Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL DI RSJ PROVINSI NTB

A. Masalah Utama: Isolasi Sosial B. Proses terjadinya Masalah 1. Pengertian Isolasi sosial adalah keadaan dimana seseoarang individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain sekitarnya. Kesejahteraan manusia berorientasi secara sosial, dan untuk meningkatkan kepuasan hidup. Individu harus mampu menciptakan hubungan interpersonal yang sehat / positif. Hubungan interpersonal dikatakan sehat apabila individu dapat terlibat dalam suatu hubungan intim dengan orang lain, sementara ia tetap dapat mempertahankan identitasnya.

2. Factor Predisposisi a. Faktor perkembangan Setiap tahap tumbuh kembang memeliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat di penuhi akan menghambat masa perkembangan selanjutnya. Kurangnya stimulasi, kasih sayang, perhatian dan kehangatan dari ibu/pengasuh kepada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya. b. Faktor keluarga Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi untuk mengembangkan gangguan tingkah laku. Sikap bermusuhan / hostilitas Sikap mengancam dan menjelek jelekkan anak. Ekspresi emosi yang tinggi Orang tua atau anggota keluarga sering berteriak, marah untuk persoalan kecil / spele, sering menggunakan kekerasan fisik untuk mengatasi masalah, selalu mengkritik, mengkhayalkan, anak tidak

diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya tidak memberi pujian atas keberhasilan anak . c. Faktor sosial budaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri lingkungan merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Contoh : Individu yang berpenyakit kronis, terminal, menyandang cacat atau lanjut usia. Demikianlah kebudayaan yang mengizinkan seseorang untuk tidak keluar ruman (pingit) dapat menyebabkan isolasi sosial. d. Faktor biologis
merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa, insiden tertinggi skizofrenia di temukan pada keluarganya yang anggota keluarga menderita skizofrenia. Genetik

3. Factor Presipitasi a. Stressor social budaya Stressor sosial budaya dapat memicu kesulitan dalam berhubungan, terjadinya penurunan stabilitas keluarga seperti : perceraian, berpisah dengan orang yang dicintai kehilangan pasangan pada usia tua, kesepian karena ditinggal jauh, dirawat dirumah sakit atau dipenjara . b. Stressor Giokimic Teori dopamin Kelebihan dopamin pada mesokortikal dan mesolimbik serta traktus saraf dapat merupakan indikasi terjadinya skizofrenia c. Stressor biologic dan lingkungan social Beberapa penelitian membuktikan bahwa kasus skizofrenia sering terjadi akibat interaksi antara individu, lingkungan, maupun biologis. d. Stressor psikologik Kecemasan yang tertinggi akan menyebabkan menurunya kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain. Ego pada klien psikotik mempunyai kemampuan terbatas untuk mengatasi stres. Hal ini berkaitan dengan adanya masalah serius antara hubungan ibu dan anak pada fase sinibiotik sehingga perkembangan psikologis individu terhambat.

1) Hubungan Ibu dan Anak Ibu dengan kecemasan tinggi akan mengkomunikasikan kecemasannya pada anak, misalnya dengan tekanan suara yang tinggi, hal ini membuat anak bingung, karena belum dapat mengklasifikasikan dan mengartikan pasien tersebut. 2) Dependen versus Interdependen Ibu yang sering membatasi kemandirian anak, dapat menimbulkan konflik, di satu sisi anak ingin mengembangkan kemandiriannya.

4. Patopsikologi Individu yang mengalami Isolasi Sosial sering kali beranggapan sumber / penyebab Isolasi Sosial itu berasal dari lingkungannya. Padahal rangsangan primer adalah kebutuhan perlindungan diri secara psikologik terhadap kejadian traumatik sehubungan dengan rasa bersalah, marah, sepi dan takut ditinggal orang yang dicintai, tidak dapat dikatakan segala sesuatu yang dapat mengancam harga diri (self esteem) dan kebutuhan keluarga dapat meningkatkan kecemasan. Untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang bekaitan dengan ansietas diperlukan suatu mekanisme koping yang adekuat. Sumber-sumber koping meliputi ekonomi, kemampuan menyelesaikan masalah, tekhnik pertahanan, dukungan sosial dan motivasi. Sumber koping sebagai model ekonomi dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. Semua orang betapapun terganggu perilakunya tetap mempunyai beberapa kelebihan personal yang mungkin meliputi : aktivitas keluarga, hobi, seni kesehatan dan perawatan diri, pekerjaan kecerdasaan dan hubungan interpersonal. Dukungan sosial dari peningkatan respon psikofisiologis yang adaptif, motivasi berasal dari dukungan keluarga ataupun individu sendiri sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri pada individu (Stuart dan Sundeen, 1998).

C. Pohon Masalah Resiko perubahan sensori-persepsi : Halusinasi

Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah

D. Masalah Keperawatan dan data yang perlu dikaji Masalah Keperawatan 1. Isolasi social: Menarik Diri 2. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah 3. Perilaku Kekerasan 4. Koping Individu Tidak Efektif 5. Perubahan Persepsi Sensori 6. Tidak Efektifnya Penatalaksanaan regimen terapeutik 7. Koping Keluarga Tidak Efektif Data yang perlu di kaji a. Tanda dan gejala b. Harga diri rendah, meliputi: Mengkritik diri sendiri Perasaan tidak mampu Pandangan hidup yang pesimis Penurunan prokduktifitas Penolakan terhadap kemampuan diri

c. Kurang memperhatikan perawatan diri

d. Berpakaian tidak rapi e. Selera makan menurun f. Tidak berani menatap lawan bicara g. Lebih banyak menunduk h. Berbicara lambat dengan nada suara lemah

E. Diagnose Keperawatan 1. Isolasi Sosial : menarik diri 2. Perilaku kekerasan 3. Gangguan konsep diri: Harga Diri Rendah 4. Perubahan Persepsi Sensori 5. Resiko Mencederai Diri sendiri, Orang Lain dan Lingkungan Diagosa prioritas: Isolasi Sosial : menarik diri

F. Rencana Tindakan Keperawatan

A. Tindakan Keperawatan Pada Pasien 1. Tujuan Keperawatan Membina hubungan saling percaya Menyadari penyebab isolasi sosial Berinteraksi dengan orang lain

2. Tindakan keperawatan: a) Identifikasi kemampuan dan aspek positif yang pasien. Perawat dapat melakukan hal-hal berikut: Diskusikan tentang sejumlah kemampuan dan asspek positif yang dimiliki klien Beri pujian yang realistic dan hindarkan penilaian yang negative b) Bantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan dengan cara-cara berikut. diskusikan dengan pasien mengenai kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini. Bantu pasien menyebutkannya dan beri penguatan terhadap kemampuan diri yang diungkapkan pasien. Perlihatkan respon yang kondusif dan upayakan menjadi pendengar yang aktif c) Membantu pasien untuk memilih atau menetapkan kemampuan yang dilatih. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. Diskusikan dengan pasienkegiatan yang akan dipilih sebagai klegiatan yang akan pasien lakukan sehari hari Bantu pasien memilih kegiatan yang dapat pasien lakukan dengan mandiri atau dengan bantuan minimal. d) Latih kemampuan yang dipilih pasien dengan cara berikut. Diskusikan dengan pasien langkah-langkah pelaksanaan kegiatan Bersama pasien, peragakan kegiatan yang ditetapkan. masih dimiliki

Berikan dukungan dan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan pasien. e) Bantu pasien menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih. Beri kesempatan kepada pasien untuk mencoba kegiatan yang telah dilatihkan. Beri pujian atas kegiatan yang dapat dilakukan pasien setiap hari. Tingkatkan kegiatan seuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap kegiatan Susun jadwal untuk melaksanakan kegiatan yang telah dilatih. Berikan pasien kesempatan kuntuk mengungkapkan

perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan.

SP 1 Pasien Mendiskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan, membantu pasien memilih atau menetapkan kemampuan yang akan dilatih, melatih kemampuan yang sudah dipilih dan menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang telah dilatih dalam rencana harian. a. Orientasi Selamat pagi ! Bagaimana keadaan X hari ini? X terlihat segar Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kemampuan dan kegiatan yang pernah X lakukan? Selain itu kita akan menilai kegiatan mana yang masih dapat X lakukan dirumah sakit. Setelah kita nilai, kita akan pilih salah satu kegiatan untuk kita latih. Dimana kita duduk ? Bagaimana kalau di ruang tamu ? Berapa lama ? bagaimana kalau 20 menit ? b. Kerja X, apa saja kemampuan yang X miliki ? Bagus, apa lagi ? Saya buat daftarnya ya ! Apa pula kegiatan rumah tangga yang biasa X lakukan ?

Bagaimana dengan merapikan kamar ? menyapu ? Mencuci piring dan seterusnya. Wah, bagus sekali ada lima kemampuan dan kegiatan yang X miliki !. X, dari kelima kegiatan atau kemampuan ini, mana yang masih dapat dikerjakan dirumah sakit ? ( misalnya ada tiga yang masih dapat dilakukan). Bagus sekali, ada tiga kegiatan yang masih bisa dikerjakan dirumah sakit ini ! Sekarang, coba X pilih satu kegiatan yang masih bisa dikerjakan dirumah sakit ini. BAik, yang nomor satu, merapikan tempat tidur? Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kita latihan merapikan tempat tidur X. Mari kita lihat tempat tidur X ! Coba lihat, sudah rapikah tempat tidurnya ? Nah, kalau kita mau merapikan tempat tidur, mari kita pindahkan dulu bantal dan selimutnya. Bagus ! Sekarang kita angkat seprainya, dan kasurnya kita balik. Nah, sekarang kita pasang lagi seprainya,kita mulai lagi dari arah atas, ya bagus ! Sekarang sebelah kiri, tarik dan masukkan, lalu di sebelah pinggir masukkan. Sekarang ambil bantal, rapikan, dan letakkan c. Terminasi bagaimana perasaan T setellah kita bercakap-cakap dan latihan merapikan tempat tidur? Ya T ternyata banyak memiliki kemampuan yang dapat dilakukan di rumah sakit ini, salah satunya merapikan tempat tidur, yang sudah T peraktikkan dengan baik sekali. Nah, kemampuan ini dapat dilakukan juga dirumah setelah pulang. Sekarang mari kita masukkan pada jadwal harian, T mau berapakah sehari merapikan tempat tidur, bagus, dua kali, yaitu pagi jam berapa? Lalu sehabis istirahat jam 4 sore. besok pagi kita latihan lagi kemampuan yang kedua, T masih ingat kegiatan apa lagi yang mampu dilakukan di rumah sakit selain merapikan tempat tidur? Ya bagus, cuci piring, kalau begitu kita akan latihan mencuci piring besok jam 8 pagi didapur ruangan ini sehabis makan pagi. Sampai jumpa ya!

SP 2 Pasien

melatih pasien melakukan kegiatan lain yang sesuai dengan kemampuan pasien. Latihan dapat dilanjutkan untukn kemampuan lain sampai semua kemampuan dilatih. Setiap kemampuan yang dimiliki akan meningkatkan hargadiri pasien. a. Orientasi selamat pagi, bagaimana perasaan T pagi ini. Wah, T tampak cerah. Bagaimana T, sudah mencoba merapaikan tempat tidur tadi pagi? Bagus, kalau sudah dilakukan (jika pasien belum mampu melakukannya, ulang dan bantu kembali) sekarang kita akan latihan kemampuan kedua. Masih ingat apa kegiatan itu ! ya benar, sekarang kita kan latihan mencuci piring di dapur. waktunya sekitar 15 menit. Mari kita kedapur ! b. Kerja T , sebelum mencuci piring kita perlu persiapkan dulunperlengkapannya, yaitu sabut atau spons untuk membersihkan piring sabun khhusus untuk mencuci piring dan air untuk membilas, T dapat menggunakan air yang mengalir dari keran ini. Oh ya, jangan lupa sediakan tempat sampah untuk membuang sisa makanan. sekarang saya perlihatkan dulu ya caranya. Setelah semua perlengkapan tersedia, T satu piring kotor, lalu buang dulu sisa kotoran yang ada di piring tersebut ketemp[at sampah. Kemudian T bersihkan piring tersebut dengan menggunakan sabut atau spons yang sudah di berikan sabun pencuci piring. Setelah selesai disabuni, bilas dengan air bersih sampai tidak ada busa sabun sedikitpun di piring tersebut. Selain itu, T bisa mengeringkan piring yang sudah bersih tadi di rak yang sudah tersedia di dapur. Nah selesai. ! sekarang coba T yang melakukan. Bagus sekali, T dapat memperaktikkan cuci piring dengan baik ! sekarang di lap tangannya. c. Terminasi bagaimana perasaan T setelah latihan cuci piring? bagaimana jika kegiatan cuci piring ini dimasukkan menjadi kegiatan seharihari. T. mau berapa kali T mencuci piring ? bagus sekali, T mencuci piring tiga kali setelah makan.

besok kita akan latihan untuk kemampuan ketiga, setelah merapikan tempat tidur dan cuci piring. Masih ingat kegiatan apakah itu? Ya benar kita akan ,latihan mengepel. mau jam berapa? Sama seperti sekarang? Sampai jumpa!.

B. Tindakan Keperawatan pada Keluarga 1. Tujuan keperawatan: Keluarga dapat membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien. Keluarga dapat memfasilitasi kemampuan yang masih dimiliki pasaien. Keluarga dapat memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien. Keluarga mampu menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien.

2. Tindakan keperawatan: Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien. Jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang alami pasien. Diskusi dengan keluarga mengenai kemampuan yang dimiliki pnasie dan puji pasien atas kemampuannya. Jelaskan caraa-cara merawat pasien harga diri rendah pasien. Demostrasikan cara merawat pasien harga diri rendah. Beri kesempatan pada keluarga untuk mempraktekkan cara merawat pasien harga diri rendah seperti yang telah perawat demonstrasikan sebelumnya. SP 1 keluarga masalah yang di hadapi keluarga dalma merwat pasien dirumah, menjelaskan tentang pengertian, tanda dan gejala harga diri rendah, menjelaskan cara merwat pasien dengan harga diri rendah, mendemostrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah, dan memberi kesempatan pada keluarga untuk memperaktekkan cara merawat. a. Orientasi selamat pagi.! Bagaimana keadaan bapak atau ibu? Bantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah.

bagaimana kalau pagi ini kita bercakap-cakap tentang cara merawat T ? berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit? Baik, mari duduk diruangan wawancara!

b. Kerja apa yang bapak ibu ketahui tentang masalah T ? ya memang, benar sekali pak/bu, T itu memang terlihat tidak percaya diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri. T sering mengatakan dirinya adalah orang paling bodoh sedunia. Dengan kata lain, anak bapak/ibu memiliki masalah harga diri rendah yang ditandai dengan munculnya pikiran-pikiran yang selalu negatif terhadap diri sendiri. Jika keadaannya terus menerus seperti itu T dapat mengalami masalah yang lebih berat lagi, misalnya T jadi malu bertemu dengan orang lain dan memilih mengurung diri. sampai disini, bapak/ibu mengerti apa yang dimaksud harga diri rendah? Bagus sekali bapak/ibu sudah mengerti! setelah kita mengerti bahwa masalah T dapat menjadi masalah serius, kita perlu memberikan perawatan yang baik untuk T. Bapak /ibu apa saja kemampuuan yang dimiliki T? Ya benar, dia juga mengatakan hal yang sama. (jika sama dengan kemampuan yangb dikatakan T). T telah berlatih dua kegiatan, yaitu merapikan tempat tidur dan cuci piring. T juga telah di buatkan jadwal untuk kegiatan tersebut. Untuk itu, bapak/ibu dapat mengingatklann T untuk melakukan klegiatan tersebut sesuai jadwal. Tolong bantu menyiapkan alat-alatnya, ya pak/bu. Jangan lupa memberikan pujian agar harga dirinya meningkat. Ajak pula memberi tanda contreng pada jadwal kegiatannya. Selain itu, jika T tidak lagi di rawat di rumah sakit, bapak/ibu tetap perlu memantau perkembangan T jika masalah harga dirinya kembali muncul dan tidak tertangani lagi, bapak/ibu dapat membawa T kepuskesmas. .T dan tanyakan kegiatan yang sudah dia lakukan lalu berikan pujian seperti,bagus sekali T, kamu sudah semakin terampil mencuci piring.! coba bapak/ibu praktekkan sekarang. Bagus!

c. Terminasi bagaimana perasaan bapak/ibu setelah percakapan kita ini? dapatkah bapak/ibu jelaskan kembali masalah yang dihadapi T dan bagaimana cara merawatnya?

bagus sekali bapak/ibu dapat menjelaskan dengan baik. Nah, setiap kali bapak/ibu menggunjungi T lakukan seperti itu. Nanti dirumah juga demikian. bagaimana kalau kita bertemu lagi dua hari mendatang untuk latihan cara memberi pujian langsung kepada T? Pukul berapa bapak/ibu datang? Baik, akan saya tunggu. Sampai jumpa! SP 2 Keluarga melatih keluarga memprektekkan cara merawat pasien harga diri rendah langsung pada pasaien. a. Orientasi selamat pagi pak/bu! Bagaimana perasaan bapak/ibu hari ini? bapak/ibu masih ingat latihan merawat anak bapak/ibu seperti yang kita pelajari dua hari yang lalu? baik, hari ini kita akan mempraktekkannya langsung pada T. bagaimana kalau 20 menit? Sekarang mari kita temui T!

b. Kerja selamat pagi T. Bagaimana perasaan T hari ini? Hari ini saya datang bersama orang tua T seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, orang tua T juga ingin merawat T agar T cepat pulih.(kemudian anda berbicara pada keluarga sebagai berikut). nah pak/bu, sekarang bapak/ibu bisa memperakktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu, yaitu memberikan pujian terhadap perkembangan anak bapak/ibu. (perawat mngobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya). bagaimana perasaan setelah berbincang bincang dengan orang tua T? baiklah, sekarang suster dan orang tua T ke ruang perawat dulu! (perawat dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga). c. Terminasi bagaimmana perasaan bapak/ibu setelah kita latihan tadi? mulai sekarang bapak/ibu sedah dapat melakukan cara perawatan tadi pada T.

tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak/ibu melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang ya? SP 3 keluarga membuat perencanaan pulang bersama keluarga. a. Orientasi selamat pagi pak/bu! Karena hari ini T sudah boleh pulang, kita akan membicarakan jadwal T selama dirumah. berapa lama bapak/ibu ada waktu? Mari kita bicarakan di kantor! b. Kerja pak/bu ini jadwal kegiatan T selama di rumah sakit. Coba diperhatikan, apakah semua dapat dilaksanakan dirumah? Pak/bu, jadwal yang telah di buat selama T dirawat dirumah sakit tolong dilanjutkan dirumah,baik jadwal kegiatan maupun jadwal mium obatnya. hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perillaku yang ditampilkan oleh T selama dirumah. Contohnya kalau T terus menerus menyalahkan diri sendiri dan berfikiran negatif terhadap diri sendiri, menoolakl minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat K di puskesmas Indara Puri, Puskesmas terdekat dari rumah bapak/ibu, ini nomor telpon pukesmasnya: (0651) 554xxx. selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau perkenbangan T selama dirumah. c. Terminasi bagaimana pak/bu? Ada yang belum jelas? ini jadwal kegiatan harian T untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K dipuskesmas Indera Puri. Jangan lupa kontrol ke puskesmas sebalum obat habis atau ada gejala yang terlihat. Silahkan selesaikan administrasinya!

1. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

Harga Diri Rendah

Pasien

Keluarga

SP I p 1. Mengidenfikasi dan aspek kemampuan positif yang

SP I k 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam

dimiliki pasien 2. Membantu kemampuan pasien pasien menilai yang

merawat pasien 2. Menjelaskan pengertian,

tanda dan gejala harga diri rendah yang dialami pasien beserta proses terjadinya 3. Menjelaskan cara-cara merawat pasien harga diri rendah

masih dapat digunakan 3. Membantu pasien memilih

kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan pasien 4. Melatih pasien sesuai

kemampuan yang dipilih 5. Memberikan pujian yang

SP II k 1. Melatih mempraktekkan keluarga cara dengan

wajar terhadap keberhasilan pasien 6. Menganjurkan pasien

merawat

pasien

memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

harga diri rendah 2. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung

kepada pasien harga diri

SP II p 1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien 2. Melatih kemampuan kedua 3. Menganjurkan pasien

rendah

SP III k 1. Membantu keluarga

memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat (discharge planning) 2. Menjelaskan follow up

pasien setelah pulang