Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KASUS SKIZOFRENIA TIPE RESIDUAL

Disusun Oleh :

Pembimbing :

Dr. Pramudya P, Sp.KJ Dr. Agus Susanto, Sp.KJ Dr. Eunice P. Najoan, Sp.KJ Dr. Rudyhard E. Hutagalung, Sp.KJ
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARJO

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS Nama Jenis kelamin Usia Agama Pendidikan terakhir Pekerjaan Status Perkawinan Alamat Rumah Tanggal masuk RS : Nn. I : Perempuan : 26 Tahun : Islam : D3 : Tidak bekerja : Belum Menikah : : 28 Mei 2012

II. ANAMNESIS Dilakukan alloanamnesis pada: Teman Ayah Kakak : Senin, 28 Mei 2012, pukul 11.00 WIB : Selasa, 29 Mei 2012, pukul 11.00 WIB : Rabu, 30 Mei 2012, pukul 10.00 WIB

A. Keluhan Utama Pasien bengong dan tidak bicara sejak 1 minggu lalu.

B. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien datang ke Poli Psikiatri RSAL Mitohardjo pada tanggal 28 Mei 2012, pukul 11.00 WIB diantar oleh teman sekerja pasien. Menurut teman pasien, pasien sering bengong dan tidak bicara sejak 1 minggu SMRS. Pasien sulit diajak berkomunikasi, hanya menunduk dan terdiam saja. Saat diwawancara pasien dapat duduk tenang, menunduk, tidak banyak bergerak, tidak mau menatap saat diwawancara. Bila ditanya pasien kurang merespon dan harus diulang lagi pertanyaannya. Saat menjawab pasien hanya menjawab singkat-singkat atau terkadang hanya senyum saja.

Alloanamnesis (teman) pada tanggal 28 Mei 2012, pukul 11.00 WIB. 1

Teman pasien mengungkapkan bahwa pasien mulai tampang murung, terlihat sering bengong dan sulit diajak bicara sejak 1 minggu lalu dan mengganggu perkerjaannya. Menurut temannya, pasien sudah terlihat murung sejak pasien pindah kembali dari Mabes AL yaitu sekitar 3 bulan lalu. Sejak 3 bulan lalu, pasien sudah tidak mengkonsumsi obat lagi.

Alloanamnesis (ayah) pada tanggal 29 Mei 2012, pukul 11.00 WIB. Ayah pasien menceritakan bahwa dari saat kecil, pasien merumakan pribadi yang tertutup & tidak dekat dengan ayahnya. Pasien juga tidak mempunyai teman yang banyak. Di lingkungan keluarga, pasien lebih dekat ke kakaknya, dan dibeberapa kesempatan pasien mengobrol dengan kakaknya. Ayah pasien menambahkan, bahwa ini bukan kali pertama pasien seperti ini. Menurut ayah pasien, pasien terlihat murung & banyak diam sejak 2 tahun lalu, dan kemudian dibawa berobat ke Poli Jiwa RSAL. Setelah mulai berobat & mengkonsumsi obatobat yang diberikan, pasien mulai kembali bisa bekerja. Setelah bekerja di RSAL selama 1 tahun, pasien dipindahkan ke Mabes AL lalu bekerja sebagai pegawai administrasi. Pasien merasa tidak cocok dengan pekerjaan di Mabes AL, hanya bertahan 3 bulan, lalu minta kembali ke RSAL. Saat sudah kembali ke RSAL, pasien tampak lebih baik, namun sejak 3 bulan terakhir pasien tiba-tiba menjadi enggan untuk minum obat dengan alasan pasien takut ketergantungan.

Alloanamnesis (kakak) pada tanggal 30 Mei 2012, pukul 11.00 WIB. Kakak pasien menceritakan 3 bulan lalu, pasien pernah bercerita tentang dirinya bahwa ada seseorang lelaki yang ingin mengenalnya lebih jauh. Akan tetapi pasien merasa minder dan malu, karena takut apabila lelaki tersebut mengetahui bahwa pasien pernah berobat kejiwaan. Sehingga pasien menarik diri dan menjauh dari lelaki tersebut. Kakak pasien menduga bahwa sejak itulah pasien menjadi enggan untuk minum obat teratur, namun pasien beralasan bahwa minum obat terus menerus itu tidak baik dan menyebabkan ketergantungan.

C. Riwayat Gangguan sebelumnya 1. Riwayat Gangguan Psikiatri Tidak pernah berobat / dirawat karena gangguan jiwa.

2. Riwayat Gangguan Medik Tidak ada riwayat gangguan medik. 3. Riwayat Penggunaan Zat Tidak ada riwayat penggunaan zat

D. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Riwayat Prenatal Pasien merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Lahir cukup bulan, persalinan normal. 2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun) Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya sejak kecil. 3. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun) Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya sejak kecil. 4. Masa Kanak Akhir (pubertas) dan remaja Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Pegaulan pasien tidak terlihat ada perbedaan dengan teman seusianya. Pasien masuk sekolah pelayaran dan lulus tanpa masalah / kesulitan yang berarti. 5. Masa Dewasa Lulus D3 administrasi.

E. Riwayat Keluarga Pasien tinggal bersama orang tua dan seorang kakak perempuannya. Ayah pasien merupan karyawan suatu perusahaan. Ibu pasien sebagai ibu rumah tangga. Pasien merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Hubungan dengan orang tua dan kakaknya cukup dekat.

F. Situasi Sekarang Pasien tinggal bersama orang tua dan kakaknya di Benhill dan pasien tidak bekerja.

G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya Tidak dapat dinilai.

GENOGRAM

Keterangan : : Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

III. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Pasien berpakaian baju kemeja (baju dinas) dan celana panjang. Selama pemeriksaan berlangsung, secara umum pasien berpenampilan cukup rapi dan bersih. Postur pasien tidak membungkuk, pasien memakai jilbab, pasien terlihat sesuai dengan usianya.

2. Kesadaran Kuantitatif Kualitatif : Compos mentis : Berubah

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor Pasien bersikap mutism saat diajak berkomunikasi. 4. Pembicaraan Hanya lebih banyak diam dan terkadang hanya senyum-sendiri saat dilakukan anamnesis. 4

5. Sikap Terhadap Pemeriksa Tidak kooperatif.

B. KEADAAN AFEKTIF (MOOD), PERASAAN EKSPREKSI AFEKTIF 1. Afek 2. Keserasian 3. Empati : Tumpul : Serasi : Tidak dapat diempati

C. FUNGSI INTELEKTUAL (KOGNITIF) 1. Taraf Pendidikan, Pengetahuan dan Kecerdasan a. Taraf pendidikan formal b. Taraf pengetahuan Umum c. Taraf kecerdasan 2. Daya Konsentrasi Tidak dievaluasi 3. Orientasi a. Waktu b. Tempat c. Orang 4. Daya Ingat a. Jangka Panjang b. Jangka Pendek c. Segera 5. Pikiran Abstrak Sulit dievaluasi : Baik : Baik : Baik : Baik : Baik : Baik : Tamat D3 Administrasi : Sulit dievaluasi : Sulit dievaluasi

D. GANGGUAN PERSEPSI 1. Halusinasi 2. Ilusi 3. Depersonalisasi 4. Derealisasi : Tidak ada. : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

E. PROSES BERPIKIR 1. Arus Pikiran a. Produktivitas b. Kontinuitas c. Hendaya Bahasa 2. Isi Pikiran a. Preokupasi b. Gangguan Pikiran : Tidak ada : Waham (-) : menjawab singkat-singkat : blocking : tidak ada

F. PENGENDALIAN IMPULS Pasien banyak terdiam dan menunduk saja, tidak menatap saat diajak berkomunikasi

G. DAYA NILAI 1. Norma Sosial Sulit dinilai. 2. Uji Daya Nilai Sulit dinilai karena blocking. 3. Daya Nilai Realitas Sulit dinilai

H. TILIKAN (INSIGHT) Tidak merasa bahwa dirinya sakit jiwa

I. TARAF DAPAT DIPERCAYA Secara keseluruhan pasien dapat dipercaya. Tidak tampak kesan dibuat-buat dan mendapat keuntungan dari sakitnya ini.

IV. PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS Tidak dilakukan

V. PEMERIKSAAN FISIK A. INTERNA Keadaan Umum : Baik 6

Kesadaran Tekanan Darah Nadi Respirasi

: Compos Mentis : 110/70 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit

B. NEUROLOGI Tidak ada kelainan

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan

VII. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA A. Karakteristik Simptom Pada pasien terdapat: Disorganized Speech Negative symptomps : Blocking. Disorganized Behaviour : : Afek tumpul, anhedonia

B. Disfungsi Sosial dan Pekerjaan Pasien tidak bekerja secara efektif 1 minggu. C. Durasi lebih dari 6 bulan; D. Bukan merupakan gangguan skizoafektif dan gangguan mood E. Bukan merupakan akibat langsung dari penggunaan zat-zat tertentu ataupun oleh suatu kondisi medis umum F. Tidak ada riwayat gangguan perkembangan pervasive. Tidak ada riwayat gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif.

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : Skizofrenia residual ::: Stessor diduga karena masalah pekerjaan dan minum obat. : Saat diwawancara GAF Scale 70-61

IX. DAFTAR PROBLEMTIKA Problem Organobiologik Problem Psikologik/Perilaku Problem keluarga : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada.

X. PROGNOSIS Dubia ad malam. Karena: onset pada usia muda, factor pencetus tidak jelas, premormid tidak baik, tingkah laku autistic, belum menikah, simtom negative.

XI. RENCANA TERAPI a. Psikofarmako Antipsikosis: Risperidon 2 X 2 mg (p.o) / hari b. Psikoterapi Memberikan informasi dan edukasi tentang penyakit pasien, gejala penyakit, penyebab, proses pengobatan dan resiko kekambuhan (insight orientiated psikotheraphy) pada keluarga. Memberikan informasi akan pentingnya pasien minum obat secara teratur dam pentingnya dukungan keluarga untuk kebaikan pasien. c. Sosioterapi Menghimbau keluarga untuk memperhatikan keadaan keseharian pasien

dengan mengajaknya mengobrol. Memberikan perhatian dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Memberi perhatian dan membuat pasien dalam keadaan nyaman. Keluarga membantu pasien agar minum obat teratur. Kontrol rutin dan sesegera mungkin datang ke RS jika melihat ada perilaku yang aneh.

XII. SARAN Meminum obat dengan teratur Keluarga ikut dalam proses penyembuhan dan terus memberikan perhatian terhadap pasien 8

Keluarga harus mendukung pasien dalam menciptakan suasana nyaman dan tenang ketika dirumah. Jika terjadi kekambuhan diharapkan langsung dibawa ke rumah sakit.