Anda di halaman 1dari 35

Rodney J. Schlosser, M.D.

The NEW ENGLAND JOURNAL Of MEDICINE From the Department of OtolaryngologyHead and Neck Surgery, Medical University of South Carolina, Charleston. N Engl J Med 2009; Vol.360:784-9.

EPISTAKSIS

Disadur oleh: Nora Damayanti NIM 082011101068

KASUS
Seorang pria 61 tahun datang ke unit gawat darurat dengan epistaksis pada hidung sisi kiri yang berlangsung terus-menerus selama 1 jam. Dia memperkirakan telah kehilangan darah sekitar 1/2 cangkir.

Tidak ada riwayat obstruksi hidung, epistaksis, trauma, perdarahan diatesis, atau mudah memar. Dia memiliki riwayat hipertensi. Obat-obatan yang digunakan termasuk atenolol dan baby aspirin. Bagaimana seharusnya dievaluasi dan diobati? pasien ini

MASALAH KLINIS
Epistaksis terjadi pada 60% dari orangorang di seluruh dunia 6% mencari pengobatan medis. Prevalensi meningkat pada usia kurang dari 10 tahun dan pada usia lebih dari 35 tahun.

Anatomi
90% epistaksis terjadi di septum hidung anterior yaitu di area Kiesselbach. 10% epistaksis terjadi di septum hidung posterior atau dinding lateral hidung posterior.

Gambar 1. Vaskularisasi Septum dan Dinding Lateral Hidung.

Sumber perdarahan epistaksis anterior dari Area Kiesselbach yaitu: -cabang terminal arteri Sfenopalatina, -arteri Etmoidalis dan -arteri Labialis Superior ( gambar A ). Sumber perdarahan Epistaksis posterior dari arteri Sfenopalatina (gambar B).

Penyebab dan Kondisi yang Berhubungan


Mengorek hidung dengan jari Iritasi mukosa hidung akibat obat hidung topikal Trauma pada tulang atau septum hidung Berkurangnya kelembaban mukosa hidung Rinosinusitis virus atau bakteri Neoplasma

Kondisi sistemik koagulopati Aspirin dosis rendah Konsumsi bawang putih, ginkgo atau ginseng Hipertensi masih kontroversi Teleangiektaksis hemoragik herediter

Gambar 2. Gambaran endoskopi menunjukkan teleangiektaksis pada septum anterior kiri dan konka nasal inferior kiri

STRATEGI DAN BUKTI


Memastikan jalan napas aman dan hemodinamik stabil. Anamnesis dengan memperhatikan: lateralisasi durasi frekuensi dan keparahan faktor pendukung (riwayat keluarga dengan gangguan perdarahan)

Pemeriksaan fisik: mencari lokasi sumber perdarahan di rongga hidung anterior atau posterior menghentikan perdarahan, menggunakan: semprotan topikal anestesi dan vasokonstriktor tampon kapas injeksi transpalatal pada a. sfenopalatina menyedot bekuan darah

Pemeriksaan darah lengkap serta sampel darah Dilakukan pada pasien: perdarahan berat kepentingan transfusi pengguna antikoagulan seperti Warfarin Perdarahan ringan sedang tidak perlu

Pemeriksaan disfungsi liver atau ginjal Epistaksis unilateral berulang yang tidak berespon dengan tindakan konservatif sederhana seperti di atas harus dicurigai neoplasma.

Gejala neoplasma jinak atau ganas pada sinonasal:


Perdarahan

Perlu pemeriksaan CT scan, MRI, dan endoskopi

hidung berulang unilateral Hidung tersumbat Rinore Wajah nyeri atau neuropati kranial (wajah mati rasa atau penglihatan ganda)

PILIHAN TERAPI

Epistaksis anterior: Menekan ala nasi selama 15 menit


Semprotan

Pasien harus rileks Posisi kepala yang nyaman bagi pasien Menghindari menelan atau mengaspirasi darah yang mengalir ke posterior menuju faring

topikal Oxymetazolin

Kauter kimia dengan perak nitrat pada satu sisi septum hidung: digunakan bila tidak berespon dengan penekanan ala nasi dan topikal vasokontriktor untuk perdarahan aktif ringan dan sumber perdarahan sudah teridentifikasi

Tampon nasal anterior Digunakan pada: - epistaksis yang berasal dari area kiesselbach - tidak membaik dengan perawatan di atas Terdapat 2 jenis tampon anterior

Jenis tampon nasal anterior Tampon dari bahan yang tidak dapat diuraikan Contohnya, kassa yang dilapisi jeli petroleum, spons dari polivinil asetat dihidroksilasi, dan tampon berupa pengembang udara dengan lapisan hidrokoloid

Dibiarkan ditempat selama 1-3 hari Menghentikan perdarahan 60-80% kasus Pemasangan dan pelepasan tampon mengakibatkan trauma mukosa

Tampon dari bahan yang dapat diserap dan diuraikan Tidak perlu pelepasan secara manual Digunakan pada pasien dengan atau tanpa koagulopati Contoh: selulosa teroksidasi, busa kolagen sapi, pasta yang dimurnikan, kolagen mikrofibrilar, porcine

gelatine, bovine gelatin-human trombin

Digunakan secara topikal Keuntungan bentuk 3 dimensi sesuai dengan rongga hidung Direkomendasikan penggunaan pelembab semprot dengan larutan garam faali setelah perdarahan berhenti 24-48 jam

Epistaksis posterior: Tampon nasal posterior Digunakan pada perdarahan yang berasal dari a. Sfenopalatina Contoh tampon: balon yang dapat dikembangkan (epistat dan kateter Foley) dan kapas kasa yang melalui mulut dan ditarik kedalam nasofaring

Antibiotik pada penggunaan tampon:


topikal

syndrome Pasien dengan tampon nasal anterior bilateral dan tampon nasal posterior berpotensi terjadi sumbatan nafas pantau saturasi O2

atau oral kekhawatiran adanya toxic shock

Embolisasi atau bedah ligasi pembuluh darah dilakukan bila tindakan konservatif gagal

Embolisasi pembuluh darah pada epistaksis posterior


Perlu

pemeriksaan radiologi Pada a. Maksilaris interna dan a. Sfenopalatina Komplikasi mayor: stroke, kelumpuhan wajah, kebutaan, dan nefropati Komplikasi minor: hematoma Tingkat keberhasilan 80-90%

Bedah ligasi pembuluh darah pada epistaksis posterior


Tingkat

keberhasilan pada a. Sfenopalatina setara atau lebih baik dibanding dengan embolisasi Dilakukan selama 30-60 menit dengan teknik endoskopi modern Biaya perawatan menurun >50% Pasien pulang lebih cepat dari RS

Embolisasi dan bedah ligasi pada epistaksis anterior Embolisasi a. Etmoidalis anterior dan posterior dapat menyumbat a. Karotis interna dan a. Oftalmika risiko stroke dan kebutaan Dokter ahli tht kebanyakan melakukan eksternal ligasi pada a. Etmoidalis anterior dan posterior risiko stroke dan kebutaan berkurang

Perawatan rutin mukosa hidung setelah epistaksis terkontrol (gel topikal, lotion, dan salep) untuk mencegah kekambuhan masih kontroversial

BEBERAPA HAL YANG BELUM PASTI


Cara penekanan ala nasi dengan jari tangan. Vasokonstriktor dan terapi topikal lainnya. Jenis dan durasi penggunaan tampon hidung yang optimal. Peran antibiotik dalam hubungannya dengan tampon hidung. Fungsi terapi bedah dan teknik embolisasi.

PEDOMAN

Tidak ada pedoman profesional resmi mengenai epistaksis. Namun, rekomendasi untuk manajemen yang diberikan oleh Akademi Otolaringologi Amerika - Bedah Kepala dan Leher umumnya konsisten dengan yang disajikan disini.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Pengobatan konservatif epistaksis terdiri dari: o penekanan ala nasi dengan jari pada septum hidung anterior selama 15 menit o vasokonstriktor topikal o salep topikal untuk pelembab

Bila tidak berespon dengan pengobatan konservatif, biasanya akan berespon dengan kauter atau tampon. Pada epistaksis yang berat mungkin memerlukan tampon posterior, tindakan bedah, atau embolisasi.

Jika epistaksis berulang, penghentian aspirin harus dipertimbangkan. Pada epistaksis unilateral berulang yang disertai gejala hidung dianjurkan dilakukan evaluasi radiografi dan endoskopi untuk menyingkirkan kemungkinan suatu proses neoplastik.

TERIMA KASIH