Anda di halaman 1dari 4

TUMOR MARKER CEA (Carsinoembryonic Antigen)

Anggota Kelompok : Rizqi Tahta A (P 27834011068) Santi Astuti D. P (P 27834011069) Shinta Mayasara R (P 27834011070)

POLTEKKES KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2013

Tumor Marker CEA (Carsinoembryonic antigen)


Petanda tumor adalah substansi biologi yang diproduksi oleh sel sel tumor, masuk dalam aliran darah, dan dapat dideteksi jumlah/nilainya dengan pemeriksaan. Petandapetanda tumor, idealnya mempunyai potensi untuk membantu ahli klinik dengan cara memberi sinyal aktivitas penyakit dalam keadaan tidak adanya manifestasi klinik, sehingga dengan demikian memberikan suatu metode skrining untuk penyakit preklinik, memantau status tumor selama pengobatan, dan mendeteksi kekambuhan dini. Karena kemajuan dalam teknologi antibodi monoklonal, banyak petanda tumor sekarang dapat terdeteksi dalam sampel cairan tubuh yang sedikit misalnya serum, urin, atau asites. Untuk dapat dipakai secara klinik maka petanda tumor harus memiliki sensitivitas dan spesifitas tertentu, tetapi yang menjadi masalah pada pemakaian klinis suatu petanda tumor adalah spesifitas. Dalam teori, petanda tumor yang ideal harus mempunyai beberapa atribut: 1. Petanda tumor harus dibuat oleh tumor tersebut dan tidak terdapat pada individu sehat atau pada individu yang mengalami kelainan non neoplastik. 2. Petanda tumor disekresikan kedalam sirkulasi dalam jumlah banyak sehingga kadar dalam serum meningkat dalam keadaan adanya sejumlah relatif kecil sel-sel yang bersifat kanker.Kadar petanda tumor akan seusuai dengan volume dan luasnya neoplasia sehingga kadar serialnya secara akurat akan mencerminkan perkembangan klinis penyakit dan regresi ke kadar normal akan terkait dengan kesembuhan. Klasifikasi lain dari petanda tumor berdasarkan : 1. Produk yang dihasilkan oleh sel tumor itu sendiri (tumor derived product). Berupa antigen onkofetal, yang terdiri dari senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh sel embrio dan sel tumor. Senyawa ini juga dihasilkan oleh sel normal yang undifferentiated tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. Dan kadar senyawa ini akan meningkat secara bermakna pada penderita kanker. Contoh : Carcinoembryonic Antigen (CEA) - Alfa Fetoprotein (AFP) 2. Produk yang menyertai proses keganasan(tumor associated product).Produk ini merupakan senyawa yang dibentuk secara sekunder sebagai akibat dari proses keganasan, dan kadarnya juga akan meningkat secara bermakna pada penderita kanker.Contoh :- Carbohydrate Antigen 19 9 (CA 19 9)- Cancer Antigen 125 (CA 125)- Ferritin- B2MicroglobulinNILAI CUT - OFF values . Penentuan batas (Cut Off) pada penggunaan petanda tumor, baik untuk diagnosis ujisaring, prognosis maupun pemantauan terapi sangat mempengaruhi interpretasi hasil pemeriksaan. Karena penentuan cut-off akan menentukan sensitivitas dan spesifisitas diagnosis yang kita kehendaki. Petanda Tumor Onkologi Ginekologi Sejumlah petanda tumor telah memperoleh pengakuan dalam praktek onkologi ginekologi. Beberapa petanda lain telah teridentifikasi dan berada dalam penyelidikan untuk menentukan kegunaanya. Kebanyakan petanda yang ditetapkan merupakan antigen2 jaringan, tetapi antigen fetus, hormon, dan enzim2 telah menjanjikan dengan baik. Antigen Fetus : a. Alfafetoprotein b. Antigen Karsinoembrionik

CEA (carsinoembryonic antigen / antigen karsinoembrionik) Antigen karsinoembrionik adalah glikoprotein keluarga imunoglobulin dengan 29 berkas genetik yang berperan dalam adhesi sel, 18 di antaranya merupakan ekspresi normal(W). Sedangkan menurut Sacher(2004), Glikoprotein ini adalah suatu antigen onkofetal, yaitu dalam keadaan normal banyak ditemukan pada masa janin, tetapi tidak ada atau sangat berkurang konsentrasinya pada orang dewasa kecuali secara spesifik disintesis oleh sel-sel yang berproliferasi abnormal (Sacher, 2004). Ini dikarenakan CEA diproduksi pada masa embrio dan terhenti sebelum masa kelahiran(W). Pertama kali teridentifikasi pada tahun 1965 pada pasien-pasien penderita adenokarsinoma kolon. Selanjutnya, CEA ditemukan diekspresikan pada usus, hati, dan pankreas fetus. CEA merupakan suatu glikoprotein membran permukaan sel dengan berat molekul 200.000. Antigen karsinoembrionik (CEA) terdeteksi dalam jumlah yang besar pada pasien dengan keganasan saluran cerna (termasuk pankreas), paru, payudara, dan ovarium. Dengan demikian, antigen ini tidak spesifik-tumor; konsentrasinya dalam serum juga bergantung pada berbagai faktor misalnya peradangan dan apakah pasien perokok (kadar lebih tinggi). Karena perbedaan antara keganasan dan penyakit jinak tidak dapat dibuat hanya berdasarkan kadar CEA, prosedur ini tidak dianjurkan untuk pemeriksaan penapisan kanker. Namun, setiap peningkatan kadar yang berlebihan seyogyanya menimbulkan kecurigaan dan mungkin perlu ditindak-lanjuti dengan evaluasi diagnostik yang lebih mendalam (Sacher, 2004). Ekspresi CEA jaringan dapat diperlihatkan secara imunohistokimiawi pada banyak keganasan ginekologi tetapi kadar serum sangat bervariasi. Sebagai konsekuensi dari tidak adanya korelasi antara volume tumor dan kadar serum, CEA tidak terbukti merupakan suatu alat skrining yang bermanfaat. Namun, pada pasien-pasien individual, CEA dapat merupakan suatu petanda yang sensitif. Peningkatan kadar CEA sesudah remisi awal bersifat sangat indikatif untuk terjadinya kekambuhan tumor dan dapat mengakibatkan pelembagaan dini untuk pengobatan sekunder(Unk). Kadar CEA mungkin cukup bernilai untuk mengikuti perjalanan klinis pasien-pasien dengan keganasan untuk mendeteksi bukti-bukti kekambuhan sebelum dapat dideteksi secara klinis(Schwartz, 2000). Untuk karsinoma kolorektum, CEA sudah menjadi parameter pemantau utama untuk deteksi dini kekambuhan atau relaps setelah pangangkatan tumor secara bedah, radiasi, atau kemoterapi. Setelah reseksi bedah karsinoma kolon, maka CEA plasma yang semula meningkat seharusnya turun ke normal setelah 4 sampai 6 minggu. Peningkatan yang menetap mungkin mengisyaratkan reseksi yang tidak tuntas atau adanya metastasis. Sebagian keganasan kolorektum yang berdiferensiasi buruk mungkin tidak memperlihatkan peningkatan CEA, dan dengan demikian diperlukan suatu kadar basal untuk menentukan apakah setiap tumor pasien merupakan kandidat untuk tipe pemantauan ini. Tipe tumor lain yang sering menghasilkan CEA juga harus dievaluasi secara individual untuk menentukan apakah pemantauan CEA dapat diterapkan(Sacher, 2004). Salah satu aspek teknis yang perlu dicatat adalah bahwa immunoassay dari produsen yang berbeda menggunakan antibodi yang reaktivitasnya terhadap CEA sedikit berbeda-beda, sehingga kadang-kadang dijumpai ketidakcocokan antara hasil-hasil pemeriksaan. Dengan demikian, agar pemantauan bermanfaat maka pasien harus menjalani pengukuran serial CEA di laboratorium yang sama dengan tempat pengukuran dimulai. Yang menarik, struktur kimiawi CEA dengan residu-residu asam sialatnya bereaksi dengan kalsium sedemikian rupa sehingga terjadi sedikit perubahan rektivitas antigen. Dengan demikian, spesimen dari pasien yang sama yang diambil sebagai serum atau dimasukkan ke EDTA (yang mengikat kalsium) diperkirakan memberikan hasil kadar CEA yang sedikit berbeda(Sacher, 2004). Baru-baru ini, the American Society of Clinical Oncology (ASCO) mengembangkan petunjuk untuk pemakaian penanda tumor pada kanker payudara dan kolorektum (Sacher, 2004): CEA seyogyanya tidak digunakan sebagai uji penapisan untuk kanker kolorektum

CEA dapat diperiksa praoperasi pada pasien dengan karsinoma kolorektum apabila hal ini membantu menentukan stadium dan merencanakan pengobatan CEA dapat diperiksa setiap 2 sampai 3 bulan pascaoperasi apabila akan diindikasikan reseksi metastasis hati CEA dapat diperiksa untuk memantau pengobatan metastasis Walaupun menyatakan bahwa CEA adalah penanda pilihan untuk memantau kanker kolorektum, namun petunjuk-petunjuk ini juga menekankan sifat nonspesifisitas relatif CEA untuk keganasan tersebut (versus keganasan lain, penyakit hati, penyakit ginjal, efek terapi, dsbnya), tidak adanya terapi efektif untuk banyak kasus dengan peningkatan kadar CEA (walaupun peningkatan kadar secara tepat memperkirakan prognosis yang buruk), dan besarnya biaya untuk pemeriksaan yang ekstensif. Bagaimanapun, pemantauan pasien kanker kolorektum dengan CEA sudah menjadi praktik standar di banyak daerah(Sacher, 2004). Petunjuk ASCO tidak menganjurkan CEA untuk pemeriksaan penapisan, diagnosis, penentuan stadium, atau surveilans rutin pada pasien dengan kanker payudara setelah terapi awal, juga tidak untuk memantau respon penyakit metastasis terhadap pengobatan. Namun, peningkatan kadar CEA dapat digunakan untuk mendeteksi rekurensi apabila tidak ada parameter penyakit yang lain(Sacher, 2004). Pemeriksaan CEA Deskripsi Manfaat Pemeriksaan : Carcinoembryonic Antigen (CEA) merupakan penanda berbagai jenis kanker yang dikombinasikan dengan penanda tumor lainnya. : (1) Bersama dengan penanda tumor lain untuk mendeteksi karsinoma saluran cerna (CA 19-9), kanker payudara (CA 15-3), kanker ovarium (CA 125), kanker paru (NSE), kanker pankreas, kanker usus halus, dan kanker lambung; (2) Prognosis dan follow up kanker kolorektal; (3) Pemeriksaan pasca operasi dan pemantauan prognosis kanker. : 0,5 (0,25) mL Serum : 2-8 C : 48 jam, <= -20 C : > 48 jam : -Ambil 10 mL darah vena dan masukkan ke dalam tabung tertutup merah atau jingga muda. Hindari hemolisis -Heparin sebaiknya tidak diberikan selama 2 hari sebelum pemeriksaan karena mempengaruhi hasil -Tidak perlu pembatasan makan dan cairan : Dewasa: tidak merokok: <2,5 ng/ml; Merokok: <3,5 ng/ml Gangguan inflamasi akut: 10 ng/dl; Neoplasma: 12 ng/dl : Kriteria penolakan sampel : Hemolisis : Mutlak; Beku ulang : Mutlak. Sampel tidak boleh mengandung fibrin, sel darah merah atau partikel lain.

Persyaratan & Jenis Sampel Stabilitas Sampel Prosedur

Nilai Rujukan

Catatan