Anda di halaman 1dari 3

TINJAUAN PUSTAKA 1.

1 Produk Hortikultura Produk hortikultura terdiri dari jenis tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias, tanaman obat. Menurut Studi Penawaran dan Permintaan Komoditas Unggulan Hortikultura dalam Khairina (2006), komoditas hortikultura paling sedikit memiliki tiga peranan yang cukup penting dalam perekonomian Indonesia, yaitu sebagai sumber pendapatan masyarakat, sebagai bahan pangan masyarakat khususnya sumber vitamin (buah-buahan), mineral (sayuran) dan bumbu masak, dan sebagai sumber devisa negara non migas. Salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang sangat potensial dalam pembangunan sektor pertanian adalah hortikultura. Pengembangan agribisnis komoditi hortikultura banyak diusahakan saat ini didukung oleh keadaan geografis Indonesia yang sangat menguntungkan, seperti kondisi lahan yang subur, klimatologi yang baik, serta ketersediaan air yang memadai. Wilayah Bedugul merupakan daerah tingkat produksi sayuran yang tinggi dan luas arel tanam sayuran yang cukup luas. 1.2 Tomat Tomat merupakan buah klimaterik yang dalam proses pemasakannya disertai dengan peningkatan laju respirasi dan produksi etilen yang disertai dengan terjadinya perubahan fisik dan kimia. Proses pematangannya berlangsung walau telah dipetik dari pohonnya. Respirasi klimaterik pada buah tomat akan mulai terjadi bersamaan dengan tercapainya ukuran maksimum dari buah. Tomat merupakan tanaman yang dipanen berkali-kali. Rata-rata pada satu kali pertanaman tomat dapat dipanen sebanyak 8-10 kali, namun jika pertumbuhan baik dapat mencapai 15 kali dengan selang 2-3 hari sekali untuk setiap panen. Petani tomat membedakan tiga tingkat kematangan saat dipetik, yaitu hijau tua, merah muda (pecah warna) dan merah tua (Marpaung, 1997). Cara untuk menentukan indeks panen adalah dengan mengadakan perubahan fisio-kimia yang terjadi selama proses pematangan buah Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, baik karena harganya yang cukup baik maupun penggunanya dalam konsumsi masyarakat. Secara umum tomat dapat ditanam di

dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian diatas 750 mdpl pada tanah yang gembur, sedikit mengandung pasir, dan kadar keasamannya (pH) antara 5-6, curah hujan 7501.250 mm/tahun dan kelembaban relatif 25%. Buah tomat termasuk komoditi hortikultura yang sangat mudah rusak, baik yang disebabkan oleh kerusakan mekanis dan fisiologi lanjut maupun kerusakan yang disebabkan oleh mikrobiologi (pembusukan). Dengan sifatnya tersebut, jumlah buah tomat yang rusak pada proses pemasaran terutama di pasar-pasar tradisional di daerah perkotaan mencapai 30 sampai 40 % (Wenli et al., 2001). Buah tomat yang telah mengalami kerusakan dibuang karena tidak layak jual dan dinyatakan sebagai buah tomat afkiran. 1.3 Supply Chain Management Supply Chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran yang terjadi didalam dan diantara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk. Konsep supply chain ini mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko sehingga barang yang diproduksi dan didistribusi dengan kualitas yang tepat, lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan. Supply chain management (SCM) adalah filosofi management yang secara terus-menerus mencari sumber-sumber fungsi bisnis yang kompeten untuk digabungkan baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan seperti mitra bisnis yang berada dalam satu supply chain untuk memasuki sistem supply yang berkompetitif tinggi dan memperhatikan kebutuhan pelanggan, yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif dan sinkronisasi aliran produk, jasa, dan informasi untuk menciptakan sumber nilai pelanggan (customer value) secara unik. 1.3.1 Struktur Supply Chain Management Hubungan antar anggota SCM dilakukan melalui tahapan-tahapan berikut [2]: Anggota SCM produk pertanian terdiri dari : pemasok, petani, kolektor (pengumpul), industri pengolah makanan, agen, pengecer dan konsumen. Jenis hubungan antar anggota dapat dikelompokkan pada beberapa kategori yaitu: penting (hubungan yang kuat dan sering), temporer (kadangkala

berhubungan dengan anggota lain), non aktif (berpengaruh pada saat aktif), tidak berpengaruh (tidak secara langsung berpengaruh).