Anda di halaman 1dari 24

MEMBANGUN KEWASPADAN NASIONAL

DALAM MENGHADAPI ANCAMAN PERANG ASIMETRIK

Oleh: SUTANTO, SKM, M.AP

Matrikulasi

Pasca Sarjana Kajian Strategis Ketahanan Nasional

Lemhannas RI-Universitas Gadjah Mada

A. PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Dalam era globalisasi sekarang ini ancaman terhadap keutuhan Negara


Kesatuan Republik Indonesia tidak hanya berasal dari aspek mmiliter saja,
namun juga dari aspek non militer yang sering disebut sebagai aspek nirmiliter.
Aspek nir militer ini juga sering dikenal sebagai aspek asimetrik atau asimetris.

Peperangan di era modern ini, tidak selalu diwujudkan dalam perang


konvensional bertehnologi tinggi, namun juga dapat dilakukan melalui berbagai
cara yang tidak terlihat maupun terasakan oleh kebanyakan Negara di dunia.
Pada saat ini dikenal ada perang dengan senjata biologis, sebagai contoh
adalah penggunaan media virus, hama, bakteri dan lain sebagainya. Ada pula
perang ideology dan politik, perang tersebut adalah pemaksaan ideology dan

1
politik suatu Negara asing terhadap Negara kita, agar kita dapat dikendalikan
dan memberikan keuntungan kepada Negara asing tersebut.

Beberapa fenomena yang akhir-akhir ini dirasakan oleh banyak Negara


berkembang adalah besarnya pengaruh budaya barat yang masuk ke dalam
sendi-sendi kehidupan tanpa dapat dilakukan filterisasi dan pembendungan
lagi. Pengaruh budaya tersebut memang ada sisi positifnya, namun lebih
banyak sisi negativenya dikarenakan kekurangsiapan bangsa Indonesia dalam
meresponnya.

Hal-hal tersebut diatas merupakan sebagian kecil contoh dampak globalisasi


sekarang ini, padahal banyak hal yang harus direspon akibat efek globalisasi
tersebut. Salah satu caranya adalah meningkatkan kewaspadaan secara
nasional sehingga apapun dampak globalisasi yang terjadi, kita dapat
meresponnya demi mendapat benefit positif bagi pembangunan Negara kita
tercinta. Peningkatan kewaspadaan nasional hanya dapat dicapai dengan
adanya pembangunan kewaspadaan secara nasional yang tepat, cepat dan
berkelanjutan.

2. Rumusan permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu diketahui bagaimana


seharusnya membangun kewaspadaan nasional dalam menghadapi ancaman
perang asimetrik.

3. Tujuan

2
a. Tujuan umum

Mengetahui bagaimana seharusnya membangun kewaspadaan ansional


dalam menghadapai ancaman perang asimetrik.

b. Tujuan khusus

1) Mengetahui perihal kewaspadaan nasional

2) Mengetahui perihal berbagai ancaman perang asimetrik yang akan dan


sedang dihadapi bangsa Indonesia

3) Mengetahui bagaimana membangun kewaspadaan nasional mengacu


pada potensial ancaman perang asimetrik.

4. Manfaat

a. Bagi akademisi

Tulisan ini dapat digunakan sebagai referensi dan bahan masukan dalam
penulisan-penulisan selanjutnya berkaitan dengan kewaspadaan nasional.

b. Masyarakat praktis

Memberikan masukan dan wacana praktis dalam upaya sosialisasi, aplikasi


dan evaluasi program pengembangan, peningkatan, kewaspadaan nasional
dalam kehidupan sehari-hari.

3
5. Sistematika

a. Pendahuluan

b. Pembahasan

c. Penutup

B. PEMBAHASAN

4
1. Kewaspadaan nasional

Menurut Dr. Sarlito Wirawan, dan mengacu pada teori psikologi prasangka,
kewaspadaan nasional sebagai prasangka positif adalah sikap kehati-hatian
nasional terhadap suatu bentuk ancaman yang potensial maupun manifest
merugikan kehidupan nasional. Atau dengan kata lain kewaspadaan nasional
atau disingkat padnas adalah suatu sikap dalam hubungannya dengan
nasionalisme yang dibangun dari rasa peduli dan rasa tanggung jawab
seorang warga Negara terhadap kelangsungan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara dari suatu ancaman.

Padnas juga bisa dikatakan sebagai kualitas kesiapan dan kesiagaan yang
harus dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk mampu mendeteksi, mengantisipasi
sejak dini dan melakukan aksi pencegahan berbagai bentuk dan sifat potensi
ancaman terhadap Negara kesatuan Republik Indonesia. Bahkan bisa
diartikan sebagai manifestasi kepedulian dan rasa tanggungjawab bangsa
Indonesia terhadap keselamatan dan keutuhan NKRI.

Berbicara kewaspadaan nasional tidak bisa terlepas dengan paradigma


nasional. Paradigma nasional adalah pola nasional yang digunakan dalam
menjalankan system kehidupan nasional. Segala permasalahan nasional harus
didudukan dalam kerangka paradigma nasional sebagai komitmen bangsa dan
Negara dalam menjalankan kehidupan nasionalnya. Dalam paradigma
nasional ditemukan paham kebangsaan, rasa kebangsaan, wawasan
kebangsaan, jiwa dan semangat kebangsaan. Paradigma tersebut meliputi
Pancasila, UUD Negara RI tahun 1945, ketahanan nasional dan wawasan
nusantara.¹

5
Pancasila adalah landasan idiil dalam menjalankan kehidupan nasional.
Pancasila yang diformulasikan dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945
adalah suatu pandangan hidup atau nilai yang menyeluruh dan mendalam
tentang bagaimana cara sebaiknya, yaitu secara moral dianggap benar dan
adil, mengatur tingkah laku bersama dalam berbagai kehidupan nasional.
Kehidupan nasional disini adalah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Pancasila sebagai paradigm nasional juga mendasari semua
sumber hukum yang ada di Indonesia atau dikatakan sebagai sumber dari
segala sumber hukum yang ada di Indonesia.

Sedangkan UUD 1945 dalam kehidupan nasional merupakan landasan


konstitusional bangsa dan Negara Indonesia. Merupakan hukum dasar tertulis
serta menjadi pedoman pokok dalam kehidupan nasional. Sebagai hukum
dasar, UUD 1945 merupakan sumber hukum dari seluruh produk hukum atau
kebijaksanaan pemerintah baik pusat meupun daerah.

Paradigm berikutnya adalah wawasan nusantara, wawasan nusantara


merupakan landasan visional bangsa Indonesia yang dikembangkan dan
dirumuskan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasional, dengan
mempertimbangkan geopolitik Indonesia, sejarah perjuangan dan kondisi
social budaya bangsa. Wawasan nusantara ini mengamanatkan persatuan dan
kesatuan wilayah tanah air sebagai wadah dan ruang hidup bangsa.

Wawasan nusantara juga merupakan pedoman dan pemberi motivasi bagi


setiap penyelenggaran Negara, warga Negara dan komponen bangsa baik
dalam berpikir, bertindak dan bersikap karena wawasan nusantara

6
memberikan tunutnan seluruh komponen bangsa untuk memiliki visi
kebangsaan atau nasionalisme ke Indonesiaan.

Lain halnya dengan ketahanan nasional, ketahanan nasional merupakan


landasan konsepsional bangsa yang merupakan kondisi dinamis bangsa
Indonesia yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional untuk
menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, tantangan maupun
hambatan baik datang dari dalam maupun dari luar negeri, langsung maupun
tidak langsung membahayakan identitas, kelangsungan hidup berbangsa dan
bernegara serta tujuan nasional.

Sedangkan hakekat konsepsi ketahanan nasional pengaturan dan


penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi dan
selaras dalam seluruh aspek kehidupan nasional.

2. Hakikat dan penggolongan ancaman

Persepsi Indonesia tentang ancaman adalah setiap usaha dan kegiatan, baik
dari luar maupun dari dalam negeri, yang dinilai mengancam atau
membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan
keselamatan bangsa. Berdasarkan sifat ancaman, hakikat ancaman
digolongkan ke dalam ancaman militer dan ancaman nirmiliter.

a. Ancaman Militer

Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata


dan terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan membahayakan

7
kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap
bangsa. Ancaman militer dapat berupa agresi, pelanggaran wilayah,
pemberontakan bersenjata, sabotase, spionase, aksi teror bersenjata,
ancaman keamanan laut dan udara, serta konflik komunal. Contoh dari
ancaman militer adalah sebagai berikut:
1) Agresi militer dari luar negeri
2) Pemberontakan bersenjata dalam negeri
3) Sabotase
4) Spionase
5) Terorisme
6) Gangguan keamanan di laut dan udara merupakan bentuk
ancaman militer yang mengganggu stabilitas keamanan wilayah
yurisdiksi nasional Indonesia.
7) Konflik komunal pada dasarnya merupakan gangguan keamanan
dalam negeri yang terjadi antarkelompok masyarakat.

b. Ancaman Nirmiliter

Ancaman nirmiliter pada hakikatnya ancaman yang menggunakan faktor-


faktor nirmiliter yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap
bangsa. Ancaman nirmiliter dapat berdimensi ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya, teknologi dan informasi, serta keselamatan umum. Adapun
secara terperinci adalah sebagai berikut:

1) Ancaman Berdimensi Ideologi

Meskipun sistem politik internasional telah mengalami perubahan,


terutama setelah keruntuhan Uni Soviet sehingga paham komunis
semakin tidak populer lagi, bagi Indonesia yang pernah menjadi basis
perjuangan kekuatan komunis, ancaman ideologi komunis masih tetap
merupakan bahaya laten yang harus diperhitungkan. Di masa lalu,

8
Indonesia menjadi salah satu basis komunis yang beberapa kali
melakukan kudeta untuk menumbangkan pemerintahan dan berusaha
mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi komunis. Walaupun
ideologi komunis secara global tidak populer lagi, potensi ancaman
berbasis ideologi masih tetap diperhitungkan. Bentuk-bentuk baru dari
ancaman ideologi yang bersumber dari dalam maupun dari luar negeri,
yakni metamorfosis dari penganut paham komunis yang telah melebur
ke dalam elemen-elemen masyarakat, sewaktu-waktu dapat
mengancam Indonesia. Usaha pihak-pihak tertentu melalui penulisan
buku-buku sejarah dengan tidak mencantumkan peristiwa G-30-S/PKI
dengan Dewan Revolusi, atau gerakan radikalisme yang brutal dan
anarkis, memberikan indikasi bahwa ancaman ideologi masih potensial.

Dalam Buku Putih pertahanan Indonesia tahun 2003 mengangkat


gerakan kelompok radikal sebagai salah satu ancaman nyata. Motif
yang melatarbelakangi gerakan-gerakan tersebut dapat berupa dalih
agama, etnik, atau kepentingan rakyat. Pada saat ini masih terdapat
anasir-anasir radikalisme yang menggunakan atribut keagamaan
berusaha mendirikan negara dengan ideologi lain, seperti yang
dilakukan oleh kelompok NII (Negara Islam Indonesia). Bagi Indonesia
keberadaan kelompok tersebut merupakan ancaman terhadap
eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengancam
kewibawaan pemerintah sehingga harus ditumpas.

2) Ancaman Berdimensi Politik

Ancaman berdimensi politik dapat bersumber dari luar negeri maupun


dari dalam negeri. Dari luar negeri, ancaman berdimensi politik
dilakukan oleh suatu negara dengan melakukan tekanan politik
terhadap Indonesia. Intimidasi, provokasi, atau blokade politik
merupakan bentuk-bentuk ancaman nirmiliter berdimensi politik yang
sering kali digunakan oleh pihak-pihak lain untuk menekan negara lain.

9
Ke depan, bentuk-bentuk ancaman yang berasal dari luar negeri
diperkirakan masih berpotensi terhadap Indonesia, yang memerlukan
peran dari fungsi pertahanan nirmiliter untuk menghadapinya.

Dalam perspektif pertahanan Indonesia, politik merupakan instrumen


utama yang dapat menjadi penentu damai atau perang, yakni bahwa
perang merupakan kelanjutan dari politik dengan cara lain. Ini
membuktikan bahwa ancaman politik dapat menumbangkan suatu rezim
pemerintahan, bahkan dapat menghancurkan suatu negara secara total.

Ancaman berdimensi politik dapat menggunakan berbagai macam


aspek sebagai kendaraan untuk menyerang suatu negara, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Ancaman berdimensi politik dapat
bersumber dari luar dan dapat pula bersumber dari dalam negeri.

3) Ancaman Berdimensi Ekonomi

Ekonomi tidak saja menjadi alat stabilitas dalam negeri, tetapi juga
merupakan salah satu alat penentu posisi tawar setiap negara dalam
hubungan antar negara atau pergaulan internasional. Negara-negara
dengan kondisi perekonomian yang lemah sering menghadapi kesulitan
dalam berhubungan dengan negara lain yang posisi ekonominya lebih
kuat. Ekonomi yang kuat biasanya diikuti pula dengan politik dan militer
yang kuat.

Ancaman berdimensi ekonomi berpotensi menghancurkan pertahanan


sebuah negara. Pada dasarnya ancaman berdimensi ekonomi dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Dalam konteks
Indonesia, ancaman dari internal dapat berupa inflasi dan
pengangguran yang tinggi, infrastruktur yang tidak memadai, penetapan
sistem ekonomi yang belum jelas, ketimpangan distribusi pendapatan
dan ekonomi biaya tinggi, sedangkan secara eksternal, dapat berbentuk
indikator kinerja ekonomi yang buruk, daya saing rendah, ketidaksiapan

10
menghadapi era globalisasi, dan tingkat dependensi yang cukup tinggi
terhadap asing.

4) Ancaman Berdimensi Sosial Budaya

Ancaman yang berdimensi sosial budaya dapat didorong oleh terjadinya


isu-isu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan. Isu
tersebut menjadi titik pangkal timbulnya permasalahan, seperti
separatisme, terorisme, kekerasan yang melekat-berurat berakar, dan
bencana akibat perbuatan manusia. Isu tersebut lama kelamaan
menjadi “kuman penyakit” yang mengancam persatuan dan kesatuan
bangsa, nasionalisme, dan patriotisme.

Watak kekerasan yang melekat dan berurat berakar berkembang,


seperti api dalam sekam di kalangan masyarakat yang menjadi
pendorong konflik-konflik antar masyarakat atau konflik vertikal antara
pemerintah pusat, dan daerah. Konflik horizontal yang berdimensi suku,
agama, ras, dan antargolongan (SARA) pada dasarnya timbul akibat
watak kekerasan yang sudah melekat. Watak kekerasan itu pula yang
mendorong tindakan kejahatan termasuk perusakan lingkungan dan
bencana buatan manusia.

Faktor-faktor tersebut berproses secara meluas serta menghasilkan


efek domino sehingga dapat melemahkan kualitas bangsa Indonesia.
Pertumbuhan penduduk yang terus berlangsung telah mengakibatkan
daya dukung dan kondisi lingkungan hidup yang terus menurun.
Bersamaan dengan itu merebaknya wabah penyakit pandemi, seperti flu

11
burung, demam berdarah, HIV/AIDS, dan malaria merupakan tantangan
serius yang dihadapi di masa datang.

5) Ancaman Berdimensi Teknologi dan Informasi

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pada dasarnya


membawa manfaat yang besar bagi umat manusia. Seiring dengan
kemajuan Iptek tersebut berkembang pula kejahatan yang
memanfaatkan kemajuan Iptek tersebut, antara lain kejahatan siber, dan
kejahatan perbankan.

Kondisi lain yang berimplikasi menjadi ancaman adalah lambatnya


perkembangan kemajuan Iptek di Indonesia sehingga menyebabkan
ketergantungan teknologi terhadap negara-negara maju semakin tinggi.
Kondisi ketergantungan terhadap negara lain tidak saja menyebabkan
Indonesia menjadi pasar produk-produk negara lain, tetapi lebih dari itu,
sulit bagi Indonesia untuk mengendalikan ancaman berpotensi teknologi
yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu untuk melemahkan Indonesia.

Tantangan yang dihadapi tidak saja berupa ancaman teknologi dari luar
negeri, tetapi juga pola sikap masyarakat dalam negeri dalam
menghargai karya-karya teknologi anak bangsa. Pada dasarnya,
Indonesia memiliki SDM yang kualitasnya berdaya saing tinggi
dibandingkan dengan SDM negara-negara maju. Setiap tahun
Indonesia mencetak juara-juara olimpiade sains (Matematika, Fisika,
Kimia, dan Biologi), Indonesia juga memiliki tenaga-tenaga terampil di
bidang teknologi tinggi, seperti eks PT DI (Dirgantara Indonesia) dan PT
PAL (Peralatan Angkatan Laut), PT PINDAD (Perindustrian Angkatan
Darat) dan-lain-lain, tetapi belum ada wadah yang menjamin kegairahan

12
untuk membangun kemampuan bangsa di bidang teknologi, yang
berakibat terjadinya arus “eksodus” tenaga ahli Indonesia ke luar yang
menawarkan kehidupan yang lebih baik.

6) Ancaman Berdimensi Keselamatan Umum

Secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia berada


dikawasan rawan bencana, baik bencana alam, keselamatan
transportasi, maupun bencana kelaparan. Bencana yang dapat terjadi di
Indonesia dan merupakan ancaman bagi keselamatan umum dapat
terjadi murni bencana alam, misalnya gempa bumi, meletusnya gunung
berapi, dan tsunami. Bencana yang disebabkan oleh ulah manusia,
antara lain tidak terkontrolnya penggunaan obat-obatan dan bahan
kimia lain yang dapat meracuni masyarakat, baik secara langsung
maupun kronis (menahun), misalnya pembuangan limbah industri atau
limbah pertambangan lainnya. Sebaliknya, bencana alam yang
disebabkan oleh faktor alam yang dipicu oleh ulah manusia, antara lain
bencana banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, dan
bencana lainnya.

Bencana alam berakibat baik langsung maupun tidak langsung


mengancam keselamatan masyarakat. Selain itu, keamanan
transportasi merupakan salah satu dimensi keselamatan umum yang
cukup serius di Indonesia. Dewasa ini kebutuhan masyarakat akan
sarana transportasi semakin tinggi sehingga terjadi persaingan usaha
yang tidak sehat, antara lain berupa penurunan tarif penumpang yang
berdampak terhadap keselamatan. Keselamatan transportasi juga
disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat untuk mematuhi
peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta masih lemahnya
kepatuhan aparat dalam penegakan hukum dan aturan.

13
3. Analisa pelaksanaan pembangunan kewaspadaan nasional dalam
menghadapi ancaman perang asimetrik

Pembangunan kewaspadaan nasional bagi bangsa Indonesia harus dimulai


dari sejak dini dan dari wilayah terkecil dalam sendi kehidupan bermasyarakat
dan bermegara. Hal ini bisa diartikan bahwa pembangunan kewaspadaan
nasional harus dilaksanakan secara komprehensif, integral, sistemik, sinergis,
obyektif dan positif. Pembangunan keawaspadan tentu saja haruslah berdasar
pada potensi ancaman yang sekiranya muncul baik saat ini maupun prediksi di
masa yang akan datang. Di dalam menganalisa pembangunan kewaspadaan
nasional disini, penulis akan mengacu pada ancaman perang asimetrik yang
mungkin timbul, antara lain:

a. Pembangunan kewaspadaan nasional pada sudut pandang/dimensi


ideology

Berdasarkan apa yang sudah diuraikan diatas, perihal ancaman asimetrik


ditinjau dari sudut pandang ideology, pembangunan kewaspadaan nasional
dapat difokuskan dan digerakkan pada aspek pendidikan, perilaku, budi
pekerti dan penanaman nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini dilekatkan dan senafas melalui pendidikan formal dan non formal
keseharian, tidak hanya terhadap sasaran anak didik saja namun juga
kepada seluruh warga Negara tanpa pandang umur, ras, suku bangsa,
agama bahkan tingkat pendidikan.

14
Keyakinan akan kebenaran Pancasila sebagai satu-satunya asas,
pandangan hidup dan falsafah Negara menjadi harga mati terhadap akan
berpalingnya pemikiran rakyat terhadap paham ideology lain. Pengalaman
menunjukan, paham komunisme dan usaha pendirian Negara berbasis
keagamaan tidak mampu mengakomodasi kemajemukan, keragaman serta
kebhinekaan bangsa Indonesia yang telah menjadi kenyataan tidak bisa
terbantahkan.

Pada akhirnya, hanya kerugian jiwa, raga, waktu, sejarah kelam serta
kehilangan potensi-potensi pembangunan saja yang kita dapatkan. Kita
telah kehilangan momentum pembangunan dikarenakan hanya untuk
mengurus perbedaan-perbedaan dan pemaksaan-pemaksaan ideology
oleh sekelompok tertentu. Hanya saja, dalam pembangunan dan
pengembangan kewaspadaan nasional bidang ideology seharusnya
memperhatikan metode dan cara yang tepat. Artinya aplikasinya tidak boleh
monoton, tidak membosankan, harus variatif dan yang jelas diterima
banyak pihak dengan mudah dan ikhlas. Niscaya ancaman dari dimensi ini
dapat dieliminasi bahkan dihilangkan sama sekali.

b. Pembangunan kewaspadaan nasional dari sudut pandang ancaman


berdimensi Politik

Seperti telah diuraikan di depan bahwa ancaman berdimensi politik dapat


bersumber dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Dari luar negeri,
ancaman berdimensi politik dilakukan oleh suatu negara dengan melakukan
tekanan politik terhadap Indonesia. Intimidasi, provokasi, atau blokade
politik merupakan bentuk-bentuk ancaman nirmiliter berdimensi politik yang
sering kali digunakan oleh pihak-pihak lain untuk menekan negara lain.

Oleh karena itu, yang terpenting bagi bangsa Indonesia adalah


membangun kewaspadaan nasional yang dapat membendung ancaman –

15
ancaman tersebut, bagaimana caranya? Adalah mengkondisikan bangsa
Indonesia untuk tidak bisa ditekan oleh Negara lain dalam semua aspek
kehidupan, terutama adalah di bidang kesejahteraan dan pertahanan
keamanan.

Perekonomian terkait dengan kesejahteraan. Dengan tingkat kesejahteraan


yang tinggi, Negara kita tidak perlu hutang pada luar negeri. Negara kita
tidak akan terjebak dalam hutang yang pada akhirnya kita terpaksa
menjerat diri dalam kendali Negara penghutang. Negara penghutang
menjadi seenaknya sendiri mengatur, mendikte dan mengendalikan segala
macam bentuk kehidupan bernegara kita, termasuk di bidang perpolitikan.

Ancaman berdimensi politik yang berasal dari luar dapat dilakukan oleh
aktor negara dan aktor yang bukan negara dengan menggunakan isu-isu
global sebagai kendaraan untuk menyerang atau menekan Indonesia.
Pelaksanaan penegakan HAM, demokratisasi, penanganan lingkungan
hidup, serta penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan akuntabel
selalu menjadi komoditas politik bagi masyarakat internasional untuk
mengintervensi suatu negara; hal ini dirasakan pula oleh Indonesia.

Dari dalam negeri, pertumbuhan instrumen politik mencerminkan kadar


pertumbuhan demokrasi suatu negara. Iklim politik yang berkembang
secara sehat menggambarkan suksesnya proses demokrasi. Bagi
Indonesia, faktor politik menjadi penentu kelanjutan sistem pemerintahan.
Dalam sejarah Indonesia, pemerintahan negara sering mengalami pasang
surut yang diakibatkan oleh gejolak politik yang sulit dikendalikan. Ancaman

16
yang berdimensi politik yang bersumber dari dalam negeri dapat berupa
penggunaan kekuatan berupa mobilisasi massa untuk menumbangkan
suatu pemerintahan yang berkuasa, atau menggalang kekuatan politik
untuk melemahkan kekuasaan pemerintah.

Ancaman separatisme merupakan bentuk ancaman politik yang timbul di


dalam negeri. Sebagai bentuk ancaman politik, separatisme dapat
menempuh pola perjuangan politik (tanpa senjata) dan perjuangan
bersenjata. Pola perjuangan tidak bersenjata sering ditempuh untuk
menarik simpati masyarakat internasional. Oleh karena itu, sparatisme sulit
dihadapi dengan menggunakan instrumen militer. Sebaliknya, ancaman
separatisme dengan bersenjata tidak jarang mengalami kesulitan sebagai
akibat dari politisasi; penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dengan
menggunakan pendekatan operasi militer. Hal ini membuktikan bahwa
ancaman berdimensi politik memiliki tingkat risiko yang besar yang
mengancam kedaulatan, keutuhan, dan keselamatan bangsa. Bagaimana
cara mengantisipasinya?
Sebagai alternative mengatasi ancaman tersebut antara lain adalah
dengan:
1) Meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat Indoensia berbasiskan pada
pemerataan dan keadilan dalam pembangunan sehingga tidak mudah
dipengaruhi secara ekonomi untuk kepentingan politik oleh pihak asing.
2) Meningkatkan kehidupan berdemokrasi yang tepat dan sesuai dengan
kondisi situasional bangsa Indonesia sehingga tidak ada alasan pihak
asing ikut campur tangan dalam system perpolitikan Negara kita.
3) Peningkatan kemampuan pertahanan dan keamanan Negara sehingga
secara politis tidak dipandang sebelah mata oleh Negara lain.

17
c. Pembangunan keawpadaan nasional berdimensi dari ancman sector
ekonomi

Dikarenakan ekonomi merupakan salah satu penentu posisi tawar dalam


pergaulan internasional maka pembangunan di bidang perekonomian selalu
menjadi prioritas utama setiap bangsa di dunia ini. Apabila Negara kita
terkondisi dalam perekonomian yang sedang lemah maka akan
menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan negara lain yang
mempunyai posisi ekonomi lebih kuat. Tidak perlu terlalu jauh berkaca,
Negara tetangga kita baik Malaysia maupun Singapura, apalagi Thailand
psosisi tawar kita pada saat ini relative di bawah mereka semua. Hal ini
akibat kekurangtanggapan kita dalam merespon krisis ekonomi beberapa
waktu yang lalu.

Telah kita ketahui bahwa ancaman berdimensi ekonomi berpotensi


menghancurkan pertahanan Negara kita. Pada dasarnya ancaman ini
dikelompokkan menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Oleh karena itu
pembangunan ekonomi harus mampu mengatasi beberapa permasalahan
mendasar di bidang ekonomi antara lain adalah inflasi dan pengangguran
yang tinggi, infrastruktur yang tidak memadai, penetapan sistem ekonomi
yang belum jelas, ketimpangan distribusi pendapatan dan ekonomi biaya
tinggi dan lain sebagainya.

Disamping itu diharapkan pembangunan ekonomi yang tepat program,


tepat guna dan tepat sasaran mampu meningkatkan daya saing,
peningkatan indicator kinerja tim ekonomi, kesiapan kita dalam menghadapi
era globalisasi serta mengurangi tingkat ketergantungan kita kepada
Negara lain.

Hal yang tidak kalah pentingnya dalam pembangunan bidang ini adalah
asas keadilan dan pemerataan. Dua kata kunci inilah yang selama ini selalu

18
menjadi isu timbulnya berbagai masalah bidang pembangunan. Isu
keadilan dan pemerataan pembangunan menjadi agenda pokok yang
sering dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk meraih keuntungan sesaat.
Hal ini dapat dipecahkan dengan melaksanakan pelibatan dan memberi
kesempatan rakyat untuk ikut serta dalam prosesi pembangunan nasional.
Keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan,
pengelolaan sumber-sumber kekayaan alam yang tepat serta kemampuan
membaca dan memanfaatkan peluang pasar di dunia pasti akan membawa
dampak terjadinya peningkatan status perekonomian Negara kita. Dengan
demikian secara otomatis terjadi peningkatan kesejahteraan di seluruh
komponen kehidupan bangsa.

d. Ancaman Berdimensi Sosial Budaya

Bentuk-bentuk ancaman sosial budaya seperti telah diuraikan diatas,


apabila tidak dapat ditangani secara cepat dan tepat dapat membahayakan
sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Oleh karena itu
pembangunan di segala bidang baik ekonomi, politik bahkan
pembangunan bidang pertahanan dan keamanan harus memperhatikan
aspek kearifan local. Artinya pembangunan yang memperhatikan
kebutuhan masyarakat local pengguna hasil pembangunan, memperhatikan
nilai-nilai yang ada dan pelibatan masyarakat local secara aktif dalam
pembangunan di daerahnya.

Disamping hal tersebut diatas, pembangunan di bidang pendidikan juga


menjadi kunci utama menghadapi permasalahan berdimensi social budaya.
Dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, pengetahuan yang lebih luas,
kematangan jiwa dan religi yang lebih mendalam niscaya sedikit banyak
akan mampu meng-counter dampak pengaruh globalisasi di bidang budaya
ini.
Adalah berita gembira bagi kita semua, bahwa anggaran pendidikan
sebesar 20% dari total anggaran belanja Negara telah terealisasi dalam

19
waktu-waktu ini. Namun tidak kalah pentingnya adalah kita harus
melakukan auditasi pelaksanaan anggaran tersebut apakah sampai
menyentuh rakyat terkecil atau tidak. Apakah wajib belajar sembilan tahun
sudah terlaksana? Dan apakah dampaknya terhadap kondisi social budaya
kita? Apa tanggapan masyarakat terhadap kemajuan tehnologi informasi
yang mampu membuka informasi tanpa ada batas-batas? Dan lain
sebagainya ini, adalah merupakan pertanyaan klasik namun sulit untuk
merealisasikan jawaban dengan memuaskan.

Hanya dengan pendidikan, baik formal maupun non formal akan mampu
membentuk perwatakan nasional yang positif untuk meninggalkan
temperamen keras yang selama ini banyak mengilhami para pemuda kita.
Factor-faktor yang mungkin akan menimbulkan efek domino sehingga
melemahkan kualitas bangsa dapat dipangkas di tengah perjalanan.

Ancaman dari luar timbul bersamaan dengan dinamika yang terjadi dalam
format globalisasi dengan penetrasi nilai-nilai budaya dari luar negeri sulit
dibendung yang mempengaruhi nilai-nilai di Indonesia. Kemajuan teknologi
informasi mengakibatkan dunia menjadi kampung global yang interaksi
antar masyarakat berlangsung dalam waktu yang aktual. Yang terjadi tidak
hanya transfer informasi, tetapi juga transformasi dan sublimasi nilai-nilai
luar secara serta merta dan sulit dikontrol. Sebagai akibatnya, terjadi
benturan peradaban, lambat-laun nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa
semakin terdesak oleh nilai-nilai individualisme. Fenomena lain yang juga
terjadi adalah konflik berdimensi vertikal antara pemerintah pusat dan
daerah, di samping konflik horizontal yang berdimensi etnoreligius masih
menunjukkan potensi yang patut diperhitungkan. Hal ini semua harus
selalu diwaspadai dalam prosesi pembangunan nasional.

e. Ancaman Berdimensi Teknologi dan Informasi

20
Kita telah sepakat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) pada dasarnya membawa manfaat yang besar bagi umat manusia.
Seiring dengan kemajuan Iptek tersebut berkembang pula kejahatan yang
memanfaatkan kemajuan Iptek tersebut, antara lain kejahatan siber, dan
kejahatan perbankan. Kondisi lain yang berimplikasi menjadi ancaman
adalah lambatnya perkembangan kemajuan Iptek di Indonesia sehingga
menyebabkan ketergantungan teknologi terhadap negara-negara maju
semakin tinggi. Hal ini telah diuraikan di atas, namun yang menjadi penting
dalam hal ini adalah bagaimanakah cara kita merespon kemajuan di bidang
ini?

Salah satu jalan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia baik
secara mental maupun kemampuan profesionalisme sesuai bidangnya.
Menjadi pasar bagi produk kita sendiri, tidak menjadi konsumer utama
produk-produk luar negeri, belajar mencintai produksi dalam negeri dan lain
sebagainya. Dengan memiliki sumber daya manusia yang menguasahi
tehnologi tinggi, pihak asing tidak akan mudah mengendalikan kita apalagi
sampai melakukan perlemahan terhadap kondisi bangsa ini. Dan yang
terpenting adalah penghargaan setinggi-tingginya terhadap para tecnokrat-
tehnokrat kita dalam berpartisipasi aktif membangun Negara. Reward
setimpal kepada mereka niscaya tidak akan membuat tergoda untuk
berpaling ke Negara lain walaupun diming-imingin penghasilan yang jauh
lebih besar.

f. Ancaman Berdimensi Keselamatan Umum

Agenda penting di bidang keselamatan umum di Negara kita akhir-akhir ini


adalah bencana alam, transportasi, pengelolaan lingkungan yang salah.
Seperti telah diuraikan diatas, permasalahan bencana alam seperti gempa
bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan lain sebagainya merupakan
musibah yang tidak bisa dilakukan penolakan. Hal yang bisa dilakukan
adalah mencegah terjadinya dan melakukan usaha penyelamatan sedini

21
mungkin sehingga mengurangi dampak kerugian akibat yang ditimbulkan.
Pelatihan-pelatihan kewaspadaan menghadapi bencana harus menjadi
agenda utama di setiap daerah.

Demikian juga dengan permasalahan transportasi baik darat, laut maupun


udara yang dewasa ini sering terjadi kecelakaan dan menimbulkan banyak
korban. Pembangunan peralatan trasnportasi yang memenuhi standar
kelayakan pakai, system standar operasi prosedur yang memenuhi
persyaratan serta kemampuan sumber daya manusia pengawak alat yang
mumpuni tercapai, niscaya kecelakaan-kecelakaan yang akan terjadi
mampu diminimalisir atau bahkan dihilangkan sama sekali.

22
C. PENUTUP

1. Kesimpulan

a. Kewasdaaan nasional merupakan salah satu upaya pencegahan dan


penangkalan bahaya terdini terhadap keutuhan NKRI

b. Hakekat ancaman bagi NKRI dapat berasal dari luar dan dari dalam negeri,
ancaman militer maupun ancaman nirmiliter, ancaman simetrik maupun
ancaman asimetrik yang dapat ditinjau dari beberapa dimensi ancaman.

c. Dimensi ancaman tersebut antara lain adalah dimensi ideology, dimensi


politik, ekonomi, social budaya, dimensi kemajuan ilmu dan tehnologi serta
dimensi keselamatan umum.

d. Pembangunan kewaspadaan nasional secara menyeluruh didasarkan pada


dimensi-dimensi yang memberikan akan ancaman terhadap keutuhan
NKRI.

2. Saran

a. Pemahaman kewaspadaan nasional harus disosialisasi secara formal


maupun non formal kepada seluruh lapisan masyarakat.

23
b. Dalam kerangka sosialisasi, aplikasi dan evaluasi pelaksanaan
kewaspadaan nasional, diupayakan melalui metode-metode interaktif yang
tidak monoton, menarik, mengesan dan memberikan nilai tinggal ndi hati
dan pikiran seluruh bangsa Indonesia.

c. Pembangunan kewaspadaan nasional harus berpedoman pada asas


pelibatan masyarakat, terarah, terpadu dan komprenhensif di seluruh
komponen bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

1. UU RI no 25 tahun 2004 tentang system perencanaan pembangunan nasional.

2. Peraturan Presiden RI no 7 tahun 2005 tentang rencana pembangunan jangka


menengah nasional

3. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan


Nasional/Kepala Bappenas dan Mendagri nomor: 0259/M.PPN/I/2005-
No.050/M.PPN/I/2005 perihal Petunjuk Tehnis Penyelenggaraan Musrenbang
tahun 2005.

24