Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu bagian penting bagi pembangunan suatu negara.

Pendidikan dianggap sangat penting terutama dalam pembentukan karakter serta penentu kualitas sumber daya manusia. Pendidikan dilakukan sebagai usaha pengembangan diri serta penggalian serta pengembangan potensi diri sehingga individu-individu yang mengenyam pendidikan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kerja sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, saat ini tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator dalam menentukan serta menunjukkan kualitas penduduk di suatu negara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan erat kaitannya dengan pembangunan negara. Dalam hal pembangunan negara ini, pendidikan berhubungan langsung dengan pembangunan politik serta pembangunan ekonomi. Seperti halnya di negara-negara maju, pendidikan dianggap penting dalam usaha membangun negara. Dapat dilihat bahwa setiap negara-negara yang saat ini telah menjadi negara maju, mereka mengutamakan pendidikan dalam usaha membangun negaranya. Maka tidak heran jika saat ini di negaranegara maju memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini karena ditunjang oleh kesadaran diri yang tinggi dari masyarakat mengenai pentingnya pendidikan yang ditunjukkan dengan tingginya tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan,

pengembangan sistem pendidikan yang baik serta anggaran pendidikan yang tinggi dari pemerintah, serta tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Lalu bagaimana dengan negara berkembang? Hampir semua negara berkembang mengalami permasalahan di bidang pendidikan baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Tidak terkonsep dengan baiknya visi dan misi serta sistem pembangunan di negara-negara berkembang sering mengakibatkan pendidikan justru tertinggal. Hal ini kemudian mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan yang kemudian melahirkan masalah-masalah seperti adanya tingkat melek huruf yang rendah, pemerataan pendidikan yang rendah, serta standar proses pendidikan yang relatif kurang memenuhi syarat. Kesadaran akan pentingnya pendidikan juga masih kurang karena beberapa faktor seperti budaya atau cara berpikir masyarakat serta tidak adanya motivasi serta kurangnya dukungan dari pemerintah bagi masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Maka tidak heran jika saat ini kualitas SDM di

negara-negara maju tergolong rendah. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisan bagaimana pendidikan yang merupakan pendukung pembangunan menjadi suatu masalah yang menghambat pembangunan negara-negara berkembang.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan diatas, penulis merumuskan permasalahan yang akan dipaparkan di dalam makalah ini yaitu: Bagaimanakah permasalahan yang dihadapai oleh negara berkembang di dalam bidang pendidikan?

1.3 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Penelitian dan penulisan makalah ini bertujuan untuk: 1. Menjelaskan bagaimana pendidikan sebagai dasar pendukung pembangunan. 2. Mendeskripsikan bagaimana keadaan pendidikan di negara berkembang. 3. Menjelaskan bagaimana tingkat pendidikan di negara berkembang sebagai penghambat pembangunan. 1.3.2. Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi serta menjelaskan bagaimana masalah-masalah pendidikan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi, menambah bahan referensi demi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam studi Masalah-Masalah Pembangunan Politik.

1.4 Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data, penulis menggunakan teknik studi kepustakaan (library research). Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data sekunder dengan mencari data yang bersumber dari kepustakaan. Data yang diperoleh dapat berupa fakta dari berbagai buku-buku bacaan, jurnal, serta makalah yang didapatkan oleh peneliti dari berbagai sumber.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pendidikan sebagai Pendukung Pembangunan Pendidikan merupakan kunci dari pembangunan. Tanpa pendidikan, pembangunan di suatu area akan memiliki batasan yang sangat kecil. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. Pendidikan tidak saja menambah pengetahuan, akan tetapi juga meningkatkan keterampilan kerja yang selanjutnya akan meningkatkan produktivitas kerja sehingga terhindar dari kemiskinan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003, "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara." Pembangunan politik pada dasarnya mencakup pembangunan ekonomi di dalamnya. Pendidikan dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, akan selalu berbanding lurus karena semakin baik tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin baik pula tingkatan ekonomi yang dimilikinya. Kemudian ekonomi juga akan selalu meminta tenaga kerja yang terdidik (memiliki keahlian yang didapatkan melalui proses belajar mengajar) dalam rangka meningkatkan produktivitas. Jika produktivitas sudah meningkat, maka otomatis

perekonomian juga akan meningkat sehingga mempermudah pembangunan. Pendidikan erat kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang dilakukan. Tujuan pendidikan sebagai pengembangan SDM adalah pengembangan potensi yang ada pada masing-masing individu itu sebagai perorangan dalam hubungannya dengan hidup bermasyarakat. Pendidikan sebagai pengembangan SDM adalah mengembangkan tanggung jawab pribadi bagi peningkatan kualitas hidup individu, dan sekaligus tanggung jawab pribadi dalam membangun masyarakat. Pendidikan yang berkualitas akan menjamin kelangsungan pembangunan suatu daerah. Pendidikan adalah modal dasar pembangunan yang perlu dipertahankan. Pemerintah perlu mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi masyarakat, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan. Di samping itu

berbagai upaya proaktif dan reaktif yang mendukung akan potensi individu masyarakat perlu dilakukan. Pendidikan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui

berkembangnya kesempatan untuk meningkatkan kesehatan, pengetahuan, dan ketarmpilan, keahlian, serta wawasan mereka agar mampu lebih bekerja secara produktif, baik secara perorangan maupun kelompok. Implikasinya, semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas. Dalam kaitannya dengan perekonomian secara umum (nasional), semakin tinggi kualitas hidup suatu bangsa, semakin tinggi tingkat pertumbuhan dan kesejahteraan bangsa tersebut. 2.2 Pendidikan di Negara Berkembang Hampir semua negara berkembang menghadapi masalah kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang diakibatkan oleh rendahnya mutu pendidikan. Hal ini ditunjukkan oleh adanya tingkat melek huruf yang rendah, pemerataan pendidikan yang rendah, serta standar proses pendidikan yang relatif kurang memenuhi syarat. Padahal kita tahu, bahwa pendidikan merupakan suatu pintu untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Meskipun negara-negara berkembang mengalami pertumbuhan besar setelah memiliki kemerdekaannya, namun pertumbuhan tersebut diiringi dengan dilema yang ada. Salah satunya ialah di bidang pendidikan. Umumnya, keluarga di negara berkembang tidak menempatkan anaknya di sekolah dikarenakan ketidaksanggupan dalam membiayai, keluarga di negara berkembang biasanya masih harus memikirkan untuk konsumsi sehari-harinya. Itu sebabnya anak-anak lebih diajarkan agar dapat bekerja sedari dini seperti misalkan membantu usaha keluarga ataupun menjadi buruh di luar, itu berarti anak-anak ikut berperan penting di dalam menopang perekonomian keluarga. Contohnya di Malawi, banyak anak-anak yang sudah bekerja bahkan di usia yang masih sangat dini dan itu sebabnya tidak bisa ikut bersekolah. Mereka menghabiskan masa kecil mereka dengan saudara kandung mereka dengan bekerja di peternakan ataupun perkebunan. Lain halnya di Zambia, orang tua tidak bisa membebaskan anak-anak dari pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dilakukan oleh ibu rumah tangga misalnya. Ataupun anak-anak cenderung tidak diizinkan untuk sekolah pada saat musim-musim penting

dalam masa panen atau masa pancing.1 Di Indonesia sendiri, permasalahan pendidikan dasar biasanya berkaitan dengan masih tingginya tingkat putus sekolah yang dialami oleh anakanak bangsa yang bisa disebabkan oleh beragam faktor seperti ketidakmampuan ekonomi keluarga, jauhnya akses sekolah, paradigma keluarga yang belum menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang penting. Untuk meningkatkan pembangunan suatu bangsa diperlukan critical mass di bidang pendidikan. Hal ini membutuhkan adanya persentase penduduk dengan tingkat pendidikan yang memadai untuk mendukung pembangunan ekonomi dan sosial yang cepat. Untuk kasus Indonesia, program pendidikan dasar sembilan tahun merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan critical mass itu dan membekali anak didik dengan ketrampilan dan pengetahuan dasar: untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, untuk bekal menjalani kehidupan dalam masyarakat, untuk membuat pilihan-pilihan dan memanfaatkan produk-produk berteknologi tinggi, untuk mengadakan interaksi dan kompetisi antar warga masyarakat, kelompok, dan antar bangsa. Hal ini sejalan dengan target Millenium Development Goals (MDGs), dimana Target MDG adalah menjamin bahwa sampai dengan 2015, semua anak, di mana pun, laki-laki dan perempuan, dapat menyelesaikan sekolah dasar. Target itu sejalan dengan target Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, yaitu meningkatkan partisipasi pendidikan dasar denganindikator kinerja pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SLTP/MTs mencapai 90 persen persen paling lambat pada 2008, dan meningkatkan mutu pendidikan dasar yang pada saat ini masih di bawah standar nasional.2 Dari data Susenas menunjukkan adanya perbaikan Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SD/MI untuk anak usia 712 tahun dari 88,7 persen pada 1992 menjadi antara 9293 persen selama tiga tahun terakhir (tahun 2000-2003). Sementara itu, Data Departemen Pendidikan Nasional menunjukkan APM yang lebih tinggi, yaitu 94 persen. Perbedaan angka antara Susenas dan data Depdiknas dapat terjadi karena sistem pendataan yang berbeda. Pertama, Susenas menggunakan pendataan berdasarkan tempat tinggal, sementara Depdiknas menggunakan data dari laporan sekolah yang memungkinkan terjadinya penghitungan ganda karena adanya anak yang sekolah di lebih dari satu tempat. Kedua, waktu pelaksanaan yang
1

Joseph P. G Chimombo, "Issues in Basic Education in Developing Countries: An Exploration of Policy Options for Improved Delivery" Journal of International Cooperation in Education 8 (1) hal 132 2 Bappenas RI. 2010. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia. Jakarta. Tersedia di: www.bappenas.go.id/get-file-server/node/10299/ (21 April 2013)

berbeda; data Depdiknas adalah data pendaftaran pada awal tahun ajaran baru, sedangkan Susenas tidak selalu pada tahun ajaran baru.3 2.3 Tingkat Pendidikan di Negara Berkembang Menghambat Pembangunan Pertumbuhan jumlah sarjana yang rendah di Indonesia menurunkan minat para investor asing mengembangkan usaha di Tanah Air. Berdasarkan data resmi dari hasil sensus penduduk tahun 2010 didapat bahwa ternyata di Indonesia dengan jumlah penduduk yang berada di atas 200 juta ternyata hanya memiliki sarjana kurang dari empat persen, padahal idealnya dalam suatu negara jumlah sarjana harus mencapai minimum 15 hingga 20 persen dari jumlah pendidik. Suatu bangsa dapat mewujudkan kemajuan teknologi, termasuk ilmu pengetahuan dan manajemen, serta modal fisik seperti bangunan dan peralatan mesin-mesin hanya jika negara tersebut memiliki modal manusia yang kuat dan berkualitas. Situasi tersebut memang tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan pemerintah terhadap tenaga terdidik untuk mengoperasikan skill dan keahliannya dalam rangka industrialisasi dan modernisasi pembangunan negara. Disini, peran sarjana amat dibutuhkan karena sarjana merupakan orang yang telah dididik dan dianggap memiliki kapabilitas dalam melakukan suatu pekerjaan. Sarjana merupakan agent of change yang akan membawa pembangunan ke arah yang lebih baik. Namun dengan persentase sarjana yang masih jauh dari semestinya juga akan mempengaruhi proses pembangunan itu sendiri. Sebagai contoh, jika di suatu negara berpenduduk seratus juta jiwa dengan persentase sarjananya sekitar dua persen, maka jumlah sarjananya adalah sekitar dua juta jiwa. Dengan keadaan yang demikian, berarti orang-orang yang dianggap memiliki kapabilitas untuk melakukan suatu perubahan berbanding sangat besar dengan orang-orang yang sulit untuk memberikan sumbangsihnya dikarenakan beberapa faktor seperti buta huruf, putus sekolah dan sebagainya. Perbandingan keduanya adalah 1:49. Dimana hanya ada satu sarjana diantara 49 orang. Tampak jelas bahwa sumber daya manusia merupakan faktor yang paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan bangsa. Modal fisik ataupun sumber daya material hanyalah faktor pendukung. Manusialah yang merupakan agen-agen aktif yang akan

Ibid.

mengumpulkan modal, mengeksploitasikan sumber-sumber daya alam, membangun berbagai macam organisasi sosial, ekonomi dan politik, serta melaksanakan pembangunan nasional. Selain persentase sarjana, hal lain yang mempengaruhi pembangunan di suatu daerah adalah persentase melek hurufnya. Tingkat melek huruf dan angka partisipasi pendidikan menjadi basis perubahan dalam meningkatkan pembangunan, khususnya pembangunan ekonomi. Melek huruf merupakan sebuah konsep berkebalikan dari buta huruf, dimana buta huruf diartikan sebagai ketidakmampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Buta huruf bukan sekadar tidak mampu membaca dan menulis, melainkan berpotensi menimbulkan serangkaian dampak yang sangat luas. Kesuksesan penuntasan buta huruf bisa meningkatkan indeks atau kualitas pembangunan manusia. Dan sebaliknya, kegagalan penuntasan buta huruf akan berdampak negatif, tidak cuma pada penurunan indeks pembangunan manusia, tapi juga menjadi penghambat pembangunan pada sektor lainnya Di negara-negara maju, tingkat melek huruf rata-rata sudah mencapai 99 persen. Bandingkan dengan negara berkembang dimana tingkat melek huruf rata-rata masih berada di bawah 90 persen. Berikut ini akan ditampilkan dalam tabel mengenai tingkat melek huruf negara berkembang dan negara maju. Negara Berkembang: Persentase Melek Huruf Usia 15+ (dalam persen) Negara Yaman Indonesia Guatemala Bangladesh Rwanda Zimbabwe 1985-1994 37 82 64 35 58 84 2005-2008 61 92 74 55 70 91 Rencana di 2015 70 94 78 61 73 94

Sumber: EFA Global Monitoring Report 2011

Negara Maju: Persentase Melek Huruf Usia 15+ (dalam persen)

Negara Singapura Yunani Italy Spanyol Estonia Korea Selatan

1985-1994 89 93 96 100 -

2005-2008 95 97 99 98 100 100

Rencana di 2015 96 98 99 98 100 100

Sumber: EFA Global Monitoring Report 2011

Secara garis besar, negara-negara maju persentase melek hurufnya sudah mencapai 99 persen dan rata-rata menuju ke 100 persen, sedangkan untuk negara berkembang tingkat melek hurufnya di tahun 2005-2008 adalah sekitar 79 persen. Jika pada tingkatan dasar yaitu pada tingkat masyarakat yang melek huruf saja belum semua masyarakat memenuhinya, maka pembangunan akan sulit dilakukan. Pada tabel sebelumnya dapat kita lihat bahwa rata-rata di negara berkembang tingkat melek huruf masih jauh dari harapan. Bahkan di beberapa negara yang ada di Sub-Sahara dan Afrika, tingkat melek huruf masyarakatnya masih berada di kisaran 50 persen dan di bawahnya. Kondisi ini tentu merupakan suatu keadaan kritis yang akan menghambat proses pembangunan. Dengan keadaan yang demikian, maka partisipasi masyarakat di dalam pembangunan akan rendah bahkan cenderung menjadi beban bagi daerahnya. Angka putus sekolah di Indonesia masih relatif tinggi, berdasarkan laporan yang dilakukan oleh Education for All Global Monitoring Report yang dirilis UNESCO 2011 dinyatakan bahwa Indonesia berada pada tingkatan 69 dari 127 negara yang berada dalam Education Development Index.4 Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka putus sekolah di Indonesia. Namun faktor paling umum yang dijumpai adalah tingginya biaya pendidikan yang membuat siswa tidak dapat melanjutkan pendidikan dasar. Data Kementerian menunjukkan setiap tahunnya lebih dari 1,5 juta anak tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Data 2007 memperlihatkan, hanya 80 persen murid sekolah dasar yang bertahan hingga lulus. Dari jumlah lulusan tersebut, hanya

Akuntono, Indra. (2012) Wajib Belajar 9 Tahun Dinilai Belum Tuntas diakses di: <http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/27/09593130/Wajib.Belajar.9.Tahun.Dinilai.Belum.Tuntas> diakses tanggal 28 April 2013

sekitar 61 persen yang melanjutkan ke sekolah menengah pertama dan yang sederajat.5 Kemudian dari jumlah tersebut, yang sekolah hingga lulus hanya sekitar 48 persen. Sementara itu, dari 48 persen tersebut, yang melanjutkan ke SMA tinggal 21 persen dan berhasil lulus hanya sekitar 10 persen. Sedangkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya sekitar 1,4 persen.6 Tingkat melek huruf dan angka putus sekolah untuk selanjutnya akan menunjukkan bagaimana partisipasi masyarakat di negara tersebut untuk masuk ke dalam secondary school. Secondary school merupakan jalur penting bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan kemampuan mereka dan meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus. Secondary school dengan kualitas yang bagus akan dapat memenuhi kemungkinan seseorang untuk dapat memperoleh pekerjaan yang baik namun juga membantu suatu negara meningkatkan upaya pembangunannya melalui pertumbuhan manusia yang sadar teknologi dan juga berkompeten.7 Kondisi yang demikian akan memunculkan suatu fenomena tersendiri yang akan menghambat proses pembangunan dimana terjadi kesenjangan pendapatan sebagai akibat tidak teraksesnya pendidikan bagi seluruh kalangan. Kalangan yang memiliki akses pendidikan hingga perguruan tinggi tentu akan memiliki pendapatan yang lebih baik dibandingkan dengan masyarakat yang mengalami permasalahan buta huruf. Kesenjangan yang terjadi kemudian akan menyebabkan tingkat kemakmuran dalam masyarakat juga menurun.

Pemerintah Indonesia Canangkan Gerakan Anti Putus Sekolah diakses di: <http://www.voaindonesia.com/ content/pemerintah-indonesia-canangkan-gerakan-anti-putus-sekolah/1601826.html> diakses tanggal 28 April 2013 6 Angka Putus Sekolah di Indonesia Masih Tinggi: diakses di: <http://www.metrotvnews.com/metronews/read /2013/02/09/3/129864/Angka-Putus-Sekolah-di-Indonesia-masih-Tinggi> diakses tanggal 28 April 2013 7 EFA Global Monitoring Report. 2012. Youth And Skills: Putting Education to Work. Tersedia di: <http://www.ungei.org/files/218569E.pdf> Hal. 32

BAB III SIMPULAN Berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya maka sudah sangat jelas bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting didalam pembangunan suatu negara karena kualitas serta tingkat pendidikan juga menentukan kualitas sumber daya masyarakat di suatu negara sedangkan sumber daya manusia itu sendiri merupakan faktor yang paling menentukan karakter dan kecepatan pembangunan bangsa. Permasalahan pendidikan merupakan salah satu faktor yang menghambat

pembangunan di negara-negara berkembang. Hal ini dikarenakan beberapa faktor seperti masalah ekonomi yaitu tidak mampu membayar biaya untuk bersekolah, kurangnya dukungan serta motivasi pemerintah dalam bidang pendidikan, serta beberapa lainnya. Masalah-masalah pendidikan yang kemudian timbul dan menghambat pembangunan negaranegara berkembang adalah seperti tingkat melek huruf serta angka partisipasi pendidikan yang rendah, padahal melek huruf dan partisipasi pendidikan menjadi basis perubahan dalam meningkatkan pembangunan, khususnya pembangunan ekonomi suatu negara. Selain itu permasalahan putus sekolah juga menjadi masalah yang paling sering terjadi di negara-negara berkembang. Banyaknya angka putus sekolah yang terjadi di negaranegara berkembang secara tidak langsung menyebabkan hilangnya harapan bangsa untuk memiliki generasi muda yang berkualitas serta berkompeten. Padahal dengan adanya pendidikan dasar maka diharapkan adanya tuntutan untuk pendidikan menengah atau lanjutan semakin tinggi, tetapi tingginya angka putus sekolah mengakibatkan sedikitnya sekolahsekolah tingkat lanjutan di negara-negara berkembang. Peran pemerintah juga penting dalam usaha memajukan pendidikan suatu negara. Dukungan pemerintah terhadap kemajuan pendidikan negaranya dapat terlihat melalui anggaran pendidikan serta rencana pembangunan pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Seperti halnya di Indonesia dengan program Wajib Belajar Sembilan Tahun yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Maka jelaslah bahwa faktor utama yang menghambat pendidikan di negara-negara berkembang adalah karena permasalahan ekonomi masyarakat. Masyarakat di negara-negara berkembang seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya belum memikirkan pendidikan sebagai kebutuhan utama melainkan masih memikirkan bagaimana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Seharusnya dengan kondisi masyarakat yang seperti ini,

pemerintah di negara-negara berkembang menyiapkan anggaran dana untuk pendidikan, sehingga masyarakat dapat mengenyam pendidikan tanpa harus menambah beban ekonomi. Apabila hal ini sudah dilakukan, maka hal penting lainnya yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara memotivasi masyarakat untuk memiliki kesadaran serta partisipasi terhadap pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA "Jumlah Sarjana di Indonesia di Bawah 4 Persen dari Jumlah Penduduk" diakses di: <http://www.berita8.com/news.php?tgl=2010-10-20&cat=5&id=31223> 2013) Education - The Key to Development diakses di: <http://www.karmayogi.net/?q= educationthekeytodevelopment> (6 Mei 2013) EFA Global Monitoring Report. 2012. Youth And Skills: Putting Education to Work. Tersedia di: <http://www.ungei.org/files/218569E.pdf> (6 Mei 2013) EFA Global Monitoring Report. 2011. Statistical Tables. Tersedia di: (6 Mei

<http://www.unesco.org/new/fileadmin/MULTIMEDIA/HQ/ED/pdf/gmr2011statistical-tables.pdf> (6 Mei 2013) Gupta, Rajan. Education, The Key to Development: Lessons From India. tersedia di: <http://cnls.lanl.gov/~rajan/AIDS-india/MYWORK/education_India_Arab.pdf> Mei 2013) (6

Joseph P. G Chimombo, "Issues in Basic Education in Developing Countries: An Exploration of Policy Options for Improved Delivery" Journal of International Cooperation in Education 8 (1) hal. 129-152 Bappenas RI. 2010. Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia. Jakarta. Tersedia di: www.bappenas.go.id/get-file-server/node/10299/ (21 April 2013)