Anda di halaman 1dari 10

TEORI PERMINTAAN ISLAMI

1. Pengertian, Hukum dan Teori Permintaan.

1.1 Pengertian Permintaan Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Permintaan berkaitan dengan keinginan konsumen akan suatu barang dan jasa yang ingin dipenuhi. Dan kecenderungan permintaan konsumen akan barang dan jasa tak terbatas. 1.2 Hukum Permintaan Hukum permintaan adalah hokum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negative antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit. Dan apabila harga rendah jumlah barang yang diminta semakin meningkat. Dengan demikian hokum permintaan berbunyi semakin turun tingkat harga, maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia diminta, dan sebaliknya semakin naik tingkat harga semakin sedikit jumlah barang yang tesedia diminta.

Pada hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus, artinya hukum permintaan tersebut berlaku jika keadaan atau factor-faktor selain harga tidak berubah (dianggap tetap) Pada dasarnya ada tiga alasan yang menerangkan hukum permintaan yaitu: 1. Pengaruh penghasilan (income effect) Apabila suatu harga barang naik, maka dengan uang yang sama orang akan mengurangi jumlah barang yang akan dibeli. Sebaliknya, jika harga barang turun, dengan anggaran yang sama orang bisa membeli lebih banyak barang. 2. Pengaruh substitusi (substitution effect) Jika harga suatu barang naik, maka orang akan mencari barang lain yang harganya lebih murah tetapi fungsinya sama. Pencarian barang lain itu merupakan substitusi. 3. Penghargaan subjektif (Marginal Utility)

Tinggi rendahnya harga yang bersedia dibayar konsumen untuk barang tertentu mencerminkan kegunaan atau kepuasan dari barang tersebut. Makin banyak dari satu macam barang yang dimiliki, maka semakin rendah penghargaan terhadap barang tersebut. Ini dinamakan Law of diminishing marginal utility. Perubahan pada tingkat harga akan memindahkan titik permintaan dalam suatu kurva permintaan, sedangkan perubahan pada faktor selain harga (misalnya pendapatan) akan menggeser kurva permintaan Selain harga barang itu sendiri, faktor faktor yang mempengaruhi terhadap permintaan antara lain: 1. Harga barang lain. Permintaan akan dipengaruhi juga oleh harga barang lain. Dengan catatan barang lain itu merupakan barang substitusi (pengganti) atau pelengkap (komplementer). Apabila barang substitusi naik, maka permintaan terhadap barang itu sendiri akan meningkat. Sebaliknya, apabila harga barang substitusi turun, maka permintaan terhadap barang itu sendiri akan turun. 2. Tingkat pendapatan. Tingkat pendapatan konsumen akan menunjukkan daya beli konsumen. Semakin tinggi tingkat pendapatan, daya beli konsumen kuat, sehingga akhirnya akan mendorong permintaan terhadap suatu barang. 3. Selera, kebiasaan, mode Selera, kebiasaan, mode atau musim juga akan memengaruhi permintaan suatu barang. Jika selera masyarakat terhadap suatu barang meningkat, permintaan terhadap barang itu pun akan meningkat. 4. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk mencerminkan jumlah pembeli. Sifat hubungan jumlah penduduk dengan permintaan suatu barang adalah positif, apabila jumlah penduduk meningkat, maka konsumen terhadap barangpun meningkat. 5. Perkiraan harga dimasa dating

Apabila kita memperkirakan harga suatu barang di masa mendatang naik, kita lebih baik membeli barang tersebut sekarang guna menghemat belanja di masa mendatang, maka permintaan terhadap barang itu sekarang akan meningkat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hubungan antara permintaan dan perkiraan harga di masa mendatang adalah positif. Permintaan menurut Ekonomi Islam Menurut Ibnu Taimiyyah, permintaan suatu barang adalah hasrat terhadap sesuatu, yang digambarkan dengan istilah raghbah fil al-syai. Diartikan juga sebagai jumlah barang yang diminta. Secara garis besar, permintaan dalam ekonomi islam sama dengan ekonomi konvensional, namun ada prinsip-prinsip tertentu yang harus diperhatikan oleh individu muslim dalam keinginannya. Islam mengharuskan orang untuk mengkonsumsi barang yang halal dan thayyib. Aturan islam melarang seorang muslim memakan barang yang haram, kecuali dalam keadaan darurat dimana apabila barang tersebut tidak dimakan, maka akan berpengaruh terhadap nya muslim tersebut. Di saat darurat seorang muslim dibolehkan mengkonsumsi barang haram secukupnya. Selain itu, dalam ajaran islam, orang yang mempunyai uang banyak tidak serta merta diperbolehkan untuk membelanjakan uangnya untuk membeli apa saja dan dalam jumlah berapapun yang diinginkannya. Batasan anggaran (budget constrain) belum cukup dalam membatasi konsumsi. Batasan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang muslim tidak berlebihan (israf), dan harus mengutamakan kebaikan (maslahah). Islam tidak menganjurkan permintaan terhadap suatu barang dengan tujuan kemegahan, kemewahan dan kemubadziran. Bahkan islam memerintahkan bagi yang sudah mencapai nisab, untuk menyisihkan dari anggarannya untuk membayar zakat, infak dan shadaqah. Ibnu Taimiyyah (1263-1328 M) dalam kitab Majmu Fatawa menjelaskan, bahwa hal-hal yang mempengaruhi terhadap permintaan suatu barang antara lain: 1. Keinginan atau selera masyarakat (Raghbah) terhadap berbagai jenis barang yang berbeda dan selalu berubah-ubah. Di mana ketika masyarakat telah memiliki selera terhadap suatu barang maka hal ini akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap barang tersebut. 2. Jumlah para peminat (Tullab) terhadap suatu barang. Jika jumlah masyarakat yang menginginkan suatu barang semakin banyak, maka harga barang tersebut akan semakin meningkat. Dalam hal ini dapat disamakan dengan jumlah penduduk, di mana semakin

banyak jumlah penduduk maka semakin banyak jumlah para peminat terhadap suatu barang. 3. Kualitas pembeli (Al-Muawid). Di mana tingkat pendapatan merupakan salah satu ciri kualitas pembeli yang baik. Semakin besar tingkat pendapatan masyarakat, maka kualitas masyarakat untuk membeli suatu barang akan naik. 4. Lemah atau kuatnya kebutuhan terhadap suatu barang. Apabila kebutuhan terhadap suatu barang tinggi, maka permintaan terhadap barang tersebut tinggi. 5. Cara pembayaran yang dilakukan, tunai atau angsuran. Apabila pembayaran dilakukan dengan tunai, maka permintaan tinggi. 6. Besarnya biaya transaksi. Apabila biaya transaksi dari suatu barang rendah, maka besar permintaan meningkat. Perbedaan Teori Permintaan Konvensional dengan Permintaan Islami Definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap permintaan, antara permintaan konvensional dan islam mempunyai kesamaan. Ini dikarenakan bahwa keduanya merupakan hasil dari penelitian kenyataan dilapangan (empiris) dari tiap-tiap unit ekonomi. Namun terdapat perbedaan yang mendasar di antara keduanya, diantaranya : 1. Perbedaan utama antara kedua teori tersebut tentunya adalah mengenai sumber hukum dan adanya batasan syariah dalam teori permintaan Islami. Permintaan Islam berprinsip pada entitas utamanya yaitu Islam sebagai pedoman hidup yang langsung dibimbing oleh Allah SWT. Permintaan Islam secara jelas mengakui bahwa sumber ilmu tidak hanya berasal dari pengalaman berupa data-data yang kemudian mengkristal menjadi teori-teori, tapi juga berasal dari firman-firman Tuhan (revelation), yang menggambarkan bahwa ekonomi Islam didominasi oleh variabel keyakinan religi dalam mekanisme sistemnya. Sementara itu dalam ekonomi konvensional filosofi dasarnya terfokus pada tujuan keuntungan dan materialme. Hal ini wajar saja karena sumber inspirasi ekonomi konvensional adalah akal manusia yang tergambar pada daya kreatifitas, daya olah informasi dan imajinasi manusia. Padahal akal manusia merupakan ciptaan Tuhan, dan memiliki keterbatasan bila dibandingkan dengan kemampuan 2. Konsep permintaan dalam Islam menilai suatu komoditi tidak semuanya bisa untuk dikonsumsi maupun digunakan, dibedakan antara yang halal maupun yang haram. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 87, 88 :Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan

janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. Oleh karenanya dalam teori permintaan Islami membahas permintaan barang halal, barang haram, dan hubungan antara keduanya. Sedangkan dalam permintaan konvensional, semua komoditi dinilai sama, bisa dikonsumsi atau digunakan. 3. Dalam motif permintaan Islam menekankan pada tingkat kebutuhan konsumen terhadap barang tersebut sedangkan motif permintaan konvensional lebih didominasi oleh nilainilai kepuasan (interest). Konvensional menilai bahwa egoisme merupakan nilai yang konsisten dalam mempengaruhi seluruh aktivitas manusia. 4. Permintaan Islam bertujuan mendapatkan kesejahteraan atau kemenangan akhirat (falah) sebagai turunan dari keyakinan bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian yaitu kehidupan akhirat, sehingga anggaran yang ada harus disisihkan sebagai bekal untukkehidupan akhirat. 2. Kurva Permintaan. Kurva permintaan adalah grafik yang menggambarkan sifat hubungan antara jumlah barang dan/atau jasa yang diminta dan tingkat harga. Contoh kurva permintaan adalah sebagai berikut:

Kurva permintaan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 Harga Jeruk (Per Kg) Rp. 4500 Rp. 4750 Rp. 5000 Rp. 5250 Rp. 5500 Rp. 5750 Pembelian 140 Kg 120 Kg 100 Kg 80 Kg 60 Kg 40 Kg

Rp. 6000

20 Kg

Kurva Permintaan Barang Halal Kurva permintaan diturunkan dari titik persinggungan antara kurva indiferensi dengan garis anggaran. Katakanlah seorang konsumen mempunyai pendapatan I sebesar Rp. 1000.000,00 / bulan. Kemudian menghadapi pilihan barang X dan barang Y yang kedua-duanya Halal. Katakanlah pula bahwa diketahui harga barang X Rp.100.000,00 dan harga barang Y Rp.200.000,00. Titik A, A, A menunjukkan konsumsi seluruhnya dialokasikan pada barang Y. Dengan data ini, kita dapat membuat garis anggarandengan menarik garis lurus di antara dua titik : Kombinasi A B Income 1.000.000 1.000.000 Px 100.000 100.000 Py 200.000 200.000 X = I/ Px Y = I / Py X at tangency 10 0 0 5 3 3

Bila terjadi penurunan harga X menjadi Px = Rp.50.000,00 maka kaki garis anggaran pada sumbu X akan bertambah panjang. Titik perpotongan sumbu Y tidak berubah, sedangkan titik perpotongan sumbu X berubah. Kombinasi A B Income 1.000.000 1.000.000 Px 50.000 50.000 Py 200.000 200.000 X = I/ Px Y = I / Py X at tangency 20 0 0 5 4 4

Bila harga X menjadi Px = Rp.25.000,00 maka kaki garis anggaran pada sumbu X akan bertambah panjang. Titik perpotongan sumbu Y tidak berubah, sedangkan titik perpotongan sumbu X berubah. Kombinasi A B Income 1.000.000 1.000.000 Px 25.000 25.000 Py 200.000 200.000 X = I/ Px Y = I / Py X at tangency 40 0 0 5 5 5

Dengan simulasi harga barang X, akann didapatkan kurva yang menggambarkan antara harga dengan jumlah barang X yang diminta. Harga X 100.000 50.000 25.000 Jumlah X (X pada saat tangency / jumlah optimal X) 3 4 5 Semakin tinggi harga, semakin sedikit jumlah barang yang diminta. Dengan demikian didapatkan kemiringan kurva permintaan yang negative untuk barang halal sebagaimana lazimnya kurva permintaan yang dipelajari dalam ekonomi konvensional.

3. Konsumsi intertemporal. Teori Konsumsi dalam Perspektif Konvensional Dalam ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan(utility) dalam kegiatan konsumsinya semata. Utility secara bahasa berarti berguna, membantu atau menguntungkan. Menurut Samuelson (2000) konsumsi adalah kegiatan menghabiskan utility (nilai guna) barang dan jasa. Barang meliputi barang tahan lama dan barang tidak tahan lama. Barang konsumsi menurut kebutuhannya, yaitu : kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Teori konsumsi biasa dikatakan pula yaitu seluruh pengeluaran baik rumah tangga atau masyarakat maupun pemerintah.

Teori Konsumsi dalam Perspektif Islam Dalam pendekatan ekonomi islam, menurut MA Manan(1997;44) konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah penawaran atau penyediaan. Menurut beliau perbedaan ilmu ekonomi konvensional dan ekonomi islam dalam hal konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui kegemaran materialistis semata-mata dari pola konsumsi konvensional. Islam adalah agama yang ajarannya mengatur segenap prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemashlahatan hidupnya. Seluruh aturan Islam mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam al-Quran dan asSunnah. Prilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan al-Quran dan as-Sunnah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan hidupnya.

Perbandingan Perilaku dan Prinsip Konsumsi antara Konvensional dan Islam Prinsip Konsumsi Dalam ekonomi konvensional tujuan konsumsi ditunjukkan oleh bagaimana konsumen berperilaku (consumer behavior). Dalam perspektif islam, menurut M.A Manan: 1. Prinsip keadilan 2. Prinsip kebersihan 3. Prinsip keseederhanaan 4. Prinsip kemurahan hati 5. Prinsip moralitas

Menurut yusuf qardhawi: 1. 2. 3. 4. Belanjakan harta dalam kebaikan dan menjauhi sifat kikir Tidak melakukan kemubaziran Menjauhi berutang kesederhanaan

Perbedaan perilaku konsumsen muslim dengan konsumen konvensional 1. konsumen muslim memiliki keunggulan bahwa harta yang mereka peroleh semata mata untuk memenuhi kebutuhan individual (materi) tetapi juga kebutuhan social (spiritual). 2. Selain itu islam memandang harta bukan sebagai tujuan, tapi juga sebagai alat untuk memupuk pahala demi tercapainya falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). Harta merupakan pokok kehidupan Surat An-Nisa (4) : 5, yang merupakan karunia Allah surat an-Nisa(4):32. Islam memandang segala yang ada di bumi dan seisinya hanyalah milik Allah, sehingga apa uang dimiliki adalah amanah. 3. Dalam perspektif konvensional, harta merupakan hak pribadi, asalkan tidak melanggar hukum atau undang undang, maka harta merupakan hak penuh pemiliknya

Fungsi Konsumsi Intertemporal dalam Konvensional dan Ekonomi Islam Konsumsi Intertemporal dalam ekonomi konvensional Menurut Karim(2002;65-66) yang dimaksud dengan konsumsi intertemporal(dua periode) adalah konsumsi yang dilakukan dalam dua waktu yaitu masa sekarang(periode pertama) dan masa yang akan datang(periode kedua). Menurut Mankiw(2000;403-409) untuk mempermudah kajian yang dihadapi konsumen yang hidup selama dua periode. Periode satu menunjukkan masa muda konsumen, dan periode dua menunjukkan masa tua konsumen. Misalkan pendapatan, konsumsi, dan tabungan pada periode pertama adalah , periode kedua adalah , , dan pendapatan, konsumsi, dan tabungan pada

, , maka persamaan diatas dapat dinotasikan sebagai berikut.

Periode pertama, tabungan sama dengan pendapatan dikurangi konsumsi. Yaitu; = Dimana S1 adalah tabungan . Dalam periode kedua, konsumsi sama dengan akumulasi tabungan termasuk bunga tabungan, ditambah pendapatan periode kedua, yaitu; ==(1+r) +

Dimana r adalah tingkat suku bunga riil karena tidak ada periode ketiga, konsumen tidak menabung pada periode kedua.

Jika konsumsi periode pertama kurang dari pendapatan periode pertama, konsumen berarti menabung, dan S lebih besar dari nol. Jika konsumsi pertama melebihi pendapatan periode pertama, konsumen meminjam, dan S kurang dari nol. Untuk menderevasi batas anggaran konsumen dari persamaan diatas dan digabungkan, maka diperoleh persamaan; =(1+r)( (1+r) + + - )+ =(1+r) +

/1+r= + /1+r

Konsumsi Intertemporal dalam Ekonomi islam Monzer Kahf berusaha mengembangkan pemikiran konsumsi intertemporal islami dengan memulai membuat asumsi sebagai berikut: a. b. c. d. e. Islami dilaksanakan oleh masyarakat Zakat hukumnya wajib Tidak ada riba dalam perekonomian Mudharabah merupakan wujud perekonomian Pelaku ekonomi mempunyai perilaku memaksimalkan

Konsep konsumsi intertemporal dijelaskan oleh hadits Nabi Muhammad SAW yakni : Tidak ada sedikit pun diantara yang kami punyai ( yakni harta dan penghasilan) benarbenar jadi milikmu kecuali yang kamu makan dan gunakan habis, yang kamu pakai dan kamu tanggalkan, dan yang kamu belanjakan untuk kepentingan bersedekah, yang imbalan pahalanya kamu simpan untukmu. (H.R. Muslim dan Ahmad).

Maknanya yaitu yang kamu miliki adalah apa yang telah kamu makan dan apa yang telah kamu infakkan. Secara makro Islam, perekonomian terdiri dari dua karakteristik yang berbeda, yaitu muzakki dan mustahiq. Muzakki adalah golongan pembayar zakat. Sedangkan, mustahiq adalah golongan penerima zakat. Dua golongan ini mempunyai model konsumsi yang berbeda. Golongan pertama, final spendingnya adalah Cz (total konsumsi muzakki) dikurangi Zy (zakat pendapatan), In (infak), Sh (Shadaqah), dan Wf (Wakaf). Golongan kedua, final spendingnya adalah Z (zakat yang diterima) atau Y (pendapatan) ditambah Z. Jika dibuat persamaan adalah sebagai berikut.

FS = Cz (Zy + In + Sh + Wf) (1) FS = Z (2) FS = Y + Z(3) FS= Final Spending (konsumsi terakhir) Persamaan (2) adalah model konsumsi bagi mustahiq kategori fakir, ibnussabil, dan fisabilillah. Tiga kategori ini tidak memiliki pendapatan sehingga Co (konsumsi primer)-nya sama dengan zakat yang diterima. Sedangkan persamaan (3) adalah model konsumsi bagi mustahiq kategori miskin. Kategori ini memiliki pendapatan tetapi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya sehingga harus dipenuhi oleh zakat.Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat yang diterima oleh mustahiq menentukan tingkat konsumsinya. Sedangkan bagi muzakki, zakat akan mengurangi final spending-nya. Tetapi hal itu dirasa tidak memberatkan karena faktor keimanan para muzakki tersebut di mana perilaku konsumsi mereka sangat dipengaruhi. Motif utama konsumsi mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan primer, sekunder, tersier, tetapi juga kebutuhan untuk beramal shaleh. Dalam ekonomi islam tidak mengenal adanya variable bunga, jadi fungsi intertemporal dalam islam menjadi; + = +

Dimana, y=pendapatan total, rr=tingkat bagi hasil, z=besarnya zakat 2,5%, t=tingkat pajak Bagi orang yang mendapat bantuan zakat, persamaannya; + = + +

Jika konsumen benar benar tidak memiliki penghasilan,maka konsumsinya sebesar bagian zakatnya(konsumsi=zakat yang diterimanya); + = +