Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN KOLEKSI KUPU-KUPU DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MEJA

(Kelompok 4)

Oleh : Ahmad Fadli 2011 38 001

POGRAM STUDI BIOLOGI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Koleksi (atau mengumpulkan) hewan adalah kegiatan menangkap,

mengawetkan, dan membuat spesimen awetan. Spesimen tersebut dapat digunakan sebagai voucher atau contoh spesimen, dan setelah diidentifkasi menjadi sangat berguna sebagai patokan identifikasi untuk melakukan pengamatan di lapangan. Oleh karena itu, tata cara koleksi yang benar harus diperhatikan, agar spesimen yang dikoleksi bernilai keilmuan tinggi. Serangga adalah salah satu kelompok fauna yang keragamannya tinggi. Di Papua, jumlahnya mencapai 300.000 spesies, 960 spesies diantaranya adalah Lepidoptera (Muller 2005). Lepidoptera terdiri dari 45 superfamili dan satu di antaranya adalah superfamili Papilionoidea yang mencakup kupu-kupu. Superfamili Papilionoidea terdiri dari famili Papilionidae, Pieridae, Riodinidae, Lycaenidae, dan Nymphalidae (Kristensen 2007). Kupu-kupu Papilionoidea yang sudah dilaporkan di Papua sebanyak 507 spesies (Barano 2000 dalam Muller 2005). Gunung Meja merupakan salah satu hutan tropis di Manokwari, Propinsi Papua Barat yang ditetapkan sebagai hutan wisata melalui Surat Keputusan

Menteri Pertanian No.19/kpts/UM/I/1980 pada tanggal 12 Januari 1980 (Lekitoo et al. 2008). Luas kawasan Gunung Meja mencapai 460.25 ha dengan ketinggian 75 175 m dpl. Hutan Wisata Gunung Meja merupakan hutan dataran rendah yang termasuk dalam formasi hutan hujan tropik basah yang mempunyai keragaman biologi yang tinggi. Secara geografi, kawasan ini berada pada koordinat 1340430- 1340532 Bujur Timur dan 05025- 05155 Lintang Selatan. Hutan Wisata Gunung Meja berbatasan langsung dengan perumahan penduduk, kebun pertanian, jalan raya dan perkantoran (Balai Litbang Kehutanan Papua dan Maluku dan Universitas Negeri Papua). Letaknya yang strategis ini membuat peranannya sangat penting bagi masyarakat Manokwari. Fungsi utama Gunung Meja adalah sebagai sumber air. Selain itu, kawasan hutan ini juga

berfungsi sebagai laboratorium hidup, tempat pendidikan dan pelatihan, dan salah satu sumber plasma nuftah. Keterampilan pengawetan hewan sangat diperlukan terutama dalam melakukan koleksi kupu-kupu. Kupu-kupu yang diawetkan sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang akan datang, dalam membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Awetan kupu-kupu sering diperlukan sebagai alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar biologi di kelas. Adanya awetan yang dibuat sendiri selanjutnya sangat membantu pengadaan alat peraga dan koleksi. Hal ini akan memudahkan dalam mempelajari berbagai jenis kupu-kupu termasuk yang jarang ditemui sekalipun.

1.2 Tujuan Tujuan dilakukanya praktikum ini adalah : 1. Mempelajari cara menangkap kupu-kupu dari habitatnya. 2. Mempelajari cara mengidentifikasi kupu-kupu mengunakan buku identifikasi. 3. Mempelajari cara pengawetan pada kupu-kupu yang benar.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ordo Lepidoptera Kupu-kupu termasuk dalam ordo Lepidoptera yang memiliki ciri bentuk dewasanya mempunyai dua pasang sayap yang ditutupi dengan bulu-bulu atau sisik. Bentuk tubuh kupu-kupu memanjang seperti tabung dengan simetri bilateral yakni, tubuh bagian sebelah kiri dan kanan sama. Tubuh kupu-kupu terbagi atas tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian kepala dilengkapi dengan antena, mulut, dan mata. Antena berjumlah satu pasang yang tergulung di bawah kepala yang berfungsi sebagai alat penciuman. Bentuk antena panjang, ramping, dan membongkol pada ujungnya. Tipe mulut kupu-kupu dewasa adalah mengisap, yang dilengkapi dengan probosis. Probosis biasanya panjang dan melingkar yang terbentuk dari dua galea maksila dan saluran makanan di antara galea. Pada mulut juga terdapat labrum dan palpus labium. Mata majemuk sepasang dan kadang-kadang ada oceli atau mata tunggal. Toraks terbagi tiga bagian, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Pada toraks terdapat tiga pasang tungkai dan dua pasang sayap. Pada sisik sayap, terdapat corak warna yang unik dan umumnya sayap belakang lebih kecil dari pada sayap depan. Bagian abdomen terdapat sistem pencernaan, ekskretori, dan reproduksi (Triplehorn & Johnson 2005). Kupu-kupu mempunyai saluran pencernaan memanjang dari mulut (probosis) hingga anus. Saluran pencernaan terdiri dari tiga bagian, yaitu usus depan (stomodeum), usus tengah (mesenteron), dan usus belakang (proktodeum). Usus depan berfungsi untuk mengatur jalannya makanan menuju usus tengah. Usus tengah berfungsi untuk sekresi enzim-enzim pencernaan ke dalam lumen penyerapan makanan ke dalam tubuh. Usus belakang berfungsi sebagai alat pengeluaran feses (Triplehorn & Johnson 2005). Sistem ekskresi kupu-kupu berupa tubulus Malphigi. Sistem peredaran darahnya adalah sistem peredaran terbuka. Darah pada kupu-kupu disebut hemolimfe yang berwarna kekuningan atau kehijauan. Pada sistem peredaran darah terbuka, darah dari jantung dipompa ke aorta dan keluar ke hemosoel dan mengalir, menggenangi jaringan dan alat-alat

tubuh lainnya. Sistem pernafasan kupu-kupu menggunakan sistem trakea, yaitu sistem pernafasan terbuka (open respiratory system). Sistem trakea adalah suatu sistem saluran kutikula yang bermuara dari luar tubuh hingga ke spirakel, yang terletak pada bagian lateral tubuh. Sistem reproduksinya bersifat gonokoristik, yaitu alat kelamin pada individu jantan dan betina terpisah. Sistem saraf berupa sistem saraf tangga tali yang terdiri dari ganglion-ganglion pada setiap ruas tubuh. Kupu-kupu merupakan salah satu hewan berdarah dingin atau poikilotermik, yaitu suhu tubuh dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Suhu tubuh kupu-kupu yang optimal pada saat terbang adalah berkisar antara 20 30C (Triplehorn & Johnson 2005). Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna, yang dimulai dari telur larva (ulat) pupa (kepompong) imago (dewasa). Larva terdiri dari kepala dan 13 segmen tubuh (3 segmen toraks dan 10 segmen abdomen). Kupu-kupu yang keluar dari kepompong siap untuk kawin dan bertelur. Pada umumnya kupu-kupu mempunyai siklus hidup 29-51 hari, bergantung pada spesies (Jumar 1997).

2.2 Klasifikasi Kupu-kupu Kupu-kupu termasuk dalam Ordo Lepidoptera. Lepidoptera berasal dari kata lepido = sisik, dan ptera = sayap (Triplehorn & Johnson 2005). Lepidoptera terdiri dari 45 superfamili dan salah satunya adalah superfamili Papilionoidea, yang mencakup kupu-kupu (Kristensen 2007). Superfamili Papilionoidea terdiri dari lima famili, yaitu Papilionidae, Pieridae, Riodinidae, Lycaenidae dan

Nymphalidae. Famili Papilionidae terdiri dari dua subfamili, yaitu Papilioninae dan Parnassiinae. Parnassiinae hanya terdapat di Eropa. Famili Pieridae terdiri dari empat subfamili yaitu, Pierinae, Anthocharinae, Coliadinae, dan

Dismorphinae. Famili Riodinidae terdiri dari satu subfamili, yaitu Riodininae. Famili Lycaenidae terdiri dari delapan subfamili, yaitu Curetinae, Lycaeninae, Theclinae, Poritiinae, Curetinae, Miletinae, Aphnaeinae, dan Polyommatinae. Famili Nymphalidae terdiri dari 12 subfamili, yaitu Limentitidinae, Heliconiinae, Apaturinae, Biblidinae, Cyrestinae, Nymphalinae, Pseudergolinae, Charaxinae, Satyrinae, Calinaginae, Danainae, dan Libytheinae (Brower 2008).

Ciri-ciri khas famili kupu-kupu dari Superfamili Papilionoidea adalah sebagai berikut : 2.2.1 Famili Papilionidae Famili ini memiliki sayap belakang dengan perpanjangan seperti ekor burung walet, sehingga sering disebut swallowtails. Tubuh umumnya berukuran besar, panjang sayap dapat mencapai 255 mm, berwarna gelap, putih atau abu-abu dengan bagia-bagian tertentu berwarna gelap. Ujung antena berbongkol tetapi tidak melekuk, pangkalnya berdekatan. Genus Ornithoptera memiliki corak warna hijau, kuning dan hitam. Jenis famili kupu-kupu ini terbang dengan cepat dan kuat namun jarang bermigrasi ke area yang baru (Emmel et al. 1992). Kupu-kupu jantan terbang lebih cepat daripada betina, hal ini dikarenakan tubuhnya yang lebih ringan dan sayapnya yang lebih kecil (Guppy & Shepard 2001). Setiap jenis kupu-kupu Papilionidae mempunyai inang yang berbeda tetapi sebagian besar kupu-kupu yang memiliki genus yang sama memiliki inang yang sama (Suhara 2009). Larvanya memakan berbagai jenis tumbuhan jenis dikotil (Emmel et al. 1992). Larvanya gemuk, bertubuh halus, memiliki bintik-bintik mata pada ujung anterior, dan toraks melebar (Triplehorn & Johnson 2005). (Vane et al., 1984) menyatakan bahwa pakan ulat famili ini berasal dari famili tumbuhan Aristolochiaceae, Annonaceae, dan Lauraceae. Kupu-kupu jenis famili ini banyak yang diperdagangkan, oleh karena itu pemerintah menetapkan 19 jenis kupu-kupu Papilonidae sebagai kupu-kupu yang dilindungi. Genus Troides dan Orthoptera dimasukkan ke dalam Appendix II CITES (Soehartono & Mardiastuti 2002).

2.2.1 Famili Pieridae Famili Pieridae terdiri dari 1.100 spesies di seluruh dunia (Scott 1986). Famili ini banyak tersebar di wilayah Asia dan Amerika Selatan dan banyak ditemukan di area hutan terbuka yang lembab dan di hutan tropis (Braby 2000). Ukuran kupu-kupu pada famili Pieridae, seperti yang dikemukakan dalam (Guppy & Shepard, 2001) berukuran sedang dan bersifat dimorfik dengan ciri fisik antara kupu-kupu jantan berbeda dengan kupu-kupu betina.

Famili ini biasanya memiliki sayap berwarna orange, putih, kuning, dan terkadang terdapat bercak hitam atau garis hitam pada tepi sayap. Sayap belakang agak bulat dan tidak memiliki ekor, umumnya sayap depan berukuran 22 35 mm, kecuali pada Delias aruna yang memiliki panjang sayap depan sekitar 44 mm. Larva umumnya berwarna hijau dan berbentuk silindris (Mastrigt & Rosariyanto 2005).

2.2.3 Famili Riodinidae Famili ini dengan corak warna sayap coklat kemerahan, dan terkadang berwarna gelap. Ukuran bentangan sayap sekitar 25 30 mm. Umumnya kupukupu ini hidup di daerah tropik bagian selatan Amerika (Triplehorn & Johnson 2005).

2.2.4 Famili Lycaenidae Memiliki ukuran tubuh kecil dengan warna sayap yang beragam. Corak warna sayap abu-abu gelap atau kecoklatan dengan garis halus pada permukaan bawah sayap dan juga terkadang bintik-bintik kemerahan pada bagian posterior sayap, merupakan ciri khas dari subfamili Theclinae. Sayap berwarna tembaga, corak warna umumnya putih dengan titik hitam pada tengah sayap adalah ciri dari subfamili Curetinae. Corak warna sayap atas biru dan terkadang dibatasi dengan warna hitam adalah ciri dari subfamili Lycaeninae. Subfamili Polyommatinae memiliki ciri khas dengan corak warna sayap atas biru dan terkadang terdapat perpanjangan seperti ekor pada sayap belakang. Sayap belakang dengan vena humeral yang menunjang ke depan atau membengkok. Sayap terkadang terdapat bintik mata (eye spot) yang besar melebar (Triplehorn & Johnson 2005).

2.2.5 Famili Nymphalidae Kupu-kupu dari famili ini sering disebut dengan kupu-kupu bertungkai sikat, karena tungkainya memiliki bulu seperti sikat. Famili ini memiliki jumlah spesies yang cukup besar dibandingkan dengan anggota famili lainnya. Posisi tubuh pada saat hinggap, tungkainya melipat ke badan dan hanya menggunakan

empat dari enam tungkainya. Warna dasar sayap umumnya coklat, orange dan hitam yang disertai dengan bintik-bintik pada pinggiran sayap, pada sayap bawah terkadang berwarna biru. Corak warna sayap hitam dengan garis kuning, dan juga berwarna coklat dan orange merupakan ciri subfamili Heliconiinae. Subfamili Limenitidinae memiliki garis hitam yang sempit pada sayap belakang dan terdapat sederet bintik-bintik putih pada tepi sayap. Subfamili Nymphalinae terkadang terlihat seperti daun mati dengan warna coklat hingga kehitaman, bagian tepi sayap terlihat berlekuk. Subfamili Danainae dicirikan dengan corak warna sayap transparan sampai kuning, abu-abu dan coklat dengan venasi sayap hitam. Pada beberapa jenis ada yang berwarna coklat hingga hitam dengan bercak putih. Ukuran sayap depan famili Nymphalidae bervariasi dari ukuran 25 80 mm (Mastrigt & Rosariyanto 2005; Triplehorn & Johnson 2005).

2.3 Siklus Hidup Kupu-kupu Kupu-kupu merupakan serangga yang mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) karena kehidupannya melalui fase telur-larva-pupa-dewasa. Dalam daur hidup tersebut kupu-kupu memerlukan makanan pada saat larva dan dewasa dimana ketika dalam fase larva memakan bagian-bagian tumbuhan seperti daun dan buah, lalu setelah berkembang menjadi dewasa memakan nektar. Lebih lanjut, (Preston-Mafham.R dan Preston-Mafham.K, 1999) menjelaskan keempat fase metamorfosis kupu-kupu sebagai berikut: 1. Telur Telur kupu-kupu terbentuk di dalam ovarioles. Telur-telur yang telah dibuahi kemudian ditaruh pada tumbuhan yang menjadi sumber pakan larva. Telur-telur tersebut berbeda baik dari segi bentuk dan juga warnanya, sesuai dengan spesiesnya. Telur-telur tersebut berbentuk bulat kecil dan berwarna putih atau kuning pucat. 2. Larva Telur-telur tersebut akan menetas antara tiga sampai lima hari. Larva yang menetas dari telur kemudian memakan selaput cangkang pembungkus telurnya. Larva akan terus berkembang namun kulit luarnya tidak meregang sehingga larva tersebut akan berganti kulit. Larva berganti kulit empat sampai

enam kali. Periode antara pergantian kulit (molting) disebut instar. Sebelum kulit luarnya mengelupas, kulit barunya sudah terlebih dahulu terbentuk di bawah lapisan eksoskeleton. Apabila pertumbuhan larva sudah maksimal maka larva akan berhenti makan kemudian melekatkan diri pada ranting atau daun dengan anyaman benang sehingga larva memasuki fase pupa. 3. Pupa Proses metamorfosis dalam bentuk pupa dilakukan pada tempat-tempat tertentu tergantung dari spesies kupu-kupu tersebut. Terdapat spesies-spesies yang membentuk pupa di tanah, dibelakang batang atau di tempat lain. Pembentukan kupu-kupu dalam fase pupa antara 7-20 hari sesuai spesies kupu-kupu tersebut. 4. Imago Ketika proses perkembangannya sudah sempurna dan kondisi

lingkungannya sesuai maka kupu-kupu akan keluar dari pupa. Kupu-kupu akan keluar dengan cara membelah selaput yang mengelilinginya atau dengan mensekresikan cairan yang dapat melunakkan selaput pembungkusnya. Setelah itu, permukaan dorsalnya akan membelah sehingga akan keluar kupukupu. Setelah keluar, kupu-kupu harus menyesuaikan diri agar sayapnya mengering lalu kupu-kupu dapat terbang. Fase ini membutuhkan waktu antara tiga sampai empat jam. Siklus hidup dari kupu-kupu relatif singkat yaitu antara tiga sampai empat minggu.

2.4 Makanan kupu-kupu Saat dewasa, kebanyakan kupu-kupu menghisap nektar dari bunga. Sumber nektar yang dapat dijumpai antara lain seperti: kembang sepatu, bunga bougainville (disukai oleh kelompok Papilionidae). Selain itu Hibiscus rosasinensis (Malvaceae), Ixora chinensis, Cinnamomum burmanni (kayu manis) dan Mussaenda spp. (Rubiaceae) sering dikunjungi berbagai jenis kupu-kupu. Sedangkan kupu-kupu yang dijumpai di sekitar sungai, kadang mengisap air mineral dari pasir/batu (banyak Pieridae dan Lycaenidae, tetapi juga genus Graphium, Papilionidae). Sumber makanan lainnya adalah buah-buahan yang busuk (disukai kelompok Satyrinae, Morphinae dan Apaturinae), bangkai daging

seperi kodok (disukai kelompok Nyimphalinae), kotoran dari burung ddan babi (kelompok Charaxinae dan Apaturinae) dan air seni, yang banyak digunakan sebagai umpan, untuk menangkap kupu-kupu yang terbang di sekitar sungai. Dengan umpan tertentu (misalnya air seni) hanya sebagian dari kupu-kupu dapat ditangkap, yaitu anggota dari famili Lycaenidae dan Pieridae dan dari genus Graphium. Dari genus Delias hanya muncul jantan-jantan saja (dan belum dari semua spesies), dan betina lebih suka minum nektar dari bunga di pohon tinggi (Mastrigt, 2005).

2.5 Habitat Kupu-kupu Menurut Sihombing (2002), kupu-kupu biasanya hidup pada habitat terestrial, tetapi komposisi dari spesies yang ada bervariasi menurut kondisi habitatnya. Sebagian besar spesies hidup dilahan yang ditinggalkan atau menganggur, kebun buah-buahan, taman-taman bunga, pekarangan rumah, areal pertanian, hutan primer dan hutan skunder dari ketinggian 0-2000 mdpl (meter diatas permukaan laut). Lebih lanjut Sihombing (2002) menjelaskan bahwa kupu-kupu dapat hidup pada kisaran suhu antara 180-380, dengan kelembapan udara kurang dari 85% dan intensitas cahaya yang cukup agar dapat mengepakkan sayapnya untuk terbang mencari makan dan beraktivitas. Jika kondisi alam yang tidak sesuai dengan habitatnya, populasi kupu-kupu dapat menurun. Maka kupu-kupu dapat dikategorikan sebagai salah satu indikator lingkungan untuk perubahan kondisi lingkungan yang sedang terjadi.

2.6 Metode Penangkapan dan Pengamatan Kupu-Kupu Direct Sweeping merupakan teknik yang paling umum dan sering dilakukan oleh para kolektor untuk mencari dan mengumpulkan serangga, terutama kupukupu. Peralatan yang digunakan sederhana. Selain peralatan dasar, peralatan tambahan yang digunakan cukup dengan menggunakan jaring serangga. Pengumpulan kupu-kupu dilakukan dengan cara menangkap langsung kupu-kupu dengan bantuan jaring. Metode pengamatan yang dilakukan mencakup metode transek baik mengikuti jalur maupun transek garis. Namun lebih sering digunakan

metode transek jalur karena menyesuaikan dengan kupu-kupu yang memiliki mobilitas tinggi.

2.7 Pengawetan Kupu-Kupu Kupu-kupu yang telah ditangkap dimatikan dengan menekan pada bagian thoraksnya dengan hati-hati. Kupu-kupu yang telah mati disimpan sementara dalam kertas papilot (lipatan kertas yang berguna untuk penyimpanan sementara serangga bersayap rapuh seperti kupu kupu dan capung)

Gambar 2.1. Cara Membuat Kertas Papilot Untuk hasil pengawetan terbaik, kupu-kupu sayapnya dibentangkan.

Pertama tusuk serangga melalui mesothorax dan tancapkan pada papan. Pindahkan sayap bagian depan, sehingga batas belakangnya membentuk garis paralel dengan tubuhnya. Tahan posisi sayap sementara dengan meletakan pin. Hal serupa dilakukan pada sayap belakangnya, kemudian tempelkan kertas melintasi sayapnya dan beri pin pada kertas & garis luar sayapnya (pin tidak boleh menusuk sayapnya). Pin-pin tersebut dapat dicabut kembali setelah 3-5 hari ditusukkan (Elzinga, 1997).

Gambar 2.4 Ilustrasi melakukan perentangan sayap kupu-kupu yang benar

10

2.8 Catatan Lapangan dan Informasi Label untuk Spesimen Kupu-kupu yang telah diawetkan harus diberi label agar mempunyai arti ilmiah. Label berisi informasi dasar mengenai tempat ditemukan, tanggal ditemukan, dan nama kolektornya. Selain itu juga perlu dituliskan nama spesies dan pendeterminasinya. Sebuah spesimen ilmiah memiliki nilai hanya jika diberi label secara benar. Label ditempatkan ditempatkan pada pin kupu-kupu. Nama kolektor ditempatkan pada label kedua di bawah label mengenai waktu dan lokasi ditemukan. Kertas tebal berbentuk segi empat panjang dengan berukuran 7 x 18 dan ditulis dengan pensil 2B, ditempel dibagian atas. Nama spesimen Lokasi & Waktu Tanggal Kolektor Nomor koleksi Keterangan lain 2.9 Pemajangan dan Penyimpanan Koleksi menjadi lebih berarti ketika spesimen tersebut dapat dipelajari dan dipajang. Museum dan banyak koleksi pribadi biasanya ditempatkan di semacam lemari kayu atau besi yang dilapisi kaca. Tiap-tiap laci memiliki suatu baki yang memudahkan spesimen yang telah dikoleksi untuk dimasukan dan dikeluarkan sebanyak yang diperlukan. Tiap baki terdiri dari 1 species dan disusun secara alfabet berdasarkan spesies dalam suatu genus, genus dalam suatu famili dan begitu seterusnaya. Diperlukan pengasapan dan repellent,selain itu pemeriksaan secara rutin mengenai kerusakan koleksi (sisa serbuk di bawah spesimen yang mengindikasikan spesies tersebut dimakan oleh serangga hama). Awetan serangga secara rutin harus tetap dirawat supaya tidak cepat rusak. Perawatannya cukup mudah, yaitu dengan cara membersihkan kotoran yang menempel pada serangga dan pada tempat penyimpanannya dengan menggunakan kapas atau tisu kering. Selain itu, tempat penyimpanan harus dijaga supaya tidak lembab. Pada kondisi tempat yang lembab, akan memicu tumbuhnya jamur-jamur yang dapat merusak awetan serangga. : : : : : :

11

BAB III METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 30 November 2013 pukul 09.00 14.00 WIT. Koleksi kupu-kupu diperoleh dari Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja. Identifikasi dan pengawetan kupu-kupu dilakukan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Penegtahuan Alam Universitas Negeri Papua.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat 1. 2. 3. 4. 5. Jaring kupu-kupu Alat tulis Kamera Pinset Jarum pentul 3.2.2 Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kertas papilot Label spesimen Buku lapangan Berbagai Spesimen kupu-kupu Sterofoam Kertas kalkir/minyak Kapur barus Buku identifikasi kupu-kupu

3.3 Cara Kerja 3.3.1 Penangkapan Kupu-kupu 1. Menyiapkan jaring dan berjalan pada transek yang dijadikan lokasi penangkapan kupu-kupu. 2. Menangkap kupu-kupu yang melintas/terbang menggunakan jaring. 3. Menekan toraksnya hingga kupu-kupu tidak bergerak. 4. Memasukkan kedapalam kertas papilot dengan menuliskan kode diluar kertas tersebut. 5. Mencatat pada log book waktu dan tempatnya. 6. Membawa ke Laboratorium untuk diawetkan dan diidentifikasi.

3.3.2 Pengawetan Serangga 1. Mengambil kupu-kupu dari kertas papilot menggunakan pinset.

12

2. Dengan hati-hati tusuk bagian toraks kupu-kupu tersebut. 3. Letakkan pada sterofoam yang telah di tata sedemikian rupa. 4. Sarap kupu-kupu direntangkan dengan hati-hati agar tidak rusak, kemudian dijepit dengan meletakkan kertas minyak diantara sayap kupukupu. 5. Menancapkan jarum pentul di beberapa posisi dengan memperhatikan bagian sayap, antena dan tubuh kupu-kupu tersebut agar spesimen terlihat rapi; 6. Menaburkan beberapa kamper di sekitar kupu-kupu agar awet; 7. Biarkan kupu-kupu selama 7 hari dan kupu-kupu siap diidentifikasi.

3.3.3 Pemajangan dan Pemberian Label 1. Setelah sampel dipreparasi langkah selanjutnya yaitu pemajangan spesimen pada bingkai kaca yang disediakan untuk memasukkan dan mengawetkan spesimen kupu-kupu. 2. Kupu-kupu yang telah dibuka dari pinning kertas minyak, dapat segera di identifikasi. 3. Mengurutkan berdasarkan abjad dan susun dengan rapi kupu-kuppu tersebut ke dalam bingkai kaca/box. 4. Menambahkan kapur barus, agar tidak ada serangga lain yang datang untuk merusak spesimen. 5. Cek bingkai kaca/box dalam beberapa bulan ke depan untuk mengganti kapur barus yang telah habis.

13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum Berikut ini adalah hasil klasifikasi dan keterangan yang didapat dari penangkapan kupu-kupu di gunung meja secara berturut-turut yaitu : 1. Lexias aeropa (LINNAEUS, 1758) Penyebaran : Maluku, Kai, Aru, Waigeo, Misol, Biak, Numfor,NG, Pulau-pulau PNG, Bismarcks, Cape York, 0 1.500 m. Subspesies : choirilus : Waigeo; eutychius : Kai, NG, sampai Cape York Ukuran sayap : 33 50 (av. 41,2) mm. Habitat : Hutan sekunder, suka duduk di pinggir anak sungai sambil isap, dan pada buah busuk di hutan. Makanan ulat : Callophyllum sp. (Clusiaceae) Catatan Klasifikasi Kingdom Philum Class Ordo : Terbang cepat. : : Animalia : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family Genus Species : Nymphalidae : Lexias : Lexias aeropa Lexias aeropa

2. Pareronia jobaea (BOISDUVAL, 1832) Penyebaran : Serang, Ambon, Buru, Waigeo, Numfor, dan Nabire. 0 800 m. Subspesies : jobaea : Papua Barat, termasuk Numfor Ukuran sayap : 38 48 (av. 42,2) mm. Habitat : Batas hutan. Suka duduk di bagian bawah daun.

14

Makanan ulat : Capparis Zippeliana (Capparaceae). Catatan Klasifikasi : Bentuk dan warna sayap betina mirip dengan Danainae. :

Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Pieridae Genus : Pareronia Pareronia jobaea

Species : Pareronia jobaea

3. Papilio augeus (DONOVAN, 1805) Penyebaran : Terbatas pada wilayah Indo-Australia, dari Tanimbar sampai setengah dari E Australia. 0 1.600 (2.000) m. Subspesies : ormenus: seluruh Papua. Ukuran sayap : 54 74 (av. 63) mm. Habitat : Di hutan, di kebun-kebun, di desa dan kota.

Makanan ulat : Jeruk (Citrus sp.; Rutaceae) Catatan : Betina mempunyai dua bentuk: satu dengan sayap depan hitam dan abu-abu, yang lain degan kedua sayap agak putih. Jantan menyerupai P.ambrax namun ukuran lebih besar. Klasifikasi : Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Papilionidae Genus : Papilio Papilio augeus

Species : Papilio aegeus

15

4. Taenaris catops (WESTWOOD. 1851) Penyebaran : Gebe, Waigeo via NG dan pulau-Pulau di PNG sampai Darnley Isl. 0 1.500 m. Subspesies : selenides : Waigeo; jathrippa : Salawati; fulvida: Misol; pamphagus : Papua Barat, Teluk Cendrawasih Ukuran sayap : (36) 40 53 (av. 45,6) mm. Habitat : Hutan primer dan sekunder.

Makanan ulat : Cordiline terminalis (Liliaceae), Musa sp. (Musaceae), Areca catechu dan Caryota rumpha (Arecaceae). Catatan : Dapat dikenal karena inner margin sayap depan putih dan bukan abu-abu seperti pada spesis-spesis lain. Terbang lambat dan kadang untuk waktu yang lama di tempat terbuka atau daerah rerumputan atau sekitar sungai. Klasifikasi :

Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Nymphalidae Genus : Taenaris Taenaris catops

Species : Taenaris catops

5. Tirumala humata (MACLEAY, 1827) Penyebaran : Jawa dan Philipina sampai North & East Australia, Solomons, Fiji, Tonga, Samoa, dan North Selandia Baru. 0 1.500 m. Subspesies : leucoptera : Gebe, Waigeo, Numfor, South West Papua. Ukuran sayap : 36 49 (av. 42,7) mm. Habitat : Batas hutan

16

Makanan ulat

: Parsonsia velutina (Apocinaceae) dan Heterostemma papuana (Asclepiadaceae) : terbang lambat, rendah sekitar 1 3 m diatas tanah. :

Catatan Klasifikasi

Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Nymphalidae Genus : Tirumala Tirumala humata

Species : Tirumala humata

6. Eurema puella (BOISDUVAL, 1832) Penyebaran : Aru, Waigeo, NG dan pulau-ulau sampai Cape York, Australia. 0 1. 500 m. Subspesies : puella : papua. papuana : Misol. octogesa : Waigeo. Ukuran sayap : 16 25 (av. 21,4) mm. Habitat : Vegetasi sekunder, kebun, tumbuhan di pinggir jalan semak-semak. Makanan ulat : Rhamnus nepalensis (semak), Cassia allata,

Archidendon sp. Catatan : Mudah dikenal karena pinggir sayap yang hitam, baik di luar maupun di dalam. Betina kuning muda di bawah dan putih di atas. Terbang lambat, biasa mengisap nektar dari bunga. Dulu spesies ini dilakukan sebagai sebspesies dari E. candida. Oleh YATA (1989) diangkat menjadi spesies.

17

Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Pieridae Genus : Eurema Eurema puella

Species : Eurema puella

7. Cupha prosope (FEBRICIUS, 1775) Penyebaran : Waigeo, Misol, Aru, NG, Numfor, Supiori, Biak, Yapen, sampai pantai E Australia. 0 1.200 m. Subspesies : Wallacei: Misol, Waigeo. Cyclotas: teluk Cendrawasih (tanpa numfor) Ukuran sayap : 25 35 (av. 29,8) mm Habitat Makanan ulat : Hutan sekunder dan semak-semak. : Flacurtia zippelii dan Flacourtia inermis

(Flacourtiaceae). Catatan : Terbang rendah dan tidak beraturan. Terkadang mengisap nektar dari bunga di semak-semak. Klasifikasi :

Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Nymphalidae Genus : Cupha Cupha prosope

Species : Cupha prosope

18

8. Mycalesis phidon (HEWITSON, 1862) Penyebaran Subspesies : Aru, Waigeo, NG dan pulau-pulau di PNG. 0 1.700 m. : Phidon : Aru, Waigeo. Phidonides: papua.

Ukuran sayap : 20 26 (av. 23.0) mm Habitat : Hutan sekunder. Kebun dan semak-semak

Makanan ulat : Kelompok famili Poaceae. Klasifikasi :

Kingdom : Animalia Philum Class Ordo : Arthopoda : Insecta : Lepidoptera

Superfamili : Papilionoidea Family : Nymphalidae Genus : Mycalesis Mycalesis phidon

Species : Mycalesis phidon

4.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini, telah dilakukan pengambilan dan pengawetan spesimen kupu-kupu. Koleksi kupu-kupu dilakukan di Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja. Identifikasi dan pengawetan kupu-kupu dilakukan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Penegtahuan Alam Universitas Negeri Papua. Pada saat turun ke lapangan yang perlu dibawa adalah jaring, kertas papilot, log book dan kamera. Cara penangkapan yaitu dengan menelusuri jalan TWA Gunung Meja dan menangkap kupu-kupu yang melintas/terbang, mengayunkan jaring ke kupu-kupu dan jika kupu-kupu terperangkap di dalamnya kemudian secara perlahan-lahan menekan pada bagian mesotoraksnya hingga kupu-kupu lemas, ambil dengan hati-hati dengan memegang bagian mesotoraksnya (jangan menyentuh sayapnya, karena akan merusak sayap kupu-kupu) dan masukkan kedalam kertas papilot. Memberi label pada kertas papilot tersebut dan menyimpan hingga proses preparasi. Mengambil kupu-kupu sesuai kebutuhan.

19

Selanjutnya yang dilakukan adalah proses preparasi dan pengawetan. Proses ini dilakukan di Labratorium Zoologi Jurusan Biologi, FMIPA UNIPA. Sampel di keluarkan dari kertas papilot menggunakan pinset, dan secara hati-hati menusukkan jatum pentul pada bagian mesothoraksnya. Hal ini perlu dilakukan dengan benar agar jarum tidak miring. Setelah itu, menusukkan jarum beserta kupu-kupu ke sterofoam yang sudah diatur sedemikian rupa, fungsi sterofoam yaitu sebagai preparasi sampel. Mengambil kertas minyak dan meletakkan kertas minyak tersebut diatas sayap kupu-kupu, merentangkan dengan menggunakan jarum pentul secara hati-hati. Pinning bagian-bagian tertentu, membentuk agar sayap terlentang dan sejajar dengan sempurna. Perhatikan juga bagian kepala, antenna, dan abdomennya di jaga agar bagian tersebut tidak rusak. Langkah terakhir yaitu memberikan kapur barus pada setiap sudut sterofoam, agar spesimen tidak diganggu oleh hewan/serangga lain (seperti semut). Menunggu hingga seminggu, agar sayap terentang sempurna dan menjadi kaku. Setelah seminggu, spesimen kering dapat dibuka dan diidentifikasi serta diberi label. Sampel yang telah diidentifikasi dapat dimasukkan ke dalam Box/Kotak kaca yang telah disediakan untuk dipajang. Kupu-kupu termasuk dalam ordo Lepidoptera yang memiliki ciri bentuk dewasanya mempunyai dua pasang sayap yang ditutupi dengan bulu-bulu atau sisik. Bentuk tubuh kupu-kupu memanjang seperti tabung dengan simetri bilateral yakni, tubuh bagian sebelah kiri dan kanan sama. Tubuh kupu-kupu terbagi atas tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Pada bagian kepala dilengkapi dengan antena, mulut, dan mata. Antena berjumlah satu pasang yang tergulung di bawah kepala yang berfungsi sebagai alat penciuman. Bentuk antena panjang, ramping, dan membongkol pada ujungnya. Tipe alat mulut kupu-kupu dewasa adalah mengisap, yang dilengkapi dengan probosis. Probosis biasanya panjang dan melingkar yang terbentuk dari dua galea maksila dan saluran makanan di antara galea. Pada mulut juga terdapat labrum dan palpus labium. Mata majemuk sepasang dan kadang-kadang ada oceli atau mata tunggal. Toraks terbagi tiga bagian, yaitu protoraks, mesotoraks, dan metatoraks. Pada toraks terdapat tiga pasang tungkai dan dua pasang sayap. Pada sisik sayap, terdapat corak warna yang unik dan umumnya sayap belakang lebih kecil dari pada sayap depan.

20

Kupu-kupu diidentifikasi dengan melihat Buku Panduan Lapangan Kupukupu untuk Wilayah Kepala Burung Termasuk pulau-pulau Provinsi Papua Barat yang disusun oleh Tim Redaksi KEP. Kelompok Entomologi. Dari hasil identifikasi di atas didapat 8 spesies kupu-kupu yang terdiri atas Superfamili Papilionoidea dengan Famili Papilionidae 1 spesies, Nymphanidae 5 spesies dan Pieridae 2 spesies. Famili Papilionidae memiliki ciri-ciri tubuh umumnya berukuran besar, panjang sayap dapat mencapai 255 mm, berwarna gelap, putih atau abu-abu dengan bagia-bagian tertentu berwarna gelap. Ujung antena berbongkol tetapi tidak melekuk, pangkalnya berdekatan. Jenis famili kupu-kupu ini terbang dengan cepat dan kuat namun jarang bermigrasi ke area yang baru. Kupu-kupu jantan terbang lebih cepat dari pada betina, hal ini dikarenakan tubuhnya yang lebih ringan dan sayapnya yang lebih kecil. Famili Nymphanidae memiliki ciri-ciri yaitu kupu-kupu dari famili ini sering disebut dengan kupu-kupu bertungkai sikat, karena tungkainya memiliki bulu seperti sikat. Famili ini memiliki jumlah spesies yang cukup besar dibandingkan dengan anggota famili lainnya. Posisi tubuh pada saat hinggap, tungkainya melipat ke badan dan hanya menggunakan empat dari enam tungkainya. Warna dasar sayap umumnya coklat, orange dan hitam yang disertai dengan bintik-bintik pada pinggiran sayap, pada sayap bawah terkadang berwarna biru. Ukuran sayap depan famili Nymphalidae bervariasi dari ukuran 25 80 mm. Famili Pieridae memiliki ciri-ciri yaitu Famili Pieridae terdiri dari 1.100 spesies di seluruh dunia (Scott 1986). Famili ini banyak tersebar di wilayah Asia dan Amerika Selatan dan banyak ditemukan di area hutan terbuka yang lembab dan di hutan tropis (Braby 2000). Ukuran kupu-kupu pada famili Pieridae, seperti yang dikemukakan dalam (Guppy & Shepard, 2001) berukuran sedang dan bersifat dimorfik dengan ciri fisik antara kupu-kupu jantan berbeda dengan kupukupu betina. Famili ini biasanya memiliki sayap berwarna orange, putih, kuning, dan terkadang terdapat bercak hitam atau garis hitam pada tepi sayap. Sayap belakang agak bulat dan tidak memiliki ekor, umumnya sayap depan berukuran 22 35 mm, kecuali pada Delias aruna yang memiliki panjang sayap depan sekitar 44 mm.

21

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Direct Sweeping merupakan teknik yang paling umum dan sering dilakukan oleh para kolektor untuk mencari dan mengumpulkan serangga, terutama kupukupu. Peralatan yang digunakan cukup dengan menggunakan jaring serangga. Pengumpulan kupu-kupu dilakukan dengan cara menangkap langsung kupu-kupu dengan bantuan jaring. Metode pengamatan yang dilakukan mencakup metode transek baik mengikuti jalur. Untuk hasil pengawetan terbaik, kupu-kupu sayapnya dibentangkan.

Pertama tusuk serangga melalui mesothorax dan tancapkan pada papan. Pindahkan sayap bagian depan, sehingga batas belakangnya membentuk garis paralel dengan tubuhnya. Tahan posisi sayap sementara dengan meletakan pin. Hal serupa dilakukan pada sayap belakangnya, kemudian tempelkan kertas melintasi sayapnya dan beri pin pada kertas dan garis luar sayapnya. Pin-pin tersebut dapat dicabut kembali setelah 3-5 hari ditusukkan Kupu-kupu diidentifikasi dengan melihat Buku Panduan Lapangan Kupukupu untuk Wilayah Kepala Burung Termasuk pulau-pulau Provinsi Papua Barat yang disusun oleh Tim Redaksi KEP. Kelompok Entomologi. Dari hasil identifikasi di atas didapat 8 spesies kupu-kupu yang terdiri atas Superfamili Papilionoidea dengan Famili Papilionidae 1 spesies, Nymphanidae 5 spesies dan Pieridae 2 spesies.

5.2 Saran Pada proses pembuatan awetan kupu-kupu, sebaiknya sayap kupu-kupu tidak dalam kondisi tertutup saat dibungkus kertas minyak, sebab hal itu menyebabkan sayapnya menjadi kaku ketika dioffset. Akibatnya sayapnya lebih mudah terkoyak jika dipaksakan untuk dibuka.

22

DAFTAR PUSTAKA

Borror, Donald Joyce. 1997. A Field Guide to Insects. Boston : Houghton Mifflin Borror J.B., Triplehorn N.F., dan Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 862 p. Homziak NT, Homziak J. 2006. Papilio demoleus (Lepidoptera: Papilionidae): a new record for the United States, commonwealth of puerto rico. Flor Entomol 89: 485 488. Lekitoo K, Matani OPM, Remetwa H, Heatubun CD. 2008a. Keanekaragaman Flora Taman Wisata Alam Gunung Meja Papua Barat (Jenis-jenis Pohon Bagian -1). Manokwari: Litbang Kehutanan Manokwari. Moris. M. G., 1986. Irian Jaya Butterfly Consultancy. Muller K. 2005. Keragaman Hayati Tanah Papua. Unipa: Manokwari. Panjaitan R. 2008. Distribusi kupu-kupu (Superfamili Papilionoidae: Lepidoptera) di Minyambou Cagar Alam Pegunungan Arfak Manokwari Papua Barat. Berk Hlm Bio 7:11-16. Parsons M. 1991. Butterflies of the Bulolo-Wau Valley. Honolulu: Bishop

Museum. Parsons M. 1999. The Butterflies of Papua New Guinea (Their Sistematics dan Biology). London: Academic Press. Parson. M., 1983. A Conservation Study of Birdwing Butterflies. Ornitoptera and Troides (Lepidoptera : Papilonidaae) In PNG. Prestn. R. and Mafham K.. 1988. Butterflies. Of the World. Purwiji, M.W.2011. Pembuatan Koleksi, Visualisasi, dan Informasi. Slide show powerpoint diklat dasar fungsional ahli. Disampaikan tanggal 18 November 2013. Rosariyanto E, 1997. Keragaman Jenis Kupu-kupu (Lepidoptera) di Beberapa Ketinggian Tempat pada Cagar Alam Pegunungan Wondiwoi, Fakultas Pertanian Universitas Cendrawasih Manokwari, Skripsi Sarjana Kehutanan (tidak diterbitkan). 57p. Tim Redaksi KEP. 2010. Buku Panduan Lapangan Kupu-kupu untuk Wilayah Kepala Burung Termasuk pulau-pulau Provinsi Papua Barat.

23

Penerbit Kelompok Entomologi Papua. Jayapura. Indonesia Thiong. T. R.. 1995 Study Siklus Hidup Kupu-Kupu Sayap Burung Ornithoptera (Schonbergia) tithonus misresiana joicey dan Noaker (Lepidoptera: Papilionidae) di Desa Mokwam. Skripsi Sarja Kehutanan Faperta Uncen Manokwari (tidak di terbitkan). Vanc-Wright. R. G. And P. R. Ackery. 1989. The Biologi Of Butterflies. Princeton University Press. New Jersey.

24