimal kepada sektor riil. Penyebab fenomena ini dapat
dilihat dari dua sudut yakni penawaran dan permintaan kredit. Dari sisi penawaran, kegentingan
kredit terjadi sebagai akibat terlalu berhati-hatinya perbankan dalam memilih nasabah sebagai
akibat trauma masa lalu seperti krisis ekonomi. Sementara dari sudut permintaan, kegentingan
kredit disebabkan oleh rendahnya kemauan nasabah untuk meminjam uang, karena terlalu
tingginya kemungkinan risiko yang akan ditanggungnya. Beberapa peneliti seperti Gosh dan
Gosh (1999) dan Agung, dkk (2001) menengarai bahwa kegentingan kredit di Indonesia pada
masa krisis ekonomi pada periode 1997-2001 lebih disebabkan oleh sisi penawaran dari pada sisi
permintaan.
Berdasarkan hal itu, pertanyaannya apakah hal ini juga berlaku pada perbankan syariah, di
mana mempunyai skop dan karakteristik berbeda dengan bank konvensional. Karena seperti
disinyalir oleh Starr dan Yilmaz (2005) tentang kegentingan kredit pada perbankan syariah di
Turki lebih disebabkan adanya masalah di sisi permintaan kredit. Yakni karena transaksi syariah
lebih didominasi (90%) oleh murabahah atau dari pada mudharabah. Murabahah merupakan
bentuk transaksi pembelian barang melalui bank, mirip dengan kredit konsumen pada perbankan
konvensional. Sementara mudharabah adalah sistem transaksi bagi untung dan hasil (profit-loss
sharing) atau jika usaha untung atau rugi baik pihak pemodal (bank) maupun pengusaha harus
bersama menanggungnya (Antonio, 1999). Mudharabah (bagi hasil) merupakan sistem andalan
transaksi perbankan syariah untuk menggantikan konsep riba atau tingkat tingkat suku bunga
yang diterapkan oleh perbankan konvensional.

Tabel 1. Komposisi Dana Pihak Ketiga Yang Dihimpun Perbankan Syariah (dalam Juta Rupiah)
Jenis Dana 2003 2004 2005
Nilai Share Nilai Share Nilai Share
Giro Wadiah 637,478 11,1 1,184,188 11,2% 2,045,333 13,1%
Tabungan Mudharabah 1,610,616 28,1 3,055,105 28,9% 4,109,139 28,1%
Deposito Mudharabah 3,476,815 60,7 6,319,735 59,9% 7,810,206 58,8%
Total 5,724,909 100% 10,559,028 100% 13,488,779 100%
Sumber: Bank Indonesia, 2005.

Konsep mudharabah dipergunakan baik untuk mengumpulkan modal dari masyarakat


maupun untuk menyalurkan kredit kepada nasabah. Dari sudut pengumpulan dana mudharabah
mendominasi penghimpunan dana perbankan syariah di Indonesia. Yakni pada tahun 2003,
deposito mudharabah telah mencapai 60,7% dari total pengumpulan dana perbankan syariah.
Pada tahun 2004 dan 2005 mengalami penurunan masing-masing menjadi 59,9% dan 58,8%

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


(lihat tabel 1). Sementara itu, untuk menyalurkan kredit selama periode itu justru paling besar
ditempati transaksi murabahah yakni sekitar 71,5% pada tahun 2003, 66,3% (2004) dan 62,29
(2005). Sebaliknya, model penyaluran kredit mudharabah relatif masih rendah, seperti pada tahun
2003 hanya sebesar 14,4%, menjadi 17,4% pada tahun 2004 dan 20,51% pada tahun 2005 (lihat
tabel 2).

Tabel 2. Komposisi Pembiayaan Yang Diberikan (dalam Juta Rupiah)

Jenis Pembiayaan 2003 2004 2005


Nilai Share Nilai Share Nilai Share
Musyarakah 305,997 5,5% 1,195,187 10,9% 1,898,389 12,46%
Mudharabah 794,244 14,4% 1,907,390 17,4% 3,123,759 20,51%
Piutang Murabahah 3,955,815 71,5% 7,275,753 66,3% 9,487,318 62,29%
Piutang Istishna 295,960 5,4% 310,596 2,8% 280,527 1,85%
Lainnya 178,151 3,2% 289,692 2,6% 413,149 2,89%
Total 5,530,167 100% 10,978,618 100% 15,231,942 100%
Sumber: Bank Indonesia, 2005.

Dari pemaparan di atas terlihat bahwa untuk penghimpunan dana, cara mudharabah sudah
mampu menghimpun dana relatif besar, sementara untuk pembiayaan mudharabah masih kalah
jauh da ri murabahah. Di kalangan praktisi perbankan syariah memang sering ada adegium bahwa
banyak masyarakat menyimpan uang di perbankan syariah dengan sistem mudharabah karena
bagi hasilnya tinggi, sehingga masyarakat merasa “diuntungkan”. Sebaliknya dalam urusan
pembiayaan masyarakat justru menghindari mudharabah, karena bagi hasilnya tinggi di mana
yang diuntungkan adalah pemilik modal (bank).
Berdasarkan uraian di atas, menghasilkan menghasilkan perumusan masalah yakni apakah
telah terjadi kegentingan kredit dalam perbankan syariah seperti halnya terjadi di Turki? Apakah
fenomena itu disebabkan dari sudut permintaan atau penawaran kredit? Bagaimana permodelan
dari fenomena itu dan solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi masalah tersebut? Tujuan
dari penelitian ini adala menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kegentingan kredit dalam
perbankan syariah baik dari sudut permintan dan penawaran. Selain itu studi ini juga
menawarkan alternatif permodelan kegentingan kredit pada perbankan syariah.

TINJAUAN PUSTAKA

Istilah credit crunch (kegentingan kredit) muncul untuk pertama kalinya pada tahun 1966
di Amerika Serikat. Menengarai terjadinya proses disintermediasi perbankan sebagai akibat
menipisnya deposito masyarakat sebagai akibat kebijakan uang ketat yang diberlakukan oleh
pemerintah. Situasi ini menyebabkan perbankan mengalami kekurangan likuditas yang
menyebabkan bank harus sangat selektif dalam menyalurkan kredit. Sementara itu, Bernanke dan
Lown (1991) mendefinisikan credit crunch sebagai keengganan bank dan penghematan pinjaman
(the reluctance of bank and thrift to lend). Dengan kata lain terjadi penurunan pasokan kredit
sebagai akibat merosotnya kemauan bank untuk menyalurkannya.
Akhir-akhir ini banyak studi tentang kegentingan kredit di beberapa negara yang terkena
krisis. Korea merupakan negara yang paling banyak sebagai studi kasus tentang kegentingan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


kredit, misalnya seperti Kim (1999), Gosh dan Gosh (1999). Kendati pun untuk artikel yang
terakhir Gosh dan Gosh (1999) membandingkan situasi Korea dengan Indonesia. Selain itu
Agung, dkk (2001) lebih memfokuskan kepada kasus Indonesia, sedangkan Agenor, dkk (2000)
meneliti kegentingan kredit di Thailand. Studi-studi itu pada intinya melihat bahwa faktor
penawaran kredit menjadi masalah utama terjadinya kegentingan kredit.
Sementara itu, studi tentang kegentingan kredit biasanya tidak dapat dilepaskan dengan
esensi peranan jalur kredit (credit channel) dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter.
Beberapa studi di Amerika Serikat diantaranya adalah King (1986; 290-303); Kashyap, Stein,
dan wilcox (1993; 78-98); Gertler dan Gilchrist (1993; 43-64); Kashyap, Lamont, dan Stein,
(1994, 565-591). Akar pembahasan tentang eksistensi kredit telah dimulai sejak Patinkin dalam
Bernanke dan Blinder (1988), dengan membagi kepemilikan aset menjadi tiga yakni uang, surat
berharga (bonds) dan pinjaman (loans) dengan asumsi bahwa terdapat subtitusi sempurna antara
aset serta tidak ada pembatasan kredit (credit rationing). Hal itu divisualisasikan pada gambar 1,
kurva LM mewakili uang dan, kurva CC mewakili kredit (commodities-credit) (Bernanke dan
Blinder, 1988, 435-439).

Grafik 1. Hubungan Antara LM dan CC

C M

L C

Dari gambar 1 terlihat bahwa kurva CC berslop negatif seperti kurva IS. Kurva CC akan
menjadi seperti IS jika pinjaman dan surat berharga diasumsikan bersubstitusi sempurn, maka
baik peminjam/borrower (Lp → - ∞) ataupun yang dipinjamani/lender (λp→ ∞) atau permintaan
komoditi tidak sensitif terhadap tingkat suku bunga pinjaman (Yp =0). Hal ini akan menyebabkan
pasar pinjaman tidak relevan terhadap IS/LM, fenomena ini disebut sebagai pandangan uang
(money view). Sebaliknya, apabila uang dan surat berharga bersubstitusi sempurna (Di → - ∞)
akan menyebabkan kurva LM horisontal disebut sebagai pandangan kredit (credit view).
Keynesian menyatakan kondisi seperti ini sebagai jebakan likuiditas (liquidity trap).

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


Beberapa studi menunjukkan bahwa pandangan kredit membuat kebijakan moneter lebih
ekspansif dibandingkan dengan pandangan uang. Studi dilakukan oleh Bernanke dan Blinder
(1988, 438-439) pada dekade 80-an, untuk membandingkan pengaruh goncangan peranan uang
dan kredit terhadap output. Studi itu menyimpulkan bahwa pengaruh goncangan uang terhadap
output jauh lebih besar dibandingkan kredit, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa peranan
kredit jauh lebih stabil dibandingkan peranan uang.
Jalur kredit merupakan kritik terhadap jalur tingkat suku bunga, terutama berkaitan
dengan dampak tingkat bunga pada kebijakan moneter mempengaruhi pengeluaran pada jangka
panjang. Mekanisme transmisi kebijakan Keynesian menganggap tingkat suku bunga jangka
pendek merupakan jalur yang paling penting dalam mekanisme transmisi. Tingkat suku bunga
jangka pendek akan dapat mempengaruhi harga modal (cost of capital) dan pada gilirannya akan
meningkatkan pengeluaran. Menurut Bernanke dan Gertler (1995: 27), dalam studi empirisnya,
menunjukkan bahwa komponen suku bunga sebagai variabel harga modal sangat sulit
diindentifikasi.
Idealnya sebuah jalur kebijakan moneter akan dapat berpengaruh dalam perspektif jangka
panjang. Jalur tersebut harus mampu menjawab teka-teki yang disebut sebagai “kotak
hitam”(black box), yang selalu menjadi pertanyaan abadi bagaimana bekerjanya kebijakan
moneter sehingga mempengaruhi pendapatan. Jalur kredit mungkin merupakan jawaban terhadap
teka-teki “kotak hitam” tersebut. Jalur kredit merupakan jalur yang bersifat jangka panjang,
sekaligus jalur yang dapat mengantisipasi keadaan ketidaksempurnaan informasi (imperfect
information), dan adanya kemungkinan terjadinya “seleksi yang merugikan” (adverse selection)
dan “pamrih buruk” (moral hazard).
Jalur kredit dibagi lagi menjadi dua sub jalur yakni jalur pinjaman bank (bank lending
channel) dan jalur neraca bank (balance-sheet channel). Skema umum jalur pinjaman bank (bank
lending channel) ditunjukkan dengan meningkatnya penawaran uang (M), akan menyebabkan
kenaikan deposito bank (D). Peningkatan deposito bank akan meningkatkan pinjaman bank (L),
kemudian mempengaruhi peningkatan investasi (S) dan pendapatan (Y) (Mishkin,1995b,7-9).
M ↑ ⇒ deposito bank (D)↑ ⇒ pinjaman bank (L) ↑ ⇒ S ↑ ⇒ Y ↑
Jalur neraca bank (balance-sheet channel) digerakkan melalui modal (net worth) pada
perusahaan. Modal rendah menunjukkan rendahnya jaminan (collateral), mengakibatkan
meningkatnya masalah “seleksi yang merugikan” (adverse selection) dan “pamrih buruk” (moral
hazard). Sebaliknya modal besar mengindikasikan tingginya jaminan, akan mengurangi masalah
“seleksi yang merugikan” dan “pamrih buruk”. Jalur neraca bank bekerja dalam tiga cara, yakni
pertama, ketika terdapat kenaikan penawaran uang (M) akan menaikkan tingkat harga (Pe),
menurunkan masalah “seleksi yang merugikan” dan “pamrih buruk”. Berikutnya akan
meningkatkan pinjaman (L). Peningkatan pinjaman akan berdampak positif terhadap investasi
(S), dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan (Y).
M ↑ ⇒ Pe ↑ ⇒ as ↓ & mh ↓ ⇒ pinjaman (L)↑ ⇒ S ↑ ⇒ Y↑
Kedua, jalur neraca bank berperan melalui penurunan tingkat suku bunga (I) akan
berpengaruh terhadap meningkatnya aliran modal (cash flow) bank tersebut. Meningkatnya aliran
modal justru akan mengurangi masalah masalah “seleksi yang merugikan” dan “pamrih buruk”,
yang pada gilirannya akan meningkatkan pinjaman (L), investasi (S), dan pendapatan. (Y).
M ↑ ⇒ I ↓ ⇒ aliran modal ↑ ⇒ as ↓ & mh ↓ ⇒ pinjaman (L)↑ ⇒ S↑ ⇒ Y ↑
Ketiga, jalur neraca bank berjalan ketika terdapat kenaikan penawaran uang (M) akan
meningkatkan harga (Pe) yang berdampak pada peningkatan aset keuangan. Meningkatnya aset

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


keuangan akan menurunkan kemungkinan adanya kesulitan keuangan, sehingga akan
meningkatkan pengeluaran untuk pembelian aset seperti perumahan dan barang lain. Pembelian
aset pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan (Y).
M ↑ ⇒ Pe ↑ ⇒ aset keuangan ↑ ⇒ kesulitan keuangan ↓ ⇒ pengeluaran perumahan dan
barang ↑ ⇒ Y ↑

METODE PENELITIAN

Model Simultan
Dalam studi ini akan menggunakan dua metode yakni model ketidakseimbangan kredit
yang diestimasi dengan metode simultan dan Vector Autoregressions (VAR). Model
keseimbangan kredit pada hakekatnya adalah model ketidakseimbangan pasar kredit
(disequilibirum a loan market) yang diestimasi dengan metode Two Stage Least Square (TSLS).
Model ini telah dikembangkan oleh Fair dan Kalejian (1974: 178), Laffont dan Garcia (1977;
1188-1190), Sealey (1979; 691), King (1986;297), Kim (1999; 22-24), Gosh dan Gosh (1999)
dan Agung, dkk (2001) Kemudian dimodifikasi menjadi model berikut ini :
LKREDtD = α0 + α MD +α2 LPI
LKREDtS = β0 + β1 MD +β2 LKAP + β3 FDR+β4NPF
LKREDt = min (LKREDtD, LKREDtS)
Hubungan teoritis antar variabel dalam adalah ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Hubungan Teoritis Antar Variabel

MD PI LKAP NPF FDR


LKREDD − +
LKREDS + + − +

Model VAR
Metode yang juga dipergunakan dalam studi ini adalah VAR. VAR telah banyak
digunakan untuk melihat pengaruh kebijakan moneter Diantaranya adalah Gordon dan Leeper
(1994; 1233-1245), yang melihat dampak dinamis dari kebijakan moneter. Model VAR juga
dapat untuk mengukur efektifitas kebijakan moneter seperti yang dilakukan oleh Rudebusch,
(1998; 907-931). Salah satu alasannya mengapa VAR lebih cocok untuk melihat pengaruh sebuah
kebijakan, adalah VAR menganggap semua variabel adalah endogen. VAR pertama kali
dikembangkan oleh Sims (1980: 1-7), sebagai reaksi terhadap pendekatan ekonometri simultan
tradisional. VAR juga sering dianggap sebagai pendekatan “atheoritical” atau tidak mendasarkan
pada teori ekonomi tertentu, oleh karenanya metode VAR juga dapat mengestimasi persamaan
indentitas, seperti halnya kausalitas Engle-Granger (Thomas, 1997; 457-462; Gujarati, 1995; 746-
753). Dalam studi ini enam (6) variabel di atas juga akan diestimasi dengan metode VAR dengan
formulasi seperti di bawah ini :
∆Xt = α + Σ 6i = 1Ai∆Xt-1 + ut, E(ut us) = Ω, if t ≠s
Di mana Ai matriks kuadrat; ut menunjukkan rata-rata vektor zero, tidak ada korelasi
variabel, dan kesejajaran matriks varian Ω, diasumsikan positif dan simetris; α adalah 6X1 vektor

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


kolom dari parameter-parameter; vektor Xit adalah variabel-variabel endogen di atas yakni
LKRED, MD, LP, LKAP, FDR, NPF, berikut ini adalah deskripsi variabel dua model di atas

Tabel 4. Diskripsi Data

Variabel Diskripsi
KREDtD = KREDtS Total kredit dari perbankan syariah
MD = nisbah mudharabah Besarnya nisbah mudharabah
PI = production index Indeks produksi
KAP=kapasitas kredit Kapasitas kredit perbankan syariah
FDR=capital/asset Nisbah capital/asset
NPF=non performing financing Kredit macet perbankan syariah

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Model Persamaan Simultan


Uji Prasyarat
Uji identifikasi bertujuan untuk mencari apakah persamaan yang diestimasi termasuk
dalam kategori kurang terindentifikasi (underidentified), tepat terindentifkasi (exactindentified),
dan sangat teridentifikasi (overidentified). Persamaan yang termasuk dalam kategori kurang
teridentifikasi, hanya dapat diestimasi dengan metode indirect least square (ILS). Sedangkan
persamaan yang masuk dalam tepat dan sangat terindentifikasi dapat diestimasi dengan metode
simultan antara lain TSLS, FIML, dan GMM.
Seperti telah dijelaskan di muka, formula dari kategori kurang terindentifikasi adalah [(K-
k)<(m-1)]. Adapun syarat untuk persamaan yang termasuk tepat dan sangat teridentifikasi harus
memenuni kriteria masing-masing [(K-k)=(m-1)] untuk tepat terindentifksi dan [(K-k)>(m-1)]
untuk sangat terindentifikasi.
Apabila dilihat dari kedua persamaan yang akan diestimasi, ditemukan besarnya (K-k)
pada persamaan permintaan dan penawaran kredit masing-masing 5 dan 3. Untuk kedua
persamaan itu jumlah (m-1) masing-masing sebanyak 1. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa kedua persamaan itu termasuk sangat terindentifikasi (over identified), maka metode
simultan dalam model ini dapat diterapkan. Sesuai dengan beberapa referensi sebelumnya,
metode simultan yang digunakan dalam mengestimasi model ini adalah Two Stage Least Square
(TSLS).

Tabel 5. Uji Identifikasi Persamaan Simultan

Persamaan (K-k) (m- Keterangan


1)
Permintaan Kredit 8-3=5 1 over identified
Penawaran Kredit 8-5=3 1 over identified

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


Hasil, Pengujian Statistik dan Interpretasi Ekonomi

a. Hasil
Berikut ini adalah hasil pengolahan model simultan dengan pendekatan TSLS:
Permintaan Kredit
LKRED = 7,04 − 0,026MD + 0,009PI
(13.58) (−6,315) (2,579)

R2 = 0,5555602 F = 23.3372 DW= 0,398653

Penawaran Kredit

LKRED = −0,726 − 0,00065MD + 1,0355LKAP − 0,005NPF + 0,0039FDR


(-12,017) (-2,208) (153,033) (-2,412) (12,912)

R2 = 0,998896 F = 9771.809 DW = 0,852764

Uji statistik yang akan dilakukan adalah uji parsial (uji-t), uji serentak (uji-F), dan uji
goodness of fit (R2). Sistematika pembahasannya akan dimulai dari uji serentak dan uji goodness
of fit, terakhir uji parsial.
b. Uji Serentak
Uji serentak bertujuan mendeteksi apakah semua variabel independen secara serentak
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan uji-F,
dengan menggunakan α =0.05 untuk dua sisi. Dengan menggunakan tabel-F, terlebih dahulu
diketahui f1 yakni variabel independen plus konstanta, dan f2 adalah pengurangan antara sampel
dengan f1, maka ditemukan nilai F-tabel. Apabila F-statistik bernilai lebih besar dari pada nilai F-
tabel, maka persamaan tersebut lolos uji F. Sebaliknya jika F-statistik berada di bawah nilai F-
tabel, maka persamaan tersebut tidak lolos uji F. Dari hasil uji-F ditemukan bahwa dari dua
persamaan itu semuanya lolos uji.

Tabel 6. Pengujian Serentak (Uji F)

Persamaan F-stat F- Keterangan


tabel
Permintaan Kredit 23,3372 2,61 lolos
Penawaran Kredit 9771,809 2,61 lolos

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


c. Uji Goodness of Fit

Berikutnya adalah uji goodness of fit (R2). Uji ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar
variasi dari variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Dari tabel 5.3 terlihat
bahwa untuk permintaan kredit mempunyai R2 sebesar 0,555602 yang berarti variabel-variabel
dipersamaan itu hanya dapat menjelaskan sebesar 55%, sisanya sekitar 45%. Sementara itu, untuk
persamaan penawaran kredit mempunyai R2 sebesar 0,998896, yang berarti variabel-variabel
dalam dalam persamaan itu dapat menjelaskan 99% atau mendekati sempurna, sisanya 1% yang
dapat dijelaskan oleh variabel lain.

Tabel 7. Uji Goodness of fit (R2)

Persamaan R2 Keterangan

Permintaan Kredit 0,555602 dapat menjelaskan 55%


Penawaran Kredit 0,998896 dapat menjelaskan 99%

d. Uji Parsial
Uji parsial bertujuan untuk menetapkan signifikansi hubungan setiap variabel independen
terhadap variabel dependen. Uji ini menggunakan uji t., dengan besarnya t-tabel 1,684. untuk
semua variabel lolos uji ini. Dengan demikian semua variabel independen berpengaruh terhadap
variabel dependen dalam studi ini.
Tabel 8. Pengujian Parsial (Uji t)

MD PI LKAP NPF FDR

LKREDD (6,3152) (2,5792)


Lolos Lolos
LKREDS (2,2088) (153,0336) (-2,412) (12,9122)
Lolos Lolos Lolos Lolos
Ket: : t-tabel = 1,684

e. Uji Teori Ekonomi


Berdasarkan hasil pengolahan data hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen semua sesuai dengan teori ekonomi baik pada model permintaan maupun penawaran
kredit. Ini menunjukkan bahwa baik model permintaan dan penawaran kredit dapat dipakai
menjelaskan fenomena kegentingan kredit perbankan syariah.

Tabel 9. Uji Teori Ekonomi

MD PI LKAP NPF FDR

LKREDD − +
Hasil − +
LKREDS + + − +
Hasil − + − +

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


f. Interpretasi Ekonomi
(1) Persamaan Permintaan Kredit
Pada persamaan permintaan kredit, hubungan nisbah bagi hasil mudharabah (MD)
terhadap total kredit syariah (LKREDD) menunjukkan hubungan negatif. Hal ini sesuai dengan
teori. Yakni jika nisbah mudharabah meningkat maka akan menurunkan permintaan kredit
syariah.
MD ↑ ⇒ LKREDD↓ 1.
Demikian halnya, yang terjadi hubungan indeks produksi (PI) yang merupakan proxy dari
pertumbuhan ekonomi terhadap permintaan kredit (LKREDD), juga sesuai dengan teori. Yaitu
jika indeks produksi meningkat maka permintaan terhadap kredit syariah juga akan meningkat.
PI ↑ ⇒ LKREDD ↑ 2.
(2) Persamaan Penawaran Kredit
Sementara itu, pada model penawaran kredit hubungan nisbah bagi hasil mudharabah
(MD) terhadap total kredit syariah (LKREDD) menunjukkan hubungan positif. Hal ini sesuai
dengan teori. Yakni jika nisbah mudharabah meningkat maka akan meningkatkan penawaran
kredit syariah.
MD ↑ ⇒ LKREDS↑ 3.
Berikutnya adalah hubungan kapasitas kredit terhadap penawaran kredit. Semakin tinggi
kapasitas kredit yang dimiliki oleh perbankan syariah, maka semakin besar dana yang dapat
disalurkan. Oleh sebab itu, hubungan antara kapasitas kredit terhadap dengan penawaran kredit
adalah positif. Hasil estimasi menunjukkan kesesuaian dengan teori yakni kenaikan kapasitas
kredit akan meningkatkan penawaran kredit.
KAP ↑ ⇒ LKREDS ↑ 4.
Hubungan kredit macet (NPF) dengan penawaran kredit perbankan syariah adalah negatif.
Semakin tinggi kredit macet akan menyebabkan penurunan penawaran kredit perbankan syariah.
Hasil estimasi sesuai dengan teori ini, yakni meningkatnya kredit macet (NPF) akan menurunkan
panawaran kredit perbankan syariah.
NPF ↑ ⇒ LKREDS ↓ 5.
Hubungan nisbah pinjaman dan simpanan (FDR) terhadap penawaran kredit perbankan
syariah adalah positif. Semakin tinggi FDR maka akan semakin meningkatkan kredit perbankan
syariah. Hasil estimasi menunjukkan kesesuaiannya dengan teori, yaitu semakin tinggi FDR akan
mendorong peningkatan penawaran kredit.
FDR ↑ ⇒ LKREDS ↑ 7.
(3) Kegentingan Kredit Perbankan Syariah
Berdasarkan hasil persamaan simultan itu, kegentingan kredit perbankan syariah
disebabkan oleh sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan dengan semakin tinggi
nisbah mudharabah menyebabkan penurunan permintaan kredit perbankan syariah. Sementara
dari sudut penawaran kredit, kredit macet (NPF) merupakan faktor yang dapat mengurangi
penawaran kredit.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


Hasil Model VAR
Uji Prasyarat
Data runtut waktu biasanya mempunyai permasalahan stasionaritas, termasuk data
ekonomi. Untuk menguji masalah stasionaritas ini dilakukan uji akar-akar unit. Namun menurut
Enders (1995) dengan mengutip Sim (1980) dan Doan (1992) menyatakan bahwa dalam
mengoperasikan metode VAR tidak dianjurkan menggunakan bentuk turunan pertama. Jika data
turunan pertama digunakan akan menghilangkan informasi penting mengenai hubungan
variabel-variabel dalam sebuah sistem seperti kemungkinan adanya hubungan kointegrasi. Oleh
karena itu, di sini tidak dilakukan uji akar-akar unit.
Sementra itu, masalah terpenting dari metode VAR adalah penetapan kelambanan (lag)
optimal karena variabel independen yang dipakai tidak lain adalah lag dari variabel endogennya.
Untuk menetapkan lag yang optimal digunakan nilai kriteria informasi Akaike (AIC) dan
Schwartz (SC) yang hasilnya seperti terlihat pada tabel 5.9. Pada model jalur kredit nilai terendah
baik AIC ataupun SC terletak pada lag 2. Oleh karena itu dapat ditetapkan bahwa lag optimal
yang akan dipakai pada model adalah lag 2.
Tabel 10. Uji Kelambanan Optimal

Model Kelambanan Akaike Schwartz

Model Permintaan dan 2 7,250 10,021


Penawaran Kredit 3 7,678 11,764
Perbankan Syariah 4 9,002 14,427

a. Variance Decomposition
Berdasarkan hasil dari analisis dekomposisi varian terlihat bahwa sejak bulan ke-1 sampai
bulan ke 60 dari yang diteliti terlihat perubahan komposisi yang cukup signifikan. Pada bulan
pertama komposisi varian terbesar adalah pada variabel LKRED (49%), FDR (5,4%) dan LKAP
(45%). Sementara pada pertengahan periode atau bulan ke-20 terjadi perubahan komposisi
varian, FDR justru yang paling kuat mencapai 49%, LKAP mencapai 30,8% dan LKRED
menurun menjadi 12,5%, sedangkan MD meningkat menjadi 6,1%. Kondisi seperti ini tidak
berubah sampai akhir periode pada bulan ke-60 yakni posisi teratas tetap FDR (52,6%); LKAP
(26,7%); LKRED (13%) dan MD (6,6%).

Tabel 11. Dekomposisi Varian (LKRED)

Period FDR LKAP LKRED MD NPF PI

1 5.404096 45.40975 49.18616 0.000000 0.000000 0.000000


5 14.86316 42.54096 32.65208 6.803292 1.475263 1.665250
10 31.92612 42.22830 16.44785 5.125780 2.806331 1.465621
15 45.26221 34.60064 12.07658 5.747569 1.533715 0.779291
20 49.24119 30.82227 12.09684 6.161940 1.038369 0.639387

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


25 50.55296 29.18021 12.50703 6.358781 0.824290 0.576731
30 51.20227 28.35951 12.74230 6.455734 0.706077 0.534109
35 51.64035 27.85271 12.85931 6.513034 0.629925 0.504670
40 51.96138 27.49412 12.93098 6.552731 0.576495 0.484301
45 52.19883 27.22771 12.98428 6.582181 0.537318 0.469682
50 52.37720 27.02583 13.02594 6.604546 0.507757 0.458722
55 52.51453 26.86998 13.05851 6.621823 0.484921 0.450244
60 52.62266 26.74732 13.08412 6.635413 0.466934 0.443555

Respons Terhadap Impuls


Respons terhadap impuls (impulse response) atau IR merupakan salah satu alat estimasi
dari metode VAR yang paling penting. Alat ini telah banyak digunakan oleh berbagai studi untuk
mengestimasi beberapa hubungan variabel. IR adalah respons sebuah variabel dependen jika
mendapatkan goncangan/inovasi (shock) dari variabel independen sebesar 1 % standar deviasi.
(1) Respons Kredit Syariah (LKRED) Terhadap Impuls MD dan PI

Grafik 2. Respons Kredit Syariah (LKRED) terhadap Impuls dari nisbah Mudharabah (MD)
dan Indeks Produksi (PI).

Response of LKRED to Cholesky


One S.D. Innovations
.002

.001

.000

-.001

-.002

-.003

-.004

-.005
10 20 30 40 50 60

MD PI

Pada sub bab ini akan diuraikan impuls MD dan PI terhadap kredit syariah (LKRED).
Dengan menggunakan metode VAR terlihat bahwa respons kredit syariah terhadap impuls PI
lebih kuat dari pada terhadap MD. Sampai dengan bulan ke sepuluh respons kredit syariah
terhadap impuls indeks produksi (IP) negatif, namun sejak bulan ke-11 terus berada di atas base
line atau selalu positif sampai akhir periode. Sementara respons kredit syariah terhadap impuls
nisbah mudharabah (MD) selalu negatif sampai akhir periode. Ini menunjukkan bahwa pengaruh

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


indeks produksi yang merupakan proxy dari situasi makro ekonomi berpengaruh lebih kuat dari
pada besarnya nisbah mudharabah dalam permintaan kredit syariah.

(2) Respons Kredit Syariah Terhadap Impuls LKAP, FDR, NPF.

Grafik 3. Respons Kredit Syariah (LKRED) terhadap Impuls dari FDR, NPF dan LKAP.

Response of LKRED to Cholesky


One S.D. Innovations
.012

.008

.004

.000

-.004

-.008

-.012

-.016
10 20 30 40 50 60

FDR NPF LKAP

Pada grafik 5.2 terlihat bahwa respons kredit syariah terhadap impuls FDR, NPF dan
LKAP menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Yang paling kuat berpengaruh adalah kapasitas
kredit (LKAP), karena sejak awal hingga akhir periode senantiasa positif. Sementara, untuk FDR
selalau negatif, sedangkan untuk NPF sedikit negatif dan mendekati base line, dan tidak pernah
positif. Ini menegaskan bahwa dari sudut penawaran magnitude terbesar yang mempengaruhi
penawaran kredit syariah adalah kapasitas kredit syariah (LKAP).

SIMPULAN
Berdasarkan uraian dan pembahasan pada bab-bab terdahulu, dapat diambil beberapa
kesimpulan yakni:
1. Dengan menggunakan model persamaan simultan permintaan dan penawaran kredit
perbankan syariah terlihat bahwa model estimasi sangat fit baik ditinjau dari uji serentak (F
test), uji parsial (t test), uji goodness of fit (R2). Sementara dilihat dari sudut kesesuaian teori,
semua hubungan variabel sesuai dengan teori.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


2. Pada persamaan permintaan kredit, hubungan nisbah bagi hasil mudharabah (MD) terhadap
total kredit syariah (LKREDD) menunjukkan hubungan negatif. Hal ini sesuai dengan teori.
Yakni jika nisbah mudharabah meningkat maka akan menurunkan permintaan kredit syariah
atau MD↑⇒LKREDD↓. Demikian halnya, yang terjadi hubungan indeks produksi (PI) yang
merupakan proxy dari pertumbuhan ekonomi terhadap permintaan kredit (LKREDD), juga
sesuai dengan teori. Yaitu jika indeks produksi meningkat maka permintaan terhadap kredit
syariah juga akan meningkat atau PI ↑\ ⇒ LKREDD ↑.
3. Sementara itu, pada model penawaran kredit hubungan nisbah bagi hasil mudharabah (MD)
terhadap total kredit syariah (LKREDD) menunjukkan hubungan positif. Hal ini sesuai
dengan teori. Yakni jika nisbah mudharabah meningkat maka akan meningkatkan penawaran
kredit syariah atau MD ↑ ⇒ LKREDS↑ . Berikutnya adalah hubungan kapasitas kredit
terhadap penawaran kredit. Semakin tinggi kapasitas kredit yang dimiliki oleh perbankan
syariah, maka semakin besar dana yang dapat disalurkan. Oleh sebab itu, hubungan antara
kapasitas kredit terhadap dengan penawaran kredit adalah positif. Hasil estimasi
menunjukkan kesesuaian dengan teori yakni kenaikan kapasitas kredit akan meningkatkan
penawaran kredit atau KAP ↑ ⇒ LKREDS ↑. Hubungan kredit macet (NPF) dengan
penawaran kredit perbankan syariah adalah negatif. Semakin tinggi kredit macet akan
menyebabkan penurunan penawaran kredit perbankan syariah. Hasil estimasi sesuai dengan
teori ini, yakni meningkatnya kredit macet (NPF) akan menurunkan panawaran kredit
perbankan syariah atau NPF ↑ ⇒ LKREDS ↓ . Hubungan nisbah pinjaman dan simpanan
(FDR) terhadap penawaran kredit perbankan syariah adalah positif. Semakin tinggi FDR
maka akan semakin meningkatkan kredit perbankan syariah. Hasil estimasi menunjukkan
kesesuaiannya dengan teori, yaitu semakin tinggi FDR akan mendorong peningkatan
penawaran kredit atau FDR ↑ ⇒ LKREDS ↑.
4. Berdasarkan hasil persamaan simultan itu, kegentingan kredit perbankan syariah disebabkan
oleh sisi permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan dengan semakin tinggi nisbah
mudharabah (MD) menyebabkan penurunan permintaan kredit perbankan syariah. Sementara
dari sudut penawaran kredit, kredit macet (NPF) merupakan faktor utama yang dapat
mengurangi penawaran kredit.
5. Sementara dengan hasil metode VAR hanyalah menegaskan bahwa untuk perkembangan
berikutnya, yang perlu diperhatikan oleh pihak-pihak yang berkompeten dalam
mengembangkan perbankan syariah adalah situasi ekonomi yang kondusif seperti ditunjukkan
dengan variabel indeks produksi (IP) yang sangat berpengaruh pada permintaan kredit dan
semakin besarnya kapasitas kredit (KAP) yang dimiliki oleh perbankan syariah yang sangat
berpengaruh pada penawaran kredit syariah
Saran
Berdasarkan hasil-hasil itu, diperlukan beberapa saran agar kegentingan kredit perbankan
syariah dapat diatasi yakni:
1. Semua pihak baik pelaku perbankan, Bank Indonesia, ulama, umara, Masyarakat Ekonomi
Syariah (MES) harus bekerjasama memberikan penjelasan yang komprehensif kepada
masyarakat tentang pentingnya perbankan syariah terutama pendekatan mudharabah.
2. Secara lebih khusus bagi para profesional dan MES harus lebih melakukan sosialisasi kepada
masyarakat umat tentang pentingnya mudharabah dalam sistem perbankan syariah, sehingga
masyarakat tidak enggan untuk melakukant transaksi berdasarkan prinsip-prinsip syariah
tersebut.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


DAFTAR PUSTAKA

Agenor, PR, JAizenman dan A Hoffimaister. 2000. “The Credit Crunch in East Asia: What Can
Bank Excess Liquid Assets Tell Us?” NBER Working Paper Series 791. October.
Antonio, Syafii. 1999. “Perbankan Syariah di Indonesia” Jakarta: Tazkia Institute.
Ferry, Giovanni dan Tae Soo Kang. 1999. “The Credit Channel at Work: Lesson from the
Republic of Korea’s Financial Crisis. ” Working Papers Series, World Bank No 2190
September.
Agung, Juda et al. 2001. Credit Crunch di Indonesia Setelah Krisis. Jakarta: Bank Indonesia.
Agung, Juda. 1998. “Financial Deregulation and the Bank Lending Channel in Developing
Countries: The Case of Indonesia", Asian Economic Journal, Vol 12 No 3, hlm 273-294
Agung, Juda. 2000. “Financial Constraint, Firm's Investments and The Channel of Monetary
Policy in Indonesia", Applied Economics, Vol 32, hlm 1637-1646
Bernanke, Ben S dan Alan S. Blinder. 1988. “ Credit, Money, and Aggregate Demand”, AEA
Papers and Proceedings, Vol 78 (May), hal 435-439
Bernanke, Ben S dan Alan S. Blinder. 1992. “ The Federal Fund Rate and the Channels of
Monetary Transmission, “ American Economic Review, Vol 82 (September), hal 901-21
Bernanke, Ben S dan Mark Gertler, 1995, “Inside the Black Box: The Credit Channel of
Monetary Policy Transmission,” Journal of Economic Perspectives, Vol 9 No 4, Fall, Hal
27-48.
Bernanke, Ben S, C.S. Lown dan B.M. Friedman, 1991, “The Credit Crunch”, Brooking Papers
on Economic Activity 1991 (2):205-39.
Brunner, Karl dan Allan H. Meltzer, (1988), "Money and Credit in the Monetary Transmission
Process," AEA Papers and Proceedings, Vol 78 No 2, May, hlm 446-454
Domac, Ilker, 1999, “ The Distributional Consequences of Monetary Policy : Evidence from
Malaysia”, Policy Research Working Paper 2170, World Bank, August.
Epstein, Roy. J, 1987, A History of Econometrics, New York: Elsevier Science Publishers BV
Fair, Ray C dan Harry H. Kelejian, (1974) “ Methods of Estimation for Market in
Disequilibrium : A Further Study” Econometrica, Vol 42 No 1, January, hlm 177-190
Friedman, Benyamin M, 1976, “ Targets, Instruments, and Indicators of Monetary Policy”, dalam
Richard S. Thorn, Monetary Theory and Policy, Washington: University Press of America
Inc, Hal 657-689.
Friedman, Benyamin M. 1988. "Monetary Policy Without Quantity Variables," AEA Papers
and Proceedings, Vol 78 No 2, May, hlm 440-445

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


Getler, Mark and Simon Gilchrist, 1993, “The Role of Credit Market Imperfections in the
Transmission of Monetary Policy: Argument and Evidence”, Scandinavian Journal of
Economics, January, 95:1, 43-64
Getler, Mark and Simon Gilchrist, 1994, “Monetary Policy, Business Cycles, and The Behavior
of Small Manufacturing Firms”, Quaterly Journal of Economics, Vol CIX Issue 2, May,
Hal. 309-340
Ghosh, Swati R dan Atish R. Ghosh. 1999. “East Asia in the Aftermath: Was There a Crunch?”
IMF Working Paper. WP/99/38. March.
Gordon, David B dan Eric M. Leeper, 1994, “The Dynamic Impacts of Monetary Policy: An
Exercises in Tentative Identification”, Journal of Political Economy Vol. 102 No 6, Hal.
1228-1247
Greene, William H, 2000, Econometric Analysis, New Jersey : Prentice Hall
Gujarati, Damodar, 1995. Basic Econometrics, McGraw-Hill; Singapore.
Hakim, Lukman.2004. ”Perbandingan Peranan Jalur Kredit Pada Masa dan Sebelum Krisis
1990.1-2000.4” dalam Lukman Hakim et.al. Beberapa Agenda Perekonomian Indonesia:
Kritik dan Solusi. Jakarta: DRFE Usakti
Hakim, Lukman dan Nopirin. 2001. "Perbandingan Peranan Jalur Kredit dan Jalur Tingkat
Suku Bunga pada Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter 1990-1999". Sosiohumanika.
Program Pascasarjana UGM, Vol 14, No 1, Januari.
Hamilton, James D. (1997), "Measuring The Liquidity Effect," The American Economic
Review, March, Vol 87, No 1, hlm. 80-97
Harris, RID, (1995), Using Cointegration Analysis in Econometric Modelling, Marylands
Avenue: Prentice Hall.
Hendry, David F, 1995, Dynamic Econometrics, New York: Oxford University Press.
Joseph, Charles dan Anton H. Gunawan, (2000), Monetary Policy and Inflation Targeting in
Emerging Economies, Jakarta : Bank Indonesia dan IMF
Junggun, Oh, 1999, “Inflation Targeting, Monetary Transmission Mechanism and Policy Rules
in Korea”, Economic Papers The Bank of Korea Vol 2 No 1 March, Hal 102-148
Kakes, Jan. (2000), Monetary Transmission in Europe: The Role of Financial Markets and
Credit, Messachusetts USA: Edward Elgar Publishing
Kashyap, Anil K, Jeremy C. Stein, dan David W. Wilcox, (1993), “ Monetary Policy and
Credit Conditions: Evidence from the Composition of External Finance,” American
Economic Review Vol 83, No1, March, hlm. 78-98
Kashyap, Anil K, Jeremy C. Stein, dan David W. Wilcox, 1993, “ Monetary Policy and Credit
Conditions: Evidence from the Composition of External Finance,” American Economic
Review Vol 83, No1, March Hal. 78-98
Kashyap, Anil K, Owen A. Lamont, dan Jeremy C. Stein, (1994), “Credit Conditions and The
Cyclical Behavior of Inventories” Quaterly Journal of Economics, August, hlm. 565-591
Kashyap, Anil K, Owen A. Lamont, dan Jeremy C. Stein, 1994, “Credit Conditions and The
Cyclical Behavior of Inventories” Quaterly Journal of Economics, August, Hal. 565-591

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


Kim, Hyun E. 1999. “ Was the Credit Channel a Key Monetary Transmission Mechanism
following the Recent Financial Crisis in the Republic of Korea”, Policy Research Working
Paper 2103, The World Bank, April.
King, Stephen R, 1986, “Monetary Transmission: Trough Bank Loans or Bank Liabilities”
Journal of Money, Credit and Banking, Vol 18 No 3, August 1986 Hal 290-303.
Laffont, Jean Jacques dan Rene Garcia. 1977. “Disequilibrium Econometrics for Business
Loans”, Econometrica, , Vol 45, No 5, July, hlm. 1187- 1204
Leeper, Eric M, Christopher A. Sims, dan Tao Zha. 1996. "What Does Monetary Policy Do? "
Brooking Papers on Economic Activity, November, diambil dari
ftp.econ.yale.edu/pub/sims/bpea.
Leeper, Eric M. 1997. "Narrative and VAR Approaches to Monetary Policy: Common
Identification Problems", Journal of Monetary Economics, 39, hlm 641-657
Lucas, Robert E dan Thomas J Sargent. 1997. “After the Phillips Curve: Persistence of High
Inflation and High Employment “ MA: Federal Reserve Bank of Boston dalam Brian
Snowdon and Howard Vane, A Macroeconomic Reader, London: Routledge, Hal 270-294
Mankiw, N Gregory, 1997, Macroeconomics , NewYork : Worth Publishers.
Meltzer, Allan H. .1995. "Monetary, Credit and (Other) Transmission Process: A Monetarist
Perspective, " Journal of Economic Perspectives, Vol 9 No 4, Fall, hlm 49-72
Mishkin, Frederic.S, 1995, “Symposium on the Monetary Transmission Mechanism,”Journal
of Economic Perspectives, Vol 9 No 4,Fall, Hal 3-10
Mishkin, Frederic.S, 1995, The Economics of Money, Banking, and Financial Market, 4th edition,
New York: The HarperCollins
Pindyck, RS dan Daniel L. Rubinfeld, 1998, Econometric Model & Economic Forecast,
NewYork: Mc Graw-Hill.
Ramaswamy, Ramana dan Torsten Slok,1998, “The Real Effect of Monetary Policy in the
European Union: What Are The Differences ?” IMF Staff Papers, Vol 45 No 2, June, Hal
374-396
Romer, Christina D dan David H. Romer. 1997. "Identification and The Narrative Approach:
A Reply to Leeper", Journal of Monetary Economics, 39, hlm 656-665
Sealey, CW JR, (1979), "Credit Rationing in the Commercial Loan Market: Estiamtes of a
Structural Model Under Conditions of Disequilibrium, " The Journal of Finance, Vol
XXXIV, No 3, June, hlm. 689-702.
Sims, Christopher A. 1972, “Money, Income and Causality”, American Economic Review, Vol
62 (Sept), hal 540-552.
Sims, Christopher A. 1980a, “Macroeconomic and Realty”, Econometrica, January, Vol 48, No
1, Hal. 1- 48
Sims, Christopher A. 1980b, “Comparison of Interwar and Postwar Business Cycles: Monetarism
Reconsidered”, American Economic Review, Vol 70 (May), hal 250-257.
Starr, Martha dan Rasim Yilmaz. 2005. ”Bank Runs in Emerging-Market Countries: The
Experience of Turkey’s Islamic Banks in the 2001 Crisis. Paper presented MEE Session on
Microfinance at the 2005 ASSA Meeting At American University.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com


Stiglitz, Joseph E dan Andrew Weiss, (1981), "Credit Rationing in Markets with Imperfect
Information, " The American Economic Review, Vol 1, No 3, June, hlm 440-445
Thomas, RL, 1997, Modern Econometrics: An Introduction, England : Addison-Wesley.
Warjiyo, Perry dan Doddy Zulverdi, 1998, “Penggunaan Suku Bunga Sebagai Sasaran
Operasional Kebijakan Moneter di Indonesia”, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan,
Bank Indonesia, Vol. 1 No 1, Juli . Hal 25-58
Warner, Elizabeth J dan Christopher Georges. 2001. "The Credit Channel of Monetary Policy
Transmission: Evidence from Stock Returns," Economic Inquiry, Vol 39, No1, January,
74-85.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Anda mungkin juga menyukai