Anda di halaman 1dari 43

PEMIKIRAN MUHAMMAD IQBAL Written by Admin Tuesday, 08 June 2010 09:24

Oleh : Ujang Habibi & Enjang Jamhuri I. Pendahuluan Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya, seberapapun lamanya tidaklah cukup untuk membahasnya. Mengingat begitu banyak sekali kajiankajian Islam berikut pemikiran-pemikiran para tokohnya yang telah berhasil mengukir sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi umat Islam. Dalam kajian ini penulis akan membahas tentang tokoh yang monumental diabad kedua puluh, yaitu Muhammad Iqbal (selanjutnya ditulis; Iqbal). Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan diskusi dan dapat diambil ibrah bagi kalangan intelektual dan cendikiawan muda yang haus akan ilmu pengetahuan. Dr. Mohammad Natsir didalam bukunya Kapita Selekta mengungkapkan bahwa Iqbal telah membangkitkan semangat rakyat dengan memompa kepercayaan diri ('Izzatunnafs) sambil beliau menyitir sebuah sajaknya dengan tema Khudi (pribadi) sebagai berikut:[1] Khudi ko kar buland itna keh har taqdir se pahley Khuda bandey se khud puchhey bata teri raza kia hai. "Binalah pribadimu demikian hebatnya sehingga sebelum Tuhan menentukan taqdirmu Dia sendiri akan mengarahkan Tanya padamu: Apakah yang kau kehendaki yang sebenarnay".

II. Biografi Singkat

Iqbal dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir) pada tanggal 9 November 1877/ 2 Dzulqa'dah 1294[2] dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore. Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A dalam bidang filsafat.[3] Ia lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad Rafiq kakeknya[4]. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore, di Cambridge-Inggris dan terakhir di Munich-Jerman dengan mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia. Sekembalinya dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat menjadi pengacara.[5] Adapun karya-karya Iqbal diantaranya adalah: Bang-i-dara (Genta Lonceng), Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur), Asrar-iKhudi (Rahasia-rahasia Diri), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri), Jawaid Nama (Kitab Keabadian), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?), Musafir Nama, Bal-i-Jibril (Sayap Jibril), Armughan-iHejaz (Hadiah Dari Hijaz), Devlopment of Metaphyiscs in Persia, Lectures on the Reconstruction of Religius Thought in Islam Ilm al Iqtishad, , A Contibution to the History of Muslim Philosopy, Zabur-i-'Ajam (Taman Rahasia Baru), Khusal Khan Khattak, dan Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia Peniadaan Diri).[6]

Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa gagasangagasannya tersebut tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi[7] dan Sayyid Ahmad Khan[8]. Keduanya adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India ini mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris[9] dan bahkan pada tahun 1858 British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab

atas pemerintah imperium India[10].

III. Pemikiran Muhammad Iqbal Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam.[11] Namun dalam tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas, justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh Multidimensional.[12] Dengan latar belakang itu pula maka dalam makalah ini penulis akan memaparkan gagasan-gagasan Iqbal dalam dua hal yaitu: pemikirannya tentang politik dan tentang Islam.

3.1. Pemikiran Politik Sepulangnya dari Eropa, Iqbal kemudian terjun kedunia politik dan bahkan menjadi tulang punggung Partai Liga Muslim India. Ia terpilih menjadi anggota legistalif Punjab dan pada tahun 1930 terpilih sebagai Presiden Liga Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya pun semakin harum ketika dirinya diberi gelar Sir oleh pemerintah kerajaan Inggris di London atas usulan seorang wartawan Inggris yang aktif mengamati sepak terjang Iqbal[13] di bidang intelektual dan politiknya. Gelar ini menunjukan pengakuan dari kerajaan inggris atas kemampuan intelektualitas dan memperkuat bargening position politik perjuangan umat Islam India pada saat itu. Ia juga dinobatkan sebagai Bapak Pakistan yang pada setiap tahunnya dirayakan oleh rakyat Pakistan dengan sebutan Iqbal Day.[14] Pemikiran dan aktivitas Iqbal untuk mewujudkan Negara Islam ia tunjukkan sejak terpilih menjadi Presidaen Liga Muslimin tahun 1930. Ia memandang bahwa tidaklah mungkin umat Islam dapat bersatu dengan penuh persaudaraan dengan warga India yang memiliki keyakinan berbeda. Oleh karenanya ia berfikir bahwa

kaum muslimin harus membentuk Negara sendiri. Ide ini ia lontarkan keberbagai pihak melalui Liga Muslim dan mendapatkan dukungan kuat dari seorang politikus muslim yang sangat berpengaruh yaitu Muhammad Ali Jinnah[15] (yang mengakui bahwa gagasan Negara Pakistan adalah dari Iqbal), bahkan didukung pula oleh mayoritas Hindu yang saat itu sedang dalam posisi terdesak saat menghadapi front melawan Inggris.[16] Bagi Iqbal dunia Islam seluruhnya merupakan satu keluarga yang terdiri atas republik-republik, dan Pakistan yang akan dibentuk menurutnya adalah salat satu republik itu.[17] Sebagai seorang negarawan yang matang tentu pandangan-pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam. Bagi Iqbal, budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh buruk budaya Barat. Dia yakin bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri manusia adalah jati dirinya. Dengan pemahaman seperti itu yang ia landasi diatas ajaran Islam maka ia berjuang menumbuhkan rasa percaya diri terhadap umat Islam dan identitas keislamannya. Umat Islam tidak boleh merasa rendah diri menghadapi budaya Barat. Dengan cara itu kaum muslimin dapat melepaskan diri dari belenggu imperialis.[18] Muhammad Asad[19] mengingatkan bahwa imitasi yang dilakukan umat Islam kepada Barat baik secara personal maupun social dikarenakan hilangnya kepercayaan diri, maka pasti akan menghambat dan menghancurkan peradaban Islam. Diantaran paham Iqbal yang mampu mambangunkan kaum muslimin dari tidurnya adalah dinamisme Islam yaitu dorongannya terhadap umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah menciptakan, maka Iqbal menyeeru kepada umat Islam agar bangun dan menciptakan dunia baru. Begitu tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut bahwa seolah-lah orang kafir yang aktif kreatif "lebih baik" dari pada muslim yang "suka tidur".[20] Iqbal juga memiliki pandangan politik yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan sentiment etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment nasionalisme.[21] M. Natsir menyebutkan bahwa dalam ceramahnya yang berjudul Structure of Islam, Iqbal menunjukkan asas-asas suatu negara dengan ungkapannya: Didalam agama Islam spiritual dan temporal, baka dan fana, bukanlah dua daerah yang terpisah, dan fitrat suatu perbuatan betapapun bersifat duniawi dalam kesannya ditentukan oleh sikap jiwa dari pelakunya. Akhir-akhirnya latar belakang ruhani yang tak kentara dari sesuatu perbuatan itulah yang menentukan watak dan sifat amal perbuatan itu. Suatu amal perbuatan ialah temporal (fana), atau duniawi, jika amal itu dilakukan dengan sikap yang terlepas dari kompleks

kehidupan yang tak terbatas. Dalam agama islam yang demikian itu adalah adalah seperti yang disebut orang "gereja" kalau dilihat dari satu sisi dan sebagai "negara" kalau dilihat dari sisi yang lain. Itulah maka tidak benar kalau gereja dan negara disebut sebagai dua faset atau dua belahan dari barang yang satu. Agama Islam adalah suatu realitet yang tak dapat dipecah-pecahkan seperti itu.[22] Demikian tegas Iqbal berpandangan bahwa dalam Islam; politik dan agama tidaklah dapat dipisahkan, bahwa negara dan agama adalah dua keseluruhan yang tidak terpisah. Dengan gerakan membangkitkan Khudi (pribadi; kepercayaan diri) inilah Iqbal dapat mendobrak semangat rakyatnya untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami dewasa ini. Ia kembalikan semangat sebagaimana yang dulu dapat dirasakan kejayaannya oleh ummat Islam. Ujung dari konsep kedirian inilah yang pada akhirnya membawa Pakistan merdeka dan ia disebut sebagai Bapak Pakistan.

3.2. Pemikirannya Tentang Landasan Islam 3.2.1. Pemikiran Tentang Al-Quran

Sebagai seorang yang terdidik dalam keluarga yang kuat memegang prinsip Islam, Iqbal meyakini bahwa Al-Quran adalah benar firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Al-Quran adalah sumber hukum utama dengan pernyataannya The Quran Is a book which emphazhise deed rather than idea (Al-Quran adalah kitab yang lebih mengutamakan amal daripada cita-cita). Namun dia berpendapat bahwa al-Quran bukanlah undang-undang. Dia berpendapat bahwa penafsiran Al-Quran dapat berkembang sesuai dengan perubahan zaman, pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Tujuan utama al-Quran adalah membangkitkan kesadaran manusia yang lebih tinggi dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam semesta, Al-Quran tidak memuatnya secara detail maka manusialah yang ditutntut untuk mengembangkannya. Dalam istilah fiqih hal ini disebut ijtihad. Ijtihad dalam pandangan Iqbal sebagai prinsif gerak dalam struktur Islam. Disamping itu AlQuran memandang bahwa kehidupan adalah satu proses cipta yang kreatif dan progresif. Oleh karenanya, walaupun Al-Quran tidak melarang untuk memperimbangkan karya besar ulama terdahulu, namun masyarakat harus berani mencari rumusan baru secara kreatif dan inovatif untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Akibat pemahaman yang kaku terhadap ulama terdahulu, maka ketika masyarakat bergerak maju, hukum tetap berjalan di tempatnya.[23] Iqbal juga mengeluh tentang ketidak mampuan masyarakat India dalam memahami Al-Quran disebabkan tidak memahami bahasa arab dan telah salah

mengimpor ide-ide India (hindu) dan Yunani ke dalam Islam dan Al-Quran. Iqbal begitu terobsesi untuk menyadarkan umat Islam untuk lebih progresif dan dinamis dari keadaaan statis dan stagnan dalam menjalani kehidupan duniawi. Karena berdasarkan pengalaman, agama Yahudi dan Kristen telah gagal menuntun umat manusia menjalani kehidupan. Kegagalan Yahudi disebabkan terlalu mementingkan legalita kehidupan duniawi. Sedangkan kegagalan Kristen adalah dalam memberikan nilai-nilai kepada pemeliharaan Negara, undang-undang dan organisasi disebabkan terlalu mementingkan segi ibadah ritual. Dalam kegagalan kedua agama tersebut menurut Iqbal Al-Quran berada ditengah-tengah dan samasama mengajarkan keseimbangan kedua kehidupan tersebut, tanpa mebedabedakannya. Baginya antara politik pemerintahan dan agama tidak ada pemisahan sama sekali. Inilah yang dikembangkannya dalam merumuskan ide berdirinya Negara Pakistan yang memisahkan diri dari India yang mayoritas Hindu.[24] Satu segi mengenai al-Qur'an yang patut dicatat adalah bahwa ia sangat menekankan pada aspek Hakikat yang bisa diamati. Tujuan al-Qur'an dalam pengamatan reflektif atas alam ini adalah untuk membangkitkan kesadaran pada manusia tentang alam yang dipandang sebagai sebuah symbol.[25] Iqbal menyatakan hal ini seraya menyitir beberapa ayat, diantaranya: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui". (Qs. 30:22) 3.2.2. Pendapat tentang Al-Hadits

Iqbal memandang bahwa umat Islam perlu melakukan studi mendalam terhadap literatur hadist dengan berpedoman langsung kepada Nabi sendiri selaku orang yang mempunyai otoritas untuk menafsirkan wahyunya. Hal ini sangat besar faedahnya dalam memahami nilai-nilai hidup dari prinsip-prinsip hukum Islam sebagaimana yang dikemukakan al-Quran. Iqbal sepakat dengan pendapat Syah Waliyullah tentang hadits, yaitu cara Nabi dalam menyampaikan dakwah Islam dengan memperhatikan kebiasaan, cara-cara dan keganjilan yang dihadapinya ketika itu. Selain itu juga Nabi sangat memperhatikan sekali adat istiadat penduduk setempat. Dalam penyampaiannya Nabi lebih menekankan pada prinsip-prinsip dasar kehidupan social bagi seluruh umat manusia, tanpa terkait oleh ruang dan waktu. Jadi peraturan-peraturan tersebut khusus untuk umat yang dihadapi Nabi. Untuk generasi selanjutnya, pelaksanaannya mengacu pada prinsip kemaslahatan, dari pandangan ini Iqbal menganggap wajar saja kalau Abu Hanifah lebih banyak mempergunakan konsep istihsan dari pada hadits yang masih meragukan kualitasnya. Ini bukan berarti hadits-hadits pada zamannya belum dikumpulkan, karena Abu Malik dan AzZuhri telah membuat koleksi hadits tiga puluh tahun sebelum Abu Hanifah wafat.

Sikap ini diambil Abu Hanifah karena ia memandang tujuan-tujuan universal hadits daripada koleksi belaka.[26]

3.2.3. Pandangannya Tentang Ijtihad

Menurut Iqbal ijtihad adalah Exert with view to form an independent judgment on legal question (bersungguh-sungguh dalam membentuk suatu keputusan yang bebas untuk menjawab permasalahan hukum). Kalau dipandang baik hadits maupun Al-Quran memang ada rekomendasi tentang ijtihad tersebut. Disamping ijtihad pribadi hukum Islam juga memberi rekomendasi keberlakuan ijtihad kolektif. Ijtihad inilah yang selama berabad-abad dikembangkan dan dimodifikasi oleh ahli hukum Islam dalam mengantisipasi setiap permasalahan masyarakat yang muncul. Sehingga melahirkan aneka ragam pendapat (mazhab). Sebagaimana mayoritas ulama, Iqbal membagi ijtihad kedalam tiga tingkatan yaitu[27]: 1. Otoritas penuh dalam menentukan perundang-undangan yang secara praktis hanya terbatas pada pendiri mazhab-mazhab saja. 2. Otoritas relative yang hanya dilakukan dalam batas-batas tertentu dari satu madzhab 3. Otoritas khusus yang berhubungan dengan penetapan hukum dalam kasuskasus tertentu, dengan tidak terkait pada ketentuan-ketentuan pendiri madzhab.

Iqbal menggaris bawahi pada derajat yang pertama saja. Menurut Iqbal, kemungkinan derajat ijtihad ini memang disepakati diterima oleh ulama ahl-alsunnah tetapi dalam kenyataannya dipungkiri sendiri sejak berdirinya mazhabmazhab. Ide ijtihad ini dipagar dengan persyaratan ketat yang hampir tidak mungkun dipenuhi. Sikap ini, lanjut Iqbal, adalah sangat ganjil dalam suatu system hukum Al-Quran yang sangat menghargai pandangan dinamis. Akibatnya ketentuan ketatnya ijtihad ini, menjadikan hukum Islam selama lima ratus tahun mengalami stagnasi dan tidak mampu berkembang[28]. Ijtihad yang menjadi konsep dinamis hukum Islam hanya tinggal sebuah teori-teori mati yang tidak berfungsi dan menjadi kajian-kajian masa lalu saja. Demikian juga ijma hanya menjadi mimpi untuk mengumpulkan ulama, apalagi dalam konsepnya satu saja ulama yang tidak setuju maka batallah keberlakuan ijma tersebut, hal ini dikarenakan kondisi semakin meluasnya daerah Islam. Akhirnya kedua konsep ini hanya tinggal teori saja, konsekwensinya, hukum Islam pun statis tidak berkembang selama beberapa abad.

IV. Penutup

Iqbal adalah seorang intelektualis asal Pakistan telah melahirkan pemikiran dan peradaban besar bagi generasi setelahnya . Iqbal merupakan sosok pemikir multi disiplin. Ia adalah seorang sastrawan, negarawan, ahli hukum, filosof, pendidik dan kritikus seni. Menilai kepiawaiannya yang multidisiplin itu, pak Natsir mengatakan "tentulah sukar bagi kita untuk melukiskan tiap-tiap aspek kepribadian Iqbal. Jiwanya yang piawai tidak saja menakjubkan tetapi juga jarang ditemui".[29] Islam sebagai way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia, ditantang untuk bisa mengantisipasi dan mengarahkan gerak perubahan tersebut agar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hukum Islam dihadapkan kepada masalah signifikan, yaitu sanggupkah hukum islam memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam mengantisipasi gerak perubahan ini? Dengan tepat Iqbal menjawab bisa kalau umat Islam memahami hukum Islam seperti cara berfikir Umar bin Khattab. Akhirnya, tidaklah lengkap rasanya menulis tentang Iqbal tanpa menutupnya dengan salah satu syair[30]nya berikut ini: Apakah kamu berada dalam tingkat "kehidupan", "kematian", atau "kematian dalam kehidupan"? Memanggil tiga saksi untuk memberitahu dimana tempat "perhentianmu". Saksi pertama adalah kesadaran batinmu sendiriLihat dirimu sendiri dengan cahayamu sendiri. Saksi kedua adalah kesadaran ego yang lainLihat dirimu, lalu sinar ego yang lain daripada milikmu Saksi ketiga adalah kesadaran TuhanLihat dirimu, lalu dengan cahaya Tuhan, Jika kamu berdiri tidak bergerak di depan cahaya ini, Anggaplah dirimu sendiri seperti hidup dan abadi layaknya Tuhan! Bahwa manusia sendiri adalah sejati yang berani-

Berani untuk melihat Tuhan berhadapan muka! Apakah "Mi'raj"? Hanya pencarian seorang saksi Yang akhirnya dapat menegaskan realitasmuSeorang saksi yang dengan kesaksiannya membuatmu abadi. Tak seorangpun dapat berdiri tanpa bergerak oleh keberadaannya; Dan dia yang dapat, sesungguhnya, dia emas murni. Apakah engkau hanya butiran debu semata? Ketatkan simpul egomu; Dan pegang cepat makhlukmu yang kecil! Betapa cemerlangnya memancarkan ego kita Dan menguji kilauan ini dari keberadaan Matahari! Bersihkan ragamu yang lama; Dan membangun makhluk baru. Suatu makhluk yang sesungguhnya; Atau egomu hanyalah gumpalan asap semata![31]

"Wallahu A'lam Bish-Shawab"

Referensi 1. Al-Qur'an Terjemah, Depag RI. Penerbit Al-Huda (Kelompok GIP), Depok, tahun 2005 2. Ali, Mukti A, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung, Mizan 1998, Cet. III 3. Asad, Muhammad, Asas-asas Negara dan Pemerintahan dalam Islam (terj. Muhammad Radjab), Jakarta, Granada, cet. 1, th. 1427 H

4. Azra, Azyumardi dan Syafii Maarif, Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr sampai Natsir dan Qardhawi. Bandung, Mizan, tahun 2003 5. Enver, Ishrat Hasan, Metafisika Iqbal, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cet. 1, th. 2004 6. Glase, Cyril, Ensiklopedi Islam,Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, cet.3 tahun 2002 7. Gunadi, R.A dan M Shoelhi, Khzanah Ornag Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol Jakarta : Republika : 2002 8. Gwinn, Robert P. (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15 9. Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta, Wedatama Widya Sastra, th. 2003 10. Hilmi, Musthafa Muhammad, Manhaj 'Ulama' al-Hadits wa as-Sunnah Fii Ushuul ad-Diin, Kairo, Daar Ibn Jauzi, Cet. 1, th. 2005 11. http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 disadur pada

12. Iqbal, Muhammad. Tajdiid At-Tafkiir Ad-Diinii Fii al-Islam, Kairo, cet. 2, th. 1968 13. Iqbal, Muhammad. Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, Jogjakarta, Penerbit Lazuardi, cet. 1, tahun 2002. 14. Mohammad, Herry (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,Jakarta, Gema Insani, cet.1, th. 2006 15. Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, th. 2003, cet. XIV, hal 185 16. Natsir, Mohammad Kapita Selekta 2, Jakarta, PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, cet. 2 , th. 2008 17. Pringgodigdo, A.G., Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, tahun 1977 18. Saefuddin, Didin. Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, th. 200 19. Sani, Abdul, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, cet. 1, th. 1998 20. Smith, W.C. Modern Islam in India (Lahore : Ashraf, 1963)

[1] M. Natsir, Kapita Selekta 2, Jakarta, PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, cet. 2 , th. 2008, hal. 138-139 [2] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,Jakarta, Gema Insani, cet.1, th. 2006, hal.237 [3] H.A Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung, Mizan 1998, Cet. III hal.174. Lihat juga: Azzumardi Azra dan Syafii Maarif dalam Ensiklopedi Tokoh Islam, hal 256. Lihat juga: Musthafa Muhammad Hilmi, Manhaj 'Ulama' al-Hadits wa as-Sunnah Fii Ushuul ad-Diin, Kairo, Daar Ibn Jauzi, Cet. 1, th. 2005 hal. 334. Lihat juga: Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, tahun 1977, hal. 473 [4] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, hal.237 [5] Ensiklopedi Umum, hal. 473 [6] Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cet. 1, th. 2004, hal. 128, Lihat juga: RA. Gunadi, M. Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol, hal. 162. Lihat juga: Robert Gwinn (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15, hal. 373. Lihat juga: Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta, Wedatama Widya Sastra, th. 2003, hal. 8-9 [7] Ia adalah Ahmad bin Abdurrahim bin Wajiduddin bin Mu'azzam bin Ahmad bin Muhammad bin Qawanuddin al-Dahlan. Ia lahir di Kota dekat Delhi pada tanggal 21 Pebruari 1703 M/ 4 Syawal 1114 H dan wafat pada tanggal 29 Muharram 1176 H/ 10 gustus 1762 dalam usia 61 tahun. Karya tulisnya yang monumental adalah Hujjatullah al-Balighah. (Ensiklopedi Islam, hal. 185) [8] Ia adalah seorang penulis, pemikir dan aktivis politik modernis Islam India. Lahir di Delhi tahun 1817 M. Dimasa pemberontakan tahun 1857 ia berusaha mencegah kekerasan yang karenanya banyak orang-orang Inggris tertolong dari pembunuhan. Karena jasanya itu Inggris memberikan gelar kepadanya dengan sebutan Sir. Selanjutnya ia menggunakan kesempatan itu untuk menjalin hubungan baik dengan Inggris tapi semata-mata untuk kepentingan umat Islam India, karena baginya dengan jalan itulah umat Islam dapat tertolong. Dan akhirnya setelah kejadian tahun 1857 itu ia menjalankan tiga proyek besar yaitu: memprakarsai dialog untuk menciptakan saling pegertian antara kaum muslim dan Kristen, mendirikan organisasi ilmiah yang membantu kaum muslim untuk memahami kunci keberhasilan Barat dan menganalisis secara objektif penyebab

pemberontakan 1857. (Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, th. 2003, hal. 36-7). Ia mewujudkan cita-citanya meninggikan kaum Muslimin India dengan mendirikan perguruan Islam dengan nama Anglo Oriental College yang selanjutnya berkembang menjadi Universitas Muslim Aligarh di Aligarh tempat kaum terpelajar Islam di India pada tahun 1920. (Ensiklopedi Umum, hal. 25) [9] Imperium Inggris (British Empire) pada puncak kejayaannya akhir abad ke-19 dan awal abad 20 merupakan kerajaan yang terbesar diseluruh dunia. Koloni yang pertama adalah New-Foundland (1583). Dasar-dasar kerajaan diletakkan pada permulaan abad ke-17 dengan mendirikan British East India Company. (Ensiklopedi Umum, hal. 446) [10] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, th. 2003, hal. 51 [11] Enver, Metafisika Iqbal, hal. V [12] Didin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, hal. 44 [13] Gunadi & Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, 163 [14] Robert Gwinn (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, hal. 373 [15] Mohammad Ali Jinnah (1876-1948), adalah pendiri Negara Pakistan. Lahir di Pakistan tanggal 26 Desember 1876 dari seorang pedagang terkemuka. Pada usia 16 tahun ia ke Inggris mengikuti pelajaran di Lincoln's Institute di London. Duduk dalam Dewan Legislatif Tertinggi di india (1909-1916). Ia mula-mula menyokong Partai Kongres dan menganjurkan persatuan Hindu-Islam, tetapi sesudah 1934 (setelah menguasai Liga Muslim maka ia melancarkan ide Negara Pakistan terpisah dari India yang akan terdiri dari daerah-daerah mayoritas muslimin di Punjab, daerah perbatasan Baratdaya, Baluchistan, Sind sebelah barat dan Benggala sebelah timur (Resolusi Liga Muslimin 1940). Membantu Inggris dalam perang dunia kedua. Berhasil mendesak Congress untuk menerima pembagian India (1947). Gubernur Jenderal Dominium Pakistan yang pertama. (Ensiklopedi Umum, hal. 446/ Robert Gwinn, The New Encyclopaedia Britannica, hal. 555) [16] Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, cet. 1, th. 1998, hal. 168-170 [17] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, th. 2003, cet. XIV, hal 186 [18] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 disadur pada

[19] Nama asalnya adalah Leopold Weiss, lahir di kota Livow (Austria) pada tahun 1900 dan wafat tahun 1992. Pada umur 22 tahun ia mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya menjadi wartawan luar negeri dari harian Frankfurter Zeitung. Pada tahun 1926 ia memeluk Islam dan beberapa tahun mempelajari Islam. Setelah itu ia bekerja di berbagai dunia Islam dari Afrika Utara sampai Afghanistan di bagian Timur. Ia termasuk intelektual muslim terkemuka abad 20. Karya-karyanya antara lain: Islam in the Cross Roads (Islam di Persimpangan Jalan), Road to Mecca (Jalan ke Mekah) dan The Principles of States and Government in Islam (Asas-asa Negara dan Pemerintahan dalam Islam, serta sebuah kitab tafsir dengan nama The Message of the Qur'an. (Muhammad Asad, Asas-asas Negara dan Pemerintahan dalam Islam (terj. Muhammad Radjab), Jakarta, Granada, cet. 1, th. 1427 H, halaman sampul. [20] Harun, Pembaharuan dalam Islam, hal 185 dan W.C. Smith, Modern Islam in India (Lahore : Ashraf, 1963) hal. 111 [21] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 [22] Natsir, Kapita Selecta, hal. 147 [23] Harun, Pembaharuan Dalam Islam,hal. 185 [24] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 disadur pada disadur pada

[25] Muhammad Iqbal, Tajdiid At-Tafkiir Ad-Diinii Fii al-Islam, Kairo, cet. 2, th. 1968, hal. 20-21 [26] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 [27] Iqbal, Tajdiid At-Tafkiir Ad-Diinii Fii al-Islam, hal. 171 [28] Harun, Pembaharuan dalam Islam, hal. 184 [29] Natsir, Kapita Selecta, hal. 146 [30] Syair ialah bentuk puisi lama Indonesia: satu bait biasanya terdiri atas empat baris seperti pantun, tetapi keempat barisnya bersajak sama. Perbedaan lain daripada pantun ialah: pantun terdiri atas empat baris dan sudah merupakan kesatuan pikiran, sedangkan syair belum. Syair bias berisikan kisah, ceritera, soal agama, sejarah atau ceritera suatu peristiwa. (Ensiklopedi Umum, hal. 1068) [31] Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, Jogjakarta, disadur pada

Penerbit Lazuardi, cet. 1, th. 2002, hal. 280-281. PEMIKIRAN MUHAMMAD IQBAL Written by Admin Tuesday, 08 June 2010 09:24

Oleh : Ujang Habibi & Enjang Jamhuri I. Pendahuluan Berbicara masalah Islam dan pemikiran tokoh-tokohnya, seberapapun lamanya tidaklah cukup untuk membahasnya. Mengingat begitu banyak sekali kajiankajian Islam berikut pemikiran-pemikiran para tokohnya yang telah berhasil mengukir sejarah dan melahirkan peradaban baru bagi umat Islam. Dalam kajian ini penulis akan membahas tentang tokoh yang monumental diabad kedua puluh, yaitu Muhammad Iqbal (selanjutnya ditulis; Iqbal). Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan diskusi dan dapat diambil ibrah bagi kalangan intelektual dan cendikiawan muda yang haus akan ilmu pengetahuan. Dr. Mohammad Natsir didalam bukunya Kapita Selekta mengungkapkan bahwa Iqbal telah membangkitkan semangat rakyat dengan memompa kepercayaan diri ('Izzatunnafs) sambil beliau menyitir sebuah sajaknya dengan tema Khudi (pribadi) sebagai berikut:[1] Khudi ko kar buland itna keh har taqdir se pahley Khuda bandey se khud puchhey bata teri raza kia hai. "Binalah pribadimu demikian hebatnya sehingga sebelum Tuhan menentukan taqdirmu Dia sendiri akan mengarahkan Tanya padamu: Apakah yang kau kehendaki yang sebenarnay".

II. Biografi Singkat Iqbal dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir) pada tanggal 9 November 1877/ 2 Dzulqa'dah 1294[2] dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore. Iqbal menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A dalam bidang filsafat.[3] Ia lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan Muhammad Rafiq kakeknya[4]. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia selesaikan di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore, di Cambridge-Inggris dan terakhir di Munich-Jerman dengan mengajukan tesis dengan judul The Development Of Metaphysics in Persia. Sekembalinya dari Eropa tahun 1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat menjadi pengacara.[5] Adapun karya-karya Iqbal diantaranya adalah: Bang-i-dara (Genta Lonceng), Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur), Asrar-iKhudi (Rahasia-rahasia Diri), Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri), Jawaid Nama (Kitab Keabadian), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa), Pas Cheh Bayad Kard Aye Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?), Musafir Nama, Bal-i-Jibril (Sayap Jibril), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz), Devlopment of Metaphyiscs in Persia, Lectures on the Reconstruction of Religius Thought in Islam Ilm al Iqtishad, , A Contibution to the History of Muslim Philosopy, Zabur-i-'Ajam (Taman Rahasia Baru), Khusal Khan Khattak, dan Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia Peniadaan Diri).[6]

Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya dikatakan bahwa gagasan-gagasannya tersebut tanpa dipengaruhi oleh pemikir-pemikir sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris. Pada masa ini pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi oleh seorang tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi[7] dan Sayyid Ahmad Khan[8]. Keduanya adalah sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat tantangan serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India ini mengalami kekalahan saat melawan

Inggris pada tahun 1857, juga sangat mempengaruhi 41 tahun kekuasaan Imperium Inggris[9] dan bahkan pada tahun 1858 British East India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas pemerintah imperium India[10].

III. Pemikiran Muhammad Iqbal Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa pemikiran yang fundamental yaitu intuisi, diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal sangat berpengaruh di India bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam.[11] Namun dalam tataran praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh masyarakat dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas, justru dia adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu. Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik sebagai negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh Multidimensional.[12] Dengan latar belakang itu pula maka dalam makalah ini penulis akan memaparkan gagasan-gagasan Iqbal dalam dua hal yaitu: pemikirannya tentang politik dan tentang Islam.

3.1. Pemikiran Politik Sepulangnya dari Eropa, Iqbal kemudian terjun kedunia politik dan bahkan menjadi tulang punggung Partai Liga Muslim India. Ia terpilih menjadi anggota legistalif Punjab dan pada tahun 1930 terpilih sebagai Presiden Liga Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya pun semakin harum ketika dirinya diberi gelar Sir oleh pemerintah kerajaan Inggris di London atas usulan seorang wartawan Inggris yang aktif mengamati sepak terjang Iqbal[13] di bidang intelektual dan politiknya. Gelar ini menunjukan pengakuan dari kerajaan inggris atas kemampuan intelektualitas dan memperkuat bargening position politik perjuangan umat Islam India pada saat itu. Ia juga dinobatkan sebagai Bapak Pakistan yang pada setiap tahunnya dirayakan oleh rakyat Pakistan dengan sebutan Iqbal Day.[14] Pemikiran dan aktivitas Iqbal untuk mewujudkan Negara Islam ia tunjukkan

sejak terpilih menjadi Presidaen Liga Muslimin tahun 1930. Ia memandang bahwa tidaklah mungkin umat Islam dapat bersatu dengan penuh persaudaraan dengan warga India yang memiliki keyakinan berbeda. Oleh karenanya ia berfikir bahwa kaum muslimin harus membentuk Negara sendiri. Ide ini ia lontarkan keberbagai pihak melalui Liga Muslim dan mendapatkan dukungan kuat dari seorang politikus muslim yang sangat berpengaruh yaitu Muhammad Ali Jinnah[15] (yang mengakui bahwa gagasan Negara Pakistan adalah dari Iqbal), bahkan didukung pula oleh mayoritas Hindu yang saat itu sedang dalam posisi terdesak saat menghadapi front melawan Inggris.[16] Bagi Iqbal dunia Islam seluruhnya merupakan satu keluarga yang terdiri atas republik-republik, dan Pakistan yang akan dibentuk menurutnya adalah salat satu republik itu.[17] Sebagai seorang negarawan yang matang tentu pandangan-pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam. Bagi Iqbal, budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh buruk budaya Barat. Dia yakin bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri manusia adalah jati dirinya. Dengan pemahaman seperti itu yang ia landasi diatas ajaran Islam maka ia berjuang menumbuhkan rasa percaya diri terhadap umat Islam dan identitas keislamannya. Umat Islam tidak boleh merasa rendah diri menghadapi budaya Barat. Dengan cara itu kaum muslimin dapat melepaskan diri dari belenggu imperialis.[18] Muhammad Asad[19] mengingatkan bahwa imitasi yang dilakukan umat Islam kepada Barat baik secara personal maupun social dikarenakan hilangnya kepercayaan diri, maka pasti akan menghambat dan menghancurkan peradaban Islam. Diantaran paham Iqbal yang mampu mambangunkan kaum muslimin dari tidurnya adalah dinamisme Islam yaitu dorongannya terhadap umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah menciptakan, maka Iqbal menyeeru kepada umat Islam agar bangun dan menciptakan dunia baru. Begitu tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut bahwa seolah-lah orang kafir yang aktif kreatif "lebih baik" dari pada muslim yang "suka tidur".[20] Iqbal juga memiliki pandangan politik yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan sentiment etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment nasionalisme.[21] M. Natsir menyebutkan bahwa dalam ceramahnya yang berjudul Structure of Islam, Iqbal menunjukkan asas-asas suatu negara dengan ungkapannya: Didalam agama Islam spiritual dan temporal, baka dan fana, bukanlah dua daerah yang terpisah, dan fitrat suatu perbuatan betapapun bersifat duniawi dalam kesannya ditentukan oleh sikap jiwa dari pelakunya. Akhir-akhirnya latar

belakang ruhani yang tak kentara dari sesuatu perbuatan itulah yang menentukan watak dan sifat amal perbuatan itu. Suatu amal perbuatan ialah temporal (fana), atau duniawi, jika amal itu dilakukan dengan sikap yang terlepas dari kompleks kehidupan yang tak terbatas. Dalam agama islam yang demikian itu adalah adalah seperti yang disebut orang "gereja" kalau dilihat dari satu sisi dan sebagai "negara" kalau dilihat dari sisi yang lain. Itulah maka tidak benar kalau gereja dan negara disebut sebagai dua faset atau dua belahan dari barang yang satu. Agama Islam adalah suatu realitet yang tak dapat dipecah-pecahkan seperti itu.[22] Demikian tegas Iqbal berpandangan bahwa dalam Islam; politik dan agama tidaklah dapat dipisahkan, bahwa negara dan agama adalah dua keseluruhan yang tidak terpisah. Dengan gerakan membangkitkan Khudi (pribadi; kepercayaan diri) inilah Iqbal dapat mendobrak semangat rakyatnya untuk bangkit dari keterpurukan yang dialami dewasa ini. Ia kembalikan semangat sebagaimana yang dulu dapat dirasakan kejayaannya oleh ummat Islam. Ujung dari konsep kedirian inilah yang pada akhirnya membawa Pakistan merdeka dan ia disebut sebagai Bapak Pakistan.

3.2. Pemikirannya Tentang Landasan Islam 3.2.1. Pemikiran Tentang Al-Quran

Sebagai seorang yang terdidik dalam keluarga yang kuat memegang prinsip Islam, Iqbal meyakini bahwa Al-Quran adalah benar firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. AlQuran adalah sumber hukum utama dengan pernyataannya The Quran Is a book which emphazhise deed rather than idea (Al-Quran adalah kitab yang lebih mengutamakan amal daripada cita-cita). Namun dia berpendapat bahwa alQuran bukanlah undang-undang. Dia berpendapat bahwa penafsiran Al-Quran dapat berkembang sesuai dengan perubahan zaman, pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Tujuan utama al-Quran adalah membangkitkan kesadaran manusia yang lebih tinggi dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam semesta, AlQuran tidak memuatnya secara detail maka manusialah yang ditutntut untuk mengembangkannya. Dalam istilah fiqih hal ini disebut ijtihad. Ijtihad dalam pandangan Iqbal sebagai prinsif gerak dalam struktur Islam. Disamping itu AlQuran memandang bahwa kehidupan adalah satu proses cipta yang kreatif dan progresif. Oleh karenanya, walaupun Al-Quran tidak melarang untuk memperimbangkan karya besar ulama terdahulu, namun masyarakat harus berani

mencari rumusan baru secara kreatif dan inovatif untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Akibat pemahaman yang kaku terhadap ulama terdahulu, maka ketika masyarakat bergerak maju, hukum tetap berjalan di tempatnya.[23] Iqbal juga mengeluh tentang ketidak mampuan masyarakat India dalam memahami Al-Quran disebabkan tidak memahami bahasa arab dan telah salah mengimpor ide-ide India (hindu) dan Yunani ke dalam Islam dan Al-Quran. Iqbal begitu terobsesi untuk menyadarkan umat Islam untuk lebih progresif dan dinamis dari keadaaan statis dan stagnan dalam menjalani kehidupan duniawi. Karena berdasarkan pengalaman, agama Yahudi dan Kristen telah gagal menuntun umat manusia menjalani kehidupan. Kegagalan Yahudi disebabkan terlalu mementingkan legalita kehidupan duniawi. Sedangkan kegagalan Kristen adalah dalam memberikan nilai-nilai kepada pemeliharaan Negara, undangundang dan organisasi disebabkan terlalu mementingkan segi ibadah ritual. Dalam kegagalan kedua agama tersebut menurut Iqbal Al-Quran berada ditengah-tengah dan sama-sama mengajarkan keseimbangan kedua kehidupan tersebut, tanpa mebeda-bedakannya. Baginya antara politik pemerintahan dan agama tidak ada pemisahan sama sekali. Inilah yang dikembangkannya dalam merumuskan ide berdirinya Negara Pakistan yang memisahkan diri dari India yang mayoritas Hindu.[24] Satu segi mengenai al-Qur'an yang patut dicatat adalah bahwa ia sangat menekankan pada aspek Hakikat yang bisa diamati. Tujuan al-Qur'an dalam pengamatan reflektif atas alam ini adalah untuk membangkitkan kesadaran pada manusia tentang alam yang dipandang sebagai sebuah symbol.[25] Iqbal menyatakan hal ini seraya menyitir beberapa ayat, diantaranya: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui". (Qs. 30:22) 3.2.2. Pendapat tentang Al-Hadits

Iqbal memandang bahwa umat Islam perlu melakukan studi mendalam terhadap literatur hadist dengan berpedoman langsung kepada Nabi sendiri selaku orang yang mempunyai otoritas untuk menafsirkan wahyunya. Hal ini sangat besar faedahnya dalam memahami nilai-nilai hidup dari prinsip-prinsip hukum Islam sebagaimana yang dikemukakan al-Quran. Iqbal sepakat dengan pendapat Syah Waliyullah tentang hadits, yaitu cara Nabi dalam menyampaikan dakwah Islam dengan memperhatikan kebiasaan, cara-cara dan keganjilan yang dihadapinya ketika itu. Selain itu juga Nabi sangat memperhatikan sekali adat istiadat penduduk setempat. Dalam penyampaiannya Nabi lebih menekankan pada prinsip-prinsip dasar kehidupan social bagi seluruh

umat manusia, tanpa terkait oleh ruang dan waktu. Jadi peraturan-peraturan tersebut khusus untuk umat yang dihadapi Nabi. Untuk generasi selanjutnya, pelaksanaannya mengacu pada prinsip kemaslahatan, dari pandangan ini Iqbal menganggap wajar saja kalau Abu Hanifah lebih banyak mempergunakan konsep istihsan dari pada hadits yang masih meragukan kualitasnya. Ini bukan berarti hadits-hadits pada zamannya belum dikumpulkan, karena Abu Malik dan Az-Zuhri telah membuat koleksi hadits tiga puluh tahun sebelum Abu Hanifah wafat. Sikap ini diambil Abu Hanifah karena ia memandang tujuan-tujuan universal hadits daripada koleksi belaka.[26]

3.2.3. Pandangannya Tentang Ijtihad

Menurut Iqbal ijtihad adalah Exert with view to form an independent judgment on legal question (bersungguh-sungguh dalam membentuk suatu keputusan yang bebas untuk menjawab permasalahan hukum). Kalau dipandang baik hadits maupun Al-Quran memang ada rekomendasi tentang ijtihad tersebut. Disamping ijtihad pribadi hukum Islam juga memberi rekomendasi keberlakuan ijtihad kolektif. Ijtihad inilah yang selama berabad-abad dikembangkan dan dimodifikasi oleh ahli hukum Islam dalam mengantisipasi setiap permasalahan masyarakat yang muncul. Sehingga melahirkan aneka ragam pendapat (mazhab). Sebagaimana mayoritas ulama, Iqbal membagi ijtihad kedalam tiga tingkatan yaitu[27]: 1. Otoritas penuh dalam menentukan perundang-undangan yang secara praktis hanya terbatas pada pendiri mazhab-mazhab saja. 2. Otoritas relative yang hanya dilakukan dalam batas-batas tertentu dari satu madzhab 3. Otoritas khusus yang berhubungan dengan penetapan hukum dalam kasus-kasus tertentu, dengan tidak terkait pada ketentuan-ketentuan pendiri madzhab.

Iqbal menggaris bawahi pada derajat yang pertama saja. Menurut Iqbal, kemungkinan derajat ijtihad ini memang disepakati diterima oleh ulama ahl-alsunnah tetapi dalam kenyataannya dipungkiri sendiri sejak berdirinya mazhabmazhab. Ide ijtihad ini dipagar dengan persyaratan ketat yang hampir tidak mungkun dipenuhi. Sikap ini, lanjut Iqbal, adalah sangat ganjil dalam suatu system hukum Al-Quran yang sangat menghargai pandangan dinamis. Akibatnya ketentuan ketatnya ijtihad ini, menjadikan hukum Islam selama lima ratus tahun mengalami stagnasi dan tidak mampu berkembang[28]. Ijtihad yang

menjadi konsep dinamis hukum Islam hanya tinggal sebuah teori-teori mati yang tidak berfungsi dan menjadi kajian-kajian masa lalu saja. Demikian juga ijma hanya menjadi mimpi untuk mengumpulkan ulama, apalagi dalam konsepnya satu saja ulama yang tidak setuju maka batallah keberlakuan ijma tersebut, hal ini dikarenakan kondisi semakin meluasnya daerah Islam. Akhirnya kedua konsep ini hanya tinggal teori saja, konsekwensinya, hukum Islam pun statis tidak berkembang selama beberapa abad. IV. Penutup

Iqbal adalah seorang intelektualis asal Pakistan telah melahirkan pemikiran dan peradaban besar bagi generasi setelahnya . Iqbal merupakan sosok pemikir multi disiplin. Ia adalah seorang sastrawan, negarawan, ahli hukum, filosof, pendidik dan kritikus seni. Menilai kepiawaiannya yang multidisiplin itu, pak Natsir mengatakan "tentulah sukar bagi kita untuk melukiskan tiap-tiap aspek kepribadian Iqbal. Jiwanya yang piawai tidak saja menakjubkan tetapi juga jarang ditemui".[29] Islam sebagai way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia, ditantang untuk bisa mengantisipasi dan mengarahkan gerak perubahan tersebut agar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hukum Islam dihadapkan kepada masalah signifikan, yaitu sanggupkah hukum islam memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam mengantisipasi gerak perubahan ini? Dengan tepat Iqbal menjawab bisa kalau umat Islam memahami hukum Islam seperti cara berfikir Umar bin Khattab. Akhirnya, tidaklah lengkap rasanya menulis tentang Iqbal tanpa menutupnya dengan salah satu syair[30]nya berikut ini: Apakah kamu berada dalam tingkat "kehidupan", "kematian", atau "kematian dalam kehidupan"? Memanggil tiga saksi untuk memberitahu dimana tempat "perhentianmu". Saksi pertama adalah kesadaran batinmu sendiriLihat dirimu sendiri dengan cahayamu sendiri. Saksi kedua adalah kesadaran ego yang lainLihat dirimu, lalu sinar ego yang lain daripada milikmu

Saksi ketiga adalah kesadaran TuhanLihat dirimu, lalu dengan cahaya Tuhan, Jika kamu berdiri tidak bergerak di depan cahaya ini, Anggaplah dirimu sendiri seperti hidup dan abadi layaknya Tuhan! Bahwa manusia sendiri adalah sejati yang beraniBerani untuk melihat Tuhan berhadapan muka! Apakah "Mi'raj"? Hanya pencarian seorang saksi Yang akhirnya dapat menegaskan realitasmuSeorang saksi yang dengan kesaksiannya membuatmu abadi. Tak seorangpun dapat berdiri tanpa bergerak oleh keberadaannya; Dan dia yang dapat, sesungguhnya, dia emas murni. Apakah engkau hanya butiran debu semata? Ketatkan simpul egomu; Dan pegang cepat makhlukmu yang kecil! Betapa cemerlangnya memancarkan ego kita Dan menguji kilauan ini dari keberadaan Matahari! Bersihkan ragamu yang lama; Dan membangun makhluk baru. Suatu makhluk yang sesungguhnya; Atau egomu hanyalah gumpalan asap semata![31]

"Wallahu A'lam Bish-Shawab"

Referensi 1. Al-Qur'an Terjemah, Depag RI. Penerbit Al-Huda (Kelompok GIP), Depok, tahun 2005 2. Ali, Mukti A, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung, Mizan 1998, Cet. III 3. Asad, Muhammad, Asas-asas Negara dan Pemerintahan dalam Islam (terj. Muhammad Radjab), Jakarta, Granada, cet. 1, th. 1427 H 4. Azra, Azyumardi dan Syafii Maarif, Ensiklopedi Tokoh Islam dari Abu Bakr sampai Natsir dan Qardhawi. Bandung, Mizan, tahun 2003 5. Enver, Ishrat Hasan, Metafisika Iqbal, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cet. 1, th. 2004 6. Glase, Cyril, Ensiklopedi Islam,Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, cet.3 tahun 2002 7. Gunadi, R.A dan M Shoelhi, Khzanah Ornag Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol Jakarta : Republika : 2002 8. Gwinn, Robert P. (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15 9. Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta, Wedatama Widya Sastra, th. 2003 10. Hilmi, Musthafa Muhammad, Manhaj 'Ulama' al-Hadits wa as-Sunnah Fii Ushuul ad-Diin, Kairo, Daar Ibn Jauzi, Cet. 1, th. 2005 11. http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 disadur pada

12. Iqbal, Muhammad. Tajdiid At-Tafkiir Ad-Diinii Fii al-Islam, Kairo, cet. 2, th. 1968 13. Iqbal, Muhammad. Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, Jogjakarta, Penerbit Lazuardi, cet. 1, tahun 2002. 14. Mohammad, Herry (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,Jakarta, Gema Insani, cet.1, th. 2006 15. Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, th. 2003, cet. XIV, hal 185 16. Natsir, Mohammad Kapita Selekta 2, Jakarta, PT Abadi dan Yayasan Kapita

Selekta, cet. 2 , th. 2008 17. Pringgodigdo, A.G., Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, tahun 1977 18. Saefuddin, Didin. Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, th. 200 19. Sani, Abdul, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, cet. 1, th. 1998 20. Smith, W.C. Modern Islam in India (Lahore : Ashraf, 1963)

[1] M. Natsir, Kapita Selekta 2, Jakarta, PT Abadi dan Yayasan Kapita Selekta, cet. 2 , th. 2008, hal. 138-139 [2] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20,Jakarta, Gema Insani, cet.1, th. 2006, hal.237 [3] H.A Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung, Mizan 1998, Cet. III hal.174. Lihat juga: Azzumardi Azra dan Syafii Maarif dalam Ensiklopedi Tokoh Islam, hal 256. Lihat juga: Musthafa Muhammad Hilmi, Manhaj 'Ulama' al-Hadits wa as-Sunnah Fii Ushuul ad-Diin, Kairo, Daar Ibn Jauzi, Cet. 1, th. 2005 hal. 334. Lihat juga: Ensiklopedi Umum, Penerbit Yayasan Kanisius, tahun 1977, hal. 473 [4] Herry Mohammad (dkk), Tokoh-Tokoh Islam Yang Berpengaruh Abad 20, hal.237 [5] Ensiklopedi Umum, hal. 473 [6] Ishrat Hasan Enver, Metafisika Iqbal, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cet. 1, th. 2004, hal. 128, Lihat juga: RA. Gunadi, M. Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, Dari Penakluk Jerusalem Hingga Angkonol, hal. 162. Lihat juga: Robert Gwinn (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, The Univercity Of Chicago, Volume 6, Cet. 15, hal. 373. Lihat juga: Hawasi, Eksistensialisme Mohammad Iqbal, Jakarta, Wedatama Widya Sastra, th. 2003, hal. 8-9 [7] Ia adalah Ahmad bin Abdurrahim bin Wajiduddin bin Mu'azzam bin Ahmad bin Muhammad bin Qawanuddin al-Dahlan. Ia lahir di Kota dekat Delhi pada tanggal 21 Pebruari 1703 M/ 4 Syawal 1114 H dan wafat pada tanggal 29

Muharram 1176 H/ 10 gustus 1762 dalam usia 61 tahun. Karya tulisnya yang monumental adalah Hujjatullah al-Balighah. (Ensiklopedi Islam, hal. 185) [8] Ia adalah seorang penulis, pemikir dan aktivis politik modernis Islam India. Lahir di Delhi tahun 1817 M. Dimasa pemberontakan tahun 1857 ia berusaha mencegah kekerasan yang karenanya banyak orang-orang Inggris tertolong dari pembunuhan. Karena jasanya itu Inggris memberikan gelar kepadanya dengan sebutan Sir. Selanjutnya ia menggunakan kesempatan itu untuk menjalin hubungan baik dengan Inggris tapi semata-mata untuk kepentingan umat Islam India, karena baginya dengan jalan itulah umat Islam dapat tertolong. Dan akhirnya setelah kejadian tahun 1857 itu ia menjalankan tiga proyek besar yaitu: memprakarsai dialog untuk menciptakan saling pegertian antara kaum muslim dan Kristen, mendirikan organisasi ilmiah yang membantu kaum muslim untuk memahami kunci keberhasilan Barat dan menganalisis secara objektif penyebab pemberontakan 1857. (Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, th. 2003, hal. 36-7). Ia mewujudkan cita-citanya meninggikan kaum Muslimin India dengan mendirikan perguruan Islam dengan nama Anglo Oriental College yang selanjutnya berkembang menjadi Universitas Muslim Aligarh di Aligarh tempat kaum terpelajar Islam di India pada tahun 1920. (Ensiklopedi Umum, hal. 25) [9] Imperium Inggris (British Empire) pada puncak kejayaannya akhir abad ke19 dan awal abad 20 merupakan kerajaan yang terbesar diseluruh dunia. Koloni yang pertama adalah New-Foundland (1583). Dasar-dasar kerajaan diletakkan pada permulaan abad ke-17 dengan mendirikan British East India Company. (Ensiklopedi Umum, hal. 446) [10] Didin Saefuddin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, Jakarta, Grasindo, th. 2003, hal. 51 [11] Enver, Metafisika Iqbal, hal. V [12] Didin, Pemikiran Modern Dan Postmodern Islam, hal. 44 [13] Gunadi & Shoelhi, Khazanah Orang Besar Islam, 163 [14] Robert Gwinn (Et.al), The New Encyclopaedia Britannica, hal. 373 [15] Mohammad Ali Jinnah (1876-1948), adalah pendiri Negara Pakistan. Lahir di Pakistan tanggal 26 Desember 1876 dari seorang pedagang terkemuka. Pada usia 16 tahun ia ke Inggris mengikuti pelajaran di Lincoln's Institute di London. Duduk dalam Dewan Legislatif Tertinggi di india (1909-1916). Ia mula-mula menyokong Partai Kongres dan menganjurkan persatuan Hindu-Islam, tetapi sesudah 1934 (setelah menguasai Liga Muslim maka ia melancarkan ide Negara Pakistan terpisah dari India yang akan terdiri dari daerah-daerah mayoritas

muslimin di Punjab, daerah perbatasan Baratdaya, Baluchistan, Sind sebelah barat dan Benggala sebelah timur (Resolusi Liga Muslimin 1940). Membantu Inggris dalam perang dunia kedua. Berhasil mendesak Congress untuk menerima pembagian India (1947). Gubernur Jenderal Dominium Pakistan yang pertama. (Ensiklopedi Umum, hal. 446/ Robert Gwinn, The New Encyclopaedia Britannica, hal. 555) [16] Abdul Sani, Lintasan Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern Dalam Islam, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, cet. 1, th. 1998, hal. 168-170 [17] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, th. 2003, cet. XIV, hal 186 [18] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 disadur pada

[19] Nama asalnya adalah Leopold Weiss, lahir di kota Livow (Austria) pada tahun 1900 dan wafat tahun 1992. Pada umur 22 tahun ia mengunjungi Timur Tengah dan selanjutnya menjadi wartawan luar negeri dari harian Frankfurter Zeitung. Pada tahun 1926 ia memeluk Islam dan beberapa tahun mempelajari Islam. Setelah itu ia bekerja di berbagai dunia Islam dari Afrika Utara sampai Afghanistan di bagian Timur. Ia termasuk intelektual muslim terkemuka abad 20. Karya-karyanya antara lain: Islam in the Cross Roads (Islam di Persimpangan Jalan), Road to Mecca (Jalan ke Mekah) dan The Principles of States and Government in Islam (Asas-asa Negara dan Pemerintahan dalam Islam, serta sebuah kitab tafsir dengan nama The Message of the Qur'an. (Muhammad Asad, Asas-asas Negara dan Pemerintahan dalam Islam (terj. Muhammad Radjab), Jakarta, Granada, cet. 1, th. 1427 H, halaman sampul. [20] Harun, Pembaharuan dalam Islam, hal 185 dan W.C. Smith, Modern Islam in India (Lahore : Ashraf, 1963) hal. 111 [21] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 [22] Natsir, Kapita Selecta, hal. 147 [23] Harun, Pembaharuan Dalam Islam,hal. 185 [24] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 disadur pada disadur pada

[25] Muhammad Iqbal, Tajdiid At-Tafkiir Ad-Diinii Fii al-Islam, Kairo, cet. 2, th. 1968, hal. 20-21

[26] http://tghrib.ir/melayu/?pgid=69&scid=156&dcid=38329, tanggal 18 November 2008 [27] Iqbal, Tajdiid At-Tafkiir Ad-Diinii Fii al-Islam, hal. 171 [28] Harun, Pembaharuan dalam Islam, hal. 184 [29] Natsir, Kapita Selecta, hal. 146

disadur

pada

[30] Syair ialah bentuk puisi lama Indonesia: satu bait biasanya terdiri atas empat baris seperti pantun, tetapi keempat barisnya bersajak sama. Perbedaan lain daripada pantun ialah: pantun terdiri atas empat baris dan sudah merupakan kesatuan pikiran, sedangkan syair belum. Syair bias berisikan kisah, ceritera, soal agama, sejarah atau ceritera suatu peristiwa. (Ensiklopedi Umum, hal. 1068) [31] Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam, Jogjakarta, Penerbit Lazuardi, cet. 1, th. 2002, hal. 280-281. PEMIKIRAN PERADABAN ISLAM MASA MODERN ( 1800 - SEKARANG ) 1. Masa Pembebasan dari Kolonial Barat Dunia Islam abad XX ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setelah kekuatan Eropa mendominasi mereka. Eropa bisa menjajah karena keberhasilannya dalam menerapkan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengelola berbagai lembaga pemerintahan. Negeri-negeri Islam menjadi jajahan Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan. Terjadinya penetrasi kolonial Barat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Disatu sisi kekuatan militer dan politik negara - negara muslim menurun, perekonomian mereka merosot sebagai akibat monopoli perdagangan antara timur dan barat tidak lagi ditangan mereka. Disamping itu pengetahuan di dunia muslim dalam kondisi stagnasi. Tarekat-tarekat diliputi oleh suasana khurafat dan supertisi. Umat Islam dipengaruhi oleh sikap fatalistik1. Pada sisi yang lain, Eropa dalam waktu yang sama menggunakan metode berpikir rasional, dan disana tumbuh kelompok intelektual yang melepaskan diri dari ikatan-ikatan Gereja; Barat memasuki abad renaisanse. Sementara dalam bidang ekonomi dan perdagangan mereka telah mengalami kemajuan pesat dengan ditemukannya Tanjung Harapan sebagai jalur perdagangan maritim langsung ke Timur, demikian pula penemuan benua Amerika. Dengan dua temuan ini Eropa memperoleh kemajuan dalam dunia perdagangan karena tidak bergantung lagi kepada jalur lama yang dikuasai Islam.

Pada permulaan abad ini tumbuh kesadaran nasionalisme hampir disemua negeri muslim yang menghasilkan pembentukan negara-negara nasional. Tetapi persoalan mendasar yang dihadapi adalah keterbelakangan umat Islam, terutama menyangkut kemampuan menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat paling penting dalam mempertahankan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tanpa mengenyampingkan agama, politik dan ekonomi. Upaya kearah itu tidak lepas dari pembaharuan pemikiran yang dapat mengantarkan Islam terlepas dari cengkraman kolonialisme Barat. a. Dunia Islam Abad XX Keunggulan - keunggulan Barat dalam bidang industri, teknologi, tatanan politik, dan militer tidak hanya menghancurkan pemerintahan negara-negara muslim yang ada pada waktu itu, tetapi lebih jauh dari itu, mereka bahkan menjajah negara negara muslim yang ditaklukkannya, sehingga pada penghujung abad XIX hampir tidak satu negeri muslim pun yang tidak tersentuh penetrasi kolonial Barat. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 1798 M, Napoleon Bonaparte menduduki Mesir. Walaupun pendudukan Perancis itu berakhir dalam tiga tahun, mereka dikalahkan oleh kekuatan Angkatan Laut Inggris, bukan oleh perlawanan masyarakat muslim. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan Mesir salah satu pusat Islam untuk menghadapi kekuatan Barat. Sejak Napoleon menduduki Mesir, umat Islam mulai merasakan dan sadar akan kelemahan dan kemundurannya, sementara mereka juga merasa kaget dengan kemajuan yang telah dicapai Barat. Gelombang ekspansi Barat ke negaranegara muslim yang tidak dapat dibendung itu memaksa para pemuka Islam untuk mulai berpikir guna merebut kembali kemerdekaan yang dirampas. Salah seorang tokoh yang pikirannya banyak mengilhami gerakan - gerakan kemerdekaan adalah Sayyed Jamaluddin Al Afghani. Ia dilahirkan pada tahun 1839 di Afghanistan dan meninggal di Istambul 18973. Pemikiran dan pergerakan yang dipelopori Afghani ini disebut Pan-Islamisme, yang dalam pengertian luas berarti solidaritas antara seluruh umat muslim di dunia internasional. Tema perjuangan yang terus menerus dikobarkan oleh Afghani dalam kesempatan apa saja adalah semangat melawankolonialisme dengan berpegang kepada tematema ajaran Islam sebagaistimulasinya. Murtadha Muthahhari menjelaskan bahwa diskursus tema-tema itu antara lain diseputar: Perjuangan melawan absolutisme para penguasa;Melengkapi sains dan teknologi modern; Kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya; Iman dan keyakinan aqidah; Perjuangan melawan kolonial asing; Persatuan Islam; Menginfuskan semangat perjuangan dan perlawanan kedalam tubuh masyarakat Islam yang sudah separo mati; dan Perjuangan melawan ketakutan terhadap Barat4. Disamping Afghani, terdapat dua orang ahli pikir Arab lainnya yang telah mempengaruhi hampir semua pemikiran politik Islam pada masa berikutnya. Dua

pemikir itu adalah Muhammad Abduh(1849-1905) dan Rasyid Ridha(1865-1935). Mereka sangat dipengaruhi oleh gagasan-gagasan guru mereka yakni Afghani, dan berkat mereka berdualah pengaruh Afghani diteruskan untuk mempengaruhi perkembangan nasionalisme Mesir. Seperti halnya Afghani dan Abduh, Ridha percaya bahwa Islam bersifat politis, sosial dan spiritual. Untuk membangkitkan sifat-sifat tersebut, umat Islam mesti kembali kepada Islam yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi dan para sahabatnya atau para salafiah. Untuk menyebarkan gagasan - gagasannya ini Ridha menuangkannya dalam bingkai tulisan - tulisan yang terakumulasi dalam majalah Al Manar yang dipimpinnya. Di daratan Eropa, Syakib Arsalan selalu memotori gerakan gerakan guna kemerdekaan Arab. Misi Arsalan adalah menginternasionalkan berbagai masalah pokok yang dihadapi negara-negara muslim Arab yang berasal dari kekuasaannegara-negara Barat; dan menggalang pendapat seluruh orang Islam Arab sehingga membentuk berdasarkan ikatan keIslaman, mereka dapat memperoleh kemerdekaan dan memperbaiki tata kehidupan sosial yang lebih baik5. Sementara pimpinan masyarakat Druze dan pembesar Usmaniyah yang mengasingkan diri ke Eropa setelah Istambul diduduki Inggris ini menyebarluaskan propagandanya melalui berbagai penerbitan berkala, diantarannya melalui jurnal La Nation Arabe yang dicetak di Annemasse Prancis. Meskipun pada awalnya Arsalan mengambil alih konsep - konsep PanIslamismenya Afghani karena merasakan perlunaya pemabaharuan dalam masyarakat, namun dalam praktiknya, ia lebih menitikberatkan perjuanggannya pada Pan - Arabisme. Gerakan perjuangan yang dilakukan oleh para tokoh tersebut, walaupun belum mencapai hasil yang diinginkan yakni kemerdekaan, namun gema pemikiran Islam mereka sangat mewarnai era generasi selanjutnya, untuk membebaskan negerinya dari penetrasi kolonial Barat. b. Pembebasan Diri dari Kolonial Barat Gerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh umat Islam selalu kandas ketika berhadapan dengan kolonialis Barat, tentu saja, karena teknologi dan militer mereka jauh lebih maju dari yang dimiliki umat Islam. Menurut Afghani, untuk menanggapi tantangan Barat, umat Islam harus mempelajari contoh - contoh darinya. Tentu saja tidak semua komunitas Islam sependapat dengan yang dimaksud belajar atau berguru kepada Barat. Para ulama tradisional tetap mempertahankan corak non-koperatifnya, sementara putra - putra negeri jajahan gelombang demi gelombang belajar kepada penjajah atau di sekolah-sekolah yang sengaja diadakan di negeri jajahannya. Dengan demikian, terdapat dua kelompok pejuang kemerdekaan dengan basisnya masing-masing, ada yang sifatnya nonkoperatif yang basisnya lembaga - lembaga pendidikan agama - di Indonesia pesantren, sedang di Asia Tengah dan Barat serta

Afrika basisnya pada kelompok - kelompok tarekat-dan yang bercorak kooperatif yaitu pakar terpelajar dengan pendidikan Barat. Pada pertengahan pertama abad XX terjadi perang dunia kedua yang melibatkan seluruh negara kolonialis. Seluruh daratan Eropa dilanda peperangan, disamping Amerika, Rusia dan Jepang. Kecamuk perang ini disatu sisi melibatkan Jepang, Hitler dengan Nazi Jermannya, dan Mussolini dengan Fasis Italianya, dan disisi lain terdapat Inggris, Perancis, dan Amerika yang bersekutu, serta Rusia. Konsekuensi atas terjadinya peperangan ini adalah terpusatnya konsentrasi kekuatan militer di kubu masing-masing negara, baik untuk keperluan ofensif maupun defensif. Pengkonsentrasian kekuatan militer tersebut mengakibatkan ditarik dan berkurangnya kekuatan militer kolonialis dinegeri-negeri jajahan mereka. Dalam pada itu, negara muslim tidak terlibat langsung dalam perang dunia keduasehingga pemikiran mereka waktu itu terkonsentrasi pada perjuangan untuk kemerdekaan negerinya masing-masing, dan kondisi dunia yang berkembang pada saat itu memungkinkan tercapainya cita-cita luhur tersebut. Mulai saat itu negara negara muslim yang terjajah memproklamirkan kemerdekaannya. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam pada umumnya yang dikenal dengan gerakan pembaharuan didorong oleh dua faktor yang saling mendukung, yaitu pemurnian ajaran Islam dari unsur-unsur asing yang dipandang sebagai penyebab kemunduran Islam, dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Barat. Gerakan pembaharuan itu dengan segera juga memasuki dunia politik, karena Islam memandang tidak bisa dipisahkan dengan politik. Gagasan politik yang pertama kali muncul adalah gagasan Pan - Islamisme yang mula-mula didengungkan oleh gerakan Wahabiyah dan Sanusiah. Namun, gagasan ini baru disuarakan dengan lantang oleh tokoh pemikir Islam terkenal, Jamaluddin Al Afghani [1839-1897 M]. Jika di Mesir bangkit dengan nasionalismenya, dibagian negeri Arab lainnya lahir gagasan nasionalisme Arab yang segera menyebar dan mendapat sambutan hangat, sehingga nasionalisme itu terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Demikianlah yang terjadi di Mesir, Syria, Libanon, Palestina, Irak, Hijaz, Afrika Utara, Bahrein, dan Kuweit. Di India, sebagaimana di Turki dan Mesir gagasan Pan - Islamisme yang dikenal dengan gerakan Khilafat juga mendapat pengikut, pelopornya adalah Syed Amir Ali ( 1848 - 1928 M ). Gagasan itu tidak mampu bertahan lama, karena terbukti dengan ditinggalkannya gagasan-gagasan tersebut oleh sebagian besar tokoh-tokoh Islam. Maka, umat Islam di anak benua India ini tidak menganut nasionalisme, tetapi Islamisme yang dalam masyarakat India dikenal dengan nama komunalisme. Sementara di Indonesia, partai politik besar yang menentang penjajahan adalah Sarekat Islam [SI], didirikan pada tahun 1912 dibawah pimpinan HOS

Tjokroaminoto. Partai ini merupakan kelajutan dari Sarekat Dagang Islam [SDI] yang didirikan oleh H. Samanhudi pada tahun 1911. Tidak lama kemudian, partaipartai politik lainnya berdiri seperti Partai Nasional Indonesia [PNI] didirikan oleh Soekarno, Pendidikan Nasional Indonesia [PNIBaru], didirikan oleh Muhammad Hatta [1931], Persatuan Muslimin Indonesia [PERMI] yang baru menjadi partai politik pada tahun 1932, dipelopori oleh Mukhtamar Luthfi8. Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan modal utama umat Islam dalam perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka yang bebas dari pengaruh politik Barat, dalam kenyataannya, memang partai-partai itulah yang berjuang melepaskan diri dari kekuasaan penjajah. Perjuangan mereka biasanya teraplikasi dalam beberapa bentuk kegiatan, seperti gerakan politik, baik dalam bentuk diplomasi maupun dalam bentuk pendidikan dan propaganda yang tujuannya adalah mempersiapkan masyarakat untuk menyambut dan mengisi kemerdekaan.Adapun negara berpenduduk mayoritas muslim yang pertama kali berhasil memproklamasikan kemerdekaannya adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia merdeka dari pendudukan Jepang setelah Jepang dikalahkan oleh tentara sekutu. Akan tetapi, rakyat Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya itu dengan perjuangan bersenjata selama lima tahun berturut-turut karena Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berusaha menguasai kembali kepulauan ini. Negara muslim kedua yang merdeka dari penjajahan adalah Pakistan, yaitu tanggal 15 Agustus 1947 ketika Inggris menyerahkan kedaulatannya di India kepada dua Dewan Konstitusi, satu untuk India dan lainnya untuk Pakistan-waktu itu terdiri dari Pakistan dan Bangladesh sekarang-. Di Timur Tengah, Mesir misalnya, secara resmi memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1922. akan tetapi, pada saat kendali pemerintahan dipegang oleh Raja Farouk pengaruh Inggris sangat besar. Baru pada waktu pemerintahan Jamal Abd al Nasser yang menggulingkan raja Farouk 23 Juli 1952, Mesir menganggap dirinya benar - benar merdeka. Mirip dengan Mesir, Irak merdeka secara formal pada tahun 1932, tetapi rakyatnya baru merasakan benar-benar merdeka pada tahun 1958. sebelum itu, negara-negara sekitar Irak telah mengumumkan kemerdekaannya seperti Syria, Yordania, dan Libanon pada tahun 1946. Di Afrika, Libya merdeka pada tahun 1951 M, Sudan dan Maroko tahun 1956 M, serta Aljazair merdeka pada tahun 1962 M yang kesemuanya itu membebaskan diri dari Perancis. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Yaman Utara dan Yaman Selatan, serta Emirat Arab memperoleh kemerdekaannya pula. Di Asia Tenggara, Malaysia yang waktu itu merupakan bagian dari Singapura mendapat kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1957, dan Brunei Darussalam baru pada tahun 1984 M9. Demikianlah satu persatu negara-negara muslim memerdekakan dirinya dari penjajahan. Bahkan beberapa diantaranya baru mendapat kemerdekaan pada

tahun-tahun terakhir, seperti negara-negara muslim yang dahulunya bersatu dalam Uni Soviet, yaitu Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Azerbaijan baru merdeka pada tahun 1992, serta Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia pada tahun 199210. Namun, sampai saat ini masih ada umat muslim yang berharap mendapatkan otonomi sendiri, atau paling tidak menjadi penguasa atas masyarakat mereka sendiri. Mereka itu adalah penduduk minoritas muslim dalam negara-negara nasional, misalnya Kasymir di India dan Moro di Filipina. Alasan mereka menuntut kebebasan dan kemerdekaan itu adalah karena status minoritas seringkali mendapatkan kesulitan dalam memperoleh kesejahteraan hidup dan kebebasan dalam menjalankan ajaran agama mereka.

PEMBAHARUAN DALAM ISLAM


Januari 27, 2010 oleh Wahid Hasyim 1 Votes

BAB I PENDAHULUAN Sumber ajaran Islam adalah al Quran dan hadis. Keduanya lalu ditafsirkan, tafsir itu merupakan hasil pemikiran mufasir. Pemikiran itulah sebenarnya yang membentuk sikap dan perilaku kaum muslimin. Tatkala suatu pemikiran dimunculkan dan dianggap sesuai dengan keadaan zaman, pemikiran tersebut diterima oleh masyarakat Islam masa itu. Tetapi lama kelamaan situasi berubah. Pemikiran tadi adakalanya tidak sesuai lagi dengan keadaan yang baru. Maka para pemikir memikirkan kembali hasil pemikiran lama untuk disesuaikan dengan keadaan baru. Tatkala pemikiran ulang itu dilakukan dan disesuaikan dengan zaman modern, hasil pemikiran itu disebut modernisasi pemikiran Islam. Pembaruan dalam Islam dilakukan berdasarkan pemikiran baru tersebut. Jadi, pada hakikatnya, istilah pembaharuan atau modernisasi itu sama saja, yaitu penerapan pemikiran modern dalam memajukan Islam dan umat Islam. Kondisi zaman modern ditandai oleh penggunaan rasio dalam kehidupan. Karena itu, pada dasarnya, pembaharuan atau modernisasi dalam Islam identik dengan rasionalisasi. Pemikiran rasional dalam Islam dipengaruhi oleh persepsi tentang tingginya kedudukan akal dalam Islam. Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani yang sudah masuk ke dunia Islam. Tetapi, jika pemikiran rasional Islam itu bersifat religius, maka pemikiran rasional Yunani bercorak sekuler.

Untuk memahami pemikiran modern dalam Islam, sebaiknya lebih dahulu diketahui garis besar sejarah umat Islam sejak awal sampai zaman modern. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian pembaharuan Pembaharuan yang dimaksud disini adalah pembaharuan yang kata padanannya dalam bahasa Arab ialah tajdid, bukan bidah, ibda atau ibtida. Sebab, meskipun kata-kata ini juga mengandung makna kebaruan, pembaharuan ataupun pembuatan hal baru, konotasinya negative karena secara semantic mengandung arti pembuatan hal baru dalam agama. Secara kebahasaan sebetulnya kata-kata bidah dan tasyrifnya mempunyai arti kreativitas atau daya cipta. Maka dalam al Quran pun Tuhan disebutkan sebagai al-Badi, Maha Kreatif atau Maha berdaya cipta (QS. 2:59 dan 6:101). Dan jika Nabi SAW bersabda agar kita berbudi dengan mencontoh budi Tuhan, maka kreativitas atau daya cipta adalah hal yang sangat terpuji. Namun sudah dikatakan, tentu saja yang terpuji itu bukanlah kreativitas atau daya cipta dalam hal agama itu sendiri, seperti kreativitas dan daya cipta dalam masalah ibadah murni. Maka sama sekali tidak dapat dibenarkan, misalnya, menambah jumlah rakaat dalam shalat atau memasukkan sesuatu yang sebenarnya hanya budaya belaka menjadi bagian dari agama murni. Maka kreativitas atau daya cipta dalam hal keagamaan murni (bukan dalam hal budaya keagamaan) sama dengan tindakan mengambil wewenang Allah SWT dan Rasul-Nya. Ini suatu perbuatan yang sesungguhnya tidak mungkin, sehingga yang memaksa melakukannya juga, menurut sabda Nabi SAW adalah sesat.[1] B. Pemikiran Islam Sebelum Periode Modern Pada periode pertengahan, telah muncul pemikiran dan usaha pembaharuan Islam dikerajaan Usmani di Turki. Akan tetapi usaha itu gagal karena ditentang golongan militer dan ulama. Pada abad ke-17, kerajaan Usmani mulai mengalami kekalahan dalam peperangan dengan Negara Eropa. Kekalahan itu mendorong raja dan pemuka kerajaan Usmani untuk menyelidiki sebab-sebabnya. Kemudian diketahui bahwa penyebabnya adalah ketertinggalan mereka dalam teknologi militer. Mereka selidiki pula rahasia keunggulan Barat. Mereka temukan bahwa rahasianya adalah karena Barat memiliki sains dan teknologi tinggi yang diterapkan dalam kemiliteran. Karena itulah, pada 1720, kerajaan Usmani mengangkat Celebi Mehmed sebagai utusan kerajaan untuk Perancis. Dia bertugas mempelajari benteng-benteng pertahanan, pabrik-pabrik, serta institusi-institusi Perancis lainnya. Laporan Celebi Mehmed tertuang dalam bukunya, seferetname. Berdasarkan laporan itu, diupayakanlah pembaharuan di Kerajaan Usmani.

Usaha pembaharuan itu mendapat tantangan. Tantangan pertama datang dari tentara tetap yang disebut Janissary. Janissary mempunyai hubungan erat dengan Tarekat Bektasyi yang berpengaruh besar dalam masyarakat. Tantangan kedua datang dari pihak ulama. Ide-ide baru yang didatangkan dari Eropa itu dianggap bertentangan dengan paham tradisional yang dianut masyarakat Islam ketika itu. Karena itu, usaha pembaharuan pertama di Kerajaan Usmani tidak berhasil seperti yang diharapkan. Di India, sebelum periode modernisasi, muncul juga ide dan usaha pembaharuan. Pada awal abad ke-18, kesultanan mogul memasuki zaman kemunduran. Perang saudara untuk merebut kekuasaan sering terjadi. Golongan hindu yang merupakan mayoritas, ingin melepaskan diri dari kekuasaan mogul. Selain itu, inggris juga telah mulai memperbesar usahanya untuk memperoleh daerah kekuasaan di India. Suasana itu menyadarkan para pemimpin Islam India akan kelemahan umat Islam. Salah seorang yang menyadari hal itu ialah Syah Waliyullah (1703-1762) dari Delhi. Ia berpendapat Salah satu penyebab kelemahan umat Islam ialah perubahan system pemerintahan dari system khilafah ke system kerajaan. System pertama bersifat demokratis, sedang system kedua bersifat otokratis. Karena itu system ke Khalifahan seperti pada masa al- Khulafa al-Rasyidun perlu dihidupkan kembali. Di Arab Saudi juga ada usaha pembaharuan sebelum periode modern yang dipelopori oleh Mohammad bin Abdul Wahab (1703-1787). Menurut Wahab, penyebab kelemahan umat Islam saat itu ialah tauhid umat Islam yang tidak lagi murni. Kemurnian tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran tarekat. Tarekat menurut Muhammad bin Abdul Wahab, mengajarkan pemujaan kepada syekh dan wali. Umat Islam menunaikan haji dan meminta pertolongan kekuburan-kuburan syekh dan wali itu. Karenanya, semua hal itu harus diberantas. Ia juga menganjurkan ijtihad. Inti pemikirannya adalah al-Quran dan hadislah sumber ajaran Islam, taqlid kepada ulama tidak dibenarkan dan pintu ijtihad tidak tertutup. Gerakan pembaharuan Islam juga muncul melalui tasawwuf. Gerakan ini disebut neo sufisme, yaitu tasawwuf yang di perbaharui dan tampil dalam bentuk aktifis. Neo sufisme berawal di Afrika Utara melalui tarekat sanusiyah. Sanusiyah adalah cabang Ordo Idrisiyah yang didirikan di Arab Saudi oleh Ahmad Ibnu Idris (w. 1837). Tarekatnya ini dinamakan juga Tariqah Muhammadiyyah. Tujuan tarekat ini ialah memperbaharui moral kaum muslim melalui tindakan politik. Tarekat ini membangun banyak tempat peribadatan. Yang paling penting diantaranya adalah Di Kafra dan Jaghbub. Disana orang tidak hanya diajari agama, tetapi juga dilatih menggunakan senjata dan didorong untuk melibatkan diri dalam usaha professional seperti bertani dan berdagang. Tarekat ini tidak bermaksud untuk menghilangkan ide tradisional tentang kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat itu tetap penting. Ide pembaharuan mereka berada dalam batas pembaharuan moral dan kesejahteraan social. Mereka hanya

melakukan pergeseran dan penekanan, pergeseran inilah yang menandai fenomena pembaharuan sufisme pada periode pra modern.[2] D. Pemikiran Islam Modern[3] 1. Mesir Pemikiran dan pembaharuan Islam di Mesir pada periode modern ditokohi oleh cukup banyak pemikir, antara lain: Muhammad Ali Pasya (1765-1849) yang bermodel reformisme Barat. Dia mempertautkan ekonomi Mesir dengan Eropa. at-Tahtawi (1801-1873) memiliki pandangan bahwa rahasia pertumbuhan Eropa terletak pada pikiran orang-orangnya yang bebas untuk berfikir secara kritis, mengubah kebijakan lama dan menerapkan ilmu dan teknologi modern untuk menyelesaikan masalah.[4] Jamaluddin al-Afgani (1839-1897)yang mencoba menanamkan kembali kepercayaan kepada kekuatan sendiri dengan melepas baju apatis dan putus asa, Muhammad Abduh (1849-1905) yang mengumandangkan panggilan jihad melawan penjajah , dan muridnya Rasyid Ridha (1865-1935) yang membangkitkan ruh jihad dan ijtihad, mengumandangkan kembali kepada Quran dan Sunnah, sebagai satu-satunya jalan untuk keluar dari kelemahan dan kehinaan posisi.[5] Secara garis besar isi pemikiran mereka diantaranya mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, social, dan ekonomi, memberantas tahayul dan bidah yang masuk kedalam ajaran Islam, menghilangkan faham fatalisme yang terdapat dikalangan umat Islam, menghilangkan faham salah yang dibawa oleh tarekat tasawwuf, meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam terhadap permainan politik Negara Barat.[6] 2. Turki Pemikiran dan pembaharuan Islam Turki pada periode modern dipimpin oleh banyak tokoh pemikir, antara lain Sultan Mahmud II (1785-1839), tokoh-tokoh Tanzimat (Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami, Mehmed Sadik Rifat Pasya), tokoh-tokoh pemikir Usmani Muda (Ziya Pasya dan Namik Kemal), para pemikir Turki Muda (Ahmad Riza, Pangeran Sabahuddin, Mehmed Murad), tokoh-tokoh aliran Barat-Islam-Nasionalis dan Mustafa Kemal (1881-1938). Isi pembaharuan tokoh-tokoh pemikir Turki diantaranya memisahkan urusan agama dan urusan dunia, pembaharuan dibidang pemerintahan, pendidikan yaitu pendidikan universal, ekonomi dan politik, juga westernisasi, sekularisasi dan nasionalisme terbatas.[7] 3. India-pakistan Pemikiran modern Islam di India-Pakistan merupakan kelanjutan pemikiran Syah Waliyullah pada abad ke-18. pewaris mughal adalah yang paling dekat dengan bangsa Eropa dalam kaitan dengan hubungan antara struktur administrasi mereka

dan yang pada akhirnya menjadi suatu struktur administrasi kolonial. Pendidikan modern, transportasi dan terutama sekali struktur administrasi distrik diciptakan oleh Inggris pada abad ke-19 ketika mereka menjajah India. Selain itu Isi pembaharuan mereka diantaranya menghilangkan taqlid sekalipun pendapat empat imam besar, melawan penjajahan barat, pembaharuan pendidikan yaitu mementingkan ilmu dan teknologi juga menghargai kebebasan akal, tidak memusatkan pada ibadah dan akherat saja, membuka kembali pintu ijtihad, dan emansipasi wanita.[8] Para penerusnya itu ialah tokoh-tokoh pemikir gerakan Mujahidin (Syah Abdul Aziz dan Sayyid Ahmad Syahid), Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) dengan gerakan Aligarhnya yang mewakili kepentingan elit bahasa Urdu dan bangsawan Muslim di India akhir abad ke-19. retorika gerakan ini berfokus pada reformasi pendidikan.[9] Sayyid Amir Ali (1849-1928), Muhammad Iqbal (1876-1938) yang menawarkan formula baru tentang hubungan Islam dan Negara dalam berbagai dimensi.[10] Ali Jinnah (1876-1948), dan Abu Kalam Azzad (1888-1916).. [11] BAB III PENUTUP A. Simpulan Dari penjelasan diatas dapat disimpilkan, bahwa periode pemikiran pembahruan Islam terbagi menjadi dua, yaitu; periode pra modern dan periode modern. Timbulnya pemikiran pembaharuan lebih disebabkan kekalahan umat Islam dengan Negara Barat, baik militer, ekonomi, pendidikan dan politik. Hal inilah yang membuat para pemikir muslim gerah dan berusaha berfikir dengan menggunakan metode Barat. Pembagian periode pemikiran pembaharuan Islam yang kita bahas pada makalah ini berbeda dengan pembagian periode menurut Fazlur Rahman. Ia membagi periode pemikiran pembaharuan Islam menjadi empat bagian, yaitu; revivalisme pra-modernis, modernisme klasik, neo-revivalisme dan neo-modernisme. B. Daftar Rujukan 1.Abdullah, Taufik [et.al], Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran Dan Peradaban, vol. 4 cet. III (Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005) 2.Cooper, John, Ronald L. Nettler, Mohamed Mahmoud. Pemikiran Islam, cet. I (Jakarta; Erlangga, 2002) 3.Saefuddin, A.M [et.al], Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, cet. IV (Bandung; Mizan, 1998) 4.S. Ahmed, Akbar, Rekonstruksi Sejarah Islam: Ditengah Pluralitas Agama Dan

Peradaban, cet. II (Yogyakarta; Fajar Pustaka Baru, 2003) 5.Irwandar, Dekonstruksi Pemikiran Islam: Idealitas Nilai dan Realitas Empiris, cet. I (Yogyakarta; Ar-Ruzz Media Press, 2003)

[1] Taufik Abdullah [et.al], Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran Dan Peradaban, vol. 4 cet. III (Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005) hal: 9 [2] Ibid, hal: 395 [3] Akbar S. Ahmed, Rekonstruksi Sejarah Islam: Ditengah Pluralitas Agama Dan Peradaban, cet. II (Yogyakarta; Fajar Pustaka Baru, 2003) hal:155 [4] John Cooper, Ronald L. Nettler, Mohamed Mahmo ud. Pemikiran Islam, cet. I (Jakarta; Erlangga, 2002) hal: XV [5] A.M. Saefuddin [et.al], Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, cet. IV (Bandung; Mizan, 1998) hal: 177 [6]Op. cit. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran Dan Peradaban, hal: 397-401 [7] Ibid, hal: 402-406 [8] Op.cit. Rekonstruksi Sejarah Islam: Ditengah Pluralitas Agama Dan Peradaban, hal: 154 [9] Op.cit. Pemikiran Islam, hal: 2 [10] Irwandar, Dekonstruksi Pemikiran Islam: Idealitas Nilai dan Realitas Empiris, cet. I (Yogyakarta; Ar-Ruzz Media Press, 2003) hal: 146 [11]Op.cit. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Pemikiran Dan Peradaban, hal: 407-412

Tokoh Islam di Dunia


Abad XIX - XX

Perjalanan Agama Islam sejak awal sampai kini telah melahirkan banyak tokoh penting di berbagai bidang ilmu. Sejalan dengan pesatnya perkembangan berbagai bidang pada abad XIX-XX, Islam melahirkan sejumlah tokoh, antara lain sebagai berikut. NAMA Abduh, Muhammad Abdul Aziz bin Sa'ud Abdurrahman, Tunku MASA_HIDUP 1849-1905 ASAL Mesir Arab Saudi KETOKOHAN Pemikir, teolog, dan pembaru Islam Raja pertama Arab Saudi Tokoh kemerdekaan Malaysia dan sekjen pertama OKI Ilmuwan muslim pertama peraih Nobel Fisika, pendiri ICTP (International Centre for Theorical Physics) Imam Syiah Ismailiyah, penulis, Aga Khan ketiga) Pembaru Islam Ulama dan hakim syar'I (hakim agama) Pendiri negara Mesir Modern Sosiolog, ahli politik, dan ahli syariat Ulama, mufti, dan pemikir

1880-1953

1903-1990

Malaysia

Abdus Salam

1926-1996

Pakistan

Agha Khan Muhammad Syah al-Hali Ahmad Khan, Sir Sayid Ali Abdul Raziq Ali Pasya, Muhammad Ali Syari'ati Alusi, Syihabudin Ahmad

1877-1957

India

1817-1898

India

1888-1966

Mesir

1765-1849

Mesir

1933-1977

Iran

1802-1854

Irak

Ameer Ali

1849-1928

India

Pembaru, sejarawan, pengacara, dan guru besar hukum Islam Jurnalis, kritikus, dan sastrawan Pemikir Islam kontemporer di bidang teologi, filsafat dan hukum Pendiri dan presiden pertama Republik Turki Raja Arab Saudi (memerintah 19641975) Wartawan, pengarang, ahli fikih, dan pembaru pemikiran Islam Ilmuwan, penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan, pendiri Pusat Pengkajian Islam Temple University, Philadelphia (Amerika Serikat) Ahli fikih, tasawuf dan ilmu kalam Cendekiawan, penulis, aktivis muslim, dan guru besar University of Chicago (Amerika Serikat) Negarawan dan presiden Mesir (19561970)

Aqqad, Abbas Mahmud

1889-1964

Mesir

Arkoun, Mohammed

1928

Aljazair

Ataturk, Mustafa Kemal

1881-1938

Turki

Faisal bin Abdul Aziz

1906-1975

Arab Saudi

Farid Wajdi, Muhammad

1875-1954

Mesir

al-Faruqi, Ismail Raji

1921-1986

Palestina

al-Fatani, Daud bin Abdullah

1718-1847

Thailand

Faziur Rahman

1919-1988

Pakistan

Gamal Abdul Nasser

1918-1970

Mesir

Haekal, Muhammad Husain Hasan al-Banna

1888-1956

Mesir

Sejarawan, sastrawan, dan negarawan Tokoh pergerakan dan pembaruan di Mesir Filsuf hukum Islam dan guru besar Filsafat Universitas Cairo Musikus dan sufi Penyair, filsuf, dan pembaru Islam Sejarawan dan Penulis Pembaru Islam, aktivis politik, jurnalis, dan penggerak panIslamisme Cendekiawan dan ahli filsafat Pendiri negara Pakistan Penyair, pengarang, wartawan, penulis drama, dan tokoh Usmani Muda Pendiri Republik Islam Iran Sastrawan Muslim, pemenang Nobel sastra 1988 Sultan ke-33 kerajaan

1906-1949

Mesir

Hassan Hanafi

1934

Mesir

Inayat Khan, Hazrat Iqbal, Sir Muhammad al-Jabati

1882-1927

India

1873-1938 1753-1822

Pakistan Mesir

Jamaluddin alAfghani

1838-1897

Afganistan

Jauhari, Tantawi Jinnah, Muhammad Ali

1870-1940

Mesir

1876-1948

Pakistan

Kemal Pasya, Namik

1840-1888

Turki

Khomeini, Ayatullah Ruhollah Mahfouz, Naguib Mahmud II

1900-1989

Iran

1911

Mesir

1785-1839

Turki

Usmani Malcolm X (Malik asySyabbaz) al-Manfaluti, Mustafa Lutfi Amerika Serikat Pemimpin muslim Afro-Amerika, tokoh Nation of Islam Perintis sastra Arab Modern, sastrawan dan nasionalis Mesir Ulama, guru besar tafsir, dan mantan rektor Universitas alAzhar Penulis dan intelektual muslim Ulama dan pemikir Islam Tokoh feminimisme Islam Ulama dan filsuf Ahli filsafat, pendiri The International Institute of Islamic Thought an Civilization (ISTAC), dan pemikir Islamisasi ilmu pengetahuan Pemikir IslaSyiah kontemporer Ulama, penulis, dan pendidik asal Banten, menetap di Mekah Pemikir dan toko pembaru, terutama

1925-1965

1876-1924

Mesir

al-Maraghi, Muhammad Mustafa Maryam Jamilah Maududi, Abu A'la Mernissi, Fatima Mutanhari, Murtada

1881-1945

Sudan

1934

Amerika Serikat India

1903-1979

1940

Maroko

1919-1979

Iran

Naquib alAttas, Muhammad

1931

Malaysia

Nasr, Husein

1933

Iran

Nawawi al-Jawi

1813-1897

Indonesia

Qasim Amin

1865-1908

Mesir

tentang peran dan emansipasi wanita Cendekiawan dan tokoh Ikhwanul Muslimin Pemikir dan ulama pembaru Pendiri Arab Women's Solidarity Association (AWSA) Ulama di bidang fikih Ahli perbandingan agama dan pemimpin aliran filsafat perenial, nama muslimnya Muhammad Isa Nuruddin Ulama dan mantan menteri agama Mesir Ulama dan pemikir Islam dari Universitas al-Azhar Ahli hadis, fikih, usul fikih, dan mujtahid Sastrawan Arab modern dan kolumnis surat kabar Mufasir, hakim, ahli syariah dan ilmu esoteris, perancang evolusi Iran Sastrawan, pemikir,

Qutub, Sayid

1906-1966

Mesir

Rasyid Rida, Muhammad el-Saadawi, Nawal Sabiq, Sayid

1865-1935

Mesir

1931

Mesir

1915

Mesir

Shuon, Frithjof

1907

Swiss

asy-Sya'rawi, Mutawalli Syaltut, Mahmud Syaukani, Muhammad bin Ali

1912

Mesir

1893-1963

Mesir

w. 1834

Yaman

Syauqi, Ahmad

1869-1932

Mesir

Thabathaba'I, Muhammad Husin Thaha Husein

1903-1981

Iran

1889-1973

Mesir

dan pembaru at-Turabi, Hasan Politikus, pendidik, dan tokoh Islamisasi Sudan

1932

Sudan

Referensi

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, etc. Ensiklopedi Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005. Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA. Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008. Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008. Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004 Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir AlQuran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007. alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008. Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979. Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008. M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah alMa'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008. Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008. Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.