Anda di halaman 1dari 31

Makalah Sejarah

Tentang Kerajaan Singhasari, Kerajaan Holing, dan


Kerajaan Mataram Islam

Tim 11 IPA-3:
Muhammad Mufid (21)
Muthia Septiani (22)
Nabilah Shabrina (23)
Prabawati Dwi Sari (24)
Rianti Novianti (25)
Ray Luke Siregar (26)
Renaldi Surya (27)
Resti Yuliana (28)
Riani Permatasari (29)
Rita Amalia (30)
DIPUNGGAH OLEH MUHAMMAD MUFID DI BLOGNYA http://bytearea.blogspot.com
KATA PENGANTAR (VERSI
ONLINE)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji serta syukur atas kehadirat Allah SWT yang
Alhamdulillah telah memberikan izin terselesaikannya makalah ini. Shawalat serta salam
juga semoga selalu tercurah kepada Nabi Besar kita, Nabi Muhammad SAW yang mana
insya Allah kita akan diberikan syafa’atnya oleh beliau. Amin.

Pada versi online ini Saya tidak mau panjang lebar. Namun yang jelas adalah e-book ini
merupakan hasil kerjasama dari nama-nama penulis tercantum di halaman depan.
Tujuan dipunggahnya e-book ini tidak lain dan tidak bukan untuk memudahkan
pengaksesan informasi demi terciptanya pendidikan yang benar-benar terdistribusi.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

2 — Kata Pengantar (Versi Online)


DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................................................................... 1
Daftar Isi ................................................................................................................................................................... 3
Kerajaan Singosari .................................................................................................................................................... 4
Kerajaan Holing ...................................................................................................................................................... 12
Kerajaan Mataram Islam......................................................................................................................................... 20
Daftar Pustaka ........................................................................................................................................................ 31

3 — Daftar Isi
KERAJAAN SINGOSARI
S UMBER : E - DUKASI . NET
Nama kerajaan Singosari tentu bukan sesuatu yang asing bagi Anda karena
Singosari sangat identik dengan Ken Arok dan banyak cerita dan lakon
drama yang mengambil ide cerita dari riwayat hidup Ken Arok dan
berdirinya Singosari.

SUMBER SEJARAH

Keberadaan kerajaan Singosari dibuktikan melalui candi-candi yang banyak


ditemukan di Jawa Timur yaitu daerah Singosari sampai Malang, juga
melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama
karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di
Singosari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh
keajaiban. Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng tetapi dari
kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat diketahui. Sebelum menjadi
raja, Ken Arok berkedudukan sebagai Akuwu (Bupati) di Tumapel menggantikan Tunggul
Ametung yang dibunuhnya, karena tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung.
Selanjutnya ia berkeinginan melepaskan Tumapel dari kekuasaan kerajaan Kadiri yang
diperintah oleh Kertajaya. Keinginannya terpenuhi setelah kaum Brahmana Kadiri
meminta perlindungannya. Dengan alasan tersebut, maka tahun 1222 M/1144 C Ken
Arok menyerang Kediri, sehingga Kertajaya mengalami kekalahan pada pertempuran di
desa Ganter.

Dengan kemenangannya maka Ken Arok dapat menguasai seluruh kekuasaan kerajaan
Kadiri dan menyatakan dirinya sebagai raja Singosari dengan gelar Sri Rajasa Sang
Amurwabhumi.

SILSILAH

Sebagai raja pertama Singosari maka Ken Arok menandai munculnya dinasti baru yaitu
dinasti Rajasa atau dinasti Girindra untuk menambah pemahaman Anda tentang
keturunan dinasti Rajasa, maka simaklah silsilah berikut ini:

4 — Kerajaan Singosari
Dengan memperhatikan silsilah tersebut di atas, maka yang perlu Anda ketahui bahwa
nama yang diberi nomor dan diberi kotak/dalam kotak itulah urutan raja-raja Singosari.
Raja pertama sampai ketiga yang diberi tanda (*) mati dibunuh karena persoalan
perebutan tahta dan balas dendam. Dari kelima raja Singosari tersebut, raja
Kertanegaralah yang paling terkenal, karena dibawah pemerintahan Kertanegara
Singosari mencapai puncak kebesarannya. Kertanegara bergelar Sri Maharajaderaja Sri
Kertanegara mempunyai gagasan politik untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

PETA KEKUASAAN

Apa yang dicita-citakan oleh Kertanegara, mengakibatkan daerah kekuasaan Singasari


meluas. Untuk lebih jelasnya, simaklah gambar peta 15 berikut ini!

5 — Kerajaan Singosari
Setelah Anda menyimak gambar peta kekuasaan Singasari tersebut, yang perlu Anda
ketahui bahwa kekuasaan tersebut dicapai oleh Kertanegara karena tindakan politiknya
seperti:

Untuk... Di Antaranya Adalah...


Kebijakan dalam negeri  Pergantian pejabat kerajaan, bertujuan
menggalang pemerintahan yang kompak.
 Memelihara keamanan dan melakukan politik
perkawinan. Tujuannya menciptakan
kerukunan dan politik yang stabil.

Kebijakan Luar Negeri  Menggalang persatuan 'Nusantara' dengan


mengutus ekspedisi tentara Pamalayu ke Kerajaan
Melayu (Jambi). Mengutus pasukan ke Sunda, Bali,
Pahang.
 Menggalang kerjasama dengan kerajaan lain.
Contohnya menjalin persekutuan dengan kerajaan
Campa.

Dari tindakan-tindakan politik Kertanegara tersebut, di satu sisi Kertanegara berhasil


mencapai cita-citanya memperluas dan memperkuat Singasari, tetapi dari sisi yang lain
muncul beberapa ancaman yang justru berakibat hancurnya Singasari. Ancaman yang
muncul dari luar yaitu dari tentara Kubilai-Khan dari Cina Mongol karena Kertanegara
tidak mau mengakui kekuasaannya bahkan menghina utusan Kubilai-khan yaitu Meng-
chi. Dari dalam adanya serangan dari Jayakatwang (Kadiri) tahun 1292 yang bekerja
sama dengan Arya Wiraraja Bupati Sumenep yang tidak diduga sebelumnya.
Kertanegara terbunuh, maka jatuhlah Singasari di bawah kekuasaan Jayakatwang dari

6 — Kerajaan Singosari
Kediri. Setelah Kertanegara meninggal maka didharmakan/diberi penghargaan di candi
Jawi sebagai Syiwa Budha, di candi Singasari sebagai Bhairawa. Di Sagala sebagai Jina
(Wairocana) bersama permaisurinya Bajradewi. Untuk memperjelas pemahaman Anda,
tentang candi Singosari tempat Kertanegari di muliakan, maka simaklah gambar 16.
berikut ini!

Setelah Anda menyimak gambar candi Singosari tersebut maka simaklah uraian materi
berikut.

KEHIDUPAN SOSIAL, POLITIK , EKONOMI , AGAMA

Dalam kitab Pararaton maupun Negara Kertagama diceritakan bahwa kehidupan sosial
masyarakat Singosari cukup baik karena rakyat terbiasa hidup aman dan tenteram sejak
pemerintahan Ken Arok bahkan dari raja sampai rakyatnya terbiasa dengan kehidupan
religius. Kehidupan religius tersebut dibuktikan dengan berkembangnya ajaran baru
yaitu ajaran Tantrayana (Syiwa Budha) dengan kitab sucinya Tantra.

Ajaran Tantrayana berkembang dengan baik sejak pemerintahan Wisnuwardhana dan


mencapai puncaknya pada masa Kertanegara, bahkan pada akhir pemirintahan
Kertanegara ketika diserang oleh Jayakatwang, sedang melaksanakan upacara
Tantrayana bersama Mahamantri dan pendeta terkenal.

Dalam kehidupan ekonomi, walaupun tidak ditemukan sumber secara jelas. Ada
kemungkinan perekonomian ditekankan pada pertanian dan perdagangan karena
Singosari merupakan daerah yang subur dan dapat memanfaatkan sungai Brantas dan
Bengawan Solo sebagai sarana lalu lintas perdagangan dan pelayaran.

Singosari banyak meninggalkan bangunan berupa candi yang berhubungan dengan


agama yaitu seperti candi Kidal, candi Jago, candi Singosari dan patung Joko Dolok yang
merupakan perwujudan Kertanegara terletak di simpang tiga Surabaya, Jatim.

S UMBER : ID .W IKIPEDIA

7 — Kerajaan Singosari
Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari, adalah sebuah kerajaan di Jawa
Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan
ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.

NAMA IBU KOTA

Berdasarkan prasasti Kudadu, nama resmi Kerajaan Singhasari yang


sesungguhnya ialah Kerajaan Tumapel. Menurut Nagarakretagama,
ketika pertama kali didirikan tahun 1222, ibu kota Kerajaan Tumapel
bernama Kutaraja.

Pada tahun 1254, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya yang


bernama Kertanagara sebagai yuwaraja dan mengganti nama ibu
kota menjadi Singhasari. Nama Singhasari yang merupakan nama ibu
kota kemudian justru lebih terkenal daripada nama Tumapel. Maka,
Kerajaan Tumapel pun terkenal pula dengan nama Kerajaan
Singhasari.

Nama Tumapel juga muncul dalam kronik Cina dari Dinasti Yuan
dengan ejaan Tu-ma-pan.

AWAL BERDIRINYA

Menurut Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri.
Yang menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul
Ametung. Ia mati dibunuh secara licik oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken
Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Tidak hanya itu, Ken Arok bahkan berniat
melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri.

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum
brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat
dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang
melawan Kadiri meletus di desa Ganter yang dimenangkan oleh pihak Tumapel.

Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk pendirian Kerajaan Tumapel,
namun tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Dalam naskah itu, pendiri kerajaan
Tumapel bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil mengalahkan
Kertajaya raja Kadiri.

Prasasti Mula Malurung atas nama Kertanagara tahun 1255, menyebutkan kalau pendiri
Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa. Mungkin nama ini adalah gelar anumerta dari
Ranggah Rajasa, karena dalam Nagarakretagama arwah pendiri kerajaan Tumapel
tersebut dipuja sebagai Siwa. Selain itu, Pararaton juga menyebutkan bahwa, sebelum
maju perang melawan Kadiri, Ken Arok lebih dulu menggunakan julukan Bhatara Siwa.

8 — Kerajaan Singosari
RAJA-RAJA TUMAPEL

Terdapat perbedaan antara Pararaton dan Nagarakretagama dalam menyebutkan


urutan raja-raja Singhasari.

Raja-raja Tumapel versi Pararaton adalah:

1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 - 1247)


2. Anusapati (1247 - 1249)
3. Tohjaya (1249 - 1250)
4. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 - 1272)
5. Kertanagara (1272 - 1292)

Raja-raja Tumapel versi Nagarakretagama adalah:

1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222 - 1227)


2. Anusapati (1227 - 1248)
3. Wisnuwardhana (1248 - 1254)
4. Kertanagara (1254 - 1292)

Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton diwarnai pertumpahan darah yang
dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya). Anusapati mati
dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan
Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya Ranggawuni yang digantikan Kertanagara
(putranya) secara damai.

Sementara itu versi Nagarakretagama tidak menyebutkan adanya pembunuhan antara


raja pengganti terhadap raja sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi karena
Nagarakretagama adalah kitab pujian untuk Hayam Wuruk raja Majapahit. Peristiwa
berdarah yang menimpa leluhur Hayam Wuruk tersebut dianggap sebagai aib.

Di antara para raja di atas hanya Wisnuwardhana dan Kertanagara saja yang didapati
menerbitkan prasasti sebagai bukti kesejarahan mereka. Dalam Prasasti Mula Malurung
(yang dikeluarkan Kertanagara atas perintah Wisnuwardhana) ternyata menyebut
Tohjaya sebagai raja Kadiri, bukan raja Tumapel. Hal ini memperkuat kebenaran berita
dalam Nagarakretagama.

Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Kertanagara tahun 1255 selaku raja bawahan di
Kadiri. Jadi, pemberitaan kalau Kertanagara naik takhta tahun 1254 perlu dibetulkan.
Yang benar adalah, Kertanagara menjadi raja muda di Kadiri dahulu. Baru pada tahun
1268, ia bertakhta di Singhasari.

TAFSIR BARU SEJARAH TUMAPEL

Dengan ditemukannya prasasti Mula Malurung maka sejarah Tumapel versi Pararaton
perlu untuk direvisi.

9 — Kerajaan Singosari
Kerajaan Tumapel didirikan oleh Rajasa alias Bhatara Siwa setelah menaklukkan Kadiri.
Sepeninggalnya, kerajaan terpecah menjadi dua, Tumapel dipimpin Anusapati
sedangkan Kadiri dipimpin Bhatara Parameswara (alias Mahisa Wonga Teleng).
Parameswara digantikan oleh Guningbhaya, kemudian Tohjaya. Sementara itu,
Anusapati digantikan oleh Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana.

Prasasti Mula Malurung menyebutkan bahwa sepeninggal Tohjaya, Kerajaan Tumapel


dan Kadiri dipersatukan kembali oleh Seminingrat. Kadiri kemudian menjadi kerajaan
bawahan yang dipimpin oleh putranya, yaitu Kertanagara.

PEMERINTAHAN BERSAMA

Pararaton dan Nagarakretagama menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara


Wisnuwardhana dan Narasingamurti. Dalam Pararaton disebutkan nama asli
Narasingamurti adalah Mahisa Campaka.

Apabila kisah kudeta berdarah dalam Pararaton benar-benar terjadi, maka dapat
dipahami maksud dari pemerintahan bersama ini adalah suatu upaya rekonsiliasi antara
kedua kelompok yang bersaing. Wisnuwardhana merupakan cucu Tunggul Ametung
sedangkan Narasingamurti adalah cucu Ken Arok.

PUNCAK KEJAYAAN

Kertanagara adalah raja terakhir dan raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1268 -
1292). Ia adalah raja pertama yang mengalihkan wawasannya ke luar Jawa. Pada tahun
1275 ia mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu untuk menjadikan pulau Sumatra sebagai
benteng pertahanan dalam menghadapi ekspansi bangsaMongol. Saat itu penguasa
pulau Sumatra adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan dari Kerajaan Malayu).
Kerajaan ini akhirnya tunduk dengan ditemukannya bukti arca Amoghapasa yang dikirim
Kertanagara sebagai tanda persahabatan kedua negara.

Pada tahun 1284, Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali. Pada
tahun 1289 Kaisar Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar Jawa
mengakui kedaulatan Mongol. Namun permintaan itu ditolak tegas oleh Kertanagara.

Nagarakretagama menyebutkan daerah-daerah bawahan Singhasari di luar Jawa pada


masa Kertanagara antara lain, Melayu, Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura.

PERISTIWA KERUNTUHAN

Kerajaan Singhasari yang sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa akhirnya
mengalami keropos di bagian dalam. Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan

10 — Kerajaan Singosari
Jayakatwang bupati Gelang-Gelang, yang merupakan sepupu, sekaligus ipar, sekaligus
besan dari Kertanagara sendiri. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.

Setelah runtuhnya Singhasari, Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru
di Kadiri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singhasari pun berakhir.

HUBUNGAN DENGAN MAJAPAHIT

Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti Kudadu mengisahkan Raden Wijaya cucu


Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara lolos dari maut. Berkat bantuan Aria
Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan
diberi hak mendirikan desa Majapahit.

Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Jawa.
Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang di Kadiri. Setelah
Kadiri runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar
dari tanah Jawa.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Singhasari,


dan menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan
oleh Ken Arok.

11 — Kerajaan Singosari
KERAJAAN HOLING
N EONOVAN .T OPCITIES
LOKASI KERAJAAN

Berita Cina berasal dari Dinasti T'ang yang menyebutkan bahwa letak Kerajaan Holing
berbatasan dengan Laut Sebelah Selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-Li
(Bali) sebelah Timur dan To-Po-Teng di sebelah Barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-
Po (Jawa), sehingga berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa Kerajaan
Holing terletak di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah.

J.L. Moens dalam menentukan letak Kerajaan Holing meninjau dari segi perekonomian,
yaitu pelayaran dan perdagangan. Menurutnya, Kerajaan Holing selayaknya terletak di
tepi Selat Malaka, yaitu di Semenanjung Malaya. Alasannya, Selat Malaka merupakan
selat yang sangat ramai dalam aktifitas pelayaran perdagangan saat itu. Pendapat J.L.
Moens itu diperkuat dengan ditemukannya sebuah daerah di Semenajung Malaya yang
bernama daerah Keling.

SUMBER SEJARAH

I-Tsing menyebutkan bahwa seorang temannya bernama Hui-Ning


dengan pembantunya bernama Yunki pergi ke Holing tahun 664/665 M
untuk mempelajari ajaran agama Budha. Ia juga menterjemahkan kitab
suci agama Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Dalam
menerjemahkan kitab itu, ia dibantu oleh pendeta agama Budha dari
Holing yang bernama Jnanabhadra. Menurut keterangan dari Dinasti
Sung, kitab yang diterjemahkan oleh Hui-Ning adalah bagian terakhir
kitab Parinirvana yang mengisahkan tentang pembukaan jenazah Sang Budha.

12 — Kerajaan Holing
KEHIDUPAN POLITIK, SOSIAL , EKONOMI

Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa Kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja
putri yang bernama Ratu Sima.

Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana. Rakyat tunduk dan
taat terhadap segala perintah Ratu Sima. Bahkan tidak seorang pun rakyat atau pejabat
kerajaan yang berani melanggar segala perintahnya.

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Holing sudah teratur rapi. Hal ini disebabkan
karena sistem pemerintahan yang keras dari Ratu Sima. Di samping ini juga sangat adil
dan bijaksana dalam memutuskan suatu masalah. Rakyat sangat menghormati dan
mentaati segala keputusan Ratu Sima.

Kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Holing berkembang pesat. Masyarakat


Kerajaan Holing telah mengenal hubungan perdagangan. Mereka menjalin hubungan
perdagangan pada suatu tempat yang disebut dengan pasar. Pada pasar itu, mereka
mengadakan hubungan perdagangan dengan teratur.

D OT W ORDPRESS
Kerajaan ini ibukotanya bernama Chopo ( nama China ), menurut bukti- bukti China
pada abad 5 M. Mengenai letak Kerajaan Holing secara pastinya belum dapat
ditentukan. Ada beberapa argumen mengenai letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan
bahwa negara ini terletak di Semenanjung Malay, di Jawa barat, dan di Jawa Tengah.
Tetapi letak yang paling mungkin ada di daerah antara pekalongan dan Plawanagn di
Jawa tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari Cina

Kerajaan Holing adalah kerajaan yang terpengaruh oleh ajaran agama Budha. Sehingga
Holing menjadi pusat pendidikan agama Budha. Holing sendiri memiliki seorang pendeta
yang terkenal bernama Janabadra. Sebgai pusat pendidikan Budha, menyebabkan
seorang pendeta Budha dari Cina, menuntut ilmu di Holing. Pendeta itu bernama Hou
ei- Ning ke Holing, ia ke Holing untuk menerjemahkan kitab Hinayana dari bahasa
sansekerta ke bahasa cina pada 664-665.

Sistem Administrasi kerajaan ini belum diketahui secara pasti. Tapi beberapa bukti
menunjukkan bahwa pada tahun 674-675, kerajaan ini diperintah oleh seoarang raja
wanita yang bernama Simo.

Holing sendiri banyak ditemukan barang-barang yang bercirikan kebudayaan Dong-Song


dan India. Hal ini menunjukkan adanya pola jaringan yang sudah terbentuk antar Holing
dengan bangsa luar. Wilayah perdaganganya meliputi laut China Selatan sampai pantai
utara Bali. Tetapi perkembangan selanjutnya sistem perdagangan Holing mendapat
tantangan dari Srivijaya, yang pada akhirnya perdagangan dikuasi oleh Srivijaya.
Sehingga Srivijaya menjadi kerajaan yang menguasai perdagangan pada pertengahan
abad ke-8.

13 — Kerajaan Holing
M ANDAILING .O RG
MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH

Sepanjang yang dapat diketahui sampai sekarang, belum ada seseorang yang menulis
dan menerbitkan sejarah Mandailing. Oleh karena itu kita tidak dapat memperoleh
refensi untuk membicarakan sejarah Madailing. Suku bangsa atau kelompok etnis
Mandailing. Suku bangsa atau kelompok etnis Mandailing memang mempuyai aksara
sendiri yang dinamakan Surat Tulak-Tulak. Tetapi ternayata orang-orang Mandailing
pada zaman dahulu tidak menggunakan aksara tersebut untuk menuliskan sejarah. Pada
umumnya yang dituliskan adalah mengenai ilmu pengobatan tradisional, astronomi
tradisional, ilmu ghaib, andung-andung dan tarombo atau silsilah keturunan keluarga-
keluarga tertentu. Setalah sekolah berkembang di Mandailing, Surat Tulak-Tulak mulai
dipergunakan oleh guru-guru untuk menuliskan cerita-cerita rakyat Mandailing sebagai
bacaan murid-murid sekolah.

Beberapa legenda yang mengandungi unsur sejarah dan berkaitan dengan asal-usul
marga orang Mandailing masih hidup di tengah masyarakat Mandailing. Seperti legenda
Namora Pande Bosi dan legenda Si Baroar yang dtulis oleh Willem Iskandar pada abad
ke-18. Tetapi legenda yang demikian itu tidak memberi keterangan yang cukup berarti
mengenai sejarah Mandailing. Dalam bebrapa catatan sejarah seperti sejarah Perang
Paderi yang disusun oleh M. Radjab, disebut-sebut mengenai Mandailing dan
keterlibatan orang Mandailing dalam Perang Paderi. Catatan sejarah ini hanya
berhubungan dengan masyarakat Mandailing pada abad ke-18 dan awal masuknya
orang Belanda ke Mandailing. Bagaimana sejarh atau keadaan masyarakat Mandailing
pada abad-abad sebelumnya tidak terdapat tulisan yang mencatatnya.

KITAB NEGARAKERTAGAMA

Mpu Prapanca, seorang pujangga Kerajaan Majapahit menulis satu kitab yang berjudul
Negarakertagama sekitar tahun 1365. kitab tersebut ditulisnya dalam bentuk syair yang
berisi keterangan mengenai sejarah Kerajaan Majapahit. Menurut Prof. Slamet Mulyana
(1979:9). Kitab Negarakertagama adalah sebuah karya paduan sejarah dan sastra yang
bermutu tinggi dari zaman Majapahit. Berabad-abad setelah runtuhnya Kerajaan
Majapahit, keberadaan dimana kitab ini tidak diketahui. Baru pada tahun 1894, satu
Kitab Negarakertagama ditemukan di Puri Cakranegara di Pulau Lombok. Kemudian
pada tanggal & Juli 1979 ditemukan lagi satu Kitab Negarakertagama di Amlapura,
Kabupaten Lombok, Pulau Bali.

Dalam Pupuh XIII Kitab Negarakertagama, nama Mandailing bersama nama banyak
negeri di Sumatera dituliskan oleh Mpu Prapanca sebagai negara bawahan Kerajaan
Majapahit. Tidak ada keterangan lain mengenai Mandailing kecuali sebagai salah satu
negara bawahan Kerajaan Majapahit. Namun demikian, dengan dituliskan nama

14 — Kerajaan Holing
Mandailing terdapatlah bukti sejarah yang otentik bahwa pada abad ke-14 telah diakui
keberadaannya sebagai salah satu negara bawahan Kerajaan Majapahit.. pengertian
negara bawahan dalam hal ini tidak jelas artinya karena tidak ada keterangan
berikutnya.

Jadi dapatlah dikatakan bahwa Negri Mandailing sudah ada sebelum abad ke-14. Karena
sebelum keberadaannya dicatat tentunya Mandailing sudah terlebih dahulu ada. Kapan
Negeri Mandailing mulai berdiri tidak diketahui secara persis. Tetapi karena nama
Mandailing dalam kitab ini disebut-sebut bersama nama banyak negeri di Sumatera
termasuk Pane dan Padang Lawas, kemungkinan sekali negeri Mandailing sudah mulai
ada pada abad ke-5 atau sebelumya. Karena Kerajaan Pane sudah disebut-sebut dalam
catatan Cina pada abad ke-6. Dugaan yang demikian ini dapat dihubungkan dengan
bukti sejarah berupa reruntuhan candi yang terdapat di Simangambat dekat Siabu.
Candi tersebut adalah Candi Siwa yang dibangun sekitar abad ke-8.

Apakah pada abad ke-14 Mandailing merupakan satu kerajaan tidak diketahui. Karena
dalam Kitab Negarakertagama, Mandailing tidak disebut-sebut sebagai kerajaan tetapi
sebagai negara bawahan Kerajaan Majapahit. Tetapi dengan disebutkan negeri
Mandailing sebagai negara, ada kemungkinan pada masa itu Mandailing merupakan
satu kerajaan. Keterangan mengenai keadaaan Mandailing sebelum abad ke-14 tidak
ada sama sekali kecuali keberadaaan Candi Siwa di Simangambat. Namun demikian,
berdasarkan berbagai peninggalan dari zaman pra sejarah dan peninggalan dari zaman
Hindu/Buddha yang terdapat di Mandailing kita dapat mengemukakan keterangan yang
bersifat hipotesis.

HIPOTESIS TENTANG KERAJAAN MANDALA HOLING

Pada bagian terdahulu sudah dikemukakan bahwa di Simangambat terdapat reruntuhan


Candi Siwa (Hindu) dari abad ke-8. Candi tersebut jauh lebih tua dari candi-candi di
Portibi (Padang Lawas) yang menurut perkiraan para pakar dibangun pada abad ke-11.
Dengan adanya candi ini bisa menimbulkan pertanyaan mengapa dan kapan ummat
Hindu yang selanjutnya saya sebut orang Hindu dari India datang ke Mandailing yang
terletak di Sumatera yang mereka namakan Swarna Dwipa (Pulau Emas).

Besar kemungkinan orang Hindu datang ke Mandailing yang terletak di Swarna Dwipa
adlah untuk mencari emas. Dalam sejarah Inida, terdapat keterangan yang
menyebutkan bahwa sekitar abad pertama Masehi pasokan emas ke India yang
didatangi dar Asia Tengan terhenti. Karena di Asia Tengan terjadi berbagai
peperangan.Oleh karena itu kerajaan-kerajaan yang terdapat di India berusaha
mendapatkan emas dari tempat lain yaitu dari Sumatera/Swarna Dwipa. Dalam
hubungan ini kita mengerti bahwa di wilayah Mandailing yang pada masa lalu hingga
kini di dalamnya termasuk kawasan Pasaman terdapat banyak emas. Bukti-bukti
mengenai hal ini banyak sekali. Jadi besar sekali kemungkinan bahwa tempat yang dituju

15 — Kerajaan Holing
oleh orang Hindu dari India untuk mencari emas di Swarna Dwipa adalah daerah
Mandailing. Pada masa daerah ini belum bernama Mandailing. Entah apa namanya kita
tidak mengetahui.

Orang Hindu yang datang ke wilayah Mandailing adalah yang berasal dari negeri atau
Kerajaan Kalingga di India. Oleh karena itu mereka disebut orang Holing atau orang
Koling. Ada kemungkinan mereka masuk darri daerah Singkuang. Karena Singkuang yang
merupakan tempat bermuaranya Sungai Batang Gadis cukup terkenal sebagai
pelabuhan. Itulah sebabnya tempat tersebut dinamakan Singkuan oleh pedagang Cina
yang berarti harapan bar. Karena melalui pelabuhan ini mereka biasa memperoleh
berbagai barang dagangan yang penting yang berasal dari Sumatera seperti damar,
gitan, gading dsb.

Menurut dugaan setelah orang Holing/Koling tiba di Singkuang, selanjutnya mereka


menyusuri Sungai Batang Gadis ke arah hulunya. Dengan demikian maka akhirnya
mereka sampai di satu dataran rendah yang subur yaitu di kawasan Mandailing Godang
yang sekarang. Sejak zaman pra sejarah di kawasan tersebut dan di berbagai tempat di
Mandailing sudah terdapat penduduk pribumi. Hal ini dibuktikan oleh adanya
peninggalan dari zaman pra sejarah berupa lumpang-lumpang batu besar di tengah
hutan di sekitar Desa Runding di seberang Sungai Batang Gadis dan bukti-bukti lainnya
di berbagai tempat.

Pada waktu orang Holing/Koling sampai di kawasan Mandailing Godang (waktu itu kita
tidak tahu nama kawasan ini) maka mereka bertemu dengan penduduk pribumi
setempat. Penamaan orang Holing/Koling digunakan untuk menyebutkan orang Hindu
yang berasal dari Negeri Kalingga tersebut dibuat oleh penduduk pribumi. Setibanya di
wilayah Mandailing, orang-orang Holing/Koling tersebut menemukan apa yang mereka
cari yaitu emas. Kita mengetahui melalui sejarah bahwa emas tercatat sebagai salah
satu modal utama dalam berdirinya kerajaan-kerajaan besar dan emas juga merupakan
sumber kemakmuran. Setelah orang-orang Hindu menemukan banyak emas di kawasan
Mandailing yang sekarang ini, mereka kemudian menetap di kawasan tersebut. Karena
orang-orang Holing/Koling menetap di kawasan itu maka dinamakan Mandala
Holing/Koling. Mandala artinya lingkungan atau kawasan. Mandala Holing/Koling berarti
lingkungan atau kawasan tempat tinggal orang-orang Holing/Koling. Sampai sekarang
kita sering mendengar disebut-sebut adanya Banua Holing/Koling. Tetapi orang-orang
tidak mengetahui dimana tempat yang dinamakan Banua Holing/Koling itu.

Berdasarkan hipotesis ini kita dapat mengatakan bahwa yang disebut Banua
Holing/Koling itu adalah wilayah Mandailing yang dahulu ditempati oleh orang-orang
Holing/Koling. Dengan kata lain Banua Holing/Koling adalah Mandala Holing/Koling.
Berabad-abad kemudian Mandalan Holing/Koling dikenal sebagai Kerajaan Holing.
Dalam hubungan ini Slamet Mulyana (1979:59) mengemukakan bahwa hubungan
dagang dan diplomat antara Cina dan Jawa berlangsung mulai dari berdirinya Kerajaan
Holing pada permulaan abad ke-7 sampai runtuhnya Kerajaan Majapahit pada
permulaan abad ke-16. Sejalan dengan keterangan Slamer Mulyana ini kita dapat
melihat hubungan antara Kerajaan Holing dengan adanya Candi Siwa Di Simangambat

16 — Kerajaan Holing
yang dibangunkan pada abad ke-8. Dalam hubungan ini dapat pula dikemukan bahwa
dari berbagai catatan sejarah disebut-sebut adanya Kerajaan Kalingga dan Kerajaan
Holing. Tetapi sampai sekarang para sejarah belum menentukan dimana sebenarnya
lokasinya yang pasti. Ada pakar sejarah yang menduga bahwa Kerajaan Kalingga terletak
di Jawa Timur tetapi Kerajaan Holing yang disebut-sebut dalam catatan Cina tidak
diketahui lokasinya yang pasti. Dan dapat pula dipertanyakan apakah Kerajaan Kalingga
adalah yang disebut juga sebagai Kerajaan Holing.

Dengan argumentasi yang telah dikemukan di atas, kita mengajukan dugaan (hipotesis)
bahwa yang disebut Kerajaan Holing itu dahulu terletak di wilayah Mandailing yang juga
disebut sebagai Kerajaan Mandala Holing/Koling. Kiranya cukup beralasan untuk
menduga bahwa nama Mandahiling (Mandailing) yang disebut oleh Mpu Prapanca
dalam Kitan Negarakertagama pada abad ke-14 berasal dari nama Mandalaholing yang
kemudian mengalami perubahan penyebutan menjadi Mandahiling dan akhirnya kini
menjadi Mandailing. Untuk membuktikan kebenaran dugaan atau hipotesis ini tentu
masih perlu dilakukan penelitian. Dan ini merupakan tantangan bagi orang Mandailing
yang berkedudukan sebagai pakar sejarah.

Diperkiranya orang-orang Hindu menetap di Kerajaan Mandalaholing (Kerajaan Holing/


Banua Holing) yang kaya dengan emas berabad-abad lamanya. Yaitu sejak mereka
datang pertama kali pada abad-abad pertama Masehi. Sampai abad ke-13 orang-orang
Hindu masih ada yang menetap di Mandailing yang sekarang ini. Hal ini dibuktikan
dengan ditemukannya cukup banyak peninggalan Hindu/Buddha di wilayah Mandailing.
Salah satu diantaranya adalah tiang batu di Gunung Sorik Merapi yang bertarikh abad
ke-13 di kawasan Mandailing Godang (Pidoli) terdapat lokasi persawahan yang bernama
Saba Biara. Yang disebut biara atau vihara adalah tempat orang-orang Hindu-Buddha
melakukan kegiatan keagamaan. Pada waktu saya berkunjung ke tempat yang bernama
Saba Biara itu beberapa tahun yang lalu, pada jalan masuk ke lokasi tersebut saya
melihat di 5 (Lima) tempat adanya batu bata yang tersusun dalam lubang tanah yang
dalamnya kurang lebih 2 (Dua) meter. Kemungkinan sekali batu bata yang tersusun itu
adalah reruntuhan candi dari zaman dahulu. Susunan batu bata tersebut ada yang
terletak pada gundukan tanah. Ketika orang-orang yang pulang dari sawah saya
tanyakan apakan susunan batu bata seperti yang berada pada gundukan tanah itu ada
terdapat di tengah persawahan, mereka mengatakan bahwa semua pulau-pulau
(gundukan tanah) yang banyak terdapat di tengah persawahan adalah tumpukan atau
susunan batu bata di bawahnya. Oleh karena itu besar sekali kemungkinan bahwa di
lokasi yang bernama Saba Biara di Pidoli adalah reruntuhan puluhan candi peninggalan
kerajaan Hindu/Buddha (Kerajaan Mandalaholing). Untuk membuktikannya perlu
dilakukan eskavasi (penggalian)

Menurut dugaan Kerajaan Mandalaholing yang dahulu pernah terdapat di Mandailing


yang sekarang meluas sampai ke kawasan Pasaman (yang dahulu merupakan bagian dari
Mandailing). Menurut keterangan yang pernah saya peroleh di Pasaman, batas antara
wilayah Mandailing dan wilayah Minangkabau terletak di Si Pisang lewat Palupuh.
Sekarang batas antara Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Di kawasan

17 — Kerajaan Holing
Pasaman, yaitu di tempat yang bernama Tanjung Medan dekat Rao terdapat juga candi
yang mirip keadaannya dengan candi di Portibi. Dan kita tahu bahwa di kawasan
Pasaman juga terdapat emas yang dibutuhkan oleh orang-orang Hindu. Kalau tidak salah
di kawasan yang bernama Manggani. Dan di kawasan itu juga terdapat tambang emas
Belanda pada masa penjajahan.

I NDOFORUM .O RG
KEHIDUPAN SOSIAL, EKONOMI , POLITIK

Kerajaan Yang Sangat Makmur Ini Bernama Kerajaan Holing.

Letak Kerajaan Holing tidak dapat diketahi secara pasti, sebab tidak ada prasasti yg
ditinggalkan..Namun demikian ada sumber berita dari China yang digunakan untuk
menganalisis letaknya.Berita China dari dinasti Tang menyebutkan bahwa letak Holing
berbatasan dengan Laut sebelah selatan, Ta-Hr-La(Kamboja) di sebelah utara, Po-Li (Bali)
disebelah timur dan To-Po-Teng I disebelah barat..Holing disebut dengan istilah Cho-
Po(Jawa).Berdasarkan berita China tersebut dapat disimpulkan bahwa letak Holing ada
di Jawa khususnya Jawa Tengah.

Negri Yang Makmur Dengan Ratu Yang Adil

Kerajaan Holing diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Ratu Sima yang sangat
keras namun adil dan bijaksana.Kejujuran sangat di tanamkan pada rakyatnya.Pejabat
kerajaan dan rakyat sangat taat pada aturan dari pemerintah di bawah kekuasaan Ratu
Sima hingga rakyat menjadi makmur.

Berita tentang Ratu Sima yg adil beserta negrinya yang makmur dan rakyatnya yang
jujur telah terdengar sampai China dan sampai di telinga Raja Ta-che.Raja Ta-che
penasaran kenapa kerajaan Holing begitu terkenal akan kejujurannya hingga sampai
terdengar di China yg terbilang sangat jauh dari jawa.Akhirnya Raja Ta-che ingin
membuktikan kebenaran dari kejujuran rakyat Holing.Ia pun mengirim utusann ke
Holing untuk membuktikan hal itu.Utusan Raja Ta-che diperintah untuk menaruh pundi-
pundi emas secara diam-diam di tengah jalan dekat keramaian pasar.

Berhari-hari,Berbulan-bulan,hingga sampai tiga tahun..pundi-pundi itu berpindah dari


tempatnya.tidak satupun orang yang menyentuh pundi-pundi itu.

Hingga sampailah pada suatu hari..Sang Putra Mahkota yaitu anak tertua dari Ratu Sima
berjalan melewati pasar tersebut.ketika ia berjalan,tak sengaja kakinya menyenggol
pundi-pundi tersebut.

Salah seorang warga melihat kejadian tersebut..akhirnya ia melaporkan kepada

pemerintah kerajaan akan kejadian tersebut.setelah laporan tersebut terdengar oleh


Ratu Sima,Ratu Sima langsung memerintahkan kepada hakim untuk menghukum mati

18 — Kerajaan Holing
Sang Putra Mahkota yang tidak lain adalah anaknya sendiri.Ratu Sima menganggap itu
hal itu termasuk dalam kejahatan pencurian.Peraturan Kerajaan kerajaan bagi pencuri
adalah hukuman mati.karena Ratu Sima berpendapat bahwa mencuri itu berawal dari
menyentuh barang tersebut hingga timbul keinginan untuk mencuri.

Beberapa Patih kerajaan tidak setuju dengan keputusan Ratu Sima.Mereka mengajukan
pembelaan untk Sang Putra Mahkota kepada Ratu Sima.Pembelaan mereka yaitu, Sang
Putra Mahkota menyenggol pundi-pundi tersebut karena tidak sengaja dengan
kakinya.maka lebih baik cukup kakinya saja yang di potong,tidak perlu di hukum mati
karena ada unsur ke tidak sengajaan

Setelah melalui perdebatan yang panjang..Ratu Sima akhirnya menyetujui pembelaan


dari Patih kerajaan.Sang Putra Mahkota pun akhirnya hanya di hukum potong kaki.

Utusan Raja Ta-che kembali ke china setelah melihat kebenaran tentang Adilnya Ratu
Sima yang mau menghukum anaknya yang telah melakukan kesalahan dan kejujuran
rakyat Holing yang benar-benar luar biasa.

Pembuktian Raja Ta-che akhirnya dibenarkan oleh utusannya.

19 — Kerajaan Holing
KERAJAAN MATARAM ISLAM
THE MAPS

Peta Mataram Baru yang telah dipecah menjadi empat kerajaan pada tahun 1830,
setelah Perang Diponegoro. Pada peta ini terlihat bahwa Kasunanan Surakarta memiliki
banyak enklave di wilayah Kasultanan Yogyakarta dan wilayah Belanda. Mangkunagaran
juga memiliki sebuah enklave di Yogyakarta. Di kemudian hari enklave-enklave ini
dihapus.

20 — Kerajaan Mataram Islam


21 — Kerajaan Mataram Islam
22 — Kerajaan Mataram Islam
23 — Kerajaan Mataram Islam
24 — Kerajaan Mataram Islam
25 — Kerajaan Mataram Islam
26 — Kerajaan Mataram Islam
P AKYOK B LOG
Nama kerajaan Mataram tentu sudah pernah Anda dengar sebelumnya dan ingatan
Anda pasti tertuju pada kerajaan Mataram wangsa Sanjaya dan Syailendra pada zaman
Hindu-Budha. Kerajaan Mataram yang akan dibahas dalam modul ini, tidak ada
hubungannya dengan kerajaan Mataram zaman Hindu-Budha. Mungkin hanya
kebetulan nama yang sama. Dan secara kebetulan keduanya berada pada lokasi yang
tidak jauh berbeda yaitu Jawa Tengah Selatan.

Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang dikuasai
oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka
Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas jasanya membantu mengatasi
perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang munculnya kerajaan Pajang. Ki
Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya yang juga mengabdi kepada raja
Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja. Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal
tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya sebagai adipati di Kota Gede tersebut.
Setelah pemerintahan Hadiwijaya di Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang
saudara antara Pangeran Benowo putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak
yang merupakan keturunan dari Raden Trenggono.

Akibat dari perang saudara tersebut, maka banyak daerah yang dikuasai Pajang
melepaskan diri, sehingga hal inilah yang mendorong Pangeran Benowo meminta
bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan Sutawijaya tersebut, maka perang saudara
dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya maka secara sukarela Pangeran Benowo
menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya. Dengan demikian berakhirlah kerajaan
Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan
Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di
sekitar kota Yogyakarta sekarang.

KEHIDUPAN POLITIK

Pendiri kerajaan Mataram adalah Sutawijaya. Ia bergelar Panembahan Senopati,


memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha
menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta
Galuh. Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram
terwujud, Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelar Sultan
Anyakrawati tahun 1601 – 1613. Sebagai raja Mataram ia juga berusaha meneruskan
apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk memperoleh kekuasaan
Mataram dengan menundukkan daerah-daerah yang melepaskan diri dari Mataram.
Akan tetapi sebelum usahanya selesai, Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal
dengan sebutan Panembahan Sedo Krapyak. Untuk selanjutnya yang menjadi raja
Mataram adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo
Ngabdurrahman, yang memerintah tahun 1613 – 1645. Sultan Agung merupakan raja
terbesar dari kerajaan ini. Pada masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya,
karena ia seorang raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana.

27 — Kerajaan Mataram Islam


Pada tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. Di
samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung juga berusaha
mengusir VOC Belanda dari Batavia. Untuk itu Sultan Agung melakukan penyerangan
terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut
mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena
jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu
1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu
singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai
lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC, sebagai akibatnya pasukan
Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung padi maka
tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan
belum sempurna. Hal inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram.
Di samping itu juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan
Mataram.

Untuk selanjutnya silahkan Anda diskusikan dengan teman-teman Anda mencari


penyebab kegagalan yang lain serangan Mataram ke batavia. Hasil diskusi Anda dapat
dikumpulkan pada guru bina Anda dan kemudian lanjutkan menyimak uraian materi
selanjutnya. Walaupun penyerangan terhadap Batavia mengalami kegagalan, namun
Sultan Agung tetap berusaha memperkuat penjagaan terhadap daerah-daerah yang
berbatasan dengan Batavia, sehingga pada masa pemerintahannya VOC sulit menembus
masuk ke pusat pemerintahan Mataram. Setelah wafatnya Sultan Agung tahun 1645,
Mataram tidak memiliki raja-raja yang cakap dan berani seperti Sultan Agung, bahkan
putranya sendiri yaitu Amangkurat I dan cucunya Amangkurat II, Amangkurat III, Paku
Buwono I, Amangkurat IV, Paku Buwono II, Paku Buwono III merupakan raja-raja yang
lemah. Sehingga pemberontakan terjadi antara lain Trunojoyo 1674-1679, Untung
Suropati 1683-1706, pemberontakan Cina 1740-1748.

Kelemahan raja-raja Mataram setelah Sultan Agung dimanfaatkan oleh penguasa daerah
untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram juga VOC. Akhirnya VOC berhasil juga
menembus ke ibukota dengan cara mengadu-domba sehingga kerajaan Mataram
berhasil dikendalikan VOC. VOC berhasil menaklukan Mataram melalui politik devide et
impera, kerajaan Mataram dibagi dua melalui perjanjian Gianti tahun 1755. Sehingga
Mataram yang luas hampir meliputi seluruh pulau Jawa akhirnya terpecah belah :

1. Kesultanan Yogyakarta, dengan Mangkubumi sebagai raja yang bergelar Sultan


Hamengkubuwono I.
2. Kasunanan Surakarta yang diperintah oleh Sunan Paku Buwono III.

Belanda ternyata belum puas memecah belah kerajaan Mataram. Akhirnya melalui
politik adu-domba kembali tahun 1757 diadakan perjanjian Salatiga. Mataram terbagi 4
wilayah yaitu sebagian Surakarta diberikan kepada Mangkunegaran selaku Adipati tahun
1757, kemudian sebagian Yogyakarta juga diberikan kepada Paku Alam selaku Adipati
tahun 1813.

28 — Kerajaan Mataram Islam


Demikianlah perkembangan politik kerajaan Mataram. Untuk menambah pemahaman
Anda, buatlah silsilah raja-raja Mataram dari awal berdirinya Mataram sampai tahun
1757. Sebagai referensinya Anda dapat membaca buku Sejarah Nasional

KEHIDUPAN EKONOMI

Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan


agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian. Sekalipun demikian
kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga
menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan
daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur
dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija.
Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan
menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras
paling besar pada saat itu. Dengan demikian kehidupan ekonomi Mataram berkembang
pesat karena didukung oleh hasil bumi Mataram yang besar. Dari penjelasan tersebut,
apakah Anda sudah memahami? Kalau sudah paham, bandingkan dengan uraian materi
selanjutnya.

KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA

Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem
feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya.
Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan
keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah
garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang
menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan
membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut,
menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-
tanah yang dikuasainya. Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai
panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang
kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini
terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana
maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat
(Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.

Contoh lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender


Jawa, adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya
Alam. Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri.

Di samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai
berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi.

29 — Kerajaan Mataram Islam


Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda
terhadap pemujaan nenek moyang.

30 — Kerajaan Mataram Islam


DAFTAR PUSTAKA
~DarkBlood. (2008, 08 30). Negeri dengan Rakyat Yang Jujur di Indonesia. Retrieved 08
05, 2008, from IndoForum: http://indoforum.org/showthread.php?p=438387

Kerajaan Singosari. (t.thn.). Dipetik 08 05, 2008, dari e-Dukasi.net: http://www.e-


dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=118&fname=sej106_11.htm

Kronik Sejarah untuk Kelas 1 SMP.

Lubis, D. P. (n.d.). Mandailing Dalam Lintas Sejarah. Retrieved 08 05, 2008, from Horas
Mandailing: http://www.mandailing.org/ind/rencana18.html

Neonovan. (n.d.). Sejarah Kerajaan Indonesia. Retrieved 8 5, 2008, from Neonovan Base
Href: neonovan.topcities.com/sejarah_kerajaan_indonesia.htm

Sudartoyo. (2008, 01 14). Kerajaan Mataram Islam. Retrieved 08 05, 2008, from
Indonesianto 07: http://pakyok.wordpress.com/2008/01/14/kerajaan-mataram/

Wikipedia. (2008, 0405 04). Kerajaan Singhasari. Retrieved 08 05, 2008, from Wikipedia:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Singhasari

Yuka, T. (n.d.). Kerajaan Pada Masa Awal Hindu-Budha. Retrieved from


http://sejarawan.wordpress.com/2007/10/05/kerajaan-pada-masa-awal-hindu-budha/

31 — Daftar Pustaka