Anda di halaman 1dari 22

ELEKTRON BEBAS

Paper Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Fisika Zat Padat

Disusun Oleh :

Dwika Andjani Garbel Nervadof

140310100083 140310100093

Moh Fitrah Bahari 140310100095

JURUSAN FISIKA FALKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

1. Elektron Bebas Sifat elektrik dan sifat magnetik zat padat ditentukan terutama oleh sifat-sifat elektron di dalam bahan tersebut. Secara keseluruhan, level energi elektron menjadi penentu sifat bahan padat. Untuk menentukan level energi elektron dalam zat padat dapat mengambil banyak model-model yang lebih sederhana, yang secara matematik dapat diselesaikan, dan berharap bahwa penyelesaian akan masuk akal. Di mulai mencari model sederhana dengan mengambil sepotong logam dan memperhatikan fakta empiris, (yang benar pada temperatur ruang), bahwa tidak ada elektron diluar batas logam. Dengan demikian ada mekanisme yang mempertahankan elektron tetap di dalam. Apakah itu? Itu mungkin adalah potensial barrier tak berhingga pada perbatasan. Dan apa yang terjadi di dalam? Bagaimana energi potensial elektron berubah dengan adanya jumlah inti dan elektron lain yang sangat banyak? Misalkan kita menganggapnya merata. Kita mungkin menganggapnya ini suatu asumsi (dan tentu saja kita benar mutlak), tetapi itu adalah pekerjaan. Hal ini telah dikemukakan oleh Sommerfeld pada tahun 1928 dan yang telah dikenal sebagai Model elektron bebas dari suatu logam. Kita mungkin mengakui bahwa model ini bukanlah apa-apa tetapi suatu sumur potensial yang telah ditemukan sebelumnya. Disana ditemukan penyelesaian untuk kasus satu-dimensi dalam bentuk berikut : E=
h2k 2 2m h 2 n2 8 m L2

(1)

Jika kita membayangkan kubus dengan sisi L yang mengandung elektron, maka kita memperoleh energi dengan cara yang sama

E=

h2 2 (k x + k2y + k2z) 2m

h2 = (n2x + n2y + n2z) 2 8mL

(2)

dimana nx, ny, nz adalah integer. [1] 2. Model Elektron Bebas Klasik Drude (1900) mengandaikan bahwa dalam logam terdapat elektron bebas, yang membentuk sistem gas elektron klasik, yang bergerak acak dalam kristal dengan kecepatan random vo karena energi termal dan berubah arah geraknya setelah bertumbukan dengan ion logam. Karena massanya yang jauh lebih besar, maka ion logam tidak terpengaruh dalam tumbukan ini. Kehadiran medan listrik dalam logam hanya mempengaruhi gerak keseluruhan electron karena ion-ion tertata berjajar dan bervibrasi di sekitar titik kisi sehingga tidak memiliki neto gerak translasi. Misalnya, terdapat medan listrik dalam arah sumbu-X. Percepatan elektron yang timbul (3) dengan e dan m*, masing-masing adalah muatan dan massa efektif elektron. Jika waktu rata-rata antara dua tumbukan elektron dan ion adalah , maka kecepatan hanyut dalam selang waktu tersebut

(4) Oleh karena itu rapat arus yang terjadi

(5)

dimana penjumlahan dilakukan terhadap semua elektron bebas setiap satuan volume. Elektron bergerak secara acak, sehingga vo=0. Oleh sebab itu menjadi

(6) Karena hubungan Jx=, maka konduktivitas listrik menjadi

(7) Pengukuran menunjukkan bahwa nilai rata-rata logam sekitar 5.107(m)-1 dengan menganggap masa efektif m* sama dengan massa bebas mo=9,1.10-31kg, maka didapatkan nilai berorde 10-14 s. Contoh analisa lain adalah konduktivitas termal. Misalnya, sepanjang sumbu- X terdapat gradien suhu T/x, maka akan terjadi aliran energi persatuan luas perdetik (arus kalor) Qe. Berdasarkan eksperimen arus kalor Qe tersebut sebanding dengan gradien suhu T/x Qe = -K T/x (8) dengan K adalah konduktivitas termal. Dalam isolator, panas dialirkan sepenuhnya oleh fonon. Sedangkan dalam logam dialirkan oleh fonon dan elektron. Tetapi karena konsentrasi elektron dalam logam sangat besar, maka konduktivitas termal fonon jauh lebih kecil daripada elektron, yakni Kfonon10-2K elektron, sehingga konduktivitas fonon diabaikan. Dari pendekatan teori kinetik gas diperoleh ungkapan konduktivitas termal (9) dimana CV, v dan masing-masing adalah kapasitas panas elektron persatuan volume, kecepatan partikel rata-rata dan lintas bebas rata-rata partikel. Karena CV =(3/2)nk, (1/2)mv2 = (3/2)kT dan =v , maka konduktivitas menjadi

(10) Perbandingan konduktivitas termal dan listrik adalah

(11) Hal ini sesuai dengan penemuan empirik oleh Wiedemann-Frans (1853). Kadangkadang perbandingan di atas dinyatakan sebagai bilangan Lorentz (12) Ternyata, hukum Wiedemann-Frans sesuai dengan pengamatan untuk suhu tinggi (termasuk suhu kamar) dan suhu sangat rendah (beberapa K). Tetapi, untuk suhu intermediate, K/T bergantung pada suhu. Dalam teori drude, lintas bebas rata-rata elektron bebas, bergantung suhu. Namun, karena vo~T , maka keadaan mengharuskan (13) Hal ini didukung fakta eksperimen bahwa ~T-1, sehingga dari ungkapan konduktivitas listrik didapatkan (14) Ungkapan terakhir ini menunjukkan bahwa bila T naik, maka n menurun. Hal ini tidak sesuai dengan fakta, dan menyebabkan teori Drude tidak memadai.
1/2

= vo, tidak

Model Elektron Bebas Klasik Model elektron bebasa klasik tentang logam mengambil andaian berikut. a. Kristal digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion positip (yang membentuk kisi kristal) dan elektron yang bebas bergerak dalam volume kristal. b. Elektron bebas tersebut diperlakukan sebagai gas, yang masing-masing bergerak secara acak dengan kecepatan termal (seperti molekul dalam gas ideal tidak ada tumbukan, kecuali terhadap permukaan batas). c. Pengaruh medan potensial ion diabaikan, karena energi kinetik elektron bebas sangat besar.

d. Elektron hanya bergerak dalam kristal karena adanya penghalang potensial di permukaan batas.

Misalnya, setiap atom memberikan ZV elektron bebas, maka jumlah total elektron tersebut perkilomol (15) Bila elektron berperilaku seperti dalam gas ideal, maka energi kinetik totalnya (16) sehingga kapasitas panas sumbangan elektron bebas (17) Kapasitas panas total dalam logam, termasuk sumbangan oleh fonon, adalah (18) Jadi, setidaknya kapasitas panas logam harus 50% lebih tinggi daripada isolator. Tetapi, eksperimen menunjukkan bahwa untuk semua bahan padatan (logam dan isolator) nilai CV mendekati 3R pada suhu tinggi. Pengukuran yang akurat menunjukkan bahwa sumbangan elektron bebas terhadap kapasitas panas total adalah reduksi harga klasik (3/2)R oleh factor 10-2. Oleh karena itu model elektron bebas klasik tidak memberikan hasil ramalan Cv yang memadai. Suseptibilitas magnetik mengkaitkan momen magnetik M dan kuat medan magnetik H melalui ungkapan (19) Dalam hal ini hanya dibahas untuk bahan isotropik, sehingga skalar. Pengaruh medan magnet luar terhadap elektron bebas menyebabkan setiap momen dipol , yang acak arahnya, memperoleh energi magnetik (20) Jika distribusi momen dipol elektron bebas memenuhi statistik Maxwell-Boltzmann,

maka momen dipol rata-rata dalam arah medan memenuhi

(21) Dimana adalah sudut antara dan H. (22) dengan L(x)=coth x (1/x) = fungsi Langevin

(23) Dengan menggunakan deret

(24) maka untuk medan H tidak kuat, yakni H<<kT momen dipol rata-rata tersebut berharga (25) Jika jumlah momen dipol magnet adalah N, maka magnetisasinya

(26) Dengan membandingkan persamaan-persamaan diperoleh suseptibilitas magnetik

(27) Tetapi, eksperimen tidak menunjukkan adanya kebergantungan terhadap T. Hal ini berarti model elektron bebas klasik tidak dapat menerangkan tentang mengapa untuk paramagnet elektron tidak bergantung pada T. [2]

3. Model Elektron Bebas Terkuantisasi Untuk memperbaiki kegagalan model elektron bebas klasik dalam menelaah sifat listrik dan magnet bahan, ditawarkan model elektron bebas yang terkuantisasi. Model ini menggunakan prinsip kuantisasi energi elektron dan prinsip eksklusi Pauli untuk elektron yang melibatkan distribusi Fermi-Dirac. Model elektron bebas,

dimana pengaruh dari semua elektron bebas yang lain dan semua ion positip direpresentasikan oleh potensial V sama dengan nol sehingga gaya yang bekerja pada elektron juga sama dengan nol, secara kuantum mengambil persamaan Schrodinger.

(28) dengan solusi fungsi elektron (29) dan energi elektron

(30) Harga k tidak dibatasi sehingga energi elektron tidak terkuantisasi. Tetapi bila elektron bebas tersebut bergerak dalam suatu kubus dengan rusuk L, maka haruslah dipenuhi

(31) Dalam ruang k, setiap keadaan elektron direpresentasikan oleh volume sebesar (2/L)3, yaitu masing-masing untuk nx=ny=nz=1. Semua keadaan elektron yang berenergi

terletak pada permukaan bola berkari-jari k yang memenuhi

(32) Sedangkan semua keadaan elektron yang berenergi antara E dan E+dE terletak dalam kulit bola dengan jari-jari antara k dan k+dk dan volume 4k2dk. Dengan demikian, jumlah keadaan elektron

(33) Apabila diperhitungkan dua spin elektron, maka jumlah tersebut menjadi

(34) Mengingat ungkapan E=2k2/2mo, maka jumlah keadaan elektron persatuan volume yang berenergi antara E dan E+dE adalah

(35) Prinsip Pauli menyatakan bahwa dalam satu sistem fisis tidak boleh terdapat dua elektron atau lebih yang mempunyai perangkat bilangan kuantum yang tepat sama. Prinsip larangan ini dipenuhi oleh elektron yang mengikuti fungsi distribusi Fermi-Dirac

(36) Pada suhu T=0 K, energi Fermi diungkapkan dalam bentuk EF(0); dan fungsi

distribusi Fermi-Dirac

untuk

(37)

untuk

(38)

Dengan kata lain, pada suhu T=0 K semua tingkat energi E<EF(0) terisi penuh elektron dan E>EF(0) kosong. Sedangkan pada suhu T>0 K berlaku untuk E < EF f(E) < 1 untuk E = EF f(E) = 1/2 untuk E > EF f(E) > 0 Hal ini berarti pada T>0 K tingkat energi di atas EF sudah terisi sebagian dan di bawah EF menjadi kosong sebagian. Model elektron bebas terkuantisasi mengambil andaian sebagai berikut. a. Kristal logam digambarkan sebagai superposisi dari jajaran gugus ion positip (yang membentuk kisi kristal) dan elektron bebas yang bergerak dalam volume kristal. b. Elektron bebas tersebut memenuhi kaidah fisika kuantum, yaitu mempunyai energi terkuantisasi dan mematuhi larangan Pauli, yang secara menyatu dirangkum dalam ungkapan rapat elektron dn = n(E) dE = f(E) g(E) dE (39)

Dengan mensubstitusikan (38) dan (37) diperoleh ungkapan rapat elektron sebagai fungsi dari energi elektron dan suhu sistem

(40) c. Pengaruh medan ion positip dapat diabaikan karena energi kinetik elektron bebas sangat besar.

d. Pada permukaan batas antara logam dan vakum yang mengelilinginya terdapat suatu potensial penghalang yang harus diloncati oleh elektron bebas paling energetik pada suhu T=0 K (energi EF) untuk dapat meninggalkan permukaan batas logam. [3]

4. Sumbangan Elektron Bebas pada Harga CV Rapat elektron pada suhu T=0 K

(41) dan rapat energi pada suhu T=0 K

(42) Bila dinyatakan dalam rapat elektron (42) di atas, maka

(43) Sedangkan rapat energi elektron pada suhu T>0 K

(44) Untuk menyelesaikan integral dalam (44) digunakan bentuk integral

(45) yang mempunyai bentuk asymtotik untuk yo besar dan berharga positip

(46) Diketahui bahwa ungkapan energi Fermi sebagai fungsi suhu adalah

(47) Karena bentuk [( kT )2 /EF 2 (0)] sangat kecil dibandingkan dengan satu, maka EF selalu dapat diganti dengan EF(0). Dengan memakai bentuk (46), (47) dan deret binomial (1+x)p, serta memperhatikan ungkapan (41) dan (42), maka rapat energi (43) di atas dapat dihitung dan hasilnya adalah

(48) sehingga kapasitas panas elektron bebas

(49) Apabila kapasitas panas elektron bebas model klasik (Cv )el' maka ungkapan (49) untuk satu mol zat menjadi

(50) Tampak bahwa sumbangan elektron bebas pada harga CV untuk kristal diperkecil dengan faktor [2kT/3EF] dari harga klasiknya. Dapatlah disimpulkan bahwa sumbangan elektron bebas pada harga CV suatu logam sangatlah kecil, terutama pada suhu yang sangat tinggi. Tetapi sumbangan tersebut akan dominan pada suhu yang cukup rendah.

Pada suhu jauh di bawah suhu Debye D dan suhu Fermi TF, kapasitas panas suatu logam dapat ditulis sebagai jumlah sumbangan elektron bebas dan fonon, yakni (51) dimana dan A merupakan konstanta karakteristik bahan. Secara eksperimen dapat dibuat grafik CV/T terhadap T2 sehingga dan A bisa ditentukan. [3]

5.

Konduktivitas Listrik dalam Logam Elektron yang mempunyai mobilitas besar untuk pindah ke keadaan elektron

yang lain adalah elektron yang berenergi E sedemikian sehingga f(E)<1. Hal ini terjadi di daerah EEF. Elektron yang demikian akan mengalir bila dikenai medan listrik. Hubungan rapat arus J dan medan listrik dinyatakan oleh hukum Ohm

(52) dimana adalah konduktivitas listrik. Bila rapat elektron n dan kecepatan hanyut elektron vd, maka rapat arus dapat juga diungkapkan dalam bentuk (53) Dalam kesetimbangan termal, distribusi elektron berada dalam keadaan mapan (steady state) no (v) , yang tidak bergantung waktu. Dalam ruang kecepatan, distribusi no (v) mempunyai simetri bola, dan dinamakan bola Fermi (dengan radius laju Fermi vF), serta permukaannya disebut permukaan Fermi. Kecepatan elektron bersifat acak, dan berkaitan dengan energi melalui ungkapan E = m v2 (54) direpresentasikan oleh semua titik dalam bola. Arus total nol karena setiap elektron yang berkecepatan v selalu berpasangan dengan yang berkecepatan v. Kecepatan elektron sangat besar di permukaan Fermi. Permukaan Fermi tidak begitu dipengaruhi oleh suhu. Bila suhu naik, hanya sedikit elektron yang melintasinya.

Perlu diketahui bahwa pengukuran eksperimen menunjukkan bahwa permukaan Fermi berbentuk bola terdistorsi, sebagai akibat dilibatkannya interaksi elektron dan kisi. Hal ini akan dijelaskan dalam bab selanjutnya. Bila terdapat medan listrik, misalnya, X searah sumbu-X, maka distribusi elektron berubah menjadi n(v) . Perubahan ini mempunyai komponen posisi dan waktu. Dalam hal ini bola Fermi bergeser ke arah (-X), seperti ditunjukkan oleh gambar 1 berikut.

Gambar 1 a. Bola Fermi saat setimbang b. Pergeseran bola Fermi saat dikenakan medan

Diambil asumsi bahwa kecepatan pergeseran titik pusat oleh kehadiran medan luar ini sangat kecil bila dibandingkan dengan vrms. Bila homogen (besar dan arahnya), maka perubahan distribusi elektron hanya dipengaruhi oleh komponen waktu. Proses yang terjadi adalah adanya perubahan distribusi elektron karena pengaruh medan luar dan adanya proses hamburan yang ingin memulihkannya ke keadaan semula. Penggabungan kedua proses ini menghasilkan persamaan kontinuitas

(55)

dengan adalah waktu relaksasi. Ungkapan ini sering disebut persamaan transport Boltzmann. Dalam keadaan mapan ( n(v) / t = 0 ) persamaan (55) menjadi

(56)

Dalam kasus di atas diambil

sehingga persamaan (56) menjadi

(57) Rapat arus listrik yang terjadi

(58) Integral suku pertama persamaan (58) menghasilkan nol karena kecepatan rata-rata dalam no(v). Dengan demikian rapat arus (58) menjadi

(59) Mengingat bahwa a. =l/v, dimana l adalah lintas bebas rata-rata antara dua tumbukan, b. , dan

c. gerak elektron secara acak sehingga maka ungkapan rapat arus 3.48) berubah menjadi

(60) Dari rapat elektron ,setelah mengganti variabel E menjadi v , diperoleh distribusi elektron n o (v) tidak lain adalah

(61) Substitusi persamaan (3.50) dan setelah diadakan perubahan variabel v menjadi E, maka rapat arus (3.49) menjadi

(62) Dengan demikian, mengingat hubungan (62) diperoleh konduktivitas listrik

(63) Untuk suhu T=0 K, harga (-f(E)/E) berupa fungsi delta Dirac sehingga integral dalam (63)

(64) dan dengan menggunakan ungkapan rapat elektron, maka ungkapan konduktivitas listrik (64) di atas menjadi

(65) dimana F adalah waktu relaksasi sebuah elektron pada bola Fermi. Ungkapan

konduktivitas listrik di atas, ternyata, bentuknya sama dengan hasil teori Drude yang lalu baik teori Drude maupun model elektron bebas terkuantisasi mengemukakan bahwa konduktivitas listrik hanya berbanding lurus dengan konsentrasi elektron. Namun beberapa logam dengan konsentrasi elektron lebih tinggi, justru menunjukkan nilai konduktivitas lebih rendah. Disamping itu, sebenarnya fakta menunjukkan nahwa konduktivitas listrik bergantung pada suhu, dan juga arah. [3]

6. Perilaku Elektron Dalam Logam 6.1 Hukum Matthiessen Konduktivitas listrik logam bergantung pada suhu biasanya dibahas dalam bentuk perilaku resistivitas terhadap suhu T. diketahui bahwa =--1 sehingga berdasarkan konduktivitas (65), maka resistivitas dapat ditulis

(66) Elektron mengalami suatu tumbukan hanya karena ketidaksempurnaan keteraturan kisi. Ketidaksempurnaan tersebut dapat berupa a. Vibrasi kisi (fonon) dari ion di sekitar titik setimbang karena eksitasi termalnya b. Semua ketidaksempurnaan statik, seperti ketidakmurnian atau cacat kristal. Jika mekanisme keduanya dianggap saling bebas satu sama lain, maka dapatlah diungkapkan (67) dimana suku pertama ruas kanan disebabkan oleh fonon dan suku kedua oleh ketakmurnian. Dengan demikian menghasilkan ungkapan resistivitas

(68)

Ungkapan ini disebut hukum Matthiessen. Tampak bahwa terdiri dari dua bentuk, yaitu a. Resistivitas ideal f(T) karena hamburan elektron oleh fonon, sehingga bergantung pada suhu, dan b. Resistivitas residual i karena hamburan elektron oleh ketakmurnian (yang tidak bergantung pada suhu). Pada suhu sangat rendah, hamburan oleh fonon dapat diabaikan karena amplitudo sangat kecil; dalam hal ini f dan f=0 sehingga (T)=i berharga konstan dan nilainya sebanding dengan konsentrasi ketidakmurnian. Pada suhu yang cukup besar, hamburan oleh fonon menjadi dominan sehingga (T) f(T). Pada suhu tinggi (termasuk suhu ruang), f(T) naik secara linier terhadap T sampai logam mencapai titik leleh. Tetapi, pada suhu rendah resistivitasnya sebanding dengan T5. Gejala penyimpangan terhadap hukum Matthiessen disebut efek Kondo. Misalnya, memiliki harga minimum pada suhu rendah pada sejumlah ketidakmurnian Fe yang dilarutkan dalam Cu. Sifat anomali ini terjadi karena hamburan tambahan elektron oleh momen magnet dari pusat ketidakmurnian.

6.2 Efek Hall Efek Hall dapat dibahas dengan pendekatan model elektron bebas klasik. Perhatikanlah gambar 2 berikut. Pada suatu balok logam bekerja dua medan yang saling tegak lurus, yaitu medan listrik X dan medan magnet BZ. Arus IX mengalir searah X. akibat pengaruh medan BZ, lintasan elektron membelok ke bawah, sehingga terkumpul banyak elektron di bagian bawah logam. Dalam waktu bersamaan, terjadi muatan positip di bagian atas karena kekurangan elektron. Dengan demikian terjadilah medan listrik Hall Y. apabila keadaan sudah stasioner, maka Y konstan dan elektron bergerak dalam arah vX.

Gambar 2. Efek Hall

Dalam keadaan setimbang resultan gaya yang bekerja pada elektron (gaya Coulomb dan Lorentz) sama dengan nol (69) rapat arus dalam arah X (70) sehingga diperoleh harga konstanta Hall

(71) Dengan mengukur Y, JX dan BZ, maka rapat elektron konduksi n dapat ditentukan. Efek Hall dapat dipergunakan untuk menentukan a. Macam rapat pembawa muatan (positip atau negatip), dan b. Rapat elektron konduksi yang berperan dalam proses penghantaran muatan. Ungkapan koefisien Hall di atas menunjukkan nahwa RH berharga negatip dan hanya bergantung pada rapat elektron. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada suhu kamar logam-logam Li, Na, Cu, Ag, dan Au berturut-turut memiliki konstanta Hall 1,7.10-10, 2,5.10-10, 0,55.10-10, 0,84.10-10, dan 0,72.10-10 volt.m3/A. Tetapi fakta lain menunjukkan bahwa terdapat beberapa logam mempunyai RH positip, dan bahwa RH, umumnya, bergantung pada suhu, waktu relaksasi dan besar medan

magnet. Misalnya, logam Zn, dan Cd, masing-masing memiliki konstanta Hall sebesar +0,3.10-10, dan +0,6.10-10 volt.m3/A. Hal ini menunjukkan bahwa pembawa muatan dalam keduanya adalah lubang (hole). Mobilitas elektron didefinisikan sebagai besarnya kecepatan rambat elektron persatuan medan listrik =v/. Dari rapat arus J=nev=ne sehingga dapat dibentuk hubungan

(72) Jadi secara eksperimen dengan mengukur konduktivitas listrik dan koefisien Hall

6.3 Resonansi Siklotron Perhatikanlah Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Gerakan siklotron Medan magnet menyebabkan elektron bergerak melingkar berlawanan arah jarum jam dalam bidang normal medan. Frekuensi gerak siklotron yang terjadi

(73)

Jika sinyal elektromagnet diarahkan tegak lurus B, maka elektron menyerap energinya. Kecepatan absorbsi terbesar terjadi saat frekuensi sinyal benar-benar sama dengan frekuensi siklotron = C Masing-masing elektron bergerak sempurna sepanjang lingkaran sehingga absorbsi terjadi secara kontinu sepanjang lintasan. Kondisi ini disebut resonansi siklotron. Jika C, maka absorbsi sinyal hanya terjadi pada sebagian gerak elektron. Agar gerakan elektron tetap melingkar, maka elektron harus mengembalikan energi yang telah diserapnya. Bentuk kurva absorbsi ditunjukkan dalam gambar 4 berikut.

Gambar 4. Sketsa koefisien absorbsi terhadap frekuensi Dari kurva absorbsi dapat diperoleh frekuensi siklotron C. Dengan demikian massa elektron m* dapat diukur. [3]

DAFTAR PUSTAKA

[1]

http://id.scribd.com/doc/60851504/BAB-5-Elektron-Bebas. Emma Muliarta. Diakses pada tanggal 26 Maret 2013. 10.00

[2]

http://id.scribd.com/doc/45739533/Kuliah-Ke-5-Teori-Elektron-Bebas-Logam. Hasrijal. Diakses pada tanggal 26 Maret 2013. 10.33 Parno.2006.Fisika Zat Padat.Malang : Departemen Pendidikan Nasional Universitas Negeri Malang.

[3]