Anda di halaman 1dari 12

Manajemen Preeklamsia postpartum Dengan

Furosemid

PENDAHULUAN

Hipertensi akut atau kronis pada kehamilan mempengaruhi populasi pasien hamil di Amerika Serikat setiap tahun. Penelitian ini dilakukan untuk memperkirakan waktu rawat inap dan pemulihan yang pendek pada post partum preeklamsi dengan furosemid dengan cara meningkatkan diuresis, mengurangi hipertensi berat, dan mengurangi kebutuhan untuk terapi antihipertensi.

BAHAN dan METODE

Semua pasien dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu dan didiagnosis dengan Preeklamsi ringan (MPRE), preeklampsia berat atau hemolisis (SPRE), atau hipertensi kronis dengan diikuti preeklampsia (CPRE).
Setelah memperoleh persetujuan pasien, pemberian magnesium sulfat intravena dihentikan dan diuresis spontan dimulai (100 mL / jam selama 2 jam berurutan tanpa stimulus) segera setelah 2 jam selama 24 jam setelah melahirkan

BAHAN dan METODE

Pasien dalam kelompok perlakuan menerima furosemid 20 mg / d bersama dengan suplemen kalium oral 20 mEq / d untuk 5 hari berturut-turut selama rawat inap. Pasien di kelompok kontrol tidak menerima pengobatan. Pasien pada kedua kelompok postpartum disurvei termasuk tekanan darah dan nadi setiap 4 jam, pengukuran berat badan harian, dan volume urin sehari-hari. Terapi antihipertensi diberikan pada pasien dengan intermiten atau persisten, dimana tekanan darah sistolik (150 mm Hg) Atau diastolik ( 100 mm Hg) setelah pemberian furosemida atau tidak

Analisa statistik

Analisa statistik dilakukan dengan menggunakan analisis Varian dan signifikan bila koreksi P 0,05. Jika analisis varian tidak dapat di pertahankan maka dapat menggunakan uji non parametrik Kruskal-Wallis

HASIL

Diskusi

Pasien dengan preeklamsi ringan postpartum biasanya sebelum ditransfer ke bangsal tekanan darah menjadi normal. Pasien dengan hipertensi yang berat dapat mengakibatkan preeklamsi yang berkelanjutan, dan mungkin mengakibatkan kelebihan cairan dalam tubuh, gangguan ekskresi natrium dalam glomerulus, yang mempengaruhi pergerakan cairan intersisial dan extravasculer, karena tekanan darah sangat sulit dikontrol pada pasien nifas dikarenakan volume cairan di tubuh sangat berlebih.

Pada penelitian ini pasien dengan preeklamsi berat yang diterapi furosemit dapat menurunkan cairan intravasculer selama awal nifas sehingga dapat menurunkan volume darah dan tekanan darah terhadap kebutuhan obat anti hipertensi Patofisiologi preeklamsi adalah terjadinya kerusakan sel endotel karena vasospasme, yang ngakibatkan transudat protein plasma dipermukaan membran yang mengakibatkan hipoalbumin.

Tekanan cairan onkotik pada intravaskuler menurun dan masuk ke dalam intersitium sehingga volume cairan intravaskuler berkurang dan terjadilah odem. Pembatasan pemberian cairan pada periode pasca melahirkan ditambah dengan pemberian diuretik dianggap tepat dalam keadaan ini, dan pemberian dosis diuretik adalah minimal.

KESIMPULAN

Terapi untuk pasien postpartum preeklampsia ringan, berat, dan diikuti hipertensi kronik dengan furosemida tampaknya meningkatkan pemulihan dan menormalkan tekanan darah lebih cepat dan mengurangi kebutuhan untuk terapi antihipertensi. Waktu rawat inap lebih singkat dan mengurangi komplikasi yang tidak menguntungkan.